Tugas Makalah Politik Hukum - Noviastuti Handayani 2011010462105

PERATURAN DAERAH SYARIAH DALAM SISTEM HUKUM INDONESIA

Mata Kuliah : POLITIK HUKUM
Oleh : NOVIASTUTI HANDAYANI NIM 2011010462105 KELAS MINGGU E

PROGRAM PASCASARJANA MAGISTER KENOTARIATAN UNIVERSITAS JAYABAYA JAKARTA 2012

BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG Indonesia berdasarkan Pasal 1 ayat (2) ditegaskan bahwa kedaulatan ada ditangan rakyat dan dilaksanakan menurut Undang-Undang Dasar, selanjutnya dalam Pasal 1 ayat (3) disebutkan bahwa Indonesia adalah negara hukum. Perlu dijelaskan juga bahwa Pasal 1 ayat (2) adalah pasal demokrasi dan Pasal 1 ayat (3) adalah pasal negara hukum. Diformulasikannya pasal demokrasi dengan pasal negara hukum secara berdekatan dan berurut, tentunya didasari oleh nilai filosofis bahwa Indonesia bukan negara yang dibangun atas dasar kekuasaan tanpa batas dan sewenang-wenang tetapi Indonesia adalah negara yang dibangun dengan mensupremasikan hukum sekaligus juga menghormati rakyat sebagai sumber dan pemilik kedaulatan. Sehingga Indonesia dapat disebut sebagai negara hukum yang demokratis. Menurut Sunaryati Hartono, Sistem Hukum Nasional kita berdasarkan kepada Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Setiap bidang hukum yang akan merupakan bagian dari sistem hukum nasional itu wajib bersumber pada Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.1 Sebagai negara hukum yang demokratis, upaya untuk mempercepat dan memaksimalkan peran pemerintah untuk mensejahterakan rakyat adalah sebuah prioritas politik. Untuk mewadahi ide yang demikian, otonomi daerah adalah sebuah kebijakan politik yang cukup menjanjikan, sebab dalam konteks inilah daerah dapat mengelola potensinya untuk kesejahteraan rakyat daerah. Di Era Otonomi Daerah, dalam menjalankan tugasnya, Kepala Daerah tunduk pada peraturan perundang-undangan yang berlaku, khususnya peraturan daerah dan peraturan perundang-undangan diatasnya secara hierakhis sebagaimana ketentuan Pasal 10 Undang-Undang No. 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan. Dalam Pasal 1 angka 7 dinyatakan bahwa Peraturan
1

Sunaryati Hartono, Politik Hukum Menuju Satu Sistem Hukum Nasional, Alumni, Bandung, 1991. Hlm. 64.

Daerah adalah Peraturan Perundang-undangan yang dibentuk oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) dengan persetujuan bersama Kepala Daerah. Selanjutnya, dalam Pasal 136 ayat (1) dinyatakan bahwa Peraturan Daerah ditetapkan oleh Kepala Daerah setelah mendapatkan persetujuan bersama Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD). Persetujuan ini, menurut Wiyono2 sesungguhnya mengandung kewenangan yang menentukan (dececive), artinya tanpa persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) maka tidak akan pernah ada Peraturan Daerah. Ketentuan itu tidak berarti bahwa kewenangan membuat Peraturan Daerah ada pada Kepala Daerah, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) hanya bertugas memberikan persetujuan. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) mempunyai tugas dan wewenang untuk membentuk Peraturan Daerah yang dibahas dengan Kepala Daerah untuk mendapat persetujuan bersama, sebagaimana diatur dalam Pasal 42 ayat (1) huruf a Undang-Undang No. 32 Tahun 2004. Menurut konstitusi Undang-Undang Dasar 1945, berdasarkan penjelasan dinyatakan bahwa daerah Indonesia akan dibagi dalam daerah provinsi dan daerah provinsi akan dibagi pula dalam daerah berdasarkan penjelasan Pemerintahan Daerah yang lebih kecil.3 Pemerintahan daerah diberikan batasannya dalam UU No.32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, yaitu penyelenggaraan urusan pemerintah oleh pemerintah daerah dan DPRD, menurut asas otonomi dan tugas pembantuan dengan prinsip otonomi yang selluas-luasnya dalam sistem dan prinsip NKRI, sebagaimana dimaksud dalam UUD 1945”. Hubungan fungsi pemerintah daerah dilakukan melalui sistem otonomi, yang meliputi desentralisasi, dekonsentrasi, dan tugas pembantuan dengan hubungan yang bersifat koordinatif administratif, artinya hakikat fungsi pemerintahan tersebut tidak ada yang saling membawahi, namun fungsi dan peran pemerintahan provinsi juga mengemban pemerintahan pusat sebagai wakil pemerintah pusat di daerah.

2

3

Suko Wiyono, Otonomi Daerah Dalam Negara Hukum Indonesia, Pembentukan Peraturan Daerah Partisipatif, (Jakarta:Faza Media, 2006) hlm. 124. Siswanto Sunarno, Hukum Pemerintahan Daerah di Indonesia (Jakarta : Sinar Grafika, 2008), hlm.1.

b.2009 ). atau tidak sesuai lagi dengan kebutuhan masa kini. Hal itu tercermin 4 5 Ni’Matul Huda. hlm. . Fungsi dan Materi Peraturan Perundang-undangan. fungsi integrasi pluralisme sistem hukum. fungsi pembaharuan hukum untuk menyempurnakan peraturan perundang-undangan yang sudah ketinggalan zaman. bentuk. sedangkan “Wet in formele zin” adalah Undang-Undang dalam arti formal. kurang adil. serta konvensi ketatanegaraan. Bagir Manan. maupun keberlakuannya. 2.4 Tentang fungsi Peraturan perundang-undangan5 menurut Bagir Manan secara makro dapat dibedakan atas dua kelompok utama.6 Apabila dikaitkan dengan konsep negara hukum. maka eksistensi peraturan perundang-undangan merupakan salah satu unsure fundamental bagi penyelenggaraan pemerintahan negara berdasarkan atas hukum. keputusan hakim (jurisprudence). dan tanggung jawab antara pusat dan daerah untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan tertentu tidak ditetapkan secara rinci. Peraturan Daerah merupakan bagian integral dari konsep peraturan perundang-undangan. hlm. fungsi kepastian hukum (rechtszekerheid) untuk menjamin terpeliharanya upaya pengaturan dan penegakan hukum melalui perumusan norma hukum yang memenuhi kriteria asas. hlm. (Jakarta: Makalah. Hukum Pemerintahan Daerah (Bandnung : Penerbit Nusa Media. yaitu: a. fungsi internal dan fungsi eksternal. Dalam kepustakaan Belanda peraturan perundang-undangan dikategorikan sebagai “Wet in materiele zin” atau Undang-Undang dalam arti material (luas).. penggunaan bahasa. c. hukum adat. tidak lengkap. fungsi penciptaan hukum melalui pembentukan hukum oleh organ legislatif dan eksekutif. 6 Ibid. pengertian. ialah mengintegrasikan beberapa sistem hukum dan atau materi-materi hukum sejenis sehingga tersusun dalam satu tatanan kodifikasi dan unifikasi hukum yang harmonis.Sistem rumah tangga formal membagi wewenang.86. dan d. 16-20. sistem ini berpangkal tolak pada prinsip bahwa tidak ada perbedaan sifat antara urusan yang diselenggarakan pusat dan yang diselenggarakan oleh daerah. tugas. 1994).

Peraturan Daerah sebagai rambu-rambu hukum. pemelihara serta untuk mempromosikan nilai dan prinsip-prinsip tertentu. . Bedanya. dalam dinamika peraturan daerah. sebaliknya Zippelius menempatkannya pada unsure pertama dengan pengertian yang agak luas. Peraturan Daerah sebagai produk hukum pemerintahan daerah. dikutip dari www.com. Peraturan daerah yang terkait isu moralitas masyarakat secara umum. Jakarta: Bulan Bintang. Attamimi. Suatu Studi Analisis Mengenai Keputusan Presiden yang Berfungsi Pengaturan dalam Kurun Waktu Pelita I Perlita IV. juga sering disebut peraturan daerah anti kemaksiatan. salah satunya adalah peraturan daerah bernuansa agama. oleh Rumadi9 dipilah-pilah menjadi 4 kategori sesuai dengan subtansi yang diaturnya. Peraturan Daerah selain sebagai rambu-rambu. antara lain peraturan daerah anti pelacuran dan perzinaan yang ada di hampir semua daerah. yaitu : 1. hlm. 73. Peraturan daerah dalam kategori ini. Peranan Keputusan Presiden Republik Indonesia dalam Penyelenggaraan Pemerintahan Negara. 8 A. 9 Rumadi. peraturan daerah bermotif agama atau peraturan daerah bias agama yang kemudian secara generik di istilahkan dengan peraturan daerah syariah. 1990). Implementasinya pada Periode Negara Madinah dan Masa Kini. (Jakarta: Disertasi Universitas Indoensia. jika Stahl menempatkan penyelenggaraan pemerintahan menurut undang-undang (wetmatig bestuur) pada elemen yang ketiga dari konsep negara hukum. (Disertasi. secara substansif berisi nilai-nilai yang diyakini dapat memberikan arah bagi para pemimpin daerah dalam menjalankan kekuasaannya sehingga mampu membawa rakyat daerah pada kondisi yang sejahtera lahir dan batin. ialah penyelenggaraan pemerintahan menurut hukum (rechtsmatig bestuur). dalam perjalanannya telah memunculkan peraturan daerah yang beraneka warna. Karena menyangkut moral.google. Empat Kategori Perda Agama. Dilihat dari Segi Hukum Islam.dari konsep Friedrich Julius Stahl7 dan Zippelius8. Bertolak dari fakta bahwa Peraturan Daerah merupakan nilai masyarakat daerah yang dipositifkan. 311. Peraturan daerah kategori ini. 7 Muhammad Tahir Azhary. hlm. dapat dimaknai sebagai rambu-rambu hukum dalam melaksanakan tugas-tugas pemerintahan daerah. Peraturan daerah syariah. Negara Hukum: Suatu Studi tentang Prinsip-Prinsipnya. diakses pada tanggal 28 September 2012. Hamid S. 1992). juga dapat difungsikan sebagai instrumen pemerintahan. tentu saja peraturan daerah jenis ini menjadi perhatian semua agama.

seperti peraturan daerah zakat. Misalnya keharusan memakai jilbab atau busana muslim-muslimah di tempat-tempat tertentu. infak dan shadaqah. Perda bernuansa Agama dan Masa Depan Demokrasi Indonesia. Peraturan daerah yang terkait fashion dan mode pakaian. seperti baca al-Quran. Dengan melihat isu yang melatarbelakanginya. peraturan daerah syariah. sehingga orang dengan gampang mengidentifikasinya sebagai peraturan daerah syariah Islam.com. . Menurut Suaedy10 dari aspek muatan materinya peraturan daerah syariah dapat diklasifikasikan kedalam tiga isu sentral : 1. sehingga tampak sekali kepentingan Islam mendominasi kemunculannya. Peraturan daerah yang terkait keterampilan beragama seperti keharusan bisa baca tulis al-Qur’an. Peraturan daerah ini juga sangat tipikal Islam. dan shalat khusyu. serta peraturan daerah keharusan belajar di Madrasah Diniyah Awwaliyah seperti di Bulukumba. Peraturan daerah jenis ini ada di Sukabumi. dan Cilegon. 10 Ahmad Suaedy. 3. oleh masyarakat tertentu dinilai sebagai alternatif yang memberi solusi di tengah masyarakat yang mengalami distorsi nilai.2. juga untuk memperoleh pelayanan publik. Lebih jauh lagi. Peraturan daerah fashion ini jelas sangat tipikal Islam. diakses tanggal 28 September 2012. seperti pelacuran. keterampilan baca tulis al-Quran tersebut dimasukkan dalam syarat nikah. Menyangkut masalah keterampilan atau ketertiban beragama. syarat kenaikan pangkat bagi Pegawai Negeri Sipil (PNS). Sebuah Sketsa. 2. Peraturan daerah yang menyangkut persoalan pemungutan dana sosial dari masyarakat. 4. Lombok Timur Nusa Tenggara Barat. Menyangkut cara berpakaian atau berbusana. Menyangkut masalah sosial. minuman keras. seperti keharusan mengenakan jilbab dan berpakaian menutup aurat. dan kriminalitas. dikutip dari www. prasayarat bagi seseorang untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. 3. google. Sedangkan untuk ijazah Diniyyah.

2. d) Kelemahan kalangan politisi tentang kemampuan untuk menyusun sebuah peraturan dan tiadanya visi untuk mensejahterakan masyarakat. Selanjutnya Bush menuding beberapa faktor pendorong tumbuh suburnya peraturan daerahperaturan daerah bernuansa agama tersebut adalah : a) Faktor sejarah dan budaya lokal. Tiadanya kemampuan untuk menggali isu-isu strategis untuk mensejahterakan rakyat dan lemahnya kemampuan untuk menyusun sebuah peraturan tentang pemerintah yang baik (good governance). lalu menjadikan referensi agama sebagai sesuatu yang penting untuk dijadikan aturan. Ini terjadi misalnya ketika seorang politisi ingin menyalonkan diri sebagai kepala daerah atau seorang incumbent hendak mencalonkan diri lagi menjadi calon kepala daerah periode berikutnya. . Robin Bush11 menilik faktor pendorong munculnya peraturan daerah-peraturan daerah bernuansa agama dengan terlebih dahulu mengutarakan pemikirannya bahwa sesungguhnya tidak ada single factor dalam fenomena ini. sehingga bisa diprediksikan bahwa peraturan daerah atau kebijakan tersebut sebagai bagian dari upaya menutupi korupsi yang dilakukan oleh para politisi. tetapi oleh kalangan tertentu ada juga yang 11 Ibid. sementara di lain pihak adanya kesempatan politik yang luas dan kekuasaan yang cukup untuk membuat berbagai peraturan.Dalam prespektif holistik. b) Daerah-daerah yang memiliki potensi korupsi tinggi. melainkan harus dilihat dari beberapa sudut pandang dengan memilah-milah sejumlah faktor yang mempengaruhinya. Dari kutipan beberapa pakar diatas. Maka salah satu alat untuk menarik para pemilih adalah dengan cara menawarkan diterapkan peraturan daerahperaturan daerah bernuansa agama. c) Pengaruh lokal politik.. tampak bahwa peraturan daerah syariah ternyata bukan hanya instrumen kebijakan yang mutakhir dengan daya kerja yang jitu sehingga dengan begitu saja dapat mencegah dan menghindarkan masyarakat dari bahaya distorsi nilai. hlm. baik di eksekutif maupun legislatif.

Peraturan daerah syariah dalam tataran dialogis yang mendalam. rumusan masalah yang akan diangkat adalah : 1. simbolisme yang dengan vulgar mengusung identitas agama di ruang publik. justru bukan merupakan upaya untuk menempatkan nilai agama sebagai nilai transenden yang luhur. Bagaimanakah peranan peraturan daerah syariah dalam perspektif negara hukum? 2. tetapi malah membawa nilai agama yang subtansial menjadi hanya sekedar formalisme. Bagaimanakah peranan peraturan daerah syariah dalam perspektif politik hukum Indonesia? . RUMUSAN MASALAH Dalam makalah ini.ditarik menjadi komoditas politik yang layak jual. B.

