P. 1
Skripsi Komunikasi Bab I-3

Skripsi Komunikasi Bab I-3

4.78

|Views: 38,007|Likes:
Published by nurulhisyam67965

More info:

Published by: nurulhisyam67965 on Jan 31, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as RTF or read online from Scribd
See more
See less

11/06/2015

POLA KOMUNIKASI KEPEMIMPINAN IPNU ANCAB PURWODADI DALAM MEMBANGUN KOHESIFITAS ANGGOTA

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Komunikasi merupakan aktifitas manusia yang sangat penting, bukan hanya dalam kehidupan organisasi, namun dalam kehidupan manusia secara umum. Tiada hari tanpa komunikasi, sepanjang detak jantung masih ada. Bahkan orang yang melakukan meditasi-pun pada hakikatnya sedang melakukan komunikasi, termasuk orang yang sedang bertapa di suatu tempat yang dianggap keramat. Komunikasi merupakan hal yang esensial dalam kehidupan kita. Kita semua berinteraksi dengan sesama dengan cara melakukan komunikasi. Komunikasi dapat dilakukan dengan cara yang sederhana sampai cara yang kompleks, namun sekarang ini perkembangan teknologi telah merubah cara kita berkomunikasi secara drastis. Komunikasi tidak terbatas pada kata-kata yang terucap belaka, melainkan bentuk dari apa saja interaksi, senyuman, anggukan kepala yang membenarkan hati, sikap badan, ungkapan minat, sperhatian yang mendukung diterimanya pengertian, sikap dan peraaan yang sama. Diterimanya pengertian yang sama adalah merupakan kunci dalam komunikasi. Tanpa penerimaan

sesuatu dengan pengertian yang sama, maka yang terjadi adalah "dialog antara orang satu". Organisasi atau Organization bersumber dari kata kerja bahasa Latin Organizare ! to form as or into a whole consisting of interdependent or coordinated parts [membentuk sebagai atau menjadi keseluruhan dari bagianbagian yang saling bergantung atau terkoordinasi] Evert M. Rogers dan Rekha Agarwala Rogers dalam bukunya Communications in Organization "a stable system of individuals who work togather to achieve, through a hierarchy of ranks and division of labour, common goals" Suatu sistem yang mapan dari mereka yang bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama, melalui suatu jenjang kepangkatan dan pembagian tugas Robert Bonnington dan Berverd E. Needles, Jr. dalam bukunya Modern Business : A Systems Approach Organization is the means by which management coordinates material and human resources through the design of a formal structure of tasks and authority Organisasi adalah sarana dimana manajemen mengkoordinasikan sumber bahan dan sumber daya manusia melalui pola struktur formal dari tugas-tugas dan wewenang] Ditinjau dari aspek Business, organisasi adalah sarana manajemen [ditinjau dari aspek kegiatannya, bukan struktur. " Tujuan organisasi tidak mungkin tercapai tanpa manajemen dan komunikasi. " Manajemen tidak mungkin ada tanpa organisasi. Manajemen ada, jika ada tujuan yang akan dicapai atau diselesaikan. Korelasi antara Ilmu Komunikasi dengan organisasi terletak pada peninjauannya yang terfokus kepada manusia-manusia yang terlibat dalam mencapai tujuan organisasi.

Dengan penguasaan komunikasi yang baik pimpinan organisasi dapat mempunyai nilai tambah, baik dalam kehidupannya secara umum, maupun dalam mengkontribusikan dirinya di tempat kerja kelak, sehingga lebih produktif. Komunikasi yang efektif terjadi apabila individu mencapai

pemahaman bersama, merangsang pihak lain melakukan tindakan, dan mendorong orang untuk berpikir dengan cara baru. Kemampuan untuk berkomunikasi secara efektif akan menambah produktifitas, baik individu yang bersangkutan maupun organisasinya, sehingga dapat mengantisipasi masalah, membuat keputusan secara efektif, mengkoordinasikan arus kerja, mensupervisi orang lain, mengembangkan kerja dan jasa hubungan organisasi. serta dapat

mempromosikan

program

Kemampuan

berkomunikasi secara efektif pada dasarnya akan menentukan keberhasilan seseorang, dimanapun ia berada, bukan hanya dalam dunia organisasi. Tujuan utama dalam mempelajari komunikasi adalah memperbaiki organisasi. Memperbaiki organisasi biasanya ditafsirkan sebagai

“memperbaiki hal-hal untuk mencapai tujuan manajemen”. Dengan kata lain, orang mempelajari komunikasi organisasi untuk menjadi menajer yang lebih baik. Sebagian penulis berpendapat bahwa manajemen adalah komunikasi. Seringkali teori tradisional dan petunjuk mengenai organisasi dan komunikasi organisasi ditulis dari suatu perspektif manajerial dan sangat menekankan suatu pandangan obyektif. Karenanya, penulis memandang studi komunikasi organisasi sebagai

landasan kuat bagi pengembangan sumber daya manusia, dan komunikasi organisasi, dan tugas-tugas lain yang berorientasikan manusia dalam organisasi. Organisasi yang dinamis akan selalu meningkatkan produktivitasnya serta mempertahankan hal yang menjadi keunggulan kompetitif mereka. Memperhatikan sumber daya fisik, keuangan, kemampuan memasarkan, serta sumber daya manusia adalah beberapa faktor penting yang disyaratkan bagi organisasi untuk tetap kompetitif (Fisher, Schoenfeldt, dan Shaw, 2006). Faktor yang dianggap paling potensial dalam penyediaan keunggulan kompetitif bagi organisasi adalah sumber daya manusia, serta terkait dengan bagaimana mengelola sumber daya ini. Faktor lain seperti sumber daya keuangan, produksi, teknologi, dan pemasaran tidak mendapat perhatian penuh karena faktor-faktor tersebut cenderung dapat ditiru. Menurut Fisher dkk. (2006) dasar pengelolaan manusia sebenarnya juga dapat ditiru, namun strategi yang paling efektif bagi organisasi dalam menemukan cara-cara yang unik untuk menarik, mempertahankan, serta memotivasi anggota mereka lebih sulit untuk ditiru oleh yang lainnya. Selain itu, yang dulunya organisasi dalam mengevaluasi kinerja mereka sangat bergantung pada penilaian secara faktor keuangan, sekarang ini faktor human capital menjadi sangat penting sebagai faktor-faktor penting yang memprediksikan perilaku aggota dan kinerjanya. Sebagai contoh, para peneliti menemukan bahwa ada hubungan signifikan positif antara perilaku kognitif anggota dengan kinerja (Osroff, 1992; dikutip oleh Luthans dan

Peterson (2002); antara kepribadiaan dengan kinerja (Barrick dan Mount, 1991; dikutip dalam Luthans dan Peterson, 2002); antara emosi dengan kinerja (Staw, Sutton dan Pelled, 1994; dikutip dalam Luthans dan Peterson, 2002). Dapat disimpulkan bahwa yang membuat organisasi dapat mencapai kinerja yang diharapkan serta memiliki keunggulan kompetitif adalah ketika orang didalamnya melakukan apa yang terbaik dari mereka, apa yang mereka senangi serta kuatnya faktor kepemilikan secara psikologis dalam

melaksanakan dan memberi hasil pada pekerjaan mereka. Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) adalah organisasi kader yang lahir atas tuntutan sejarah. Ia merupakan bagian integral dari potensi generasi muda Indonesia yang menitikberatkan bidang garapannya pada pembinan dan pengembangan pelajar dan santri. Dua segmen tersebut merupakan pilar utama keberadaan IPNU yang harus terus dikembangkan secara dinamis, sesuai dengan tuntutan perkembangan dan kebutuhan masyarakat. IPNU lahir atas tuntutan kebutuhan untuk menghimpun pelajar NU. Kebutuhan akan wadah bagi pelajar NU tersebut sebenarnya sudah sejak lama dirasakan mendesak. Hal ini sangat disadari oleh para pelajar pada saat itu, sehingga secara lokalistik banyak berdiri perkumpulan pelajar yang berafiliasi kepada Nahdlatul Ulama. Di antara organisasi pelajar itu adalah Tsamaratul Mustafidin yang terbentuk pada tanggal 11 Oktober 1936 di Surabaya, Persatuan Anak-anak Nahdlatul Oelama (PERSANO), Persatuan Anak Moerid Nahdlatul Oelama (PAMNO) tahun 1941; Ikatan Moerid Nahdlatul Oelama (IMNO) pada tahun 1945, Ijtimauttholabah Nahdlatul Oelama (ITNO) pada

tahun 1946, Subbanul Muslimin yang berdiri di Madura, serta masih banyak lagi. Karena keterbatasan yang masih sangat lokalistik tersebut, maka akan sangat sulit dicapai penggalangan pelajar NU secara nasional. Sebab dengan adanya perkumpulan-perkumpulan itu masih banyak terjadi kesenjangan antara mereka yang berasal dari pesantren, madrasah, dan sekolah umum, sehingga banyak mengalami kesulitan. Di samping bersifat kedaerahan, gerakan yang dilakukan oleh organisasi-organisasi tersebut tidak koordinatif. Akibatnya tujuan gerakan yang dilakukan tidak tercapai secara optimal. IPNU tidak dapat melepaskan diri dari latar belakang sejarah kehadirannya sebagai organisasi yang lahir dari kultur masyarakat tertentu, yang memberikan tekanan penting pada aspek-aspek transendental. Dalam kaitan dengan partisipasi IPNU dalam pembangunan, terutama dengan peningkatan sumber daya manusia Indonesia, IPNU harus

merefleksikan harapannya untuk mengembangkan prakarsa dan pemandirian pemuda melalui ikhtiar-ikhtiar yang menuju peningkatan kualitas sumber daya manusia. Kesemua itu berpulang pada kurangnya kemampuan manajerial unsur pimpinan yang ada, baik karena adanya kesenjangan wawasan di antara unsur pimpinan, tingkat keaktifan unsur pimpinan. Sedangkan kendala eksternal organisasi antara lain masih belum meratanya koordinasi instansi pemerintah (dalam hal ini departemendepartemen yang ikut bertanggung jawab terhadap pembinaan dan

pengembangan

kepemudaan

nasional)

dengan

organisasi-organisasi

kemasyarakatan pemuda (OKP). Sehingga, hal itu menyulitkan kerjasama program dengan IPNU dalam kaitan dengan pembinaan kepemudaan, khususnya dalam ikut serta meningkatkan peran IPNU dalam pembinaan dan pengembangan kepemudaan, katanya. Dari paparan di atas akhirnya penulis merasa tertarik untuk mengadakan penelitian dengan judul “ANALISIS POLA KOMUNIKAS KEPEMIMPINAN IPNU ANCAB PURWODADI TERHADAP

KOHESIFITAS ANGGOTA”

B. Rumusan Masalah Dari latar belakang di atas maka dapat ditarik rumusan masalah

sebagai berikut : 1. Bagaimana pola komunikasi IPNU ANCAB Purwodadi ? 2. Sejauh mana kedekatan pimpinan anggotanya ? 3. Faktor apa saja yang menghambat pimpinan ANCAB Purwodadi dalam melakukan komunikasi dengan anggota ? 4. Upaya apa yang dilakukan pimpinan ANCAB Purwodadi dalam melakukan komunikasi dengan anggota ? IPNU ANCAB Purwodadi dengan

C. Tujuan Penelitian 1. Untuk mengetahui pola komunikasi IPNU ANCAB

Purwodadi ? 2. Untuk mengetahui upaya yang dilakukan pimpinan IPNU

ANCAB Purwodadi dalam membangun dkomunikasi dengan anggotanya ? 3. Untuk mengetahui hal-hal yang menghambat pimpinan ANCAB Purwodadi dalam melakukan komunikasi dengan anggota ? 4. Untuk mengetahui upaya apa yang dilakukan pimpinan ANCAB Purwodadi dalam melakukan komunikasi dengan anggota ?

D. Manfaat Penelitian 1. Bagi peneliti, penelitian ini diharapkan menjadi suatu wacana untuk menambah dan meningkatkan pengetahuan dalam segi keilmuan khususnya komunikasi dan kepemimpinan organisasi. 2. Bagi peneliti selanjutnya, Diharapkan dapat memberikan sumbangsih pemikiran dalam eksplorasi konsep komunikasi dan kepemimpinan dalam organisai. 3. Bagi Universitas Yudharta, penelitian ini diharapkan menjadi sebuah pengetahuan yang dapat dibaca dan dianalisa kembali oleh mahasiswa Universitas Yudharta. 4. Bagi pengembangan keilmuan, penelitian ini diharapkan menjadi tambahan khasanah keilmuan dalam kehidupan dan

salah

satu

_lternative

langkah

untuk

mengumpulkan

pembentukan komunikasi dan kepemimpinan yang ideal.

E. Definisi Istilah Komunikasi Organisasi yang dimaksud disini adalah penafsiran pesan diantara unit-unit komunikasi yang merupakan bagian suatu organisasi tertentu (IPNU ANCAB Purwodadi). Kohesifitas yang dimaksud disini adalah daya tarik menarik antara pimpinan organisasi dan anggota dalam membangun efektifitas fleksibilitas komunikasi organisasi.

F. Sistematika Pembahasan Untuk mempermudah penulisan karya ilmiah yang sistematis dan konsisten dari keseluruhan isi skripsi, maka perlu disusun sistematika penulisan sedemikian sehingga dapat menunjukkan suatu totalitas yang utuh dari penulisan skripsi, maka sistem pembahasan dapat dibagi dalam beberapa bab. Untuk lebih jelasnya dapat dideskripsikan sebagai berikut : BAB I PENDAHULUAN Berisi pendahuluan yang meliputi: Latar Belakang Masalah, Rumusan Masalah, Tujuan Penelitian, Penegasan atau Definisi Istilah, Sistematika Pembahasan. BAB II KAJIAN PUSTAKA Berisi Kajian Pustaka, Dalam pembahasan ini akan dijelaskan teori-teori yang ada kaitannya dengan konsep komunikasi dan kepemimpinan diataranya: pengertian komunikasi, pengertian organisasi, komunikasi organisasi, factorfaktor penghambat komunikasi, upaya-upaya membangun komunikasi yang

efektif. BAB III METODOLOGI PENELITIAN Berisi Metodologi Penelitian yang meliputi, Metodologi Penelitian, Metode Pengumpulan Data, Sumber Data, Instrument Penelitian, Metode Analisis Data. BAB IV ANALISIS DATA Pada bab ini akan menjelaskan tentang analisis data yang yang diperoleh dari wawancara langsung dan dokumentasi yang ada di IPNU ANCAB Purwodadi yang meliputi, Konsep komunikasi, Realitas komunikais di IPNU ANCAB Purwodadi, pola komunikasi kepemimpinan, komunikasi organisasi, faktor-faktor penghambat komunikasi organisasi, dan upaya untuk mengatasi kesulitan komunikasi dalam kepemimpinan organisasi. BAB V PENUTUP Komunikasi adalah satu hal yang tidak dapat dipandang sebelah mata dalam organisasi, karena keberhasilan organisasi akan dapat dilihat apabila pimpinan organisasi dapat berkomuniasi secara efektif dan fleksibel terhadap anggotanya sehingga pesan yang disampaikan dapat dipahami dan dijalankan secara maksimal.

BAB II KAJIAN PUSTAKA

A. Pola komunikasi kepemimpinan 1. Devinisi komunikasi Komunikasi merupakan suatu proses penyampaian pesan melalui lambang tertentu, mengandung arti, dan pengoperan perangsang untuk mengubah tingkah laku individu yang lain. untuk mengubah tingkah laku individu yang lain. Komunikasi seperti yang diungkapkan Edward Depari, Komunikasi adalah proses penyampaian gagasan, harapan dan pesan yang disampaikan melalui lambang tertentu, mengandung arti, dilakukan oleh penyampai pesan ditujukan kepada penerima pesan ( Widjaja, 1986 ; 13 ). Sedangkan menurut Carl I. Hovland pengertian komunikasi tidak berhenti sampai pada penyampaian pesan saja melainkan proses dimana seorang individu mengoperkan perangsang untuk mengubah tingkah laku individu – individu yang lain. Jadi komunikasi merupakan suatu proses penyampaian pesan melalui lambang tertentu, mengandung arti, dan pengoperan perangsang untuk mengubah tingkah laku individu yang lain. untuk mengubah tingkah laku individu yang lain. 2. Hakekat Komunikasi Memahami komunikasi berarti memahami apa yang terjadi selama komunikasi berlangsung, mengapa itu terjadi, manfaat apa yang dirasakan,

akibat-akibat apa yang ditimbulkannya, apakah tujuan dari aktifitas berkomunikasi sesuai dengan apa yang diinginkan, memahami hal-hal yang dapat mempengaruhi dan memaksimalkan hasil-hasil dari kejadian tersebut.Menurut Anwar arifin (1988:17), komunikasi merupakan suatu konsep yang multi makna. Makna komunikasi dapat dibedakan berdasarkan: a. Komunikasi sebagai proses sosial Komunikasi pada makna ini ada dalam konteks ilmu sosial. Dimana para ahli ilmu sosial melakukan penelitian dengan menggunakan pendekatan komunikasi yang secara umum

menfokuskan pada kegiatan manusia dan kaitan pesan dengan perilaku. Harold D. Lasswell meneliti masalah identifikasi simbol dan image yang bertolak belakang dengan realitas/efek pada opini publik. Berkaitan dengan efek-efek teknik propaganda pada perang dunia 1 (1927). Beliau seorang ahli politik, meneliti dengan cara meyebarkan leaflet mengenai perang. Kurt lewin meneliti fungsi-fungsi komunikasi pada kelompok sosial informal. Lewin meneliti tipe-tipe gatekeeper yang dilakukan oleh pemimpin-pemimpin autokratik, demokratik. Lewin juga meneliti individu-individu yang ada pada kelompok-kelompok penekan dan individu-individu yang berada pada kelompok (members group). Soearang ahli psikologi.

Carl Hovland meneliti kredibilitas sumber (komunikator) hubungannya dengan efek persuasi (perubahan sikap). Hovland adalah peneliti yang memperkenalkan penelitian-peneltian eksperimental dalam komunikasi massa. Seorang ahli sosiologi, meneliti melalu pemutaran film berbeda kepada 2 kelompok berbeda, dan melihat efek dari film tersebut terhadap individu. Kredibiltas terdiri dari 1. Expert (ahli dalam bidang tersebut) 2. Competency (memiliki kompetensi) 3. Skill (harus memiliki kemampuan dalam bidang nya) 4. Trust (harus bisa di percaya) Paul F.Lazarsfeld mengungkapkan hubungan antara status sosial, ekonomi, mass media exposure dan pengaruh interpersonal atau efek pengetahuan, sikap dan perubahan perilaku. Beliau seorang ahli matematika Teknik-teknik analisis yang digunakan oleh para peneliti tersebut memberikan contoh bagaimana menjelaskan sistem

komunikasi dalam konteks proses sosial. b. Komunikasi sebagai Peristiwa Dalam hal ini komunikasi mempunyai pengertian, bahwa komunikasi merupakan gejala yang dipahami dari sudut bagaimana bentuk dan sifat terjadinya. Peristiwa komunikasi dapat

diklasifikasikan berdasarkan kriteria tertentu. Ada yang membedakan komunikasi massa dengan komunikasi tatap muka, komunikasi verbal dan non verbal, komunikasi yang menggunakan media dan tanpa media.

c. Komunikasi sebagai Ilmu Struktur ilmu pengetahuan meliputi aspek aksiologi,

epistomologi dan ontologi. Aksiologi mempertanyakan dimensi utilitas (faedah, peranan dan kegunaan). Epistomologi menjelaskan normanorma yang dipergunakan ilmu pengetahuan untuk membenarkan dirinya sendiri. Sedangkan ontologi mengenai struktur material dari ilmu pengetahuan. d. Komunikasi keterampilan Komunikasi dipandang sebagai skill yang oleh individu dipergunakan untuk melakukan profesi komunikasi. Perkembangan dunia komunikasi di Indonesia pada masa yang akan datang menunjukkan prospek yang semakin cerah. Dengan demikian, masalah-masalah yang berhubungan dengan profesi komunikasi tetap menjadi agenda penting. Antara komunikasi dan bidang profesional terdapat kaitan yang signifikan. Dalam menunjang suatu profesi atau karir yang menuntut kemampuan pemahaman pada sifat dasar komunikasi, berkomunikasi secara kompeten dan efektif diperlukan dalam bidang kemampuan berkomunikasi (speech communication), komunikasi massa, komunikasi organisasi, komunikasi politik, public relations, periklanan, penyiaran (broadcasting) dan pemasaran. Pengetahuan dan kemampuan komunikasi adalah dasar untuk kualitas kepemimpinan. Merupakan hal pokok untuk hubungan sebagai kiat atau

interpersonal, mempengaruhi dan perkembangan informasi dalam organisasi. Komunikasi juga memainkan peran penting dalam perencanaan, pengambilan keputusan, pemikiran strategis,

memperoleh pengetahuan teknis dan menilai hasil. 3. Proses komunikasi Proses komunikasi meliputi: Komunikator -> Pesan (bisa berupa lisan maupun tulisan -> media -> komunikan-> efek -> perilaku 4. Arus Komunikasi Dalam Organisasi
a. Komunikasi ke atas Merupakan pesan yang dikirim dari tingkat hirarki yang lebih rendah ke tingkat yang lebih tinggi. Misal : dari ketua himpunan ke ketua bidang, atau dari ketua panitia ke para pelaksana. Komunikasi ini sangat penting untuk mempertahankan bagi pertumbuhan organisasi. Muncul manajemen umpan balik yang dapat menumbuhkan semangat kerja bagi anggota organisasi. Adanya perasaan memiliki dan merasa sebagai bagian dari organisasi dari bawahannya. Masalah yang timbul dalam komunikasi ke atas : 1) Karena pesan yang mengalir ke atas sering merupakan pesan yang harus didengar oleh hirarki yang lebih tinggi/atasan, para pekerja seringkali enggan menyampaikan pesan yang negatif. 2) Seringkali pesan yang disampaikan ketas, terutama yang menyangkut ketidakpuasan bawahan, tidak didengar atau ditanggapi oleh manajemen. 3) Kadang-kadang pesan tidak sampai. Karena disaring oleh penjaga

gerbang arus pesan. Atau bisa terjadi lebih baik bertanya pada rekan kerja atau sesame mahasiswa. 4) Arus ke bawah terlalu besar sehingga tidak ada celah untuk menerima pesan dari bawah. 5) Hambatan fisik. Biasanya secara fisik pimpinan dengan bawahan berjauhan. b. Komunikasi ke bawah Merupakan pesan yang dikirim dari tingkat hirarki yang lebih tinggi ke tingkat yang lebih rendah. Contoh, pesan dari direktur pada sekretaris, dari ketua senat pada bawahannya, dll. Masalah yang timbul Manajemen dan bawahan seringkali berbicara dengan bahasa yang berbeda. c. Komunikasi Lateral Merupakan arus pesan antar sesama – ketua bidang ke ketua bidang, anggota ke anggota. Pesan semacam ini bergerak di bagian bidang yang sama di dalam organisasi atau mengalir antar bagian. Masalah yang timbul adalah: 1) Bahasa yang khusus dikembangkan oleh divisi tertentu di dalam organisasi 2) Merasa bidangnya adalah yang paling penting dalam organisasi

5. Pola komunikasi Pola komunikasi merupakan suatu sistem penyampaian pesan melalui lambang tertentu, mengandung arti, dan pengoperan perangsang untuk mengubah tingkah laku individu yang lain. untuk mengubah tingkah

laku individu yang lain. 6. Komunikasi organisasi Setidaknya ada tiga kemampuan komunikasi yang perlu dimiliki oleh seorang pemimpin, yaitu komunikasi interpersonal, komunikasi kelompok, dan komunikasi publik. Ketiga kemampuan komunikasi ini saling mendukung antara satu dengan yang lain dalam mengembangkan iklim komunikasi yang baik bagi organisasi. Kemampuan pertama adalah komunikasi interpersonal. Komunikasi interpersonal adalah kemampuan pemimpin untuk melakukan komunikasi perorangan, baik dengan rekan sejawatnya maupun bawahannya. Cara seorang pemimpin berbicara misalnya, akan sangat berpengaruh terhadap bagaimana bawahan melakukan respon terhadapnya. Seorang pemimpin yang menghargai bawahan dengan baik, akan mampu membangun kepercayaan diri yang kuat dari bawahan tersebut untuk mengusulkan berbagai inovasi dan perbaikan bagi organisasi. Yang diuntungkan tentu saja pemimpin itu sendiri karena kemampuan organisasi akan terus meningkat seiring dengan inovasi dan perbaikan dari seluruh anggotanya. Dalam komunikasi interpersona, pemimpin juga perlu

mengembangkan sikap empati dalam komunikasinya. Empati adalah berpikir seakan-akan dalam posisi lawan bicara kita. Jika kita ingin mengeluarkan kata-kata misalnya, kita berpikir seandainya berada dalam posisi sebagai lawan bicara. Sehingga, kata-kata yang kita keluarkan dipikirkan betul apakah akan menyakitkan atau tidak. Berpikir empati

melatih kita untuk berpikir tentang akibat dan dampak yang akan ditimbulkan terutama terhadap orang lain. Dengan pola komunikasi semacam ini akan menimbulkan tenggang rasa di antara satu dengan yang lain. Tenggang rasa inilah yang akan menimbulkan rasa saling menghormati dan menghargai. Komunikasi interpesona pada hakekatnya adalah komunikasi antara seorang komuikator dengan seorang komunikan, jenis komunikasi seperti ini dianggap efektif untuk mengubah sikap, pendapat, atau perilaku manusia karena prosesnya yang dialogis(Effendy, 1986:12). Sifat dialogis ini ditunjukkan melalui komunikasi lisan dalam percakapan yang menampilakan arus balik langsung, jadi komunikator mengetahui tanggapan komunikan pada saat itu juga, komunikator mengetahui dengan pasti pesan-pesan yang dia kirimkan itu diterima atau di tolak, berdampak positif atau negatif. Kemampuan kedua yang perlu dimiliki seorang pemimpin adalah komunikasi kelompok. Dalam organisasi modern, aktifitas kerja biasanya dibagi dalam kelompok-kelompok kecil yang memainkan peran sebagai tim kerja untuk suatu gugus tugas tertentu. Efektifitas kerja suatu kelompok tergantung dari apakah tim tersebut mampu mengalirkan informasi secara baik kepada setiap anggotanya. Keterampilan komunikasi selanjutnya yang dibutuhkan seorang pemimpin adalah kemampuan dalam melakukan komunikasi dengan orang banyak, atau yang disebut sebagai komunikasi publik. Sebagai pemimpin,

kemampuan melakukan komunikasi publik ini sangat penting karena pada banyak kesempatan hal itu akan sering dilakukan. Komunikasi publik dilakukan misalnya pada saat menjelaskan program-program dan rencana kerja organisasi di depan para anggota. Kemampuan menjelaskan yang baik akan sangat membantu pemimpin menerapkan visi yang dimilikinya untuk bisa ditularkan kepada seluruh anggota. 7. Kepemimpinan dalam Organisasi Hill dan Caroll (1997) berpendapat bahwa, kepemimpinan dapat diartikan sebagai kemampuan mendorong sejumlah orang (dua orang atau lebih) agar bekerja sama dalam melaksanakan kegiatan-kegiatan yang terarah pada tujuan bersama. Struktur organisasi adalah kerangka atau susunan unit atau satuan kerja atau fungsi-fungsi yang dijabarkan dari tugas atau kegiatan pokok suatu organisasi, dalam usaha mencapai tujuannya. Setiap unit mempunyai posisi masing-masing, sehingga ada unit yang berbeda jenjang atau tingkatannya dan ada pula yang sama jenjang atau tingkatannya antara yang satu dengan yang lain. a. Fungsi dan tipe kepemimpinan Dalam gaya dan tipe kepemimpinan yang tidak sama, bahkan juga bervariasi, dapat dianalisa pula fungsi-fungsi kepemimpinan. Kepemimpinan akan berlangsung efektif bilamana mampu memenuhi fungsinya, meskipun dalam kenyataannya peluang tidak semua sama tipe untuk

kepemimpinan

memberikan

yang

mewujudkannya. Dalam hubungan itu sulit untuk dibantah bahwa setiap proses kepemimpinan juga akan menghasilkan situasi sosial yang berlangsung di dalam kelompok atau organisasi masing-masing. Untuk itu setiap pemimpin harus mampu menganalisa situasi sosial kelompok atau organisasinya yang dapat dimanfaatkan dalam mewujudkan fungsi kepemimpinan dengan kerja sama dan bantuan orang-orang yang dipimpinnya. Fungsi kepemimpinan menurut Hill dan Caroll (1997) memiliki dua dimensi sebagai berikut: 1) Dimensi yang berkenaan dengan tingkat kemampuan mengarahkan (direction) dalam tindakan atau aktivitas pemimpin, yang terlihat pada tanggapan orang-orang yang dipimpinnya; 2) Dimensi yang berkenaan dengan tingkat dukungan (support) atau keterlibatan orang-orang yang dipimpin dalam melaksanakan tugas-tugas pokok kelompok atau organisasi, yang dijabarkan dan dimanifestasikan melalui keputusan-keputusan dan kebijaksanaankebijaksanaan pemimpin. Berdasarkan kedua dimensi tersebut secara operasional dapat dibedakan lima fungsi pokok kepemimpinan, yaitu: 1). Fungsi instruktif 2). Fungsi konsultatif 3). Fungsi partisipasi 4). Fungsi delegasi

5). Fungsi pengendalian b. Memimpin Dengan Komunikasi Efektif Seorang anggota dari sebuah organisasi mengeluh, katanya: “Saya mempunyai atasan yang maunya hanya usulan dan pikiran dia yang didengar, sementara jika kita mengusulkan sesuatu, seakan-akan usulan kita tidak berguna sama sekali. Repotnya, itu dilakukannya berkalikali, sehingga lama-kelamaan membuat kita malas untuk berpikir. Dalam pikiran kita, toh usulan yang kita pikirkan tidak akan pernah diterima”. Begitu ia berkata sambil menggerutu. Cerita di atas mungkin sering kita dengar dari banyak kalangan dan organisasi, baik itu di organisasi pemerintah maupun swasta. Ditarik benang merah, muaranya hanya satu: tidak adanya iklim komunikasi yang baik antara pemimpin dengan bawahan, maupun antara bawahan dengan bawahan. Akibat dari tidak adanya iklim komunikasi yang baik akan berpengaruh terhadap iklim kerja organisasi, yang pada akhirnya mempengaruhi motivasi dan semangat kerja para anggota. Komunikasi yang baik karenanya menjadi sesuatu yang vital jika seorang pemimpin menginginkan membangun suasana kerja yang kondusif bagi anggotanya. c. Membangun Iklim Komunikasi Yang Baik Iklim komunikasi yang baik akan terjadi pada saat semua orang di dalam organisasi bisa memberikan dan menyalurkan pesan yang

diinginkan secara nyaman, dan mencapai sasaran yang diinginkan. Iklim komunikasi sangat tergantung dari cara seorang pemimpin mengembangkan gaya kepemimpinan dan sistem manajemen yang diterapkan pada organisasinya. Pemimpin yang otoriter akan cenderung memaksakan kehendak dirinya untuk diterapkan pada seluruh organisasi. Pada pola kepemimpinan semacam ini, bawahan akan cenderung menunggu, sehingga pola komunikasi berjalan searah dari pimpinan kepada bawahan. Bagi orang-orang dengan kemampuan dan pemikiran yang baik, kepemimpinan semacam ini akan menjadi pengekangan terhadap kreatifitas dan inovasi yang ada dalam pikirannya. Di lain pihak, kita juga sering mendapati beberapa orang pemimpin mengeluh bahwa bawahannya tidak bekerja sesuai dengan apa yang diinginkan. Tidak ada inovasi, perkembangan, ataupun semangat dalam menjalankan tugas sehari-hari. Mereka bekerja hanya kalau diberikan tugas tertentu saja dan tidak ada inisiatif sendiri. Kondisi demikian tidak bisa serta merta ditimpakan kesalahannya pada bawahan, karena sangat mungkin dipengaruhi oleh cara pemimpin melakukan komunikasi yang kurang pas dengan bawahan. Iklim komunikasi yang dibangun tidak hanya menyebabkan orang tersebut menjadi malas bekerja ataupun ogah-ogahan, tetapi juga menyebabkan ketidakpuasan kerja secara keseluruhan. Untuk bisa membangun iklim komunikasi yang baik, ada empat

pilar yang menjadi kunci bagi seorang pemimpin, yaitu keterbukaan, penghargaan, partisipasi, dan kemudahan akses komunikasi. Empat pilar ini menjadi unsur penting pengembangan iklim komunikasi yang baik.

Keterbukaan informasi menjadi inti dari sebuah komunikasi organisasi. Organisasi yang terbuka memungkinkan semua orang mendapatkan informasi yang diperlukan secara menyeluruh.

Komunikasi yang integral membuat pemahaman pegawai menjadi utuh sekaligus menghindarkan diri dari persepsi ataupun pemaknaan yang salah terhadap suatu masalah tertentu. Tidak berarti semua informasi yang ada dalam organisasi harus dibuka semuanya. Tentu saja masingmasing orang memiliki porsi masing-masing sejauh mana seseorang mempunyai kebutuhan terhadap informasi tertentu. Sejalan dengan keterbukaan informasi, bagaimana manajemen menciptakan sistem akses yang mudah bagi semua pegawai dalam mendapatkan informasi. Kemudahan akses terhadap informasi akan memberikan rasa nyaman karena kebutuhan mereka mendapatkan

informasi bisa terpenuhi dengan baik. Hal ini pada akhirnya akan bisa menimbulkan kepuasan informasi yang baik bagi mereka. Penghargaan terhadap kerja-kerja bawahan ini tidak harus selalu bersifat material. Terkadang, penghargaan yang bersifat pujian sederhana sangat berarti bagi seorang bawahan setelah melakukan berbagai pekerjaan. Bagi mereka, pujian tersebut bisa menjadi pelecut motivasi yang kuat untuk bisa bekerja lebih baik di masa mendatang. Iklim komunikasi yang baik juga sulit tercapai bila tidak ada upaya dari manajemen untuk membangun partisipasi aktif dari anggota-anggota organisasi. Partisipasi aktif dalam proses

pengambilan keputusan bisa lebih dibangun jika pendapat masingmasing orang dihargai dengan semestinya. Penghargaan terhadap pemikiran dan inovasi bawahan akan membuat mereka nyaman untuk bekerja, sekaligus merasa memiliki terhadap organisasi. Pada akhirnya, hal itu akan meningkatkan motivasi mereka dalam bekerja.
Untuk menjawab pertannyaan kedua dapat dirumuskan dua kategori yang sudah barang tentu harus dikaji lebih jauh lagi: a) Keberhasilan memimpin dengan dilaihkan kepemimpinan oleh satu seseorang organisasi dapat kepada orang

sendirinya

yang sama di organisasi lain b) Keberhasilan seseorang

memimpin tidak

satu

organisasi jaminan memimpin

merupakan

keberhasilannya organisasi lain.

8. Anatomi Organisasi a. Pendekatan Manajemen Ilmiah Menganggap bahwa organisasi harus menggunakan metodemetode ilmiah untuk meningkatkan produktivitas. Berbagai studi pengendalian secara ilmiah cara-cara akan atau memungkinkan alat untuk manajemen meningkatkan

mengidentifikasikan

produktivitas dan pada akhirnya akan meningkatkan efektifitas komunikasi. b. Pendekatan Hubungan Antarmanusia Kepuasan kerja akan mengakibatkan kenaikan produktivitas. Seorang anggota yang bahagia adalah anggota yang produktif. Oleh karena itu, fungsi manajemen adalah menjaga agar para anggota terus merasa puas. Fungsi kepemimpinan sangat penting di sini, pemimpin menciptakan norma-norma dan anggota kelompok mengikutinya, pengendalian kepemimpinan dianggap cara terbaik untuk

meningkatkan kepuasan dan produksi. c. Pendekatan Sistem Pendekatan sistem menggabungkan unsur terbaik dari

pendekatan ilmiah dengan pendekatan hubungan antar manusia.

Pendekatan ini memandang organisasi sebagai suatu sistem di mana semua bagian berinteraksi dan mempengaruhi bagian yang lainnya. Organisasi dipandang sebagai sistem yang terbuka terhadap informasi baru, responsif terhadap lingkungan, dinamis dan selalu berubah. d. Pendekatan Kultural Organisasi harus dipandang sebagai suatu kesatuan sosial atau kultur yang memiliki aturan tentang perilaku, peran, kepahlawanan dan nilai-nilai. Organisasi harus memiliki nilai atau kultur yang spesifik untuk dianutnya. Tujuan analisis ini bertujuan untuk memahami bagaimana kita bisa memahami bagaimana organisasi berfungsi dan bagaimana hal itu mempengaruhi dan dipengaruhi oleh para anggotanya dalam kultur organisasi itu. Kemudian secara definisi interpretatif komunikasi organisasi adalah “Proses penciptaan makna atau interaksi yang merupakan organisasi.” (Pace & Faules, 1998). Intinya bahwa komunikasi organisasi adalah “perilaku pengorganisasian” yang terjadi dan bagaimana mereka yang terlibat dalam proses itu berinteraksi dan memberi makna atas apa yang sedang terjadi. Sifat penting komunikasi organisasi adalah penciptaan pesan, penafsiran dan penanganan kegiatan anggota organisasi, bagaimana komunikasi berlangsung dalam organisasi dan apa maknanya bergantung pada konsepsi seseorang mengenai organisasi.

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

A. Metodologi Penelitian Penulisan skripsi ini merupakan penelitian kepustakaan. Maka penelitian ini selanjutnya disebut dengan kajian kepustakaan dengan metode pendekatan kualitatif non-eksperimen yang banyak digunakan dalam penelitian ini adalah yang berkaitan dengan pola komunikasi kepemimpinan terhadap kohesifitas anggota. Penelitian pada skripsi ini akan terfokus pada pola-pola komunikasi kepemimpinan yaitu komunikasi interpersonal, komunikasi kelompok, dan komunikasi publik. Ketiga kemampuan komunikasi ini saling mendukung antara satu dengan yang lain dalam mengembangkan iklim komunikasi yang baik bagi organisasi. Dalam pendekatan ini menggunakan dua metode yaitu: metode deduktif, metode induktif. Adapun pengertian dari ketiga metode tersebut adalah: B. Unit Analisis Unit yang digunakan dalam penelitian ini adalah pola komunikasi kepemimpinan yang diterapkan IPNU ANCAB Purwodadi dalam membangun kohesifitas anggota, hal ini 1. Pola Komunikasi Pola komunikasi merupakan suatu sistem penyampaian pesan melalui

lambang tertentu, mengandung arti, dan pengoperan perangsang untuk mengubah tingkah laku individu yang lain. untuk mengubah tingkah laku individu yang lain. a. Pola didaktik Adapun azas-azas pola komunikasi antara lain : 1) Azas Motivasi Untuk memperoleh dalam hasil komunikasi interaksi yang

sebaik-baiknya

proses

pimpinan

harus selalu berusaha membangkitkan minat para anggota sehingga seluruh perhatian mereka tertuju dan terpusat kepada program kerja dan job diskripsi masing-masing. b. Azas Aktifitas Menurut konsepsi modern, jiwa seseorang bersifat dinamis mempnuyai energi sendiri dan dapat menjadi aktif bila didorong oleh berbagai macam kebutuhan. Dengan demikian anggota harus dipandang sebagai organisme berkembang. c. Azas Apersepsi Proses kerja tidak dapat dipisahkan dari peristiwa-peristiwa antara individu dengan lingkungan pengalaman, maka sebelum mulai menjalankan program kerja yang baru sebagai, pimpinan hendaknya yang mempunyai dorongan untuk

berusaha menghubungkan terlebih dahulu dengan visi dan misi organisasi yang telah di bentuk secara bersama. d. Azas Peragaan Yang gambaran dimaksud variasi peragaan metode adalah memberikan dalam

alternative

menjalankan planning-planing yang telah dicanangkan. e. Azas Individualisasi Karena perbedaan pembawaan dan lingkungan pada umumnya meliputi seluruh pribadi individu seperti perbedaan jasmani, watak, inteligensi, bakat,

pendidikan, keadaan rumah, keluarga, kesehatan, usia dan lain sebagainya, maka tidak ada dua anak yang sama f. Azas Sosialisasi Azas sosialisasi sangatlah penting artinya dalam mewujudkan suasana sosial sehingga anggota terdorong untuk menjalankan tugas lebih semangat, bekerja lebih cermat dan semangat demokrasi semakin tumbuh. g. Azas Evaluasi Evaluasi atau penilaian adalah mengukur/menilai sampai dimana tujuan organisasi telah dicapai, baik dari sudut pandang anggota maupun dari sudut pimpinan. Ruang lingkup kegiatan evaluasi ini mencakup penilaian

terhadap kemajuan/hasil kerja anggota dan pimpinan dalam aspek pencapaian visi misi, intelligensi, skill, serta sikap setelah mengikuti organisasi. h. Azas Keteladanan Keteladanan merupakan suatu hal yang harus mendapat perhatian dari pimpinan, Karena kita

merupakan pulik figur di masyarakat pada umumnya dan di internal organisasi pada khususnya. 2. Komunikasi kelompok Komunikasi kelompok adalah komunikasi yang berlangsung antara beberapa orang dalam suatu kelompok “kecil” seperti dalam rapat, pertemuan, konperensi dan sebagainya (Anwar Arifin, 1984). a. Klasifikasi kelompok dan

karakteristik komunikasinya. Telah banyak klasifikasi kelompok yang dilahirkan oleh para ilmuwan sosiologi, namun dalam kesempatan ini kita sampaikan hanya tiga klasifikasi kelompok. 1) Kelompok primer dan sekunder. 2) kelompok keanggotaan dan kelompok rujukan 3) Kelompok deskriptif dan kelompok preskriptif b. Pengaruh kelompok pada perilaku komunikasi 1) Konformitas.

2) Fasilitasi sosial 3) Polarisasi c. Faktor-faktor yang mempengaruhi keefektifan kelompok 1) Ukuran kelompok. 2) Jaringan komunikasi. 3) Kohesi kelompok. 4) Kepemimpinan (jalaluddin rakhmat, 1994). 3. Komunikasi Publik Komunikasi publik (public communication) adalah sebuah kegiatan atau usaha dari sumber atau agent untuk berkomunikasi dengan audience tertentu atau publik tertentu. a. Komunikasi publik dalam konteks organisasi memerlukan sumber daya, seperti . Contohnya fasilitas

memproduksi newsletter, majalah, video, advertising space, gaji untuk professional yang menulis, mengedit dan memproduksi program-program komunikasi. b. Eksekutif tingkat atas yang

mengontrol sumber daya ini dan mereka mengontrol agenda

komunikasi publik, walaupun isi diperngaruhi kontrol Sedangkan oleh anggota pada tapi

tetap

mereka. dari

bentuk-bentuk

komunikasi publik sendiri dapat dibagi menjadi dua: 1) internal ( disebut juga employee communication) adalah kegiatan manajemen untuk menyediakan informasi dan untuk

mempengaruhi anggota komunikasi secara umum. 2) external secara tradisional meliputi advertising dan kegiatan Publik Relation yang didesain untuk mempengaruhi stakeholder, komunitas, interest group tertentu. 4. Pola kepemimpinan Pemimpin dan Kepemimpinan merupakan suatu kesatuan kata yang tidak dapat dipisahkan secara struktural maupun fungsional. Pemimpin adalah orang yang mampu mempengaruhi orang lain untuk mencapai suatu tujuan. Kapasitas kepemimpinan, secara sederhana dapat dibagi dua. Pertama, kepemimpinan diri dan kedua, kepemimpinan publik. Seringkali dikatakan bahwa seseorang yang ingin memimpin publik haruslah terbukti mampu memimpin dirinya sendiri. Kepemimpinan harus dibangun dari dalam ke luar.

a. Kepemimpinan diri, dibangun dari upaya membentuk kebiasaan – kebiasaan yang berdasarkan prinsip karakter; jujur, sederhana, bijak, berani, adil dan peduli yang merupakan kunci sukses seorang pemimpin b. Kepemimpinan public, Seorang pemimpin yang mampu

mendorong masyarakat melakukan sesuatu “yang benar”. Tentu saja yang terbaik adalah jika mampu mengerjakan “yang benar dengan benar”. Hal itu berarti pemimpin yang baik tidak hanya dituntut kemampuannya untuk membawa masyarakat kearah yang benar namun ia juga harus mampu mewujudkan mimpinya dengan benar.

C. Metode Pendekatan Dalam suatu penelitian ada beberapa pendekatan metodologis, dalam pemnelitian ini penulis menggunakan dua metodependekatan antara lain: a. Metode Deduktif Metode deduktif adalah menyelidiki yang berdasarkan asas-asas umum. Untuk itu menerangkan peristiwa khusus atau penjelesan teori yang bersifat umum terhadap fakta-fakta kongkrit. Sedangkan menurut Raharjo, metode deduktif merupakan cara pengambilan kesimpulan yang berangkat dari pengetahuan yang bersifat umum untuk mendapatkan kesimpulan yang bersifat khusus. Hal ini sesuai dengan pendapat Furhan (1982: 22), metode deduktif adalah proses berpikir yang bertolak dari

pernyataan yang bersifat umum kepada pernyataan yang bersifat khusus dengan memahami kaidah logika tertentu. Dalam kajian ini metode deduktif digunakan untuk memaparkan pendapat atau pengetahuan yang bersifat umum atau universal tentang komparasi konsep filsafat pendidikan Plato dan pendidikan Islam, agar lebih terperinci, sehingga akan memperjelas pembahasan dan

mempermudah pemahamam mengenai konsep pendidikan tersebut. b. Metode Induktif Metode induktif adalah metode penyelidikan yang berdasarkan asas-asas khusus yang menerangkan peristiwa umum, atau penjelasanpenjelasan teori yang bersifat khusus terhadap fakta-fakta kongkrit. Berpikir induktif berangkat dari fakta-fakta khusus, peristiwa-peristiwa kongkrit kemudian ditarik generalisasi yang bersifat umum. Menurut metode ini penyelidik pertama-tama menyelidiki peristiwa tersebut ditarik seluruh masalah.

D. Sumber Data Data adalah segala keterangan mengenahi variable yang diteliti. Sedangkan sumber data dalam penelitian adalah subyek dari mana dapat diperoleh. Pada kajian ini Penulis menggunakan dua jenis sumber data yaitu: a. Sumber data primer Menurut Wasito (2004: 77), sumber data primer adalah sebagai suatu informasi yang dikumpulkan peneliti langsung dari sembernya.

Sumber primer yang Penulis pergunakan diantaranya adalah Maksudnya adalah data yang dihasilkan dari jawaban angket dan wawancara langsung dengan ketua IPNU ANCAB Purwodadi yang masih berupa data kualitatif meliputi pola komunikasi dan gaya kepemimpinan IPNU ANCAB Purwodadi. b. Sumber data skunder Menurut Wasito (2004: 77), sumber data sekunder adalah suatu informasi yang telah dikumpulkan oleh pihak lain. Sumber sekunder yang peneliti gunakan diantaranya buku-buku karya orang lain yang membahas tentang pola komunikas kepemimpinan, dan sebagainya yang mempunyai relevansi dengan pola komunikasi kepemimpinan terhadap kohesifitas anggota.

E. Metode Pengumpulan Data Untuk memperoleh data yang sesuai dengan permasalahan, maka peneliti menggunakan metode dokumentasi. Sebagaimana menurut Arikunto (2003: 206), metode dokumentasi adalah mencari suatu data mengenai suatu hal atau variable yang berupa catatan, transkip, buku, surat kabar, majalah, notulen rapat, agenda, dan makalah seminar. Metode ini digunakan untuk memperoleh data-data yang diperlukan dalam skipsi ini, seperti buku-buku, surat kabar, makalah seminar, catatan dan majalah yang berkaitan dengan pola komunikasi kepemimpinan. Oleh karena, itu penulis menggunakan metode kajian lapangan (field research), dan library

research atau kajian kepustakaan untuk mengumpulkan data. Penelitian lapangan adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan dengan observasi langsung dan wawancara atau interview untuk mengumpulkan data dari sumber informasi. Sedangkan Library research yaitu serangkaian kegiatan yang meliputi membaca, mendalami, menelaah, dan mengidentifikasi hal-hal yang telah ada untuk mengetahui apa yang ada dan yang belum ada dalam pengetahuan.

F. Instrument Penelitian Berdasarkan jenis data yang digunakan, maka instrument penelitian yang peneliti gunakan adalah instrument angket dan kepustakaan yang ada kaitannya dengan obyek peneliti, disamping itu juga menggunakan instrument komputerisasi dan internetisasi.

G. Metode Analisis Data Dalam analisis, ketika data yang telah terkumpul sudah memenuhi target item-item yang dibutuhkan, maka teknik analisis data yang digunakan adalah teknis analisis data yang memfokuskan pada substansi suatu obyek dan pengklasifikasian hasil obyek penelitian. Sesuai dengan jenis data yang diperlukan dari penelitian ini, maka teknik yang dipergunakan adalah teknik “field analisis” dan “content analisis” yang memfokuskan pada obyek kajian penelitian. Metode analisis data ini dilaksanakan berdasarkan metode pendekatan

yaitu menggunakan metode deduktif, metode induktif. Metode deduktif digunakan untuk menerangkan tentang masalah pola komunikasi

kepemimpinan secara umum yang kemudian dikerucutkan pada pola komunikasi kepemimpinan IPNU ANCAB Purwodadi. Metode induktif digunakan untuk mengupas secara khusus tentang pola komunikasi kepemimpinan kemudian ditarik seluruh masalah, untuk mendapatkan kesimpulan yang lebih luas/umum.

DAFTAR PUSTAKA Majalah Ilmiah Unikom, Vol.6, hlm. 93-100

Muhamad, Arni, (2002), Komunikasi Organisasi, PT. Bumi Aksara, Jakarta. Panuju, Redi, (2001), Komunikasi Organisasi, Pustaka Pelajar, Yogyakarta. Roben, Stepen (alih bahasa Jusuf Udaya), (1995), Teori Organisasi, Penerbit Aran, Jakarta. Stephen P. Robbin. 1994. Teori Organisasi. Jakarta: Arcan Sunarto. 2003. Teori Organisasi. Yogyakarta: Amus&Mahendro Total Design Raharjo, Slamet. Pendidikan Akhlak Perspektif al-Ghozali. Skripsi tidak diterbitkan. Malang. Fakultas Agama Islam UNISMA. 2004 Hadi, Sutrisno. Metodologi Research. Yayasan Penerbit Fakultas Psikilogi UGM. Yogyakarta. 1999 Rachman, Maman. Strategi dan Langkah-langkah Penelitian Pendidikan. 1993. hal 75 Arikunto, Suharsimi. Prosedur Penelitian. Rineka cipta. Jakarta. 2003. Ma’ruf. Teori Empirisme Jhon Locke Dalam Pendidikan Pra Sekolah. Fakultas Agama Islam Universitas Yudharta Pasuruan. 2004

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->