P. 1
Journal Reading

Journal Reading

|Views: 9|Likes:

More info:

Published by: Warda El-maida Rusdi on Dec 10, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PPT, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/22/2013

pdf

text

original

JOURNAL READING

Insidensi, Tingkat Keparahan, dan Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Drug-Induced Keratoepitheliopathy Pada Terapi Glaukoma

Warda EL-Maida R

Takeo Fukuchi, Kimiko Wakai, Kieko Suda, Tomoko Nakatsue, Hideko Sawada, Hiroaki Hara, Jun Ueda, Takayuki Tanaka, Akiko Yamada, Haruki Abe  Division of Ophthalmology an Visual Science, Graduate School of Medical and Dental Sciences, Niigata University, Niigata, Japan  Clinical Ophthalmology 2010

tingkat keparahan. Tujuan : Mengevaluasi insidensi. dan faktor-faktor yang berhubungan dengan drug-induced keratoepitheliopathy pada mata yang menggunakan tetes mata antiglaukoma. .

tetes mata. keratoepitheliopathy. Kata kunci : glaucoma. klasifikasi AD . pengobatan.

PENDAHULUAN        Sejak 10 tahun  analog prostaglandin1-5 dan inhibitor karbonik anhidrase6-8 topikal  obat glaukoma α1 atau α1β blockers  alternatif mekanisme hipotensi. Tetes mata tipe suspensi8  iritasi Tetes mata bebas zat pengawet atau bebas benzalkonium chloride (BAC)  mengurangi pengaruh dari tetes mata terhadap permukaan okular Oeh karena kelebihannya ini. Tetes mata timolol dalam formula seperti gel9 dan long-acting carteolol  obat harian. . Hal yang penting untuk manajemen glaukoma adalah untuk meningkatkan efikasi terapi dan kepatuhan. --> obat tetes mata antiglaukoma  berbagai bentuk dan mekanisme  paling tepat untuk tiap pasien.

yang merupakan tujuan utama dari terapi glaukoma telah mengalami kemajuan pesat pada 10 tahun terakhir ini.sekarang  pasien dengan glaukoma primer sudut terbuka atau glaukoma normotensi TIO terkini lebih rendah secara signifikan dibandingkan TIO 10 tahun yang lalu tergantung dari terapi medikamentosa dan bukan terapi bedah Terapi medikamentosa untuk penurunan TIO. peneliti membandingkan follow up TIO rata-rata  10 tahun . .

Bagaimanapun BAC mempunyai toksisitas yang tinggi terhadap epitel kornea normal dan berhubungan dengan drug-induced keratoepitheliopathy dan konjungtivitis alergi atau blepharitis. . BAC mudah terlarut dalam air. tetes mata ini aman digunakan untuk periode yang lama. BAC (Bebas Benzalkonium Cloride) sering digunakan sebagai bahan pengawet dalam obat tetes mata selama bertahun-tahun. Drug-induced keratoepitheliopathy adalah kemungkinan komplikasi yang paling sering dan merupakan efek samping yang tak dapat dihindari dalam pengobatan glaukoma. Oleh karena BAC mempunyai aktivitas antibakterial yang kuat.Komposisi dari obat tetes mata terdiri dari obat aktif dan pengawet dan larutan buffer.

yang biasanya digunakan sebagai pilihan pertama untuk terapi glaukoma jangka panjang. . Laporan terkini mengevaluasi drug-induced keratoepitheliopathy pada tiap obat.Beberapa studi telah memeriksa efek dari timolol maleat. Hanya penelitian dari Inoue et al yang melaporkan bahwa penggunaan obat tetes mata antiglaukoma multipel termasuk analog prostaglandin dan inhibitor karbonik anhidrase berhubungan dengan keratoepitheliopathy dan faktor okular. dan tidak pada kombinasi obat multipel yang digunakan pada praktek klinis.

dan faktor-faktor yang berhubungan dengan drug-induced keratoepitheliopathy pada praktek klinis.  .  Penulis  membahas bagaimana mengurangi dan menentukan efek samping yang dapat diterima pada terapi glukoma jangka panjang. tingkat keparahan.Penulis  memeriksa insidensi.

 Oleh karena   volume dari satu tetes terlalu banyak untuk conjunctival. dan turnover dari epitel kornea. komponen airmata termasuk elektrolit.  Tetes mata ini dapat juga mengubah pH okular dan tekanan osmotik.  . protein. dan mucin harus dipindahkan dari lapisan air mata.Tetes mata  pengaruh yang dapat membahayakan permukaan okular.  Tetes mata juga diketahui dapat menghambat proliferasi. regenerasi.

 Pasien dan metode : .

Insidensi KPS telah dianalisis dengan menggunakan Chi-square test. dan total dosis per hari. telah digunakan untuk ratarata SS. Analisis statistik Untuk analisis statistik. jumlah tetes mata. . karena parameter tidak mengikuti distribusi normal. nonparametric MannWhitney U-test.

Jumlah tetes mata yang digunakan dan total dosis frekuensi harian lebih besar secara signifikan pada KPS positif dibandingkan mata tanpa KPS. 34 mata (4. .0%) dari 749 mata yang menerima tetes mata antiglaukoma.9%) telah diklasifikasikan sebagai A1D1 (SS 1). Hasil : KPS telah ditemukan pada 382 (51. kecenderungan perbedaan telah terdeteksi pada tiaptipe glaucoma. Sekitar 254 mata (33. Diantara mata yang diterapi dengan tiga atau lebih tetes mata. Jumlah tetes mata yang digunakan sebanding dengan frekuensi dan tingkat keparahan KPS. Sebagai tambahan.6%) mengalami KPS berat dengan SS 4 atau lebih. KPS lebih parah dan lebih sering terjadi pada pasien kelompok usia tua (≥71 tahun).

.

.

.

DISKUSI .

.

.

.

 Kesimpulan : Drug-induced keratoepitheliopathy sering ditemukan pada mata yang menerima tetes mata antiglaukoma. . Kami mempertimbangkan tidak hanya efek terhadap TIO namun juga insidensi dan tingkat keparahan druginduced keratoepitheliopathy sebagai efek samping dari terapi glaucoma. Jumlah tetes mata yang digunakan. dan tipe glaucoma dapat berpengaruh pada kondisi ini. usia. total dosis frekuensi harian.

RESUME PEMBACA .

KELEBIHAN DAN KEKURANGAN JURNAL .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->