You are on page 1of 46

REFERAT

TUMOR PALPEBRA DAN PENATALAKSANAANNYA

Diajukan Oleh: Andre Rahmadani Ovy Rizky Astuti J 500 080 033 J 500 080 039

Pembimbing: dr. Gogot Suprapto, Sp.M dr. Praminto Nugroho, Sp.M

KEPANITERAAN KLINIK ILMU PENYAKIT MATA RSUD DR. HARJONO PONOROGO FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA 2012

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Tumor jinak dan tumor ganas kulit kebanyakan dapat berkembang menuju kulit periokular, timbul mulai dari lapisan epidermis, dermis, atau struktur adneksa palpebra (kelopak mata).1 Tumor ganas palpebra merupakan tumor ganas yang sering dijumpai dan dilaporkan sekitar 5-10% dari tumor kulit.8 Tumor ganas yang paling sering mengenai palpebra adalah karsinoma sel basal, karsinoma sel skuamosa, karsinoma sel sebasea, dan melanoma. Sedangkan tumor jinak palpebra seperti hemangioma dan xanthelasma bertambah banyak dengan meningkatnya usia.13 Karsinoma sel basal merupakan tumor ganas palpebra yang sering ditemukan.11 Sembilan puluh lima persen karsinoma palpebra berjenis sel basal dan sisa lima persen terdiri atas karsinoma sel skuamosa, karsinoma kelenjar meibom, dan tumor-tumor lain yang jarang seperti karsinoma sel merkel dan karsinoma kelenjar keringat.13 Melanoma maligna merupakan tumor ganas palpebra yang paling jarang tetapi paling ganas dan banyak menimbulkan kematian.8,11 Hemangioma kapiler merupakan tumor palpebra jinak yang paling sering ditemukan pada anak. Hemangioma kapiler atau hemangioma strawberry dapat mengenai kulit pada 10% bayi dan tampaknya lebih sering pada bayi prematur dan anak kembar. Tumor ini biasanya muncul pada waktu lahir atau segera sesudah lahir sebagai lesi yang berwarna merah terang, bertambah besar dalam beberapa minggu hingga bulanan, dan mengalami involusi pada usia sekolah.1,2 Tumor palpebra kebanyakan mudah dikenali secara klinis dan eksisi dilakukan dengan alasan kosmetik. Meskipun begitu lesi ganas sering kali sulit dikenali secara klinis dan biopsi harus selalu dilakukan pada kecurigaan keganasan.13

B. Tujuan Penulisan Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui dan memahami definisi, etiologi, klasifikasi, patofisiologi, manifestasi klinis, diagnosis, dan penatalaksanaan dari tumor palpebra.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Anatomi Palpebra Palpebra superior dan inferior adalah modifikasi lipatan kulit yang dapat menutup dan melindungi bola mata bagian anterior. Berkedip dapat melindungi kornea dan konjungtiva dari dehidrasi. Palpebra superior berakhir pada alis mata sedangkan palpebra inferior menyatu dengan pipi.13 Palpebra terdiri atas 5 bidang jaringan utama. Dari superfisial ke dalam terdapat lapis kulit, lapis otot rangka (orbikularis okuli), jaringan areolar, jaringan fibrosa (tarsus), dan lapis membran mukosa (konjungtiva pelpebra).13 1. Kulit Kulit pada palpebra berbeda dari kulit bagian lain tubuh karena tipis, longgar, dan elastis dengan sedikit folikel rambut tanpa lemak subkutan. 2. Muskulus orbikularis okuli Fungsi muskulus orbikularis okuli adalah menutup palpebra. Serat-serat ototnya mengelilingi fisura palpebra secara konsentris dan meluas sedikit melewati tepian orbita. Sebagian serat berjalan ke pipi dan dahi. Bagian otot yang terdapat di dalam palpebra dikenal sebagai pratarsal, bagian di atas septum orbita adalah praseptal. Segmen luar palpebra disebut bagian orbita. Orbikularis okuli dipersarafi oleh nervus fasialis. 3. Jaringan areolar Terdapat di bawah muskulus orbikularis okuli, berhubungan dengan lapis subaponeurotik dari kulit kepala. 4. Tarsus Struktur penyokong utama dari palpebra adalah lapis jaringan fibrosa padat yang disebut tarsus superior dan inferior. Tarsus terdiri atas jaringan penyokong kelopak mata dengan kelenjar meibom. 5. Konjungtiva palpebra

Glandula zeiss adalah modifikasi kelenjar sebasea kecil yang bermuara dalam folikel rambut pada dasar bulu mata. dan moll. Fisura ini berakhir di kantus medialis dan lateralis. glandula zeiss. Ia dipisahkan oleh garis kelabu (batas mukokutan) menjadi tepian anterior dan posterior.Bagian posterior palpebra dilapisi selapis membran mukosa yaitu konjungtiva palpebra yang melekat erat pada tarsus. Di palpebra inferior. Bagian yang lebih dalam mengandung serat-serat otot polos dari muskulus muller (tarsalis superior). melengkung ke atas sedangkan bulu mata bawah melengkung ke bawah. Glandula moll adalah modifikasi kelenjar keringat yang bermuara ke dalam satu baris dekat bulu mata. Berfungsi sebagai sawar antara palpebra orbita. Pungtum ini berfungsi menghantarkan air mata ke bawah melalui kanalikuli terkait ke sakus lakrimalis.13 Fisura palpebra adalah ruang elips di antara kedua palpebra yang dibuka. Bulu mata atas lebih panjang dan lebih banyak dari yang di bawah.13 Bulu mata muncul dari tepian palpebra dan tersusun tidak teratur.13 Tepian palpebra posterior berkontak dengan bola mata dan sepanjang tepian ini terdapat muara-muara kecil dari kelenjar sebasesa yang telah dimodifikasi (glandula meibom atau tarsal). bagian otot rangka adalah levator palpebra superior yang berasal dari apeks orbita kemudian berjalan ke depan dan bercabang menjadi sebuah aponeurosis.13 Retraktor palpebra berfungsi membuka palpebra. retraktor utama . Selain itu. Panjang tepian bebas palpebra adalah 25-30 mm dan lebar 2 mm.10 Septum orbita adalah fasia di belakang bagian muskularis orbikularis yang terletak di antara tepian orbita dan tarsus.5 cm dari tepian lateral orbita dan membentuk sudut tajam. Septum orbita superius menyatu dengan tendo dari levator palpebra superior dan tarsus superior sedangkan septum orbita inferius menyatu dengan tarsus inferior. Tepian anterior terdiri dari bulu mata. Kantus lateralis kira-kira 0. Di palpebra superior.13 Pungtum lakrimalis terletak pada ujung medial dari tepian posterior palpebra berupa elevasi kecil dengan lubang kecil di pusat yang terlihat pada palpebra superior dan inferior.

13 Pembuluh darah yang memperdarahi palpebra adalah a. Hemangioma ditemukan pada fase awal pertumbuhan aktif pada bayi dengan periode selanjutnya berupa regresi dan involusi. strawberry nevus) b) granuloma piogenik c) cherry spot (ruby spot).2 b. HEMANGIOMA a. TUMOR JINAK 1. Otot polos dari retraktor palpebra dipersarafi oleh nervus simpatis.13 B. Definisi Hemangioma merupakan pertumbuhan hemartomatous yang terdiri dari sel-sel endotel kapiler yang berproliferasi. angioma senilis 2) Hemangioma kavernosum a) hemangioma kavernosum (matang) b) hemangioma keratotik c) hemartoma vaskuler 3) Teleangiektasis . Persarafan sensorik kelopak mata atas didapatkan dari ramus frontal nervus V sedangkan kelopak mata bawah oleh cabang kedua nervus V. Klasifikasi Secara histologik hemangioma dibedakan berdasarkan besarnya pembuluh darah yang terlibat menjadi 3 jenis yaitu:3 1) Hemangioma kapiler a) hemangioma kapiler pada anak (nevus vaskulosus. palpebralis. Levator dan muskulus rektus inferior dipasok oleh nervus okulomotorius.adalah muskulus rektus inferior yang menjulurkan jaringan fibrosa untuk membungkus muskulus oblikus inferior dan berinsersio ke dalam batas bawah tarsus inferior dan orbikularis okuli.

. Etiologi dan Patofisiologi Sampai saat ini. risiko hemangioma infantil pada usia 5 bulan meningkat 50%. patogenesis terjadinya hemangioma masih belum diketahui. Lesi hemangioma infantil tidak ada pada saat kelahiran. dan pengaruh mekanik diperkirakan menjadi penyebab proliferasi abnormal pada jaringan hemangioma tetapi penyebab utama yang menimbulkan defek pada hemangiogenesis masih belum jelas dan belum terbukti sampai saat ini tentang pengaruh genetik. pada usia 7 bulan meningkatkan 70%. hormonal. terutama neonatus dengan berat badan lahir di bawah 1. Epidemiologi Prevalensi hemangioma infantil ± 1-3% pada neonatus dan ± 10% pada bayi sampai dengan umur 1 tahun. Rasio kejadian perempuan dibanding laki-laki 3:1. Meskipun growth factor. Mereka bermanifestasi pada bulan pertama kehidupan. Seiring dengan bertambahnya usia. Faktor risiko yang telah teridentifikasi. Hemangioma infantil lebih sering terjadi di ras Kaukasia daripada ras di Afrika maupun Amerika.a) nevus flameus b) angiokeratoma c) spider angioma Dari segi praktisnya. para ahli memakai sistem pembagian sebagai berikut:3 1) Hemangioma kapiler 2) Hemangioma kavernosum 3) Hemangioma campuran c. dan 90% pada usia 9 bulan. d. Lokasi tersering yaitu pada kepala dan leher (60%).500 gram. menunjukkan fase proliferasi yang cepat dan perlahan-lahan berinvolusi menuju bentuk lesi yang sempurna.

sel mast. Keberadaan MCP-1 dapat di-down-regulasi oleh deksametason dan interferon alfa. Efek angiogenesis ini dihambat oleh adanya protamin. Pada fase proliferasi. Angioplastin.Vaskularisasi kulit mulai terbentuk pada hari ke-35 gestasi. Di samping heparin sendiri berperan sebagai agen angiogenesis. Heparin yang dilepaskan makrofag menstimuli migrasi sel endotel dan pertumbuhan kapiler. jaringan hemangioma diinfiltrasi oleh makrofag dan sel mast sedangkan pada fase involusi terdapat infiltrasi monosit. Konsep inhibisi kortikosteroid ini diterapkan untuk terapi pada beberapa jenis hemangioma pada fase involusi. Proliferasi endotel dipengaruhi oleh agen angiogenik. Maturasi sistem vaskuler terjadi pada bulan ke-4 setelah lahir. dan kortikosteroid. Faktor angiogenik kemungkinan mempunyai peranan penting pada fase proliferasi dan involusi hemangioma. Makrofag menghasilkan stimulator ataupun inhibitor angiogenesis. kartilago. Pertumbuhan endotel yang cepat pada hemangioma mempunyai kemiripan dengan proliferasi kapiler pada tumor. Zat ini dihasilkan oleh sel otot polos pembuluh darah pada fase proliferasi tetapi tidak dihasilkan oleh hemangioma pada fase involusi ataupun malformasi vaskuler. yang berlanjut sampai beberapa bulan setelah lahir. fragmen internal plasminogen merupakan inhibitor poten dan spesifik untuk proliferasi endotel. 2) Secara tidak langsung mempengaruhi makrofag. Interferon alfa terbukti . Angiogenik bekerja melalui 2 cara yaitu: 1) Secara langsung mempengaruhi mitosis endotel pembuluh darah. suatu glikoprotein yang berperan sebagai kemotaksis mediator. dan sel T helper. Diperkirakan infiltrasi makrofag dipengaruhi oleh monocyte chemo-attractant protein-1 (MCP-1).

Gambaran Klinis Gambaran klinis hemangioma berbeda-beda sesuai dengan jenisnya. Biasanya merupakan tonjolan yang timbul dari permukaan. dan lebih mendatar.menghambat migrasi endotel yang disebabkan oleh stimulus kemotaksis. berbatas tegas. dapat berupa makula eritematosa atau nodus yang berwarna merah sampai ungu. lesi menjadi kurang tegang. Involusi spontan ditandai oleh memucatnya warna di daerah sentral. ada yang superfisial berwarna merah terang dan ada yang subkutan berwarna kebiru-biruan. e. berbentuk lobuler. Ukuran dan dalamnya sangat bervariasi. berwarna merah kebiruan yang pada perkembangannya dapat memberikan gambaran keratotik dan verukosa. Jika ditekan mengempis dan pucat lalu akan cepat menggembung lagi jika dilepas dan kembali berwarna merah keunguan. Lesi berupa tumor yang lunak. Hal ini memberikan efek tambahan interferon alfa dalam menurunkan jumlah dan aktifitas makrofag.5 Hemangioma kavernosa tidak berbatas tegas. Strawberry nevus terlihat sebagai bercak merah yang makin lama makin besar.5 . tegang.5 Gambaran klinis hemangioma campuran merupakan gabungan dari jenis kapiler dan kavernosum. Warnanya menjadi merah menyala. Sebagian besar ditemukan pada ekstremitas inferior dan biasanya unilateral. Hemangioma kapiler tampak beberapa hari sesudah lahir. Lesi ini jarang mengadakan involusi spontan. kadang-kadang bersifat permanen. Bukti-bukti di atas menjelaskan efek deksametason dan interferon alfa pada hemangioma pada fase proliferasi. dan keras pada perabaan. Lesi terdiri atas elemen vaskuler yang matang.

MRI atau USG Doppler dapat menggambarkan perluasan tumor ke posterior jika tidak dapat dipastikan secara klinis. Untuk evaluasi diagnostik pada orbita.2 g. Lesi awal tampak banyak sel dengan sarang-sarang padat sel endotel dan selalu berhubungan dengan pembentukan lumen vaskuler yang kecil. Lesi involusi menunjukkan peningkatan fibrosis dan hialinisasi dinding kapiler dengan oklusi lumen.2 Jika diagnosis hemangioma belum jelas secara klinis. dan rhabdomiosarkoma di mana masing-masing berhubungan dengan pertumbuhan dan proliferasi cepat atau proptosis yang progresif.Gambar Hemangioma Kapiler f. Penatalaksanaan Terdapat 2 cara pengobatan pada hemangioma yaitu:3 . Lesi yang terbentuk secara khas menunjukkan saluran kapiler yang berkembang dengan baik.2 Gambaran histopatologi tergantung stadium perkembangan hemangioma. rata. MRI sangat berguna untuk membedakan hemangioma dari neurofibroma pleksiformis. Pemeriksaan Penunjang Ketersediaan alat-alat canggih saat ini memungkinkan pencitraan massa orbita untuk dibedakan secara non invasif dalam banyak kasus. malformasi limfatik. dan mengandung endotel dengan konfigurasi lobuler. USG juga dapat memberikan informasi penting dalam diagnosis massa orbita. CT-Scan memiliki sensitivitas yang tinggi terhadap tulang sedangkan MRI untuk jaringan lemak.

perdarahan.1) Terapi konservatif Pada perjalanan alamiah lesi hemangioma akan mengalami pembesaran dalam bulan-bulan pertama kemudian mencapai besar maksimum dan sesudah itu terjadi regresi spontan sekitar umur 12 bulan. atau sistemik.05% topikal dapat digunakan pada lesi superfisial yang kecil. Lesi terus mengadakan regresi sampai umur 5 tahun. digunakan steroid sistemik dengan dosis . infeksi. Jika hemangioma ini dibiarkan hilang sendiri.3 a) Terapi kompresi Terdapat 2 macam terapi kompresi yaitu continous compression dengan menggunakan bebat elastik dan intermittent pneumatic compression dengan menggunakan pompa Wright Linear. akan terjadi pengosongan pembuluh darah yang menyebabkan rusaknya sel-sel endotelial sehingga terjadi involusi dini dari hemangioma. Jika hemangioma difus atau meluas ke posterior orbita. Hemangioma strawberry sering tidak diterapi. pertumbuhan cepat. tenggorokan). intralesi. Steroid dapat digunakan secara topikal. dan deformitas jaringan.12 b) Terapi kortikosteroid Steroid digunakan selama fase proliferatif tumor untuk menghentikan pertumbuhan dan mempercepat involusi lesi.5 2) Terapi aktif Hemangioma yang memerlukan terapi secara aktif antara lain adalah hemangioma yang tumbuh pada organ vital (mata. Krim clobetasol propionate 0. telinga. hasilnya kulit terlihat normal. Diduga dengan penekanan yang diberikan. Injeksi intralesi kombinasi antara steroid kerja panjang dan kerja singkat sering digunakan pada hemangioma periorbita terlokalisir. mengalami ulserasi.

5) Menyebabkan dekompensasio kardiovaskular. 3) Secara mekanik mengadakan obstruksi orifisium. 2) Tumbuh cepat dan mengadakan destruksi kosmetik. Imunisasi perlu ditunda pada anak-anak yang mendapat terapi steroid dosis tinggi. Terapi dengan kortikosteroid dalam dosis besar kadangkadang akan menimbulkan regresi pada lesi yang tumbuh cepat.anjuran prednison atau prednisolon 2-5 mg/kg BB/hari. Hemangioma kavernosum atau campuran diobati jika steroid diberikan secara oral dan injeksi langsung pada hemangioma.2 Kriteria pengobatan dengan kortikosteroid ialah: 1) Jika melibatkan salah satu struktur yang vital. termasuk krim topikal.7 Hemangioma kavernosum yang tumbuh pada kelopak mata dan mengganggu penglihatan umumnya diobati dengan steroid injeksi untuk mengurangi ukuran lesi secara cepat sehingga penglihatan bisa pulih. tekanan darah. atrofi lemak subkutan linier.2 Steroid dihubungkan dengan banyak komplikasi sehingga perlu dipertimbangkan. diabetes. 4) Banyak perdarahan dengan atau tanpa trombositopenia. dan depigmentasi palpebra. Penggunaan kortikosteroid peroral dalam waktu lama dapat meningkatkan infeksi sistemik. iritasi lambung. Supresi adrenal dan retardasi pertumbuhan dapat terjadi pada semua cara penggunaan. dan pertumbuhan terhambat. Dianjurkan untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis anak.7 c) Terapi pembedahan . Injeksi intralesi berisiko menyebabkan emboli arteri retinalis bilateral.

misalnya dengan namor rhocate 50%. Pada kasus lain. Na-salisilat 30%. (3) Tidak ada regresi spontan.Indikasi dilakukannya terapi pembedahan pada hemangioma adalah: (1) Pertumbuhan terlalu cepat. atau larutan NaCl hipertonik. cara ini sering tidak disukai karena rasa nyeri dan menimbulkan sikatrik. Embolisasi akan mengecilkan ukuran dan mengurangi risiko perdarahan pada saat pembedahan. Namun. misalnya tidak terjadi pengecilan sesudah 6-7 tahun.3 .3 e) Terapi sklerotik Terapi ini diberikan dengan cara menyuntikan bahan sklerotik pada lesi hemangioma.6 Eksisi hemangioma periorbita dapat dilakukan dengan mudah pada beberapa lesi yang terlokalisir dengan baik. pembedahan rekonstruksi dapat dilakukan bertahun-tahun setelah terapi medis.2 Embolisasi sebelum pembedahan dapat sangat berguna jika hemangioma yang akan dieksisi mempunyai ukuran yang besar dan lokasi yang sulit dijangkau dengan pembedahan. (3) Menimbulkan fibrosis pada kulit yang masih sehat yang akan menyulitkan jika diperlukan suatu tindakan. HCl kinin 20%. (2) Komplikasi berupa keganasan yang terjadi pada jangka panjang.6 d) Terapi radiasi Pengobatan radiasi pada tahun-tahun terakhir ini sudah banyak ditinggalkan karena: (1) Penyinaran berakibat kurang baik pada anak-anak yang pertumbuhan tulangnya masih sangat aktif. (2) Hemangioma raksasa dengan trombositopenia. misalnya dalam beberapa minggu lesi menjadi 3-4 kali lebih besar.

f) Terapi pembekuan Aplikasi dingin dengan memakai nitrogen cair. dan spon polyvinyl alcohol. balon kateter. spon gelatin. Jenis laser ini memiliki keuntungan jika dibandingkan dengan jenis laser lain karena efek keloid yang ditimbulkan minimal. antara lain methacrylate spheres. Embolisasi dilakukan jika modalitas terapi yang lain tidak dapat dilakukan atau sebagai persiapan pembedahan.6 h) Terapi laser Penyinaran hemangioma dengan laser dapat dilakukan dengan menggunakan pulsed dye laser (PDL) di mana jenis laser ini dianggap efektif terutama untuk jenis Port-Wine stain.6 g) Terapi embolisasi Embolisasi merupakan teknik memposisikan bahan yang bersifat trombus ke dalam lumen pembuluh darah melalui kateter arteri dengan panduan fluoroskopi. cyanoacrylate. silikon. Banyak bahan embolisasi yang digunakan. tergantung jenis bahan yang digunakan.5 i) Kemoterapi . wol. semi permanen atau sementara. Dianggap cukup efektif diberikan pada hemangioma tipe superfisial tetapi ini jarang dilakukan karena dilaporkan menyebakan sikatrik paska terapi. Pembuntuan pembuluh darah ini dapat bersifat permanen. katun. Pulsed-dye laser dapat digunakan untuk mengobati hemangioma superfisial dengan beberapa komplikasi tetapi berefek kecil terhadap komponen tumor yang lebih dalam.

dan sikatrik. Ulkus merupakan hasil dari nekrosis. Komplikasi Morbiditas hemangioma palpebra sangat bergantung dari seberapa besar ukurannya mengisi rongga mata. Hal ini dapat ditemukan pada 43-60% pasien dengan hemangioma palpebra. perdarahan.2 Selain itu.1.Vinkristin merupakan terapi lini kedua lainnya yang dapat digunakan pada anak-anak yang tidak berhasil diterapi dengan kortikosteroid dan efektif pada anak-anak yang menderita sindrom Kassabach Merritt. Penyebabnya ialah trauma dari luar atau ruptur spontan dinding pembuluh darah karena tipisnya kulit di atas permukaan hemangioma sedangkan pembuluh darah di bawahnya terus tumbuh. dan rambut rontok.6 2. Ulkus dapat juga terjadi akibat ruptur.6 Ulkus dapat menimbulkan rasa nyeri dan meningkatkan risiko infeksi. Siklofosfamid jarang digunakan pada tumor vaskuler jinak karena mempunyai efek toksisitas yang sangat besar. konstipasi. Jika lesi cukup besar untuk menyebabkan distorsi kornea dan astigmatisma maka ambliopia anisometrik dapat terjadi. MOLLUSCUM CONTAGIOSUM . perdarahan juga merupakan komplikasi yang paling sering terjadi. Komplikasi yang paling sering dari hemangioma adalah ambliopia deprivasi pada mata yang terkena jika lesi cukup besar untuk menghalangi aksis visual.5 h. Vinkristin diberikan secara intravena dengan angka keberhasilan lebih dari 80%. Efek samping dari terapi ini adalah neuropati perifer.

Etiologi Penyebab molluscum contagiosum adalah Poxvirus. Molluscum contagiosum merupakan infeksi pox virus pada kulit yang juga bisa menyebabkan lesi pada wajah. batang tubuh. Virus ini bereplikasi di dalam sel epitel host.a.9 c. dan bagian proksimal ekstremitas. Pada anak-anak.8 b.10 d. Epidemiologi Molluscum contagiosum lebih sering terlihat pada anak di bawah usia 15 tahun. Sebagai akibat dari penyebaran partikel virus ke dalam konjungtiva forniks dapat mengakibatkan konjungtivitis folikuler kronis yang jika tidak diobati maka dapat menyebabkan pannus kornea dan trakoma. Molluscum contagiosum juga dapat menyebabkan dermatitis . Dahulu molluscum contagiosum paling sering mengenai anak-anak tetapi baru-baru ini lebih sering terdapat pada orang dewasa dengan sindrom defisiensi imun (AIDS). sekitar 80% kasus dilaporkan bahwa anak-anak yang terkena pada usia 1-4 tahun yang paling parah keadaannya. lesi berupa papul berukuran 1-5 mm. Setiap lesi biasanya memiliki umbilisasi di tengahnya di mana dari bagian tengah lesi muncul detritus. penularan penyakit ini adalah melalui kontak langsung dengan individu yang terinfeksi dan autoinokulasi sedangkan pada orang dewasa umumnya menular melalui hubungan seksual. Manifestasi Klinis Infeksi molluscum contagiosum biasanya muncul sebagai satu atau lebih lesi yang terpisah satu dengan yang lain. Masa inkubasi dari virus ini adalah sekitar 2 minggu. Definisi Molluscum contagiosum adalah infeksi virus pada epidermis yang mengenai kelopak mata.

Tatalaksana Pengobatan yang paling umum digunakan adalah insisi dan kuretase dari bagian tengah lesi. Pada pasien yang terinfeksi HIV. Keterlibatan kelopak mata bilateral dapat terjadi pada anak-anak dengan imunosupresan. Infeksi molluscum contagiosum bisa menjadi tanda awal dari AIDS.8 f. Sekali lesi dihilangkan secara total.eksematosa di periorbita. lesi cenderung lebih besar dan lebih agresif. NEVUS . khas dari lesi molluscum contagiosum menunjukkan invasif akantosis dan degenerasi sel-sel epitel yang mengisi bagian tengah lesi. Pemeriksaan Penunjang Secara histopatologi. Krioterapi hiperfokal dengan anestesi lokal dilaporkan menjadi metode yang lebih aman untuk molluscum contagiosum kelopak mata yang multipel pada pasien AIDS. Topikal trichoroacetic acid tretinoin. asam salisilat.8 3. hal ini akan memperkecil angka kekambuhan. dan cantharidhin juga telah digunakan.8 Gambar Molluscum Contangiosum e. Terdapat juga sejumlah badan inklusi intra sitoplasma. Krioterapi dan laser telah digunakan sebagian besar untuk lesi ekstraokular.

Klasifikasi 1) Junctional nevus Junctional nevus biasanya datar dan berbatas tegas dengan warna cokelat seragam.11 b. Nevus dengan warna yang lebih gelap memiliki pigmen yang lebih dekat ke permukaan. Bisa tumbuh pada alis mata dan bulu-bulu alis mata juga dapat tumbuh baik pada nevus. Biasanya berwarna cokelat hingga hitam. Memiliki potensi rendah berubah menjadi keganasan. 3) Compound nevus Compound nevus adalah nevus yang berasal dari gabungan komponen jaringan pembatas antara epidermis dan dermis dengan komponen jaringan dermis kulit. Nevus ini memiliki potensi keganasan yang rendah. Warna nevus mulai dari sewarna kulit hingga coklat dan hitam tergantung pada jumlah dan lokasi dari melanin dan pigmen di dalam tumor. Nevus berasal dari melanosit yang memproduksi pigmen. Sebagian besar ahli berpendapat bahwa nevus ini tidak memiliki potensi keganasan. Bisa terdapat beberapa rambut dengan ukuran panjang yang bervariasi. Definisi Sel nevus berpigmen adalah pigmentasi tahi lalat yang umum terjadi pada kebanyakan orang. Dinamakan junctional nevus karena selsel nevus ini terletak pada perbatasan antara epidermis dan dermis. 2) Intradermal nevus Intradermal nevus umumnya meninggi di atas kulit dan merupakan jenis nevus paling umum. Nevus intradermal sering terdapat pada pinggir kelopak mata dan bulu mata pada kelopak mata yang ditumbuhi nevus tersebut dapat tumbuh normal di atas nevus. Permukaan dari nevus bisa halus ataupun berbenjol-benjol tergantung pada jumlah keratin yang dikandungnya.a. .

Nevus ini dapat berwarna biru.Gambar Nevus 4) Nevus biru Nevus biru biasanya datar tetapi dapat pula berupa nodul yang berbatas tegas.11 Gambar Nevus of Ota c. jarang mengenai ras Kaukasia. Tatalaksana . Nevus ini biasa mengenai ras kulit hitam dan oriental. abu-abu. Gambar Nevus Biru 5) Congenital oculodermal melanocytosis (nevus of ota) Jenis dari nevus biru dari kulit di sekitar bola mata yang berhubungan konjungtiva dan uvea. Berpotensi menjadi ganas jika mengenai ras Kaukasia. Warna biru hitam dikarenakan letaknya yang jauh lebih dalam dari kulit yang di atasnya. hingga hitam.

Ukuran xanthelasma bervariasi berkisar antara 2-30 mm. biasanya mengeluh untuk alasan estetika. XANTHELASMA a. ada kalanya simetris. Biopsi insisi bisa dilakukan jika lesi berukuran besar dan untuk memastikan diagnosis.12. Manifestasi Klinis Timbul plak iregular di kulit. dan cenderung bersifat permanen.Walaupun dari tampilan klinis dan riwayat penyakit membantu dalam membuat diagnosis klinis. Selain itu xanthelasma diartikan pula sebagai kumpulan kolesterol di bawah kulit dengan batas tegas berwarna kekuningan biasanya di permukaan anterior palpebra sehingga sering disebut xanthelasma palpebra. . Pada studi kasus pasien dengan xanthomatosis.13 b.11 4. Biopsi eksisi juga dapat dilakukan jika nevus ingin dihilangkan karena alasan kosmetik selain juga untuk konfirmasi diagnosis. warna kekuningan sering kali di sekitar mata. Nevus tidak sensitif terhadap radioterapi sehingga bedah eksisi adalah cara terbaik untuk menghilangkan tumor ini. Xanthelasma jarang ditemukan pada anak-anak dan remaja. xanthelasma lebih sering dijumpai pada wanita dengan 32% dan 17. Epidemiologi Secara global xanthelasma juga merupakan kasus jarang di populasi umum. merupakan jenis yang paling sering dijumpai dari beberapa tipe klinis xantoma yang dikenal.4% pada laki-laki.12 c. Onset timbulnya xanthelasma berkisar antara 15-73 tahun dengan puncak pada dekade 4-5. biopsi biasanya diperlukan untuk mengkonfirmasi diagnosis nevus. Pasien tidak mengeluh gatal. Defenisi Xanthelasma adalah salah satu bentuk xantoma planum.

eksisi bedah dan analisis PA sebaiknya dilakukan. Jika ragu.12 f. Lesi akan bertambah besar dan bertambah jumlahnya. Diabetes yang tidak terkontrol juga menyebabkan hiperlipidemia sekunder. Kelainan genetik primer termasuk dislipoproteinemia. Biasanya lesi-lesi ini tidak mempengaruhi fungsi kelopak mata tetapi ptosis harus diperiksa jika ditemukan.12 e. Patofisiologi Setengah pasien xanthelasma mempunyai kelainan lipid. Erupsi xanthoma dapat ditemui pada hiperlipidemia primer dan sekunder. Pemeriksaan Laboratorium Karena 50% pasien dengan xanthelasma mempunyai gangguan lipid disarankan untuk pemeriksaan plasma lipid juga HDL dan LDL.Xanthelasma palpebra biasanya terdapat di sisi medial kelopak mata atas. Xanthelasma juga bisa terjadi pada pasien dengan lipid normal dalam darah yang mempunyai HDL kolesterol rendah atau kelainan lain lipoprotein. Xanthelasma biasanya dapat didiagnosis dengan jelas secara klinis dan jarang kelainan lain memberi gambaran klinis sama. dan defisiensi lipase lipoprotein yang diturunkan. Lesi berwarna kekuningan dan lembut berupa plak berisi deposit lemak dengan batas tegas. Pemeriksaan Histologi . hipertrigliseridemia.12 Gambar Xanthelasma d.

. Sel-sel ini merupakan histiosit dengan deposit lemak intraseluler terutama dalam retikuler dermis atas. Namun. argon dan karbondioksida ablasi laser. eksisi lebih disarankan karena skar akan berbaur dengan jaringan sekitar. Zat ini mengendapkan dan mengkoagulasikan protein dan lipid. skar dan perubahan pigmen dapat terjadi. 2) Pengangkatan dengan laser karbondioksida dan argon Menambah hemostasis.13 1) Eksisi bedah12 a) Pada lesi liniar yang kecil. dan trichloroacetic acid dilaporkan memberi hasil yang baik. serta krioterapi. elektrodesikasi. dichloroacetic acid. dan lebih cepat. tanpa penjahitan.1 Terdapat beberapa pilihan untuk menghilangkan xanthelasma palpebra yaitu eksisi bedah. kauterisasi kimia.12 g. Monochloroacetic acid. Pengangkatan xanthelasma sudah menjadi bagian dari bedah kosmetik. Lipid utama yang disimpan pada hiperlipidemia dan xanthelasma normolipid adalah kolesterol. kelopak mata bawah cenderung mudah terjadi skar karena jaringan yang diambil juga lebih tebal. memberikan visualisasi lebih baik. Penggunaan chloracetic acid efektif untuk menghilangkan xanthelasma.12 3) Kauterisasi kimia. Kebanyakan kolesterol ini adalah yang teresterifikasi.12.Xanthelasma tersusun atas sel-sel xanthoma. Tatalaksana Pembatasan diet dan penggunaan obat-obatan penurun lipid serum hanya memberikan respon pengobatan yang kecil terhadap xanthelasma. Eksisi sederhana pada lesi yang lebih luas berisiko menyebabkan retraksi kelopak mata dan ektropion sehingga butuh cara rekonstruksi lain. b) Pada eksisi lebih tebal.

Tumbuhnya lambat dengan ulserasi.12 h.17 Karsinoma sel basal merupakan tumor ganas paling banyak di kelopak mata dengan frekuensi 90-95 % dari seluruh tumor ganas di kelopak mata.Haygood menggunakan kurang dari 0. seakan-akan menyembuh. Jenis ulkus rodens tumbuh lebih cepat dan dapat menyebabkan kerusakan hebat di sekitarnya. Persentase ini lebih tinggi dengan eksisi sekunder. Prognosis Kekambuhan sering terjadi. TUMOR GANAS 1. Krioterapi menyebabkan skar dan hipopigmentasi.01 ml dari 100% dichloracetic acid dengan hasil sempurna dan skar minimal. Berupa benjolan transparan. dengan pinggir yang seperti mutiara. KARSINOMA SEL BASAL a.12 4) Elektrodesikasi dan krioterapi Dapat menghancurkan xanthelasma superfisial tetapi butuh terapi berulang. Definisi dan Epidemiologi Karsinoma sel basal berasal dari lapisan basal epitel kulit atau lapis luar sel folikel rambut.12 C. Selebihnya juga bisa tumbuh di kelopak mata atas atau palpebra superior (15 %) dan di kantus lateral (5 %).14 . Karsinoma sel basal banyak berlokasi di kelopak mata bawah bagian pinggir atau palpebra inferior (50-60 %) dan di daerah kantus medial (25-30%). Pasien harus mengetahui bahwa dari penelitian yang dilakukan pada eksisi bedah dapat terjadi kekambuhan pada 40% pasien. Bagian sentral benjolan tersebut mencekung halus. Kegagalan ini terjadi pada tahun pertama dengan persentase 26% serta lebih sering terjadi pada pasien dengan sindrom hiperlipidemia dan jika terjadi pada 4 kelopak mata sekaligus.

usia pertengahan. kerusakan multisitem yang ditandai dengan karsinoma sel basal nevoid yang multipel yang muncul lebih awal dalam kehidupan yang diikuti dengan anomali skeletal khususnya pada mandibula. mata biru. Basal cell nevus syndrome (Gorlin syndrome) adalah kelainan autosomal dominan. serta usia tua pada keturunan Inggris. memiliki kemungkinan lebih tinggi untuk berkembang menjadi kanker kulit. Pasien dengan karsinoma sel basal sebelumnya. dan vertebra.15 . Irlandia.b. jarang bermetastasis. bersifat invasif. Riwayat merokok cerutu juga merupakan risiko terjadinya karsinoma sel basal. Faktor Risiko Pasien yang memiliki faktor risiko tinggi untuk terjadinya karsinoma sel basal adalah yang memiliki corak kulit putih.14 Karsinoma sel basal terlihat meningkat frekuensinya pada pasien lebih muda dan ditemukan lesi ganas di kelopak mata pada pasien yang memiliki riwayat keluarga dengan kelainan sistemik lain seperti basal cell nevus syndrome atau xeroderma pigmentosum. Pasien biasanya juga memiliki riwayat terpapar sinar matahari dalam jangka waktu lama pada usia dekade 2 kehidupan. maksila. rambut pirang. Xeroderma pigmentosum merupakan kelainan resesif autosomal yang ditandai dengan sangat sensitif terhadap paparan sinar matahari dan kerusakan mekanisme repair terhadap sinar matahari sehingga merusak DNA sel kulit. Dapat merusak jaringan di sekitarnya terumata bagian permukaan bahkan dapat sampai ke tulang (lokal destruktif). Skotlandia. Ulserasi dapat terjadi yang menjalar dari samping maupun dari arah dasar sehingga dapat merusak bola mata sampai orbita. dan Skandinavia. dan cenderung residif jika pengobatannya tidak adekuat.14 c. Gejala Klinis Tumor ini umumnya ditemukan di daerah berambut.

dapat melekat di dasarnya. Angka kematian untuk karsinoma sel basal adalah 2-3% karena tumor ini jarang bermetastasis. atau anuler. dan timbul ulkus jika sudah berdiameter ± 0. Manifestasi klinis terbanyak dari karsinoma sel basal.Karsinoma sel basal merupakan tumor yang bersifat radiosensitif dengan diagnosis pasti dilihat dengan biopsi. Jenis yang paling sedikit ditemukan tetapi tumor ini bersifat lebih agresif karena dapat berkembang lebih cepat daripada karsinoma sel basal tipe nodular. Lesi tipe morphea . keras.5 cm yang pada pinggir tumor awalnya berbentuk papular.16 Gambar Karsinoma Sel Basal d.15 2) Karsinoma sel basal tipe morphea. Kumpulan sel atipik merusak permukaan epitel. dan sentral ulkus. tumor ini terbentuk dari sekumpulan sel basal yang asalnya dari lapisan sel basal epitelium dan terlihat seperti pagar di bagian pinggir. nekrosis di tengah karena lebih cekung. nodul seperti mutiara dan disertai dengan teleangiektasis. Jika telah berkembang lebih lanjut. berbatas tegas. Klasifikasi Secara klinis dan patologi.14 Pada tahap permulaan. Dengan trauma ringan atau jika krustanya diangkat mudah terjadi perdarahan. sangat sulit ditentukan malah dapat berwarna seperti kulit normal atau menyerupai kutil. di bagi menjadi 4 tipe yaitu: 1) Karsinoma sel basal tipe noduler. meninggi. Secara histologi.

Secara histologi. Tatalaksana Biopsi diperlukan untuk mengkonfirmasi kecurigaan secara klinis dari karsinoma sel basal. Biopsi insisi merupakan prosedur yang bisa digunakan untuk menkonfirmasi kecurigaan terhadap tumor ganas. 2) Ukuran yang tepat untuk pemeriksaan secara histopatologi. Biopsi eksisi harus diarahkan secara vertikal sehingga tidak terjadi traksi pada kelopak .15 e.bersifat keras.14 3) Karsinoma sel basal tipe ulseratif16 4) Karsinoma sel basal tipe multisentrik atau superfisial Terjadi akibat blefaritis kronis dan bisa menyebar ke bagian pinggir kelopak mata tanpa disadari.14 Biopsi eksisi bisa menjadi pertimbangan ketika lesi di kelopak mata kecil dan tidak terlibatnya daerah di pinggir kelopak mata atau saat lesi di pinggir kelopak mata yang berlokasi di sentral jauh dari kantus lateral atau pungtum lakrimal. lebih datar dengan pinggir yang secara klinis susah ditentukan. 4) Mengikutsertakan jaringan normal di bagian pinggir sekitar daerah yang dicurigai. 3) Tidak menambah trauma atau kerusakan. lesi terlihat seperti kawat tipis yang menyebar di daerah pinggir. skuama halus dengan pinggir yang agak keras seperti kawat dan agak meninggi. Area dari biopsi insisi seharusnya dipotret atau digambar dengan pengukuran sehingga daerah asal tumor menjadi tidak sulit untuk ditemukan pada saat proses pengangkatan tumor berikutnya. Diagnosis yang sangat akurat bisa dijamin jika pada biopsi insisional jaringan yang akan diperiksa: 1) Mewakili keadaan lesi secara klinis.14 Dapat berupa plak dengan eritema. Di sekitar stroma terlihat proliferasi dari jaringan penyambung menjadi pola fibrosis. Warna hitam berbintik-bintik atau homogen.

Bedah eksisi memberikan keuntungan dari diangkatnya tumor secara keseluruhan dengan batas areanya dikontrol secara histologi. Jika sistem drainase air mata telah terangkat setelah proses eradikasi tumor. rekonstruksi sistem aliran keluar air mata tidak bisa dilakukan sampai pasien benar-benar bebas dari tumor. infiltrasi yang lebih dalam. Tingkat kekambuhan pada terapi bedah lebih sedikit dan jarang jika dibandingkan terapi lain. Reseksi tumor secara mikrografik mohs .14 Ketika karsinoma sel basal bertempat di daerah kantus medial. Pilihan terapi bedah: a) Eksisi dengan potong beku (frozen section) b) Bedah mikrografi mohs c) Bedah dengan laser CO2 d) Eksisi tanpa potong beku Bedah merupakan pilihan terapi dari karsinoma sel basal di kelopak mata.mata. Jaringan diangkat secara lapis demi lapis dan dibuat tipis dilengkapi dengan gambar 3 dimensi untuk mengangkat tumor.14 Untuk menatalaksana karsinoma sel basal dapat ada beberapa pilihan terapi di antaranya: 1) Bedah dilakukan dengan mengeksisi tumor sampai dengan benar-benar meninggalkan sisa. Beberapa tumor bisa menyebar ke daerah subkutan dan tidak dapat diketahui sebelum operasi 14 Kambuhnya tumor yang sudah diangkat secara total. sistem aliran air mata juga bisa terangkat jika dilakukan eradikasi tumor secara komplit. Jika pinggir dari daerah kelopak mata yang dieksisi positif terdapat sel tumor maka area yang terlibat harus direeksisi secara bedah mohs micrographic untuk mengetahui batas bawah atau frozen section untuk mengetahui batas samping. atau tumor tipe morphea dan tumor yang berada di kantus medial dikelola dengan cara bedah mikrografi mohs.

Krioterapi menimbulkan depigmentasi dan atropi pada jaringan sehingga dijadikan cadangan terapi untuk pasien yang intoleran terhadap pembedahan seperti pasien sangat tua yang aktifitasnya terbatas di tempat tidur atau pasien dengan kondisi medis serius yang kontraindikasi dilakukan intervensi bedah. kornea harus dilindungi dengan cara menempelkan atau sementara dengan cara menutup kelopak mata. kelopak mata seharusnya direkonstruksi dengan prosedur okuloplastik yang terstandar. modalitas terapi ini dihindari untuk lesi yang kambuh.14 Jika tumor terbatas pada adneksa dilakukan eksisi 3-5 mm dari batas makroskopis. dan lesi tipe morphea. Saat krioterapi digunakan untuk menangani diffuse sclerosing lesion. lesi dengan diameter lebih dari 1 cm.14 Mikrografi eksisi bisa menjamin secara maksimal jumlah jaringan yang sehat untuk tidak terlibat sehingga hanya area tumor yang terangkat secara komplit. Selain itu. Jika rekonstruksi tidak bisa dilakukan segera.14 Setelah dilakukan reseksi tumor. Kekurangan dari bedah mikrografi mohs ini adalah dalam mengidentifikasi batas tumor ketika tumor sudah menginvasi daerah orbita.sering digunakan untuk mengeksisi karsinoma sel basal dan karsinoma sel skuamosa. secara histologi pinggir area tidak bisa dievaluasi dengan krioterapi. Akibatnya. Rekonstruksi ini penting walaupun bukan merupakan hal mendesak. angka kekambuhan tinggi. angka kekambuhan jika diterapi dengan krioterapi lebih besar daripada setelah diterapi secara pembedahan. Jika defeknya kecil maka granulasi jaringan secara spontan bisa menjadi alternatif terapi. Sedangkan jika tumor sudah . pembedahan awal bertujuan untuk melindungi secara maksimal bola mata lalu diikuti dengan memperbaiki sisa kelopak mata yang masih baik.14 Untuk lesi yang noduler.

dan keratitis sika.menginvasi orbita maka ada 2 pilihan terapi secara eksentrasi yaitu dengan mengangkat seluruh bola mata disertai dengan adneksa mata dengan meninggalkan bagian tulang saja. Kekambuhan ini timbulnya lebih lama setelah terapi awal dan lebih sulit untuk menangani secara pembedahan karena telah terjadi perubahan dari struktur jaringan yang telah diradiasi sebelumnya. terapi radiasi juga tidak bisa digunakan untuk memantau area pinggir tumor secara histologi.14 Komplikasi yang terjadi akibat terapi radiasi di antanya adalah timbulnya sikatrik pada kelopak mata. Seperti krioterapi.14 .16 2) Non bedah Dilakukan jika lokasi cukup sulit untuk dilakukan pembedahan. pembentukan skar pada drainase air mata disertai dengan obstruksi. Pilihan terapi non bedah yaitu: a) Radioterapi b) Kemoterapi c) Interferon Terapi radiasi juga bisa dipertimbangkan sebagai terapi paliatif tetapi untuk lesi periorbita sebaiknya dihindari. selain itu juga bisa dilakukan radioterapi. Respon dari terapi non bedah cukup bagus tetapi memiliki efek samping yang cukup banyak. Angka kekambuhan jika diterapi dengan radiasi juga lebih tinggi jika dibandingkan dengan pembedahan. Jika sudah menginvasi intrakranial harus dikonsultasikan ke bagian bedah saraf. Ditambah lagi. Radiasi juga merangsang timbulnya keganasan baru atau cedera pada bola mata yang timbul jika bola mata tidak dilindungi selama terapi. kekambuhan setelah radiasi sulit untuk dideteksi.

21) b. sampai stadium lanjut invasif. iritasi yang berlebihan. Definisi Karsinoma sel skuamosa adalah tumor ganas intraepitelial yang bermanifestasi di daerah limbus dan margo palpebra (peralihan epitel).(18. Tumor ini sering terjadi pada usia lanjut walaupun dapat juga dijumpai pada dewasa muda. dan virus papiloma humanum. terapi radiasi. frekuensinya kurang lebih 9. Epidemiologi Karsinoma sel skuamosa relatif jarang dijumpai pada kelopak mata dan konjungtiva. karsinoma in situ.(18) Margo palpebra merupakan daerah peralihan epitel dari sel gepeng berlapis epidermis menjadi sel silindris konjungtiva tarsal sedangkan daerah limbus terdapat peralihan berupa sel mukosa konjungtiva bulbi menjadi epitel skuamosa kornea.(18.21.19 Karsinoma sel skuamosa lebih banyak mengenai pria daripada wanita. d.22) c. Lesi-lesi yang berada di daerah peralihan ini perlu diperhatikan karena cendrung dapat bersifat ganas.2% dari seluruh keganasan kelopak mata. Etiologi Penyebab karsinoma sel skuamosa belum diketahui tetapi diduga sebagai akibat terpapar oleh zat aktinik atau kimia. Patofisiologi Kelainan patologi karsinoma sel skuamosa dapat dijumpai dalam berbagai derajat keganasan dimulai dari stadium awal pralesi displasia.20. KARSINOMA SEL SKUAMOSA a. 20. Tumor terutama didapat pada daerah tropis dan sifat karsinoma sel skuamosa cenderung lebih invasif.2.22) Karsinoma sel skuamosa dapat didahului oleh berbagai macam tumor jinak seperti lesi papiloma skuamosa atau diskeratosis sebelum .(18.

d) Riwayat kekambuhan setelah pengobatan lesi kelopak mata.dan trikiasis. Gambar Karsinoma Sel Skuamosa . Displasia mempunyai gradasi dari sel atipik yang ringan sampai berat. ukuran. bergantung pada ketebalan perubahan sel epitel. Jika sel yang telah berubah sifat tersebut menembus membran basalis maka lesi tersebut merupakan karsinoma invasif. luka. Pada displasia stadium awal gambaran patologi belum menunjukan terjadi perubahan sel yang terjadi hanya perubahan sel menjadi atipik. atau warna lesi seperti adanya ulserasi. berawal dari nodul hiperkeratotik yang dapat berulkus dan mengikis jaringan sekitar serta dapat menyebar ke limfonodus regional melalui sistem limfatik. Karsinoma in situ sering dimasukan dalam kategori kelainan displasia berat oleh banyak peneliti. c) Riwayat terpapar sinar matahari. Karsinoma sel skuamosa terjadi akibat karsinoma in situ yang progresif dan displasia berat. di mana secara histologis belum termasuk kriteria keganasan.berubah menjadi displasia. e) Perubahan kontur. e. Diagnosis 1) Anamnesis a) Ada riwayat perkembangan dari luka akibat paparan sinar matahari dan aktinik keratosis b) Ada riwayat kemoterapi dan transplantasi organ. 2) Pemeriksaan fisik Tumor ditemukan tumbuh lambat tanpa rasa sakit. bintik merah.

berbentuk nodul yang kecil dan keras seperti kalazion. Epidemiologi Insiden karsinoma sel sebasea adalah 3.20 g. baik derajat keganasan secara patologis atau berdasar lokasi dan ukuran massa. 2) Pembedahan radikal eksenterasi dengan atau tanpa kombinasi radiasi. Selain itu. menunjukkan konsistensi yang kenyal.23 b. terutama pada usia 70 tahun ke atas.8% dari seluruh tumor palpebra. Beberapa pasien dengan karsinoma kelenjar meibom mempunyai penebalan berbentuk plak yang difus dari tarsus atau sebuah pertumbuhan berbentuk jamur atau papiloma yang menyerupai papiloma sel skuamosa atau karsinoma sel skuamosa papila. Angka kematiannya berkisar sekitar 22%. Karsinoma sel sebasea paling sering terjadi pada perempuan dibandingkan lelaki. Sering terlihat seperti kalazion yang tidak khas atau berulang. tergantung beberapa faktor. Prognosis Rekurensi karsinoma sel skuamosa terjadi sebanyak 20-40 % dan dilaporkan umumnya terjadi setelah penderita mengalami eksisi tidak lengkap. Biasanya.18.2% di antara tumor ganas dan 0.20 3.3) Pemeriksaan laboratorium a) Biopsi untuk memastikan tumor.24 . b) Tes fungsi hati atau CT scan jika terdapat metastasis. Tatalaksana 1) Pembedahan dilaksanakan eksisi tumor. KARSINOMA KELENJAR SEBASEA a. f. Manifestasi Klinis Karsinoma kelenjar sebasea bisa menunjukkan gambaran klinis berspektrum luas.

Biopsi dilakukan pada area konjungtiva hiperemia yang dicurigai karsinoma kelenjar sebasea pada waktu operasi.24 . dan hemangioma. Pengobatan bertujuan untuk mengangkat lesi yang ganas untuk mencegah penyebaran lokal ataupun sistemik. Pengobatan dari karsinoma kelenjar sebasea adalah operasi eksisi yang adekuat. Tatalaksana Pada penatalaksanaan karsinoma sel sebasea dilakukan terapi bedah. Diagnosis Untuk menegakkan diagnosis pasti dari karsinoma sel sebasea ini dilakukan biopsi. blefarokonjungtivitis.24 Pada kondisi inflamasi seperti blefarokonjungtivitis atau keratokonjungtivitis juga dapat menyertai karsinoma sel sebasea. Secara histopatologis dapat didiagnosis banding dengan karsinoma sel basal. karsinoma mukoepidermoid.24 Tumor pada pinggir palpebra biasanya menyebabkan hilangnya bulu mata.Tempat predileksinya terdapat pada palpebra superior dan terlihat massa berwarna kuning yang berisi lemak. Diagnosis Banding Diagnosis banding karsinoma sel sebasea dapat dibagi menjadi 2 yaitu menurut gejala klinis dapat didiagnosis banding dengan kalazion. atau keratokonjungtivitis.23. Lesi tidak nyeri dan berulkus diikuti dengan hilangnya silia pada daerah kalazion berulang. dengan batasan operasi yang luas dengan kontrol potongan beku segar untuk menggambarkan pinggiran tumor. Evaluasi nodul limfatik diperlukan untuk menilai metastase.24 Jika terdapat keterlibatan difus dari kedua bola mata atas dan bawah diperlukan tindakan eksentrasi.25 e.24 d. massa ini juga dapat berupa papil.24 c.

25 Indikator prognosis buruk meliputi keterlibatan kelopak mata atas. dan ukuran lebih dari 10 mm. Ditemukan 25% pasien melanoma maligna pada umur di bawah 40 tahun.24 Dengan eksisi luas dan tanpa bukti metastase. Identifikasi faktor risiko dengan pasti membantu menemukan pasien yang mungkin memperoleh keuntungan dari terapi yang agresif.26 Terdapat peningkatan 4% kejadian melanoma maligna yang didiagnosis setiap tahun. hasil operasi dapat mencegah keganasan.27 Melanoma hanya ditemukan 1% dari keseluruhan lesi palpebra. Ada 51. Prognosis Karsinoma kelenjar sebasea dari kelopak mata dapat berhubungan dengan bagian yang agresif dan prognosis yang buruk. Oleh karena itu. asal multisentrik.400 kasus baru melanoma didiagnosis pada tahun 2002 dengan 7. Definisi dan Epidemiologi Melanoma adalah tumor palpebra berpigmen yang harus dibedakan dari nevus dan karsinoma sel basal. diferensiasi sebasea sedang sampai buruk. invasi vaskuler dan saluran limfatik. lesi-lesi sebasea mempunyai insiden kekambuhan dan metastase. durasi gejala lebih dari 6 bulan. Meskipun demikian.25 4. penting untuk mengenali lesi jinak dan ganas kelopak mata terutama ketika berpigmen. melanoma sangat penting karena lebih dari dua pertiga dari semua kematian akibat kanker kulit yang disebabkan melanoma maligna.800 kematian. karsinoma intraepitel. bentuk pertumbuhan yang infiltratif. MELANOMA MALIGNA PALPEBRA a.24.28 .f. invasi ke orbita. Walaupun hanya 3% dari semua kanker kulit.24.

putih.b. . Faktor Risiko Mereka yang paling berisiko untuk berkembangnya melanoma adalah kelompok yang mempunyai riwayat melanoma dalam keluarga dan pasien dengan nevus displastik. biru. Melanoma palpebra yang melibatkan konjungtiva biasanya lebih agresif daripada yang terbatas di kulit palpebra. ulserasi.26 Clark dan Breslow membagi kedalaman invasi ke dalam 5 tingkat anatomis:27 1) Tingkat 1 hanya terbatas pada epidermis (in situ). pasien dengan limfoma nonHodgkin. 4) Tingkat 4 meluas ke retikuler dermis. 3) Tingkat 3 mengisi papiler dermis. Evaluasi sistemik untuk metastasis regional atau jauh diperlukan jika didiagnosis melanoma. dan pasien dengan transplantasi organ atau AIDS. dan perdarahan. Pasien melanoma berisiko tinggi 5 kali lipat mengidap melanoma ke-2. 2) Tingkat 2 menembus papiler dermis. merah. atau hitam) batas tidak tegas. Kelompok berisiko tinggi adalah pasien dengan xeroderma pigmentosa. Diagnosis Ciri khas dari melanoma maligna adalah pigmentasi variabel (yaitu sebuah lesi dengan tingkat warna cokelat.27 c.27 Gambar Melanoma Maligna Perubahan tampilan pada lesi berpigmen memerlukan biopsi eksisi pada lesi. 5) Tingkat 5 tumor meluas ke dalam jaringan subkutan.

5 mm memiliki prognosis yang cukup baik dan pasien dengan tumor lebih dari 1.5 mm memiliki prognosis yang buruk dengan ketahanan hidup 5 tahun sebesar 50% sampai 60%. Tumor ini bersifat agresif. SARKOMA PALPEBRA a. Pemotongan kelenjar getah bening regional harus dilakukan untuk tumor yang lebih besar dari 1.75 mm memiliki prognosis sangat baik dengan dapat bertahan hidup 5 tahun sebesar 100%.d.28 Laser dapat digunakan untuk lesi berpigmen kelopak mata tertentu. Prosedur pilihan untuk pengobatan melanoma maligna kulit kelopak mata adalah eksisi bedah lebar dengan 1 cm margin kulit dikonfirmasi oleh histologi.5 mm secara mendalam dan atau untuk tumor yang menunjukkan bukti penyebaran vaskuler atau limfatik.75 mm sampai 1. sebuah penelitian terbaru telah menunjukkan kasus uveitis bilateral setelah terapi laser pada lesi kelopak mata berpigmen. Pasien dengan tebal tumor kurang dari 0.28 e. Breslow mengembangkan metode kuantitatif dengan mengukur kedalaman invasi dengan milimeter. multifokal. Penatalaksanaan Terapi bedah dapat dilakukan untuk alasan kosmetik atau kecurigaan keganasan pada lesi jinak berpigmen. Pasien dengan lesi 0.28 5. Prognosis Tingkat 4 atau 5 melanoma ganas kulit palpebra biasanya mempunyai prognosis buruk. dan sering kambuh. Epidemiologi Sarkoma Kaposi merupakan salah satu manifestasi yang sering dijumpai pada penderita AIDS (24%) dan 20% dari sarkoma dapat mengenai mata yaitu palpebra atas atau bawah menyerupai hordeolum atau hemangioma serta pada konjungtiva forniks dan bulbi inferior (menyerupai perdarahan subkonjuntiva granuloma atau hemangioma).29 .

Meskipun mekanisme yang tepat tentang KSHV/HHV-8 bertindak sebagai perantara onkogenesis belum sepenuhnya diketahui. c. Kaposi melaporkan sarkoma multiplepigmented dari kulit yang idiopatik. Sarkoma Kaposi endemik lazim di Afrika Tengah. Patofisiologi Sarkoma Kaposi kemungkinan besar disebabkan oleh beberapa faktor. IL-6 menginduksi signal transducers andactivators of transcription 3 (STAT3) sehingga menyebabkan ekspresi onkogen. terutama mempengaruhi laki-laki muda dengan lesi kulit yang agresif dan viseral.30 b. Risiko ini meningkat tajam dengan jumlah pasangan yang banyak. banyak KSHV/HHV-8 onkogen virus yang telah dikatakan dapat menyebabkan neoplasia. termasuk ekspresi deregulasi dari onkogen dan onkosupresor oleh KSHV/HHV-8 dikombinasikan dengan penurunan kekebalan tubuh dan pelepasan sitokin (interleukin-6) dan faktor pertumbuhan dari HIV bertindak ke atas terjadinya infeksi sel. 2) Laki-laki homoseksual dengan HIV mempunyai risiko yang tinggi. Etiologi Penyebabnya belum diketahui pasti tetapi beberapa faktor terlibat yang ditemui pada pasien sarkoma Kaposi:30 1) Human herpes virus-8 (HHV-8) DNA atau sarkoma Kaposi terkait virus herpes (KSHV) telah ditemui pada pasien yang HIV-negatif dan HIV-positif.30 . 3) Pasien yang sudah pernah transplantasi organ dan menggunakan agen imunosupresif (steroid) berisiko tinggi.Pada tahun 1872.

epifora. dokter harus anamnesis tentang hal-hal berikut:30 1) Demografi 2) Status kekebalan 3) Lesi kulit sebelumnya 4) Pengobatan sebelumnya untuk sarkoma Kaposi 5) Riwayat infeksi oportunistik 6) Penggunaan obat saat ini Pemeriksaan fisik yang dilakukan yaitu: 1) Pemeriksaan mata penuh harus mencakup sebagai berikut: a) Inspeksi dan eversi kelopak mata dan bulu mata. plak. Diagnosis Sarkoma Kaposi pada mata biasanya asimptomatik. kering mata. d) Palpasi kelenjar lakrimal dan pemeriksaan pada massa. mata merah atau perdarahan berulang.29 Untuk mengidentifikasi faktor risiko pada sarkoma Kaposi. fotofobia. . 2) Lesi yang merah keunguan hingga merah terang dengan pembuluh telangiekstasis sekitarnya. tidak mampu menutup mata. Manifestasi klinis Gejala sarkoma Kaposi adalah sebagai berikut sakit. keluarnya mukopurulen. dengan gambaran proliferasi vaskuler. Tumor sarkoma Kaposi berwarna kemerah-merahan.d. dan penglihatan kabur. e. dan serat-serat retikulin yang diduga berasal dari endotel. mungkin makula. b) Lakukan slit lamp biomikroskopi. atau nodular. kadangkadang disertai iritasi ringan. c) Periksa palpebra dan konjungtiva bulbi dan forniks dengan terperinci. padat. iritasi dan sensasi benda asing. selsel spindle. kelopak mata keras atau bengkak.

efek massa. hanya bersifat paliatif. f. injeksi. c) Lesi sarkoma Kaposi oftalmik ditemukan di kelopak mata. b) Tahap III. d) Keterlibatan konjungtiva dapat disertai perdarahan subkonjungtiva. Sarkoma Kaposi cenderung mempunyai respon terhadap kemoterapi. Gambar Sarkoma Kaposi Pada pasien dengan sarkoma Kaposi diindikasikan melakukan pemeriksaan laboratorium: 1) HIV enzyme-linked immunosorbent assay 2) HIV Western blot Berhubung dengan kulit atau konjungtiva. biopsi dari lesi mungkin diperlukan untuk diagnosis pasti. dan jarang ditemukan di dalam orbita. dan kerusakannya.29 Tujuan terapi pada pasien dengan sarkoma Kaposi adalah untuk meringankan iritasi mata.3) Dugel dkk menguraikan 3 tahapan klinis yang dapat membantu terapi langsung: a) Tahap I dan II. tumor noduler dan kenaikan tinggi vertikal yang lebih besar dari 3 mm. konjungtiva. cenderung timbul lebih dari 4 bulan. Lesi ini memiliki tinggi ketebalan kurang dari 3 mm vertikal dan timbul kurang dari 4 bulan. Radioterapi memberikan respon yang baik pada 93100% penderita dengan sarkoma Kaposi. Penatalaksanaan Tidak ada pengobatan spesifik untuk sakoma Kaposi. dan kemosis. tumor merata dan datar. .

infeksi. biasanya terjadi kekambuhan berikut setelah penghentian kemoterapi.29 Indikasi untuk eksisi lokal mencakup lesi mengganggu secara kosmetik. Komplikasi Keterlibatan pada kelopak mata dapat menyebabkan kerusakan dan disfungsi kelopak. dan obstruksi penglihatan dari bagian terbesar tumor. lesi mata seringkali teratasi atau berkurang drastis setelah memulai terapi ini. dan ulkus kornea. atau obstruksi penglihatan. Keterlibatan konjungtiva dapat mengakibatkan perdarahan subkonjungtiva berulang. penglihatan bisa hilang dari disfungsi kelopak.30 g. 20% memberikan respons parsial sedangkan sebagian besar penderita tidak memberikan hasil yang baik. perubahan permukaan kornea.30 Pengobatan dengan interferon hanya 10% memberikan respon baik. Pada akhirnya.30 .Jika pasien memiliki keterlibatan sistemik yang membutuhkan kemoterapi. ketidaknyamanan. Lagoftalmos dan trikiasis dapat menyebabkan iritasi mendalam dan kekeringan. keratopati eksposur. Namun. Pertimbangan dalam mengobati lesi untuk mencegah pembentukan entropion dengan trikiasis. dan jaringan parut pada kornea.

astigmatisma. CT scan. embolisasi. tarsus. Manifestasi klinis hemangioma kapiler berupa bercak merah. atau pemberian obat topical (trichoroacetic acid tretinoin. asam salisilat. orbikularis okuli. molluscum contangiosum. dan campuran. laser. Dari superfisial ke dalam terdapat 5 lapis palpebra yaitu kulit. 5. krioterapi. perdarahan. Terapi meliputi insisi dan kuretase (sentral). . Tatalaksana meliputi terapi konservatif dan aktif (kompresi. 2. lobuler. Molluscum contangiosum adalah infeksi virus Poxvirus pada epidermis yang mengenai palpebra. Biasanya terjadi pada anak-anak maupun orang dewasa (AIDS) dengan penularan melalui kontak langsung atau hubungan seksual. Palpebra adalah modifikasi lipatan kulit yang dapat menutup dan melindungi bola mata bagian anterior (kornea dan konjungtiva) dengan cara berkedip. distorsi kornea. Komplikasi hemangioma meliputi ambliopia. pembekuan. bedah. dan xanthelasma. 3. Sedangkan pada hemangioma kavernosum berupa makula atau nodul merah sampai ungu dengan batas tidak tegas. dan konjungtiva pelpebra. Tumor ganas palpebra meliputi karsinoma sel basal. melanoma maligna. Pemeriksaan penunjang meliputi MRI. USG. jaringan areolar. laser. dan histo-PA. Dibedakan menjadi hemangioma kapiler. dengan batas tegas.BAB III KESIMPULAN 1. cantharidhin). kortikosteroid. injeksi skelrotik. dan perabaan keras. Tumor jinak palpebra meliputi hemangioma. karsinoma sel skuamosa. trakoma. dapat disertai konjungtivitis folikuler kronis. pannus kornea. dan dermatitis eksematosa periorbita. Hemangioma merupakan proliferasi dari sel endotel kapiler yang ditemukan pada fase awal pertumbuhan aktif bayi dengan periode selanjutnya berupa regresi dan involusi. radiasi. nevus. Manifestasi klinis berupa papul (1-5 mm) dengan umbilisasi di sentral yang terisi detritus. 4. dan ulkus. kemoterapi). karsinoma sel sebasea. dan sarkoma kaposi. kavernosum.

morphea. Pemeriksaan penunjang nevus meliputi biopsi dengan terapi berupa eksisi. Karsinoma ini bersifat invasif. . hingga hitam yang terletak jauh di dalam kulit. tidak bermetastase. dan radiosensitif. bedah tanpa potong beku) dan non bedah (radioterapi. serta krioterapi. Junctional nevus berbentuk datar. Pemeriksaan penunjang meliputi biopsi. iritasi berlebih. Dibedakan menjadi 5 yaitu junctional nevus. Karsinoma sel skuamosa merupakan tumor intraepitelial yang bermanifestasi di limbus dan margo palpebra. ulseratif. mikrogafi mohs. Terapi dengan eksisi. Manifestasi klinis berupa nodul hiperkeratotik hingga ulkus yang bisa bermetastase melalui sistem limfatik. Manifestasi klinis berupa benjolan transparan dengan pinggir seperti mutiara dan sentral mencekung. abu-abu. warna dari warna kulit. elektrodesikasi. argon dan karbondioksida ablasi laser. radiasi. dan virus. Nevus adalah pigmentasi tahi lalat. 9. dan nevus of ota. HDL. eksenterasi. nevus biru. dan multisentrik atau superfisial. 7. Timbul pada usia 17-73 tahun dengan puncak usia 40-50an. Etiologi meliputi paparan zat kimia. batas tegas. hingga hitam yang sering terdapat di kelopak mata dan alis mata. compound nevus. dan histo-PA. Xanthelasma adalah kumpulan kolesterol di bawah kulit dengan batas tegas berwarna kuning di anterior palpebra. kemoterapi. Pemeriksaan penunjang meliputi pemeriksaan plasma lipid. LDL. kauterisasi kimia. konjungtiva. Nevus biru berbentuk datar atau nodul. Diklasifikasikan menjadi tipe noduler. intradermal nevus. dan CT scan.6. batas tegas. laser CO2. dan warna cokelat dengan letak nevus di perbatasan epidermis dan dermis. Compound nevus terletak di perbatasan epidermis-dermis hingga dermis. Biasanya simetris dan permanen. Intradermal nevus meninggi di atas. warna biru. 8. Nevus of ota terletak di sekitar bola mata. Terapi berupa bedah (eksisi. cokelat. Karsinoma sel basal merupakan tumor ganas palpebra paling sering (90-95 %) yang berasal dari basal epitel kulit atau lapis luar folikel rambut. dan bahkan uvea. interferon). pemeriksaan fungsi hati. atau radiasi. Terapi berupa eksisi bedah. paling banyak ditemukan di palpebra inferior.

dengan ulseratif dan perdarahan. putih. kemoterapi. dan sering kambuh. merah. Melanoma maligna merupakan tumor ganas palpebra berpigmen dengan lesi cokelat. iritasi. multifocal. Manifestasi klinis berupa sakit.10. ulseratif. secret mukopurulen. . epifora. Etiologi berasal dari HHV-8 dan KSHV dengan faktor risiko homoseksual dengan AIDS dan pasien dengan transplantasi organ yang mendapat steroid. Diagnosis pasti dengan biopsi dan terapi dengan bedah eksisi. Terapi hanya bersifat paliatif meliputi radioterapi. Diklasifikasikan menjadi 5 tingkat berdasarkan kedalaman tumor. lesi tidak nyeri. dan pandangan kabur. fotofobia. Diagnosis pasti dengan biopsi sedangkan terapi dengan bedah eksisi. palpebra bengkak. Sarkoma Kaposi merupakan tumor ganas yang bersifat agresif. mata merah. dan interferon. biru. Plak difus berasal dari tarsus dengan pertumbuhan menyerupai jamur atau papiloma. Karsinoma sel sebasea merupakan tumor ganas palpebra dengan nodul kecil yang keras di palpebra superior menyerupai kalazion. batas tidak tegas. lagoftalmos. 11. hingga hilangnya silia. hingga hitam. 12. Pemeriksaan penunjang meliputi HIV-elisa dan HIV western blot.

Hamzah M.com/articles 10. Shields.A case report. Singapore: American Academy of Ophthalmology. Second Edition. Dermal Neoplasms. editors.medicalnewstoday. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Edisi 4. Cantor LB. Weiss JS. Pathogenesis Investigations Vol. McMillan. and Orbital Tumors : An Atlas and Text . Steroid Therapy of a Proliferating Hemangioma: Histochemical and Molecular Changes. Weiss JS. In: Skuta GL. Penerbit : Wolters Kluwer Health. Vascular Anomalies. Hemangioma. In: Skuta GL. Skuta GL. Eyelid. 18 Feb 2010. 219-20. Marchuk DA. Journal Clinical 5. p. Hal: 206. 3. Philadelphia : Lippincot-Raven Publ. of Hemangioma. Jakarta: Balai Penerbit FKUI. Thorne C. Cantor LB.107. Benign Tumors. Philadelphia : WB Saunders Co.B. Oski F. Principle and Practice of Pediatrics. 338-41.DAFTAR PUSTAKA 1. Mulliken J. Grabb and Smith's Plastic Surgery. Weiss JS. 191-200 6. Tan T. Skuta GL. Nigwekar Shubhangi. Basic and Clinical Science Course: Pediatric Ophthalomology and Strabismus 2011-2012. Weiss JS. Ocular Molluscum contagiosum. 1999. Cantor LB. Beasley R.802-12 7. 9. 2nd edition. 2. Jerry A.S. Ralph D. 1997. 8. 2011. Editors. 105: 117-20. Hasan Q. Diunduh dr http:/ www. Singapore: American Academy of Ophthalmology. p. What is Molluscum conatagiosum ? What causes Molluscum contagiosum ?. 2005. Pravara Med Rev 2009: 4 . p. Artikel yg ditulis oleh Christian Nordqvist. In: Aston S. Gush J. Davis P. 2001. Basic and Clinical Science Course: Ophthalmic Pathology and Intraocular Tumors 2011-2012. Conjungtival. p. Deangelis. Hal 242-4 4. Peters S. 2011. In: Julia A. J Pediatr 2000. Feigen R. Cantor LB. Deangelis C. 5th ed. Catherine D. Shields and Carol L.

Nurchaliza Hazaria Siregar. 14. and Lacrimal System. Susan R. The Foundation of AAO. . 235-236.org/afp/980600ap/carter. MD. Hampton Sr. PhD. h. Shield JA. Majalah Kedokteran Nusantara. Jakarta: EGC. 2003 hal : 38 – 40. MD. San Fransisco: American Academy of Ophtalmology : 2011-2012. Accessed 17 Agustus. Ilifl WJ. Marback R.Bagian Tumor Mata FKUI-RSCM 18.com/.wingsfield D Management of intraepithelial conjunctiva tumors and squamos celll carsinoma 20. Fraundfedler FT. FKUI. Ilmu Penykit Kulit dan Kelamin Edisi Kelima. Oftamologi Umum Edisi 17.com/article/1213423-overview diakses tanggal 17 Agustus 2012 13. http://emedicine. Am j ophthalmol 1972. Basic and Clinical Science Course. 2010. Sabders N. Diagnosis and menagement of orbital tumors. Adhi. 24.Invasive squamous cell carsinoma of the conjunctiva 21. Laporan tahunan 1990. Section 7. FACS.recurrent carsinoma in situ of the conjunctiva and cornea (bowen's disease). Dermatologic Manifestation of Sebaceous Carcinoma. 2008. 2012.osnsupersite. http://emedicine. Spencer James.2008. American Academy of Ophtalmology.2012. 23. dkk. 16.html. Pigmented Lesions of the Eyelid. 2010. 2008 http://emedicine. Bedotto CB. 26. Second edition. http://www. Vaughan & Asbury. Malignant Melanoma of the Eyelids an Increasing Threat. 2012. 168-172. Sebaceous Gland Carcinoma. 25. Eyelids. Xanthelasma. Djuanda.medscape. FRCS(C). 12. Accessed 17 Agustus.medscape. 2012.org/afp/980600ap/carter. http://www. Michael L Glassman MD. Eyelid Tumors clinical diagnosis & surgical treatment.aafp.com/view.11.hal 350-352 17. Levine.aafp. Eyelid Disorders: Diagnosis and Management. CM.philadelphia: WB Saunders. Mounir Bashour.Sub. MD. Accessed 17 Agustus. Orbit. FACS. 2010.Green R. MD.com/. http://www. M.1989.Carter. 15. Karsinoma Kelenjar Sebasea.aspx?rid=6622. Mark R.74:688-93\ 19.2006. 2003. 48-51. Jakarta : 2007 .html. Accessed 17 Agustus. Jay justin older. 22. Accessed 17 Agustus. Roy.medscape. 2012.

Cermin Dunia Kedokteran No. Fatma Asyari. Accessed 17 Agustus. 2012. Jacqueline Freudenthal MD.medscape. Kelainan Mata pada Sindrom Imunodefisiensi.com/. 1993. 87. 2010. .15 28. h. http://emedicine.27. Kaposi Sarcoma.