MAKALAH

PENYIMPANGAN BAHASA INDONESIA
DI KALANGAN PESOHOR NEGERI

Makalah ini disusun sebagai syarat untuk tugas akhir Bahasa Indonesia

Oleh :
Nama : Msy Afandi
NIM : F1A0110XX

PROGRAM STUDI S-1 TEKNIK SIPIL
JURUSAN TEKNIK SIPIL
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS MSYAFANDI
2011
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah
memberikan rahmat berupa kekuatan dan kesempatan sehingga penulis dapat
menyelesaikan makalah ini

Dan tidak lupa shalawat dan salam selalu tercurah kepada Nabi
Muhammad SAW, sebagai inspirator dan motivator bagi penulis. Sehingga
makalah yang berjudul “Penyimpangan Bahasa Indonesia di Kalangan Pesohor
Negeri” dapat terselesaikan dengan baik serta tepat pada waktunya.

Terselesaikannya makalah ini tidak terlepas dari dukungan banyak pihak baik
yang terlibat secara langsung maupun tidak langsung. Pada kesempatan ini
penulis mengucapkan terima kasih kepada:

1. Bapak Prof. Ir. Sunarxx, Ph.D. selaku Rektor Universitas Msyafandi.
2. Bapak Pathuraxxx, S.T., M.T. selaku Dekan Fakulatas Teknik
Universitas Msyafandi.
3. Bapak Ir. Joedoxxx, MCE. selaku Ketua Jurusan/Prodi Teknik Sipil.
4. Ibu Rinxx S. Saptanixxx, S,T.,MT. selaku Dosen Pembimbing
Akademik.
5. Bapak Drs. H. Nasaruddixxx M. Alixx, selaku Dosen Pembina Mata
Kuliah “Aplikasi Bahasa Indonesia.”
6. Dosen dan tenaga administrasi yang telah mendukung penyelesaian
makalah ini.
7. Kedua orang tua yang terus memberikan motivasinya kepada saya untuk
menyelesaikan makalah ini.
8. Seluruh keluarga besar yang selalu mendukung saya dalam kehidupan
ini.
9. Para sahabat saya yang tanpa lelah membantu saya dalam menyelesaikan
makalah ini.
10. Semua orang yang tidak bisa saya sebutkan namanya yang telah memberi
dukungan dan selalu setia menemani saya dalam keadaan susah maupun
senang.

Saya menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena
itu saya mengharapkan saran dan kritik yang bersifat membangun untuk lebih
menyempurnakan karya tulis ini. Akhir kata saya ucapkan semoga makalah ini
dapat bermanfaat.

Mataram, 11 Desember 2011

Penulis
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ……………………….............................................. i

KATA PENGANTAR …………………………......................................... ii

DAFTAR ISI …………………………....................................................... iv

BAB 1 PENDAHULUAN …………………………................................. 1

1.1 Latar Belakang ………………………................................... 1

1.2 Rumusan Masalah ……………………................................... 2

1.3 Batasan Masalah ……………………….................................. 2

1.4 Tujuan Penelitian ..……………….......................................... 2

1.5 Manfaat Penelitian ………………......................................... 3

BAB 2 KAJIAN PUSTAKA ……………………..................................... 3

BAB 3 PEMBAHASAN ………………………….................................… 4

BAB 4 PENUTUP …………………………….......................................... 11

4.1 Kesimpulan …………………………….................................. 11

4.2 Saran ………………….…………........................................... 12

DAFTAR PUSTAKA …………………………........................................... 13
BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Bahasa Indonesia merupakan bahasa resmi bangsa Indonesia.
Dalam kiprahnya sebagai bahasa resmi negara, bahasa Indonesia
memiliki kaidahdan tatanan yang telah disempurnakan ejaannya.
Dalam lingkup kenegaraan, bahasa Indonesia dipakai dalam segala
upacara, peristiwa, dan kegiatan kenegaraan, baik dalam bentuk lisan
maupun tulisan. Kegiatan-kegiatan dalam bentuk lisan adalah pidato-
pidato kenegaraan, sedangkan dalam bentuk tulisan adalah penulisan-
penulisan dokumen dan putusan-putusan serta surat-surat yang
dikeluarkan oleh pemerintah dan badan-badan kenegaraan lainnya.
Bahasa Indonesia yang sudah dikenal sejak zaman dahulu
merupakan bahasa nasional masyarakat Indonesia yang digunakan
untuk berkomunikasi sehari-hari. Pada zaman dahulu sampai sekarang
masih ada sebagian dari masyarakat Indonesia yang menggunakan
bahasa-bahasa daerah seperti bahasa Sunda, Jawa, Padang dan lain-
lain.

