ASKEP KEKERASAN PADA ANAK

A.

PENGERTIAN Menurut Sutanto (2006), kekerasan anak adalah perlakuan orang dewasa/anak yang lebih tua dengan menggunakan kekuasaan/otoritasnya terhadap anak yang tak berdaya yang seharusnya menjadi tanggung jawab/pengasuhnya, yang berakibat penderitaan, kesengsaraan, cacat atau kematian. Kekerasan anak lebih bersifat sebagai bentuk penganiayaan fisik dengan terdapatnya tanda atau luka pada tubuh sang anak. Child abuse adalah suatu kelalaian tindakan atau perbuatan orangtua atau orang yang merawat anak yang mengakibatkan anak menjadi terganggu mental maupun fisik, perkembangan emosional, dan perkembangan anak secara umum. Sementara menurut U.S Departement of Health, Education and Wolfare memberikan definisi Child abuse sebagai kekerasan fisik atau mental, kekerasan seksual dan penelantaran terhadap anak dibawah usia 18 tahun yang dilakukan oleh orang yang seharusnya bertanggung jawab terhadap kesejahteraan anak, sehingga keselamatan dan kesejahteraan anak terancam.

B. KLASIFIKASI CHILD ABUSE Macam – macam Child Abuse : 1. Emotional Abuse, 2. Physical Abuse 3. Neglect 4. Sexual Abuse C. ETIOLOGI Menurut Helfer dan Kempe dalam Pillitery ada 3 faktor yang menyebabkan child abuse, yaitu: 1. Orang tua memiliki potensi untuk melukai anak-anak. 2. Menurut pandangan orang tua anak terlihat berbeda dari anak lain. 3. Adanya kejadian khusus

D.

DAMPAK CHILD ABUSE Berikut ini adalah dampak-dampak yang ditimbulkan kekerasan terhadap anak (child abuse), antara lain;

antara lain: Lecet. dan setelah menjadi orang tua akan berlaku kejam kepada anakanaknya. Dampak yang lainnya (dalam Sitohang. 5. dan memiliki dorongan bunuh diri. Pertumbuhan dan perkembangan anak yang mengalami perlakuan salah. takut menikah. 2003) diantara korban yang masih merasa dendam terhadap pelaku. . dan selanjutnya akan mengalami masalah penyesuaian diri pada masa yang akan datang. yaitu: a. menyebabkan berkembangnya perasaan tidak aman. yaitu: 1. patah tulang. meliputi kegagalan dalam mendidik anak mampu berinteraksi dengan lingkungannya gagal menyekolahkan atau menyuruh anak mencari nafkah untuk keluarga sehingga anak terpaksa putus sekolah. MANIFESTASI KLINIS Akibat pada fisik anak. kecanduan alkohol dan obat-obatan. 3. anak yang sering dimarahi orang tuanya. Dampak kekerasan seksual. Dampak penelantaran anak .1. merasa rendah diri. Sekuel/cacat sebagai akibat trauma. pada umumnya lebih lambat dari anak yang normal. Kematian. 2. Unicef (1986) mengemukakan. Pertumbuhan fisik anak pada umumnya kurang dari anak2 sebayanya yang tidak mendaapat perlakuan salah. cenderung meniru perilaku buruk (coping mechanism) seperti bulimia nervosa (memuntahkan makanan kembali). kerusakan mata dan cacat lainnya. misalnya jaringan parut. gangguan pendengaran. Dampak kekerasan psikis. luka bakar. hematom. Kecerdasan 1) Berbagai penelitian melaporkan terdapat keterlambatan dalam perkembangan kognitif. dan motorik. anorexia (takut gemuk). bahasa. anak yang mendapat perlakuan kejam dari orang tuanya akan menjadi sangat agresif. Menurut Mulyadi (Sinar Harapan. Dampak kekerasan fisik. 2004) adalah kelalaian dalam mendapatkan pengobatan menyebabkan kegagalan dalam merawat anak dengan baik. Kelalaian dalam pendidikan. perdarahan retinaakibat dari adanya subdural hematom dan adanya kerusakan organ dalam lainnya. 2. E. apalagi diikuti dengan penyiksaan. Perkembangan kejiwaan juga mengalami gangguan. membaca. meski kini mereka sudah dewasa atau bahkan sudah menikah. dan trauma akibat eksploitasi seksual. penyimpangan pola makan. gagal mengembangkan perilaku akrab. kerusakan saraf. luka bekas gigitan. Akibat pada tumbuh kembang anak. 4.

sekret vagina. dan perdarahan anus. Hubungan social Pada anak sering kurang dapat bergaul dengan teman sebayanya atau dengan orang dewasa. dsb. Sering tindakan agresif tersebut meniru tindakan orangtua mereka atau mengalihkan perasaan agresif kepada teman sebayanya sebagai hasil miskinnya konsep diri. c. juga karena malnutrisi. e. Konsep diri Anak yang mendapat perlakuan salah merasa dirinya jelek. f. Pemeriksaan alat kelamin dilakuak dengan memperhatikan vulva. anoreksia. enuresis. gagal sekolah. termasuk kemampuan untuk percaya diri. 2) Terjadi pseudomaturitas emosi. misalnya dengan melempari batu atau perbuatan2 kriminal lainnya. tidak dikehendaki. d. b. tidak mampu menyenangi aktifitas dan bahkan ada yang mencoba bunuh diri. Anak suka ngompol. 3) Pada beberapa kasus keterlambatan ini diperkuat oleh tidak adanya stimulasi yang adekuat atau karena gangguan emosi. 3) Tingkah laku atau pengetahuan seksual anak yang tidak sesuai dengan umurnya. misalnya konsentrasi berkurang. . perilaku aneh. enkopresis. atau bermusuh dalam mengatasi sifat agresif. hiperaktif. Emosi 1) Terdapat gangguan emosi pada: perkembangan kosnep diri yang positif. Beberapa anak menjadi agresif atau bermusuhan dengan orang dewasa. kesulitan belajar.2) Retardasi mental dapat diakibatkan trauma langsung pada kepala. tempretantrum. dan tidak bahagia. Akibat dari penganiayaan seksual Tanda-tanda penganiayaan seksual antara lain: 1) Tanda akibat trauma atau infeksi lokal. misalnya nyeri perianal. Mereka mempunyai sedikit teman dan suka mengganggu orang dewasa. sedang yang lainnya menjadi menarik diri/menjauhi pergaulan. perkembangan hubungan sosial dengan orang lain. muram. lebih agresifterhadap teman sebayanya. tidak dicintai. himen. Agresif Anak yang mendapat perlakuan salah secara badani. atau perubahan tingkah laku. dan anus anak. sulit tidur. 2) Tanda gangguan emosi.

Akan tetapi menurut ajaran atau didikan yang diterimanya sejak kecil bahwa membenci orang tua merupakan hal yang tidak baik dan dikutuk oleh Tuhan. dengan melebih-lebihkan sikap dan perilaku yang berlawanan dan menggunakannya sebagai rintangan. berbalik menuduh bahwa temannya tersebut mencoba merayu. Sublimasi : Menerima suatu sasaran pengganti yang mulia artinya di mata masyarakat untuk suatu dorongan yang mengalami hambatan penyalurannya secara normal. 4. 3. MEKANISME KOPING. meninju tembok dan sebagainya. Beberapa mekanisme koping yang dipakai pada klien untuk melindungi diri antara lain : 1. Reaksi formasi : Mencegah keinginan yang berbahaya bila diekspresikan. 5. Dia mulai bermain perang-perangan dengan temannya.G. Proyeksi :Menyalahkan orang lain mengenai kesukarannya atau keinginannya yang tidak baik. Misalnya seseorang yang sedang marah melampiaskan kemarahannya pada obyek lain seperti meremas adonan kue. Misalnya Timmy berusia 4 tahun marah karena ia baru saja mendapat hukuman dari ibunya karena menggambar di dinding kamarnya. Mekanisme koping adalah tiap upaya yang diarahkan pada penatalaksanaan stress. akan memperlakukan orang tersebut dengan kasar. termasuk upaya penyelesaian masalah langsung dan mekanisme pertahanan yang digunakan untuk melindungi diri. pada obyek yang tidak begitu berbahaya seperti yang pada mulanya yang membangkitkan emosi itu. 2. . sehingga perasaan benci itu ditekannya dan akhirnya ia dapat melupakannya. Misalnya seseorang anak yang sangat benci pada orang tuanya yang tidak disukainya. tujuannya adalah untuk mengurangi ketegangan akibat rasa marah. Represi : Mencegah pikiran yang menyakitkan atau membahayakan masuk ke alam sadar. mencumbunya. Displacement : Melepaskan perasaan yang tertekan biasanya bermusuhan. Misalnya seseorang wanita muda yang menyangkal bahwa ia mempunyai perasaan seksual terhadap rekan sekerjanya. Misalnya seorang yang tertarik pada teman suaminya.

Keterlambatan perkembangan tingkat kognitif. bayi berat lahir rendah. Muskuloskeletal a. With drawl (memisahkan diri) dari orang-orang dewasa 2. dan gangguan kurang perhatian) 5. per vagina . Identifikasi bayi atau anak yang memerlukan perawatan dengan ketergantungan tinggi (seperti prematur. intoleransi makanan. Psikososial a. atau masalah psikiatrik. Kaji pengetahuan orang tua tentang kebutuhan dasar anak dan perawatan anak. Keseleo (sprain) 3. takut atau kecewa dengan jenis kelamin anak yang dilahirkan. Situasi Keluarga. Infeksi saluran kemih b. Fokus pengkajian secara keseluruhan untuk menegakkan diagnosa keperawatan berkaitan dengan child abuse. 3. Gagal tumbuh dengan baik c. penting bagi perawat untuk mendapatkan seluruh gambarannya. Melalaikan diri (neglect). Saat abuse terjadi. 1. 6. Kaji respon psikologis pada trauma 8. Monitor reaksi orang tua observasi adanya rasa jijik. Identifikasi adanya riwayat abuse pada orang tua di masa lalu. Identifikasi orang tua yang memiliki anak yang ditempatkan di rumah orang lain atau saudaranya untuk beberapa waktu. Genito Urinaria a. 2. Kaji keadekuatan dan adanya support system 9. antara lain: 1. bicaralah dahulu dengan orang tua tanpa disertai anak. 7. dan psikososial d. bau b. depresi. ketidakmampuan perkembangan. hiperaktif. PENGKAJIAN Perawat seringkali menjadi orang yang pertamakali menemui adanya tanda adanya kekerasan pada anak (lihat indicator fisik dn kebiasaan pada macam-macam child abuse di atas). Identifikasi situasi krisis yang dapat menimbulkan abuse 4. FrakturDislokasi b. baju dan rambut kotor. kemudian menginterview anak.KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN A. psikomotor.

Laserasi pada organ genetalia eksternal. Luka bakar pada kulit. orang lain. vagina. · MRI (Magnetik Resonance Imaging) lebih sensitif pada lesi yang subakut dan kronik seperti perdarahan subdural dan sub arakhnoid.c. Risiko mencederai diri sendiri. dokumentasi. Kriteria hasil: . Lesi sirkulasi (biasanya pada kasus luka bakar oleh karena rokok) b. B. · Klien dapat mengontrol perilaku kekerasan pada saat berhubungan dengan orang lain. · CT-scan lebih sensitif dan spesifik untuk lesi serebral akut dan kronik. Perilaku kekerasan Tujuan. dan anus. memar dan abrasi tanda2 gigitan manusia yang tidak dapat dijelaskan d. sedangkan pada anak diatas 4-5 tahun hanya perlu dilakukan jika ada rasa nyeri tulang. yaitu untuk identifiaksi fokus dari jejas. Adanya fraktur multiple dengan tingkat penyembuhan adanya penyaniayaan fisik. DIAGNOSA KEPERAWATAN 1. · · Ultrasonografi digunakan untuk mendiagnosis adanya lesi visceral Pemeriksaan kolposkopi untuk mengevaluasi anak yang mengalami penganiayaan seksual. Isolasi social 3. lingkungan C. Pemeriksaan radiologi pada anak di bawah usia 2 tahun sebaiknya dilakukan untuk meneliti tulang. kekerasan 2. Pemeriksaan Radiologi Ada dua peranan radiologi dalam menegakkan diagnosis perlakuan salah pada anak. 4. Koping keluarga inefektif 4. Integumen a. keterbatasan dalam pergerakan pada saat pemeriksaan fisik. Bengkak. hanya diindikasikan pada pengniayaan anak atau seorang bayi yang mengalami trauma kepala yang berat. pada vagina/penis d. Nyeri waktu miksi e. c. INTERVENSI KEPERAWATAN 1.

Beri kesempatan pada klien untuk mencoba kegiatan yang telah direncanakan. Rasional : agar klien dapat melakukan kegiatan yang realistis sesuai kemampuan yang dimiliki. Rasional : mengidentifikasi hal-hal positif yang masih dimiliki klien. Rasional : mengidentifikasi kemampuan yang masih dapat digunakan. Diskusikan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki klien. 12. 10. Diskusikan kemampuan yang dapat dilanjutkan penggunaannya di rumah sakit. Rasional : meningkatkan harga diri klien. 8. 4. Diskusikan dengan klien kemampuan yang masih dapat digunakan. Bina hubungan saling percaya dengan menggunakan prinsip komunikasi terapeutik. Rasional : mengidentifikasi kemampuan yang masih dapat dilanjutkan. . Utamakan memberi pujian yang realistik pada kemampuan dan aspek positif klien. 9. Klien dapat melakukan kegiatan sesuai kondisi sakit dan kemampuannya. Klien dapat menetapkan dan merencanakan kegiatan sesuai kemampuan yang dimiliki. Rasional : meningkatkan motivasi untuk berbuat lebih baik. Beri pujian atas keberhasilan klien. Rasional : meningkatkan harga diri dan merasa diperhatikan. Rasional : tujuan utama dalam penghayatan pasien adalah membuatnya menggunakan respon koping mal adaptif dengan yang lebih adaptif. Klien dapat mengidentifikasi kemampuan dan aspek yang positif yang dimiliki. 6. Bantu klien melakukannya jika perlu beri contoh. Rasional : pemberian penilaian negatif dapat menurunkan semangat klien dalam hidupnya. Klien dapat menilai kemampuan yang digunakan. Berikan pujian. Diskusikan jadwal kegiatan harian atas kegiatan yang telah dilatih. Rasional : hubungan saling percaya memungkinkan klien terbuka pada perawat dan sebagai dasar untuk intervensi selanjutnya. 2. Minta klien untuk memilih satu kegiatan yang mau dilakukan di rumah sakit. Setiap bertemu klien dihindarkan dari memberi penilaian negatif. 3. Rasional : menuntun klien dalam melakukan kegiatan. 5. Rasional : mengidentifikasi klien agar berlatih secara teratur. 7. 11.· · · · · · Klien dapat membina hubungan saling percaya. Klien dapat memanfaatkan sistem pendukung yang ada. Intervensi : 1.

· Jelaskan kepada klien bahwa informasi tentang pribadi klien tidak akan diberitahukan kepada orang lain yang tidak berkepentingan. Intervensi 1. Diskusikan kemungkinan pelaksanaan dirumah. Kecemasan klien telah berkurang. Bina hubungan saling percaya Buat kontrak dengan klien : memperkenalkan nama perawat dan waktu interaksi dan tujuan.13. 2. · · Bahas bersama klien tentang koping yang konstruktif Dukung koping klien yang konstruktif . cara menceritakan perasaanya kepada orang lain yang terdekat/dipercaya. Rasional : mendorong pengulangan perilaku yang diharapkan. Tunjukkan sikap empati dan beri kesempatan kepada klien untuk mengungkapkan perasaanya c. · · · · Selalu memperhatikan kebutuhan klien. · b. Kriteria hasil · · · · Klien dapat membina hubungan saling percaya dengan perawat. jelas dan teratur. Rasional : meningkatkan harga diri klien. a. Klien dapat berkomunikasi dengan baik atau jelas dan terbuka. · Kenal dan dukung kelebihan klien Tunjukkan cara penyelesaian masalah (koping) yang bisa digunakan klien. 14. Klien dapat menggunakan koping yang konstruktif. · Ajak klien bercakap-cakap dengan memanggil nama klien. Isolasi social Tujuan · Klien dapat menerima interaksi social terhadap individu lainya. Beri pujian atas keberhasilan klien. untuk menunjukkan penghargaan yang tulus. Bersama klien menilai manfaat dari pembicaraannya dengan perawat. · Psikoterapeutik. Berkomunikasi dengan klien secara jelas dan terbuka Bicarakan dengan klien tentang sesuatu yang nyata dan pakai istilah yang sederhana Gunakan komunikasi verbal dan non verbal yang sesuai.

· d. b. surat kabar. Jelaskan dan anjurkan kepada keluarga untuk tetap mengadakan hubungan dengan klien. a. Pendidikan kesehatan Jelaskan kepada klien cara mengungkapkan perasaan selain dengan kata-kata seperti dengan menulis. a. 4. Beri rangsangan sensori seperti : suara musik. d. b. Temani klien beberapa saat dengan duduk disamping klien. d. Koping keluarga inefektif Tujuan · Koping adatif dapat dilakukan dengan optimal. · · · · Anjurkan klien untuk menggunakan koping yang konstruktif. Buat dan rencanakan jadwal kegiatan bersama-sama klien. Libatkan klien dalam berinteraksi dengan orang lain secara bertahap. dimulai dari klien dengan perawat. · 2. a. c. Bicarakan dengan klien peristiwa yang menyebabkan menarik diri. Kegiatan hidup sehari-hari Bantu klien dalam melaksanakan kebersihan diri sampai dapat melaksanakannya sendiri. cara berhubungan dengan orang lain : keuntungan berhubungan dengan orang lain. Bantu klien mengurangi cemasnya ketika hubungan interpersonal Batasi jumlah orang yang berhubungan dengan klien pada awal terapi. bermain musik. c. c. berolah-raga. radio dan televisi. kemudian ditambah dengan satu klien dan seterusnya. Lingkungan Terapeutik Pindahkan barang-barang yang dapat membahayakan klien maupun orang lain dari ruangan. Bimbing klien berpakaian yang rapi Batasi kesempatan untuk tidur Sediakan sarana informasi dan hiburan seperti : majalah. menggambar. Anjurkan pada keluarga agar mengikutsertakan klien dalam aktivitas dilingkungan masyarakat. Libatkan klien dalam aktivitas kelompok. 3. Lakukan interaksi dengan klien sesering mungkin. e. . menangis. kemudian dengan dua perawat. Cegah agar klien tidak berada didalam ruangan yang sendiri dalam jangka waktu yang lama. gambar hiasan di ruangan. b. 3.

3. Klien dapat mengidentifikasi perilaku kekekerasan yang biasa dilakukan. Rasional :Dapat meningkatkan pengetahuan dan pemahaman keluarga ( orang tua ). Klien dapat mengidentifikasi penyebab perilaku kekerasan. . 4. orang lain dan lingkungan Tujuan. Resiko mencederai diri sendiri. Diskusikan dengan keluarga tentang tindakan yang semestinya terhadap anak. 2. Klien dapat mengidentifikasi tanda-tanda perilaku kekerasan.dan menanamkan kesadaran untuk menerima anaknya dalam keadaan apapun. Identifikasi dengan keluarga tentang prilaku maladaptif . Intervensi 1. Beri reinforcement positif atas tindakan keluarga yang adaptif. Rasional : Untuk memotivasi keluarga dalam mengasuh anak secara baik dan benar tanpa menghakimi dan menyalahkan anak atas keadaan yang buruk. Klien dapat melakukan cara berespons terhadap kemarahan secara konstruktif. Rasional : Keluarga mengenal dan mengungkapkan serta menerima perasaannya sehingga mempermudah pemberian asuhan kepada anak dengan benar.memiliki pengetahuan tentang metode pengasuhan yang baik. 4. Kriteria hasil: · · · · · · · Klien dapat membina hubungan saling percaya. Kolaborasi dalam pemberian pendidikan keluarga terhadap orang tua.Kriteria hasil · Keluarga dapat mengenal masalah dalam keluarga dan menyelesaikannya dengan tindakan yang tepat. Klien dapat mendemonstrasikan sikap perilaku kekerasan.tentang pentingnya peran orang tua dalam tumbuh kembang anak. · Klien tidak mencederai diri / orang lain / lingkungan. 5. Rasional : Memberikan kejelasan dan memotivasi keluarga untuk meningkatkan peran sertanya dalam pengasuhan dan proses tumbuh kembang anaknya. Klien dapat mengidentifikasi akibat perilaku kekerasan. Diskusikan dengan keluarga tentang pentingnya peran orang tua sebagai status pendukung dalam proses tumbuh kembang anak. Rasional : Memberikan gambaran tentang tindakan yang semestinya dapat dilaksanakan keluarga terhadap anak.

kontrak waktu yang tepat. Bantu klien bermain peran sesuai dengan perilaku kekerasan yang biasa dilakukan. 3. Rasional : memudahkan klien dalam mengontrol perilaku kekerasan. Beri kesempatan pada klien untuk mengugkapkan perasaannya. beritahu tujuan interaksi. 5. Bantu untuk mengungkapkan penyebab perasaan jengkel / kesal Rasional : pengungkapan perasaan dalam suatu lingkungan yang tidak mengancam akan menolong pasien untuk sampai kepada akhir penyelesaian persoalan. 9. Rasional : mengerti cara yang benar dalam mengalihkan perasaan marah. . Simpulkan bersama tanda-tanda jengkel / kesan yang dialami klien. 7. ciptakan lingkungan yang aman dan tenang. 8. 12. Klien dapat menggunakan obat yang benar. bersikap empati. perkenalan diri. observasi respon verbal dan non verbal. Rasional : mengetahui bagaimana cara klien melakukannya. 2. Bersama klien menyimpulkan akibat dari perilaku kekerasan yang dilakukan. Rasional : mencari metode koping yang tepat dan konstruktif. Anjurkan klien untuk mengungkapkan perilaku kekerasan yang biasa dilakukan. Anjurkan klien mengungkapkan dilema dan dirasakan saat jengkel. Rasional : menambah pengetahuan klien tentang koping yang konstruktif. Rasional : mengetaui perilaku yang dilakukan oleh klien sehingga memudahkan untuk intervensi. Intervensi : 1.· · Klien dapat dukungan keluarga dalam mengontrol perilaku kekerasan. 10. 4. Rasional : Hubungan saling percaya memungkinkan terbuka pada perawat dan sebagai dasar untuk intervensi selanjutnya. Rasional : Informasi dari klien penting bagi perawat untuk membantu kien dalam menyelesaikan masalah yang konstruktif. Observasi tanda perilaku kekerasan pada klien. Bina hubungan saling percaya. Bicarakan dengan klien apakah dengan cara yang klien lakukan masalahnya selesai. Salam terapeutik. Rasional : memudahkan dalam pemberian tindakan kepada klien. 11. Rasional : Pengungkapan kekesalan secara konstruktif untuk mencari penyelesaian masalah yang konstruktif pula. Rasional : membantu dalam memberikan motivasi untuk menyelesaikan masalahnya. Tanyakan pada klien “apakah ia ingin mempelajari cara baru yang sehat”. 6. Bicarakan akibat / kerugian dan perilaku kekerasan yang dilakukan klien.

Rasional : mendorong pengulangan perilaku yang positif. Secara fisik : tarik nafas dalam / memukul botol / kasur atau olahraga atau pekerjaan yang memerlukan tenaga. Beri reinforcement positif atas keberhasilan klien menstimulasi cara tersebut. meningkatkan harga diri klien.13. meminta pada Tuhan agar diberi kesabaran. 16. Rasional : meningkatkan harga diri klien. Anjurkan klien untuk menggunakan cara yang telah dipelajari saat jengkel / marah. 20. Secara sosial : lakukan dalam kelompok cara-cara marah yang sehat. Identifikasi kemampuan keluarga dalam merawat klien dari sikap apa yang telah dilakukan keluarga terhadap klien selama ini. Rasional : mengetahui kemampuan klien melakukan cara yang sehat. Bantu klien untuk menstimulasikan cara tersebut. 15. Rasional : memotivasi klien dalam mendemonstrasikan cara mengontrol perilaku kekerasan. 21. Rasional : mengetahui kemajuan klien selama diintervensi. Jelaskan peran serta keluarga dalam merawat klien. Bantu klien mengidentifikasi manfaat yang telah dipilih. Rasional : mengetahui respon klien terhadap cara yang diberikan. Secara verbal : katakan bahwa anda sering jengkel / kesal. 17. Rasional : menambah pengetahuan bahwa keluarga sangat berperan dalam perubahan perilaku klien. Bantu klien memilih cara yang paling tepat untuk klien. latihan asertif. 18. Diskusikan dengan klien cara lain yang sehat. 19. Berikan pujian jika klien mengetahui cara yang sehat. 14. Rasional : memotivasi keluarga dalam memberikan perawatan kepada klien. Rasional : dengan cara sehat dapat dengan mudah mengontrol kemarahan klien. sembahyang. Secara spiritual : anjurkan klien berdua. . latihan manajemen perilaku kekerasan.