P. 1
Vol IV No 10 II P3DI Mei 2012

Vol IV No 10 II P3DI Mei 2012

|Views: 29|Likes:
Published by Yulia Indahri

Kontroversi Kepemilikan Senjata Api oleh Warga Sipil (Puteri Hikmawati)

Pemilu Perancis dan Krisis Utang di Zona Euro (Humphrey Wangke)

Pro dan Kontra RUU Kesetaraan dan Keadilan Gender (KKG) (Dina Martiany)

Daya Saing Produk UKM Indonesia (Yuni Sudarwati)

Calon Independen dalam Pemilukada DKI Jakarta Tahun 2012 (Dewi Sendhikasari D)

Kontroversi Kepemilikan Senjata Api oleh Warga Sipil (Puteri Hikmawati)

Pemilu Perancis dan Krisis Utang di Zona Euro (Humphrey Wangke)

Pro dan Kontra RUU Kesetaraan dan Keadilan Gender (KKG) (Dina Martiany)

Daya Saing Produk UKM Indonesia (Yuni Sudarwati)

Calon Independen dalam Pemilukada DKI Jakarta Tahun 2012 (Dewi Sendhikasari D)

More info:

Published by: Yulia Indahri on Dec 07, 2012
Copyright:Traditional Copyright: All rights reserved

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF or read online from Scribd
See more
See less

09/17/2013

pdf

H U K U M

Vol. IV, No. 10/II/P3DI/Mei/2012

Kontroversi Kepemilikan Senjata Api oleh Warga Sipil
Puteri Hikmawati*)

Abstrak
Penyalahgunaan senjata api masih sering terjadi. Terakhir, seorang pengusaha ditahan karena diduga menodongkan senjatanya kepada karyawan restoran. Ia melakukan hal itu hanya karena merasa dalam bon transaksinya terdapat daftar makanan dan minuman yang tidak ia pesan. Kejadian tersebut memicu pro kontra kepemilikan senjata api oleh warga sipil. Pihak yang pro mengatakan, kepemilikan senjata api oleh warga sipil dimungkinkan karena profesi tertentu memiliki resiko keselamatan yang tingg, hanya saja perlu pengetatan seleksi dan pengawasan. Sedang menurut pihak yang kontra, Polri harus mencabut izin pemberian senjata api dari warga sipil, sebab dapat membahayakan warga lainnya, dan berpotensi menjadi alat teror yang mengganggu ketertiban masyarakat. Mabes Polri mengimbau warga untuk waspada, sebab saat ini disinyalir masih ada lebih dari 41.000 pucuk senjata api ilegal dan rakitan yang dimiliki warga sipil.

Pendahuluan
Kepemilikan senjata api (senpi) di tangan sipil telah memicu kontroversi. Hal ini disebabkan sering terjadi penyalahgunaan senpi oleh penggunanya. Polda Metro Jaya, Sabtu, 5 Mei 2012, menahan Iswahyudi Ashari, 48 tahun, pengusaha yang diduga menodong seorang karyawan restoran Cork & Screw di Plaza Indonesia pada 19 April 2012. Ia melakukan hal itu hanya karena merasa dalam bon transaksinya terdapat daftar makanan dan minuman yang tidak ia pesan. Iswahyudi telah ditetapkan sebagai tersangka dan dilakukan penahanan terhadapnya. Polisi menyita dua senpi milik Iswahyudi yang salah satunya sudah
*)

habis masa izinnya. Selain itu, polisi juga menemukan 150 butir peluru tajam, jauh di atas jumlah yang diizinkan. Iswahyudi dikenakan Pasal 1 ayat (1) Undang-Undang (UU) Darurat Nomor 12 Tahun 1951 tentang Senjata Api dan Senjata Tajam, yang ancaman hukumannya lima tahun ke atas. Iswahyudi juga dipastikan membawa senpi peluru tajam, bukan pemantik api atau korek api berbentuk senjata api, saat cekcok dengan karyawan restoran. Meski demikian, belum bisa dipastikan apakah senjata itu benar-benar ditodongkan kepada pelayan atau hanya dikeluarkan dan disimpan di atas meja. Dalam pola pikir legalistik, tidak ada yang salah ketika warga sipil memiliki senpi. Sejumlah UU dan Surat Keputusan Kapolri

Peneliti Madya Bidang Hukum Pidana pada Pusat Pengkajian Pengolahan Data dan Informasi (P3DI) Setjen DPR RI, e-mail: puterihw@yahoo.com

-1-

Pencurian dan Kekerasan dengan Senjata Api

Tertangkap Kedapatan dengan Senjata Api 23 17 21

Penyalahgunaan Senjata Api

Hasil Temuan Senjata Api

membenarkan warga sipil tertentu memiliki senpi. UU No. 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia membolehkan warga sipil memiliki senpi. Surat Keputusan Kapolri Nomor SKEP 82/II/2004 tentang Pengawasan dan Pengendalian Senjata Api dan Amunisi Nonorganik TNI, memperbolehkan perorangan atau pejabat memiliki senpi untuk bela diri. Mereka yang diperbolehkan memiliki senpi adalah pejabat pemerintah (Menteri; anggota MPR/DPR; Sekjen, Irjen, Dirjen, atau Sekretaris Kabinet; Gubernur, Wakil Gubernur, Sekda, Irwilprov, DPRD provinsi; Walikota atau Bupati dan pegawai instansi pemerintah golongan IVB); pejabat swasta (komisaris; presiden komisaris; presiden direktur; direktur; direktur utama; direktur keuangan), pejabat TNI/Polri dan purnawirawan TNI/Polri (perwira tinggi; perwira menengah), dan profesional (pengacara senior; dokter praktik). Izin itu diberikan setelah pihak kepolisian melakukan serangkaian tes dan setiap tahun dievaluasi. Banyaknya terjadi penyalahgunaan senjata api belakangan ini memaksa kita berpikir ulang soal manfaat pemberian senjata bagi warga sipil. Rasa aman memang bagian dari hak asasi manusia, tetapi apakah upaya melindungi diri dan memberikan rasa aman harus diberikan hak kepada warga sipil memiliki senpi. Bukankah melindungi dan mengayomi masyarakat adalah menjadi tugas Kepolisian? UU memberikan hak kepada aparat negara melakukan upaya paksa terhadap warga negara. Senjata termasuk simbol dari penggunaan kekuasaan itu. Ketika warga sipil diberikan izin memiliki senjata, bukankah itu berarti menggerogoti fungsi dan peran yang seharusnya dimiliki aparat negara?

pucuk senjata legal kepada warga sipil untuk kepentingan bela diri. Sejak 2004, kepemilikan senjata api sesungguhnya telah dibatasi sehingga senjata api yang mulanya dimiliki perseorangan sipil dikembalikan lagi kepada aparat kepolisian. Bagi pemilik senjata yang izinnya habis, tetapi belum mengembalikan senjatanya kepada polisi, akan dipidana sesuai dengan UU Darurat No. 12 Tahun 1951. Menurut Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Kombes Rikwanto, meskipun ada pembatasan, pihaknya memperkirakan setidaknya masih ada 1.000 pucuk senpi yang masih beredar di kalangan warga sipil di sekitar Jakarta, Depok, Tangerang, dan Bekasi. Dari jumlah itu, kata dia, 70% merupakan senjata peluru karet. Sisanya senjata berpeluru gas sekitar 25% dan berpeluru tajam sekitar 5%. Kepala Divisi Humas Mabes Polri Irjen Pol Usman Nasution mengimbau warga untuk waspada. Sebab saat ini disinyalir masih ada lebih dari 41.000 pucuk senjata api ilegal dan rakitan yang dimiliki warga sipil. Jumlah itu, berdasar data Polri, terbagi atas 25.000 pucuk senjata api peluru tajam, 10.200 pucuk senjata api peluru karet, serta 5.800 pucuk senjata api dan peluru gas. Sejalan dengan itu, kepemilikan senpi nonorganik oleh warga sipil akan segera dievaluasi. Itu terkait Tabel Kasus Penggunaan Senjata Api 2009 - 2011

Kasus Penyalahgunaan Senjata Api
Menurut Mabes Polri, tahun 2009 – 2011 tercatat ada 453 kasus penyalahgunaan senpi. Sebelum tahun 2005, Polri telah memberikan izin kepemilikan 18.030 -2-

2009 2010 2011

69 73 32

61 24 57

18 29 29

171 143 139

Sumber: Humas Mabes Polri/Polda Metro Jaya sebagaimana dikutip dalam Media Indonesia, 7 Mei 2012

Total Kasus

Tahun

maraknya penyalahgunaan alat mematikan itu di masyarakat

Pro Kontra Kepemilikan Senjata oleh Warga Sipil
Anggota Komisi III DPR dari Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (F-PDI-P), Trimedya Panjaitan, mengatakan, kepemilikan senpi, termasuk oleh warga sipil, sebenarnya mudah dikontrol. Evaluasi cukup dilakukan dengan memperketat seleksi, dan tidak perlu melalui revisi terhadap UU No. 2 Tahun 2002. Pengetatan pengawasan kepemilikan senpi, lanjut Trimedya, dapat dimulai dari menguji kemampuan teknis menembak dan karakter mereka yang memegang senpi. Namun, langkah periodik ini diduga kurang dilakukan secara serius oleh Kepolisian. Warga sipil yang dimungkinkan memiliki senpi, lanjut Trimedya, antara lain advokat, anggota DPR, direksi BUMN, dan pengusaha. Mereka termasuk dinilai memiliki resiko keselamatan yang tinggi dalam kerjanya. Sependapat dengan Trimedya, pengacara Palmer Situmorang menuturkan, polisi sampai kapanpun tidak bisa selalu hadir jika ada ancaman terhadap keselamatan warga, karena itu konstitusi memungkinkan warga melindungi diri sendiri, termasuk untuk memiliki senjata api. Berbeda dengan pendapat sebelumnya, Ketua Komisi III DPR RI yang juga Ketua Dewan Pimpinan Pusat Partai Demokrat, Benny K. Harman, meminta Kepala Kepolisian Negara RI bertindak tegas. Polri harus mencabut izin pemberian senpi pada warga sipil. Menurut Benny, siapapun pemilik senpi harus menyerahkannya kembali ke polisi, termasuk yang dimiliki anggota DPR. Wakil Ketua MPR dari Fraksi Partai Golkar, Hajriyanto Y. Thohari, meminta aparat keamanan menghentikan katebelece (surat sakti) dalam pemberian izin kepemilikan senpi. Menurut Hajriyanto, kuncinya penegakan hukum. Aturannya bagus, tetapi tidak ditegakkan. Akibatnya, banyak dari mereka yang tidak berhak bisa memiliki senpi itu. -3-

Indonesia Police Watch (IPW) merisaukan perilaku Polri yang suka mengobral izin kepemilikan senpi kepada masyarakat sipil. Berdasarkan catatan IPW, sejak Januari hingga Mei 2012 ini, polisi sudah mengeluarkan izin kepemilikan 18.030 pucuk senjata kepada masyarakat. Padahal pemerintah membatasi hanya 2.608 izin yang boleh diberikan kepada masyarakat. Menurut Ketua Presidium IPW Neta S. Pane, melalui UU No. 22 Tahun 2011 tentang APBN 2012, pemerintah sudah membatasi peredaran senpi di masyarakat dengan mematok penerimaan negara dari sektor pendapatan penerbitan izin kepemilikan senpi sebesar Rp. 2.608.425.000. Berdasarkan PP No. 50 Tahun 2010 tentang Jenis dan Tarif atas Jenis Penerimaan Negara bukan Pajak yang Berlaku pada Kepolisian Negara RI, setiap warga negara dikutip Rp1 juta untuk kepemilikan izin senjata api. Jika pemerintah mematok penerimaan negara pada 2012 ini hanya Rp. 2,6 miliar, artinya hanya 2.608 izin yang diterbitkan, namun saat ini terdapat 18.030 izin senjata. Di Mabes Polri, Kepala Divisi Humas Polri Inspektur Jenderal Saud Usman Nasution mengakui pihaknya telah menerbitkan izin hingga 18.030 pucuk senjata sepanjang lima bulan terakhir. Bahkan, 3.060 izin di antaranya merupakan kepemilikan senjata dengan peluru tajam. Sampai tahun 2012 dalam rangka membela diri sebanyak 18.030 pucuk. Untuk senjata peluru tajam sebanyak 3.060 izin, peluru karet 9.800 izin, dan peluru gas 5.000 izin. Mabes Polri diminta untuk menghentikan pemberian izin kepemilikan senpi oleh warga sipil, sebab kepemilikan senpi oleh sipil dikhawatirkan membahayakan warga lainnya, dan berpotensi menjadi alat teror yang mengganggu ketertiban masyarakat. Permintaan tersebut disampaikan dua kriminolog Adrianus Meliala dan M. Mustofa, sehubungan dengan maraknya aksi kejahatan bersenpi, dan munculnya sikap arogan para pemilik senpi yang meresahkan masyarakat.

Menurut Adrianus, pemberian izin penggunaan senpi kepada warga sipil tersebut tidak ada manfaatnya. Sebaliknya, kepemilikan tersebut dikhawatirkan cenderung membahayakan lingkungan. Selain berpotensi disalahgunakan, kepemilikan senpi oleh sipil juga berdampak terhadap gaya hidup, karenanya izin kepemilikan harus dihentikan. Warga sipil seyogyanya tidak diberi kebebasan memiliki alat mematikan itu. Menurut Adrianus, langkah lain yang perlu dilakukan adalah tes kejiwaan bagi mereka yang kini mengantungi izin kepemilikan senpi. Ini solusi parsial untuk mengatasi bahaya kepemilikan senpi saat ini. Sementara itu, M. Mustofa menilai, langkah yang paling tepat adalah mengungkap sekaligus menangkap pemilik senpi illegal. Jika pemilik senpi legal sudah jelas statusnya, sehingga mudah ditelusuri jika ada penyalahgunaan. Namun, untuk kepemilikan senpi ilegal harus tegas dan tuntas menindaknya. Dia juga sepakat agar Polri menghentikan izin kepemilikan senpi oleh sipil. Sebab, tanggung jawab keamanan dan ketertiban sipil ada di tangan Polri.

warga sipil memiliki senpi lebih banyak merugikan daripada memberikan manfaat. Oleh karena itu, perlu dipikirkan untuk mengembalikan fungsi memberikan rasa aman kepada pihak kepolisian dengan menghapus hak bagi warga sipil memiliki senpi. Kalaupun kepemilikan senpi oleh warga sipil tetap dimungkinkan, kepolisian harus sangat selektif memberikan senpi bagi warga sipil. Di samping itu, Polri harus melakukan pengawasan secara ketat terhadap kepemilikan senpi oleh sipil.

Rujukan:

Penutup
Banyaknya penyalahgunaan senpi yang terjadi menimbulkan kontroversi bagi kepemilikan senpi oleh warga sipil. Ada kecenderungan warga sipil pemegang senpi lebih mudah terletup emosinya. Warga sipil pemegang senjata merasa dirinya warga negara khusus yang diberi hak untuk memiliki senpi. Kejadian tersebut memunculkan banyak pandangan bahwa pemberian izin

1. “Kendalikan Pemberian Izin Kepemilikan Senjata Api,” Media Indonesia, 7 Mei 2012. 2. “Polda Tahan Iswahyudi,” Kompas, 7 Mei 2012. 3. “Setop Izin Kepemilikan Senpi oleh Warga Sipil,” Suara Pembaruan, 8 Mei 2012. 4. “Arogansi Cermin Masyarakat,” Kompas, 8 Mei 2012. 5. “Anggota DPR tidak ada Urgensi Punya Senjata,” Media Indonesia, 8 Mei 2012. 6. “Kepemilikan Senjata Direvisi Menyeluruh,” Kompas, 9 Mei 2012. 7. “Polri Obral Izin Kepemilikan Senjata,” Media Indonesia, 9 Mei 2012. 8. Undang-Undang Darurat Nomor 12 Tahun 1951 tentang Senjata Api dan Senjata Tajam. 9. Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia. 10. Surat Keputusan Kapolri Nomor SKEP 82/II/2004 tentang Pengawasan dan Pengendalian Senjata Api dan Amunisi Nonorganik TNI.

-4-

HUBUNGAN INTERNASIONAL
Vol. IV, No. 10/II/P3DI/Mei/2012

Pemilu Perancis dan Krisis Utang di Zona Euro
Humphrey Wangke*)

Abstrak
Nicolas Sarkozy menjadi pemimpin negara di zona Euro ke 11 yang jatuh dari tampuk kekuasaannya karena krisis utang di kawasan tersebut. Ironisnya, kemenangan Francois Hollande meskipun telah diprediksi tetapi tetap saja menimbulkan guncangan. Sumber guncangan itu adalah janji Hollande yang akan memajukan perekonomian Perancis dengan bertumpu pada pertumbuhan daripada penghematan atau pemangkasan anggaran. Platform ekonomi ini membuat negara-negara Eropa, dan Asia, khawatir zona Euro semakin terjebak dalam krisis yang lebih luas lagi sebab negara-negara zona Euro telah sepakat untuk mengatasi krisis utang di kawasannya dengan melakukan penghematan anggaran.

Pendahuluan
Pada tanggal 6 Mei 2012, rakyat Perancis memberikan suaranya pada pemilu presiden putaran kedua antara petahana Presiden Nicholas Sarkozy dari Partai Serikat Gerakan Rakyat dengan penantangnya dari partai Sosialis, Francois Hollande. Lebih dari 46 juta pemilih berhak memberikan suaranya dan 80 persen dari jumlah itu diperkirakan memberikan suaranya. Jumlah pemilih yang memberikan suaranya itu tergolong tinggi berdasarkan standar di sebuah negara yang terpecah kurang lebih 50-50 antara kubu yang condong ke kiri dan yang condong ke kanan. Hasil akhir dari pemilu tersebut menunjukkan kandidat dari partai Sosialis Francois Hollande berhasil mengalahkan Sarkozy untuk merebut kursi kepresidenan dengan selisih suara yang sangat tipis 51,67%
*)

berbanding 48,33%. Sarkozy tidak disukai banyak pemilih karena caranya menangani perekonomian dan kepribadiannya yang kasar tidak mencerminkan gaya ningrat Perancis. Hollande berhasil mengambil keuntungan dari semangat anti-Sarkozy, sebab sebagian pemiilih mengatakan pilihan mereka lebih merupakan suara menentang Sarkozy daripada suara bagi Hollande. Pemilu hari Minggu itu bukan hanya sekedar pertaruhan kursi bagi Presiden Nicholas Sarkozy, akan tetapi lebih dari itu, yaitu pertaruhan kredibilitas budaya ekonomi Perancis serta masa depan kesepakatan ekonomi negara-negara Uni Eropa. Lebih jauh lagi, hasil pemilu ini sangat penting bagi masa depan Perancis karena akan berdampak pada upaya mengatasi krisis utang Perancis, berapa lama pasukan Perancis berada di Afghanistan,

Peneliti Masalah-masalah Hubungan Internasional pada Pusat Pengkajian Pengolahan Data dan Informasi (P3DI) Setjen DPR RI, e-mail: dhanny_2000@yahoo.com

-5-

dan bagaimana Perancis memainkan kekuatan militer dan diplomatiknya di seluruh dunia. Tulisan ini akan fokus pada penyelesaian utang negara-negara anggota zona Euro mengingat Francois Hollande yang memenangkan pilpres Perancis menolak pendekatan penghematan anggaran (austerity) yang dicanangkan oleh Kanselir Jerman Angela Merkel dan Presiden Perancis Nicholas Sarkozy.

Dilema zona Euro: Ekspansi Ekonomi atau Program Penghematan?
Krisis utang yang terjadi di zona euro berakar dari dalam yaitu akibat kesalahan dalam satu dekade lebih, berupa penumpukan utang terus menerus tanpa kendali. Tumpukan utang itu sudah sedemikian tinggi sehingga melebihi angka 60 persen dari produk domestik bruto (PDB). Angka 60 persen dianggap sebagai ambang batas tertinggi yang aman bagi satu negara. Namun ambang batas itu dilanggar selama bertahun-tahun. Ketika utang terus membesar dan terdapat gejala negara akan gagal bayar, para investor justru tidak bersedia lagi memasok utang baru ke sejumlah negara zona Euro, yang pada satu dekade justru sudah sangat tergantung pada pasokan utang. Hal ini diperburuk oleh sentimen pasar dengan menarik dana dari sejumlah bank yang dianggap beresiko tinggi, karena memegang sejumlah obligasi terbitan negara zona euro, yang tidak mampu membayar utang. Faktor ini membuat aliran kredit menjadi tidak lancar dan investor internasional meninggalkan negara-negara zona euro. Kemenangan Partai Sosialis di Perancis sebenarnya bukanlah suatu hal yang luar biasa, karena situasi yang sama juga terjadi di beberapa negara zona Euro lainnya seperti di Belanda, Yunani, dan Spanyol. Namun kemenangan kelompok Sosialis di Perancis mempunyai nilai yang berbeda karena Perancis bersama-sama Jerman merupakan motor penyelamatan Eropa. Ada kekuatiran, perubahan orientasi kebijakan di Perancis akan mengacaukan -6-

proyek penyelamatan Eropa. Lebih luas lagi, perdebatan antara pendekatan pengetatan anggaran dan ekspansi demi menyokong pertumbuhan mulai dipertentangkan. Kemenangan kelompok kiri di sejumlah negara Eropa itu sekaligus menandai perlawanan masyarakat terhadap program penghematan. Kesahihan kebijakan pengetatan anggaran melawan krisis, seperti pemotongan asuransi sosial, tunjangan pensiun dan tunjangan kepada penganggur mulai dipertanyakan. Kebijakan ini dianggap pro siklus (procycle policy) atau justru menjerumuskan ekonomi pada fase krisis yang lebih dalam. Joseph Stiglitz termasuk dalam pengkritik kebijakan penghematan. Eropa justru membutuhkan pertumbuhan lebih tinggi. Pemerintah, terutama Jerman, diharapkan melakukan ekspansi anggaran di bidang infrastruktur, transportasi massal, dan proyek-proyek yang banyak menyerap tenaga kerja. Krisis sebenarnya merupakan siklus yang pasti berulang. Hanya mekanisme dan dinamikanya yang berbeda. Karena secara alamiah, koreksi dan perubahan biasanya baru dilakukan setelah krisis terjadi. Karenanya, mempertentangkan orientasi kebijakan ekspansif yang mendorong pertumbuhan dengan penghematan sebagai langkah penyelamatan fiskal tidak sepenuhnya benar. Hanya saja didalam demokrasi tidak ada isitilah benar-salah atau baik-buruk. Yang ada adalah kebijakan yang dapat dukungan publik lebih banyak atau tidak. Kini dukungan publik di Eropa sedang mengarah pada pola ekspansif. Alasannya sangat sederhana: masyarakat tidak ingin berbagai fasilitas yang sudah dinikmati selama ini hilang.

Tantangan Francois Hollande
Kekecewaan warga Perancis pada kelesuan ekonomi negaranya telah berimbas pada hasil pemilu. Banyak warga yang jatuh miskin karena menjadi pengangguran dan kehilangan bonus. Namun itu semua sebenarnya bukan kesalahan Nicholas Sarkozy, yang dikalahkan oleh Francois Hollande. Itu semua kesalahan zona euro

yang terjebak dalam krisis utang luar negeri yang berkepanjangan. Langkah penghematan yang kini tengah gencar dilakukan negara-negara Eropa mendapat tantangan keras dari Perancis. Terpilihnya Hollande menandai berakhirnya duet Perancis-Jerman dalam menghadapi krisis utang yang melanda zona Euro. Sarkozy sebelumnya bahu membahu dengan Kanselir Jerman Angela Merkel sehingga duet mereka mendapat julukan Merkozy. Dibawah Hollande, Perancis tidak ingin mengikuti kebijakan Merkozy soal program pengencangan ikat pinggang. Hollande justru menantang fokus kebijakan Merkozy yang memaksakan penghematan anggaran dan meminta elemen pertumbuhan ekonomi masuk dalam pakta anggaran Eropa. Selama kampanye, Hollande menjanjikan akan mengembalikan hak-hak pensiunan dan hak-hak pekerja. Hollande juga menjanjikan peningkatan kembali program pemerintah atau mengembalikan program pengeluaran pemerintah seperti sedia kala. Ia juga berjanji membuat jalan baru bagi Eropa untuk keluar dari krisis tanpa tidak melibatkan langkah penghematan berlebihan. Namun semua janji itu dianggap tidak realistis sehingga mengundang banyak keraguan dari berbagai pihak karena beberapa alasan. Pertama, didalam negeri Hollande menghadapi masalah utang negara yang sangat besar, pertumbuhan ekonomi yang lemah, pengangguran tinggi, dan daya saing yang terus menurun. Ia mewarisi perekonomian Perancis yang sesungguhnya tidak mendukung untuk menjalankan kebijakan pertumbuhan selain penghematan. Kinerja perekonomian Perancis kini praktis berada dalam posisi yang sama seperti Yunani yaitu terlilit utang yang luar biasa. Berdasarkan data dari BBC, total utang luar negeri Perancis mencapai 4,2 trilyun Euro atau 235 persen di atas produk domestik bruto (PDB). Besaran PDB Perancis adalah 1,8 trilyun Euro. Dengan demikian Perancis sebenarnya telah melanggar rambu-rambu keamanan ekonomi yang dicanangkan zona Euro, yaitu maksimal utang negara adalah 60 persen dari PDB. -7-

Karena itu, lembaga pemeringkat Standard and Poor’s menurunkan tingkat peringkat utang Perancis dari AAA menjadi AA+. Artinya, secara teoritis utang Perancis masih dianggap aman, tetapi sudah tidak seaman sebelumnya. Kedua, di forum Eropa, Hollande harus berhadapan dengan Kanselir Jerman, Angela Merkel, yang bersama Sarkozy merancang pakta pengetatan anggaran Uni Eropa. Merkel telah menegaskan pakta itu tak dapat dinegosiasikan ulang. Mungkinkah Hollande mendapatkan dukungan agar bisa melaksanakan programnya yang populis? Perbankan Perancis kini terperangkap dalam piutang ragu-ragu dalam jumlah besar karena banyak kreditnya yang disalurkan ke Yunani, Italia, Spanyol dan sejumlah negara zona Euro lainnya masih berada dalam kondisi macet. Seharusnya, sebuah perekonomian bisa tertolong dengan bangkitnya konsumsi swasta dan naiknya investasi asing dan domestik. Namun konsumsi swasta Perancis kini sedang tertekan karena dibawah Sarkozy penggangguran sudah mencapai 10 persen dari seluruh jumlah penduduk. Bahkan untuk usia antara 1524 tahun, jumlah angka pengangguran di Perancis mencapai 25 persen. Artinya konsumsi sedang mengalami penurunan. Sementara investor asing dan domestik telah mengalihkan saham-sahamnya ke negaranegara lain yang lebih menguntungkan. Di dalam 10 tahun terakhir ini, paling tidak di bawah Presiden Nicholas Sarkozy, Perancis bisa memelihara pertumbuhan ekonominya dengan menumpuk utang yang bersumber dari pinjaman Inggris, Jerman dan Amerika Serikat. Utang inilah yang bisa membuat Perancis tetap melanjutkan alokasi pengeluaran pemerintah walaupun berdampak pada penumpukan utang. Namun jika melihat perkembangan terakhir, pendekatan semacam itu tidak dapat lagi dipraktekkan. Inggris dan AS sedang kesulitan ekonomi. Sementara Jerman telah mencanangkan semua negara anggota zona euro tidak dapat lepas dari program penghematan utang. Kanselir Jerman Angela Merkel sudah menyatakan bahwa kesepakatan tentang penghematan anggaran

tidak dapat dirundingkan kembali. Merkel berpendapat bahwa ekonomi zona Euro hanya bisa sehat melalui perampingan pengeluaran pemerintah, liberalisasi ekonomi serta reformasi struktural. Karenanya, banyak yang beranggapan bahwa perekonomian Perancis dan zona Euro berpeluang bangkit jika menjalankan kebijakan austerity secara ketat.

Pelajaran bagi Indonesia
Belajar dari proses politik di Perancis dan Eropa pada umumnya, paling tidak ada dua pelajaran yang berarti bagi Indonesia. Pertama, sebuah kebijakan tidak saja mengandung unsur teknokratis tetapi juga legitimasi politik. Ketidakmampuan menjaring dukungan politik, dengan segera akan menegasi alasan-alasan teknokratis. Hal ini bisa dilihat dari kebijakan pemerintah untuk menaikan harga bahan bakar minyak. Penolakan terhadap kebijakan tersebut bukan semata-mata karena kelemahan argumen teknokratis melainkan akibat lemahnya legitimasi politik. Kedua, sebagai langkah antisipasi jika terjadi krisis, pemerintah justru perlu melakukan langkah perubahan ketika perekonomian sedang berada dalam kondisi yang baik. Ujian bagi suatu pemerintahan justru terletak pada kemampuannya mengelola perubahan pada saat perekonomian sedang mengalami booming. Ketiga, sekali memutuskan terlibat dalam sebuah organisasi yang dibentuk melalui perjanjian yang bersifat binding, maka itu berarti kita harus mau menyerahkan sebagaian kedaulatan ke organisasi tersebut. Perancis ternyata belum siap dengan kondisi semacam itu.

anggota zona Euro sebagai upaya untuk mengatasi krisis utang. Penghematan dinilai bukan menyelesaikan masalah tetapi justru membuat rakyat semakin miskin karena hilangnya berbagai fasilitas yang selama ini dinikmati. Kemenangan Francois Hollande dari Partai Sosialis membawa nuansa baru di dalam zona Euro karena ia menolak kesepakatan tentang penghematan anggaran sebagai solusi untuk mengatasi masalah utang. Ia lebih menghendaki kebijakan yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi sebagai model untuk mengatasi masalah utang. Namun pendekatan barunya ini banyak mendapat tantangan dari pelaku pasar baik dari kalangan pemerintah maupun swasta karena dianggap tidak realistis sebab Perancis sendiri tidak memiliki cukup dana untuk berbelanja besar sesuai dengan tema kampanyenya.

Penutup
Kemenangan partai Sosialis di Perancis menjadi simbol dari ketidakpuasan masyarakat terhadap program penghematan yang dicanangkan oleh negara-negara

1. “Perancis Memilih Presiden,” Kompas, 7 Mei 2012, hal. 8. 2. “Transformasi Sarkozy Seusai Kekalahan,” Media Indonesia, 8 Mei 2012, hal. 12. 3. “Tiada Bulan Madu bagi Hollande,” Media Indonesia, 8 Mei 2012, hal. 12. 4. “Hollande Disambut Sikap Pesimintis,” Kompas, 8 Mei 2012, hal. 1. 5. “Hollande Bukan Solusi,” Kompas, 8 Mei 2012, hal. 11. 6. “Metamorfosis Sosialis, Titik Balik Eropa,” Kompas, 8 Mei 2012, hal. 6. 7. “Jepang Tekan Hollande,” Kompas, 9 Mei 2012, hal. 11. 8. A. Prasetyantoko, “Kemenangan Kaum Sosialis,” Kompas, 9 Mei 2012, hal. 6. 9. “Menlu: Hubungan Indonesia-Perancis Tak Berubah,” dalam Kompas.com, edisi Selasa, 8 Mei 2012, diakses 10 Mei 2012. 10. “Uni Eropa Gelar Pertemuan Luar Biasa,” Koran Tempo, 10 Mei 2012, hal. A 15. 11. “Hollande Janjikan Jalan Baru,” Kompas, 16 Mei 2012, hal. 8.

Rujukan:

-8-

KESEJAHTERAAN SOSIAL
Vol. IV, No. 10/II/P3DI/Mei/2012

Pro dan Kontra RUU Kesetaraan dan Keadilan Gender (KKG)
Dina Martiany*)

Abstrak
Isu kesetaraan gender selalu menuai kontroversi. Kurangnya pemahaman publik terhadap konsep kesetaraan gender menjadi salah satu penyebabnya. Saat ini, upaya Komisi VIII DPR-RI dan pemerintah untuk mengatur kesetaraan gender dalam suatu Rancangan Undang-Undang (RUU) semakin menimbulkan pro dan kontra. Argumen yang kontra menyatakan RUU Kesetaraan dan Keadilan Gender (KKG) bertentangan dengan syariah Islam. Sedang argumen yang pro mengharapkan RUU ini dapat menjadi payung hukum bagi perlindungan hak perempuan dalam berbagai bidang kehidupan. Diperlukan penelusuran landasan, latar belakang, dan paparan konsep dalam rancangan Naskah Akademik (NA) RUU KKG. I do not wish them (women) to have power over men, but over themselves. ~Mary Wollstonecraft

Pendahuluan
Perdebatan mengenai RUU KKG ramai dibahas dalam berbagai forum dan media massa. Pihak yang pro dan kontra menyatakan argumentasi dari perspektif masing-masing. Draf yang beredar di publik saat ini adalah draf dari Komisi VIII DPR-RI yang disusun oleh Biro Perancangan Undang-Undang (PUU) dan Peneliti Setjen DPR-RI. Draf ini merupakan konsep rancangan awal yang masih akan mengalami perubahan secara signifikan. Selain draf dari Komisi VIII DPRRI, ada pula draf RUU KKG versi Pemerintah yang dikeluarkan oleh Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KNPP). Menurut Anggota Komisi VIII DPR-RI, Abdul Hakim (FPKS), akan ada penyempurnaan draf RUU KKG dari segi
*)

akademis sampai dengan legal. Draf yang beredar saat ini masih sangat mentah dan belum sesuai harapan. Terkait penyusunan draf tahap awal, pada Masa Persidangan III Tahun Sidang 2011-2012 yang lalu, Komisi VIII DPR-RI telah melakukan Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) dengan berbagai ormas, akademisi, dan pakar, untuk memperoleh masukan mengenai draf RUU KKG. Bahkan, memasuki Masa Persidangan IV Tahun Sidang 2011-2012 ini, Komisi VIII DPR-RI masih akan mengagendakan RDPU dengan beberapa pihak. Diharapkan masukan yang disampaikan melalui RDPU dapat membantu penyempurnaan draf, sebelum dibahas oleh Panitia Kerja (Panja) RUU KKG bersama Pemerintah. Reaksi pro dan kontra diperkirakan akan menyebabkan proses

Peneliti bidang Studi Gender pada Pusat Pengkajian Pengolahan Data dan Informasi (P3DI) Setjen DPR RI, e-mail: dina8333@gmail.com

-9-

penyusunan RUU KKG menjadi lebih lama.

Setara, Bukan Berarti Sama
Respon positif terhadap RUU KKG salah satunya ditunjukkan oleh Pusat Studi Wanita (PSW) UIN Sunan Kalijaga. Untuk memunculkan respon yang bersifat akademik dan proporsional dalam mengkritisi RUU KKG tersebut, pada 10 Mei 2012, PSW menyelenggarakan kegiatan Focus Group Discussion (FGD) yang dihadiri oleh hakim, akademisi, ormas dan LSM Rifka Annisa. Menurut PSW selaku, sebelum disusunnya RUU KKG, sebenarnya Inpres No. 9 Tahun 2000 dan Permendagri No. 15 Tahun 2008 telah mengatur juga tentang Pengarusutamaan Gender (PUG) meski belum dapat diimplementasikan secara optimal. RUU KKG diharapkan menjadi payung hukum yang akan menguatkan hakhak perempuan setara dengan laki-laki, baik dalam pemanfaatan hasil pembangunan maupun memperoleh sikap positif dalam kehidupan bermasyarakat. RUU KKG juga akan menjadi acuan hukum secara kompherensif yang menjamin terlaksananya kehidupan kesetaraan gender dan menguatkan undang-undang dan aturan hukum yang ada saat ini. Dalam diskusi tersebut, salah satu narasumber, Hamim Ilyas mengatakan, dalam RUU KKG sebenarnya tidak ada masalah yang signifikan untuk dipersoalkan. Persoalan yang kerap bermunculan belakangan dengan statement negatif tentang RUU KKG ini justru dikarenakan kecurigaan yang tidak jelas. Konsep RUU KKG dapat dilihat dengan perspektif ad-Din al-Qayyi, yang dalam Al Qur’an adalah rangka bangunan dalam doktrin Islam sebagai upaya untuk mewujudkan kehidupan masyarakat yang syarat dengan rahmatan lil’alamin. Dalam Islam sendiri telah dijelaskan bahwa agama sebagai fitrah manusia mengajarkan tentang kesesuaian manusia sebagai makhluk sosial dan pentingnya mewujudkan kehidupan manusia sesuai fitrah dan optimalisasi potensi. Pendapat lainnya disampaikan oleh Ledia Hanifa, Anggota Panja RUU KKG Komisi VIII DPR-RI, bahwa setiap RUU tentu dimaksudkan untuk memberikan sebesar-besarnya kebaikan bagi masyarakat,

termasuk RUU KKG yang memberikan titik tekan pada perlindungan dan pemberdayaan perempuan. Selama ini, diskriminasi, ketidakadilan maupun tindakan kekerasan berbasis gender yang banyak menimpa kaum perempuan merupakan fakta yang memang terjadi di tengah masyarakat.

Konsep Gender Bertentangan dengan Islam?
Ide dasar kesetaraan gender atau perjuangan hak perempuan selalu dianggap sebagai gerakan feminisme yang dipengaruhi oleh dunia barat; bertentangan dengan syariah Islam; dan tidak sesuai dengan adat istiadat ketimuran; serta melawan ketentuan kodrat perempuan. Menurut Astri Ivo yang ikut menandatangani pernyataan sikap menolak RUU KKG, para perempuan muslimah seharusnya saling menghormati dan memahami kedudukan, bahwa laki-laki dan perempuan diciptakan sama mulianya dan punya peran masing-masing sesuai ketetapan Allah. Argumen kontra juga disampaikan oleh Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) dalam pernyataan sikap tentang RUU KKG. MIUMI menyatakan definisi gender terdapat dalam Pasal 1 Ayat 1 bertentangan dengan ajaran Islam. Disebutkan bahwa “Gender adalah pembedaan peran dan tanggung jawab laki-laki dan perempuan yang merupakan hasil konstruksi sosial budaya yang sifatnya tidak tetap dan dapat dipelajari, serta dapat dipertukarkan menurut waktu, tempat, dan budaya tertentu dari satu jenis kelamin ke jenis kelamin lainnya.“ Pembagian peran antara laki-laki dan perempuan dalam Islam bukanlah berdasarkan konstruksi budaya, tetapi wahyu dalam Al Quran. Begitu pula dengan Pasal 1 Ayat 2, yang menyebutkan “Kesetaraan Gender adalah kesamaan kondisi dan posisi bagi perempuan dan laki-laki untuk mendapatkan kesempatan mengakses, berpartisipasi, mengontrol, dan memperoleh manfaat pembangunan di semua bidang kehidupan.“ Konsep kesetaraan ini dianggap bertentangan dengan konsep kesetaraan dalam Islam, di mana laki-laki dan perempuan tidak dapat disetarakan dalam semua hal. Selain itu, pernyataan kontra lainnya terkait dengan Pasal 12 huruf a RUU KKG, yang menyebutkan “Dalam perkawinan,

- 10 -

setiap orang berhak: memasuki jenjang perkawinan dan memilih suami atau isteri secara bebas;“. Salah satunya disampaikan oleh Tatik Rahayu, Wakil Ketua Forum Komunikasi Majelis Taklim Lampung. Jika Pasal ini tetap dibiarkan, terbuka celah untuk melegalkan pernikahan sesama jenis. Karena tidak diatur secara tegas bahwa setiap orang berhak memilih suami atau isteri yang berlainan jenis. Sebaliknya, kata “memilih isteri atau suami secara bebas“ dapat disalahartikan memberi peluang untuk memilih istri atau suami sesama jenis. Hal ini jelas melanggar syariat Islam, karena itu seharusnya ada penambahan kata “yang berlainan jenis.“ Organisasi perempuan Muslimat Hidayatullah menyampaikan penolakan terhadap RUU KKG dengan argumentasi bahwa kaum laki-laki adalah pemimpin bagi kaum perempuan. Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (perempuan), dengan demikian kedudukan antara lakilaki dan perempuan dalam Islam tidak dapat disetarakan atau disamakan. Kritisi juga disampaikan terhadap Pasal 15 Huruf f RUU KKG yang berbunyi: “Setiap warga negara berkewajiban untuk: memenuhi tanggung jawab yang sama sebagai orangtua dalam urusan yang berhubungan dengan anak.“ Menurut organisasi tersebut, rancangan ketentuan ini bertentangan dengan UU No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan. UU Perkawinan menyebutkan bahwa dalam suatu keluarga, suami adalah kepala keluarga (Pasal 31 Ayat 3) dan berkewajiban memenuhi keperluan hidup berumahtangga termasuk pemenuhan nafkah dan perlindungan (Pasal 34 Ayat 1). Oleh karena itu suami dan isteri mempunyai tanggung jawab yang tidak sama baik dalam urusan yang berhubungan dengan anak atau mengenai urusan lain dalam keluarga. Adian Husaini dalam tulisannya “RUU Kesetaraan Gender: Perspektif Islam“ berpendapat bahwa apabila RUU KKG disahkan menjadi undang-undang akan menjadi suatu bentuk penindasan dan kezaliman terhadap kaum muslim yang mentaati ajaran agamanya. Hal ini dikarenakan Pasal 67 mengatur tentang pelarangan bagi setiap orang untuk melakukan perbuatan yang memiliki unsur pembedaan, pembatasan, dan/atau pengucilan atas dasar jenis kelamin tertentu. Lebih lanjut, dalam Pasal 70 RUU KKG

diatur mengenai ketentuan pidana bagi setiap orang yang melakukan pelanggaran terhadap Pasal 67 tersebut.

Meninjau Sekilas NA RUU KKG
Untuk menjawab berbagai pro dan kontra terhadap RUU KKG yang berkembang semakin luas, perlu dilakukan tinjauan kronologis penyusunan RUU ini terlebih dahulu. Pada awalnya, Komisi VIII DPR-RI bermaksud untuk menyusun RUU Pengarusutamaan Gender (PUG) yang sifatnya lebih teknis. Dalam RUU PUG ditekankan, penyelenggara negara yang berperan dalam mewujudkan kesetaraan dan keadilan gender, salah satunya dengan instrumen PUG. Lebih lanjut, dalam perkembangannya draf RUU PUG diubah menjadi RUU KKG dan pengaturan mengenai PUG termasuk di dalamnya. Substansi dari RUU KKG lebih konseptual, normatif, dan komprehensif yang bersifat mengikat seluruh warga negara, baik lakilaki maupun perempuan. Harus diakui memang tidak mudah untuk memahami konsep gender yang sangat spesifik, apalagi bagi masyarakat awam. Pada bagian latar belakang dalam NA RUU KKG, dipaparkan dengan terperinci hal-hal yang menjadi dorongan penyusunan RUU KKG. Meskipun secara normatif UUD 1945 telah menjamin persamaan kedudukan setiap warga negara, baik perempuan maupun laki-laki dan Indonesia telah meratifikasi Konvensi Perempuan (CEDAW) hampir 27 tahun yang lalu, sampai saat ini perempuan masih mengalami diskriminasi hampir di segala bidang kehidupan, sehingga perempuan belum memperoleh manfaat yang optimal dalam menikmati hasil pembangunan. Perempuan belum banyak yang dapat terlibat dalam proses perumusan kebijakan dan pengambilan keputusan maupun dalam pelaksanaan pembangunan di semua bidang dan semua tingkatan. Hal ini berdampak pada kualitas hidup perempuan yang masih sangat rendah dan dapat dilihat dalam Indeks Pembangunan Manusia (Human Development Index/ HDI) dan Indeks Pembangunan Gender (Genderrelated Development Index/GDI). Oleh karena itu, kualitas hidup perempuan perlu ditingkatkan, dengan mewujudkan kesetaraan dan keadilan gender dalam kehidupan berkeluarga, bermasyarakat,

- 11 -

berbangsa, dan bernegara. Kebutuhan perempuan dan laki-laki perlu diintegrasikan secara seimbang, yang pada akhirnya perempuan dan laki-laki dapat menikmati hasil pembangunan secara merata. UU KKG diharapkan dapat meminimalisir berbagai permasalahan mendasar yang banyak dialami perempuan. Adapun yang menjadi ruh pengaturan RUU KKG yang tercermin dari NA-nya adalah mengenai jaminan dan perlindungan hak hidup perempuan. Tidak ada upaya untuk membuat perempuan sama posisi seperti laki-laki atau memiliki kekuasaan terhadap laki-laki, namun setara, sehingga dapat bersama-sama dan berdampingan menjalani kehidupan bermasyarakat. Sementara itu, berbagai hak-hak yang diuraikan dalam RUU KKG merupakan elaborasi dari hak-hak setiap warga negara sebagaimana yang tercantum dalam UUD 1945. Komnas Perempuan mengelompokkan hak-hak tersebut ke dalam 14 Rumpun yaitu hak atas kewarganegaraan, hak atas hidup, hak untuk mengembangkan diri, hak atas kemerdekaan pikiran dan kebebasan memilih, hak atas informasi, hak atas kerja dan penghidupan layak, hak atas kepemilikan dan perumahan, hak atas kesehatan dan lingkungan sehat, hak untuk berkeluarga, hak atas kepastian hukum dan keadilan, hak bebas dari ancaman, diskriminasi, dan kekerasan, hak atas perlindungan, hak memperjuangkan hak, dan hak atas pemerintahan. Kesetaraan yang diharapkan dalam RUU KKG ini adalah kesetaraan kedua jenis kelamin, laki-laki dan perempuan, sebagai warga negara. Tidak ada salah satu jenis kelamin yang lebih diutamakan, diunggulkan, dan ditinggikan dibandingkan dengan jenis kelamin lainnya. Hal ini sejalan dengan Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan atau The Convention on the Elimination of All Forms of Discrimination against Women (CEDAW) yang telah diratifikasi melalui UU No. 7 Tahun 1984.

perlindungan terhadap warga negara pada umumnya dan perempuan pada khususnya. Meskipun demikian, draf RUU KKG yang ada saat ini masih sangat membutuhkan banyak masukan dari berbagai pihak untuk penyempurnaan. Beberapa ketentuan yang kontroversial, harus dirumuskan ulang dengan lebih hati-hati dan tidak multi interpretasi. Selain itu, diperlukan pula sosialisasi dan dialog antara pihak pengusul/ penyusun RUU KKG ini dengan publik, sehingga dapat menjembatani perbedaan persepsi yang berkembang selama ini. Rujukan: 1. “Pernyataan Sikap MIUMI tentang RUU KKG,” disampaikan pada Tabligh Akbar Tolak RUU Kesetaraan Gender Liberal di Jakarta, Masjid Agung Sunda Kelapa, Menteng, Jakarta, 8 April 2012. 2. “Draf RUU Keadilan dan Kesetaraan Jender Disempurnakan,” http://nasional.kompas.com/ read/2012/04/23/11404071/Draf. RUU.Keadilan.dan.Kesetaraan.Jender. Disempurnakan, diakses 7 Mei 2012. 3. “Muslimat Hidayatullah Tolak RUU Kesetaraan Gender,” h t t p : / / w w w. h i d a y a t u l l a h . c o m / read/22347/23/04/2012/muslimathidayatullah-tolak-ruu-kesetaraangender.html, diakses 23 April 2012. 4. “Astri Ivo Menolak RUU Kesetaraan Gender,” http://www. voa-islam.com/lintasberita/ hidayatullah/2012/04/10/18615/astriivo-menolak-ruu-kesetaraan-gender/, diakses 8 Mei 2012. 5. Adian Husaini, “RUU Kesetaraan Gender: Perspektif Islam,” 22 Maret 2012. 6. “Menakar Legalisasi RUU KKG,” http:// rifka-annisa.or.id/go/menakar-legalisasiruu-kkg/, diakses 16 Mei 2012. 7. “Semangat RUU KKG Tetap Berbasis Budaya dan Agama,” http://www.fpks. or.id/2012/03/semangat-ruu-kkg-tetapberbasis-budaya-dan-agama/, diakses 20 Maret 2012. 8. Naskah Akademik RUU tentang Kesetaraan dan Keadilan Gender, disusun oleh Biro Perundang-Undangan bidang Kesejahteraan Rakyat (PUU Kesra) dan Peneliti P3DI Sekretariat Jenderal DPRRI, Agustus 2011.

Penutup
Pada prinsipnya setiap penyusunan RUU memilliki tujuan untuk memberikan perlindungan terhadap warga negara, begitu pula dengan RUU KKG. RUU ini diperlukan sebagai bentuk jaminan dan

- 12 -

EKONOMI DAN KEBIJAKAN PUBLIK
Vol. IV, No. 10/II/P3DI/Mei/2012

Daya Saing Produk UKM Indonesia
Yuni Sudarwati*)

Abstrak
Produk Usaha Kecil Menengah (UKM) Indonesia saat ini belum mampu mendominasi pasar di dalam negeri. Bahkan mulai masuk ancaman dari produk asing khususnya Cina. Permasalahan membelit upaya peningkatan daya saing produk UKM, mulai dari internal UKM maupun birokrasi. Oleh karena itu perlu dukungan kuat dari pemerintah khususnya penguatan akses dana maupun masyarakat berupa kesadaran menggunakan produk lokal khususnya UKM.

Pendahuluan
Dalam rangka mendorong eksistensi produk asli Indonesia khususnya UKM dan meningkatkan kualitas agar dapat bersaing, Kementerian Perdagangan terus secara aktif menggelar pameran produk buatan asli Indonesia. Kementerian Perdagangan juga telah menetapkan 20 Mei 2012 sebagai Hari Kebangkitan Produk Indonesia. Penetapan ini merupakan bagian dari upaya untuk membangkitkan rasa cinta dan kebanggaan masyarakat terhadap produk dalam negeri. Menurut Bayu Krisnamurthi, Wakil Menteri Perdagangan, masyarakat harus menghargai dan terus mempromosikan barang asli buatan Indonesia atau Made in Indonesia. Salah satu caranya adalah dengan tidak menawar harga produk asli buatan Indonesia terutama produk UKM. Sebaliknya, konsumen Indonesia harus berani menawar harga yang lebih rendah ketika membeli barang yang bukan buatan asli Indonesia atau Non-Made in Indonesia. Hal ini perlu dilakukan karena kesadaran dan kebanggaan untuk menggunakan
*)

produk dalam negeri merupakan faktor yang sangat penting bagi perekonomian Indonesia. Indonesia saat ini memiliki sejumlah keunggulan dibandingkan dengan beberapa negara lain di kawasan ASEAN, antara lain dari sisi pasar dan jumlah populasi yang besar. Jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 237,64 juta jiwa merupakan pasar yang sangat menjanjikan bagi produk-produk baik dalam negeri maupun luar negeri. Mayoritas penduduk Indonesia saat ini adalah young population yang cenderung konsumtif dan sekaligus sebagai aset karena merupakan usia produktif. Meskipun memang tidak semua dari jumlah penduduk tersebut memliki kemampuan untuk membeli, namun dengan melihat pertumbuhan jumlah kelas menengah yang mencapai 60 juta orang maka merupakan sebuah peluang besar untuk mendorong laju pertumbuhan ekonomi. Namun pertumbuhan kelompok kelas menengah termasuk di dalamnya daya beli mereka perlu menjadi perhatian pemerintah. Mengapa demikian? Nilai

Peneliti bidang Ekonomi dan Kebijakan Publik pada Pusat Pengkajian Pengolahan Data dan Informasi (P3DI) Setjen DPR RI, e-mail: yuni.sudarwati@dpr.go.id

- 13 -

ekspor kita masih lebih besar dibandingkan dengan nilai impor. Namun demikian, laju pertumbuhan impor ternyata telah mengalahkan laju peningkatan nilai ekspor. Pada tahun 2011, nilai impor tercatat 177,44 miliar dolar AS atau tumbuh 30,8% dibandingkan dengan nilai tahun 2010 yang mencapai 135,66 miliar dolar AS. Sementara itu, nilai ekspor mengalami pertumbuhan 28,98% menjadi 203,5 miliar dolar AS pada tahun 2011 dibandingkan dengan 157,78 miliar dolar AS pada tahun 2010. Selain itu, ternyata konsumsi domestik yang menjadi penggerak roda perekonomian secara tidak langsung ikut menguntungkan negara lain. Hal ini terjadi karena serbuan produk impor membuat pemilik modal cenderung memilih menjadi pedagang dibandingkan menjadi produsen. Kondisi ini diperparah dengan adanya kecenderungan kelompok kelas menengah untuk memilih produk asing dan belum adanya kesadaran untuk memilih produk dalam negeri. Di sinilah ironisnya. Dengan potensinya yang besar, kekuatan konsumsi kelas menengah ternyata tidak mampu memobilisasi dukungan terhadap produsen dalam negeri, apalagi jika produk dalam negeri yang dikembangkan mampu menyediakan kebutuhan masyarakat dengan kualitas yang baik dan dengan harga yang terjangkau. Namun kenyataannya, dalam beberapa kasus produk lokal lebih mahal dibandingkan dengan produk impor khususnya produk-produk untuk kelas menengah atas. Konsekuensinya, konsumen cenderung memilih dan menggunakan produk impor. Tindakan untuk meningkatkan daya saing dan kesadaran mengunakan produk lokal perlu segera dilakukan. Hal ini penting karena jika kondisi ini terus terjadi maka Indonesia akan menjadi negara pemakai, kondisi di mana penduduk hanya akan selalu menjadi konsumen bukan produsen. Konsumsi yang masif tanpa dibarengi peningkatan produktivitas berpeluang menjadikan Indonesia sebagai konsumen tulen. Saat itu terjadi, ekonomi dipastikan tidak akan mampu tumbuh karena uang untuk konsumsi mengalir ke negara lain. Skenario lainnya adalah terjadinya fenomena deindustrialisasi di dalam negeri. - 14 -

Kendala
Upaya meningkatkan daya saing produk dalam negeri ternyata bukanlah hal yang mudah. Ada beberapa kendala antara lain adalah kelemahan Industri Kecil Menegah (IKM)/UKM dalam memasarkan produknya dan adanya ekonomi biaya tinggi. Euis Saedah, Direktur Jenderal Industri Kecil dan Menengah (IKM) Kementerian Perindustrian mengakui lemahnya kemampuan IKM dalam memasarkan produknya, baik di dalam negeri maupun di pasar ekspor. Saat ini setidaknya terdapat 2.663 IKM yang memiliki peluang untuk mendunia, namun tidak mampu menembus pasar ekspor. Pemerintah menilai sulitnya IKM melakukan ekspor dikarenakan lima faktor. Pertama, semua prosedur yang ada, termasuk mengisi formulir harus berbahasa Inggris sedangkan banyak pelaku IKM yang tidak menguasai atau mengerti Bahasa Inggris. Kedua, penggunaan surat elektronik atau email untuk keperluan korespendensi sedangkan banyak pelaku IKM yang belum memahami cara penggunaannya. Ketiga, IKM sulit memenuhi permintaan dalam partai besar secara konsisten karena kesulitan untuk mendapatkan bahan baku untuk produksi. Keempat, pada umumnya IKM belum bisa memenuhi standar produk yang ditetapkan secara internasional; dan kelima, IKM belum bisa memenuhi sistem pembayaran (trade financing) seperti Letter of Credit (LC). Sementara itu, Sofjan Wanandi, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), menuding ekonomi biaya tinggi membuat produk Indonesia sulit bersaing. Birokrasi yang berbelit, korupsi, berbagai pungutan liar serta infrastruktur yang buruk menjadi penyebab dan sekaligus menjadi penghambat bagi perkembangan industri nasional. Selain memperburuk citra Indonesia di mata investor dunia, perilaku korup para penyelenggara negara tersebut pada gilirannya turut serta mematikan daya saing produk dalam negeri. Masalah ini juga membuat ketidakmampuan produk lokal berhadapan dengan produk asing, khususnya yang berasal dari Cina. Selain itu, hal lain terkait dengan isu lemahnya koordinasi di dalam tubuh birokrasi baik secara horisontal maupun

vertikal. Lebih jauh, otonomi daerah turut menyumbang terjadinya proses koordinasi. Akibatnya, kita masih mendapati adanya beberapa kebijakan pusat dan daerah yang bertentangan satu sama lain. Kasus yang sama persoalan infrastruktur dasar yang tidak mendukung seperti misalnya, jalan dan pelabuhan yang masih diwarnai kemacetan, proses bongkar muat barang yang belum efisien dan fenomena pungutan liar. Dalam situasi seperti ini, ekonomi biaya tinggi menjadi konsekuensi yang tidak dapat terelakkan dan pada gilirannya menyebabkan biaya produksi meningkat. Jika biaya produksi meningkat, harga jual pun menjadi tinggi dan pada akhirnya perusahaan dalam negeri tidak bisa bersaing dengan perusahaan sejenis di luar negeri yang juga memproduksi barang yang sama. Kondisi ini menjadi penyebab gagalnya produk lokal merajai pasar dalam negeri.

Praktek Negara Lain
Hampir di semua negara menunjukkan bahwa pada saat terjadi perlambatan ekonomi, UKM bertahan dan tetap dinamis. Dengan demikian, dapat dipahami ketika sejumlah negara memberikan dukungan politiknya secara penuh terhadap keberadaan UKM. Dilihat peran UKM secara global tidak kalah pentingnya. Jenisjenis usaha UKM yang jumlahnya jauh lebih besar dibandingkan dengan usahausaha skala besar menjadikan UKM sering dilihat sebagai sektor yang menyumbang dalam mendorong terjadinya inovasi dan persaingan usaha di banyak sektor ekonomi. Mari kita lihat kasus di Cina. Negeri Tirai Bambu ini mengambil langkahlangkah guna mendorong badan-badan berkategori UKM, termasuk usaha mikro di dalamnya, untuk melangkah ke dunia internasional. Selain mendorong peningkatan mutu produk, pemerintah itu juga memberikan bantuan di bidang informasi kepada perusahaan UKM. Melalui situs internetnya, Kementerian Perdagangan Cina memaparkan data-data politik, ekonomi, hukum, dan budaya ke banyak negara. - 15 -

Kepedulian Pemerintah Cina terhadap UKM juga menyangkut pendanaan. Pada saat UKM di Cina mengalami kesulitan untuk mengakses dana di bank, pemerintah turun tangan. Pada tahun 2010 misalnya, ketika pelaksanaan Chinese SMEs Festival dibuatlah perjanjian antara Bank of Dalian dan pemerintah lokal untuk membantu UKM mendapatkan dana dari bank. Caranya, pemerintah dan Bank of Dalian bekerja sama dalam pengembangan kredit untuk UKM. Pemerintah Cina juga mengembangkan program credit risk compensation. Program yang didesain untuk memberikan insentif kepada bank agar tidak lagi ragu memberikan kredit kepada UKM yang memiliki produk yang potensial dijual di pasar, kondisi keuangannya jelas, dan berpotensi ke depan tetapi tidak qualified (unbankable) untuk memperoleh pinjaman. Hal yang sama dukungan untuk membentuk sistem yang terstandarisasi bagi UKM dan mendorong UKM di Dalian untuk mempunyai merek sendiri dan mendorong independent property rights (hak cipta) bagi produkproduk mereka. Hingga saat ini UKM di Dalian mempunyai sembilan merek yang dikenal secara internasional. Guna memperkuat pengembangan teknologi untuk produk-produk UKM, pemerintah Dalian juga memfasilitasi kolaborasi antara UKM dan universitas serta lembaga penelitian dengan membuat suatu platform kerja sama dan perjanjian untuk UKM.

Upaya Peningkatan Daya Saing UKM
UKM di Indonesia merupakan sektor yang berpotensi berkontribusi besar terhadap aktivitas perekonomian nasional. Peluang itu dapat dilihat dari sisi bisnis itu sendiri dan bisa terus berkontribusi dalam rantai nilai dalam sektor ini. Hal ini sejalan dengan politik pengembangan UKM termasuk di dalamnya usaha mikro dalam konteks visi pembangunan industri nasional (Perpres No. 28 Tahun 2008 tentang Kebijakan Industri Nasional). Sejalan dengan visi itu, Indonesia diproyeksikan menjadi negara industri tangguh pada tahun 2025 dan tahun 2020 sebagai negara

industri maju baru, dengan asumsi bahwa sesuai dengan Deklarasi Bogor (1995) pada tahun 2020 liberalisasi di negara-negara APEC sudah harus terwujud (Pusdatin, Kemenperin, 2012). Dukungan terhadap UKM ini antara lain, bisa dilakukan melalui dua hal. Pertama, dukungan untuk pengembangan UKM itu sendiri dan kedua adalah dukungan untuk penggunaan produk UKM. Dukungan terhadap pengembangan UKM bisa dilakukan melalui kerja sama dengan perbankan untuk akses dana, kerja sama dengan universitas untuk pengembangan produk dan SDM maupun kerja sama dengan industri- industri lain. Salah satu contoh yang sudah dilakukan adalah kerja sama antara Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) dengan PT Microsoft Indonesia (Microsoft) untuk mendorong upaya peningkatan daya saing UKM. Di sisi lain, dukungan perlindungan pasar juga diperlukan. Masuknya ritel asing ke pasar-pasar swalayan kita merupakan ancaman serius yang bisa mematikan pengusaha UKM. Pasar-pasar tradisional yang menjual produk-produk UKM pun kian tergusur dengan hadirnya gerai-gerai yang dibangun oleh peritel dan pedagang besar yang disponsori oleh asing. Jika pasarpasar tidak dilindungi maka daya saing UKM kita akan terus keteteran. Maka salah satu langkah efektifnya adalah dengan membatasi serbuan produk UKM asing yang menerapkan harga dumping untuk merusak sektor UKM di Indonesia. Perlindungan pasar juga termasuk salah satunya adalah dengan mendorong masyarakat untuk menggunakan produk lokal. Salah satunya adalah dengan penetapan Hari Kebangkitan Produk Indonesia.

Selain proteksi pasar, UKM kita hanya bisa menghasilkan produk berdaya saing jika sektor ini mendapatkan dukungan akses dana. Tanpa langkah ini, sektor UKM yang sudah terbukti tahan banting di saat krisis, justru bisa menjadi bulan-bulanan serbuan produk UKM dari negara lain, terutama Cina. Selain itu dukungan penguatan kesadaran penggunaan produk lokal perlu untuk selalu digaungkan. Dengan jumlah penduduk yang besar, khususnya kelompok kelas menengah bisa menjadi penyerap utama produk lokal. Titik singgung kepentingan ini akan semakin potensial jika dukungan terhadap kualitas dan tingkat harga produk lokal dapat dikelola secara optimal.

Rujukan:

Penutup
Ke depan, kepedulian terhadap sektor UKM sudah merupakan sebuah keharusan.

1. “Masyarakat Harus Hargai Produk Asli Indonesia,” Neraca, 21 Mei 2012: 12. 2. Badan Pusat Statistik (www.bps.go.id), diakses 22 Mei 2012. 3. “Bukan Cuma urusan perut,” Bisnis Indonesia, 22 Mei 2012: 6. 4. “Terancam jadi konsumen tulen,” Bisnis Indonesia, 22 Mei 2010: 7. 5. Daruri, A.D. “Investasi, Kunci Daya Saing UKM“. 4 Mei 2012, http://www. investor.co.id/home/investasi-kuncidaya-saing-ukm/35438, diakses 21 Mei 2012. 6. “Festival UKM Cina,” www. wartaekonomi.co.id/berita243271305-festival-ukm-cina.html, diakses 22 Mei 2012. 7. “UKM: Pelajaran dari Dalian,” http:// www.wartaekonomi.co.id/berita192638184-ukm-pelajaran-daridalian.html, diakses 22 Mei 2012. 8. Apindo-Microsoft Dukung Daya Saing UKM,” http://www.beritasatu. commobile/ekonomi/35898-apindomicrosoft-dukung-daya-saing-ukm. html, diakses 22 Mei 2012.

- 16 -

PEMERINTAHAN DALAM NEGERI
Vol. IV, No. 10/II/P3DI/Mei/2012

Calon Independen dalam Pemilukada DKI Jakarta Tahun 2012
Dewi Sendhikasari D*)

Abstrak
Pemilihan Gubernur DKI Jakarta akan dilaksanakan pada tanggal 11 Juli Tahun 2012. Berbagai permasalahan yang terjadi di ibukota Jakarta menjadi pekerjaan rumah yang harus dicarikan solusi. Munculnya beberapa pasangan calon gubernur-wakil gubernur dari jalur independen menunjukkan perkembangan demokrasi di negara kita. Hal ini dapat mejadi alternatif dalam memilih gubernur-wakil gubernur DKI Jakarta dari luar parpol. Siapapun pasangan calon gubernur-wakil gubernur DKI Jakarta yang terpilih nanti diharapkan dapat menyelesaikan berbagai permasalahan yang ada dan membawa perubahan yang lebih baik di Jakarta.

Pendahuluan
Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta merupakan ibukota negara Indonesia yang menyimpan sejumlah permasalahan yang tak kunjung selesai. DKI Jakarta sebagai pusat pemerintahan dan sebagai daerah otonom berhadapan dengan karakteristik permasalahan yang sangat kompleks dan berbeda dengan provinsi lain. Provinsi DKI Jakarta selalu berhadapan dengan masalah urbanisasi, keamanan, transportasi, lingkungan, pengelolaan kawasan khusus, dan masalah sosial lain yang memerlukan solusi secara sinergis melalui berbagai instrumen. Pada dasarnya, masalah Propinsi DKI Jakarta dapat dikategorikan dalam dua hal, yaitu: (1) masalah kota yang tidak dapat dilepaskan dari masalah nasional secara keseluruhan; (2) masalah kota yang bersifat khas dan menonjol. Namun demikian ada empat masalah utama di Jakarta yang memerlukan penyelesaian
*)

secepatnya. Masalah-masalah tersebut antara lain: Pertama, kemacetan. Kemacetan merupakan masalah utama di Jakarta, bahkan tahun 2014 dikhawatirkan Jakarta akan macet total. Masalah ini berawal dari kurangnya kapasitas jalan sehingga berbanding terbalik dengan pertumbuhan kendaraan. Buruknya sarana transportasi kota di Jakarta membuat masyarakat enggan dan memilih naik kendaraan pribadi. Masalah kurangnya kesadaran masyarakat untuk tertib berlalu lintas menambah parah kemacetan. Kedua, banjir. Sejak zaman Belanda, Jakarta sudah dikenal sebagai daerah yang rentan banjir. Namun kondisi kian parah, karena kurangnya ruang terbuka hijau (RTH) dan daerah resapan air. Kurangnya kesadaran masyarakat untuk membuang sampah pada tempatnya juga menyumbat saluran air. Banyaknya warga yang tinggal di bantaran sungai mengakibatkan penyempitan sungai sehingga air mudah meluap. Di daerah utara Jakarta, terjadi penurunan muka air tanah yang

Peneliti bidang Politik Dalam Negeri pada Pusat Pengkajian Pengolahan Data dan Informasi (P3DI) Setjen DPR RI, e-mail: sendhik@gmail.com

- 17 -

mengakibatkan saat pasang air mudah meluap. Tidak adanya kerja sama dengan daerah mitra juga berpotensi mengakibatkan banjir kiriman di Jakarta. Ketiga, premanisme dan ormas anarkis. Jakarta merupakan kota yang plural dengan banyak ras, etnis dan agama, sehingga mudah sekali bermunculan ormas dan tindakan premanisme untuk mempertahankan dan membela kepentingan kelompok. Keempat, urbanisasi. Jakarta masih menjadi sasaran bagi para pendatang untuk mengadu nasib. Untuk menekan angka pendatang, beberapa gubernur menerapkan peraturan agar pendatang baru punya pekerjaan tetap atau keterampilan khusus. Tingginya urbanisasi juga mengakibatkan tingginya angka pengangguran dan kriminalitas di Jakarta, selain juga ledakan penduduk. Di DKI Jakarta, sebuah kota metropolitan dengan kompleksitas masalah, kepemimpinan menjadi faktor strategis dalam membenahi berbagai permasalahan. Semestinya persaingan merebut posisi pemimpin Jakarta diposisikan sebagai persaingan ide atau gagasan dan platform program untuk mengatasi deretan masalah yang ada di Jakarta. Oleh karea itu, pemilukada gubernur DKI Jakarta diharapkan menghasilkan pemimpin yang mempu menyelesaikan permasalahan dan membawa perubahan bagi Jakarta pada khususnya dan Indonesia pada umumnya. Pemilihan Gubernur DKI Jakarta Tahun 2012 Pemilukada Gubernur - Wakil Gubernur DKI tahun 2012 sudah dimulai tahapannya. Oktober 2012 nanti, masa jabatan Fauzi Bowo dan Prijanto akan berakhir. Berbagai persiapan pelaksanaan pemilukada orang nomor 1 (satu) di Jakarta secara bertahap telah dilaksanakan oleh KPU DKI Jakarta. Adapun jadwal Pemilukada DKI Jakarta 2012 dapat dilihat pada kolom di samping. Sampai saat ini sudah dilaksanakan tahapan yang kedua yaitu penetapan calon gubernur-wakil gubernur DKI Jakarta. Seperti kita ketahui, bahwa persaingan memperebutkan posisi DKI 1 semakin semarak dengan munculnya beberapa nama, bukan hanya dari kalangan partai politik tetapi juga kalangan independen atau perseorangan. Adanya putusan MK No 5/ PUU-V/2007 yang menganulir UU 32/2004 pasal 56, 59 dan 60 tentang persyaratan pencalonan kepala daerah memberikan peluang kepada calon independen untuk maju dalam

Pemilukada. Masyarakat yang menyambut positif mempunyai keyakinan bahwa dengan munculnya calon kepala daerah dari luar mekanisme partai politik akan memberikan pilihan yang lebih luas dan menjadikan persaingan lebih sehat. Keikutsertaan pasangan independen dalam Pemilukada DKI Jakarta 2011 akan memberikan daya tarik tersendiri, persaingan parpol versus parpol versus independen akan mewarnai Pemilukada DKI, berarti meningkatkan kualitas pasangan gubernur/ wakil gubernur dan meminimalkan politik uang (money politics). Berbagai spekulasi berkembang terkait calon gubernur dan wakil gubernur yang mencalonkan diri pada pemilukada DKI 2012. Hal ini disebabkan banyaknya calon yang ikut serta dalam pemilukada. Sebelumnya terdapat 14 nama pasangan calon yang muncul meramaikan bursa gubernur DKI. Namun demikian, seiring dengan perkembangan waktu dan dinamika politik di Indonesia, hanya 6 nama pasangan calon yang berhasil terdaftar dalam pemilukada gubernur-wakil gubernur DKI bulan Juli yang akan datang. Adapun namanama Calon Gubernur – Wakil Gubernur DKI yang telah mendaftar ke KPUD DKI dengan pemaparan visi dan misi masing-masing. Strategi Calon Independen Pemilihan Umum Kepala Daerah DKI Jakarta 2012 memiliki nuansa berbeda dengan munculnya calon gubernur dari jalur perseorangan. Lolosnya dua bakal calon dari jalur independen menjadi calon gubernur dan wakil gubernur dalam pemilihan umum kepala
1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 13 Maret – 19 Maret 2012: Pendaftaran Calon Gubernur – Wakil Gubernur DKI 2012 10 Mei – 11 Mei 2012: Penetapan Calon Gubernur – Wakil Gubernur DKI 2012 yang Lolos Verifikasi KPUD DKI Jakarta 24 Juni – 7 Juli 2012: Masa Kampanye Calon Gubernur – Wakil Gubernur DKI 2012 8 Juli – 10 Juli 2012: Masa tenang sebelum pemungutan suara 11 Juli 2012: Pemungutan Suara Calon Gubernur – Wakil Gubernur DKI 2012 19 Juli – 20 Juli 2012: Rekapitulasi penghitungan hasil suara Pilkada DKI 2012 7 Oktober 2012: Pelantikan Gubernur – Wakil Gubernur terpilih 2012

- 18 -

1.

2.

3.

4.

5.

6.

