PT.

PERKEBUNAN NUSANTARA III (PERSERO) PKS RAMBUTAN

BAB I PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Kerja Praktek Pendidikan pada jenjang universitas adalah pendidikan dengan oritentasi menghasilkan

para akademis yang mampu menguasai materi dengan baik dan mampu mengaplikasikannya. Mendapatkan sebuah keharusan bagi Mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU) untuk mengikuti kerja praktek yang merupakan salah satu mata kuliah yang harus diikuti dan dilaksanakan oleh setiap mahasiswa. Sesuai dengan kurikulum yang berlaku di USU saat ini, yang merupakan salah satu syarat untuk meneruskan tugas/mata kuliah ke tingkat berikutnya. Kerja praktek ini merupakan salah satu kesempatan bagi setiap mahasiswa untuk melihat, mengenal secara langsung segala peralatan yang digunakan dalam dunia industri. Sebagaimana yang telah diketahui selama dalam bangku perkuliahan mahasiswa telah banyak mempelajari tentang alat-alat yang digunakan dalam dunia industri, namun hal ini hanya merupakan teori dasar saja, maka dengan diadakannya kerja praktek lapangan sehingga mahasiswa dapat memahami dan mengetahui aplikasi lapangan, khususnya aplikasi mata kuliah Manajemen Teknik dan Proses Produksi serta Teknologi Pengolah Hasil Perkebunan.

1.2

Maksud Dan Tujuan Adapun maksud dan tujuan dari pada kerja praktek ini adalah sebagai berikut :

1. Melihat dan mengenal secara langsung di lapangan serta menerapkan teori dasar yang telah diperoleh di bangku kuliah. 2. Mengenal dan memahami beberapa aspek tentang perusahaan seperti : a. Aspek organisasi dan manajemen b. Aspek proses produksi c. Aspek teknologi d. Aspek sosial dan lingkungan 3. Memperoleh keterampilan dalam hal penguasaan pekerjaan, sehingga menambah pengalaman sebagai persiapan untuk terjun ke masyarakat.

1

PT. PERKEBUNAN NUSANTARA III (PERSERO) PKS RAMBUTAN

4. Memperoleh kesempatan untuk ikut memecahkan permasalahan dalam ruang lingkup perusahaan, sekaligus berlatih untuk mendisiplinkan diri dan bertanggung jawab.

1.3

Manfaat Kerja Praktek Manfaat yang diperoleh dari kerja praktek ini adalah :

1. Bagi Mahasiswa : a. Memperoleh kesempatan untuk melatih keterampilan dan melakukan pekerjaan atau kegiatan lapangan. b. Dapat mengetahui dan memahami berbagai aspek kegiatan dalam perusahaan. c. Dapat membandingkan teori-teori yang diperoleh di bangku kuliah dengan praktek lapangan. 2. Bagi Fakultas : a. Memperat kerjasama perusahaan dengan Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara, khususnya dengan Departemen Teknik Mesin. b. Memperluas pengenalan akan Departemen Teknik Mesin, Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara. 3. Bagi Perusahaan : a. Sebagai bahan masukan atau usulan bagi perusahaan untuk memperbaharui sistem metode kerja yang lebih baik. b. Sebagai sarana penyaluran program perusahaan dalam rangka turut mencerdaskan anak bangsa c. Dapat melihat keadaan perusahaan dari sudut pandang pendidikan, khususnya mahasiswa.

1.4

Ruang Lingkup Kerja Praktek Ruang lingkup kerja praktek yang dilaksanakan adalah :

1. Setiap mahasiswa yang telah memenuhi persyaratan, harus melakukan kerja praktek pada perusahaan, badan/instansi pemerintah atau swasta. 2. Kerja praktek di PT. Perkebunan Nusantara III, Tbk, yang meliputi bidang-bidang yang berkaitan dengan disiplin ilmu Teknik mesin antara lain: a. Organisasi dan manajemen perusahaan
2

PT. PERKEBUNAN NUSANTARA III (PERSERO) PKS RAMBUTAN

b. Proses produksi 3. Kerja praktek ini harus bersifat: a. Latihan kerja yang berdisplin dan bertanggung jawab sesuai dengan para pekerja dalam lingkungan perusahaan. b. Mengajukan usulan perbaikan seperlunya dari sistem/instansi kerja proses yang dimuat dalam laporan.

3

PT. PERKEBUNAN NUSANTARA III (PERSERO) PKS RAMBUTAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Latar Belakang Kelapa Sawit Kelapa sawit (Elaeis) adalah tumbuhan industri penting penghasil minyak masak, minyak

industri, maupun bahan bakar (biodiesel). Perkebunannya menghasilkan keuntungan besar sehingga banyak hutan dan perkebunan lama dikonversi menjadi perkebunan kelapa sawit. Indonesia adalah penghasil minyak kelapa sawit kedua dunia setelah Malaysia. Di Indonesia penyebarannya di daerah Aceh, pantai timur Sumatra, Jawa, dan Sulawesi.

2.2

Ciri-Ciri Fisiologi Kelapa sawit berbentuk pohon. Tingginya dapat mencapai 24 meter. Akar serabut tanaman

kelapa sawit mengarah ke bawah dan samping. Seperti jenis palma lainnya, daunnya tersusun majemuk menyirip. Daun berwarna hijau tua dan pelepah berwarna sedikit lebih muda. Penampilannya agak mirip dengan tanaman salak, hanya saja dengan duri yang tidak terlalu keras dan tajam. Batang tanaman diselimuti bekas pelepah hingga umur 12 tahun. Setelah umur 12 tahun pelepah yang mengering akan terlepas sehingga penampilan menjadi mirip dengan kelapa. Bunga jantan dan betina terpisah namun berada pada satu pohon (monoecious diclin) dan memiliki waktu pematangan berbeda sehingga sangat jarang terjadi penyerbukan sendiri. Bunga jantan memiliki bentuk lancip dan panjang sementara bunga betina terlihat lebih besar dan mekar. Tanaman sawit dengan tipe cangkang pisifera bersifat female steril sehingga sangat jarang menghasilkan tandan buah dan dalam produksi benih unggul digunakan sebagai tetua jantan. Buah sawit mempunyai warna bervariasi dari hitam, ungu, hingga merah tergantung bibit yang digunakan. Buah bergerombol dalam tandan yang muncul dari tiap pelapah. Buah terdiri dari tiga lapisan: * Eksoskarp, bagian kulit buah berwarna kemerahan dan licin.
4

PT. PERKEBUNAN NUSANTARA III (PERSERO) PKS RAMBUTAN

* Mesoskarp, serabut buah. * Endoskarp, cangkang pelindung inti sawit merupakan endosperm dan embrio dengan kandungan minyak inti berkualitas tinggi.

2.3

Adaptasi Lingkungan Habitat aslinya adalah daerah semak belukar. Sawit dapat tumbuh dengan baik di daerah

tropis (15°LU - 15°LS). Tanaman ini tumbuh sempurna di ketinggian 0-500 m dari permukaan laut dengan kelembaban 80-90%. Sawit membutuhkan iklim dengan curah hujan stabil, 2.0002.500 mm setahun, yaitu daerah yang tidak tergenang air saat hujan dan tidak kekeringan saat kemarau. Pola curah hujan tahunan memperngaruhi perilaku pembungaan dan produksi buah sawit.

2.4

Perkembangan Kelapa Sawit Kelapa sawit berkembang biak dengan cara generatif. Buah sawit matang pada kondisi

tertentu embrionya akan berkecambah menghasilkan tunas (plumula) dan bakal akar (radikula). Kelapa sawit memiliki banyak jenis, berdasarkan ketebalan cangkangnya kelapa sawit dibagi menjadi Dura, Pisifera, dan Tenera. Dura merupakan sawit yang buahnya memiliki cangkang tebal kira – kira 2-8 mm, sehingga dianggap memperpendek umur mesin pengolah namun biasanya tandan buahnya besar‐besar dan kandungan minyak pertandannya berkisar 17 - 18 %. Mesocarp (daging buah) tipis dan persentase terhadap buah adalah 35-50 %, inti besar dan bijinya tidak dikelilingi serabut. Pisifera buahnya tidak memiliki cangkang, mempunyai cincin serat yang tebal disekeliling kernel yang berukuran kecil, namun bunga betinanya steril sehingga sangat jarang menghasilkan buah. Tenera adalah persilangan antara induk Dura dan Pisifera. Jenis ini dianggap bibit unggul sebab melengkapi kekurangan masing‐masing induk dengan sifat cangkang buah tipis namun bunga betinanya tetap fertil. Beberapa tenera unggul persentase daging perbuahnya dapat mencapai 60 - 90 % dan kandungan minyak pertandannya dapat mencapai 28 %. Cangkangnya tipis berukuran 0,5 – 4 mm.

5

PT. PERKEBUNAN NUSANTARA III (PERSERO) PKS RAMBUTAN

2.5

Hasil Tanaman Minyak sawit digunakan sebagai bahan baku minyak makan, margarin, sabun, kosmetika,

industri baja, kawat, radio, kulit dan industri farmasi. Minyak sawit dapat digunakan untuk begitu beragam peruntukannya karena keunggulan sifat yang dimilikinya yaitu tahan oksidasi dengan tekanan tinggi, mampu melarutkan bahan kimia yang tidak larut oleh bahan pelarut lainnya, mempunyai daya melapis yang tinggi dan tidak menimbulkan iritasi pada tubuh dalam bidang kosmetik. Bagian yang paling populer untuk diolah dari kelapa sawit adalah buah. Bagian daging buah menghasilkan minyak kelapa sawit mentah yang diolah menjadi bahan baku minyak goreng dan berbagai jenis turunannya. Kelebihan minyak nabati dari sawit adalah harga yang murah, rendah kolesterol, dan memiliki kandungan karoten tinggi. Minyak sawit juga diolah menjadi bahan baku margarin. Minyak inti menjadi bahan baku minyak alkohol dan industri kosmetika. Bunga dan buahnya berupa tandan, bercabang banyak. Buahnya kecil, bila masak berwarna merah kehitaman. Daging buahnya padat. Daging dan kulit buahnya mengandung minyak. Minyaknya itu digunakan sebagai bahan minyak goreng, sabun, dan lilin. Ampasnya dimanfaatkan untuk makanan ternak. Ampas yang disebut bungkil inti sawit itu digunakan sebagai salah satu bahan pembuatan makanan ayam. Tempurungnya digunakan sebagai bahan bakar dan arang. Buah diproses dengan membuat lunak bagian daging buah dengan temperatur 90°C. Daging yang telah melunak dipaksa untuk berpisah dengan bagian inti dan cangkang dengan pressing pada mesin silinder berlubang. Daging inti dan cangkang dipisahkan dengan pemanasan dan teknik pressing. Setelah itu dialirkan ke dalam lumpur sehingga sisa cangkang akan turun ke bagian bawah lumpur. Sisa pengolahan buah sawit sangat potensial menjadi bahan campuran makanan ternak dan difermentasikan menjadi kompos.

6

PT. PERKEBUNAN NUSANTARA III (PERSERO) PKS RAMBUTAN

BAB III GAMBARAN UMUM PABRIK KELAPA SAWIT RAMBUTAN

3.1

Paradigma Baru a. Perubahan, perbaikan dan peningkatan metode dan kinerjan adalah salah satu keharusan. b. c. d. Kepuasan pelanggan menjadi prioritas utama untuk memenangkan persaingan. Setiap kegiatan bisnis harus menghasilkan nilai tambah bagi perusahaan. Pemgembangan hubungan industrial yang egaliter berdasarkan keterbukaan, kesetaraan dan kebhinekaan. e. Pengembangan SDM yang terintegrasi untuk membangun Kapital Insani (Human) dan Intelektual yang dibutuhkan Perusahaan. f. Kepemimpinan yang efektif membangun pengaruh melelui kemempuan mengajar dan membagi ilmu, membina hubungan baik dan menjadi panutan. g. h. Penghargaan diberikan kepada Karyawan berdasarkan kompetensi dan kinerjanya. Efektifitas oprasional harus didukung oleh Struktur Organisasi yang sederhabna dan dinamis. i. Pemanfaatan Teknologi sebagai perangkat untuk meninngkatkan produktivitas kerja dan keunggulan kompetitif. j. k. Keputudan bisnis diambil berdasakan fakta dandata yang akurat. Setiap tugas dan operasional perusahaan dilaksanakan dengan cepat tanggap, cepat tindak lanjut, berkualitas dan penuh tanggung jawab dan l. Seluruh aktivitas perusahaan harus berorientasi pada peningkatan mutu dan liingkungan.

3.2

Strategi a. Menjalin dan membangun Hubungan Sinergis yang efektif dengan Mitra Strategis untuk mewujudkan peluang bisnis. b. Melaksanakan Manajemen Berorientasi Pasar, sensitive terhadap kecenderungan industry dan pergerakan pasar, dan mencermati Pesaing. c. Menjaga keseimbangan antara pertumbuhan dengan kemampuan labaan.
7

PT. PERKEBUNAN NUSANTARA III (PERSERO) PKS RAMBUTAN

d.

Mematuhi aturan-aturan SHE – Safety, Health, and Environtment – Keselamatan, Kesehatan Lingkungan. Melaksanakan keunggulan Operasional agar perusahaan menjadi „cost-effective‟ Membangun budaya kerja yang kondusif dengan melaksana kan Tata – Nilai dan Paradigma Baru, dan

e. f.

g.

Membangun dan mengimplementsikan Manajemen Sumber Daya Manusia berbasis kompetensi dan kinerja.

3.3

Tata Nilai Kami memiliki komitmen untuk menjunjung tinggi integritas profesionalitas dan

melaksanakan Tata – Nilai yang berbasis : a. Proactivity – Selalu bersikap proaktif, dengan penuh inisiatif dan mengevaluasi resiko yang mungkin terajdi, b. Excellence – Selalu memperlihatkan gairah keunggulan dan berusaha bekerja keras untuk hasil maksimal sesuai dengan kompetensi kita. c. Team Work – Selalu mengutamankan kerja sama tim, agar mampu menghasilkan sinergi optimal bagi perusahaan. d. Innovation – Selalu menghargai kreatifitas dan menghasilkan inovasi dalam metoda baru dan produk baru. e. Responsibility – Selalu betanggung jawab akibat keputusan yang diambil dan tindakan yang dilakukan.

3.4 Visi

Visi Dan Misi

“Menjadi perusahaan agri-bisnis kelas dunia dengan kinerja prima dan melaksanakan tata kelola bisnis terbaik pada tahun 2012”

8

PT. PERKEBUNAN NUSANTARA III (PERSERO) PKS RAMBUTAN

Misi - Mengembangkan industri hilir berbasis perkebunan secara berkesinambungan. - Menghasilkan produk berkualitas untuk pelanggan. - Memperlakukan Karyawan sebagai asset strategis dan mengembangkannya secara optimal. - Menjadikan perushaan terpilih yang memberikan” imbal-hasil” terbaik bagi para investor. - Menjadikan perusahaan yang paling menarik untuk bermitra bisnis. - Memotivasi Karyawan untuk berpartisifasi aktif dalam Pengembangan Komunnitas. Dan melaksanakan seluruh aktivitas perusahaan yang berwawasan lingkungan.

3.5

Tujuan Lingkungan - Menggunakan Sumber Daya Alam secara efektif dan efisien. - Mencegah pencemaran tanah dan air - Meningkatkan nilai estetika - Mencegah terjadinya potensi kecelakaan kerja - Memenuhi peraturan perundangan dan peraturan lingkungan.

3.6

Sasaran Lingkungan - Mengendalikan taman disekitar lingkungan pabrik - Mengendalikan limbah cair pabrik dan domestic dalam kegiatan pabrik. - Mematuhi peraturan perundangan : - Kep Men LH. 31/Men LH/1993 Tentang Baku Mutu Limbah Cair Bagi Kegiatan Industri.

