You are on page 1of 10

LAPORAN PROBLEM BASED LEARNING I BLOK BHL 4

Tutor: Tutor : dr. Ika Murti H.

Disusun Oleh: KELOMPOK IX

Dias Isnanti Ayu Astrini N PS Andina Frastiningsih Siska Lia Kisdiyanti Saddam Husein S. Rahma Dewi A. Suryo adi Kusumo B. Alifah Nurmala Sari Handiana Samanta Nurul Arsy M. Pandu Nugroho Kanta Renata Nadhia MP

G1A009034 G1A009037 G1A009057 G1A009065 G1A009070 G1A009081 G1A009094 G1A009099 G1A009100 G1A009120 G1A009133 G1A008127

KEMENTRIAN PENDIDIKAN NASIONAL JURUSAN KEDOKTERAN FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU-ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN PURWOKERTO 2011

SKENARIO Kontrasepsi

Tn. dan Ny. X memiliki 6 orang anak. Tn. X berusia 40 tahun dan Ny. X berusia 37 tahun, sementara anak bungsu mereka baru berusia 1 tahun. Pasangan ini datang kepada Anda untuk berkonsultasi tentang metode kontrasepsi. Selama ini mereka hanya menggunakan perhitungan masa subur (pantang berkala) untuk mengatur kehamilan. Akan tetapi kehamilan yang terakhir ternyata di luar rencana mereka dan menjadi beban pikiran pasangan tersebut, terutama karena alasan ekonomi. Tn. X ingin agar istrinya mengikuti metode kontrasepsi menggunakan AKDR/ IUD karena menurutnya lebih aman untuk kesehatan istrinya dibandingkan alat kontrasepsi hormonal. Di lain pihak, Ny. X tidak bersedia menggunakan alat kontrasepsi apapun karena bertentangan dengan keyakinannya. Menurut Ny. X, jika mereka telah diberikan amanat oleh Tuhan untuk mengasuh seorang anak, maka mereka pasti akan bisa melalui segala macam cobaan. Meski demikian, Ny. S tidak menyangkal bahwa ia merasa kerepotan mengasuh dan mendidik 6 anak, terutama dengan penghasilan yang mereka miliki. Tn. X memiliki latar belakang SLTA dan bekerja sebagai karyawan pabrik sedangkan Ny. X adalah lulusan SLTP dan tidak bekerja.

Seven Step Method: 1. Clarification of terms and context related to case (Klarifikasi istilah dan faktor-faktor kontekstual) Jawab: a. Kontrasepsi : adalah upaya atau usaha-usaha untuk

mencegah terjadinya kehamilan, yang dapat bersifat sementara dan dapat juga bersifat permanen (Winkjosastro, 2007) Secara umum, kontrasepsi dapat dibagi menjadi dua menurut cara pelaksanaannya : 1) Cara temporer (spacing), yaitu menjarangkan kelahiran selama beberapa tahun sebelum menjadi hamil lagi

2) Cara permanen (kontap), yaitu mengkahiri kesuburan dengan cara mencegah kehamilan secara permanen, pada wanita disebut tubektomi dan pada pria disebut vasektomi (Winkjosastro, 2007) b. Pantang berkala (rhythm method) Prinsipnya adalah tidak melakukan hubungan suami istri pada masa subur istri. Cara ini disebut cara Ogino-Knaus (diperkenalkan oleh Kyusaku Ogino dari Jepang dan Hermann Knaus dari Jerman), menjelaskan bahwa seorang wanita hanya dapat hamil selama beberapa hari saja dalam tiap daur haidnya. Masa subur yang disebut fase ovulasi mulai 48 jam sebelum ovulasi dan berakhir 24 jam setelah ovulasi. Kesulitan cara ini ialah bahwa waktu yang tepat dari ovulasi sulit utuk ditentukan, ovulasi umumnya terjadi 14 ± 2 hari sebelum hari pertama haid yang akan dating (Winkjosastro, 2007). Metode ini memiliki beberapa keuntungan, di antaranya adalah : 1. Sederhana 2. Dapat digunakan pada setiap wanita sehat 3. Tidak membutuhkan alat 4. Tidak memerlukan biaya 5. Dan relative aman akan tetapi juga memiliki beberapa kerugian, yaitu : 1. Tidak selalu efektif 2. Membutuhkan tingkat kerjasama dan pengertian antar pasangan yang tinggi 3. Tidak dapat menjalankan hubungan seksual secara teratur 4. Apabila ibu memiliki siklus menstruasi yang tidak teratur maka dapat menjadi penghambat

c. AKDR (Alat Kontrasepsi Dalam Rahim) adalah alat yang digunakan untuk wanita dengan resiko PMS dan tidak memerlukan perawatan harian (Norwitz dan Schorge, 2006).

2. What is (are) the ethical problem(s) in this case?(Permasalahan etik apa(saja)kah yang ada pada kasus ini?)

Adanya perbedaan pendapat anatara Tn dan Ny X mengenai kontrasepsi, dimana Tn. X menghendaki istrinya, Ny X untuk menggunakan kontrasepsi AKDR/IUD. Dilain pihak, Ny X tidak ingin menggunakan kontrasepsi, karena memegang prinsip bahwa di agamanya melarang kontrasepsi. Meskipun demikian, Ny. X juga menyadari bahwa dia merasa kerepotan mengurus dan mendidik 6 orang anak terutama dengan penghasilan Tn. X yang sedikit

3. Why

are

they

considered are at

as

ethical

problems?

What

values/norms/principles

stake?(Mengapa masalah tersebut

dianggap sebagai masalah etik? Nilai-nilai/norma/prinsip-prinsip apakah yang dipertaruhkan di sini?) 1) Autonomi kontrasepsi : Ny. X memiliki hak untuk menolak menggunakan AKDR/IUD, karena dirasa bertentangan dengan

keyakinan agamanya. 2) Malaficence kontrasepsi, :Tn. karena X menginginkan istrinya menggunakan dari

untuk

menghindarkan

keluarganya

kemungkinan kesulitan ekonomi, mengingat Tn. X hanya bekerja sebagai karyawan pabrik terlebih kini anak mereka sudah 6 orang. 3) Beneficence : Tn. X sebagai suami, menginginkan agar istrinya

menggunakan kontrasepsi, untuk menghindarkan Ny. X dari kerugian,dengan menyarankan istrinya menggunakan AKDR/IUD yang dirasa lebih aman bagi kesehatannya 4) Justice : keputusan mengenai penggunaan kontrasepsi

hendaknya diputuskan secara matang, melalui diskusi antara pasangan suami-istri. 5) Nilai agama : berdasarkan yang dipahami Ny. X, penggunaan

kontrasepsi dilarang oleh agama yang dianutnya.

6) Nilai ekonomi

: keluarga Tn. dan Ny. X memiliki adalah keluarga

besar yang terdiri dari 8 orang anggota keluarga, dimana sumber penghasilan keluarga ini hanya berasal dari Tn. X sebagai karyawan pabrik

4. How do you see the problems from different viewpoints (from different persons involved)? Which values/norms/principles are considered by each person/party for this problem? (Bagaimana Anda melihat masalah tersebut dari sudut pandang individu-individu (atau pihak) yang terlibat di dalamnya? Nilai-nilai/norma/prinsip-prinsip apakah yang dipertimbangkan oleh masing-masing individu tersebut?) Ditinjau dari beberapa sudut pandang individu yang terlibat: 1) Dokter : dokter akan mempertimbangkan dari sisi medis,

mengingat usia Ny. X sudah 37 tahun, maka bila terjadi kehamilan berikutnya, akan memiliki risiko kesehatan yang lebih besar. Selain itu, Ny. X sudah melahirkan 6 orang anak (grande multi para) maka ini dapat menjadi factor risiko berbagai penyakit reproduksi, seperti kanker cervix, dan akan menjadi factor risiko kegagalan kehamilan bila terjadi kehamilan berikutnya. 2) Tn X : disini Tn X menyarankan agar istrinya menggunakan

kontrasepsi AKDR/IUD karena menurutnya lebih aman untuk kesehatannya Selain itu, mungkin juga karena Tn. X memiliki beban psikologis, sebagai kepala rumah tangga dan tulang punggung keluarga akan kemampuannya dalam memenuhi kebutuhan keluarganya. 3) Ny X : menolak untuk menggunakan kontrasepsi karena

bertentangan dengan keyakinan agamanya, Menurut Ny. X, jika mereka telah diberikan amanat oleh Tuhan untuk mengasuh seorang anak, maka mereka pasti akan bisa melalui segala macam cobaan. 4) Anak-anak Tn. dan Ny. X: mengingat latar belakang ekonomi keluarga tersebut, mungkin ada kemungkinan terdapat kesenjangan

pendidikan dan pemenuhan kebutuhan dalam keluarga tersebut. Hal ini akan dirasa tidak sehat bagi perkembangan anak-anaknya.

5. What psycho-socio-cultural aspects should we carefully consider in this particular context?(Aspek psikologis, sosial, budaya, agama, apakah yang perlu kita pertimbangkan pada kasus ini?) Baik aspek psikologis, sosial, budaya,dan agama perlu dipertimbangakan dalam keluarga ini 1) Aspek psikologis : dalam kasus ini, keluarga dengan jumlah anggota 8 orang mungkin akan menyebabkan beban psikologis bagi Tn.X sebagai satu-satunya tulang punggung keluarga yang bertanggung jawab dalam pemenuhan kebutuhan keluarganya, terlebih pekerjaan Tn X hanya sebagai karyawan pabrik Selain itu, mungkin beban psikologis juga dirasakan oleh Ny. X karena harus mengurus dan mendidik ke 6 anaknya 2) Aspek social : jumlah anak yang terlalu banyak akan

menyebabkan peledakan penduduk, dan menurunnnya kualitas sumber daya manusia apabila tidak diimbangi dengan pemenuhan kebutuhan pendidikan dan ketrampilan yang baik. Dalam kasus Tn. X adalah lulusan SLTA sedang Ny. X adalah lulusan SLTP, memungkinkan pengetahuan dan pemahaman mereka mengenai kontrasepsi dan keyakinan (agama) tidak cukup untuk mengambil keputusan, karena itu dibutuhkan informasi yang dapat diberikan dokter kepada mereka. 3) Aspek budaya : dalam masyarakat Indonesia, masih banyak yang

mempercayai bahwa banyak anak banyak rejeki. Dimana, anak yang banyak bisa menjadi topangan bagi orang tuanya dimasa tua. 4) Aspek agama : Ny. X tidak bersedia menggunakan alat

kontrasepsi apapun karena bertentangan dengan keyakinannya. Karena, menurutnya, jika mereka telah diberikan amanat oleh Tuhan untuk mengasuh seorang anak, maka mereka pasti akan bisa melalui segala macam cobaan.

6. Are there any legal aspects to consider in this case? Apakah ada aspek legal yang harus dipertimbangkan dalam kasus ini? a. Dalam KODEKI Pasal 1: menjunjung tinggi, dan mengamalkan sumpah dokter. Pembahasan: Sedang dalam sumpah dokter disebutkan “menghormati kehidupan mulai dari pembuahan” Pada penggunaan AKDR dapat mencegah fertilisasi dan nidasi. Jika pemasangan AKDR/IUD tidak tepat maka dapat memberikan celah untuk terjadinya fertilisasi yang akhirnya berlanjut menjadi embiro, apabila di dalam rahim terdapat AKDR maka dapat mengganggu nidasi/implantasi janin pada rahim atau mengganggu perkembangan janinnnya. Maka dari itu, penggunaan AKDR harus di control agar pada posisi yang tepat sehingga tidak menyebabkan fertilisasi (yang tidak diinginkan) yang mana menyebabkan nidasinya terganggu dan janin meninggal. b. UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 52 TAHUN 2009 TENTANG PERKEMBANGAN KEPENDUDUKAN DAN PEMBANGUNAN KELUARGA

Pasal 24 (1) Pelayanan kontrasepsi diselenggarakan dengan tata cara yang berdaya guna dan berhasil guna serta diterima dan dilaksanakan secara bertanggung jawab oleh pasangan suami isteri sesuai dengan pilihan dan mempertimbangkan kondisi kesehatan suami atau isteri. (2) Pelayanan kontrasepsi secara paksa kepada siapa pun dan dalam bentuk apa pun bertentangan dengan hak asasi manusia dan pelakunya akan dikenakan sanksi sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan.

(3) Penyelenggaraan pelayanan kontrasepsi dilakukan dengan cara yang dapat dipertanggungjawabkan dari segi agama, norma budaya, etika, serta segi kesehatan. c. KODEKI Butir 7, Bab I, Kode Etik Kedokteran Indonesia, yang berbunyi: “Seorang dokter hendaklah berusaha juga menjadi pendidik rakyat yang sebenarnya” (Samil, 2001). Butir 8, Bab I, Kode Etik Kedokteran Indonesia, yang berbunyi: “Dalam kerjasama dengan para pejabat dibidang kesehatan lainnya, hendaklah dipelihara pengertian sebaik-baiknya” (Samil, 2001).

7. What are the alternatives in problem solving for these problems?(Apa saja alternatif pemecahan masalah untuk masalah ini?) Karena terdapat perbedaan pendapat antara Tn. X dan Ny. X maka sebagai dokter kita harus memberikan pengertian melalui informasi mengenai kontrasepsi secara lengkap, mulai dari jenis-jenis kontrasepsi, cara pemasangan, kelebihan dan kekurangan masing-masing kontrasepsi, serta biaya yang diperlukan. Bila Ny. X masih berpegang teguh dengan keyakinannnya, maka dokter bisa menyarankan Ny. X untuk menanyakan kembali hal mengenai kontrasepsi kepada guru spiritualnya. Dokter hendaknya memberitahukan bahwa kontrasepsi tidak hanya bisa dilakukan hanya pada wanita, tapi juga bisa dilakukan pada pihak pria, jika pihak wanita tetap menolak untuk menggunakan kontrasepsi. Kontrasepsi pada pria juga bisa dilakukan secara temporer maupun permanen. Setelah dirasakan memberikan informasi yang cukup, maka dokter memberikan waktu kepada pasangan tersebut untuk mendiskusikan mengenai penggunaan kontrasepsi, karena yang berhak memutuskan adalah pasangan suami-istri tersebut.

KESIMPULAN

Yang dilakukan dokter : a. Memberikan penjelasan mengenai alat kontrasepsi b. Menjelaskan alat kontrasepsi tidak hanya dapat dilakukan pada wanita, namun untuk pria juga ada c. Memberikan inform concent dengan penjelasan mengenai efek , kelebihan, biaya alat kontrasepsi d. Menyarankan konsultasi terlebih dahulu pada ahli agamanya e. Diberi waktu untuk berdiskusi

DAFTAR PUSTAKA

Norwitz ER dan Schorge JO. 2008. At A Glance Obstetri Dan Ginekologi Edisi 2. Jakarta: Penerbit Erlangga. Hal 31 Winkjosastro, Hanifa. 2007. Ilmu Kandungan Edisi 2. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. Hal 534-538 Samil, Ratna Suprapti. 2001. Etika Kedokteran Indonesia. Jakarta: Tridase Printer