You are on page 1of 18

D I S U S U N Oleh

:
NAMA : Daniel Manahan Dika Imara Sitorus Dewi Sartika Dian Indriani Diona

JURUSAN BIOLOGI FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS NEGERI MEDAN 2010 KATA PENGANTAR

Puji syukur tiada tara penulis panjatkan pada Yang Maha Pengasih karena telah memberikan kemampuan dan waktu kepada penulis untuk menyelesaikan penulisan makalah Bahasa Indonesia “ Bahasa Pengembangan Apa yang disajikan dalam makalah ini hanyalah merupakan garis besar dari materi kuliah Bahasa indonesia. Untuk memperluas dan memperdalam wawasan dalam bidang ini diharapkan hahasiswa membaca berbagai refensi yang relevan, terutama yang bukubuku dijadikan acuan dalam penulisan makalah ini. Penulis menyadari bahwa banyak kelemahan yang terdapat pada diktat ini, baik yang menyangkut isi, pengungkapan, maupun sistematika penulisan. Untuk itu saran serta kritik yang konstruktif senantiasa penulis harapkan. Kepribadian “. Penulis berharap makalah ini dapat dimanfaatkan untuk salah sumber belajar bagi mahasiswa.

Medan, 26 februari 2011

Tim Penulis

DAFTAR ISI halaman KATA PENGANTAR DAFTAR ISI BAB I PENDAHULIAN 1.1 Latar Belakang BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Bahasa Pengembangan Keperibadian 2.1.1 Penertian Bahasa Secara Umum 2.1.2 Pengertian Bahasa 2.2 Pengertian Kepribadian Dan Pengembangan Kepribadian 2.3 Hubungan Bahasa Dengan Kepribadian BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan DAFTAR PUSTAKA 6 8 14 14 15 i ii 1 1 3 3 3 6

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Dalam keilmuan dapat dipahami sebagai susunan yang teratur, berpola, membentuk suatu keseluruhaan yang bermakna atau berfungsi. Dengan demikian dapat dipahami bahwa bahasa memiliki sifat yang teratur, berpola, memiliki makna dan fungsi. Dan bahasa juga dapat dia artikan sebagai : (1) Bahasa Itu Berwujud Lambang Ungkapan (2) Bahasa Itu Adalah Bunyi (3) Bahasa Itu Bermakna (4 ) Bahasa Itu Arbitrer( 5 ) Bahasa Itu Unik ( 6 ) Bahasa Itu Universal ( 7 ) Bahasa Itu Manusiawi ( 8 ) Bahasa Itu Bervariasi ( 9 ) Bahasa Itu Dinamis ( 10 ) Bahasa Sebagai Alat Interaksi Sosial ( 11 ) Bahasa Sebagai Identits Diri. Dalam literatur pendidikan, khususnya psikologi pendidikan, istilah pengembangan diri dapat disamakan dengan istilah pengembangan kepribadian atau pengembangan jati diri. Meskipun sebetulnya istilah diri (self) tidak sepenuhnya identik dengan kepribadian (personality). Istilah diri dalam bahasa psikologi disebut pula sebagai aku, ego atau self yang merupakan salah satu aspek sekaligus inti dari kepribadian, yang di dalamnya meliputi segala kepercayaan, sikap, perasaan, dan citacita, baik yang disadari atau pun yang tidak disadari. Aku yang disadari oleh individu bisa disebut self picture (gambaran diri), sedangkan aku yang tidak disadari disebut unconscious aspect of the self (aku tak sadar) Istilah kepribadian merupakan terjemahan dari bahasa Inggris personality. Kata personality berasal dari bahasa Latin pesona yang artinya topeng atau kedok. Secara terminologis, personality memiliki pengertian yang bermacam-macam. Di antaranya, personality adalah kualitas perilaku individu yang tampak dalam melakukan penyesuaian dirinya terhadap lingkungan secara unik. Personality merupakan sistem yang dinamis dari sifat, sikap, dan kebiasaan yang menghasilkan tingkat konsistensi respon individu yang beragam. Perkembangan kepribadian sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor baik heriditas (pembawaan) maupun lingkungan (seperti fisik, psikis, kebudayaan, spiritual, dan lain-lain). Perkembangan ini akan menimbulkan perubahan-perubahan kepribadian terutama pada masa anak-anak dan remaja. Khusus pada masa remaja, perubahan kepribadian ini akan menjadi masa yang amat penting dan memberikan

dasar bagi masa dewasa karena pada masa ini merupakan saat berkembangnya identity (jati diri).

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Bahasa Pengembangan Keperibadian 2.1.1 Penertian Bahasa Secara Umum Dalam keilmuan dapat dipahami sebagai susunan yang teratur, berpola, membentuk suatu keseluruhaan yang bermakna atau berfungsi. Dengan demikian dapat dipahami bahwa bahasa memiliki sifat yang teratur, berpola, memiliki makna dan fungsi. Sistematis diarti pula bahwa bahasa itu tersusun menurut suatu pola, tidak tersusun acak. Karenanya, sebagai sebuah sistem, bahasa juga sistemik. Sistematik atau sistematis maksudnya bahasa itu bukan merupakan sistem tunggal, tetapi juga terdiri atas sub-sub sistem atau sistem bawahan. Disini dapat disebutkan subsistemsubsistem itu antara lain : subsistem fonologi, subsistem morfologi, subsistem sintaksi, subsistem semantik, maka sebuah sistem, bahasa berfungsi untuk memilah kajian morfologi, fonologi, sintaksi, dan semantik. 1.Bahasa Itu Berwujud Lambang Ungkapan Lambang tentu sudah sering kita dengar, semisal ungkapan “ merah lambang berani dan putih lambang suci”. Dalam bidang ilmu, istilah lambing berada dalam kajian semiotika atau semiologi. Bahasa sebagai lambang, didalamnya ada tanda, sinyal, gejala, gerak, isyarat, kode, indeks, dan lkon. Lambing sendiri sering disamakan dengan symbol. Dengan demikian , bahasa sebagai lambagng artinya memiliki symbol untuk menyampaikan pesan kepada lawan tutur. Ia berfungsi untuk menegaskan bahasa yang hendak disampaikan. 2. Bahasa Itu Adalah Bunyi Kata bunyi berbeda dengan kata suara. Menurut Krdaklaksana (1983:27) bunyi adalah pesan dari pusat saraf sebagai akibat dari gendang telinga yang bereaksi karena perubahan-perubahan dalam tekanan udara. Karena itu, banyak ahli menyatakan bahwa yang disebut bahasa itu adalah yang sifatnya primer, dapat diucapkan dan menghasilkan bunyi. Dengan demikian, bahasa tulis adalah bahasa skunder yang sifatnya berupa rekaman dari bahasa lisan, yang apabila dibacakan/dihafalkan tetap melahirkan bunyi juga. Sebagai bunyi, bahasa berfungsi

untuk menyampaikan pesan lambing dari kebahasaan sebagaimana dissebutkan diatas bahwa bahasa juga bersifat lambing. 3. Bahasa Itu Bermakna. Bahasa Sebagai Suatu Hal yang bermakna erat dengan kaitannya system lambing bunyi. Oleh sebab itu dilambangkan dengan suatu pengertian, suatu konsep, sutau ide, atau suatu pikiran, yang hendak disampaikan melalui wujud bunyi bahasa yang bermakna itu, dalam bahasa berupa satuan-satuan bahasa yang berwujud morfem, kata, frasa, klausa, kalimat, dan wacana. 4. Bahasa Itu Arbitrer. Arbitrer dapat diartikan “sewenag-wenang, berubah-ubah, tidak tetap, mana suka”. Arbitrer diartikan pula dengan tidak adanya hubungan wajib antara lambing bahasa (yang berwujud bunyi) dengan konsep atau pengertian yang dimaksud oleh lambing tersebut. Hal ini berfungsi untuk memudahkan orang dalam melakukan tindakan kebahasaan. 5. Bahasa Itu Unik. Bahasa dikatakan memiliki sifat yang unik karena setiap bahasa memiliki cirri khas sendiri yang dimungkinkan tidak dimiliki oleh bahasa yang lain. Ciri khas ini menyangkut system bunyi, system pembentukan kata. System pembentukan kalimat dan sistem-sistem lainnya. Diantara keunikan yang dimiliki bahasa bahwa tekanan kata bersifat morfemis, melainkan sintaksis. Bahasa bersifat unik berfungsi untuk membedakan antara bahasa yang satu dengan lainnya. 6. Bahasa Itu Universal Selain unik dengan ciri-criri khas tersendiri, setiap bahasa juga dimungkinkan memiliki ciri yang sama untuk beberapa kategori. Hal ini bisa dilihat pada fungsi dan beberapa sifat bahasa. Karena bahasa itu bersifat ujaran, ciri yang paling umum dimemiliki oleh setiap bahasa itu adalah memiliki vokal dan konsonan. Namun, beberapa vokal dan konsonan pada setiap bahasa tidak selamanya menjadi persoalan keunikan. Bahasa Indonesia misalnya, memiliki 6 buaj vokal dan 22 konsonan, tetapi bahasa Arab memiliki 3 buah vokal pendek, 3 buah vokal panjang, serta 28 konsonan (Al-Khuli, 1982:321). Oleh sifatnya yang universal, ini bahasa memiliki fungsu yang sangat umum dan menyeluruh dalam tindakan komunikasi 7. Bahasa Itu Manusiawi.

Bahasa yang manusiawi adalah bahasa yang lahir alami oleh manusia penutur bahasa dimaksud. Hal ini karena pada binatang belum tentu ada bahasa meskipun binmatang dapat berkomunikasi. Sifat ini memiliki fungsi sebagai citras bahasa sangat baik dalam komunikasi. 8. Bahasa Itu Bervariasi. Setiap masyarakat bahasa pasti memiliki variasi atau ragam dalam bertutur. Bahasa Aceh misalnya, antara penutur bahasa Aceh bagi masyarakat Aceh Barat dengan masyarakat Aceh di Aceh Utara memiliki variasi. Variasi bahasa dapat terjadi secara idiolek, dialek, kronolek, sosiolek, dan fungsional. 9. Bahasa Itu Dinamis. Hampir disetiap tindakan manusia selalu menggunakan bahasa. Bahkan, dalam bermimpi pun, mcmenggunakan bahasa. Karena setiap tindakan manusia sering berubah-ubah seirng perubahan zaman yang diikuti oleh perubahan pola pikir manusia, bahasa yang digunakan pun kerap memiliki perubahan. Inilah yang dimaksud dengan dinamis. Dengan kata lain, bahasa tidak statis, tetapi akan terus berubah mengikuti kebutuhan dan tuntutan pemakai bahasa. 10. Bahasa Sebagai Alat Interaksi Sosial. Bahasa sebagai alat interaksi sosial sangat jelas fungsinya, yakni dalam interaksi, manusia memang tidak dapat terlepas dari bahasa, seperti dijelaskan di atas, hanpir di setiap tindakan manusia tidak terlepas dari bahasa, maka salah satu hakikat bahasa alat komunikasi dalam bergaul sehari-hari. 11. Bahasa Sebagai Identits Diri. Bahasa juga dapat menjdi identitas diri pengguna bahasa tersebut. Hal ini disebabkan bahasa juga menjadi cerminan dari sikap seseorang dalam berinteraksi. Sebagai identitas diri, bahasa akan menjadi penunjuk karakter pemkai bahasa tersebut. Sementara itu, Brown dan Yule (1996:1) berpendapat bahwa bahasa itu dapat berfungsi sebagai pengungkapan isi yang diekspresikan menjadi fungsi transaksionaldan sebagai pengungkapan hubungan sosial dan sikap-sikaps pribadi yang dideskripsikannya menjdi fungsi interaksional.

2.1.2 Pengertian Bahasa Pengertian bahasa telah dirumuskan para pakar bahasa, diantaranya Pengertian Bahasa Menurut Para Ahli: 1. Menurut Keraf dalam Smarapradhipa, memberikan dua pengertian bahasa. Pengertian pertama ,menyatakan bahasa sebagai alat komunikasi antara anggota masyarakat berupa simbol bunyi yang di hasilkan oleh alat ucap manusia. Kedua bahasa adalah sistem komunikasi yang mempergunakan simbol-simbol vokal (bunyi ujaran) yang bersifat arbitrer. 2. Menurut Own dan Stiawan (2006:1), menjelaskan definisi bahasa yaitu: language can be defined as a socially shared combinations of those symbols and rule governet combinations of those dymbol (bahasa dapat didefinisikan sebagai kode yang diterima secara sosial atau sistem konvensional untuk menyampaikan lonsep melalui kegunaan simbol-sibol yang dikehendaki dan kombinasi simbol-simbol yang diatur oleh ketentuan). 3.Tarigan (1989:4), beliau memberikan dua definisi bahasa. Pertama, bahasa adalah suatu sistem yang sistematis, barangkali juga untuk sistem generatif. ( http://marskrip.blogspot.com/2009/12/pengertian-bahasa-secara-umum.html) 4.Harimurti Kridaklasana berpengertian bahwa bahasa adalah sistem lambing berbunyi arbiter yang digunakan oleh para anggota kelompok sosialuntuk bekerja sama dalam berkomunikasi, dan mengidentifikasi diri. 5. Wojowarsito berpengertian bahwa bahasa adalah alat manusia mungangkapkan pikiran,perasaan, pengalaman yang terdiri dari lambinglambang bahasa. ( Sanggup Barus, 2011 ) Generalisasi-generalisai oarng-orang yunani mengenai bahasa tidak diperbaiki sampai abad ke 18, ketika para ahli berhenti memandang bahasa sebagai pemberian langsung dari Tuhan, dan mengajukan berbagai teori mengenai asal mulanya. Bahasa adalah penemuan pahlawan-pahlawan dahulu kala, atau kalau tidak hasil Roh mistis Rak ( teori “ bow-wow “ ) atau dalam

respon-respon wajar yang mengeluarkan bunyi ( teori “ding- dong” ) atau dalam teriakan-teriakan dan seruan-seruan keras ( teori “ poh-poh” ). 2.2 Pengertian Kepribadian Dan Pengembangan Kepribadian a) Menurut Horton (1982) Kepribadian adalah keseluruhan sikap, perasaan, ekspresi dan temparmen seseorang. Sikap perasaan ekspresi dan tempramen itu akan terwujud dalam tindakan seseorang jika di hadapan pada situasi tertentu. Setiap orang mempunyai kecenderungan prilaku yang baku, atau pola dan konsisten, sehingga menjadi ciri khas pribadinya. b) Menurut Schever Dan Lamm (1998) Mendevinisikan kepribadian sebagai keseluruhan pola sikap, kebutuhan, ciriciri kas dan prilaku seseorang. Pola berarti sesuatu yang sudah menjadi standar atu baku, sehingga kalau di katakan pola sikap, maka sikap itu sudah baku berlaku terus menerus secara konsisten dalam menghadapai situasi yang di hadapi. (http://putra-tatiratu.blogspot.com/2008/06/pengertian-kepribadian-secaraumum.html) Banyak teori kepribadian muncul dari observasi dan introspeksi mendalam dari para pemikir. Sebagai contoh, Sigmund Freud menghabiskan banyak waktu menganalisis mimpi-mimpinya sendiri, yang mengungkapkan padanya betapa besar konflik dan dorongan yang tersembunyi didalam mimpi. Dia pertama pertama kali menyadari kekuatan dorongan seksual yang terepresi dalam pasien-pasiennya, dan ia kemudian mengembangkan ide ini menjadi sebuah teori komperhensif mengenai jiwa manusia. Hal ini adalah pendekatan deduktif terhadap kepribadian. Kedua, beberapa teori kepribadian muncul dari penelitian empiris dan sistematis.kita dapa mengumpulkan banyak data sistematis dari banyak orang yang etrus memperbaiki kesimpulan kita ketika dat yang baru yang terkumpul. Ini adalah pendekatan induktif mengenai kepribadian karena konsep yang dikembangkan berasal dari data observasi.

Sumber ketiga dari teori kepribadian melibatkan analogi dan konsep yang diperoleh dari disiplin ilmu yang terkait. ( Howard, Friedman. 2008 ) Dalam literatur pendidikan, khususnya psikologi pendidikan, istilah pengembangan diri dapat disamakan dengan istilah pengembangan kepribadian atau pengembangan jati diri. Meskipun sebetulnya istilah diri (self) tidak sepenuhnya identik dengan kepribadian (personality). Istilah diri dalam bahasa psikologi disebut pula sebagai aku, ego atau self yang merupakan salah satu aspek sekaligus inti dari kepribadian, yang di dalamnya meliputi segala kepercayaan, sikap, perasaan, dan citacita, baik yang disadari atau pun yang tidak disadari. Aku yang disadari oleh individu bisa disebut self picture (gambaran diri), sedangkan aku yang tidak disadari disebut unconscious aspect of the self (aku tak sadar) Istilah kepribadian merupakan terjemahan dari bahasa Inggris personality. Kata personality berasal dari bahasa Latin pesona yang artinya topeng atau kedok. Secara terminologis, personality memiliki pengertian yang bermacam-macam. Di antaranya, personality adalah kualitas perilaku individu yang tampak dalam melakukan penyesuaian dirinya terhadap lingkungan secara unik. Personality merupakan sistem yang dinamis dari sifat, sikap, dan kebiasaan yang menghasilkan tingkat konsistensi respon individu yang beragam. Perkembangan kepribadian sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor baik heriditas (pembawaan) maupun lingkungan (seperti fisik, psikis, kebudayaan, spiritual, dan lain-lain). Perkembangan ini akan menimbulkan perubahan-perubahan kepribadian terutama pada masa anak-anak dan remaja. Khusus pada masa remaja, perubahan kepribadian ini akan menjadi masa yang amat penting dan memberikan dasar bagi masa dewasa karena pada masa ini merupakan saat berkembangnya identity (jati diri). Allport mengatakan bahwa kepribadian adalah Suatu organisasi «psikofisik» yang dinamis dalam diri individu, yang menentukan tingkahlakuyang khas (unik) dari orangtersebut. Cattell mengatakan bahwa kepribadian adalah sesuatu yang memungkinkan kita untuk meramalkan apa yang akan dilakukan oleh seseorang dalam situasi tertentu.

Alder mengatakan bahwa kepribadian adalah gaya hidup individu atau cara yang khas dari individu tersebut dalam memberikan respons terhadap masalahmasalah hidup. Chaplin mengatakan bahwa kepribadian adalah integrasidari sifat-sifat tertentu yang dapat diselidiki dan dijabarkan untuk menyatakan kualitas yang unik dari individu. Dalam Personality Development Through Positive Thingking, 2004, Amit Abraham mendefenisikan kepribadian adalah pola-pola pemikiran, perasaan, dan perilaku yang tertanam dalam-dalam dan relative permanent. Dalam kualitas, Pembangunan, relegiusitas, Dilema moralitas, Dan Tantangan, 2004, Moeljarto kebangsaan, Tjokrominoto, berpengertian bahwa pengembangan kepribadian mencakup berbagai seperti penghayatan wawasan kemandirian, kreativitas, ketahanan mental. James & Mercia & Waterman (Nita E.Woolfolk, 1995) mengartikan jati diri (kepribadian) sebagai pengorganisasian atau pengaturan dorongan-dorongan, memilih dan meengambil keputusan baik kemampuan-kemampuan dan keyakinan-keyakinan ke dalam citra diri secara konsisten yang meliputi kemampuan. menyangkut pekerjaan, orientasi seksual, dan filsafat hidup. Penelitian bahasa sudah dimulai sejak abad ke 6 SM, bahkan perpustakaan besar yang menjadi pusat penelitian bahasa dan kesusastraan sudah dibangun sejak awal abad 3 SM di kota Alexandria. Kamus bahasa Inggris, Dictionary of the English Language, yang terdiri atas dua volume, pertama kali diterbitkan pada tahun 1755; dan pada tahun 1884 telah diterbitkan Oxford English Dictionary yang terdiri atas 12 volume. Antara 1820-1870 para ahli linguistik berhasil membangun hubungan sistematis di antara bahasa-bahasa Roman berdasarkan struktur fonologis dan morfologisnya. Salah satu buku awal yang menjelaskan mengenai ilmu bahasa adalah buku An Introduction to Linguistic Science yang ditulis oleh Bloomfield pada tahun 1914. Jurnal ilmiah internasional ilmu bahasa, yang berjudul International Journal of American Linguistics, pertama kali diterbitkan pada tahun 1917. Ilmu bahasa terus berkembang dan semakin memainkan peran penting dalam dunia ilmu pengetahuan. Hal ini dibuktikan dengan semakin majunya program

pascasarjana bidang linguistik di berbagai universitas terkemuka (UCLA, MIT, Oxford, dll). Buku-buku karya ahli bahasa pun semakin mendapat perhatian. Salah satu buktinya adalah buku The Comprehensive Grammar of the English Langauge, yang terdiri atas 1778 halaman, yang acara peluncurannya di buka oleh Margareth Thatcher, pada tahun 1985. Respon yang luar biasa terhadap buku tersebut membuatnya dicetak sebanyak tiga kali dalam tahun yang sama. Buku tata bahasa yang terbaru, The Cambridge Grammar of the English Language, tahun 2002, yang terdiri atas 1842 halaman, ditulis oleh para ahli bahasa yang tergabung dalam tim peneliti internasional dari lima negara.

2.3 Hubungan Bahasa Dengan Kepribadian A. Bahasa Indonesia Menegembangkan Kepribadian 1. Bahasa Indonesia Sebagai Bahasa Persatuan Sumpah pemuda 28 Oktober 1982 menyatakan “ kami purta dan putri Indonesia mengaku bertanah air satu – tanah air Indonesia. Kami putra putrid Indonesia berbangsa satu – bangsa Indonesia. Kami putra dan putrid Indonesia menjunjung tinggi bahasa persatuan, bahasa Indonesia “. Sumpah ini membuktikan bahwa pengakuan bertanah air satu, berbangsa satu Indonesia dan menjunjung tinggi bahasa persatuan, bahasa Indonesia, memiliki fungsi yang luar biasa dalam mengembangkan kepribadian bangsa. Fungsi tersebut menegaskan bahwa setiap warga Negara Indonesia senatiasa berpribadian, prilaku, dan berbudi bahasa khas Indonesia. Kini bahasa Indonesia berfungsi efektif sebagai bahasa persatuan bangsa Indonesia. 2. Bahasa Indonesia Sebagai Bahasa Negara Pengalaman berbahasa dalam mengembangkan kepribadianbangsa Indonesia ini kemudian di kukuhkan kedudukannya dalam Undang-Undang Dasar 1945 yang

menyatakan bahwa bahsa Negara adalah bahasa Indonesia. Penegasan ini menunjukan kedudukan dan fungsi yang bersifatformal dalam kegiatan kenegaraan. Selain itu bahasa Indonesia juga digunakan sebagai bahasa nasional dalam berbagai komunikasi yang bersifat nasional, kedinasan, dan kegiatan nasional dalam lembaga pemerintah maupun nonpemerintah. Pengembangan selanjutnya membuktikan secara meyakinkan bahwa sejak proklamsi setiap komunikasi nonformal, masyarakat dan bangsa Indonesia senantiasa menggunakan bahasa Indonesia. Hal ini membuktikan bahawa pemakaian bahasa Indonesia telah berakar pada seluruh lapisan masyarakat Indonesia. Fungsi ini menjadi symbol nasional, Negara, semangat untuk bersatu dan kepribadian. Sebagai mata kuliah pengembang kepribadian bahasa Indonesia bertujuan agar mahasiswa dapat memahami konsep penulisan ilmiah dan mampu menerapkannya dalam penulisan karya ilmiyah. Untuk itu mahasiswa di bekali berbagai keterampilan kognitif, psikomotorik, dan afektif yang terkait dengan menggunakan bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi yang sekaligus dapat mengembangkan kecerdasan, karakter, dan kepribadiannya. Kecerdasan yang didukung oleh kepribadian dan moral yang tinggi memungkinkan setiapa orang senantias menggali potensi yang ada disekitarnya dan mengembangkannya menjadi kreativitas yang baru. Untuk mewujudkan kecerdasan dan kepribadian tersebut, mahasiswa dibekali keterampilan yang secara alami diawali dengan pemahaman fungsi bahsa sebagai sarana komunikasi dalam berbagai ragam kebahasaan. Selanjutnya, mahasiswa dibekali keterampilan bagaimana mendapatkan ide ilmiah, mengorganisasikannya dengan kerangka karangan sebagia kerangka berfikir dan mengekspresikannya dengan ejaan yang benar, pilihan kata yang tepat, kalimat yang efektif dan paragraph yang benar dalam sebuah karangan. Sejak didengungkan globalisasi informasi awal 2000-an, yang didukung berbagai peralatan komunikasi mutkhir yang sangat efektif dalam berbagai aktivitas masyarakat dunia, fungsi bahasa Indonesia sebagai saran penghembangan kepribadian mulai manghadapi tantangan dari berbagai bahasa dunia terutama bahasa internasional yang digunakan oleh berbagai bangsa. Tantangan ini harus dihadapi

dengan membenahi sistem pengajaran bahasa Indonesia, baik tingkat kedalaman maupun tingkat keluasannya. ( Widjono. 2010 ) Fungsi bahasa Indonesia sebagai mata kuliah pengembangan kepribadian diarahkan kepada kompetensi berbahasa baku dengan baik dan benar secara tulis lisan. Fungsi ini mencakup berbagai aspek, yaitu: 1. mengembangkan kemampuan/kompetensi berkomunikasi ilmiah 2. mengembangkan kemampuan akademis 3. mengembangkan berbagai sikap, seperti sikap ilmiah, sikap paradigmatic dalam mengembangka pola-pola berpikir dan sikap terpelajar. 4. mengembangkan kecerdasan bangsa 5. mengembangkan kepribadian terutama dalam menciptakan kretivitas baru yang etrkait dengan pengalaman, pengetahuan, potensi, dan situasi baru yang dihadapi serta kemampuan mengekspresikannya. 6. mengembangkan kompetensi berkomunikasi antar pribadi sehingga memantapkan perkembangan pribadi. 7. mengembangkan kemampuan sebagi lambang bangsa dan bernegara. ( Sanggup Barus, dkk. 2011) 3. Visi Dan Misi MPK Bahas Indinesia Visi menjadikan bahasa Indonesia sebagai salah satu saran pengembangan kepribadian insan terpelajar yang mahir dalam berkomunikasi dalam bahasa Indonesia dengan satuan misi: 1. membina mahasiswa bangga berbahasa Indonesia dalam berbagai forum yang bertanggung jawab untuk memeliharanya dengan sungguh-sungguh. 2. memotivasi mahasiawa merefleksasikan nilai-nilai budaya melalui bahasa persatuannya dalam kehidupan sehari-hari 3. membina pembelajaran bahasa Indonesia diperguruan tinggi semangkin berkualitas sesuai dengan tuntutan mahasiswa.

4. mengupayakan kemahiran berbahasa Indonesia melalui pembelajaran yang berkualitas dalam menggunakan bahasa Indonesia dan mengaplikasikannya bagi pengembangn ilmu pengetahuan dan teknologi, seni dan budaya dengan rasa tanggung jawab sebagai warga Negara Indonesia dan warga dunia. 4. Keperibadian Yang Baik Dan Cerdas Kepribadian yang baik dapat diartikan bahwa prilakunya dapat diterima oleh orang lain. Semangkin luas lingkungan masyarakat yang menerima kebaikannya dapat di artikan bahwa kebaikan pribadinya semangkin sempurna. Kepribadian yang cerdas adalah kemampuan memanfaatkan potensi diri ( pendidikan, pengalaman, pengetahuan, keahlian, keterampilan ), potensi masyarakat, potensi alam, potensi situasi terkini. Kepribadian yang cerdas senantiasa dapat memanfaatkan berbagai situasi untuk menghasilkan kretivitas baru.

BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan Menurut Keraf dalam Smarapradhipa pertama ,menyatakan bahasa sebagai alat komunikasi antara anggota masyarakat berupa simbol bunyi yang di hasilkan oleh alat ucap manusia. Kedua bahasa adalah sistem komunikasi yang mempergunakan simbol-simbol vokal (bunyi ujaran) yang bersifat arbitrer. Perkembangan kepribadian sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor baik heriditas (pembawaan) maupun lingkungan (seperti fisik, psikis, kebudayaan, spiritual, dan lain-lain). Perkembangan ini akan menimbulkan perubahan-perubahan kepribadian terutama pada masa anak-anak dan remaja. Khusus pada masa remaja, perubahan kepribadian ini akan menjadi masa yang amat penting dan memberikan dasar bagi masa dewasa karena pada masa ini merupakan saat berkembangnya identity (jati diri).

DAFTAR PUSTAKA Barus sanggup, dkk. 2011. Bahasa Indonesia. Medan : UNIMED Friedman, Howard. 2008. KEPERIBADIAN. Jakarta : Erlangga Riswani. Pengembangan Diri Dalam Pelayanan Bimbingan Konseling Dan Eksrakulikuler Di Sekolah. 2006. Widjono. 2010. Bahasa Indonesia. Jakarta : Grasindo http://marskrip.blogspot.com/2009/12/pengertian-bahasa-secara-umum.html http://putra-tatiratu.blogspot.com/2008/06/pengertian-kepribadian-secaraumum.html