Hal yang paling penting adalah negara harus mengambil posisi netral di dalam masalah keagamaan.BAB II PEMBAHASAN A. selain hukum yang adil. Franz-Magnis Suseno melihat bahwa perlindungan Hak Asasi Manusia adalah salah satu elemen dari the rule of law. . Binder Singh melawan Kanada bahwa negara dapat melarang penggunaan identitas keagamaan di ruang publik. Tema ini menjadi kian menarik. Negara dapat melarang identitas keagamaan di ruang publik untuk melindungi hak dan kebebasan kelompok lain. Negara tidak boleh mengakomodasi identitas atau simbol agama ataupun kepercayaan. untuk mengetahui dan mengukur seberapa jauh posisi negara terhadap agama dan kepercayaan menurut the rule of law. adalah keleluasaan masayarakat daerah melalui institusi politik demokrasi yang memproduksi peraturan daerah syariah yang oleh banyak kalangan dinilai sebagai bentuk pengusungan identitas agama diruang publik. Komite Hak Asasi Manusia Persatuan Bangsa-Bangsa memutuskan di dalam kasus K. Dalam Pasal 1 ayat (3) Undang-Undang Dasar 1945 disebutkan bahwa Negara Indonesia berdasarkan atas negara hukum (the rule of law). Perdebatan boleh atau tidaknya memunculkan identitas keagamaan di ruang publik telah lama menjadi perdebatan di Pengadilan Hak Asasi Manusia Eropa dan Komite Hak Asasi Manusia Persatuan Bangsa-Bangsa. Kita bisa melacak akar prinsip the rule of law dari putusan-putusan pengadilan internasional seperti Pengadilan Hak Azasi Manusia (HAM) Eropa dan Komite HAM Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Pakar ilmu sosial. jika kemudian dikorelasikan dengan prinsip atau asas negara hukum yang demokratis. Larangan tersebut berdasarkan atas Pasal 18 ayat (3) Kovenan Hak Sipil dan Politik (SIPOL). Peraturan Daerah Syariah Dalam Prespektif Negara Hukum Reformasi di Indonesia di satu sisi diakui memang menawarkan kebebasan sehingga memperkuat posisi tawar masyarakat (civil society) dalam hubungannya dengan negara. Salah satu kebebasan yang paling menonjol dalam konteks ini.

seorang mahasiswi yang memakai jilbab. Terkait dengan peraturan daerah syariah. tampak bahwa negara sangat tidak netral dalam masalah keagamaan dan kepercayaan. Dan sebaliknya.Pengadilan Hak Asasi Manusia Eropa lebih tegas di dalam memutus perdebatan boleh atau tidaknya identitas keagamaan di ruang publik. serta tidak konsisten dengan subtansi Pasal 1 ayat (3) Undang-Undang Dasar 1945. Tidak seperti di Turki maupun Kanada. Pengadilan Hak Asasi Manusia Eropa memutuskan di dalam Kasus Sahin melawan Turki bahwa negara harus melarang pemakaian identitas keagamaan di ruang publik. Tetapi Pengadilan Hak Asasi Manusia Eropa berpendapat negara harus netral di dalam masalah keagamaan. Negara hanya boleh mengakomodasi pendidikan dan bahasa untuk kelompok-kelompok minoritas agama dan kepercayaan. Selain itu. Tetapi Pasal 1 ayat (3) Undang-Undang Dasar 1945 secara tegas menyatakan bahwa Indonesia adalah negara berdasarkan atas hukum. Keberadaan sekolah-sekolah keagamaan dan penggunaan bahasa untuk kelompok minoritas adalah sah atas dasar perlindungan kelompokkelompok minoritas menurut Komite Hak Asasi Manusia Persatuan BangsaBangsa dan Pengadilan Hak Asasi Manusia Eropa ketika memutus kasus-kasus tersebut di atas. Konstitusi Indonesia tidak menjelaskan apakah negara sekuler atau tidak. . di mana suatu hal yang sangat sulit untuk mendukung pluralisme dan toleransi ketika negara tidak netral di dalam masalah keagamaan dan kepercayaan. memprotes pelarangan penggunaan jilbab di universitas negeri di Turki. peraturan daerah syariah berpotensi mengancam pluralisme dan toleransi. Sahin berargumen bahwa hak memakai jilbab adalah hak perempuan. The rule of law mensyaratkan agar negara harus mengambil posisi netral di dalam masalah keagamaan dan kepercayaan. Pelarangan pemakaian jilbab di universitas negeri di Turki bukan merupakan bentuk pelanggaran Hak Asasi Manusia karena terdapat nilai-nilai pluralisme dan toleransi yang lebih penting di dalam suatu masyarakat yang demokratis. Sahin. negara tidak boleh mengakomodasi identitas keagamaan dan kepercayaan baik kelompok mayoritas maupun minoritas di ruang publik.

B. Isi hukum nasional dan factor-faktor yang mempengaruhinya. dikutip dari www. Menurut Muhadar13. 5. Viktimisasi Kejahatan di Bidang Pertanahan. hlm.14 12 13 14 Paulus M. hlm. Sistem hukum nasional yang diperlukan untuk mencapai tujuan itu serta faktor-faktor yang mempengaruhinya. politik hukum adalah Legal Policy yang akan dilaksanakan secara nasional oleh pemerintah yang mencakup : Pembangunan hukum yang berintikan pembuatan materi-materi hukum agar dapat sesuai dengan kebutuhan pembangunan. dan sekaligus alat untuk menilai dan mengkritisi apakah sebuah hukum yang dibuat sudah sesuai atau tidak dengan kerangka pikir legal policy tersebut untuk mencapai tujuan negara. termasuk panggilan nilai-nilai dasar tujuan negara sebagai pemandu politik hukum. Ibid. 26. Tujuan negara atau masyarakat Indonesia yang diidamkan sebagai orientasi politik hukum. 20. yakni sebagai arahan pembuatan hukum atau legal policy lembaga-lembaga negara dalam pembuatan hukum. 3. legislative review. diakses pada tanggal 28 September 2012. sifat dan ke arah mana hukum akan dibangun dan ditegakkan. sesuai fungsi-fungsi hukum. Tangke.com. 2. (Yogyakarta: LaksBang Pressindo. Perencanaan dan kerangka pikir dalam perumusan kebijakan hukum. termasuk materi-materi hukum di bidang pertanahan: juga bagaimana pelaksanaan ketentuan hukum yang telah ada termasuk penegakan supremasi hukum. dan sebagainya. Politik Hukum mencakup proses pembangunan dan pelaksanaan hukum yang dapat menunjukkan peranan. Peraturan Daerah Syariah dalam Prespektif Politik Hukum Indonesia Politik hukum mengandung dua sisi yang tidak terpisahkan. Politik Hukum dan PerdaSI. 4. Dengan kata lain. Muhadar. maka pembahasan politik hukum untuk mencapai tujuan negara dengan satu sistem hukum nasional mencakup sekurang-kurangnya hal-hal berikut12 yaitu : 1. Dengan pengertian-pengertian tersebut.google.. Pemagaran hukum dengan prolegnas dan judicial review. fungsi lembaga dan pembinaan para penegak hukum. 2006). .

Politik hukum merupakan arah pembangunan hukum yang berpijak pada sistem hukum nasional untuk mencapai tujuan dan cita-cita negara atau masyarakat bangsa. Ikut melaksanakan ketertiban dunia. Memajukan kesejahteraan umum. Tujuan negara ini didasarkan pada lima dasar negara (Pancasila). dan Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia. dan keadilan sosial. sebagaimana tertuang dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. 2006). berdasarkan kemerdekaan. Pancasila inilah yang memandu politik hukum nasional dalam berbagai bidang. cetakan pertama. hlm. Pembangunan hukum harus ditujukan untuk mengakhiri tatanan sosial yang tidak adil dan menindas hak-hak asasi manusia. tujuan negara kita tertuang di dalam alinea keempat Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. bangsa Indonesia. Persatuan Indonesia. . Melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia. perdamaian abadi. Mencerdaskan kehidupan bangsa. 16-17. Menegakkan Konstitusi (Jakarta: Pustaka LP3ES Indonesia. yang meliputi : 1. yaitu: Ketuhanan Yang Maha Esa. 2. yakni tegaknya hukum yang demokratis dan berkeadilan sosial. Secara definitif. Hukum di Indonesia harus mengacu pada cita-cita masyarakat bangsa. Tujuan negara kita. Dalam konteks politik hukum jelas bahwa hukum adalah alat yang bekerja dalam sistem hukum tertentu untuk mencapai tujuan negara atau cita-cita masyarakat Indonesia. Kemanusian Yang Adil Dan Beradab.15 15 Mahfud MD. 4. 3. Membangun Politik Hukum. Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat/Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan/Perwakilan. adalah membentuk masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila. dan karenanya politik hukum harus berorientasi pada cita-cita negara hukum yang didasarkan atas prinsip-prinsip demokrasi dan berkeadilan sosial dalam satu masyarakat bangsa Indonesia yang bersatu.

maka diperlukan sistem hukum nasional yang dapat dijadikan wadah atau pijakan dan kerangka kerja politik hukum nasional. Ada yang mengatakan bahwa sistem adalah keseluruhan yang terdiri dari banyak bagian atau komponen yang terjalin dalam hubungan antara komponen yang satu dengan yang lain secara teratur. hukum nasional Indonesia adalah kesatuan hukum atau peraturan perundang-undangan yang dibangun untuk mencapai tujuan negara yang bersumber pada Pembukaan dan Pasal-pasal UUD 1945. Dalam hal ini. menurut Tanya 16 juga harus berfungsi dan selalu berpijak pada empat prinsip cita hukum (rechtsidee). di 16 Bernard L. sebuah Perspektif.. 17 Op. Mewujudkan keadilan sosial dalam bidang ekonomi dan kemasyarakatan. 3. Menciptakan toleransi atas dasar kemanusiaan dan berkeadaban dalam hidup beragama..Hukum sebagai alat untuk mencapai Tujuan Negara.. selain berpijak pada lima dasar (Pancasila). dan cita hukum suatu negara. Mewujudkan kedaulatan rakyat (demokrasi) dan negara hukum (nomokrasi) 4. . dasar negara. sebab cita hukum adalah kerangka keyakinan (belief framework) yang bersifat normatif dan konstitutif.. Mahfud MD. hlm. yakni: 1. sebab. 2. dan cita-cita hukum.17 Berdasarkan cita-cita masyarakat yang ingin dicapai yang dikristalisasikan di dalam tujuan negara. 17 April 2006. Judicial Review dan Arah Politik Hukum. Dalam konteks ini. dan bersifat konstitutif karena mengarahkan hukum dan tujuan yang hendal dicapai oleh negara. Sistem adalah kesatuan yang terdiri dari bagian-bagian yang satu dengan yang lain saling bergantung untuk mencapai tujuan tertentu. Cita hukum itu bersifat normatif karena berfungsi sebagai pangkal dan prasyarat ideal yang mendasari setiap hukum positif. Cit. dasar. Sedangkan hukum nasional adalah hukum atau peraturan perundang-undangan yang dibentuk dan dilaksanakan untuk mencapai tujuan. pengertian tentang sistem hukum nasional Indonesia atau sistem hukum Indonesia perlu dikembangkan. 18. Empat prinsip cita hukum tersebut haruslah menjadi asas umum yang memandu terwujudnya cita-cita dan tujuan negara. Membangun . Banyak yang memberi definisi tentang istilah sistem ini. Tanya. Melindungi semua unsur bangsa (nation) demi keutuhan (integrasi). Makalah untuk Seminar tentang Judicial Review dan Arah Politik Hukum di Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang.

d. sebagai berikut : 1. 5. Elemen atau unsur-unsur sistem hukum. . c. Politik hukum nasional harus ditujukan untuk mencapai tujuan negara. Konsistensi sistem hukum. perdamaian abadi.. Cit. dan cita hukum Indonesia. b. Bernard L... Cit. maka menurut Mahfud MD20 politik hukum nasional harus berpijak pada kerangka dasar. . Politik hukum nasional harus selalu mengarah pada cita-cita bangsa.18 Menurut Soerjono Soekanto19 masalah-masalah yang dipersoalkan dalam system hukum mencakup lima hal. Tanya. Kelengkapan sistem hukum. yakni masyarakat yang adil dan makmur berdasarkan Pancasila. dan keadilan sosial. dasar. sarana. Politik hukum merupakan upaya menjadikan hukum sebagai proses pencapaian cita-cita dan tujuan.. 20-21. 9. hlm.. Mahfud MD. struktur. Op. melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan. politik hukum harus dipandu oleh nilai-nilai Pancasila sebagai dasar negara. Op. sistem hukum nasional Indonesia adalah sistem hukum yang berlaku diseluruh Indonesia yang meliputi semua unsur hukum (seperti isi.. 2. 3. 2. budaya. melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia. yakni : 18 19 20 Ibid. Judicial Review dan Arah Politik Hukum . yaitu : 1. peraturan perundang-undangan. hlm. yakni: a. hlm. Dengan demikian. memajukan kesejahteraan umum. Pengertian-pengertian dasar sistem hukum.dalam Pembukaan dan Pasal-pasal UUD itulah terkandung tujuan.. 31. dan semua sub unsurnya) yang antara yang satu dengan yang lain saling bergantungan dan yang bersumber dari Pembukaan dan Pasal-pasal UUD 1945. Dengan arti ini. Membangun . mencerdaskan kehidupan bangsa.. Di dalamnya terkandung nilai-nilai khas budaya bangsa Indonesia yang tumbuh dan berkembang dalam kesadaran hidup bermasyarakat selama berabad-abad. 3.

2. Autonomous law. b. . Agak mirip dengan butir 3. meletakkan kekuasaan dibawah kekuasaan rakyat. dan konsep keadilan ke dalam satu ikatan hukum prismatik dengan mengambil unsur-unsur baiknya. mewujudkan keadilan sosial dalam ekonomi dan ke masyarakat.a. jika dikaitkan dengan cita hukum negara Indonesia. Hukum dapat merupakan suatu sarana untuk merealisasikan kebebasan dan persamaan. melindungi semua unsur bangsa demi integrasi atau keutuhan bangsa yang mencakup ideologi dan teritori. mempersatukan seluruh unsur bangsa dengan semua ikatan primordialnya. menciptakan toleransi hidup beragama berdasar keadaban dan kemanusian. d. menjadikan para politisi tunduk kepada asas-asas hukum. b. 5. mewujudkan demokrasi (kedaulatan rakyat) dan nomokrasi (kedaulatan hukum). terpaksa mengakui bahwa dalam satu sistem hukum ada dua kemungkinan wajah hukum : 1. politik hukum nasional harus dipandu oleh keharusan untuk : a. nilai sosial. c. d. Sistem hukum dapat bersifat menindas. Tipologi Philippe Nonetz dan Philip Selznick tentang bentuk-bentuk legal ordering : Repressive law. c. membangun keadilan sosial. 4. e. menghargai dan melindungi hak-hak asasi manusia tanpa diskriminasi. Responsive law. Untuk meraih cita dan mencapai tujuan dengan landasan dan panduan tersebut maka sistem hukum nasional yang harus dibangun adalah sistem hukum Pancasila. berbasis moral agama. yakni sistem hukum yang mengambil atau memadukan berbagai nilai kepentingan. dan hukum sering membatasi dan kaku.

. Badan-badan khusus. Keadilan prosedural dapat menjadi pengganti keadilan substantif. misalnya. polisi. 2. Hukum dan otoritas resmi dipergunakan untuk menegakkan konformitas kebudayaan. b. Perspektif resmi mendominasi segalanya. b. Repressive Hukum yang mengabdi kepada kekuasaan dan tertib sosial yang represif. Karakteristik : a. c. e. hukum di identifikasikan dengan negara. Penekanan atas kepatuhan terhadap hukum. mengembangkan suatu mentalitas hukum diantara rakyat. artinya banyak menggunakan paksaan tanpa memikirkan kepentingan yang ada pada rakyat. c. melahirkan pandangan tentang hukum sebagai sarana kontrol sosial. Kepentingan bagi rakyat untuk mendaatkan keadilan memperoleh perlindungan apabila keadilan semacam itu ada. Karakteristik : a. Kelemahan : Perhatian terlalu besar terhadap aturan-aturan dan kepantasan prosedural mengakibatkan peranan hukum semakin sempit. Autonomous Hukum otonom berorientasi pada pengawasan kekuasaan represif artinya hukum otonom merupakan antitesis dari hukum represif. menjadi pusat-pusat kekuasaan yang bebas. Adanya pengadilan yang dapat didatangi secara bebas tanpa manipulasi kekuasaan politik dan ekonomi.Ada tiga tipe keadaan hukum dalam masyarakat: 1. Penekanan pada aturan-aturan hukum sebagai upaya utama mengawasi kekuasaan resmi. adalah terbatas. mendorong ahli hukum mengadopsi sifat konservatif. d. Institusi-institusi hukum langsung terbuka bagi kekuasaan politik.

menyebut lebih peka terhadap masyarakat). Dilihat dari segi fungsinya. (Satjipto Rahardjo. dan mengabaikan prinsip pijakan peraturan daerah. Dari segi Hakikat Peraturan Daerah. artinya memuat materi secara umum sesuai dengan aspirasi yang dilayani (dipandang sebagai kristalisasi dari kehendak masyarakat). memberi peluang sedikit kepada pemerintah untuk membuat penafsiran melalui peraturan pelaksanaan. dapat diambil kesimpulan awal bahwa tipe yang paling relevan untuk rujukan adalah tipe hukum responsif. Politik hukum mengandung dua sisi yang tidak terpisahkan. dengan kerangka pikir legal policy tersebut untuk mencapai tujuan negara. Responsive Sikap responsif dapat diartikan sebagai melayani kebutuhan dan kepentingan sosial. Dari segi penafsiran. Peraturan daerah Bias Syariah Islam : menyalahi hierarki peraturan perundang-undangan. masih perlu metodologis untuk menganalisisnya secara mendalam.3. Setelah melakukan pengkajian teoretik. menyalahi eksistensi peraturan daerah. yakni : sebagai arahan pembuatan hukum atau legal policy lembaga-lembaga negara dalam pembuatan hukum. karena: 1. namun ada beberapa hal. 3. yang dapat disimpulkan berhubungan dengan tatanan Politik Hukum Nasional. Karakteristik: Pergeseran penekanan dari aturan-aturan ke prinsip-prinsip dan tujuan. 2. belum dilakukan secara mendalam. Proses pembuatannya bersifat partisipatif. sebagai gambaran awal. Pentingnya kerakyatan baik sebagai tujuan hukum maupun cara untuk mencapainya. Kendati belum mendalam. yang tidak boleh bertentangan . maka hukum yang berkarakter responsif bersifat aspiratif. Analisis secara mendalam topik Politik Hukum dan Peraturan daerahPeraturan daerah Bias Agama di bumi Pancasila. dan sekaligus alat untuk menilai dan mengkritisi apakah sebuah hukum yang dibuat sudah sesuai atau tidak.

Bagir Manan. serta dengan Biro Hukum (drafting) pada Kantor Gubernur Provinsi NAD. Masukan pertimbangan dan saran ditujukan terhadap kebijakan daerah. bekerja sama dengan Dinas-dinas Dearah lainnya. Dikutip dari www.com. Masukan substansi Syari’at Islam sebagai bahan pembuatan Qanun (perda) berasal dari Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU). Peraturan daerah Bias Syariah Islam mengancam prinsip cita hukum (rechtsidee) mengenai perlindungan terhadap semua unsur bangsa demi keutuhan/integrasi. Pemerintahan Aceh. bimbingan dan nasihat serta saran-saran dalam mengeluarkan kebijakan daerah dari aspek Syariat Islam.21 Peraturan daerah Bias Syariah tidak sejalan dengan cita-cita dan tujuan negara. dimana kesatuan hukum atau peraturan perundang-undangan yang dibangun untuk mencapai tujuan negara. Draft akademis disusun berdasarkan hasil pengkajian dan penelitian baik teks maupun dalam masyarakat dengan bantuan jasa para ahli Syari’at terutama para akademisi dalam lingkungan Perguruan Tinggi. . pertimbangan. Draft yuridis Perda disusun oleh Dinas Syari’at Islam bekerja sama dengan Dinas lain yang terkait. agar kebijakan yang dikeluarkan oleh Pemerintahan Aceh tidak menyimpang dari prinsip-prinsip Syariat Islam. Adapun tugas MPU sebagai badan normatif yang memiliki kedudukan sebagai mitra sejajar dengan adalah memberikan masukan. akan terbit dalam buku 70 Tahun Prof.google. Diakses pada tanggal 28 September 2012. Peraturan daerah ini tidak sejalan dengan sistem hukum nasional Indonesia. menegakkan persatuan tanpa diskriminasi.dengan perundang-undangan yang lebih tinggi (misalnya. baik kepada Pemerintahan Aceh maupun kepada masyarakat. menegakkan hak-hak asasi manusia. kebebasan beragama di dalam Undang-Undang Dasar 1945). seharusnya selalu bersumber pada 21 Husni Jalil. Transfrormasi asas-asas Syari’at (dalam arti luas) dilakukan oleh Dinas Syari’at. yang hendak menegakkan keadilan sosial. Penerapan syariat Islam di aceh di bentuk didalam peraturan daerah (qanun) yangditetapkan oleh Pemerintah Aceh dan Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA). artikel : Implementasi Syariat Islam Berdasarkan Otonomi Khusus Aceh Dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Pembukaan dan Pasal-pasal Undang-Undang Dasar 1945. maupun pada pijakan/dasar Politik Hukum kita. peraturan daerah syariah tidak jarang menimbulkan rresistensi sosial yang memicu perdebatan dalam masyarakat. peraturan daerah-peraturan daerah itu masuk ke dalam ranah persoalan agama. bahkan sudah hakikatnya. karena peraturan hukum daerah dan bias dikategorikan otoritas resmi (formalisasi-sweeping) dipergunakan. tidak hanya bagi non-muslim. Gejala politik syariah ini juga paradoks. Karenanya. Diketahui bahwa. Nonetz. tetapi juga bagi Islam Kultural. Peraturan daerah dengan begitu dapat kehilangan otoritas relijiusnya dan hanya menjadi kebijakan publik biasa dari pemerintah daerah yang bersangkutan. peraturan daerah syariah juga dikhawatirkan dapat menjadi alat politisasi agama. apakah peraturan daerahperaturan daerah tersebut bertentangan dengan undang-undang dan Konstitusi atau tidak. Arah Hukum Indonesia saat ini seharusnya sudah jelas. karena mengajarkan kepalsuan dan kemunafikan dalam keberagamaan. padahal inti keberagamaan adalah toleransi. Selain menimbulkan kontroversi yang memicu ketegangan dan konflik sosial. Kendatipun Undang-Undang tentang otonomi daerah tidak memberi wewenang bidang peradilan dan agama kepada daerah. Karenanya dalam kenyataannya. Resistensi Peraturan Daerah Syariah Dalam Sistem Sosial Indonesia Secara yuridis normatif pemberlakuan syariah Islam di era otonomi daerah ditetapkan melalui instrumen legislatif daerah utamanya peraturan daerah (perda) yang memiliki kekuatan hukum dan politis. kebangkitan Islam Politik dengan mengusung “syariah Islam” jelas sangat mencemaskan. pada cita-cita hukum. dasar negara. hukum positif negara). secara interen. tanpa harus di-perda-kan (menjadi . karena bias peraturan daerah menciptakan in-toleransi hidup beragama yang berdasar keadaban dan kemanusiaan. syariah dapat Mengacu pada tiopologi Repressive. Di daerah melaksanakan syariah/ketentuan/hukum agamanya masing-masing. keberadaan peraturan daerah-peraturan daerah syariah itu perlu terus dikaji untuk menguji. tetapi dalam praktiknya. Peraturan daerah ini mengancam kerangka dasar/pijakan politik hukum kita. Namun. semua umat beragama di Indonesia wajib. yakni terletak pada tujuan negara.

peraturan daerah syariah bahkan diharapkan dapat menjadi solusi bagi berbagai masalah yang membelit bangsa dewasa ini. Sifat relijius syariah dan fokusnya pada pengaturan hubungan antara Tuhan dan manusia. Meski bagi masyarakat yang tidak setuju. peraturan daerah syariah dinilai antara lain mengganggu kerukunan antar umat beragama. kesadaran. manfaat yang paling terasa dari peraturan daerahperaturan daerah syariah adalah meningkatnya keamanan dan ketertiban masyarakat misalnya. namun diragukan bahwa ketaatan itu refleksi ketulusan. dan kedewasaan. Bagi sebagian mereka. menerapkan syariah lewat peraturan daerah dianggap sebagai perintah agama. Pemberlakuan syariah lewat peraturan daerah-peraturan daerah itu pada umumnya diketahui dan disetujui kebanyakan masyarakat Muslim. prinsip-prinsip syariah akan kehilangan otoritas dan nilai agamanya apabila dipaksakan oleh negara. Sangat mungkin ketaatan itu lahir karena rasa takut pada aparat negara. Kendatipun demikian. Jika benar. sebab dilihat dari sifat dan tujuannya. dan ekonomi. maka gejala ini bukanlah cerminan sesungguhnya dari menguatnya institusi hukum dan keamanan. dengan sistem nilai-nilai dan worldview yang hidup dalam masyarakat dan juga kegagalan (kurang berhasilnya) modernisasi dalam berbagai bidang yang dilakukan negara. Harapan ini tampaknya dipengaruhi oleh kegagalan negara mengintegrasikan programprogram politik. masyarakat tampak lebih taat beragama. Artinya. Namun demikian. budaya. Bila benar. mungkin satu-satunya alasan utama bertahan dan berkembangnya pengadilan-pengadilan sekular yang berfungsi memutuskan perkara-perkara praktis dalam pelaksanaan peradilan dan pemerintahan secara umum.peraturan daerah syariah. tetapi bagi masyarakat yang setuju. syariah hanya bisa dijalankan dengan sukarela oleh penganutnya. yang sesungguhnya berlangsung bukanlah . Meningkatnya rasa aman dalam masyarakat perlu dicermati dan diteliti lebih lanjut. Sebaliknya. karena gejala ini boleh jadi sekadar efek atau refleksi dari ketakutan publik pada syariah. maka ini pertanda terjadinya reduksi mendasar terhadap prinsip-prinsip syariah. dukungan masyarakat terhadap peraturan daerah sangat jelas dan kuat. kebiasaan anak-anak muda yang mabuk-mabukan dan berjudi di gang-gang perkampungan menjadi hilang.

Sebagaimana telah diungkap. rendahnya partisipasi publik dalam proses penerapan syariah memperkuat dugaan bahwa politik syariah sebagai agenda elit. Gejala ini dapat menggeser otoritas keamanan dari institusi kepolisian ke otoritas syariah. Hinga kini. Fakta ini memperkuat dugaan bahwa peraturan daerah syariah adalah agenda politik elit. Bahkan. Sebagai kebijakan publik. melainkan karena rasa takut kepada polisi syariah yang dipersepsikan menjalankan tugas mereka atas nama agama. Pada gilirannya. jika diukur dengan ukuran Hak Asasi Manusia universal. Artinya agenda penerapan syariah cenderung dilakukan secara tertutup. sebagian masyarakat yang diteliti mengakui adanya politisasi syariah. guna mengalihkan perhatian rakyat dari penderitaan ekonomi yang dialaminya. peraturan daerah-peraturan daerah itu kurang demokratis secara prosedural. politisasi syariah juga terjadi dalam pemilu nasional yang dilakukan partai-partai tertentu untuk menarik perhatian pemilih dalam jumlah yang besar. hak-hak perempuan.kepatuhan hukum warga negara akibat dari situasi objektif yang tercipta. Hal ini terjadi. Banyaknya kepentingan publik yang ditabrak sebagai dampak peraturan daerah syariah pada dasarnya mengkonfirmasi asumsi di atas. Hampir sepertiga dari mereka menyatakan bahwa formalisasi syariah tidak jarang menjadi isu kampanye dalam pemilihan kepala daerah (Pilkada). baik komunitas non-Muslim maupun komunitas Muslim. peraturan daerah syariah disinyalir sebagai gerakan politik elite daerah. tanpa proses dialog yang partisipatif dengan melibatkan sebanyak mungkin elemen masyarakat. karena citra dan peran institusi keamanan akan terus merosot. Meski mendapat dukungan kuat publik Muslim. dan non-Muslim. . Menurut mereka. Penerapan syariah di berbagai daerah mengancam atau bahkan sebagiannya melanggar kebebasan sipil. pemerintah pusat terkesan mendiamkan gejala ini meski muncul kekhawatiran dari banyak kalangan. Ini tentu berbahaya. ini akan menimbulkan ketegangan di antara otoritas syariah dan otoritas kepolisian. karena antara lain konstruk syariah tradisional yang dalam beberapa hal memang problematik. Hal ini dikarenakan rendahnya partisipasi masyarakat dalam proses penerbitan peraturan daerah syariah.

yaitu usaha untuk mengkonstruksi masyarakat yang Islami melalui otoritas politik lokal. Jawa Tengah. Aceh. tren peraturan daerahperaturan daerah syariah di tingkat lokal ini juga merefleksikan gejala baru Islamisasi. Hal ini jelas terlihat dari rendahnya keinginan untuk hidup secara berdampingan dengan kelompok minoritas lainnya. selain menunjukkan kembalinya syariah ke ruang publik.Sikap tidak toleran dan ekslusivisme juga merebak di daerah-daerah. Pengrusakan rumah-rumah ibadah (gereja) yang meningkat dalam beberapa tahun belakangan adalah contoh ekstrim intoleransi dalam masyarakat Islam belakangan ini. pemerintah perlu secara sungguh-sungguh membatalkan semua peraturan daerah syariah yang bertentangan dengan Hak Asasi Manusia. Karenanya. Selama 12 bulan terakhir saja. Sikap negara yang cenderung mendiamkan pelanggaran Hak Asasi Manusia yang ditimbulkan peraturan daerah-peraturan daerah syariah tersebut memunculkan dugaan bahwa peraturan daerah ini direstui negara. dalam memahami teks-teks suci Islam yang dipengaruhi dan dibenarkan masanya yang belum mengenal Hak Asasi Manusia universal yang baru lahir pada tahun 1948. terutama pada abad ke-7 dan 8. seperti yang terjadi di Jawa Barat. karena akan memancing dunia internasional mempertanyakan komitmen Indonesia pada penegakan Hak Asasi Manusia dan pluralisme. Bengkulu. Yang perlu dicermati dari gejala peraturan daerah syariah adalah. Sikap ini beresiko. serta rendahnya penghargaan terhadap kebebasan beragama kelompok minoritas. syariah tradisional yang kita kenal adalah produk ulama. misalnya. dan Sumatera Utara. terdapat banyak gereja yang diserang oleh sekelompok orang. Celahnya dengan menekankan syariah . Secara historis. Deprivasi sosial akibat krisis ekonomi-politik juga secara fundamental membuka jalan bagi desakan-desakan penerapan syariah oleh negara tersebut. para pendukung gerakan-gerakan pro-syariah menyatakan perang melawan segala bentuk maksiat yang dianggap sebagai representasi budaya sekular yang mencemari ajaran Islam. Di daerah-daerah kantong Islam tersebut. Faktor ketidakpastian hukum serta degradasi moral sosial secara signifikan telah mendorong lahirnya kelompok Islam yang mendukung penerapan syariah secara paksa oleh negara.

antara lain tercermin dari pendapat Satjipto Rahardjo22 pembangunan negara hukum ternyata belum juga kunjung selesai dengan baik. berbangsa bahkan sampai dengan kehidupan berkeluarga. bahkan dimungkinkan untuk didialogkan dan diterima warga non-Muslim dalam bingkai nation state seperti Indonesia. syariah pun akan bersifat modern dan rasional. Negara hukum yang selama ini dijalankan untuk memberikan koridor. hlm. karena hukum modern yang sebagian besar masih berlaku di Indonesia 22 Satjipto Rahardjo. rel dalam pelaksanaan kehidupan bernegara. Proyek yang Belum Selesai. masih menyisakan banyak persoalan. Peraturan Daerah Syariah sebagai Produk Hukum Lokal yang Khas (Telaah dalam Prespektif Hukum Progresif) Indonesia berdasarkan Pasal 1 ayat (3) adalah negara hukum. 2. Yang dimaksud dengan pembangunan yang belum kunjung selesai di sini adalah bagaimana menjadikan negara hukum itu suatu organisasi yang secara substansial mampu menjadi rumah yang menyenangkan.pada pertimbangan kemaslahatan kemanusiaan. .id. Disebut demikian. mensejahterakan dan membahagiakan bagi bangsa Indonesia. Usaha secara sungguh-sungguh diprasayaratkan. belum sepenuhnya menjadi sarana bagi segenap bangsa Indonesia untuk hidup secara senang dan sejahtera (the affluent society). baik dalam konteks lokal maupun nasional. dikutip dari www. Dengan demikian. tanpa menghilangkan sifatnya yang bersumber dari teks suci.huma. Diakses tanggal 28 September 2012.or. 58 Tahun Negara Hukum Indonesia Negara Hukum. bahkan yang terjadi adalah sebaliknya. tampaknya masih harus diusahakan. diperjuangkan secara sungguh-sungguh sehingga negara hukum betul-betul menjelma menjadi rumah bangsa yang mensejahterakan. Dari pendapat tersebut tampak bahwa bangunan negara hukum yang dikonstruksi dan diformulasikan dalam konstitusi. Bangunan negara hukum sebagai rumah bangsa yang mensejahterakan. Indonesia menjadi terkenal di dunia sebagai negara dengan sistem hukum sangat buruk. mengingat bangsa Indonesia dalam berhukum secara modern dengan menggunakan instrumen hukum barat yang terkodifikasikan adalah pengalaman baru. Persoalan tersebut.

sudah terpenuhi sarat sebagai negara hukum. Membangunan negara hukum pada hakikatnya adalah sebuah proses secara sadar. menurut Satjipto Rahardjo. adanya pengadilan. konsep. maka bangsa ini harus berani melakukan perubahan pola berpikir dalam berhukum. apakah itu rechstaat ataupun juga rule of law adalah adalah produk kultural yamg nyata bukan bagian dari sejarah sosial dan politik bangsa ini.23 sejatinya kita masih berhukum secara primitif. tampaknya masih diartikan secara positivistik bahwa negara hukum selalu berdiri tegak di atas aturan hukum yang tertulis dengan aparat penegaknya. Sehingga. adanya undang-undang serta para aparat dengan fasih dapat melafal pasal. Dengan demikian unsur sosial seperti nilai. terencana untuk membangun perilaku berhukum masyarakat. Jika demikian. hlm. Berhukum secara progresif selalu mengkaitkan dengan erat antara keadilan yang tertulis nyata dan ditawarkan dalam undang-undang dengan nilainilai masyarakat. sehingga pemberlakukan hukum di tanah jajahan. termasuk juga asas-asas untuk operasionalisasi negara hukum. kesusilaan menjadi penting untuk dipertimbangkan. 23 Ibid. malainkan dalam rangka memperlancar visi dan misi kolonialisasi pada saat itu. Semenjak negara ini merdeka. moral.adalah sebuah produk kultural yang ditransplantasikan dari sistem kultural dunia barat (western legal system). . bukan semata-mata kehendak yang ikhlas untuk membentuk masyarakat berkarakter sadar dan cerdas hukum. yaitu berhukum secara progresif. Pertimbangan tersebut antara lain dapat dikemukakan. sehingga dengan adanya pasal yang menyatakan Indonesia adalah negara hukum. 3. melainkan adalah upaya untuk membangun budaya perilaku tertib dan sadar hukum. melantik hakim dan jaksa. pembangunan negara hukum. membangun negara hukum bukan semata-mata mendirikan pengadilan. apakah bangunan negara hukum yang diterima bangsa Indonesia sudah pas/cocok dengan sistem kultural/sosial bangsa Indonesia. Dengan lain perkataan. Jika tidak mau dikatakan yang demikian. bangunan. serta melafal pasal-pasal undang-undang. nurani. Negara hukum adalah produk kultural yang dipaksakan dari sistem kultural barat ke Indonesia dalam atmosfir kolonialisasi di saat itu..

jelas bahwa bernegara hukum bukan instan melainkan berproses. 3.mengingat bangunan negara hukum modern adalah bangunan bernegara yang bukan merupakan bagian dari perkembangan sosial kultural bangsa ini. yang sama juga dengan membaca sejarah tentang keambrukan dari suatu sistem sosial/tatanan sosial satu ke sistem sosial/tatanan sosial yang lain. Belanda yang menjajah Indonesia pernah tercabik-cabik dan kelelahan karena mengalami perang berkepanjangan di dalam negerinya. Untuk mengetahui waktu dan proses perjalanan bangsa-bangsa Eropa menjadi negara hukum yang konstitusional seperti saat ini. Negaranegara yag saat ini menjadi cerminan dan kiblat pembangunan negara-negara hukum di dunia ketiga. serta untuk mencegah luruhnya. Eropa. sebenarnya mengambarkan bahwa yang di idealkan sebagai negara hukum disamping institusi dan aspek normatif juga aspek perilaku (behaviuor). bisa dimaklumi. Secara perilaku apakah bangsa ini sudah siap. Negara hukum modern membutuhkan suatu predisposisi sosial 24 Ibid. . boleh dibilang membutuhkan waktu yang lama untuk sampai pada negara hukum yang konstitusional dan menyejahterakan. tatanan sosial. Proses dalam konteks negara hukum. tampak bahwa negara hukum adalah sebuah proses sosial politik yang panjang karena menyangkut perubahan perilaku. hlm. sebelum menjadi negara konstitusional. kerusuhan sosial. Jika mengkaji pertanyaan-pertanyan diatas. Amerika Serikat juga harus mengalami perang dengan sesama saudaranya sebelum berjaya sebagai suatu negara besar dan kuat. Sejarah yang demikian. dan banyak diwarnai dengan kekacauan. dan kultur. sebagai ajang persemaian negara hukum membutuhkan waktu tidak kurang dari sepuluh abad.. sebelum kelahiran rule of law dan negara konstitusional24. pudarnya nilai-nilai sosial. Perancis harus memenggal kepala seorang rajanya dan menjebol penjara Bastille. jika kemudian saat ini bangsa Indonesia sedang berproses menuju negara yang diidealkan. haruslah terlebih dahulu mencermati sejarah kelahiran negara hukum di eropa. sebab konsep negara hukum di Eropa pada masanya juga demikian. minimal mengusahakan bagaimana nilai sosial bangsa Indonesia (nilai-nilai luhur Pancasila) dapat mewarnai dalam bernegara hukum.

nilai. Reformasi tahun 1997 adalah momen yang luar biasa untuk melakukan dobrakan hukum yang luar biasa pula. Produk hukum khususnya dalam konteks peraturan daerah di era otonomi daerah ini. dan baru kemudian menjadi negara konstitusional. individual. sebelum hukum modern bisa muncul. telah disingung bahwa konsep negara hukum modern bukan produk kultural bangsa Indonesia. "sejarah keambrukan" bukan menjadi milik Indonesia karena untuk menjadi negara hukum Indonesia tidak memerlukan proses keambrukan.25 Dengan demikian. Kita juga dapat membacanya sebagai keambrukan suatu perilaku untuk digantikan perilaku baru. Eropa harus mengalami keambrukan sistem sosial yang satu disusul keambrukan berikutnya. Pada uraian sebelumnya. 25 Ibid.dan kultural tertentu untuk bisa berhasil dengan baik. . diantaranya dengan membuat produk hukum yang lebih bisa memberikan ruang dan lebih bisa mengasorbsi nilai-nilai masyarakat. Salah satu persyaratan menonjol adalah ambruknya tatanan kolektif dan personal. yang di Eropa membutuhkan waktu sekitar seribu tahun. Mungkin ia melompat dari feodalisme langsung menjadi negara hukum modern. Staendestaat. yang memiliki kosmologi. hlm. seperti di Eropa. sehingga banyak melahirkan problem dalam penerapannya. melainkan produk kultural Eropa (western legal thought). Di Eropa feodalisme dan lain-lain harus ambruk lebih dahulu untuk memberi jalan terciptanya kehidupan urban. Hukum yang lebih bisa mengasorbsi nilai-nilai masyarakat adalah produk hukum yang tidak sentralisme dengan monopoli tafsir serta monopoli standar keadilan. atau dengan lain perkataan. sering ditampilan beraneka warna sesuai dengan kebutuhan yang juga mencerminkan nilai lokal yang unik dan khas.. negara absolut. Indonesia "dipaksa" untuk menjadi negara hukum instan melalui transformasi dan transplantasi. dari feodalisme. untuk digantikan tatanan rasional dan impersonal. dalam arti tidak berlangsung setapak demi setapak. dan moral yang sama dengan masyarakat eropa dimana konsep negara hukum modern mulanya dipersemaikan. Masing-masing keambrukan itu memberi jalan kepada lahirnya negara-negara hukum modern. Tetapi. perkembangan negara hukum yang terjadi cukup "kacau". 4.

atau malah justru peraturan daerah yang unik. Peraturan daerah yang ideal selayaknya demikian. khas karena lahir sebagai respon dari kebutuhan daerah untuk mencegah distorsi nilai sekaligus juga sebagai instrumen untuk memelihara. diantaranya sebagai ajang pengusungan agama di ruang publik. .Peraturan daerah Syariah dalam konteks ini perlu diwacanakan. sebab kelahiran peraturan daerah-peraturan daerah ini telah menimbulkan persepsi dari banyak kalangan yang berbeda-beda. formalisme islam. mempertahankan dan mempromosikan nilai dan prinsip-prinsip tertentu (local normative order). politisasi islam.

maka syariah yang hendak di-perda-kan sebagai kebijakan negara. Hal ini tentu berbahaya. karena citra dan peran institusi kemanan akan terus merosot. SARAN Dalam kenyataannya. B. harusnya disertai dengan upaya luar biasa yang membuat syariah lebih fleksibel. Diantaranya adalah dengan cara menyesuaikan sebagian syariah yang berkaitan dengan persoalan sosial yang . melainkan karena rasa takut kepada polisi syariah yang dipersepsikan menjalankan tugas mereka atas nama agama. diakui memang memiliki manfaat diantaranya adalah meningkatnya keamanan dan ketertiban masyarakat. Gejala ini dapat menggeser otoritas kemanan dari institusi kepolisian ke otoritas syariah. peraturan daerah-peraturan daerah itu kurang demokratis secara procedural. yang sesungguhnya berlangsung bukanlah kepatuhan hukum warga negara akibat dari situasi objektif yang tercipta. ini akan menimbulkan ketegangan di antara otoritas syariah dan otoritas kepolisian. mka gejala ini bukanlah cerminan sesungguhnya dari menguatnya institusi hukum dan keamanan. Sebagai kebijakan publik. Artinya. Pada gilirannya. Yang penting juga untuk dikaji. karena gejala ini boleh jadi sekedar efek atau refleksi dari ketakutan publik pada syariah.BAB III PENUTUP A. agar dapat dapat bersifat cultural accomodation of Change. tanpa proses dialog yang partisipatif dengan melibatkan sebanyak mungkin elemen masyarakat. KESIMPULAN Peraturan daerah yang banyak diberlakukan di daerah saat ini. Ini karena rendahnya partisipasi masyarakat dalam proses penerbitan peraturan daerah syariah. Agenda penerapan syariah cenderung dilakukan secara tertutup. Peraturan daerah syariah jika tidak dianggap menjadi masalah secara perundang-undangan yang berlaku. adalah bahwa meningkatnya rasa aman dalam masyarakat perlu dicermati dan diteliti lebih lanjut. Tujuannya. Jika iya.

problematik. . dengan tuntutan Hak Asasi Manusia universal sebagai hukum internasional dan nasional.

Hamid S. Implementasinya Pada Periode Negara Madinah dan Masa Kini. Muhammad Tahir Azhary. diakses tanggal 28 September 2012. Yogyakarta: LaksBang Pressindo. 58 Tahun Negara Hukum Indonesia Negara Hukum.google. Paulus. dikutip dari www. 73. 1992). Satjipto. Bagir. Diakses tanggal 28 September 2012. Muhadar. Negara Hukum : Suatu Studi Tentang Prinsipprinsipnya. Bagir Manan. 311. 1990). huma. Jakarta. . Hukum Pemerintahan Daerah .Bandung : Penerbit Nusa Media. 2008. Jakarta : Bulan Bintang. Menegakkan Konstitusi. Artikel : Implementasi Syariat Islam Berdasarkan Otonomi Khusus Aceh Dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. 1994.DAFTAR PUSTAKA A. dikutip dari www.com.or. Dilihat Dari Segi Hukum Islam. M. hlm. Jakarta: Pustaka LP3ES Indonesia. Membangun Politik Hukum. Empat Kategori Perda Agama. Diakses pada tanggal 28 September 2012. 2006.com. Hukum Pemerintahan Daerah di Indonesia . Rumadi. Rahardjo. hlm. Politik Hukum Dan Perda SI. (Disertasi. Manan. 2009. (Jakarta : Disertasi Universitas Indonesia. Suatu Studi Analisis Mengenai Keputusan Presiden yang Berfungsi Pengaturan Dalam Kurun Waktu Pelita IPelita IV.Jakarta : Sinar Grafika. Proyek yang Belum Selesai.id. Peranan Keputusan Presiden Republik Indonesia Dalam Penyelenggaraan Pemerintahan Negara. Attamimi. google.google. Ni’Matul Huda. Makalah. Diakses tanggal 28 Sepember 2012. dikutip dari www. Mahfud MD.com. Dikutip dari www. 2006. Siswanto Sunarno. Tangke. Fungsi dan Materi Peraturan Perundang-undangan. akan terbit dalam buku 70 Tahun Prof. Viktimisasi Kejahatan di Bidang Pertanahan. cetakan pertama. Husni Jalil.

2009. Perda Bernuansa Agama dan Masa Depan Demokrasi Indonesia. Ahmad. 1991. Politik Hukum Menuju Satu Sistem Hukum Nasional. Bandung.com. Sunaryati Hartono. Diakses tanggal 28 September 2012. dikutip dari www. . Suko.google.Suaedy. Suko. Hak Asasi Manusia (HAM) Dalam Kerangka Negara Hukum yang Demokratis Berdasarkan Pancasila. Volume I Nomor 2. Jakarta:Faza Media. 2006. Nopember 2009. Otonomi Daerah dalam Negara Hukum Indonesia. Sebuah Sketsa. Alumni. Pembentukan Peraturan Daerah Partisipatif. Wiyono. Wiyono. Jakarta-Malang: Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful