P. 1
Ilustrasi Dhammapada

Ilustrasi Dhammapada

|Views: 105|Likes:
Published by A.ARIEF.MADROMI
Ilustrasi Dhammapada yang diceritakan melalui berbagai kisa-kisah.

format epub: https://docs.google.com/open?id=0B1nLX0WN_TMNTll0VTh0N1Z1aVE
Ilustrasi Dhammapada yang diceritakan melalui berbagai kisa-kisah.

format epub: https://docs.google.com/open?id=0B1nLX0WN_TMNTll0VTh0N1Z1aVE

More info:

Published by: A.ARIEF.MADROMI on Dec 15, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/03/2015

pdf

text

original

Pada masa Buddha Kasapa, ada seorang bhikkhu bernama
Kapila yang sangat terpelajar dalam Kitab Suci (Pitaka). Karena
sangat terpelajarnya, ia memperoleh kemasyuran dan
keberuntungan. Ia juga menjadi sangat sombong dan
memandang rendah bhikkhu-bhikkhu lain. Bila para bhikkhu lain
menunjukkan padanya apa yang pantas dan apa yang tidak
pantas, ia selalu saja menjawab dengan pedas, “Berapa banyak
yang kau tahu?” Hal itu menyiratkan bahwa ia tahu lebih banyak
daripada bhikkhu-bhikkhu lain. Dengan demikian, lama kelamaan
semua bhikkhu yang baik menjauhinya dan hanya bhikkhu-
bhikkhu yang tidak baik berada di sekelilingnya.

Pada suatu hari Uposatha, ketika para bhikkhu mengulang

465 | Page

‘Peraturan Pokok’ bagi para bhikkhu (=Patimokkha), Kapila
berkata, “Tidak ada apa yang dikatakan sebagai Sutta,
Abidhamma, atau Vinaya. Tidak ada bedanya apakah kamu
mempunyai kesempatan untuk mendengar Patimokkha atau
tidak,” dan lain-lainnya. Kemudian ia meninggalkan para bhikkhu
yang sedang berkumpul. Jadi, Kapila merupakan rintangan bagi
pengembangan dan pertumbuhan Ajaran (Sasana).

Untuk perbuatan jahat ini, Kapila harus menderita di alam
neraka (niraya) antara masa Buddha Kasapa dan Buddha
Gotama. Setelah itu ia dilahirkan kembali sebagai seekor ikan di
Sungai Aciravati. Ikan tersebut, seperti disebutkan di atas,
mempunyai tubuh berwarna keemasan yang sangat indah, tetapi
mulutnya berbau tidak enak yang sangat menusuk hidung.

Suatu hari, ikan tersebut ditangkap oleh beberapa nelayan
dan karena sangat indah, mereka membawanya kepada Raja.

Kemudian Raja membawa ikan tersebut kepada Sang

Buddha.

Ketika ikan itu membuka mulutnya, bau yang tidak enak dan
sangat menusuk menyebar ke sekeliling. Raja bertanya kepada
Sang Buddha, mengapa ikan seindah itu mempunyai bau yang
sedemikian tidak enak dan menusuk hidung.

Kepada Raja dan para pengiringnya, Sang Buddha
menjelaskan, “O Raja! Pada masa Buddha Kasapa, ada seorang
bhikkhu yang sangat terpelajar, yang mengajarkan Dhamma
pada lainnya. Karena perbuatan baik itu, ketika ia dilahirkan
kembali pada kehidupan yang lain, meskipun sebagai seekor

466 | Page

ikan, ia memiliki tubuh keemasan. Tetapi bhikkhu itu sangat
serakah, sombong, dan memandang rendah orang lain; ia juga
mengabaikan Peraturan Ke-bhikkhu-an (Vinaya), dan mencaci
maki para bhikkhu yang lain. Karena perbuatan buruk ini, ia
dilahirkan di alam neraka (niraya), dan sekarang, ia menjadi
seekor ikan yang indah dengan mulut yang berbau busuk.”

Sang Buddha kemudian beralih kepada ikan itu dan bertanya
apakah ia mengetahui ke mana ia akan dilahirkan kembali pada
kehidupan yang akan datang. Ikan tersebut memberi isyarat
bahwa ia akan masuk kembali ke alam neraka (niraya) dan ia
dipenuhi dengan perasaan sangat sedih. Sebagai mana
diperkirakan, pada saat kematiannya, ikan tersebut mana
diperkirakan, pada saat kematiannya, ikan tersebut dilahirkan
kembali di alam neraka (niraya), untuk menerima akibat
perbuatan buruk lain.

Semua yang hadir mendengarkan kisah ikan tersebut
menjadi terkejut. Pada mereka, Sang Buddha memberikan
khotbah tentang manfaat mengkombinasikan antara belajar
dengan praktek.

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 334, 335, 336,

dan 337 berikut ini :

Bila seseorang hidup lengah, maka nafsu keinginan tumbuh,
seperti tanaman Maluwa yang menjalar. Ia melompat dari satu
kehidupan ke kehidupan yang lain, bagaikan kera yang senang
mencari buah-buahan di dalam hutan.

467 | Page

Dalam dunia ini, siapapun yang dikuasai oleh nafsu
keinginan rendah dan beracun, penderitaannya akan bertambah
seperti rumput Birana yang tumbuh dengan cepat karena
disirami dengan baik.

Tetapi barang siapa dapat mengatasi nafsu keinginan yang
beracun dan sukar dikalahkan itu,maka kesedihan akan berlalu
dari dalam dirinya, seperti air yang jatuh dari daun teratai.

Kuberitahukan hal ini kepadamu:

Semoga engkau sekalian yang telah datang berkumpul di
sini memperoleh kesejahteraan!

Bongkarlah nafsu keinginanmu, seperti orang mencabut
Bongkarlah nafsu keinginanmu, seperti orang mencabut akar
rumput Birana yang harum.

Jangan biarkan Mara menghancurkan dirimu berulang kali,
seperti arus sungai menghancurkan rumput ilalang yang tumbuh
di tepi.

XXIV-5-10. Kisah Seekor Induk Babi Muda Suatu
kesempatan, ketika Sang Buddha sedang berpindapatta di
Rajagaha, ia melihat seekor induk babi muda yang kotor dan
Beliau tersenyum. Ketika ditanya oleh Ananda, Sang Buddha
menjawab, “Ananda, babi ini dulunya adalah seekor ayam betina
dimasa Buddha Kakusandha. Karena ia tinggal di dekat ruang
makan di suatu vihara, ia biasa mendengar pengulangan teks
suci dan khotbah Dhamma. Ketika ia mati, ia dilahirkan kembali
sebagai seorang putri.

468 | Page

Suatu ketika, saat pergi ke kakus, sang Putri melihat
belatung dan ia menjadi sadar akan sifat yang menjijikkan dari
tubuh. Ketika ia meninggal dunia, ia dilahirkan kembali di alam
Brahma sebagai brahma puthujjana; tetapi kemudian karena
beberapa perbuatan buruknya, ia dilahirkan kembali sebagai
babi betina. Ananda ! Lihat, karena perbuatan baik dan
perbuatan buruk tidak ada akhir dari lingkaran kehidupan.”

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 338 – 343

berikut ini :

Sebatang pohon yang telah ditebang masih akan dapat
tumbuh dan bersemi lagi apabila akar-akarnya masih kuat dan
tidak dihancurkan. Begitu pula selama akar nafsu keinginan tidak
dihancurkan, maka penderitaan akan tumbuh berulang kali.

Apabila tiga puluh enam nafsu keinginan di dalam diri
seseorang mengalir deras menuju objek-objek yang
menyenangkan, maka gelombang pikiran yang penuh nafsu
akan menyeret orang yang memiliki pandangan salah seperti itu.

Di mana-mana mengalir arus (=nafsu-nafsu keinginan); di
mana-mana tanaman menjalar tumbuh merambat. Apabila
engkau melihat tanaman menjalar (=nafsu keinginan) tumbuh
tinggi, maka harus kau potong akar-akarnya dengan pisau
(=kebijaksanaan).

Dalam diri makhluk-makhluk timbul rasa senang mengejar
objek-objek indria, dan mereka menjadi terikat pada keinginan-
keinginan indria. Karena cenderung pada hal-hal yang

469 | Page

menyenangkan dan terus mengejar kenikmatan-kenikmatan
indria, maka mereka menjadi korban kelahiran dan kelapukan.

Makhluk-makhluk yang terikat pada nafsu keinginan,
berlarian kian kemari seperti seekor kelinci yang terjebak.

Karena terikat erat oleh belenggu-belenggu dan ikatan-
ikatan, maka mereka mengalami penderitaan untuk waktu yang
lama.

Makhluk-makhluk yang terikat oleh nafsu-nafsu keinginan,
berlarian kian kemari seperti seekor kelinci yang terjebak.

Karena itu seorang bhikkhu yang menginginkan kebebasan
diri, hendaknya ia membuang segala nafsu-nafsu keinginannya.

XXIV-11-Kisah Seorang Mantan Bhikkhu Sebagai seorang
murid Y.A.Mahakassapa, bhikkhu ini telah mencapai empat
tingkat pencerapan mental (jhana). Suatu hari ketika ia pergi
untuk menerima dana makanan di rumah pamannya, ia melihat
seorang wanita dan merasa keinginan yang sangat kuat untuk
memilikinya. Kemudian ia meninggalkan Pasamuan Bhikkhu
(Sangha).

Sebagai seorang umat awam, ia mengalami kegagalan
karena ia tidak bekerja keras. Pamannya mengusir mantan
bhikkhu itu dari rumahnya. Kemudian ia berkawan dengan
beberapa pencuri. Dalam salah satu aksinya, mereka semua
ditangkap oleh yang berwajib dan dibawa ke makam untuk di
hukum mati.

470 | Page

Y.A. Mahakassapa, melihat mantan muridnya ketika sedang
dibawa keluar, dan berkata padanya, “Muridku, jagalah
pikiranmu teguh pada satu objek meditasi.” Seperti
diperintahkan, ia berkonsentrasi dan membiarkan dirinya masuk
ke dalam keadaan pencerapan mental yang dalam. Di makam,
saat petugas hukuman mati sedang membuat persiapan untuk
membunuhnya, mantan bhikkhu tersebut sangat tenang dan
tidak menunjukkan tanda-tanda ketakutan atau kegelisahan.
Petugas tersebut serta para penonton terpesona dan sangat
tertarik dengan keberanian dan ketenangan orang itu. Kemudian
mereka melaporkan tentang orang itu kepada Raja dan kepada
Sang Buddha.

Raja memberi perintah untuk melepaskan orang itu. Sang
Buddha ketika mendengar tentang kejadian tersebut
mengirimkan sinar Beliau dan muncul di hadapan pencuri itu
sehingga ia seperti berhadapan langsung dengan Sang Buddha.

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 344 berikut :
Setelah bebas dari hutan keinginan (=kehidupan rumah tangga),
ia menemukan hutan kesucian

(=kehidupan pertapa).

Tapi, walaupun telah bebas dari keinginan (akan kehidupan
rumah tangga) ia kembali ke rumah lagi. Lihatlah orang seperti
itu! Setelah bebas! Ia kembali pada ikatan itu lagi.

Pada akhir khotbah Dhamma tersebut, pencuri yang teguh
menjaga pikirannya pada timbul dan tenggelamnya segala
sesuatu yang berkondisi menyadari sifat ketidak-kekalan,

471 | Page

ketidakpuasan, dan tanpa inti dari segala sesuatu yang
berkondisi. Ia mencapai tingkat kesucian sotapatti. Kemudian ia
pergi menghadap Sang Buddha di Vihara Jetavana, dan ia sekali
lagi diterima masuk ke dalam Pasamuan Bhikkhu (Sangha) oleh
Sang Buddha, dan ia dengan cepat mencapai tingkat kesucian
arahat.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->