You are on page 1of 2

Quo Vadis Piagam ASEAN Landasan awal pembentukan Piagam ASEAN adalah untuk mengubah orientasi organisas i yang

bersifat longgar menjadi berbasis hukum (rules-based). Hukum kini menjadi panglima dalam setiap tindakan yang akan diambil oleh ASEAN. Sejak 15 Desember 2008, Piagam ASEAN mulai mengikat anggotanya setelah Thailand menyerahkan dokumen ratifikasi terakhir. Dengan mulai berlakunya Piagam, maka AS EAN telah memiliki kapasitas sebagai subjek hukum (legal personality) sesuai yan g diamanatkan dalam pasal 3 Piagam. Kapasitas tersebut menjadikan ASEAN memiliki hak dan kewajiban hukum sebagaimana subjek hukum lainnya dalam hukum internasio nal.

ASEAN Sebagai Subyek Hukum (Legal Personality) Status ASEAN sebagai subyek hukum kini tidak perlu diragukan lagi. Sebagai subye k hukum maka ASEAN dibebani beragam hak dan kewajiban yang harus dilaksanakan, a kan tetapi Piagam sendiri tidak tegas mengatur pemisahan hak dan kewajiban yang dimiliki ASEAN sebagai entitas yang terpisah dari negara-negara anggota. Mengenai keistimewaan dan kekebalan ASEAN, sekjen serta staff misalnya, Piagam h anya memberikan jaminan sedangkan implementasinya diserahkan kepada perjanjian y ang dibuat antara ASEAN dengan negara anggota (Pasal 17 &18) . Sangat mungkin ja minan atas hak tersebut berbeda di tiap negara . Padahal keistimewaan dan kekeba lan dibutuhkan oleh ASEAN untuk menjalankan fungsi dan tugasnya. Piagam juga membatasi ASEAN untuk membuat perjanjian dengan entitas lain. Sinyal emen ini dapat dilihat dari penggunaan kata May dan bukan Shall pada Pasal 41 (7) ngenai pembuatan perjanjian dengan pihak di luar anggota. Pembentukan perjanjian antara ASEAN dengan entitas lain ini diperlukan untuk mewujudkan tujuan yang t elah diamanahkan negara anggota kepada ASEAN. Bunyi klausul tersebut membuktikan keengganan negara anggota untuk melepaskan sebagian kedaulatannya kepada ASEAN. Masalah kedaulatan negara inilah yang juga menyulitkan ASEAN untuk membahas perm asalahan penyelesaian sengketa diantara mereka. Penyelesaian Sengketa di ASEAN Ada dua alasan mengapa mekanisme penyelesaian sengketa di ASEAN perlu diperjelas . Pertama, Piagam dibuat dengan tujuan agar ASEAN lebih berorientasi pada hukum. Asumsinya adalah bahwa setiap sengketa hukum yang timbul di antara negara anggo ta harus diselesaikan melalui mekanisme hukum bukan sarana politik (konsultasi d an konsensus) Kedua, mekanisme yang tepat dapat menghindari sengketa hukum yang berkelanjutan antarnegara anggota sehingga dapat mengganggu stabilitas kawasan A SEAN yang sangat rentan. Isu penting dalam mekanisme penyelesaian sengketa adalah sanksi, penaatan sanksi dan kepastian hukum. Sanksi dalam mekanisme penyelesaian sengketa ASEAN tidak d iatur dengan jelas dalam Piagam. Setiap sengketa di ASEAN dapat diselesaikan mel alui beragam metode dengan hasil berupa rekomendasi, putusan atau temuan tanpa menyebutkan sanksi yang dapat dikeluarkan. Padahal pencantuman sanksi akan memb erikan kepastian hukum bagi para pihak sehingga akan memberikan perlakuan yang a dil. PBB misalnya, Piagam PBB secara tegas menyatakan dapat memberikan sanksi dike luarkan dari keanggotaan- bagi anggotanya yang melanggar ketentuan piagam. Piagam ASEAN juga tidak jelas mengatur tentang penaatan hasil penyelesaian sengk eta. Sekjen ASEAN memang diberikan kewenangan untuk memonitor dan melaporkan pen aatan putusan kepada KTT ASEAN untuk kemudian mencari putusan agar hasil penyele saian sengketa dilaksanakan apabila pihak yang bersengketa dimelaksanakan putusa n. Penyerahan pelanggaran penaatan putusan sengketa ke KTT ASEAN mengindikasikan bahwa wilayah politik masih mengungguli wilayah hukum. Review atau Amandemen? Pada KTT ke-14 (2009) di Thailand, para kelompok ahli hukum (High Level Legal Ex perts) ASEAN menganggap bahwa persoalan di atas menjadi sesuatu yang penting dib ahas. Tujuan untuk menjadikan ASEAN sebagai organisasi yang berbasis hukum melalui pem

berlakuan Piagam ASEAN ternyata masih jauh api daripada panggang. Banyak ketentu an dalam Piagam ASEAN yang lebih menekankan sarana politik dan diplomasi ketimba ng mekanisme hukum. oleh karena itu, untuk menjaga agar Piagam tetap berada pada tujuan semula perlu diadakan peninjauan kembali (review). Mekanisme ini dijamin oleh Piagam sendiri sebagai upaya untuk memperbaiki Piagam yang masih berumur muda. Apabila mekanisme review belum juga mampu mengembalikan Piagam kepada cita-cita semula, akan lebih baik kiranya jika negara-negara anggota ASEAN menimbang untuk mengadakan amandemen agar tujuan dan piagam berjalan selaras.