3.7

Sejarah Singkat PT. Perkebunan Nusantara III adalah salah satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang

bergerak dalam bidang usaha perkebunan dan pengolahan hasil perkebunan. Pada awalnya meupakan perusahaan perkebunan milik Belanda yang beroperasi di Indonesia sejak zaman Kolonial pada masa pemerintahan Hindia Belanda, mulai dari :
9

PT. PERKEBUNAN NUSANTARA III (PERSERO) PKS RAMBUTAN

1. NV. Rubber Cultur Matchappij Amsterdam (RCMA) 2. Hendles Vareeniging Amsterdam (HVA) 3. Vareeniging Deli Matchappij (VDM) 4. NV. Cultur Mij‟de Oekust (CMO) dan lainnya Pada awal proses nasionalisasi PT. Perkebunan Nusantara III dikenal sebagai Perusahaan Perkebunan Asing (PPA) yang selanjutnya berkembang menjadi Perusahaan Perrkebuna Negara (PPN). Langkah awal PT. Perkebunan Nusantara III dimulai pada tahun 1985 dengan nama Perusahaan Cabang Sumatera Utara (PPN-Baru). Berdasarkan PP No. 24/1985 jo. Keputusan Menteri Pertanian No. 229/UM/1957 jo. dan UU. No. 86/1958. Setelah mengalami beberapa perubahan bentuk atau status badan hukum, sejalan dengan UU dan Peraturan Pemerintah, maka pada tahun 1968 PPN-Baru diubah kembali menjadi Kesatuan Perusahaan Negara Perkebunan (PNP) berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian NO.55/KPT/OP/1968 dan pada tahun 1971 ditetapkan pengalihan bentuk menjadi PT. Perkebunan (Persero) dengan keluarnya PP No. 17/1971 dan Surat Keputusan Menteri Keuangan No. 28 /SK/IV/3/1976. Tahun 1994 diadakan penggabungan manajemen PT. Perkebunan III, IV, dan V (Persero) yang dikelola oleh Direksi PT. Perkebunan III. Selanjutnya melalui Peraturan Pemerintah No. 8 Tahun 1996 tanggal 14 Februari 1996 diubah menjadi PT. Perkebunan Nusantara III (Persero). PT. Perkebunan Nusantara III (Persero) didirikan dengan akta Notaris Harun Kamil, SH No. 36 tanggal 11 Maret untuk selanjutnya mendapat pengesahan dari Menteri Kehakiman Republik Indonesia dengan Surat Keputusan No.C2-833.HT. 01 Tanggal 08 Agustus 1996. Pabrik Kelapa Sawit (PKS) Rambutan milik PT. Perkebunan III telah dirintis sejak awal tahun 1983 oleh manajemen PT. Perkebunan Nusantara V. Pada awalnya PKS Rambutan masih di bawah tanggungjawab Administratur Kebun Rambutan dan di bawah penngawasan Inspektur Wilayah C. Pada tahun 1993, PKS sudah memiliki seorang Manager dan di bawah naungan Distrik Deli Serdang II (DSER II).

10

PT. PERKEBUNAN NUSANTARA III (PERSERO) PKS RAMBUTAN

3.8

Struktur Organisasi Perusahaan Pimpinan tertinggi PKS Rambutan berada di tangan seorang manajer yang dibantu oleh

seorang Masinis Kepala, 2 orang asisten pengolahan, seorang asisten teknik, seorang asisten tata usaha dan seorang asisten laboratorium. Struktur karyawan pimpinan: a. Manajer PRBTN b. Masinis Kepala c. Asisten TU / Personalia d. Asisten Teknik e. Asisten Pengolahan I f. Asisten Pengolahan II g. Asisten Laboratorium : Ir. H. Rinaldi, M.T : Ir. A. M. Sihombing : : Ir. Serasi Pelawi : Bangun Patriawan, ST : Abdi : Mastarida Lambok F Sitorus, ST

3.9

Lokasi PKS Rambutan terletak di Desa Paya Bagas, Kecamatan Tebing Tinggi, Kabupaten

Serdang Bedagai Provinsi Sumatera Utara. PKS Rambutan berada pada 305‟ LU dan 98041‟ BT atau sekitar 85 km ke arah tenggara Kota Medan. Keadaan topografis adalah datar, bergelombang hingga berbukit. Jenis tanah berupa pod solik merah kuning yang sangat cocok untuk budidaya tanaman kelapa sawit. Elevasi pabrik berada 18 meter di atas permukaan laut. Dengan elevasi seperti ini, suhu maksimum dan minimum berkisar antara 22 0C -32 0C sampai dengan suhu rata-rata mencapai 27 0C. PKS Rambutan mempunyai curah hujan yang merata sepanjang tahun.

3.10 Sumber Kelapa Sawit Sumber bahan baku tandan buah segar kelapa sawit yang masuk ke PKS Rambutan berasal dari:
11

PT. PERKEBUNAN NUSANTARA III (PERSERO) PKS RAMBUTAN

1. Kebun Rambutan (KRBTN) 2. Kebun Tanah Raja (KTARA) 3. Kebun Sarang Giting (KSGGI) 4. Kebun Gunung Monaco (KGMNO) 5. Kebun Gunung pamela (KGPMA) 6. Kebun Silo Dunia (KSDUN) 7. Kebun Sei Putih (KSPTH)

3.11 Sertifikat ISO Pada tanggal 12 Maret 2004, PT Perkebunan Nusantara III (Persero) telah mendapat pengakuan atau rekomendasi dari badan Sertifikat PT. TUV International Indonesia yang berafiliasi dengan perusahaan Jerman, Rheinland Berlin Brandeburg untuk pelaksanaan Sistem Manajemen Mutu ISO 9001 versi 2000 dan Sistem Manajemen Lingkungan ISO 14001

12

PT. PERKEBUNAN NUSANTARA III (PERSERO) PKS RAMBUTAN

BAB IV MANAJEMEN DAN ORGANISASI PERUSAHAAN

4.1

Pengertian Manjemen 1. Manajemen adalah suatu proses tertentu yang terdiri dari atas perencanaan, pengorganisasian, penggerakan dan pengawasan yang dilakukan untuk menentukan dan mencapai tujuan-tujuan tertentu dengan menggunakan manusia-manusia dan sumber lainya secara efektif dan efesien untuk mencapai suatu tujuan tertentu . 2. Manajemen terrdiri dari enam unsur (6M) yaitu Man, Money, Methode, Materials, Machines, dan Market. 3. Unsur Man (Manusia) ini berkembang menjadi suatu bidang ilmu manajemen yang disebut manajemen sumber daya manusia . 4. Dasar-dasar manajemen adalah sebagai berikut : a. Adanya kerja sama diantara sekelompok orang dalam iakatan formal. b. Adanya tujuan bersama serta kepentingan bersama yang akana dicapai. c. Adanya pembagian kerja, tugas dan tanggung jawab yang teratur. d. Adanyaa hubungan formal dan ikatan tatatertib yang baik. e. Adanya sekelompok orang dan pekerjaan yang akan dikerjakan. f. Adanya Human Organization.

4.2

Fungsi-Fungsi Manajemen 1. Fungsi-fungsi manajemen menurut George R. Ferry, Phd. terdiri dari: 1.1 1.2 1.3 1.4 Perencanaan. Pengorganisasian. Penggerakan. Pengawasan

2. Fungsi-fungsi manajemen menurut Drs. The Liang Gie dan Drs. Sutarto, terdiri dari : 2.1 2.2 2.3 Perencanaan. Pembuatan Keputusan. Pengarahan.
13

PT. PERKEBUNAN NUSANTARA III (PERSERO) PKS RAMBUTAN

2.4 2.5 2.6

Pengkoordisasian. Pengontrolan Penyempurnaan.

3. Fungsi-fungsi manajemen menurut Drs. S.P. Siagian, MPA, terdiri dari : 3.1 3.2 3.3 3.4 3.5 Perencanaan. Pengorganisasian. Pemberian Motivasi. Pengawasan. Penilaian.

4. Fungsi-fungsi manajemen menurut Drs. M. Manullang, terdiri dari : 4.1 4.2 4.3 4.4 4.5 Perencanaan. Pengorganisasian. Penyusunan. Pengarahan. Pengontrolan.

5. Fungsi-fungsi manajemen menurut Frof. Dr. Mr. S. Prayudi Atmo Sudiardjo, terdiri dari : 5.1 5.2 5.3 Perencanaan. Pengorganisasian. Pengawasan.

Selanjutnya di dalam laporan ini fungsi-fungsi manajemen yang dijelaskan adalah fungsifungsi manajemen yang terdiri perencanaan, pengorganisasian, penggerakan dan pengawasan.

4.3

Pengertian Manajemen Sumber Daya Manusia 1. Manajemen Sumber Daya Manusia adalah ilmu dan seni yang mengatur hubungan dan peran tenaga kerja agar efektif dan efisien dalam membantu terwujudnya perusahaan, karyawan dan masyarakat. 2. Tujuannya adalah : 2.1. Perusahaan mendapat laba yang lebih besar . 2.2. Karyawan mendapat kepuasan dari pekerjaan.
14

PT. PERKEBUNAN NUSANTARA III (PERSERO) PKS RAMBUTAN

2.3. Masyarakat memperoleh barang atau jaasa yang baik dengan harga yang wajar dan selalu tersedia dipasar. 2.4. Pemerintah selalu berharap mendapat pajak. 3. Komponen Manajemen Sumber Daya Manusia 3.1 Pengusaha Pengusaha adalah pemegang saham yang bertindak untuk dan atas nama perusahaan Pengusha adalah setiap orang yang mmenginvestasikan modalnya untuk memperoleh pendapatan dan besarnya pendapatan itu tidak menentu tergantung paa laba yang dicapai perusahaan tersebut. 3.2 Karyawan Karyawan adalah penjual jasa (pikiran dan tenaganya) dan mendapatkan kompensasi yang besarnya telah ditetapkan terlebih dahulu. Mereka wajib untuk mengerjakan pekerjaan yang diberikan dan berhak memperoleh kompensasi sesuai dengan perjanjian. Posisi Karyawan dalam suatu perusahaan dibedakan atas Karyawan Pelaksana dan Karyawan Pimpinan. 3.2.1 Karyawan pelaksana adalah setiap orang yang secara langsung harus mengerjakan sendiri pekerjaan yang sesuai dengan perintah atasan. 3.2.2 Karyawan Pimpinan adalah setiap orang yang berhak memerintah bawahannya untuk mengerjakan sebagian pekerjaan yang dikerjakan sesuai perintah. Mereka mencapai tujuannya melalui kegiatan-kegiatan orang lain.

3.3

Pimpinan atau Manajer. Pemimpin adalah seorang yang menyelenggarakan wewenang dan

kepemimpinannya untuk menggerakkan orang lain serta bertanggung jawab atas pekerjaaan orang tersebut agar tercapai suatu tujuan.

3.4

Perkembangan Manajemen Sumber Daya Manusia.
15

PT. PERKEBUNAN NUSANTARA III (PERSERO) PKS RAMBUTAN

Perkembangan manajemen sumber daya manusia didorong oleh masalahmasalah ekonomis, politik dan sosial.

3.5

Fungsi-fungsi Manajemen ditinjau dari Sumber Daya Manusia. Perencanaan Sumber Daya Manusia adalah merencanakan tenaga kerja agar sesuai dengan kebutuhan perusahaan serta efektif dan efisien dalam membantu terwujudnya tujuan. Perencanaan Sumber Daya Manusia ini untuk mendapatkan program pengorganisaian, pengarahan, kompensasi,, pengintegrasian, pemeliharaan, kedisiplinan dan pemberhentian karyawan, jadi di dalam rencana Sumber Daya Manusia harus ditetapkan hal tersebut secara baik dan benar. Tujuan Perencanaan Sumber Daya Manusia - Menentukan kualitas dan kuantitas karyawan yang akan mengisi semua jabatan di dalam perusahaan. - Untuk menjaminn tersedianya tenaga kerja masa kini maupun massa depan, sehingga setiap pekerjaan ada yang mengerjakannya. Untuk menghindari kekurangan atau kelebihan karyawan. Menjadi pedoman dalam melaksanakan mutasi dan pensiun karyawan. Menjadi dasar melakukan penilaian karyawan.

4.4

Pengorganisasian. 1) Pengertian 1.1. Pengorganisasian adalah pembentukan hubungan-hubungan tingkah laku yang efektif di antara orang-orang yang sedemikian rupa sehingga mereka dapat bekerja sama secara efisien dan memperoleh kepuasan pribadi dalam kondisi-kondisi lingkungan tertentu untuk mencapai suatu tujuan atau sasaran tertentu. 1.2. Pengorganisasian dimaksudkan mengadakan hubungan yang tepat antara seluruh tenga kerja dengan maksud agar mereka bekerja secara efisien dalam mencapai tujuan yang sudah ditentukan sebelumnya. 2) Fungsi Organisasi
16

PT. PERKEBUNAN NUSANTARA III (PERSERO) PKS RAMBUTAN

2.1. Organisasi sebagai wadah atau tempat. 2.2. Organisasi Sebagai Alat.

4.5

Stuktur Organisasi 1) Struktur Organisasi PT. Perkebunan Nusantara III (Persero)
R,U.P.S

.

DEWAN KOMISARIS

KOMITE AUDIT

DIREKTUR UTAMA

DIREKTUR RODUKSI

DIREKTUR KEUANGAN

DIREKTUR SDM UMUM

DIREKTUR PEMASARAN

KEPALA BAGIAN TANAMAN

KEPALA BAGIAN PEMBIAYAAN

KEPALA BAGIAN UMUM

KEPALA BAGIAN PEMASARAN

KEPLA BAGIAN SEKRETARIS KORPORAT

KEPALA BAGIAN TEKNIK

KEPALA BAGIAN KEMENTRIAN DAN BINA LINGKUNGAN

KEPALA BAGIAN SDM

KEPALA BAGIAN PENGADAAN

KEPALA BAGIAN SPI

KEPALA BAGIAN TEKNOLOGI/CMR

KEPALA BAGIAN TEKNO;OGI INFPRMASI (TI)

DM WIL LABUHAN BATU-I

DM WIL LABUHAN BATU-II

DM WIL LABUHAN BATU-III

DM WIL . ASAHAN

DM WIL SIMALUN GUN

DM WIL LDELI SERDANG-I

DM WIL LDELI SERDANG-II

DM WIL TAPANULI SELATAN

GM RUMAH SAKIT

GM PIK

MR
MANAJER

MANAJER

MANAJER

MANAJER

MANAJER

MANAJER

MANAJER

MANAJER

MANAJER

Gambar 4.1 Struktur organisasi di PTPN III (PERSERO)

17

PT. PERKEBUNAN NUSANTARA III (PERSERO) PKS RAMBUTAN

2) Struktur Organisasi Kebun
Administratur

Asisiten Kepala

Asisten Tanaman

ATU

ACD/T

APK

Papam

Krani I

Mandor I

Krani ASKEP

Krani I

Mandor Traksi

Mandor Teknik

Mandor Dinas Sipil

Krani I

Krani I

Gambar 4.2 Struktur organisasi kebun

3) Struktur Organisasi Afdeling

ASKEP

Asisten Afdeling

Asisten Afdeling

Mandor I

Krani I

Mandor I

Krani I

Krani ASKEP

Mandor Panen

Mandor Pemelihara

Krani Produksi

Krani Transport

Mandor Deres

Mandor Pemelihara

Krani Produksi

Pembantu Krani ASKEP

Pemanen

Pemelihara

Penderes

Pemelihara

Gambar 4.3 Struktur organisasi afdelling

18

PT. PERKEBUNAN NUSANTARA III (PERSERO) PKS RAMBUTAN

Struktur Organisasi yang digunakan oleh PT. Perkebunan Nusantara III Kebun Rambutan adalah struktur oranisasi garis dan staf. Pimpinan tertinggi dipegang oleh seorang manager dan dibantu oleh seorang Masinis Kepala dan beberapa asisten yang di dalamnya telah terlihat batasan-batasan pertanggungjawaban dari setiap bidang pekerjaan tersebut di samping itu ditunjukkan hubungan antara satu seksi dengan seksi yang lainnya melalui fungsi masing-masing. Uraian wewenang, tugas dan tanggung jawabnya adalah sebagai berikut : h. Manager Jabatan Bertanggung jawab kepada : Manajer : Direksi

Tugas-tugasnya adalah sebagai berikut : 1) Memimpin Pabrik Kelapa Sawit dan membawahi : - Masinis Kepala (Maskep) - Kepala Tata Usaha (KTU/ATU) 2) Melaksanakan kebijakan direksi dan pengontrolan seluruh kegiatan operasional di PKS Rambutan. 3) Mendelegasikan wewenang tugas dan tanggungjawab kepada bawahan yang telah diangkat dan mampu melaksanakan tugas tersebut.

i.

Masinis Kepala Jabatan Bertanggung jawab kepada : Masinis Kepala (Maskep) : Manajer

Tugas-tugasnya adalah sebagai berikut : 1. Membawahi asisten laboratorium, asisten pengolahan serta asisten teknik. 2. Meneliti, menunjuk dan mengawasi pengolahan. 3. Mebantu Manajer dalam mengolah pabrik. 4. Menerima perintah dan tanggung jawab dari manajer.
19

PT. PERKEBUNAN NUSANTARA III (PERSERO) PKS RAMBUTAN

5. Mengkoordinasikan perencanaan dan pelaksanaan kegiatan asisten bagian. 6. Mengawasi kegiatan-kegiatan asisten bagian.

j.

Kepala Tata Usaha Jabatan Bertanggung jawab kepada : Asisten Tata Usaha : Manajer/Maskep

Tugas-tugasnya adalah sebagai berikut : 1. Membantu manajer dalam memimpin seluruh kegiatan administrasi perusahaan. 2. Merencanakan dan mengkoordinasi kegiatan bagian administrasi. 3. Mengawasi pemakaian dan penggunaan alat-alat kantor. 4. Mengkoordinasikan segala pembayaran dan penggunaan barang-barang. 5. Mengawasi seluruh kegiatan administrasi perusahaan. 6. Mengadministrasikan surat masuk dan surat keluar serta mempersiapkan surat keluar untuk kepentingan pabrik. 7. Mempersiapkan daftar gaji 8. Mengkoordinir dan menyusun anggaran belanja kebun

d.

Asisten Laboratorium

Gambar 4.4 Struktur organisasi asisten laboratorium

20

PT. PERKEBUNAN NUSANTARA III (PERSERO) PKS RAMBUTAN

Jabatan Bertanggung jawab kepada

: Asisten Laboratorium. : K.r. Admi Teknik/Listrik/D.Sipil

Tugas-tugasnya adalah sebagai berikut : 1. Meneliti dan mencatat hasil pengolahan kelapa sawit. 2. Menentukan standar dari minyak yang dihasilkan. 3. Membawahi dan mengawasi pekerjaan mandor laboratorium dan mandor sortasi.

e.

Asisten Pengolahan

Gambar 4.5 Struktur organisasi asisten pengolahan

Jabatan Atasan Langsung

: Asisten Pengolahan : Masinis Kepala

Tugas-tugasnya adalah sebagai berikut : 1. 2. 3. Mengevaluasi pelaksanaan pekerjaan di proses pengolahan. Memeriksa kondisi peralatan sebelum pengolahan. Mengidentifikasi serta menganalisa setiap permasalahan yang terjadi di setiap kegiatan proses pengolahan sehingga efektivitas tenaga kerja terjaga.

21

PT. PERKEBUNAN NUSANTARA III (PERSERO) PKS RAMBUTAN

f.

Asisten Teknik Jabatan Bertanggung jawab kepada : Asisten Teknik : Manajer/Maskep

Tugas-tugasnya adalah sebagai berikut : 1. Meninjau langsung dan menanggapi laporan kerusakan mesin dan instalasi baik di dalam maupun di luar pabik. 2. Memberi petunjuk dalam pelaksanaan pengolahan. 3. Mengendalikan proses pengolahan untuk mencapai hasil sebaik – baiknya.

Gambar 4.6 Struktur organisasi asisten teknik

22

PT. PERKEBUNAN NUSANTARA III (PERSERO) PKS RAMBUTAN

g.

Asisten Kepala Keamanan (Papam) Jabatan Bertanggung jawab kepada : Asisten Kepala Keamanan : Manajer/Maskep

Tugas-tugasnya adalah sebagai berikut : 1. Pengawasan pengamanan informasi serta inventaris perusahaan. 2. Memelihara dan menjaga ketenagakerjaan serta ketentuan karyawan dalam melaksanakan tugas. 3. Mendelegasikan tugas-tugas yang dapat dikerjakan oleh bawahan. 4. Memberikan informasi kepada atasan.

PKS Rambutan mempunyai karyawan pimpinan sebanyak 7 orang dan karyawan pelaksanaan yang terdiri dari : 1. Kantor Produksi 2. Bagian Administrasi 3. Pengolahan 4. Teknik 5. Bagian Umum/Satpam 6. Laboratorium dan Sortasi Jumlah : : : : : : : 8 Orang 20 Orang 84 Orang 54 Orang 20 Orang 35 Orang 221 Orang

Pegawai/Karyawan merupakan aspek yang harus diperhatikan karena hal ini menyangkut produktivitas dan mutu produksi. Semua tenaga kerja dipertanggungjawabkan dalam Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek) dan di samping itu juga dalam upaya meningkatkan kesejahteraan sosial bagi para karyawan dan disediakan berbagai fasilitas seperti perumahan, air, listrik, poliklinik, sarana olah raga dan Asuransi Tenaga Kerja.

23

PT. PERKEBUNAN NUSANTARA III (PERSERO) PKS RAMBUTAN

BAB V MAINTENANCE Proses pengolahan minyak kelapa sawit di Pabrik Kelapa Sawit Rambutan dimulai dari penyediaan bahan baku sampai menjadi produk dimana bahan baku di sini adalah Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit dan produk yang dihasilkan yaitu Crude Palm Oil (CPO) dan kernel. 5.1 Pengertian Maintenance Suatu industri manufaktur memiliki mesin-mesin dan peralatan yang tersedia dan siap pakai dan dibutuhkan setiap saat untuk melakukan proses produksi. Fungsi mesin/peralatan yang digunakan dalam proses tersebut akan mengalami kerusakan sejalan dengan semakin menurunnya kemampuan mesin/peralatan tersebut, tetapi usia kegunaannya dapat diperpanjang dengan melakukan perbaikan secara berkala melalui suatu aktivitas pemeliharaan yang tepat. Menurunnya kemampuan mesin/peralatan ada dua jenis, yaitu: 1. Natural Deterioration yaitu menurunnya kinerja mesin/peralatan secara alami akibat terjadinya pemburukan/keausan pada fisik mesin/peralatan selama waktu pemakaian walaupun penggunaan secara benar. 2. Accelerated Deterioration yaitu menurunnya kinerja mesin/peralatan akibat kesalahan manusia sehingga dapat mempercepat keausan mesin/peralatan karena mengakibatkan tindakan dan perlakuan yang tidak seharusnya dilakukan terhadap mesin/peralatan. Kerusakan yang terjadi pada mesin/peralatan dapat terjadi karena banyak sebab dan terjadi pada waktu yang berbeda sepanjang umur mesin/peralatan tersebut digunakan. Oleh karena itu, dalam usaha mencegah dan berusaha untuk menghilangkan kerusakan yang timbul ketika proses produksi berjalan, dibutuhkan cara dan metode untuk mengantisipasinya dengan melakukan kegiatan pemeliharaan mesin/peralatan. Pada dasarnya hasil yang diharapkan dari kegiatan pemeliharaan mesin/peralatan adalah sebagai berikut :

24

PT. PERKEBUNAN NUSANTARA III (PERSERO) PKS RAMBUTAN

1. Condition maintenance yaitu mempertahankan kondisi mesin peralatan agar berfungsi dengan baik sehingga komponen-komponen yang terdapat dalam mesin juga berfungsi dengan umur ekonomisnya. 2. Replacement maintenance yaitu melakukan tindakan perbaikan dan penggantian komponen mesin tepat pada waktunya sesuai dengan jadwal yang telah direncanakan sebelum kerusakan terjadi.

5.2

Tujuan Maintenance Maintenance dilakukan pada mesin/peralatan dengan maksud agar tujuan komersil

perusahaan dapat berjalan dengan lancar dan juga untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan seperti terjadi kerusakan yang terlalu cepat dimana kerusakan tersebut bisa saja dikarenakan keausan akibat pengoperasian yang salah. Karena maintenance adalah kegiatan pendukung bagi kegiatan komersil, maka seperti kegiatan lainnya, maintenance haruslah efektif, efisien, dan berbiaya rendah. Dengan adanya kegiatan maintenance ini, maka mesin/peralatan produksi dapat digunakan sesuai rencana dan tidak mengalami kerusakan selama jangka waktu tertentu yang telah direncanakan tercapai.

5.3

Jenis-Jenis Maintenance Jenis-jenis maintenance terbagi menjadi :

a.

Planned Maintenance ( Pemeliharaan Terencana) Planned Maintenance adalah pemeliharaan yang terorganisir dan dilakukan dengan

pemikiran ke masa depan, pengendalian dan pencatatan sesuai dengan rencana yang telah ditentukan sebelumnya. Oleh karena itu, program Maintenance yang akan dilakukan harus dinamis dan memerlukan pengawasan dan pengendalian secara aktif dari bagian maintenance melalui informasi dari catatan riwayat mesin/peralatan. Konsep planned maintenance ditujukan untuk dapat mengatasi masalah yang dihadapi manajer dengan pelaksanaan kegiatan maintenance. Komunikasi dapat diperbaiki dengan informasi yang dapat memberi data yang lengkap untuk mengambil keputusan. Adapaun
25

PT. PERKEBUNAN NUSANTARA III (PERSERO) PKS RAMBUTAN

data yang penting dalam kegiatan maintenance antaa lain laporan permintaan pemeliharaan, laporan pemeriksaan, laporan perbaikan, dan lain-lain. Pemeliharaan Terencana ada beberapa jenis yaitu, Preventive Maintenance, Corective Maintenance, Predictive Maintenance, Proactive Maintenance, dan Break Down Maintenance. Dan sekarang ini sedang dikembangkan jenis pemeliharaan yang disebut dengan Preventive Maintenance yaitu jenis pemeliharan yang dengan langsung mengadakan perbaikan mesin apabila dijumpai kerusakan di lapangan dalam waktu dilakukan pemeriksaan. 1) Preventive Maintenace Adalah kegiatan pemeliharaan mesin dimana pencegahan kerusakan dilakukan dengan meninjau secara berkala baik itu daily, weekly, montly quarterly, dan yearly. Kegiatan maintenance seperti ini sangat sering dilakukan di PKS Rambutan ini. Manajemen pemeliharaan mesin/peralatan modern dimulai dengan apa yang disebut preventive maintenance yang kemudian berkembang menjadi productive maintenance. Kedua metode pemeliharaan ini umumnya disingkat dengan PM dan pertama kali diterapkan oleh industri-industri manufaktur di Amerika Serikat dan pusat segala kegiatannya ditempatkan satu departemen yang disebut maintenance department. Preventive maintenance mulai dikenal pada tahun 1950-an yang kemudian berkembang seiring dengan perkembangan teknologi yang ada dan kemudian pada tahun 1960-an muncul apa yang disebut productive maintenance. Total productive maintenance (TPM) mulai dikembangkan pada tahun 1970-an pada perusahaan di jepang yang merupakan pengembangan konsep maintenance yang diterapkan pada perusahaan industry manufaktur Amerika Serikat yang disebut Preventive

Maintenance. Seperti dapat dilihat masa periode perkembangan PM di jepang dimana periode tahun 1950-an juga bias dikategorikan sebagai periode “breakdown maintenance”. Melalui prosedur perawatan yang benar dan adanya koordinasi yang baik antara bagian perawatan maka dilakukan sistem perawatan ini.
26

PT. PERKEBUNAN NUSANTARA III (PERSERO) PKS RAMBUTAN

a. b.

Kerugian waktu operasi/produksi dapat diperkecil Biaya perbaikan yang mahal dapat dikurangi.

Sistem perawatan ini sangat penting karena kegunaannya cukup efektif dalam menghadapi fasilitas-fasilitas produksi yang termasuk dalam critical unit “suatu fasilitas atau peralatan termasuk dalam golongan“ critical unit apabila : a. b. c. d. Kerusakan pada unit tersebut dapat membahayakan kesehatan atau keselamatan Kerusakan dapat mempengaruhi kwalitas produk Kerusakan dapat menyebabkan proses produksi terhenti Modal yang diinvestasikan pada fasilitas tersebut cukup tinggi.

Apabila perawatan pencegahan ini dilaksanakan pada fasilitas-fasilitas yang termasuk dalam “critical unit” maka tugas-tugas perawatan dilakukan dengan suatu perencanaan yang intensif untuk unit yang bersangkutan sehingga rencana produksi dapat dicapai dengan jumlah lebih besar dalam waktu yang relative singkat. Dalam prakteknya perawatan dan pencegahan dalam suatu pabrik dapat dibedakan atas: 1. Routine maintenance adalah kegiatan pemeliharaan dan perawatan yang dilakukan secara rutin, misalnya setiap hari. Contohnya kegiatan routine maintenance adalah pelumasan, pengecekan bahan bakar maupun pemanasan mesin dalam beberapa menit sebelum dioperasikan. 2. Periode maintenance adalah kegiatan pemeliharaan dan perawatan yang dilakukan secara periodic atau dalam jangka waktu tertentu. Contoh kegiatan periodic maintenance adalah pergantian bearing.

2) Corrective Maintenance Perawatan koreksi tidak hanya berarti memperbaiki tetapi juga mempelajari sebabsebab terjadinya kerusakan serta cara-cara mengatasinya dengan cepat, tepat dan benar sehingga tercegah terulangnya kerusakan yang sejenis. Dalam hal ini untuk mencegah terulangnya kerusakan sejenis diperlukan tindakan, misalnya:

27

PT. PERKEBUNAN NUSANTARA III (PERSERO) PKS RAMBUTAN

a. b. c. d. e. f.

Merubah proses produksi dari sistem yang lama kepada sistem yang baru. Mengganti jenis material yang lebih baik. Merubah konstruksi mesin yang lama dengan mesin yang baru. Merubah konstruksi mesin/peralatan. Memperbaiki jadwal dan tindakan perawatan. Melatih operator/teknisi yang menangani mesin/peralatan.

Pada corrective maintenance hanya dilakukan perbaikan equipment yang secara berkala harus dilakukan perbaikan baik yang rusak di luar perhitungan. Setiap melakukan harus mempunyai surat perintah kerja (work order). 3) Predictive Maintenance (Perawatan Ramalan) Untuk industri-industri besar yang berproduksi secara terus menerus akan sangat menguntungkan menerapkan sistem perawatan ini, karena bila terjadi kemacetan/ terhentinya aliran produksi beberapa menit saja akan dapat menimbulkan kerugian yang besar. 4) Proactive Maintenance Merupakan pengembangan dari predictive maintenance dengan investigasi dari kerusakan yang dideteksi di lapangan dan langsung mengadakan perbaikan.

5) Breakdown Merupakan pemeliharaan yang mencakup keseluruhan perawatan. Tindakan ini dilakukan apabila kegiatan pabrik berhenti total.

b. Unplanned Maintenance (Pemeliharaan Tak Terencana) Unplanned maintenance biasanya berupa breakdown/emergency maintenance

(pemeliharaan darurat). Pemeliharaan darurat adalah tindakan maintenance yang tidak dilakukan pada mesin peralatan yang masih dapat beroperasi, sampai mesin/peralatan tersebut rusak dan tidak dapat berfungsi lagi. Melalui bentuk pelaksanaan pemeliharaan tak terencana ini, diharapkan penerapan pemeliharaan tersebut akan dapat memperpanjang umur dari mesin/peralatan dan dapat memperkecil frekuensi kerusakan.

28

PT. PERKEBUNAN NUSANTARA III (PERSERO) PKS RAMBUTAN

c.

Autonomous Maintenance (pemeliharaan mandiri) Pemeliharaan ini merupakan suatu kegiatan untuk dapat meningkatkan produktivitas

dan efisiensi mesin/peralatan melalui kegiatan yang dilaksanakan oleh operator untuk memelihara mesin /peralatan yang mereka tangani sendiri. Ada beberapa prinsip yang mendasari kegiatan maintenance ini yaitu, 1. 2. 3. 4. 5. Seiri (clearing up) yaitu menyingkirkan benda-benda yang tidak diperlukan. Seiton (organizing) yaitu menempatkan benda yang diperlukan dengan rapi. Seiso (cleaning) yaitu membersihkan peralatan dan tempat kerja. Seikatsu (standardizing) yaitu membuat standar kebersihan, pelumasan dan inspeksi. Shitsuke (training and discipline) yaitu meningkatkan skill dan moral.

Autonomous maintenance diimplementasikan melalui 7 langkah yang akan membangun keahlian yang dibutuhkan operator agar mereka mengetahui tindakan apa yang harus dilakukan. Tujuh langkah kegiatan yang terdapat dalam autonomous maintenance adalah: 1. 2. 3. Membersihkan dan memeriksa (clean and inspect) Membuat standart pembersihhan dan pelumasan Menghilangkan sumber masalah dan area yang tidak terjangkau (eliminate problem and anaccesible area) 4. 5. 6. 7. Melaksanakan pemeliharaan mandiri (conduct autonomous maintenance) Melaksanakan pemeliharaan menyeluruh (conduct general inspection) Pemeliharaan mandiri secara penuh (fully autonomous maintenance) Pengorganisasian dan kerapian (organization and tidiness)

5.4

Tugas dan Pelaksanaan Kegiatan Maintenance Maintenance adalah untuk dapat memelihara reliabilitas sistem pengoperasian pada tingkat

yang dapat diterima dan tetap memaksimumkan laba dan meminimumkan biaya. Maintenance yang cenderung untuk memperbaiki reliabilitas sistem, termasuk pada kategori kebijaksanaan pokok yang dapat diperinci sebagai berikut: a. Kebijakan yang cenderung untuk mengurangi frekuensi kerusakan peralatan produksi.
29

PT. PERKEBUNAN NUSANTARA III (PERSERO) PKS RAMBUTAN

b. Kebijakan untuk kegiatan pemeliharaan dilaksanakan dengan mempertimbangkan dua hal yaitu penggantian mesin/peralatan dan pelaksanaan reparasi serta didukung oleh keahlian dan keterampilan teknikal. Penggantian peralatan tersebut harus berdasarkan pada: a. Perhitungan terhadap factor biaya. b. Analisa nilai ekonomis mesin/peralatan lama dan mesin/peralatan baru. c. Cadangan mesin/peralatan yang harus segera dimanfaatkan. Seluruh kegiatan maintenance dapat digolongkan ke dalam salah satu dari lima tugas pokok berikut, yaitu: a. Inspeksi (Inspection) Kegiatan inspeksi meliputi kegiatan pengecekan dan pemerikasaan secara berkala (routine schedule check) terhadap mesin/peralatan sesuai dengan rencana yang bertujuan untuk mengetahui apakah perusahaan selalu mempunyai fasilitas mesin/peralatan yang baik untuk menjamin kelancaran proses produksi. b. Kegiatan Teknik (Engineering) Kegiatan teknik meliputi kegiatan percobaan atas peralatan yang baru dibeli, dan kegiatan pengembangan komponen atau peralatan yang perlu diganti, serta melakukan penelitianpenelitian terhadap kemungkinan pengembangan komponen atau peralatan, juga berusaha mencegah terjadinya kerusakan. c. Kegiatan Produksi Kegiatan produksi merupakan kegiatan pemeliharaan yang sebenarnya yaitu dengan memperbaiki seluruh mesin/peralatan produksi. d. Kegiatan administrasi Kegiatan administrasi merupakan kegiatan yang berhubungan dengan pencatatanpencatatan mengenai biaya-biaya yang terjadi dalam melakukan kegiatan pemeliharaan, penyusunan planning dan scheduling, yaitu rencana kapan kegiatan suatu mesin/peralatan tersebut harus diperiksa, diservice dan diperbaiki.
30

PT. PERKEBUNAN NUSANTARA III (PERSERO) PKS RAMBUTAN

BAB VI PROSES PENGOLAHAN KELAPA SAWIT 6.1 Proses Pengolahan Bahan baku Pabrik Kelapa Sawit (PKS) PTP Nusantara III berasal dari hasil kebun sendiri. Minyak sawit atau Crude Palm Oil (CPO) dan inti sawit (kernel) adalah hasil dari pengolahan Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit. Pengolahan yang dilakukan menggunakan prinsip pemisahan antara minyak yang terkandung dalam daging buah dan inti, atau proses untuk mengambil bahan yang sudah tersedia tanpa mengubah sifat kimia buah kelapa sawit tersebut. Hasil yang akan diolah adalah bergantung pada tandan buah segar yang tersedia sebagai bahan baku. Pengolahan buah kelapa sawit dimaksud untuk memperoleh minyak sawit CPO dan inti sawit atau biji nut. Untuk mendapatkan kualitas atau mutu minyak yang baik bermula dari lapangan, sedangkan proses pengolahan pabrik hanya dapat meminimalkan kehilangan (lossis) selama proses. Ada beberapa stasiun dalam pengolahan TBS menjadi CPO dan kernel. Berikut ini nama stasiun serta perlatan dan perawatan dari tiap peralatan proses. 6.2 Stasiun Penerimaan Buah 6.2.1 Jembatan Timbangan

Timbangan adalah alat ukur berat yang berfungsi untuk menimbang dan mengetahui berat Tandan Buah Segar (TBS) yang diterima untuk diolah. Stasiun penimbangan dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

Gambar 6.1 truk buah yang sedang ditimbang di Jembatan Timbang

31

PT. PERKEBUNAN NUSANTARA III (PERSERO) PKS RAMBUTAN

Pertama sekali kelapa sawit dari kebun dinaikkan ke truk dan diangkut ke lokasi pengolahan menggunakan truk dan ditimbang menggunakan jembatan timbangan yang terbuat dari plat baja yang berbentuk segi empat dilengkapi dengan detector berat yang mencatat beratnya pada alat digital. Hasil penerimaan buah dan truk dinyatakan sebagai bruto, berat truk setelah pembongkaran dinyatakan sebagai tarra dan selisih antara berat bruto dan tarra merupakan berat bersih (netto). Untuk ketepatan timbangan dilakukan hal-hal sebagai berikut :  Pada awal penimbangan jarum harus berada pada titik nol,  Timbangan dibaca pada posisi jarum maksimal,  Pada musim hujan air dalam pit harus dipompa, guna mencegah terjadinya kerusakan pada alat.  Memeriksa kebersihan timbangan yang dilakukan setiap hari dan pemeriksaan dilakukan setiap satu minggu. Adapun hal-hal yang perlu dilakukan untuk perawatan pada timbangan :  Pembersihan lantai platform,  Pengurasan air dari bak platform,  Pembersihan engsel-engsel timbangan terutama pada pisau / load shell platform,  Check posisi jarum penujuk printer di angka nol,  Setiap setahun sekali timbangan ditera ulang oleh badan meteorology dan diservis,  Service timbangan oleh mekanik sendiri.

6.2.2

sortasi

Buah yang masak selanjutnya akan dibongkar di loading ramp untuk disortasi berdasarkan fraksinya. Adapun penggolongan fraksi tersebut adalah sebagai berikut:     Fraksi 00 : buah tidak membrondol, sedikit mengandung minyak. Fraksi 0 Fraksi 1 Fraksi 2 : buah membrondol sampai batas 12,5% : buah membrondol sampai batas 12,5-25% : buah membrondol sampai batas 20-50%
32

PT. PERKEBUNAN NUSANTARA III (PERSERO) PKS RAMBUTAN

  

Fraksi 3 Fraksi 4 Fraksi 5

: buah membrondol sampai batas 50-75% : buah membrondol sampai batas70-100% : tandan kosong

Gambar 6.2 TBS yang telah disortasi

Di PKS Rambutan, buah yang akan diolah adalah fraksi II,III dan IV, sedangkan fraksi 00 dan fraksi 5 tidak masuk hitungan. 6.2.3 Loading ramp

Loading ramp adalah penimbunan TBS sementara sebelum penuangan TBS ke dalam lori. Lantai loading ramp dibuat miring dan berlubang yang bertujuan untuk memisahkan kotoran-kotoran seperti pasir, kerikil, dan sampah yang terikut.

Gambar 6.3 loading ramp

Fungsi loading ramp :  Sebagai tempat melakukan sortasi dan penampungan TBS sementara sembari menuggu proses pengolahan.  Sebagai tempat untuk merontokkan atau menurunkan sampah dan pasir yang terikut dengan tandan. Sampah yang tidak mengadung minyak bila ikut diolah dapat menyebabkan kualitas minyak menurun.  Pada kondisi tertentu, sebahagian tempat dilakukan pemisahan buah segar dan restan (TBS) dengan tujuan untuk menyesuaikan waktu rebus kemudian control mutu TBS, penurunan lossis dan mendapatkan mutu produksi CPO yang baik.

33

PT. PERKEBUNAN NUSANTARA III (PERSERO) PKS RAMBUTAN

Spesifikasi loading ramp:  Loading ramp di PKS Rambutan mempunyai sekat sebanyak 24 pintu. Tiap pintu diisi tandan buah sawit yang sudah disortasikan sesuai dengan kapasitasnya.  Setiap pintu menampung 12,5 ton.  Kapasitas loading ramp 300 ton. Setiap pintu dilengkapi hidrolik pack yang berfungsi sebagai pengerak pintu. Faktor yang harus diperhatikan pada loading ramp adalah tidak melakukan pengisian pada loading ramp yang terlalu penuh yang dapat menyebabkan pintu plat bengkok, sehingga buah bertindihan dan tandan buah atau brondolan jatuh ke tanah. Sampah yang terikut dari TBS dapat menyebabkan terjadinya lossis minyak. Adapun perawatan alat ini adalah :  Pembersihan lantai atas dan bawah platform,  Pengutipan brondolan dan sampah di bawah kisi-kisi loading ramp sampai dalam kondisi bersih,  Pemeriksaan oil level miyak pelumas hydraulic,  Perbaikan tuas (handle) pintu yang tidak normal,  Pemeriksaan dan reparasi kisi yang terlalu renggang atau lasa-nya lepas,  Pembersihan as hydraulic pintu loading ramp,  Pencucian filter pintu hydraulic,  Pemeriksaan pompa hydraulic,  Perawatan gear box seperti cek temperatur, cek pelumas gear, dan sebagainya.

6.3

Stasiun Perebusan (Sterilisasi) 6.3.1 Lori

Lori merupakan tempat untuk perebusan TBS. Jumlah lori yang mencukupi merupakan persyaratan awal yang harus dipenuhi agar kapasitas perebusan tercapai. Lori ditarik oleh capstand dan digerakkan oleh electromotor.

34

PT. PERKEBUNAN NUSANTARA III (PERSERO) PKS RAMBUTAN

Spesifikasi lori di PKS Ramburan yaitu, 1 lori mempunyai kapasitas 2,5 ton dan lori memiliki ± 24 buah. Lori berbentuk keranjang balok dengan sejumlah lubang pada ketiga sisinya yang berfungsi untuk menyebarkan steam yang masuk pada saat perebusan. Untuk memudahkan pengangkutan pada lori, bagian depan dan belakangnya dibentuk seperti pulley sebagai penyangga link chain dari housting crane. Masing-masing dihubungkan dengan rantai untuk memudahkan penarikan lori.

Gambar 6.4 roda lori sedang diperbaiki

Lori yang mengalami masalah pada bagian bearing dapat menimbulkan terjadinya lori anjlok, akibatnya akan menganggu proses produksi. Pemeliharaan terhadap roda lori harus dilakukan secara continous karena merupakan faktor penting dalam mengantisipasi terjadinya lori anjlok. Selain itu juga sambungan antar lori harus diperhatikan karena apabila lori tertinggal di dalam rebusan maka akan mengakibatkan waktu yang diperlukan untuk menarik lori tersebut keluar dari rebusan akan bertambah. Perawatan terhadap lori akan membantu kelancaran proses pengolahan. Jika ada beberapa lori yang anjlok tanpa adanya perawatan dan juga jumlah lori yang berkurang pada saat proses pengisian dan pengeluaran buah dari perebusan berlangsung dapat mengakibatkan terjadinya biaya operasional besar dan memakan waktu yang lama. Adapun perawatan pada lori adalah :  Pemeriksaan baut-baut pengikat rumah bushing,  Pemeriksaan peralatan gandengan,  Panambahan grease pada rumah bushing,  Pemeriksaan ring pemutar lori,  Penggantian bushing yang rusak dan melumasi bushing yang masih bisa digunakan,  Penyisipan under carriage yang aus
35

PT. PERKEBUNAN NUSANTARA III (PERSERO) PKS RAMBUTAN

6.3.2

Capstand

Capstand berfungsi untuk menarik lori yang masuk dan keluar dari rebusan. Sebelum dijalankan, bollard harus dalam keadaan bersih dan kering untuk menghindari tali slip ketika digunakan. Bollard capstand dijalankan untuk menarik lori dengan melilitkan tali secara teratur dan tidak bertindihan.

Gambar 6.5 capstand

Adapun perawatan pada capstand adalah sebagai berikut :  Pemeriksaan minyak gear box,  Pemeriksaan/penggantian karet coupling yang rusak, baut coupling dan stel posisi coupling,  Mengencangkan baut ikat gear box,  Pemeriksaan kebocoran seal /as tutup bearing,  Pemeriksaan conector overload,  Pembersihan bagian luar capstand,  Pemeriksaan getaran, suara, panas gear box, power normal,  Penggantian bearing-bearing gear box dan seal-seal yang rusak atau aus,  Penggantian pelumas gear box bila sudah melewati jam kerja pelumas.

6.3.3

Stasiun perebusan (Sterilizer )

Sterilizer adalah bejana uap bertekanan yang digunakan untuk merebus TBS dengan uap (steam). Steam yang digunakan adalah saturated steam dengan tekanan 2,8-3,0 kg/cm2 dan suhu 130OC yang diinjeksikan dari Back Pressure Vessel (BPV) untuk mencapai suatu kondisi tertentu pada TBS yang dapat digunakan untuk mencapai tujuan proses selanjutnya.
36

PT. PERKEBUNAN NUSANTARA III (PERSERO) PKS RAMBUTAN

Gambar 6.6 Panel BPV

PKS Rambutan mempunyai 3 unit perebusan (sterilizer) dengan kapasitas masing-masing 20 ton (isi 8 lori dengan kapasitas lori 2,5 ton). Perebusan dilakukan dengan proses perebusan 3 puncak (triple) dengan sistem penginjeksian dan pembuangan steam diatur secara semi otomatis dan otomatis. Alat perebusan dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

Gambar 6.7 Sterilizer

Tujuan dari perebusan adalah : 1. Mengurangi bahkan menghentikan proses peningkatan Asam Lemak Bebas (ALB), karena pemanasan saat perebusan dapat mematikan aktivitas enzim penyebab hidrolisa minyak (merusak mutu minyak). 2. 3. 4. 5. Mempermudah proses pembrondolan pada thresher. Memaksimalkan kekoplakan pada nut (minimalisasi biji pecah). Melunakkan daging buah sehingga mudah untuk dibubur. Melekangkan inti dari cangkang.

Kapasitas rebusan

= = = ± 32 ton/jam

37

PT. PERKEBUNAN NUSANTARA III (PERSERO) PKS RAMBUTAN

Siklus perebusan adalah yang diperlukan untuk merebus TBS ditambah dengan waktu untuk memasukkan lori ke dalam sterilizer dan mengeluarkannya. Sterilisasi dilakukan dengan sistem 3 puncak, dimana 2 puncak pertama digunakan untuk membebaskan udara di sekeliling tandan dan puncak waktu yang digunakan untuk sterilisasi adalah 90 menit, sedangkan waktu untuk satu siklus perebusan 110 menit.

Gambar 6.8 di sebelah kiri, panel sterilizer. Di sebela kanan Sterilizer

Tahap – tahap yang biasa dilakukan dalam sterilisasi triple peak adalah : 1. Persiapan sterilisasi Setelah lori dimasukkan ke dalam sterilisasi, pintu ditutup, kran-kran inlet steam, exhaust dan kondesat ditutup. 2. Dearasi Inlet steam dibuka dan kran kondesat dibuka untuk membuang udara-udara yang ada di dalam sterilizer selama 3-5 menit. a. Puncak I Kran kondesat ditutup, inlet steam dibuka sampai tekanan 1,5 kg/cm2. Setelah tekanan tercapai, kran inlet steam ditutup dan kran kondesat dibuka hingga tekanan mencapai 0 kg/cm2. b. Puncak II Kran kondesat ditutup dan kran inlet steam dibuka hingga mencapai tekanan 2,5 kg/cm2. Setelah mencapai tekanan 2,5 kg/cm2 kran inlet steam ditutup dan kran kondesat dibuka hingga mencapai tekanan 0,5 kg/cm2. c. Puncak III Kran kondesat ditutup dan kran inlet steam dibuka hingga mencapai 2,8 kg/cm2 30kg/cm2. Setelah mencapai tekanan tersebut, semua kran ditutup dan ditahan selama 45 menit, kemudian kran exhaust dibuka dan setelah mencapai tekanan 1,0 kg/cm2, kran kondesat dibuka hingga tekanan 1 kg/cm2.
38

PT. PERKEBUNAN NUSANTARA III (PERSERO) PKS RAMBUTAN

d. Pintu sterilizer dibuka dan lori-lori dikeluarkan dengan menggunakan bantuan capstand. Faktor –faktor yang mempengaruhi dalam proses perebusan adalah: 1. Tekanan yang terlalu tinggi dan waktu perebusan terlalu lama akan menimbulkan : a. b. c. d. 2. Warna minyak yang diperoleh terlalu tua sehingga sukar dipucatkan. Lossis minyak pada air rebusan bertambah. Nut tidak bersih. ALB (Asam Lemak Bebas) tinggi.

Stasiun perebusan merupakan salah satu sumber lossis. Untuk itu, normal yang diizinkan dari stasiun rebusan adalah : a. Oil lossis pada air kondensat rebusan b. USB (UnStrip Bunch) : maximal 0,7% : maximal 2,0%

Penyebab kerusakan sterilizer biasanya ada kebocoran di dalam sterilizer akibat dari perebusan. Perbaikan biasanya dilakukan dengan cara mengelas bagian dalam sterilizer yang bocor, dan melakukan perawatan dan pemeriksaan setiap 1 bulan sekali. Perawatan-perawatan yang harus dilakukan pada sterilizer :  Melakukan pelumasan pada setiap penutup pintu rebusan.  Pemeriksaan dan perbaikan untuk mengembalikan ke posisi standard rel tumpuan sterilizer.  Pembersihan dan melumasi bagian dalam rebusan pada hari minggu atau pada saat tidak mengelola.  Pembersihan dan melumasi kran dan actuator.  Pemeriksaan dan mereparasi kebocoran wear plat dan pipa control  Pembersihan untuk menghindari kotoran dari panel programmer  Pemeriksaan/mengontrol alat elektronik pada alat programmer  Pelaksanaan penggantian pipa steam dan kondensat yang tipis  Membuang/spee air dari air cleaner sehingga air tidak terbawa ke panel programmer  Pelumasan bearing - bearing pintu

39

PT. PERKEBUNAN NUSANTARA III (PERSERO) PKS RAMBUTAN

6.4

Stasiun Penebahan Stasiun penebahan adalah stasiun pemisahan brondolan dengan janjang kosong dimana buah yang direbus dibanting dengan cara buah diputar di dalam stripper drum dimana pada ketinggian tertentu buah jatuh akibat gaya gravitasi dan gaya sentrifugal.

6.4.1

Hoisting crane

Fungsi hoisting crane adalah untuk mengangkat lori dan menuangkan isi lori ke bunch feeder serta menurunkan lori kosong ke posisi di atas rel menuju loading ramp. Hoisting crane dapat dilihat pda gambar berikut :

Gambar 6.9 Hoisting crane sedang mengangkat lori

Hoisting crane dilengkapi beberapa alat pengaman yaitu :  Alat pengaman naik turun (limit switch)  Alat pengaman maju mundur (limit switch stopper) pada kedua ujung runway beam. Hal yang harus diperhatikan dalam pengoperasian hoisting crane adalah interval penuangan harus kontinu sesuai dengan kapasitas pabrik sehingga selanjutnya berjalan tanpa ada gangguan. PKS Rambutan memiliki dua unit hoisting crane, dimana 1 unit digunakan sedangkan yang satu unit lagi sebagai candangan. Hal yang harus diperhatikan dalam pengoperasian pada hoisting crane, antara lain : 1. 2. 3. Kontinuitas pengumpan. Ketebalan lapisan buah pada hoisting crane. Pengangkatan lori, penuangan ke bunch feeder/hooper auto feeder dan peletakan kembali ke lori.

40

PT. PERKEBUNAN NUSANTARA III (PERSERO) PKS RAMBUTAN

Sebelum hoisting crane dioperasikan, harus dilakukan pengecekan terlebih dahulu terhadap kondisi wire rope dan link chain. Perawatan pada hoisting crane :  Pemeriksaan wire rope dan melumasinya,  Pelumasan roda hoisting crane,  Pemeriksaan minyak pelumas gear box dan memeriksa kebocoran seal  Pemeriksaan dan service komponen listrik,  Pemeriksaan dan membersihkan limit switch,  Service/memperbaiki jalur kabel, trafo, timer, contactor, overload dan sebagainya,  Pemeriksaan/penggantian bearing pada travel carriage hoisting crane dan gear box lainnya,  Pemeriksaan kebocoran gasket reduction gear,  Pemeriksaan / mengganti / mereparasi sistem kopling transmisi,  Pemeriksaan/service sistem rem,  Pemeriksaan rantai tuang lori seperti keausannya dan sebagainya,  Pemeriksaan sprocket tuang (bila memungkinkan di-rebuild),  Mengencangkan baut ikat as tuang  Pemeriksaan pully/As pada hoisting crane  Pemeriksaan / mereparasi seluruh peralatan hoisting crane dengan memakai tenaga ahli, bila diperlukan,  Pemeriksaan keausan monorel hoisting crane.

6.4.2

Bunch feeder

Bunch feeder berfungsi sebagai tempat pengumpanan auto feeder yang menghantarkan buah masuk ke stripper drum agar proses pemipilan berjalan sempurna, kapasitas bunch feeder ± 30 ton TBS/jam, sedangkan daya antara auto feeder dengan kecepatan puataran 6 rpm. Ketebalan lapisan buah pada bunch feeder sebaiknya 20-30 cm (yaitu sekitar 2-3 lori). Penumpukan buah terlalu banyak pada bunch feeder mengakibatkan lossis pada tandan

41

PT. PERKEBUNAN NUSANTARA III (PERSERO) PKS RAMBUTAN

kosong meningkat dan kesulitan pangontrolan pengumpan buah ke stasiun thessher. Bunch feeder dapat dilihat pada gambar berikut.

Gambar 6.10 Bunch Hopper

6.4.3

Threshing

Fungsi dari threshing adalah untuk memisahkan buah dari janjangannya dengan cara mengangkat dan membanting serta mendorong janjangan kosong ke bunch conveyor. Alat berupa tromol berdiameter 1,9-2,0 m dan panjang 3-5 m yang dindingnya berupa kisi-kisi dengan jarak 50 mm untuk memisahkan brondolan dan tandan. Melalui kisi-kisi, brondolan jatuh ke conveyor (bottom fruit conveyor) menuju hooper. Cara kerja threshing adalah dengan membanting tandan masak pada tromol yang berputar (dibantu siku penahan) akibat gaya sentrifugal putaran tromol, pada ketinggian maksimal tandan jatuh ke as threshing akibat gaya gravitasi. Alat threshing dapat dilihat pada gambar berikut.

Gambar 6.11 stasiun penebah (thresher)

Faktor yang mempengaruhi dari efektifitas kerja threshing adalah : 1. Feeding, yaitu kualitas (ukuran buah) dan kuantitas (jumlah umpan) ke stasiun threshing. 2. Kecepatan yang digunakan adalah 20 rpm. 3. Kebersihan kisi-kisi tempat keluarnya pembrodolan.

42

PT. PERKEBUNAN NUSANTARA III (PERSERO) PKS RAMBUTAN

4. Sudut pengarah berfungsi untuk mengarahkan janjangan agar tidak ada beban di dalam stripper drum 5. Spike yang berfungsi untuk mengurangi terjadinya USF (UnSitrip Fruit). Hal –hal yang menyebabkan hasil brondolan kurang sempurna yaitu : 1. Tandan buah kurang masak dalam rebusan. 2. Susunan brondolan dalam tandan sangat rapat dan padat sehingga uap tidak dapat mencapai bagian dalam tandan. 3. Pengeluaran udara (isolator panas) kurang sempurna dalam sterilizer.

Efektifitas stasiun threshing dapat dilihat dari : 1. USF (unstrip fruit) yaitu brondolan yang sudah lepas dari spiklet tetapi tidak mau keluar dari tandan (maximal 0,7%). 2. Oil lossis pada janjangan kosong (1,5-1,8%).

6.4.4

Bunch hopper

Fungsi dari bunch hopper adalah sebagai tempat penampugan janjangan kosong sebelum dibawa ke lapangan. Gambar bunch hopper dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

Gambar 6.12 Empty bunch hopper

6.4.5

Fruit conveyor (konveyor buah)

Untuk mengantarkan (distribusi) brondolan dari penebah (thresher) ke timba buah (fruit elevator). Gambar fruit conveyor dapat dilihat pada gambar berikut.

Gambar 6.13 Fruit Conveyor

43

PT. PERKEBUNAN NUSANTARA III (PERSERO) PKS RAMBUTAN

6.4.6

Fruit elevator

Fruit elevator gunanya untuk memudahkan brondolan dari konveyor buah ke stasiun pencacah. Alat ini terdiri dari sejumlah timba yang diikatkan pada rantai yang digerakkan oleh electromotor. Gambar fruit elevator dapat dilihat pada gambar berikut.

Gambar 6.14 Fruit elevator

6.5

Stasiun Kempa (Pressing) 6.5.1 Pencacahan (Digester)

Digester adalah alat untuk melumatkan brodolan hingga daging buah terpisah dari biji dan menghancurkan sel-sel yang mengandung minyak sehingga minyak dapat diperas sebanyak-banyaknya pada proses pengempaan. Pengaduk ini terdiri dari tabung selinder yang bediri tegak, di dalamnya dipasang pisau-pisau pencacahan sebanyak 6 tingkat yang diikatkan pada poros dan digerakkan oleh motor listrik. 5 tingkat pisau bagian atas digunakan untuk mengaduk/ melumatkan, sedangkan pisau bagian bawah (string botton) di samping pengaduk juga dipakai untuk mendorong massa keluar.

Gambar 6.15 Digester

44

PT. PERKEBUNAN NUSANTARA III (PERSERO) PKS RAMBUTAN

Untuk memudahkan proses pelumatan diperlukan panas 90oC - 95oC, yang diberikan dengan menginjeksikan uap langsung atau pemanasan mantel (jacket). Jarak pisau dengan dinding digester maksimum 15 mm. Isi ketel harus penuh dan pintu tetap tertutup, apabila pencacahan berjalan ± 15 menit maka pintu dibuka ± ¾. Fungsi dari digester : - melumatkan daging buah - memisahkan daging buah dengan biji - mempersiapkan feeding press - mempermudah proses pengepressan - meniriskan minyak - mengurangi biji pecah Faktor yang mempengaruhi kerja digester antara lain adalah : a. Kondisi pisau pengaduk digester, jika aus segera diganti. b. Level volume buah dalam digester, minimal berisi ¾ dari volume digester (pisau begian atas tertutup oleh brondolan). c. Temperatur dijaga pada suhu 90-95OC untuk mempermudah proses pemisahan minyak dengan air. Temperatur dalam digester dijaga dengan menginjeksikan steam ataupun dengan menggunakan steam jacket. d. Masa aduk jangan terlalu lama, serat-serat buah harus masih jelas terlihat, namun lumatan harus homogeny. e. Kebersihan bottom plate f. Kecepatan pengaduk yaitu sebesar 25 rpm g. Kemantangan buah yang sudah direbus h. Kondisi plat siku penahan pada dinding digester.

6.5.2

Screw Press

Screw press berfungsi untuk mengeluarkan minyak dari daging buah dengan cara pengepresan. Feeding dari digester dialirkan ke screw press melalui chute, oleh karena itu
45

PT. PERKEBUNAN NUSANTARA III (PERSERO) PKS RAMBUTAN

tekanan screw press ditahan oleh cone, daging buah diperas dan melalui lubang-lubang sicher minyak dipisahkan dari serabut dan biji. Alat ini dipakai untuk memisahkan minyak kasar (crude oil) dari daging buah (pedicrap). Alat ini terdiri dari sebuah silinder yang berlubang-lubang dan di dalamnya terdapat dua buah ulir (screw) yang berputar dengan arah yang berlawanan sehingga mendesak bubur buah akan tertahan di cones. Minyak keluar dari ketel adukan melalui feeder screw atau bagian pressing yang berlubang-lubang, dan kemudian ditampung dalam talang-talang minyak (oil gutter). Sedangkan serabut dan biji diangkut oleh Cake Breaker Conveyor (CBC) menuju pemisahan dan pengaliran minyak pada feed screw dilakukan injeksi uap dan penambahan air panas atau air delusi dengan tekanan hidrolik pada akumulator 30-40 bar. Press yang digunakan di PKS Rambutan berjumlah 4 buah screw press. Gambar screw press dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

Gambar 6.16 Screw Press

Pengaruh tekanan pada tempa : a. Tekanan yang terlalu tinggi menyebabkan: - Jumlah biji pecah bertambah - Jumlah serat-serat halus yang terikat minyak bertambah, hal ini akan menyulitkan pada proses pemisahan minyak selanjutnya. b. Tekanan terlalu rendah menyebabkan: - Cake basah, sehingga terjadi kerugian minyak pada ampas kempa dan biji tinggi. - Pemisahan ampas dan biji tidak sempurna, sehingga terjadi kesulitan dalam pengolahan biji - Ampas menjadi basah, sehingga tidak dapat digunakan sebagai bahan bakar ketel uap
46

PT. PERKEBUNAN NUSANTARA III (PERSERO) PKS RAMBUTAN

Faktor yang mempengaruhi kerja screw press antara lain : 1. 2. 3. 4. 5. Kondisi worm harus dalam kondisi baik. Tekanan cone sesuai dengan kebutuhan yakni sebesar 30-40 bar. Kemasakan buah yang direbus. Kebersihan pada press. Air delusi.

Air delusi berfungsi untuk mempermudah proses pemisahan minyak dan air. Jika air delusi sedikit, minyak yang dihasilkan lebih murni, tetapi lossis minyak tinggi. Temperatur air delusi harus dijaga 90-95OC. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam kinerja screw press, antara lain : 1. Ampas kempa (press cake) harus keluar merata di sekitar cones. 2. Tekanan hidrolik pada akumulator 30-40 bar. 3. Bila screw prees harus berhenti pada waktu yang lama, screw press harus dikosongkan. Hal-hal yang menyebabkan pengepresan kurang sempurna adalah : 1. Buah kurang matang, 2. Pengadukan tidak sempurna di digester, 3. Screw sudah aus, Akibat ketidaksempurnaan pengepresan dapat menimbulkan : 1. Kehilangan minyak pada ampas meningkat. 2. Kehilangan minyak dalam biji meningkat. 3. Inti pecah meningkat.

6.6

Stasiun Pemurniaan Minyak (Klarifikasi) Minyak sawit yang keluar dari stasiun pengepresan masih berupa minyak kasar karena masih banyak mengandung kotoran berupa tempurung (cangkang) dan serabut-serabut serta air sekitar 40-50%. Kemudian minyak diproses lagi ke stasiun pemurnian minyak untuk memperoleh minyak sawit yang bermutu baik.
47

PT. PERKEBUNAN NUSANTARA III (PERSERO) PKS RAMBUTAN

Minyak yang keluar dari screw press terdiri dari minyak kasar (crude oil) yang masih mengandung kotoran, cairan, butiran pasir dan serabut-serabut serta air 40-50%. Oleh karena itu harus dilakukan pemurnian untuk mengurangi kandungan yang tidak sesuai ketentuan. Stasiun pemurnian minyak berfungsi untuk memisahkan minyak dengan kotoran yang bisa menyebabkan bekurangnya kualitas minyak dan diupayakan agar kehilangan minyak yang terjadi bisa dikurangi seminimal mungkin. Stasiun pemurnian terdiri dari beberapa proses, antara lain : 6.6.1 Sand Trap Tank

Sand trap tank berfungsi untuk menangkap pasir. Adanya pasir mempengaruhi proses kerja di low speed separator, karena dapat merusak nozzle dan piringan (disk). Gambar sand trap tank dapat dilihat di bawah ini.

Gambar 6.17 Sand trap tank

Faktor-faktor yang mempengaruhi efisiensi kerja sand trap tank, antara lain: a. Temperatur Temperatur pada sand trap tank harus mencapai 90-950C dengan memakai steam injeksi, karena kalau terlalu dingin pada saat dilakukan blow down, maka NOS yang dikeluarkan akan terlihat sangat kental dan masih banyak mengandung minyak. b. Blow down Blow down dilakukan minimal setiap 4 jam sekali dan saat blow down harus diperhatikan jangan sampai minyak terikat bersam NOS. PKS Rambutan menggunakan 2 unit sand trap tank berkapsitas 10 m3 yang ujungnya berbentuk cone. Di dalam sand trap tank terdapat sekat atau buffle yang berfungsi untuk mengarahkan aliran minyak kasar ke dasar tangki sehingga memungkinkan pasir yang terdapat pada minyak kasar mengendap.
48

PT. PERKEBUNAN NUSANTARA III (PERSERO) PKS RAMBUTAN

Gambar 6.18 Proses pengendapan pada Sand Trap Tank

6.6.2

Vibro separator

Fungsi dari vibro separator adalah untuk menyaring crude oil dari serabut-serabut yang dapat menganggu proses pemisahan minyak. Vibro terdiri dari 2 talang getar (saringan) bertingkat yang terbuat dari aluminium, dimana tingkat 1 (bagian atas) berdiameter 20 mess dan bagian bawah berdiameter 40 mess. Pada tingkat 1 (bagian atas) dan saringan bagian bawah dibuat lubang untuk membuang kotoran dan serat hasil saringan ke conveyor dan digester. Vibro separator memiliki 12 pegas dengan panjang ±18 cm dan berdiameter ±15 cm yang terbuat dari besi. Getaran pada vibro separator dikontrol melalui penyetelan pada bandul yang diikat pada electromotor. Getaran yang kurang mengakibatkan pemisahan tidak efektif. Kebersihan vibro separator harus dilakukan secra rutin, agar padatan (solid) buangan dari hasil penyaringan vibro tidak menumpuk. PKS Rambutan memiliki 2 unit vibro separator yang dapat dilihat pada gambar berikut.

Gambar 6.19 Vibro Separator

49

PT. PERKEBUNAN NUSANTARA III (PERSERO) PKS RAMBUTAN

Gambar 6.20 Proses pada Vibro Separator

Dan minyak hasil saringan dialirkan ke crude oil tank. Untuk mempermudah proses pemisahan minyak pada saringan getar, maka pada waktu penyaringan massa minyak diencerkan dengan air panas pad suhu ± 60oC. Pengeceran ini diatur sehingga cairan dalam tangki mempunyai perbandingan 1: 2 (minyak : lumpur/sludge) dan jumlah getaran ayakan ± 1300-1400/menit.

6.6.3

Tangki minyak kasar (crude oil tank)

Crude oil tank merupakan tangki penampung minyak kasar hasil saringan dari vibro separator untuk selanjutnya dikirim ke Vertical Clarifier Tank. Gambar crude oil tank dapat dilihat pada gambar berikut.

Gambar 6.21 Crude Oil Tank

Fungsi dari crude oil tank antara lain : - menurunkan NOS (Non Oil Solid) - menambah panas atau temperature. Pemanas dilakukan dengan menggunakan steam injeksi sehingga mencapai sahu 90 - 95oC. Pada bagian atas terdapat 2 saluran penghubung antara crude oil tank dan vibro separator, dilengkapi dengan pemanas “steam coil” di bagian dalam sebagai injector uap dan dengan penyaringan lumpur model buffle (sekat-sekat). Minyak diinjeksikan menggunakan uap
50

PT. PERKEBUNAN NUSANTARA III (PERSERO) PKS RAMBUTAN

dengan temperatur 90-95oC dengan sistem pemanas steam coil tersebut. Sludge hasil pengedapan dibuang (di-blowdown) ketika tangki sudah terlihat kotor. Minyak kemudian dialirkan ke VCT (vertical clarifier tank), perbandingan minyak, air dan kotoran harus 40% : 40% : 20%.

Gambar 6.22 Proses pada Crude Oil Tank

Untuk menjaga kebersihan dalam tangki harus dilakukan blowdown setiap 4 jam sekali atau disesuaikan dengan kodisi.

6.6.4

Vertical clarifier tank (VCT)

Fungsi dari Vertical Clarifier Tank digunakan untuk memisahkan minyak, air dan NOS (Non Oil Solid) secara gravitasi dimana minyak dengan berat jenis yang lebih kecil dari 1 akan berada pada lapisan atas dan air dengan berat jenis =1 akan berada pada lapisan tengah sedangkan NOS dengan berat jenis lebih besar dari 1 akan berada pada lapisan bawah. Gambar VCT dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

Gambar 6.23 Vertical Clarifier Tank

51

PT. PERKEBUNAN NUSANTARA III (PERSERO) PKS RAMBUTAN

VCT terbuat dari baja degan 3 lapisan dan kapasitas 90 ton. Di dalam tangki terdapat skimmer dimana minyak berada di permukaan masuk ke skimmer. Ketebalan minyak dalam VCT adalah 30-50 cm. VCT juga dilengkapi oleh stirrer yang fungsinya dapat mempercepat pemisahan minyak dengan mengadukkan dan memcahkan padatan dan mendorong lapisan minyak sludge.

Gambar 6.24 Proses pada Vertical Clarifier Tank

Prinsip gravitasi dimana air dan lumpur yang berat jenisnya lebih besar akan mengendap sedangkan minyak yang berat jenisnya lebih ringan akan mengapung di atas dan selanjutnya minyak hasil pemisahan VCT dialirkan ke oil tank sedangkan sludge dialirkan ke sludge tank. Faktor yang mempengaruhi performance VCT :       Temperatur Air delusi Stirrer Kualitas feeding Drain (blow down) Desain untuk menentukan retention time

52

PT. PERKEBUNAN NUSANTARA III (PERSERO) PKS RAMBUTAN

6.6.5

Vibro separator

Kotoran atau sludge dari VCT disaring terlebih dahulu di dalam vibro separator sebelum sludge masuk ke dalam sludge tank. Vibro separator terdiri dari 2 lapisan saringan, antara lain : 1. Lapisan I berukuran 30 mesh. 2. Lapisan II berukuran 40 mesh.

Gambar 6.25 Vibro Separator

6.6.6

Sludge tank

Sludge tank berfungsi sebagai tempat penampungan sementara sludge sebelum diolah lagi untuk mendapatkan minyak. Kebersihan tangki mempengaruhi proses NOS dalam sludge sehingga harus dilakukan blow down secara rutin sesuai dengan kondisi. Pemanasan dilakukan dengan sistem injection untuk mendapatkan temperature 90-95OC. Bentuk dari sludge tank dapat dilihat pada gambar berikut.

Gambar 6.26 Sludge Tank

6.6.7

Sand Cyclone (Pre Cleaner)

Sand cylone atau pre cleaner berfungsi untuk menangkap pasir yang terkandung dalam sludge dan memudahkan proses selanjutnya, prinsip pemisahan pasir pada sand cylone adalah gaya sentrifugal yang dihasilkan oleh cylone serta perbedaan berat jenis. Pasir dan kotoran terperangkap pada sand cylone selanjutnya dialirkan ke effluent untuk diolah
53

PT. PERKEBUNAN NUSANTARA III (PERSERO) PKS RAMBUTAN

kembali. Sistem pembuagan pasir pada sand cylone dikendalikan secara otomatis setiap 6 menit dan pembuangan atau blow down berlangsung selama 40 detik. Bentuk sand cylone (pre cleaner) dapat dilihat pada gambar berikut.

Gambar 6.27 Sand cyclone

6.6.8

Buffer Tank

Buffer tank berfungsi sebagai tempat penampungan sementara sebelum didistribusikan ke sludge separator. PKS Rambutan menggunakan satu unit buffer tank berkapasitas 9 m3 yang dilengkapi dengan sistem injection. Temperatur buffer tank dijaga pada suhu 9095OC dan dari adanya kebocoran-kebocoran. Gambar buffer tank dapat dilihat pada gambar berikut.

Gambar 6.28 Buffer Tank

6.6.9

Sludge Separator (Low Speed Separator)

Sludge separator berfungsi untuk mengutip minyak yang masih terkandung dalam sludge dengan cara sentrifugal. Sludge dialirkan melalui nozzle yang berputar dengan kecepatan 1400 rpm sehingga air NOS dengan berat jenis yang lebih besar akan terlempar keluar dan minyak dengan berat jenis yang lebih kecil masuk ke bagian dalam. Kotoran sludge akan terbuang ke parit untuk diolah selanjutnya ke fat pit, dan minyak yang terdapat di bagian dalam sludge separator akan keluar menuju reclaimed tank untuk dipompa ke

54

PT. PERKEBUNAN NUSANTARA III (PERSERO) PKS RAMBUTAN

Vertical Clarifier Tank (VCT). Gambar low speed separator dan high speed separator dapat dilihat pada gambar berikut.

Gambar 6.29 Low Speed Separator dan High Speed Separator

Hal-hal yang harus diperhatikan adalah : 1. 2. 3. 4. 5. Kualitas feeding Balance water Kebersihan nozzle Pelumasan dan pendingin bearing Getaran

6.6.10

Reclaimed Tank

Reclimed tank berfungsi untuk menampung minyak dari sludge separator, drain tank atau kebocoran sebelum di recycle ke Crude Oil Tank atau ke Distribution Tank di CST. Reclaimed tank dibuat berada pada posisi di bawah lantai, dan berikan steam coil untuk menjaga temperatur sludge yang akan dikirim ke continuous tank dan Crude Oil Tank.

Gambar 6.30 Fat Pit

6.6.11

Fat pit

Hasil pembuangan dari air pencucian, serta blow down dari unit klarifikasi dan dari air kondesat sterilizer masih mengandung minyak sehingga seluruhnya ditampung dan

55

PT. PERKEBUNAN NUSANTARA III (PERSERO) PKS RAMBUTAN

dialirkan ke stasiun fat pit. Fat pit berfungsi sebagai tempat proses pengutipan minyak yang belum dibuang ke limbah. Untuk lebih jelas fat pit dapat dilihat pada gambar berikut.

Gambar 6.31 Fat Pit

6.6.12

Tanki masakan minyak (oil tank)

Minyak yang keluar dari VCT (Vertical Clarifier Tank) dimasukkan ke oil tank dengan menggunakan pipa. Oil tank berfungsi untuk mengendapkan kotoran dan sebagai bak penampungan sementara sebelum minyak dimasukkan ke oil purifier dengan kapasitas 10 ton/jam. Gambar oil tank dapat dilihat pada gambar di bawah.

Gambar 6.32 Oil Tank

Kebersihan tangki perlu dijaga karena akan mempengaruhi mutu kadar kotoran dalam minyak. Hal yang harus dilakukan adalah blowdown secara
o

rutin. Pengaturan suhu

dilakukan pada temperatur 90-95 C. Panas yang ada akan menyebabkan air, pasir, sludge akan turun ke lapisan bawah. Kotoran di-blow down setiap 4 jam sekali. Hasil blowdown ditampung di drain tank untuk diproses kembali. Steam coil yang bocor dapat mengakibatkan tingginya kadar air yang tinggi, norma yang diharapkan dari hasil perlakuan pada alat oil tank adalah kadar air max 0,8%, kadar kotoran max 0,013%.

56

PT. PERKEBUNAN NUSANTARA III (PERSERO) PKS RAMBUTAN

6.6.13

Oil purifier

Oil purifier berfungsi untuk mengurangi kadar kotoran, NOS dan air dalam minyak dengan menggunakan prinsip pemisahan berdasarkan gaya sentrifugal. Efektifitas pemisahan dalam oil purifier dikendalikan oleh seal water dan regulating ring. Pembukaan seal water dilakukan pada awal proses dan kran seal water harus ditutup karena apabila kran terbuka akan mengakibatkan kadar air dalam minyak menigkat. Gambar oil purifier dapat di lihat pada gambar berikut.

Gambar 6.33 Oil Purifier

Grafity disc disesuaikan dengan mutu minyak yang akan dihasilkan. Pemilihan grafity disc yang terlalu kecil mengakibatkan CPO yang dihasilkan tidak terlalu bersih, sedangkan bila diameter grafity disc terlalu besar mengakibatkan minyak banyak terikut ke drain, prinsip kerja alat ini adalah menggunakan sentrifugal untuk memisahakan sludge yang masih terikut dengan minyak. Kecepatan putaran sentrifugal adalah sebesar 1500 rpm. Karena gaya pusing blo disk 3000 rpm, maka kotoran dan kadar air yang berat jenisnya lebih besar dari minyak akan berada pada bagian luar. Minyak yang berada di tengah di alirkan ke vacuum dryer, sedangkan kotoran dan air dikeluarakan dari purifier setiap 1 jam sekali dengan sistem back wash/self cleaning. Saat dilakukan back wash, kran outlet oil purifier ke vacuum dryer di tutup, dialirkan ke fat sludge tank (parit). Factor-faktor yang memepengaruhi kinerja oil purifier, antara lain : - control valve feeding - kodisi gear pump - stainer (saringan) - kebersihan disk - putaran tiap waktu - back wash.

57

PT. PERKEBUNAN NUSANTARA III (PERSERO) PKS RAMBUTAN

6.6.14

Float Tank

Minyak yang telah dimurnikan secara otomatis di oil purifier dipompakan ke float tank yang berfungsi untuk menjaga pengumpanan vacuum dryer agar tetap vacuum sehingga dapat bekerja secara optimal.

6.6.15

Vacuum dryer

Vacuum dyer berfungsi untuk mengurangi kadar air dalam minyak produksi. Ujung pipa yang masuk ke vacuum dyer dibuat sempit berbentuk nozzle-nozzle sehingga akibat kevakuman tank, minyak tersedot dan minyak mengabut di dalam vacuum dyer. Temperatur minyak dibuat 90-95OC supaya kadar air cepat menguap dan terhisap oleh vacuum pump. Tekanan vacuum dyer berkisar antara 750-760 mmHg. Minyak yang dapat bersih selanjutnya dipompakan ke storage tank. Gambar vacuum dyer dapat dilihat pada gambar berikut.

Gambar 6.34 Proses pada Vacuum Dryer

Faktor-faktor yang mempengaruhi opresi vacuum dryer, antara lain : 1. kebocoran-kebocoran
58

PT. PERKEBUNAN NUSANTARA III (PERSERO) PKS RAMBUTAN

2. kuantitas dan kualitas feeding. 3. kondisi Nozzle

Gambar 6.35 Vacuum Dryer

6.6.16

Storage tank

Storage tank berfungsi unuk menyimpan sementara minyak produk yang menghasilkan sebelum dikirim. Hal-hal penting yang harus diperhatikan pada storage tank adalah kebersihannya. Kondisi steam koil dan temperatur storage tank harus dibersihkan secara terjadwal dan pemeriksaan kondisi steam koil harus dilakukan secara rutin karena apabila terjadi kebocoran pipa sream koil dapat mengakibatkan naiknya kadar air pada CPO. Bentuk storage tank dapat dilihat pada gambar di atas.

Gambar 6.36 Storage Tank

Hal-hal yang harus diperhatikan di storage tank antara lain 1. 2. 3. 4. Kebersihan tangki harus dibesihkan secra rutin Suhu dijaga pada 40-60 0C Kondisi steam harus di periksa secara rutin Menjaga kinerja pompa pengisian

:

59

PT. PERKEBUNAN NUSANTARA III (PERSERO) PKS RAMBUTAN

BAB VII STASIUN KERNEL

Campuran ampas (fiber) dan biji nut yang keluar dari screw press diproses kembali di stasiun kernel untuk menghasilkan : 1. 2. Cangkang (shell) dan fiber yang digunakan sebagai bahan bakar boiler Kernel (inti sawit) sebagai hail produksi yang siap dipasarkan

Gambar 7.1 Proses Pengolahan Kernel

7.1

Cake breaker conveyor (CBC)

Fiber dan cangkang yang berisi inti sawit yang keluar dari press langsung masuk ke cake breaker conveyor yang terdiri dari satu talang yang mempunyai dinding rangkap, di tengah talang terdapat As screw yang mempunyai pisau-pisau pemecah (Screw Blade). Di dalam conveyor, press cake diaduk-aduk sehingga ampas yang lebih ringan akan mudah dipisahkan dari biji. Untuk lebih jelas cake breaker conveyor dapat di lihat pada gambar berikut.

60

PT. PERKEBUNAN NUSANTARA III (PERSERO) PKS RAMBUTAN

Gambar 7.2 Cake Breaker Conveyor

Cake breaker conveyor berfungsi untuk : 1. Mengantarkan ampas dan biji dari press ke depericarper 2. Memecahkan gumpalan cake dari stasiun press Faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja dari cake breaker conveyor (CBC) adalah : 1. 2. 3. 4. 5. 6. kualitas dan kuantitas umpan clearance pedal sebaiknya 6 mm sudut pedal sebaiknya 15-20 0C putaran cake breaker conveyor sebaiknya sekitar 75 rpm diameter cake breaker conveyor jumlah pedal

7.2

Depericarper

Depericarper adalah alat yang disertai kipas penghisap (blower) yang digunakan untuk menghisap fiber sehingga terpisah dari nut dan membawa fiber untuk menjadi bahan bakar boiler. Untuk lebih jelas dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

Gambar 7.3 Depericarper

61

PT. PERKEBUNAN NUSANTARA III (PERSERO) PKS RAMBUTAN

Dari cake breaker conveyor, ampas dan nut masuk ke depericarper, kemudian ampas (fiber) terhisap ke fiber cylone, sedangkan biji yang lebih berat jatuh ke nut polishing drum. Dengan demikian, depericarper berfungsi memisahkan fiber dengan nut dan membawa fiber menjadi bahan bakar boiler. Efektifitas kerja dari depericarper adalah banyaknya fiber yang terikut pada nut. Proses pemisahan nut dengan fiber bila tidak bersih dapat disebabkan oleh faktor – factor yaitu: 1. Tidak sempurnanya proses sebelumnya seperti sterilizer dan digester. 2. Ampas press yang tidak cukup kering (lembab) 3. Pengisian umpan yang melebihi kapasitas. 4. Kecepatan hisapan udara yang berkurang antara lain adanya kebocoran ducting.

7.3

Nut polishing drum

Nut polishing drum adalah suatu drum yang berputar yang mempunyai plat-plat pembawa yang dipasang miring pada dinding bagian dalam. Di ujung nut polishing drum terdapat lubang-lubang penyaring sebagai tempat keluarnya nut yang kemudian ditransfer melalui nut elevator masuk ke bulk silo. Biji yang telah dipisah dari ampasnya masuk ke dalam nut polishing drum dan putaran drum tersebut biji-biji akan dipolis untuk melepaskan serat-serat yang masih tinggal pada biji oleh plat-plat yang ada pada dinding dan porosnya. Kecepatan putaran drum adalah 2628 rpm. Untuk lebih jelas dapat dilihat pada gambar berikut.

Gambar 7.4 Nut Polishing Drum

Fungsi dari nut polishing drum adalah : 1. Membersihkan biji dari serabut-serabut yang masih melekat 2. Membawa nut dari depericarper ke nut silo
62

PT. PERKEBUNAN NUSANTARA III (PERSERO) PKS RAMBUTAN

3. Memisahkan ke nut dari sampah. Faktor-faktor yang mempengaruhi efektivitas nut polishing drum : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Kondisi plat pengarah atau pengangkat Kecepatan putaran drum Diameter dan panjang drum Diameter lubang penyaringan Jumlah lubang penyaring Kualitas dan kuantitas feeding Kebersihan

7.4

Nut elevator

Nut elevator berfungsi untuk mengantarkan nut dari nut polishing drum ke nut silo. Nut elevator dilengkapi dengan timbangan untuk mengangkut nut. Untuk lebih jelas dapat dilhat pada gambar berikut.

Gambar 7.5 Nut Elevator

7.5

Nut Silo

Nut silo berfungsi sebagai tempat penyimpanan sementara nut sebelum diolah pada ripple mill. Kebersihan dari pada nut silo harus sangat diperhatikan kerana dapat mempengaruhi terhadap output nut silo agar nut yang diolah sesuai dengan aturan FIFO (first in first out), nut silo yang digunakan pada PKS rambutan berjumlah 2 buah. Untuk lebih jelas dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

63

PT. PERKEBUNAN NUSANTARA III (PERSERO) PKS RAMBUTAN

Gambar 7.6 Nut Silo

7.6

Ripple mill

Ripple mill berfungsi untuk memecahkan cangkang dan inti. PKS Rambutan menggunakan 2 buah ripple mill yang terbagi menjadi 2 line. Ripple mill memecahkan nut dengan cara menjepit nut diantara ripple dan rotor bar. Untuk lebih jelas kita lihat pada gambar berikut.

Gambar 7.7 Ripple Mill

Faktor-faktor yang mempengaruhi efisiensi pemecahan adalah : 1. 2. 3. 4. Kualitas dan kuantitas umpan Kondisi ripple plate dan rotor bar Jarak antara plate dan rotor Kecepatan putaran ripple mill

Kualitas umpan dipengaruhi oleh : 1. Kekoplakan nut, kalau nut tidak koplak maka banyak yang lengket pada cangkang 2. Jenis buah, dura atau tenera 3. Ukuran nut 4. Kadar air yang terkandung dalam inti 5. Umpan yang terlalu banyak (berlebihan)
64

PT. PERKEBUNAN NUSANTARA III (PERSERO) PKS RAMBUTAN

6. Umpan terlalu kering 7. Persentase nut pecah pada umpan besar. Outlet dari ripple mill selanjutnya dibawa oleh cracked mixture conveyor ke LTDS (Light Tenera Dust Separation).

7.7

LTDS (Light Tenera Dust Separation)

LTDS berfungsi untuk memisahkan cangkang dan inti serat dan membawa cangkang untuk bahan bakar boiler. Sistem pemisahan yang dilakukan di sini adalah dengan menggunakan tenaga blower hisap dust separator dengan adjustment dumper untuk menentukan kualitas output yang dikehendaki, sehingga cangkang pecah yang mempunyai luas penampang lebih besar akan terhisap ke atas dan dialirkan ke boiler, sedangkan inti yang terkutip dipompakan ke kernel silo. Campuran dialirkan ke hydrocylone untuk melakukan proses pemisahannya. PKS rambutan memiliki 2 LTDS yaitu LTDS I dan LTDS II yang tersusun secra seri.

Gambar 7.8 LTDS

Faktor-faktor yang mempengaruhi kenerja LTDS adalah : 1. 2. 3. Hisapan (damper, air lock dan blower) Kualitas dan kuantitas umpan Adjustment damper column

7.8

Hydro cylone

Hydro cylone adalah alat yang digunakan memisahkan inti dengan cangkang yang masih terdapat cracked mixture. Jumlah ada 1 unit, kapsitas tiap unit 60 m3/jam. Alat ini terdiri dari : bak air penampung cracked mixture yang terdiri dari beberapa serat
65

PT. PERKEBUNAN NUSANTARA III (PERSERO) PKS RAMBUTAN

-

tabung pemisah yang dilengkapi dengan pompa pengutip dank onus dibawahnya pompa-pompa dewatering drum utuk inti dan cangkang

Gambar 7.9 Hydrocyclone

Cracked mixture yang keluar dari kolom pemisah masuk ke dalam bak air sekat pertama dan dihisap dengan pompa dan tekanan ke dalam tabung pemisah 1 dengan gaya sentrifugal. Benda-benda yang ringan naik ke bagian atas melalui vortex finder dan masuk ke dalam dewatering drum inti dimana air tabung melaui konus masuk ke dalam sekat II, dari sekat II cangkang yang masih becampur dengan inti yang dipompa dihisap dan ditekan ke tabung pemisah ke II. Inti yang naik ke atas melalui vortex vinder dan dikembalikan ke dalam bak air pekat I, sedangkan cangkang melalui konus masuk dewatering drum cangkang untuk dibuang airnya.dengan bantuan pompa dari sekat III cangkang yang masih mengadung sebagian kecil inti hisap.

7.9

Dry Kernel (sistem kering)

Fungsi dari dry kernel adalah fungsi sistem kering. Faktor – faktor yang mempengaruhi kinerja dari dry kernel adalah : 1. 2. 3. Kualitas dan kuantitas umpan Strainer Kondisi blower/fan

7.10

Kernel silo

Kernel silo berfungsi untuk mengurangi kadar air yang terkandung dalam inti produksi. Pengeringan dilakukan dengan cara menghembus udara panas ke steam heater oleh blower

66

PT. PERKEBUNAN NUSANTARA III (PERSERO) PKS RAMBUTAN

ke dalam nut silo dengan temperatur kernel silo terbagi 3 tingkatan yaitu 70 0C, 60 0C dan 50 0C. Gambar kernel silo dapat dilhat pada gambar berikut.

Gambar 7.10 Kernel Silo

Pemasakan dilakukan di dalam kernel silo selama ± 3 jam. Kadar air inti yang terlalu rendah dapat menyebabkan kadar inti berubah warna. Sebaliknya, jika inti kurang kering maka : inti akan menjamur Kadar ALB dan minyak inti tinggi Kadar minyak yang diperoleh lebih rendah

Faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja dari kernel silo, antara lain : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Temperatur Waktu pemasakan Kulitas dan kuantitas Kondisi dan kebersihan heater Suplai steam Kondisi blower atau fan Kebersihan kisi-kisi dalam kernel silo

7.11

Bulk Silo

Bulk Silo berfungsi sebagai tempat penyimpanan inti produksi sebelum dikirim keluar untuk diproduksi dan agar uap air yang terkandung di dalam inti dapat keluar dan tidak menyebabkan kondisi dalam storage tidak lembab yang menyebabkan timbulnya jamur pada inti. Inti dari kernel silo diangkut ke bulk silo dengan menggunakan screw conveyor dan pneumatic conveyor. Gambar dari bulk silo westel dapat dilihat pada gambar di bawah ini.
67

PT. PERKEBUNAN NUSANTARA III (PERSERO) PKS RAMBUTAN

Gambar 7.11 Bulk Silo

68

PT. PERKEBUNAN NUSANTARA III (PERSERO) PKS RAMBUTAN

BAB VIII STASIUN UTILITAS 8.1 Stasiun Boiler Boiler adalah alat untuk menghasilkan uap (steam) dengan bahan bakar fiber dan shell yang berbentuk bejana tertutup yang berfungsi untuk menghasilkan uap yang akan digunakan untuk pembangkit daya listrik dan juga untuk proses pemanasan. PKS Rambutan memiliki 2 unit boiler TAKUMA dengan type N-600 SA water tube, dengan spesifikasi : a. b. c. kapasitas 20 ton uap/jam tekanan kerja 20 kg/cm2 tekanan max 24 kg/cm2 Bagian – bagian Boiler :

8.1.1

 Ruang Bakar Ruang bakar adalah tempat dimana proses pembakaran berlangsung.  Force Dry Fan Force dry fan berfungsi untuk menghembuskan udara dari bawah sehingga bahan bakar akan terbakar dengan sempurna dan nyala api akan merata ke seluruh bagian.  Secondary Fan Secondary fan berfungsi untuk membantu menghembuskan udara dan menghidupkan api dari samping.  Fuel Feeder Fan Fuel feeder fan berfungsi menekan bahan bakar yang keluar dari pendulum supaya langsung masuk ke dalam ruang bakar.  Upper Drum Upper drum berfungsi menyalurkan uap super heat (uap basah), serta menyimpan dan mensuplai air ke seluruh pipa. Dimana normal kapasitas air di dalam drum 3,38 – 6,67 ton air.  Super heater

69

PT. PERKEBUNAN NUSANTARA III (PERSERO) PKS RAMBUTAN

Uap yang keluar dari upper drum belum merupakan uap jenuh dalam arti uap masih mengandung air dan bisa merusak sudu – sudu pada turbin. Jadi, tugas dari pada super heater adalah menghilangkan air yang terbawa oleh uap dan akan menghasilkan uap jenuh (uap kering) kemudian disalurkan ke turbin dan siap menggerakkan turbin.  Pendulum Pendulum berfungsi membagi atau menyebarkan agar bahan bakar terbagi merata di dalam ruang bakar (tidak terjadi penumpukan bahan bakar).  Gelas Penduga Gelas penduga berfungsi membaca level air pada upper drum.  Induced Dry Fan Induced dry fan berfungsi untuk menghisap debu hasil dari sisa pembakaran dan membuangnya keluar melalui chimney (cerobong asap).

Gambar 8.1 induced dry fan

8.1.2     

Prinsip kerja Air dikonversi ke uap dengan pemanasan Air umpan ditambahkan ke boiler untuk menggantikan uap dan air yang “hilang”. Padatan yang terlarut akan tertinggal di air boiler saat air menguap dan akan terkonsentrasi yang dapat menyebabkan kerak dan deposit di boiler. Sirkulasi air di boiler disebabkan berat jenis air karena pemanasan. Di water tube boiler, air dalam pipa dekat fire box (riser tube) akan bergerak ke atas, dan air dalam pipa pada sisi yang lebih rendah suhunya akan bergerak ke bawah (down comers)

70

PT. PERKEBUNAN NUSANTARA III (PERSERO) PKS RAMBUTAN

Faktor –faktor yang harus diperhatikan, antara lain :  Jaga tekanan steam pada tekanan kerja (19-20 kg/cm2)  Lakukan blow down pada sesuai rekomondasi dari hasil analisa laboraturium  Lakukan pembersihan pipa dengan shoot blowder secara priodik (4 jam sekali selama 30 detik)  Pastikan pompa umpan balik (boile feed pump) elektrik dan turbo dalam keadaan baik dan feeding (bahan bakar) harus stabil.  Pastikan safety berfungsi dengan baik dan dibuka manual minimal 1 minggu sekali.  Safety valve drum membuka pada tekanan 21 kg/cm2.  Safety valve superheater membuka pada tekanan 20,5 kg/cm2.  Pastikan tekanan udara dalam ruang bakar minus (10-30 mm.Hg).  Pembukaan kran induk secara perlahan pada waktu start.  Level glass penduga harus keadaan normal.  Tes glass penduga saat hendak start up.  Pastikan glass penduga tidak bocor  Pastikan parameter peralatan berfungsi dengan baik.  Pastikan hand hole tekunci rapat.  Periksa electromotor fan.  Buka kran ventilasi superheater dan upper drum.  Jaga ketinggalan di upper drum (60-70%).  Periksa ruang bakar, jangan sampai bahan bakar menumpuk. Pengurangan kotoran dapat dilakukan dengan cara menyetel dumper FDF dan mengorek kerak dari ruang bakar secara manual.

8.2

Stasiun Pembangkit Tenaga (Power Plant) Power plant adalah alat yang berfungsi menghasilkan energi listrik. Energi listrik dihasilkan dari altenator turbin uap dan generator diesel. Pada pabrik kelapa sawit memiliki altenator untuk membangkitkan daya listrik.

71

PT. PERKEBUNAN NUSANTARA III (PERSERO) PKS RAMBUTAN

8.2.1

Turbin Uap (Steam Turbine)

Turbin uap adalah alat untuk menghasilkan listrik dengan mengubah energi gerak menjadi energi listrik. Tenaga yang digunakan berasal dari uap kering yang dihasilkan ketel uap. Pada PKS Rambutan terdapat 2 unit turbin uap dengan kapasitas masing-masing turbin 600 KW/unit yang digunakan ketika pabrik beroperasi. Putaran turbin rata-rata adalah 4.5005.000 rpm dengan tekanan uap masuk 18 bar. Semua turbin dilengkapi dengan katup keselamatan (safety valve) untuk melindungi turbin dari kondisi pengoperasian yang tidak aman. Katup terbuka dengan mekanis pegas dan menutup pada tekanan tertentu agar turbin berhenti. Peralatan ini juga berhubungan dengan overspeed, dimana jika putaran terlalu tinggi maka plunger akan tersembul dan memicu katup tertutup.

Gambar 8.2 Steam Turbin

8.2.2

Back Pressure Vessel

Back pressure vessel berfungsi untuk mengumpulkan uap bekas sisa dari turbin uap dan ditambahkan air untuk keperluan mesin-mesin lain yang memerlukan uap basah diantara stasiun perebusan (sterilizer), stasiun kempa, stasiun minyak, stasiun pengolahan biji, strorage dan Fat pit.

Gambar 8.3 Back Pressure Vessel (BPV)

72

PT. PERKEBUNAN NUSANTARA III (PERSERO) PKS RAMBUTAN

8.3

Water Treatment 8.3.1 Raw water treatment

Air PKS Rambutan berasal dari sungai yang masih mengadung zat-zat padat yang harus dibersihkan sebelum didemineralisasi dengan cara : 1. 2. 3. 4. Flokulasi Koagulasi Sedimentasi Filtrasi

8.3.2

Flocculation coagulation

Flokulasi dan sedimentasi dilakukan di clarifier tank dengan cara menambahkan tawas (Al2SO4) sebanyak 16-18% dan soda ash (Na2CO3) sebanyak 99,2% maka akan menjadi flokulasi dan koagulasi. Flokulasi adalah terbentuknya flok sedangkan koagulasi adalah proses terjadinya flokulasi. Flokulasi dan koagulasi dilakukan dengan maksud agar zat padat dalam air yang melayang menjadi flok dan mengkoagulasi sehingga cukup berat dan mudah dipisahkan. Banyaknya penambahan zat kimia ditentukan dari analisa laboraturium dan tergantung dari kualitas airnya, karena kualitas air yang berubah-ubah perlu dilakukan zat set secara priodik sehingga penggunaan bahan kimia bisa dioptimalkan. Desain clarifier tank terbentuk cone, air dialirkan ke tengah clarifier tank dengan suatu effect cyclonic untuk memastikan bahan kimia bercampur dengan air, karena proses koagulasi terjadi di bawah kerucut dan menurun akibat turunnya kecepatan air dan mengedap dan membentuk sludge blanket. Untuk mengurangi jumlah sludge blanket harus dilakukan blowdown secara control. Hasil dari clarifier tank dialirkan ke clarifier water basin yang berkapasitas 300 m3.

8.3.3

Sedimentasi

Sedimentasi dilakukan dengan cara mengendapkan air di suatu bak yang berisi sekat atau buffle aliran over flow dengan tujuan untuk menjebak zat padat yang terbawa air sungai. PKS Rambutan menggunakan bak water settling pit berkapasitas 1650 m3 terdiri dari 5 sekat dan domestic water tank berkapasitas 60 m3 pada tower.
73

PT. PERKEBUNAN NUSANTARA III (PERSERO) PKS RAMBUTAN

8.3.4

Filtrantion

Filtration dilakukan pada sand tank dengan tujuan menghilangkan berbagai zat atau material yang terbawa dari flokulasi dan koagulasi dengan cara menyaring melalui lapisan pasir dan batu apung. Secara berangsur-angsur pasir memadat sehingga membatasi aliran air. Jika tekanan air inlet sand filter 1,5 bar di atas tekanan outlet sand filter, maka harus dilakukan back wash. Back wash dilakukan dengan mengalirkan dari bawah ke atas dengan tujuan untuk mencegah kepadatan pasir membuang padatan yang masih menyumbat lapisan pasir. PKS Rambutan memiliki 2 unit sand filter (penyaring pasir) berkapasitas 60 m3 type vertical pressure, tekanan air di peralatan ini adalah 3,5 kg/cm3. Sand filter berisi pasir penyaring. Pasir yang digunakan adalah BS 7/14 dan BS 14/25. Hasil filtrasi dari filter dipompakan ke processing water tank berkapasitas 60 m3 yang berada pada tower.

8.3.5

Demineralitation

Demineralitation merupakan cara untuk memurnikan air dan mineral-mineral, terutama bila air banyak mengadung silica. Demineralitation terdiri dari anion exchanger tank dan kation exchanger tank. Kation exchanger berfungsi untuk menukar mineral-mineral terhadap asam, sedangkan anion exchanger tank berfungsi untuk menukar garam terhadap hidrolisis dan menahan silika. Air yang diolah masuk dari puncak dengan pompa masuk ke dalam distributor dan nozzle secara spray turun kontrak dengan resin dan keluar dari dasar. Outlet air dari masingmasing exchanger harus dimonitor secara teratur, dan jika silica tinggi maka harus dilakukan regenerasi kation dilakukan bila kadar hardness mencapai 5 rpm, sedangkan regenerasi anion dilakukan bila kadar silica mencapai 5 rpm. Tahapan regenerasi terdiri dari : 1. 2. 3. 4. Back wash Injeksi bahan kimia Slow rinse Fst rinse

74

PT. PERKEBUNAN NUSANTARA III (PERSERO) PKS RAMBUTAN

Back wash pada dasarnya adalah mengalir dari dasar ke atas, untuk memecah bad resin yang telah padat dan menghilangkan kotoran sebelum dilakukan regenerasi. Proses regenerasi dilakukan dengan menginjeksikan bahan kimia yaitu untuk kation exchanger tank ditambah sulfurid acid (H2SO4), sedangkan untuk anion exchanger tank ditambah caustic (NaOH). Hal-hal yang harus diperhatikan agar proses regenerasi berjalan aktif dan efisien, antara lain : konsentrasi bahan kimia yang diinjeksikan flow rate injeksi bahan kimia

Setelah regenerasi, maka resin harus dibalas untuk membersihkan sisa-sisa bahan kimia regenerasi dengan aliran seperti operasi norma, yaitu rinse atau slow rinse. masalah-masalah yang sering terjadi di stasiun demineralisasi, antara lain : resin loss, akibat nozzle longer, patah dan sebagainya, sehingga saat back wash resin keluar dari kation exchanger tank dan anion exchanger tank. Umur resin ± 3 tahun atau tergantug pada kondisi air/pengunaan.

8.3.6

feed tank

Feed tank berfungsi sebagai penampung air dari anion exchanger tank yang akan dipompakan ke deaerator tank. 8.3.7 deaerator tank

Deaerator tank berfungsi untuk mengurangi gas yang terlarut dalam air (O2CO2) dan memanaskan temperatur feed water. Hal ini dicapai melalui proses mekanis dan pemanasan menggunakan uap yang berada di dalam pressure daerator. Pressure deaerator adalah suatu pressure vessel dimana air dipompakan ke dalam vessel melalui suatu sistem penyemprotan, membuat gas dan cairan membesar dan lepas dari vacuum, keluar dari sistem injector. Temperatur dan deaerator tank di atas 100-105 0C dan

75

PT. PERKEBUNAN NUSANTARA III (PERSERO) PKS RAMBUTAN

letak deaerator berada di posisi atas untuk mencegah kavitasi pada feed pump. Sebelum masuk ke feed pump diinjeksikan lagi BM 4818ss, BM 3809ss, BM 1807ss. 8.3.8 Interal water treameat

Air yang keluar dari daerator tank sebelum diuapkan ke boiler terlebih dahulu diijeksikan bahan kimia yang berfungsi untuk kualitas air boiler agar tidak terjadi korosi dan kerak. Tujuan dari internal water treatmeat adalah agar operasional boiler bisa efektif dan efisien untuk menhindari pipa dan drum supaya tidak terjadi :  Korosi  Scale (kerak)  Carry over  Foaming

8.3.9

Pengedalian korosi

Penyebab utama terjadinya korosi pada boiler adalah pH dan oksigen. pH harus dipertahankan pada nilai 10,5-11,5 (ketentuan konsultan water treatmeat) hal ini untuk memastikan lingkungan berada pada posisi alkali (basa) dan melindungi lapisan megnetik. Untuk mempertahankan pH bahan kimia yang diijeksikan adalah caustic soda. Oksigen dikurangi dengan proses dearasi yang efektif dan bahan kimia yang digunakan untuk mengedalikan oksigen adalah sulphire. Jenis-jenis korosi yang sering terjadi, antara lain : 1. General corrotion Korosi terjadi karena pH air boiler terlalu rendah 2. Oksigen pitting Penembusan metal akibat adanya oksigen dalam air umpan boiler 3. Causitik embrittlement (keretakan caustic) Terjadi karena kandungan caustic dan umumnya terjadi pada boiler yang sudah tua, karena memiliki drum yang dipaku keliling, dimana ada celah di daerah paku keliling dan sambungan akibat tekanan. Tetapi untuk boiler yang dilas, kerusakan ini jarang terjadi.

76

PT. PERKEBUNAN NUSANTARA III (PERSERO) PKS RAMBUTAN

4. Fatique corrotion Hal-hal yang dampak korosi : a) Tekanan siklus akibat proses pemanasan/ pendinginan yang terlalu cepat yang terpusat pada titik dimana korosi telah terjadi. b) Kerusakan yang terjadi pada pemukiman menta yang terjadi dengan lapisan pencegah oksida dan tekanan siklus. Kerusakan ini biasanya melintang dan melebar dari tabung sebelah dalam dan meluas sekelilingnya. Bahan kimia untuk mengedalikan korosi, antara lain :  Alkalinity dan pH control Berfungsi untuk menjaga tingkat altinity yang sesuai dan mencegah korosi, juga menjamin reaksi kimia pada program water treatment. Alkalinity ini sangat penting untuk mengedapkan pembentukan material sludge dan menjaga silica dalam keadaan solid untuk menghidari terbentuknya formasi kerak silica kompleks.  Sulphire Proses dearasi yang efektif akan mengurangi oksigen sehingga muda ditangani oleh sulphire akan mempengaruhi TDS, oleh karena itu harus control dengan blow down.

8.3.10

Pengedalian kerak

Kerak terjadi di daerah transfer panas yang maksimum dan di daerah yang sirkulasinya buruk. Lapisan isolasi kerak akan menyebabkan over heating. Selain skala dan juga menyebabkan masak corrotion, yaitu suatu kombinasi panas yang sangat tinggi ditambah korosi dan tekan yang dapat melemahkan/ kerusakan pipa. Scale juga menyebabkan turunnya efiesiensi boiler yang selanjunya mempengaruhi power generation dan sterilizer. Kerak yang berbentuk garam dapat terjadi endapan (sludge) dengan treatment. Pengendalian scale di boiler dilakukan dengan cara : 1. Penambahan bahan kimia sludge conditioner Conditioner ini mencegah sludge menjadi kerak dan membuat gumpalan sludge. 2. Control TDS

77

PT. PERKEBUNAN NUSANTARA III (PERSERO) PKS RAMBUTAN

Sludge hasil dari proses pengumpulan akan terjadi TDS di dalam boiler, sehingga harus dikontrol dengan blow down.

8.3.11

Pengedalian carry over (foarming)

Carry over dapat menyebabkan timbulnya kerak pada superheater dan akibatnya tube rusak dan terdapat deposit pada blade turbin. Pengendaliannya adalah dengan cara :  Mengatur konsentrasi bahan kimia di dalam boiler supaya tetap rendah.  Menghidari beban boiler yang berlebihan  Menggunakan bahan kimia anti foaming

78

PT. PERKEBUNAN NUSANTARA III (PERSERO) PKS RAMBUTAN

BAB IX KESIMPULAN DAN SARAN 9.1 Kesimpulan 1. 2. 3. PKS Rambutan mempunyai kapasitas olah sebesar 30 ton TBS/jam. Sistem perebusan di PKS Rambutan menerapkan sistem triple peak. Tekanan yang terlalu besar pada saat pengepresan dapat mengakibatkan inti (kernel) pecah, sedangkan apabila tekanannya terlalu kecil akan mengakibatkan biji basah sehingga lossis pada ampas dan biji bertambah banyak. 4. Struktur dan managemen di PKS Rambutan sudah memenuhi standar ISO karena pada perusahaan sudah terdapat hirarki pada struktur organisasi serta diagram alir pada pabrik. 5. Perawatan (maintenance) di PKS Rambutan berjalan berdasarkan jadwal yang telah ditetapkan seperti jadwal harian, mingguan, bulanan, dan tahunan.

79

PT. PERKEBUNAN NUSANTARA III (PERSERO) PKS RAMBUTAN

9.2

Saran 1. Kebocoran pada packing di pintu rebusan (sterilizer) dan kurangnya supply steam dari inlet dan exhaust valve akan menyebabkan hasil rebusan yang tidak sempurna. Oleh karena itu, perawatan pada pipa – pipa rebusan dan pemilihan serta pemasangan packing yang tepat dan terencana dapat meningkatkan efisiensi dan menurunkan lossis di rebusan. 2. Perusahaan diharapkan memberikan reward (hadiah) kepada para karyawan yang berprestasi dan melakukan inovasi. 3. Kebersihan pabrik dan perawatan peralatan dari pabrik agar tetap dijaga sesuai dengan instruksi kerja agar dapat menjamin kenyamanan dan keselamatan dalam bekerja. 4. Perawatan dan pemeliharaan peralatan mesin tetap dipertahankan sesuai jadwal yang diinstruksikan agar dapat menghasilkan hasil yang maksimal.

Disetujui oleh,

Bangun Patriawan, ST asisten pengolahan

80

PT. PERKEBUNAN NUSANTARA III (PERSERO) PKS RAMBUTAN

DAFTAR PUSTAKA

McCabe, Warren L, dkk.1993.Unit Operatin Of Chemical Engineering. McGraw Hill: New York Mustafa Hadi, Muh.Ir. teknik berkebun kelapa sawit . Penerbit: Adicita Karya Nusa, Yogyakarta, 2004. Nag, PK. Power plant engineering, second edition, Penerbit : Mc Graw Hill. 2002. Syalkhin, P. Diterjemahkan oleh Ir. Zulkifli Harahap, Turbin Uap, penerbit Erlangga, Jakarta 1999. Suyatno, Risza, IR. Kelapa sawit upaya peningkatan produktivitas, Ikanisius, Yogyakarta, 1994. Wakil, M. M steam power plant, Jhon Welly dan Son, New York, 1994

http://en.wikipedia.org/wiki/Base_load_power_plant http://en.wikipedia.org/wiki/Capacity_factor http://www.engineering toolbox.com/power-plant-efficiency-d_960.html http://id.wikipedia.org/wiki/Kelapa_sawit http://www.ideelok.com/budidaya-tanaman/kelapa-sawit http://www.google.co.id/ http://www.scribd.com/

81

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful