Indepth Report

Belajar dari Kampanye On(line)-Off(line) #Tolak6Tol

Oleh: Firdaus Cahyadi Knowldege Departement-Yayasan SatuDunia

Sekilas Proyek 6 Jalan Tol Dalam Kota Jakarta

Hari masih pagi, jam pun masih berada di angka 07.30 wib. Namun kemacetan lalu lintas mulai terjadi di jalan Gatot Subroto, Jakarta. Kemacetan seperti itu hampir terjadi di setiap hari. Jika sudah demikian, jarak yang seharusnya bisa ditempuh dalam waktu 15 menit, karena kemacetan lalu lintas, bisa menjadi 1 jam. Celakanya, kemacetan lalu lintas bukan hanya terjadi di Jalan Gatot Subroto, namun hampir semua jalanan di Jakarta. Kemacetan yang sangat sulit diurai itulah menyebabkan pemerintah berencana membangun enam jalan tol dalam kota Jakarta. Rencana pembangunannya sudah dicanangkan sejak tahun 2006. Saat itu Gubernur DKI Jakarta masih dijabat oleh Sutiyoso. Sejak direncanakan pada tahun 2006, proyek enam ruas jalan tol ini mendapat perlawanan dari masyarakat. Pada saat itu koalisi organisasi lingkungan hidup di Jakarta bersikeras menolak rencana pembangunan enam ruas jalan tol dalam kota1. Organisasi lingkungan hidup itu berdalih pembangunan enam ruas jalan tol itu justru akan menambah kemacetan lalu lintas dan polusi udara di Jakarta. Pada era Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo, rencana pembangunan enam ruas jalan tol dalam kota itu dilanjutkan. Dukungan dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta pun menguat dalam saat itu. Bahkan pembangunan enam ruas jalan tol masuk dalam salah satu instruksi wakil presiden untuk mengatasi kemacetan lalu lintas di Jakarta2.

1

http://www.scribd.com/doc/109069383/Paper-Position-Menggugat-Rencana-Pembangunan-Enam-Ruas-Jalan-TolDalam-Kota-Jakarta-1 2 http://www.ukp.go.id/pengawasan-topik-khusus/30-transportasi-jabodetabek

Perlawanan Terhadap Proyek 6 Jalan Tol Jakarta Di tahun 2006-2008, perlawanan terhadap rencana pembangunan enam ruas jalan tol dalam kota dilakukan secara ‘konvensional’. Artinya, perlawanan itu dilakukan dengan menggelar diskusi publik, press conference/press relase dan penyebaran petisi di berbagai mailing list. Pada saat itu penggunaan sosial media di internet (facebook dan twitter) belum sepopuler saat ini. Berbagai media massa arus utama (mainstream) pun memuat penolakan organisasi masyarakat sipil terhadap rencana pembangunan enam ruas jalan tol dalam kota di Jakarta ini. Berbagai media massa mainstream yang memuat penolakan itu antara lain: 1. TEMPO3 2. Detik.com4 3. Antara.com5 4. Suara Karya6 Berbagai perlawanan terhadap rencana pembangunan enam ruas jalan tol dalam kurun waktu 2006-2010, banyak dilakukan oleh organisasi lingkungan hidup. Penolakan itu nyaris tidak melibatkan masyarkaat. Warga Jakarta dan masyarakat yang peduli dengan lingkungan hidup lainnya praktis hanya diposisikan sebagai penonton dari polemik rencana pembangunan.

3 4

http://www.tempo.co/read/news/2006/07/24/05780571/Kaukus-Lingkungan-Tolak-Jalan-Tol-Dalam-Kota http://news.detik.com/index.php/detik.read/tahun/2006/bulan/07/tgl/24/time/182222/idnews/642224/idkanal/10 5 http://www.antaranews.com/view/?i=1215006479&c=WBM&s= 6 http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=151453

