MEDIKOLEGAL

DELEGASI TINDAKAN MEDIS
dr. Indah Sandy

INTERNSHIP RS.DKT - Bandar Lampung – 2012

Pelayanan kesehatan merupakan perbuatan hukum Perbuatan oleh dua pihak (pemberi dan penerima jasa layanan kesehatan) yang menimbulkan akibat hukum. Delegasi wewenang : istilah hukum  pelimpahan wewenang Penerapannya menimbulkan akibat yang diatur oleh hukum. Pemberi wewenang : delegans Penerima wewenang : delegataris

Delegasi wewenang (dalam konteks pelayanan kesehatan)  pelimpahan dari dokter kepada tenaga kesehatan lain (dokter, perawat, bidan, dll) dalam upaya pelayanan kesehatan.

.Tenaga Kesehatan Pasal 1 ayat 6 UU no 36/2009 tentang Kesehatan “Tenaga kesehatan adalah setiap orang yang mengabdikan diri dalam bidang kesehatan serta memiliki pengetahuan dan/atau keterampilan melalui pendidikan di bidang kesehatan yang untuk jenis tertentu memerlukan kewenangan untuk melakukan upaya kesehatan.”.” Pasal 63 ayat 4 UU no 36/2009 “Pelaksanaan pengobatan dan/atau perawatan berdasarkan ilmu kedokteran atau ilmu keperawatan hanya dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian dan kewenangan untuk itu.

Tanggung Jawab Tenaga Kesehatan • Memiliki persyaratan / kualifikasi dan mempertahankannya: • Memiliki Sertifikat Kompetensi. dll • Mematuhi Kode Etik Profesi • Mematuhi Standar Profesi • Mematuhi Standar Pelayanan dan SPO . Surat Izin Praktik / Kerja. Surat Tanda Registrasi.

” .Perlindungan Hukum Pasal 50 UU 29/2004 tentang Praktik Kedokteran “Dokter atau dokter gigi dalam melaksanakan praktik kedokteran mempunyai hak : memperoleh perlindungan hukum sepanjang melaksanakan tugas memberikan pelayanan medis menurut standar profesi dan standar prosedur operasional.

Hubungan Hukum Pasien – Tenaga Kesehatan Lain Kontrak tenaga kesehatan lain harus berupaya memberikan pelayanan sesuai dengan kemampuan dan perangkat ilmu yang dimiliki. yaitu dokter berupaya secara maksimal menyembuhkan pasien. Hubungan Hukum Dokter – Tenaga Kesehatan Lain Merupakan hubungan rujukan atau delegasi .Hub.Dokter Kontrak terapeutik. Hukum Pelayanan Kesehatan Hubungan Hukum Pasien .

RM 02-98-11/Dinas Ny. 27 Tahun Datang ke RS.KASUS NO. SpOG – 28 Juli 2012) .SZ. DKT : 27 Juli 2012 Diagnosis Masuk : G2P1A0 Aterm In Partu Pemeriksaan dilakukan pada tanggal 30 Juli 2012 pukul 08.20 WIB Pasien dalam perawatan hari ke-4 di RS DKT Telah mendapat induksi persalinan : drip oksitosin 1/2 Ampul (5 unit) 20 tpm (Sesuai advis dr.B.

• Riwayat persalinan sebelumnya 2 tahun yang lalu mengalami eklamsia. • Selama perawatan di RS. bayi lahir hidup kemudian meninggal setelah 2 hari perawatan.Subjective • G2P1A0 dengan usia kehamilan 37 minggu. . Cairan bening encer tidak bercampur darah. gusi berdarah spontan tiba-tiba. • 1 jam sebelum pemeriksaan. • Demam sejak 1 hari dan terkadang menggigil. • Keluar cairan dari kemaluan sejak 1 hari. mules perut dirasakan semakin berkurang • Gerakan janin masih dapat dirasakan.

Nadi 100 x/menit.000/mm³  • • • • • . Presentasi kepala.9ºC .l) VT pembukaan OUE 2 cm. Ketuban (-) • Lab Darah Cito (30 Juli 2012) Hb : 13. xyphoideus.Suhu 37. Hodge II.900/mm³ Hematokrit : 37 % Trombosit : 81.Objective Compos Mentis/ Tampak Sakit Sedang TD100/70 mmHg . DJJ 85x/menit. akral hangat Status Obstetri TFU 3 jari di bawah proc. Janin tunggal. DJJ fluktuatif sejak jam 06.RR 24 x/menit Status Generalis dalam batas normal Pitting edema (+/+) tungkai bawah.00 (2 jam y. punggung di sisi kiri.1 gr/dl Leukosit : 8. kepala sudah masuk PAP His (+) jarang. portio tebal. reguler .

