BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) merupakan salah satu dari kebijakan reformasi perpajakan tahun 1985. PBB sebenarnya merupakan pengembangan dari pajak tanah, yaitu jenis pajak yang tertua di Indonesia yang berlaku sejak awal abad ke-19. Sejalan dengan perkembangan jaman, pajak tanah di Indonesia telah mengalami perubahan dari sejak dinamakan “Landrent” pada jaman kepempinan Raffles, “Landrente” pada jaman penjajahan Belanda, “Pajak Tanah” pada jaman penjajahan Jepang sampai pada dinamakan Pajak Bumi dan Bangunan yang berlaku mulai pada tahun 1986. Bumi dan bangunan merupakan dua obyek dari PBB, yaitu bumi yang dapat didefinisikan sebagai permukaan bumi yang berupa tanah dan perairan serta segala sesuatu yang dibawahnya, sedangkan bangunan adalah konstruksi teknik yang ditanamkan atau dilekatkan secara tetap pada tanah dan perairan di wilayah negara Indonesia. PBB mempunyai sifat kebendaan, yaitu besarnya pajak ditentukan oleh keadaan obyek yaitu bumi/tanah dan bangunan, misalnya berupa sawah, ladang, kebun, pekarangan dan pertambangan serta ditentukan dari nilai kualitas dan kuantitas dari bangunan yang berdiri di atas tanah tersebut. Untuk mengatasi kebutuhan atas data spasial mengenai obyek pajak diatas sangat ditentukan oleh beberapa hal, diantaranya yaitu: 1. Tersedianya data yang dapat dipercaya keabsahannya, baik ditinjau dari segi keakuratan dan kemutakhirannya yang didukung dengan tata cara serta kemudahan untuk mendapatkannya. 2. Tersedianya peraturan perundang-undangan yang mendukung aspek legalitas antara lain dalam hal pengadaan, pemeliharaan dan pendistribusian serta pemanfaatannya. 1

Perkembangan teknologi yang semakin cepat mampu berperan serta dalam menampilkan data spasial berupa obyek PBB secara teliti melalui visualisasi 3 (tiga) dimensi sebagai acuan dalam penaksiran Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) atas tanah (bumi) dan bangunan. 1. terbentuk dan terlaksananya sinergi antar institusi dalam pelaksanaan program pengelolaan data dan informasi spasial. Tersedianya dukungan dari sumberdaya manusia yang profesional dan memiliki etika dalam pelaksanaan pengelolaan serta diikuti dengan penelitian dan pengembangan ilmu dan teknologi dalam rangka meningkatkan kecepatan pengadaan serta nilai tambah dari data spasial tersebut. Tertata. Hasil visualisasi tiga dimensi untuk penentuan NJOP secara teliti atas tanah dan bangunan dapat dikategorikan sebagai kadaster tiga dimensi.2 Perumusan Masalah Berdasarkan dari latar belakang diatas perumusan masalah yang didapat adalah “Bagaimana proses pemodelan kadaster dalam tiga dimensi untuk untuk penaksiran besarnya NJOP atas tanah dan bangunan menggunakan software Autodesk Land Desktop 2004” 2 . Langkah awal berupa proses pendaftaran hak atas tanah (kadaster) yang berupa visualisasi persil tanah secara teliti dalam dua dimensi untuk penentuan NJOP tanah. lalu dilanjutkan dengan pembentukan visualisasi bangunan secara teliti yang didirikan di persil tanah dalam tiga dimensi yang dilengkapi keterangan data bahan bangunan yang digunakan di tiap bagian objek bangunan untuk penentuan NJOP bangunan. namun juga informasi kepemilikan bangunan dalam tiga dimensi (Stoter. 2004). 4. Kadaster tiga dimensi didefinisikan sebagai informasi pertanahan yang tidak hanya berbasis dari persil tanah dalam dua dimensi.3.

1. Analisa besaran PBB terhutang pada sampel bangunan berdasarkan Surat Pemberitahuan Pajak Terhutang (SPPT) menggunakan model peta kadaster dalam tiga dimensi.3 Batasan Masalah Batasan masalah yang diambil pada penelitian ini adalah: 1. 1. Tujuan Tugas Akhir Tujuan tugas akhir penelitian ini adalah: 1.4 1. 2. 3. Memberikan pemahaman mengenai analisa NJOP atas tanah dan bangunan menggunakan aplikasi CAD. Peta yang digunakan ialah peta persil tanah dari sampel bangunan di wilayah Samarinda. 4. 3 . 3. Dua sampel bangunan yang telah memiliki Surat Pemberitahuan Objek Pajak (SPOP) di Kelurahan Karang Mumus Kecamatan Samarinda Ilir dan Kelurahan Air Hitam Kecamatan Samarinda Ulu Kotamadya Samarinda Propinsi Kalimantan Timur. Memberikan pemahaman mengenai pemanfaatan aplikasi CAD (Computer Aided Design) dalam pemodelan obyek PBB secara tiga dimensi secara teliti.5 Manfaat Tugas Akhir Manfaat yang diperoleh dari tugas akhir ini adalah informasi tentang cara pembentukan visualisasi obyek pajak yang obyektif untuk penaksiran NJOP sebagai dasar pengenaan PBB yang sesuai dengan Surat Pemberitahuan Obyek Pajak (SPOP) melalui pemodelan tiga dimensi. Pembuatan model kadaster dalam tiga dimensi pada sampel bangunan menggunakan software Autodesk Land Desktop 2004. Mempresentasikan visualisasi pemodelan kadaster dalam tiga dimensi. 2.

Halaman ini sengaja di kosongkan 4 .

Master your semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Cancel anytime.