Perlawanan Online #Tolak6Tol

Waktu pun berubah. Pemerintahan di Jakarta pun berganti. Gubernur Fauzi Bowo, yang mendukung proyek pembangunan enam ruas jalan tol di Jakarta, kalah dalam pemilihan kepala daerah pada tahun 2012. Penggantinya adalah Joko Widodo, yang sebelumnya menjadi Walikota Solo. Berbeda dengan Fauzi Bowo, dalam kampanyenya Jokowi lebih menekankan perlunya pembangunan transportasi massal daripada infrastruktur untuk kendaraan bermotor pribadi. Salah satu kalimat penting kampanye dia adalah, “Moving People, Not Car”. Dalam kampanyenya ia juga melontarkan kritik terhadap model pembangunan transportasi yang memfasilitasi pergerakan mobil pribadi. Namun, di awal kepemimpinan Jokowi inilah, rencana pembangunan enam ruas jalan tol kembali mencuat. Menteri Pekerjaan Umum (PU) merencanakan membangun

enam ruas jalan tol mulai 2013 mendatang. Munculnya kembali rencana ini kembali membangkitkan perlawanan masyarakat. Berbeda dengan perlawanan terhadap proyek enam ruas jalan tol dalam kurun waktu sebelumnya (2006-2010). Kini perlawanan terhadap rencana pembangunan enam ruas jalan tol dalam kota justru dimulai dari ranah online, inisatif individual dan melibatkan lebih banyak masyarakat (tidak hanya NGOs). Pada 3 Oktober 2012, dimulailah petisi online #Tolak6Tol7 di website change.org. Pihak-pihak yang menerima petisi itu antara lain; Menteri Pekerjaan Umum (PU), Wakil Menteri PU, Gubernur DKI Jakarta, Wakil Gubernur DKI Jakarta dan Ketua Dewan Transportasi Kota Jakarta (DTKJ). Petisi itu dibuat setelah Kementerian PU secara resmi mengeluarkan Surat Keputusan (SK) mengenai rencana pembangunan enam ruas jalan tol dalam kota tersebut8. Saat Indepth Report ini dibuat (4/12), sudah 3500 orang yang menandatangani petisi #Tolak6Tol. Menariknya, setiap penandatangan petisi langsung terkirim ke email pihak-pihak yang ditargetkan mendapatkan petisi tersebut. Jadi bila ada 3500 orang yang menandatangani petisi itu maka, secara otomatis ada 3500 petisi yang masuk ke email yang bersangkutan.

Setitik Perubahan dari Target Petisi “Setiap hari di email saya masuk petisi tentang penolakan 6 jalan tol dalam kota Jakarta,” ujar Ketua Dewan Transportasi Kota Jakarta (DTKJ) Azas Tigor Nainggolan kepada SatuDunia (13/11/2012).

7 8

https://www.change.org/id/petisi/batalkan-pembangunan-6-jalan-tol-dalam-kota-jakarta-tolak6tol http://www.bisnis.com/articles/proyek-tol-sk-6-ruas-dalam-kota-tuntas

Dan perubahan sikap DTKJ pun mulai nampak. Jika sebelumnya, di era Sutiyoso dan Fauzi Bowo, DTKJ tidak menolak atau mendiamkan rencana pembangunan enam ruas jalan tol dalam kota Jakarta, kini DTKJ dengan tegas menolak rencana tersebut. "Pembangunan enam ruas jalan tol hanya menjadi penyebab utama kemacetan di Jakarta," kata Ketua DTKJ Azas Tigor Nainggolan, seperti ditulis oleh inilah.com (13/11/2012)9. Bahkan beberapa hari setelah pernyataan resmi penolakan DTKJ terhadap rencana pembangunan enam ruas jalan tol dalam kota itu, lembaga multistakeholder itu melakukan aksi penggalangan dukungan masyarakat untuk menolak proyek 6 tol baru di Jakarta tersebut10. Hal yang hampir sama juga dialami oleh Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama. “Setiap orang yang menandatangani petisi menolak jalan tol ini langsung masuk di email saya,” ujar Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama saat menerima petisi online di Kantor Wakil Gubernur DKI Jakarta (26/11). Pada kesempatan tersebut Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama juga secara tegas menolak empat ruas jalan tol dalam kota. Namun, ia masih mengkaji dua jalan tol lainnya terkait persoalan logistik transportasi barang dari dan ke Tanjung Priok11.

Pelajaran dari Gerakan Sosial Digital #Tolak6Tol Tentu ada sesuatu yang bisa dijadikan bahan pelajaran dari gerakan #Tolak6Tol ini. Ada beberapa hal yang bisa dijadikan bahan pelajaran dalam hal ini. Pertama,

9

http://metropolitan.inilah.com/read/detail/1926301/dtkj-pembangunan-6-jalan-tol-menambah-kemacetan http://news.detik.com/read/2012/11/25/095703/2100523/10/dewan-transportasi-jakarta-himpun-dukungan-tolak6-ruas-tol-dalam-kota?991104topnews 11 http://www.antaranews.com/berita/345352/ahok-tolak-rencana-empat-jalur-tol-dalam-kota
10

peran individu yang mempunyai pengaruh di dunia maya ternyata masih menjadi faktor pendokrak jumlah penandatangan petisi ini. Mereka mampu melipatgandakan dukungan pada petisi #Tolak6Tol. Pergerakan pendukung petisi ini mulai bergerak naik dengan relatif cepat, setelah seorang blogger dan juga pakar tata ruang kota Marco Kusumawijaya menulis prihal petisi ini di yahoo 12. Tulisan Marco Kusumawijaya di yahoo itu pun kemudian dibagikan (share) melalui situs jejaring sosial facebook dan twitter. Hingga 4 Desember 2012, tercatat telah 423 orang yang membagikan tulisan itu via facebook, dan 213 orang membagikan tulisan tersebut via twitter. Selain itu, Marco Kusumawijaya juga menyebarkan prihal petisi ini melalui twitternya. Di akun twitternya, Marco Kusumawijaya memiliki jumlah follower 11.23613. Selain Marco Kusumawijaya, di twitter, update terhadap petisi ini juga disebarluaskan dengan cara me-retweet, oleh akun twitter Gunawan Mohammad pada 11 November 2012. Penulis senior di Majalah TEMPO ini memiliki jumlah follower sebanyak 234,65014. Kedua, faktor lain yang mampu mendongkrak atau mempopularkan petisi #Tolak6Tol ini adalah media massa arus utama. Percepatan jumlah pendukung petisi ini semakin terasa setelah petisi ini diberitakan oleh detik.com15. Keberadaan petisi ini mulai muncul di media massa terjadi setelah RUJAK16 menggelar konferensi pers

terkait penolakan 6 jalan tol dalam kota Jakarta.
12 13

http://id.berita.yahoo.com/blogs/newsroom-blog/dukung-jokowi-melawan-6-ruas-jalan-tol-dalam-kota.html Data diambil pada tanggal 4 Desember 2012 pukul 12.09 WIB 14 Data dimabil pada tanggal 4 Desember 2012 pukul 12.18 WIB 15 http://news.detik.com/read/2012/11/06/193149/2083799/10/disclamer.html 16 Rujak is initiated by a non-partisan, not-for-profit, non-institutionalised group of individuals: Marco Kusumawijaya, Meutia ‘Rani’ Chaerani, Satya Witoelar, Cecil Mariani, Andrea ‘Cak-cak’ Fitrianto, Armely ‘Mely’ Meiviana, Elisa Sutanudjaja and Marini Widowati.

Menyerahkan Petisi ke Gubernur DKI Jakarta

Ketiga, mentransformasikan komitmen online di ranah offline ternyata masih menjadi pekerjaan rumah gerakan sosial digital. Dalam gerakan sosial digital #Tolak6Tol ini misalnya, meskipun jumlah pendukung di ranah online mencapai 3.500 orang, namun ketika diundang untuk aksi dalam rangka menyerahkan petisi ini secara langsung ke Gubernur DKI Jakarta pada hari Senin (26/11), hanya puluhan orang yang datang. Ada beberapa kemungkinan mengapa jumlah pendukung petisi yang ikut aksi penyerahan petisi jauh di bawah jumlah pendukung petisi onlinenya. Pertama, aksi dilakukan secara mendadak, sehingga ada beberapa prasyarat dalam melipatgandakan massa aksi yang tidak terpenuhi. Kedua, aksi dilakukan hari Senin, sehingga sulit diikuti oleh para pendukung petisi online yang sebagian besar adalah masyarakat pekerja di perkotaan. Ketiga, mengikuti aksi memiliki resiko yang lebih besar daripada sekedar

menandatangani

petisi

online,

membaginya

di

facebook

dan

twitter.

Dan

kecenderungan kelas menengah di perkotaan menghindari resiko dalam melakukan protes sosial. Redahnya komitmen offline dibandingkan online masih menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan oleh para aktivis. Perlu trobosan-trobosan baru di luar pakem (ketentuan) yang selama ini sudah ada. Dan gerakan sosial #Tolak6Tol ini memang belum bisa dikatakan berhasil. Namun, kemenangan-kemenangan kecil mulai didapatkan. Meskipun masih juga menjadi tanda tanya apakah kemenangan kecil ini akan terus membesar atau justru sebaliknya. Terlepas dari itu semua, kita tetap perlu menarik pelajaran dari gerakan ini.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful