P. 1
hkka

hkka

|Views: 2|Likes:
Published by Annisya Oktari

More info:

Published by: Annisya Oktari on Nov 20, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/08/2014

pdf

text

original

PENDAHULUAN

Bagian kedua ini didasarkan pada naskah yang berjudul Hukum Kewarisan menurut Hukum Adat dan Hukum Islam. Judul tersebut menuntut suatu uraian tantang perbandingan hukum kewarisan menurut ketentuan yang berlaku dalam Hukum Adat di Indonesia dan Hukum Islam yang juga banyak dianut umat Islam Indonesia. Berbeda halnya frngan Hukum Adat, ketentuan Hukum Kewarisan Islam secara jelas dapat diketahui dari sumbernya yang asli, Alquran dan sunah Rasul, meskipun ketentuannya dalam beberapa hal masih dimungkinkan adanya ijitihad baru sepanjang tidak menyimpang dari jiwa ketentuannya yang telah ada.

HUKUM KEWARISAN ADAT

Yang dimaksud dengan Hukum Kewarisan Adat adalah hukum kewarisan yang berlaku di kalangan masyarakat Indonesia yang tidak bersumber kepada peraturan. Perumusan tersebut berdasar atas pengertian hukum adat yang dikemukan Prof Djojodigoeno, SH, yang menyatakan : “Hukum Adat adalah hukum yang tidak bersumber kepada peraturan-peraturan.” Namun perlu pengecualian, yaitu Hukum Kewarisan Islam yang sepenuhnya dianut dan berlaku di suatu daerah Indonesia, meskipun tidak berdasar atas peraturan, tidak disebut sebagai hukum adat. Hal itu ditegaskan sehingga dapat dibandingkan antara Hukum Kewarisan Adat dan Hukum Kewarisan Islam.

PENGERTIAN KEWARISAN

Menurut Prof. Ter Haar yaitu meliputi aturan hukum yang bertalian dengan proses penerusan dan pengoperan harta kekayaan yang berwujud (materiil) dan tidak berwujud (immaterial) dari suatu generasi kepada generasi berikutnya. Prof. Djojodigoeno mengartikan dengan berpindahnya harta benda seseorang manusia kepada angkatan tunas/generasi yang menyusul. Menurut Prof. Soepomo yaitu peraturan yang mengatur proses meneruskan serta mengoperkan barang harta benda, barang yang tidak berwujud benda (immaterieele goederen) dari suatu angkatan manusia (generatie) kepada keturunannya. (dapat ditambahkwan bahwa beliau menegaskan proses penerusan itu telah dimulai sejak orang tua masih hidup) Dapat disimpulkan bahwa :

b. Keadaan istimewa sebagian ahli waris memperoleh pertimbangan khusus. Dalam hal diadakan pembagian harta peninggalan. harta tersebut merupakan pusaka yang tidak dapat dibagikan kepada para ahli waris untuk dimiliki secara individual. SISTEM KOLEKTIF Suatu sistem kewarisan dimana harta peninggalan diwaris oleh sekelompok waris yang merupakan persekutuan hak. Soepomo. Sistem ini dianut masyarakat parental diantaranya Jawa.a. hukum kewarisan bersendi atas prinsip yang timbul dari aliran-aliran pikiran komunal dan konkret dari bangsa Indonesia. Sistem ini dianut masyarakat matrilineal Minangkabau. SISTEM HUKUM KEWARISAN ADAT (menurut Prof. Kewarisan menurut hukum adat adalah suatu proses mengenai pengoperan dan penerusan harta kekayaan. Asas kerukunan dalam pembagian harta peninggalan selalu diperhatikan. Harta peninggalan tidak dapat dinilai dengan sejumlah uang dan yang setiap waktu dapat dibagi-bagi berupa pecahan-pecahan menurut ilmu hitung. SISTEM MAYORET Suatu sistem kewarisan dimana pada saat wafat pewaris berhak tunggal untuk mewaris seluruh atau sejumlah harta pokok dari harta peninggalan. di antara para ahli waris terdapat rasa persamaan hak dalam proses penerusan dan pengoperan harta kekayaan orang tua mereka. ahli waris lain yang keadaannya cukup baik tidak merasa keberatan untuk melepaskan sebagian atau bahkan seluruh haknya atas harta peninggalan orang tua sehingga ahli waris lain yang memang lebih memerlukan memperoleh kesempatan menikmati harta peninggalan orang tua secara layak. baik yang bersifat kebendaan atau bukan kebendaan. Hazairin) SISTEM INDIVIDUAL Suatu sistem kewarisan dimana harta peningglaan dapat dibagi-bagikan dan dimiliki secara individual di antara para ahli waris. jika diperlukan. dibanding dengan keadaan para ahli waris lain. SIFAT HUKUM KEWARISAN ADAT Menurut Prof. Kecuali itu macam harta peninggalan tertentu ada yang hanya mungkin diwaris oleh ahli waris tertentu dengan cara tertentu pula. Pengoperan dan penerusan itu dilaksanakan oleh suatu generasi kepada generasi berikutnya. Hukum kewarisan adat yang bersifat komunal itu berakibat pula bahwa harta peninggalan tidak merupakan kesatuan bullat yang dapat dilepaskan kedudukan tiap-tiap macamnya dari kehidupan masyarakat. patrilineal Ambon. . dan parental Minahasa. Sifat komunal hukum kewarisan adat mengakibatkan tidak dikenalnya bagian-bagian tertentu untuk para ahli waris.

untuk keperluan mengubur jenazah. kakek dan nenek. Bahkan orang lain pun jika tidak ada hali waris sama sekali dapat berbuat demikian. AHLI WARIS Dalam hukum kewarisan adar terdapat pengelompokkan ahli waris yang tersusun hirarkis. Kelompok terakhir adalah anak dari kakek nenek pewaris. Berdasar atas pengelompokan ahli waris tersebut. tidak berlebih-lebihan sehingga hutang untuk penguburan jenazah itu harus dibayarkan lebih dulu daripada hutang lainnya. barang asal suami. dan barang gono gini. . kelompok berikutnya terhalang. Hal yang perlu mendapat perhatian juga adalah adanya biaya penguburan jenazah yang diambil dari harta peninggalan. Kecuali anak kandung. Biaya selamatan kematian itu biasanya dibebankan kepada harta pribadi para ahli waris. Hakikatnya hanya anak keturunan sajalah yang merupakan ahli waris. Kelompok berikutnya adalah orang tua pewaris. namun anak yang lahir dalam perkawinan yang sah tanpa memperhatikan apakah anak laki-laki yang menjadi suami ibunya adalah yang menyebabkan terjadinya kehamilan atau bukan. Perihal melunasi pewaris itu terdapat berbagai kebiasaan. sesuai ketentuan bahwa kewarisan adalah pengoperan dan penerusan harta benda dari suatu generasi kepada generasi yang menyusul. Kelompok berikutnya adalah saudara kandung pewaris beserta keturunannya. Yang diwaris adalah barang asala pewaris dalam hal ada anak. Jika keompok pertama tidak ada sama sekali maka kelompok kedua berhak atas harta warisan dan seterusnya. hadiah dan sebagainya.HARTA PENINGGALAN Harta Peninggallan adalah harta yang ada pada saat ia meninggal. ibu bapaknya. yaitu hutang pewaris. Dalam kewarisan tersebut dianut prinsip penggantian waris (plaatsvervulling). barang yang masih terikat oleh hak pertuanan. seorang waris dibenarkan membuat hutang atau menjual sebagian harta peninggalan. paman bibi pewaris dan keturunannya. tanpa persetujuan ahli waris lain. Biaya selamatan kematian tidak termasuk biaya penguburan jenazah yang dapat dibebankan kepada harta peninggalan. hak ulayat desa yang hanya dapat diwariskan kepada anak yang tinggal di desa bersangkutan atas persetujuan rapat desa. Masih harus diperhatikan juga barang tertentu yang menurut adat setempat hanya dapat jatuh pada ahli waris tertentu. Kelompok selanjutnya adalah orang tua dari orang tua pewaris. Anak yang lahir di luar perkawinan dipandang hanya mempunyai hubungan waris mewaris dengan ibunya dan dengan keluarga dari ibunya. dan tidak pernah didahulukan daripada pelunasan hutang pewaris. jika kelompok pertama ada. bagian dari gono gini. anak angkat juga dipandang sebagai ahli waris dengan berbagai macam variasi dalam hukum adat di berbagai daerah. namun pelaksanaan penguburan jenazah itu harus dilakukan dalam batas kepantasan.d ipandang sebagai anak sah yang mempunyai hubungan waris mewaris dengan kedua orangtuanya. yaitu: barang asal istri. Kecuali macam harta tersebut masih harus diperhatikan pula barang yang dipandang keramat yang biasanya hanya dapat jatuh pada ahli waris dengan kualitas tertentu. dan barang yang diperoleh pewaris dari warisan. Hal yang harus diperhatikan juga ialah hak orang lain yang menyangkut harta peninggalan. Kelompok yang utama adalah anak dan keturunannya. Harus dibedakan dalam berbeagai macam sifat.

masalah kewarisan harta kekayaan yang ditinggalkan mendiang istrinya biasanya tidak menjadi persoalan.Janda atau duda pada dasarnya bukan ahli waris. Reg. janda berhak menikmati harta peninggalan mendiang suaminya sekedar diperlukan sebagai cagak hidup. bagi suami yang ditinggal mati istrinya. No. HIZKIA RADUK 02101001105 . Dan mengenai Keputusan Mahkamah Agung tertanggal 2 November 1960. 302/K/Sip/1960 itu cukup kuat beralasan jika diingat bahwa dalam hidup perkawinan hubungan lahir dan batin antara suami istri demikian eratnya sehingga melebihi hubungan suami dengan keluarga sedarahnya. karena duda dapat berdiri sendiri mencukupkan kebutuhan hidupnya. namun hidupnya masih memerlukan harta peninggalan mendiang suaminya. Oleh karena itu sleama masih belum kawin. Berbeda dengan janda yang meskpun tidak termasuk ahli waris.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->