You are on page 1of 16

Makalah Mata Kuliah Konservasi Sumber Daya Alam Hayati Perubahan Perilaku Masyarakat Pedalaman Hutan terhadap Hutan

Rakyat Akibat Peraturan Pemerintah

Yogie Zulni Pratama E24100070 R. Dimas Adijourgia E24100079 Rizqi Adha Juniardi E24100103 Kelas: Hasil Hutan, Kamis 08.00-09.40 di Auditorium Dosen Pembimbing: Dr. Ir. H. Sambas Basuni, M.S.

Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor 2011

KATA PENGANTAR Assalamu’alaikum Wr. Wb. Salam sejahtera untuk kita semua. Puji syukur atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat hidayahnya, kelompok kami dapat menyelesaikan tugas makalah dalam mata kuliah Konservasi Sumber Daya Alam Hayati mengenai Integrasi Pendekatan Sosial dengan judul “Perubahan Perilaku Masyarakat Pedalaman Hutan Akibat Peraturan Pemerintah”. Kami juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang terlibat dalam pembuatan makalah ini. Walaupun banyak kekurangan yang terjadi pada pembuatan makalah ini kami memohon maaf seperti pepatah, “Tak Ada Gading yang Tak Retak”. Meskipun makalah kami masih jauh dari kesempurnaan, tapi dengan kesalahan-kesalahan yang terjadi, kami siap untuk melangkah maju dengan kritik dan saran yang membangun dan ditujukan kepada kelompok kami. Terima kasih atas perhatian pembaca. Wassalamu’alaikum Wr. Wb. Bogor, November 2011 Hormat kami,

Penyusun

1

PENDAHULUAN I. Latar Belakang Hutan merupakan kawasan yang memiliki ciri khas tersendiri yaitu ditumbuhi oleh pohon-pohon. Banyaknya jenis pohon yang ada di dalam suatu kawasan hutan merupakan pertanda bahwa keanekaragaman dimiliki oleh kawasan hutan tersebut baik dalam segi flora maupun faunanya. Kemampuan hutan tidak hanya menjaga keanekaragaman tetapi juga sebagai sumber kehidupan bagi masyarakat pedalaman hutan yang dapat mensejahterakan kehidupan mereka. Dengan adanya kawasan hutan dan keanekaragaman yang terkandung di dalam kawasan tersebut memiliki nilai guna tersendiri karena pemanfaatan yang dilakukan oleh masyarakat pedalaman tersebut. Pemanfaatan yang dilakukan hidupnya. Namun, dikarenakan ada campur tangan pemerintah atau manusia dari luar kawasan hutan yang tidak mengerti hal-hal yang terjadi di dalam kawasan hutan rakyat terjadi ketidakseimbangan antara masyarakat pedalaman dengan kawasan hutan yang awalnya sudah memiliki timbal balik antara hutan dengan penduduk sekitar. Walaupun maksud pemerintah baik untuk memajukan nilai-nilai ekonomi hutan, tetapi jika tidak memperhatikan interaksi-interaksi yang terjadi dengan kawasan hutan, maka akan keuntungan bagi salah satu pihak dan kerugian di pihak lainnya. Hal inilah yang merusak keseimbangan alam yang sudah terjadi dengan manusia. Contohnya saja, peraturan-peraturan yang dibuat dianggap telah menjaga hutan dari eksploitasi semena-mena namun masih dalam kawasan hutan tempat tinggal masyarakat pedalaman. Namun, di lain pihak dikarenakan lahan pemanfaatan hasil hutan yang terbatas, maka daerah yang dikelola oleh industri akan semakin meluas dan mengambil daerah tempat tinggal masyarakat pedalaman. 2 pun bermacam-macam yaitu mengambil sisa-sisa hutan dan memanfaatkannya untuk membangun tempat tinggal atau untuk memenuhi kebutuhan

Oleh karena itu, pada zaman inilah para masyarakat pedalaman dituntut untuk mengubah gaya hidup mereka yang sepenuhnya mengandalkan hasil hutan yang disediakan oleh kawasan kehutanan dengan menghilangkan budaya asli mereka dalam memanfaatkan hasil hutan atau mencari titik tengah/mencampur adat istiadat dengan keadaan yang telah berubah akhir-akhir ini sehingga kekhasan dari masyarakat tersebut tidak punah.

II. Tujuan • • • Mengetahui adat-istiadat dari masyarakat pedalaman hutan yang masih mengandalkan hutan sepenuhnya. Mengetahui dampak peraturan-peraturan pemerintah mengenai pengelolaan hutan. Mengetahui dampak peraturan pemerintah terhadap aktivitas kesejahteraan masyarakat pedalaman dikawasan hutan.

3

ISI

Pengertian Hutan, Jenis-jenis Hutan, dan Manfaat Hutan Menurut Hukum Kehutanan Hutan merupakan terjemahan dari kata bos (Belanda) dan forrest (Inggris). Forest merupakan dataran tanah yang bergelombang dan dapat dikembangkan untuk kepentingan di luar kehutanan seperti pariwisata. Di dalam hukum Inggris Kuno, forrest (hutan) adalah suatu daerah tertentu yang tanahnya ditumbuhi pepohonan, tempat hidup binatang buas dan burung-burung hutan. Di samping itu, hutan juga dijadikan tempat perburuan, tempat istirahat, dan tempat bersenang-senang bagi raja dan pegawai-pegawainya (Black, 1979: 584), namun dalam perkembangan selanjutnya ciri khas ini menjadi hilang. Pengertian Hutan dalam Pasal 1 ayat (2) UU Nomor 41 Tahun 1999 adalah suatu kesatuan ekosistem berupa hamparan lahan berisi sumber daya alam hayati yang didominasi pepohonan dalam persekutuan alam lingkungannya, yang satu dengan yang lainnya tidak dapat dipisahkan. Ada empat unsur yang terkandung dari definisi hutan di atas, yaitu: 1. unsur lapangan yang cukup luas (minimal ¼ hektar) yang disebut tanah hutan. 2. Unsur pohon (kayu, bambu, palem), flora, dan fauna. 3. Unsur lingkungan. 4. Unsur penetapan pemerintah. Unsur pertama, kedua, dan ketiga membentuk persekutuan hidup yang tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya. Pengertian hutan disini mengantu konsepsi hukum secara vertikal, karena antara lapangan (tanah), flora, pohon, dan fauna. Beserta lingkungan merupakan satu kesatuan yang utuh. Adanya Penetapan Pemerintah mengenai hutan mempunyai arti yang sangat penting, karena dengan adanya Penetapan Pemerintah c. q. Menteri Kehutanan itu 4

kedudukan yuridis hutan menjadi kuat. Ada dua arti penting Penetapan Pemerintah tersebut, yaitu: agar setiap orang tidak dapat sewenang-wenang untuk membabat, menduduki, dan mengerjakan kawasan hutan. Mewajibkan kepada pemerintah c. q. Menteri Kehutanan untuk mengatur perencanaan, peruntukan, penyediaan, dan penggunaan hutan sesuai dengan fungsinya serta menjaga dan melindungi hutan. Tujuan perlindungan hutan adalah menjaga kelestarian dan fungsi hutan, serta menjaga mutu, nilai, dan kegunaan hasil. Di dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1967, dibedakan tiga jenis hutan, yaitu hutan menurut pemilikannya, hutan menurut fungsinya, dan hutan menurut peruntukannya. Hutan juga mempunyai kedudukan dan peranan yang sangat penting dalam menunjang pembangunan bangsa dan negara. Hal ini disebabkan hutan dapat memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat pedalaman. Menurut Ngadung, ada tiga manfaat hutan yaitu langsung dan tidak langsung. Alasannya, bahwa manfaat lainnya dapat dikemukakan oleh Ngadung lebih tepat digolongkan manfaat tidak langsung. Potensi Hutan Rakyat Hutan pastilah merupakan kawasan penanaman pohon yang memiliki areal sangat besar sehingga memiliki cakupan singgungan yang besar. Selain memiliki kemampuan untuk menyeimbangkan alam dan sebagai habitat biota-biota, hutan secara tidak langsung juga memiliki potensi sebagai investasi hasil hutan rakyat dalam penyediaan bahan baku industri pengolahan kayu. Keyakinan tersebut semakin bertambah sejak disadarinya terjadi penurunan potensi hutan negara. Pemahaman dan keyakinan itu sepatutnya disyukuri dan diwujudkan dalam bentuk perhatian dan langkah tindak yang mengarah kepada peningkatan kinerja usaha hutan rakyat yang selama ini telah diusahakan oleh masyarakat pedalaman secara swakarsa, swadaya, dan swadana. Hutan rakyat di Indonesia memiliki potensi besar baik dari segi populasi 5

maupun

jumlah

kelompok

yang

mengusahakannya

yang

ternyata mampu

menyediakan bahan baku industri kehutanan. Perkiraan potensi dan luas lahan hutan rakyat yang dihimpun dari kantor-kantor dinas yang menangani kehutanan di Indonesia sekitar 39.416.557 m3dengan luas 1.568.415,64 ha, sedangkan data potensi 3 hutan rakyat berdasarkan sensus pertanian yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa potensi hutan rakyat mencapai 39.564.003 m3 dengan 3 luas 1.560.229 ha. Jumlah pohon yang ada mencapai 226.080.019 batang dengan jumlah pohon siap tebang 78.485.993 batang. Walaupun hutan rakyat mempunyai potensi dan peranan yang cukup besar, namun hutan rakyat di Jawa pada umumnya hanya sedikit yang memenuhi luasan minimal sesuai dengan definisi hutan, dimana luas minimal harus 0,25 hektar. Hal tersebut disebabkan karena rata-rata pemilikan lahan di Jawa sangat sempit. Dengan sempitnya pemilikan lahan setiap keluarga, hal ini mendorong pemiliknya untuk memanfaatkan seoptimal mungkin. Sehubungan dengan hal tersebut maka pada umumnya pemilik berusaha memanfaatkan lahan dengan membudidayakan tanamantanaman yang bernilai ekonomis tinggi dan cepat dalam menghasilkan hasilnya. Hamparan hutan rakyat yang kompak dengan luasan cukup biasanya ditemukan pada petani yang memiliki lahan diatas rata-rata, pada lahan marginal serta pada lahan terlantar (Hardjanto, 2000). Permasalahan Pengusahaan Hutan Rakyat Permasalahan hutan rakyat yang muncul sampai saat ini meliputi empat aspek yaitu produksi, pengolahan, pemasaran, dan kelembagaan. Aspek produksi khususnya tentang struktur tegakan dan potensi produksi. Peneliti-peneliti menemukan bahwa satu sisi struktur tegakan kayu rakyat menunjukkan struktur hutan normal, namun di sisi lain ternyata pohon-pohon yang dijual mengalami penurunan kelas diameter. Hal ini berarti mengancam kelestarian tegakan hutan rakyat dan mengancam pula kelestariannya. 6

Aspek pengolahan yang dimaksud adalah semua jenis tindakan/perlakuan yang merubah bahan baku menjadi barang setengah jadi maupun barang jadi. Masalah terbesar saat ini pada aspek pengolahan adalah masalah jumlah dan kontinuitas sediaan bahan baku. Jika permasalahan pemasaran meliputi sistem distribusi, struktur pasar (market structure), penentuan harga, perilaku pasar (market conduct), dan keragaan pasar (market performance). Kelembagaan yang mendukung pada setiap subsistem juga masih perlu disempurnakan agar kinerja usaha hutan rakyat secara keseluruhan dan menjadi lebih baik. Hubungan Peraturan Pemerintah dengan Masyarakat Pedalaman Masyarakat lokal telah lama mengelola dan memanfaatkan hutan untuk kehidupan mereka. Sejak Pemerintah pusat mengambil alih pengelolaan hutan dari masyarakat, masyarakat telah menderita dan pengelolaan hutan telah gagal karena kurangnya partisipasi masyarakat. Tulisan ini menganalisa beberapa hambatan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan hutan. Kebijakan pemerintah jangka panjang (1886-1989) menganjurkan konsesi pengusahaan hutan dan budidaya monokultur berskala besar. Pengelolaan hutan dengan pengambilan keputusan dipusat (top-down) menyebabkan kerusakan ekonomi dan ekologi yang serius terhadap negara secara keseluruhan. Sampai tahun 1990-an, bagian timur laut telah mengalami kerusakan yang paling buruk akibat penebangan berlebih dan konversi lahan hutan kedalam tanaman karet, kopi, dan buah-buahan. Program ini juga telah memacu suku terpencil lokal untuk pindah dan menjadi penghuni “ilegal” di tempat lain. Meskipun konstitusi tahun 1997 mengakui pentingnya partisipasi masyarakat, pelaksanaannya hanya melibatkan pemerintah dan sektor swasta. Sedikit yang telah dilakukan untuk memperluas partisipasi lokal. Ada beberapa alasan dari kegagalan ini. Pemerintah melihat pengelolaan hutan dari segi kebijakan, mengdahulukan nitisat 7

(peraturan dan perundang-undangan yang ketat) daripada ratthasat (diplomasi), mengutamakan kepentingan pengusaha, dan pemusatan pengambilan keputusan pada tingkat nasional dengan kurang memahami kondisi lokal. Selanjutnya, pegawai pemerintah sering memiliki sikap yang negatif menghadapi masyarakat lokal yang tergantung pada hutan. Mereka melihat pemanfaatan hutan sebagai pengrusakan hutan tanpa memahami bagaimana masyarakat lokal mengelola hutan. Untuk meningkatkan pemahaman pemerintah dan memperluas kepercayaan semua pihak, pegawai harus ikut dalam aktivitas sosial masyarakat dan meninjau kembali kebijakan, program, dan komitmen terhadap masyarakat. Pengelola hutan juga dibatasi oleh kurangnya pelatihan dalam konsep, strategi, dan metode partisipasi di dalam pengelolaan hutan. Pendidikan partisipasi dengan mengikutsertakan pegawai pemerintah dan masyarakat lokal untuk bekerja sama harus didorong. Akhirnya, kurangnya insentif bagi masyarakat untuk berpartisipasi di dalam pengelolaan hutan, dan jika mereka melakukannya, mereka tidak menerima keuntungan yang pantas. Kenyataanya, meskipun di dalam rancangan hutan kemasyarakatan sebelum disahkan Senat, masyarakat pedalaman miskin dilihat sebagai ancaman terhadap hutan. Hutan kemasyarakatan bukan hanya pengelolaan hutan, tetapi cara menuju perubahan yang luas dan penguatan lokal. Hal itu dapat menghasilkan pendapatan dan menguatkan kemampuan lokal dalam mengelola sumberdaya hayati. Hal tersebut membantu pembangunan sumberdaya manusia melalui peningkatan kesadaran dan pengembangan sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang baik. Akhirnya, hal tersebut akan membantu menyeimbangkan pembuatan keputusan antara pemerintah pusat dan masyarakat lokal. Komunikasi yang Dapat Dilakukan Kepada Masyarakat Pedalaman Penyuluhan adalah salah satu kegiatan penyampaian keinginan pemerintah kepada masyarakat, agar masyarakat menjadi tahu dan mengerti antara kegiatan yang 8

dilarang serta merugikan dengan kegiatan apa yang boleh dikerjakan dan bermanfaat. Bentuk pelayanan komunikasi masyarakat di bidang kehutanan merupakan kegiatan penting dalam mencegah berlanjutnya kerusakan hutan dan sekaligus memberdayakan masyarakat dengan aneka kegiatan usaha obyek kehutanan untuk meningkatkan kesejahteraan. Penyuluhan kehutanan bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan serta mengubah sikap dan perilaku masyarakat agar mau dan mampu mendukung pembangunan kehutanan atas dasar imam dan taqwa kepada Tuhan YME serta sadar akan pentingnya sumber daya hutan bagi kehidupan manusia. Pola penyuluhan kehutanan sudah disusun dengan telah dibentuknya Badan Penyuluhan Kehutanan dengan kelengkapan perangkat keras dan lunaknya, di pusat dan di daerah (Peraturan Presiden R.I. No.24 tahun 2010, tanggal 14 April 2010). Sasaran penyuluh kehutanan adalah pertama masyarakat di dalam dan di sekitar kawasan hutan, kedua adalah masyarakat pengguna produk kehutanan, dan ketiga adalah masyarakat lainnya, terutama yang berkaitan dengan pelestarian lingkungan. Pendekatan oleh penyuluh dapat di lakukan kepada perorangan, kelompok maupun kepada masyarakat langsung pada saat momentum tertentu. Ini adalah pola normatif penyuluhan berjenjang dan berlanjut. Berjenjang artinya ada media perantara yang sudah dipersiapkan terlebih dahulu, dan berlanjut berarti berkesinambungan sehingga terbentuk hubungan kepercayaan dan emosional yang membangun, timbal balik antara penyuluh dengan individu, perorangan, kelompok atau komunitas masyarakat disitu. Komunikasi interaktif seperti itu memang memerlukan persiapan yang matang, siapa sasaran masyarakat, dimana dan kapan sebaiknya di lakukan. Masyarakat sekitar hutan dan mungkin yang sudah terlanjur bermukim di dalam kawasan hutan, pada umumnya belum menempuh hidup yang mapan. Metode atau sistem penyuluhan berbeda bila berhadapan dengan masyarakat adat yang sudah turun temurun berada disitu, berpola pertanian sebagai peladang berpindah, atau masyarakat adat yang sudah mapan dan sudah memiliki aturan pantangan apa yang 9

boleh dikerjakan dan yang tidak boleh dikerjakan (pamali). Begitu juga masyarakat petani hutan rakyat, pesanggem tumpang sari dan masyarakat prural, urban dan perkotaan, kesemuanya menjadi sasaran penyuluh kehutanan. Cukup luas memang sasaran masyarakat yang harus dihadapi dan kesemuanya ini diperlukan adanya pengaturan tata kerja yang betul betul efektif. Kesinambungan penyuluhan kehutanan memerlukan jadwal kunjungan tim penyuluh yang teratur dengan membawa perangkat yang diperlukan, dapat disampaikan secara lisan, melalui gambar, suara, contoh, peragaan dan sedapat mungkin di dekat atau di dalam areal demplot yang sudah dipersiapkan sebelumnya. Demonstration Plot atau Demplot dapat berupa Hutan Wisata, Taman Hutan, Kebun Bibit, Kebun Binatang, Bumi Perkemahan, Lokasi Rekreasi atau dimana saja, bahkan kalau perlu di dalam ruangan yang sudah diisi dengan materi yang diperlukan. Yang di pentingkan adalah isi muatan materi penyuluhan yang dapat dengan mudah dimengerti dan membangkitkan pertanyan ingin tahu lebih jauh serta penyuluh dapat menjelaskan dan menampung saran dan kritik. Inilah yang disebut Komunikasi Interaktip penyuluhan kehutanan. Sebaik apapun pelaksanaan komunikasi interaktif akan lebih sempurna bila diikuti pelatihan dan peragaan di lapangan. Penerima atau peserta penyuluhan dapat langsung melihat dan mengerjakan sendiri kegiatan pemanfaatan obyek kehutanan. Mengenali apa saja isi hutan, misalnya mengenali bentuk rupa biji-bijian dari berbagai jenis pohon dsb. Bagaimana mengatur jarak tanam pohon hutan dan menebar bibit antar larikan pohon di areal pesanggem tumpang sari, menentukan jenis ikan apa di areal tanaman bakau (agro silvo fishery) dan memanen rumput diareal hutan untuk penggemukan ternak (agro silvo pastures) dan menanam palawija dan sayur (agro silvo crop) di lereng pegunungan yang pada umumnya masuk kawasan hutan lindung. Mengapa dilarang mempergunakan pupuk organik dan pestisida di dataran tinggi, bahayanya dan akibat yang akan terjadi. Bentuk peragaan teknis penanggulangan kebakaran hutan adalah juga sebenarnya sebuah cara penyuluhan terselubung dengan dibentuknya satuan gugus 10

kegiatan teknis mitigasi dan pemadaman kebakaran hutan. Kegiatan seperti ini secara intensif dikerjakan oleh kelompok petugas Manggala Agni yang secara formal berjumlah hampir 2000 orang, diataranya adalah petugas SMART (Satuan Manggala Agni Reaksi Taktis) yang berjumlah 195 orang. Dari segi pandangan penyuluhan, kelompok ini mampu menciptakan ratusan kelompok masyarakat sekitar hutan yang disebut MPA atau Masyarakat Peduli Api. Pencegahan kebakaran tahun 2010 cukup berhasil (di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Riau, Jambi dan Aceh) yang selanjutnya mendapat apresiasi negara ASEAN. Keberhasilan ini diperoleh karena dapat mengerahkan masyarakat sekitar hutan dengan ramai-ramai bergotong royong memadamkan kebakaran hutan. Sekarang ini saatnya mengembangkan kembali naluri gotong royong masyarakat, yang dahulu pernah menjadi ciri budaya Nusantara. Sifat Hukum Adat yang Tidak Statis dengan Sistem Penyesuaian Keadaan Baru Orang pada umumnya mengetahui adanya hukum adat secara lisan. Hukum adat mulai ditulis oleh kepala-kepala adat. Sifat hukum ada yang tidak statis dibuat dengan sistem penyesuaian keadaan yang baru. Sebagai contoh, peraturan adat yang dibuat oleh masyarakat pedalaman hutan selalu ditinjau kembali setiap tahunnya. Aturan yang lama disempurnakan dengan cara menambah atau mengurangi pasalpasal yang telah ada, sehingga selalu dapat menyesuaikan dengan perkembangan zaman. Hukum adat diatur terutama oleh kepala adat di desa-desa kecil sekitar hutan dan kepala adat besar yang memimpin seluruh desa pedalaman hutan. Tokoh masyarakat juga dilibatkan untuk mengambil keputusan bersama dalam desa maupun wilayah adat tersebut. Jika mengambil keputusan dalam desa, urusan pemerintahan, dan urusan luar secara umum didiskusikan bersama kepala desa. Sedangkan kalau yang terkait dengan hutan, denda, dan urusan keluarga, ketua adat dan kepala adat besar yang bertanggung jawab terhadap keputusan itu. 11

Pengakuan Hutan Masyarakat Pedalaman Berdasarkan Undang-undang Negara Pada bulan September 1999 telah berhasil dibuat Rancangan Undang-undang Republik Indonesia tentang Kehutanan di mana dalam Rancangan Undang-undang ini disebutkan bahwa pemerintah mengakui hutan adat dan memperhatikan hak masyarakat hukum adat. Pasal 1 ayat (6) menyatakan sebagai berikut: “Hutan adat adalah hutan negara yang berada dalam wilayah masyarakat hukum adat”. Selanjutnya dijelaskan pada pasal 4 ayat (3) yang bunyinya sebagai berikut: “Penguasaan hutan oleh negara tetap memperhatikan hak masyarakat hukum adat, sepanjang kenyataannya masih ada dan diakui keberadaannya, serta tidak bertentangan dengan kepentingan nasional”. Kebijakan yang Dilakukan Pemerintah Kebijakan pemerintah jangka panjang (1886-1989) menganjurkan konsesi pengusahaan hutan dan budidaya monokultur berskala besar. Pengelolaan hutan dengan pengambilan keputusan dipusat (top-down) menyebabkan kerusakan ekonomi dan ekologi yang serius terhadap negara secara keseluruhan. Sampai tahun 1990-an, bagian timur laut telah mengalami kerusakan yang paling buruk akibat penebangan berlebih dan konversi lahan hutan kedalam tanaman karet, kopi, dan buah-buahan. Program ini juga telah memacu suku terpencil lokal untuk pindah dan menjadi penghuni “ilegal” di tempat lain. Meskipun konstitusi tahun 1997 mengakui pentingnya partisipasi masyarakat, pelaksanaannya hanya melibatkan pemerintah dan sektor swasta. Sedikit yang telah dilakukan untuk memperluas partisipasi lokal. Ada beberapa alasan dari kegagalan ini. Pemerintah melihat pengelolaan hutan dari segi kebijakan, mengdahulukan nitisat (peraturan dan perundang-undangan yang ketat) daripada ratthasat (diplomasi), mengutamakan kepentingan pengusaha, dan pemusatan pengambilan keputusan pada 12

tingkat nasional dengan kurang memahami kondisi lokal. Selanjutnya, pegawai pemerintah sering memiliki sikap yang negatif menghadapi masyarakat lokal yang tergantung pada hutan. Mereka melihat pemanfaatan hutan sebagai pengrusakan hutan tanpa memahami bagaimana masyarakat lokal mengelola hutan. Untuk meningkatkan pemahaman pemerintah dan memperluas kepercayaan semua pihak, pegawai harus ikut dalam aktivitas sosial masyarakat dan meninjau kembali kebijakan, program, dan komitmen terhadap masyarakat. Pengelola hutan juga dibatasi oleh kurangnya pelatihan dalam konsep, strategi, dan metode partisipasi di dalam pengelolaan hutan. Pendidikan partisipasi dengan mengikutsertakan pegawai pemerintah dan masyarakat lokal untuk bekerja sama harus didorong. Akhirnya, kurangnya insentif bagi masyarakat untuk berpartisipasi di dalam pengelolaan hutan, dan jika mereka melakukannya, mereka tidak menerima keuntungan yang pantas. Kenyataanya, meskipun di dalam rancangan hutan kemasyarakatan sebelum disahkan Senat, masyarakat pedalaman miskin dilihat sebagai ancaman terhadap hutan. Hutan kemasyarakatan bukan hanya pengelolaan hutan, tetapi cara menuju perubahan yang luas dan penguatan lokal. Hal itu dapat menghasilkan pendapatan dan menguatkan kemampuan lokal dalam mengelola sumberdaya hayati. Hal tersebut membantu pembangunan sumberdaya manusia melalui peningkatan kesadaran dan pengembangan sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang baik. Akhirnya, hal tersebut akan membantu menyeimbangkan pembuatan keputusan antara pemerintah pusat dan masyarakat lokal.

13

PENUTUP Kesimpulan Masyarakat pedalaman hutan masih sangat bergantung pada hutan seutuhnya, karena, hutan menunjang seluruh aspek kehidupan mereka, tidak hanya sekedar untuk ekonomi saja tapi, dari segi sosial pun hutan sangatlah menunjang kehidupan mereka. Peraturan – peraturan yang dibuat oleh pemrintah sangat merubah aspek segala pengelolaan hutan dan segala macam kegiatan masyarakat yang ada didalamnya. Karena, pemerintah merupakan badan yang memiliki kekuatan untuk merubah segala aspek, dan didalamnya termasuk kehutanan. Dampak – dampak yang ditimbulkan oleh peraturan yang dibuat pemerintah, sangatlah terlihat. Dari mulai dibuatnya peraturan tentang HPH, HTI dan juga termasuk Hutan rakyat. Secara otomatis merubah pula kehidupan masyarkat hutan didalamnya. Dari mulai pembagian hasil keuntungan, pembagian lahan, dan sengketanya semua diatur oleh pemerintah, maka kehidupan yang dijalani oleh masyarakat di dalam hutan secara cepat berubah menyesuaikan diri dengan peraturan yang ada.

14

DAFTAR PUSTAKA Bruce Campbell . 1996 . The Miombo in Transition : Woodlands and Welfare in Africa. Bogor . CIFOR Ida Aju Pradnja Resosudarmo, Carol. J. Pierce. Colfer. Masyarakat hutan dan perumusan kebijkan di Indonesia kemana harus melangkah?. 2003. Jakarta. Yayasan Obar Indonesia. K.A. Vogt, dkk. 2007. Forests and Society: Sustainability and Life Cycles of Forests in Human Landscapes. London. Cab International. Leach, M. 1999. Plural Perspectives and Institusional Dynamics : Challenges for Community Foresty. Makalah yang di sajikan pada seminar International Agrarish Centrum, Decisiun Making in Natural Resources Management with a Focus on Adaptive Management. September 1999. Wageningen. Belanda. Rahajaan, Emmanuel. 1992. Penyerahan Penggunaan Kawasan Hutan kepada Pihak lain. Makalah pada Penataran Teknis-Yuridis Kawasan Hutan, November 1992. Jakarta. Suharjito, D. Dkk. 1999. Karakteristik Pengelolaan Hutan berbasiskan Masyarakat. Yogyakarta, Indonesia. Studi Kolaboratif Forum Komunikasi Kehutanan Masyarakat.