Tugas MK Etika Profesi – S2 Arsitektur Profesional USU

Semester A – 2012

ARSITEKTUR DAN ETIKA
(MENURUT PENDAPAT PRIBADI)

“Kalau kita berbicara tentang ‘Arsitek’ maka yang kita bicarakan adalah manusia kompleks yang berprofesi sebagai arsitek atau manusia yang telah menerima pendidikan arsitektur dan menerapkan apa yang telah diterimanya di dunia pendidikan ke dunia profesional walaupun pengalamannya untuk menjadi seorang arsitek sejati (profesional) belumlah sempurna. Sedangkan kalau kita berbicara tentang ‘Arsitektur’ maka yang kita bicarakan adalah sebuah entitas tunggal yang merupakan cerminan dari gabungan banyak entitas. Namun kalau kita kalau kita berbicara tentang ‘Etika’ maka kita bicarakan adalah diri sendiri dan yang kita hadapi juga diri sendiri.”

ARSITEK IDEAL DAN KENYATAAN
Arsitek adalah seorang yang telah menerima pendidikan disiplin ilmu tentang perencanaan, perancangan, pengetahuan tentang struktur dan teknis bangunan dan segala hal yang berkaitan tentang lingkungan binaan, mulai dari sosial budaya masyarakat, agama bahkan sampai satuan terkecil yaitu psikologi manusia. Namun setelah seseorang menyelesaikan pendidikan di Arsitektur, ia belumlah bisa dianggap sebagai Arsitek yang profesional melainkan ia harus menjalani terlebih dahulu sejumlah pelatihan yang sebagaian besar didapatnya dari dunia profesional. Dimana arsitek yang baru selesai (junior) dan bekerja pada sebuah Biro Arsitektur, ia akan ditempatkan oleh pimpinan biro itu di bawah seorang arsitek senior. Arsitek junior bisa jadi mengerjakan sebuah proyek mandiri namun tetap di bawah pengawasan dan bimbingan arsitek senior. Ketika proses ini berjalan dengan baik dan arsitek junior dinilai sudah dapat menyerap profesionalitas dari dan oleh arsitek senior, maka ia dapat mengerjakan proyek mandiri tanpa lagi diawasi lagi oleh arsitek senior, bahkan ia juga dapat membuka biro arsitektur sendiri. Pendidikan dan proses menjadi profesional ini memang sangat diperlukan untuk membentuk dari manusia yang kompleks menjadi manusia sebagai Arsitek yang seutuhnya. Tidak hanya di dunia pendidikan, bahkan dalam proses penurunan ilmu itu dapat berjalan dengan baik jika hubungan antara arsitek junior dan senior berjalan dengan harmonis. Kalau kita mengkaji makna “hubungan harmonis” maka kita akan menemui makna kata “Etika”.

| ARSITEKTUR DAN ETIKA

1

Dalam kisahnya. Pada prinsipnya semua agama samawi adalah sama. Sebaliknya jika arsitek senior tidak bisa mengenali perbedaan dirinya dengan arsitek junior maka arsitek junior tidak akan diterima pada biro dimana arsitek senior bekerja. Al Kahfi 18:74). Bisa saja orang mengatakan profesional itu tak bisa diukur dengan umur tetapi dengan apa yang telah dikerjakannya. maka Khidhr membunuhnya. (QS. bagaimana kita bersama melihat ketika orang atau kita berusaha mengambil alih lembaga yang mengatur profesionalitas untuk kepentingan diri sendiri. hanya karena berlainan penafsiran dari setiap pemeluknya sehingga tercipta perbedaan. Bagaimana kita melihat ketika orang atau kita berebut proyek. namun jika hal itu membuat diri menjadi sombong dan tidak menurunkan ilmu tersebut ke arsitek junior maka lama-lama profesionalitas itu sendiri akan hilang. Murid Arsitek “Maka berjalanlah keduanya. Nabi Musa diperintahkan untuk pergi belajar ilmu kepada Nabi Khidir karena kesombongan Nabi Musa yang merasa ia adalah manusia yang paling pintar di muka bumi ini. jika arsitek junior tidak dapat mengenali perbedaan dirinya dengan arsitek senior maka ilmu dan keahlian arsitek senior tidak akan dapat diserapnya dengan baik. beliau berkata bahwa Nabi Musa tidak akan sanggup menerima pelajaran dari beliau. Musa berkata: "Mengapa kamu bunuh jiwa yang bersih. Namun perbedaan itu sebaiknya harus diterima dengan positif bukan malah negatif. Bagaimana kita dapat saling mengenal jika perbedaan itu dianggap adalah sesuatu hal yang negatif? Perbedaan arsitek junior dan arsitek senior salah satunya adalah keahlian. bukan karena dia membunuh orang lain? Sesungguhnya kamu telah melakukan suatu yang mungkar". | ARSITEKTUR DAN ETIKA 2 . Merasa lebih senior. di dalamnya terdapat pelajaran etika yang dapat diambil kebaikannya melalui analogi-analogi. Penulis mencoba mengutip dan mengeluarkan makna yang terkandung dalam surah Al Kahfi ayat 74. Nabi Musa memaksa dan akhirnya Nabi Khidir menerima tapi dengan syarat tidak boleh mengomentari apa yang beliau lakukan. sehingga makna junior dan senior tidak ada lagi selain untuk membedakan kasta. hingga tatkala keduanya berjumpa dengan seorang anak. Bukan bermaksud untuk melebihkan sebagian agama dengan agama yang lain namun kisah tersebut juga terdapat di kitab-kitab yang lain. lebih profesional.Tugas MK Etika Profesi – S2 Arsitektur Profesional USU Semester A – 2012 Kenyataan yang ada sekarang ini kita bisa merasakan dan sangat mungkin pernah menjadi bagian dari proses itu. Ada yang berjalan dengan baik bahkan juga ada yang berjalan dengan tidak baik. Namun pada akhirnya Nabi Musa mengomentari juga dan Nabi Musa tidak bisa mendapatkan ilmu dari Nabi Khidir. ETIKA MURID DAN GURU ARSITEK a. Ketika ia berjumpa dengan Nabi Khidir.

namun kita dapat memaknai “kencing” sebagai “amal” atau apa yang dilakukan atau dihasilkan manusia. Pada akhirnya dengan prasangkanya yang buruk.” Coba cermati pada pepatah di atas. sama dengan Nabi Musa dalam memandang Nabi Khidir. Nabi Musa tidak mendapatkan ilmu yang tinggi dari Nabi Khidir. b. walaupun terminologi dari “kencing” mungkin saja buruk. namun ketika makna “kencing” itu menjadi makna yang buruk. namun sangat bermanfaat bagi tumbuhtumbuhan. Ketika seorang murid berhasil menemukan suatu formula yang dapat mengubah air “kencing” menjadi air “seni” bukankah seorang guru juga akan merasakan nikmat dari air “seni” itu juga? Proses penurunan ilmu adalah guru yang bertugas dan bertanggung jawab. walaupun ada perbedaan antara berdiri dengan berlari. hendaknya mereka bisa mengambil hikmah atas kisah itu untuk dapat membentuk dan mengubah cara mereka berlaku dalam belajar kepada seorang guru/arsitek senior. apakah semua guru bisa menerima “kencing” murid yang buruk itu adalah cerminan dari mereka sendiri? Apa etika seorang guru yang ternyata muridnya “kencing” sembarangan? Tidakkah Nabi Musa yang dulunya pernah membunuh adalah cerminan Nabi Khidir (yang juga membunuh anak kecil) dan sebaliknya? Perbedaannya adalah Nabi Musa membunuh karena marah sedangkan Nabi Khidir membunuh karena perintah. Begitu juga sebagai murid/arsitek junior. Hendaknya seorang murid tidak pantas memprotes terhadap apa yang dilakukan seorang guru dalam menurunkan ilmunya. Bagaimana pun buruk etika guru/arsitek senior bisa jadi ilmu yang dikuasainya sangat tinggi. Jika orang masa kini memandang Nabi Khidir dan jika orang itu tidak bisa memandang jauh ke dalam jiwa Nabi Khidir maka ia akan menganggap Nabi Khidir adalah tidak lebih dari seorang pembunuh berdarah dingin. Guru adalah cerminan dari murid dan murid adalah cerminan dari guru.Tugas MK Etika Profesi – S2 Arsitektur Profesional USU Semester A – 2012 Ini adalah sepenggal garis besar kisah Nabi Musa yang berusaha kita ambil hikmah dan makna etika yang terkandung didalamnya. namun sama-sama kencing. | ARSITEKTUR DAN ETIKA 3 . Guru Arsitek “Guru kencing berdiri. bisa saja merugikan kesehatan manusia jika diminum langsung. murid kencing berlari (pepatah). Air “kencing” atau kata yang lebih sopannya lagi adalah air seni.

Bisa jadi dalam dunia yang lebih terhormat daripada Arsitektur mereka bisa diterima namun tetap saja etika harus menjadi pegangan. Maksud hukuman bukan atas dasar kasihan adalah tidak adanya pengurangan hukuman melainkan seorang guru harus bertanggung jawab untuk membuat psikologi seorang terhukum itu menerima hukumannya dengan baik dan dapat menganggap hukuman tersebut adalah sebuah bagian dari proses pendidikannya atau bagian dari kehidupan. dimana letak perlakuan yang adil. lenyap tak berbekas. thesa bisa kita andaikan dengan guru/senior arsitek maka sebagai antitesa adalah murid/junior arsitek. Setengahnya lagi ia akan dapatkan dari dunia profesional yang akan ia tempuh lagi setelah menjalani hukuman atau sanksi. Bagaimanapun antara arsitek junior pada posisinya sebagai junior belumlah dapat dikatakan sepadan dengan senior. Ketika seorang murid yang terhukum dapat menerima hukumannya dengan baik maka sebenarnya semua dari pelajaran etika sudah diterima sang murid. Bahkan jika hukuman atau sanksi yang akan murid terima sampai membuatnya keluar dari dan tidak bisa masuk lagi ke dalam sistem karena kesalahannya sudah sangat fatal. seorang guru/arsitek senior masih mempunyai kewajiban untuk memberikan kesadaran dan keyakinan kepada murid/arsitek junior bahwa tidak hanya di dunia Arsitektur saja yang bisa membuat murid/arsitek junior bisa survive. bahkan setengah dari profesionalisme sudah diterimanya. Lalu dimanakah letak etika berkaitan dengan pemunculan super tungggal thesa/antitesa dalam hal untuk menghasilkan sintesa? Hegel mengisyaratkan pemecahan dalam teorinya yaitu dominasi dari salah satu komponen juga adalah sintesa. contohnya memperlakukan tawanan perang apakah harus dibunuh atau dibebaskan setelah perang usai dan salah satu pihak menyerah tanpa syarat. Menurut Hegel. arif dan bijaksana oleh pemenang terhadap pihak yang kalah. Namun dalam etika yang terkandung dalam agama tidak menghendaki terjadi yang seperti itu. mungkin sudah bukan jodohnya. Maka tidak akan terjadi yang namanya sintesa seperti yang terjadi pada masa penyatuan Mesir Utara dan Selatan. Hukuman juga adalah bagian dari proses pendidikan dan hendaknya bersifat mendidik yang bukan atas dasar kasihan atau atas dasar yang lain. Menurut teori dialektika Hegel. lebih tepat suatu bentuk apologis terhadap apa yang telah terjadi. Jika kita terlalu menuruti seperti apa yang dikatakan oleh Hegel maka dengan sendirinya arsitek junior akan hilang. Hal itu berlaku juga sebaliknya pada arsitek senior. namun dalam hal ini sulit terjadi antara senior dan junior. jika salah satu komponen yang dominan maka komponen lain akan lenyap atau tersingkir. namun tidak semua guru bisa menyadari bahwa mereka mempunyai kewajiban untuk memberikan kesadaran kepada muridnya yang “kencing” sembarangan bahwa sebuah hukuman bukanlah penghakiman. Pada masa Mesir kuno. | ARSITEKTUR DAN ETIKA 4 . masing masing thesa dan antithesa mempunyai kekuatan yang sama sehingga terjadi sintesa.Tugas MK Etika Profesi – S2 Arsitektur Profesional USU Semester A – 2012 Semua guru juga tahu hukuman adalah yang paling tepat.

lalu bagaimana bisa dianggap benda mati dapat beretika? Maka sebenarnya semuanya kembali lagi ke diri masing-masing. the soul of the afford people's feels envy that will actuate their mind and act to chase and evict even arrest those grubby for put them into green environment that other afford people’s design.” Ketika kita sudah dapat menyerap makna etika dari person-person yang terlibat di atas. maka sebenarnya adalah berasal dari jiwa si pencipta. Budaya adalah artefak yang dihasilkan manusia. maka secara tidak langsung “Arsitektur yang beretika?” padanannya adalah “budaya yang beretika?”. Bisa jadi lukisan menggambarkan sesuatu hal yang mungkin saja tidak ada kaitan dengan si pencipta. Dapat kita lihat contoh seperti itu pada lukisan Raden Saleh yang dapat membuat gurunya menangis dengan gambar Raden Saleh seperti terlihat gantung diri. Kalau pun seseorang yang memperhatikan lukisan dan merasakan sesuatu seperti memiliki jiwa. Jadi makna “geist” yang ada pada lukisan bukanlah jiwa seperti jiwanya manusia. Atau dari karyanya yang berjudul “Penyerahan Diri Diponegoro” yang membuat seorang Jendral Hindia Belanda menaruh rasa hormat dan membuat rakyat pada masa itu menangis ketika melihat lukisan itu. benda mati. keluar dari dalam lukisan melewati bingkainya memancarkan nilai-nilai yang tertangkap oleh indera psikologis manusia yang merasakannya.Tugas MK Etika Profesi – S2 Arsitektur Profesional USU Semester A – 2012 ARSITEKTUR DAN ETIKA “How green they will be. Arsitektur adalah sebuah budaya manusia. Lukisan oleh Raden Saleh: “Penyerahan Diri Diponegoro” – 1857 Hegel menamakan jiwa ini sebagai “geist” yang dapat dirasakan. sehingga orang lain bisa saja menganggap seakan-akan benda itu memiliki jiwa. tidak ada jiwa. the only different is: THE OTHER ONE PAYS. So some people doesn't have anything can sleep in the urban forrest for free. how expensive they are. OTHERS NOT. Then. Lukisan tersebut dipasang Raden Saleh pada sebuah lorong gelap yang sering dilalui gurunya sehingga gurunya “menyangka” Raden Saleh telah gantung diri. murid/junior dan guru/arsitek senior. Tidak ada kaitan secara langsung antara Arsitektur dengan Etika melainkan manusia saja sebagai perantaranya. Apa saja yang dihasilkan manusia adalah cerminan dari dirinya sendiri. maknanya menjadi bias. barulah kita dapat membahas kaitan arsitektur dan etika. namun pada akhirnya pandangan pengamat | ARSITEKTUR DAN ETIKA 5 . Everyone get their green.

Tugas MK Etika Profesi – S2 Arsitektur Profesional USU Semester A – 2012 tetap kembali kepada si pencipta. namun pada akhirnya menghasilkan “mantan-mantan” WTS. Memang “seakan-akan” membangun kompleks pelacuran itu melanggar hukum agama. Begitu juga dengan etika karena hal ini berkaitan dengan pengalaman rasa. Lalu apa bedanya penjara dengan kompleks pelacuran? Hampir sama dengan bagaimana proses terciptanya lukisan “Penyerahan Diri Diponegoro”. bilamana mereka para PSK yang masuk ke dalam kompleks itu dapat menerima pendidikan yang baik tentang agama dan diajarkan keahlian sebagai bekal untuk hidup sehingga setelah mereka keluar dari kompleks pelacuran. Dikatakan “seakan-akan” berarti tidak sepenuhnya dilanggar. apakah dengan adanya penjara dunia ini semakin aman? Justru dalam keadaan kondisi penjara saat ini kelihaian penjahat semakin meningkat bukannya menurun. Maka dalam kaca mata dekonstruksi. Hal itu terjadi kala Gubernur DKI Jakarta dijabat oleh Ali Sadikin. kemudian barulah Raden Saleh menuangkannya ke dalam bentuk lukisan sehingga hasilnya menjadi maksimal dan kena sasaran. hal itu sah-sah saja dilakukan. | ARSITEKTUR DAN ETIKA 6 . yang memang tidak cukup jika hanya itu saja. jika yang diproduksi penjara-penjara adalah “mantan” penjahat. Seorang Arsitek yang tajam rasa seninya akan dapat menangkap nilai-nilai keindahan yang terpancar dari sebuah karya Arsitektur sebagai cerminan dari si penciptanya. Coba kita bandingkan dengan lukisan dengan judul yang sama namun dilukis oleh seorang pelukis dari Belanda. Namun kalau kita melihat dari kaca mata filsafat dekonstruksi. mereka tidak akan berprofesi sebagai PSK lagi. Dekonstruksi jika diterapkan dalam arsitektur bukanlah berbentuk tampilan-tampilan yang tidak biasa saja dan “seakan-akan” melanggar prinsip-prinsip struktur. Bisa jadi lukisan itu akan dibakar oleh rakyat Diponegoro ketika mereka melihatnya sementara para pembesar Hindia Belanda memuji lukisan itu. Konsep seperti ini tidak akan dapat diterima masyarakat selama masyarakat masih menganggap WTS adalah sampah. melainkan masih terikat dengan hukum gravitasi. tidaklah air hujan itu jatuhnya ke langit kecuali saat kiamat. kompleks pelacuran bisa jadi bertujuan baik. Coba saja kita mendiskursuskan keberadaan penjara. Tidaklah mungkin membangun suatu kompleks pelacuran di mana situasi dan kondisi masyarakatnya selalu menganggap PSK adalah sampah yang harus segera dimusnahkan sementara pemerintah bermaksud untuk dapat mengendalikan AID’S. Lalu apakah keberadaan penjara ini sebaiknya dihapuskan? Jawabannya “tidak”. Untuk bisa menuangkan “geist” yang sebenarnya maka Raden Saleh melakukan survey ke lokasi dan berbaur dengan masyarakat serta ikut merasakan kesedihan. Prinsip struktur selalu berhubungan dengan gravitasi. terjadinya penangkapan Diponegoro sendiri tidaklah disaksikan secara langsung oleh Raden Saleh. Maka sebaiknya seorang arsitek yang profesional hendaknya sebelum berkarya harus bisa membaca situasi sosial masyarakat yang sedang berlangsung sekarang ini. membuat seorang Jendral Hindia Belanda angkat topi dan membuat rakyat pada masa itu menangis ketika menyaksikan lukisan tersebut. Semua yang diciptakan oleh seseorang selalu kembali kepada dirinya sendiri. Dengan konsep seperti ini bisa saja desain kompleks itu dibuat dan dibangun jika saja masyarakat pada umumnya memahami dan menerima paham filsafat dekonstruksi. namun yang dimaksud juga bukanlah menghormati mereka dengan menganggap pelacuran adalah sebuah profesi namun menghormati mereka sebagai manusia.

namun yang dinilai bukanlah value kesempurnaan melainkan bagaimana orang bisa menerima ketidak-sempurnaan sebagai suatu proses besar dari kehidupan manusia di muka bumi ini. Pertanyaannya adalah. untuk membuat lingkungan yang green atau menerapkan konsep green ini pada sebuah bangunan dibutuhkan biaya yang sangat besar. sebagai utopia dari para pengusung etika kelangsungan hidup. Dimana konsep green ini bertujuan untuk meminimalisir kerusakan yang telah dan yang akan dilakukan manusia untuk kelangsungan hidupnya. setiap konsep dan desain tidak ada yang sempurna. Maka para arsitek memakai konsep ini dalam setiap karyanya untuk mengantisipasi kerusakan yang lebih besar yang mungkin saja timbul dan berusaha membuat suatu desain yang memberi value kepada lingkungan. Memang. Lalu dimana letak etika orang-orang yang berduit (yang kekayaannya berasal dari perusakan bumi) ketika membeli atau membuat dan memakai fasilitas green tersebut? Akan lebih pantas penggunanya adalah gembel-gembel jalanan dan orang gila yang tidur di lingkungan green tersebut karena mereka adalah manusia yang paling sedikit dalam hal merusak bumi ini. darimana asalnya uang yang dipergunakan untuk membiayai pembuatan lingkungan dan bangunan green tersebut? Jika uangnya berasal dari penebangan hutan atau eksplorasi bumi yang berlebihan apa itu bisa dinamakan green? Sama saja dengan bunga bank yang tak jelas dananya darimana apakah dari perdagangan narkoba atau tidak. Namun jika dilihat lebih dalam lagi. Tetapi dari pembahasan tentang konsep | ARSITEKTUR DAN ETIKA 7 .Tugas MK Etika Profesi – S2 Arsitektur Profesional USU Semester A – 2012 Lukisan oleh Nicolaas Pieneman: “Penyerahan Diri Diponegoro” – 1822 Dalam Arsitektur ada sebuah konsep yang bernama “Green”. Jika diandaikan biaya finishing dari sebuah gedung 2 kali lipat biaya konstruksi maka bisa jadi penerapan konsep green dapat menelan biaya 3 s/d 4 kali (bahkan lebih) dari biaya konstruksi.

4. Ada yang menguasai semuanya termasuk penerapan namun psikomotorik etikanya masih belum sempurna. memahami namun tidak menerapkan. Membaca atau mendengar. mengerti. KESADARAN BER-ETIKA Kita bisa mencirikan tingkat kesadaran beretika dalam beberapa kategori dan tingkatan: 1. Namun yang paling penting sebenarnya adalah etika yang diterapkan pada diri sendiri. 5. Membaca atau mendengar. 2. | ARSITEKTUR DAN ETIKA 8 . 6. Penguasaan dari tingkat kesadaran di atas termasuk psikomotorik (kebiasaan) yang menyertai dalam setiap langkah dan tindakannya. Green High Rise Building Concepts. Jika kita sudah bisa menghormati diri sendiri dengan baik. bukan kepada orang lain. Ada yang tidak pernah membaca namun memahami yang disimpulkan dari dapat menerapkannya.Tugas MK Etika Profesi – S2 Arsitektur Profesional USU Semester A – 2012 Arsitektur yang berkaitan dengan etika di atas dapat terlihat bahwa etika tidak hanya sekedar kulit atau tampilan luar saja namun lebih luas lagi. maka kita bisa menghormati orang lain dengan dasar menyadari kekurangannya masing-masing. Pernah membaca atau mendengar namun tidak mengerti. mengerti namun tidak memahami 3. Di dalam usaha menghormati diri sendiri maka kita harus menemukan jati diri dan itu hanya diajarkan dalam agama. Dengan tidak mengecilkan usaha para arsitek yang telah menemukan konsep ideal dalam mempertahankan kelangsungan hidup manusia sebagai etika tanggung jawab mereka terhadap masnusia yang akan datang.

Ia kemudian menugaskan seorang arsitek profesional untuk merancangnya dan bersedia membayar mahal untuk desain yang spektakuler. Dan juga dari dua contoh dialog pada diri sendiri di atas sebenarnya cukup sulit untuk bisa didialogkan dengan orang lain. keinginan pribadi adalah hasrat. Jika penguasaan banyak ilmu itu hanya untuk kepentingan dirinya sendiri. bagaimana bisa menolaknya. Misalnya. Selain itu prasangka-prasangka buruk terhadap orang lain juga haruslah dilepaskan dalam setiap hubungan profesionalism karena akan menjadi penghalang dalam usahanya yang paling penting. karena kecenderungan manusia akan mencitrakan dirinya untuk lebih baik dihadapan manusia yang lain. maka akan bersinggungan dengan kepentingan orang lain bahkan bisa jadi masyarakat. Ada yang cukup unik pada tingkatan 5. mencengangkan dan extraordinary. lebih pribadi dan lebih bersifat pembentukan karakter. Penilaian pribadi terhadap posisi saat ini atau yang akan datang hendaknya dilakukan berulang-ulang tanpa henti dan merupakan bagian dari proses introspeksi diri sendirinya manusia. Buddha melalui Nietzsche pernah mengatakan atau Nietzsche sampai pada pemikiran filsafat Buddha yaitu An-atman. Sebagai latihan beretika kita bisa berdialog dengan diri sendiri seperti yang dicontohkan Michel Foucault dalam mencari kebenaran dengan metoda diskursusnya (Discourse & The Self). Belum lagi misalnya owner ternyata adalah sahabat dekat atau bahkan keluarga. tidak berupa tampilan luar. Namun kebetulan arsitek tersebut sedang terlibat hutang yang harus segera dibayarkannya. Andaikan kita adalah seorang arsitek profesional menerima tugas di atas. Pengenalan pergerakan jiwa ini penting karena akan menentukan dalam setiap langkah pergerakan arsitek profesional yang berkaitan dengan etikanya. dimana seseorang yang belum pernah menerima pelajaran tentang etika profesi namun etika agama namun dari setiap langkah dan pergerakannya dalam dunia profesional ternyata sangat baik. orang kaya baru yang ingin membangun rumah tinggal besar dan megah serta menginginkan bahan lantainya dari batu alam yang didapat dari Italy. apakah mempengaruhi keputusannya untuk menerima atau menolak tugas yang diberikan? Keinginannya untuk segera keluar dari masalah hutang atau bisa saja sekaligus memperbaiki keadaan ekonomi pribadi akan sangat berpengaruh terhadap hasil keputusan itu. Dari latihan-latihan seperti ini kita bisa mengharapkan kemajuan untuk beretika | ARSITEKTUR DAN ETIKA 9 . Jika kita sebagai arsiteknya. Yang kita bisa ambil nilai kebaikan dari perkataan Schopenhauer itu adalah menguasai banyak ilmu merupakan kewajiban manusia. apa yang akan dilakukan. menerima pekerjaan ini ataukah menolaknya. Namun yang sulit adalah untuk membedakan atau membaca pergerakan jiwa. Maka dialog terhadap diri sendiri bisa diharapkan akan lebih jujur dan “terbuka”. Sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Schopenhauer. Kebetulan owner ini memiliki sebidang tanah dipinggiran kota dekat lingkungan kumuh. Dari kalimat ini kira-kira apakah bisa seseorang berkeinginan untuk menjadi seniman sejati. sedangkan keinginan itu diidentifikasikan sebagai hasrat. perbedaannya adalah lebih halus. Dua pemisalan di atas kurang lebih sama dengan seperti pada bagian pembahasan “Arsitektur dan Etika” sebelumnya. Schopenhauer pernah mengatakan. Tanah ini menurut owner penilaian ekonomisnya sangat murah sehingga ia dulu tertarik dan membelinya.Tugas MK Etika Profesi – S2 Arsitektur Profesional USU Semester A – 2012 Dari tingkatan kesadaran beretika di atas dapatlah mengira-ngira dimana kesadaran kita berada. “Keinginan tanpa keinginan”. “Seniman sejati adalah orang yang banyak menguasai ilmu namun sedikit dalam hasrat pribadi”. yaitu introspeksi diri sendiri. apakah atas dasar kewajiban ataukah hasrat pribadi.

bagaimana kita bersikap? Inilah yang dimaksud akar dari pencirian etika profesionalism itu. 2. kelompok insinyur merumuskan etika sendiri. 4. dan seterusnya. 6.Tugas MK Etika Profesi – S2 Arsitektur Profesional USU Semester A – 2012 dengan baik dan benar dalam dunia profesional namun tetap dasarnya adalah agama dan kebersihan hati. Lebih dapat menerapkan standar etika kepada orang lain daripada diri sendiri. siapapun. bukan berlaku di luar dari sistem. Pertanyaannya adalah seberapa seringkah kita berdialog dengan diri sendiri? PROFESIONALISM ARSITEK DAN ETIKA Sekelompok orang merasakan etika itu sangat luas. Misalnya. Bisa jadi membangun tempat ibadah salah satu agama ditempat yang mayoritas agama lain tidak akan menjadi masalah | ARSITEKTUR DAN ETIKA 10 . Namun bagaimana dengan tindakan atau cara kita bersikap (etika) terhadap orang yang seperti itu. 3. karena etika profesionalism itu berlaku pada dirinya sendiri dan owner. namun jika itu saja yang menjadi acuan dan meninggalkan akar dari etika yang telah dikhususkan. sebagai akar dari etika dalam menghormati orang lain yang dicirikan secara khusus dengan butirbutir di atas. Disamping itu manusia memang lebih cenderung untuk mengharapkan penghormatan daripada kewajibannya untuk menghormati orang lain. 7. bisa jadi bahwa membangun sebuah rumah super mewah bersebelahan dengan rumah masyarakat miskin tidak akan menjadi masalah. 5. Makna sempit dari etika yang dikhususkan itu akan bisa kita rasakan. Berdisiplin ilmu Arsitektur Berilmu tinggi Senior pernah membimbing junior sampai menjadi senior mandiri Umur lebih tua Pengalaman proyek lebih banyak Dapat dan sukses menangani proyek mandiri yang besar Dan seterusnya. Jika salah satu poin dari kriteria di atas hilang masihlah dapat disebut arsitek senior. menjadi hilang. Jadi etika itu bukan hanya sekedar orang yang mempunyai ilmu dan tidak menggunakannya untuk kejahatan komputer misalnya untuk membobol kartu kredit. jika kita yang justru berada pada posisi senior dan dengan variable-variable di atas sebagian besar hilang. apakah sikap kita masih mecerminkan orang tersebut adalah senior? Sebaliknya. Kelompok dokter merumuskan etika sendiri. Dalam dunia profesional. Secara etika yang luas. kelompok arsitek menyepakati etika sendiri bahkan kelompok betor (beca bermotor) pun punya etika sendiri. meliputi dari segala aspek kehidupan manusia. bagaimanapun dan seperti apa orang lain haruslah dihormati. namun jika sebahagian besar hilang tidak ada pada diri seseorang apakah masih dapat disebut arsitek senior? Jawabannya bisa jadi “masih” jika kita menilai dari “sebutan” saja. maka makna etika itu akan menjadi sempit. Misalnya: 1. cobalah kita merumuskan beberapa butir yang menjadi kriteria arsitek senior kemudian kaitkanlah dengan permasalahan etika. Tidak ada masalah sebenarnya jika etika itu dicirikan atau dispesifikasikan sesuai dengan profesionalism yang disandang. oleh karena itu mereka menyusun atau menyepakati bersama bentuk etika terkait dengan dunia profesional atau menspesifikasikannya secara khusus.

atau bahkan memakai analogi dari An-atman yaitu bekerja tanpa pamrih. Orang-orang terutama dalam dunia profesional berusaha menghindari pembicaraan agama pada bagian belahan dunia lain karena sesuatu yang tabu dalam ilmu pengetahuan dan profesionalism serta merupakan suatu kemunduran. namun seperti kita ketahui bersama. sedangkan di belahan bumi yang lain lagi membicarakan agama menurut bingkai tempurung otaknya masing-masing atau dalam dunia profesionalnya mereka menghindari pembicaraan atas agama demi etika itu sendiri. lalu bagaimana bisa muncul konsep “green” yang memikirkan kelangsungan hidup manusia yang akan datang seperti yang sudah dibahas sebelumnya sementara konsep green itu aslinya bukan berasal dari dunia Arsitektur. Kalaulah etika profesional itu hanya untuk kalangan profesional tertentu saja. hal-hal yang berbau agama dan segala sesuatu yang diluar dunia profesionalnya dikesampingkan dan harus memisahkan kehidupan pribadi dengan profesional karena | ARSITEKTUR DAN ETIKA 11 . Dalam dunia profesionalism Barat. arsitektur itu bukan hanya masalah profesionalism tetapi ada didalamnya unsur agama. Sketsa lingkungan kumuh: “Ternyata dengan sketsa bisa membuat lingkungan kumuh menjadi indah” Kembali lagi dengan perkataan Schopenhauer. sosial dan budaya masyarakat yang menggunakan profesionalism itu. “Keinginan tanpa keinginan”. “Seniman sejati adalah orang yang banyak menguasai ilmu namun sedikit dalam hasrat pribadi” dan Nietzsche dengan Buddha-nya. dengan maksud untuk menghargai agama lainnya dan menghindari perpecahan yang sayangnya akar dari etika itu sendiri adalah agama.Tugas MK Etika Profesi – S2 Arsitektur Profesional USU Semester A – 2012 etika profesional. Mengapa kita tidak menyadari bahwa ada variable yang penting untuk mengukur profesionalitas dengan mempertimbangkan apa yang dikerjakan lebih banyak untuk kepentingan masyarakat atau kepentingan pribadi sebagai analogi dari perkataan Schopenhauer.

Sistem itu diadopsi oleh Indonesia dengan tidak mengenyampingkan terutama elemen sosial kemasyarakatan sebagai kebanggaan identitas agar tidak seperti bangsa Barat. Kita bisa mensimulasikan tentang tidak bolehnya mengambil alih proyek yang sama dengan kolega. setelah diberi peringatan beberapa kali namun tidak juga berubah. Misalkan saja owner mencari arsitek lain yang tidak dikenal kolega sang arsitek. Mereka sangat menjunjung tinggi profesionalism. Ketika dokter berbenturan dengan rakyat miskin yang tidak mempunyai biaya. Namun bukannya mereka tidak memiliki etika dalam menjalankan keprofesionalism mereka. teman serta hubungan keluarga dapat merubah makna profesionalis seketika. agama menurut tempurung masung masing. dan ternyata terbongkar apa yang pernah ditangani salah satu arsitek dialihkan kepada arsitek yang baru dikenalnya. Bagaimana arsitek yang tugasnya dialihkan bersikap terhadap yang telah berlalu? Pada perspektif yang lain. Sesuai dengan kode etik. bahkan jika keluarganya sendiri melakukan kesalahan dalam pekerjaan akan diberi sanksi yang tegas. maka kemana lagi owner akan mencari Arsitek. maka akan dikeluarkan dari perusahaan atau pekerjaan. sebenarnya kesalahan dari bangsa ini tidak sepenuhnya ada pada pemerintahnya karena pemerintah adalah cerminan dari rakyatnya sendiri. Sebagai salah satu contoh. Atau dengan kata lain mereka yang gagal akan mati sebagai manusia tanpa adanya pertolongan yang didasari agama dan sosial kemasyarakatan dan kekeluargaan.Tugas MK Etika Profesi – S2 Arsitektur Profesional USU Semester A – 2012 menurut mereka hal itu akan menyebabkan kemunduran dan kekacauan. Namun latar belakang dan kejadiannya bisa bervariasi dan yang berlaku kelihatannya seperti tidak layaknya beretika. thesa dan antitesa akan membentuk sintesa. Namun yang terjadi malah potensi-potensi yang terdapat dalam elemen sosial kemasyarakatan dan keluarga menjadi faktor penghambat dalam keprofesionalism karena penerapannya tidak tepat. Penerapan profesional didasarkan atas antara like dan dislike. belum lagi motif-motif yang ada dibalik dari semua itu seperti keserakahan dan lain-lain. Maka kita bisa bayangkan kira-kira jika hal itu terjadi juga dalam dunia pendidikan. seketika itu juga biaya dokter semakin mahal. mereka dapat berkembang maju khususnya dalam dunia profesional dan ilmu pengetahuan. Bagaimana memang ia tidak mampu. kolega yang lain tidak boleh mengambil alih proyek yang telah ditangani koleganya. lalu kalau penerapannya dibuat kaku. paralel dengan yang telah mengenyampingkan masalah agama. Menarik memang untuk membicarakan (discourse) profesionalism terkait dengan etika. berkenalan dan berbagi pengalaman. Namun kembali lagi ke diri mereka sendiri. bagaimana bila owner yang memutuskan. suatu saat mungkin saja antar arsitek itu dan bertemu. manusia mati oleh karena penerapan prinsip-prinsip kemanusiaan atau etika yang salah. pada akhirnya rasa sosial kemasyarakatan dan kekeluargaan tercerabut dari jiwa mereka dengan dampak kehampaan atau kesendirian melanda jiwanya. mereka membuat sistem dimana jika seseorang membuat kesalahan maka akan diberi peringatan terlebih dahulu. ras dan suku. maka terjadi lemparan tanggung jawab dan itu adalah tanggung jawab pemerintah. Ketika pajak dinaikkan untuk mendapatkan dana bagi rakyat miskin. namun jika salah satu komponen mengalahkan yang lain maka komponen yang dominan akan muncul sebagai yang terdepan ataupun menyingkirkan yang kalah. Jika etika profesional itu | ARSITEKTUR DAN ETIKA 12 . Justru dengan itu. sebagai konsekuensi dari teori Hegel dengan dialektikanya. Sistem yang mereka terapkan cukup bagus dan terbukti dapat mencetak manusia-manusia yang handal dalam dunia profesional sekaligus sebagai pembuktian mereka bahwa tanpa unsur-unsur agama dan sosial masyarakat. dari metode yang demikian kita bisa menelaah lagi dan dapat membayangkan apa kira-kira etika yang sebaiknya dilakukan.

hingga arsitektur. lingkungan. Maka kita dapat melihat hubungan “Keinginan tanpa keinginan” Anatman dengan permasalahan etika. ketika kita menilai kearifan lokal itu adalah sebuah kegiatan atau lebih banyak bentukan yang terlihat jelas dengan mata maka akan terjadi anakronis makna. KEARIFAN LOKAL SEBAGAI ETIKA “Tanda masih terlihat jelas walau pelan meranggas. yang pada saat ini bisa jadi mandi di sungai Deli atau mandi di kolam Deli adalah suatu bentuk ketotolan lokal sementara terdapat rumah mewah di dekat sungai Deli lengkap dengan fasilitas kolam renang private yang berbiaya tinggi. Seperti kata Prof. Apakah kearifan lokal itu hanya sekedar mandi dengan memakai gayung yang notabene adalah warisan budaya Indonesia lebih efisien daripada mandi dengan bathup sedangkan rakyat zaman dahulu yang bahkan putri-putri raja mandinya di sungai. Entitas dari budaya masyarakat terlihat jelas disini dan jelas value-nya dalam pandangan adat dan secara tidak sadar diikuti oleh sebahagian besar oleh masyarakat Indonesia. misalnya perkawinan. sekarang ini sudah mulai hilang”. Kita juga harus mengkaji. Dalam adatnya mandi dengan memakai gayung adalah bagian dalam sebuah prosesi suatu acara adat. Mandi dengan gayung adalah sebuah kegiatan yang merupakan warisan adat istiadat salah satu suku di Indonesia dan bukan warisan pemikiran efisiensi penghematan air. mulai bidang budaya. maka tidak perlu lagi pemerintah turun tangan untuk menyelesaikannya sedangkan pemerintah juga mempunyai masalah sendiri yang sangat besar dan kronis yang bernama korupsi. dimana manusia yang memilih untuk menuruti keinginan pribadinya tak punya waktu untuk melayani sesamanya disebabkan keinginan itu sendiri adalah hasrat pribadi yang tidak ada habis-habisnya. disamping itu hasrat yang tidak tercapai juga dapat melahirkan prasangka-prasangka. tewas” Kearifan lokal dipercaya dari berbagai disiplin ilmu dan profesional adalah sebuah warisan yang sangat berharga dan harus dipertahankan. Sebagai catatan. apa yang dimaksud dengan kearifan lokal itu. | ARSITEKTUR DAN ETIKA 13 . selamatan dan lain-lain. kolam dan dipancuran yang airnya terus mengalir. alangkah baiknya kita bergerak turun memakai apapun keahlian kita dengan tanpa pamrih untuk membantu orang yang benar-benar memerlukannya. Eko Budihardjo. Namun. Menunggu pemerintah selesai dengan permasalahannya yang tak kunjung selesai adalah sebuah usaha yang sia-sia. Dengan pemikiran seperti ini para arsitek Indonesia mulai dari dunia pendidikan sampai profesional menyadari pentingnya kearifan lokal sebagai suatu asset yang berharga dengan cara mempertahankan bangunan-bangunan bersejarah.Tugas MK Etika Profesi – S2 Arsitektur Profesional USU Semester A – 2012 menyentuh kepada dunia yang diluar profesionalism atau dirinya sendiri. ekonomi. sedangkan sang penanda sudah musnah tertebas zaman. politik. “Banyak sekali kearifan lokal yang dimiliki bangsa Indonesia.

di Barat dan Timur. usaha melahirkan konsep green bahkan usaha mengubah najis menjadi makanan. Kabupaten Mojokerto. Kearifan itu selamanya akan tetap ada di mana saja. namun kearifan lokal itu ada pada diri sendiri yang memikirkan usaha penghematan air dengan memakai gayung. Lalu manakah yang dapat disebut kearifan lokal? Bisa jadi kearifan lokal itu sendiri sudah mati dan yang tersisa hanya tanda-tanda peninggalannya saja yang belum tentu sesuai dengan perkembangan sosial budaya masyarakat. Kearifan lokal (pribadi) ini tidaklah dapat menjadi sebuah keinginan pribadi dalam konteks hasrat karena jika gayung adalah warisan kearifan lokal maka benarlah jadinya tidak ditemukan catatan siapa penemunya. di Utara dan Selatan. Namun | ARSITEKTUR DAN ETIKA 14 . tentunya sangat naif jadinya dan akan menjadi anakronis. mulai dari zaman dahulu. Kearifan lokal yang sejati bukanlah terletak pada benda-benda atau sebuah bentuk kegiatan yang terlihat dengan mata. Bangsa barat belakangan ini sudah menemukan cara memanfaatkan dan mengolah air seni untuk bisa diminum kembali. apalagi dengan meninggikan nilai satu aktifitas penggunaan alat saja sebagai sebuah asset dari kearifan lokal namun melupakan dan menyembunyikan kenyataan yang lainnya. karena itu hanyalah bentuk luar saja. muncul ke khalayak ramai secara khusus memperkenalkan gayung sebagai alat untuk efisiensi air agar tercatat dalam sejarah terkecuali ada orang lain yang mencatatnya. sampai yang akan datang. di setiap zaman. selama masih ada manusia yang memikirkan dan berusaha bukanlah untuk dirinya sendiri melainkan untuk kepentingan orang banyak. Bagaimana mungkin orang-orang arif penemu gayung berbangga diri terhadap apa yang dilakukannya. Dukuh Dinuk Desa Temon. sekarang.Tugas MK Etika Profesi – S2 Arsitektur Profesional USU Semester A – 2012 Zaman dahulu air bersih sangat melimpah dan jika kita padankan dengan penemuan gayung sebagai sebuah hasil pemikiran zaman itu dan menjadi solusi atau cara penghematan air. bahkan bangsa Jepang sudah bisa mengubah najis manusia menjadi barbeque. Kolam Pemandian Raja-Raja Majapahit – Komples Candi Tikus. Jawa Timur. Kecamatan Trowulan.

melainkan orang yang menemukan gayung dan orang yang menggunakannya secara sadar. bangunan-bangunan kolonial dipertahankan sebagai yang disebut “kearifan lokal”. Namun esensi etika dari mempertahankan bangunan bersejarah itu sendiri tidak jelas.Tugas MK Etika Profesi – S2 Arsitektur Profesional USU Semester A – 2012 dengan melihat dari kolam pemandian yang telah ditinggalkan sejarah sungguh sangat berlainan dengan kearifan lokal sejati pada masa itu walaupun adat istiadat sudah memberikan isyarat yang sesuai gambaran tentang kearifan lokal. Maka lembaga-lembaga swadaya masyarakat mempertahankannya dengan sedemikian gencarnya dengan pemerintah yang sungkan-sungkan untuk melayaninya. juga bukan gayungnya. Kolam Pemandian Putri Raja Syailendra – Kompleks Candi Umbul. Pada perspektif yang lain. Ada juga yang menilainya sebagai kenangan di masa lalu. Anehnya. juga tak selesai-selesai mandi. Akhirnya | ARSITEKTUR DAN ETIKA 15 . dengan menghancurkannya untuk menghapuskan simbol-sombol penjajahan juga tidak dapat dibenarkan karena dendam tidaklah dapat disebut “kearifan lokal”. Sebagian orang beralasan bangunan sejarah juga sebagai identitas bangsa. kolam pemandiankah yang harus dipertahankan ataukah gayungnya? Sudah pasti bukan kolam pemandiannya yang arif. Kabupaten Magelang Jawa Tengah. toh yang paling banyak berkunjung adalah bangsa-bangsa bekas penjajah yang sedang santai makan dan minum di restoran Tip-Top. Atau dengan kata lain. adat istiadat tidak memberikan gambaran yang tepat dengan kegiatan efisiensi. Karena cukup beberapa cidukan gayung maka acara mandi adat itu sudah selesai tanpa ada yang menyampaikan pesan dengan jelas bahwa terdapat sebuah pemikiran tentang efisiensi air melainkan hanya masalah prosesi adat semata. Identitas yang bagaimana? Apakah identitas dari bangsa yang pernah terjajah yang sekarang ini sepertinya dijajah oleh bangsa sendiri sedangkan yang membangun bangunan tersebut adalah bangsa penjajah dengan memberdayakan rakyat jajahannya. Memang. Karena bisa jadi orang yang cukup 5 cidukan gayung sudah selesai mandi lebih arif daripada orang yang 100 gayung menyamai bahkan melebihi volume bathup.

akan lebih arif lagi bila orangorang “terkini” berusaha untuk mencetak orang-orang atau pribadi yang arif selagi “kearifan yang lain” mengumpulkan sisa-sisa kearifan yang hanya terlihat pada benda-benda yang sedikit demi sedikit menghilang. Sang Luwak dengan pandangan heran berkata: “Bisa-bisanya najisku dikatakan terlezat dan termahal di dunia” | ARSITEKTUR DAN ETIKA 16 . dipertahankan sebagai identitas dan perjalanan sejarah bangsa Indonesia dapat disebut sebagai cerminan dari etika orang-orang “terkini” yang memiliki “kearifan” lokal untuk menelusuri kembali demi menemukan suatu formula yang tepat di dalam menjalani perkembangan dan perubahan zaman dengan tanpa harus kehilangan identitas seperti yang dialami bangsa-bangsa Barat. Dan dengan tanpa mengabaikan “kearifan” tadi. dengan tidak menafikan pentingnya sejarah serta peninggalannya. penjajah-penjajah masa kini tidak akan bisa mencapai “kearifan lokal” seperti yang dimaksud. “Segala bentuk penjajahan” itulah yang harus di eliminir. Memang. kompleks pemandian raja-raja dan bangunan kolonial. sebagai analogi dari segala bentuk hasrat harus dihapuskan. “Segala bentuk penjajahan di muka bumi harus dihapuskan”. Karena hanya orang-orang yang ariflah yang dapat menerima pesan dari kearifan orang-orang terdahulu dari peninggalan-peninggalannya dan hasilnya tentu akan lebih inovatif dan bervariasi dimasa yang akan datang. Sebagai catatan. Lalu yang manakah kearifan lokal itu? Bangunannya kah atau orang yang memikirkan agar bangunan itu agar tetap bertahan ataukah pengunjung bangunan bersejarah? Namun akan lebih arif lagi bila kita menghargainya dan mempertahankannya dengan perspektif bahwa kita pernah terjajah dan maksud mempertahankan bangunan itu adalah supaya dimasa depan akan menjadi pengingat bagi kita agar tidak terjajah dan menjajah lagi. termasuk menghapus penjajahan yang dilakukan oleh bangsa sendiri sebagai analogi dari segala bentuk keserakahan harus dihapuskan.Tugas MK Etika Profesi – S2 Arsitektur Profesional USU Semester A – 2012 konsep mendaya guna kembali dan ekonomis jualah yang menang yaitu dengan cara memfungsikan kembali dan membuat suatu kegiatan yang bernilai ekonomis yang ada nilai baliknya untuk perawatan bangunan bersejarah dengan tanpa memerlukan esensi etika dari orang-orang yang santai di bangunan tersebut. “keinginan tanpa keinginan”. sebagai analogi “tingkat dua” dari Buddha dengan An-atma-nya. Seperti dalam teks proklamasi.

Terima kasih. namun tetaplah pribadi diri sendiri yang menjadi benteng pertama dan terakhir akan menentukan bagaimana ia harus bersikap dan bertindak.Tugas MK Etika Profesi – S2 Arsitektur Profesional USU Semester A – 2012 Perubahan dan perkembangan sosial dan budaya masyarakat baik itu karena masuknya arus Barat maupun arus-arus yang lain tidaklah dapat sepenuhnya dibendung. sosial dan budaya. Dengan memohon ampun kepada Tuhan Yang Maha Esa dan meminta maaf kepada pembaca bila ada kalimat-kalimat dan pemikiran yang menyinggung perasaan ataupun yang salah. Bentuk usaha “memikirkan” itu yang tidak terlihat sebagai bentuk intangible dari etika sedangkan bentuk yang dapat dilihat bisa berupa apa saja. penulis mengharapkan masukan dari semua pihak. yang jika tidak ada seperangkat alat tersebut plus dengan hukum modern. Yaitu bagaimana seseorang itu berusaha memikirkan untuk masa depan dan untuk kepentingan orang banyak maka itulah yang dimaksud dengan kearifan lokal. yaitu berserah diri. tidak harus sama dengan masa lalu dan bisa saja berbentuk seperti daging barbeque yang nikmat dan lezat berbahan dasar dari olahan najis sepanjang orangorang tidak muntah untuk mengkonsumsinya. marilah sama-sama menggali dan membangun kearifan lokal yang ada tersembunyi dalam jiwa masing-masing demi kepentingan orang banyak. | ARSITEKTUR DAN ETIKA 17 . agama dan filsafat karena etika yang sejati tidak lepas dari hal-hal semacam itu walaupun sudah dikhususkan sesuai dengan jenis profesional masing-masing. “Keinginan tanpa keinginan”. maka tidak bakalan ada yang namanya Arsitektur. atau dapat dikatakan kebebasan yang tidak terkendali. membuang segala purba sangka. adat istiadat. Dengan didasari atas kesadaran akan kelemahan diri penulis sendiri dan menerima kelemahan orang lain serta mengakui kelebihan orang lain. baik itu dari prilaku. Selebihnya adalah kembali ke analogi “tingkat satu” Buddha dengan An-atmanya. siapapun dan apapun latar belakangnya. Maka kesabaran dan keikhlasan jualah yang menjadi jembatan penyeberangan untuk tidak jatuh ke dalam jurang kehancuran yang dalam demi menuju kemajuan dunia profesionalism yang lebih baik lagi dan khususnya untuk kemajuan Arsitektur. PENUTUP Penulis berusaha mengkaji etika lebih dalam lagi dari berbagai sudut pandang.