STATUS PASIEN

KETERANGAN UMUM IDENTITAS PASIEN Nama No. RM Jenis kelamin Usia Anak keAlamat Agama Tanggal masuk RS Tanggal pemeriksaan : An. D : 407053 : Perempuan : 8 bulan 12 hari : 1 (pertama) : Wargaluyu, Kec. Arjasari : Islam : 10 September 2012 : 11 September 2012

IDENTITAS ORANGTUA AYAH Nama Usia Pendidikan Pekerjaan : Tn. A : 28 tahun : SMP : Buruh

IBU Nama Usia Pendidikan Pekerjaan : Ny. I : 23 tahun : SMP : Ibu Rumah Tangga

1

ANAMNESIS (ALLOANAMNESIS) Alloanamnesis dari ibu pasien Keluhan utama : Sesak nafas Anamnesis tambahan :

Sejak 1 hari sebelum masuk rumah sakit , pasien mengalami sesak nafas yang semakin lama telihat semakin bertambah berat. Keluhan sesak nafas tidak disertai dengan adanya suara nafas berbunyi mengi. Riwayat tersedak sebelum timbul nafas, tidak ada. Sejak 3 hari sebelum masuk rumah sakit, pasien mengalami panas badan, panas badan timbul pada siang dan malam hari. Keluhan panas badan ini sebelumnya di dahului dengan batuk dan pilek. Panas badan tidak disertai dengan kejang maupun penurunan kesadaran. Buang air besar dan buang air kecil tidak ada kelainan. Karena keluhan panas badan yang di sertai dengan batuk dan pilek, ibu pasien membawa ke puskesmas. Karena tidak mengalamai perbaikan, di tambah dengan adanya sesak nafas, pasien di rujuk ke rumah sakit daerah soreang. Riwayat kontak dengan penderita dewasa yang batuk lama / berdarah disangkal. Pasien baru pertama kalinya sakit seperti ini. Riwayat penyakit yang sma di lingkungan pasien disangkal.

Riwayat imunisasi Imunisasi Hepatitis B BCG DPT Polio Campak Jumlah I, II, III (usia 0, 1, 6 bulan) I (usia 1 bulan) I, II, III (usia 2, 3, 4 bulan) I, II, III, IV (usia 0, 2, 4, 6 bulan) -

2

Sebelum sakit penderita rutin menetek. Pertumbuhan penderita baik. Semenjak sakit penderita tetap mau menetek. Anamnesis Pertumbuhan Saat ini penderita memiliki berat badan 8 kilogram dengan panjang badan 71 cm. BB/U. dengan perhitungan BB/TB. Menurut persentil WHO Z Score. Susu formula dan bubur susu mulai diberikan pada usia 6 bulan. penderita terhitung memiliki status gizi baik. merangkak dan Memgang ke kecil benda Sudah Bicara objek Mengoceh spontan Sosial Bereaksi terhadap suara bisa Tepuk tangan mengucapkan “mama”. “baba” dengan jelas 3 . Anamnesis perkembangan Usia 3 bulan Motorik kasar Mengangkat kepala Motorik halus Mengikuti dengan mata 6-8 bulan Berbalik terlungkup terlentang. maupun TB/U.Riwayat Makanan Penderita masih mendapat ASI sampai sekarang.

deviasi septum (-). Respirasi d. Lingkar kepala : Tampak sakit sedang : Komposmentis : Baik : 8 kg : 71 cm : 47 cm : 15 cm : 0 SD-(-1) SD = Sesuai : 1 SD-0 SD = Sesuai : 0 SD-(-1) SD = Sesuai : Status gizi baik g. 3. Nadi c. Tekanan darah b. TB/U BB/TB k. reflex cahaya (+/+) 2. rambut hitam . j. Kesan sakit b. Lingkar lengan atas h. POC (-) 4 . tidak mudah dicabut 1. Hidung Deformitas (-). Berat badan e. sekret -/-. nyeri tekan retroaurikular -/-. sklera ikterik -/-. Simpulan status gizi Tanda vital a. Tinggi badan f. sekret (+/+).3°C Kepala deformitas (-). PCH (pernafasan cuping hidung) +/+ 4. Telinga Deformitas -/-. Suhu : Tidak dilakukan : 160 kali/menit : 56 kali/menit : 37.PEMERIKSAAN FISIK Keadaan umum a. Status gizi d. Mulut Mukosa mulut basah. BB/U i. pupil bulat isokor. Mata konjungtiva anemis -/-. Kesadaran c.

: Thoraks simetris. Slem (-/-) Abdomen Inspeksi Auskultasi Palpasi Perkusi : datar. krepitasi subkutis (-) Perkusi Auskultasi c. murmur(-). turgor kulit baik. retraksi intercostae (+) b.Leher KGB tidak teraba. hepar dan lien sulit dinilai : Timpani pada keempat kuadran abdomen Ekstremitas Akral hangat. Retraksi suprasternal (-) Thoraks a. gallop(-) : Sonor pada semua lapangan paru : Vesikuler (+/+). Bentuk dan pergerakan dada simetris statis dan dinamis. pembesaran KGB supraklavikularis dan aksilaris (-). Paru Inspeksi Palpasi : Tipe pernafasan abdominal/diafragmatikal. fremitus simetris. Capillary refill time kurang dari 2 detik. wheezing (-/-). nyeri tekan (-). retraksi epigastrium (+) : Bising usus (+) normal : Lembut. edema (-) 5 . Rhonki (+/+). Jantung Inspeksi Palpasi Perkusi Auskultasi : Tidak tampak iktus kordis : Iktus kordis pada intercosta 5 : Tidak dilakukan pemeriksaan : Bunyi jantung I & II regular.

PEMERIKSAAN LABORATORIUM Hasil laboratorium 10 September 2012 Pemeriksaan darah : Hb HT Leukosit Trombosit : 11.000 /mm³ (nilai rujukan : 7.000/mm3) (nilai rujukan : 150.000/mm3) (nilai rujukan : 10-14 gr/dl) DIAGNOSA BANDING Bronkopneumonia Bronkiolitis DIAGNOSA KERJA Bronkopneumonia USULAN PEMERIKSAAN Pemeriksaan foto thoraks PENATALAKSANAAN    Tirah baring O2 lembab 3-5 liter/menit Terapi khusus : Diberikan infus cairan D5% 40 gtt/menit/mikro Ampicilin 4 x 200mg IV Paracetamol 3 x 1 cth PROGNOSIS Quo ad vitam Quo ab functionam : Ad bonam : Ad bonam 1 .100 /mm³ : 277.000-400.7 gr/dl : 35% : 17.000-17.

Mukosa mulut basah : KGB tidak teraba. Sklera ikterik -/-. Mata cekung (-). diagfrahma normal Pulmo : hilli kabur.6°C Status Gizi o Berat badan/Umur : Sesuai o Berat badan/Tinggi badan : Sesuai S : Sesak sudah berkurang. sinus. CRT kurang dari 2 detik A : Bronkopneumonia Hasil pemeriksaan rontgen : cor. edema -/-.FOLLOW UP DI RUANGAN 11 September 2012        Berat badan : 8 kg Panjang badan : 71 cm Kesadaran : kompos mentis Frekuensi nadi : 132x/menit Frekuensi nafas : 48x/menit Suhu : 36. O : Kepala : Konjungtiva anemis -/-. PCH (-). demam sudah tidak dirasakan. Wheezing -/-. batuk (+). POC (-). bercak di kiri atas sampai tengah dan parakradial kanan Kesan : menyokong bronkopneumonia Th/ IVFD D5% 40 gtt mikro/menit Ampisilin 3 x 200 mg IV Paracetamol 3 x 1 cth prn Leher Thorax 2 . BAK dan BAB tidak ada keluhan. Slem -/Jantung : BJ I-II regular. Murmur (-). Gallop (-) Abdomen : datar. lembut. retraksi suprasternal (-) : bentuk dan gerak simetris. bising usus (+). retraksi intercostal (+) Paru-paru : VBS +/+. retraksi epigastrium (+). turgor baik Ekstremitas : Akral hangat. mual (-). muntah (-). Ronki +/+.

retraksi suprasternal (-) : bentuk dan gerak simetris. PCH (-). Murmur (-). Gallop (-) Abdomen : datar. POC (-). turgor baik Ekstremitas : Akral hangat. BAK dan BAB tidak ada keluhan. Slem -/Jantung : BJ I-II regular. demam sudah tidak dirasakan. CRT kurang dari 2 detik A : Bronkopneumonia Th/ Tirah baring IVFD D5% 40 gtt mikro/menit Ampisilin 3 x 200 mg IV O2 lembab 3-5 liter/menit Leher Thorax 3 . Mata cekung (-). Ronki +/+. bising usus (+). edema -/-.12 September 2012        Berat badan : 8 kg Panjang badan : 71 cm Kesadaran : kompos mentis Frekuensi nadi : 120x/menit Frekuensi nafas : 52x/menit Suhu : 36. retraksi intercostal (+) Paru-paru : VBS +/+. lembut.3°C Status Gizi o Berat badan/Umur : Sesuai o Berat badan/Tinggi badan : Sesuai S : Sesak sudah berkurang. retraksi epigastrium (+). Sklera ikterik -/-. batuk (+). muntah (-). Mukosa mulut basah : KGB tidak teraba. mual (-). O : Kepala : Konjungtiva anemis -/-. Wheezing -/-.

3°C Status Gizi o Berat badan/Umur : Sesuai o Berat badan/Tinggi badan : Sesuai S : Sesak sudah berkurang. POC (-). turgor baik Ekstremitas : Akral hangat. retraksi intercostal (-) Paru-paru : VBS +/+. retraksi epigastrium (-). retraksi suprasternal (-) : bentuk dan gerak simetris. Wheezing -/-. PCH (-). Murmur (-). mual (-). batuk (+). BAK dan BAB tidak ada keluhan. Gallop (-) Abdomen : datar. O : Kepala : Konjungtiva anemis -/-. Ronki +/+. lembut. demam sudah tidak dirasakan. bising usus (+). Slem -/Jantung : BJ I-II regular. muntah (-). Mata cekung (-). Mukosa mulut basah : KGB tidak teraba. CRT kurang dari 2 detik A : Bronkopneumonia Th/ Tirah baring IVFD D5% 30 gtt mikro/menit Ampisilin 3 x 200 mg IV O2 lembab 3-5 liter/menit Leher Thorax 4 . Sklera ikterik -/-.13 September 2012        Berat badan : 8 kg Panjang badan : 71 cm Kesadaran : kompos mentis Frekuensi nadi : 120x/menit Frekuensi nafas : 40x/menit Suhu : 36. edema -/-.

Stretococcus grup A. atau Klebsiella sp. duktus alveolaris. Bronkopneumonia disebut juga pneumoni lobularis. gambaran klinis dan strategi pengobatan. Etiologi Usia pasien merupakan peranan penting pada perbedaan dan kekhasan pneumonia anak. sering juga ditemukan infeksi Mycoplasma pneumoniae 2. aureus. 27. 2. jamur dan benda-benda asing. selain bakteri tersebut. Pneumonia menyebabkan lebih dari 5 juta kematian pertahun pada anak balita dinegara berkembang 5. sedangkan dinegara berkembang 10-20 kasus/100 anak/tahun. lebih kurang dua juta anak balita. Definisi Pneumonia merupakan infeksi yang mengenai parenkim paru. S. influenzae. dan alveoli. Insiden penyakit ini pada negara berkembang hampir 30% pada anak-anak di bawah umur 5 tahun dengan resiko kematian yang tinggi.colli. Diperkirakan hampir seperlima kematian anak di seluruh dunia. Pneumonia merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas anak berusia dibawah lima tahun (balita). 3. 5 . terutama dalam spectrum etiologi. terutama pneumonia 2. Epidemiologi Pneumonia hingga saat ini masih tercatat sebagai masalah kesehatan utama pada anak di Negara berkembang.TINJAUAN PUSTAKA 1. yaitu radang paru-paru yang disebabkan oleh bakteri. Pada bayi yang lebih besar dan balita pneumoni sering disebabkan oleh Streptococcus pneumonia. meninggal setiap tahun akibat pneumonia. sedangkan di Amerika pneumonia menunjukkan angka 13% dari seluruh penyakit infeksi pada anak di bawah umur 2 tahun Insiden pneumonia pada anak ≤ 5 tahun di negara maju adalah 2-4 kasus/100 anak/tahun. pseudomonas sp. H. sakus alveolaris. sedangkan pada anak yang lebih besar dan remaja. Etiologi pneumonia pada neonatus dan bayi kecil meliputi Streptococcus grup B dan bakteri gram negatif seperti E. sebagian besar terjadi di Afrika dan Asia Tenggara. virus.6% angka kematian bayi dan 22.8% kematian balita di Indonesia disebabkan oleh penyakit system respiratori. Bronkopneumonia didefinisikan sebagai peradangan akut dari parenkim paru pada bagian distal bronkiolus terminalis dan meliputi bronkiolus respiratorius. Menurut survey kesehatan nasional (SKN) 2001.

Daftar etiologi pneumonia pada anak sesuai dengan usia yang bersumber dari data di Negara maju dapat dilihat di tabel.20 hari Etiologi yang sering Bakteri E.4 juta episode pneumonia berat yang perlu rawat-inap. 99% di antaranya terjadi di negara berkembang. Tabel 1.8 juta episode baru di seluruh dunia dengan 3.000 -199.colli Streptococcus grup B Listeria monocytogenes Etiologi yang jarang Bakteri Bakteri anaerob Streptococcus grup D Haemophillus influenza Streptococcus pneumonie Virus CMV HMV Bakteri Bordetella pertusis Haemophillus influenza tipe B Moraxella catharalis Staphylococcus aureus Virus CMV Bakteri Haemophillus influenza tipe B Moraxella catharalis Staphylococcus aureus Neisseria meningitides Virus Varisela Zoster 3 miggu – 3 bulan 4 bulan – 5 tahun 5 tahun – remaja Bakteri Clamydia trachomatis Streptococcus pneumoniae Virus Adenovirus Influenza Parainfluenza 1. Diperkirakan tahun 2005 terjadi kematian 66. Data di atas mempertegas kembali peran RSV sebagai etiologi potensial dan signifikan pada pneumonia anak-balita baik sebagai penyebab tunggal maupun bersama dengan infeksi lain.Etiologi pneumonia pada anak sesuai dengan kelompok usia dinegara maju Usia Lahir . parainfluenza. et al 2010 melaporkan estimasi insidens global pneumonia RSV anak-balita adalah 33.3 Bakteri Clamydia pneumonia Mycoplasma pneumoniae Streptococcus pneumoniae Virus Adenovirus Rinovirus Influenza Parainfluenza Bakteri Clamydia pneumonia Bakteri Haemophillus influenza 6 . Nair.Penyebab utama virus adalah Respiratory Syncytial Virus(RSV) yang mencakup 15-40% kasus diikuti virus influenza A dan B.000 anak balita karena pneumonia RSV.2. human metapneumovirus dan adenovirus.

zat hidrokarbon seperti pelitur. S. influenzae Faktor non-infeksi 9 Terjadi akibat disfungsi menelan atau refluks esophagus meliputi :  Bronkopneumonia hidrokarbon : Terjadi oleh karena aspirasi selama menelan muntah atau sonde lambung. termasuk jeli petroleum. Roberts DM. perkarditis Kemungkinan etiologi S. 7 . haddy R. Setiap keadaan yang mengganggu mekanisme menelan seperti palatoskizis. Jenis minyak binatang yang mengandung asam lemak tinggi bersifat paling merusak contohnya seperti susu dan minyak ikan. atau pemaksaan pemberian makanan seperti minyak ikan pada anak yang sedang menangis.  Bronkopneumoni lipoid : Terjadi akibat pemasuksn obat yang mengandung minyak secara intranasal. meningitis Epiglotitis.20:899-908 Tabel 2 Etiologi Pneumonia dilihat dari penyakit penyerta Gejala / penyakit penyerta Abses kulit / ekstra pulmoner Otitis media. group A S. pemberian makanan dengan posisi horizontal. Keparahan penyakit tergantung pada jenis minyak yang terinhalasi. dan bensin.Mycoplasma pneumoniae Streptococcus pneumoniae Legionella sp Staphylococcus aureus Virus Adenovirus Epstein-Barr Rinovirus Varisela zoster Influenza Parainfluenza Sumber : opstapchuk M. H. aureus. minyak tanah. influenzae H. community-acquired pneumonia in infants and children. Am fam physician 2004. pneumoniae. sinusitis.

Pneumonia lobaris e. Klasifikasi Pneumonia dapat diklasifikasikan berdasarkan : 1. Pneumonia mikoplasma . b. Karakteristik penyakit . Community-acquired pneumonia (CAP) infeksi parenkim paru yang didapatkan individu yang tidak sedang dalam perawatan di rumah sakit paling sedikit 14 hari sebelum timbulnya gejala. 4. Derajat keparahan penyakit Untuk mengklasifikasikan beratnya pneumonia perlu diperhatikan adanya tanda bahaya (danger signs).Pneumonia Atipikal (mis. Pneumonia bakteri b. 2.Pneumonia Tipikal . yaitu : takipnea dan tarikan dinding dada bagian bawah ke arah dalam (retraksi epigastrik). Etiologi . Pneumonia interstitialis 3.4. dan bukan dalam stadium inkubasi. Mycobacterium tuberculosis) 5. Lokasi lesi di paru c.Non infeksi Aspirasi makanan/asam lambung/benda asing/hidrokarbon/substansi lipoid. Asal infeksi a. Bronkopneumonia d. Pneumonia jamur d. 8 . Hospital-acquired pneumonia (HAP) infeksi parenkim paru yang didapatkan selama perawatan di rumah sakit yang terjadi setelah 48 jam perawatan (Depkes : 72 jam) atau karena perawatan di rumah sakit sebelumnya. drug. Chlamydia pneumoniae.Infeksi Berdasarkan mikroorganisme penyebab : a. Pneumonia virus c.dan radiation-induced pneumonitis. Mycoplasma pneumoniae. reaksi hipersensitivitas.

sehingga mikroorganisme dapat berkembang biak dan berakibat timbulnya infeksi penyakit. 9 . Inhalasi langsung dari udara 2. sebagai berikut : Klasifikasi Anak usia < 2 bulan        Anak usia 2 bulan – 5 tahun            Kesadaran turun Tidak mau minum Kejang Stridor Sianosis sentral Gizi buruk Tarikan dinding dada dalam Dapat minum Sianosis (-) Takipnue Tarikan dinding dada dalam (-) Pneumonia sangat berat Hipo/hipernatremi Kesadaran turun Kurang mau minum Kejang Wheezing Stridor Tarikan dinding dada dalam yang tampak jelas Takipnea Pneumonia berat  Pneumonia Bukan pneumonia Tarikan dinding dada dalam (-). Aspirasi dari bahan-bahan yang ada di nasofaring dan orofaring. keadaan ini disebabkan oleh adanya mekanisme pertahanan paru.Berdasarkan kedua tanda ini. 3. 4. takipnea (-) 5. Patogenesis Dalam keadaan sehat pada paru tidak akan terjadi pertumbuhan mikroorganisme. Masuknya mikroorganisme ke dalam saluran nafas dan paru dapat melalui berbagai cara. antara lain : 1. Perluasan langsung dari tempat-tempat lain. maka klasifikasi beratnya pneumonia pada anak bawah lima tahun (balita) ditentukan berdasarkan usia. Penyebaran secara hematogen. Terdapatnya bakteri di dalam paru merupakan ketidakseimbangan antara daya tahan tubuh.

sehingga warna paru menjadi merah dan pada perabaan seperti hepar. Jaringan limfoid di nasofaring. 6. 5. Stadium I (4 – 12 jam pertama/kongesti) Disebut hiperemia. Drainase sistem limfatis dan fungsi menyaring kelenjar limfe regional. Hal ini ditandai dengan peningkatan aliran darah dan permeabilitas kapiler di tempat infeksi. yaitu : a. 4. Fagositosis aksi limfosit dan respon imunohumoral terutama dari Ig A. 3. Hiperemia ini terjadi akibat pelepasan mediator-mediator peradangan dari sel-sel mast setelah pengaktifan sel imun dan cedera jaringan. Komplemen bekerja sama dengan histamin dan prostaglandin untuk melemaskan otot polos vaskuler paru dan peningkatan permeabilitas kapiler paru. 7. Penimbunan cairan di antara kapiler dan alveolus meningkatkan jarak yang harus ditempuh oleh oksigen dan karbondioksida maka perpindahan gas ini dalam darah paling berpengaruh dan sering mengakibatkan penurunan saturasi oksigen hemoglobin. Susunan anatomis rongga hidung.Mekanisme daya tahan traktus respiratorius sangat efisien untuk mencegah infeksi yang terdiri dari : 1. Stadium II (48 jam berikutnya) Disebut hepatisasi merah. pada stadium ini udara alveoli tidak ada atau sangat 10 b. eritrosit dan cairan. Degranulasi sel mast juga mengaktifkan jalur komplemen. Mediator-mediator tersebut mencakup histamin dan prostaglandin. Hal ini mengakibatkan perpindahan eksudat plasma ke dalam ruang interstisium sehingga terjadi pembengkakan dan edema antar kapiler dan alveolus. Refleks batuk. 8. eksudat dan fibrin yang dihasilkan oleh penjamu ( host ) sebagai bagian dari reaksi peradangan. Bulu getar yang meliputi sebagian besar epitel traktus respiratorius dan sekret lain yang dikeluarkan oleh sel epitel tersebut. terjadi sewaktu alveolus terisi oleh sel darah merah. Bila pertahanan tubuh tidak kuat maka mikroorganisme dapat melalui jalan nafas sampai ke alveoli yang menyebabkan radang pada dinding alveoli dan jaringan sekitarnya. Lobus yang terkena menjadi padat oleh karena adanya penumpukan leukosit. . Refleks epiglotis yang mencegah terjadinya aspirasi sekret yang terinfeksi. Setelah itu mikroorganisme tiba di alveoli membentuk suatu proses peradangan yang meliputi empat stadium. 2. mengacu pada respon peradangan permulaan yang berlangsung pada daerah baru yang terinfeksi. Sekresi enzim – enzim dari sel-sel yang melapisi trakeo-bronkial yang bekerja sebagai antimikroba yang non spesifik.

Pada stadium ini eritrosit di alveoli mulai diresorbsi. Stadium III (3 – 8 hari) Disebut hepatisasi kelabu yang terjadi sewaktu sel-sel darah putih mengkolonisasi daerah paru yang terinfeksi. c.minimal sehingga anak akan bertambah sesak. sisa-sisa sel fibrin dan eksudat lisis dan diabsorsi oleh makrofag sehingga jaringan kembali ke strukturnya semula. d. Pada saat ini endapan fibrin terakumulasi di seluruh daerah yang cedera dan terjadi fagositosis sisa-sisa sel. lobus masih tetap padat karena berisi fibrin dan leukosit. yaitu selama 48 jam. Gambar 1 Patofisiologi 11 . warna merah menjadi pucat kelabu dan kapiler darah tidak lagi mengalami kongesti. Stadium IV (7 – 11 hari) Disebut juga stadium resolusi yang terjadi sewaktu respon imun dan peradangan mereda. stadium ini berlangsung sangat singkat.

Patofisiologi : Gambar 2 Algoritma Patofisiologi brokhopneomonia 12 .

Pada perkusi tidak terdapat kelainan . dan faktor patogenesis. 7. gejala klinis yang kadang-kadang tidak khas terutama pada bayi. terbatasnya penggunaan prosedur diagnostic invasive. malaise. . Berdasarkan lokasi lesi di paru : 13 .Gejala gangguan respiratori. Hanya sebagian kecil yang berat. interupsi pendek dan berulang dengan spektrum frekuensi antara 200-2000 Hz. tidak kontinyu. tetapi secara umum adalah sebagai berikut : . Bisa bernada tinggi ataupun rendah (tergantung tinggi rendahnya frekuensi yang mendominasi). yaitu : batuk. dan mungkin terdapat komplikasi sehingga memerlukan perawatan dirumah sakit. Crackles dihasilkan oleh gelembung-gelembung udara yang melalui sekret jalan napas/jalan napas kecil yang tiba-tiba terbuka. Beberapa faktor yang mempengaruhi gambaran klinis pneumonia pada anak adalah imaturitas anatomik dan imunologik.Pada auskultasi ditemukan crackles sedang nyaring. sehingga dapat berobat jalan saja. Konsolidasi yang kecil pada paru yang terkena tidak menghilangkan getaran fremitus selama jalan napas masih terbuka. sakit kepala. suprasternal. muntah atau diare . mengancam kehidupan. yaitu : demam. . retraksi dada. kadang-kadang ditemukan gejala infeksi ekstrapulmoner. napas cuping hidung. takipnea.Pada nafas terdapat retraksi otot epigastrik. sehingga perlu dipertimbangkan dalam tatalaksana pneumonia. keluhan gastrointestinal seperti : mual. mikroorganisme penyebab yang luas. interkostal. gelisah. kelompok usia pada anak merupakan faktor penting yang menyebabkan karakteristik penyakit berbeda-beda. Disamping itu.Pada palpasi ditemukan vokal fremitus yang simetris.Gejala infeksi umum. merintih. sesak napas. . penurunan nafsu makan. etiologi noninfeksi yang relative lebih sering. dan sianosis. namun bila terjadi perluasan infeksi paru (kolaps paru/atelektasis) maka transmisi energi vibrasi akan berkurang. Gambaran klinis pneumonia pada bayi dan anak bergantung pada berat ringannya infeksi.6. Pemeriksaan fisik Dalam pemeriksaan fisik penderita bronkopneumoni ditemukan hal-hal sebagai berikut : . dan pernapasan cuping hidung. air hunger. Gejala klinis Sebagian besar gambaran klinis pneumonia pada anak berkisar antara ringan hingga sedang. Crackles adalah bunyi non musikal. keras atau lemah (tergantung dari amplitudo osilasi) jarang atau banyak (tergantung jumlah crackles individual) halus atau kasar (tergantung dari mekanisme terjadinya).

Umumnya pemeriksaan yang diperlukan untuk menunjang diagnosis pneumonia hanyalah pemeriksaan posisi AP. Pemeriksaan radiologi Foto rontgen toraks pada pneumonia ringan tidak rutin dilakukan. 14 . Pada hitung jenis leukosit terdapat pergeseran ke kiri serta peningkatan LED. hanya direkomendasikan pada pneumonia berat yang dirawat. Isolasi mikroorganisme dari paru. Analisa gas darah menunjukkan hipoksemia dan hipokarbia. Hitung leukosit dapat membantu membedakan pneumoni viral dan bakterial.000 /mm3 dengan neutrofil yang predominan. Kelainan foto rontgen toraks pada pneumonia tidak selalu berhubungan dengan gambaran klinis. pada stadium lanjut dapat terjadi asidosis respiratorik. cairan pleura atau darah bersifat invasif sehingga tidak rutin dilakukan 1.bronkopneumonia Lobularis Ronki selalu terdengar Dullness (-) Interstitial Interstitial Pendataran diafragma dan hiperinflasi Ronki ±. Lynch dkk mendapatkan bahwa tambahan posisi lateral pada foto rontgen toraks tidak meningkatkan sensitivitas dan spesifisitas penegakkan diagnosis.6. Pemeriksaan penunjang Pemeriksaan laboratorium Pada pemeriksaan laboratorium terdapat peningkatan jumlah leukosit.000-40. Infeksi virus leukosit normal atau meningkat (tidak melebihi 20.000/mm3 dengan limfosit predominan) dan bakteri leukosit meningkat 15. wheezing + Dullness (-) Pneumonia lobaris Segmental/lobus Konsolidasi Ronki (+) saat kongestif dan resolusi Dullness (+) di lobus yang terkena - - - 8.

Konsolidasi dapat mengenai satu lobus disebut dengan pneumonia lobaris atau terlihat sebagai lesi tunggal yang biasanya cukup besar.Gambar 2 Ro. C-Reactive Protein (CRP) Secara klinis CRP digunakan sebagai alat diagnostik untuk membedakan antara faktor infeksi dan noninfeksi. atau infeksi bakteri superfisialis dan profunda. infiltrat alveoler di lobus kanan bawah ec. ditandai dengan peningkatan corakan bronkovaskular. CRP kadang digunakan untuk evaluasi respons terhadap terapi antibiotik 2. Infiltrat alveolar berupa konsolidasi segmen atau lobar. 15 . Kadar CRP biasanya lebih rendah pada infeksi virus dan infeksi bakteri superfisialis daripada infeksi bakteri profunda. merupakan konsolidasi paru dengan air bronchogram. berbentuk sferis. infiltrat interstitial merata dan hiperinflasi cenderung terlihat pada pneumonia virus. S pneumoniae Secara umum gambaran foto toraks terdiri dari: Infiltrat interstisial. peribronchial cuffing dan hiperaerasi Infiltrat alveolar. infeksi virus dan bakteri. berbatas yang tidak terlalu tegas dan menyerupai lesi tumor paru disebut sebagai round pneumonia Bronkopneumonia ditandai dengan gambaran difus merata pada kedua paru berupa bercak-bercak infiltrat yang dapat meluas hingga daerah perifer paru disertai dengan peningkatan corakan peribronkial - Gambaran foto rontgen toraks dapat membantu mengarahkan kecenderungan etiologi. Penebalan peribronkial. bronkopneumonia dan air bronchogram sangat mungkin disebabkan oleh bakteri 2.

Pada bayi/anak kecil (balita) pemeriksaan auskultasi sering tidak jelas.Ronki basah sedang nyaring pada bronkopneumonia atau suara pernafasan bronkial (pada daerah yang dengan perkusi bernada pekak) pada pneumonia lobaris . 9. yaitu :     Umur < 2 bl : ≥ 60x/menit 2 bl-< 12 bl : ≥ 50x/menit 12 bl-5 th : ≥ 40x/menit ≥ 5 tahun : ≥ 30x/menit Klasifikasi < 2 bl Pneumonia berat Bukan Pneumonia 2 bl-5 th Pneumonia berat Pneumonia Bukan Pneumonia Nafas cepat + + + retraksi + + - Dapat juga dipakai kriteria paling sedikit 3 dari 5 gejala/tanda berikut . maka nafas cepat dan retraksi/tarikan dinding dada bagian bawah ke dalam dipakai sebagai parameter. Diagnosis Dari anamnesa didapatkan gejala non respiratorik dan gejala respiratorik.Foto toraks menunjukkan adanya infiltrat berupa bercak-bercak (bronko) difus merata (lober) pada satu atau beberapa lobus .000/mm3 dengan limfosit predominan. beratnya penyakit dan jenis organisme penyebab. Kriteria nafas cepat. sekret nasofaring. Dasar diagnosis tergantung umur.000-40.Panas badan .5. Untuk pemeriksaan mikrobiologik. dan bakteri 15. pungsi pleura.Sesak nafas disertai pernafasan cuping hidung dan tarikan dinding dada .Pemeriksaan Mikrobiologis Pemeriksaan mikrobiologik untuk diagnosis pneumonia anak tidak rutin dilakukan kecuali pada pneumonia berat yang dirawat di RS. spesimen dapat berasal dari usap tenggorok. 16 . bilasan bronkus.000/mm3 neutrofil dominan. atau aspirasi paru2.Leukositosis Pada infeksi virus tidak melebihi 20. darah.

Berdasarkan pedoman tersebut bronkopneumoni dibedakan berdasarkan : . inguinal yang spesifik. maka anak harus dirawat di rumah sakit dan diberi antibiotika. aksila. .Bronkopneumonia berat : Bila di jumpai adanya retraksi. 10. Pembengkakan tulang/sendi punggung. pada keadaan imunosupresi ≥ 5 mm) pertumbuhan buruk/kurus atau berat badan menurun demam (≥ 2 minggu) tanpa sebaba yang jelas batuk kronis (≥ 3 minggu) pembengkakan kelenjar limfe leher.Bronkopneumonia sangat berat : Bila terjadi sianosis sentral dan anak tidak sanggup minum. maka anak harus dirawat di rumah sakit dan d beri antibiotic.13500 Pedoman diagnose dan tatalaksana yang lebih sederhana menurut WHO.Kadar leukosit berdasarkan umur: o o o o Anak umur 1 bulan : 5000 – 19500 Anak umur 1-3 tahun : 6000 – 17500 Anak umur 4-7 tahun : 5500 – 15500 Anak umur 8-13 tahun : 4500 . tanpa sianosis dan masih sanggup minum. 17 Tuberculosis (TB) - . Diagnosis banding Diagnosis banding anak yang datang dengan keluhan batuk dan atau kesulitan bernafas diagnosis Bronkiolitis Gejala klinis yang ditemukan episode pertama wheezing pada anak umur < 2 tahun hiperinflasi dinding dada ekspirasi memanjang gejala pada pneumonia juga dapat dijumpai kurang atau tidak ada respon dengan bronkodilator riwayat kontak positif dengan pasien TB dewasa uji tuberculin positif (≥10 mm.

panggul. lutut. klaritromisin. Neonatus dan bayi muda (< 2 bulan) :  ampicillin + aminoglikosid (gentamisin)  amoksisillin-asam klavulanat  amoksisillin + aminoglikosid  sefalosporin generasi ke-3 b. kadang tidak berhubungan dengan batuk dan pilek hiperinflasi dinding dada ekspirasi memanjang berespon baik terhadap bronkodilator - 11. Penatalaksanaan Sebelum memberikan obat ditentukan dahulu : Berat ringannya penyakit. falang. azitromisin)  tetrasiklin (pada anak usia > 8 tahun) Karena dasar antibiotik awal di atas adalah coba-coba (trial and error) maka harus dilaksanakan dengan pemantauan yang ketat. Asma riwayat wheezing berulang. Bila penyakit bertambah berat atau tidak menunjukkan perbaikan yang nyata dalam 24-72 jam  ganti dengan antibiotik lain yang lebih tepat sesuai dengan kuman penyebab yang diduga (sebelumnya perlu diyakinkan 18 . minimal tiap 24 jam sekali sampai hari ketiga. riwayat pengobatan sebelumnya dan respons terhadap pengobatan tersebut. Bayi dan anak usia pra sekolah (2 bl-5 thn)      c. beta laktam amoksisillin amoksisillin-amoksisillin klavulanat golongan sefalosporin kotrimoksazol makrolid (eritromisin) - Anak usia sekolah (> 5 thn)  amoksisillin/makrolid (eritromisin. adanya penyakit yang mendasarinya Antibiotik awal (dalam 24-72 jam pertama) : a.

Bila elektrolit normal berikan larutan 1:4 (1 bagian NaCl fisiologis + 3 bagian dekstrosa 5%).v. nutrisi dan kalori yang memadai : Melalui oral. dll) Mikoplasma : Eritomisin. bayi < 2 bl biasanya 10-14 hari) Kalau penyakit bertambah berat atau tidak menunjukkan perbaikan yang nyata dalam 72 jam → antibiotik awal dihentikan dan diganti dengan antibiotik lain yang lebih tepat (sebelumnya perlu diyakinkan dulu tidak adanya penyulit seperti empiema. atau infus. eritromisin. dikloksasilin.v. sefotaksim. sefalosporin (5-16% ada reaksi silang) atau linkomisin/klindamisin Antibiotik selanjutnya ditentukan atas dasar pemantauan ketat terhadap respons klinis dalam 24-72 jam pengobatan antibiotik awal Kalau penyakit menunjukkan perbaikan → antibiotik diteruskan sampai dengan 3 hari klinis baik (Pneumokokus biasanya cukup 5-7 hari. intragastrik. linkomisin atau klindamisin S. aureus : Diganti dengan kloksasilin. Asidosis (pH < 7. dll. Hipersensitif dengan penisilin/ampisilin : Eritromisin.5 x 2-3 mEq x BB (kg) sebagai dosis awal. karena dapat mengacaukan interpretasi reaksi terhadap antibiotik awal Suportif O2 lembab 40% melalui kateter hidung diberikan sampai sesak nafas hilang (analisis gas sampai dengan PaO2 ≥ 60 Torr) Cairan. Dosis awal : 0. flukloksasilin.30) diatasi dengan bikarbonat i. klindamisin atau linkomisin Batang Gram (-) : Aminoglikosida (gentamisin. = 0. sefazolin. berikan bikarbonat i. linkomisin atau vankomisin H. Dosis selanjutnya tergantung hasil pemeriksaan pH dan kelebihan basa (base excess ) 4-6 jam setelah dosis awal.3 x defisit basa x BB (kg) → mEq.       Antibiotik pengganti bergantung pada kuman penyebab Pneumokokus : 3-16% sudah resisten dengan penisilin Diganti dengan sefuroksim. influenzae : Diganti dengan sefuroksim.dulu ada tidaknya penyulit seperti empyema. sefazolin. sefotaksim. Apabila pH dan kelebihan basa tidak dapat diperiksa. dosis selanjutnya tergantung gambaran klinis 6 jam setelah dosis awal 19 . abses.5 x 0. yang menyebabkan seolah-olah antibiotik tidak efektif). tetrasiklin (untuk anak > 8 th) - Simtomatik (untuk panas badan dan batuk) Sebaiknya tidak diberikan terutama pada 72 jam pertama. Jenis cairan infus disesuaikan dengan keseimbangan elektrolit. abses paru yang menyebabkan seolah-olah antibiotik tidak efektif) Penderita imunodefisiensi atau ditemukan penyakit lain yang mendasari → ampisilin + aminoglikosida (gentamisin). amikasin.

MAKROLID Eritromisin Roksitromisin KLINDAMISIN i. Bakteri anaerob Fibrosis kistik (kombinasi dengan aminoglikosida) Sama dengan tikarsilin i.o. pneumoniae. pertussis. 4-6 30-50 40-70 5-8 15-40 10-30 12 6 6 12 6 6 20 .v. i. i.m.v..o. Gram (-) . Sama dengan tikarsilin Pneumonia. i. i.m. Streptokokus. coli Diduga Pseudomonas aeruginosa Terapi inisial untuk Pneumonia dan abses paru karena bakteri Gram (-) Patogen Gram (-) resisten dengan gentamisin dan tobramisin Gram (-) yang resisten terhadap gentamisin M. diphtheriae.v. SEFALOSPORIN Sefalotin Sefuroksim Sefotaksim Seftriakson Seftazidim CARA PEMBERIAN i.v.v. aureus Pneumonia oleh S.v.v. empiema..v.m. B. Tobramisin Amikasin i. abses paru.- Fisioterapi Tabel 3. p. Dosis Harian Antibiotik untuk Pneumonia OBAT Gol. aureus (bila alergi penisilin) Terapi awal infeksi oleh patogen Gram (-) : K. i. p. trachomatis.m.o. i. C. i. i.. PENISILIN Ampisilin Amoksisilin Tikarsilin Azlosilin Neonatus <7 hr Neonatus >7 hr Mezlosilin Neonatus >2. C.v. i. p.v. i.v. Sama dengan tikarsilin i. Legionella pneumophila S. (jam) 4-6 6 8 4-6 4 12 4-8 4 6-12 8-12 4 4-6 4-6 4-6 6 6-8 6 12-24 8 INDIKASI Pneumonia berat disebabkan Gram (+).m.v. i. E.v. AMINOGLIKOSIDA Gentamisin i.000 g Piperasilin Oksasilin Kloksasilin Dikloksasilin GOL..m. aureus. i.000 g Neonatus <2.v. (infus lambat) p.v..v.o. trakeitis yang disebabkan oleh S.v.v. pneumoniae. p. DOSIS 100-200 40-160 25-100 300-600 300-600 50-150 200 300 75 75 300 150 50-100 25-80 75-150 100-150 50-200 50-100 100-150 FREK. i. i. i. 5 8-10 15-20 8 8 6-8 Netilmisin GOL. i.o. i. i.. i.v. Pneumokokus yang alergi penisilin dan efalosporin Abses GOL.

yaitu : Pada bayi  saturasi oksigen ≤ 92 %. apneu intermitten.  Empiema adalah suatu keadaan dimana terkumpulnya nanah dalam rongga pleura terdapat di satu tempat atau seluruh rongga pleura. sianosis  frekuensi napas > 60 x/menit  distress pernapasan. 21 . Komplikasi Komplikasi dari bronchopneumonia adalah :  Atelektasis adalah pengembangan paru-paru yang tidak sempurna atau kolaps paru merupakan akibat kurangnya mobilisasi atau refleks batuk hilang. abses paru.v. 75-100 6 Epiglotitis.  Abses paru adalah pengumpulan pus dalam jaringan paru yang meradang. sianosis  frekuensi napas ≥ 50 x/menit  distress pernapasan  grunting  terdapat tanda dehidrasi  keluarga tidak bisa merawat dirumah Kriteria pulang:  Gejala dan tanda pneumonia menghilang  Asupan peroral adekuat  Pemberian antibiotik dapat diteruskan dirumah (peroral)  Keluarga mengerti dan setuju untuk pemberian terapi dan rencana kontrol  Kondisi rumah memungkinkan untuk perawatan lanjutan dirumah 12.paru karena bakteri anaerob KLORAMFENIK OL i. pneumonia Indikasi rawat Kriteria rawat inap. atau grunting  tidak mau minum / menetek  keluarga tidak bisa merawat dirumah Pada anak  saturasi oksigen ≤ 92 %.

terbaik pada umur sebelum masuk sekolah dasar. Selain itu hal-hal yang dapat dilakukan adalah dengan meningkatkan daya tahan tubuh kaita terhadap berbagai penyakit saluran nafas seperti cara hidup sehat. 22 . Infeksi berat dapat memperjelek keadaan melalui asupan makanan dan peningkatan hilangnya zat-zat gizi esensial tubuh.Endokarditis yaitu peradangan pada setiap katup endokardial. Prognosis Sembuh total. mortalitas bisa lebih tinggi didapatkan pada anak-anak dengan keadaan malnutrisi energi-protein dan datang terlambat untuk pengobatan. Kedua-duanya bekerja sinergis. 12-15 bulan. Interaksi sinergis antara malnutrisi dan infeksi sudah lama diketahui. 13.4.  Vaksinasi H. Pada umur 17-12 bulan diberikan 2 kali dengan interval 2 bulan . maka malnutrisi bersama-sama dengan infeksi memberi dampak negatif yang lebih besar dibandingkan dengan dampak oleh faktor infeksi dan malnutrisi apabila berdiri sendiri 6. Infeksi sitemik .beristirahat yang cukup.Meningitis yaitu infeksi yang menyerang selaput otak. makan makanan bergizi dan teratur. Pencegahan Penyakit bronkopneumonia dapat dicegah dengan menghindari kontak dengan penderita atau mengobati secara dini penyakit-penyakit yang dapat menyebabkan terjadinya bronkopneumonia ini. mortalitas kurang dari 1 %. rajin berolahraga dll.  Vaksinasi pneumokokus Dapat diberikan pada umur 2. namun keduanya perlu dosis ulangan 1 kali pada usia 12 bulan atau minimal 2 bulan setelah dosis terakhir. Pada anak umur di atas 2 tahun PCV diberikan cukup 1 kali.6. . 4. Bila diberikan pada umur > 12 tahun. 14. Untuk imunisasi primer anak 6 bulan < 9 tahun di berikan 2 kali dengan interval minimal 4 minggu. dan 15-18 bulan  Vaksinasi varisela Yang di anjurkan pada anak dengan daya tahan tubuh rendah dapat diberikan setelah umur 12 bulan. pada usia > 1 tahun di berikan 1 kali. menjaga kebersihan . Melakukan vaksinasi juga diharapkan dapat mengurangi kemungkinan terinfeksi antara lain. Sebaliknya malnutrisi ringan memberikan pengaruh negatif pada daya tahan tubuh terhadap infeksi. 6.Influenzae Diberikan pada usia 2. perlu 2 dosis dengan interval minimal 4 minggu  Vaksinasi influenza Diberiikan pada umur > 6 bulan setiap tahun.

2000. 2005. 2009. IKA. 4. dkk. Edisi 15. Jakarta : IDAI. Pathophysiology : Clinical Concepts Of Disease Processes. Bandung : UNPAD Hegar.2008. Latief.DAFTAR PUSTAKA Garna. 2010. herry. Sylvia Anderson. Nastini.Volume 2. Suzanne C. Jakarta : EGC Smeltzer. 23 . sudigdo. Pedoman diagnosis dan terapi.N. Ed. Alih Bahasa Peter Anugrah. Jakarta : Depkes Price. 2007.1994. Pelayanan kesehetan anak di rumah sakit standar WHO.Jakarta : EGC Sastroasmoro.Ilmu Kesehatan Anak.Jakarta :EGC.Edisi 1. abdul. dkk.Volume I. badriul. Panduan pelayanan medis dept. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah.Jakarta : IDAI Nelson . Jakarta : RSCM Rahajoe.Buku Ajar Respirologi. dkk.2000. Pedoman pelayanan medis.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful