 Pandu Wibowo

 Mar’atuzzakia ah Sani
 Anggita Istiqamah  Riska Yunita

 Triyana Oktaviyani
 Widya Sari Dewi

Diyang Bahenda Balau menekan luapan marahnya.Dia merasakan dadanya amat sesak menahan kepedihan. Tidak ada yang disesalkan atas dirii Diyang Bahenda, Beliau sebagai kepala adat di Dusun Kuala Petak Danum, daerah aliran Sungai Barito. Akan tetapi tanggung jawabnya untuk menjaga tanah air hutan adat istiadat kebudayaan anak-anak dan mempertahankan goa-goa membuatnya galau, pilu dan , meradang. Diyang Bahenda Balau merasa ada beban berat karna lingkaran kehidupan suku-suku yang harus di lindunginya terbuat oleh materi yang disuguhkan karyawan HPH untuk kemudian dipertukarkan dengan sumber daya hutan .

Diyang menyampaikan pesan kepada saudara sepupunya bahwa hari ini kita tidak usah berangkat karna kampung harus dijaga. Hari itu Attak Marem mau memerik sarang burung wallet. Diyang Bahenda Balau mengatakan Bahwa urusan dengan pihak camat dan urusan dengan kepala bagian tanah air di kabupatan tidak dapat di ulur ulur lagi waktunya. Attak Marem menyampaikan bahwa sarang burung harus segera di panen. Bila tidak, ini akan di panen oleh para rampok yang berkeliaran di gunung-gunung. Diang menegaskan bahwa urusan tanah adat lebih penting. Diang menyampaikan pendapatnya bahwa mereka dan penduduk harus siap menghadapi situasi yang terburuk termasuk mengedakan perlawanan

Akhirnya Diang dan Attak Marem meninggalkan dusun Kuala Pejek Denun dengan mesin kelotok kubota 75 PK menempug jarak 11 jam perjalanan untuk sampai ke kantor kecamatan. Diyang Bahenda Balau menyampaikan ke camat Bahwa HPH disebelah selatan Dusun Tiwah sudah dekat posisinya dan sekarang sudah memasuki tanah adat. Diyang mengungkapkan bahwa pak camat harus mengambil tindakan sebelum alat-alat HPH menerjang kuburan keramat nenek moyangnya. Attak Marem menyambung bahwa mereka akan mengadakan perlawanan kalau sampai kuburan keramat terbongkar

Pertemuan berlangsung dalam suasana kaku. Pak Camat mengatakan bahwa masalah ini harus diatur dengan pihak kebupaten. Alasannya sebagai kepala wilayah camat tidak berjal memutuskan segala perkara. Beliah meminta sertifikat tanah adat dibawa kalau menghadap Pak Bupati agar semuanya jelas. Diyang dan Attak tertegun membayangkan dimana sertifikat tanah adat tersebut disimpan

Tidak ada kesepakatan dan kata akhir dari pertemuan malam itu. Harapan semua menjadi sirna, Diyang pulang dengan hati perih. Drah Attak Marem mendesir dan mulutnya seakan mau berteriak mengucapkan “lahap” yaitu ucapan Heroik dalam upacara Ngayau yaitu tradisi lama pemenggalan kepala. Tetapi diurungkan karena Pak Camat telah membuka jalan bagi mereka dan penduduk agar menyertakan sertifikat tanah adat yang akan diperlihatkan untuk penyelesaian sengketa tanah adat.

Jalan Ceritanya : Karena menceritakan bahwa menurut kepala adat daerah tersebut tanah adat yang mereka huni adalah milik mereka dan batas-batas wilayahnya sudah jelas, tetapi menurut BPN dan daerah tersebut termasuk dalam areal HPH ini artinya tanah tersebut milik pemerintah

Nilai Politik

Nilai Kemanusiaan

Nilai Budaya

Nilai Moral

 Karena cerpen tersebut menceritakan hubungan

antara permasalahan kepala adat BPN dan pemerintah.

 Diyang Bahenda Balau tetap melestarikan upacara

adat didaerahnya. Ditunjukkan pada kalimat “tepat setelah upacara selesai diadakan, aku mau pergi ke kecamatan

 Ditunjukan pada kalimat yang benar dan adil harus segera

di tegakkan yang jahat dan perampas harus disingkirkan.

 Ditunjukan pada kalimat “Betapa Diyang Bahenda

Balau tidak meradang sebab lanting kayu gelondongan itu tak bisa dikendalikan dan menghantam tampa ampun rumah panggung milik Ni Datuh Bahendang Balau”