ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN FRAKTUR CRURIS

I. PENGERTIAN

Feb 17, '10 10:02 PM untuk semuanya

Fraktur cruris adalah terputusnya kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai jenis dan luasnya, terjadi pada tulang tibia dan fibula. Fraktur terjadi jika tulang dikenao stress yang lebih besar dari yang dapat diabsorbsinya. (Brunner & Suddart, 2000) II. JENIS FRAKTUR a. Fraktur komplet : patah pada seluruh garis tengah tulang dan biasanya mengalami pergeseran. b. Fraktur tidak komplet: patah hanya pada sebagian dari garis tengah tulang c. Fraktur tertutup: fraktur tapi tidak menyebabkan robeknya kulit d. Fraktur terbuka: fraktur dengan luka pada kulit atau membran mukosa sampai ke patahan tulang. e. Greenstick: fraktur dimana salah satu sisi tulang patah,sedang sisi lainnya membengkak. f. Transversal: fraktur sepanjang garis tengah tulang g. Kominutif: fraktur dengan tulang pecah menjadi beberapa frakmen h. Depresi: fraktur dengan fragmen patahan terdorong ke dalam i. Kompresi: Fraktur dimana tulang mengalami kompresi (terjadi pada tulang belakang) j. Patologik: fraktur yang terjadi pada daerah tulang oleh ligamen atau tendo pada daerah perlekatannnya. III. ETIOLOGI a. Trauma b. Gerakan pintir mendadak c. Kontraksi otot ekstem d. Keadaan patologis : osteoporosis, neoplasma

perabaan gerakan) dipantau ? Latihan isometrik dan setting otot diusahakan untuk meminimalakan atrofi disuse dan meningkatkan peredaran darah VIII. PENGKAJIAN 1. takikardi. MANIFESTASI KLINIS a. hipotensi terjadi pada tahap lanjut. b. Reduksi fraktur terbuka atau tertutup : tindakan manipulasi fragmen-fragmen tulang yang patah sedapat mungkin untuk kembali seperti letak semula. PENATALAKSANAAN a. Kreatinin : trauma otot meningkatkanbeban kreatinin untuk klirens ginjal VII. kulit dan membran mukosa pucat. KOMPLIKASI a. Pembengkakan dan perubahan warna lokal pada kulit VI. nyeri. disritmia. dingin.Circulation TD dapat normal atau meningkat . suara nafas terdengar ronchi /aspirasi . dan edema b. sianosis pada tahap lanjut 2. Nyeri terus menerus dan bertambah beratnya samapi fragmen tulang diimobilisasi.Airway Adanya sumbatan/obstruksi jalan napas oleh adanya penumpukan sekret akibat kelemahan reflek batuk . Krepitasi akibat gesekan antara fragmen satu dengan lainnya e. bunyi jantung normal pada tahap dini. Imobilisasi fraktur Dapat dilakukan dengan fiksasi eksterna atau interna c. c. Pemeriksaan foto radiologi dari fraktur : menentukan lokasi. hematoma. b. Pengkajian sekunder a. Arteriografi : dilakukan bila kerusakan vaskuler dicurigai d. PEMERIKSAAN PENUNJANG a. Mempertahankan dan mengembalikan fungsi ? Reduksi dan imobilisasi harus dipertahankan sesuai kebutuhan ? Pemberian analgetik untuk mengerangi nyeri ? Status neurovaskuler (misal: peredarandarah. Pengkajian primer . Delayed union : proses penyembuhan yang terus berjlan tetapi dengan kecepatan yang lebih lambat dari keadaan normal. timbulnya pernapasan yang sulit dan / atau tak teratur.V. Non union : tulang yang tidak menyambung kembali IX.Breathing Kelemahan menelan/ batuk/ melindungi jalan napas. Terjadi pemendekan tulang yang sebenarnya karena kontraksi otot yang melekat diatas dan dibawah tempat fraktur d. Deformitas karena adanya pergeseran fragmen tulang yang patah c.Aktivitas/istirahat ? kehilangan fungsi pada bagian yangterkena ? Keterbatasan mobilitas b. Pemeriksaan jumlah darah lengkap c. Malunion : tulang patah telahsembuh dalam posisi yang tidak seharusnya. Sirkulasi ? Hipertensi ( kadang terlihat sebagai respon nyeri/ansietas) . luasnya b.

krepitasi. Pertahankan tirah baring dalam posisi yang diprogramkan b. Berikan dorongan ada pasien untuk melakukan AKS dalam lngkup keterbatasan dan beri bantuan sesuai kebutuhan’Awasi teanan daraaah. Kaji ulang lokasi. Kolabirasi fisioterai/okuasi terapi b.d cedera jaringan sekitasr fraktur. pemendekan ? kelemahan d. kerusakan rangka neuromuskuler Tujuan : kerusakn mobilitas fisik dapat berkurang setelah dilakukan tindakan keperaawatan Kriteria hasil: ? Meningkatkan mobilitas pada tingkat paling tinggi yang mungkin ? Mempertahankan posisi fungsinal ? Meningkaatkan kekuatan /fungsi yang sakit ? Menunjukkan tehnik mampu melakukan aktivitas Intervensi: a. intensitas dan tpe nyeri b. Neurosensori ? Kesemutan ? Deformitas. Beri penyangga pada ekstrimit yang sakit diatas dandibawah fraktur ketika bergerak e. nyeri berkurang setelah dilakukan tindakan perawatan Kriteria hasil: ? Klien menyatajkan nyei berkurang ? Tampak rileks. Tinggikan ekstrimutas yang sakit c. Jelaskan pandangan dan keterbatasan dalam aktivitas f. pergeseran fragmen tulang Tujuan . Keamanan ? laserasi kulit ? perdarahan ? perubahan warna ? pembengkakan lokal X.? Hipotensi ( respon terhadap kehilangan darah) ? Tachikardi ? Penurunan nadi pada bagiian distal yang cidera ? Cailary refil melambat ? Pucat pada bagian yang terkena ? Masa hematoma pada sisi cedera c. Berikan lingkungan yang tenang dan berikan dorongan untuk melakukan aktivitas hiburan d. DIAGNOSA KEPERAWATAN DAN INTERVENSI a. Ganti posisi dengan bantuan bila ditoleransi . nadi dengan melakukan aktivitas g. Pertahankan imobilisasi bagian yang sakit dengan tirah baring c. Kenyamanan ? nyeri tiba-tiba saat cidera ? spasme/ kram otot e.Nyeri b. mampu berpartisipasi dalam aktivitas/tidur/istirahat dengan tepat ? Tekanan darahnormal ? Tidak ada eningkatan nadi dan RR Intervensi: a.d spasme tot . Instruksikan klien/bantu dalam latian rentanng gerak pada ekstrimitas yang sakit dan tak sakit d. Ubah psisi secara periodik h. Kerusakan mobilitas fisik b.

Edisi V. dengan sering pada patah tulang yang menonjol d. Tucker. Jakarta. latihan nafas dalam. EGC . Rencana Asuhan Keperawatan. Edisi 4. Vol 3. Lakukan perawatan kulit. Kerusakan integritas jaringan b. Gunakan tenaat tidur busa atau kasur udara sesuai indikasi h. A (1994). Drong menggunakan tehnik manajemen stress. Kolaborasi : pemberian analgetik C. Price Sylvia. Akukan danawasi latihan rentang gerak pasif/aktif g. Edisi 8. Kolaborasi emberian antibiotik. Jakarta.d fraktur terbuka . EGC 4. Monitor suhu tubuh c. sentuhan h. (1993). Jilid 2 . Jakarta. C (1997). E. Buku Ajar Medikal Bedah. Masage kulit ssekitar akhir gips dengan alkohol g. Smeltzer Suzanne. Pertahankan sprei tempat tidur tetap kering dan bebas kerutan f. integritas kulit baik Intervensi: a.e.Susan Martin (1993). Brunner & Suddart. Observasi tanda-tanda vital i. EGC 2. DAFTAR PUSTAKA 1. pertahankan kesejajaran tubuh e. Vol 3. imajinasi visualisasi. Jelaskanprosedu sebelum memulai f. Jakarta. Kaji ulang integritas luka dan observasi terhadap tanda infeksi atau drainae b. EGC 3. contoh : relasksasi. bedah perbaikan Tujuan: kerusakan integritas jaringan dapat diatasi setelah tindakan perawatan Kriteria hasil: ? Penyembuhan luka sesuai waktu ? Tidak ada laserasi. Donges Marilynn. Standar Perawatan Pasien. Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Lakukan alihposisi dengan sering. Edisi 3.