Gagal Induksi Fetal distress Ketuban Pecah Dini Obs. In partu Kala I .Assessment Persalinan dengan Penyulit • • • • G2P1A0 Aterm. Febris (H-II) + Trombositopenia Suspek Demam Dengue .

SpOG instruksi : persiapan untuk SC jam 12. sungkup • Medikamentosa Loading IVFD D5 200 cc lalu lanjutkan 30 tpm Stop drip Oksitosin • Konsul ke dr. Kes dan TV dan DJJ per 15 menit O2 6-10 L/menit.B.Plan • Non medikamentosa Observasi ketat KU.00 .

CRT>2 detik Hb 7.6 gr/dl  Delirium.B spOG teruskan Loading RL 500cc Observasi ketat TTV dan perdarahan Injeksi Vit. Masase Uterus teruskan. Kontraksi uterus lemah PPV 500 cc (aktif) Eksplorasi cavum uteri : bersih.10 SUBJECTIVE Perdarahan (+) Post partum spontan. 48 cm. Lanjut loading RL 500cc. Total resusitasi cairan : Syok Hipovolemik ec. Syok Hipovolemik Syok Hipovolemik Lapor dr.B spOG : .10 11. A/S 3/6 Distosia bahu dan lilitan tali pusat.B SpOG : lanjutkan intervensi sesuai advis. Wida HES 500cc + Kristaloid 1000 cc Lapor dr. Nadi tidak teraba.Metergin 2 ampul .K dan Kalnex 1 ampul.Oksitosin 2 ampul . sisa placenta (-) Perdarahan aktif >>> CM/Gelisah. pro histerektomi cito. 11. 10. Nadi tidak teraba Akral dingin Kontraksi uterus (-) ASSESSMENT Perdarahan Post Partum PLAN Loading RL 500 cc Monitor perdarahan dan TTV Tampon uteri Oksitosin drip Metergin i.I spAn : siapkan Dopamin. TD 60 per palpasi. TD 60/palpasi Nadi tidak teraba Akral dingin.Masase uterus 10. TD 70/40 Nadi 144/menit. Atonia Uteri Pasang jalur IV 2 Line. TD 70/40. Lanjutkan resusitasi cairan. Atonia Uteri pro Histerektomi . Loading RL 1000cc Koloid WIDA HES 500cc Hb cito! Persiapan Tranfusi darah (WB) Advis dr.50 Syok Hipovolemik ec.TGL 10. Bayi 3800 gram. teruskan masase uterus. Atonia Uteri 11.45 Pasien dikirim ke OK Apatis.Gastrul 3 tab . isi cukup TFU setinggi pusat. pulsasi lemah Kontraksi uterus masih lemah Perdarahan aktif >>> Delirium.35 . sangat lemah Apatis. Placenta lahir lengkap (kotiledon lengkap) OBJECTIVE CM/ TD 100/80 Nadi 100/menit. Lapor dr.20 Pre-syok Hipovolemik ec. Nadi 156/menit. TD 50/palpasi.m Masase Uterus Lapor dr.B spOG : Kirim ke OK. Lanjutkan resusitasi cairan.

ANALISA KASUS Gagal Induksi. KPD Post Partum Spontan Fetal Distress Syok Hipovolemik Trombositopeni Atonia Uteri Histerektomi G2P1AO Aterm In Partu 28/07 29/07 30/07 31/07 Induksi Drip Oksitosin 5 Unit (1/2 Amp) Stop drip Oksitosin Persiapan SC Resusitasi Cairan Uterotonika Delegasi Tindakan Medis? Partograf ? Persalinan dgn penyulit Kompetensi? Informed Consent Damage/Risiko Medis? .

Hubungan Hukum Dokter Sp.OG dan Bidan ? • Persalinan tanpa penyulit  kompetensi bidan • Induksi persalinan : konsul/rujuk/delegasi tindakan medis? • Konsul  tanggung jawab pada Bidan • Delegasi  Tanggung jawab pada Dokter SpOG .1.

waktu Penerima delegasi berhak menolak jika merasa tidak mampu melakukan tindakan medis tersebut . Penegakan diagnosa. 5. 3. pemberian terapi serta penentuan indikasi tindakan. apakah dokter harus disampingnya atau dapat ia panggil sewaktu. Pendelegasian itu harus dilakukan tertulis termasuk instruksi yang jelas tentang pelaksanaannya dan bagaimana tindakan bila timbul komplikasi dsb. Pelaksanaan ini tergantung tindakannya. 4. 2.Syarat Delegasi Tindakan Medis 1. harus diputuskan dokter sendiri Delegasi dimana tindakan medis hanya dibolehkan jika dokter yakin bahwa yang menerima delegasi itu sudah mampu dengan baik melakukannya. Harus ada bimbingan dan pengawasan medik pada pelaksanaannya.

Tindakan dalam rangka penerusan observasi dan bimbingan penderita di rumah sakit Tindakan perawatan dan pengurusan penderita Tindakan yang berhubungan dengan aktivitas diagnostik dan terapi dari dokter yang dilaksanakan atas instruksinya . b.Tindakan Medis Yang Boleh Didelegasikan a. c.

Delegasi Tindakan Medis Kepmenkes 1239/2001. Tindakan medis hanya legal dilakukan oleh dokter . pasal 15 ayat 4 Pelayanan tindakan medik hanya dapat dilakukan berdasarkan permintaaan tertulis dari dokter.

2. • Termasuk kedalam standar kompetensi Bidan • Termasuk standar operasional memimpin persalinan. Tidak adanya catatan kemajuan persalinan  Kelalaian? Apakah semua unsur kelalaian terpenuhi? . Tidak ada partograf • Partograf : alat menilai kemajuan persalinan.

Omission : kelalaian melakukan sesuatu yang seharusnya dilakukan Commission : melakukan sesuatu secara tidak hati-hati Jenis-jenis kelalaian 1.Kelalaian (Negligence) Segala tindakan yang dilakukan dan dapat melanggar standar sehingga mengakibatkan cidera/kerugian orang lain. Malfeasance : Melakukan tindakan yang melanggar hukum atau tidak tepat/layak 2. Misfeasance : Melakukan pilihan tindakan medis yang tepat tetapi dilaksanakan dengan tidak tepat 3. Nonfeasance : Tidak melakukan tindakan medis yang merupakan kewajibannya. .

. Duty yaitu kewajiban tenaga kesehatan untuk melakukan tindakan atau untuk tidak melakukan tindakan tertentu terhadap pasien pada situasi dan kondisi tertentu. 4. Dereliction of the duty atau penyimpangan kewajiban Damage atau kerugian. 3.Tenaga kesehatan dianggap lalai. dalam hal ini harus terdapat hubungan sebab akibat antara penyimpangan kewajiban dengan kerugian. Direct cause relationship atau hubungan sebab akibat yang nyata. bila memenuhi empat (4) unsur : 1. yaitu segala sesuatu yang dirasakan oleh pasien sebagai kerugian akibat dari layanan kesehatan yang diberikan oleh pemberi pelayanan. 2.

3. Hukum Dokter Jaga – Dokter SpOG • Hubungan rujukan/delegasi? • Dokter Jaga melaporkan keadaan pasien. instruksi Dokter SpOG direncanakan untuk SC 3.5 jam kemudian. Hub. • Tanggung jawab berada pada Dokter Jaga/Dokter SpOG? • Persalinan dengan penyulit yang merupakan kompetensi dokter spesialis. .

ia wajib merujuk pasien kepada dokter yang mempunyai keahlian dalam penyakit tersebut.” . Dalam hal ini bila ia tidak mampu melakukan suatu pemeriksaan atau pengobatan.KODEKI Pasal 10 “Setiap dokter wajib bersikap tulus ikhlas dan mempergunakan segala ilmu dan ketrampilannya untuk kepentingan pasien. maka atas persetujuan pasien.Etika Profesi dan Disiplin .

Persalinan dengan penyulit dipimpin oleh Bidan • Satu jam setelah pasien dilaporkan kepada Dokter Spesialis Kandungan untuk rencana SC. • Persalinan dengan penyulit bukan merupakan kompetensi Bidan. Bidan memimpin persalinannya.4. • Pimpin persalinan atas instruksi Dokter SpOG? • Pimpin persalinan atas indikasi live saving? Emergency? • Dapat disebut sebagai Kelalaian? • Malpraktik? .

tindakan kelalaian (negligence).Malpraktik Malpraktik dapat terjadi karena tindakan yang disengaja (intentional) seperti pada misconduct tertentu. . ataupun suatu kekurang-mahiran/ketidakkompetenan yang tidak beralasan.

5. Atonia Uteri : Damage atau Risiko Medis? • Post partum spontan  syok hipovolemik akibat atonia uteri. • Salah satu penyebab atonia uteri adalah regangan uterus yang berlangsung lama yang dapat terjadi akibat kegagalan induksi. • Apakah atonia yang terjadi merupakan kerugian langsung dari kelalaian medis (tidak membuat partograf) atau risiko medis yang tidak dapat dielakkan dari tindakan induksi persalinan ? .

dokter tidak bertanggung jawab secara hukum (volenti non fit injuria) . unpreventable) dengan nilai manfaat yang tak tergantikan. namun tidak mungkin dihindari ataupun dicegah • Risiko yang unforeseeable = untoward results • Perlu informed consent sehingga bila terjadi.Risiko Medis • Inheren pada setiap tindakan medis • Sebagian besar risiko kedokteran dianggap akseptabel • Tingkat probabilitas dan keparahannya minimal (umumnya bersifat foreseeable but unavoidable: calculated. controllable) • Risiko “bermakna” tetapi harus diambil karena “the only way” (unavoidable.

6. Dokter Jaga. Tanggung Jawab : Bidan. Dokter SpOG? Atonia uteri  siapa yang menjadi penanggung jawab atas pasien ini? • Bidan yang memimpin persalinan spontan tanpa instruksi Dokter Spesialis Kandungan? • Dokter jaga yang melaporkan kondisi pasca induksi persalinan dan menerima instruksi persiapan SC? • Dokter Spesialis Kandungan yang memberi instruksi induksi sejak pertama kali pasien dirawat (pendelegasi tindakan medis)? .

27 tahun Gagal Induksi.Post hypovolemic shock DD : Dengue.Ny.Vit K 2x1 Teruskan terapi Alinamin per 8 jam Ganti balut tiap hari Ceftriaxon 3x1gr . IgM/IgG Anti Dengue PRC 2 Kolf Pindah Ruang Rawat Biasa Asam Mefenamat 3x1 Antacid syrup 3x1 C Neurodex 3x1 Curcuma 3x1 tab BLPL Rawat Jalan IVFD RL 30 gtt Stop drip Oksitosin PRC 500 cc . DIC. HbsAg.WB 1500 cc Persiapan SC Trombosit 1600 cc . KPD Syok Hipovolemik Fetal Distress Atonia Uteri Trombositopeni FOLLOW UP PERJALANAN PENYAKIT Multi organ dysfunction .Metronidazol 3x1 . HELLP Syndrome ? Anemia Leukositosis Trombositope ni LED  CT/BT  SGOT/SGPT  Ur/Cr  PT/aPTT dbN IgM Dengue () IgG Dengue (-) HbSAg (-) G2P1AO Aterm In Partu 28/0729/07 30/07 Protein  Alb/Glob  31/07 01/08 02/08 03/08 04/08 05/08 06/08 Induksi Drip Oksitosin 5 Unit (1/2 Amp) Histerektomi Dr.SZ.Dexa 3x1 Ampul Konsul SpPD Dr.FFP 750 cc Lasix 1cc (extra) . PRC 4 Kolf PT/aPTT.B spOG : Kalnex 3x1 .SpPD : Re-Haeting Biocurliv 3x1 Perineum Periksa D/Dimer.

Materi seminar tidak diterbitkan. • Soenarto Soerodibroto. edisi ketiga: Jakarta: EGC. Etika Kedokteran dan Hukum Kesehatan. 2. Saifuddin. (2001). T.RajaGrafindo Persada. Ed. 2007. Rustam. Rachimhadi. (1999). Ilmu Kebidanan. • Winkjosastro.REFERENSI • Amir & Hanafiah.. • Mochtar. Hukum Kedokteran : Bandung: CV Mandar Maju. H. • Supriadi. • Undang-undang Perlindungan Konsumen nomor 8 tahun 1999. • Sampurno. Jakarta: Sinar Grafika. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo . B. (2005). AB. KUHP & KUHAP dilengkapi yurisprodensi Mahkamah Agung dan Hoge Road: Jakarta : PT. Sinopsis obstetrik. (2001). Jakarta: EGC.. 1998.. Malpraktek dalam pelayanan kedokteran.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful