LAPORAN PRAKTIKUM TEKNOLOGI PRODUKSI TANAMAN KOMODITAS : CABAI MERAH BESAR

OLEH : TIFFANY RAHMA A SUSI SUSANTI ULIVIA RISTIANA ZHAMAMI DWI P : : : : 115040100111155 115040100111024 115040101111152 115040101111230

PROGAM STUDI : AGRIBISNIS KELAS : AD

UNIVERSITAS BRAWIJAYA FAKULTAS PERTANIAN JURUSAN BUDIDAYA PERTANIAN MALANG 2012

Lembar Persetujuan

Judul Laporan Nama dan NIM

: :

Praktikum Teknologi Produksi Tanaman Cabai Merah Besar Tiffany Rahma A Susi Susanti Ulivia Ristiana Zhamami Dwi P : : : : 115040100111155 115040100111024 115040101111152 115040101111230

Progam Studi

:

AGRIBISNIS

Menyetujui ,

Asisten Kelas,

Asisten Lapang,

Retno Tri Purnamasari

Kiki Puspitasari

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Cabai atau lombok (bahasa Jawa) adalah sayuran buah semusim yang termasuk dalam anggota genus Capsicum yang banyak diperlukan oleh masyarakat sebagai penyedap rasa masakan. Salah satu tanaman cabai yang banyak dibudidayakan di Indonesia adalah tanaman cabai merah. Cabai merah (Capsicum annuum L.) merupakan komoditas sayuran yang banyak digemari oleh masyarakat. Ciri dari jenis sayuran ini adalah rasanya yang pedas dan aromanya yang khas, sehingga bagi orang-orang tertentu dapat membangkitkan selera makan. Karena merupakan sayuran yang dikonsumsi setiap saat, maka cabai akan terus dibutuhkan dengan jumlah yang semakin meningkat seiring dengan pertumbuhan jumlah penduduk dan perekonomian nasional . Cabai merah mengandung berbagai macam senyawa yang berguna bagi kesehatan manusia. Kandungan vitamin dalam cabe adalah A dan C serta mengandung minyak atsiri, yang rasanya pedas dan memberikan kehangatan bila kita gunakan untuk rempahrempah.Cabai merah juga mengandung anti oksidan yang berfungsi untuk menjaga tubuh dari radikal bebas. Radikal bebas yaitu suatu keadaan dimana suatu molekul kehilangan atau kekeurangan elektron, sehingga elektron tersebut menjadi tidak stabil dan selalu berusaha mengambil elektron dari sel-sel tubuh kita yang lainnya. Kandungan terbesar anti oksidan dalam cabai terdapat pada cabai hijau. Cabai juga mengandung Lasparaginase dan Capsaicin yang berperan sebagai zat anti kanker . Cabai merah (Capsicum annum L.) banyak dibudidayakan oleh petani Indonesia selain karena manfaatnya bagi kesehatan juga karena cabai merah memiliki harga jual yang cukup tinggi. Beberapa penelitian menyatakan bahwa cabai menempati urutan paling atas diantara delapan belas jenis sayuran komersial yang dibudidayakan di Indonesia selama beberapa tahun teakhir ini. Oleh karena itu permintaan cabai merah cenderung meningkat tiap tahunnya. Kendala utama penyebab rendahnya produksi cabai skala nasional adalah keterbatasan teknologi budidaya yang dimiliki karena kurangnya informasi teknologi.Pada umumnya petani masih menggunakan benih lokal yang ditanam terus menerus serta masih banyak komponen teknologi pra-panen lainnya belum diterapkan secara tepat gunadalam hal pemupukan,pemeliharaan serta pengendalian .

1.2 Tujuan a) Untuk Mengetahui Klasifikasi dan Morfologi Tanaman Cabai Merah Besar b) Untuk Mengetahui Syarat Tumbuh Tanaman Cabai Merah Besar c) Untuk Mengetahui Teknik Budidaya Tanaman Cabai Merah Besar

BAB II TINJUAN PUSTAKA

2.1 Klasifikasi dan Morfologi 2.1.1 Klasifikasi Cabai Merah Kingdom : Plantae Subkingdom : Tracheobionta Superdivisi : Spermatophyta Divisi : Magnoliophyta Kelas : Magnoliopsida Subkelas : Asteridae Ordo : Solanales Famili : Solanaceae Genus : Capsicum Spesies : Capsicum annum L. (Anonymous a,2012) 2.1.2 Morfologi Merupakan tumbuhan perdu tegak, tinggi 1-2,5 m, batang berkayu, berbentuk silindris, percabangan simpodial, batang muda berambut halus berwarna hijau. arah tumbuh batang tegak lurus, arah tumbuh cabang condong ke atas. Daun tunggal, bertangkai silindris (panjangnya 0,5-2,5 cm), letak tersebar. Helaian daun bentuknya bulat telur, ujung runcing (acutus), pangkal membulat (obtusus), tepi rata, pertulangan menyirip, panjang 1,5-12 cm, Ulebar 1-5 cm, berwarna hijau. daging daun seperti kertas (papyraceus atau chartaceus) (Anonymousb,2012)

2.2 Syarat Tumbuh 2.2.1 Curah Hujan dan Kelembapan Curah hujan sangat berpengaruh terhadap keberhasilan produksi buah cabai. Curah hujan yang ideal untuk bertanam cabai adalah 1.000 mm/tahun. Curah hujan yang rendah menyebabkan tanaman kekeringan dan membutuhkan air untuk penyiraman. Sebaliknya, curah hujan yang tinggi bisa merusak tanaman cabai serta membuat lahan penanaman becek dan kelembapannya tinggi. Kelembapan yang cocok bagi tanaman cabai berkisar antara 70-80%, terutama saat pembentukan bunga dan buah. Kelembapan yang melebihi 80% memacu pertumbuhan cendawan yang berpotensi menyerang dan merusak tanaman. Sebaliknya, iklim yang kurang dari 70% membuat cabai kering dan mengganggu pertumbuhan generatifnya, terutama saat pembentukan bunga, penyerbukan, dan pembentukan buah.Temperatur yang baik minimal 160C, optimal 270C, dan maksimal 320C . 2.2.2. Jenis Tanah, pH Tanah, dan Ketinggian Lahan[

Cabai menyukai tanah yang gembur dan banyak mengandung unsur hara. Cabai tumbuh optimal di tanah regosol dan andosol. Penambahan bahan organik, seperti pupuk kandang dan kompos, saat pengolahan tanah atau sebelum penanaman dapat diaplikasikan untuk memperbaiki struktur tanah serta mengatasi tanah yang kurang subur atau miskin unsur hara. Sebaiknya, pilih lahan penanaman yang agak miring untuk menghindari genangan air. Namun, tingkat kemiringan lahan tidak lebih dari 25%. Lahan yang terlalu miring menyebabkan erosi dan hilangnya pupuk, karena tercuci oleh air hujan. Tanah yang terlalu datar harus dibuatkan saluran pembuangan air. Kadar keasaman (pH) tanah yang cocok untuk penanaman cabai 5,5 - 7. Tanah dengan pH rendah atau asam harus dinetralkan dulu dengan cara menebarkan kapur pertanian.Karena jika Ph terlalu rendah garam-garam Al yang terlarut dalam tanah dapat meracuni tanaman sehingga pertumbuhan tanaman menjadi terhambat. Sebaliknya, tanah yang terlalu basa atau pH-nya tinggi bisa dinetralkan dengan cara menaburkan belerang ke lahan penanaman karena bila terlalu tinggi maka unsur mikro tidak dapat diambil oleh tanaman sehingga produksi tanaman menurun.

Saat ini ketinggian lahan tidak lagi menjadi masalah untuk menanam cabai. Secara umum, cabai bisa ditanam pada ketinggian lahan dari 1-2.000 m dpl. Ketinggian tempat berpengaruh pada jenis hama dan penyakit yang menyerang cabai. Di dataran tinggi, penyakit yang menyerang biasanya disebabkan oleh cendawan atau jamur. Sedangkan di lahan dataran rendah biasanya penyakit yang menyerang dipicu oleh bakteri.

2.3 Teknik Budidaya Tanaman Cabai Merah A. Persemaian Tahap awal budidaya cabe adalah membuat persemaian guna menyiapkan bibit tanaman yang sehat, kuat dan seragam sebagai bahan tanam di lapangan. Media semai yang dipergunakan hendaknya mempunyai struktur yang remah, tidak menahan air dan cukup nutrisi. Bahan yang dapat digunakan adalah campuran kompos, tanah, dan pasir dengan perbandingan 1 : 1 : 1. Untuk menambahkan nutrisi berikan pupuk NPK grand S-15 sebanyak 80 gram yang telah dihaluskan untuk tiap 3 ember campuran bahan tersebut. Setelah bahan tercampur, masukkan bahan pada kantung plastik dengan ukuran 8 x 9 cm sampai 90 % penuh, dan buat lubang pembuangan air pada plastik bagian bawah yang telah terisi media. Atur media pada bedeng semai yang telah disiapkan. Bedeng semai dibuat dengan tinggi 20 – 50 cm dengan lebar 80 – 100 cm dan panjang menyesuaikan kondisi. Arah bedengan diatur membujur utara selatan dengan memberikan atap penutup dari plastic dengan tiang penyangga bagian timur 100 cm dan bagian barat 80 cm atau atap dapat dibuat dengan model ½ lingkaran . Hal ini dimaksudkan agar bibit yang tumbuh cukup mendapatkan sinar matahari sehingga tidak mengalami etiolasi. Langkah selanjutnya adalah pemeraman benih yang bertujuan untuk

mengecambahkan benih. Media pemeraman yang digunakan adalah kain handuk atau 3 – 5 lapis kertas merang yang disemprot dengan larutan fungisida Victory dengan kosentrasi 3 gram / liter. Benih ditaburkan secara merata pada media dan diusahakan tidak menumpuk. Benih yang digunakan sebaiknya benih cabe hibrida yang telah diberi perlakuan pestisida.

Media digulung atau dilipat dan disimpan dalam suhu kamar. Untuk menjaga kelembaban media peram, semprotkan air dengan handspray setiap pagi dan sore. Setelah 4 sampai 7 hari, benih akan mengeluarkan radikula atau calon akar. Dengan bantuan penjepit, benih yang telah mengeluarkan calon akar di tanam pada media semai yang disiram terlebih dahulu Setiap pagi dan sore persemaian perlu disiram. Untuk mencegah gangguan cendawan, semprot persemaian dengan fungisida Starmyl 25WP dan Victory 80WP secara bergantian dengan konsentrasi 0,5 gram / liter. Untuk mencegah gangguan hama persemaian, semprot dengan insektisida winder 100ec dengan konsentrasi 0,5 cc / liter. Persemaian juga dapat dilakukan dengan meletakkan benih secara langsung pada media semai tanpa diperam terlebih dahulu. B. Pengolahan Lahan Lahan yang akan dipakai tempat penanaman harus dibersihkan dari segala macam gulma dan akar bekas tanaman lama, agar pertumbuhan akar tidak terganggu dan untuk menghilangkan tumbuhan yang menjadi inang hama dan penyakit. Apabila lahan banyak ditumbuhi gulma, pembersihannya lebih baik menggunakan Herbisida Sistemik seperti Rambo 480AS dengan dosis 2 sampai 4 liter per Hektar. Selanjutnya lahan dibajak dan digaru dengan hewan ternak maupun dengan bajak traktor. Pembajakan dan penggaruan bertujuan untuk menggemburkan, memperbaiki aerasi tanah dan untuk menghilangkan OPT yang bersembunyi di tanah. Buat bedengan dengan ukuran lebar 100 – 110 cm dengan ketinggian bedengan 50 – 60 cm dan lebar parit 50 – 60 cm . Panjang bedengan disesuaikan dengan kondisi lahan. Pengukuran pH tanah juga perlu dilakuan dengan alat pH meter atau dengan kertas lakmus. Untuk menaikkan pH tanah lakukan pengapuran lahan menggunakan dolomint atau kapur gamping dengan dosis 2 – 4 ton/Ha atau 200 – 400 gram / meter persegi tergantung pH tanah yang akan dinaikkan. Pengapuran diberikan pada saat pembajakan atau pada saat pembuatan bedengan bersamaan dengan sebar kompos atau pupuk kandang. Pupuk kandang yang diperlukan adalah 10 sampai 20 ton / Ha atau ½ sampai 1 zak untuk 10 meter panjang bedengan.

Pupuk dasar yang diberikan adalah pupuk NPK grand S-15, 2 kg untuk 10 meter panjang bedengan atau 2 ton / hektar. Tahap berikutnya adalah pemasangan mulsa plastic hitam perak yang berguna untuk menekan perkembangbiakan hama dan penyakit, pertumbuhan gulma, mengurangi penguapan, mencegah erosi tanah, mempertahankan struktur, suhu dan kelembaban tanah serta dapat mencegah terjadinya pencucian pupuk. Pemasangan mulsa dilakukan dengan cara membentang dan menarik antara dua sisi dengan permukaan perak di bagaian atas. Setiap ujung dan sisi mulsa dikancing dengan pasak. Agar pemasangan mulsa lebih optimal dan dapat menutup permukaan bedengan dengan baik sebaiknya dilakukan pada siang hari atau saat cuaca panas. C. Teknik Bertanam Jarak tanam yang digunakan adalah 50 – 60 cm jarak antar lubang dan 60 – 70 cm untuk jarak antar barisan dengan pola penanaman model segitiga atau zig-zag. Pembuatan lubang tanam sedalam 8 sampai 10 cm dilakukan bersamaan dengan pembuatan lubang pada mulsa yang berpedoman pada pola yang dipakai dan sesuai jarak tanam yang dianjurkan . Pembuatan lubang pada mulsa dapat juga menggunakan system pemanasan dengan menggunakan kaleng dengan diameter kurang lebih 8 – 10 cm. Lubang tanam dibuat dengan cara menugal tanah sedalam 8 – 10 cm. Bibit cabe dipersemaian yang telah berumur 15 – 17 hari atau telah memiliki 3 atau 4 daun, siap dipindah tanam pada lahan. Semprot bibit dengan fungisida dan insektisida 1 – 3 hari sebelum dipindahtanamkan untuk mencegah serangan penyakit jamur dan hama sesaat setelah pindah tanam Seleksi dan pengelompokan bibit berdasarkan ukuran besar kecil dan kesehatanya. Penanaman sebaiknya dilakukan pada sore hari atau pada saat cuaca tidak terlalu panas, dengan cara merobek kantong semai dan diusahakan media tidak pecah dan langsung dimasukkan pada lubang tanam. Kemudian lakukan pemasangan lanjaran atau ajir, dipasang di samping lubang tanam.

D. Pemeliharaan Setelah tanaman berumur 7 – 14 hst , tanaman yang tidak dapat tumbuh dengan normal atau mati perlu dilakukan penyulaman dengan bibit yang masih ada di persemaian. Jika pada lubang tanam tumbuh gulma, maka perlu dilakukan penyiangan dengan cara mencabut . Pengendalian gulma perlu dilakukan pada gulma yang tumbuh di parit dengan menggunakan cangkul atau dengan herbisida Rambo 480AS. Pada saat aplikasi nozelnya perlu diberi sungkup agar semprotan herbisida tidak mengenai tanaman cabe. Pewiwilan perlu dilakukan pada tunas yang tumbuh pada ketiak yang berada dibawah cabang utama dan bunga pertama yang muncul pada cabang utama. Pewiwilan ini dilakukan agar pertumbuhan vegetatif tanaman dapat optimal. Pengikatan dilakukan saat tanaman umur 10 – 15 hst dengan mengikatkan batang yang berada dibawah cabang utama dengan tali plastic pada lanjaran atau ajir. Pada saat tanaman berumur 30 – 40 hst, ikat tanaman diatas cabang utama dan ikat juga pada saat pembesaran buah yaitu pada umur 50 -60 hst. Untuk memacu pertumbuhan tanaman, dianjurkan untuk melakukan pengocoran mulai umur 7 sampai 60 hst dengan NPK Grand S-15 konsentrasi 7 gram per liter sebanyak 250 cc pertanaman dengan interval 7 hari . Setiap pengulangan pengocoran konsentrasi pupuk dinaikkan 2 gram per liter. Pada saat tanaman berumur 30 hst, pemupukan susulan pertama dilakukan dengan memberikan campuran pupuk NPK Grand S-15 150 kg/Ha dan Urea 40 Kg/Ha. Pemupukan dilakukan dengan cara melubangai mulsa dan menugal pada sisi tanaman dengan jarak 15 cm. Selain tanaman dikocor, dianjurkan juga disemprot dengan pupuk daun Mamigro Super N atau NPK spesial atau dengan Gardena D dengan konsentrasi 2 – 5 gram / liter air mulai umur 7 sampai 30 hst dengan interval pemberian 7 – 15 hari. Pupuk susulan kedua dilakukan saat tanaman berumur 40 hst dengan memberikan pupuk NPK Grand S-15 300 kg / Ha. Pada saat tanaman berumur 50 hst, pupuk susulan ke tiga dilakukan dengan memberikan pupuk NPK Grand S-15 dengan dosis 350 kg/Ha. Untuk memacu pertumbuhan

bunga dan buah, dianjurkan untuk dilakukan penyemprotan dengan pupuk daun Mamigro Super P atau NPK Spesial, Gardena B atau dengan Pupuk Mikro Fitomic . Konsentrasi untuk Fitomic adalah 1,5 – 2,5 cc / liter dengan interval pemberian 10 – 15 hari. Pemupukan susulan ke empat dilakukan saat tanaman berumur 60 hst. Pupuk yang diberikan adalah pupuk NPK Grand S-15 dengan dosis 200 Kg/Ha. E.Pengairan Pengairan dilakukan setiap 7 – 10 hari atau tergantung kondisi lahan dengan cara menggenangi atau leb. Pada waktu pelepasan air dari petak penanaman harus dilakukan dengan pelan agar tidak terjadi pencucian pupuk dari bedeng tanaman.

F. Hama Dan Penyakit Hama yang sering menyerang tanaman cabe adalah : · Ulat tanah atau Agrotis Ipsilon · Thrips · Ulat grayak atau Spodoptera litura · Lalat buah atau Dacus verugenius · Aphids hijau /kutu daun · Tungau / mite · Nematode puru akar Ulat Tanah dengan nama latin Agrotis ipsilon, biasa menyerang tanaman cabe yang baru pindah tanam, yaitu dengan cara memotong batang utama tanaman hingga roboh bahkan bisa sampai putus. Untuk tindakan pencegahan dapat dilakukan penyemprotan insektisida Turex WP dengan konsentrasi 0,25 – 0,5 g/liter bergantian dengan insektisida Direct 25ec dengan konsentrasi 0,4 cc/liter atau insentisida Raydok 28ec dengan konsentrasi 0,25-0,5 cc/liter sehari sebelum pindah tanam. Ulat grayak pada tanaman cabe biasa menyerang daun, buah dan tanaman yang masih kecil. Untuk tindakan pengendalian dianjurkan menyemprot pada sore atau malam hari dengan insektisida biologi TurexWP bergantian dengan insektisida Raydok 28ec atau insektisida Direct 25ec. Lalat buah gejala awalnya adalah buah berlubang kecil, kulit buah menguning dan kalau dibelah biji cabe berwarna coklat kehitaman dan pada akhirnya buah rontok. Untuk pencegahan dan pengendalian dapat dilakukan dengan membuat perangkap dengan sexferomon atau dengan penyemprotan insektisida Winder 100EC dengan konsentrasi 0,5

sampai 1 cc per liter bergantian dengan insektisida Promectin 18ec dengan konsentrasi 0,250,5 cc/liter atau dengan insektisida Cyrotex 75sp dengan konsentrasi 0,3-0,6 g/liter. Hama Tungau atau mite menyerang tanaman cabe hingga daun berwarna kemerahan, menggulung ke atas, menebal akhirnya rontok. Untuk penengendalian dan pencegahan semprot dengan akarisida Samite 135EC dengan konsentrasi 0,25 – 0,5 ml / liter air bergantian dengan insektisida Promectin 18ec dengan konsentrasi 0,25-0,5 cc/liter. Tanaman yang terserang hama thrips, bunga akan mengering dan rontok. Sedangkan apabila menyerang bagian daun pada daun terdapat bercak keperakan dan menggulung. Jika daun terserang aphids, daun akan menggulung kedalam, keriting, menguning dan rontok. Untuk pencegahan dan pengendalian lakukan penyemprotan dengan insektisida Winder 25 WP dengan konsentrasi 100 – 200 gr / 500 liter air / ha atau dengan Winder 100EC 125 – 200 ml / 500 liter air / Ha bergantian dengan insektisida Promectin 18ec dengan konsentrasi 0,250,5 cc/liter. Nematoda merupakan organisme pengganggu tanaman yang menyerang daerah perakaran tanaman cabe. Jika tanaman terserang maka transportasi bahan makanan terhambat dan pertumbuhan tanaman terganggu. Selain itu kerusakan akibat nematode dapat memudahkan bakteri masuk dan mengakibatkan layu bakteri. Pencegahan yang efektif adalah dengan menanam varietas cabe yang tahan terhadap nematode dan melakukan penggiliran tanaman. Dan apabila lahan yang ditanami merupakan daerah endemi, pemberian nematisida dapat diberikan bersamaan dengan pemupukan. Penyakit yang sering menyerang tanaman cabe diantaranya adalah · Rebah semai · Layu Fusarium · Layu bakteri · Antraknose / patek · Busuk Phytophthora · Bercak daun Cercospora · Penyakit Virus Penyakit anthracnose buah. Gejala awalnya adalah kulit buah akan tampak mengkilap, selanjutnya akan timbul bercak hitam yang kemudian meluas dan akhirnya membusuk. Untuk pengendaliannya semprot dengan fungisida Kocide 54 WDG dengan konsentrasi 1 sampai 2 g / l air bergantian dengan fungisida Victory 80wp dengan konsentrasi 1 – 2 g / liter air. Rebah semai ( dumping off ) . Penyakit ini biasanya menyerang tanaman saat dipersemaian. Jamur penyebabnya adalah Phytium sp. Untuk tindakan pencegahan dapat dilakukan perlakuan benih dengan Saromyl 35SD dan menyemprot fungisida sistemik

Starmyl 25WP saat dipersemaian dan saat pindah tanam dengan konsentrasi 0,5 sampai 1 gram / liter. Penyakit layu fusarium dan layu bakteri pada tanaman cabe biasanya mulai menyerang tanaman saat fase generatif. Untuk mencegahnya dianjurkan penyiraman Kocide 77WP pada lubang tanam dengan konsentrasi 5 gram / liter / lima tanaman, mulai saat tanaman menjelang berbunga dengan interval 10 sampai 14 hari. Penyakit bercak daun cabe disebabkan oleh cendawan Cercospora capsici. Gejalanya berupa bercak bercincin, berwarna putih pada tengahnya dan coklat kehitaman pada tepinya. Pencegahannya dapat dilakukan dengan menyemprot fungisida Kocide 54WDG konsentrasi 1,5 sampai 3 gram / liter bergantian dengan fungisida Victory 80WP konsentrasi 2 sampai 4 gram / liter dengan interval 7 hari. Penyakit mozaik virus. Saat ini belum ada pestisida yang mampu mengendalikan penyakit mozaik virus ini. Dan sebagai tindakan pencegahan dapat dilakukan pengendalian terhadap hewan pembawa virus tersebut yaitu aphids. Untuk pencegahan serangan hama penyakit, gunakan benih cabe hibrida yang tahan terhadap serangan hama penyakit dan yang telah diberi perlakuan pestisida. Apabila terjadi serangan atau untuk tujuan pencegahan lakukan aplikasi pestisida sesuai OPT yang menyerang atau sesuai petunjuk petugas penyuluh lapang.

G. Panen Pada saat tanaman berumur 75 – 85 hst yang ditandai dengan buahnya yang padat dan warna merah menyala, buah cabe siap dilakukan pemanenan pertama. Umur panen cabe tergantung varietas yang digunakan, lokasi penanaman dan kombinasi pemupukan yang digunakan serta kesehatan tanaman. Tanaman cabe dapat dipanen setiap 2 – 5 hari sekali tergantung dari luas penanaman dan kondisi pasar. Pemanenan dilakukan dengan cara memetik buah beserta tangkainya yang bertujuan agar cabe dapat disimpan lebih lama. Buah cabe yang rusak akibat hama atau penyakit harus tetap di panen agar tidak menjadi sumber penyakit bagi tanaman cabe sehat. Pisahkan buah cabe yang rusak dari buah cabe yang sehat.

Waktu panen sebaiknya dilakukan pada pagi hari karena bobot buah dalam keadaan optimal akibat penimbunan zat pada malam hari dan belum terjadi penguapan.

H. Pasca Panen Tanaman Cabe Hasil panen yang telah dipisahkan antara cabe yang sehat dan yang rusak, selanjutnya dikumpulkan di tempat yang sejuk atau teduh sehingga cabe tetap segar . Untuk mendapatkan harga yang lebih baik, hasil panen dikelompokkan berdasarkan standar kualitas permintaan pasar seperti untuk supermarket, pasar lokal maupun pasar eksport. Setelah buah cabe dikelompokkan berdasarkan kelasnya, maka pengemasan perlu dilakukan untuk melindungi buah cabe dari kerusakan selama dalam pengangkutan. Kemasan dapat dibuat dari berbagai bahan dengan memberikan ventilasi. Cabe siap didistribusikan ke konsumen yang membutuhkan cabe segar. Dengan penerapan teknologi budidaya, penangganan pasca panen yang benar dan tepat serta penggunaan benih hibrida yang tahan hama penyakit dapat meningkatkan produksi cabe yang saat ini banyak dibutuhkan. (Anonymousc,2012) 2.4 Hubungan Perlakuan Pemberian ZPT Pada Cabai Merah Aplikasi Zat Pengatur Tumbuh pada tanaman cabai merupakan salah satu usaha meningkatkan produksi dan kualitas tanaman cabai.Zat Pengatur Tumbuh adalah senyawa organik tidak termasuk nutrisi, yang pada konsentrasi rendah mampu

merangsang,menghambat atau memodifikasi berbagai proses biologis tanaman. Pengaruh kondisi lingkungan terhadap kondisi tanaman memberikan pengaruh langsung terhadap aktivitas peningkatan konsentrasi dan aktivitas biologi dari beberapa produk Zat Pengatur Tumbuh seperti ethylene. Pemberian Zat Pengatur Tumbuh berpengaruh terhadap penambahan rata-rata tinggi tanaman dan jumlah daun. Zat Pengatur Tumbuh mengandung ethylene yang berpengaruh terhadap pembentukan organ daun dan cabangcabang baru yang muncul. Pengaruh cuaca seperti tingginya curah hujan bisa menggagalkan

adanya bunga sehingga dan pembuahan sehingga menurunnya produktivitas cabai bisa dikatakan dipengaruhi oleh cuaca. Salah satu upaya untuk mengatasi hal ini adalah dengan memberikan Zat Pengatur Tumbuh , Zat Pengatur Tumbuh ini juga akan mempengaruhi jumlah bunga pertanaman dan fruit set. (Sumiati,2004)

BAB III BAHAN DAN METODE 3.1 Waktu dan Tempat Pelaksanaan Praktikum penanaman cabai merah besar pada mata kuliah TPT (Teknologi Produksi Tanaman) kali ini dilaksanakan di kebun praktikum Ngijo, Karangploso, Malang, Jawa Timur dengan waktu kurang lebih 9 minggu yang dimulai dari tanggal 19 September 2012 hingga 28 November 2012. 3.2 Alat dan Bahan Serta Fungsi  Alat : Cangkul Tugal Gembor Alat tulis Penggaris/meteran Kalkulator Tali raffia  Bahan : Air Bibit Pupuk kandang Pupuk ZPT tanaman. 3.3 Cara Kerja (Diagram Alir dan Penjelasan)
Siapkan alat dan bahan

: Untuk mengolah tanah : Untuk membuat lubang tanam pada tanah : Untuk menyirami tanaman. : Untuk mencatat hasil pengamatan. : Untuk mengukur jarak tanam dan tinggi tanaman. : Untuk mempermudah mengitung rumus-rumus matematis : Untuk mengukur jarak tanam.

: Untuk menyirami tanaman : Sebagai calon tanaman yang akan diamati. : Untuk memberikan nutrisi pada tanaman : Sebagai parameter atau perlakuan yang diberikan pada

Melakukan pengolahan tanah dengan menggunakan cangkul

Mengaplikasikan pupuk kandang ke lahan tanam

Mengukur jarak tanam (50x60cm) menggunakan meteran dan tali rafia

dengan

Membuat lubang dengan bantuan tugal pada titiktitik tanam yang telah di tentukan.

Menanam benih cabai ke dalam lubang tanam

Merapikan tanah disekitar tanaman

Melakukan penyiraman dan perawatan tanaman secara rutin.

Hal pertama yang dilakukan adalah menyiapkan alat dan bahan yang diperlukan kemudian mengolah tanah dengan cangkul, pada lahan seluas 1,5 x 6 meter dengan kedalaman bedengan sedalam 30 cm. Setelah itu mengaplikasikan pupuk kandang ke lahan dengan cara mencampurnya dengan tanah yang sudah di cangkul tadi. Kemudian mengukur jarak tanam (50 x 60 cm) dengan menggunakan meteran dan tali raffia agar lurus. Sehingga ada 22 tanaman yang akan ditanam. Kemudian menanam benih cabai yang telah berumur kurang lebih 2 minggu menurut jarak tanam yang telah ditentukan. Lalu merapikan tanah di sekitar tanaman. Untuk perawatan, dilakukan penyiraman secara rutin dan penyiangan gulma.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil 4.1.1 Data Kelas AD – ZPT 2 No Minggu ke 1 Tinggi tanaman 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 13.5 19 21 13 16 21 13 15 19 22 Jumlah daun 8 8 11 30 11 8 8 7 13 13 Minggu ke 2 Tinggi tanaman 16 23 24 17 17 24 17 20 23 25 Jumlah daun 11 13 15 48 12 15 12 14 17 20

Grafik Pengamatan minggu ke -1
35 30 25 20 15 10 5 0 Tanaman Tanaman Tanaman Tanaman Tanaman Tanaman 1 2 3 4 5 6 Tinggi (cm) jumlah daun

Grafik Pengamatan Minggu ke -2
60 50 40 30 20 10 0 Tanaman Tanaman Tanaman Tanaman Tanaman Tanaman 1 2 3 4 5 6

Tinggi (cm) jumlah Daun

Dokumentasi

4.1.2 Data Kelas X – ZPT 2 Minggu ke - 1 Tinggi tanaman 22,5 18,4 23,6 31 24,5 24 23,5 23 34 29 Jumlah daun 32 48 13 62 44 13 45 45 75 76 Minggu ke – 2 Tinggi tanaman 24 23 24 32 25 24 24 23 34 29 Jumlah daun 32 48 15 62 44 13 45 45 75 75

No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

Grafik Pengamatan Minggu ke – 1
80 70 60 50 40 30 20 10 0 Tinggi (cm) Jumlah daun

Grafik Pengamatan Minggu ke – 2
80 70 60 50 40 30 20 10 0 Tinggi (cm) Jumlah daun

Dokumentasi

4.1.3 Data Kelas L agroekoteknologi – ZPT 1 No 1 2 3 Pengamatan 20 Nov 2012 Tinggi (cm) 25 27 23 Jumlah Daun 79 81 124 Pengamatan 27 Nov 2012 Tinggi (cm) 29 31 34 Jumlah daun 103 113 200

Grafik Pengamatan 20 Nov 2012
140 120 100 80 60 40 20 0 Tanaman 1 Tanaman 2 Tanaman 3 Tinggi (cm) Jumlah daun

Grafik Pengamatan 27 Nov 2012
250

200

150

Series 1 Series 2

100

Column1

50

0 Tanaman 1 Tanaman 2 Tanaman 3

Dokumentasi

4.1.4 Data Perlakuan Non ZPT no Minggu ke-1 Tinggi tanaman 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 21 31 18 20 20 27 18 19 21 19 Jumlah daun 30 83 23 32 14 41 36 30 36 29 Minggu ke-2 Tinggi tanaman 28 38 25 27 24 29 23 25 26 23 Jumlah daun 50 120 40 61 34 102 51 69 63 48

Grafik Pengamatan Minggu ke – 1
90 80 70 60 50 40 30 20 10 0

Tinggi (cm) Jumlah daun

Grafik Pengamatan Minggu ke – 2
140 120 100 80 60 40 20 0 Tinggi (cm) Jumlah daun

Dokumentasi

4.2 Pembahasan Bibit cabai kelas AD ditanam pada tanggal 3 oktober 2012, namun pada pengamatan minggu depannya, bibit cabai mati semua dikarenakan belum memenuhi syarat transplanting . Tanaman masih terlalu kecil dan terlalu muda untuk dipindahkan ke lahan terbuka. Sehingga diperlukan waktu 2 minggu untuk penanaman kembali (penyulaman) dengan bibit yang lebih kuat. Setelah beberapa minggu, tanaman diberi Zat Pengatur Tumbuh untuk merangsang pertumbuhan dan perkembangannya. Zat pengaatur tumbuh yang digunakan pada kelas AD dan kelas X sama yaitu ZPT 2. Namun pengaruh ZPT berupa penambahan tinggi tanaman dan jumlah daun tanaman pada kelas X lebih tampak daripada kelas AD.

Menurut kami, hal ini dikarenakan Usia tanaman cabai kelas X yang lebih tua, karena kelas X melakukan penyulaman satu minggu lebih awal daripada kelas AD. Aplikasi ZPT merupakan salah satu cara untuk meningkatkan produksi dan kualitas cabai, namun perlu dicari jenis zat pengatur tumbuh yang terbaik pengaruhnya terhadap pembentukan dan kualitas batang dan daun tumbuhan. Dari Jurnal yang kami baca (Sumiati,2004), pengaruh yang tidak terlalu tampak pada tanaman yang sudah di berikan ZPT bisa disebabnkan karena pemberian dosis yang tidak optimum. Penggunaan ZPT dengan dosis atau konsentrasi yang sesuai dapat menciptakan keseimbangan hormonal sehingga mampu merangsang perumbuhan serta perkembangan yang optimum pula. Pengaruh pemberian ZPT sangat tampak pada pertambahan jumlah daun dilahan kelas L Agroekoteknologi. Jumlah daun mengalami peningkatan yang signifikan bahkan mencapai penambahan dua kali lipat dari jumlah daun pada pengamatan sebelumnya. Seperti yang terjadi pada tanaman sampel 1 ; dari 79 daun menjadi 103 daun, sampel kedua ; dari 81 daun menjadi 113 daun, dan sampel ketiga ; dari 124 daun menjadi 200 daun. ZPT yang diberikan adalah ZPT 1. Menurut jurnal yang kami baca(Koentjoro,2008), pemberian ZPT jenis Ethrel dan dekamon mampu meningkatkan rata-rata jumlah daun dari setiap peningkatan konsentrasi pemberian. Pemberian ZPT pada tanaman cabai kelas L ini pengaruhnya tidak signifikan terhadap penambahan tinggi tanaman, menurut jurnal yang kami baca hal ini dapat disebabkan oleh adanya zat ethylene yang menghambat proses pemanjanagan batang dan menghambat transportasi auksin secara basipethal dan lateral. Pengaruh kondisi lingkunan terhadap pertumbuhan tanman (misalnya kekurangan atau kelebihan air) memberikan efek langsung terhadap aktivitas peningkatan konsentrasi dan aktifitas biologis dari ZPT. Pada tanaman cabai tanpa pemberian (non) ZPT maka akan sangat peka terhadap factor lingkungan seperti cuaca dan irigasi .berdasarkan data yang kami dapatkan tidak terjadi perubahan yang signifikan pada tinggi tanaman. Perlakuan control (tanpa ZPT) ini menunjukkan pengaruh berbeda yang cukup tampak apabila dibanding dengan perlakuan lain (ZPT 1 dan ZPT 2). Tanaman cabai non ZPT ini diduga memiliki kandungan hormone giberelin yang cukup tinggi, dimana hormone giberelin sendiri berperan mendorong pertumbuhan daun. Giberelin juga dikenal dengan nama giberellat yang mempunyai peranan dalam pembelahan sel atau perpanjangan sel tanaman.

4.3 Dokumentasi Praktikum

BAB V KESIMPULAN Aplikasi Zat Pengatur Tumbuh pada tanaman cabai merupakan salah satu usaha meningkatkan produksi dan kualitas tanaman. Zat pengatur tumbuh adalah senyawa organic tidak termasuk nutrisi yang pada konsentrasi rendah mampu merangsang , menghambat, atau memodifikasi berbagai proses biologis tanaman. Berdasarkan pengamatan dikebun percobaan di Ngijo tanaman cabai yang diberi Zat pengatur tumbuh (ZPT) 1 memperlihatkan hasil yang paling baik dibandingkan dengan perlakuan lain. Hal ini dapat disebabkan pemberian konsentrasi yang lebih optimum dan tepat dibandingkan dengan perlakuan pada ZPT 2. Sedangkan pada perlakuan non ZPT , hasil yang tampak tidak berbeda jauh dengan perlakuan ZPT 2. Hali ini dikarenakan , walaupun tanpa Zat pengatur tumbuh (ZPT) tambahan (sintetik) tanaman sebenarnya mempunyai kemampuan untuk menghasilkan Zat pengatur tumbuh ( ZPT ) secara alami yang dapat mendorong, menghambat dan mengubah pertumbuhan. Menurut kami, efek pemberian ZPT pada tanaman cabai kelas AD belum terlalu menampakkan hasil yang signifikan dikarenakan waktu pengamatan yang terlalu singkat setelah pemberian ZPT 2 pada tanaman cabai dan usia tanaman cabai yang lebih muda dibandingkan dengan tanaman yang diberi ZPT 1 sehingga belum responsive terhadap rangsangan ZPT yang diberikan.

DAFTAR PUSTAKA
Anonymous.2012.KlasifikasiCabai Merah.http://amintabin.blogspot.com/2010/09/klasifikasicabai-merah-capsicum-annum.html di akses pada 1 Desember 2012 Anonymous.2012.Cabai Merah http://novi-biologi.blogspot.com/2011/08/cabai-merah-

capsicum-annum-l.html di akses pada 1 Desember 2012 Anonymous.2012.Teknik Budidaya Cabai

http://www.ideelok.com/budidaya-

tanaman/cabe di akses pada 1 Desember 2012
Haryantini, Baiq Azizah.2000. Aplikasi Mikoriza, Pupuk Fosfat Dan Zat Pengatur Tumbuh Pada Tanaman Cabai Merah (Capsicum Annum) Di Tanah Andisol. Budidaya Pertanioan, Fakultas Pertanian, Universitas 45 Mataram : Mataram Koentjoro, Yon .2008.Aplikasi Pemberian Zat Pengatur Tumbuh Pada Tanaman Cabai Kecil yang Di Tanam Di Musim Hujan . Jurnal Pertanian Mapeta Vol 10 N0.3 Agustus 2008 : 170 – 178 . Sumiati , Etty .2004.Pengaruh Pemberian Zat Pengatur Tumbuh Terhadap Hasil dan Kualitas Benih Cabai Breede Seed.Balai Penelitian Tanaman Sayuran : Bandung.

LAMPIRAN

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful