P. 1
Rinitis Atrofi

Rinitis Atrofi

|Views: 38|Likes:
Published by Dwi Endraningtias

More info:

Published by: Dwi Endraningtias on Dec 18, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/05/2013

pdf

text

original

Rinitis Atrofi Rinitis atrofi sering ditemukan pada masyarakat dengan sosial ekonomi rendah, lingkungan yang buruk

dan di negara yang sedang berkembang. Etiologi dan patogenesis rinitis atrofi sampai saat ini belum dapat diterangkan secara jelas, sehingga pengobatannya belum ada yang baku. Pendahuluan Rinitis atrofi adalah penyakit infeksi hidung kronik, yang ditandai adanya atrofi progresif pada mukosa dan tulang konka dan pembentukan krusta. Secara klinis, mukosa hidung menghasilkan sekret yang kental dan cepat mengering, sehingga terbentuk krusta yang berbau busuk. Penyakit ini lebih sering mengenai wanita, terutama pada usia pubertas. Sering ditemukan pada masyarakat dengan tingkat sosial ekonomi rendah dan di lingkungan yang buruk dan di negara sedang berkembang. Etiologi dan patogenesis rinitis atrofi sampai sekarang belum dapat diterangkan dengan memuaskan. Oleh karena etiologinya belum pasti, maka pengobatannya belum ada yang baku. Pengobatan ditujukan untuk menghilangkan faktor penyebab dan untuk menghilangkan gejala. Pengobatan dapat diberikan secara konservatif atau jika tidak menolong, dilakukan operasi. Sinonim Ozaena, rinitis fetida, rinitis krustosa. Kekerapan Beberapa kepustakaan menuliskan bahwa rinitis atrofi lebih sering mengenai wanita, terutama pada usia pubertas. Baser dkk mendapatkan 10 wanita dan 5 pria, dan Jiang dkk mendapatkan 15 wanita dan 12 pria. Samiadi mendapatkan 4 penderita wanita dan 3 pria. Tetapi dari segi umur, beberapa penulis mendapatkan hasil yang berbeda. Baser dkk mendapatkan umur antara 26-50 tahun, Jiang dkk berkisar 13-68 tahun, Samiadi mendapatkan umur antara 15-49 tahun. Penyakit ini sering ditemukan di kalangan masyarakat dengan tingkat sosial ekonomi rendah dan lingkungan yang buruk dan di negara sedang berkembang. Di RS H Adam Malik dari Januari 1999 sampai Desember 2000 ditemukan 6 penderita rinitis atrofi, 4 wanita dan 2 pria, umur berkisar dari 10-37 tahun. Etiologi Etiologi rinitis atrofi sampai sekarang belum dapat diterangkan dengan memuaskan. Beberapa teori yang dikemukakan antara lain :