Bangsa Indonesia sudah sangat berkembang dalam berbagai
bidang. Perkembangan tersebut meliputi teknologi, ekonomi, budaya,
bahasa dan lain-lain. Perkembangan itu sangat mempengaruhi
generasi muda bangsa Indonesia. Generasi muda bangsa Indonesia
sangatlah berbeda dengan anak-anak muda zaman dahulu. Generasi
muda zaman sekarang cenderung mengikuti model dan tidak
memikirkan kesopanan dan tata tertib, dari cara berpakaiannya,
perilaku, sampai bahasa yang mereka gunakan. Generasi muda jarang
menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar dalam kehidupan
sehari hari, bahkan mereka lebih bangga dan senang untuk memakai
bahasa gaul dan bahasa asing agar dinilai sebagai generasi muda yang
tidak ketinggalan zaman. Hal tersebut dipengaruhi oleh
penggunaaan bahasa Indonesia oleh para pesohor negeri yang menjadi
sorotan media massa baik media cetak maupun elektronik.

1.2 RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan latar belakang di atas, terdapat beberapa
permasalahan sebagai berikut:

a. Siapakah pesohor negeri bangsa Indonesia?

b. Bagaimana penggunaan bahasa Indonesia di kalangan pesohor
negeri masa orde baru?

c. Bagaimana penggunaan bahasa Indonesia di kalangan pesohor
negeri pada masa sekarang?

1.3 BATASAN MASALAH

Dari masalah yang terpapar di atas diperoleh permasalahan
yang sangat luas. Namun menyadari adanya keterbatasan waktu dan
kemampuan, maka penulis memandang perlu memberi batasan
masalah secara jelas dan terfokus.

Selanjutnya masalah yang menjadi obyek penelitian dibatasi
hanya pada pesohor pesohor negeri bangsa Indonesia, penggunaan
bahasa Indonesia di kalangan pesohor negeri pada masa orde baru dan
pada masa sekarang.

1.4 TUJUAN

Makalah ini bertujuan untuk menjelaskan:

a. Siapa pesohor negri bangsa indonesia.

b. Penggunaan bahasa Indonesia di kalangan pesohor negeri pada
masa orde baru.

c. Penggunaan bahasa Indonesia di kalangan pesohor negeri pada
masa sekarang.
1.5 MANFAAT

Penulisan makalah ini bermanfaaat untuk memberikan informasi
mengenai:

a. Siapa pesohor negri bangsa indonesia.

b. Penggunaan bahasa Indonesia di kalangan pesohor negeri pada
masa orde baru.

c. Penggunaan bahasa Indonesia di kalangan pesohor negeri pada
masa sekarang.
BAB 2

KAJIAN PUSTAKA

2.1 PESOHOR NEGERI

Indonesia adalah negara yang kaya dengan sumber daya, baik
sumber daya manusia maupun alam. Majunya negara Indonesia
dipengaruhi oleh sumber daya manusia itu sendiri. Bila sumber daya
manusianya baik maka akan berpengaruh juga terhadap kemajuannya.
Manusia yang memiliki berbagai ketrampilan memberikan kontribusi
yang cukup besar bagi negeri ini, baik dari segi ilmu pengetahuan
maupun hiburan. Mereka adalah pesohor negeri yang memiliki
pengaruh besar terhadap perkembangan bahasa, pengaruh tersebut
dapat dilihat dari aktivitasnya terutama cara berbicara dan bertingkah
laku yang pada akhirnya diketahui oleh publik. Pesohor negeri
merupakan kalangan yang terdiri dari para artis, politikus, seniman,
dan mereka yang memiliki kontribusi yang cukup besar bagi negeri.
Mereka adalah orang yang berkiprah di Indonesia dan dikenal oleh
publik.

2.2. PENGERTIAN PENYIMPANGAN BERBAHASA

Dalam buku “Common Error in Language Learning”, H.V.
George mengemukakan bahwa penyimpangan berbahasa adalah
pemakaian bentuk-bentuk tuturan yang tidak diinginkan oleh
penyusun program dan guru pengajaran bahasa. Bentuk-bentuk
tuturan yang tidak diinginkan adalah bentuk-bentuk tuturan yang
menyimpang dari kaidah bahasa baku.

S. Piet Corder dalam buku “Introducing Applied Linguistics”
mengemukakan bahwa yang dimaksud dengan penyimpangan
berbahasa adalah pelanggaran terhadap kode berbahasa. Pelanggaran
ini bukan hanya bersipat fisik, melainkan juga merupakan tanda
kurang sempurnanya pengetahuan dan penguasaan terhadap kode
berbahasa.

Merujuk pada pemikiran-pemikiran tentang pengertian
penyimpangan berbahasa di atas, maka dapat dikemukakan bahwa
yang dimaksud dengan penyimpangan berbahasa Indonesia adalah
pemakaian bentuk-bentuk tuturan berbagai unit kebahasaan yang
meliputi kata, kalimat, paragraf, yang menyimpang dari sistem kaidah
bahasa Indonesia baku.
BAB 3

PEMBAHASAN

3.1 PENGGUNAAN BAHASA INDONESIA DI KALANGAN
PESOHOR NEGERI

Kalangan para pejabat di Indonesia sekarang dinilai sudah
meninggalkan pemakaian bahasa Indonesia dalam acara kenegaraan
dan keseharian. Kepala Badan Bahasa Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan (Kemendikbud) Agus Dharma mengatakan, ada
kecenderungan para elite baik yang duduk di kalangan legislatif,
eksekutif, dan yudikatif, jika dilihat dari pola bicara mereka sudah
tidak ada lagi kebanggaan menggunakan bahasa Indonesia dalam
acara kenegaraan. Padahal sudah ada Peraturan Presiden (Perpres)
Nomor 16 Tahun 2010 tentang Pengunaan Bahasa di dalam dan luar
negeri. Adapun pengecualian diberikan jika negara yang bersangkutan
mewajibkan penggunaan bahasa lain.

“Sekarang mereka (pejabat) merasa rendah diri kalau berbahasa
Indonesia. Sudah ada anjurannya namun masih diulangi dengan
bahasa Inggris, seolah mereka bertingkah layaknya sebagai guru
bahasa Inggris.” katanya pada puncak peringatan Bulan Bahasa dan
Sastra dan Gerakan Cinta Bahasa Indonesia, bertajuk Peningkatan
Peran Bahasa dan Sastra dalam Pendidikan Karakter Bangsa.

Agus melanjutkan, seharusnya pejabat-pejabat di Indonesia
mencontoh negara Malaysia yang telah lama menggerakkan semangat
kebanggaan mereka akan bahasa Melayu. Mereka sadari tantangan
terbesar di Malaysia ialah makin tergerusnya bahasa itu apalagi
penduduk Melayu di sana tidak lebih banyak dari bangsa China dan
Tamil. Dia pun mengaku tidak terancam dengan bahasa gaul yang
berlaku di masyarakat, karena sifatnya hanya musiman yang akan
cepat hilang. Mengenai peredaran bahasa Indonesia dipakai sebagai
bahasa ibu hanya 20 persen dan itupun hanya di kota besar sedangkan
yang menggunakan bahasa daerah sebagai bahasa ibu 70 persen, Agus
mengaku tidak khawatir.

Alasannya, bahasa daerah merupakan sumber budaya Indonesia.
“Bahasa daerah kita lah yang membuat kita kaya dari negara lainnya,”
ungkap Agus.Sementara untuk mensosialisasikan pemakaian bahasa
Indonesia dan sastra di Indonesia, Badan Bahasa juga membuat film
akan hal itu. Sekretaris Badan Bahasa Kemdikbud Yeyen Maryani
menyatakan, dengan melihat fenomena yang ada di mana kebanggaan
generasi muda menurun akan bahasa.

3.2 PENGGUNAAN BAHASA INDONESIA DI KALANGAN
PESOHOR NEGERI PADA MASA ORDE BARU

Setiap rezim meninggalkan bekas pada bahasa. Semasa orde
lama, kata-kata ganyang, nekolim, nasakom, dan sebagainya sangat
akrab ditelinga rakyat. Ketika Soekarno mundur, kekuatan kata-kata
itu ikut melemah. Orde baru meninggalkan krisis politik dan ekonomi
di Indonesia. Orde baru juga meninggalkan banyak istilah, jargon, dan
akronim. Kekuasaan yang otoriter biasanya menciptakan istilah-istilah
dan jargon- jargon untuk mempertahankan kekuasaannya. Sesudah
merdeka, peranan bahasa Indonesia semakin jelas dan nyata. Dalam
pergaulan dengan bahasa-bahasa yang sudah ada di tanah air, identitas
bahasa Indonesia semakin terlihat. Namun bukan berarti bahasa
Indonesia aman dari masalah. Justru masalah kebahasaan di Indonesia
cukuprumit, tidak hanya mencakup aspek bahasa saja, tetapi juga
melibatkan aspek pemakai dan pemakaiannya. Dilihat dari aspek
bahasa, bahasa Indonesia berhadapan dengan bahasa asing, dan bahasa
daerah. Dilihat dari aspek pemakaiannya, bahasa Indonesia
berkembang dalam pemakaian istilah terutama pada komunikasi lisan.
Hal ini terlihat pada ungkapan tertentu yangdipakai oleh para
pemakainya yang semakin meluas. Gebrakan pemerintah pada masa
orde baru adalah diberlakukannya Ejaan Yang Disempurnakan (EYD)
tahun 1972. Sebelum adanya EYD, bahasa Indonesia yang digunakan
masih diwarnai oleh bahasa etnis masing-masing atau unsur lain dari
bahasa asing. Pemberlakuan EYD ditujukanuntuk mengakomodasi
keragaman bahasa yang ditemukan di tanah air ini.

Kekacauan struktur bahasa dilakukan dan disebar luaskan
oleh penguasa politik. Contoh kekacauan struktur bahasa tersebut
dapat dilihat pada pengucapan sufiks -kan menjadi -ken, misalnya
melaksanakan menjadi melaksanaken, ditiadakan menjadi ditiadaken,
serta pengucapan kata semakin menjadi semangkin. Selain itu
penggunaan kata daripada dalam masa orde baru menjadi sangat luas
karena para pejabat merasa perlu meniru kesalahan yang dilakukan
oleh Presiden Soeharto ketika dia berbicara bebas tanpa teks.Frase
seperti “melihat daripada pentingnya soal pangan”, “meninjau
daripada anggaran belanja negara”, “mencamkan daripada keadaan
pasar”, dan kalimat-kalimat seperti itu diikuti oleh pejabat dan politisi
tanpa merasa sungkan dan bersalah. Bentuk ini menyebabkan kalimat
tidak efektif karena boros dalam menggunakan kata. Pemakaian
preposisi seperti ini dapat merusak hubungan antar kata dalam
kelompok frase.

3.3 PENGGUNAAN BAHASA INDONESIA DI KALANGAN
PESOHOR NEGERI PADA MASA SEKARANG

Pejabat negara memiliki pengaruh yang besar terhadap
perkembangandan kemajuan negara. Segala bentuk aktivitas mereka
memiliki pengaruhyang cukup besar. Terkadang pejabat negara ini
juga telah mengalami kekeliruan atau penyimpangan norma dari salah
satu bahasa atau lebih. Seperti pada kalimat-kalimat berikut ini:

a. Saya membutuhkan staf dengan figur yang pintar, visioner, dan
pandai melobi.

b. Kasus ini harus diselesaikan dalam rangka good governance
dalam bidang pelayanan.

c. Saya harap semua perintah dapat di- follow up dan dilaksanakan.
Sebenarnya istilah-istilah bahasa Inggris visioner, good
governance berpadanan dengan “pemerintah yang baik”, dan follow-
up berpadanan dengan “ditinjaklanjuti”. Bahasa indonesia itu kaya
dengan kosa kata, sehingga tidak memerlukan banyak istilah
asing.Para peneliti dan pemerhati bahasa Indonesia mengimbau
pejabatnegara untuk memberikan contoh penggunaan bahasa
Indonesia yang baik dan benar, khususnya dalam forum resmi
kenegaraan. Sejumlah pejabat negara yang seringkali melakukan alih
bahasa ke bahasa asing (umumnya mencampurnya dengan bahasa
Inggris) jika sedang berbicara dalam forum-forum resmi kenegaraan.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono akhir-akhir ini sering
melakukan alih bahasa ketika sedang berpidato resmi. Hal itu
kemungkinan disebabkan tuntutan psikologis karena kondisi atau
situasi politik yang sulit menggunakan bahasa Indonesia secara
langsung. Padahal, acara tersebut pada umumnya kemudian disiarkan
oleh televisi sehingga banyak masyarakat dari berbagai pelosok yang
menyaksikannya. Saat pejabat bekerja harus mematuhi fungsi bahasa
Indonesia yang diatur dalam UUD 1945 bahwa bahasa resmi adalah
bahasa Indonesia dan bahasa nasional adalah bahasa Indonesia.

Bahasa resmi dipakai sesuai dengan kaidah yang berlaku.
Pemegang kebijakan harus memberi contoh dalam penggunaan bahasa
Indoensia yang baik dan benar agar pejabat negara ikut
mengembangkan bahasa Indonesia melalui caranya berbicaradalam
forum-forum resmi. Sekarang ini cenderung terjadi penurunan kualitas
penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar khususnya di
kalangan generasi muda. Hal itu bisa dilihat dari media elektronik
yang banyak menggunakan bahasa sandi yang dikenal sebagai bahasa
gaul.Ada kecenderungan penggunaan bahasa Indonesia yang tidak
baik dan benar itu meningkat tetapi cukup komunikatif. Agar tetap
komunikatif karena bahasa itu terus berkembang. Oleh karena itu,
bahasa asing perlu dibakukan ke dalam bahasa Indonesia. Perhatian
media massa terhadap pengembangan bahasa Indonesia cukup besar.
Kalaupun masih ada penyimpangan, hal itu terjadi karena wartawan
hanya berfungsi sebagai tape recorder dari apa yang dikatakan sumber
berita yang umumnya pejabat.

Untuk itu, pembinaan bahasa Indonesia seharusnya dimulai
dengan membenahi bahasa pejabat. Media massa diharapkan untuk
mengikuti kaidah-kaidah berbahasa, pejabat pun harus dididik
bagaimana menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.
Media massa ikut merusak perkembangan bahasa Indonesia. Apa yang
disebut Bahasa Indonesia Ragam Jurnalistik (BIRJ) yang dipedomani
dalam penulisan berita di media massa, sesungguhnya terikat pada
tatanan bahasa Indonesia baku. Hanya saja BIRJ bersifat lebih
sederhana, sehingga pesan yang ingin disampaikan dapatditerima
khalayak yang lebih luas. Perkataan pejabat sebagai sumber berita
banyak yang menyimpang dari struktur tata bahasa. Ironisnya,
penyimpangan-penyimpangan itu menyebar bagai penyakit menular
ke pejabat lain yang ada pada tataran lebih rendah.

Dalam perkembangannya, penyimpangan bahasa pejabat itu
meluas ke kalangan pelaku bisnis dan masyarakat umum. Untuk itu,
pembinaan bahasa juga perlu dilakukan di kalangan sumber berita,
terutama pejabat pemerintah, kalangan militer yang
mengeluarkan banyak akronim, dan pemimpin dunia usaha
merisaukan perkembangan bahasa media massa Indonesia yang
banyak dipengaruhi bahasa pejabat. Situasi ini sebenarnya tidak lepas
dari praktek jurnalistik yang terlalu mengandalkan kalangan birokrat
sebagai sumber informasi utama. Dalam proses interaksi semacam ini
lalu muncul apa yang disebut filtrasi bahasa birokrasi. Bahasa
birokrasi yang digunakan dari lapisan tertinggi di pemerintahan
hingga ke desa-desa, menampilkan kata-kata yang tidak jelas. Kata-
kata yang kabur maknanya itu sering kali dipakai begitusaja oleh
media massa, sehingga kerancuan bahasa birokrat itu kemudian
menyebar di kalangan masyarakat luas.
Infiltrasi birokrasi dalam penggunaan bahasa di media massa ini
harus diakui banyak menyumbang terjadinya peyimpangan. Perkataan
seperti,"Rumah penduduk akan di-rehab", sebagaimana dikutip media
massa dari seorang pejabat, yang dimaksud tentunya, "Rumah
penduduk akan diperbaiki". Singkatan dan akronim terutama dimulai
kalangan militer juga merasuki media massa dengan cepat dan luas.
Akronim "Kopkamtib" atau "Kodam" misalnya, dalam media massa,
hampir tidak pernah dilengkapi kepanjangan. Selain nama instansi itu
terlalu panjang, juga dianggap tidak ekonomis bagi kolom surat kabar
atau majalah. Bagi media massa (cetak), penyimpangan-peyimpangan
dari bahasa birokrasi itu sebetulnya masih bisa diperbaiki, dengan
menyunting atau mengubah penggunaan kata dan struktur kalimat
sesuai kaidah bahasa yang baik dan benar. Namun bagi media televisi
dan radio, perkataan langsung yang kurang baik dan kurang benar itu
tentu tidak bisa dielakkan. Himpunan Sarjana Kesusasteraan Indonesia
(HISKI) mengkritik pejabat pemerintah yang gemar menggunakan
bahasa asing dalam pidato resmi kenegaraan. Bagaimana rakyat bisa
mengerti bahasa Inggris sedangkan bahasa Indonesia saja masih dalam
upaya pembinaan.

Dalam konstitusi, termuat ketentuan yang menyatakan bahasa
Indonesia adalah bahasa resmi. Karena itu, fungsi bahasa Indonesia
sebagai bahasa resmi harus benar-benar dijalankan. Konsekuensinya,
saat berdinas pejabat pemerintahan harus menggunakan bahasa
Indonesia. Selama dalam konteks berbicara di Indonesia pejabat harus
menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Presiden
Susilo Bambang Yudhoyono sebagai salah satu pengguna bahasa
Indonesia yang baik, karena struktur bahasa Indonesianya sangat baik.
Namun, akhir-akhir ini presiden juga mulai banyak menggunakan
bahasa asing dalam pidato kenegaraan. Terkadang alasan penggunaan
bahasa asing dikaitkan dengan khalayak pendengarnya kaum
intelektual yang dinilai dapat memahaminya. Namun, pidato tersebut
juga ikut disiarkan atau diberitakan kepada masyarakat. Pejabat lebih
sering menggunakan bahasa asing untuk istilah atau percakapan
sehari-hari yang sebenarnya bisa menggunakan bahasa Indonesia.

Bahasa Indonesia memiliki kosakata yang memadai untuk hal-
hal umum. Mereka merasa tidak ketinggalan zaman kalau bicara
memakai bahasa asing. Dunia pertelevisian tidak hanya membawa
dampak positif tetapi juga dampak negatif. Tayangan-tayangan
televisi yang kebanyakan sinetron menggunakan bahasa yang tidak
sesuai. Bahasa-bahasa yang digunakan kebanyakan bahasa keseharian
masyarakat Jakarta yang merupakan tempat pembuatan sinetron
tersebut. Bahasa tersebut menyebar dan ditiru masyarakat. Para
pesohor di bidang seni, terutama pemain film, penyanyi, pembawa
acara televisi apabila berbicara dalam suatu acara televisi yang bersifat
informal, mereka lebih senang menggunakan bahasa “gaul” yang pada
intinya dibangun dari bahasa Melayu Jakarta dan bahasa Indonesia.
Bahasa gaul ini memang tepat digunakan untuk situasi akrab, tetapi
karena bahasa itu digunakan di hadapan khalayak umum, maka ragam
yang dipilih semestinya sebuah ragam yang dapat diterima oleh
masyarakat yang berlatar belakang kebahasaan berbeda.

Bahasa Indonesia ragam umum merupakan sebuah ragam yang
menjadi milik bersama. Apabila ragam ini digunakan untuk
pembicaraan di depan umum, maka semua lapisan masyarakat
menjadi bagian di dalamnya. Hal ini tentu berbeda apabila terjadi
antar perorangan yang tidak menjadi perhatian masyarakat. Bahasa
yang digunakan untuk mengantarkan acara hiburan biasanya
merupakan campuran bahasa Melayu Jakarta dan bahasa Indonesia.
Dalam pergaulan yang bersifat lokal, nasional, internasional selalu ada
kesantunan berbahasa. Bahasa akrab selalu digunakan untuk
membangun hubungan akrab antara pembicara dan lawan bicara
dalam lingkungan terbatas, sementara bahasa sopan selalu digunakan
oleh seorang pembicara kepada khalayak untuk saling menghormati.
BAB 4

PENUTUP

4.1 SIMPULAN

Penggunaan bahasa Indonesia di kalangan pesohor negeri
banyak mengalami penyimpangan. Penyimpangan bahasa Indonesia di
kalangan pejabat bisa dijumpai pada masa orde baru. Kekacauan
struktur bahasa tersebut dapat dilihat pada pengucapan sufiks –kan
menjadi -ken, misalnya melaksanakan menjadi melaksanaken.
Penggunaan kata daripada dalam masa orde baru menjadi sangat luas
karena para pejabat merasa perlu meniru kesalahan yang dilakukan
oleh Presiden Soeharto ketika dia berbicara bebas tanpa teks. Para
peneliti dan pemerhati bahasa Indonesia mengimbau pejabat negara
untuk memberikan contoh penggunaan bahasa Indonesia yang baik
dan benar, khususnya dalam forum resmi kenegaraan. Bahasa
Indonesia di kalangan pelaku seni juga banyak mengalami
penyimpangan. Bahasa yang digunakan dalam dunia pertelevisian
banyak mengalami penyimpangan. Tayangan-tayangan televisi yang
kebanyakan sinetron membawa dampak negatif karena bahasa yang
digunakan tidak sesuai dan bahasa tersebut ditiru oleh masyarakat
luas.

4.2 SARAN

Persoalan yang muncul antara lain, perlunya keseragaman
dalam penyerapan kata-kata bahasa asing, perbaikan bahasa para
pejabat, pengutamaan kata-kata bahasa daerah sebagai lema baru
dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), penertiban akronim,
dan lain-lain. Kesalahan-kesalahan berbahasa yang tergolong
mendasar itu,memunculkan gagasan agar para pejabat mengikuti
kursus bahasa Indonesia yang baik dan benar. Konkretnya, muncul
pula usulan agar para pejabat dinegeri ini harus lulus UKBI (Uji
Kemahiran Berbahasa Indonesia). Apabila dikaitkan dengan kendala
ini, muncul gagasan menarik, bahwa untuk mengimbangi pesatnya
perkembangan bahasa, sebaiknya Pusat Bahasa menggunakan KBBI
daring (dalam jaringan/online) untuk menyosialisasikan kata-kata
serapan baru dari bahasa asing yang memangdatang begitu
banyak.Seharusnya pemerintahan kita juga harus lebih tanggap dalam
menanggulangi masalah bahasa-bahasa baru yang bermunculan yang
berpotensi kurang baik tarhadap perkembangannya. Misalnya bisa
dengan memberikan seminar-seminar tentang indahnya berbahasa
Indonesia atau dengan membuat poster-poster menarik tentang
penggunaan bahasa Indonesia.
DAFTAR PUSTAKA

Barthes, Roland. 1981. Mithologies. New York: Granada Publishing.

Budiman, Kris. 1999. Semiotika. Yogyakarta: LKIS.

Darmono, Sapardi Djoko. 1993. Pengembangan Sastra Melalui Penerjemahan.
Makalah Kongres Bahasa Indonesia VI. Jakarta: Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan.

Kayam, Umar. 1981. Seni, Tradisi, Masyarakat. Jakarta: Penerbit Sinar Harapan.

Lauder, Multamia RMT.2008. Orientasi Pengembangan Kosakata Dalam
Menyongsong Masyarakat Madani Di Indonesia. Jakarta: Depdiknas Pusat
Bahasa.

Levi-Strauss, Claude. 1967. Structural Antropology. New York: Anchor Books,
Doubleday & Company, Inc.

Muhamad, Gunawan. 1980. Seks, Sastra, Kita. Jakarta: Penerbit Sinar
Harapan.Peursen, C.A. Van. 1976. “Bab II Alam Pikiran Mistis” dalam Strategi
Kebudayaan. Terjemahan Dick Hartoko. Yogyakarta: Kanisius.

Rosidi, Ajip. 1985. Kapankah Kesusastraan Indonesia Lahir? Jakarta: Gunung
Agung.

Santosa, Puji. 1993. “Mitos Nabi Nuh di Mata Tiga Penyair Indonesia” dalam
Bahasa dan Sastra Tahun X Nomor 1 1993.

Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa. 2001. Kamus Besar Bahasa Indonesia.
Jakarta: Balai Pustaka.

Wibowo, Wahyu. 1995. “Warna Daerah atau Warna Setempat” dalam
Konglomerasi Sastra. Jakarta: Paron Press.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful