Sistem pembakaran pada PLTU batu bara Leave a comment

Uraian singkat sistem pembakaran pada PLTU: (ini adalah catatan pribadi penulis, dimaksudkan untuk mengingat kembali kelak kalo penulis sudah tidak didunia PLTU lagi) Klasifikasi kualitas batubara secara umum terbagi 2, yaitu pembagian secara ilmiah dalam hal ini berdasarkan tingkat pembatubaraaan, dan pembagian berdasarkan tujuan penggunaannya. Berdasarkan urutan pembatubaraannya, batubara terbagi menjadi batubara muda (brown coal atau lignite), sub bituminus, bituminus, dan antrasit. Sedangkan berdasarkan tujuan penggunaannya, batubara terbagi menjadi batubara uap (steam coal), batubara kokas (coking coal atau metallurgical coal), dan antrasit. Batubara uap merupakan batubara yang skala penggunaannya paling luas. Berdasarkan metodenya, pemanfataan batubara uap terdiri dari pemanfaatan secara langsung yaitu batubara yang telah memenuhi spesifikasi tertentu langsung digunakan setelah melalui proses peremukan (crushing/milling) terlebih dulu seperti pada PLTU batubara, kemudian pemanfaatan dengan memproses terlebih dulu untuk memudahkan penanganan (handling) seperti CWM (Coal Water Slurry), COM (Coal Oil Mixture), dan CCS (Coal Cartridge System), dan selanjutnya pemanfataan melalui proses konversi seperti gasifikasi dan pencairan batubara Pada PLTU batubara, bahan bakar yang digunakan adalah batubara uap yang terdiri dari kelas sub bituminus dan bituminus. Lignit juga mulai mendapat tempat sebagai bahan bakar pada PLTU belakangan ini, seiring dengan perkembangan teknologi pembangkitan yang mampu mengakomodasi batubara berkualitas rendah. Pada PLTU, batubara dibakar di boiler menghasilkan panas yang digunakan untuk mengubah air dalam pipa yang dilewatkan di boiler tersebut menjadi uap, yang selanjutnya digunakan untuk menggerakkan turbin dan memutar generator. Kinerja pembangkitan listrik pada PLTU sangat ditentukan oleh efisiensi panas pada proses pembakaran batubara tersebut, karena selain berpengaruh pada efisiensi pembangkitan, juga dapat menurunkan biaya pembangkitan. Kemudian dari segi lingkungan, diketahui bahwa jumlah emisi CO2 per satuan kalori dari batubara adalah yang terbanyak bila dibandingkan dengan bahan bakar fosil lainnya, dengan perbandingan untuk batubara, minyak, dan gas adalah 5:4:3. Sehingga berdasarkan uji coba yang mendapatkan hasil bahwa kenaikan efisiensi panas sebesar 1% akan dapat menurunkan emisi CO2 sebesar 2,5%, maka efisiensi panas yang meningkat akan dapat mengurangi beban lingkungan secara signifikan akibat pembakaran batubara. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa teknologi pembakaran (combustion technology) merupakan tema utama pada upaya peningkatan efisiensi pemanfaatan batubara secara langsung sekaligus upaya antisipasi isu lingkungan ke depannya. Pada dasarnya metode pembakaran pada PLTU terbagi 3, yaitu pembakaran lapisan tetap (fixed bed combustion), pembakaran batubara serbuk (pulverized coal combustion /PCC), dan pembakaran lapisan mengambang (fluidized bed combustion / FBC). Gambar 3 di bawah ini menampilkan jenis – jenis boiler yang digunakan untuk masing – masing metode pembakaran. Pembakaran lapisan tetap Metode lapisan tetap menggunakan stoker boiler untuk proses pembakarannya. Sebagai bahan bakarnya adalah batubara dengan kadar abu yang tidak terlalu rendah dan berukuran maksimum sekitar 30mm. Selain itu, karena adanya pembatasan sebaran ukuran butiran batubara yang digunakan, maka perlu dilakukan pengurangan jumlah fine coal yang ikut tercampur ke dalam batubara tersebut. Alasan tidak digunakannya batubara dengan kadar abu yang terlalu rendah

Pembakaran dengan metode PCC ini akan menghasilkan abu yang terdiri diri dari clinker ash sebanyak 15% dan sisanya berupa fly ash. batubara dibakar di atas lapisan abu tebal yang terbentuk di atas kisi api (traveling fire grate) pada stoker boiler. bahan bakar tidak semuanya dimasukkan ke zona pembakaran utama. sifat slagging. serta rasio bahan bakar (fuel ratio) kurang dari 2. Sebagai contoh PLTU yang menggunakan teknologi USC adalah pembangkit no. lapisan abu tidak akan terbentuk di atas kisi tersebut sehingga pembakaran akan langsung terjadi pada kisi.adalah karena pada metode pembakaran ini. Pembakaran metode ini sensitif terhadap kualitas batubara yang digunakan. Batubara yang disukai untuk boiler PCC adalah yang memiliki sifat ketergerusan dengan HGI (Hardgrove Grindability Index) di atas 40 dan kadar air kurang dari 30%. masih diperlukan tambahan fasilitas berupa alat desulfurisasi gas buang. kemudian bersama – sama dengan udara pembakaran disemprotkan ke boiler untuk dibakar. Proses denitrasi pada boiler PCC Pada proses pembakaran tersebut. senyawa Nitrogen yang ada di dalam batubara akan beroksidasi membentuk NOx yang disebut dengan fuel NOx. serta ultra super critical steam (USC). Oleh karena itu. kadar NOx dapat diturunkan hingga sekitar 250 – 300 ppm. Pada total emisi NOx dalam gas buang. Perkembangan kondisi uap dan grafik peningkatan efisiensi pembangkitan pada PCC ditunjukkan pada gambar 4 di di bawah ini. kecepatan injeksi campuran batubara serbuk dan udara ke dalam boiler dikurangi sehingga pengapian bahan bakar dan pembakaran juga melambat. Stoker Boiler Pada pembakaran dengan stoker ini. Adapun tebal minimum lapisan abu yang diperlukan untuk pembakaran adalah 5cm. Jepang. Selain itu. 1 dan 2 milik J-Power di teluk Tachibana. Pembakaran Batubara Serbuk (Pulverized Coal Combustion/PCC) Saat ini. dengan memanfaatkan sifat reduksi NOx dalam batubara. sebagaimana terlihat pada gambar 6 di atas. kadar abu batubara yang disukai untuk tipe boiler ini adalah sekitar 10 – 15%. dan kadar air (moisture content). kemudian super critical steam. Bila kadar abunya sangat sedikit. . Sedangkan untuk menurunkan SOx.93 kgf/cm2) dan suhunya mencapai 600℃/610℃ (1 stage reheat cycle). hanya sekitar 30% dari keseluruhan. yang dapat menyebabkan kerusakan yang parah pada bagian tersebut. PCC Boiler Ketika dilakukan pembakaran. dilakukan tindakan denitrasi (de-NOx) di boiler saat proses pembakaran berlangsung. Pada PCC. Tekanan uap yang dihasilkan adalah sebesar 25 MPa (254. Perkembangan kondisi uap PLTU………. Hal ini karena sistem PCC merupakan teknologi yang sudah terbukti dan memiliki tingkat kehandalan yang tinggi. Kemudian dengan upaya seperti pembakaran NOx dua tingkat. Hal ini dapat menurunkan suhu pembakaran. batubara diremuk dulu dengan menggunakan coal pulverizer (coal mill) sampai berukuran 200 mesh (diameter 74μm). Upaya perbaikan kinerja PLTU ini terutama dilakukan dengan meningkatkan suhu dan tekanan dari uap yang dihasilkan selama proses pembakaran. sedangkan Nitrogen pada udara pembakaran akan mengalami oksidasi suhu tinggi membentuk NOx pula yang disebut dengan thermal NOx. abu hasil pembakaran berupa fly ash jumlahnya sedikit. sifat fauling. Perkembangannya dimulai dari sub critical steam. yang berakibat pada menurunnya kadar thermal NOx. kandungan fuel NOx mencapai 80 – 90%. terutama sifat ketergerusan (grindability). kebanyakan PLTU terutama yang berkapasitas besar masih menggunakan metode PCC pada pembakaran bahan bakarnya. Untuk mengatasi NOx ini. yang boilernya masing – masing berkapasitas 1050 MW buatan Babcock Hitachi. tapi sebagian dimasukkan ke bagian di sebelah atas burner utama.

rasio bahan bakar (fuel ratio) dan kadar abu. dengan cara melewatkan angin berkecepatan tertentu dari bagian bawah boiler. maka pada FBC. metode FBC terbagi 2 yaitu Bubbling FBC dan Circulating FBC (CFBC). batubara diremuk terlebih dulu dengan menggunakan crusher sampai berukuran maksimum 25mm. maka pada FBC. nilai tambah dari metode FBC adalah alat peremuk batubara yang dipakai tidak terlalu rumit. seperti ditampilkan pada gambar 7 di atas.NOx yang dihasilkan dari pembakara utama selanjutnya dibakar melalui 2 tingkat. Partikel media fluidized bed yang belum bereaksi dan batubara yang belum terbakar yang ikut terbang bersama aliran gas buang akan dipisahkan di cyclone ini untuk kemudian dialirkan kembali ke boiler. NOx dalam gas buang dapat ditekan hingga mencapai 150 – 200 ppm. Tipikal boiler FBC Berdasarkan mekanisme kerja pembakaran. Karena sifat pembakaran yang demikian. desulfurisasi dapat terjadi bersamaan dengan proses pembakaran di boiler. terdapat alat lain yang terpasang pada boiler yaitu cyclone suhu tinggi. suhu pembakaran berkisar antara 850 – 900℃ saja sehingga kadar thermal NOx yang timbul dapat ditekan. Tidak seperti pembakaran menggunakan stoker yang menempatkan batubara di atas kisi api selama pembakaran atau metode PCC yang menyemprotkan campuran batubara dan udara pada saat pembakaran. kandungan Nitrogen dalam bahan bakar akan diubah menjadi N2. Selain kelebihan di atas. butiran batubara dijaga agar dalam posisi mengambang. bila alat desulfurisasi masih diperlukan untuk penanganan SOx pada metode pembakaran tetap dan PCC. berupa pembakaran sempurna di zona pembakaran sempurna. Di zona reduksi yang merupakan pembakaran tingkat pertama atau disebut pula pembakaran reduksi (reducing combustion). Keseimbangan antara gaya dorong ke atas dari angin dan gaya gravitasi akan menjaga butiran batubara tetap dalam posisi mengambang sehingga membentuk lapisan seperti fluida yang selalu bergerak. SOx yang dihasilkan selama proses pembakaran. CaCO3) dan batubara kemudian secara bersamaan dimasukkan ke boiler. Pada CFBC. Dengan tindakan ini. proses denitrasi dapat . Sedangkan untuk desulfurisasi masih memerlukan peralatan tambahan yaitu alat desulfurisasi gas buang. Bahkan semua jenis batubara termasuk peringkat rendah sekalipun dapat dibakar dengan baik menggunakan metode FBC ini. Bila suhu pembakaran pada PCC adalah sekitar 1400 – 1500℃. kadar NOx total dapat lebih dikurangi lagi. akan bereaksi dengan kapur membentuk gipsum (kalsium sulfat). Hanya saja ketika batubara akan dimasukkan ke boiler. Kondisi ini akan menyebabkan pembakaran bahan bakar yang lebih sempurna karena posisi batubara selalu berubah sehingga sirkulasi udara dapat berjalan dengan baik dan mencukupi untuk proses pembakaran. batu kapur juga berfungsi sebagai media untuk fluidized bed karena sifatnya yang lunak sehingga pipa pemanas (heat exchanger tube) yang terpasang di dalam boiler tidak mudah aus. dilakukan pembakaran tingkat kedua atau pembakaran oksidasi (oxidizing combustion). sedangkan CFBC merupakan pengembangannya. dengan mekanisme pembakaran 2 tingkat seperti pada PCC. Secara umum. kadar air yang menempel di permukaannya (free moisture) diharapkan tidak lebih dari 4%. serta ukuran boiler dapat diperkecil dan dibuat kompak. Selain itu. Selain untuk proses desulfurisasi. tidak ada pembatasan yang khusus untuk kadar zat terbang (volatile matter). Pembakaran Lapisan Mengambang (Fluidized Bed Combustion/FBC) Pada pembakaran dengan metode FBC. maka persyaratan spesifikasi bahan bakar yang akan digunakan untuk FBC tidaklah seketat pada metode pembakaran yang lain. Dapat dikatakan bahwa Bubbling FBC merupakan prinsip dasar FBC. Melalui proses sirkulasi ini. ketinggian fluidized bed dapat terjaga. Hal ini dilakukan dengan cara mencampur batu kapur (lime stone. Selanjutnya. Kemudian.

SOx yang dihasilkan pada PFBC dapat ditekan dengan mekanisme desulfurisasi bersamaan dengan pembakaran di dalam boiler. dapat mencapai 46%. sehingga PLTU yang menggunakan PFBC memiliki efisiensi pembangkitan yang lebih baik dibandingkan dengan AFBC karena mekanisme kombinasi (combined cycle) ini. yang prinsip kerjanya ditampilkan pada gambar 10 di bawah ini. disebut dengan Pressurized FBC (PFBC).berlangsung lebih optimal. Adapun abu sisa pembakaran hampir semuanya berupa fly ash yang mengalir bersama gas buang. konversi karbon yang dicapai adalah sekitar 85%. sedangkan untuk CFBC selanjutnya berkembang menjadi Internal CFBC (ICFBC) dan kemudian Pressurized ICFBC (PICFBC). material seperti biomasa. dan akan ditangkap lebih dulu dengan menggunakan Electric Precipitator sebelum gas buang keluar ke cerobong asap (stack). Untuk Bubbling FBC berkembang dari PFBC menjadi Advanced PFBC (A-PFBC). Pemakaian CTF (Ceramic Tube Filter) dapat menangkap abu ini secara efektif. Pengembangan lebih lanjut dari PFBC ini dinamakan dengan Advanced PFBC (APFBC). Nilai ini dapat ditingkatkan menjadi 100% melalui kombinasi dengan pengoksidasi (oxidizer). PFBC Pada PFBC. sekitar 1 MPa. Sesuai dengan prinsip pembakaran pada FBC. CFBC Boiler Pada FBC. plastik bekas. selain batubara berkualitas rendah. dan efisiensi pembakaran yang lebih tinggi dapat tercapai. sludge. Dengan kombinasi teknologi gasifikasi ini maka upaya peningkatan suhu gas pada pintu masuk (inlet) turbin gas memungkinkan untuk dilakukan. disebut dengan Atmospheric FBC (AFBC). bila tekanan di dalam boiler sama dengan tekanan udara luar. maka abu pembakaran yang ikut mengalir keluar bersama dengan gas tersebut perlu dihilangkan lebih dulu. dihasilkan pula gas hasil pembakaran yang memiliki tekanan tinggi yang dapat memutar turbin gas. unit gasifikasi sebagian (partial gasifier) yang menggunakan teknologi gasifikasi lapisan mengambang (fluidized bed gasification) kemudian ditambahkan pada unit PFBC. Pada proses gasifikasi di partial gasifier tersebut. Oleh karena itu. Efisiensi netto pembangkitan (net efficiency) yang dihasilkan pada A-PFBC ini sangat tinggi. Karena gas hasil pembakaran masih dimanfaatkan lagi dengan mengalirkannya ke turbin gas. Nilai efisiensi bruto pembangkitan (gross efficiency) dapat mencapai 43%. dan ban bekas dapat pula digunakan sebagai bahan bakar pada CFBC. sedangkan NOx dapat ditekan dengan pembakaran pada suhu relatif rendah (sekitar 860℃) dan pembakaran 2 tingkat. Faktor tekanan udara pembakaran memberikan pengaruh terhadap perkembangan teknologi FBC ini. sedangkan bila tekanannya lebih tinggi dari pada tekanan udara luar. Prinsip kerja PFBC Untuk lebih meningkatkan efisiensi panas. selain dihasilkan panas yang digunakan untuk memanaskan air menjadi uap untuk memutar turbin uap. Kondisi bertekanan yang menghasilkan pembakaran yang lebih baik ini secara otomatis akan menurunkan kadar emisi CO2 sehingga dapat mengurangi beban lingkungan. Prinsip kerja A-PFBC ICFBC Penampang boiler ICFBC ditampilkan pada gambar 11 di bawah ini Penampang boiler ICFBC .

Karena tulisan ini hanya membahas perkembangan teknologi pembangkitan listrik. Proses ini akan menciptakan aliran berbentuk spiral (spiral flow) yang terjadi secara kontinyu pada ruang pembakaran utama. sedangkan pada kedua sisi ruang tersebut. Akibatnya. Secara umum. ruang pembakaran utama (primary combustion chamber) dan ruang pengambilan panas (heat recovery chamber) dipisahkan oleh dinding penghalang yang terpasang miring. sehingga pengaturan beban dapat dilakukan dengan mudah pula. Kemudian. Mekanisme aliran spiral dari media FBC ini dapat menjaga suhu lapisan mengambang supaya seragam. Dengan mekanisme ini maka selain uap air. ketika media FBC yang terangkat kuat tersebut sampai di bagian atas dinding penghalang. dimana angin bervolume kecil dialirkan melalui bagian tengah untuk menciptakan lapisan bergerak (moving bed) yang lemah. Karena pada ruang pengambilan panas tersebut juga dialirkan angin dari bagian bawah. panas dari ruang pembakaran utama diambil melalui mekanisme aliran sirkulasi tadi. media FBC akan terangkat kuat ke atas menuju ke bagian tengah ruang pembakaran utama dan kemudian turun perlahan – lahan. proses pada ICFBC kemudian diberi tekanan dengan cara memasukkan unit ICFBC ke dalam wadah bertekanan (pressurized vessel). Kemudian. Menggunakan pipa pemanas yang terpasang pada ruang pengambilan panas. Upaya ini akhirnya menghasilkan sistem pembangkitan yang disebut dengan Integrated Coal Gasification Combined Cycle (IGCC). maka penjelasan tentang bagaimana proses gasifikasi batubara berlangsung tidak akan diterangkan disini. tingkat keterambilan panas serta suhu pada lapisan mengambang dapat dikontrol dengan baik. Pembangkitan Kombinasi Dengan Gasifikasi Batubara Peningkatan efisiensi pembangkitan dengan mekanisme kombinasi melalui pemanfaatan gas sintetis hasil proses gasifikasi seperti pada A-PFBC. hanya jumlahnya ditekan sesuai dengan keperluan saja. dan kemudian terangkat lagi oleh angin bervolume besar dari windbox. akan dihasilkan pula gas hasil pembakaran bertekanan tinggi yang dapat digunakan untuk memutar turbin gas sehingga pembangkitan secara kombinasi (combined cycle) dapat diwujudkan. maka pembuangan material yang tidak terbakar juga lebih mudah. maka tidak ada kekhawatiran terhadap keausan pipa sehingga pasir silika digunakan sebagai pengganti batu kapur untuk media FBC. perubahan volume angin yang dialirkan ke ruang pengambilan panas berbanding lurus dengan koefisien hantar panas secara keseluruhan. dan angin bervolume besar dialirkan melewati kedua sisi windbox tersebut untuk menimbulkan lapisan bergerak yang kuat. Untuk lebih meningkatkan kinerja pembangkitan. selanjutnya mengarahkan teknologi pembangkitan untuk lebih mengintensifkan penggunaan teknologi gasifikasi batubara ke dalam sistem pembangkitan. Dengan demikian maka hanya dengan mengatur volume angin tersebut. Selain itu. karena pipa pemanas (heat exchange tube) tidak terpasang langsung pada ruang pembakaran utama. Di bagian bawah ruang pembakaran utama terpasang windbox untuk mengalirkan angin ke boiler.Seperti terlihat pada gambar. media FBC akan mengalir dari ruang pembakaran utama menuju ke ruang pengambilan panas kemudian kembali lagi ke ruang pembakaran utama. karena aliran tersebut bergerak dengan sangat dinamis. membentuk aliran sirkulasi (circulating flow) di antara kedua ruang tersebut. sebagian akan berbalik menuju ke ruang pengambilan panas. Batu kapur masih tetap digunakan sebagai bahan pereduksi SOx. maka pada ruang tersebut akan terbentuk lapisan bergerak yang turun perlahan juga. yang selanjutnya disebut dengan Pressurized ICFBC (PICFBC). Dengan demikian maka pada bagian tengah ruang pembakaran utama akan terbentuk lapisan bergerak yang turun secara perlahan. IGCC .

kemudian efisiensi pembuangan sulfur di atas 99%. NH3. selain dapat pula digunakan untuk menurunkan suhu pada combustor sehingga emisi NOx dapat terkontrol. terdapat pula kelemahan pada sistem IGCC yang dikembangkan saat ini. abu pada batubara akan melebur dan membentuk slag dalam kondisi meleleh (glassy slag). kelebihan lain IGCC adalah sangat rendahnya kadar emisi polutan yang dihasilkan. besarnya kapasitas pembangkitan yang ditentukan berdasarkan banyaknya unit dan model turbin gas yang akan digunakan. dan bila 3 unit maka akan menjadi 825MW. Prinsip kerja ketiga alat tersebut adalah sama. menghasilkan oksigen berkadar sekitar 95%. Gas buang dari turbin gas kemudian mengalir ke Heat Recovery Steam Generator (HRSG) yang berfungsi mengubah panas dari gas tersebut menjadi uap air. H2S. Gambar 12. Unit ini berfungsi untuk memisahkan oksigen dari udara melalui mekanisme cryogenic separation. fleksibilitas bahan bakar yang dapat digunakan. Pembangkit ini menghasilkan efisiensi netto sebesar 43% (Low Heating Value). Selain oksigen. Pada gas sintetis. Tipikal IGCC Seperti terlihat pada gambar. E-Gas (lisensinya dulu dimiliki Dow. yang selanjutnya dialirkan menuju turbin uap. dan terakhir Conoco Phillips ). efisiensi netto pembangkitan yang dihasilkan juga jauh melebihi pembangkitan pada sistem biasa (PCC) yang saat ini mendominasi. umumnya bertipe entrained flow. tapi GE 7FA yang berkapasitas 197MW. kemudian Destec. Di samping kelebihan tersebut. Oksigen yang digunakan untuk proses gasifikasi dihasilkan dari fasilitas Air Separation Unit (ASU). misalnya. uap air raksa. pada ASU juga dihasilkan nitrogen yang digunakan sebagai media inert untuk feeding batubara ke gasifier. yang selanjutnya dialirkan ke turbin uap. Dengan kombinasi antara model dan banyaknya unit turbin gas yang akan digunakan ini. COS. dan Shell. Demikian pula bila menghendaki kapasitas pembangkitan yang lebih kecil lagi. slag yang dapat dimanfaatkan untuk material pekerjaan konstruksi. yang 85% lebih komposisinya terdiri dari H2 dan CO. tingkat penangkapan CO2 yang signifikan. Oleh karena itu. dan char. selain . berkapasitas 250MW. maka model yang dipakai bukan lagi GE Frame 7FA. Apabila IGCC akan dioperasikan dengan kapasitas pembangkitan 275MW. selain H2 dan CO juga dihasilkan unsur lain yang tidak ramah lingkungan seperti HCN. penggunaan air yang 30-40% lebih rendah dibanding PLTU konvensional (PCC). pada sistem ini terdapat alat gasifikasi (gasifier) yang digunakan untuk menghasilkan gas. Emisi NOx yang dihasilkan sangat rendah yaitu kurang dari 10 ppm. senyawa klorida dan logam berat mudah menguap yang bisa dibilang nol. Bila 2 unit yang akan digunakan. yaitu batubara dan oksigen berkadar tinggi dimasukkan kedalamnya kemudian dilakukan reaksi berupa oksidasi sebagian (partial oxidation) untuk menghasilkan gas sintetis (syngas).Garis besar diagram alir pembangkit listrik sistem IGCC ditampilkan pada gambar 12 di bawah ini. Adapun panas yang ditimbulkan oleh proses gasifikasi dapat digunakan untuk menghasilkan uap bertekanan tinggi. Selain efisiensi pembangkitan. Yang tersedia di pasaran saat ini untuk tipe tersebut misalnya Chevron Texaco (lisensinya sekarang dimiliki GE Energy). berarti cukup 1 unit yang dipasang. maka GE 6FA yang berkapasitas 85MW dapat digunakan. Sebagai contoh adalah Nuon IGCC yang terletak di Buggenum. Contohnya untuk turbin gas GE Frame 7FA yang berkapasitas 275MW. berarti kapasitas pembangkitan menjadi 550MW. serta air limbah yang bisa diresirkulasi kembali sehingga tidak ada buangan air limbah ke lingkungan. dan lain – lain. Kemudian bila kapasitas pembangkitan yang diinginkan adalah di bawah 200MW. tingkat emisi flyash. Belanda. Dengan mekanisme seperti ini. dengan performansi baku mutu lingkungan yang sangat bagus. Karena reaksi berlangsung pada suhu tinggi. gas harus diproses terlebih dulu untuk menghilangkan bagian tersebut sebelum dikirim ke turbin gas.

dan fuel cell. sebenarnya belum ada unit IGCC yang murni komersial. Hal ini perlu ditekankan karena teknologi dari masing – masing unit pada IGCC misalnya gasifier. AS. Contoh beberapa plant IGCC tersebut adalah 1. Masalah yang pernah terjadi adalah kebocoran pipa gas cooler dan timbulnya fauling pada gas cooler ketika campuran sludge sekitar 4-5%. Buggenum 4. Nuon IGCC. unit IGCC yang beroperasi secara komersial saat ini baik di AS maupun di Eropa pada awalnya berstatus demonstration plant. terletak di Florida. Sejarah IGCC dimulai pada tahun 1970 ketika perusahaan STEAG dari Jerman Barat mengembangan IGCC berkapasitas 170MW. turbin uap. Beroperasi sejak September 1995 dibawah proyek Wabash River. Pernah pula terjadi fauling pada gas cooler. Penyebab utamanya adalah investasi pembangunannya yang besar. Dengan mempertimbangkan berbagai faktor diantaranya efisiensi pembangkitan yang tinggi. menggunakan gasifier dari Chevron Texaco (sekarang GE Energy). akan terdapat 3 jenis kombinasi pembangkitan pada sistem yang baru ini yaitu turbin gas. yang bahan bakarnya adalah batubara dicampur dengan biomassa (sludge dan sampah kayu) untuk lebih mengurangi emisi CO2. terletak di Indiana. dan yang lainnya merupakan teknologi yang sudah terbukti. dan teknologi gasifikasi yang sudah terbukti. yang mengoperasikan IGCC berkapasitas 120MW sampai dengan tahun 1989. bahan bakar yang digunakan adalah petcoke 100%. yaitu dengan menambahkan sel bahan bakar (fuel cell) ke dalam sistem IGCC. Nuon 250MW IGCC Power Station. Spanyol. serta teknologi IGCC yang belum terbukti. Bahan bakarnya berupa campuran petcoke dan batubara berkadar abu 40% dengan perbandingan 50:50. Tampa Electric Polk 250MW IGCC Power Station. pembangkit ini menggunakan teknologi gasifikasi dari Global Energy (saat ini bagian dari Conoco Phillips). menggunakan teknologi gasifikasi dari Prenflow (saat ini bagian dari Shell). Masalah yang dihadapi adalah lebih rendahnya tingkat konversi karbon dibandingkan dengan nilai yang direncanakan. Elcogas 300MW IGCC Power Station. serta availability factor (AF) yang lebih rendah dibanding PCC. Metode pembangkitan ini disebut dengan Integrated Coal . sebenarnya juga akan mempersempit rentang operasi. Dengan demikian. faktor ramah lingkungan. IGCC ini beroperasi sejak September 1996 dibawah proyek Tampa. Kelemahan lain yang perlu dicermati dari sistem IGCC saat ini adalah ongkos pembangkitan per kW dan operation & maintenance (O & M) yang lebih mahal. 2. Teknologi yang digunakan adalah dari Shell. Belanda. Selain dari segi biaya. Jauh setelahnya. Sejak berakhirnya proyek dari Departemen Energi AS (DOE) pada tahun 2001. proyek demonstration plant IGCC bernama Cool Water diluncurkan di AS pada tahun 1984. Penurunan beban turbin gas ini otomatis akan menurunkan efisiensi pembangkitan dan akibat yang kurang baik pada emisi polutan yang dihasilkan. Bahan bakar yang digunakan adalah batubara dan petroleum coke (petcoke). turbin gas. Wabash River 260MW IGCC Power Station. AS. IGCC ini bermula dari proyek Demkolec yang dimulai pada bulan Januari 1994.akan membatasi kapasitas pembangkitan pada IGCC. turbin uap. Teknologi IGCC disini maksudnya adalah rangkaian proses dari keseluruhan bangunan (building block) yang membentuk sistem IGCC utuh. Di bawah program dari Uni Eropa. Sampai tulisan ini dibuat. Misalnya ketika akan menurunkan beban pada saat operasi puncak. terletak di Buggenum. upaya untuk lebih mengurangi kelemahan IGCC sudah mulai dilakukan. hal itu mesti dilakukan dengan menurunkan beban pada turbin gas. plant ini direncanakan sebagai tempat untuk proyek pengambilan CO2 (CO2 recovery) dan produksi H2. 3. terletak di Puertollano. dilakukan pula upaya untuk lebih meningkatkan efisiensi pembangkitan. Pembangkit IGCC ini beroperasi sejak Juni 1996 dibawah proyek Puertollano. Selama perkembangan yang berlangsung sekitar 20 tahun lebih sejak proyek Cool Water. HRSG.

Kelebihan lainnya adalah tingginya efisiensi pembangkitan yang dapat dicapai yaitu minimal 55%. faktor Economy mungkin menjadi pertimbangan utama untuk pembangunan fasilitas pembangkitan. diikuti Engineering. yaitu Engineering (sisi teknis). Di bawah ini ditampilkan karakteristik dari keempat jenis sel bahan bakar tersebut. Peningkatan tersebut diakibatkan oleh penambahan peralatan untuk mengurangi beban lingkungan. Kemudian. Faktor Environment secara perlahan menempati urutan pertama dalam pertimbangan pengembangan teknologi. lambat laun akan semakin mahal untuk mengakomodasi standar mutu lingkungan yang semakin ketat. Yang pertama adalah urgensi pematangan teknologi IGCC. Economy (sisi ekonomis). dan terakhir Environment. karena reaksinya menghasilkan suhu yang sangat tinggi. dan diharapkan pada tahun 2010. Mengambil contoh IGCC.Gasification Fuel Cell Combined Cycle (IGFC). biaya pembangkitan per kW pada IGCC justru semakin menurun. Karakteristik Sel Bahan Bakar Dari tabel di atas terlihat bahwa sel bahan bakar yang sesuai untuk kombinasi pembangkitan dengan turbin gas adalah SOFC. Dibandingkan dengan PCC. teknologi pembangkitan yang ada. kemudian Engineering. pembangkitan dengan metode IGFC ini secara teoretis mampu mengurangi emisi CO2 sebesar 30%. sel bahan bakar terbagi 4 yaitu Phosphoric-Acid Fuel Cell (PAFC). Molten Carbonate Fuel Cell (MCFC). Perbandingan Biaya Pembangkitan per kW IGCC dan PCC di AS Dari grafik di atas terlihat bahwa selama 20 tahun terakhir. biaya itu akan menurun dan pada waktu tertentu akan kompetitif terhadap teknologi yang sudah ada. dan Proton-Exchange Membrane Fuel Cell (PEFC). gas bio. Namun seiring dengan upaya pengurangan polusi atau pencemaran lingkungan yang menyebabkan makin ketatnya baku mutu lingkungan. dan Environment (sisi lingkungan). Pada tahap awal. pembangkitan listrik dilakukan secara langsung melalui reaksi elektrokimia antara hidrogen dan oksigen sehingga tingkat kerugian energinya sedikit dan efisiensi pembangkitannya tinggi. Penutup Perkembangan teknologi pembakaran pada PLTU batubara telah disajikan di atas. terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum IGFC benar – benar dapat diaplikasikan secara komersial. nilainya akan sama dengan pada PCC. dan pada akhirnya justru malah akan membebani dari segi ekonomi. Sebaliknya. misalnya fasilitas desulfurisasi (FGD). Di bawah ini ditampilkan perbandingan biaya pembangkitan antara IGCC dan PCC di AS selama kurun 20 tahun terakhir. Tipikal IGFC Pada sel bahan bakar. misalnya PCC yang saat ini mendominasi. Sebaliknya. perlunya pengembangan sel bahan bakar yang berefisiensi tinggi tapi murah. Solid-Oxide Fuel Cell (SOFC). Berdasarkan material yang digunakan untuk elektrolitnya. biaya pembangkitan untuk PCC meningkat sekitar 50%. dan prediksinya di masa depan. karena IGFC pada dasarnya adalah pengembangan dari IGCC. Tabel 1. dan terakhir justru Economy. untuk mendukung biaya pembangkitan yang kompetitif ke depannya. terlihat bahwa urutan 3E tersebut mulai berubah. yaitu sekitar $1200. Namun seiring dengan menguatnya isu lingkungan dan matangnya teknologi tersebut. Hidrogen tersebut dapat berasal dari gas alam. . atau gas hasil gasifikasi batubara. Disamping kelebihan tersebut. yang diagram alirnya ditampilkan pada gambar 16 di bawah ini. adalah wajar bila tahap awal perkembangannya pasti memerlukan biaya yang besar. Secara umum dapat dikatakan bahwa suatu teknologi yang berkembang tidak terlepas dari hal pokok yang disebut 3E.

pelet dan ukuran partikel 50 mm. dan rendah titik leleh abu ( van Loo dan Koppejan 2003 ) . Ketika bahan bakar biomassa memiliki kandungan air yang tinggi. dan dapat meningkatkan kelebihan oksigen yang diperlukan untuk pembakaran yang sempurna ( Baxter dan Koppejan 2004 ). gasifikasi. Gas-gas yang mudah terbakar yang dihasilkan Selain itu dibakar setelah udara telah introducted di zona pembakaran dipisahkan dari tempat tidur bahan bakar. Grates luar lebih sering terjadi pada tanaman pembakaran modern karena mereka memungkinkan untuk operasi yang lebih fleksibel dan abu otomatis menghapus sistem dapat dicapai lebih mudah. serbuk gergaji. tinggi-abu jumlah terbang. kadar air rendah. yang akan memandu pembakaran yang sempurna bahan bakar dan meminimalkan eksternalitas negatif. Penyala kurang memberi makanan dan operasional merupakan teknologi yang aman dan murah untuk skala menengah sistem kecil hingga kapasitas boiler nominal 6 MWth ( Knoef 2003 ). Ada berbagai teknologi tungku perapian yang tersedia. di mana aliran pusaran yang kuat dicapai oleh udara sekunder kipas dirancang khusus dilengkapi dengan rantai berputar ( van Loo dan Koppejan 2003 ). perubahan beban dapat dicapai lebih mudah dan cepat daripada pada tanaman pembakaran perapian karena pasokan bahan bakar dapat dikendalikan lebih mudah bahan bakar tersebut dimasukkan ke dalam ruang pembakaran oleh konveyor sekrup dari bawah dan diangkut ke atas pada jeruji dalam atau luar. Keuntungan dari Penyala kurang memberi makanan yang baik-beban mereka parsial perilaku dan kontrol beban sederhana. dan udara sekunder biasanya di pintu masuk ke ruang pembakaran sekunder. Sebuah perkembangan baru adalah stoker kurang memberi makanan dengan pasca pembakaran rotasi. tungku perapian dapat dimanfaatkan. udara primer melewati tempat tidur tetap. di mana pembakaran pengeringan. dan arang terjadi.Fixed-bed Combustion Dalam sistem pembakaran tetap-tempat tidur. karena perilaku pembakaran yang berbeda. suplai udara heterogen dapat menyebabkan slagging. Mereka cocok untuk bahan bakar biomassa dengan kadar abu rendah seperti serpihan kayu. . tetapi teknologi saat ini tidak memungkinkan untuk campuran bahan bakar kayu dan jerami. atau konten high-abu. sereal dan rumput. Sebuah distribusi homogen bahan bakar dan lapisan bara di atas permukaan seluruh grate penting untuk menjamin pasokan udara sebesar dasar di seluruh permukaan garangan. berbagai ukuran partikel. Campuran bahan bakar kayu dapat digunakan. udara primer diberikan melalui perapian.

cangkang sawit.950 derajat celcius. Memerlukan pasir silica sebagai media untuk menyimpan panas. kertas. sekam padi. Dengan menggunakan metode bubling makan panas di dalam dapur hingga sampai temperature 700 . Hembusan angin dari FDF Force Draft Fan akan melewati furnace nozzle akan menggerakkan pasir silica yang bercampur dengan batubara yang terbakar sehingga menimbulkan panas yang menyerupa lava dan bergerak naik turun sesuai dengan tekanan angin yang telah di atur sedemikian rupa.Tetap Bahan Bakar Tempat Tidur Fluidized Bed Combustion Prinsip kerja Fluidized Bed Combustion : Sistem Fluidized bed Combustion ini menggunakan bahan bakar yang mudah terbakar seperti batubara. Pada sistem ini di lengkapi Silica Sand Vibrator yang berfungsi untuk menyaring kotoran di dalam dapur dengan pasir silica dan di masukkan kembali dengan otomatis tanpa boiler berhenti. Sehingga terhindar dari terbentuknya NOx yang berbahaya bagi lingkungan. Apabila sampai meleleh hal ini menyebabkan pengerasan atau membatu sehingga operasi boiler berhenti. serpihan kayu (saw dust). Panas di dalam furnace di kontrol oleh FBC tube sehingga temperatur didalam furnace maksimal 900-1000 derajat celcius. Dengan terjaganya suhu dalam temperatur rendah sehingga pasir silca dan abu pembakaran tidak akan meleleh. .

4. Pemasukan Batubara Dalam system FBC. System FBC adalah system pembakaran yang tertutup. dengan ukuran 0 ~ 15 mm. sehingga seluruh batubara yang masuk ke dalam dapur api akan terbakar sempurna ( 100 % ). Batubara dimasukan kedalam ruang bakar sedikit demi sedikit menggunakan screw conveyor komposisi batubara adalah 5 % dan 95 % lainnya adalah pasir silica. karakteristik Batu bara Indonesia.Keunggulan Boiler dengan system Fluidized Bed Combustion : 1. 3. Dan juga pembakaran suhu rendah dapat menghindari terbentuknya NOx. 5. . 2. sebelum habis terbakar batubara akan terperangkap di dalam pasir silica yang bergerak. Batu bara yang digunakan dalam system FBC sangat flexible dapat Menggunakan batubara rendah kalori. sehingga sangat mudah untuk melakukan control bila terjadi Fluktuasi pada pemakaian uap di pabrik dengan mengatur kecepatan pada screw conveyor. dengan demikian efficiency boiler menjadi tinggi. Spesifikasi Batu bara tersebut adalah yang paling murah dan paling banyak tersedia di indonesia. Pembakaran sempurna ( Perfect Combustion ). Temperature pembakaran yang rendah. Tidak ada mechanical yang bergerak Dalam system FBC tidak ada mechanical yang bergerak dalam dapur api yang sangat panas. abu dari batubara akan mulai berubah bentuk atau meleleh pada suhu 1050 °C sehingga dengan design yang kami tawarkan tidak akan terjadi “Melting Ash” atau kandungan abu batubara yang meleleh. Design temperature System FBC kami adalah maksimum 950 °C. NOx baru akan terbentuk pada suhu 1000°C.

Fungsi Gasifikasi Gasifikasi adalah suatu teknologi proses yang mengubah batubara dari bahan bakar padat menjadi bahan bakar gas. batubara bersama-sama dengan oksigen dikonversikan menjadi hidrogen. H2. nitrogen serta unsur gas lainnya. Teknologi IGCC (Integrated Gasification Combined Cycle) merupakan salah satu teknologi batubara bersih yang sekarang di kembangkan. Istilah IGCC ini merupakan istilah yang paling banyak digunakan untuk menyatakan daur kombinasi gasifikasi batubara terintegrasi. Gasifikasi batubara merupakan teknologi terbaik serta paling bersih dalam mengkonversi batubara menjadi gas-gas yang dapat dimanfaatkan sebagai energi listrik. karbon monoksida. Gas hasil gasifikasi batubara mengalami proses pembersihan sulfur dan nitrogen. sehingga biaya produksi industri akan lebih rendah dibandingkan dengan Boiler dengan bahan bakar minyak (BBM) PROSES GASIFIKASI BATUBARA 3. Dalam makalah ini untuk selanjutnya akan digunakan istilah IGCC. Gas buang dari turbin gas dimanfaatkan dengan menggunakan HRSG (Heat Recovery Steam Generator) untuk membangkitkan uap. Sulfur yang masih dalam bentuk H2S dan nitrogen dalam bentuk NH3 lebih mudah dibersihkan sebelum dibakar dari pada sudah dalam bentuk oksida dalam gas buang. .1. Investasi Cepat Kembali Dengan menggunakan Boiler sistem Fluidized Bad Combustion (FBC) efisiensi pemakaian batu bara sangat tinggi. Secara sederhana. batubara dimasukkan ke dalam reaktor dan sedikit dibakar hingga menghasilkan panas. Mula-mula batubara yang sudah diproses secara fisis yaitu batubara yang telah dihancurkan dalam ukuran + 20 mm – 100 mm diumpankan ke dalam reaktor dan akan mengalami proses pembakaran yang dikontrol oleh steam dan angin sehingga tidak terbentuk api tetapi bara. Meskipun demikian masih ada beberapa istilah yang digunakan yaitu ICGCC (Integrated Coal Gasification Combined Cycle) dan CGCC (Coal Gasification Combined Cycle) yang sama artinya. Berbeda dengan pembakaran batubara. IGCC merupakan perpaduan teknologi gasifikasi batubara dan proses pembangkitan uap. Komponen utama dalam riset IGCC adalah pengembangan teknik gasifikasi batubara. CO2.6. methana. Kecuali bahan pengotor. Coal Gas merupakan campuran gas-gas hidrogen. gasifikasi adalah proses pemecahan rantai karbon batubara ke bentuk unsur atau senyawa kimia lain. karbon monoksida. Sejumlah udara atau oksigen dipompakan dan pembakaran dikontrol dengan uap agar sebagian besar batubara terpanaskan hingga molekul-molekul karbon pada batubara terpecah dan dirubah menjadi ”coal gas”. Proses gasifikasi ini melalui beberapa proses kimia dalam reaktor gasifikasi (gasifier). N2. Kemudian gas yang sudah bersih ini dibakar di ruang bakar dan kemudian gas hasil pembakaran disalurkan ke dalam turbin gas untuk menggerakkan generator.

dan reduksi. pirolisis. Disamping itu pembangkit listrik IGCC mempunyai produk sampingan yang merupakan komoditi yang mempunyai nilai jual seperti : sulfur. oksidasi. Jika kelembaban tinggi. Efisiensi pembangkit listrik dengan menggunakan teknologi IGCC ini berkisar antara 38 . penggunaan air sebagai pendingin terbatas. Coal gasifier tidak mengeluarkan polutan hingga ramah lingkungan.10 % dibandingkan PLTU batubara konvensional. Pada proses gasifikasi ada suatu proses juga yang tidak kalah pentingnya adalah proses desulfurisasi yang mana sebagai penghilang hidrogen sulfurisasi yang merupakan gas beracun. Instalasi peralatan tidak membutuhkan ruang yang luas. Salah satu cara untuk mengetahui proses yang berlangsung pada gasifier jenis ini adalah dengan mengetahui rentang temperatur masing-masing proses. NOX. Teknologi IGCC ini mempunyai kelebihan yaitu dalam hal bahan bakar : tidak ada pembatas untuk tipe. Hanya sebagian kecil fraksi mineral yang ikut terbakar dan membentuk debu yang akan dipisahkan dengan dust cyclone. Tar yang merupakan by-product dari pemutusan rantai karbon akan dipisahkan menggunakan electric tar separator dan dapat dimanfaatkan sebagai minyak bakar.Uap dari HRSG (setelah turbin gas) digunakan untuk menggerakkan turbin uap yang akan menggerakkan generator. Coal gasifier sangat cocok untuk industri / pabrik skala menengah hingga besar yang memiliki ruang terbatas serta dekat dengan pemukiman. Sebagian besar proses gasifikasi memerlukan batubara relatif kering yaitu kurang dari 15% kelembaban.45 % dan yang lebih tinggi 5 . dan reduksi tidak dapat dibedakan. Penggunaan IGCC sangat menguntungkan karena pada pembangkit konvensional memerlukan sistem scrubbing gas yang besar untuk membersihkan sulphur pada gas buang. pirolisis. kontak yang terjadi saat pencampuran antara gas dan padatan sangat kuat sehingga perbedaan zona pengeringan. Gasifikasi umumnya terdiri dari empat proses. Kecuali menghasilkan coal gas. CO2 serta debu dapat dikurangi tanpa penambahan peralatan tambahan seperti de-SOX dan de-NOX dan juga limbah cair serta luas tanah yang dibutuhkan juga berkurang. Sehingga perlu untuk mengeringkan batubara dan mengumpankan kedalam gasifikator dalam butiran dengan ukuran + 20 mm – 100 mm. Dalam hal lingkungan : emisi SO2. yaitu pengeringan. Hal ini dimungkinkan dengan adanya proses gasifikasi sehingga energi yang terkandung dalam batubara dapat digunakan secara efektif dan digunakannya HRSG untuk membentuk suatu daur kombinasi antara turbin gas dan turbin uap. mineral pada batubara yang tidak terbakar akan tertampung dibagian bawah reaktor sebagai slag serta material padatan lainnya yang dapat dimanfaatkan untuk bahan bangunan. oksidasi. Pada gasifier jenis tipe gasifikasi unggun tetap (fixed bed gasification). Sulfur pada batubara yang terkonversi menjadi H2S akan diekstrak menjadi belerang murni yang bernilai jual tinggi. dan biaya operasional dalam jangka panjang akan rendah. tar (light oil). ukuran dan kandungan abu dari batubara yang digunakan. yaitu: . efisiensi akan rendah.

Secara umum reaksi yang terjadi pada pirolisis beserta produknya adalah: 5. ketika komponen yang tidak stabil secara termal. tar. Pembakaran mengoksidasi kandungan karbon dan hidrogen yang terdapat pada bahan bakar dengan reaksi eksotermik.1. pirolisis.2. kandungan air pada bahan bakar padat diuapkan oleh panas yang diserap dari proses oksidasi. yaitu gas ringan (H2.1. Komposisi produk yang tersusun merupakan fungsi temperatur. seperti volatile matters pada batubara. Proses ini menyediakan seluruh energi panas yang dibutuhkan pada reaksi endotermik. dan reduksi bersifat menyerap panas (endotermik). Produk cair yang menguap mengandung tar dan PAH (polyaromatic hydrocarbon). CO2. 5.• • • • Pengeringan: T > 150 °C Pirolisis/Devolatilisasi: 150 < T < 550 °C Oksidasi: 70 < T < 550 °C Reduksi: 50 < T < 120 °C Proses pengeringan. sedangkan proses oksidasi bersifat melepas panas (eksotermik). tekanan. Suatu rangkaian proses fisik dan kimia terjadi selama proses pirolisis yang dimulai secara lambat pada T < 100 °C dan terjadi secara cepat pada T > 200 °C. Reaksi yang terjadi pada proses pembakaran adalah: C + O2 CO2 + 393.1. Pirolisis. Penjelasan lebih lanjut mengenai proses-proses tersebut disampaikan pada uraian berikut ini. Produk pirolisis umumnya terdiri dari tiga jenis. dan CH4). cairan organik. H2O. sedangkan gasifikasi mereduksi hasil pembakaran menjadi gas bakar dengan reaksi endotermik. Oksidasi Oksidasi atau pembakaran arang merupakan reaksi terpenting yang terjadi di dalam gasifier. CO. Pada pirolisis. dan gas yang tidak terkondensasi) dari arang atau padatan karbon bahan bakar juga menggunakan panas yang diserap dari proses oksidasi. Proses pirolisis dimulai pada temperatur sekitar 230 °C.77 kJ/mol karbon Reaksi pembakaran lain yang berlangsung adalah oksidasi hidrogen yang terkandung dalam bahan bakar. Proses Gasifikasi 5. Oksigen yang dipasok ke dalam gasifier bereaksi dengan substansi yang mudah terbakar. pecah dan menguap bersamaan dengan komponen lainnya. Hasil reaksi tersebut adalah CO2 dan H2O yang secara berurutan direduksi ketika kontak dengan arang yang diproduksi pada pirolisis. Pada pengeringan. Pirolisis atau devolatilisasi disebut juga sebagai gasifikasi parsial. 1. dan arang. pemisahan volatile matters (uap air. dan komposisi gas selama pirolisis berlangsung. Reaksi yang terjadi adalah: .

Reaksi yang terjadi pada Boudouard reaction adalah: CO2 + C 2CO – 172.90 kJ/mol karbon Pembentukan metan dipilih terutama ketika produk gasifikasi akan digunakan sebagai bahan baku indsutri kimia. • Boudouard reaction Boudouard reaction merupakan reaksi antara karbondioksida yang terdapat di dalam gasifier dengan arang untuk menghasilkan CO.38 kJ/kg mol karbon Pada beberapa gasifier. Produk yang dihasilkan pada proses ini adalah gas bakar. Reduksi (Gasifikasi) Reduksi atau gasifikasi melibatkan suatu rangkaian reaksi endotermik yang disokong oleh panas yang diproduksi dari reaksi pembakaran. . Reaksi ini digunakan pada pembuatan gas CO. CO. • Water-gas reaction Water-gas reaction merupakan reaksi oksidasi parsial karbon oleh steam yang dapat berasal dari bahan bakar padat itu sendiri (hasil pirolisis) maupun dari sumber yang berbeda. dan CH4. Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut: CO + H2O CO2 + H2 – 41. seperti H2. seperti uap air yang dicampur dengan udara dan uap yang diproduksi dari penguapan air.58 kJ/mol karbon • Shift conversion Shift conversion merupakan reaksi reduksi karbonmonoksida oleh steam untuk memproduksi hidrogen. Reaksi ini juga dipilih pada aplikasi IGCC (Integrated Gasification Combined-Cycle) yang mengacu pada nilai kalor metan yang tinggi. steam dipasok sebagai medium penggasifikasi dengan atau tanpa udara/oksigen. Reaksi yang terjadi pada methanation adalah: C + 2H2 CH4 + 74.3.H2 + ½ O2 H2O + 742 kJ/mol H2 5.98 kJ/mol • Methanation Methanation merupakan reaksi pembentukan gas metan. Reaksi ini dikenal sebagai water-gas shift yang menghasilkan peningkatan perbandingan hidrogen terhadap karbonmonoksida pada gas produser. Reaksi yang terjadi pada water-gas reaction adalah: C + H2O H2 + CO – 131.1. Reaksi berikut ini merupakan empat reaksi yang umum telibat pada gasifikasi.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful