P. 1
Muhammad SAW

Muhammad SAW

|Views: 4|Likes:

More info:

Categories:Types, School Work
Published by: Indah Putri Hartanti on Dec 07, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/13/2013

pdf

text

original

MUHAMMAD SAW DALAM MEMBINA UMAT PADA PERIODE MEKAH I.

RIWAYAT SINGKAT Muhammad SAW lahir di kota Mekkah pada Isnin, 12 Rabi’ul Awal, atau 20 April 570 M, dan wafat di Madinah pada 13 Rabi’ul Awal 11 H, atau 8 Juni 632 M. Masyarakat Arab ketika itu hidup berdasarkan kesukuan. Wilayahnya kebanyakan terdiri dari padang pasir dan stepa. Mayoritas penduduknya adalah suku-suku Badui yang mempunyai gaya hidup pedesaan padang pasir dan nomadik, berpindah-pindah dari satu daerah ke daerah lain untuk mencari air dan padang rumput bagi binatangbinatang gembala mereka. Sebagian lainnya adalah penduduk yang menetap di kotakota, seperti Mekah dan Madinah. Nabi Muhammad SAW merupakan seorang anak yatim sesudah ayahnya Abdullah bin Abdul Mutalib dan ibunya Aminah binti Wahab meninggal dunia. Beliau dibesarkan oleh pamannya yaitu Abu Thalib dan menikah pada umur 25 tahun dengan Siti Khadijah. II. NABI MUHAMMAD SEBAGAI RASUL Muhammad tak pernah ikut menyembah berhala, ia malah merasa gusar atas kehidupan masyarakatnya yang jahiliyah: menyembah berhala, meminum minuman keras, perang antar suku, judi, perzinaan merajalela dsb. Menjelang umur 40 tahun ia sering mengasingkan diri ke Gua Hira, sekitar 6 km dari Kota Mekah. Pada tanggal 17 Ramadhan / 6 Agustus 611, ia melihat cahaya terang benderang memenuhi ruang gua itu. Tiba-tiba suatu makhluk unik berada di depannya lalu memerintah: “Iqra” (bacalah). Nabi menjawab saya tak pandai membaca. Setelah tiga kali diulang, dan Muhammad menjawab serupa, makhluk unik yang kemudian diketahui sebagai Jibril itu memeluk Muhammad erat-erat, lalu menyampaikan Surat Al-Alaq ayat 1-5. Dakwah Nabi Muhammad SAW Beberapa minggu kemudian Jibril datang kembali dan menyampaikan wahyu QS Al-Muddatstsir ayat 1-7 yang memerintah Nabi untuk bangkit menyampaikan dakwah. Dengan turunnya Surah Al-Mudatstsir ayat 1-7 tersebut, mulailah Rasulullah SAW berdakwah. Pertama-tama, ia melakukannya secara diam-diam di lingkungan rumah dan keluarganya sendiri serta di kalangan rekan-rekannya. Dengan demikian, maka orang yang pertama kali menyambut dakwahnya adalah Khadijah, istrinya. Dialah wanita yang pertama kali masuk Islam. Menyusul setelah itu adalah Ali bin Abi Thalib, saudara sepupunya yang baru berumur 10 tahun. Dialah pemuda muslim pertama. Kemudian Abu Bakkar, sahabat karibnya sejak masa kanak-kanak. Ia merupakan pria dewasa yang pertama masuk Islam. Lalu menyusul Zaid bin Harisah, bekas budak yang telah menjadi anak angkatnya, dan Ummu Aiman, pengasuh Nabi Muhammad SAW sejak ibunya masih hidup. Abu Bakar sendiri kemudian berhasil mengislamkan beberapa teman dekatnya, seperti Usman bin Affan, Zubair bin Awwam, Abdur Rahman bin ‘Auf, Sa’d bin Abi Waqqas, dan Talhah bin Ubaidillah. Mereka diajak Abu Bakar langsung

menemui Nabi SAW sendiri. Dengan cara dakwah diam-diam ini, belasan orang telah masuk Islam. Selain dari yang tersebut di atas, maka dengan bantuan Siti Khadijah dan Abu Bakar Siddiq dari hari ke hari bertambahlah orang-orang yang masuk yang beriman kepada seruan beliau, baik dari pihak lelaki maupun perempuan. Orang beriman itu terbagi menjadi tiga golongan hartawan, golongan bangsawan, golongan hambasahaya dan orang-orang desa. Mereka berda’wah secara sembunyi-sembunyi lebih kurang selama tiga tahun memeluk dan mengikuti seruan Nabi Muhammad SAW. Apabila mereka hendak mengerjakan ibadah kepada Allah SWT, mereka harus pergi ke satu tempat yang jauh dari kota Mekkah seperti di celah-celah bukit, agar tidak diketahui oleh orang kafir. Mereka menyadari apabila dilihat oleh orang-orang kafir, mereka akan mendapat rintangan dan bahaya. Wahyu berikutnya adalah QS Al-Muzammil ayat 1-9. Wahyu-wahyu pertama sampai ketiga di atas turun dengan tema-tema yang sesuai dengan masa pemantapan, yaitu perintah: 1. Membaca (menuntut ilmu) 2. Menuntut ilmu atas dasar iman kepada Pencipta 3. Pentingnya alat mencari dan menyebarkan ilmu pengetahuan 4. Iqra’ (membaca), menulis, dan perlunya alat tulis (qalam) dan Nun (ada yang menafsirkan dengan tinta). 5. Sebelum adanya kewajiban shalat 5 waktu, telah ada perintah untuk Nabi shalat malam (tahajud) dan agar Nabi banyak membaca Al-Qur’an di waktu malam. 6. Keseimbangan antara memperbanyak ibadah (di waktu malam) dan bekerja keras (di siang hari) untuk kehidupan dan perjuangan di jalan Allah. Dakwah Secara Terang-terangan Setelah Islam semakin kuat pengikutnya semakin banyak, maka tak ada lagi alasan untuk secara sembunyi. Allah turunkan Surah Al-Hijr ayat 94 berbunyi: Pada waktu berikutnya Abu Lahab, selalu membuat kegaduhan yaitu menghasut orang Quraisy supaya memusuhi Nabi Muhammad SAW. Mereka mendatangi Abu Thalib, meminta agar Nabi Muhammad SAW berda’wah. Permintaan itu dilaksanakan oleh Abu Thalib, lalu Nabi menjawab, “Ya pamanku, andaikata diletakkan Matahari di tangan kananku dan Rembulan di tangan kiriku, aku tidak akan berhenti berda’wah”. Mulai saat itu, Abu Thalib tidak berani lagi melarang Nabi untuk berda’wah. Setelah usaha mereka gagal, orang Quraisy membawa seorang pemuda tampan kepada Abu Thalib, yang bernama Ammarah bin Al Walid bin Mughiroh, mereka seraya berkata, “Wahai Abu Thalib, ambillah ia menjadi anak saudara dan serahkan kepada kami Muhammad untuk kami bunuh sebab ia telah menentang kami dan memecah belah persatuan kami”. Usul kaum Quraisy tersebut dijawab oleh Abu Thalib, “Jahat benar pikiran kamu, demi Tuhan, sekali-kali tidak bisa”. Akhirnya tokoh-tokoh Quraisy bermufakat untuk memilih seorang yang fasih dan lancar untuk membujuk Rasulullah SAW. Utbah bin Rabi’ah pembicara ulung menghadap Nabi dan mengatakan, “Ya Muhammad apa sebenarnya maksudmu menyiarkan agama baru ini, jika engkau bermaksud mencari pengaruh, berhentilah kami akan mengangkatmu menjadi raja,

kami tidak akan memutuskan suatu perkara tanpa seijin engkau. Apabila engkau ingin wanita cantik, kami akan carikan untukmu, atau barangkali engkau sakit, biarlah kami yang mengobati dengan kami sendiri, asalkan engkau berhenti da’wah”. Setelah Utbah bin Rabi’ah selesai bicara lalu ia diam dan penuh harap supaya Nabi menerima tawaran itu. Setelah itu Nabi membacakan beberapa ayat Al-Qur’an. Hati dan jiwa Utbah spontan menjadi lemah karena ayat Al-Qur’an yang gaya bahasanya sangat indah. Ia tidak berkata apa-apa lalu pulang dengan perasaan hampa dan kecewa, pada saat lain Utbah datang lagi untuk membujuk Nabi agar mau bergantian dalam peribadatan, sekali menyembah Allah, sekali menyembah berhala, maka turunlah Surah Al-Kafirun ayat 1-6. Aksi-Aksi Menentang Dakwah Nabi SAW Reaksi-reaksi keras yang menentang dakwah Nabi SAW bermunculan. Namun, usaha-usaha dakwahnya tetap dilanjutkan terus tanpa mengenal lelah, sehingga hasilnya mulai nyata. Jumlah pengikut Nabi SAW yang tadinya hanya belasan orang, makin hari makin bertambah. Hampir setiap hari ada yang menggabungkan diri ke dalam barisan pemeluk Islam. Mereka terutama terdiri dari kaum wanita, kaum budak, pekerja, dan orang-orang miskin serta lemah, namun semangat yang mendorong mereka beriman sangat membaja. Tantangan yang paling keras terhadap dakwah Nabi SAW adalah yang datang dari para penguasa dan pengusaha Mekah, kaum feodal, dan para pemilik budak. Mereka ingin mempertahankan tradisi lama, di samping juga khawatir jika struktur masyarakat dan kepentingan-kepentingan mereka akan tergoyahkan langsung oleh ajaran Nabi Muhamman SAW yang menekankan keadilan sosial dan persamaan derajat. Mereka menyusun siasat untuk dapat melepaskan hubungan antara Abu Talib dan Nabi Muhammad SAW. Mereka meminta agar Abu Talib memilih satu di antara dua: memerintahkan Muhammad SAW agar berhenti dari dakwah atau menyerahkan kepada mereka. Abu Talib terpengaruh dengan ancaman tersebut dan dia minta agar Nabi Muhammad SAW menghentikan dakwahnya. Tetapi Nabi Muhammad menolak permintaannya. Nabi Muhammad SAW berkata: “Demi Allah, saya tidak akan berhenti memperjuangkan amanat Allah ini, walaupun seluruh anggota keluarga dan sanak saudara mengucilkan saya.” Mendengar jawaban kemenakannya itu, Abu Talib kemudian berkata: “teruskanlah, demi Allah aku akan terus membelamu.” Peristiwa Isra’ Mikraj Pada tahun ke-10 kenabian, Allah SWT memperjalankan nabi SAW pada malam hari (isra) dari Masjidilharam ke Masjidilaqsha di Yerusalem dan kemudian membawa Nabi SAW naik (mi’raj) ke langit untuk menghadap Allah SWT di Sidratulmuntaha. Peristiwa luar biasa yang dikaruniakan Allah SWT merupakan penawar kesedihan Nabi, dan memperteguh tekad, dan keyakinan Nabi. Dalam kesempatan mikraj itulah Allah SWT menurunkan kewajiban salat lima waktu. Berita tentang isra’ mi’raj itu telah menggemparkan masyarakat Mekah. Bagi orang-orang kafir, ia dijadikan bahan propaganda untuk mendustakan Nabi SAW.

III. HIKMAH SEJARAH DAKWAH PERIODE MEKAH Dari sekian panjang perjalanan dan perjuangan Rasul untuk menegakkan Islam, dapat diambil hikmah: • Menyadari bahwa keuletan dan kesabaran dalam menegakkan agama Allah akan mendapatkan pertolongan dari Allah. • Menyadari bahwa tugas Rasul hanya sekedar menyampaikan perintah Allah dan tidak dapat memberikan hidayah, meskipun ke keluarga terdekat sekalipun. • Meneladani sikap Nabi Muhammad yang tegar dan kukuh dalam melakukan tugasnya walaupun dalam kondisi dan memiliki banyak rintangan. • Berbuat baik akan mendapat cobaan dari Allah untuk menambah iman kita.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->