Jurnal Kedokteran Hewan ISSN : 1978-225X

Fakhrurrazi dan Azhari

PENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK JAHE (Zingiber officinale) TERHADAP GAMBARAN TITER ANTIBODI AYAM SETELAH DITANTANG DENGAN VIRUS AVIAN INFLUENZA
The Influence of Ginger Extract (Zingiber officinale) to Antibody Titer Examination of Chickens After Challenged with Avian Influenza Virus Fakhrurrazi1 dan Azhari2
2

Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh Laboratorium Kesehatan Masyarakat Veteriner Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh E-mail: fakhrurrazi_fkh@yahoo.com

1

ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan mengetahui respon antibodi ayam kampung (buras), ayam petelur (layer), dan ayam pedaging (broiler) yang diberikan ekstrak jahe (Zingiber officinale) setelah ditantang dengan virus Avian Influenza (AI). Dalam percobaan ini digunakan 90 ekor ayam yang terdiri atas 30 ayam kampung, 30 ayam petelur, dan 30 ayam pedaging. Masing-masing jenis ayam dibagi menjadi 3 (tiga) kelompok perlakuan yaitu kelompok I kontrol positif (5 ekor), kelompok II kontrol negatif (5 ekor), dan kelompok III diberikan ekstrak jahe (20 ekor). Pemberian ekstrak jahe dilakukan selama 7 hari berturut-turut (pagi, siang, dan sore) hari. Kelompok kontrol positif dan kontrol negatif hanya diberikan pakan dan air minum saja. Pada hari ke-10 semua ayam kelompok perlakuan dan kontrol positif ditantang dengan virus Avian influenza isolat lokal (isolat Aceh) dosis 0,1 cc/ekor secara oral (o.r) dan pada hari ke-13 kelompok ayam yang hidup diambil serum antibodi dan dilakukan uji hambatan hemaglutinasi (HI test). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ayam kelompok kontrol positif semuanya mati sedangkan kelompok perlakuan, 15 ekor (75%) ayam kampung, 13 ekor (65%) ayam petelur, dan 18 ekor (90%) ayam pedaging semuanya hidup. Respon antibodi mampu menghambat hemaglutinasi dengan titer (23– 27) pada ayam kampung, (23–26) pada ayam petelur, dan (25–27) pada ayam pedaging dibandingkan dengan ayam kelompok kontrol negatif dengan titer hambatan hemaglutinasi 0 (nol).
____________________________________________________________________________________________________

Kata kunci: AI, ekstrak jahe, ayam

ABSTRACT
A study to observe antibody response of native chicken, layer, and broiler treated with ginger extract after challeged with avian influenza virus was conducted using haemaglutination inhibition test (HI tes). Each groups consisted of 30 chickens, 20 chicken were treated with ginger extract (treated group) with the dose of 1 ml/chickens for 7 days, three time a day (morning, noon, and afternoon), 5 chickens were not treated and used as positive and negative control. At day 10 th, all chickens from treated and positive control groups were challenged with avian influenza virus local isolates (Aceh's isolate) at 0,1 cc/chickens per oral. The result showed that chickens from positive control group were all death. On the otherhand, 15 native chickens (75%), 13 layer chickens (65%) and 18 broiler (90%) all were survived. Antibody response are able to inhibit the hemaglutination at titer of (23–27) of native chickens (23–26) of layer chickens and (25–27) of broiler chickens as compared to chicken in control negative group with hemaglutination inhibition titer 0 (zero).
_____________________________________________________________________________________________________

Keywords: AI, ginger extract, chicken

PENDAHULUAN Jahe (Zingiber officinale) merupakan salah satu obat tradisional yang mempunyai berbagai manfaat. Bahan bioaktif senyawa fenolik dalam bentuk gingerol dan shogaol yang terkandung di dalam jahe mempunyai efek sebagai antibakterial dan antiviral (Nursal et al., 2006). Gingerol dan shogaol sebagai antioksidan yang terkandung dalam jahe melebihi aktivitas antioksidan vitamin E (Zakaria, 2009). Bahan bioaktif lain yang terkandung dalam jahe dari 19 komponen antara lain adalah flavonoid, fenol, terpenoid, dan minyak atsiri (Benjelalai, 1984).

Komponen gingerol dan shogaol berfungsi sebagai peningkatan sel natural killer (NK). Sel NK adalah sel imun yang fungsinya sebagai pembasmi virus yang telah berhasil masuk ke dalam tubuh (Suyatno, 2009; Zakaria, 2009). Jahe dalam bentuk rimpang digunakan sebagai obat peningkat nafsu makan, percernaan kurang baik, peluruh keringat, kepala pusing, encok, nyeri pinggang, batuk kering, gatal-gatal, kolera, difteri, masuk angin, perut mulas, luka infeksi, bengkak-bengkak, lemah urat syaraf, muntah-muntah dan influenza, sedang daunnya digunakan sebagai obat tinja berdarah dan berlendir (Supriadi, 2001; Siswoyo et al., 2006). 33

Jurnal Kedokteran Hewan

Vol. 5 No. 1, Maret 2011

Mengingat potensi tanaman jahe (Zingiber officinale) sebagai antiviral, maka diperlukan pendekatan baru untuk mencegah atau memberantas penyakit Avian influenza (AI) pada ayam. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui respon antibodi ayam yang diberikan ekstrak jahe setelah ditantang dengan virus AI isolat lokal (isolat Aceh). MATERI DAN METODE Isolasi Virus Avian Influenza Isolasi virus Avian Influenza dikerjakan berdasarkan metode Beard disitasi Wibowo et al. (2006). Organ trakhea dan paru-paru berasal dari ayam sakit dengan gejala klinis tersifat penyakit AI digerus dengan menggunakan lumpang dan mortil steril. Gerusan ditampung dalam tabung sentrifugasi berisi posphat buffer saline (PBS) steril, disentrifus dengan kecepatan 3000 rpm selama 15 menit. Supernatan diambil, ke dalam supernatan tersebut ditambahkan antijamur dan antibiotika, kemudian diinkubasikan pada sahu kamar selama 2 jam. Konfirmasi adanya kontaminasi bakteri dan jamur dengan menanam pada perbenihan bakteri menggunakan plat agar darah. Isolat yang bebas dari kontaminasi kemudian diisolasi dan dipropagasi menggunakan telur ayam berembrio. Pembuatan Ekstrak Jahe Umbi jahe dicuci dan dipotong tipis-tipis, kemudian dikeringkan sampai rapuh. Umbi jahe yang kering selanjutnya diblender menjadi serbuk. Serbuk jahe dimaserasi menggunakan etanol 70%. Ekstrak disaring menggunakan kapas dan kertas saring, kemudian filtrasi yang diperoleh dikumpul dan diuapkan menggunakan alat penguap (rotary evaporator) yang dilengkapi penangas air dan pompa vakum. Selanjutnya ekstrak kasar jahe ini difiksasi dengan menggunakan larutan heksan. Pembuatan fraksi heksan dilakukan sebagai berikut yaitu ekstrak etanol 70% yang telah dikeringkan dilarutkan kembali dengan etanol 50% secara perlahan-lahan dalam Erlenmeyer. Untuk homogenitas kelarutannya dibantu dengan cara pemanasan pada suhu 60 °C. Setelah ekstrak larut secara homogen, dimasukkan ke dalam corong pemisah dan ditambahkan larutan heksan dilakukan berkalikali sampai terlihat larutan heksan bening. Kemudian hasil pemisahan larutan heksan yang diperoleh diuapkan (dikentalkan) dengan menggunakan rotary evaporator berpompa vakum. Temperatur penangas ditetapkan pada suhu 55 °C. Untuk memudahkan kelarutan suspensi ekstrak jahe fraksi heksan, dilakukan
34

penambahan bahan emulsifikasi karboksil metil selulosa (CMC) 1% dan suspensi ekstrak jahe tersebut siap digunakan. Pemberian Ekstrak Jahe Dalam percobaan ini masing-masing digunakan 30 ayam kampung (Buras), 30 ayam petelur (Layer), dan 30 ayam pedaging (Broiler). Masing-masing jenis ayam dibagi menjadi 3 (tiga) kelompok perlakukan yaitu kelompok I kontrol positif (5 ekor), kelompok II kontrol negatif (5 ekor), dan kelompok III diberikan ekstrak jahe (20 ekor). Pemberian ektrak jahe dilakukan secara oral dengan cara pencekokan menggunakan sonde (spuit). Pemberian ekstrak jahe dilakukan selama 7 hari berturut-turut (pagi, siang, dan sore). Pada ayam kontrol positif dan negatif hanya diberikan pakan dan air minum saja. Uji Tantang Pada hari ke-10 semua ayam kelompok perlakuan dan kontrol positif ditantang dengan virus AI isolat lokal (isolat Aceh) dosis 0,1 cc/ekor secara oral. Pada hari ke-13 kelompok ayam yang hidup diambil serum antibodi dan dilakukan uji hambatan hemaglutinasi (HI test). Pengukuran Titer Antibodi dan Protektivitas Ayam Pengukuran titer antibodi dan protektivitas ayam dilakukan 3 hari (hari ke-13) setelah uji tantang yaitu ayam diamati terhadap munculnya gejala klinis AI. Serum diambil dari ayam yang hidup dan diukur titer antibodinya. Untuk menentukan adanya proteksi apabila ayam yang ditantang tidak memperlihatkan gejala klinis AI. Pengukuran titer antibodi dilakukan dengan uji hambatan hemaglutinasi (HI) yaitu serum yang telah diuji hemaglutinasi (HA) dilanjutkan dengan uji HI dengan menggunakan serum anti virus AI subtype H5NI. Timbulnya penghambat terhadap aktivitas hemaglutinasi oleh serum anti spesifik dari virus yang diuji memungkinkan penentuan titer antibodi. Prosedur uji HI yaitu sebanyak 25 µl PBS dimasukkan ke dalam sumuran plat mikro kemudian ditambahkan dengan 25 µl serum yang diuji dan dicampurkan homogen. Selanjutnya ditambahkan 25 µl antigen AI 4 HA dan dihomogenkan selama 3 menit dengan menggunakan stirrer, diinkubasikan pada suhu ruangan selama 15-30 menit. Sebanyak 25 µl suspensi eritrosit ayam 1% ditambahkan, dikocok dengan cara diggoyang-goyang selama 3 menit dan diinkubasikan pada suhu ruangan selama 30-40 menit. Pembacaan hasil uji dapat dilakukan apabila eritrosit pada tabung kontrol telah mengendap ke dasar tabung.

Jurnal Kedokteran Hewan

Fakhrurrazi dan Azhari

Analisis Data Data jumlah kematian ayam kelompok perlakuan dan kelompok kontrol positif serta titer hambatan hemaglutinasi pasca pemberian serbuk jahe setelah uji tantang dengan virus AI isolat lokal (isolat Aceh) dianalisis secara deskriptif. HASIL DAN PEMBAHASAN

Uji Protektivitas Hasil uji protektivitas ekstrak jahe pada masing-masing kelompok perlakuan pasca pemberian ekstrak jahe dan uji tantang dengan virus AI isolat lokal (isolat Aceh) disajikan pada Tabel 1. Kelompok ayam (kelompok perlakuan) yang memperoleh ekstrak jahe memiliki daya proteksi 75% (ayam kampung), 65% (ayam petelur), dan 90% (ayam pedaging), sedangkan ayam (kelompok kontrol positif) yang memperoleh virus AI tanpa ekstrak jahe, proteksinya masing-masing 0%. Ayam Uji Hambatan Hemaglutinasi (HI test) (kelompok kontrol negatif) tanpa memperoleh Uji hambatan hemaglutinasi setelah uji ekstrak jahe dan virus AI proteksinya 100%. tantang (post-cahalenge) pada semua Persentase protektivitas tinggi terjadi pada kelompok ayam disajikan pada Tabel 2. ayam pedaging, dibandingkan persentase pada Hasil uji serologis setelah uji tantang ayam kampung dan ayam petelur. Adanya memperlihatkan titer hambatan hemaglutinasi protektivitas pada masing-masing kelompok (HI) terendah 23 dan tertinggi 27 untuk semua ayam berhubungan dengan peranan senyawa kelompok ayam. Hal ini berarti bahwa sebagian bioaktif ekstrak jahe. Senyawa fenolik dalam kelompok ayam mengandung titer antibodi bentuk gingerol dan shogaol mempunyai yang rendah dan tinggi (Gambar 1). aktivitas antioksidan dan antiviral yang tinggi. Kelompok ayam dapat dinyatakan Di samping itu ekstrak jahe dapat meningkatkan protektif terhadap penyaki AI, jika memiliki kemampuan pertumbuhan sel imun. Hal ini titer antibodi HI serendah-rendahnya 4 (log2). telah dibuktikan pada tikus yang diberi ekstrak Selama pengamatan terhadap ayam-ayam yang jahe selama 7 hari berturut-turut menunjukkan hidup dari semua kelompok memperlihatkan adanya peningkatan pertumbuhan sel imun gejala sianosis pada jengger dan pembengkakan yang signifikan (Zakaria, 2009). pada daerah muka. Hal ini terlihat pada Adanya protektivitas pada ayam yang kelompok ayam petelur namun ayam sembuh mendapatkan ekstrak jahe kemungkinan kembali setelah beberapa hari dipelihara. berhubungan dengan munculnya pertumbuhan sel imun yang disebut natural killer (NK). Sel Tabel 1. Daya protektivitas ayam yang masing-masing memperoleh ekstrak jahe setelah uji tantang dengan virus AI isolat lokal (isolat Aceh) No
1.

sel imun yang disebut natural killer (NK). Sel imun ini memiliki potensial tinggi yang mampu menghancurkan sel-sel tubuh yang terinfeksi virus AI sehingga virus ikut mati. Di samping itu sel NK juga berperan menghancurkan virusvirus yang telah mengalami mutasi genetik (Zakaria, 2009). Sel NK disebut juga large granular lymphocyt (LGL) yang berfungsi dalam imunitas nonspesifik. Menimbulkan lisis langsung pada virus AI melalui sekresi interferong (IFN-g NK tidak mengekspresikan ). Sel reseptor permukaan seperti imuglobulin atau T cell receptor (Bratawidjaya, 2006). Kegagalan protektivitas (ayam mati) pada masing-masing kelompok ayam yang mendapat ekstrak jahe setelah ditantang dengan virus AI menunjukkan bahwa kemungkinan ada hubungannya dengan kondisi fisiologis ayam. Pada kondisi fisiologis ayam yang buruk, terjadi penurunan sel NK sehingga akan mempengaruhi produksi IFN-g ekspresi IFN-g , maka menjadi lebih sedikit (Bosch et al., 2005).

Jenis Ayam
Ayam kampung (Buras)

Kelompok
Perlakuan Kontrol positif Kontrol negatif Perlakuan Kontrol positif Kontrol negatif Perlakuan Kontrol positif Kontrol negatif

2.

Ayam petelur (Layer)

3.

Ayam pedaging (Broiler)

Jumlah Ayam (ekor) 20 5 5 20 5 5 20 5 5

Protektivitas (%) Hidup Mati 75 25 0 100 100 0 65 35 0 100 100 0 90 10 0 100 100 0 35

Jurnal Kedokteran Hewan

Vol. 5 No. 1, Maret 2011

Tabel 2. Hasil pemeriksaan serum antibodi berdasarkan titer hambatan hemaglutinasi (HI) (log 2) setelah kelompok ayam ditantang dengan virus Avian Influenza
No 1 2 3 4 5 6 Jenis Ayam A. Kmp (P) Kontrol + Kontrol A. Ptl (P) Kontrol + Kontrol Jumlah sampel 15 5 5 13 5 5 Titer HI (log 2) ayam nomor 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 5 5 3 6 7 4 7 6 5 Ayam mati 0 0 0 0 0 7 7 6 6 5 7

3 6 4 5 5 5 4 5 5 3 6 Ayam mati 0 0 0 0 0

4 5

7 Pdg (P) 18 7 6 6 6 7 6 6 6 7 7 7 6 5 5 5 6 7 7 8 Kontrol + 5 Ayam mati 9 Kontrol 5 0 0 0 0 0 Keterangan: A. Kmp (P) = ayam kampung (perlakuan), A. Ptl (P)= ayam petelur (perlakuan), A. Pdg (P)= ayam pedaging (perlakuan)

Dari gejala klinis yang muncul dapat dipastikan bahwa gejala tersebut disebabkan oleh adanya proteksi yang rendah setelah ditantang dengan virus AI. Persentase kematian ayam dari semua kelompok tergolong rendah pada ayam yang mendapatkan ekstrak jahe dibandingkan dengan kelompok kontrol positif. Pada kelompok kontrol positif ayam setelah ditantang dengan virus AI ayam menjadi lesu, sianosis pada jengger dan pial, pembengkakan daerah muka dan kepala, ngorok, dan diare. Gejala tersebut diikuti oleh gejala syaraf dan akhirnya semua ayam dari kelompok kontrol positif mati. Munculnya protektivitas ayam berdasarkan uji HI yang dilakukan menunjukkan adanya kekebalan humoral virus AI terhadap antigen permukaan hemaglutinin (H) dan neuraminidase (N) yang terdapat dalam selaput lendir (Vignuzzi et al., 2001). Hal ini dapat menjelaskan ayam-ayam yang mendapatkan ekstrak jahe dengan titer HI rendah, tetapi ayam tersebut tetap kebal atau protektivitas terhadap tantangan infeksi virus AI (Heinen et al., 2000).

protektivitas terhadap tantangan infeksi virus AI (Heinen et al., 2000). Pada uji tantangan terlihat bahwa kelompok ayam yang diberikan ekstrak jahe memiliki daya protektivitas tinggi dibandingkan dengan kelompok ayam yang tidak diberikan ekstrak jahe. Semua ayam yang mati dari uji ini memperlihatkan kelainan pasca mati berupa sianosis pada jengger dan pial, titik pendarahan (ptechie) pada kaki, udema pada kaki dan pendarahan pada bawah kulit (subkutan) disertai pendarahan pada daerah dada. Perubahan tersebut merupakan bagian dari ciri khas infeksi AI. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian, disimpulkan bahwa pemberian ekstrak jahe setelah ditantang dengan virus AI berhasil meningkatkan respon antibodi dengan protektivitas ayam kampung , ayam petelur, dan ayam pedaging.

Gambar 1. Titer antibodi kelompok ayam yang diberikan ektsrak jahe setelah ditantang dengan virus AI isolat lokal (isolat Aceh) 36

Jurnal Kedokteran Hewan

Fakhrurrazi dan Azhari

DAFTAR PUSTAKA Baratawidjaya, K.G. 2006. Imunologi Dasar. 7th. ed. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta. Benjelalai. 1984. Pengantar Ilmu Pangan; Nutrisi dan Mikrobiologi. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta. Bosch, K., M. Pfeiffer, and S. Steinhauer. 2005. Influenza a virus: Inhibition of release of lentivirus particle with incoporated influenza virus haemaglutinin by binding to sialic acid containing celluler receptor. J. General Virology. 29:2485-2494. Heinen, K.S., L. de-Boer-Luijtze, and F. Bianchi, 2000. Influenza A virus: respiratory and systemic humoral and cellular immune responses of pig to a heterosubtypic infection. J. General Virology. 29:2475-2484. Nursal, S. Wulandari, dan W.S. Juwita. 2006. Bioaktivitas ekstrak jahe (Zingiber officinale Roxb.) dalam menghambat pertumbuhan koloni bakteri Escherichia coli dan Bacillus subtilis. J. Biogenesis. 2(2): 46-52.

Siswoyo, A.M. Erval, dan Zohud. 2006. Tumbuhan Obat. Prospek Ekonomi Hasil Hutan Non Kayu Nanggroe Aceh Darussalam. Satuan Kerja Sementara Kehutanan BRR NAD-Nias. Supriadi. 2001. Tumbuhan Obat Indonesia. Penggunaan dan Khasiatnya. Penerbit Populer Obor, Padang. Suyatno, N. 2009. Manfaat Jahe. http:/spmabogor websitetelp=8. Vignuzzi, N.N., G.C. Gerebaud, V.D. Werf , and F. Escriou. 2001. Influenza a virus: Generation of cytotoxsic T-cell respon againt the nucleoprotein by naked RNA immunization with replicons derived from the poliovirus and Semliki Forest virus genomes. J. General Virology. 19:1737-1747. Wibowo, M.H, W. Asamara, dan C.R. Tabbu. 2006. Isolasi dan identifikasi serologis Avian Influenza dari sampel unggas yang diperoleh di DI Yogyakarta dan Jawa Tengah. Jurnal Sain Veteriner 24(2):77-83. Zakaria, F.R. 2009. Jahe Berpotensi Mencegah Virus. //localhost/D:/Dokumen/Jahe2htm.

37

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful