You are on page 1of 65

BAB I : Pendahuluan

Pembangunan kesehatan tahun 2006 di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam menunjukkan peningkatan yang lebih baik dari tahun 2005, kondisi daerah yang semakin kondusif dan peningkatan anggaran pembangunan kesehatan memberi arah yang lebih menunjang, usaha-usaha didalam peningkatan pelayanan publik disektor kesehatan mulai dari pelayanan dasar sampai dengan pelayanan rujukan terus mendapat pembenahan. Konstribusi petugas kesehatan di seluruh kabupaten/kota menunjukkan komitmen yang semakin baik dan bergairah didalam melaksanakan pelayanan kesehatan baik pada tingkat administrasi maupun tehnis. Kesadaran masyarakat terhadap prilaku hidup bersih dan sehat menunjukkan peningkatan dari waktukewaktu hal ini harus terus kita jaga, mengingat penyebab penyakit yang disebabkan lingkungan dan pola hidup yang tidak sehat masih sangat dominan, keluhan masyarakat terhadap pelayanan rujukan masih terasa namun secara bertahap permasalahan ini dapat diatasi dengan peningkatan pengetahuan tenaga medis maupun non medis baik secara tehnis maupun manajemen. Hal lain yang perlu disadari bahwa keberhasilan peningkatan kesehatan masyarakat juga dipengaruhi dari dukungan instansi instansi pemerintah lainnya seperti pendidikan, pertanian, perdagangan, BKKBN, Pekerjaan Umum, Bappeda dan lain-lain, dengan kolaborasi semua instansi yang ada semakin mempercepat pencapaian Visi Aceh Sehat 2010. Kondisi pembangunan kesehatan tahun 2006 secara lintas program dijalankan dengan strategi dan perencanaan yang berpihak kepada masyarakat, saat ini yang masih dibutuhkan adalah dukungan tehnis dari semua pihak terutama Departemen Kesehatan RI, Pemda Provinsi NAD dan Pemda Kabupaten/Kota

Profil Kesehatan Provinsi NAD Tahun 2007 data 2006

maupun pihak terkait lainnya terhadap peningkatan mutu pelayanan yang lebih baik. Untuk memberi gambaran terhadap peningkatan pelayanan kesehatan maka profil kesehatan yang dikeluarkan setiap tahun merupakan media untuk memberi gambaran terhadap langka-langkah yang telah ditempuh oleh Dinas Kesehatan Provinsi, Dinkes Kab/Kota, RSU dan Puskesmas beserta seluruh jajaran kesehatan yang ada. Namum demikian masih dijumpai beberapa issu kesehatan strategis yang mendesak antara lain: 1. Pemerataan penempatan tenaga kesehatan. 2. Kekurangan tenaga dokter spesialis. 3. Desa Siaga 4. Peningkatan kualitas pelayanan Issu strategi diatas merupakan tantangan yang harus secepatnya dapat diselesaikan. Kondisi keamanan yang sudah kondusif merupakan peluang didalam mendorong penyelesaian tantangan yang ada. Sebagai salah satu pedoman didalam pencapai visi yang telah ditetapkan dan penyelesaian tantangan yang ada, Renstra Pembangunan Kesehatan Provinsi NAD 2006-2010 harus menjadi pedoman yang kuat didalam perencanaan pembangunan kesehatan. Hal lain yang cukup signifikan adalah peningkatan jumlah anggaran untuk sektor kesehatan melalui anggaran APBN yang diberikan oleh Pemerintah Pusat melalui Dana Alokasi Khusus (DAK), Tugas Pembantuan (TP) dan Bantuan Luar Negeri yang secara langsung melakukan perbaikan terhadap seluruh fasilitas kesehatan, baik fisik maupun non fisik yang mengalami kerusakan diakibatkan bencana tsunami. Dukungan ini merupakan hal yang positif untuk peningkatan pelayanan kesehatan di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, yang dapat dikatakan cukup tertinggal dibanding dengan Provinsi lainnya.
Profil Kesehatan Provinsi NAD Tahun 2007 data 2006

Sejalan hal tersebut di atas, didalam usaha pemantauan peningkatan pelayanan kesehatan, profil kesehatan Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Tahun 2007 telah dapat terbit. Pada tahun-tahun mendatang profil kesehatandiupayakan dapat terbit pada awal bulan April dengan kualitas dan sajian data yang lebih baik. Untuk tahun ini strategi didalam penyusunan data profil dilakukan dengan metode kroscek data, analisa, korelasi antar table dan program, serta cek and balance dari seluruh program, sehingga keakuratan dan informasi yang disajikan dapat memberi gambaran yang benar dari kondisi yang ada kemudian dilakukan memutakhiran data di tingkat Provinsi. Secara data dilakukan dalam bentuk peta, grafik kependudukan dan pencapaian indikator SPM per Kabupaten/Kota, sedangkan didalam pembahasan menyajikan perbandingan pencapaian indikator dari tahun sebelumnya dan target yang akan dicapai. Sampai saat ini Profil Kesehatan Provinsi NAD masih mengacu kepada tabel Indikator Indonesia Sehat 2010 dan Tabel Standar Pelayanan Minimal yang bersumber dari Program-Program Kesehatan, data yang diperoleh dari Kantor Statistik, BKKBN, Bappeda serta dukungan penuh dari Dinkes/RSU Kabupaten/ Kota di seluruh Provinsi NAD.

Profil Kesehatan Provinsi NAD Tahun 2007 data 2006

BAB II : Gambar Umum

A. GEOGRAFI DAN KEPENDUDUKAN 1. Geografis Nanggroe Aceh Darussalam merupakan provinsi yang terletak antara 2 sampai 6 lintang utara dan 95 sampai 98
0 0 0 0 0

bujur timur , temperatur rata-

rata 25 C, dengan kelembaban rata-rata 85%, Curah hujan rata-rata setiap tahun berkisar 3,0 sampai 245,9 mm. Secara geografis Provinsi NAD berbatasan sebagai berikut: sebelah utara berbatasan dengan Selat Malaka; sebelah selatan dengan Provinsi Sumatera Utara; sebelah timur berbatasan dengan Selat Malaka dan sebelah barat dengan Samudera Indonesia, luas Provinsi NAD kurang lebih 57.755,87 km , terdiri dari 21 Kabupaten/Kota, 257 Kecamatan, 6.335 Desa. 2. Kependudukan. a. Jumlah dan Pertumbuhan Penduduk. Jumlah penduduk Provinsi NAD tahun 2006 sebesar
4.247.905
2

jiwa. Laju pertumbuhan penduduk pada periode 2005-2006 sebesar 1,06 % hal ini sedikit mengalami perubahan dibandingkan dengan periode sebelumnya yaitu 1.65%. Jumlah penduduk laki-laki
2006).

2.073.948 dan

perempuan 2.027.647 dengan sex rasio 1,05. (Sumber data Kabupaten/Kota

b. Kepadatan Penduduk

Profil Kesehatan Provinsi NAD Tahun 2007 data 2006

Kepadatan penduduk tahun 2006 di Provinsi NAD adalah 73.97/km2, bila kepadatan penduduk dilihat untuk setiap kabupaten/kota maka kota Banda Aceh dengan tingkat kepadatan tertinggi, yaitu 3.501,47 per km2, sedangkan yang paling jarang adalah Kabupaten Aceh Jaya dengan tingkat kepadatan
17,46 per km2.

Kepadatan penduduk Provinsi NAD menurut Kabupaten/Kota pada tahun 2006 dapat dilihat pada gambar berikut: Grafik II. 1 Kepadatan Penduduk menurut Kabupaten/Kota Tahun 2006
Kepadatan Penduduk Tahun 2006 di Provinsi NAD
A ce h Ja ya G a yo L u e s Na g a n Ra ya A ce h T e n g a h Si m e u lu e Ace h Si n g kil A ce h S e la ta n Ace h B a ra t Da ya A ce h T i m u r Ace h B a ra t Ace h T e n g g a ra B e n e r M e ri a h A ce h Be sa r A ce h T a m i a n g Pi d ie Ace h Uta ra Ko ta S a b a n g Bi re u e n Ko ta L a n g sa K o ta L h o kse u m a we Ko ta B a n d a A ce h

500,00

1.000,00

1.500,00

2.000,00

2.500,00

3.000,00

3.500,00

4.000,00

Profil Kesehatan Provinsi NAD Tahun 2007 data 2006

c. Distribusi Usia Penduduk di Provinsi NAD Secara grafik dapat dilihat distribusi usia penduduk melalui grafik dibawah ini Grafik II. 2 Distribusi Penduduk Menurut Kabupaten/Kota Tahun 2006

>65

Laki-laki

45-64

Perempuan

15-44

5-14

0-4

1000000

800000

600000

400000

200000

0,

200000,

400000,

600000,

800000,

1000000,

1200000,

Bila dilihat dari grafik diatas maka usia produktif di Provinsi NAD masih sangat dominan disusul usia pra usila, usia sekolah dan balita selanjutnya sebahagian kecil adalah usia usila. Hal ini sangat memberi arti bagi pembangunan, dimana dengan masih tingginya usia produktif menunjukkan beban tanggungan dapat dibiayai
Profil Kesehatan Provinsi NAD Tahun 2007 data 2006

secara maksimal. Hal lain yang dapat dilihat bahwa perbandingan laki-laki dengan perempuan masih seimbang.
B. LINGKUNGAN FISIK DAN BIOLOGIK

Untuk menilai keadaan lingkungan dan upaya yang dilakukan untuk menciptakan lingkungan sehat telah dipilih empat indikator yang diprogramkan dalam sektor kesehatan, yaitu presentase keluarga yang memiliki akses air bersih, presentase rumah sehat, keluarga dengan kepemilikan sarana sanitasi dasar, Tempat Umum dan Pengolahan Makanan (TUPM) . Secara geografis wilayah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam berada pada daerah tropis, dimana iklim dan lahannya cukup potensial untuk berkembang biaknya vektor serta kuman penyakit yang setiap saat dapat mengancam kesehatan masyarakat. Beberapa upaya untuk memperkecil resiko turunnya kualitas lingkungan telah dilaksanakan oleh berbagai instansi terkait seperti pembangunan sarana sanitasi dasar, pemantauan dan penataan lingkungan, pengukuran dan pengendalian kualitas lingkungan. Pembangunan sarana sanitasi dasar bagi masyarakat yang berkaitan langsung dengan masalah kesehatan meliputi penyediaan air bersih, jamban sehat, perumahan sehat yang biasanya ditangani secara lintas sektor. Sedangkan dijajaran Dinas Kesehatan Provinsi dan Kabupaten/Kota kegiatan yang dilaksanakan meliputi pemantauan kualitas air untuk minum, pemantauan sanitasi rumah sakit, pembinaan dan pemantuan sanitasi tempat-tempat umum (Hotel, Terminal), tempat pengolahan makanan, tempat pengolahan pestisida dan sebagainya. Didalam memantau pelaksanaan program kesehatan lingkungan dapat dilihat beberapa program kesehatan lingkungan sebagai berikut:
Profil Kesehatan Provinsi NAD Tahun 2007 data 2006

1. Penggunaan Air Bersih

Untuk tahun 2006 jumlah keluarga yang diperiksa yang memiliki akses air bersih masih sangat minim. Dari hasil pengumpulan data melalui profil Kesehatan Kabupaten/kota penggunaan air bersih pada setiap keluarga yang paling tertinggi adalah sumur gali + 67,24%, ledeng + 19,41%, Lainlain + 7%, sumur pompa tangan + 3,327% dan Penampungan Air Hujan + 2,2%, sedangkan penggunaan air kemasan 0,84%. Secara grafik dapat dilihat sebagai berikut: Grafik II.4 Persentase Keluarga Memiliki Akses Air Bersih Tahun 2006 dan 2005

LAINNYA KEMASAN PAH SGL SPT LEDENG 0,00 10,00 20,00 30,00 40,00 50,00 60,00 70,00 2006 2005

Dari gambaran diatas menunjukkan penurunan pada akses lain-lain pada sumur gali menunjukkan peningkatan serta pada ledeng, hal ini berarti peningkatan penggunaan air bersih pada keluarga tahun 2006 lebih baik. 2. Rumah Sehat Bagi sebagian besar masyarakat, rumah merupakan tempat berkumpul bagi semua anggota keluarga dan menghabiskan sebagian besar waktunya, sehingga kondisi kesehatan perumahan sangat berperan
Profil Kesehatan Provinsi NAD Tahun 2007 data 2006

sebagai media penularan penyakit diantara anggota keluarga atau tetangga sekitarnya. Pada tahun 2006 telah dilakukan pemeriksaan rumah sehat di beberapa Kabupaten/Kota menunjukkan kondisi 54,47% dinyatakan sehat dari 480.884 rumah yang dilakukan pemeriksaan. Dari data yang ada maka program sosialisasi terhadap masyarakat untuk membangun rumah sehat perlu terus dilakukan sehingga pencegahan terhadap penyakit vektor dapat diperkecil dan penyebab penyakit lainnya dari lingkungan sekitar rumah. Grafik II.5 Persentase Rumah Sehat Menurut Kabupaten/Kota Tahun 2006 dan 2005
100,00 90,00 80,00 70,00 60,00 50,00 40,00 30,00 20,00 10,00
Nagan Raya Bener Meriah Aceh Tamiang Aceh Timur Aceh Singkil Aceh Tengah Aceh Barat Daya Gayo Lues Simeulue Pidie Kota Lhokseumawe

2006 2005

Aceh Tenggara Aceh Selatan

Aceh Jaya

Kota Sabang

Kota Banda Aceh

Kota Langsa

Bireuen

Aceh Utara

Aceh Barat

Aceh Besar

Profil Kesehatan Provinsi NAD Tahun 2007 data 2006

Dari Grafik diatas menunjukkan beberapa kabupaten/kota menunjukkan peningkatan rumah sehat dan beberapa kabupaten/kota lainnya menunjukkan penurunan, namun demikian strategi peningkatan rumah sehat perlu terus dilakukan.

3. Keluarga Dengan Kepemilikan Sarana Sanitasi Dasar.

Keluarga dengan kepemilikan sarana sanitasi dasar meliputi persediaan air bersih, kepemilikan jamban keluarga, tempat sampah dan pengelolaan air limbah keluarga keseluruhan hal tersebut sangat diperlukan didalam peningkatan kesehatan lingkungan. Dari hasil pendataan yang diberikan oleh kabupaten/kota melalui data profil menggambarkan sampai tahun 2006 persediaan air bersih mencapai 64,99%, ketersediaan jamban keluarga 68,54%, ketersediaan tempat sampah 52,12% dan tempat pengelolaan air limbah keluarga 38,36%. Secara nominal dapat dilihat pada grafik berikut. Grafik II.6 Keluarga Dengan Kepemilikan Sarana Sanitasi Dasar Tahun 2006 dan 2005

Profil Kesehatan Provinsi NAD Tahun 2007 data 2006

10

500.000 400.000 300.000 200.000 100.000 PERSEDIAAN AIR BERSIH 444.418 317.737 215.385 150.841 TEMPAT SAMPAH 275.328 127.057 128.816 72.628 PENGELOLAA N AIR LIMBAH 376.749 167.705 180.452 69.214

JAMBAN 419.436 234.241 182.734 125.250

JUMLAH KK DIPERIKSA 2006 JUMLAH KK MEMILIKI 2006 JUMLAH KK DIPERIKSA 2005 JUMLAH KK MEMILIKI 2005

Dari data diatas menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan terhadap kepemilikan sarana sanitasi dasar di provinsi NAD tahun 2006 dibandingkan tahun 2005, hal pertama adalah kelengkapan data dari Kabupaten/Kota pada tahun 2006 lebih lengkap dibandingkan tahun 2005, hal lain menunjukkan penilaian terhadap sarana sanitasi dasar sudah lebih aktif.

4. Tempat Umum dan Pengolahan Makanan (TUPM)

Makanan termasuk minuman, merupakan kebutuhan pokok dan sumber utama bagi kehidupan manusia, namun makanan yang tidak dikelola dengan baik justru akan menjadi media yang sangat efektif didalam penularan penyakit saluran pencernaan (Food Borne Deseases). Terjadinya peristiwa keracunan dan penularan penyakit akut yang sering membawa kematian banyak bersumber dari makanan yang berasal dari tempat pengolahan makanan (TPM) khususnya jasaboga, rumah makan dan makanan jajanan yang pengelolaannya tidak memenuhi syarat kesehatan atau sanitasi lingkungan. Sehingga upaya pengawasan terhadap sanitasi makanan amat penting untuk menjaga kesehatan konsumen atau masyarakat. Hasil pengawasan terhadap kualitas

Profil Kesehatan Provinsi NAD Tahun 2007 data 2006

11

penyehatan tempat umum dan pengolahan makanan

tahun 2005 +

72,88% dinyatakan sehat secara absolut dapat dilihat pada grafik berikut. Grafik II.7 Persentase Tempat Umum Dan Pengelolaan Makanan (TUMP) Yang Telah di Lakukan Pemeriksaan Tahun 2006 dan 2005

10.000 8.000 6.000 4.000 2.000 JUMLAH YANG ADA 6.433 8.607 JUMLAH YG DIPERIKSA 3.744 5.393 JUMLAH YG SEHAT 2.524 3.418

2005 2006

BAB III: Situasi Derajat Kesehatan


Beberapa indikator penting untuk mengukur derajat kesehatan masyarakat pada suatu daerah adalah Angka Kematian Ibu (AKI), Angka Kematian Bayi (AKB), Umur Harapan Hidup (UHH) dan Status Gizi. Indikator tersebut ditentukan dengan 4 faktor utama yaitu Perilaku Masyarakat, Lingkungan, Pelayanan Kesehatan dan Faktor Genetika. Keempat faktor utama ini diintervensi melalui beberapa kegiatan pokok yang mempunyai dampak ungkit besar terhadap upaya-upaya percepatan penurunan

Profil Kesehatan Provinsi NAD Tahun 2007 data 2006

12

AKI, AKB, AKABA dan Peningkatan Status Gizi Masyarakat serta status Angka Kesakitan dan Kondisi Penyakit Menular. Keberhasilan upaya-upaya kesehatan yang dilakukan dapat dinilai sebagai indikator output yang cukup signifikan mempengaruhi indikator outcome sebagaimana yang dijelaskan berikut ini.
A. UMUR HARAPAN HIDUP (UHH).

Untuk perkembangan Umur Harapan Hidup di Provinsi NAD dari tahun ketahun masih mempedomani Umur Harapan Hidup Nasional, dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel III.1 Umur Harapan Hidup Provinsi NAD dan Nasional Pada tahun 2005 dan 2006 Tahun 2005 No 1 2 Umur Harapan Hidup Laki-Laki Perempuan NAD 67 69 Nasiona l 68 70 Tahun 2006 NAD 68 69 Nasional 68 70

dalam RPJM 2006-2012, upaya untuk meningkatkan UHH menjadi 70 Tahun merupakan hal pentig yang perlu dicermati melalui upaya-upaya peningkatan kegiatan program yang berdampak pada tingkat kesejahteraan masyarakat seperti penurunan resiko kesakitan, pada keluarga rentan, trend penyakit degeneratif dan tidak menular, serta peningkatan kesehatan par usila yang dapat hidup produktif dan mandiri. B. ANGKA KEMATIAN BAYI (AKB)

Profil Kesehatan Provinsi NAD Tahun 2007 data 2006

13

Angka Kematian Bayi merupakan salah satu indikator yang paling sensitif untuk menentukan derajat kesehatan suatu daerah. Dari laporan jumlah kematian bayi yang disampaikan kabupaten/kota, dapat diperkirakan bersumber dari fasilitas pelayanan kesehatan (facility based) dan dari laporan masyarakat atau kader (community based). Tabel III.2 memperlihatkan laporan jumlah kematian bayi menurut kabupaten/kota 2006. Tabel III.2 Angka Kematian Bayi Per Kabupaten/Kota Di Provinsi NAD Tahun 2006
Angka Kematian Bayi / 1000 Kelahiran Hidup 48 39 33 32 31 26 20 18 18 14 14 14 Angka Kematian Bayi / 1000 Kelahiran Hidup 13 13 12 12 10 10 6 6 5 16

No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12

Kabupaten Kota Aceh Barat Daya Simeulue Aceh Tenggara Aceh Tengah Kota Langsa Aceh Barat Aceh Selatan Gayo Lues Aceh Singkil Aceh Jaya Aceh Timur Pidie

No 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22

Kabupaten Kota Aceh Tamiang Nagan Raya Bireuen Aceh Besar Bener Meriah Aceh Utara Kota Lhokseumawe Kota Sabang Kota Banda Aceh PROVINSI

Bila dilihat data Kabupaten/Kota menunjukkan Kabupaten Aceh Barat Daya menunjukkan angka tertinggi terhadap angka kematian bayi disusul kabupaten Simeulue dan Aceh Tenggara. AKB di provinsi NAD adalah sebesar 40/1000 lahir hidup dengan kisaran (16/1000 LH 40/1000 LH). Sementara AKB Nasional sebesar 35/1000 kelahiran hidup. Jadi AKB NAD masih diatas Angka Nasional. Bila dibandingkan dengan AKB tahun 2005, ternyata AKB tahun 2006 lebih tinggi, hal ini dapat dijelaskan sebagai berikut :
14

Profil Kesehatan Provinsi NAD Tahun 2007 data 2006

a. jumlah kematian yang dilaporkan tidak hanya berasal dari fasilitas pelayanan,

namun juga dari masyarakat (kader atau dukun bayi) b. Sistem pencatatan pelaporan kematian yang sudah semakin baik karena sebagian besar tenaga bidan sudah aktif kembali di desa. c. Peningkatan dan perbaikan sistem informasi kesehatan seiring dengan peningkatan sarana dan prasarana untuk fasilitas pelayanan, baik pelayanan kesehatan dasar di puskesmas dan jaringannya, juga pelayanan kesehatan rujukan (RSU).
d. AKB yang rendah terdapat pada daerah-daerah perkotaan dengan akses

pelayanan kesehatan yang memadai. C. ANGKA KEMATIAN IBU (AKI) Untuk mengetahui besaran masalah kesehatan ibu, indikator yang digunakan adalah Angka Kematian Ibu (AKI). Perhitungan AKI disetiap kabupaten/kota sulit dilakukan karena jumlah kelahiran hidup tidak mencapai 100.000 kelahiran hidup. Jumlah kematian ibu yang dilaporkan per kabupaten/kota dapat dilihat pada tabel III.3. Berdasarkan tabel tersebut maka perhitungan indikator AKI untuk provinsi NAD berkisar antar 212 237 dalam 100.000 kelahiran hidup. Untuk mengurangi bias perhitungan AKI yang direkomendasikan oleh WHO dalam 100.000 kelahiran hidup maka digunakan Ratio Kematian Ibu. Untuk menghitung rasio kematian ibu secara di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam tidak dapat dilakukan karena angka kelahiran di Provinsi NAD kurang dari 100.000 kelahiran hidup sehingga, namun demikian bila diasumsikan maka angka AKI Provinsi NAD tahun 2006 adalah kelahiran hidup. Tabel III.3 Rasio Kematian Ibu Per Kabupaten/Kota
Profil Kesehatan Provinsi NAD Tahun 2007 data 2006

224/100.000 kelahiran hidup

(Nasional 307/100.00 lahir hidup) sedangkan tahun 2005 adalah 349/100.000

15

Di Provinsi NAD Tahun 2006


No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21

Kabupaten Aceh Jaya Aceh Tenggara Aceh Tengah Aceh Barat Daya Aceh Selatan Simeulue Bener Meriah Aceh Singkil Gayo Lues Aceh Barat Kota Banda Aceh Bireuen Kota Langsa Kota Lhokseumawe Aceh Tamiang Pidie Aceh Timur Kota Sabang Nagan Raya Aceh Besar Aceh Utara Provinsi

Jumlah Kelahiran Hidup 1.255 3.372 2.505 2.128 3.886 1.826 2.662 3.469 1.100 2.279 3.865 7.163 2.628 3.441 5.439 13.663 6.857 718 2.243 6.279 12.410 89.18 8

Jumlah Kematian Ibu 8 18 12 10 18 7 9 10 3 6 9 15 5 6 8 20 10 1 3 8 14 200

Rasio Kematian / 100.000 KH 637,45 533,81 479,04 469,92 463,20 383,35 338,09 288,27 272,73 263,27 232,86 209,41 190,26 174,37 147,09 146,38 145,84 139,28 133,75 127,41 112,81 224,25

Bila jumlah ibu

dilihat pada

dari table

kematian

disamping menunjukkan bahwa pidie jumlah banyak yaitu kabupaten memililki yang 20

orang sedang kan bila dilihat angka Rasio menun angka AKI kabu jukkan tertinggi paten Aceh Jaya

disusul Kabupaten Aceh Tenggara.

Sedangkan penyebab kematian ibu untuk Provinsi Nanggoe Aceh Darussalam tahun 2006 masih didominasi oleh akibat lain-lain namun secara jelas penyebab kematian ibu dapat dilihat pada tabel dibawah ini : Grafik III.4
Profil Kesehatan Provinsi NAD Tahun 2007 data 2006

16

Penyebab Kematian Ibu DI Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Tahun 2006

120 100 80 55 60 40 20 0 Pendarahan Infeksi Jalan Lahir 18 26

104

Eklamasi / Pre Ibu Mati Sebab eklamsi Lain

1. Kegiatan Kebidanan/Persalinan DI RSU Informasi yang diperoleh pada kegiatan kebidanan meliputi : di RSU dapat dilihat pada gambar berikut ini : Jumlah lahir hidup, Jumlah lahir mati, Jumlah keguguran (abortus). Informasi mengenai kegiatan persalinan

Profil Kesehatan Provinsi NAD Tahun 2007 data 2006

17

Grafik III.5 Kegiatan Kebidanan/Persalinan Di Rumah Sakit Umum Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Tahun 2006

14% Persalinan Normal 42% Persalinan Komplikasi 24% Persalinan Sectio

20%

Persalinan Abortus

sumber : Laporan RL 1

Dari grafik di atas didapatkan gambaran secara provinsi bahwa persalinan terbanyak dilakukan di rumah sakit adalah persalinan normal (42%). Dari keseluruhan kasus terdapat 1919 (24%) persalinan dengan tindakan sectio caesarea, persalinan dengan komplikasi 20 % (1633 kasus) dan kasus abortus (keguguran) 1144 kasus (14 %). Kasus abortus yang ditangani di rumah sakit Provinsi NAD seperenam Sedangkan jumlah kematian perinatal yang terjadi di rumah sakit dan penyebabnya diketahui dari gambar berikut : dibandingkan dengan jumlah persalinan seluruhnya.

Grafik III.6 Kematian Perinatal Di Rumah Sakit Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Tahun 2006

Profil Kesehatan Provinsi NAD Tahun 2007 data 2006

18

163

Kematian Perinatal

Mati < 7 hr

237

Lahir Mati

50

100

150

200

250

Sumber : Laporan RL 1, diolah

Dari gambar tersebut di atas didapatkan gambaran bahwa dari total persalinan (6488) yang dilakukan di rumah sakit, sebanyak 6,2 % terjadi kematian perinatal. Kasus kematian perinatal terbanyak disebabkan lahir mati yaitu 237 kasus (59,3 %) dan kematian neonatal < 7 hari sebanyak 163 kasus (40,7 %).

Grafik III.7 Sebab Kematian Perinatal Di Rumah Sakit Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Tahun 2006
120 100 80 60 40 20
y x ia -l a in ir R L n

B B

D ia re

a h

C o

IS P

A s

K e

Sumber : Laporan RL 1, diolah

Sedangkan grafik diatas adalah data penyebab kematian perinatal sehingga diperoleh gambaran bahwa terdapat 36,9 % kematian perinatal disebabkan oleh lainlain, BBLR 31,6% dan 23,3 % disebabkan karena asphyxia,
Profil Kesehatan Provinsi NAD Tahun 2007 data 2006

3,8 % oleh trauma 19

a in

.L

l.

kelahiran, 2,3 % tetanus neonatorum, 1,9 % kelainan kongenital dan 0,4 % kematian perinatal disebabkan oleh ISPA.

C. ANGKA KESAKITAN Dari hasil pencatatan dan pengumpulan Survelance Provinsi Tahun 2006 secara umum dapat dilihat dari tabel dibawah ini: Tabel III.4 Penyakit Berbasis Puskesmas Di Provinsi NAD Tahun 2006
NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 NAMA PENYAKIT Influensa Diare Malaria klinis Diare berdarah Tersangka TBC paru Pneumonia Tifus perut klinis Malaria vivax Malaria falsifarum TBC paru BTA(+) Batuk rejan Campak Hepatitis klinis JUMLAH KASUS BARU 178.286 62.091 7.259 6.250 5.774 2.913 2.133 1.560 1.467 1.462 1.357 470 397 NO 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 NAMA PENYAKIT Demam berdarah dengue Filariasis Malaria mix Kusta MB Kusta PB Difteri Tetanus Sifilis Demam dengue Gonorrhoe JUMLAH KASUS BARU 309 285 257 249 169 95 43 19 16 5

Grafik III.8 10 (Sepuluh) Penyakit Terbanyak Berdasarkan Data STP Berbasis Puskesmas Sentinel Tahun 2006
Profil Kesehatan Provinsi NAD Tahun 2007 data 2006

20

25.000

24.474

20.000

15.000

10.000

8.830

5.000

3.441 2.004 1293


Diare Berdarah

827
Tersangka TBC Paru

396
Diabetes Melitus

366
Tifus Perut Klinis

269
Malaria Falsifarum

245
TBC P aru BTA(+)

0
Influensa Diare Hipertensi Malaria Klinis

Grafik III.9 10 (Sepuluh) Penyakit Terbanyak Berdasarkan Data STP RS Sentinel Rawat Jalan Tahun 2006
1.000 900 800 700 600 500 400 300 200 100 0
Diare Hipertensi Essensial Kecelakaan Lalu Lintas TBC Paru BTA(+) Tifus Perut W idal Jantung Hipertensi Kusta PB Tersangka TBC Paru DM YTT Influensa

916

542

508

226

225

204 168

164

145

138

Grafik III.10 10 (Sepuluh) Penyakit Terbanyak Berdasarkan Data STP RS Sentinel Rawat Inap Tahun 2006
Profil Kesehatan Provinsi NAD Tahun 2007 data 2006

21

1.400 1.200 1.000 800 600 400 200 0

1.247

329

281

266

260

232

232

231

194

182

Diare

DM Y TT

Tersangka TBC P aru

Hipertensi E ssensial

Tifur P erut Tifus P erut Klinis W idal

TBC P aru BTA(+)

P neumonia

Infark Miokard Akut

Kusta P B

D. PENYAKIT MENULAR Dalam rangka penanggulangan penyakit menular dilakukan berbagai kegiatan antara lain: (1) Gebrak Malaria yaitu gerakan untuk memberantas malaria dengan dukungan sektor terkait, masyarakat dan swasta, (2) Gerdunas TB, yaitu gerakan penanggulangan tuberkolosis melalui penggalangan kemitraan dengan sektor terkait dan masyarakat dan penerapan strategi pengobatan jangka pendek yang diawasi secara langsung, (3) pemberantasan demam berdarah dengue melalui pemberantasan sarang nyamuk, (4) pemberantasan kusta dengan mencari penderita sampai ke pulau-pulau dan daerah-daerah terpencil (5) pemberantasan penyakit-penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi. Data-data yang dapat disajikan sebagai berikut:

1. Diare

Penyakit diare adalah penyakit yang banyak menyerang golongan umur anak-anak terutama balita. Dimana hal ini dapat mempengaruhi
22

Profil Kesehatan Provinsi NAD Tahun 2007 data 2006

perkembangan pertumbuhan dan kualitas hidup anak. Upaya program pemberantasan melalui edukasi dan peningkatan kemampuan Pada penanggulangan kasus oleh petugas lapangan terus dilakukan.

tahun 2006 hanya 1 kabupaten yang tidak ada data yaitu kota sabang sedangkan tahun 2005 ada 5 Kabupaten yang tidak memiliki data sehingga pada grafik berikut menunjukkan peningkatan dan dapat dilihat pada grafik dibawah ini

Grafik III.11 Kasus Diare Di Provinsi NAD Tahun 2005 dan 2006

1 00. 000 90. 000 80. 000 70. 000 60. 000 50. 000 40. 000 30. 000 20. 000 1 0. 000 -

91.415 73.802 2005 2006

49.571 37.801

39.678 37.699

JML KASUS

JML DIARE PD BALIT A

BALIT A DIT ANGANI

P2 DIARE : JUM LAH KASUS M ENURUT BULAN PROVINSI NAD 2002-2006


18000 16000 14000 12000 10000 8000 6000 4000 2000

2002 2003 2004 2005 2006

M ar et

Fe br ua ri

Se pt

Ap ril

No v

Ok t

M ei

Ja nu ari

Ju ni

Ag us tus

De s

Ju li

Profil Kesehatan Provinsi NAD Tahun 2007 data 2006

23

2. Malaria Bentuk peran serta masyarakat yang diharapkan dalam upaya penanggulangan malaria antara lain melalui : (1) kepatuhan minum obat anti malaria agar setiap penderita dapat minum obat secara tuntas, (2) pencegahan gigitan nyamuk melalui pemakaian kelambu, pemasangan kasat kasa di rumah, pemakaian obat gosok penolak nyamuk (repellent), pemakaian baju tebal dan (3) pencegahan terjadinya sarang nyamuk malaria melalui pembersihan lumut di lagum, menghindari penebangan bakau yang tidak terencana, pencegahan terbentuknya genangan air, memelihara ikan pemakan jentik di genangan air serta pencegahan terbentuknya sarang nyamuk. Untuk Kasus Malaria masih merupakan penyakit endemis di beberapa Kabupaten di Provinsi NAD. Pada tahun 2006 Malaria Klinis 29.283 kasus klinis dan yg positif 4.852 kasus, secara umum dapat dilihat pada grafik berikut:

Grafik III.12
Profil Kesehatan Provinsi NAD Tahun 2007 data 2006

24

Kasus Malaria Klinis dan Positif Menurut Kabupaten/Kota Tahun 2006


4000 3500 3000 2500 2000 1500 1000 500 0
Ac eh Be sa r Pi d Ac Sim ie eh eu T lu Ko am e t a ian Be Sab g n e an rM g Ac eria Ac eh J h eh ay Te a ng Ko ta B ah Ba ire u nd en a Ac Ac eh eh B Ac Ace a ra eh h t Ba Tim ra u Na t Da r ga ya Ac n R eh a S ya Ac e lata eh n Ga Uta ra Ko yo L t a ue L s A an Ac ceh gsa Ko eh Sin ta T g Lh eng kil ok ga se um ra aw e

KLINIS POSITIF

Dari grafik diatas menunjukan kasus malaria positif tertinggi masih berada di Aceh Besar, Pidie, Simeulue dan Tamiang. 3. Demam Berdarah Dengue (DBD) Bila dilihat Angka Inciden DBD menurut Kabupaten/Kota yang dilaporkan melalui profil kesehatan Kabupaten/Kota sebagai berikut:

Profil Kesehatan Provinsi NAD Tahun 2007 data 2006

25

Grafik III.13 Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) Menurut Kabupaten/Kota PadaTahun 2006
250 200 150 100 50 0
Pidie Bireuen Simeulue Nagan Raya Aceh Barat Kota Langsa Aceh Besar Aceh Utara Aceh Jaya Gayo Lues Aceh Tamiang Kota Lhokseumawe Kota Banda Aceh Aceh Barat Daya Aceh Tenggara Bener Meriah Aceh Selatan Aceh Tengah Kota Sabang Aceh Timur Aceh Singkil

Kasus

Ditangani

Dari Grafik di atas menunjukkan Kota Lhokseumawe memiliki kasus yang terbanyak disusul Kota Banda Aceh, Aceh Besar dan Aceh Barat Daya.

Profil Kesehatan Provinsi NAD Tahun 2007 data 2006

26

PETA III.1 PETA TEMPAT PERUNDUKAN VEKTOR DI PROVINSI NAD TAHUN 2006

72 71

BA (1,3,5 AB
)
08

AJ
16

(3,9 )

Jenis Perindukan Genangan Parit Sawah Kubangan Saluran air/parit Genangan pasang surut Kolam/tambak Sungai Lagun Rawa Hutan bakau

74 09 L AU 10 B (1,7,10) 11 (3,7,8 (1,2,3,7 , P (1) ) BM ) 05 06 (7,8,11 07 (3,4,10 ATr (1,2 Ls ) AT ) ) (1,2,7 14 ABr 15 NR ATg GL13 ) 12

73

ABD AS
01

ATa
03

04

(7,10 )

(7,10)

ASk
(1,3,5,6) P.BANYAK

02

Profil Kesehatan Provinsi NAD Tahun 2007 data 2006

27

BAB IV : Situasi Upaya Kesehatan

Tujuan pembangunan kesehatan menuju Aceh sehat 2010 adalah meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud kesehatan masyarakat yang optimal, melalui terciptanya masyarakat dan daerah yang ditandai oleh penduduk hidup dengan perilaku yang sehat, memiliki kemampuan untuk menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu secara adil dan merata serta memiliki derajat kesehatan yang optimal di seluruh wilayah Republik Indonesia. Upaya kesehatan diarahkan untuk meningkatkan mutu dan kemudahan pelayanan kesehatan yang makin terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat dalam rangka meningkatkan status kesehatan masyarakat.
A. UPAYA KESEHATAN IBU DAN ANAK (KIA)

Beberapa indikator menajemen yang digunakan untuk menilai kinerja program KIA dapat dirinci bebagai berikut: 1. Pertolongan Persalinan Oleh Tenaga Kesehatan Indikator ini merupakan output dari hasil kegiatan yang dilakukan oleh petugas kesehatan dari pelayanan kesehatan dasar dan rujukan, untuk melihat sejaumana masyarakat (keluarga sasaran) akses ke pelayanan kesehatan dan persalinannya dilakukan oleh tenaga kesehatan profesional (dokter spesialis kebidanan, dokter umum, bidan, pembantu bidan dan

Profil Kesehatan Provinsi NAD Tahun 2007 data 2006

28

perawat bidan) dan tenaga non kesehatan yaitu dukun bayi (dukun bayi dilatih dan tidak dilatih). Persalinan dengan perolongan tenaga kesehatan (Nakes) merupakan salah satu indikator Indonesia Sehat 2010 (IIS 2010) dan Indikator Standar Pelayanan Minimal (SPM). Dari gambaran pengumpulan data program dan profil kesehatan Kabupaten/Kota pada tahun 2006 menunjukkan peningkatan cakupan dibandingkan pada tahun 2005. Persentase cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan tahun 2006 adalah 74,50% dan pada tahun 2005 adalah 73,31%, dari nilai peningkatan sebesar 1,19% menunjukkan masih perlu kekuatan didalam pemahaman masyarakat terhadap pertolongan persalinan melalui tenaga kesehatan, penempatan dan fungsi bidan didesa harus menjadi dapat lebih dipacu secara maksimal mengingat harapan cakupan IIS2010 dan SPM adalah 90%. bila dilihat berdasarkan kabupaten/kota adalah sebagai berikut ini: Tabel IV.1 Cakupan Pertolongan Persalinan oleh Tenaga Kesehatan Per Kabupaten/Kota di Provinsi NAD
No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Kabupaten /Kota Aceh Selatan Aceh Tenggara Aceh Tengah Bener Meriah Bireuen Aceh Utara Aceh Timur Aceh Tamiang Aceh Singkil Aceh Barat Aceh Barat Daya Tahun 2006 62,53 64,80 72,79 67,36 66,74 79,33 79,94 74,91 70,98 61,72 59,28 Tahun 2005 31,65 44,48 71,45 66,80 65,48 78,34 79,89 73,81 70,75 60,68 54,88 No 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 Kabupaten /Kota Aceh Jaya Nagan Raya Gayo Lues Simeulue Pidie Aceh Besar Banda Aceh Kota Sabang Lhokseumawe Kota Langsa Tahun 2006 81,02 64,30 50,07 69,64 82,70 88,41 96,88 90,45 93,26 85,03 Tahun 2005 16,05 50,43 49,38 68,70 59,61 87,43 93,21 90,02 89,97 84,26

Bila dilihat pada tabel diatas menunjukkan seluruh Kabupaten mengalami peningkatan pertolongan persalinan, peningkatan ini disebabkan adanya
Profil Kesehatan Provinsi NAD Tahun 2007 data 2006

29

penambahan tenaga bidan desa dan laporan yang diberikan semakin baik dan akurat. Sedangkan masih belum tercapainya target dibeberapa Kabupaten karena jumlah bidan yang masih kurang dan masih kurangnya kesadaran masyarakat untuk melakukan persalinan pada tenaga kesehatan dan kedepan yang diperlukan adalah sosialisasi kepada masyarakat terhadap perlunya kesadaran masyarakat untuk melakukan persalinan kepada tenaga kesehatan. Grafik berikut memberikan gambaran cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan menurut Kab/Kota dengan membandingkan Tahun 2006 dengan Tahun 2005

Grafik IV.1 Cakupan Pertolongan Persalinan oleh Tenaga Kesehatan Per Kabupaten/Kota di Provinsi NAD Tahun 2005 dan 2006
100,00

2006 2005

90,00 80,00 70,00 60,00 50,00 40,00 30,00 20,00 10,00 Bireuen Aceh Timur Aceh Utara Simeulue Pidie Bener Meriah Aceh Tengah Aceh Singkil Aceh Besar Aceh Barat Aceh Jaya Aceh Tamiang Aceh Selatan Aceh Tenggara Kota Banda Aceh Aceh Barat Daya Kota Sabang Nagan Raya Kota Lhokseumawe Kota Langsa Gayo Lues

Dari gambaran diatas menunjukkan beberapa kebupaten cakupannya lebih baik dari tahun sebelumnya terutama kabupaten Aceh Jaya meningkat tajam dari tahun 2005 walupun belum dapat mencapai 90% dan beberapa
Profil Kesehatan Provinsi NAD Tahun 2007 data 2006

30

Kabupaten/Kota yang masih sangat rendah yaitu dibawah 70% adalah Aceh Selatan, Aceh Tenggara, Bener Meriah, Bireun, Nagan Raya, Aceh Barat Daya, Simeulue, Aceh Barat dan Gayo Luwes. Sedangkan yang mencapai target yaitu Kota Lhokseumawe, Sabang serta Banda Aceh. 2. Cakupan K1 dan K4 Cakupan pelayanan antenatal dapat dipantau melalui pelayanan kunjungan baru ibu hamil (K1) dengan standar 5T yang menggambarkan aksessibilitas (keterjangkauan pelayanan). Pelayanan ibu hamil pada kunjungan ke 4 kali kunjungan (K4) minimal 4 kali memeriksa kehamilannya pada petugas kesehatan yaitu Ante Natal Care (ANC) satukali pada semester I, ANC dua kali pada semester II, ANC dua kali pada semester III. Bila seorang ibu hamil tidak memenuhi syarat tersebut maka tidak dihitung sebagai K4 sehingga hal inilah yang cenderung menyebabkan perbedaan antara K1, K4 dan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan cukup tinggi. Cakupan K1 pada tahun 2006 adalah 85,73%, cakupan K4 tahun 2006 adalah 75,92%, sedangkan pencapaian indikator SPM adalah 90% berarti masih ada 14% lagi harus dapat dicapai sampai tahun depan. Grafik berikut memberi gambaran cakupan K1 dan K4 menurut pada tahun 2006 dengan tahun 2005 di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam: Grafik IV.2 Cakupan K1 dan K4 Dibandingkan Tahun 2005 dan 2006

Profil Kesehatan Provinsi NAD Tahun 2007 data 2006

31

K4 THN 2005 K1 THN 2006

BUMIL
20.000 40.000 60.000 80.000 100.000 120.000

Bila dilhat dari grafik diatas menunjukkan peningkatan jumlah sasaran dan kunjungan baik kunjungan pertama (K1) dan Kunjungan ke empat (K4) pada tahun 2006 dibandingkan tahun 2005 yang lalu,hal ini menunjukkan keinginan masyarakat terutama ibu hamil memeriksa kandungannya ke petugas kesehatan sudah lebih baik. Bila dilihat pada setiap Kabupaten/Kota adalah sebagai berikut: Tabel IV.2 Cakupan K1 dan K4 Per Kabupaten/Kota di Provinsi NAD
% K1 KAB/KOTA 2005 2006 Aceh Selatan 46,88 79,07 Aceh Tenggara 53,61 77,87 Aceh Tengah 77,86 66,22 Bener Meriah 99,15 78,84 Bireuen 86,11 81,71 Aceh Utara 91,66 92,79 Aceh Timur 78,54 89,34 Aceh Tamiang 87,02 88,53 Aceh Singkil 91,19 92,35 Aceh Barat 89,99 87,58 Aceh Barat Daya 81,05 91,10 Aceh Jaya 68,80 74,26 Nagan Raya 70,48 83,13 Gayo Lues 79,18 61,99 Simeulue 80,73 95,23 Pidie 87,00 85,98 Aceh Besar 93,49 86,83 Kota Banda Aceh 79,84 86,22 ProfilKota Sabang Kesehatan Provinsi NAD Tahun 2007 data 2006 99,26 99,39 Kota Lhokseumawe 95,71 99,01 Kota Langsa 91,57 91,66 % K4 2005 33,57 45,88 69,38 94,99 77,81 76,94 67,10 83,56 72,89 81,03 63,88 56,39 62,04 70,53 66,31 70,32 82,51 67,31 98,28 87,35 87,11 2006 71,71 65,76 61,02 75,32 73,54 83,51 80,42 79,88 72,38 79,14 88,21 64,76 79,09 51,01 81,32 69,34 74,24 77,06 92,22 88,07 81,76

Dari tabel disamping menunjukkan peningkatan diseluruh Kabupaten/Kota terhadap pelayanan K1 dan K4 namun untuk Kabu paten Bireuen dan Aceh Besar mengalami penu runan.

32

3. Ibu Hamil Mendapat Fe dan Imunisasi TT Salah satu program untuk memperkecil angka kematian ibu melahirkan adalah pencapaian Cakupan ibu hamil mendapat 90 tablet Fe dan program Imunisasi TT, dalam tahun 2006 secara Kabupaten/Kota dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel IV.3 Cakupan Fe 3 dan TT 2 pada Ibu Hamil Per Kabupaten/Kota di Provinsi NAD Tahun 2006.

Profil Kesehatan Provinsi NAD Tahun 2007 data 2006

33

NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21

KABUPATEN/KOTA Aceh Selatan Aceh Tenggara Aceh Tengah Bener Meriah Bireuen Aceh Utara Aceh Timur Aceh Tamiang Aceh Singkil Aceh Barat Aceh Barat Daya Aceh Jaya Nagan Raya Gayo Lues Simeulue Pidie Aceh Besar Kota Banda Aceh Kota Sabang Kota Lhokseumawe Kota Langsa Provinsi

% Fe 3 22,90 65,76 58,30 75,32 58,28 81,84 63,45 81,38 39,39 77,47 15,86 64,76 79,09 51,01 61,30 39,19 10,56 75,87 12,76 83,11 57,31 57,19

% TT2 38,23 65,76 72,29 75,32 45,97 75,17 77,74 77,74 73,20 42,82 69,55 64,76 79,09 51,01 88,70 70,23 58,77 77,06 67,07 77,90 78,52 67,52

Bila dilhat dari tabel disamping menunjukka masih rendahnya pencapaian program pemberian Fe3 dan TT2 terhadap ibu hamil dimana secara provinsi NAD untuk Fe3 57,19% dan TT2 67,52%, sedangkan secara Kabupaten/ Kota yang peling terendah adalah Aceh Selatan dan beberapa kabupaten lainnya, sedangkan Kabupaten Aceh Utara, Tamiang dan Kota Lhokseumawe telah mencapai lebih 80% untuk program Fe3 dan Simeulue untuk Program TT2.

Dari target 90% yang harus dicapai berarti masih banyak hal yang harus disiapkan dan dikerjakan agar pencapaian indikator untuk seluruh wilayah dapat tercapai secara maksimal. 4. Pemberian ASI Eksklusif Pemberian ASI Eksklusif masih jauh dari target yang diharapkan. Faktor dominant yang menghambat pemberian ASI Eksklusif ini umumnya adalah kebiasaan masyarakt memberikan makanan / minuman beberapa saat setelah lahir berupa madu, larutan gula, susu bubuk, pisang Wak, dsb yang merupakan tradisi turun temurun. Persentase pemberian ASI Eksklusif hanya 6 %, sementara pemberian ASI dan minuman lainnya / pemberian makanan & minuman selain ASI di NAD juga masih tinggi. B. PENANGGULANGAN GIZI KURANG. 1. Penanggulangan Kekurangan Energi Protein Penanggulangan KEP dilakukan melalui beberapa intervensi yang dilakukan pada saat skreening kasus, intervensi antara lain penyuluhan individual dan
Profil Kesehatan Provinsi NAD Tahun 2007 data 2006

34

konseling, pengetahuan tentang pola asuh keluarga dan PMT. Pemberian makanan tambahan (PMT) pemulihan dan bila keadaan status gizi anak belum mengalami perbaikan maka diteruskan dengan pemberian makanan tambahan pemeliharaan. Pada kasus - kasus kronis yang memerlukan rawatan di fasilitas pelayanan kesehatan dasar (Puskesmas) maka kasus di rawat inapkan bahkan bila memerlukan rawatan lanjutan dapat di rujuk ke RSUD, biaya rujukan sementara di dapat dari biaya APBN. Langkah-langkah yang telah ditempuh cukup efektif didalam menurunkan angka gizi buruk dilapangan dengan angka kemiskinan yang cukup tinggi kondisi gizi buruk dan kurang dapat dikatakan merupakan prioritas didalam penyelesaian untuk setiap tahunnya, Secara grafik dapat terlihat sebagai berikut: Grafik IV.3 Kecenderungan Gizi Kurang Dan Gizi Buruk Pada Balita Pemantauan Status Gizi (Psg) Di Nanggroe Aceh Darussalam

19,6 19,3

Dari gambaran diatas menunjukkan tahun 2005 menunjukkan peningkatan gizi kurang namun pada tahun 2006 terjadi penurunan yang cukup tajam dengan intervensi berbagai kegaiatan PMT dengan dibantu oleh NGO.
Profil Kesehatan Provinsi NAD Tahun 2007 data 2006

35

Penyebab kondisi gizi balita bukan hanya disebabkan oleh kondisi kesehatan saja tetapi faktor-faktor lain diluar kesehatan sangat mempengaruhi seperti kesejahteraan, pendidikan, lapangan kerja dan lain-lain.

2. Penanggulangan Kekurangan Vitamin A (KVA) Program penanggulangan KVA telah dimulai sejak tahun 1970-an namun sampai saat ini masalah KVA masih menjadi salah satu masalah gizi utama di Indonesia. KVA tingkat berat (Xeropthalmia) yang dapat menyebabkan kebutaan sudah jarang ditemui, tetapi KVA tingkat sub-Klinis yaitu KVA yang belum menampakkan gejala nyata masih diderita oleh sekitar 50 % balita di Indonesia. Sampai saat ini strategi penanggulangan KVA masih bertumpu pada pemberian kapsul Vitamin A dosis tinggi. Kapsul Vitamin A biru (100.000 IU) diberikan kepada bayi (6-11 bulan) satu kali dalam setahun yaitu pada bulan Februari atau Agustus, sedangkan kapsul Vitamin A merah (200.000 IU) diberikan kepada anak balita (1-5 tahun) setiap bulan Februari dan Agustus, serta kepada ibu nifas paling lambat 30 hari setelah melahirkan.

TABEL IV.4
Profil Kesehatan Provinsi NAD Tahun 2007 data 2006

36

Cakupan Vit. A pada bayi bulan Februari dan Agustus Tahun 2006 untuk Provinsi NAD
No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 Kabupaten/ Kota Aceh Selatan Aceh Tenggara Aceh Tengah Bener Meriah Bireuen Aceh Utara Aceh Timur Aceh Tamiang Aceh Singkil Aceh Barat Abdya Aceh Jaya Nagan Raya Gayo Lues Simeulue Pidie Aceh Besar Banda Aceh Sabang Lhokseumawe Langsa PROVINSI Jlh Blt Balita 18.611 24.847 19.726 17.496 34.594 71.540 34.565 24.626 22.122 12.184 13.412 7.017 11.434 12.049 17.464 51.036 34.285 14.496 3.626 25.395 13.864 484.389 BULAN FEBRUAR I 17.798 17.697 16.801 15.436 31.925 65.696 34.268 24.460 18.696 11.719 10.249 1.899 9.541 9.665 9.640 48.640 25.859 14.496 3.020 15.657 13.067 416.229 % FEB 95,63 71,22 85,17 88,23 92,28 91,83 99,14 99,33 84,51 96,18 76,42 27,06 83,44 80,21 55,20 95,31 75,42 100,00 83,29 61,65 94,25 85,93 BULAN AGUSTU S 12.145 12.122 15.520 8.654 23.648 41.733 27.400 20.222 10.295 4.757 8.627 5.492 6.791 6.072 7.548 44.428 19.013 11.772 3.626 13.760 8.936 312.561 % AGUST 65,26 48,79 78,68 49,46 68,36 58,34 79,27 82,12 46,54 39,04 64,32 78,27 59,39 50,39 43,22 87,05 55,46 81,21 100,00 54,18 64,45 64,53

3. Persentase Balita Yang Naik Badan dan Balita Bawah Garis Merah. Indikator lain yang sangat penting untuk dicermati didalam pelaksanaan pelayanan kesehatan adalah persentase balita yang baik badan dan balita dibawah garis merah, secara nasional diharapkan 15% adalah nilai maksimal yang harus menjadi perhatian oleh semua pihak.

Profil Kesehatan Provinsi NAD Tahun 2007 data 2006

37

Grafik IV.4 Status Gizi Balita Di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Tahun 2006

300.000 250.000 200.000 150.000 100.000 50.000 PROVINSI DITIMBANG 251.007 BB NAIK 170.719 BGM 11.624 BGT 20.526

Bila dilihat grafik diatas menunjukkan masih rendahnya jumlah balita yang ditimbang hal ini perlu mendapat perhatian secara masksimal dari petugas kesehatan di seluruh wilayah di Provinsi NAD, secara rinci dapat dilihat per wilayah Kabupaten Kota dibawah ini:

Profil Kesehatan Provinsi NAD Tahun 2007 data 2006

38

Grafik IV.5 Status Gizi Balita BGM+BGT Di Kabupaten/Kota Tahun 2006


BGM+BGT Aceh Utara Pidie Aceh Besar Aceh Selatan Aceh Singkil Simeulue Aceh Tengah Aceh Tamiang Kota Langsa Nagan Raya Kota Banda Aceh Aceh Barat Daya Aceh Timur Bireuen Aceh Jaya Bener Meriah Aceh Barat Aceh Tenggara Kota Lhokseumaw e Kota Sabang 3,70 3,65 3,55 3,33 2,87 2,67 2,37 2,34 2,18 1,62 1,59 1,01 0,83 5,03 4,54 6,22 7,19 10,75 10,31 17,86

2,00

4,00

6,00

8,00

10,00

12,00

14,00

16,00

18,00

Profil Kesehatan Provinsi NAD Tahun 2007 data 2006

39

Dari grafik diatas menunjukkan Kabupaten Aceh Utara merupakan kabupaten yang peling tertinggi memiliki balita dibawah garis merah dan dibawah garis titik, selanjutnya adalah Kabupaten Pidie.

C. PENANGGULANGAN KESEHATAN JIWA MASYARAKAT. Program ini pada tahun 2002 mulai dirintis mengingat dikwatirkannya terjadi kecenserungan peningkatan kasus gangguan psikologis di masyarakat akibat adanya konflik yang bekepanjangan. Kegiatan awal yang dilakukan adalah pelatihan tenaga dokter dan perawat untuk mempu melakukan deteksi dini gangguan jiwa di masyarakat, mampu meberikan terapi sesuai
40

Profil Kesehatan Provinsi NAD Tahun 2007 data 2006

kewenangannya dan memberikan konseling kepada klien yang dipastikan mengalami gangguan. Kondisi pasca tsunami ternyatakan membuktikan bahwa trend kejadian gangguan jiwa dan psikososial semakin meningkat. Diawali dengan assessment dan kajian terhadap kondisi masyarakat yang tinggal didaerah konflik dan kondisi masyarakat yang terkena bencana tsunami, memberi indikasi bahwa pendekatan asuhan keperawatan kesehatan jiwa untuk masyarakat menjadi salah satu alternatif untuk

menjawab permasalahan ini. Awal Juli 2006 memalui lokakarya, seminar dan desiminasi hasil kajian tentang kesehatan jiwa masyarakat di Provinsi NAD, maka ditetapkan suatu pendekatan Community Mental Health Nurse (CMHN) yaitu suatu pendekatan asuhan keperawatan jiwa masyarakat yang dapat dilakukan oleh perawat dengan pengawasan dokter melalui pelatihan khusus untuk kesehatan jiwa. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi kurangnya tenaga kesehatan jiwa (baik perawat jiwa maupu psikiatri/dokter spesialis kesehatan jiwa) yang sangat langka. Pelatihan CMHN ini difokuskan pada tenaga perawat, sementara untuk konseling dan juga terapi medis dengan psikotropika dilakukan oleh dokter memalui pelatihan GP Plus. Tabel dibawah ini akan memperlihatkan jumlah penderita dengan gangguan jiwa yang terdeteksi oleh perawat CMHN di puskesmas berdasarkan Kabupaten/Kota tahun 2005 2006.

TABEL IV.5 Jumlah Kasus Gangguan Jiwa di Puskesmas CMHN Dan Kasus yang ditandatangani oleh Parawat CMHN dengan Asuhan Keperawatan Tahun 2006

Profil Kesehatan Provinsi NAD Tahun 2007 data 2006

41

No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21

Kabupaten/Kota Aceh Selatan Aceh Tenggara Aceh Tengah Bener Meriah Bireuen Aceh Utara Aceh Timur Aceh Tamiang Aceh Singkil Aceh Barat Aceh Barat Daya Aceh Jaya Nagan Raya Gayo Lues Simeulue Pidie Aceh Besar Kota Banda Aceh Kota Sabang Kota Lhokseumawe Kota Langsa PROVINSI

Jumlah Pasien 240 0 69 67 1314 1311 303 114 222 258 428 282 185 56 169 1371 520 115 36 441 116 7617

Jumlah Pasien CMHN Dgn Asuhan Kepawatan 144 0 0 0 953 686 85 40 148 258 122 180 0 33 92 430 176 115 0 137 57 3656

Dari data diatas belum semua penderita gangguan jiwa yang dilaporkan telah ditangani oleh perawat CMHN, baru 42% penderita yang telah tercaver oleh perawat terlatih, hal ini kemungkinan disebabkan karena akses untuk menjangkau kasus sulit. Sebagimana diketahui keberadaan kasus lebih sering dilokasi terpencil dan pedalaman. Konsekwensinya adalah puskesmas dan kabupaten harus menyediakan biaya transportasi petugas untuk menjangkau kasus dengan gangguan jiwa dimasyarakat. Kondisi ini menjadi permasalahan tehnis pada umumnya dikabupaten/kota.Tabel berikut memberikan informasi jumlah kasus pasung di 11 Kabupaten/Kota yang melaporkan temuan kasus pasung selama tahun 2005-2006. TABEL IV.6 Distribusi Penderita Pasung Yang Dilaporkan dan Penangannya Tahun 2006

Profil Kesehatan Provinsi NAD Tahun 2007 data 2006

42

No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21

Kabupaten/Kota Aceh Selatan Aceh Tenggara Aceh Tengah Bener Meriah Bireuen Aceh Utara Aceh Timur Aceh Tamiang Aceh Singkil Aceh Barat Aceh Barat Daya Aceh Jaya Nagan Raya Gayo Lues Simeulue Pidie Aceh Besar Kota Banda Aceh Kota Sabang Kota Lhokseumawe Kota Langsa PROVINSI

Jumlah Pasien Yg Dipasung 3 0 0 0 22 20 3 4 5 13 3 2 5 0 2 39 3 0 0 6 3 133

Jumlah Pasien Yg Dipasung dan Ditangani 3 0 0 0 22 20 3 4 5 13 3 2 5 0 2 30 3 0 0 4 3 122

Jumlah Pasien Pasung Yang Sudah Dilepas 0 0 0 0 14 9 0 0 5 10 0 1 5 0 2 12 2 0 0 2 0 62

Tabel diatas memberikan informasi bahwa terdapat 133 kasus pasung di 18 Kabupaten/Kota, 122 kasus diatantaranya telah ditangani oleh petugas CMHN, sebanyak 62 kasus yang ditangani sudah dilepas dari pasungannya.

BAB V : Situasi Sumber Daya Kesehatan

Profil Kesehatan Provinsi NAD Tahun 2007 data 2006

43

Sumber daya kesehatan merupakan unsur terpenting didalam peningkatan pembanguna kesehatan secara menyeluruh, sumber daya kesehatan terdiri dari tenaga, sarana dan dana yang tersedia untuk pembanguan kesehatan. Tahun 2006 Situasi sumber daya kesehatan secara menyeluruh mengalami peningkatan yang lebih baik dari tahun 2005, diharapkan peningkatan sumber daya kesehatan dapat meningkatkan pelayanan kesehatan diseluruh tingkat pelayanan kesehatan baik di desa, puskesmas dan rumah sakit, beberapa hal yang masih dirasakan permasalahan adalah masih rendahnya kepuasan pasien terhadap pelayanan di RSU di provinsi NAD, hal ini disebabkan masih kurangnya dokter spesialis dan peralatan medis serta peralatan laboratorium sehingga beberapa diagnosa mengalami kekurangan informasi dan menyebabkan beberapa tindakan tidak dapat dilakukan dirumah sakit rujukan diprovinsi NAD. Oleh sebab itu dari permasalah diatas beberapa langkah yang telah ditempuh adalah pedidikan dokter spesialis di seluruh Kabupaten/Kota, penyediaan dana didalam pengadaan peralatan medis dan laboratorium yang berkesinambungan, bersamaan dengan ini jajaran kesehatan terus melakukan peningkatan kualitas SDM kesehatan dengan melakukan pelatihan-pelatihan yang berbasis kopetensi dan terakreditasi, peningkatan loyalitas terhadap profesi kesehatan, penambahan jumlah tenaga kesehatan yang baru terutama tenaga kesehatan tehnis medis dan kesehatan lingkungan yang lebih proporsi sehingga kesehatan lingkungan masyarakat lebih dapat ditingkatkan serta tenaga asisten apoteker yang diharapkan puskesmas lebih dapat meningkatkan kualitas pelayanan kefarmasian. Secara terperinci dapat digambarkan perkembangan dan hambatan situasi sumber daya kesehatan sebagai berikut: A. TENAGA KESEHATAN

Profil Kesehatan Provinsi NAD Tahun 2007 data 2006

44

Tenaga kesehatan merupakan bagian terpenting didalam peningkatan pelayanan kesehatan di Provinsi NAD, kualitas menjadi faktor utama yang harus terus mendapatkan perhatian oleh pemerintah daerah dan pusat, peningkatan kualitas harus menjadi prioritas utama mengingat tenaga kesehatan saat ini belum sepenuhnya berpendidikan D-III serta S-1 sedangkan yang berpendidikan SPK serta sederajat minim terhadap pelatihan tehnis, hal ini juga berkaitan dengan globalisasi dunia dan persaingan terhadap kualitas ketenagaan harus menjadi pemicu. Bila peningkatan kualitas dapat dijalankan secara bertahap maka peningkatan pelayanan kesehatan dapat dicapai sepenuhnya. 1. Jenis Tenaga Kesehatan Berdasarkan Ratio dan Proporsi Secara rasio tenaga kesehatan untuk tahun 2006 dapat dilihat pada tabel berikut ini dan dibandingkan dengan tahun 2 tahun sebelumnya. Tabel V.1 Jenis Tenaga berdasarkan Ratio dan Proporsi di Provinsi NAD Tahun 2006, 2005 dan 2004
JLH PENDUDUK Tahun 2006: 4.189.152 No JENIS KETENAGAAN Jlh 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 DR SPESIALIS DOKTER UMUM DOKTER GIGI APOTEKER SARJANA KESMAS SARJANA KEP D-III PERAWAT D-III FARMASI D-III GIZI D-III GIGI D-III + D IV BIDAN D-III SANITASI 185 619 115 61 487 88 2.619 105 254 36 950 299 Ratio Per 100.000 Pddk 4,42 14,78 2,75 1,46 11,63 2,10 62,52 2,51 6,06 0,86 22,68 7,14 Pro porsi (%) 1,18 3,93 0,73 0,39 3,09 0,56 16,64 0,67 1,61 0,23 6,04 1,90 Jlh 142 511 125 37 380 80 1.126 34 163 42 361 234 Ratio Per 100.00 0 Pddk 3,52 12,67 3,1 0,92 9,43 1,98 27,93 0,84 4,04 1,04 8,95 5,8 Pro porsi (%) 1,25 4,51 1,1 0,33 3,35 0,71 9,94 0,3 1,44 0,37 3,19 2,06 Jlh 120 399 122 29 242 30 701 40 167 114 214 Ratio Per 100.00 0 Pddk 2.85 9.47 2.90 0.69 5.74 0.71 16.64 0.95 3.96 2.71 5.08 Pro porsi (%) 1.10 3.67 1.12 0.27 2.23 0.28 6.45 0.37 1.54 1.05 1.97 JLH PENDUDUK Tahun2005: 4.031.589 JLH PENDUDUK Tahun2004: 4.213.177

Profil Kesehatan Provinsi NAD Tahun 2007 data 2006

45

13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23

ATEM & P RONTG P. ANESTESI FISIOTERAPIS ASS APOTEKER D-I GIZI D-I GIGI SPK BIDAN D-I SANITASI ANALIS LAB BIDIDES

95 22 101 338 53 78 2.092 2.920 187 316 3720

2,27 0,53 2,41 8,07 1,27 1,86 49,94 69,70 4,46 7,54 88,80

0,60 0,14 0,64 2,15 0,34 0,50 13,29 18,55 1,19 2,01 23,63

69 15 26 356 84 290 1.657 1.652 304 72 3.572

1,71 0,37 0,64 8,83 2,08 7,19 41,1 40,98 7,54 1,79 88,6

0,61 0,13 0,23 3,14 0,74 2,56 14,62 14,58 2,68 0,64 31,52

51 22 24 282 127 1,967 2,476 246 53 3,436

1.21 0.52 0.57 6.69 3.01 46.69 58.77 5.84 1.26 81.55

0.47 0.20 0.22 2.60 1.17 18.11 22.80 2.26 0.49 31.63

2. Jumlah dan Proporsi Tenaga Kesehatan Menurut Katagori Untuk mengetahui jumlah dan proporsi tenaga kesehatan daerah menurut 9 katagori tenaga kesehatan dapat dilihat pada Grafik V.1 Grafik V.1 Jumlah dan Proporsi Tenaga Kesehatan Menurut Katagori Tenaga Kesehatan Tahun 2006, 2005 dan 2004

KESMAS SANITASI TEKNISI MEDIS GIGI GIZI FARMASI BIDAN PERAWAT MEDIS

500

1.000 1.500 2.000 2.500 3.000 3.500 4.000 4.500 5.000 2006 2005 2004

Profil Kesehatan Provinsi NAD Tahun 2007 data 2006

46

Dari Grafik diatas menunjukan secara kuantitas memberi gambaran penambahan jumlah ketenagaan diseluruh katagori ketenagaan pada tahun 2006, tenaga perawat dan bidan mendominasi ketenagaan kesehatan dan tenaga tehnis medis menduduki peringkat terakhir. Distribusi tenaga kesehatan berdasarkan unit kerja diprovinsi NAD tahun 2006. Grafik V.2 Jumlah dan Proporsi Tenaga Kesehatan Menurut Unit Kerja Tahun 2006
3500 3000 2500 2000 1500 1000 500 0
PUSKESMAS/PUSTU RUMAH SAKIT KAB/KOTA DINKES KAB/KOTA DINKES PROVINSI RSU PROVINSI RSJ PROVINSI RS IBU DAN ANAK

MEDIS

PERWATAN

BIDAN

FARMASI

GIZI

GIGI

TEKNISI MEDIS

SANITASI

KESMAS

Dari gambaran diatas menunjukkan jumlah tenaga kesehatan di unit pelayanan puskesmas menunjukkan nilai yang paling dominan dibandingkan dengan unit pelayanan lainnya, oleh sebab itu peningkatan kualitas tenaga

Profil Kesehatan Provinsi NAD Tahun 2007 data 2006

47

kesehatan di unit pelayanan puskesmas untuk seluruh jenis ketenagaan harus mendapat perhatian yang serius, hal lain yang masih menjadi permasalahan adalah peyebaran tenaga puskesmas dibeberapa lokasi masih belum merata khususnya daerah terpencil dan kepulauan. 3. Jumlah Tenaga Kesehatan Menurut Kab/Kota dan Provinsi Distribusi tenaga kesehatan berdasarkan Kabupaten/Kota diprovinsi NAD tahun 2005 dapat dilihat pada tabel berikut ini Grafik V.3 Jumlah Tenaga Kesehatan Menurut Kab/Kota dan Provinsi Tahun 2006

Aceh Utara Aceh Timur Pidie Aceh Tamiang Bireuen Kota Langsa Aceh Tengah Kota Banda Aceh Aceh Barat Aceh Tenggara Aceh Singk il Aceh Selatan Aceh Besar Simeulue Aceh Barat Day a Nagan Ray a Kota Sabang Aceh Jay a Kota Lhokseumawe Bener Meriah Gayo Lues

200

400

600

800

1000

1200

1400

1600

1800

Profil Kesehatan Provinsi NAD Tahun 2007 data 2006

48

Dari Grafik V.3 di atas terlihat bahwa tenaga kesehatan terbanyak adalah Kabupaten Aceh Utara, Aceh Timur, Pidie,dan Aceh Tamiang sedangkan yang terkecil adalah Gayo Luwes.

Peta V.1 Rasio Dokter Umum Per 10.000 Penduduk Menurut Kab/Kota dan Provinsi Tahun 2006

Kota Sabang 8.4 /10.000 pddk Kota Banda Aceh 7.03 /10.000 pddk Aceh Besar 0.94 /10.000 pddk Kota Lhokseumaw e 0.81 /10.000 pddk

Bireuen 1.06 /10.000 pddk Aceh Utara 1.25 /10.000 pddk

Pidie 0.99 /10.000 pddk

Aceh Jaya 0.75 /10.000 pddk Aceh Timur 1.48 /10.000 pddk Bener Meriah 0.85 /10.000 pddk Aceh Tengah 1.46 /10.000 pddk Aceh Barat 1.06 /10.000 pddk Nagan Raya 0.56 /10.000 pddk

Kota Langsa 2.05 /10.000 pddk Aceh Tamiang 1.6 /10.000 pddk

Gayo Lues 0.36 /10.000 pddk

/10.000 pddk
0,36 - 0,90 0,91 - 1,50 1,51 - 4,95 4,96 - 8,40 Missing Data

Aceh Barat Daya 1.39 /10.000 pddk

Aceh Tenggara 1.15 /10.000 pddk Aceh Selatan 1.11 /10.000 pddk

Simeulue 2.06 /10.000 pddk Singkil 1.3 /10.000 pddk

km

29

58

87

116

145

Dari peta diatas menunjukkan penyebaran dokter umum masih berdomisili di Kota Banda Aceh dan Sabang, beberapa daerah seperti Kabupaten Aceh Jaya, Nagan Raya, Gayo Luwes dan Bener Meriah masih memerlukan tenaga dokter
Profil Kesehatan Provinsi NAD Tahun 2007 data 2006

49

umum yang tetap sebagai upaya peningkatan jumlah tenaga medis di provinsi NAD.

4. Tenaga Dokter Spesialis Di Rumah Sakit Umum

Penempatan dokter spesialis di Rumah Sakit Umum merupakan salah satu bagian terpenting didalam peningkatan pelayanan rujukan, terutama 4 spesialias dasar. Grafik V.4 Jumlah dan Proporsi Dokter Spesialis Pada RSU di Provinsi NAD Tahun 2006

RSU ZA Kota Langsa Aceh Utara Aceh Barat Pidie Kota Banda Aceh Aceh Tamiang Bireuen Aceh Tenggara Gayo Lues Kota Sabang Aceh Barat Daya Aceh Tengah Aceh Selatan Simeulue Ibu Anak Aceh Timur Aceh Singkil RS J Kota Lhokseumawe Bener Meriah Aceh Jaya Nagan Raya Aceh Besar

10

20

30

40

50

60

Profil Kesehatan Provinsi NAD Tahun 2007 data 2006

50

Dari Grafik V.4 menunjukkan tenaga spesialis masih terbanyak di RSU Dr. Zainoel Abidin, Kota Langsa, Aceh Utara dan Aceh Barat.

E. PEMBIAYAAN KESEHATAN Pembiayaan terhadap pelayanan kesehatan menjadi salah satu faktor utama didalam peningkatan pelayanan kesehatan, baik untuk belanja modal maupun belanja barang. Didalam upaya peningkatan pembiayaan terhadap sektor kesehatan dianggarkan melalui dana APBN, APBD I & II, PLN (Pinjaman Luar Negeri), bantuan hibah dari negara luar (NGO) serta bantuan dana Askeskin yang dikelola oleh PT Askes yang disalurkan langsung ke unit pelayanan yaitu Rumah Sakit dan Puskesmas yang dianggarkan oleh Departemen Kesehatan RI. Didalam presentasi ini profil kesehatan baru dapat memberi gambaran dana yang dikelola oleh Dinas Kesehatan Provinsi dan Dana Tugas Perbantuan yang selama ini kumpulkan melalui Subdin Litbang dan Bina Program. Perincian dana tersebut dapat digambarkan sebagai berikut: Tabel V.2 Jumlah Anggaran Pembangunan Kesehatan di Dinkes Provinsi NAD dan Dana Tugas Perbantuan di RSU Kab/Kota Sejak Tahun 2005 dan 2006
Tahun 2005 % Realisasi Jumlah Anggaran Keu Fisik 32.048.152 80,94 91,21 21.340.293 60,24 63,67 Tahun 2006 % Realisasi Jumlah Anggaran Keu Fisik 36.067.900 82,31 94,08 80.130.058 38.659.979 25.186.000 60,57 75,51 1,00 60,58 85,00 -

SUMBER DANA PROVINSI NAD APBD Provinsi NAD APBN Satker Prov NAD DIPA TP(RSUD K/K) CWSH(Prov & K/K)

Profil Kesehatan Provinsi NAD Tahun 2007 data 2006

51

GIZI KAB/KOTA BRR Provinsi NAD JUMLAH

326.235.500 379.623.945

77,69

78,00

26.077.610 323.775.423 529.896.970

91,24 65,73

91,24 65,73

Dari gambaran diatas menunjukkan beberapa anggaran belum memiliki realisasi yang baik terutama program CWSH di Kabupaten/Kota, program CWSH ini program anggaran untuk peningkatan kesehatan lingkungan namun didalam pelaksanaannya mengalami kendala tehnis dari penyandang dana (ADB) yang cukup berat dan sampai akhir tahun anggaran belum terealisasi. Hal lain yang dapat digambarkan bantuan dana yang diberikan oleh BRR sektor kesehatan merupakan konstribusi terbesar dimana pengunaan dana yang ada diarahkan kepada peningkatan kapasiti building dan pembangunan fisik serta equipment (peralatan), hal ini merupakan konsekuensi dari penyelesaian musibah tsunami, sedangkan anggaran yang bersumber anggaran pinjaman luar negeri secara umum masih sangat minim dan didalam realisasinya masih sangat sulit disebabkan berbagai aturan yang diterapkan didalam penggunaan anggaran yang harus ada persetujuan dari negara donatur, sehingga penyerapan dana yang ada sangat minim. Sedangkan untuk anggaran APBN dan APBD baik di tingkat I dan II tetap mempunyai arti didalam peningkatan pelayanan kesehatan walaupun secara keseluruhan pembiayaan kesehatan dilihat dari dua sumber dana tersebut bila dibandingkan dengan seluruh nilai APBD masih berkisar 1% sampai dengan 5% dan diharapkan kedepan peningkatan pembiayaan dari sumber APBD untuk sektor kesehatan dapat lebih ditingkatkan antara 10 % sampai dengan 15%. Sebagai gambaran dana tahun 2006 dapat dilihat pada grafik dibawah ini: Grafik V.5 Proporsi Anggaran Pembangunan Sektor Kesehatan Tahun Anggaran 2006 yang di Kelola di Dinkes Provinsi NAD
Profil Kesehatan Provinsi NAD Tahun 2007 data 2006

52

APBD , 6,81%

APBN Satker Prov , 15,12% D IPA TP(RSU D K/K) , 7,30%

C WSH (Prov & K/K), 4,75% BR R , 61,10% GIZI KAB/KOTA , 4,92%

C. SARANA KESEHATAN DASAR Komponen lain didalam sumber daya kesehatan yang paling penting adalah ketersedian sarana kesehatan yang cukup secara jumlah/kuantitas dan kualitas bangungan yang menggambarkan unit sarana pelayanan kesehatan yang bermutu baik bangunan utama, pendukung dan sanitasi kesehatan lingkungan. Pembangunan sarana kesehatan harus dilengkapi dengan peralatan medis, peralatan nonmedis, peralatan laboratorium beserta reagensia, alat pengolah data kesehatan, peralatan komunikasi, kenderaan roda empat dan kenderaan roda dua. Didalam kesehatan unit pelayanan kesehatan dibagi atas beberapa katagori yaitu Pondok Bersalin Desa (Polindes), Puskesmas Pembantu (Pustu), Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas), Rumah Sakit Umum dan unit pelayanan tehnis kesehatan lainnya, setiap pembangunan unit-unit pelayanan yang ada harus dapat memenuhi keterjangkauan akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan, pembangunan unit pelayanan berdasarkan katagori diatas harus dapat berpedoman terhadap populasi penduduk yang akan dilayani sehingga fungsi unit pelayanan kesehatan dapat berjalan sesuai target yang yang diharapkan.

Profil Kesehatan Provinsi NAD Tahun 2007 data 2006

53

Pada tahun 2006 penyediaan sarana kesehatan dari seluruh katagori diatas, Provinsi NAD telah ada diseluruh Kabupaten/Kota sampai Ke Desa-desa namun yang masih menjadi permasalahan adalah masih banyaknya Pustu dan Polindes yang telah rusak, sedangkan untuk pembangunan Puskesmas menunjukkan peningkatan pembangunan baik secara kuantitas maupun kualitas, namun kedepan yang harus diperhatikan adalah perawatan bangunan sehingga kaidahkaidah bangunan kesehatan tetap terjaga sebagaimana yang diharapkan. Secara terperinci dapat dijelaskan sebagai berikut: Pusat pelayanan kesehatan dasar merupakan ujung tombang dari pelayanan kesehatan Itu sendiri terutama polindes, pustu dan puskesmas, ketiga unit pelayanan ini harus dapat memegang peranan penting didalam menjaga kesehatan masyarakat, seiring dengan program rekontruksi dan rehabilitasi di Provinsi NAD unit pelayanan tersebut mengalami peningkatan hal ini dapat dilihat pada tabel berikut: Situasi sarana kesehatan dasar di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam pada tahun 2006 sesuai dengan tabel berikut: Tabel V.3 Jumlah Puskesmas, Pustu dan Polindes per Kab/Kota Di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Tahun 2006
Puskesmas 2006 NO Kabupaten /Kota NON TT 6 13 12 7 TT 2 2 6 6 Jumlah 8 15 18 13 PUSTU Puskesmas Keliling R-4 8 9 18 13 Perahu Bermotor 4 4 1 0

Polindes
18 30 85 6

1 2 3 4

Simeulue Aceh Singkil Aceh Selatan Aceh Tenggara

23 48 54 40

Profil Kesehatan Provinsi NAD Tahun 2007 data 2006

54

5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21

Aceh Timur Aceh Tengah Aceh Barat Aceh Besar Pidie Bireuen Aceh Utara Aceh Barat Daya Gayo Lues Aceh Tamiang Nagan Raya Aceh Jaya Bener Meriah Banda Aceh Sabang Langsa Lhokseumawe JUMLAH 2006 JUMLAH 2005

16 9 9 13 23 12 11 8 11 7 7 4 6 10 2 3 5 194 195

5 4 3 11 10 5 13 2 1 3 3 4 3 0 2 1 0 86 74

21 13 12 24 33 17 24 10 12 10 10 8 9 10 4 4 5 280 269

74 51 35 62 85 39 83 26 29 42 36 28 33 14 8 7 12 829 821

41 13 20 35 36 43 26 7 6 19 10 8 9 10 4 2 5 342 253

0 0 0 1 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 11 2

143 114 14 266 555 227 300 112 16 158 29 25 70 2 10 50 0 2.230

Dari tabel diatas menunjukkan pada tahun 2006 telah bertambahnya jumlah Puskesmas sebanyak 11 unit, Pustu mengalami penambahan sebanyak 5 unit, Pusling bertambah 89 unit sedangkan perahu bermotor untuk kabupaten Simelue dan Kabupaten Singkil telah beroperasi kembali sebagai sarana 4 pelayanan kesehatan antar pulau. Pidie 10
Kota Banda Aceh Aceh Besar Aceh Jaya 8 24 33 Kota Sabang Bireuen 17 Kota Lhokseumaw e 5 Aceh Utara 24 Aceh Timur Kota Langsa 4

Peta V.2 Meriah Bener


9

Jumlah Puskesmas Menurut Kab/Kota Aceh Tengah 21 13 Di ProvinsiNagan Raya NAD Tahun 2006
10 Aceh Barat Daya 10 12 Aceh Barat 12 Gayo Lues

Aceh Tamiang 10

Aceh Tenggara Aceh Selatan 13 18

Profil Kesehatan Provinsi NAD Tahun 2007 data 2006

Simeulue 8 Singkil 15

55

a.

Ratio Puskesmas per 100.000 penduduk Besarnya ratio Puskesmas terhadap 100.000 penduduk adalah 6,67. Hal ini berarti rata-rata setiap puskesmas melayani kurang lebih 15.004 penduduk.
Jlh Puskesmas Berdasarkan ratio kecukupan puskesmas secara nasional sebesar 28.000

penduduk/puskesmas, berarti ketersediaan fasilitas di Nanggroe Aceh Darussalam cukup memadai. Rata-rata jangkauan penduduk oleh puskesmas /1km2 meningkat tajam 0,00 - 41,41 bila dibandingkan dengan tahun tahun sebelumnya.
41,42 - 80,57 80,58 - 198,67 198,68 - 3.501,47 b. Ratio Puskesmas Pembantu per Puskesmas

Total Jumlah

Kepadatan Pddk

Ratio Pustu per Puskesmas di Provinsi NAD tahun 2006 adalah 2,95 sehingga dapat dikatakan setiap puskesmas telah memiliki jaringan pelayanan sebanyak 2-3 buah Pustu. Hal yang perlu mendapat parhatian adalah kondisi fisik dan sanitasi dilingkungan Pustu. c. Ratio Puskesmas Keliling per Puskesmas
Profil Kesehatan Provinsi NAD Tahun 2007 data 2006

56

Ratio Pusling per Puskesmas di Provinsi NAD tahun 2006 adalah 1,22 hingga dapat dikatakan setiap puskesmas telah memiliki Pusling namun beberapa puskesmas pusling yang ada perlu mendapat penggantian mengingat masa operasionalnya yang sudah melebihi 10 tahun.

D. SARANA KESEHATAN RUJUKAN Indikator yang digunakan untuk menilai perkembangan sarana rumah sakit antara lain dengan melihat perkembangan fasilitas perawatan yang biasanya diukur dengan jumlah rumah sakit dan tempat tidurnya serta rasionya terhadap jumlah penduduk.

Tabel V.4 Jumlah Sarana Rumah Sakit Di Provinsi NAD Tahun 2006
No 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. Nama Rumah Sakit BPK RSU Dr. Zainoel Abidin BPK Jiwa B. Aceh RSU Meuraxa RSU Jantho RSU Sigli RSU Bireuen RSU Datu Beru Takengon RSU Cut Meutia RSUD Langsa RSU Tamiang RSU Kutacane RSU Gayo Lues RSU Yuliddin Away RSU Cut Nyak Dhien RSU Sabang RSU Simeulue RSU Singkil RSU Nagan Raya RSU Idi Rayeuk RSU Abdya Type B B C C C C C C B C C C C C D C C C C C Lokasi B. Aceh B. Aceh B. Aceh Jantho Sigli Bireuen Takengon Aceh Utara Langsa K. Simpang Kutacane Blangkejeren Tapaktuan Meulaboh Sabang Simeulu Singkil Jeuram Idi Rayeuk Blang Pidie Status Kepemilikan PEMDA PEMDA PEMDA PEMDA PEMDA PEMDA PEMDA PEMDA PEMDA PEMDA PEMDA DEPKES PEMDA PEMDA PEMDA PEMDA PEMDA PEMDA PEMDA PEMDA Jumlah TT 240 220 35 50 133 100 86 136 220 100 75 22 81 100 30 75 10 40 40 27

Profil Kesehatan Provinsi NAD Tahun 2007 data 2006

57

21. 22. 23. 24. 25. 26. 27. 28. 29. 30. 31. 32. 33. 34. 35. 36. 37. 38.

RSU Mutiara Bereuneun RS Khusus Ibu dan Anak RSU Fakinah RSU Malahayati RSU Harapan Bunda RSU Permata Hati RSU BSMI RSU Kesdam IM RSU Bhayangkara RSU Kesrem Lilawangsa RSU PT. Arun RSU Kasih Ibu RSU Islam RSU Ibu dan Anak Bunda RSU PTP. Langsa RSU Cut Nyak Dhien Lgs RSU Cot Girek RSU TNI-AL Sabang

C C C C C C C C C C C C C C C C C C

Bereunuen B. Aceh B. Aceh B. Aceh B. Aceh B. Aceh B. Aceh B. Aceh B. Aceh Lhokseumawe Lhokseumawe Lhokseumawe Lhokseumawe Lhokseumawe Langsa Langsa Langsa Sabang

PEMDA PEMDA SWASTA SWASTA SWASTA SWASTA Swasta TNI POLRI TNI SWASTA SWASTA SWASTA SWASTA SWASTA SWASTA SWASTA TNI

40 40 40 40 54 30 30 150 55 122 51 50 40 40 100 54 50 50

Berdasarkan kepemilikan, rumah sakit di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam di bagi dalam kategori kepemilikan Depkes, Pemda, Swasta dan TNI/POLRI. Distribusi rumah sakit berdasarkan kepemilikan di Provinsi NAD dapat dilihat pada diagram pie berikut ini :

Grafik V.6 Distribusi Rumah Sakit Berdasarkan Kepemilikan Di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Tahun 2006

Profil Kesehatan Provinsi NAD Tahun 2007 data 2006

58

11% 3%

32%

54%

DEPKES PEMDA SWASTA TNI/POLRI

Diagram 1 menunjukkan bahwa sebesar 54 % rumah sakit di Provinsi NAD merupakan milik Pemda dan 32 % merupakan milik swasta. Sedangkan lokasi rumah sakit di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam berdasarkan provinsi dan kabupaten/kota. Hal tersebut dapat kita lihat pada diagram bar dibawah ini :

Grafik V.7 Distribusi Rumah Sakit Berdasarkan Lokasi Di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Tahun 2006

Profil Kesehatan Provinsi NAD Tahun 2007 data 2006

59

Blang Pidie Idi Rayeuk Jeuram Singkil Simeulu Sabang Meulaboh Tapaktuan 1 Blangkejeren Kutacane K. Simpang Langsa Aceh Utara Takengon Bireuen Sigli Jantho Lhokseumawe 0 2 4 6 8 10 12 Banda Aceh

Dari 38 rumah sakit yang ada di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, sebagian besar rumah sakit berada di ibukota provinsi yaitu Kota Banda Aceh yang mempunyai 11 rumah sakit (24,39 %), diikuti Kota Lhokseumawe dengan 5 rumah sakit (14,63 %), Kota Langsa 4 rumah sakit (7,31 %), Sabang 2 (4,87 %) dan kabupaten/kota lainnya masing-masing memiliki 1 rumah sakit. Untuk Distribusi Rumah sakit di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam berdasarkan kelas/ tipe. Hal tersebut tergambar pada diagram dibawah ini.

Grafik V.8 Distribusi Rumah Sakit Berdasarkan Kelas/Type Di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam
Profil Kesehatan Provinsi NAD Tahun 2007 data 2006

60

Tahun 2006

C, 35

B, 3

10

20

30

40

Berdasarkan diagram di atas terdapat 8 % rumah sakit dengan kelas/type B, 1 diantaranya merupakan rumah sakit kelas B Pendidikan. Sedangkan 92 % merupakan rumah sakit kelas/type C. 1. Indikator BOR, LOS, BTO, TOI, NDR dan GDR Rumah Sakit Informasi mengenai rumah sakit umum di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam berdasarkan tinggi rendahnya BOR, LOS, BTO, TOI, GDR dan NDR menurut masing-masing pengelolanya (pemilik) dapat dilihat pada gambar dan tabel di bawah ini :

Grafik V.9 Indikator Pelayanan Rumah Sakit Umum Dan Khusus Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Tahun 2006
61

Profil Kesehatan Provinsi NAD Tahun 2007 data 2006

80 70 60 50 40 30 20 10 0 1
9.4 5.7 17.6 47.8 38.7 71.4

BOR ALOS BTO TOI NDR GDR

Sumber : Laporan RL 1, diolah

Tabel V.5 Indikator Pelayanan Rumah Sakit Pemerintah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Tahun 2006
NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 NO 11 12 13 14 15 16 17 18 Nama Rumah Sakit BPK RSU Dr. Zainoel Abidin BPK RS Jiwa RSU Meuraxa RSU Jantho RSU Sigli RSU Dr. Fauziah Bireuen RSU Datu Beru Takengon RSU Cut Meutia A. Utara RSU Langsa RSU Tamiang Nama Rumah Sakit RSU Kutacane RSU Gayo Lues RSU Yuliddin Away T. Tuan RSU Meulaboh RSU Simeulue RSU Sabang RSU Singkil RSU Nagan Raya* BOR 72.1 144.4 20.6 0.3 73.6 75.3 42.5 62.1 73.7 65.4 BOR 29.9 31.8 70.2 45.5 36.2 48.4 49.3 0.0 ALOS 3.8 89.4 2.1 2.5 3.9 3.4 3.8 2.9 5.6 2.9 LOS 2.4 3.4 6.2 3.4 5.1 2.9 2.1 0 BTO 54.6 7.3 38.2 7 66 82.1 37.4 56.9 57.4 83.4 BTO 21.5 34.2 49.5 49.5 26.4 59.2 65.4 0 TOI 19.8 19.4 2.8 1.2 11.9 9 6.9 12.2 19.8 5.9 TOI 6.2 1.9 7.3 10.4 4.5 2.7 9 0 NDR 34.5 6.3 2.5 0 14.5 10.2 24.3 16.3 20.4 9.3 NDR 2.7 0 24.4 10.1 25 7.9 6.1 0 GDR 69.8 6.3 3.4 19.9 42.2 20.6 56.3 45.2 38.2 19.1 GDR 9.4 19.92 27.9 45.1 34.9 16.9 25.9 0 62

Profil Kesehatan Provinsi NAD Tahun 2007 data 2006

19 20 21 22

RSU Idi Rayeuk* RSU Abdya RSU Beureunuen* RS Ibu dan Anak* TOTAL

0.0 27.9 0.0 0.0 71.4

0 3.4 0 0 5.7

0 34.9 0 0 47.8

0 2.4 0 0 9.4

0 3.2 0 0 17.6

0 5.3 0 0 38.7

Sumber : laporan RL 1, diolah *)= Data tidak diterima

Dari gambar 4 dan tabel 2 dapat dilihat bahwa dari 20 RSU di Provinsi NAD sebanyak 7 RSU (35 %) mempunyai tingkat pemanfaatan yang ideal sedangkan 65% tingkat pemanfaatannya masih kurang dimana BOR antara 20 - < 60. RSU Jantho mempunyai BOR yang paling rendah (0,3 %) dibandingkan RSU lainnya. RSU Jantho baru mulai diberdayakan sejak Oktober 2006 dan data yang masuk hanya kegiatan pada trimester empat. BOR RSU Meuraxa juga masih rendah (20,6 %), dikarenakan letaknya masih menumpang di Dinas Kesehatan Kota Banda Aceh dan belum memenuhi standar yang ditetapkan. BOR RSU di Provinsi NAD rata rata 60,2 %. Gambaran lamanya perawatan pada RSU di Provinsi NAD rata-rata cukup ideal antara 2-6 hari, frekuensi pemakaian tempat tidur (BTO) 47,8 kali per tahun, rata-rata tempat tidur tidak ditempati dari saat terisi ke saat terisi berikutnya (TOI) 9,4 hari dan angka kematian 48 jam setelah dirawat (NDR) 17,6 per 1000 penderita serta kematian umum (GDR) sebesar 38,7 tiap-tiap 1000 penderita. Lama hari rawat di Rumah Sakit jiwa sangat tinggi yaitu 89,4 hari. Hal ini disebabkan pasien jiwa memerlukan pengobatan dan perawatan yang cukup lama untuk penyembuhannya. Dilihat dari nilai rata - rata untuk keseluruhan Rumah Sakit Umum (Kelas B dan C), tingkat pemanfaatannya masih cukup rendah (BOR di bawah 61,7 %), hanya RSU Kelas B mencapai BOR 73,9 % sedangkan rata-rata LOS sudah cukup baik (5 hari). Apabila angka TOI dapat mencapai rata-rata 1-3 hari saja, niscaya BOR akan meningkat dan efisiensi pelayanan akan tercapai.

Profil Kesehatan Provinsi NAD Tahun 2007 data 2006

63

BAB VI : PENUTUP

Demikian penyajian Profil Kesehatan Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Tahun 2006, diharapkan dapat membantu memberikan penjelasan yang lebih mendalam mengenai situasi derajat kesehatan, upaya kesehatan, sumber daya kesehatan beserta hasil kegiatanya selama kurun waktu tahun 2006. Secara umum dapat disampaikan bahwa pencapaian upaya kesehatan sudah lebih baik, namun perlu terus dilakukan upaya-upaya peningkatan partisipasi masyarakat didalam upaya peningkatan kesehatan masyarakat baik kegiatan preventif, kuratif dan rehabilitatif, serta masih perlunya peningkatan pembiayaan

Profil Kesehatan Provinsi NAD Tahun 2007 data 2006

64

kesehatan secara menyeluruh terutama di APBD tingkat II untuk sektor kesehatan. Pada tahun ini kami telah berusaha melakukan perbaikan dari tahun sebelumnya agar data ini dapat dipergunakan semaksimal mungkin untuk perencanaan, evaluasi dan monitoring serta cermin terhadap pelaksanaan kegiatan yang harus dilakukan hari ini dan kedepan namun demikian untuk perbaikan kedepan terhadap substansi penyajian maupun waktu terbit dari profil ini dibutuhkan adanya komitmen bersama, keseriusan dan dukungan khususnya dari pengelola program terkait di Dinas Kesehatan Provinsi maupun Kabupaten/Kota termasuk RSU, sehingga tujuan profil kesehatan ini dapat menjadi salah satu sumber data dan informasi kesehatan dapat tercapai. Demikian kami sampaikan atas segala upaya dan bantuan semua pihak yang telah memberikan kontribusinya sehingga profil ini dapat terselesaikan, kami sampaikan terima kasih. Wassalam

Profil Kesehatan Provinsi NAD Tahun 2007 data 2006

65