1

POLA DISTRIBUSI DAN KELIMPAHAN TERIPANG (HOLOTHUROIDEA) DI PANTAI TAMBEA KECAMATAN POMALAA DARMA SIMAI, S.Pd Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola distribusi dan kelimpahan teripang (Holothuroidea) di pantai Tambea Kecamatan Pomalaa. Pengamatan dilakukan pada dua stasion yang dipilih. Daerah pengamatan tiap stasion meliputi luas area berbentuk bujur sangkar dengan tiap sisi berukuran 40 meter. Luas area tersebut dibagi dalam 16 titik plot pada persilangan garis melintang dan membujur yang dibuat tiap jarak 10 meter. Selanjutnya dalam plot 10 x 10 meter tersebut diletakkan plot pengamatan ukuran 1 x 1 M2 dengan tiga kali ulangan secara acak. Populasi penelitian ini adalah semua spesies teripang yang terdapat dan tersebar disepanjang pantai tambea sedangkan sampelnya adalah spesies teripang yang terdapat pada tiap plot pengamatan. Pengumpulan data dilakukan dengan mengambil sampel pada tiap plot pengamatan. Hasil penelitian menunjukan kelimpahan teripang yang tertinggi Holothuria scabra dan yang terendah Holothuria lecanora dan penyebarannya mengelompok.

2

PENDAHULUAN Teripang (Holothuroidea) merupakan golongan hewan yang umum dijumpai. Hewan ini banyak terdapat di paparan terumbu karang dan pantai berbatu atau berlumpur. Teripang tidak hanya dijumpai di perairan dangkal, ada juga yang hidup di laut dalam, bahkan di palung laut yang terdalam di duniapun terdapat teripang (Nontji, 1987 : 200). Untuk hidupnya teripang lebih menyukai perairan yang jernih dan airnya relatif tenang, ada jenis teripang yang hidup berkelompok dan ada pula yang hidup soliter, misalnya teripang putih (Holothuria scabra) membentuk kelompok antara 3 – 10 individu dan Holothuria nobilis hidup berkelompok antara 10 – 30 individu (Martoyo, dkk, 1994 : 15). Tubuh teripang umumnya berbentuk bulat panjang atau silindris sekitar 10 – 30 cm, dengan mulut pada salah satu ujungnya dan dubur pada ujung lainnya. Mulutnya dikelilingi tentakel-tentakel atau lengan peraba yang kadang-kadang bercabang-cabang, tubuhnya berotot, dapat tipis atau tebal, lembek, licin dan kulitnya dapat halus atau berbintil-bintil (Nontji, 1987 : 200). Teripang meletakkan diri di atas dasar laut atau membenamkan diri dalam lumpur atau pasir dengan memperlihatkan bagian akhir tubuhnya. Bila hewan ini diganggu akan mengkerut. Makanan hewan ini berupa serpihan bahan-bahan organik di dasar laut (yang masuk ke dalam laut) dan sering juga menangkap plankton dengan tentakel. Teripang berpindah tempat dengan menggunakan kaki ambulakral atau gerakan tubuh dengan kontraksi (Jasin, 1989 : 239). Dalam studi ekologi, jumlah individu-individu merupakan informasi dasar. Kepadatan adalah jumlah individu yang dinyatakan per unit luas atau volume, jadi

3

dalam pengkajian suatu populasi kepadatan merupakan ciri populasi yang menjadi pusat perhatian (Brower, et al, 1989 dalam Aslan, dkk, 1997 : 7). Secara umum pola penyebaran individu di alam ada tiga yaitu : Random, clumped (mengelompok), dan uniform. Pola mengelompok merupakan pola penyebaran paling umum, sedangakan penyebaran yang bersifat random di alam ini jarang terjadi. Mengelompoknya individu-individu dalam suatu populasi dapat disebabkan oleh beberapa hal antara lain : Respon terhadap habitat lokal yang berbeda, respon terhadap perubahan cuaca harian atau musiman dan sebagai akibat proses reproduksi (Odum, 1973. dalam Aslan, dkk, 1997 : 6) Untuk melestarikan sumber daya yang beraneka ragam, diperlukan pengetahuan yang mendalam tentang berbagai aspek yang dapat mempengaruhi kehidupan dan keberadaannya. Sebab pengetahuan ini dapat memberi petunjuk kepada kita mengenai langkah-langkah yang harus dilakukan untuk tetap menjaga kondisi lingkungan atau habitat yang alami bagi makhluk itu, yang tak kalah pentingnya dalam melestarikan sumber daya adalah pengetahuan tentang kebiasaan hidup dari populasi itu sendiri dengan demikian kita dapat merencanakan berbagai upaya pelestarian. Pantai Tambea merupakan salah satu pantai yang terletak di Kecamatan Pomalaa. Peraian pantai ini berhubungan dengan laut bebas. Pada perairan pantai tersebut bermuara beberapa anak sunga, dan pada muara sungai umumnya ditumbuhi mangrove yang tipis. Pada bagian utara pantai ini terdapat perusahaan besar PT. Aneka Tambang Pomalaa. Di tepi pantai wilayah ini dijadikan sebagai tempat pemukiman penduduk. Dengan kondisi demikian sangat dimungkinkan

4

adanya limbah dari PT. Aneka Tambang Pomalaa dan pemukiman penduduk yang mengakibatkan keseimbangan ekosistem pantai terganggu yang secara langsung atau tidak langsung akan mempengaruhi distribusi dan kelimpahan teripang. Mengingat pentingnya pengetahuan dan informasi tentang keberadaan (stok) teripang ini maka penulis ingin menelaahnya lebih lanjut melalui penelitian dengan judul pola distribusi dan kelimpahan teripang (Holothuroidea) di pantai Tambea Kecamatan Pomalaa.

Rumusan Masalah Untuk lebih tararahnya penelitian ini maka dirumuskan masalah sebagai berikut : “ Bagaimana pola distribusi dan kelimpahan teripang (Holothuroidea) di pantai Tambea Kecamatan Pomalaa.”

Tujuan Penelitian Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk menentukan pola distribusi dan menghitung kelimpahan teripang (Holothuroidea) di pantai Tambea Kecamatan Pomalaa

Manfaat Penelitian Manfaat dari penelitian ini adalah : 1. Salah satu cara untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman aktual terhadap kehidupan sebagian kecil biota perairan pantai. 2. Bahan masukan dan bahan perbandingan untuk penelitian-penelitian yang relevan pada masa yang akan datang.

5

METODE PENELITIAN Obyek Penelitian Penelitian ini dilakukan di kawasan perairan Pantai Tambea Kecamatan Pomalaa dan dilaksanakan pada saat air surut. Sesuai dengan tujuan penelitian ini, maka pengumpulan data/pengmbilan sampel dilakukan dalam dua stasion. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif.

Populasi dan Sampel Penelitian Populasi adalah keseluruhan spesies teripang yang terdapat dan tersebar di sepanjang Pantai Tambe. Sedangkan sampel dalam penelitian ini adalah spesies teripang yang terdapat pada tiap plot pengamatan.

Teknik Pengumpulan Data Langkah-langkah dalam pengumpulan data penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Penempatan stasion Daerah pengamatan tiap stasion meliputi luas area berbentuk bujur sangkar dengan tiap sisi berukuran 40 meter. Luas area tersebut dibagi dalam 16 plot. Pada persilangan garis melintang dan membujur yang dibuat tiap jarak 10 meter. Dari masing-masing plot diletakkan plot kuadrat ukuran 1 x 1 meter sebanyak tiga kali ulangan setiap plot. Pengamatan ini dilakukan secara acak.

6

2. Pengambilan sampel Semua spesies teripang yang ditemukan dari masing-masing plot diambil dengan ketentuan semua individu yang tersentuh garis pinggir dianggap masuk dalam plot. 3. Identifikasi Jenis yang sudah dikenal dengan baik alam arti diketahui nama ilmiahnya maka jenis tersebut langsung didata di lapangan, terhadap jenis yang masih meragukan (belum diketahui) dibaah ke rumah untuk penelusuran lebih lanjut dengan mengacu pada Jasin (1989), Radiopoetro (1990 dan Martoyo, dkk (1994). 4. Perhitungan sampel penelitian Spesies yang ditemukan dihitung dan dikelompokan berdasarkan jenis dan plot yang ditempati oleh masing-masing spesies.

Teknik Analisis Data 1. Untuk menentukan pola distribusinya data yang terkumpul dihitung dengan indeks Morisita sebagai berikut :

Ʃ X2 - N
ID = n N(N – 1)

7

Dengan :

n Ʃ X2
N

= Jumlah plot

= Kudrat jumlah individu per plot = Jumlah total individu dalam n plot

Dengan kriteria pengujian : ID = 1, pola penyebarannya adalah random (acak) ID ˃ 1, pola penyebarannya adalah clumped (mengelompok) ID < 1, pola penyebarannya adalah uniform (seragam) 2. Untuk menentukan kelimpahannya dihitung dengan rumus yang dikemukakan oleh Dahuri (1993 : III.3) sebagai berikut :

Ʃ Xi
X= N

Dengan : X = Rata-rata jumlah individu pada pengambilan contoh sebanyak n kali

Ʃ Xi
N

= Jumlah total individu pada pengambilan contoh ke-i = Jumlah kali pengambilan contoh

8

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Tabel data pengambilan sampel stasion I No Plot I Ulangan 1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 3 H.s 3 3 1 1 S.v H.m Jumlah individu H.v H.a H.e 1 1 1 1 1 1 2 5 4 2 1 2 2 2 3 3 2 1 1 1 2 2 1 3 2 1 2 2 3 3 2 1 1 1 1 2 1 1 4 1 2 1 1 1 2 2 1 2 3 2

H.i

H.l

II

III

IV

V

1 3 1 1 2 2 2 2 1 2 1 2 3 3 1 1 3 2 1 3 1

VI

VII

VIII

IX

X

XI

XII

XIII

9

XIV

XV

XVI

Total Keterangan :

1 2 3 1 2 3 1 2 3 48

4 3 1 2 1 2

1

2 2 2 3 2 2 2

65

6

1 7

24

10

1 47

8

1 4

H.s = Holothuria scabra S.v = Stichopus variegatus H.m = Holothuria marmorata H.v = Holothuria vacabunda H.a = Holothuria atra H.e = Holothuria edulis H.i = Holothuria impatiens H.l = Holothuria lecanora Tabel hasil perhitungan distribusi dan kelimpahan spesies teripang pada stasion I Spesies Distribusi Nilai Holothuria scabra Stichopus variegatus Holothuria marmorata Holothuria vacabunda Holothuria atra Holothuria edulis Holothuria impatiens Holothuria lecanora 1,200 0,762 1,159 1,770 1,058 1,143 2,670 1,060 Kategori Clumped Uniform Clumped Clumped Clumped Clumped Clumped Clumped Kelimpahan (individu/m2 1,354 0,146 0,500 0,208 0,979 0,166 0,083 0,125 Persentase (%) 38,023 4,100 14,041 5,841 27,492 4,662 2,331 3,510 100,00

10

Tabel data pengambilan sampel stasion II No Plot I Ulangan 1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 H.s 1 1 S.v Jumlah individu H.m H.v H.a H.e 1 2 1 3 3 1 1 1 4 1 2 1 1 2 4 3 1 2 2 2 2 1 1 2 1 2 1 1 2 1 3 2 1 2 1 1 1 1 2 1 1 2 1 2 2 3 1 1 1 1 1 2 1 1 1 2 3 1 2 1 1 2 2 1 2

H.i

H.l

II

III

IV

V

VI

VII

3

1

VIII

IX

X

XI

XII

XIII

XIV

11

XV

XVI

Total Keterangan :

2 3 1 2 3 1 2 3 48

1 3 1 1 3 3 44 12 8 3 17 4 1

1

1 2 1 2 36 1 13 2

H.s = Holothuria scabra S.v = Stichopus variegatus H.m = Holothuria marmorata H.v = Holothuria vacabunda H.a = Holothuria atra H.e = Holothuria edulis H.i = Holothuria impatiens H.l = Holothuria lecanora Tabel hasil perhitungan distribusi dan kelimpahan spesies teripang pada stasion II Spesies Distribusi Nilai Holothuria scabra Stichopus variegatus Holothuria marmorata Holothuria vacabunda Holothuria atra Holothuria edulis Holothuria impatiens Holothuria lecanora 0,95 1,14 1,06 2,67 0,93 1,64 0,00 0,73 Kategori Uniform Clumped Clumped Clumped Uniform Clumped Uniform Uniform Kelimpahan (individu/m 0,916 0,166 0,354 0,083 0,750 0,270 0,041 0,250
2

Persentase (%) 32,367 5,866 12,509 2,933 26, 502 9,540 1,000 8,834 100,00

12

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan terhadap kelimpahan populasi spesies teripang pada stasion I didapat kelimpahan tertinggi 1,354 individu/m2 yang didominasi Holothuria scabra dengan persentase 38,023 % sedangkan Holothuria lecanora adalah spesies yang memiliki kelimpahan terendah yakni 0,083 individu/m2 dengan persentase 2,331 %. Sedangkan pada stasion II kelimpahan tertinggi 0,916 individu/m2 yang juga didominasi

Holothuria scabra dengan persentase 32,367 % dan kelimpahan terendah yakni 0,041 individu/m2 juga dari spesies Holothuria lecanora dengan persentase 1,00 % dan kelimpahan spesies-spesies yang lain dari masing-masing stasion dapat dilihat pada tabel masing-masing stasion. Adanya perbedaan antara stasion I dan stasion II disebabkan oleh kondisi lingkungan yang ditempati oleh spesies-spesies tersebut. Hal ini berkaitan dengan konsep yang dikemukakan oleh Barnes dan Hugnes (1982) dalam Khamdi (1995 : 35) mengemukakan bahwa komposisi komunitas organisme senantiasa bervariasi dari satu tempat ke tempat lainnya. Selanjtnya berdasarkan hasil perhitungan penggabungan antara stasion I dan stasion II, kelimpahan populasi spesies teripang tertinggi adalah Holothuria scabra dengan rata-rata 1,135 individu/m2 dan yang terendah Holothuria lecanora dengan rata-rata 0,062 individu/m2. Tipe penyebaran stasion I, Holothuria scabra, Holothuria vacabunda,

Holothuria atra, Holothuria edulis, Holothuria impatiens, Holothuria lecanora, dan Stichopus variegatus adalah mengelompok (clumped) sedangkan Holothuria marmorata bertipe seragam (uniform) namun pada stasion II Holothuria

marmorata bertipe mengelompok, sedangkan Holothuria scabra, Holothuria

13

edulis, Holothuria lecanora dan Stichopus variegatus bertipe seragam. Bervariasinya tipe penyebaran antara stasion I dan stasion II mungkin disebabkan perbedaan substrat dimana pada stasion I bersubstrat berpasir campur lumpur sedangkan di stasion II bersubstrat karang mati. Hal ini sesuai dengan pendapat Barnes dan Hugnes (982) dalam Khamdi (1995 : 34 ) menyatakan bahwa sekelompok spesies umumnya dapat bersama-sama tetapi jarang dalam perbandingan yang sama persis antara satu tempat dengan tempat lainnya namun secara alami (genetis) diantara individu-individu dalam populasi ada yang mempunyai sifat-sifat lain sehingga mampu beradaptasi. Tipe penyebaran secara keseluruhan menunjukan tipe penyebaran mengelompok hal ini sesuai dengan pendapat Odum yang menyatakan bahwa penyebaran populasi di alam cenderung untuk berkelompok. Menurut Odum dalam Aslan, dkk (1997: 13) bahwa tipe mengelompok yang terjadi pada banyak populasi di alam disebabkan oleh : pertama, untuk dapat mengatasi perubahanperubahan cuaca harian dan musiman; kedua, dalam hal mengatasi perbedaan habitat setempat; sebagai akibat dari proses reproduksi

14

PENUTUP A. KESIMPULAN Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan bahwa : 1. Kelimpahan teripang (Holothuroidea) di perairan Pantai Tambea yang tertinggi Holothuria scabra dan yang terendah Holothuria lecanora. 2. Tipe penyebaran populasi teripang (Holothuroidea) pada wilayah perairan Pantai Tambea adalah tipe penyebaran mengelompok.

B. SARAN Pada akhir penulisan ini peneliti menyarankan untuk diadakan pnelitian lanjutan dengan memperhatikan dan menelaah berbagai faktor, baik faktor-faktor fisik maupun faktor-faktor kimia lingkungan dalam hubungannya dengan kelimpahan teripang (Holothuroidea).

15

DAFTAR PUSTAKA Adriani. 1995. Identifikasi Jenis-Jenis Teripang di Perairan Desa Sopura Kecamatan Pomalaa Kabupaten Kolaka. Universitas Haluoleo. Kendari Agoes, S. 1994. Ekologi Kuantitatif. Usaha Nasional. Surabaya. Aslan, M. Kawaroe, M. Kurnia, A. 1997. Studi Penyebaran dan Kepadatan Populasi Bulu Babi (Diadema setosum Leske) di Terumbu Karang Pulau Hari. Universitas Haluoleo. Kendari Dahuri, R, dkk. 1993. Metode dan Teknik Analisis Biota Perairan. Pusat Penelitian Lingkungan Hidup Lembaga Penelitian IPB. Bogor Jasin, M. 1989. Sistematika Hewan Invertebrata dan Vertebrata Untuk Universitas. Sinar Wijaya. Surabaya. Khamdi, A. 1995. Studi Tentang Bintang Laut Jenis (Aschaster typicus) Berdasarkan Substrat di Pantai Sambuli Kecamatan Poasia Kabupaten Kendari. Universitas Haluoleo. Kendari Kimball, J.W. 1991. Biologi Jilid 3. Erlangga. Jakarta. Martoyo, Aji, N. dan Winanto, T. 1994. Budidaya Teripang. Penebar Swadaya. Jakarta. Nontji, A. 1987. Laut Nusantara. Djambatan. Jakarta. Radiopoetro. 1990. Zoologi. Erlangga. Jakarta.

16