Referat

Abses Hepar

Pembimbing: Dr. Nugroho Sp.B

disusun Oleh: Pande Putu Perdani Widhiasari 030.04.171

Kepaniteraan Klinik Ilmu Bedah Rumah Sakit Umum Pusat Fatmawati Periode 30 Maret – 6 Juni 2009 Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti

BAB I

Gejala tersering yang dikeluhkan oleh pasien dengan amebiasis hati adalah berupa nyeri perut kanan atas. Individu yang mudah terinfeksi adalah penduduk di daerah endemik ataupun wisatawan yang ke daerah endemik di mana laki – laki lebih sering terkena dibanding perempuan dengan rasio 3:1 hingga 22:1 dan umur tersering pada dekade empat. ikterus ringan sampai sedang dan berak darah.PENDAHULUAN Abses hati adalah bentuk infeksi pada hati yang disebabkan karena infeksi bakteri. Hampir 10% penduduk dunia terutama penduduk dunia berkembang pernah terinfeksi Entamoeba histolytica tetapi 10% saja dari yang terinfeksi menunjukkan gejala. Prevalensi yang tinggi biasanya berhubungan dengan sanitasi yang buruk. Abses hati merupakan masalah kesehatan dan sosial pada beberapa negara yang berkembang seperti di Asia terutama Indonesia. Candida. Klebsiella. Secara umum abses hati dibagi menjadi 2 yaitu abses hati amebik dan abses hati piogenik di mana kasus abses hati amebik lebih sering terjadi dibanding abses hati piogenik. dan golongan lainnya. Abses hati sering timbul sebagai komplikasi dari peradangan akut saluran empedu. Pemeriksaan laboratorium didapatkan anemia ringan sampai sedang. pertama kali ditemukan oleh Hipppocrates (400SM) dan dipublikasikan pertama kali oleh Bright pada tahun 1936. Abses hati amebik biasanya disebabkan oleh infeksi Entamoeba hystolitica sedangkan abses hati piogenik disebabkan oleh infeksi Enterobacteriaceae. status ekonomi yang rendah serta gizi yang buruk. . Penatalaksanaan abses hepar dapat dilakukan secara konvensional dengan pemberian antibiotika spektrum luas ataupun dengan aspirasi cairan abses. drainase perkutan dan operasi reseksi hati. demam. berat badan menurun. Insidensi penyakit ini berkisar sekitar 5-15 pasien pertahun. hepatomegali dengan nyeri tekan atau nyeri spontan atau disertai dengan gejala komplikasi. maupun jamur yang bersumber dari sistem gastrointestinal yang ditandai dengan adanya proses supurasi dengan pembentukan pus di dalam parenkim hati. batuk. Meningkatnya arus urbanisasi menyebabkan bertambahnya kasus abses hati di daerah perkotaan. Streptococci. parasit. Abses hati piogenik merupakan kasus yang relatif jarang. Gejala yang menyertai adalah anoreksia. Salmonella. mual muntah.

biliopleura dan biliobronkial juga dapat timbul dari ruptur abses hati. berupa struktur-struktur yang tersusun membentuk huruf H. Abses hati dapat menyebar ke sistem pulmonum melalui facies diapharagma ini secara perkontinuitatum. Sebelah kanannya terdapat vena kava inferior dan vesika fellea. Facies diaphragmatika dibagi menjadi facies anterior. posterior dan dekstra yang batasan satu sama lainnya tidak jelas. Sebelah kiri porta hepatis . kecuali di mana margo inferior yang tajam terbentuk. superior. Abses menembus diaphragma dan akan timbul efusi pleura. Facies diaphragmatika 2. Facies visceralis (inferior) 1. Facies viseralis Facies viseralis adalah permukaan hepar yang menghadap ke inferior. 2. facies ini berbentuk konveks. Fistula bronkopleura.BAB II ANATOMI DAN FISIOLOGI Hepar mempunyai dua facies (permukaan) yaitu : 1. Pada bagian tengahnya terletak porta hepatis (hilus hepar). Facies diaphragmatika Facies diaphragmatika adalah sisi hepar yang menempel di permukaan bawah diaphragma. empiema abses pulmonum atau pneumonia.

vesika fellea. Drainase limfatik Aliran limfatik hepar menuju nodus yang terletak pada porta hepatis (nodus hepatikus). Cabang kanan melintas di posterior duktus hepatis dan di hepar menjadi segmen anterior dan posterior. Arteri hepatika merupakan cabang dari truncus coeliacus (berasal dari aorta abdminalis) dan memberikan pasokan darah sebanyak 20 % darah ke hepar. Cabang dari vena ini berjalan diantara lobulus dan berakhir di sinusoid. fleksura kolli dekstra. Facies viseralis ini banyak bersinggungan dengan organ intestinal lainnya sehingga infeksi dari organ-organ intestinal tersebut dapat menjalar ke hepar. impresio ginjal kanan dan glandula supra renal. berjalan bersama pembuluh darah pada lig. Vena ini mengandung darah yang berisi produk-produk digestif dan dimetabolisme hepar. Di bagian vena kava terdapat area nuda yang berbentuk segitiga dengan vena kava sebagai dasarnya dan sisi-sisinya terbentuk oleh ligamen koronarius bagian atas dan bawah. Jumlahnya sebanyak 3-4 buah. • Aliran darah dari seluruh traktus gastrointestinal dibawa menuju ke hepar oleh vena porta hepatis cabang kiri dan kanan. Persarafan • • nervus simpatikus : dari ganglion seliakus. Struktur yang ada pada permukaan viseral adalah porta hepatis. fissura ligamentum teres dan impresio gaster. Nodi ini juga menerima . Pendarahan • Perdarahan arterial dilakukan oleh arteri hepatika yang bercabang menjadi kiri dan kanan dalam porta hepatis (berbentuk Y). lobus kuadratus. Cabang kiri menjadi medial dan lateral. Darah meninggalkan hepar melalui vena sentralis dari setiap lobulus yang mengalir melalui vena hepatika. bagian kedua duodenum. Fileplebitis atau radang pada vena porta dapat menyebabkan abses pada hepar dikarenakan aliran vena porta ke hepar. omentum minus yang berlanjut hingga fissura ligamen venosum.terbentuk dari kelanjutan fissura untuk ligamentum venosum dan ligamentum teres. hepatogastrika dan masuk porta hepatis nervus vagus : dari trunkus sinistra yang mencapai porta hepatis menyusuri kurvatura minor gaster dalam omentum.

Setiap lobulus berbentuk heksagonal yang terdiri atas sel hati berbentuk kubus yang tersusun radial mengellilingi vena sentralis. Struktur Hati terbagi menjadi 8 segmen berdasarkan percabangan arteri hepatis. Dari nodus hepatikus.000-100. jadi hati merupakan organ utama pertahanan tubuh terhadap serangan bakteri dan organ toksik. juga terdapat saluran empedu yang membentuk kapiler empedu yang dinamakan kanalikuli empedu yang berjalan antara lembaran sel hati. Secara mikroskopis di dalam hati manusia terdapat 50.000 lobuli. vena porta dan duktus pankreatikus sesuai dengan segi praktisnya terutama untuk keperluan reseksi bagian pada pembedahan. limpe dialirkan (sesuai perjalanan arteri) ke nodus retropylorikus dan nodus seliakus. Di antara lembaran sel hati terdapat kapiler yang disebut sinusoid yang merupakan cabang vena porta dan arteri hepatika. Pars hepatis dekstra dibagi menjadi divisi medialis dekstra (segmentum anterior medialis dekstra dan segmentum posterior medialis dekstra) dan divisi lateralis dekstra (segmentum anterior lateralis dekstra dan segmantum posterior lateralis dekstra). sisanya adalah sel-sel epitelial . Hati terdiri atas bermacammacam sel.aliran limfe dari vesika fellea. Sinusoid dibatasi oleh sel fagositik (sel kupffler) yang merupakan sistem retikuloendotelial dan berfungsi menghancurkan bakteri dan benda asing dalam tubuh. Pars hepatis sinistra dibagi menjadi pars post hepatis lobus kaudatus. Hepatosit meliputi 60% sel hati. Selain cabang-cabang vena porta dan arteri hepatika yang mengelilingi lobulus hati. divisio lateralis sinistra (segmantum posterior lateralis sinistra dan segmantum anterior lateralis sinistra) dan divisio medialis sinistra (segmentum medialis sinistra).

Hati merupakan komponen sentral sistem imun. fibrinogen.sistem empedu dan sel-sel non parenkim yang termasuk di dalamnya endotelium. Hepatosit dipisahkan oleh sinusoid yang melingkari eferen vena hepatika dan duktus hepatikus. Fungsi hati dalam metabolisme protein adalah mengasilkan protein plasma berupa albumin. Sel kupffler yang merupakan 15% massa hati dan 80% dari total populasi fagosit tubuh. kemampuan glukoneogenesis dan sintesis glutation lebih baik dibandingkan zona lainnya. Fisiologi Hati Hati mempunyai fungsi yang sangat beraneka ragam. fosfolipid dan asam asetoasetat. Pada zona-zona hepatosit yang oksigenasinya lebih baik. dan sel stellata yang berbentuk seperti bintang. asam lemak dan garam empedu. dan kolesterol merupakan komponen terbesar (90%) cairan empedu. protrombin. Dari pasokan glikogen ini diubah menjadi glukosa secara spontan ke darah (glikogenolisis) untuk memenuhi kebutuhan tubuh. karena bilirubin dapat memberi warna pada jaringan dan cairan yang berhubungan dengannya. terutama dalam hal metabolisme karbohidrat. Hati mengekskresikan empedu sebanyak 1 liter per hari ke dalam usus halus. Fungsi utama hati adalah pembentukkan dan ekskresi empedu. lesitin. Sebagian glukosa dimetabolisme dalam jaringan untuk menghasilkan tenaga dan sisanya diubah menjadi glikogen (yang disimpan dalam otot) atau lemak (yang disimpan dalam jaringan subkutan). Fungsi hati dalam metabolisme lemak adalah menghasilkan lipoprotein dan kolesterol. dan faktor bekuan lainnya. Garam empedu. sisanya (10%) adalah bilirubin. Empedu yang dihasilkan ini sangat berguna bagi percernaan terutama untuk menetralisir racun terutama obat-obatan dan bahan bernitrogen seperti amonia. Mikrofili juga tampak pada sisi lain sel yang membatasi saluran empedu dan merupakan penunjuk tempat permulaan sekresi empedu. merupakan sel yang sangat penting dalam menanggulangi antigen yang . Membran hepatosit berhadapan langsung dengan sinusoid yang mempunyai banyak mikrofili. protein dan asam lemak. Sirkulasi vena porta yang memberikan suplai darah 75% dari seluruh asupan asinus memegang peranan penting dalam fisiologi hati. tetapi penting sebagai indikator penyakit hati dan saluran empedu. Permukaan lateral hepatosit memiliki sambungan penghubung dan desmosom yang saling bertautan dengan sebelahnya. Hasil metabolisme monosakarida dari usus halus diubah menjadi glikogen dan disimpan di hati (glikogenesis). sel kupffler. Bilirubin merupakan hasil akhir metabolisme dan walaupun secara fisiologis tidak berperan aktif. Sinusoid hati merupakan lapisan endotelial berpori yang dipisahkan dari hepatosit oleh ruang Disse (ruang perisinusoidal).

Anaerobic streptococci. Dinding kista akan dicerna oleh usus halus. Strain Entamoeba hystolitica tertentu dapat menginvasi dinding kolon. Sebagai host definitif. Tropozoit dewasa tinggal di usus besar terutama sekum. BAB III PEMBAHASAN Etiologi Abses hati amebik disebabkan oleh strain virulen Entamoeba hystolitica yang tinggi.berasal dari luar tubuh dan mempresentasikan antigen tersebut kepada limfosit. Klebsiella pneumoniae. Abses piogenik disebabkan oleh Enterobactericeae. Staphilococcus aereus. Candida . keluarlah tropozoit imatur. individu-individu yang asimptomatis mengeluarkan tropozoit dan kista bersama kotoran mereka. Microaerophilic streptococci. Infeksi biasanya terjadi setelah meminum air atau memakan makanan yang terkontaminasi kotoran yang mengandung tropozoit atau kista tersebut. Strain ini berbentuk tropozoit besar yang mana di bawah mikroskop tampak menelan sel darah merah dan sel PMN. Bacteriodes. Pertahanan tubuh penderita juga berperan dalam terjadinya amubiasis invasif. Staphilococcus milleri. Fusobacterium.

Infeksi yang berasal dari abdomen dapat mencapai hati melalui embolisasi melalui vena porta. sitolisis. Amubiasis invasif dapat disebabkan perdarahan usus besar. Infeksi intraabdomen ini biasanya berasal dari appendisitis. perforasi. histolytica kemudian penyebaran amoeba ke hati melalui vena porta. Lesi membesar bersatu dan granuloma diganti . Bila terjadi perforasi biasanya dari daerah sekum infeksi amuba invasif pada tempat-tempat yang jauh meliputi paru. Abses hati dapat disebabkan infeksi dapat berasal dari sistem porta dan hematogen melalui arteri hepatika. sepsis urinarius. diikuti oleh perusakan sawar intestinal. Salmonella thypii. Brucella melitensis dan fungal. Terjadi fokus akumulasi neutrofil periportal yang disertai nekrosis dan infiltrasi granulumatosa. Abses pada hepar diduga berasal dari invasi sistem vena porta. Dalam parenkim hepar terbentuk tempat-tempat mikroskopis terutama terjadi trombosis. Patogenesis Patogenesis amebiasis hati belum dapat diketahui secara pasti. Secara kasar. Aspergillus. Dilaporkan 21-30% dari abses hepar berasal dari penyakit biliaris yaitu obstruksi ekstrahepatik. koledolitiasis. malnutrisi. Yersinis enterolitica. suatu proses yang disebut hepatitis amuba. dan pembentukan fistula. Bila tempat-tempat tersebut bergabung maka terjadilah abses amuba. lisis sel epitel intestinal serta sel radang disebabkan oleh endotoksin E. dan intravenous drug abuse. dan pencairan. divertikulitis. berubah-ubahnya antigen permukaan dan penurunan imunitas cell mediated. Eikenella corrodens. pembuluh limfe mesenterium. Ada beberapa mekanisme seperti faktor investasi parasit yang menghasilkan toksin. Trauma tumpul dan nekrosis hati yang berasal dari vascular injury selama laparaskopi cholecystectomy juga merupakan penyebab abses hepar. Histolytica pada mukus usus. inflammatory bowel disease dan pylephlebitis. atau penjalaran melalui intraperitoneal.albicans. Sementara itu infeksi secara hematogen biasanya disebabkan oleh bakteremia dari endokarditis. kolangitis. otak dan terutama hepar. mekanisme terjadinya amebiasis didahului dengan penempelan E. Anastomosis anterobiliaris (choledochoduodenostomy atau choledochojejunostomy) juga dilaporkan sebagai penyebab abses hepar di samping komplikasi biliaris dan transplantasi hati. faktor resistensi parasit. tumor jinak atau ganas biliaris.

sedangkan lobus kiri menerima darah dari arteri mesenterika inferior dan aliran limfatik. Abses hati dapat berbentuk soliter atau multipel. Penyakit traktus biliaris adalah penyebab utama dari abses hati piogenik. perdarahan intrahepatik dan kebocoran saluran empedu sehingga terjadi kerusakan dari kanalukuli. penyakit obstruktif congenital ataupun menyebabkan adanya proliferasi bakteri. Lobus kanan hati lebih sering terkena abses dibandingkan dengan lobus kiri. Hati adalah organ yang paling sering terjadinya abses. Oleh karena peredaran darah hepar yang sedemikian rupa. maka hal ini memungkinkan terinfeksinya hati oleh karena paparan bakteri yang berulang. Shaikh et al (1989) mendapatkan abses tunggal 85%. amebiasis hati ini berukuran kecil sampai besar yang isinya berupa bahan nekrotik seperti keju berwarna merah kecoklatan. Adanya penyakit sistem biliaris sehingga terjadi obstruksi aliran empedu akan menyebabkan terjadinya proliferasi bakteri Sel kupffler dalam sinusoid hati dapat menghancurkan bakteri-bakteri tersebut akan tetapi proses multipel terjadi pada abses. Mikroabses yang terbentuk akan menyebar secara hematogen sehingga terjadi bakterimia sistemik. kekuningan atau keabuan. Jaringan sekitarnya edematous dengan infiltrasi limfosit dan proliferasi ringan sel kupffer dengan tidak ditemukan sel PMN. tetapi dengan adanya sel Kuppfer yang membatasi sinusoid hati akan menghindari terinfeksinya hati oleh bakteri tersebut. Hal ini memakan waktu berbulan-bulan setelah kejadian amebiasis intestinal. Obstruksi pada traktus biliaris seperti penyakit batu empedu.5% karena di situ terdapat banyak pembuluh darah portal. kehijauan. Secara mikroskopik di bagian tengah didapatkan bahan nekrotik dan fibrinous. Secara patologis. Hal ini berdasarkan anatomi hati di mana lobus kanan lobus kanan menerima darah dari arteri mesenterika superior dan vena porta. Umumnya lokasinya pada lobus kanan 87%-87.dengan jaringan nekrotik yang dikelilingi kapsul tipis seperti jaringan fibrosa. Sementara itu trauma tumpul menyebabkan nekrosis hati. Abses hati yang disebabkan oleh trauma biasanya soliter. Lesi amebiasis hati tidak disertai pembentukan jaringan parut karena tidak terbentuknya jaringan fibrosis. . Penetrasi akibat luka tusuk akan menyebabkan inokulasi pada parenkim hati sehingga terjadi abses hati piogenik. striktura empedu. 2 abses 6% dan abses multipel 8%. Kerusakan kanalukuli menyebabkan masuknya bakteri ke hati dan terjadi pertumbuhan bakteri dengan proses supurasi disertai pembentukan pus. Adanya tekanan dan distensi kanalikuli akan melibatkan cabang-cabang dari vena porta dan arteri hepatika sehingga akan terbentuk formasi abses fileplebitis. sedangkan di perifer tampak bentuk ameboid dengan sitoplasma bergranul serta inti kecil.

Infeksi pada organ porta dapat menyebabkan septik tromboplebitis lokal yang mengarah pada abses hati. Abses hati piogenik dilaporkan sebagai infeksi sekunder dari abses hati amebic. Secara klasik cairan abses menyerupai “anchovy paste” . Pada abses piogenik. berwarna coklat kemerahan sebagai akibat jaringan hepar dan sel darah merah yang dicerna. dinding dalam. Biopsi dari jaringan ini sering memperkuat diagnosis dari manifestasi abses amuba hepar. dan kapsul jaringan penyangga. yang ditandai dengan jalan membungkuk ke depan dengan kedua tangan diletakkan di atasnya. Evaluasi cairan abses untuk penghitungan sel dan enzimatik secara umum tidak membantu dalam mendiagnosis abses amuba. Struktur dari abses amuba hepar terdiri dari cairan di dalam. Dicurigai adanya abses hati piogenik apabila ditemukan sindrom klinis klasik berupa nyeri spontan perut kanan atas. Abses mungkin saja berisi cairan hijau atau kuning. Mikroabses ini biasanya multipel tapi dapat juga soliter. Pada abses lama kapsul jaringan penyangga dibentuk oleh perkembangan fibroblas. leukosit dan sel-sel inflamasi tidak didapatkan pada kapsul dari abses amuba hepar. Dinding dari abses adalah lapisan dari jaringan nekrotik hepar dan tropozoit yang ada. dan tumor hati. masuk ke sinusoid hati. Apabila AHP letaknya dekat digfragma. Mikroabses juga dapat berasal secara hematogen dari proses bakterimia seperti endokarditis dan pyelonephritis. embolisasi arteri hepatika pada perawatan karsinoma hepatoseluler dan penghancuran benda asing dari dalam tubuh. Tidak seperti abses bakterial. Septik emboli akan dilepaskan ke sistem porta. cairan abses amuba steril dan tidak berbau. dan menjadi nidus bagi formasi mikroabses. maka akan terjadi iritasi diagfragma sehingga terjadi nyeri pada bahu sebelah kanan. batuk . Selain itu dapat juga disebabkan oleh proses transplantasi hati. Manifestasi Klinis Manifestasi sistemik abses hati piogenik lebih berat dari pada abses hati amebik. hydatid cystic cavities.

Pemeriksaan laboratorium Pada pemeriksaan laboratorium yang diperiksa adalah darah rutin yaitu kadar Hb darah. kecepatan endap darah dan percobaan fungsi hati. anemia. laboratorium. efusi pleura. Pemeriksaan lain-lain seperti foto toraks dan foto polos abdomen digunakan untuk mendeteksi kelainan atau komplikasi yang ditimbulkan oleh amebiasis hati. anoreksia. Diagnosis yang terlambat akan meningkatkan morbiditas dan mortalitasnya. . massa di hipokondrium atau epigastrium. abses biasanya multipel. Terdapat nyeri tekan pada kuadran kanan atas abdomen. Pada beberapa pasien kadang sudah dapat terlihat abses hepar secara inspeksi dikarenakan abses telah menembus kulit sehingga terlihat dari luar. Diagnosis dini memberikan arti yang sangat penting dalam pengelolaannya karena penyakit ini sebenarnya dapat disembuhkan. hepatomegali teraba sebesar 3 jari sampai 6 jari di bawah arcuscosta. Demam atau panas tinggi merupakan manifestasi klinis yang paling utama. total protein dan kadar albumin dan glubulin dalam darah. ikterus terdapat pada 25 % kasus dan biasanya berhubungan dengan penyebabnya yaitu penyakit traktus biliaris. termasuk kadar bilirubin total. malaise. fluktuasi pada hepar. dan tanda-tanda peritonitis. jumlah leukosit darah. Diagnosa pasti adalah melalui USG dan CT Scan yang sensitivitasnya sekitar 85-95%. terjadi penurunan berat badan yang unintentional. berkurangnya nafsu makan. batuk disertai rasa sakit pada diafragma. Terkadang diagnosis abses hepar sulit ditegakkan karena gejalanya yang kurang spesifik.ataupun terjadi atelektesis. selain itu didapatkan hepatomegali yang teraba sebesar tiga jari sampai enam jari arcus-costarum. atelektasis. rasa mual dan muntah. Banyak penderita abses hepar tidak mengalami perubahan bermakna pada tes laboratoriumnya. Pada penderita akut anemia tidak terlalu tampak tetapi menunjukkan leukositosis yang bermakna sementara penderita abses hepar kronis justru sebaliknya. Diagnosis Penegakan diagnosis dapat ditegakkan melalui anamnesis. serta pemeriksaan penunjang. pemeriksaan fisik.

dan complement fixation. Karena itu. . hasil yang positif bisa didapatkan sampai 20 tahun setelah infeksi mereda. GDP (Gel Diffusion Precipitin). Tetapi. Kolaps paru. Jadi. GDP sangat membantu untuk memastikan apakah kelainan tersebut disebabkan amuba. GDP meskipun dapat mendeteksi 95% abses hepar karena amuba. tes ini sensitif. Karena pada abses hepar amebik terjadi proses destruksi parenkim hati. 3. Namun demikian. ELISA (Enzyme-linked Immunosorbent Assay). Serologis Pemeriksaan serologi yang dapat dilakukan meliputi IHA (Indirect Hemagglutination). maka PPT (plasma protrombin time) meningkat.Pada pemeriksaan laboratorium didapatkan leukositosis yang tinggi dengan pergeseran ke kiri. Sensitivitasnya mencapai 95%. Bila tes tersebut diulang. bila pada pemeriksaan radiologi ditemukan lesi "space occupying" di hepar. Pemeriksaan penunjang USG memiliki sensitivitas yang sama dengan CT scan dalam mengidentifikasi abses hepar. tetapi tidak spesifik untuk abses amuba hepar. GDP mudah dilaksanakan. Abnormalitas tes fungsi hati lebih jarang terjadi dan lebih ringan pada abses hati amebik dibanding abses hati piogenik. Berkurangnya gerak dari dome diafragma kanan. peningkatan enzim transaminase dan serum bilirubin. indirect immunofluorescence. Abses hepar amebik biasanya besar dan multipel. Hiperbilirubinemia didapatkan hanya pada 10 % penderita abses hepar. peningkatan alkalin fosfatase. IHA sangat spesifik untuk amubiasis invasif. berkurangnya kadar albumin serum dan waktu protrombin yang memanjang menunjukan bahwa terdapat kegagalan fungsi hati yang disebabkan abses hati. Menurut Middlemiss (I964) gambaran radiologis dari abses hati adalah sebagai berikut : 1. IHA dan GDP merupakan prosedur yang paling sering digunakan. 4. Peninggian dome dari diafragma kanan. 2. Juga mendeteksi colitis karena amuba yang non-invasif. counterimmunelectrophoresis. anemia. Pleural efusion. Rendahnya biaya dan sifat non-radiasi membuat USG menjadi pilihan untuk mendiagnosis abses hepar. IHA dianggap positif jika pengenceran melampaui 1 : 128. peningkatan laju endap darah. dan jarang sekali tetap positif sampai 6 bulan setelah sembuhnya abses. sensitivitasnya dapat mencapai 100%.

4. Ekogenitas lebih rendah dari parenkim hati normal. "Scintiscanning" hati adanya "filling defect". Pemeriksaan Rontgen (PA Lateral) yang menyokong. Respons yang baik terhadap obat anti amoeba. Bentuk bulat atau oval 2. Abses paru. 7. Fistula bronkopleura. 4.5. empyema abses pulmonum atau pneumonia. Hasil pemeriksaan hematologis yang menyokong : leukositosis. Trophozoit E. biliopleura dan biliobronkial juga dapat timbul dari reptur abses amuba. histolytica positif dalam pus hasil aspirasi. "Amoeba Hemaglutination" test positif Komplikasi Sistem plueropulmonum merupakan sistem tersering terkena. Abses menembus diagfragma dan akan timbul efusi pleura. 2. 6. Bersentuhan dengan kapsul hati 5. Peninggian sonik distal (distal enhancement) Kriteria diagnostik untuk hepatic amoebiasis menurut Lamont dan Pooler : 1. . Tidak ada gema dinding yang berarti 3. 5. Secara khusus. kasus tersebut berasal dari lesi yang terletak di lobus kanan hepar. Pasien-pasien dengan fistula ini akan menunjukan ludah yang berwarna kecoklatan yang berisi amuba yang ada. Pembesaran hati yang nyeri tekan pada orang dewasa. 3. Hal ini dikarenakan facies diaphragm hepar yang berdekatan dengan system pleuropulmonum terutama di lobus kanan. CT scan: • • • Hipoekoik Massa oval dengan batas tegas Non-homogen USG: 1.

Pemberian intravena sama efektifnya. komplikasi yang bisa terjadi adalah perdarahan. Abses kronis. Antibiotik Terapi medikamentosa adalah antibiotik yang bersifat amubisid seperti metronidazol atau tinidazol. Akan terjadi efusi pleura yang besar dan luas yang memperlihatkan cairan coklat pada aspirasi. perforasi organ intra abdominal dan infeksi. omentum dan usus mempunyai kesempatan untuk mengurung proses inflamasi. Kadang pada abses hati piogenik multipel diperlukan reseksi hati. Perforasi ke kranial dapat terjadi ke pleura dan perikard. Penatalaksanaan saat ini adalah dengan drainase perkutaneus abses intraabdominal dengan tuntutan abdomen ultrasound atau tomografi komputer. Perforasi ke perikard menyebabkan efusi perikard dan tamponade jantung.Komplikasi abses hati amoeba umumnya berupa perforasi abses ke berbagai rongga tubuh dan ke kulit. Perforasi akut menyebabkan peritonitis umum. Insidens perforasi ke rongga pleura adalah 10-20%. menyebabkan peritonitis lokal. dapat menyembuhkan 95% penderita abses amuba hepar. Perforasi ke depan atau ke sisi terjadi ke arah kulit (seperti gambar di samping) sehingga menimbulkan fistel yang dapat menyebabkan timbulnya infeksi sekunder. Perforasi dapat berlanjut ke paru sampai ke bronkus sehingga didapat sputum yang berwarna khas coklat. Penatalaksanaan Penatalaksanaan secara konvensional adalah dengan drainase terbuka secara operasi dan antibiotika spektrum luas oleh karena bakteri penyebab abses terdapat di dalam cairan abses yang sulit dicapai dengan antibiotika tunggal tanpa aspirasi cairan abses. atau malah terjadi kesalahan dalam penempatan kateter drainase. Dosis 50 mg/kgBB/hari diberikan tiga kali sehari selama 10 hari. (gambar di atas adalah gambaran makroskopis abses hati) Komplikasi ke kaudal terjadi ke rongga peritoneum. artinya sebelum perforasi. diperlukan pada penderita yang mengalami rasa mual atau pada penderita yang keadaan umumnya .

Emetin dan dehidroemetin diberikan secara intramuskular. Metronidazol mudah didapat dan aman. Hasil yang positif pada pemberian metronidazol secara empiris dapat memperkuat diagnosis abses amuba hepar. karena biasanya keadaan umumnya buruk dan memerlukan terapi "multidrug" untuk mempercepat perbaikan gejala klinis. Emetin memiliki "therapeutic range" yang sempit. Infeksi sekunder pada rongga abses setelah dilakukan drainase perkutan dapat terjadi. Aspirasi dapat dilakukan secara berulang-ulang secara tertutup atau dilanjutkan dengan pemasangan kateter penyalir. Emetin dan dehidroemetin diindikasikan terutama untuk penderita yang mengalami komplikasi paru. efek kardiotoksik yang diakibatkan akumulasi dosis obat. Operasi . walaupun merupakan kontraindikasi pada kehamilan. Perbaikan gejala klinis terjadi dalam beberapa hari dan pemeriksaan radiologis menunjukkan penurunan ukuran abses dalam 7 sampai 10 hari. Dapat terjadi proaritmia. dan perikardial. Efek samping yang dapat terjadi ialah mual dan rasa logam. dan klorokuin berguna pada abses amuba hepar yang mengalami komplikasi atau bila pengobatan dengan metronidazol gagal. Aspirasi juga mengurangi risiko ruptur pada abses yang volumenya lebih dari 250 ml. Dalam hal ini. Emetin. Aspirasi juga bermanfaat bila terapi dengan metronidazol merupakan kontraindikasi seperti pada kehamilan. Aspirasi Selain diberi antibiotika. terapi abses juga dilakukan dengan aspirasi. Penderita yang mendapat obat ini harus tirah baring dan dilakukan pemantauan vital sign secara teratur. atau lesi yang disertai rasa nyeri hebat dan elevasi diafragma. Tingginya viskositas cairan abses amuba memerlukan kateter dengan diameter yang besar untuk drainase yang adekuat. Kombinasi klorokuin dan emetin dapat menyembuhkan 90% penderita amubiasis ekstrakolon yang resisten. Aspirasi bisa dilakukan secara buta. Neuropati perifer kadang-kadang dapat terjadi.buruk. aspirasi berguna untuk mengurangi gejala-gejala penekanan dan menyingkirkan adanya infeksi bakteri sekunder. Pada semua tindakan harus diperhatikan prosedur aseptik dan antiseptik untuk mencegah infeksi sekunder. dehidroemetin. peritoneum. tetapi sebaiknya dilakukan dengan tuntunan ultrasonografi sehingga dapat mencapai ssaran yang tepat. Drainase Perkutan Drainase perkutan berguna pada penanganan komplikasi paru.

khususnya bila usaha dekompresi perkutan tidak berhasil. maka dilakukan dengan sayatan subkostal kanan. juga pada pasien dengan penyakit saluran empedu. lobus kanan atau kiri.Pembedahan diindikasikan untuk penanganan abses yang tidak berhasil membaik dengan cara yang lebih konservatif. Penderita dengan septikemia karena abses amuba yang mengalami infeksi sekunder juga dicalonkan untuk tindakan bedah. Prognosis . disertai atau tanpa adanya ruptur abses. Abses dibuka. Indikasi operasi pada abses hepar antara lain: • • • • Terapi antibiotika gagal Aspirasi tidak berhasil Abses tidak dapat dijangkau dengan aspirasi ataupun drainase Adanya komplikasi intraabdominal Kontraindikasi operasi pada abses hepar antara lain: • • • Abses multipel Infeksi polimikrobakteri Immunocompromise dissease Hepatektomi Dewasa ini dilakukan hepatektomi yaitu pengangkatan lobus hati yang terkena abses. Tindakan operasi juga dilakukan bila abses amuba mengenai sekitarnya. Hepatektomi dapat dilakukan pada abses tunggal atau multipel. Jika tindakan laparotomi dibutuhkan. Tipe reseksi hepatektomi tergantung dari luas daerah hati yang terkena abses juga disesuaikan dengan perdarahan lobus hati. dicuci dengan larutan garam fisiologik dan larutan antibiotik serta dengan ultrasonografi intraoperatif. Laparotomi diindikasikan untuk perdarahan yang jarang terjadi tetapi mengancam jiwa penderita. dilakukan penyaliran.

Suku Sasak. Panas badan sumer-sumer timbul bersamaan dengan keluhan nyeri perut. apabila terjadi keterlambatan diagnosis dan pengobatan. Ilustrasi Kasus Laki . Islam. Dari pemeriksaan jantung didapatkan suara jantung 1 dan 2 tunggal. Pemeriksaan leher dalam batas normal. memberat sejak 1 minggu sebelum MRS. efusi pleura atau adanya penyakit lain. keadaan umum sedang. tidak didapatkan murmur. laparatomi dan hepatektomi. dan laboratorium. Terapi yang diberikan adalah antibiotika spektrum luas. suhu axilla 36oC. Karena keluhan tersebut. hidung. adanya ikterus. Nyeri dirasakan terus menerus.laki 50 tahun. dan terapi yang diberikan Prognosis yang buruk. mengeluh nyeri perut kanan atas sejak 3 minggu sebelum masuk rumah sakit. hepatomegali. ikterus. Pada mata tidak didapatkan anemia dan ikterus. Pada pemeriksaan paru didapatkan suara nafas vesikuler kanan dan kiri tidak didapatkan rhonki ataupun wheezing. tidak dilakukan drainase terhadap abses. jamur. Makan dan minum berkurang bila dibandingkan saat penderita sehat. Buang air besar dan buang air kecil dalam batas normal. teratur. nyeri pada kuadran kanan atas abdomen. jika hasil kultur darah yang memperlihatkan penyebab bakterial organisme multipel.Prognosa abses hati tergantung dari investasi parasit. derajat dari infeksi. aspirasi cairan abses. oleh karenanya sangatlah penting untuk dapat mendiagnosanya sedini mungkin. pemeriksaan penunjang. Telinga. Abses hati dibedakan menjadi 2 yaitu abses hati amebik dan abses hati piogenik. Dari pemeriksaaan fisik didapatkan kesadaran kompos mentis. maupun nekrosis steril yang dapat masuk melalui kandung kemih yang terinfeksi dan infeksi dalam perut lainnya. tenggorakan dalam batas normal. Dikatakan menderita abses liver dan BPH. nadi 80 x/menit. hipoalbuminemia. Pada pemeriksaan . Penderita mengeluh mual namun tidak muntah. Diagnosis yang di pakai sama seperti penyakit lain yaitu pemeriksaan fisik. respirasi 20x/menit. Tekanan darah 110/80 mmHg. drainase. berkurang bila penderita membungkuk. Kesimpulan Abses hati merupakan infeksi pada hati yang disebabkan bakteri. ada tidaknya infeksi sekunder. penderita berobat ke dokter Spesialis Penyakit Dalam. Adapun gejala-gejala yang sering timbul diantaranya demam tinggi. daya tahan host. komplikasi yang terjadi. Abses hepar dapat disembuhkan bila ditangani dengan cara yang tepat dalam waktu yang secepatnya. Selanjutnya penderita dirujuk ke Rumah Sakit Umum Mataram.

Sjamsuhidaja. 797-799 . Edisi keempat. MCV 87.67 x 106/mm3. perkusi traube space timpani.3 x 103/mm3. Dilakukan kultur pus setiap dilakukan pungsi. Pungsi kedua dilakukan dua hari kemudian sebanyak 100 cc. Hati teraba membesar 3 jari bawah arcus costae dan 3 jari bawah prosessus xiphoideus.1%. tidak didapatkan adanya kuman. MCH 27. Penderita didiagnosis dengan abses hati lalu dilakukan penatalaksanaan dengan cara melakukan pungsi abses secara terpadu. Christopher’s Textbook of Surgery. Hasil pemeriksaan ultrasonografi (USG) abdomen menunjukkan gambaran abses hati dengan diameter 8. Ureum darah 14 mg%. Penderita didiagnosis akhir dengan abses hati amuba. Ekstremitas tidak didapatkan kelainan. BAB IV DAFTAR PUSTAKA 1. Jakarta 2006 . MCHC 31. 2004 3.5 mg%. Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia. fluktuatif. Buku Ajar Ilmu Bedah. Philadelphia and London: Saunder Company.5 g/dL.R & deJong.abdomen tidak didapatkan distensi. trombosit 265 x 103/mm3. Jakarta : EGC Penerbit Buku Kedokteran.5 pg. cairan berwarna coklat kehijauan. Pungsi abses pertama didapatkan sebanyak 150 cc.5 fL. 1960.6 x 7. Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI. hemoglobin 10. cairan warna coklat kehijauan. kreatinin serum 0. 462 – 463 2.8 cm. hitung eritrosit 3.1 g%. Limpa tidak teraba. bising usus normal. didapatkan nyeri tekan dan nyeri ketok. hematokrit 32. Wim. Ilmu Penyakit Dalam. tepi tumpul. Dari hasil pemeriksaan laboratorium didapatkan hitung leukosit 7.

Dominica: www. Arini.ejournal.pubmedcentral. Abses Hati (Liver Abscess). Haryono. 2008 6. Junita.ac. Hepatectomy for Pyogenic Liver Abscess.emedicine. Sembang. Malaysia: www. Brisbane: www. Ruben.4. Denpasar: www. Strong. Peralta. R. 5. Jom.com 7. Abses Amuba Hepar di UGM.kalbe.com.infomedis. et al. Beberapa Kasus Abses Hati Amuba.unud.id.nih.co.blogspot.id.gov 2005 . Yogyakarta: www. Adenan.medscape. 8. Liver Abscess.