Alex Noerdin – Nono Sampono (Parpol Pendukung: Golkar, PPP, PDS) Pasangan ini akan menggratiskan biaya sekolah dari SD sampai SMA dan sederajat. Realisasi program bakal dilaksanakan satu hari setelah mereka dilantik. Mereka juga akan menjadikan Jakarta sebagai kota layak huni yang nyaman dan aman. Mereka menjanjikan dalam waktu tiga tahun, Jakarta bebas macet dan banjir. Faisal Basri – Biem Benyamin (Jalur Independen) Pasangan independen ini memiliki visi-misi untuk lebih memaksimalkan pengelolaan dana APBD. Anggaran akan dimaksimalkan ke arah yang lebih penting. Dana APBD Jakarta yang lebih banyak dari kota lain digunakan untuk kepentingan warga di kalangan bawah. Joko Widodo – Basuki Tjahaja Purnama (Parpol Pendukung: PDIP dan Gerindra) Membangun Jakarta dengan kejujuran. Yakni transparansi penggunaan anggaran sampai ke lapisan ketiga. Mulai dari harga baju gubernur sampai gelas harus diketahui oleh masyarakat. Menurut Ahok, masyarakat akan bisa mengetahui semuanya. Hal ini untuk menghindari Jakarta yang korup. Hendardji Soepandji – Ahmad Riza Patria (Jalur Independen) Pasangan ini ingin melakukan peremajaan kota yang layak huni. Mereka berjanji akan melakukan akselerasi pembangunan kota dengan baik. Menurut Hendardji, mereka akan meremajakan Jakarta seperti yang dilakukan negara lain. Hidayat Nur Wahid – Didik J Rachbini (Parpol Pendukung: PKS) Menurut mereka, hal pertama yang mesti dilakukan adalah menjadikan Jakarta sebagai kota yang bertaraf internasional. Jakarta yang menjadi markas kantor ASEAN harus lebih bagus dari kota negara lain. Menurut Hidayat Nur Wahid, Jakarta harus lebih baik dari Bangkok dan Kuala Lumpur. Fauzi Bowo – Nachrowi Ramli (Parpol Pendukung: Demokrat) Sebagai incumbent, Fauzi Bowo masih melanjutkan program kerja pemerintahannya.

daerah (Pemilukada) DKI 2012 mengukir sejarah pesta demokrasi di Jakarta. Baru kali ini dalam Pemilukada DKI Jakarta ada calon gubernur dan wakil gubernur independen, tanpa dukungan partai politik berhasil lolos dan ditetapkan dapat bersaing dengan empat pasangan calon yang diusung banyak parpol. KPU DKI Jakarta telah mencetak sejarah penting dalam dunia perpolitikan dan pesta demokrasi. Ini bisa menjadi pembelajaran politik yang sangat penting bagi generasi muda, bahwa calon dari independen juga mampu bersaing dengan calon yang diusung dari parpol. Dari keenam pasangan calon gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta, terdapat dua pasangan dari jalur independen yaitu pasangan Faisal Basri-Biem Benyamin dan Hendardji Soepanji-Ahmad Riza Patria. Faisal Basri mengungkapkan, munculnya calon independen akan meningkatkan kualitas Pemilukada DKI Jakarta. Faisal Basri populer sebagai pengamat ekonomi dan kerap mengkritisi kebijakan ekonomi pemerintah. Faisal menyelesaikan sarjana ekonominya dari Universtias Indonesia dan meraih gelar Master of Art dari Vanderbilt University, Nashville, Amerika Serikat tahun 1988. Sedangkan Hendardji Soepandji dikenal sebagai Ketua Umum Organisasasi Induk Karate se–Indonesia/ FORKI. FORKI pada SEA Games di Palembang beberapa waktu yang lalu mengukir prestasi luar biasa dengan menyumbangkan emas terbanyak bagi Indonesia. Strategi pemenangan yang diambil oleh calon independen Hendardji-Riza Patria adalah menjadikan seluruh pendukung sebagai

juru kampanye pemenangan. Rasa optimis itu terlihat dari pengumpulan suara dukungan yang dilakukan bukan asal sembarang KTP, melainkan ada surat pernyataan dari para pendukungnya. Artinya, dari dukungan sebanyak 419.416 orang yang telah resmi diverifikasi KPU, maka sebanyak itulah juru kampanye yang akan bergerak memenangkan pasangan tersebut. Sedangkan strategi untuk pemenangan Faisal-Biem, yaitu akan dibangun 1.000 posko pemenangan di tingkat kelurahan dan kecamatan di lima wilayah DKI Jakarta. Posko ini didirikan untuk meraih dukungan sebanyak mungkin dari warga melalui kelurahan dan kecamatan yang tersebar diseluruh wilayah Jakarta. Dana kampanye yang akan dilakukan telah siap dan dapat dipertanggungjawabkan secara transparan dan jujur. Saat ini, pihak pemenangan FaisalBiem mengumpulkan dana kampanye dari para pendukung minimal sebesar Rp 20 ribu dan mengklaim ribuan orang telah mentransfer ke rekening dana kampanyenya. Menurut Pengamat politik Charta Politica, Yunarto Wijaya, calon Gubernur dari jalur independen jauh lebih cair dalam memaparkan visi dan misi program dalam debat calon Gubernur DKI Jakarta. Calon independen memiliki kelebihan dibanding dengan calon yang diusung partai politik. Calon independen pada saat memaparkan visi dan misi program jauh lebih cair dan tanpa beban, karena tidak ada beban dengan partai politik. Calon independen berbicara mengenai kebijakan tanpa takut siapa dan kepentingan mana yang akan tersinggung. Diharapkan, ketika salah satu calon independen

- 19 -

lolos dalam putaran kedua, calon independen bisa saling mendukung, sehingga idealisme yang independen itu bisa terwujud. Menurut pengamat politik Ari Junaedi, calon gubernur dari jalur independen bila terpilih akan mengalami rongrongan dari partai-partai politik di parlemen sehingga memerlukan penyelesaian dengan kompromi politis dan transaksi ekonomis. Itu artinya biaya politik gubernur dari jalur perseorangan atau independen lebih besar daripada gubernur dari jalur partai politik. Pengajuan APBD dari gubernur independen akan dirongrong parpol di parlemen yang ujung-ujungnya adalah kompromi politik dan transaksi ekonomi. Dua pasang bakal calon gubernur dan wakil gubernur di satu sisi menjadi alternatif, tetapi di sisi lain biaya politiknya terlalu besar bila kelak mereka terpilih, terutama ketika memperjuangkan program di DPRD. Lebih lanjut ditambahkannya, bahwa peserta dari jalur independen berpeluang menang bila strategi komunikasinya baik dan merawat jaringan suara di akar rumput. Ia mengatakan, di beberapa daerah, calon independen bisa memenangi pemilihan. Namun, ia mengingatkan lagi mengenai besarnya biaya politik jika mereka menang.

pasangan calon diharapkan mampu menjawab dan menyelesaikan berbagai permasalahan di ibukota. Munculnya calon independen dalam bursa gubernur DKI Jakarta menunjukkan perkembangan sistem demokrasi di Indonesia – meskipun di daerah lain sudah berlangsung pasca adanya Putusan MK serta di Aceh sejak 2006 lalu. Calon independen seolah mendobrak stigma partai politik selama ini yang menjadi kendaraan politik menuju tampuk kekuasaan dalam menjalankan pemerintahan. Memang tidak mudah untuk maju dalam dunia perpolitikan secara independen tanpa dukungan parpol. Terlebih jika berhasil menduduki kursi pemerintahan yang cenderung bersifat politis. Namun demikian, calon independen juga berpeluang kuat jika mempunyai strategi yang baik dalam memenangkan pemilukada.

Rujukan:

Penutup
Berbagai permasalahan di DKI Jakarta membutuhkan pemimpin yang handal. Pemilukada gubernur-wakil gubernur DKI Jakarta Tahun 2012 diharapkan mampu menghasilkan pemimpin handal. Banyaknya calon ke bursa Pemilukada DKI Jakarta 2012 menunjukkan sengitnya perebutan posisi strategis ibu kota negara sebagai pijakan menjelang pemilu 2014. Pasangan gubernur dan wakil gubernur yang terpilih hendaknya bisa membawa perubahan kepemimpinan di ibukota dengan lebih mengutamakan pembangunan yang memanusiakan warga serta menjadikan Jakarta yang nyaman sebagai rumah bersama bagi semua strata masyarakat. KPU Pusat terus memantau pelaksanaan tahapan Pemilukada DKI Jakarta hingga hari pelantikan gubernur terpilih. Menurut Ketua KPU, Husni Kamil Manik, Pemilukada DKI Jakarta harus berjalan sangat baik, jujur, dan adil, karena akan menjadi barometer pemilukada di daerah lain pada tahun 2014. Para kandidat cagub dan cawagub harus memberikan pendewasaan politik kepada masyarakat. Berbagai visi dan misi

1. Pilkada DKI Jakarta 2012, http://beritama. com/gubernur-dki/ diakses 21 Mei 2012. 2. Inilah 14 Calon Gubernur DKI Jakarta 2012, http://kampungtki.com/baca/29666, diakses 21 Mei 2012. 3. Ketua KPU Pilkada DKI Barometer Pemilu 2014, http://pilkadadki2012.com/beritaterbaru/ketua-kpu-pilkada-dki-barometerpemilu-2014.html, diakses 21 Mei 2012. 4. Propeda DKI Jakarta Bab 3, http://www. bappedajakarta.go.id/download/propeda/ Propeda_BAB3.pdf, diakses 21 Mei 2012. 5. Inilah Masalah Utama DKI Jakarta, http://infografis.kompas.com/ read/2012/04/27/224049/Inilah.Masalah. Utama.DKI.Jakarta luhur 27-04-2012, diakses 21 Mei 2012. 6. Ini Visi Misi 5 Cagub DKI Jakarta, h t t p : / / w w w. t e m p o . c o / r e a d / news/2012/04/30/228400590/Ini-VisiMisi-5-Cagub-DKI-Jakarta, diakses 21 Mei 2012. 7. Dua Calon Independen Ukir Sejarah Pemilukada DKI, http://www.beritasatu. c o m/ p i l k a d a -d k i / 4 7 6 4 3 -d u a -c al o n independen-ukir-sejarah-pemilukada-dki. html, diakses 21 Mei 2012. 8. Pilkada DKI: Jokowi – Ahok Penantang Kuat Calon Independen Rawan Rongrongan Parpol, http://www.solopos.com/2012/ channel/nasional/pilkada-dki-jokowi-ahokpenantang-kuat-calon-independen-rawanrongrongan-parpol-173286, diakses 21 Mei 2012.

- 20 -

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->