TUGAS SEDIAAN BAHAN ALAM

"EKSTRAK ETANOL BUNGA ROSELLA ( Hibiscus sabdariffa L. ) SEBAGAI
BAHAN SEDIAAN GEL ANTISEPTIK TANGAN"











Disusun Oleh :
Nama : Ìndriasari Malida
NÌM :. M3509035
D3 Farmasi



FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2011
EKSTRAK ETANOL BUNGA ROSELLA ( Hibiscus sabdariffa L. ) SEBAGAI
BAHAN SEDIAAN GEL ANTISEPTIK TANGAN

A. LATAR BELAKANG
Masyarakat sekarang mulai membiasakan dan membudayakan hidup
bersih dan sehat yang salah satu caranya adalah dengan menjaga
kebersihan tangan sebelum makan dan minum dengan menggunakan gel
antiseptik tangan sebagai alternatif praktis menggantikan sabun dan air
untuk mencuci tangan. Oleh karena itu penulis memilih sediaan gel
antiseptik tangan untuk diformulasi dengan bahan alam, mengingat juga
sekarang ini kebutuhan masyarakat akan sediaan ini cukup tinggi.
Akan tetapi bahan antiseptik yang kebanyakan digunakan dalam formula
sediaan yang beredar di pasaran adalah dari golongan alkohol (etanol,
propanol, isopropanol) dengan konsentrasi ± 50% sampai 70% dan jenis
disinfektan yang lain seperti : klorheksidin, triklosan (Block, 2001 dan
Gennaro, 1995). Alkohol banyak digunakan sebagai antiseptik/desinfektan
untuk disinfeksi permukaan dan kulit yang bersih, tetapi tidak untuk luka.
Alkohol sebagai disinfektan mempunyai aktivitas bakterisidal, bekerja
terhadap berbagai jenis bakteri, tetapi tidak terhadap virus dan jamur. Akan
tetapi karena merupakan pelarut organik maka alkohol dapat melarutkan
lapisan lemak dan sebum pada kulit, dimana lapisan tersebut berfungsi
sebagai pelindung terhadap infeksi mikroorganisme (Dryer, 1998, Jones,
2000, Snyder, 1999) Disamping itu alkohol mudah terbakar dan pada
pemakaian berulang menyebabkan kekeringan dan iritasi pada kulit.
Golongan fenol yang digunakan dalam sediaan antiseptik tangan adalah
triklosan. Keuntungan triklosan dibandingkan fenol adalah kurang korosif.
Kadar triklosan yang digunakan sebagai antiseptik adalah 0,05% sampai
dengan 2% (Block, 2001). Sehingga dibutuhkan antiseptik bahan alam yang
dapat digunakan sebagai desinfektan/antiseptik yang lebih ramah dan aman
bagi kulit.
Selama ini kelopak bunga rosela lebih banyak digunakan sebagai
minuman kesehatan yang lebih dikenal dengan the rosella yang telah bantak
digunakan sebagai antioksidan, antikanker, antihipertensi, dan dapat
menurunkan kolesterol. Bahan aktif yang juga terdapat dalam rosella adalah
grossy peptin, anthocyanin, gluside hibiscin, dan flavonoid yang bermanfaat
mencegah kanker, mengendalikan tekanan darah, melancarkan peredaran
darah, dan sebagainya. Kandungan seratnya pun cukup tinggi yang
berperan dalam melancarkan sistem pembuangan dan menurunkan kadar
kolesterol dalam darah (Erianto, 2009).
Namun disamping khasiat yang sudah disebutkan tadi, kelopak bunga
rosella memiliki khasiat sebagai antiseptik dan antibakteri (Rostinawati,
2009), sehingga berpotensi digunakan sebagai antiseptik bahan alam karena
tren masyarakat sekarang sudah mulai berpindah dari obat sintetis menjadi
"back to nature¨ dengan menggunakan obat dari bahan alam yang dikenal
minim efek samping sehingga meminimalkan resiko efek samping.
Karena belum ada bahan alam yang digunakan dalam sediaan gel
antiseptik tangan sehingga hal ini dapat digunakan sebagai alternatif baru
bagi konsumen dalam pemilihan gel antiseptik tangan yang berbahan dasar
dari ekstrak bahan alam dengan efek seperti bahan yang sudah banyak
beredar namun lebih ramah dan aman bagi kulit penggunanya.
Dari hasil penapisan fitokimia tanaman uji bunga rosella (Hisbiscus
sabdariffa L.) terdeteksi adanya alkaloid, flavanoid, saponin dan tanin,
diantara senyawa yang terdeteksi salah satunya mempunyai aktivitas
sebagai antibakteri (Rostinawati, 2009).

B. TINJAUAN PUSTAKA
%anaman rosella memiliki lebih dari 300 spesies yang tersebar pada
daerah tropis dan non tropis. Biasanya, digunakan sebagai tanaman hias
dan beberapa diantaranya dipercaya memiliki khasiat medis, salah satu
diantaranya adalah rosella merah atau rosella (Hibiscus sabdariffa L.).
Nama lain rosella adalah Hibiscus Sabdariffa L., H. Sabdariffa
varaltissima, Rozelle, Red Sorrel, Sour-sour, Lemon bush, Florida cranberry,
Oseille rouge (Perancis), Quimbombo Chino (Spanyol), Karkad (Afrika
Utara), Bisap (Senegal) (Ullych, 2009).
Nama daerah : asam susur (Melayu), asam jarot (Minang), gamet
walanda (Sunda), kasturi roriha (%ernate) (Wijayakusuma, 2008).


a. Deskripsi %anaman Rosella Merah
1. Klasifikasi %anaman
Dalam taksonomi tumbuhan, rosella merah diklasifikasikan sebagai
berikut :
Divisio : Spermatophyta
Subdivisio : Angiospermae
Kelas : Dicotyledoneae
Ordo : Malvaceales
Famili : Malvaceae
Genus : Hibiscus
Species : Hibiscus sabdariffa L. (Anonim, 2009).
2. Morfologi %anaman
Pohon rosella merah tumbuh dari biji atau benih dengan
ketinggian yang bisa mencapai 3 - 5 meter serta mengeluarkan bunga
hampir sepanjang tahun. Bunga rosella berwarna cerah, kelopak
bunga atau kaliksnya berwarna merah gelap dan lebih tebal jika
dibandingkan dengan bunga sepatu (Nnuke, 2008).
Hibiscus sabdariffa L. merupakan tanaman semusim yang tumbuh
tegak bercabang yang berbatang bulat dan berkayu. Daunnya tunggal,
berbentuk bulat telur, pertulangan menjari dan letaknya berseling dan
pinggiran daun bergerigi. Bunga rosella bertipe tunggal yaitu hanya
terdapat satu kuntum bunga pada setiap tangkai bunga. Bunga ini
mempunyai 8-11 helai kelopak yang berbulu dengan panjang 1 cm,
pangkal saling berlekatan dan berwarna merah. Mahkota bunga rosella
berwarna merah sampai kuning dengan warna lebih gelap dibagian
tengahnya. %angkai sari merupakan tempat melekatnya kumpulan
benang sari berukuran pendek dan tebal. Putik berbentuk tabung dan
berwarna kuning atau merah. Bunga rosella bersifat hermaprodit
sehingga mampu menyerbukan sendiri (Maryani, 2005).
Bunga RoseIIa ( Hibiscus Sabdariffa L. )
Bunga rosella tumbuh dari biji dengan ketinggian mancapai satu
meter dan mengeluarkan bunga hampir sepanjang tahun. Bunga
rosella berwarna cerah, kelopak bunga (kaliks) berwarna merah gelap
dan lebih tebal jika dibandingkan dengan bunga raya (sepatu). Bagian
bunga rosella yang diproses menjadi makanan adalah kaliks yang
mempunyai rasa asam. Seperti bunga lain rosella dimanfaatkan
sebagai tanaman hias karena bentuk dan warnanya menarik.
%anaman yang memiliki nama latin Hibiscus Sabdariffa L, berkhasiat
diuretik (melancarkan air seni), antiseptik, menurunkan panas,
meluruhkan dahak, antiradang, antihipertensi, antibakteri dan
memperlancar buang air besar (menstimulasi gerak peristaltik usus).
Daun dan biji bunga rosella berperan sebagai diuretik, antisariawan
dan pereda nyeri. Kelopak bunga rosella mengandung vitamin C,
vitamin A dan asam amino yang diperlukan oleh tubuh. Kelopak bunga
rosella dapat mengatasi panas dalam, sariawan, kolesterol tinggi,
gangguan jantung, sembelit, mengurangi resiko osteoporosis dan
mencegah kanker darah. Senyawa asam amino yang terdapat pada
bunga rosella yaitu arginin dan legnin yang berperan dalam proses
peremajaan sel tubuh. Selain itu pada kelopak bunga rosella juga
mengandung protein dan kalsium. Sebagai obat tradisional bunga
rosella berkhasiat sebagai antiseptik, aprodisiak, diuretik, pelarut dan
lain-lain (Rostinawati, 2009).
b. Antibakteri
Antibakteri adalah zat yang dapat menghambat pertumbuhan
(Syahrurachman, 1994). Dalam penggolongannya antibakteri dikenal
dengan antiseptik dan antibiotik. Berbeda dengan antibiotik yang tidak
merugikan sel-sel jaringan manusia, daya kerja antiseptik tidak
membedakan antara mikroorganisme dan jaringan tubuh. Namun pada
dosis normal praktis tidak bersifat merangsang kulit (Sastroamidjojo,
1967).
Hasil uji aktivitas antibakteri menunjukkan bahwa bunga rosella
