You are on page 1of 22

LAPORAN PRAKTIKUM ANATOMI FISIOLOGI MANUSIA II

MATERI PERCOBAAN PENENTUAN GOLONGAN DARAH DAN KADAR HEMOGLOBIN SERTA PERHITUNGAN JUMLAH ERITROSIT DAN LEUKOSIT

DOSEN PEMBIMBING : dr. RANGGA PUTRA NUGRAHA

KELOMPOK KELAS NAMA ANGGOTA

: 2 (DUA) : REGULER A : 1. MARYONO (I21111003)

2. ERSHA ANDINI PERMATASARI (I21111004) 3. WAFI LISANI NURO 4. ARIFPIN TANJAYA 5. AGUS STYAWAN 6. NU’MAN MAIZ (I21111005) (I21111007) (I21111017) (I21111024)

PROGRAM STUDI FARMASI FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TANJUNGPURA PONTIANAK 2012

BAB I PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang

Tubuh manusia merupakan sistem yang sangat kompleks. Lebih lanjut sistem tubuh manusia meliputi banyak sistem yang tergabung dalam suatu kesatuan, meliputi sistem rangka, pencernaan, peredaran darah, saraf, serta yang lainnya. Sistem-sistem ini pada dasarnya dapat menjadi suatu rujkan apakah seseorang dikatakan sehat maupun tidak. keadaan sehat merupakan keadaan yang bersaha dipertahankan oleh tubuh manusia. Namun tidak berarti keadaan ini selalu dapat dipertahankan. Pada keadaan tertentu tubuh dapat mengalamai penurunan kemampuan dalam

mempertahankan keadaan untuk tetap sehat. Beberapa rujukan penelitian mengenai kesehatan seseorang dapat ditinjau dari sistem peredaran darahnya. Darah merupakan gabungan dari ciran, sel-sel dan partikel yang menyerupai sel yang mengalir dalam kapiler, arteri dan vena. Darah berperan dalam tubuh manusia dalam hal mengirim oksigen dan zat-zat gizi ke jaringan dan membawa karbon dioksida, sehingga dapat dikatakan bahwa peran darah sangatlah penting dan perlu untuk dipahami. Pentingnya pemahaman mengenai darah tentutelah sangat dipahami oleh para ahli dalam bidang medis, akan tetapi penelitian-penelitian yang berkaitan dengan darah ini tentunnya masih perlu dilakukan dalam konteks untuk memperdalam pemahaman mengenai darah serta hal yang berhubungan dengan darah, sehingga akan dapat membantu para ahli dalam mempelajarinya lebih lanjut. Pada berbagai penelitian yang berkaitan dengan darah, terdapat beberapa hal yang dirasa penting untuk dipelajari. Diantaranya adalah mengenai penggolongan darah (sistem A,B,O maupun Rhesus) yang berkaitan dengan komponen penyusun darah, pengujian hemoglobin yang merupakan komponen darah yang mempunyai peran penting dalah hal pengikatan oksigen, serta penelitian mengenai sel-sel darah itu sendiri.Oleh karena itu dilakukanlah percobaan berkaitan dengan darahkarena penting untuk dipahami serta dipelajari lebih lanjut.

1.2

Tujuan

Adapun tujuan dari praktikum ini agar : 1. Dapat memahami dan melakukan penentuan golongan darah. 2. Dapat memahami dan melakukan penentuan kadar hemoglobin. 3. Dapat memahami dan melakukan penentuan kadar eritrosit dan leukosit.

BAB II ISI

2.1   

Definisi Eritrosit merupakan istilah untuk sel darah merah. Leukosit merupakan istilah untuk sel darah putih. Hemoglobin merupakan protein dalam eritrosit yang berfungsi membawa O2 kejaringan dan mengembalikan CO2 dari jaringan ke paru – paru.

2.2. Dasar Teori 2.2.1. Golongan Darah Golongan darah adalah ciri khusus darah dari suatu individu karena adanyaperbedaan jenis karbohidrat dan protein pada permukaan membran sel darahmerah. Dua jenis penggolongan darah yang paling penting adalah penggolonganABO dan Rhesus (faktor Rh). Di dunia ini sebenarnya dikenal sekitar 46 jenisantigen selain antigen ABO dan Rh, hanya saja lebih jarang dijumpai. Transfusidarah dari golongan yang tidak kompatibel dapat menyebabkan reaksi transfusiimunologis yang berakibat anemia hemolisis, gagal ginjal, syok, dan kematian (Rahmawati, 2011).

2.2.1.1. Penggolongan Sistem ABO Ditinjau dari golongan ini, manusia dikelompokkan menjadi 4 golongan. Pengelompokan ini didasarkan atas ada tidaknya suatu zat tertentu di dalam sel darah merah yaitu yang dikenal dengan nama aglutinogen (antigen) dan ada tidaknya suatu zat tertentu di dalam plasma darah. Ada dua macam aglutinogen yaitu aglutinogen A dan aglutinogen B, dan dua macam aglutinin yaitu aglutinin A/alfa dan aglutinogen B/beta. (Wulangi, 1993). Aglutinogen merupakan polisakarida dan terdapat tidak saja terbatas di dalam sel darah merah tetapi juga di kelenjar ludah, pankreas, hati, ginjal, paru-paru, testis dan semen (Michael,2009).Golongan darah manusia ditentukan berdasarkan jenis antigen dan antibodiyang terkandung dalam darahnya, sebagai berikut (Rahmawati dkk, 2011) :

 Individu dengan golongan darah A memiliki sel darah merah dengan antigen A dipermukaan membran selnya dan menghasilkan antibodi terhadap antigen Bdalam serum darahnya. Sehingga, orang dengan golongan darah A-negatifhanya dapat menerima darah dari orang dengan golongan darah A-negatif atauO-negatif.  Individu dengan golongan darah B memiliki antigen B pada permukaan sel darahmerahnya dan menghasilkan antibodi terhadap antigen A dalam serumdarahnya. Sehingga, orang dengan golongan darah Bnegatif hanya dapatmenerima darah dari orang dengan dolongan darah B-negatif atau O-negatif.  Individu dengan golongan darah AB memiliki sel darah merah dengan antigen Adan B serta tidak menghasilkan antibodi terhadap antigen A maupun B.Sehingga, orang dengan golongan darah AB-positif dapat menerima darah dariorang dengan golongan darah ABO apapun dan disebut resipien universal.Namun, orang dengan golongan darah ABpositif tidak dapat mendonorkandarah kecuali pada sesama AB-positif.  Individu dengan golongan darah O memiliki sel darah tanpa antigen, tapimemproduksi antibodi terhadap antigen A dan B. Sehingga, orang dengangolongan darah O-negatif dapat mendonorkan darahnya kepada orang dengangolongan darah ABO apapun dan disebut donor universal. Namun, orang dengangolongan darah O-negatif hanya dapat menerima darah dari sesama O-negatif.

Golongan darah O yang tidak mempunyai aglutinogen A dan aglutinogen B,merupakan golongan darah yang paling banyak dijumpai pada hampir 47% penduduk dunia, sedangkan golongan darah AB adalah yang paling sedikit dijumpai, hanya sekitar 3% dari jumlah penduduk dunia.Bila suatu aglutinogen (misalnya A) terdapat di dalam sel darah merah tertentu, maka aglutinin yang bersangkutan (anti A atau alfa) tidak boleh ada di dalam plasma. Demikian pula, bila aglutinogen tidak terdapat di dalam sel darah merah, aglutinin yang bersangkutan harus ada di dalam plasma (Wulangi, 1993). Kehadiran aglutinin di dalam plasma darah sudah ada sejak lahir, namun demikian kadar aglutinin akan berbeda menurut umur. Kadar maksimum aglutinin tercapai pada umur 8 sampai 10 tahun, kemudian menurun lagi pada umur berikutnya. Sebagaimana diketahui bahwa aglutinin adalah gama globulin dan dibuat di dalam sel-sel yang juga menghasilkan benda kebal. Globulin merupakan benda penolak yang dapat melawan antigen yang masuk ke dalam tubuh (Wilson, 1986). Apa yang telah dijelaskan ini merupakan hukum Landsteiner. Jika aglutinogen bertemu dengan aglutinin yang bersangkutan (misalnya, aglutinogen A bertemu dengan aglutinin/anti A atau aglutinogen B bertemu dengan aglutinin/anti B) maka terjadilah aglutinasi, yaitu sel darah merah akan berkelompok dan diikuti oleh “hemolisa”. Hemolisa adalah peristiwa keluarnya hemoglobin dari dalam sel darah merah menuju ke cairan sekelilingnya. Keluarnya hemoglobin ini disebabkan karena pecahnya membran sel darah merah. Ada 2 macam hemolisa yaitu (Eckert, 1978) : 1. Hemolisa Osmotic Hemolisa osmotic terjadi karena adanya perbedaan yang besar antara tekanan osmosis cairan di dalam sel darah merah dengan cairan di sekililing sel darah merah. 2. Hemolisa Kimiawi Pada hemolisa kimiawi, membran sel darah merah dirusak oleh macam-macam substansi kimia. Pada dasarnya membran sel darah merah terutama terdiri dari lipida dan protein yang membentuk suatu lapisan yang disebut lipoprotein. Jadi setiap substansi kimia yang dapat

melarutkan lemak (pelarut lemak) dapat merusak atau melarutkan membran sel darah merah.

Untuk menentukan golongan darah diperlukan suatu serum penguji yangdisebut tes serum yang terdiri dari tes serum A dan tes serum B. Darah yang akan diperiksadimasukkan kedalam suatu tabung yang berisi 2cc gram fisiologis laludikocok. Darah tersebut ditaruh di atas object glass kemudian diteteskan tes serumA dan tes serum B (Rahmawati dkk, 2011).  Jika darah di A menggumpal, sedangkan di B tidak maka termasuk golongandarah A.  Jika darah di A tidak menggumpal sedangkan di B menggumpal makatermasuk golongan darah B.  Jika darah di A dan B menggumpal maka termasuk golongan darah AB.  Jika darah di A dan B tidak menggumpal maka termasuk golongan darah O.

2.2.1.2 Penggolongan Sistem Rhesus Pada tahun 1940, Landsteiner dan Wiener menemukan golongan darah lain yang dikenal dengan nama faktor Rhesus (Rh). Faktor Rh ini semula berasal dari jenis kera Rhesus macaca. Selain aglutinogen A dan aglutinogen B, ada pula aglutinogen lain yaitu aglutinogen C, D, dan E. diantaranya, aglutinogen D adalah yang utama. Bila sesorang di dalam sel darah merahnya mengandung aglutinogen D, maka orang tersebut adalah bergolongan Rh+ (Rh positif). Diantara orang-orang barat kurang lebih 85% daripada seluruh populasinya mempunyai aglutinogen D, sedangkan 15% sisanya tidak mempunyai aglutinogen D dan disebut Rh negative (Rh- ) (Wilson, 1986). Berbeda dengan golongan darah ABO, yang di dalam plasmanya tidak terdapat anti D, maka orang yang Rh- nya dapat membentuk anti D setelah mendapat transfusi darah dari orang yang Rh+ . orang yang Rh+ tidak dapat membentuk anti D, maka dari itu dapat menerima darah dengan aman , baik dari orang yang Rh+ atau dari orang yang Rh-. Jadi transfusi darah

dari Rh- ke Rh+ selalu dapat dilakukan tanpa mengakibatkan hal yang diinginkan (Wilson, 1986). Faktor Rh+ diturunkan secara dominan, jadi Rh+ dapat berupa Rhesus homozigot (DD) atau Rhesus heterozigot (Dd). Rh- tidak mengandung aglutinogen D, sehingga satu-satunya kemungkinan Rh- adalah homozigot dd. (Wulangi, 1993). Bila wanita dengan Rh- kawin dengan pria Rh+ yang homozigot, semuanya anaknya adalah Rh+. Bila hal ini terjadi, dapatlah timbul hal yang tidak diinginkan (Wilson, 1986). Telah diketahui, bayi yang masih berada di dalam uterus mempunyai jantung dan peredaran darah tersendiri dan sel darahnya juga tidak tergantung atau tidak berasal dari darah ibunya. Plasenta memungkinkan

terjadinya pemindahan zat baik dari peredaran darah ibu ke peredaran darah fetus atau sebaliknya. Dalam keadaan normal, sel darah merah tidak dapat pindah dari peredaran darah yang satu ke yang lain. Bila darah ibu (Rh-) yang karena transfusi misalnya mengandung anti D, anti D ini dapat melalui plasenta menuju ke peredaran darah bayi (Rh+). Akibatnya anti D akan bertemu dengan aglutinogen D dan menyebabkan aglutinasi sel darah merah bayi. Bila anti D cukup banyak, bayi akan mati. Seandainya bayi yang lahir dapat hidup, bayi menderita kekuningan yang berat. Keadaan yang demikian itu disebut icterus gravis neonatorum (Wilson, 1986).

2.2.2. Penentuan Kadar Hemoglobin Bentuk sel darah berasal dari sel induk (Stem Cells) dalam sumsum tulang belakang serta memasuki aliran darah guna memenuhi kebutuhan tertentu pada hewan. Pigmen merah pembawa oksigen di dalam eritrosit merupakan hemoglobin. Hemoglobin suatu molekul globulin dibentuk menjadi 4 sub unit. Pada tiap sub unit mengandung suatu gugusan heme yang dikonjungsi ke suatu peptida. Heme adalah suatu turunan porifrin (merah) yang mengandung besi dan globin yang merupakan protein globular yang terdiri dari 4 rantai asam amino. Fungsi hemoglobin dalam eritrosit sebagai pengangkut gas, baik oksigen maupun karbondioksida. Hemoglobin darah dapat mengangkut sekitar 60 kali oksigen lebih banyak apabila dibandingkan dengan air pada saat dalam kondisi dan jumlah yang sama. Hemoglobin dapat bergabung dengan oksigen udara yang

terdapat dalam paru-paru karena mempunyai daya afinitas yang tinggi, sehingga terbentuklah oksihemoglobin yang kemudian oksigen tersebut dilepaskan ke selsel jaringan tubuh. Kadar hemoglobin diukur dalam gram per 100mL darah atau dalam gram persen (Poejiadi, 1994). Eritrosit merupakan sarana transportasi gas oksigen dan karbondioksida. Hal ini disebabkan karena eritrosit memiliki pigmen hemoglobin. Hemoglobin mampu mengikat O2 dan CO2 (Praseno,2003). Hemoglobin merupakan zat padat dalam eritrosit yang menyebabkan warna merah. Dibandingkan dengan sel-sel lain dalam jaringan, eritrosit kurang mengandung air. Tekanan osmosis dalam sel sama dengan tekanan osmosis pada plasma. Bila terjadi perubahan tekanan osmosis pada larutan diluar sel darah merah akan berpengaruh terhadap besar sel. Larutan hipotonik menyebabkan air masuk ke dalam sel dan sel akan bertambah besar kemudian pecah dan hemoglobin akan keluar dari sel. Proses ini disebut hemolisis. Proses ini dapat disebabkan oleh faktor lain seperti adanya pelarut lemak misalnya eter dan kloroform (Poejiadi, 1994). Sel darah merah mengandung sekitar 35% berat hemoglobin. Hemoglobin ini mengandung dua rantai α dan dua rantai β serta empat gugus heme, yang masingmasing berikatan dengan rantai polipeptida. Masing-masing gugus heme dapat mengikat 1 molekul oksigen karena sejumlah besar hemoglobin yang terdapat dalam sel darah merah, 100 mL darah mamalia, jika dioksigenasi penuh, dapat membawa 21 gas O2. Jumlah O2 yang diikat oleh hemoglobin bergantung kepada empat faktor yaitu tekanan parsial, pH, konsentrasi 2,3-difosfogliserat DPG dan konsentrasi CO2 (Lehninger, 1995). Pada paru-paru dimana tekanan parsial oksigen tinggi (90-100 mmHg) dan pH dan juga pH relatif tinggi (25-40 mmHg) dan pH juga relatif rendah (7,2-7,3), terjadi pembebasan oksigen yang terikat ke dalam massa jaringan yang

melakukan respirasi. Vena darah yang meninggalkan jaringan, mengandung hemoglobin yang tingkat kejenuhannya 65%. Oleh karena itu, hemoglobin berdaur diantara kejenuhan oleh oksigen 65% dan 97%, dalam sirkuit berulang diantara paru-paru dan jaringan perifer (Lehninger, 1994). Suatu pengatur derajat hemoglobin yang penting adalah 2,3-difosfogliserat (DPG). Konsentrasi DPG yang tinggi didalam sel menyebabkan afinitas hemoglobin terhadap oksigen yang lebih rendah. Jika pengiriman oksigen ke jaringan sangat terbatas seperti pada orang yang mengalami defisiensi sel darah

merah atau orang yang hidup didataran tinggi, konsentrasi DPG didalam sel menjadi lebih tinggi daripada individu normal yang hidup normal didaerah permukaan laut. Hal ini menyebabkan hemoglobin membebaskan oksigen yang diikatnya segera ke dalam jaringan untuk mengimbangi penurunan oksigenasi hemoglobin didalam paru-paru (Praseno, 2003). Hemoglobin berfungsi sebagai pengangkut gas baik oksigen (O2) maupun karbondioksida (CO2). Selanjutnya melepaskan oksigen tersebut ke sel-sel jaringan yang terdapat di dalam tubuh. Proses ini disebut oksigenasi, yang membutuhkan besi dalam bentuk ferro dalam molekul hemoglobin. Zat gizi tersebut menuju sumsum tulang sehingga menjadi bagian dari molekul heme guna membentuk eritrosit (Frandson, 1992). Kadar hemoglobin pada umumnya diukur dalam gram per 100mL darah. Karena adanya hemogobin, darah dapat mengangkut sekitar 60 kali oksigen lebih banyak apabila dibandingkan dengan air dalam jumlah dan kondisi yang sama (Smith, 1998). PH darah menggambarkan konsentrasi ion hidorgen, yang menentukan keasaman atau kebasaan relatif dari larutan. Dalam air destilasi, ion hidrogen (H+) (yang bersifat asam) setara dengan ion hidroksil (OH-) (yang bersifat basa atau alkalis); pH nya 7, yang menggambarkan keadaan netral, tidak bersifat asam dan tidak bersifat basa. Larutan dengan pH antar 1 sampai 7 adalah larutan asam; semakin kecil angka itu, semakin asamlah sifatnya. pH untuk larutan basa berkisar dari 7 sampai 14; semakin besar angkannya, semakin basalah larutan itu. Dalam keadaan normal pH terletak diantara 7,35 dan 7,45, sedikit berada didaerah yang basanya netral. pH darah dipertahankan didalam suatu batas-batas yang relatif sempit oleh adanya buffer kimia, terutama natrium bikabornat. Buffer bereaksi dengan asam kuat atau basa kuat hingga menghasilkan garam netral dan asam atau basa lemah. Suatu contoh adalah natrium bikabornat atau sistem asam karbonat : HCL + NaHCO3 NaCl + H2CO3 NaOH + H2CO3NaHCO3 + H2O H2CO3CO2 + H2O Kemampuan untuk menetralkan asam ini didapatkan dari metabolisme yang mengarah ke istilah cadangan alkali sebagai sinonim bikabornat yang tersedia didalam darah. Karbon dioksida yang dihasilkan dikeluarkan dari darah melalui paru. Hiperventilasi dengan cara membuang banyak karbon dioksida, dapat

