You are on page 1of 12

IV.

HASIL DAN PEMBAHASAN

A.

Pembahasan parameter Lingkungan.

Hasil pengukuran parameter lingkungan di tiga lokasi penelitian yaitu Pulau Lae-lae, Pulau Bonebatang dan Pulau Badi dapat dilihat pada pembahasan di bawah ini:

1.

Salinitas. Salinitas adalah ukuran bagi jumlah berbagai zat padat yang larut dalam suatu satuan

volume air dan dinyatakan dalam Permil. Salinitas didefinisikan juga sebagai jumlah seluruh zat yang larut dalam satu kilogram air laut dengan anggapan bahwa seluruh karbonat telah diubah menjadi oksida, semua bromide dan iodida diganti dengan klorida dan semua zat organik mengalami oksidasi sempurna dimana sebarannya dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti pola sirkulasi air, penguapan, curah hujan dan aliran sungai, rendahnya salinitas dalam air laut menyebabkan besarnya akumulasi logam berat pada perairan (Hutagalung, 1994). Hasil pengukuran salinitas pada perairan P. Laelae didapatkan dengan kisaran antara 34-35 ppt dan nilai rata-rata sebesar 34.30,58 ppt, P.Bonebatang salinitas berkisar antara 33-34 ppt dengan nilai rata sebesar 33.70,58 ppt dan P. Badi berkisar antara 33-36 ppt dengan nilai ratarata sebesar 34.3 1,53 ppt. (Gambar 3). Nilai salinitas yang didapatkan bahwa perairan masih mendukung untuk kehidupan Caulerpa racemosa. Yang mana untuk kehidupan C. racemosa membutuhkan salinitas berkisar antara rata-rata.

Gambar 3. Nilai rata-rata salinitas pada setiap stasiun penelitian.

2. Suhu.

22

Suhu merupakan salah satu faktor fisika yang sangat penting dalam lingkungan perairan. Perubahan suhu perairan akan mempengaruhi proses fisika, kimia perairan, demikian pula bagi biota perairan. Peningkatan suhu dapat menyebabkan peningkatan kecepatan metabolisme dan respirasi biota air dan selanjutnya meningkatkan konsumsi oksigen (Effendi, 2003). Hutagalung (1991), mengatakan bahwa kenaikan suhu tidak hanya akan meningkatkan metabolisme biota perairan, namun juga dapat meningkatkan toksisitas logam berat diperairan. Suhu merupakan salah satu faktor lingkungan yang sangat penting dalam mempengaruhi aktivitas organisme. Nilai rata-rata suhu pada Pulau Lae-lae 290C, nilai rata-rata suhu pada Pulau Bonebatang sebesar 28,60C dan nilai rata-rata suhu Pulau Badi sebesar 28,20C menunjukan

bahwa tidak jauh berbeda dengan stasiun yang lain. Nilai rata-rata suhu pada stasiun penelitian menunjukkan bahwa suhu suatu perairan menunjukkan homogen suhu permukaan perairan Indonesia umumnya berkisar antara 28-310C (Nontji, 2005).

Gambar 4. Nilai rata-rata suhu perairan lokasi penelitian.

3. Derajat Keasaman (pH).


Derajat keasaman (pH) adalah suatu ukuran dari konsentrasi ion hidrogen dan menunjukkan kondisi air. Dengan mengetahui nilai pH perairan kita dapat mengontrol tipe dan laju kecepatan reaksi beberapa bahan dalam perairan. Nilai pH suatu perairan memiliki ciri yang khusus, adanya keseimbangan antara asam dan basa dalam air dan yang diukur adalah konsentrasi ion hidrogen. Dengan adanya asam-asam mineral bebas dan asam karbonat menaikkan pH, sementara adanya karbonat, hidroksida dan bikarbonat dapat menaikkan kebasaan air (Novotny dan Olem, 1994).

23

Nilai rata-rata keasaman (pH) air pada Pulau Lae-lae diperoleh sebesar 7,16, nilai ratarata pada Pulau Bonebatang diperoleh sebesar 7,15 dan nilai rata-rata keasaman (pH) air laut pada Pulau Badi nilai rata-rata sebesar 7,20 hal ini menunjukan bahwa nilai pH pada perairan lokasi penelitian cendrung merata dan tergolong basah (pH > 7).

Gambar 5. Nialai rata-rata pH Air Laut pada lokasi Penelitian.

4. Kecepatan Arus.
Arus merupakan salah satu parameter perairan laut yang memegang peranan penting terhadap keberadaan palutan di laut. Arus laut sebagia media penyebaran dan pengenceran bahan-bahan palutan yang masuk ke lingkungan air . Nilai kecepatan arus yang didapatkan pada lokasi penelitian dengan menggunakan layang-layang arus pada Pulau lae-lae dengan kisaran nilai rata-rata sebesar 0.115 m/detik, nilai kecepatan arus pada Pulau Bonebatang berkisar antara rata-rata sebesar 0.075, dan nilai rata-rata kecepatan arus yang diperoleh pada Pulau Badi dengan nilai rata-rata sebesar 0.092 m/dtk.

24

Gambar 6. Nilai Rata-rata kecepatan arus pada stasiun penelitian. Menurut Mason (1981) dalam Mariska (2007), mengelompokkan perairan berarus sangat cepat (>1m/dtk), cepat (0,5-1m/detik), sedangkan (0,25-0,m/dtk), lambat, (0,1-0,2 m/detik), dan sangat lambat (<0,1m/dtk). 5. Kecerahan . Nilai rata-rata kecerahan pada Pulau Lae-lae diperoleh nilai sebesar 93,3%, nilai rata-rata kecerahan pada Pulau Bonebatang sebesar 100%, dan nilai rata-rata kecerahan pada Pulau Badi sebesar 100%, hal ini menunjukkan bahwa pada Pulau Lae-lae tingkat kecerahannya rendah di bandingkan dengan Pulau Bonebatang hal ini disebabkan karena Pulau Lae-lae masih dekat dengan kota Makassar.

Gambar 5. Nilai Rata-rata kecerahan pada lokasi penelitian.

6. Kekeruhan pada lokasi penelitian.

25

Kekeruhan adalah suatu ukuran biasan cahaya di dalam air yang disebabkan oleh adanya partikel koloid dan suspensi dari suatu polutan yang terkandung dalam air (Lantang, 1999). Nilai rata-rata kekeruhan pada Pulau Lae-lae diperoleh nilai sebesar 1.51 NTU, pada Pulau Bonebatang didapatkan nilai rata-rata kekeruhan sebesar 0.22 NTU, dan pada Pulau Badi diperoleh nilai rata-rata kekeruhan sebesar 0.38 NTU, nilai rata-rata kekeruhan yang sangat tinggi didapatkan pada Pada Pulau Lae-lae diakibatkan karena pulau lae-lae masih dekat dengan daratan kota Makassar/pantai losari dan pulau Lae-lae adalah jalur masuknya kapal tengker kapal nelayan.

Gambar 6. Nilai rata-rata kekeruhan lokasi penelitian. 7. DOM. DOM merupakan salah satu bentuk bahan organik yang akhir dari proses

mineralisasi menghasilkan unsur hara dan karbon yang dibutuhkan oleh organisme produser di perairan. Pada umumnya kandungan DOM yang tinggi ditemukan pada perairan dengan tipe tanah gambut seperti pada perairan rawa banjiran. DOM terlepas dari tanah gambut yang telah terbuka atau tercuci dari dekomposisi daun-daunan tumbuhan pada rawa banjiran ataupun pinggiran sungai (Fatah, 2010) Menurut Duursma (1963), DOM perairan berasal dari berbagai sumber, seperti metabolisme sel terluar alge terutama phytoplankton, zat buangan zooplankton dan organisme besar lainnya, zat buangan tumbuhan, penguraian organisme tumbuhan dan daratan.

26

Nilai rata-rata DOM pada Pulau lae-lae diproleh sebesar 35,03 mg/l, pada Pulau Bonebatang diiperoleh nilai rata-rata sebesar 35,90 dan pada Pulau Bonebatang nilai ratarata DOM sebesar 4.03 kondiis tersebut menunjukkan bahwa tidak berbeda nyata nilai DOM pada setiap lokasi penelitian.

Gambar 7. Nilai rata-rata DOM pada lokasi penelitian.

B. Kandungan logam berat pada Caulerpa recemosa, Sedimen dan kandungan logam
berat di Air.

1. Pb pada Caulerpa racemosa.


Nilai rata-rata kandungan logam berat untuk dikonsumsi oleh masyarakat sesuai standar baku mutu logam berat >0.33 ppm. Nilai rata-rata kandungan logam berat Pb pada C.recemosa di Pulau Lae-lae sebesar dengan nilai rata-rata sebesar 33.98 mg/kg, pada Pulau Bonebatang diperoleh nilai rata-rata sebesar 35.94 mg/kg dan pada Pulau Badi diperoleh nilai rata-rata kandungan logam berat Pb sebesar 38.47 kg/mg, nilai konsentrasi logam berat tertinggi diperoleh pada pulau lae-lae diakibatkan oleh faktor lingkungan yakni suhu yang rendah pada Pulau badi dengan nilai rata-rata sebesar 28,2oc

27

Suhu yang lebih dingin akan meningkatkan adsorpsi logam berat ke partikel untuk mengendap di dasar laut. Sementara saat suhu air laut naik senyawa logam berat akan melarut di air laut karena penurunan adsorpsi, logam kelarutan yang kecil akan ditemukan pada permukaan air laut selanjutnya dengan perpindahan dan waktu tertentu akan mengendap hingga ke dasar laut (Palar, 2004).

Gambar 8. Nilai Rata-rata kandungan logam berat Pb pada Caulerpa recemosa..

2.

Kandungan logam berat timbal Pb pada Sedimen dilokasi penelitian.

Nilai Gambar 10. nilai rata-rata kandungan logam berat Pb sedimen penelitian.

pada lokasi

28

Pada saat pembuangan limbah industri maupun aktifitas pembuangan minyak kapal masuk ke dalam suatu perairan maka akan terjadi proses pengendapan dalam sedimen. Nilai rata-rata kandungan logam berat pada sedimen pada Pulau Lae-lae sebesar 17.33 mg/kg, nilai rata-rata kandungan logam berat pada sedimen di Pulau Bonebatang sebesar 18.32kg/mg, dan nilai ratarata kandungan logam berat pada sedimen di Pulau Badi sebesar 16.58mg/kg. Tingginya kandungan Pb pada sedimen dibanding air disebabkan karena sifat Pb yang memiliki daya larut yang rendah sehingga logam cendrung akan mengendap pada dasar perairan. Hal tersebut didukung oleh pendapat Moore (1991) dalam Efendi (2003) bahwa kelarutan timbal cukup rendah sehingga kadar timbal di dalam air sedikit. Febries dan Warner 1994) menyatakan bahwa jikat tidak melebihi standar baku mutu sedimen 0,33 ppm artinya masih aman jika sudah melewati batas standar baku mutu pada sedimen 0>33 ppm tercemar. 3. Konstrasi logam Pb pada Air Laut. Nilai rata-rata kandungan logam berat Pb air laut pada Pulau Lae-lae sebesar 0,31 mg/L, nilai kandungan logam berat pada air di Pulau Bonebatang diperoleh sebesar 0,23 mg/L, dan nilai kandungan logam berat pada air di Pulau Badi sebesar 0,25 mg/L.

Gambar 10. Nilai kandungan konsentrasi logam berat Pb air laut pada perairan lokasi penelitian. Rendahnya kadar kandungan logam berat pada air disebabkan karena sifat Pb yang memiliki daya larut yang rendah sehingga logam cendrung akan mengendap pada dasar perairan Moore (1991) dalam Efendi (2003).

29

4.

Faktor Biokonsentrasi Bioconcentration factor ( BCF).

Untuk mengetahui Bioconcentration factor (BCF) dihitung menggunakan rumus (Van Esch, 1977 dalam Pratono, 1985) sebagai berikut: BCF=
c Pb Tumbuhan Pb air Laut

Keterangan : BCF = Faktor biokonsentrasi = Konsentrasi logam di Tumbuhan (mg/kg)

C Pb Tumbuhan C Pb Air

= Konsentrasi logam di air (mg/kg.

Pulau Laelae 1 Laelae Laelae 2 3

Air 0.315 0.315 0.315 0.315 0.315 0.315 0.315 0.315 0.315

Caulerpa 12.01 12.01 12.01 12.01 12.01 12.01 12.01 12.01 12.01

BCF 38.13 38.13 38.13 0.00 38.13 38.13 38.13 0.00 38.13 38.13 38.13 0.00 Faktor Tabel 2.

Bonebatang1 Bonebatang 2 Bonebatang 3 Badi Badi 1 3

Badi 2

Biokonsentrasi Bioconcentration factor ( BCF).

5.

Karakteristik dan ciri Lingkungan Lokasi Penelitian.

30

Hasil analisis Prencipel Component Analisis (PCA) untuk mengetahui keterkaitan antara logam berat dengan gradient lingkungan. Gambar 11. Keterkaitan antara logam dengan gradient lingkungan.

Terdapat tiga kelompok dengan parameter penciri yang berbeda dari hasil analisis Prencipel Component Analisis (PCA) pada gambar 11 kelompok I terdiri dari Pulau Lae-lae dengan parameter penciri salinitas, arus, Pb air, kekeruhan dan suhu. Kelompok II Pulau Bonebatang terdiri dari bahan organik terlarut (DOM), Pb sedimen dan kecerahan. Kelompok III terdiri dari pH, oksigen terlarut, dan Pb, C.recemosa.

Kelompok I Pulau Lae-lae Salinitas adalah gambaran jumlah garam-garam dala suatu perairan. Sebaran salinitas di air laut dipengaruhi oleh seperti pola sirkulasi air, penguapan, curah hujan, dan aliran sungai (Nontji, 1987) nilai rata-rata salinitas pada lokasi penelitian sebesar 33.7-

31

34.3o/oo.. Berdasarkan pengukuran yang telah dilakukan, niali salinitas tertinggi yang merupakan faktor penciri pada Pulau Lae-lae yaitu nilai rata-rata salinitas sebesar 34.4o/oo. Arus merupakan sangat penting untuk mengetahui proses transportasi dan pengadukan dan zat-zat yang terkandung dalam perairan seperti makronutrien, material tersuspensi dan bahanbahan pencemar seperti logam berat, pola arus perairan akan mengencerkan atau memindahkan zat-zat pencemar yang ikut bersama pergerakan air baik zat-zat tersebut dalam bentuk larutan atau terserap pada sebuah partikel atau mengalami proses penenceran oleh pola arus pasang surut (Haliana, 2007). Nilai rata-rata kandungan Pb air pada Pulau Lae-lae sebesar 0.302 - 0.330 mg/l yang menjadi penciri pada Pulau Lae-lae sebesar 0.302. Rendahnya kadar kandungan logam berat pada air disebabkan karena sifat Pb yang memiliki daya larut yang rendah sehingga logam

cendrung akan mengendap pada dasar perairan Moore (1991) dalam Efendi (2003). Kekeruhan yang terukur memperlihatkan nilai rata-rata sebesar 0,22 NTU- 1,51 NTU, yang menjadi penciri kekeruhan yaitu pada Pulau Lea- Lae dengan nilai kekeruhan sebesar 1,51 NTU kekeruhan pada Pulau Lae-lae disebkan karen faktor arus yang dimana kekuatan arus pada Pulau Lea- lae tergolong cepat yang membuat daerah tersebut keruh.

Nilai rata-rata kekuatan arus sebesar 0.075- 0.115 m/s yang menjadi faktor penciri terdapat pada Pulau Lae-lae dengan nilai rata-rata kecepatan arus sebesar 0.115 m/s. Nilai rata-rata suhu yang didapatkan berkisar antara rata-rata 28,20C 290C yang menjadi penciri pada Pulau Lae lae 290C kisar suhu pada daerah penelitian masih berada pada kisaran alami sehingga dapat mendukung kehidupan biaota di laut supriharyono (2000) suhu yang baik adalah kisaran antara 25-290C sedangkan batas minimum dan maksimum suhu berkisar anatara 16- 170C dan sekitar 360C ( Kinsman, 1964 dalam Supriharyono (2000). Pada kelompok II Pulau Bonebatang,. Kelompok II Pulau Bonebatang yang menjadi parameter penciri terdiri dari bahan organik terlarut (DOM), Pb sedimen dan kecerahan. Kandungan logam berat pada sedimen dengan nilai rata- rata berkisar antara 16- 58 mg/kg 18, 32 mg/kg yang menjadi penciri berada pada Pulau Bone Batang yaitu 18,32mg/kg. Nilai kandungan Bahan Organik Terlarut (DOM) yang di dapatkan pada lokasi penelitian berkisar rata rata sebesar 34,03 mg/l 35 mg/l yang menjadi penciri terdapat pada Pulau

32

Bonebatang dengan nilai rata-rata sebesar 35,90 mg/l. Menurut Duursma (1963), terutama phytoplankton, zat buangan zooplankton dan organism besar lainnya. Nilai rata-rata kandungan logam berat Pb pada sedimen di lokasi penelitian didapatkan dengan nilai rata-rata sebesar 16.6mg/kg 18.3mg/l dan yang menjadi penciri terdapat pada Pulau Bonebatang dengan nilai sebesar 18,32mg/kg. Tingginya kandungan Pb pada sedimen dibanding air disebabkan karena sifat Pb yang memiliki daya larut yang rendah sehingga logam cendrung akan mengendap pada dasar perairan. Hal tersebut didukung oleh pendapat Moore (1991) dalam Efendi (2003) bahwa kelarutan timbal cukup rendah sehingga kadar timbal di dalam air sedikit. Febries dan Warner 1994) menyatakan bahwa jikat tidak melebihi standar baku mutu sedimen 0,33 ppm artinya masih aman jika sudah melewati batas standar baku mutu pada

sedimen 0>33 ppm tercemar. Nilai pH pada lokasi penelitian mengambarkan nilai penciri pada lokasi pulau badi penelitian yakni dengan nilai rata-rata sebesar 7,16 - 7,20 yang menjadi ciri pembeda pH pada pulau badi dengan nilai rata-rata sebesar 7,20 nilai tersebut menandakan bahwa nilai pH air laut pada lokasi penelitian menunjukkan normal. Menurut palar (2004), menyatakan bahwa pada lingkungan perairan, bentuk logam antara lain ion-ion bebas, pasangan ion organik dan ion kompleks, kenaikan pH menurunkan kelarutan logam berat dalam air, karena kenaikan pH mengubah kestabilan dari bentuk karbonat menjadi hidroksida yang membentuk ikatan dengan partikel pada air, hingga mengendap membentuk lumpur. Pada kelompok III Pulau Badi yang menjadi penciri yakni pH oksigen terlarut (DO) dan Pb Caulerpa Recemosa, nilai rata- rata Derajat Keasaman (pH) sebesar 7,15 7,20 yang menjadi penciri berada pada Pulau Badi dengan nilai rata rata sebesar 7,20 nilai tersebut menandakan bahwa daerah penelitian masih tergolong normal. Setiap organisme mempunyai toleransi yang berbeda terhadpmaksimal serta optimal dan berbagai indeks keadaan lingkungan. Nilai pH air yang tercemar beragam tergantung dari jenis pencemarannya.

33