1

TUGAS MATA KULIAH ILMU TAFSIR
MAKALAH dan PRESENTASI
“FIQIH”
Pro Kontra Membaca Bismillah Dalam Sholat









Disusun Oleh :
Nur Hayati Alfia
Nur Halima
Nurotul Aini
Umrotun
Moh. Samin




SEKOLAH TINGGI ILMU TARBIYAH
AL IBROHIMY
TANJUNGBUMI BANGKALAN
2012
2
DAFTAR ISI


Halaman sampul .................................................................................................................
Daftar isi .............................................................................................................................
Kata pengantar ....................................................................................................................
BAB I PENDAHULUAN................................................................................................
1.1. Latar Belakang ......................................................................................................
1.2. Ruang lingkup ......................................................................................................
1.3. Tujuan pembahasan ..............................................................................................
1.4. Manfaat ................................................................................................................
BAB II PEMBAHASAN .................................................................................................
2.1. Lafadz Basmalah ..................................................................................................
2.2. Pendapat Para Imam Madzhab .............................................................................
2.3. Pembagian Basmalah dalam sholat .....................................................................
2.4. Kadar sholat .........................................................................................................

BAB III PENUTUP .........................................................................................................
4.1. Kesimpulan ...........................................................................................................
4.2. Saran .....................................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................................

3
KATA PENGANTAR


Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, atas rahmat-Nya panulis
dapat menyelesaikan penyusunan makalah Fiqih yang berjudul “Pro Kontra Membaca
Basmalah dalam sholat”. Penulisan makalah ini adalah merupakan salah satu tugas dan
persyaratan untuk menyelesaikan tugas Mata Kuliah“ Fiqih” STITAL Tanjungbumi.
Dalam makalah ini kami membahas tentang Pro Kontra Membaca Basmalah
dalam sholat, dengan adanya makalah ini pula diharapkan para mahasiswa dapat
mengetahui Terjadinya Pro Kontra Membaca Basmalah dalam sholat. Dan dalam
penulisan makalah ini penulis merasa masih banyak kekurangan – kekurangan baik pada
teknis penulisan maupun materi, mengingat akan kemampuan yang dimiliki penulis,
untuk itu kritik dan saran yang membangun dari semua pembaca, terutama dari Desen
Pengampu, sangat diharapkan demi penyempurnaan pembuatan makalah ini.
Akhirnya kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah
mendukung dalam penyusunan makalah ini dan penulis berharap semoga Allah
memberikan imbalan yang setimpal pada mereka yang telah memberikan bantuan, dan
dapat menjadikan semua bantuan ini bernilai ibadah. Amin Yaa Rabbal Alamin.


Tanjungbumi, 4 Desember 2012


Penulis



4
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Masalah membaca Basmalah dalam fatihah shalat merupakan salah satu masalah
besar dalam agama Islam karena menyangkut sah atau tidaknya shalat.
Bagaimanakah hukum membaca basmalah dalam surat al-Fatihah ketika shalat? Dan
kalau wajib, apakah harus dikeraskan bacaannya?
Membaca Basmalah merupakan ibadah yang paling besar sesudah tauhid, demikian
dikatakan oleh Imam Nawawi dalam kitab al-Majmu juz III, hal.334.

B. Ruang Lingkup Pembahasan
Agar pembahasan didalam makalah kami mudah dipahami, maka kami membatasi
pembahasan dalam makalah kami, yaitu :
1. Sekilas tentang lafadz basmallah
2. Bagaimana pendapat para imam madzhab tentang bacaan basmallah

C. Tujuan Pembahasan
1. Menjelaskan tentang lafadz basmallah
2. Untuk menjelaskan berbagai pendapat para imam madzhab tentang bacaan
basmallah.