Infeksi kronik spesifik

rinitis atrofi bisa dibagi menjadi dua:   Tipe I : adanya endarteritis dan periarteritis pada arteriole terminal akibat infeksi kronik. Sebagian besar kasus merupakan tipe I.Terutama kuman Klebsiella ozaena. akibat trauma hidung (operasi besar pada hidung atau radioterapi) dan infeksi hidung kronik yang disebabkan oleh sifilis. . Oleh karena itu secara patologi. rinoskleroma dan tbc. Juga akan ditemui infiltrasi sel bulat di submukosa. Tipe II : terdapat vasodilatasi kapiler. Atrofi epitel bersilia dan kelenjar seromusinus menyebabkan pembentukan krusta tebal yang melekat. Defisiensi surfaktan merupakan penyebab utama menurunnya resistensi hidung terhadap infeksi. Bacillus mucosus.           Defisiensi Fe Sinusitis kronik Ketidakseimbangan hormon estrogen Penyakit kolagen yang termasuk penyakit autoimun Teori mekanik dari Zaufal Ketidakseimbangan otonom. Selain faktor-faktor di atas. Kokobasilus. membaik dengan efek vasodilator dari terapi estrogen. midline granuloma. Streptokokus dan Pseudomonas aeruginosa. Cocobacillus foetidus ozaena. Atrofi konka menyebabkan saluran nafas jadi lapang. yang bertambah jelek dengan terapi estrogen. lepra. Kuman ini menghentikan aktifitas sillia normal pada mukosa hidung manusia. rinitis atrofi juga bisa digolongkan atas : rinitis atrofi primer yang penyebabnya tidak diketahui dan rinitis atrofi sekunder. Kuman lain adalah Stafilokokus. Dobbie mendeteksi adanya antibodi yang berlawanan dengan surfaktan protein A. Terdapat pengurangan kelenjar alveolar baik dalam jumlah dan ukuran dan adanya endarteritis dan periarteritis pada arteriole terminal. Endarteritis di arteriole akan menyebabkan berkurangnya aliran darah ke mukosa. Diphteroid bacilli. Patologi dan Pategenesis Beberapa penulis menyatakan adanya metaplasi epitel kolumnar bersilia menjadi epitel skuamous atau atrofik. Ini juga dihubungkan dengan teori proses autoimun. dan fibrosis dari tunika propria. Taylor dan Young mendapatkan sel endotel berreaksi positif dengan fosfatase alkali yang menunjukkan adanya absorbsi tulang yang aktif. Variasi dari Reflex Sympathetic Dystrophy Syndrome (RSDS) Herediter Supurasi di hidung dan sinus paranasal Golongan darah.

adanya krusta (kerak) berwarna hijau. Sutomo dan Samsudin membagi ozaena secara klinik dalam tiga tingkat:    Tingkat I : Atrofi mukosa hidung. mukosa makin kering. krusta sedikit. Penatalaksanaan Tujuan pengobatan adalah: menghilangkan faktor etiologi dan menghilangkan gejala. Pengobatan dapat diberikan secara konservatif atau kalau tidak menolong dilakukan operasi. pemeriksaan darah rutin. mukosa hidung tipis dan kering. faringitis. Pada pemeriksaan ditemui : rongga hidung dipenuhi krusta hijau. Diagnosis Banding Rinitis kronik tbc. dapat ditemukan krusta di nasofaring. keluhan anosmia belum jelas. rontgen foto sinus paranasal. Gejala Klinis dan Pemeriksaan Keluhan biasanya berupa : hidung tersumbat. rongga hidung tampak lebar sekali. Mantoux test. Bisa juga ditemui ulat/telur larva (karena bau busuk yang timbul). terdapat anosmia yang jelas. pemeriksaan histopatologi dan test serologi (VDRL test dan Wasserman test) untuk menyingkirkan sifilis. ingus kental berwarna hijau. rinitis kronik sifilis dan rinitis sika. hidung pelana. krusta banyak. kadang-kadang kuning atau hitam. terlihat rongga hidung sangat lapang. mukosa tampak kemerahan dan berlendir. membentuk krusta yang merupakan medium yang sangat baik untuk pertumbuhan kuman. sekret purulen dan berwarna hijau. warna makin pudar. Tingkat II : Atrofi mukosa hidung makin jelas. . miasis hidung. sakit kepala. Diagnosis Diagnosis dapat ditegakkan berdasarkan : anamnesis. pemeriksaan Fe serum. Tingkat III : Atrofi berat mukosa dan tulang sehingga konka tampak sebagai garis. sinusitis. atrofi konka. rinitis kronik lepra. gangguan penciuman (anosmi). Komplikasi Dapat berupa: perforasi septum. jika krusta diangkat. epistaksis dan hidung terasa kering.Fungsi surfaktan yang abnormal menyebabkan pengurangan efisiensi mucus clearance dan mempunyai pengaruh kurang baik terhadap frekuensi gerakan silia. Mukus akan mengering bersamaan dengan terkelupasnya sel epitel. Ini akan menyebabkan bertumpuknya lendir dan juga diperberat dengan keringnya mukosa hidung dan hilangnya silia.

Qizilbash dan Darf melaporkan hasil yang baik pada pengobatan dengan Rifampicin oral 600 mg 1 x sehari selama 12 minggu. Campuran : Na bikarbonat 28.4 g. dengan dosis adekuat sampai tandatanda infeksi hilang. kemisetin anti ozaena solution dan streptomisin 1 g + NaCl 30 ml.4 g. Larutan dihirup ke dalam rongga hidung dan dikeluarkan lagi dengan menghembuskan kuatkuat.3% perbaikan pada periode waktu yang sama. Ini membantu regenerasi epitel dan jaringan kelenjar. dilakukan dua kali sehari.000 U / ml. diobati sampai tuntas. 6) Selain itu bila ada sinusitis. oestradiol dalam minyak Arachis 10. cuci hidung diteruskan sampai 2-3 bulan kemudian dan didapatkan hasil yang memuaskan pada 6 dari 7 penderita. 2) Obat cuci hidung. . Antara lain : a. NaHCO3 aaa 9 dan Aqua ad 300 c => 1 sendok makan dicampur 9 sendok makan air hangat. Diberikan tiga kali sehari masing-masing tiga tetes. Betadin solution dalam 100 ml air hangat atau. pembersihan hidung di klinik tiap 2 minggu sekali. Samiadi dalam laporannya memberikan : trisulfa 3 x 2 tablet sehari selama 2 minggu.Konservatif 1) Antibiotik spektrum luas sesuai uji resistensi kuman.7 g =>dicampur 280 ml air hangat. NaCl 56. air yang masuk ke nasofaring dikeluarkan melalui mulut. cuci hidung dengan Na Cl fisiologis 3 x sehari. 5) Preparat Fe. 4) Vitamin A 3 x 10. Campuran : NaCl. Operasi Tujuan operasi antara lain untuk: menyempitkan rongga hidung yang lapang. Sardana dan Rjvanski melaporkan ekstrak plasenta manusia secara sistemik memberikan 80% perbaikan dalam 2 tahun dan injeksi ekstrak plasenta submukosa intranasal memberikan 93. Na diborat 28. setelah krusta diangkat. Larutan garam dapur. c. mengurangi pengeringan dan pembentukan krusta dan mengistirahatkan mukosa sehingga memungkinkan terjadinya regenerasi. Sinha. 3) Obat tetes hidung.000 U selama 2 minggu. NH4Cl. natrium bikarbonat. diberi antara lain: glukosa 25% dalam gliserin untuk membasahi mukosa. b. untuk membersihkan rongga hidung dari krusta dan sekret dan menghilangkan bau. kontrol darah dan urine seminggu sekali untuk melihat efek samping obat. d.

Prognosis Dengan operasi diharapkan perbaikan mukosa dan keadaan penyakitnya. Pengobatan ditujukan untuk menghilangkan faktor penyebab dan untuk menghilangkan gejala. bahan sintetis seperti Teflon.Beberapa teknik operasi yang dilakukan antara lain : 1) Young's operation Penutupan total rongga hidung dengan flap. yang ditandai adanya atrofi progresif mukosa dan tulang konka disertai pembentukan krusta. Pengobatan dapat diberikan secara konservatif atau operatif. 4) Implantasi submukosa dengan tulang rawan. sumber: CDK . kemudian dipindahkan ke lubang hidung. Kesimpulan Rinitis atrofi adalah penyakit infeksi hidung kronik. 2) Modified Young's operation Penutupan lubang hidung dengan meninggalkan 3 mm yang terbuka. tulang. dermofit. Sinha melaporkan hasil yang baik dengan penutupan lubang hidung sebagian atau seluruhnya dengan menjahit salah satu hidung bergantian masingmasing selama periode tiga tahun. campuran Triosite dan Fibrin Glue. Mewengkang N melaporkan operasi penutupan koana menggunakan flap faring pada penderita ozaena anak berhasil dengan memuaskan. Oleh karena etiologinya belum pasti. 3) Lautenschlager operation Dengan memobilisasi dinding medial antrum dan bagian dari etmoid. maka pengobatannya belum ada yang baku. Etiologi dan patogenesis rinitis atrofi sampai sekarang belum dapat diterangkan dengan memuaskan. 5) Transplantasi duktus parotis ke dalam sinus maksila (Wittmack's operation) dengan tujuan membasahi mukosa hidung.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->