 Nama

: Wahyudin, ST. MT.
: 19690109 199703 1001 : Pusat Sumber Daya Air Tanah dan Geologi Lingkungan –Badan Geologi - KESDM : Kasubbid Inventarisasi & Konservasi Air Tanah : whydn2000@gmail.com : 08122162561

NIP  Instansi

Jabatan  Email  Hp

SESI KE-1

Sistem Informasi Air Tanah
• Merupakan bagian dalam pengelolaan air tanah • Pengaturan sistem informasi air tanah ditujukan untuk  menyimpan, mengolah, menyediakan, dan menyebarluaskan data dan informasi air tanah dalam upaya mendukung pengelolaan air tanah. • Data dan informasi tersebut terdiri atas konfigurasi cekungan air tanah, hidrogeologi, potensi air tanah, konservasi air tanah, pendayagunaan air tanah, kondisi dan lingkungan air tanah, pengendalian dan pengawasan air tanah, kebijakan dan pengaturan di bidang air tanah, dan kegiatan sosial ekonomi budaya masyarakat yang terkait dengan air tanah. • Data dan informasi tersebut diperoleh dari kegiatan inventarisasi, baik melalui pemetaan, penyelidikan, penelitian, eksplorasi, maupun evaluasi data.

1. UUD Tahun 1945 (amandemen) 2. UU No. 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi 3. 4. 5. 6.

7.

Publik UU No. 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 2008 Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 33 Tahun 2011 Raperpres tentang Kebijakan Pengelolaan Sistem Informasi Hidrologi, Hidrometeorologi, Hidrogeologi pada Tingkat Nasional Rapermen ESDM tentang Sistem Informasi Air Tanah

REGULASI KETERBUKAAN INFORMASI PUBLIK
• Keterbukaan informasi publik merupakan pondasi dalam membangun tata pemerintahan yang baik (good governance), pemerintah yang transparan, terbuka dan berparisipasi dalam seluruh proses pengelolaan kenegaraan, termasuk seluruh proses pengelolaan sumber daya publik sejak dari pengambilan keputusan, pelaksanaan serta evaluasinya. • Eksistensi regulasi mengenai keterbukaan informasi publik dapat mendorong suatu masyarakat menjadi lebih demokratis dengan memungkinkan adanya akses masyarakat thd informasi yang dimiliki pemerintah • UU KIP sebagai salah satu wujud konkret dari proses demokratisasi di Indonesia

Bab VIII – Sistem Informasi Sumber Daya Air (pasal 65 – 69)

Pasal 65 (1) Untuk mendukung pengelolaan sumber daya air, Pemerintah dan pemerintah daerah menyelenggarakan pengelolaan sistem informasi sumber daya air sesuai dengan kewenangannya. (2) Informasi sumber daya air sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi informasi mengenai kondisi hidrologis, hidrometeorologis, hidrogeologis, kebijakan sumber daya air, prasarana sumber daya air, teknologi sumber daya air, lingkungan pada sumber daya air dan sekitarnya, serta kegiatan sosial ekonomi budaya masyarakat yang terkait dengan sumber daya air.

Pasal 66 (1) Sistem informasi sumber daya air sebagaimana dimaksud dalam Pasal 65 ayat (1) merupakan jaringan informasi sumber daya air yang tersebar dan dikelola oleh berbagai institusi. (2) Jaringan informasi sumber daya air sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus dapat diakses oleh berbagai pihak yang berkepentingan dalam bidang sumber daya air. (3) Pemerintah dan pemerintah daerah dapat membentuk unit pelaksana teknis untuk menyelenggarakan kegiatan sistem informasi sumber daya air.

Pasal 67 1. Pemerintah dan pemerintah daerah serta pengelola sumber daya air, sesuai dengan kewenangannya, menyediakan informasi sumber daya air bagi semua pihak yang berkepentingan dalam bidang sumber daya air. 2. Untuk melaksanakan kegiatan penyediaan informasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1), seluruh instansi Pemerintah, pemerintah daerah, badan hukum, organisasi, dan lembaga serta perseorangan yang melaksanakan kegiatan berkaitan dengan sumber daya air menyampaikan laporan hasil kegiatannya kepada instansi Pemerintah dan pemerintah daerah yang bertanggung jawab di bidang sumber daya air. 3. Pemerintah, pemerintah daerah, pengelola sumber daya air, badan hukum, organisasi, lembaga dan perseorangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) bertanggung jawab menjamin keakuratan, kebenaran, dan ketepatan waktu atas informasi yang disampaikan.

Pasal 68 (1) Untuk mendukung pengelolaan sistem informasi sumber daya air diperlukan pengelolaan sistem informasi hidrologi, hidrometeorologi, dan hidrogeologi wilayah sungai pada tingkat nasional, provinsi, dan kabupaten/kota. (2) Kebijakan pengelolaan sistem informasi hidrologi, hidrometeorologi, dan hidrogeologi ditetapkan oleh Pemerintah berdasarkan usul Dewan Sumber Daya Air Nasional. (3) Pengelolaan sistem informasi hidrologi, hidrometeorologi, dan hidrogeologi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan oleh Pemerintah, pemerintah daerah, dan pengelola sumber daya air sesuai dengan kewenangannya. (4) Pengelolaan sistem informasi hidrologi, hidrometeorologi, dan hidrogeologi sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dapat dilakukan melalui kerja sama dengan pihak lain. Pasal 69 Ketentuan mengenai sistem informasi sumber daya air sebagaimana dimaksud dalam Pasal 66, Pasal 67, dan Pasal 68 diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah.

Bab V – Sistem Informasi Air Tanah

BAB V SISTEM INFORMASI AIR TANAH Pasal 80 1. Untuk mendukung pengelolaan air tanah, Menteri, gubernur, dan bupati/walikota menyelenggarakan sistem informasi air tanah. 2. Sistem informasi air tanah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan bagian jaringan informasi sumber daya air yang dikelola dalam suatu pusat pengelolaan data di tingkat nasional, provinsi dan kabupaten/kota. 3. Informasi air tanah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi data dan informasi mengenai :  konfigurasi cekungan air tanah;  hidrogeologi;  potensi air tanah;  konservasi air tanah;  pendayagunaan air tanah;  kondisi dan lingkungan air tanah;  pengendalian dan pengawasan air tanah;  kebijakan dan pengaturan di bidang air tanah; dan  kegiatan sosial ekonomi budaya masyarakat yang terkait dengan air tanah.

Pasal 81 Pengelolaan sistem informasi air tanah dilakukan melalui tahapan: a. pengambilan dan pengumpulan data; b. penyimpanan dan pengolahan data; c. pembaharuan data; dan d. penerbitan serta penyebarluasan data dan informasi. Pasal 82 1. Menteri, gubernur, dan bupati/walikota menyediakan informasi air tanah bagi semua pihak yang berkepentingan dalam bidang air tanah. 2. Untuk melaksanakan kegiatan penyediaan informasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1), seluruh instansi pemerintah, organisasi, lembaga, perseorangan dan badan usaha yang melaksanakan kegiatan berkaitan dengan air tanah wajib menyampaikan laporan hasil kegiatannya kepada Menteri, gubernur, dan bupati/walikota. 3. Instansi pemerintah, organisasi, lembaga, perseorangan atau badan usaha yang melaksanakan kegiatan berkaitan dengan air tanah wajib menjamin keakuratan, kebenaran, dan ketepatan waktu atas informasi yang disampaikan. 4. Ketentuan lebih lanjut mengenai sistem informasi air tanah diatur dengan peraturan Menteri.

Bab VI – Sistem Informasi Air Tanah

KEBIJAKAN PENGEMBANGAN JARINGAN SISDA
Peningkatan kelembagaan dan SDM pengelola SISDA

STRATEGI

Tata ulang pengaturan dan pembagian tugas di berbagai instansi dan lembaga pengelola data dan informasi SDA paling lambat 1 tahun setelah kebijakan Pengelolaan SIH3 ditetapkan Tingkatkan ketersediaan dana untuk membentuk dan/atau mengembangkan sistem informasi SDA Bentuk dan/atau kembangkan instansi pengelola data dan informasi SDA terpadu di tkt nasional. Prov, kab/kota, dan WS paling lambat 2 tahun setelah kebijakan pengelolaan SIH3 ditetapkan Tingkatkan kemampuan SDM dalam lembaga pengelola sistem informasi SDA Tingkatkan peran serta masyarakat dan dunia usaha dalam pengelolaan data dan informasi SDA

KEBIJAKAN PENGEMBANGAN JARINGAN SISDA

STRATEGI

Pengembangan jejaring sistem informasi SDA

Tetapkan lembaga yang mengkoordinasikan pengelolaan sistem informasi SDA paling lambat 1 tahun setelah Jak Pengelolaan SIH3  Bangun jejaring sistem informasi SDA antara instansi dan lembaga pusat dan daerah serta antarsektor dan antarwilayah, paling lambat 1 tahun setelah kebijakan SIH3 ditetapkan  Tingkatkan kerjasama dengan masyarakat dan dunia usaha dalam pengelolaan sistem informasi SDA

Pengembangan teknologi informasi

Kembangkan sistem informasi SDA berbasis teknologi informasi hasil rancang bangun nasional  Tingkatkan ketersediaan perangkat keras, perangkat lunak dalam sistem informasi SDA, serta fasilitasi pengoperasiannya  Sediakan kemudahan akses data dan informasi SDA yang diperlukan para pemilik kepentingan.

PERMASALAHAN:
1. Keakuratan, kebenaran, dan ketepatan waktu Pengelolaan data dan informasi H3 belum sepenuhnya mengacu pada standar yang sama sehingga data dan informasi yang dihasilkan masih diragukan keakuratan, kebenaran dan ketepatan waktu. 2. Kesinambungan data dan informasi Pengelolaan data dan informasi H3 seringkali dilakukan untuk memenuhi kebutuhan sesaat sehingga data dan informasi tidak tersedia secara menerus.
3. Kompatibilitas perangkat pengolahan data dan informasi Belum adanya standar metadata di berbagai instansi pengelola data dan informasi H3, mengakibatkan perangkat pengolahan data dan informasi antarinstansi tidak selalu kompatibel satu sama lain. 4. Keterbatasan sumber daya dan teknologi informasi H3 Pengelolaan data dan informasi H3 belum mendapat prioritas dalam penyelenggaraan pengelolaan SDA, menyebabkan beberapa instansi pengelola data dan informasi H3 memiliki keterbatasan sumber daya dan teknologi informasi H3.

TANTANGAN
1. Perubahan iklim global dan meningkatnya intensitas penggunaan air, pencemaran air, banjir, kekeringan dan tanah longsor. 2. Perubahan karakteristik geografis wilayah akibat alih fungsi lahan dan pemekaran wilayah. 3. Keragaman kondisi H3 wilayah kepulauan 4. Globalisasi dan kecepatan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi informasi, dan komunikasi.

Untuk menjawab berbagai tantangan  diperlukan kebijakan  strategi sebagai berikut : 1. Meningkatkan pengamatan data dan informasi H3 yang komprehensif dan intensif, baik dari waktu maupun parameternya serta peningkatan kemampuan dalam melakukan prakiraan dan peringatan dini yang akurat dalam rangka melakukan adaptasi terhadap variasi dan perubahan iklim global. 2. Mengintensifkan pemantauan kondisi H3 sehubungan dengan perubahan karakteristik geografis wilayah sebagai akibat dari alih fungsi lahan dan pemekaran wilayah. 3. Meningkatkan cakupan jaringan pengelolaan data dan informasi H3 tingkat nasional yang mampu menjangkau seluruh wilayah kepulauan Indonesia. 4. Meningkatkan kemampuan pengelolaan sistem informasi H3 dengan mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk berperan sebagai bagian dari masyarakat informasi dunia yang berkembang sangat cepat

TUJUAN Kebijakan Pengelolaan Sistem Informasi H3 pada Tingkat Nasional
1. Untuk menyajikan informasi H3 dari berbagai instansi ke dalam pangkalan data (database) H3 yang terintegrasi ke dalam satu jejaring sebagai dasar pengelolaan SDA yang akurat, benar, tepat waktu dan berkesinambungan serta mudah diakses oleh berbagai pihak. 2. Untuk mewujudkan kompatibilitas perangkat pengolahan data dan informasi antarinstansi.

3. Untuk memprioritaskan pengelolaan data dan informasi H3 dalam pengelolaan SDA.

Kebijakan Sistem Informasi Hidrologi, Hidrometeorologi dan Hidrogeologi pada Tingkat Nasional meliputi: 1. Kebijakan pengembangan kelembagaan pengelolaan data dan informasi Hidrologi, Hidrometeorologi, Hidrogeologi (H3) 2. Kebijakan peningkatan tata laksana pengelolaan data dan informasi H3 3. Kebijakan pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) pengelolaan data dan informasi H3 4. Kebijakan pembiayaan pengelolaan data dan informasi H3 5. Kebijakan peningkatan peran masyarakat dan dunia usaha dalam pengelolaan data dan informasi H3

SISTEM INFORMASI HIDROLOGI

SDA

Nasional CH

INTEGRASI SISTEM INFORMASI HIDROLOGI, HIDROMETEOROLOGI DAN HIDROGEOLOGI SBG. BAGIAN DR. SISDAN
UPT (Balai WS)
Data Pusat, Lintas Negara, Propinsi Lintas Data Stra. Nas dan Data Propinsi Lintas Propinsi Lintas Kab/Kota Kab/Kota CH

Pusat

Database Hidrologi Nasional

Data Propinsi dan Data Propinsi Lintas Lintas Kab/KotaLintas Data Propinsi Kab/Kota Kab/Kota Stakeholder Lain UPTD (Balai PSDA) CH

Propinsi

Keterangan : Aliran Data CH Clearinghouse

Data Kab/Kota

Kab. /Kota

Dinas SDA

CH

SISTEM INFORMASI HIDROMETEOROLOGI

BMKG

Nasional CH

INTEGRASI SISTEM INFORMASI HIDROLOGI, HIDROMETEOROLOGI DAN HIDROGEOLOGI SBG. BAGIAN DR. SISDAN
Balai Besar Wilayah Pusat (5 BBW) Propinsi

Database Hidrometeorologi Nasional

Data Propinsi Lintas Data Propinsi Lintas Kab/Kota Data Propinsi Lintas Kab/Kota Kab/Kota Koordinator Propinsi CH

Stakeholder Lain Keterangan : Aliran Data CH Clearinghouse

Data Lokasi

Kabupaten/ Kota

Stasiun Pengamat & Pos Kerjasama

SISTEM INFORMASI HIDROGEOLOGI

ESDM

Nasional CH

INTEGRASI SISTEM INFORMASI HIDROLOGI, HIDROMETEOROLOGI DAN HIDROGEOLOGI SBG. BAGIAN DR. SISDAN
Propinsi Data CAT Lintas Propinsi, DataPropinsi dan Lokal Propinsi Lintas Data Propinsi Lintas Kab/Kota Lintas Kab/Kota Kab/Kota

Database Hidrogeologi Nasional

Dinas ESDM Propinsi CH

Kab./Kota
Stakeholder Lain Keterangan : Aliran Data CH Clearinghouse Data CAT Lokal Kab./Kota

Dinas ESDM Kab./Kota

CH

INTEGRASI SISTEM INFORMASI HIDROLOGI, HIDROMETEOROLOGI DAN HIDROGEOLOGI SBG. BAGIAN DR. SISDAN
SISTEM INFORMASI SUMBERDAYA AIR NASIONAL SIH3
SDA
CH CH CH

BMKG

ESDM

Database Hidrologi Nasional

Database Hidrometeorologi Nasional

Database Hidrogeologi Nasional

Stakeholder Lain

Pusat Propinsi Kab./Kota

Stakeholder Lain

Pusat Propinsi Kab./Kota

Stakeholder Lain

Pusat Propinsi Kab./Kota