P. 1
Ilustrasi Dhammapada

Ilustrasi Dhammapada

|Views: 105|Likes:
Published by A.ARIEF.MADROMI
Ilustrasi Dhammapada yang diceritakan melalui berbagai kisa-kisah.

format epub: https://docs.google.com/open?id=0B1nLX0WN_TMNTll0VTh0N1Z1aVE
Ilustrasi Dhammapada yang diceritakan melalui berbagai kisa-kisah.

format epub: https://docs.google.com/open?id=0B1nLX0WN_TMNTll0VTh0N1Z1aVE

More info:

Published by: A.ARIEF.MADROMI on Dec 15, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/03/2015

pdf

text

original

Nigamavasitissa lahir dan dibesarkan di suatu kota dagang
kecil dekat Savatthi. Setelah menjadi seorang bhikkhu dia hidup
dengan sederhana, dengan mempunyai hanya sedikit keinginan.

Untuk berpindapatta, beliau biasanya pergi ke desa tempat
saudaranya tinggal dan mengambil apa yang disediakan
untuknya. Nigamavasitissa selalu melewatkan kesempatan
menerima banyak dana makanan lainnya. Meski ketika
Anathapindika dan Raja Pasenadi dari Kosala memberikan dana
makanan dalam jumlah besar kepada para bhikkhu,
Nigamavasitissa tidak mau pergi ke sana.

Beberapa orang bhikkhu kemudian membicarakan hal
tersebut. Bahwa beliau lebih dekat dengan saudara-saudaranya
dan tidak mempedulikan orang lain seperti Anathapindika dan
Raja Pasenadi, yang ingin berbuat jasa dengan memberikan
dana makanan.

Ketika Sang Buddha menerima laporan ini, Beliau
mengundang Nigamavasitissa dan menanyakan hal itu.

Bhikkhu Nigamavasitissa dengan penuh hormat menjelaskan
kepada Sang Buddha bahwa memang benar ia sering
mengunjungi desanya, tetapi hanya pada saat berpindapatta.

60 | Page

Ketika dia telah mendapatkan makanan yang cukup, dia tidak
akan berjalan lebih jauh lagi, dan dia tidak pernah
mempersoalkan apakah makanan itu enak atau tidak.

Sang Buddha tidak menegur setelah mendengar penjelasan
Bhikkhu Nigamavasitissa bahkan Beliau menghargai
tindakannya dan menceritakannya kepada bhikkhu yang lain.

Beliau bahkan menganjurkan kepada murid-murid-Nya,
untuk hidup puas dengan sedikit keinginan, sesuai dengan
ajaran Buddha dan para Ariya, dan begitulah semua bhikkhu
seharusnya, mencontoh tindakan Bhikkhu Tissa dari kota
dagang kecil.

Berkenaan dengan ini, Beliau menceritakan kisah raja dari

burung nuri.

Pada masa dahulu kala, tinggalah raja burung nuri di lubang
sebuah pohon besar yang tumbuh di muara Sungai Gangga,
dengan sejumlah besar pengikutnya. Ketika buah-buahan telah
habis dimakan, semua burung nuri pergi meninggalkan lubang
tersebut, kecuali sang raja, yang puas pada apa yang masih
tersisa di pohon tersebut.

Sakka, mengetahui hal ini dan ingin menguji ketulusan raja
nuri tersebut. Sakka pergi ke pohon tersebut dengan kekuatan
supranaturalnya. Kemudian, dengan menyamar sebagai angsa,
Sakka dan permaisurinya, Sujata, mengunjungi tempat di mana
raja nuri tersebut tinggal dan menanyakan kenapa dia tidak
meninggalkan pohon tua tersebut seperti yang telah dilakukan
nuri lain; mencari pohon lain yang berbuah lebat.

61 | Page

Raja nuri menjawab, “Karena perasaan terima kasih kepada
pohon ini, aku tidak akan meninggalkannya dan selama aku
masih dapat makanan yang cukup, aku tidak akan
meninggalkannya. Akan tidak berterima kasih sekali jika aku
meninggalkan pohon ini, meskipun pohon ini akan mati”.

Sakka sangat terkesan dengan jawaban tersebut, dia
menunjukkan dirinya yang sebenarnya. Dia mengambil air dari
Sungai Gangga dan menyiramkannya di sekitar pohon tersebut.

Setelah pohon itu menjadi segar kembali, tumbuh kembali
dengan cabang-cabang yang rimbun dan hijau, penuh dengan
buah.

Sangat bijaksana meskipun seekor binatang tidak rakus,
mereka puas dengan apa yang tersedia. Raja nuri yang ada
dalam kisah itu adalah Sang Buddha sendiri; Sakka adalah
Anurudha.

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 32 berikut ini:

Seorang bhikkhu yang bergembira dalam kewaspadaan dan
melihat bahaya dalam kelengahan tak akan terperosok lagi, ia
sudah berada di ambang pintu nibbana.

Tissa Thera mencapai tingkat kesucian arahat setelah
khotbah Dhamma itu berakhir.***

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->