Laporan praktikum III m.k.

Teknologi Penanganan dan Transportasi Biota Perairan

Hari/tanggal : Selasa, 25 September 2012 Asisten : Dhani Aprianto

PEMINGSANAN (IMOTILISASI) PADA BIOTA PERAIRAN DENGAN BERBAGAI BAHAN ANASTESI

Kelompok 1 Wahyu Mutia R. Bianca Benning Arif Y. Ridwan Mahardika Tri H. Sheilla Amanda Elly Susanti Garnies Derilistiani C34100001 C34100017 C34100034 C34100046 C34100060 C34100067 C34100076

DEPARTEMEN TEKNOLOGI HASIL PERAIRAN FAKULTAS ILMU KELAUTAN DAN PERIKANAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2012

Hasil produksi yang besar ini menjadikan ikan mas sebagai salah satu komoditi kegiatan budidaya kolam dengan hasil terbesar di Indonesia (KKP 2010).167 ton pada tahun 2009. Pemingsanan dilakukan untuk mengefektifkan sistem transportasi. menurunkan laju metabolisme.2 Tujuan Praktikum pemingsanan (imotilisasi) pada biota perairan dengan berbagai bahan anastesi ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh berbagai macam bahan anastesi terhadap daya tahan biota perairan. Menurut Berka (1986) Ada dua macam sistem transportasi dasar bagi ikan hidup yaitus sistem transportasi tertutup dan terbuka. Pemingsanan mengefektifkan sistem transportasi ikan karena dapat menurukan aktivitas ikan. Pemingsanan (imotilisasi) pada ikan merupakan suatu tindakan yang membuat kondisi dimana tubuh ikan kehilangan kemampuan untuk merasa (insensibility). . 2006).1 PENDAHULUAN 1. Transportasi ikan hidup adalah memindahkan biota perairan dalam keadaan hidup dengan diberi tindakan untuk menjaga agar derajat kelulusan hidup (survival rate) tetap tinggi hingga di tempat tujuan. Pemingsanan dapat dilakukan dengan beberapa cara.780 ton pada tahun 2001 hingga 554. 2004). dan respirasi sehingga proses eksresi dan kebutuhan oksigen pada ikan dapat ditekan (Nitibaskara et al. suhu dingin. Salah satu komoditi terpopuler untuk kegiatan budidaya kolam adalah ikan mas. Produksi kegiatan budidaya kolam terus meningkat dari 212. arus listrik. yaitu menggunakan senyawa kimia. dan penyakit (Tidwell et al.955 ton pada tahun 2009. Produksi kegiatan budidaya kolam untuk ikan mas mencapai 100. Sementara itu berdasarkan media yang digunakan.1 Latar Belakang Kegiatan budidaya air tawar atau budidaya kolam merupakan salah satu penyumbang produksi perikanan yang besar bagi Indonesia. 1. sistem transportasi dibagi menjadi sistem transportasi basah dan kering.

Diagram alir prosedur pemingsanan ikan dengan bahan anestesi disajikan pada Gambar 1.2 BAHAN DAN METODE 2. Ikan kemudian dimasukkan ke dalam wadah toples yang telah diisi air sebanyak 3 L dan diukur suhu awal air tersebut. Waktu yang dibutuhkan untuk memingsankan ikan dicatat sebagai waktu induksi. Departemen Teknologi Hasil Perairan. 2. Alat yang digunakan adalah wadah toples. ekstrak serai.00-18. dan gelas ukur. Ikan mas (Cyprinus carpio) Penimbangan bobot (W0) Pemasukan air dalam wadah (3L) . stopwatch.3 Prosedur Kerja Ikan mas (Cyprinus carpio) dipuasakan. Ikan yang telah sadar kemudian dimasukkan kembali ke dalam wadah dan dihitung waktu yang dibutuhkan agar ikan kembali normal (waktu recovery). Bahan tambahan yang digunakan adalah air. Ikan yang pingsan kemudian ditimbang bobotnya dan disadarkan dengan cara air dialirkan melalui insang.1 Waktu dan Tempat Praktikum pemingsanan (imotilisasi pada biota perairan dengan berbagai bahan anestesi dilakukan pada hari Selasa tanggal 25 September 2012 pukul 15. thermometer. Pemberian anestesi ekstrak cengkeh kemudian dilakukan sampai ikan tersebut pingsan. timbangan digital.00 WIB. 2. Pemberiannya dilakukan tiap sepuluh menit dan dilakukan pengamatan terhadap tingkah laku ikan. pipet tetes. Temat pelaksaan praktikum adalah di Laboratorium Karakterisasi Bahan Baku Hasil Perairan.2 Bahan dan Alat Bahan utama yang digunakan pada praktikum ini adalah ikan mas (Cyprinus carpio). Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Institut Pertanian Bogor. Ikan mas tersebut kemudian ditimbang bobot awalnya. Waktu yang diperlukan agar ikan menjadi sadar kembali dicatat sebagai waktu pingsang. dan es. ekstrak cengkeh.

Pemasukan ekstrak cengkeh setiap 10 menit Ikan pingsan Pengaliran air pada insang Ikan sadar Penimbangan bobot (Wt) Gambar 1 Diagram alir prosedur kerja imotilasi dengan bahan anestesi .

3 HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1 Hasil Tabel 1 Pengaruh Bahan Anestesi Terhadap Bobot dan Waktu Pingsan Ikan PEMINGSANAN MENGGUNAKAN BAHAN ANESTESI Kelompok Kontrol Perlakuan Jenis Bahan Konsentrasi Suhu normal es Wo (gr) 179 125 185 1 Cengkeh 10 tetes normal 163 165 Wt (gr) 180 127 185 waktu Waktu waktu Induksi pingsan recovery (s) (s) (s) 12 menit 37 detik 14 menit 13 detik 17 menit 52 detik 21 menit 54 detik 8 menit 8 menit 7 menit 18 detik 6 menit 45 detik 37 menit 40 detik 54 menit 35 detik - 22 26 menit menit 54 detik 30 detik 42 menit 38 detik 28 menit 8 detik 102 menit 99 menit 90 menit 90 menit 8 menit 47 detik 26 menit 37 detik 7 menit 33 detik 138 2 Cengkeh 10 tetes es 187 135 183 10 menit 22 menit 17 menit 18 menit 13 detik 6 menit 15 detik 3 menit 51 detik 3 menit 10 detik 3 Cengkeh 20 tetes normal 171 142 194 173 139 192 194 4 Cengkeh 20 tetes es 196 166 5 Sereh 10 tetes normal 164 171 154 .

bahwa pemingsanan ikan dengan menggunakan bahan anestesi menunjukkan adanya perubahan bobot ikan terhadap pengaruh bahan anestesi tersebut. sereh (konsentrasi 10 tetes) normal pada ikan pertama. kontrol dengan menggunakan es. cengkeh (konsentrasi 10 tetes) normal pada ikan ke dua. Pengaruh tersebut dapat berupa penaikan atau penurunan bobot ikan. Tabel 2 Pengaruh Bahan Anestesi terhadap Fisiologis Ikan PEMINGSANAN MENGGUNAKAN BAHAN ANESTESI Kelompok Kontrol Perlakuan Jenis Bahan Konse ntrasi Suhu normal Ger Gerak Gera ak Dindi Penampak Lend k tub ng an Air ir Sirip uh Perut +++ +++ +++ + Sekre si anal ++ . sereh (konsentrasi 10 tetes) dengan menggunakan es pada ikan pertama dan ke dua. cengkeh (konsentrasi 20 tetes) dengan menggunakan es pada ikan pertama dan ke dua. sedangkan penurunan bobot ikan terlihat pada cengkeh (konsentrasi 20 tetes) normal pada ikan ke dua. cengkeh (konsentrasi 20 tetes) normal pada ikan pertama. Penaikan bobot ikan terlihat pada kontrol dengan suhu normal. sereh (konsentrasi 20 tetes) dengan menggunakan es pada ikan ke dua.171 6 Sereh 10 tetes es 164 161 7 Sereh 20 tetes normal 180 151 8 Sereh 20 tetes es 187 175 166 158 177 151 178 60 menit 60 menit 71 menit 48 menit 80 menit 80 menit 10 menit 15 menit 19 menit 5 menit 16 menit 17 menit 6 menit 5 menit 1 menit 2 menit 30 detik 27 detik Berdasarkan hasil pengamatan yang telah diperoleh. cengkeh (konsentrasi 10 tetes) dengan menggunakan es pada ikan pertama dan ke dua. lalu untuk yang tetap terlihat pada cengkeh (konsentrasi 10 tetes) normal pada ikan pertama dan sereh (konsentrasi 20 tetes) dengan menggunakan es pada ikan pertama. sereh (konsentrasi 10 tetes) normal pada ikan ke dua.

lendir. penampakan air. gerak dinding perut. pada sereh (konsentrasi 10 tetes) normal terlihat gerak tubuh. sekresi anal tidak ada. gerak sirip. gerak dinding perut. gerak dinding perut. lalu lendir. pada sereh (konsentrasi 20 tetes) dengan menggunakan es terlihat gerak tubuh. gerak sirip. gerak dinding perut. penampakan air cukup dan lendir tidak ada. penampakan air. ada. pada sereh (konsentrasi 20 tetes) dengan menggunakan es terlihat gerak tubuh dangerak sirip tidak . gerak dinding perut. pada kontrol normal terlihat gerak tubuh. pada cengkeh (konsentrasi 10 tetes) normal terlihat gerak tubuh. sekresi anal dan penampakan air sedikit. pada sereh (konsentrasi 20 tetes) normal terlihat gerak tubuh. penampakan air sedikit. sekresi anal. gerak sirip. gerak sirip. lendir. pada cengkeh (konsentrasi 10 tetes) dengan menggunakan es terlihat gerak tubuh.es 1 2 3 4 5 6 7 8 Cengkeh Cengkeh Cengkeh Cengkeh + + + + + - + + + + + + + + + + - + + ++ + + + ++ + + + + + + + + + + + + Sereh Sereh Sereh Sereh 10 tetes 10 tetes 20 tetes 20 tetes 10 tetes 10 tetes 20 tetes 20 tetes normal es normal es normal es normal es Hasil pengamatan pemingsanan dengan menggunakan bahan anestesi diperoleh bahwa. gerak sirip tidak ada. sekresi anal dan penampakan air sedikit. sekresi anal sedikit dan untuk gerak dinding perut dan lendir tidak ada. penampakan air sedikit dan sekresi anal dan lendir tidak ada. pada cengkeh (konsentrasi 20 tetes) normal terlihat gerak tubuh. sekresi anal aktif (banyak) dan untuk gerak dinding perut tidak ada serta lendir hanya terdapat sedikit. sekresi anal tidak ada dan penampakan air sedikit. kontrol dengan menggunakan es terlihat gerak tubuh. gerak sirip. pada cengkeh (konsentrasi 20 tetes) dengan menggunakan es terlihat gerak tubuh. gerak sirip. gerak dinding perut. gerak dinding perut. lendir dan sekresi anal sedikit dan penampakan air cukup. lendir. gerak dinding perut. gerak sirip. gerak sirip. penampakan air sedikit serta lendir dan sekresi anal tidak ada.

Anestesi dapat disebabkan oleh sneyawa kimia. dalam Wijayanti et al. dan mengurangi pergerakan otot dan tulang (Hajek et al.2 Pembahasan Pembiusan berperan penting dalam proses pengangkutan ikan yang mengakibatkan hilangnya kesadaran. Faktor yang berperan penting adalah suhu. yaitu penurunan suhu secara bertahap dan penurunan sushu secara langsung. imotilisasi dengan penurunan suhu secara bertahap dilakukan dengan cara menurunkan suhu media air dari suhu normal ke suhu dimana niota mengalami imoti. 2006 dalam Suryaningrum et al. Bidang Perikanan Amerika menyatakan bahwa pembiusan dikatakan berhasil bila memenuhi tiga kriteria. 2006). atau penyakit. (2004) dalam Abdullah (2012) mendefinisikan anestesi sebagai suatu kondisi ketika tubuh atau bagian tubuh kehilangan kemampuan untuk merasa (insensibility). Pemingsanan ikan dipengaruhi oleh beberapa faktor. Penurunan dilakukan dengan dengan menambahkan air dingin ke dalam media secara perlahan hingga suhu yang diinginkan tercapai. arus listrik. sedangkan penurunan suhu secara bertahap menyebabkan ikan lebih tenang (Suwandi et al. Penurunan suhu secara langsung akan meneyababkan ikan mengalami stress. yaitu induksi bahan pembius dalam tubuh ikan terjadi dalam waktu tiga menit atau kurang sehingga ikan lebih mudah ditangani. Proses panik atau stress terjadi selama 1-2 menit (Suryaningrum et al. Hal tersebut menyebabkan ikan tersebut mati rasa karena menurunnya fungsi syaraf. Pembiusan dikatan berhasil apabila tidak ditemukan adanya kematian ikan selama lima belas menit setelah pembongkaran bila ikan dibius pada konsentrasi yang efektif (Pramono 2001). 2007). pembatasan aktivitas reflex. suhu dingin. Pembiusan dapat dilakukan dengan dua metode. Ikan yang ditempatkan pada media dengan suhu dibawah suhu ruang tidak dapat bertahan dan pingsan. 2011).4. Faktor lain yang mempengaruhi pemingsanan adalah bobot ikan serta jenis biota. Imotilisasi dengan metode langsung dilakukan dengan cara memasukkan biota ke dalam air yang suhunya telah diatur. Crustacea lebih lama pingsan daripada ikan karena Crustacea . Bahan anestesi mengganggu secara langsung maupun tidak langsung terhadap keseimbangan kationik tertentu di dalam otak selama masa anestesinya. Kepulihan ikan sampai gerakan renangnya kembali normal membutuhkan waktu sepuluh menit atau kurang. Tidwell et al. Metode pemingsanan juga berpengaruh terhadap ikan.

kepadatan ikan saat ditransportasikan. jenis bahan anestesi. jika kelebihan bahan anestesi akan mengakibatkan kematian ikan yang lebih awal. Tahap ketiga sama seperti tahap kedua namun diikuti dengan hilangnya pergerakan operkulum. nafas dan jantung berhenti. Pada tahap death. Pada tahap anesthesia ikan mengalami kehilangan kesetimbangan secara parsial dan reaktif terhadap rangsangan. Tahap pemulihan yang pertama ikan masih tidak dapat bergerak namun pergerakan operkulum mulai tampak. (2004). ukuran ikan. Hal tersebut sesuai dengan literatur yang menjelaskan bahwa ekstrak cengkeh menghasilkan bahan aktif eugenol yang dapat . ikan mengalami kehilangan kesetimbangan secara total dan tidak ada reaksi ketika diberi ransangan. Bahan anestesi ekstrak cengkeh lebih efektif jika dibandingkan dengan serai. Waktu induksi tersebut merupakan waktu yang ideal dalam proses anestesi ikan menurut Gunn (2001). 2011). dan death (ikan mati). pada tahap kedua gerak ikan hilang tetapi masih ada gerakan operkulum. Sementara itu menurut Iwama et al (1989) terdapat 3 tahap pemingsanan dan 3 tahap pemulihan. Kecepatan pemingsanan ikan tergantung pada dosis yang diberikan. terdapat 4 tahap pemingsanan pada ikan yaitu sedation. Data hasil percobaan menunjukkan bahwa bahan anestesi yang paling cepat atau efektif dalam pemingsanan ikan adalah ekstrak cengkeh dengan jumlah tetesan 20 yang membutuhkan waktu induksi selama 8 menit. namun hal tersebut dapat menyebabkan kematian pada ikan dikarenakan ikan memiliki daya kemampuan untuk beradaptasi yang cukup lambat. Pada tahap sedation. anesthesia. Tahap kedua pergerakan operkulum seperti biasa dan gerakan tubuh mulai terlihat. Tahap anestesia pertama ikan mengalami kehilangan keseimbangan. surgical anesthesia. Waktu pemingsanan akan semakin cepat apabila dosis yang diberikan juga semakin besar. Ada beberapa tahap yang diikuti pengurangan respon dalam proses pemingsanan ikan.memiliki alat pernafasan tambahan sehingga dapat bertahan beberapa jam di lingkungan lembab pada suhu rendah (Wijayanti et al. Tahap ketiga ikan sepenuhnya mengalami keseimbangan. dan jarak transportasi ikan ke tempat tujuan (Ross dan Ross 2008). Menurut Coyle et al. Dosis bahan anestesi yang diberikan untuk memingsankan ikan tergantung dari jenis ikan. Bahan anestesi alami yang digunakan pada praktikum ini adalah ekstrak cengkeh dan serai. maka proses pemingsanan akan berlangsung lebih lama. ikan mengalama pengurangan gerak serta pernafasan. Sebaliknya bila dosis yang diberikan sedikit. Pada tahap surgical anesthesia.

2010). Eugenol merupakan komponen kimia utama pada ekstrak cengkeh dengan kadar yang berkisar antara 80% sampai 90%. Proses imotilisasi yang dilakukan dapat membuat ikan dalam kondisi stres. Anestesi yang ideal adalah anestesi yang mampu memingsankan ikan kurang dari tiga menit dan menyadarkan kembali kurang dari lima menit. Data hasil percobaan menunjukkan bahwa ikan yang berukuran besar memiliki daya tahan tubuh dan tingkah laku untuk merespon rangsangan lebih kuat jika dibandingkan dengan ikan kecil. Fungsi lainnya yaitu dapat digunakan sebagai bahan organik yang aman dan baik untuk pengguna atau lingkungannya (Imanpoor et al. selain itu ikan sebelum dipingsankan bobotnya lebih besar dibandingkan dengan ikan setelah dipingsankan. anestetik dan antibakteri.antiseptik. Ekstrak cengkeh selain mengandung eugenol juga mengandung β-karyofilen (> 12%). Bahan anestesi yang digunakan juga tidak boleh mengandung racun bagi ikan dan manusia serta mudah larut .menjadi agen anestesi yang menjanjikan dalam akuakultur. sehingga waktu untuk memingsankan ikan lebih cepat. Ikan dapat memberikan respon neuroendokrin apabila dalam kondisi stres. Ikan yang dengan ukuran yang berbeda memiliki tingkah laku yang berbeda pula jika diberikan bahan anestesi. grading. Hal tersebut disebabkan karena ikan yang dipingsankan laju metabolismenya ditekan hingga kondisi minimum (kondisi oksigen ditekan) dan mengalami ekskresi yang berlebihan. β-karyofilen adalah sesquiterpen yang memberi rasa pahit dan mempunyai aktivitas sebagai antifungal. Bahan anestesi yang diberi es cenderung lebih lama dalam memingsankan ikan dan waktu recovery nya juga cepat. Suwandi dan Saputra (2010) menjelaskan bahwa Ikan yang diberi es maupun dalam kondisi normal dengan diberi bahan anestesi rata-rata mengalami penurunan bobot. Pemingsanan dapat mempengaruhi bobot ikan. sehingga tidak efektif apabila diterapkan pada transportasi ikan jarak jauh. Es berfungsi untuk menekan laju metabolisme ikan dan menyebabkan proses anestesi menjadi tidak efektif (Suwandi dan Saputra 2010). maupun peneluran buatan. Data hasil praktikum menunjukkan bahwa imotilisasi ikan dengan bahan anestesi ekstrak cengkeh dan serai yang menggunakan es kurang efektif jika dibandingkan dengan penggunaan bahan anestesi yang normal. Respon tersebut melibatkan sistem hormon endokrin (pengaruh primer) yang dapat berpengaruh pada kondisi fisiologis ikan. Ekstrak cengkeh juga dapat mengurangi stres dalam penanganan ikan yang disebabkan oleh transportasi. sehingga ikan mengalami penurunan bobot.

serta kondisi lingkungan. jenis ikan. ekstrak daun sambiloto. ukuran ikan. Bahan antimetabolit alami yang dapat digunakan yaitu ekstrak daun pepaya.dalam media pelarut (Gunn 2001 dalam Pramono 2002). saluran pencernaan dengan cara injeksi atau melalui insang. 36%. ekstrak cengkeh. Menurut Wright dan Hall (1961) pembiusan ikan meliputi tiga tahap. Pemakaian CO2 yang disarankan adalah 1:1 meliputi campuran gelembung CO2 dan O2 ke dalam air. difusi membran dalam tubuh yang menyebabkan terjadinya penyerapan bahan pembius ke dalam darah dan sirkulasi darah dan difusi jaringan menyebarkan substansi ke seluruh tubuh dimana kecepatan distribusi dan penyerapan oleh sel beragam tergantung pada persediaan darah dan kandungan lemak pada setiap jaringan. Ikan dapat menyerap bahan anestesi melalui jaringan otot. dan 54% dapat mempengaruhi keseimbangan tubuh. yaitu berpindahnya bahan pembius dari lingkungan ke dalam muara pernafasan organisme. kondisi ikan. Ekstrak Caulerpa racemosa pada penggunaan konsentrasi uji 30%. Sedangkan ekstrak daun pepaya dapat digunakan akibat adanya alkaloida kaparina yang menimbulkan rasa pahit.1 Kesimpulan . Penggunaan MS222 sebanyak 10 ppm mampu melumpuhkan udang (Suryaningrum et al. fungsi syaraf serta jaringan otak ikan (Pramono 2002 4 KESIMPULAN DAN SARAN 4. ekstrak tembakau dan es. 2005). Sedangkan bahan metabolik yang biasa digunakan untuk bahan anestesi adalah MS222 dan CO2. Ekstrak sambiloto dapat digunakan karena memiliki rasa yang sangat pahit akibat senyawa andrographolida. 42%. Ekstrak cengkeh dapat digunakan akibat adanya kandungan minyak atsiri. Ekstrak tembakau dapat digunakan karena kandungan nikotin di dalamnya. 48%. Jenis bahan anestesi dan konsentrasi optimal yang akan diberikan pada ikan tergatung pada beberapa faktor antara lain.

Imotilisasi ikan dengan bahan anestesi ekstrak cengkeh dan serai yang menggunakan es kurang efektif jika dibandingkan dengan penggunaan bahan anestesi yang normal. Eugenol merupakan komponen kimia utama pada ekstrak cengkeh dengan kadar yang berkisar antara 80% sampai 90%.) dalam simulasi transportasi kering ikan bawal air tawar (Clossoma . sehingga tidak efektif apabila diterapkan pada transportasi ikan jarak jauh. Bahan anestesi yang diberi es cenderung lebih lama dalam memingsankan ikan dan waktu recovery nya juga cepat. 2012.Bahan anestesi yang paling cepat atau efektif dalam pemingsanan ikan adalah ekstrak cengkeh dengan jumlah tetesan 20 yang membutuhkan waktu induksi selama 8 menit. Bahan anestesi ekstrak cengkeh lebih efektif jika dibandingkan dengan serai. Teknik imotilisasi menggunakan ekstrak hati batang pisang (Musa spp.2 Saran Perlu diteliti bahan anestesi alami yang cepat dalam memingsankan ikan dan lama waktu pulihnya sebagai bentuk efektivitas dalam transportasi biota perairan DAFTAR PUSTAKA Abdullah RR. Waktu induksi tersebut merupakan waktu yang ideal dalam proses anestesi ikan menurut Gunn (2001). Hal tersebut sesuai dengan literatur yang menjelaskan bahwa ekstrak cengkeh menghasilkan bahan aktif eugenol yang dapat menjadi agen anestesi yang menjanjikan dalam akuakultur. 4.

2010. Robert D. Statistik Perikanan Budidaya Indonesia. World Journal of Fish and Marine Science 2(1):29-30 Iwama G K. Slipi. 2007. Hedayati SAA. Ruddy S. Seminar Nasional Pengembangan Pulau-Pulau Kecil 2011. 2005. Wright GJ dan LW Hall. tindal and Cox. 2004. Teknologi Penanganan dan Transportasi Krustasea Hidup. Utomo BSD. Bogor: Departemen Teknologi Hasil Perairan. cortisol and adrenaline in rainbow trout. Diah I. Adrianus OWK. Hajek GJ. Bogor: Program Studi Teknologi Hasil Perikanan. London: Bailleire. The anesthetic effect of clove oil common carp. hematocrit. London : Fishing News Books. Floundering in the Foibes of Fish Anestesia. Suryaningrum ThD. Anaesthetic and Sedative Techniques for Aquatic Animals. Wibowo S. Ross LG dan Ross B. 2004. dan Wibowo S. 2001. The anesthetic effects of clove essence in Persian Sturgeon. Veterinary Anaesthesia and Analgesia. Suryaningrum TD. . Elizabeth JT. Robert MD. Squalen 2 (2): 37-42. 2010. The transport of live fish: a review. Nani N. R M Durborow. 1961. Pap. Marwita SP. Agus SM. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Syamsidi. 2011. Suwandi R dan Saputra D. Teknologi Penanganan dan Transportasi Biota Perairan. Uju. Institut Pertanian Bogor. Institut Pertanian Bogor. Nitibaskara R. M P Pawluk. Pramono V. J H Tidwell. Wijayanti I. 67:2065-2073 [KKP] Kementerian Perikanan dan Kelautan. Acta Ichthyologica Et Piscatoria 36 (2): 93-97. Anesthetics in Aquaculture. The effet of five fish anaesthetics on acidbase balance. Bogor: Departemen Teknologi Hasil Perairan. Bernard K. Anesthetics in aquaculture. Pengaruh temperatur terhadap kondisi anestesi pada bawal tawar Clossoma macropomum dan lobster tawar Cherax quadricarinatus [prosiding]. 2006. Acipenser persicus. Tidwell HJ. 2010.macropomum) [skripsi]. Jakarta: Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya. 2001. 3900 Gunn E. Bogor : Departemen Teknologi Hasil Perairan. Teknologi penanganan dan transportasi lobster air tawar. Imanpoor RM. JC McGeer. Penanganan dan Transportasi Ikan Hidup untuk Konsumsi. Jakarta: Badan Riset Kelautan dan Perikanan. Shawn DC. SRAC Publication. 1986. Scotland: Blackwell Publishing. Canadian Journal of Zoology. Bagheri T. Berka R. Christina L. Coyle S D. Institut Pertanian Bogor. 1986(48):52. 2008. 1989. EIFAC Tech. Cyprinus carpio L. 2006. Penggunaan ekstrak Caulerpa racemosa sebagai bahan pembius pada pra tansportasi ikan nila (Oreochromis niloticus) hidup [skripsi]. Mississipi: Southern Regional Aquaculture Center Publication.