D. Manfaat
Kita dapat mengetahui pendapat para imam madzhab mengenai bacaan basmallah
dalam surat.


5
BAB II
PEMBAHASAN

A. Lafadz Basmallah
Tidak berbeda dengan pendapat ulama dalam hal Basmalah, bahwa basmalah
merupakan firman Allah swt. Yang tercantum dalam al-Qur`an, paling tidak pada
Q.S An-Naml [27]:30.
+O^^)³ }g` =}E©^OÞU÷c +O^^)³4Ò ´¦¯O)´
*.- ^}E©;O·O¯- ´¦1gO·O¯- ^@´÷
Sesungguhnya surat itu, dari SuIaiman dan Sesungguhnya (isi)nya: "Dengan
menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

Tidak seorang ulamapun mengingkari pentingnya mengucapkan Basmalah pada awal
membaca surah, tidak terkecuali termasuk ketika seseorang akan melakukan segala
kegiatan, baik yang berhubungan dengan ibadah atau yang lainnya, seperti ketika
akan melakukan kegiatan lainnya, yang tentunya bersifat positif. Walaupun para
ulama mengakui bahwa hadits ini tidak ditemukan dalam keenam buku hadits
standar, tetapi mereka berbeda pendapat menyangkut basmalah yang tercantum
dalam surah al-Fatihah. Apakah Basmalah termasuk bagian dari surah al-Fatihah
atau tidak.

B. Pendapat Para Imam Madzhab Tentang Hukum Membaca Basmallah
1. Menurut Madzhab Maliki
Bahwa basmalah bukan merupakan satu ayat dari surat al-Fatihah bahkan bukan
merupakan satu ayat dari al-Quran. Hal ini berdasarkan hadits nabi yang
diriwayatkan „Aisyah Ra. (Diriwayatkan oleh Dar al-Quthni dalam kitab Tafsir
Ayatul Ahkam, juz I, hal. 35)
Berdasarkan keterangan tersebut, maka tidak wajib membaca basmalah pada
waktu fatihahnya shalat baik sirri atau keras.
Imam Malik berpendapat bahwa Basmalah bukan bagian dari al-Fatihah, dan
karena itu Basmalah tidak dibaca ketika membaca al-Fatihah dalam shalat.
Beliau beralasan antara lain karena al-Quran bersifat mutawwatir, dalam arti
periwayatannya disampaikan oleh orang banyak yang jumlahnya meyakinkan.
Sedang riwayat tentang Basmalah dalam al-Fatihah tidak demikian. Buktinya
6
adalah kenyataan tentang terjadinya perbedaan pendapat. Disamping itu menurut
penganut madzhab Malik, tidak ada satu riwayatpun yang bernilai shahih yang
dapat dijadikan dalil bahwa basmalah pada al-Fatihah adalah bagian dari al-
Qur`an. Bahkan justru sebaliknya, sekian banyak riwayat yang membuktikan
bahwa Basmalah bukan bagian darinya.
Salah satu diantaranya adalah hadits yang membagi al-Fatihah menjadi dua
bagian, satu bagian bagi Allah dimulai dengan alhamdullilahi rabbil`alamin
(tanpa menyebut Bismillahirrahmanirrahim) dan satu bagiannya untuk manusia
yang dimulai dari waiyyaka nasta`in sampai dengan akhir surah ini.
Alasan lain, dan inilah yang terpenting dan terkuat, adalah pengamatan Imam
Malik terhadap pengamalan penduduk madinah. Beliau menemukan bahwa
imam atau masyarakat umum tidak membaca Basmalah ketika membaca surah
al-Fatihah.

Berbeda dengan Imam Syafi`i yang menilai Basmalah sebagai awal surah al-
Fatihah, dan karena shalat tidak sah tanpa membaca al-Fatihah, maka Basmalah
harus dibaca ketika membaca surah al-Fatihah. Alasannya cukup banyak.
Fakhruddin ar-Razi menguraikan tidak kurang dari lima belas dalil. Antara lain
riwayat Abu Ghurairah yang menyatakan bahwa Nabi saw, bersabda,
“Al-Fatihah terdiri dari tujuh ayat, awalannya adalah
Bismilllahirrahmanirrahim” (HR. ath-Thabrani dan Ibn Mardawih).
Demikian juga informasi istri Nabi saw. Ummu Salamah yang menyatakan
bahwa Rasul saw. Membaca al-Fatihah termausk Basmalah (HR. Abu Daud
Ahmad Ibn Hanbal dan al-Baihaqi).
Imam Bukhari juga meriwayatkan bahwa sahabat Nabi saw. Membaca al-Qur`an.
Anas menjawab, beliau memanjangkan bismillah, ar-rahman, dan ar-rahim.
Disamping itu, telah menjadi ijma` (kesepakatan) bahwa seluruh umat islam
mengakui segala yang tercantum dalam mushaf sebagai ayat al-Qur`an. Itu
sebabnya ulama sepakat tidak menganggap kata “Amin” yang dibaca pada akhir
surah al-Fatihah sebagai ayat al-Qur`an. Sedangkan Basmalah, tidak ada
seorangpun yang menolak pencantumannya dalam Mushaf.
Imam Abu Hanifah mengambil jalan tengah setelah menggabungkan dan
mengkompromikan dalil-dalil diatas. Menurut beliau, Basmalah dibaca dalam
shalat ketika membaca surah al-Fatihah, tetapi tidak dengan suara keras.
7
2. Madzhab Hanafi
Membaca Basmalah dalam Fatihah sholat itu hukumnya wajib namun dengan
suara pelan.
Dalam riwayat lain bagi Ibnu Huzaimah : “Mereka membaca Bismillahir-
rahmaanir-raahiim”membacanya dengan pelan”. (Subulus Salam I/333).
3. Madzhab Hambali
Membaca Basmallah dengan pelan dan tidak sunat untuk dikeraskan.
4. Menurut Madzhab Syafi‟i
Hukum membaca Basmalah dalam al-Fatihah ketika shalat adalah wajib, karena
bacaan Basmalah itu salah satu ayat dari al-Fatihah yang menjadi rukun shalat itu
sendiri.
;³·³·¯4Ò ElE4uO·>-47 4¬¯lEc =}g)`
O)+·VE©^¯- 4p-47¯O¬³^¯-4Ò
4®7g¬E¬^¯- ^g_÷
Dan Sesungguhnya Kami telah berikan kepadamu tujuh ayat yang dibaca
berulang-ulang
1
dan Al Quran yang agung. (QS. Al-Hijr: 87)

Imam syafi’i berkata : Bismillahirrahmanirrahim adalah termasuk ayat tujuh
dari fatihah, kalau ditinggalkan semuanya atau sebagiannya tidaklah cukup
rakaat shalat yang tertinggal membaca bismillahirrahmanirrahim dalam rakaat
itu. (al-Umm, juz I, hal. 107).

Apabila Nabi membaca (surat al-Fatihah) dan menjadi imam manusia, maka
Nabi memulai (bacaan surat al-Fatihah) dengan bacaan basmalah. (Diriwayatkan
dari Dar al-Quthni dalam kitab al-Majmu‟, juz III, hal. 34).

Dari Abu Hurairah ra, Nabi bersabda: Apabila kalian membaca surat al-Fatihah,
maka bacalah basmalah. Sesungguhnya surat al-Fatihah adalah ummul qur‟an,
ummul kitab dan sab‟ul matsani (tujuh ayat yang diulang-ulang), sedangkan
basmalah adalah termasuk satu ayat dari surat al-Fatihah. (Diriwayatkan oleh
Dar al-Quthni dalam kitab Tafsir Ayatul Ahkam, juz I, hal. 34)

1
Yang dimaksud tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang ialah surat Al-Faatihah yang terdiri dari tujuh ayat. sebagian ahli tafsir
mengatakan tujuh surat-surat yang panjang Yaitu Al-Baqarah, Ali Imran, Al-Maaidah, An-Nissa', Al 'Araaf, Al An'aam dan Al-
Anfaal atau At-Taubah.

8

Diceritakan dari Ibnu Abbas, Bahwasannya Rasulullah itu memulai shalat
dengan bacaan basmalah. (Diriwayatkan oleh al-Tirmidzi dalam kitab Tafsir
Ayatul Ahkam, juz I, hal. 47)
Dari keterangan di atas Basmalah termasuk salah satu ayat dari surat al-Fatihah.
Membaca surat al-Fatihah dalam shalat termasuk rukunnya shalat. Bagi yang
ber‟itiqad kalau basmalah itu bukan salah satu ayat dari al-Fatihah maka
shalatnya tidak sah dan batal.
Dengan demikian dapat kita ketahui bahwa basmalah merupakan sebagian surat
dari al-Fatihah, sehingga harus dibaca manakala membaca al-Fatihah dalam
shalat. Dan juga basmalah disunnahkan untuk dikeraskan sebagaimana
sunnahnya mengeraskan al-Fatihah dalam shalat jahriyyah (shalat yang
disunnahkan untuk mengeraskan suara).
Seperti terlihat diatas, masing-masing pendapat mempunyai dalil dan alasan-
alasannya. Masing-masing mengandalkan riwayat yang dinisbahkan oleh para
sahabat Rasul kepada Rasul saw. Baik riwayat tersebut merupakan ucapan
maupun pengamalan beliau.

Para ulama berbeda pendapat apakah bismillahirrahmanirrahim itu bagian dari
Al-Fatihah atau bukan Imam Ali Ash-Shabuni dalam Tafsir Ayatil Ahkam
menjelaskan perbedaan pandangan ini :
1. Madzhab Syafi‟y : bagian dari Al-Fatihah dan juga bagian dari semua surat
surat yang lain
2. Madzhab Maliky : bukan ayat dari Al-Fatihah ataupun dari surat surat yang
lain di AlQuran
3. Madzhab Hanafy : adalah ayat dari Al-Quran dan diturunkan terpisah dari
tiap surat di Al-Quran dan juga bukan bagian dari Al-Fatihah

C. Pembagian Bismillah dalam sholat
1. Kelompok Malik dan Al Auza‟iy tidak membacanya baik secara pelan pelan
ataupun keras.
2. Kelompok pengikut Ibnu Juroij dan Asy Syafi‟iy membacanya dengan keras.
9
3. Kelompok ketiga yang pertengahan adalah mayoritas dari para fuqoha ahlil
hadits bersama dengan fuqoha ahlur ro‟yi, mereka membaca Basmalah dengan
perlahan, sebagaimana dinukilkan dari mayoritas Shohabat.
D. Kadar / Ukuran Sholat
Para fuqoha hadits memilih sholat Nabi shollallohu „alaihi wasallam yang beliau
sering mengerjakannya. Itulah sholat yang pertengahan yang saling berdekatan, yang
mana beliau mempersingkat berdiri dan duduknya, dan memanjangkan ruku‟ dan
sujudnya, menyamakan ruku‟, sujud, dan I‟tidalnya
هب همأأ دجو نم لعأأ ال ففخأأف بصمإ ءكب عسأأف ،اهليطأأ نأأ ديرأ أ نأأو ةلصمإ ف لخد
أ
ل ن إ
“Sungguh aku masuk ke dalam sholat dan ingin memanjangkannya, lalu aku
mendengar tangisan bayi maka akupun menyingkatnya karena aku tahu kegundahan
ibunya karenanya.”
Nabi shollallohu „alaihi wasallam terkadang memanjangkannya karena suatu sebab,
sebagaimana membaca pada sholat Maghrib dengan surat yang terpanjang
Di antara fuqoha ada juga yang tidak menganggap mustahab pemanjangan I‟tidal
dari ruku‟ dan sujud. Dari mereka ada yang menganggapnya sebagai rukun yang
singkat dibangun dari anggapan bahwasanya I‟tidal tadi itu disyariatkan sebagai
penyerta saja dalam rangka sebagai pemisah dan bukan sebagai tujuan. Di antara
mereka ada yang menyamakan antara dua rekaat yang pertama, ada juga yang
menganggap mustahab bahwasanya imam tidak membaca tasbih dalam ruku‟ dan
sujud lebih dari tiga tasbih. Ada juga pendapat-pendapat yang lain.” (“Majmu‟ul
Fatawa”/22/hal. 405 dst).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rohimahulloh juga berkata : “Alhamdulillahi robbil
„alamin. Adapun hadits Anas tentang peniadaan jahr (baca basmalah dengan keras),
maka hadits tadi jelas sekali dan tidak bisa dita‟wilkan seperti itu, karena
diriwayatkan oleh Muslim dalam “Shohih” beliau, Anas berkata :
“Aku sholat di belakang Nabi -shollallohu „alaihi wasallam-, Abu Bakr, Umar, dan
Utsman, mereka selalu membuka sholatnya dengan Alhamdulillahirobbil
„alamin.Mereka tidak menyebutkan bismillahirrohmanirrohim di awal bacaan atau
di akhirnya.” (sudah lewat di awal kitab ini, HR. Muslim (399)).

Peniadaan seperti ini tidak boleh dilakukan kecuali berdasarkan ilmu tentang hal
itu.Tidak boleh ditiadakan hanya semata mata karena beliau tidak mendengarnya,
10
bersamaan dengan kemungkinan Nabi membacanya dengan keras tapi beliau tidak
mendengarnya.

Dan lafazh lain yang ada di “Shohih Muslim”:
يحرمإ نحرمإ ا مسبب لصي لاق وأأ رهي منم
ً
إدحأأ عسأأ لف نثعو رعو ركب بأأو بنمإ فلخ تيلص .
“Aku sholat di belakang Nabi -shollallohu „alaihi wasallam-, Abu Bakr, Umar, dan
Utsman, tapi aku tidak mendengar seorangpun dari mereka membaca keras –atau
berkata: sholat dengan bismillahirrohmanirrohim.”

Di sini beliau meniadakan pendengaran basmalah. Andaikata hadits Anas tadi tidak
diriwayatkan kecuali dengan lafazh ini, tidak boleh dita‟wilkan bahwasanya Nabi
shollallohu „alaihi wasallam membacanya dengan keras tapi tidak didengar oleh
Anas, dari beberapa sisi:
1) Bahwasanya Anas hanyalah meriwayatkan ini untuk menjelaskan pada mereka
apa yang sering dikerjakan oleh Nabi shollallohu „alaihi wasallam, karena orang-
orang tidaklah butuh untuk tahu apakah Anas mendengar ataukah tidak selain
untuk menjadikan tidak mendengarnya beliau bacaan basmalah tadi sebagai
dalil tentang tidak dikeraskannya basmalah.
2) Lafazh seperti ini di dalam adat kebiasaan menjadi penunjuk tentang tidak
adanya perkara yang tidak diketahui. Jika seseorang berkata: “Kami tidak
mendengar” atau “kami tidak melihat” terhadap sesuatu yang biasanya bisa
didengar atau dilihat, maka maksudnya dengan gaya ucapan tadi adalah:
peniadaan wujud dari sesuatu tadi. Ungkapan ketidaktahuan seperti tadi
merupakan dalil peniadaan wujud dari sesuatu tadi.
3) Anas itu selalu melayani Nabi shollallohu „alaihi wasallam sejak kedatangan
beliau ke Madinah sampai beliau wafat (Kemudian beliau juga menyertai Abu
Bakr, Umar dan Utsman, mengurusi berbagai urusan untuk Abu Bakr dan Umar,
dan tidak mungkin bersamaan dengan panjangnya masa pemerintahan mereka,
maka dengan ini jelaslah bahwasanya barangsiapa mengartikan hadits tadi
bahwasanya : “mereka membacanya dengan keras tapi Anaslah yang barangkali
tidak mendengar”, maka yang demikian itu adalah penyelewengan makna hadits,
bukan lagi ta‟wil, meskipun tidak diriwayatkan kecuali lafazh tadi. Maka lafazh
yang ini lebih utama daripada riwayat tadi. Dan kedua riwayat ini meniadakan
ta‟wil orang yang mena‟wilkan ucapannya : (هيملاعلا بر ل دمحلاب ةلصلا نوحتتفي)
11
Maksud Anas adalah: Karena ucapan beliau:
اهرخ

أ ف ف لو ةءإرق لوأأ ف يحرمإ نحرمإ ا مسب نوركذي ل ،يلاعمإ بر ل دلب نوحتتفي
“Mereka selalu membuka sholat mereka dengan Alhamdulillahirobbil
„alamin.Mereka tidak menyebutkan bismillahirrohmanirrohim di awal bacaan atau
di akhirnya.”

Ini adalah kalimat yang terang dan jelas maksud beliau adalah bahwasanya mereka
itu selalu membuka sholat mereka dengan ayat Bismillahirrohmanirrohim, bukan
dengan surat Al fatihah yang awalnya adalah Bismillahirrohmanirrohim, karena jika
maksud Anas adalah surat Al Fatihah, pastilah kedua hadits beliau tadi akan bertolak
belakang.
Dan ini memang bukanlah perkara yang perlu ditanyakan
هرخ

أ ل إ يلاعمإ بر ل دلب ةءإرقمإو يبكتمب ةلصمإ حتتفي نك بنمإ نأأ
“Bahwasanya Nabi selalu memulai sholat dengan takbir dan bacaan
Alhamdulillahirobbil „alamin dan seterusnya.”

Diriwayatkan juga: “Beliau memulai bacaan dengan Alhamdulillahirobbil „alamin,
Arrohmanirrohim, Malikiyaumiddin.”(Riwayat ini terang sekali bahwasanya yang
diinginkan dari kalimat : Alhadulillahirobbil „alamin adalah ayat, (bersamaan
penjelasan ini semua, tidak ada di dalam hadits Anas peniadaan bacaan Basmalah
secara pelan pelan, karena beliau juga meriwayatkan:
،يحرمإ نحرمإ ا مسبب نورهي ل إونكف

12
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Pendapat Madzhab Maliki
Tidak memakai Bismillah karena Bismillah bukan ayat dari Surat Al-Fatihah,
alasanya adalah sabda Nabi :
Dari Aisyah r.a : “Sesungguhnya Rosulullah memulai sholat dengan takbir dan
membaca alhamdulillahi robbil‟alamin (Riwayat Muslim)
2. Pendapat Madzhab Hanafi
Membaca Basmalah dalam Fatihah sholat itu hukumnya wajib namun dengan
suara pelan, alasanya adalah :
Dalam riwayat lain bagi Ibnu Huzaimah : “Mereka membaca Bismillahir-
rahmaanir-raahiim”membacanya dengan pelan”. (Subulus Salam I/333).
3. Pendapat Madzhab Hambali\
Membaca Basmallah dengan pelan dan tidak sunat untuk dikeraskan.
4. Pendapat Madzhab Syafi‟i
Wajib membaca Basmallah, dengan alasan :
a. Abu Hurairoh r.a, Nabi Muhammad SAW: Sesungguhnya rosulluloh telah
bersabda “Jika kalian membaca alhamdulillahi robbil‟alamin, maka bacalah
bismillaahir rohmaanir rohiim. Sesungguhnya itu ummul Qur‟an, ummul
kitab, dan sab‟ul matsani (tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang), dan
bismillaahir rohmaanir rohiim termasuk salah satu ayat surat Al-Fatihah.
(Riwayat Daruqutni dari Hadits Abdul Hamid bin Za‟far dari Nuh bin Abi
Bilal dari Sa‟id bin Sa‟id Al-Maqburi dari Abu Hurairoh r.a)
b. Hadits Anas r.a, sesungguhnya ia ditanya tentang bacaan rosululloh SAW
dalam sholat, jawab Anas “Sesungguhnya rosululloh memanjangkan
bacaannya… seterusnya beliau membaca bismillaahir rohmaanir rohiim
alhamdulillahir robbil‟alamiin maaliki yaumid diin…” (riwayat Bukhori)

B. Saran
Bacaan basmallah dalam surat alfatihah itu memang banyak pendapat dari para
Imam, ada yang membolehkan tapi ada juga yang melarangnya. Dan karena kita
sudah mengetahui pendapat empat madzhab tentang bacaan basmallah dalam surat
fatihah yang mana kesemuanya Imam Madzhab berpendapat bahwa membaca
13
bismillahir rahmanir rahim dalam surat fatihah adalah wajib walaupun ada yang
dibaca keras ataupun pelan, yang jelas adalah wajib, kecuali Imam Maliki yang tidak
mewajibkan membaca basmallah. Maka kita harus tegas dalam mengambil
keputusan “kita akan membaca basmallah dalam surat fatihah ketika kita
melaksanakan sholat, atau kita tidak.” Ingat sholat adalah Pokok Ibadah, jadi jangan
sampai kita keliru dalam mengambil keputusan, dan akhirnya kritik dan saran yang
membangun selalu saya harapkan untuk kesempurnaan makalah selanjutnya,
akhirnya saya ucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah sudi
membantu untuk penyelesaian makalah ini.



14
DAFTAR PUSTAKA


Al-Quran Al-Karim
Ahmad. Muhammad. M. Mudzakir, Ulumul Hadits, Bandung, CV. Pustaka Setia. 2006.
Fatawa Mu„ashirah (edisi terjemahan oleh al-Hamid al-Husaini dengan judul Fatwa-
Fatwa Mutakhir; Pustaka Hidayah, Bandung 1996).
Thahir bin shalih al-Jazari, Jawahirul Kalamiyah fi Idhohil aqidatul Islamiyah, al-
Hidayah, Surabaya.
http//www.google.com