menyebabkan timbulnya alkalosis sementara di dalam darah. Dalam beberapa keadaan dan penyakit, cadangan alkali menurun demikian rupa sehingga menimbulkan keadaan asam dalam darah (asidosis) yang ditimbulkan oleh karena banyaknya CO2 (Frandson,1992).

2.2.3. Penentuan Jumlah Eritrosit dan Leukosit 2.2.3.1.Eritrosit Eritrosit merupakan bagian utama dari sel darah. Jumlah pada pria dewasa sekitar 5 juta sel/cc darah dan pada wanita sekitar 4 juta sel/cc darah. Kadar 1 Hb inilah yang dijadikan patokan dalam menentukan penyakit anemia. Eritrosit berusia sekitar 120 hari. Sel yang telah tua dihancurkan di Limpa . Hemoglobin dirombak kemudian dijadikan pigmen Bilirubin (pigmen empedu) (Anonim A, 2011). Sel darah merah (eritrosit) bentuknya seperti cakram/ bikonkaf dan tidak mempunyai inti. Ukuran diameter kira-kira 7,7 unit (0,007 mm), tidak dapat bergerak. Banyaknya kira–kira 5 juta dalam 1 mm3 (41/2 juta). Warnanya kuning kemerahan, karena didalamnya mengandung suatu zat yang disebut hemoglobin, warna ini akan bertambah merah jika di dalamnya banyak mengandung oksigen. Fungsi sel darah merah adalah mengikat oksigen dari paru–paru untuk diedarkan ke seluruh jaringan tubuh dan mengikat karbon dioksida dari jaringan tubuh untuk dikeluarkan melalui paru–paru. Pengikatan oksigen dan karbon dioksida ini dikerjakan oleh hemoglobin yang telah bersenyawa dengan oksigen yang disebut oksihemoglobin (Hb + oksigen 4 Hb-oksigen) jadi oksigen diangkut dari seluruh tubuh sebagai oksihemoglobin yang nantinya setelah tiba di jaringan akan dilepaskan: Hb-oksigen Hb + oksigen, dan seterusnya. Hb tadi akan bersenyawa dengan karbon dioksida dan disebut karbon dioksida hemoglobin (Hb + karbon dioksida Hb-karbon dioksida) yang mana karbon dioksida tersebut akan dikeluarkan di paru-paru (Anonim A, 2011). Sel darah merah (eritrosit) diproduksi di dalam sumsum tulang merah, limpa dan hati. Proses pembentukannya dalam sumsum tulang melalui beberapa tahap. Mula-mula besar dan berisi nukleus dan tidak berisi hemoglobin kemudian dimuati hemoglobin dan akhirnya kehilangan nukleusnya dan siap diedarkan dalam sirkulasi darah yang kemudian akan

beredar di dalam tubuh selama kebih kurang 114 - 115 hari, setelah itu akan mati. Hemoglobin yang keluar dari eritrosit yang mati akan terurai menjadi dua zat yaitu hematin yang mengandung Fe yang berguna untuk membuat eritrosit baru dan hemoglobin yaitu suatu zat yang terdapat didalam eritrisit yang berguna untuk mengikat oksigen dan karbon dioksida. Jumlah normal pada orang dewasa kira- kira 11,5 – 15 gram dalam 100 cc darah. Normal Hb wanita 11,5 mg% dan laki-laki 13,0 mg%. Sel darah merah memerlukan protein karena strukturnya terdiri dari asam amino dan memerlukan pula zat besi, sehingga diperlukan diit seimbang zat besi. Di dalam tubuh banyaknya sel darah merah ini bisa berkurang, demikian juga banyaknya hemoglobin dalam sel darah merah. Apabila kedua-duanya berkurang maka keadaan ini disebut anemia, yang biasanya disebabkan oleh perdarahaan yang hebat, penyakit yang melisis eritrosit, dan tempat pembuatan eritrosit terganggu (Anonim A, 2011).

2.2.3.2. Leukosit Sel darah putih sesungguhnya tidaklah berwarna putih, tetapi jernih. Disebut sel darah putih untuk membedakannya dari sel darah merah yang berwarna merah. Sel darah putih bentuknya tidak teratur atau tidak tetap. Tidak seperti sel darah merah yang selalu berada di dalam pembuluh darah, sel darah putih dapat keluar dari pembuluh darah. Kemampuan untuk bergerak bebas diperlukan sel darah putih agar dapat menjalankan fungsinya untuk menjaga tubuh. Sel darah putih memiliki inti sel tetapi tidak berwarna atau tidak memiliki pigmen (Anonim A, 2011). Berdasarkanzatwarna diserapnyadanbentukintinyaseldarahputihdibagimenjadilimajenis, yaitubasofil, neutrofil, monosit, eosinofil, danlimfosit. Secara normal jumlahseldarahputihpadatubuhkitaadalahkuranglebih 8.000 padatiap 1 mm3 darah.Seldarahputihhanyahidupsekitar 12-13 yang

hari.Fungsiseldarahputihsebagaipertahanantubuhdariseranganpenyakit.Ji katubuhterlukadanadakuman yang masuk, sel-

seldarahputihakanmenyerangataumemakankuman-kumantersebut. Ibaratsebuahnegara,

seldarahputihadalahpasukantempur.Jikaseseorangdiserangpenyakit, tubuhakanmemproduksilebihbanyakselseldarahputihuntukmelawanbibitpenyakittersebut (Anonim A, 2011). Jumlah sel pada orang dewasa berkisar antara 6000 – 9000 sel/cc darah. Fungsi utama dari sel tersebut adalah untuk fagosit (pemakan) bibit penyakit/ benda asing yang masuk ke dalam tubuh. Maka jumlah sel tersebut bergantung dari bibit penyakit/benda asing yang masuk tubuh. Peningkatan jumlah lekosit merupakan petunjuk adanya infeksi misalnya radang paru-paru. Lekopeni adalah berkurangnya jumlah lekosit sampai di bawah 6000 sel/cc darah. Lekositosis adalah bertambahnya jumlah lekosit melebihi normal (di atas 9000 sel/cc darah).Fungsi fagosit sel darah tersebut terkadang harus mencapai benda asing/kuman jauh di luar pembuluh darah. Kemampuan lekosit untuk menembus dinding pembuluh darah (kapiler) untuk mencapai daerah tertentu disebut Diapedesis. Gerakan lekosit mirip dengan amoeba Gerak Amuboid.Jenis leukosit,yaitu (Anonim A,2011) : 1. Granulosit Lekosit yang di dalam sitoplasmanya memiliki butir-butir kasar (granula). Jenisnya adalah eosinofil, basofil dan netrofil. 2. Agranulosit Lekosit yang sitoplasmanya tidak memiliki granola. Jenisnya adalah limfosit dan monosit. 3. Eosinofil Eosinofilmengandung granula berwama merah (Warna Eosin) disebut juga Asidofil. Berfungsi pada reaksi alergi (terutama infeksi cacing). 4. Basofil Basofil mengandung granula berwarna biru (Warna Basa). Berfungsi pada reaksi alergi. 5. Netrofil Netrofil (ada dua jenis sel yaitu Netrofil Batang dan Netrofil Segmen). Disebut juga sebagai sel-sel PMN (Poly Morpho Nuclear). Berfungsi sebagai fagosit. 6. Limfosit

Limfosit (ada dua jenis sel yaitu sel T dan sel B). Keduanya berfungsi untuk menyelenggarakan imunitas (kekebalan) tubuh. Sel T4 imunitas seluler sel B4 imunitas humoral. 7. Monosit Monosit merupakan lekosit dengan ukuran paling besar

BAB III METODOLOGI

3.1. Alat dan Bahan 3.1.1. Alat Adapun alat-alat yang digunakan adalah : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Chamber Hemosimeter Cover Glass Kartu Uji Golongan Darah ABO Lanset Mikroskop Pipet Eritrosit Pipet Leukosit Set Haemometer untuk Metode Sahli a. Pengaduk Kaca b. Pipet Pastur c. Pipet Sahli 0,02 mL d. Sikat e. Spuit f. Standar Haemometer/komparator g. Tabung Pemeriksaan 9. Tusuk Gigi

3.1.2. Bahan Adapun bahan-bahan yang digunakan adalah : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Aquadest Larutan Hayem Larutan HCl Larutan Turk Sampel Darah Reagen anti A Reagen anti B Reagen anti C (anti AB) Reagen anti D (anti rhesus)

3.2. Spesimen Spesimen dalam percobaan ini adalah darah dari kapiler brankialis sebanyak 2cc dari probandus Agus Styawan.

3.3. Cara Kerja 3.3.1. Uji Golongan Darah 1. 2. Ditekan salah satu ujung jari pasien agar darah berkumpul diujung jari. Dengan menggunakan lanset, diambil darah pasien kemudian diteteskan ke kartu uji golongan darah sebanyak 2 tetes perdaerah uji (4 daerah; anti A, Anti B, Anti AB, dan anti RH). 3. 4. 5. Daerah uji kemudian ditetesi sesuai dengan reagennya. Dengan menggunakan tusuk gigi, darah dan reagen diaduk. Diamati dan ditentukan golongan darah beserta rhesusnya dilihat dari penggumpalan yang terjadi.

3.3.2. Penentuan Kadar Hemoglobin dengan Metode Sahli 1. 2. Isi tabung pemeriksaan dengan larutan HCl 0,1 N sampai tanda strip 2. Bersihkan daerah arteri brankialis yang akan diambil darah kapilernya dengan kapas alkohol dan diambil dengan spuit sebanyak 2cc. 3. Ambil darah kapiler menggunakan pipet sahli sebanyak 0,02 ml, masukan ke dalam tabung pemeriksaan dan biarkan darah tercampur dengan larutan HCl. 4. 5. Letakan tabung pemeriksaan ke dalam komparator/standar. Setelah 3 menit, tambahkan aquades setetes demi setetes sambil diaduk dengan batang pengaduk hingga warna larutan sama dengan standar yang ada di komparator. 6. Baca skala yang ditunjukan setelah warna sama pada tempat yang terang (terdapat sumber cahaya ).

3.3.3.Penentuan Jumlah Eritrosit dan Leukosit 1. Dengan menggunakan darah yang berlebih dari pengambilan pada metode sahli, pipet leukosit dan eritrosit diisikan darah sampai tanda batas 0,5. 2. Pada pipet eritrosit ditambahkan larutan Hayem hingga batas 11 dan pada pipet leukosit ditambahkan larutan Turk hingga batas 101.

3. 4.

Larutan kemudian digojok hingga homogen. Pada perhitungan jumlah eritrosit, chamber yang telah ditutupi dengan cover glass di tetesi larutan pada bagian tengah atas chamber dengan sudut 30 Odan dibiarkan mengalir ke tengah. Sedangkan untuk leukosit, larutan di tetesi pada 4 sisi pojok chamber.

5. 6.

Letakan chamber di atas mikroskop. Eritrosit dihitung pada bagian tengah chamber dengan mengikuti alur garis pada chamber, sedangkan leukosit dihitung pada keempat sisi chamber.

BAB IV HASIL

4.1. Interpretasi Hasil 4.1.1. Uji Golongan Darah ABO

Anti A Menggumpal

Anti B Tidak Menggumpal

Anti AB Menggumpal

Anti Rh Menggumpal

Hasil diperoleh berdasarkan hasil percobaan dimana bila :    

Jika darah di A menggumpal, sedangkan di B tidak maka termasuk golongan darah A. Jika darah di A tidak menggumpal sedangkan di B menggumpal maka termasuk golongan darah B. Jika darah di A dan B menggumpal maka termasuk golongan darah AB. Jika darah di A dan B tidak menggumpal maka termasuk golongan darah O. Jika darah di Rh menggumpal maka +, jika tidak -.

Nama Golongan Darah Rhesus

: Agus Styawan :A :+

4.1.2. Penentuan Kadar Hb Hasil pengukuran menunjukan bahwa kadar Hb pasien adalah 13 gram/dl. Nilai normal hemoglobin tergantung dari umur pasien, yaitu :
       

Bayi baru lahir : 17-22 gram/dl Umur 1 minggu : 15-20 gram/dl Umur 1 bulan : 11-15 gram/dl Anak anak : 11-13 gram/dl Lelaki dewasa : 14-18 gram/dl Perempuan dewasa : 12-16 gram/dl Lelaki tua : 12.4-14.9 gram/dl Perempuan tua : 11.7-13.8 gram/dl

Sehingga dapat disimpulkan bahwa pasien memiliki kadar Hb dibawah batas normal kadar Hb seharusnya.

Nama Kadar Hb

: Agus Styawan : 13 gram/dl

4.1.3. Penentuan Jumlah Eritrosit dan Leukosit Hasil pengujian menunjukan kadar eritrositnya adalah 3.830.000 dan leukositnya adalah 8.050. Hasil ini diperoleh dari perhitungan dimana hasil perhitungan eritrosit dari chamber adalah 383. Hasil ini kemudian dikalikan 10.000 dan diperoleh kadar eritrosit sebanyak 3.830.000. Sedangkan pada leukosit dari penjumlahan dari 4 sisi chamber diketahui hasilnya ada 161. Hasil ini dikalikan 50 dan diperoleh kadar leukosit sebanyak 8.050.Kadar eritrosit dalam darah manusia normalnya adalah 4,5-5,9 (4,5-5,5) juta/µL, sedangkan leukosit adalah 4.00011.000 (5.000-11.000)/µL. Kadar yang diperoleh menunjukan bahwa jumlah eritrosit dalam tubuh pasien adalah dibawah normal dan leukositnya normal. Eritrosit Leukosit : 383 x 100 = 3.830.000 : 161 x 50 = 8.050

Nama Eritrosit Leukosit

: Agus Styawan : 3.830.000/µL : 8.050/µL

4.2

Variabel Pengganggu Variabel pengganggu dalam percobaan ini meliputi : 1. 2. 3. 4. 5. 6. Kontaminasi oleh udara. Ketidaktepatan dalam pengambilan jumlah darah yang akan diukur. Kesalahan jumlah kadar pelarut. Kesalahan dalam penempatan sampel pada tempat uji. Kesalahan penghitungan dibawah mikroskop. Keadaan pasien pada saat darahnya diambil.

BAB V PENUTUP

5.1

Kesimpulan

1. Golongan darah adalah ciri khusus darah dari suatu individu karena adanya perbedaan jenis karbohidrat dan protein pada permukaan membran sel darah merah. 2. Golongan darah dapat ditentukan dengan sistem ABO dan Rh. 3. Hemoglobin merupakan pigmen pada sel darah merah yang menyebabkan darah berwarna merah yang berfungsi mengangkut gas ke peredaran darah. 4. Metode Sahli merupakan salah satu metode yang dapat digunakan dalam menentukan kadar hemoglobin. 5. Komponen penyusun darah eritrosit dan leukosit harus berada dalam kadar seharusnya karena eritrosit merupakan bagian penting dalam sistem pengangkutan gas bersama hemoglobin dan leukosit sebagai sistem pertahanan tubuh.

5.2

Saran

Saran dari praktikum berupa dicoba metode lain dalam penentuan golongan darah dan kadarnya. Meskipun akan sulit menyediakan bahan dan alatnya, setidaknya dapat dijadikan sebagai bagian dari ilmu. Terutama dalam penentuan kadar hemoglobin dimana dikatakan bahwa metode Sahli merupakan metode yang memiliki tingkat kesalahan cukup tinggi.

BAB VI KESAN DAN SARAN

6.1

Kesan

Kesan selama mengikuti praktikum anfisman 2 ini adalah senang karena dengan adanya praktikum ini kami menjadi tahu dasar-dasar dalam bidang kedokteran seperti penentuan golongan darah, kadar Hb, mengukur tensi darah dan lainnya. Selain itu dengan ada praktikum ini juga menambah wawasan kami, dimana yang semulanya persepsi kami terhadap suatu hal itu salah, bisa di luruskan disini.

6.2

Saran

Saran kami untuk para pembimbing kami adalah untuk membiasakan melaksanakan segalanya sesuai jadwal. Marilah memanfaatkan waktu sebaiknya, biasakan budaya malu bila terlambat. Lalu jangan menjelaskan terlalu cepat karenaitu malah membuat kami semakin tidak mengerti.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim A.2011.Hematologi.ml.scribd.com/doc/55620042-54778499/isi-materi-idk-iiihematologi (Diakses tanggal 08 Desember 2012). Eckert, R., and D. Randall. 1978. Animal Physiologi : Mechanism and Freeman and company Frandson, R.D.1992. Anantomi dan Fisiologi Ternak. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press. Lehninger. 1994. Dasar-Dasar Biokimia Jilid 1. Jakarta : Erlangga. Lehninger. 1995. Dasar-Dasar Biokimia Jilid 3. Jakarta : Erlangga. Poedjiadi, Anna. 1994. Dasar-Dasar Biokimia. Jakarta:Universitas Indonesia Press. Praseno, K.2003. Fisiologi Ternak. Fakultas Peternakan. Semarang : Fakultas Peternakan Universitas Diponegoro. Rahmawati dkk.2011. Golongan Darah. http://pbr2008unj.files. wordpress.com/2012/08/ golongan-darah.pdf (Diakses tanggal 08 Desember 2012). Smith.1998. Pemeliharaan, Pembiakan dan Penggunaan Hewan Percobaan di Daerah Tropis. Jakarta:Universitas Indonesia Press. Wilson, J.A. 1986. Principles of Animal Physiology. The Macmillan Company Wulangi, Kartolo S. 1993. Prinsip-Prinsip Fisiologi Hewan. Biologi FMIPA - ITB Adaptation, W. H.