CLINICAL SCIENCE SESSION INFERTILITAS

Disusun oleh : Willy Handoko Ida Nur Kamilia Ider Nurnabihah M.Hafidz Karina Tiara Gina Septiani P. 1301-1210-0075 1301-1209-0004 1301-1209-3049 1301-1209-0004 1301-1210-0098 Pembimbing : Gatot N. A. Winarno, dr., Sp.OG (K), M.Kes

Bagian Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran Rumah Sakit Hasan Sadikin 2011

Etiologi  Penyebab infertilitas dapat berasal dari faktor pria maupun wanitanya.  Masalah infertilitas ini juga dapat berdampak buruk terhadap psikologi pasangan. Penyebab Infertilitas Penyebab Infertilitas Male Factor Endocrine disorders Hypothalamic dysfunction (Kallmann's syndrome) Pituitary failure (tumor.  Keberhasilan dalam pengobatan infertilitas tergantung dari beberapa faktor seperti umur wanita. sekitar 90% akan hamil dalam 1 tahun. Kemajuan ini meningkatkan kepedulian serta keinginan pasien untuk mencari pengobatan terhadap masalah infertilitasnya. hal lainnya adalah semakin majunya teknologi reproduksi buatan (IVF). Definisi  Ketidakmampuan suatu pasangan untuk mempunyai anak (hamil) dalam 1 tahun tanpa menggunakan alat pelindung.  Pada pasangan yang melakukan hubungan tanpa pelindung. Disebut primer bila pasangan tersebut belum pernah hamil. tergantung usianya. surgery) Hyperprolactinemia (drug. Diagnosis  Untuk mendiagnosis. durasi infertilitas dan ketersediaan pengobatan. baik pemeriksaan endokrinologi atau radiologinya. yaitu primer dan sekunder. radiation. sedangkan sekunder bila pernah hamil sebelumnya. oleh karena itu penting bagi seorang dokter untuk memberikan konseling yang tepat kepada pasangan.  Strerilitas mempengaruhi hanya sekitar 1-2% pasangan. tumor) Exogenous androgens Thyroid disorders Adrenal hyperplasia Peripheral defects Gonadal dysgenesis Premature ovarian failure Ovarian tumor Ovarian resistance Metabolic disease Thyroid disease Liver disease Renal disease Obesity .  Insidensi infertilitas primer meningkat seiring perubahan sosial seperti menunda punya anak. sangat spesifik untuk setiap pasien. Epidemiologi  Prevalensi wanita mengalami infertilitas sekitar 13% dengan jangkauan antara 7-28%.  Infertilitas dapat dibagi 2.  Kebanyakan masalah dari faktor wanita adalah disfungsi ovulasi dan faktor tuba atau peritoneal. Hal ini salah satunya disebabkan banyaknya pasangan yang menunda kehamilan dikarenakan alasan karir.PENDAHULUAN Jumlah pasien infertilitas meningkat dalam tahun-tahun terakhir.

adrenal or neoplastic Pelvic Factor Infection Appendicitis Pelvic inflammatory disease Uterine adhesions (Asherman's syndrome) Endometriosis Structural abnormalities Diethylstilbestrol (DES) exposure Failure of normal fusion of the reproductive tract Myoma Cervical Factor Congenital DES exposure Müllerian duct abnormality Acquired Surgical treatment Infection DIAGNOSIS 1. Penilaian Pasien Baru Penilaian klinis pada pasien baru harus selalu dimulai dengan anamnesis dari kedua pihak. tumor. Berikut ini adalah hal-hal yang harus ditanyakan kepada pasien: Anamnesis Faktor Infertilitas Wanita Paparan terhadap diethylstilbestrol (DES) Riwayat Pubertas Siklus menstruasi ( lama. empty selia) Hypothalamic insufficiency Pituitary insufficiency (trauma.Anatomic disorders Congenital absence of vas deferens Obstruction of vas deferens Congenital abnormalities of ejaculatory system Abnormal spermatogenesis Chromosomal abnormalities Mumps orchitis Cryptorchidism Chemical or radiation exposure Abnormal motility Absent cilia (Kartagener's syndrome) Varicocele Antibody formation Sexual dysfunction Retrograde ejaculation Impotence Decreased libido Ovulatory Factor Central defects Chronic hyperandrogenemic anovulation Hyperprolactinemia (drug. olahraga) Rendahnya frekuensi mencukur . tumor. congenital) Androgen excess. durasi) Riwayat kontrasepsi Kehamilan sebelumnya dan riwayat persalinan Infeksi Riwayat operasi sebelumnya terutama operasi pelvik Riwayat abnormal pap smear dan Anamnesis Faktor Infertilitas Pria Kelainan kongenital Testis yang tidak turun Faktor Paternal Frekuensi hubungan seksual Paparan terhadap toksin Riwayat Operasi Riwayat infeksidan pengobatan Obat-obatan Keadaan kesehatan umum (diet.

Penyebab utama yaitu patologi testicular seperti varikosel. pola olahraga) Tes laboratorium dan radiologik menilai 4 aspek utama fertilitas pasangan.pengobatan Obat-obatan Keadaan kesehatan umum (diet. Selain dari anamnesis dan pemeriksaan fisik. Berikut ini adalah nilai normal semen: Parameter normal semen Liquification Count Motility Volume Morphology Strict criteria pH 30 minutes 20 million/mL or more > 50% 2 mL or more 30% normal > 14% normal 7. yaitu: sperma (factor pria). Jika tidak normal. specimen harus langsung dianalisis dalam 1 jam setelah sampel diambil. 2. penilaian terhadap morfologi sperma harus lebih teliti. analisis semen harus diulang 2-3 bulan setelahnya untuk konfirmasi. Evaluasi Faktor Pria Faktor pria merupakan 25-40% penyebab dari pasangan yang tidak subur. DNA Assays Beberapa tes. Ada beberapa penelitian yang menunjukkan hubungan antara kerusakan DNA dengan ketidaksuburan . evaluasi pertama dari factor pria yaitu melalui analisis semen.2–7.8 White blood cell count < 1 million/mL Jika parameter jumlah dan motilitas normal. Analisis semen normal biasanya dapat dikeluarkan diagnosis faktor pria. perpindahan dan implantasi ova (factor pelvic termasuk tuba fallopi dan uterus). Analisis Semen Pasangan pria harus tidak melakukan coitus 2-5 hari sebelum dilakukan pengambilan sampel semen. berat badan. oocyte (factor ovulatori). seperti sperm chromatin structure assay (SCSA). comet dan terminal dUTP nick-end labeling (TUNEL) telah dapat dilakukan untuk menilai kuantitas kerusakan DNA atau chromatin (packaged DNA).

penilaian antibody. Ketika mukus diambil dari kanalis servikalis pada fase preovulatori. cair dan acellular. Gejala-gejala dan tanda penyakit sistemik seperti hipertiroidisme atau hipotiroidisme dan tanda-tanda fisik penyakit endokrin (hirsutism. Konfirmasi ovulasi dapat dilakukan dengan beberapa cara: 1. Pemeriksaan ini dilakukan sedekat mungkin dengan waktu ovulasi. Sperma yang fungsional harus berinteraksi secara normal dengan sel telur dan sel-sel di sekitar tuba uterus. Follicular Pool Pada saat proses persalinan. secara normal akan memberi respon terhadap lingkungan estrogen tinggi. Dapat dinilai dari anamnesis yang mencakup onset menarche. Pemeriksaan ini dilakukan dengan cara aspirasi servikal mukus dengan syringe 6-8 jam setelah coitus dan dilihat di bawah mikroskop jumlah dan motilitas sperma. di minggu ke-3 siklus menstruasi. Level progesterone 3ng/ml atau lebih setara dengan ovulasi. terjadi deplesi dari follicular pool di ovarium. Penilaian Faktor Wanita Faktor Ovulatorik Disfungsi ovulatorik menyebabkan 20-25% kasus infertilitas. Pengukuran LH surge . Derajat dan intensitas olahraga. kelenturan dan bentuk.Tes Lain Penilaian yang lebih detail dari fungsi sperma yang bisa dilakukan yaitu: tes post coitus. sperm penetration assay. Tujuan pemeriksaan postcoitus adalah untuk menentukan jumlah spermatozoa aktif di servikal mukus dan panjang waktu bertahannya sperma setelah coitus. USG Pelvis 2. dismenore. 3. obesitas). interval intermenstrual. tes ini mencakup zona-free hamster egg penetration test (the sperm penetration assay) dan the hemizona test. keberadaan atau tidak adanya gejala premenstrual (molimina) seperti rasa nyeri pada payudara. Mukus tipis. Servikal mukus merupakan sekresi yang mengandung lebih dari 90% air. Pemeriksaan dapat dikembangkan menjadi tes kemampuan sperma untuk fertilisasi. Interaksi inisial sperma dan traktus genitalia wanita dapat dinilai dengan pemeriksaan servikal mukus postcoital. dan berperan sebagai reservoir sperma. Nilai tes ini masih controversial dan jarang digunakan. riwayat penurunan berat badan merupakan tanda-tanda kemungkinan endokrin atau disfungsi ovulatorik. Sekresi ini memiliki sifat intinsik mencakup konsistensi. Konfirmasi Ovulasi Ovulasi dapat dikonfirmasi dengan pengukuran progesterone serum pada fase midluteal. bloating. galactorrhea. Apabila terdapat <10 sperma yang motile dapat dikatakan abnormal.

Riwayat kehamilan ektopik. laparoskopi. Gangguan berat (severe) ICSI (Intracytoplasmic Sperm Injection) Digunakan dalam konjungsi IVF. dapat memperlihatkan efek kematangan lapisan endometrial. Sperma yang dibutuhkan hanya dalam jumlah yang sedikit. Infertilitas Faktor Pria a. Faktor-faktor yang dapat dilihat dari anamnesis yang mengarahkan ke etiologi faktor pelvic yaitu infeksi pelvik. dan diambil saat pagi hari setelah 6 jam tidur. paparan terhadap diethylstilbestrol (DES) juga dapat mengarahkan ke diagnosis endometriosis. dan prolaktin dibutuhkan untuk membedakan: Gangguan obstruktif . riwayat operasi sebelumnya. Diagnosis faktor serviks melalui pemeriksaan fisik dan tes postcoital PENATALAKSANAAN 1.3. Endometriosis termasuk di dalam faktor pelvik dapat dilihat dari dismenore yang semakin hebat. mengkonsentrasikan sperma. 4. Cervical mucus menjadi lebih tebal dan cellular. Gangguan ringan-sedang Intrauterine Insemination (IUI) Sebelum dilakukan inseminasi. Faktor Pelvik Faktor pelvik mencakup abnormalitas uterus. Faktor Seviks Faktor serviks dapat dicurigai dari hasil abnormal Pap Smears. semen disiapkan untuk pemilihan sperma yang bergerak sangat aktif. operasi adneksa. dipareunia. Evaluasi FSH. Untuk menegakkan diagnosis dapat digunakan USG. dan membuang cairan semen (dengan prostaglandin). seperti Pelvic Inflammatory disease (PID) atau appendicitis. HSG. Cervical Mucus: Dalam 48 jam saat ovulasi. Sperma yang sudah disiapkan kemudian diinjeksikan secara transcervical ke dalam uterus. Sperma tunggal diinjeksikan ke masing-masing oosit. penggunaan IUD. 5. Endometrial Biopsy (EMB) : dilakukan pada akhir fase luteal. LH. tuba fallopian. cryotherapy. transvaginal ultrasound. aborsi sepsis. Progesteron memiliki efek meningkatkan suhu tubuh pada fase luteal. conization. ovarium dan struktur di sekitar pelvis. Pengukuran Basal Body Temperature (BBT) : merupakan suhu yang didapat saat keadaan istirahat. paparan DES. b. leiomyomas. Perdarahan postcoitus. endometritis. testosteron. cervical mucus mengalami perubahan dibawah pengaruh progesteron.

Varicocele: ligasi Jika tidak dapat diterapi: donor sperma untuk IVF 2.Terapi:  IVF . Diberikan secara peroral selama 5 hari (dimulai pada hari ke-3 sd.c. labilitas emosional atau depresi. Infertilitas Faktor Wanita a. Retrograde ejaculation: terapi dengan alpha sympathomimethics atau urine disentrifugasi untuk IUI Hipogonadisme primer (gangguan testiskular) e. Faktor Ovulasi . Efek samping berupa kehamilan multipel dan sindroma overstimulasi ovarium.Disebabkan oleh adhesi akibat endometriosis atau oklusi tuba . Faktor Pelvis . sehingga membutukan monitoring ketat . Diberikan secara subkutan atau intramuskular. dan tidak ada kelainan endokrin  Agent of choice: clomiphene citrate (memblok feedback negatif estradiol terhadap hipotalamus dan pituitari peningkatan FSH).Induksi ovulasi  Untu:k anovulasi kronis. Efek samping berupa hot flushes. dan gangguan penglihatan. Biasa disebabkan oleh sindroma Klinefelter Hipogonadisme sekunder f. normal ovum.  Agen lain: Gonadotropin Terdiri atas FSH dan LH yang diisolasi dari urine wanita postmenopause. Prolaktinoma: terapi pulsatile GnRH atau FSH replacement g. Ke-5 siklus). Penatalaksanaan: bedah reanastomosis atau ICSI d.Hiperprolaktinemia dengan dopamine agonis b.In Vitro Vertilization Pre-Embryo Transfer (IVF-ET) .

Unexplained Infertility .Observasi: waktu intercourse. Surgical repair  Endometriosis: reseksi c.Jika dipengaruhi oleh inflamasi dan cervisitis: terapi dengan doksisiklin d.Ketidakadaan mukus: intrauterine insemination . Faktor Cervix . stimulasi ovarium (dengan atau tanpa IUI). dan IVF .

Related Interests