mempunyai aktivitas sebagai antibakteri. Pada penentuan Konsentrasi
Hambat Minimum (KHM) mulai dari konsentrasi 0,15 g/ml, 0,16 g/ml,
0,17 g/ml, 0,18 g/ml dan 0,19 g/ml menunjukkan adanya pertumbuhan
bakteri. Sedangkan pada konsentrasi 0,20 g/ml, 0,21 g/ml, 0,22 g/ml,
0,23 g/ml, 0,24 g/ml dan 0,25 g/ml tidak menunjukkan adanya
pertumbuhan bakteri. Dengan menggunakan metode difusi agar,
diperoleh nilai KHM ekstrak etanol bunga rosella terhadap Escherichia
coli, Salmonella typhy dan Stapylococcus aureus sebesar 0,20 g/ml.
Nilai kesetaraan ekstrak terhadap antibiotik pembanding dilakukan
pada berbagai konsentrasi mulai dari konsentrasi 1 g/ml, 0,8 g/ml, 0,6
g/ml, 0,4 g/ml dan 0,2 g/ml. Nilai kesetaraan 1 mg ekstrak etanol
bunga Rosella (Hisbiscus sabdariffa L.) setara dengan 0,000044 mg
terhadap tetrasiklin hidroklorida untuk E. coli, 0,000221 mg, untuk S.
typhy dan 0,000056 mg untuk S. aureus (Rostinawati, 2009).
c. Metode PengujianAktivitas Antibakteri
Metode difusi ( metode Iempeng )
Pada cara difusi agar digunakan media agar padat dan reservoir
yang dapat berupa cakram kertas, silinder atau cekungan yang dibuat
pada media padat. Larutan uji akan berdifusi dari pencadang ke
permukaan media agar padat yang telah diinokulasi bakteri. Bakteri
akan terhambat pertumbuhannya dengan pengamatan berupa
lingkaran atau zona disekeliling pencadang. Faktor-faktor yang
mempengaruhi metode difusi agar, yaitu :
a) Pradifusi, perbedaan waktu pradifusi mempengaruhi jarak difusi
dari zat uji yaitu difusi antar pencadang.
b) Ketebalan medium agar adalah penting untuk memperoleh
sensitivitas yang optimal. Perbedaan ketebalan media agar
mempengaruhi difusi dari zat uji ke dalam agar, sehingga akan
mempengaruhi diameter hambat. Makin tebal media yang
digunakan akan makin kecil diameter hambat yang terjadi.
c) Kerapatan inokulum, ukuran inokulum merupakan faktor terpenting
yang mempengaruhi lebar daerah hambat, jumlah inokulum yang
lebih sedikit menyebabkan obat dapat berdifusi lebih jauh, sehingga
daerah yang dihasilkan lebih besar, sedangkan jika jumlah inokulum
lebih besar maka akan dihasilkan daerah hambat yang kecil.
d) Komposisi media agar, perubahan komposisi media dapat merubah
sifat media sehingga jarak difusi berubah. Media agar berpengaruh
terhadap ukuran daerah hambat dalam hal mempengaruhi aktivitas
beberapa bakteri, mempengaruhi kecepatan difusi antibakteri dan
mempengaruhi kecepatan pertumbuhan antibakteri.
e) Suhu inkubasi, kebanyakan bakteri tumbuh baik pada suhu 37°C.
f) Waktu inkubasi disesuaikan dengan pertumbuhan bakteri, karena
luas daerah hambat ditentukan beberapa jam pertama, setelah
diinokulasikan pada media agar, maka daerah hambat dapat
diamati segera setelah adanya pertumbuhan bakteri.
g) Pengaruh pH, adanya perbedaan pH media yang digunakan dapat
menyebabkan perbedaan jumlah zat uji yang berdifusi, pH juga
menentukan jumlah molekul zat uji yang mengion. Selain itu pH
berpengaruh terhadap pertumbuhan bakteri (Wattimena, 1981).
Konsentrasi Hambat Minimum (KHM)
Aktivitas antibakteri ditentukan oleh spektrum kerja, cara kerja dan
ditentukan pula oleh konsentrasi hambat minimum (KHM). Konsentrasi
Hambat minimum (KHM) adalah konsentrasi minimum dari suatu zat
yang mempunyai efek daya hambat pertumbuhan mikroorganisme.
Penetapan KHM dapat dilakukan dengan dua cara yaitu (Wattimena,
1981) :
a) Cara cair
Pada cara ini digunakan media cair yang telah ditambahkan zat
yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri atau jamur dengan
pengenceran tertentu kemudian diinokulasikan biakan bakteri atau
jamur dalam jumlah yang sama. Respon zat uji ditandai dengan
kejernihan atau kekeruhan pada tabung setelah diinkubasi.
b) Cara padat
Pada cara ini digunakan media padat yang telah dicampur dengan
larutan zat uji dengan berbagai konsentrasi. Dengan cara ini satu
cawan petri dapat digores lebih dari satu jenis mikroba untuk
memperoleh nilai KHM.

. RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana cara membuat ekstrak etanol bunga rosella (Hibiscus
Sabdariffa L.) ?
2. Bagaimana cara membuat sediaan gel antiseptik tangan dengan bunga
rosella (Hibiscus Sabdariffa L.) ?
3. Bagaimana cara melakukan uji aktivitas antibakteri pada sediaan gel
antiseptik tangan dari bunga rosella (Hibiscus Sabdariffa L.) ?
D. TUJUAN
1. Untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Sediaan Bahan Alam D3
Farmasi FMÌPA UNS Surakarta.
2. Dapat membuat sediaan gel antiseptik tangan dengan bahan alam
bunga rosella (Hibiscus Sabdariffa L.) .
3. Menjadikan bunga rosella (Hibiscus Sabdariffa L.) lebih dikenal manfaat
lainnya sebagai antiseptik dan antibakteri dari bahan alam.

E. LUARAN YANG DIHARAPKAN
1. Sediaan gel antiseptik tangan dengan bahan bunga rosella (Hibiscus
Sabdariffa L.) yang tidak mengiritasi kulit dan lebih aman digunakan
daripada sediaan gel antiseptik yang sudah beredar.
2. Alternatif baru dalam sediaan topikal dengan bahan alam yang minim
efek samping.
3. Mengeksplorasi dan memperkenalkan kepada masyarakat mengenai
khasiat lain bunga rosella sebagai antiseptik dan antibakteri alami.

F. METODE PENELITIAN
Bahan
Simplisia bunga Rosella kering (Hibiscus Sabdariffa flos)
Larutan etanol 95%
Air suling steril
Carbopol 940
%rietanolamin (%EA)
Gliserin
Natrium metabisulfit
Korigen strawberry
Kertas saring
Media NA (Nutrien Agar) berisi mikroba uji. Mikroba uji yang
digunakan antara lain Eschericia coli, Salmonella typhy dan
Staphylococcus aureus.


AIat
Rotary evaporator
pH meter
%imbangan analitik
Kaca arloji
Penangas air
Batang pengaduk
Kompor listrik,
Labu erlenmeyer
Alumunium foil
Vial dan tutup
Penyumbat kapas
Mikropipet
%ermometer
Autoklaf
Jangka sorong
Cawan petri
Pembakar Bunsen
%abung reaksi
Kawat Ose
Ìnkubator
Ekstraksi bahan (Bunga RoseIIa)
Bunga rosella kering dihaluskan sampai menjadi serbuk kemudian
dimaserasi 3 x 24 jam dengan etanol 95 %, selanjutnya dilakukan
pemekatan dengan evaporator sampai diperoleh ekstrak bunga Rosella
(Hibiscus sabdariffa L.). Ekstrak disaring dengan kertas saring sampai
didapat ekstrak yang kental.
Pengujian Aktivitas Antibakteri Ekstrak Bunga RoseIIa
Pada pengujian aktivitas antibakteri digunakan metode difusi agar
dengan sumur. Sebanyak 200 µL masing-masing suspensi bakteri
ditambahkan ke dalam 20 mL media Nutrien Agar (NA) untuk bakteri.
Campuran diputar sampai homogen, didinginkan dan menjadi padat dalam
cawan petri steril. Setelah itu dibuat sumur yang berdiameter ± 6 mm dengan
menggunakan prevorator. Selanjutnya dimasukkan 50 µL masing-masing
ekstrak uji kedalam sumur. Sebelumnya dilakukan prainkubasi selama 30
menit pada suhu kamar. Ìnkubasi dilakukan pada suhu 37°C selama 48 jam
untuk bakteri. Diameter hambat diamati setelah periode inkubasi.
Penentuan Konsentrasi Hambat Minimum (KHM) Uji Ekstrak RoseIIa
Penentuan KHM dilakukan dengan metode pengenceran agar.
Sebanyak 1000 µl ekstrak tanaman uji dengan berbagai konsentrasi
ditambahkan ke dalam 19 ml media agar yang telah dicairkan dalam cawan
petri steril. Campuran diputar sampai homogen, didinginkan sampai menjadi
padat. sebanyak 1 Ose suspensi bakteri kemudian diinokulasikan di atas
permukaan agar padat kemudian diinkubasikan pada suhu 37°C selama 48
jam untuk bakteri
Rancangan formuIa
Formula sediaan gel dibuat dengan komposisi :
Bahan F1 F2 F3 F4 F5
Ekstrak Bunga Rosella 0 gram 5 gram 10 gram 15 gram 20 gram
Carbopol 940 0,5 gram 0,5 gram 0,5 gram 0,5 gram 0,5 gram
%EA 0,5 mL 0,5 mL 0,5 mL 0,5 mL 0,5 mL
Gliserin 1 mL 1 mL 1 mL 1 mL 1 mL
Korigen odoris (strawberry) 4 gtt 4 gtt 4 gtt 4 gtt 4 gtt
Natrium metabisulfit 0,2 gram 0,2 gram 0,2 gram 0,2 gram 0,2 gram
Aquadest ad 100 mL ad 100 mL ad 100 mL ad 100 mL ad 100 mL
Pembuatan sediaan geI
Carbopol dikembangkan dalam air panas, kemudian diaduk. Ekstrak
bunga rosella dicampur dengan bahan lain sampai tercampur rata,
kemudian dimasukkan ke dalam carbopol. Kedalam campuran tersebut,
ditambahkan air sampai volume yang dikehendaki, kemudian tambahkan
%EA tetes demi tetes sambil diaduk perlahan sampai terbentuk gel yang
jernih.


Pembuatan Media Agar
Sebanyak 23 gram serbuk nutrient agar (NA) dilarutkan dalam air
suling steril sebanyak 1000 ml. Kemudian dipanaskan hingga larut dalam
labu Erlenmeyer, disumbat dengan kapas dan ditutup dengan alumunium
foil lalu disterilkan dengan autoklaf pada suhu 121°C selama 15 menit.
Pembuatan Suspensi Bakteri Uji
Bakteri ditanam pada media pertumbuhan nutrien agar (NA) miring
dan diinkubasi pada suhu 370C selama 24 jam, kemudian bakteri yang
akan diuji disuspensikan dengan cara menumbuhkan bakteri dalam media
cair yaitu NaCl fisiologis, kemudian diinkubasi selama 24 jam pada suhu
37°C.
EvaIuasi sediaan geI ekstrak bunga roseIIa
Evaluasi sediaan dilakukan dengan mengamati karakteristik fisika
yang meliputi: viskositas, pH, warna, bau, kejernihan. Lalu dilakukan uji
daya antiseptik dari sediaan yang dihasilkan.
EvaIuasi efektivitas dari daya antiseptik
Evaluasi dilakukan dengan metode Replika (Lund, 1994), dengan
cara sebagai berikut :
Kontrol
%elapak tangan dicuci dengan air kran, kemudian dikeringkan.
Selanjutnya sidik ibu jari ditempelkan pada media padat nutrient agar
dalam cawan petri. Media diinkubasi pada suhu 37ºC selama 24 jam.
Setelah inkubasi, jumlah koloni bakteri dihitung. Replikasi dilakukan
sebanyak 5 kali.
Sediaan uji
%elapak tangan dicuci dengan air, kemudian dikeringkan. Selanjutnya
pada telapak tangan diteteskan 0,5 mL gel kemudian diratakan dan
didiamkan selama satu menit. Selanjutnya dilakukan kontak sidik ibu
jari pada media dalam cawan petri. Media diinkubasi pada suhu 37ºC
selama 24 jam. Setelah inkubasi, jumlah koloni bakteri dihitung.
Replikasi dilakukan sebanyak 5 kali.

G. DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2009. Penelitian Herbal Rosella Merah. http://www.red-
tea.net/researchpenelitian/ . Diakses pada tanggal 6 Juni 2011.
Block, S. 2001. Disinfection, Sterilization and Preservation. 4th. Edition.
Williams and Wilkins. P.
Dryer, D. L., et al., 1998, 'Testing a New AIcohoI Free Had Sanitizer to
ombat Infection", # Journal, Vol. 68, No. 4, p. 239 ÷ 251.
Erianto. 2009. udidaya Rosella.
http://makalahbudidayrosela<<onesubenol.wordpress.com. Diakses
pada tanggal 6 juni 2011.
Gennaro, A.R. 1995. Remington: The Science and Practice of Pharmacy,
Vol. ÌÌ. Mack Publishing Company, Pennsylvanis. P. 1263 ÷1270.
Jones,R. D., 2000, 'Moisturizing AIcohoI Hand GeIs for SurgicaI Hand
Preparation", AORN Journal, Vol.71, p. 584-599.
Lund, Walter, 1994, The Pharmaceutical Codex, 12th Ed., Principle and
Practice of Pharmaceutics, %he Pharmaceutical Press, London.
Maryani. 2005. Khasiat dan Manfaat Rosella. Agromedia Pustaka. Jakarta.
Nnuke. 2008. Sehat Dengan Tanaman Obat Indonesia.
http://nnuke.wordpress.com/2008/03/20/rosella/. Diakses pada tanggal
6 Juni 2011.
Rostinawati, %ina. 2009. 'Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etanol unga
Rosella (Hibiscus Sabdariffa L.) Terhadap Escherichia coli,
SaImoneIIa typhi dan StaphyIococcus aureus Dengan Metode
Difusi Agar '. Penelitian mandiri. Jatinangor : Universitas Padjadjaran.
Sari, Retno dan Dewi Ìsadiartuti. 2006. 'Studi efektivitas sediaan gel
antiseptik tangan ekstrak daun sirih (Piper betle Linn.)". Majalah
Farmasi Ìndonesia, vol. 17(4)
Sastroamidjojo, S., 1967. Obat Asli Indonesia. Dian Rakyat : Jakarta.
Snyder, P.O., 1999, 'Safe Hands" Hand Wash Program for Retail Food
Operation: A Technical Review, www.hi-
tm.com/Documents/Handwash-FL99.html.
Syahrurachman, A, dkk., 1994. uku Ajar mikrobiologi Kedokteran. ed
revisi. Staf Pengajar Fakultas Kedokteran Universitas Ìndonesia :
Jakarta. hlm. 103, 177.
Ullych, R. 2009. Khasiat unga Rosella Merah.
http://sukatanibanguntani.blogspot.com/2009/11/khasiat-bunga-rosella-
yang-luar-biasa.html. Diakses pada tanggal 6 Juni 2011.
Wattimena, JR.,dkk. 1981. Farmakodinami dan Terapi Antibiotik.
Yogyakarta : UGM Press
Wijayakusuma, Hembing. 2008. Ramuan Herbal Penurun Kolesterol.
Cetakan 1. Jakarta : Pustaka Bunda.
Wijayanti, Puspita. 2010. udidaya Tanaman Obat Rosella Merah
(Hibiscus sabdariffa L.) Dan Pemanfaatan Senyawa Metabolis
Sekundernya Di PT. Temu Kencono, Semarang. %ugas Akhir.
Surakarta : Universitas Sebelas Maret Surakarta.























H. LAMPIRAN