62080690 Angina Ludwig

ANGINA LUDWIG

Putri Lestari (406100093)

BAB I PENDAHULUAN

Angina Ludwig atau dikenal sebagai Angina Ludovici, pertama kali dijelaskan oleh Wilheim Frederickvon Ludwig pada tahun 1836 sebagai suatu selulitis atau infeksi jaringan ikat leher dan dasar mulut yang cepat menyebar. Ia mengamati bahwa kondisi ini akan memburuk secara progesif bahkan dapat berakhir pada kematian dalam waktu 10 12 hari.1 Angina Ludwig merupakan salah satu bentuk abses leher dalam. Abses leher da lam terbentuk di dalam ruang potensial di antara fascia leher sebagai akibat perjalanan infeksi dari berbagai sumber seperti gigi, mulut, tenggorok, sinus paranasal, telinga tengah dan leher. Tergantung ruang mana yang terlibat, gejala dan tanda klinis setempat berupa nyeri dan pembengkakkan akan menunjukkan lokasi infeksi.2 Angina Ludwig ialah infeksi ruang submandibular berupa selulitis atau flegmon yang progresif dengan tanda khas berupa pembengkakan seluruh ruang submandibula, tidak membentuk abses dan tidak ada limfadenopati. Hal ini menyebabkan adanya perabaan keras seperti papan dan tidak adanya bekas penekanan seperti edema pada umumnya di submandibula.3 Ruang suprahyoid berada di antara otot-otot yang melekatkan lidah pada os hyoid dan m. mylohyoideus. Peradangan ruang ini menyebabkan ketegangan yang berlebihan pada jaringan dasar mulut serta mendorong lidah ke atas-belakang. Hal ini dapat menyebabkan obstruksi jalan napas secara potensial.4 Walaupun biasanya penyebaran yang luas terjadi pada pasien imunokompromise, angina Ludwig juga bisa berkembang pada orang yang sehat.5 Faktor predisposisinya berupa karies dentis, perawatan gigi terakhir, sickle cell anemia, trauma, dan tindikan pada frenulum lidah.6 Selain itu penyakit sistemik seperti diabetes melitus, neutropenia, aplastik anemia, glomerulositis, dermatomiositis dan lupus eritematosus dapat mempengaruhi terjadinya angina Ludwig.7 Penderita terbanyak berkisar antara umur 20-60 tahun, walaupun pernah dilaporkan terjadi pada usia 12 hari 84 tahun. Kasus ini dominan terjadi pada laki-laki (3:1 sampai 4:1).6 Angka kematian akibat angina Ludwig sebelum dikenalnya antibiotik mencapai angka 50% dari seluruh kasus yang dilaporkan, sejalan dengan perkembangan antibiotika, perawatan bedah yang baik, serta tindakan yang cepat dan tepat, maka saat ini angka kematiannya hanya 8%.8

Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Gigi dan Mulut Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Rumah Sakit Umum Daerah Kota Semarang Periode Kepaniteraan 6 Desember 2010 ± 8 Januari 2011

1

1. m. Ruang sublingual di bagian superior dari m.2. gusi.ANGINA LUDWIG Putri Lestari (406100093) BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. lidah. Penyakit ini termasuk dalam grup penyakit infeksi odontogen. di mana infeksi bakteri berasal dari rongga mulut seperti gigi.6 Ruang submandibular merupakan ruang di atas os hyoid (suprahyoid) dan m. mylohyoid memisahkan ruang ini menjadi dua yaitu ruang sublingual di superior dan ruang submaksilar di inferior. Karakter spesifik yang membedakan angina Ludwig dari infeksi oral lainnya ialah infeksi ini harus melibatkan dasar mulut serta kedua ruang submandibularis (sublingualis dan submaksilaris) pada kedua sisi (bilateral). Di bagian anterior. dan leher. mylohyoid. tenggorokan. Definisi Angina Ludwig merupakan infeksi dan peradangan serius jaringan ikat (selulitis) pada area di bawah lidah dan dagu.2 Gambar 1. Ruang submandibular di inferior dari m. Adapula yang membaginya menjadi tiga diantaranya yaitu ruang sublingual. mylohyoid. Ruang yang dibentuk oleh berbagai fascia pada leher ini merupakan area yang berpotensi untuk terjadinya infeksi. 9 2. Anatomi Pengetahuan tentang ruang-ruang di leher dan hubungannya dengan fascia penting untuk mendiagnosis dan mengobati infeksi. ruang submental dan ruang submaksillar. dan menyebar melalui berbagai jalan termasuk melalui saluran limfe. Invasi dari bakteri akan menghasilkan selulitis atau abses. Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Gigi dan Mulut Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Rumah Sakit Umum Daerah Kota Semarang Periode Kepaniteraan 6 Desember 2010 ± 8 Januari 2011 2 . mylohyoid.

fascia superfisial. Batas lateralnya berupa kulit. Ruang submental mengandung beberapa nodus limfe dan jaringan lemak fibrous. ruang ini berhubungan secara bebas dengan ruang submental. 10 Gambar 3. styloglossus. Di bagian anteriornya. fascia superfisial dan m. Gambar 2.10 Ruang submental merupakan ruang yang berbentuk segitiga y ang terletak di garis tengah bawah mandibula dimana batas superior dan lateralnya dibatasi oleh bagian anterior dari m. dan m. mylohyoid dan m. Di bagian inferiornya dibentuk oleh m. digastricus. styloglossus dan di bagian lateralnya oleh corpus mandibula.ANGINA LUDWIG Putri Lestari (406100093) Ruang submaksilar dipisahkan dengan ruang sublingual di bagian superiornya oleh m. dan m. mylohyoid. dan di bagian posteriornya terhubung dengan ruangpharyngeal. hyoglossus. digastricus. platysma. platysma superficialis pada fascia servikal bagian dalam. lingualis dan hypoglossal. Ruang submaksilar dibatasi oleh m. a. sebagian nodus limfe dan lemak. Dasar ruangan ini adalah m. mylohyoid sedangkan atapnya adalah kulit. Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Gigi dan Mulut Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Rumah Sakit Umum Daerah Kota Semarang Periode Kepaniteraan 6 Desember 2010 ± 8 Januari 2011 3 . m. di bagian medialnya oleh m. facialis. Ruang submandibular ini mengandung kelenjar submaxillar. n. Segitiga ruang submental. duktus Wharton. hyoglossus.

abses peritonsilar. peptostreptococci. myohyloid. yang merupakan infeksi dari gusi sekitar gigi molar ketiga yang erupsi sebagian. infeksi sekunder akibat keganasan mulut. fraktur mandibula terbuka. kepekaan terhadap panas/dingin atau adanya bengkak di sudut rahang. luka tembus di lidah. Hal ini mengakibatkan pentingnya mendapatkan konsultasi gigi untuk molar bawah ketiga pada tanda pertama sakit. laserasi oral.11 Selain itu. infeksi saluran pernafasan atas.11 Organisme yang paling banyak ditemukan pada penderita angina Ludwig melalui isolasi adalah Streptococcus viridians dan Staphylococcus aureus. infeksi kista ductus thyroglossus. antara lain: penyebaran organisme dari gangren pulpa ke jari gan periapikal saat dilakukan terapi n endodontik.6 2. 11 Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Gigi dan Mulut Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Rumah Sakit Umum Daerah Kota Semarang Periode Kepaniteraan 6 Desember 2010 ± 8 Januari 2011 4 . 95% kasus angina Ludwig melibatkan ruang submandibular bilateral dan gangguan jalan nafas merupakan komplikasi paling berbahaya yang seringkali merenggut nyawa. dan peptococci. postekstraksi gigi maupun oral hygiene yang kurang. intubasi endotrakeal. Etiologi Dilaporkan sekitar 90% kasus angina Ludwig disebabkan oleh odontogen baik melalui infeksi dental primer.ANGINA LUDWIG Putri Lestari (406100093) Infeksi pada ruang submandibular ini menyebar hingga bagian superior dan posterior. Di samping itu. Gigi-gigi ini mempunyai akar yang terletak pada tingkat m. perdarahan dari gusi. injeksi obat intravena melalui leher. epiglotitis. mengakibatkan peninggian dasar mulut dan lidah. serta inokulasi Streptococcus yang berasal dari mulut dan tenggorokan ke lidah dan jaringan submandibular oleh manipulasi instrumen saat perawatan gigi.3. Rute infeksi pada kebanyakan kasus ialah dari terinfeksinya molar ketiga rahang bawah atau dari perikoronitis. dan abses seperti perimandibular abses akan menyebar ke ruang submandibula r. sedangkan pembengkakkan dapat menyebar hingga bagian anterior leher. trauma oleh karena bronkoskopi. menyebabkan distorsi dan gambaran bull neck. dan trauma pada dasar mulut. gigi molar kedua bawah juga menjadi penyebab odontogenik dari angina Ludwig.5 Selain gigi molar ketiga. Bakteri anaerob yang diisolasi seringkali berupa bacteroides. Os hyoid membatasi penyebaran ke inferior. 11 Ada juga penyebab lain yang sedikit dilaporkan antara lain sialadenitis kelenjar submandibula. perawatan gigi terakhir juga dapat menyebabkan angina Ludwig.

bahkan meluas hingga ruang parafaringeal. dan spesies Clostridium. Aerobacter aeruginosa. maka infeksi akan menembus dan masuk ke jaringan lunak. abses labial dan abses fasial. Escherichia coli. pembuluh darah (hematogen). abses submental. Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Gigi dan Mulut Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Rumah Sakit Umum Daerah Kota Semarang Periode Kepaniteraan 6 Desember 2010 ± 8 Januari 2011 5 . maka infeksi akan menyebar ke tulang spongiosa sampai tulang kortikal. Abses pada akar gigi yang menyebar ke ruang submandibula akan menyebabkan sedikit ketidaknyamanan pada gigi. merupakan jalan bagi bakteri untuk mencapai jaringan periapikal. menyebabkan infeksi yang terjadi pada gigi tersebut dapat membentuk abses dan pusnya menyebar ke ruang submandibular.ANGINA LUDWIG Putri Lestari (406100093) Bakteri gram positif yang telah diisolasi adalah Fusobacterium nucleatum. mylohyoideus) dalam ruang submandibula. Eubacteria. Yang paling sering terjadi adalah penjalaran secara perkontinuitatum karena adanya celah/ruang di antara jaringan yang berpotensi sebagai tempat berkumpulnya pus.4. abses submandibular. abses submaseter dan angina Ludwig. Bakteri Gram negatif yang diisolasi antara lain spesies Neisseria.11 2. spesies Pseudomonas. 4 Ujung akar molar kedua dan ketiga terletak di belakang bawah linea mylohyoidea (tempat melekatnya m. trombosis sinus kavernosus.4 Penjalaran infeksi pada rahang atas dapat membentuk abses palatal. Veillonella. mylohyoideus.4 Gambar 4. Penjalaran infeksi pada rahang bawah dapat membentuk abses sublingual. Karena jumlah bakteri yang banyak. Haemophillus influenza dan spesies Klebsiella. Penyebaran infeksi ini tergantung dari daya tahan jaringan tubuh. Linea mylohyoidea. abses gingiva. Patogenesis Infeksi gigi seperti nekrosis pulpa karena karies profunda yang tidak terawat dan deep periodontal pocket. abses submukosa. dan pembuluh limfe (limfogen). tempat perlekatan m. Jika tulang ini tipis. nyeri terjadi jika terjadi ketegangan antara tulang. 4 Penyebaran infeksi odontogen dapat melalui jaringan ikat (perkontinuitatum). Candida. spirochetes.

hyoglossus menuju ruang-ruang fascia leher. edema terdapat pada daerah terlemah di bagian superior dan posterior sehingga mendorong supraglotic larynx dan lidah ke belakang. Ruang submandibular terinfeksi langsung oleh molar kedua dan ketiga.ANGINA LUDWIG Putri Lestari (406100093) Gambar 5. Ruang submandibular terletak antara m.4 Pada infeksi ruang sublingual. Infeksi pada ruang submental biasanya terbatas karena ada kesatuan yang keras dari fascia cervikal profunda dengan m. mylohyoid.6 Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Gigi dan Mulut Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Rumah Sakit Umum Daerah Kota Semarang Periode Kepaniteraan 6 Desember 2010 ± 8 Januari 2011 6 . mylohyoid.4 Penyebaran infeksi berakhir di bagian anterior yaitu mandibula dan di bagian inferior yaitu m.6 Os hyoid membatasi terjadinya proses ini di bagian inferior sehingga pembengkakan menyebar ke daerah depan leher yang menyebabkan perubahan bentuk dan gambaran bull neck .4 Infeksi pada ruang submaksilar biasanya terbatas di dalam ruang itu sendiri. meluas ke dasar lantai mulut dan lidah. Edema dagu dapat terbentuk dengan jelas. digastricus anterior dan os hyoid. Proses infeksi kemudian berjalan di bagian superior dan posterior. akhirnya mempersempit saluran dan menghambat jalan nafas. tetapi dapat pula menyusuri sepanjang duktus submaksilaris Whartoni dan mengikuti struktur kelenjar menuju ruang sublingual. atau dapat juga meluas ke bawah sepanjang m. fascia dan kulit.

3 Pemeriksaan fisik dapat memperlihatkan adanya demam dan takikardi dengan karakteristik dasar mulut yang tegang dan keras. takipneu. Karies pada gigi molar bawah dapat dijumpai. dan dalam kasus yang parah dapat menyebabkan stridor atau kesulitan bernapas. Gejala klinis intra oral meliputi pembengkakkan. dispneu. stridor inspirasi dan sianosis menunjukkan adanya hambatan pada jalan napas yang perlu mendapat penanganan segera7 . malnutrisi. 2. pembengkakan. nyeri menelan (disfagia). Tanda-tanda penting seperti pasien tidak mampu menelan air liurnya sendiri. Trismus dapat terjadi dan menunjukkan adanya iritasi pada m. Proses penyebaran ke bagian superior dan posterior yang mendorong lantai dasar mulut dan lidah. disfonia (hot potato voice) akibat edema pada organ vokal. nyeri dan peninggian lidah.5. hipersalivasi (drooling). Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Gigi dan Mulut Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Rumah Sakit Umum Daerah Kota Semarang Periode Kepaniteraan 6 Desember 2010 ± 8 Januari 2011 7 . batas os hyoid meluas ke arah inferior dan menyebabkan gambaran bull neck . Gejala klinis ekstra oral meliputi eritema. Pada penyebaran secara anterior. Manifestasi Klinis Gejala klinis umum angina Ludwig meliputi malaise. lemah. perabaan yang keras seperti papan (board -like) serta peninggian suhu pada leher dan jaringan ruang submandibula-sublingual yang terinfeksi. kesulitan dalam artikulasi bicara (disarthria). Biasanya ditemui pula indurasi dan pembengkakkan ruang submandibular yang dapat disertai dengan lidah yang terdorong ke atas. lesu.ANGINA LUDWIG Putri Lestari (406100093) Gambar 6. masticator.

Gambar 8. yang mengakibatkan keluarnya air liur terusmenerus serta kesulitan bernapas.9 Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Gigi dan Mulut Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Rumah Sakit Umum Daerah Kota Semarang Periode Kepaniteraan 6 Desember 2010 ± 8 Januari 2011 8 . Dagu terasa tegang dan nyeri saat menggerakkan lidah. saat bernapas akan terdengar suara tinggi (stridor). Saat infeksi menyebar ke belakang mulut. Pembengkakkan berat dari submandibula bilateral dan regio cervikal anterior pada anak usia 4 bulan dengan angina Ludwig. peradangan pada dasar mulut akan menyebabkan lidah terdorong ke atas-belakang sehingga menyumbat jalan napas. Dapat dijumpai demam dan rasa menggigil.9 b. Diagnosis Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesa. dan menelan. a. dan pemeriksaan penunjang. Jika laring ikut membengkak. Pemeriksaan fisik Dasar mulut akan terlihat merah dan membengkak. Biasanya penderita akan mengalami dehidrasi akibat kurangnya cairan yang diminum maupun makanan yang dimakan. Demam tinggi mungkin ditemui.ANGINA LUDWIG Putri Lestari (406100093) 7 8 Gambar 7. berbicara. Anamnesa Gejala awal biasanya berupa nyeri pada area gigi yang terinfeksi. Penderita mungkin akan mengalami kesulitan membuka mulut. 2. yang menindikasikan adanya infeksi sistemik. Penderita juga dilaporkan mengalami kesulitan makan dan minum. Edema dan indurasi dari dasar mulut mengakibatkan peninggian lidah pada anak usia 5 tahun dengan angina Ludwig.6. pemeriksaan fisik.

7 y MRI: MRI menyediakan resolusi lebih baik untuk jaringan lunak dibandingkan dengan CT-scan. CT-scan dapat mendeteksi akumulasi cairan.7 Pencitraan: y RÖ: walaupun radiografi foto polos dari leher kurang berperan dalam mendiagnosis atau menilai dalamnya abses leher. USG dapat membantu diagnosis pada anak karena bersifat non -invasif dan nonradiasi. serta struktur tulang rahang yang terinfeksi. foto polos ini dapat menunjukkan luasnya pembengkakkan jaringan lunak. Foto panoramik rahang dapat membantu menentukan letak fokal infeksi atau abses. MRI memiliki kekurangan dalam lebih panjangnya waktu yang diperlukan untuk pencitraan sehingga sangat berbahaya bagi pasien yang mengalami kesulitan bernapas.7 y USG: USG dapat menunjukkan lokasi dan ukuran pus. 7 Pemeriksaan waktu bekuan darah penting untuk dilakukan tindakan insisi drainase.7 y CT-scan: CT-scan merupakan metode pencitraan terpilih karena dapat memberikan evaluasi radiologik terbaik pada abses leher dalam. Pemeriksaan penunjang Meskipun diagnosis angina Ludwig dapat diketahui berdasarkan anamnesa dan pemeriksaan fisik.ANGINA LUDWIG Putri Lestari (406100093) c. Laboratorium: y Pemeriksaan darah: tampak leukositosis yang mengindikasikan adanya infeksi akut. y Pemeriksaan kultur dan sensitivitas: untuk menentukan bakteri yang menginfeksi (aerob dan/atau anaerob) serta menentukan pemilihan antibiotik dalam terapi. penyebaran infeksi serta derajat obstruksi jalan napas sehingga dapat sangat membantu dalam memutuskan kapan dibutuhkannya pernapasan buatan. USG juga membantu pengarahan aspirasi jarum untuk menentukan letak abses.7 Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Gigi dan Mulut Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Rumah Sakit Umum Daerah Kota Semarang Periode Kepaniteraan 6 Desember 2010 ± 8 Januari 2011 9 . serta metastasis dari abses. Radiografi dada dapat menunjukkan perluasan proses infeksi ke mediastinum dan paru-paru. beberapa metode pemeriksaan penunjang seperti laboratorium 7 maupun pencitraan dapat berguna untuk menegakkan diagnosis. Namun.

Jika gigi yang terinfeksi merupakan fokal infeksi dari penyakit ini. Namun. terapi antibiotik secara progesif. Eksplorasi lebih dalam dapat dilakukan memakai cunam tumpul. menghindari kebutuhan akan trakheotomi/krikotiroidotomi. Jika tidak memungkinkan.7 Setelah patensi jalan napas telah teratasi maka antibioti IV segera diberikan. dilaporkan dapat membantu proses intubasi dalam kondisi yang lebih terkontrol. yaitu:7 y y pertama dan paling utama. dapat dilakukan krikotiroidotomi atau trakheotomi dengan anestesi lokal. dilakukan pula eksplorasi dengan tujuan dekompresi (mengurangi ketegangan) dan evaluasi pus. Trakeostomi awalnya dilakukan pada kebanyakan pasien. Insisi dilakukan di bawah dan paralel dengan corpus mandibula melalui fascia dalam sampai kedalaman kelenjar submaksila. penambahan metronidazole. di samping terapi antibiotk dan i operasi dekompresi. namun dengan adanya teknik intubasi serta penempatan fiber-optic Endotracheal Tube yang lebih baik. maka kebutuhan akan trakeostomi berkurang. dilakukan insisi dan drainase. dengan meningkatnya prevalensi produksi beta-laktamase terutama pada Bacteroides sp. amoxicillin-clavulanate harus dipertimbangkan.7. Intubasi dilakukan melalui hidung dengan menggunakan teleskop yang fleksibel saat pasien masih sadar dan dalam posisi tegak. menjaga patensi jalan napas. sublingual. di mana pada umumnya angina Ludwig jarang terdapat pus atau jaringan nekrosis. lalu diikuti dengan pemberian dosis 4 mg tiap 6 jam selama 48 jam. Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Gigi dan Mulut Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Rumah Sakit Umum Daerah Kota Semarang Periode Kepaniteraan 6 Desember 2010 ± 8 Januari 2011 10 . cefoxitin. Pasien di rawat inap sampai infeksi reda. Insisi dilakukan di garis tengah secara horisontal setinggi os hyoid (3-4 jari di bawah mandibula).7 Selain itu. Jika terbentuk nanah. Diawali dengan dosis 10mg. maka gigi tersebut harus 4 diekstraksi untuk mencegah kekambuhan. kedua. clindamycin.ANGINA LUDWIG Putri Lestari (406100093) 2. dekompresi ruang submandibular. y ketiga. Kultur darah dapat membantu mengoptimalkan regimen terapi. piperacilin-tazobactam. serta mengurangi waktu pemulihan di rumah sakit. dibutuhkan untuk mengobati dan membatasi penyebaran infeksi.7 Pemberian dexamethasone IV selama 48 jam. dan submental. Penatalaksanaan Penatalaksaan angina Ludwig memerlukan tiga fokus utama. Insisi vertikal tambahan dapat dibuat di atas os hyoid sampai batas bawah dagu. k Awalnya pemberian Penicillin G dosis tinggi (2-4 juta unit IV terbagi setiap 4 jam) merupakan lini pertama pengobatan angina Ludwig.

Tampak depan dan samping menunjukkan pembengkakkan submandibular dan sublingual. Celah buccopharingeal. memperlihatkan drainase submandibula bilateral dan occluded tracheostomy tube. Komplikasi Angina Ludwig merupakan selulitis bilateral dari ruang submandibular yang terdiri dari dua ruang yaitu ruang sublingual dan ruang submaksilar. merupakan penghubung antara ruang submandibular dengan ruang pharingeal lateral. kedua ruang ini berfungsi sebagai satu kesatuan karena adanya hubungan bebas serta kesamaan dalam tanda dan gejala klinis. Infeksi angina Ludwig dapat menyebar secara langsung melalui celah buccopharingeal ini ke ruang pharingeal lateral. Kondisi pasien 3 hari post-operasi.8. yang dibentuk oleh m.7 Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Gigi dan Mulut Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Rumah Sakit Umum Daerah Kota Semarang Periode Kepaniteraan 6 Desember 2010 ± 8 Januari 2011 11 .ANGINA LUDWIG Putri Lestari (406100093) Gambar 9. 2. constrictor media dan superior. di mana selulitis akan dengan cepat menjadi berbahaya serta menimbulkan obstruksi jalan napas yang berat. styloglossus melalui m. Kondisi pasien post-trakeostomi namun masih membutuhkan drainase abses. Gambar 10. Secara klinis.

disertai dengan pemberian antibiotik untuk memperoleh hasil pengobatan yang lengkap.4 2.7 2. bahkan hingga mediastinum dan ruang subphrenik. infeksi dapat menyebar secara mudah ke jaringan leher. Namun dengan diagnosis dini. Sekitar 45% 65% penderita memerlukan insisi dan drainase pada area yang terinfeksi. jugularis interna.9 Angina Ludwig dapat berakibat fatal karena membahayakan jiwa. penyakit ini dapat sembuh tanpa mengakibatkan komplikasi.ANGINA LUDWIG Putri Lestari (406100093) Akibat barrier anatomik yang tidak dibatasi. Begitu pula angka mortalitas dapat menurun hingga kurang dari 5%. infeksi dari carotid sheath yang mengakibatkan ruptur a. komplikasi dari angina Ludwig dapat berupa trombosis sinus kavernosus. eradikasi infeksi dengan antibiotik. Komplikasi lebih lanjut yang telah dilaporkan melipu ti sepsis. Selain itu. Penanganan infeksi gigi dan mulut yang tepat dapat mencegah kondisi yang akan meningkatkan terjadinya angina Ludwig. Prognosis Prognosis angina Ludwig tergantung pada kecepatan proteksi jalan napas untuk mencegah asfiksia. 35% dari individu yang terinfeksi memerlukan intubasi dan trakeostomi. Selain gejala obstruksi jalan napas yang dapat terjadi tiba-tiba.9. carotis. perlindungan jalan nafas yang segera ditangani.4 Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Gigi dan Mulut Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Rumah Sakit Umum Daerah Kota Semarang Periode Kepaniteraan 6 Desember 2010 ± 8 Januari 2011 12 . pemberian antibiotik intravena yang adekuat serta penanganan dalam ICU. efusi perikardial/pleura. ruang fascia retropharingeal. Pencegahan Pencegahan dapat dilakukan dengan pemeriksaan gigi ke dokter secara rutin dan teratur. mediastinitis. dan pembentukan abses subphrenik. dan thrombophlebitis supuratif dari v.4 Kematian pada era preantibiotik adalah sekitar 50%. serta pengurangan radang. empiema.10. aspirasi dari sekret yang terinfeksi.

ketiga.7 Prognosis angina Ludwig tergantung pada kecepatan proteksi jalan napas untuk mencegah asfiksia. demam. pembengkakan leher dan jaringan ruang submandibular yang keras seperti papan. krikotiroidotomi atau trakheotomi. disfagia. serta pengurangan radang. sublingual.11 Rute infeksi pada kebanyakan kasus ialah dari terinfeksinya molar kedua atau ketiga rahang bawah. kedua.5 Penatalaksaan angina Ludwig memerlukan tiga fokus utama. dapat pula dari perikoronitis. postekstraksi gigi maupun oral hygiene yang kurang. 11 Manifestasi klinis dari angina Ludwig meliputi pembengkakan. terapi antibiotik IV secara progesif. dan submental dengan cara insisi atau drainase abses. dekompresi ruang submandibular. Tanda-tanda penting seperti pasien tidak mampu menelan air liurnya sendiri dan adanya stridor inspirasi mengindikasikan adanya obstruksi jalan napas.9 Dilaporkan sekitar 90% kasus angina Ludwig disebabkan oleh odontogen baik melalui infeksi dental primer. eradikasi infeksi dengan antibiotik.3 Karakter spesifik yang membedakan angina Ludwig dari infeksi oral lainnya ialah infeksi ini harus melibatkan dasar mulut serta kedua ruang submandibularis (sublingualis dan submaksilaris) pada kedua sisi (bilateral).trakeostomi.5 Organisme yang paling banyak ditemukan pada penderita melalui isolasi adalah Streptococcus viridians dan Staphylococcus aureus. dibutuhkan untuk mengobati dan membatasi penyebaran infeksi . yaitu: pertama. 9 Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Gigi dan Mulut Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Rumah Sakit Umum Daerah Kota Semarang Periode Kepaniteraan 6 Desember 2010 ± 8 Januari 2011 13 . menjaga patensi jalan napas dengan intubasi nasal.ANGINA LUDWIG Putri Lestari (406100093) BAB III RINGKASAN Angina Ludwig ialah infeksi ruang submandibular berupa selulitis atau flegmon yang progresif. nyeri dan terdorongnya lidah ke atas. malaise.

4th ed. Ludwig's Angina in Children. Jurnal Dexa Media. 5. Winters S.Vol. Pennsylvanya: Elsener Mosby. Saunders. Jakarta: Balai Penerbit FKUI. Ludwig's Angina. Journal of the American Academy of Nurse Practitioners. Penatalaksanaan Angina Ludwig.Vol. Bailey B. Fachruddin D.mdguidelines. The Person Behind the Eponym: Wilhelm Frederick von Ludwig. 2009. Oral and Maxillofacial Infection. Odontogenic Infection.Vol. St. 8. Journal of American Family Physician. 4th ed.com/ludwigs-angina. Anonymous. 14 . available at: http://en. December 2003. 2010. 2. 7. Kumpulan Kuliah Stomatologi. Murphy SC.org/wiki/Ludwig%27s_angina. Damayanti. Louis: W. available at: http://www. Ludwig's Angina. Januari-Maret 2008. Tenggorok. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara.wikipedia. Hartmann RW. Dentist: Phlegmon. Raharjo SP. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga. July 1999. 2002. 15(Issue 12). Arfani A.blogspot. 6. 11. Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Gigi dan Mulut Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Rumah Sakit Umum Daerah Kota Semarang Periode Kepaniteraan 6 Desember 2010 ± 8 Januari 2011   . August 9 1996. Topazian R. 3. Kepala. 60.21. Hidung. 9. 10. 2005. Anonymous. dan Leher . Head and Neck Surgery.ANGINA LUDWIG Putri Lestari (406100093) DAFTAR PUSTAKA 1.com/2010/08/phlegmon. available at: http://asnuldentist. Journal of Oral Pathology & Medicine.B. A Review of Ludwig's Angina for Nurse Practitioners.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful