You are on page 1of 4

Minggatnya ATUN!

Kelompok
Kelas XI IA 2

Pemain :
Bapak : Novan Indra Kabul : Adri Muhammad R
Ibu : Ria Oktavia Dukun : Hanif Fitriawan
Atun : Zahrina S Pak Pos : Puspita Rahmawati
Narator : Alfianti F

Di sebuah rumah petak beralas tanah,

Di kamar Kabull ..
Atun : Bul, aku pengen sekolah di kota . Tapi uang darimana ???
Kabul : (asyik dengan mainannya)
Atun : Hee.... Bul!! (Berteriak) kamu nggak dengerin aku ya ?
(menggerutu)
Kabul : Ya Allah! Kamu tuh bikin kaget aja sih. Ada apa ?
Atun : Haduh.. makanya kalau aku ngomong didengerin
Bul.. aku pengin sekolah di kota, tapi dapat uang dari mana ?
Kabul : Kamu ini aneh-aneh aja , udah sekolah di desa susahnya minta
ampun bayar, minta di kota.
Atun : Ya aku kan pengen jadi orang sukses biar nanti buat bapak ma ibu
bahagia, nggak capek-capek kerja lagi.
Kabul : Ya, uang dari mana tapi ?? (ucapan terakhir sebelum ia tidur
lelap)
Atun : Aku juga gak tahu bul. (menunggu jawaban dari Kabul)
Bul ? Bul.. Bul ??? Heeee Buuuuuuul ..... (menengok ke belakang)
Huhu . gimana sih, belom selesai bicara udah tidur duluan 

Tak lama, akhirnya Atun menemukan ide. Ia ingat bahwa Bapaknya
memiliki celengan yang sudah 2 tahun ia kumpulkan untuk membeli
kambing nantinya. Tanpa pikir panjang, Atun begitu bersemangat segera
megambil celengan Bapaknya yang disimpan di lemari baju Kibil. Malam
itu juga, Atun membereskan barangnya dan celengan miliknya untuk
dibawanya pergi ke kota merantau mencari kerja untuk menambah biaya
sekolahnya disana.

Melangkah mengendap-ngendap , perlahan tapi pasti.

Atun (keluar dari kamar Kibil dan membawa celengan) : "Ya Allah,
ampunilah hamba-Mu ini, harus melangkah ke manakah hamba-Mu ini??”

Sebelum meniggalkan rumah, Atun menyelipkan surat di meja makan
yang berisi “Bapak Ibu Kabul .. Atun pergi dulu ya.... Daaaaa  ”
Lalu Atun keluar dari rumah, memecahkan celengan itu di samping
rumahnya agar tak terdengar oleh kedua orangtua dan adiknya lalu
mengambil dan menyimpan uang itu dalam plastik)
(Atun pergi dan membawa celengan dan uangnya)

Esok paginya di rumah Bapak Atun
Pukul 05.00 Ibu atun sudah bangun untuk menyiapkan makan pagi dan
dagangannya. Ketika meletakkan makanan di atas meja, Ibu Atun melihat
sepucuk kertas, diambil dan dibacanya ..

Ibu : “Bapaaak ....” (berteriak memanggil bapak yang berada di belakang
rumah)
Bapak : (lari terkaget-kaget mendengar teriakan Ibu) “Ada apa ? Ada apa,
Bu? Pagi-pagi begini kok teriak-teriak ?”
Ibu : “Baca ini pak!” (menyodorkan kertas dari atun)
Bapak : (membacanya dengan seksama) ”Loh? Atun minggat? Kemana?”
(tanpa ekspresi terkejut)
Ibu : “Lohhh bapak ini gimana sih, anaknya minggat kok tidak binggung ?
(menangis tersedu-sedu)
Bapak : “Lah mau bagaimana lagi, nantinya dia juga akan pulang saat
lapar. Kamu seperti tidak tahu Atun saja.”
Ibu : “Bapak looo .. kok gitu sih ?”
Bapak : “Loh kok marah ?” (tertawa kecil) ”Sudah bu, tenang saja. Atun
pasti pulang.”

Pukul 06.00
Kabul (keluar dan memainkan pesawatnya) : "Ngeeenggg...
ngeeenggg...."
(Melihat ke bawah, ke celengannya) : "Pakkkk??? Celenganku??? Uangnya
hilang semua pak??? (menangis keras-keras... lalu terduduk di tanah).
Bapak (datang dan mengajak Kabul berdiri) : "Apa??? Jangan ngaco
kamu!! Uang itu kalau sudah banyak mau bapak belikan kambing!"
Bapak (memanggil ibu) : "Ibu... ibu... sini bu!!!"
Ibu (datang) : "Ada apa sih pak, teriak-teriak??"
Bapak : "Bu, lihat nih! Celengan Kabul pecah, dan uangnya hilang semua!
Ini pasti ada kaitannya
dengan minggatnya si Atun itu!!! Nah, sekarang bagaimana usahamu
mencari si Atun itu??? "
Ibu : "Aku sudah mencari ke kantor pos pak... tidak ada! Teman-temannya
sudah kutelepon, tidak ada! Bahkan saya sudah pergi ke dukun.... gak
ketemu pak??? "
Bapak : "Buat apa kamu ke dukun? Memangnya masih ada dukun di
jaman modern ini?? Masih ada yang mau jadi dukun???"
Dukun (masuk dan menghampiri ibu) : "Assalamualaikum.... "
Ibu : "Walaikum salam... "
Dukun : "Apa betul ini rumahnya bu Atun dan pak Atun?"
Ibu : "Betul pak dukun.... " (menoleh ke Bapak) "Pak, inilo dukunnya... "
Bapak : "Oohhhh... ini toh?"
Dukun : "Ini pasti bu Atun khan?"
Ibu : "Lhoooo?? Embah dukun koq tahu sih mbah??? "
Dukun : (tertawa keras) "Huaha ha ha ha... hah ahahahh (batuk) huk huk
uhuk huk... lha wong naskahnya seperti itu koqq... he he he... nah, pak
Atun dan ibu Atun jangan khawatir! Atun di sana masih baik-baik saja
keadaannya... dan masih tetap perempuan... nah, sekarang tolong
ambilkan air dan dupa buat saya... "
Ibu : "Sebentar ya mbah... " (memerintah Kabul) "Bul... tolong ambilkan
air dan dupa di belakang ya??"
Kabul : "Ya bu... " (masuk, kemudian keluar lagi sambil membawa air dan
dupa) "Ini bu, dupa dan airnya..."
Ibu ; "Serahkan ke pak dukun, Bul!"
(Kabul dengan takut-takut menyerahkan dupa dan air ke pak dukun).
(Pak Dukun membaca mantera, setelah menerima dupa dan air)
Dukun : "Harap tenang semua, saya mau konsentrasi memanggil anak
buah saya ... (dupa diangkat ke udara dan membaca mantera... ) "Was
wes woss... ojo ngowos... tan ketan ketan... setan setan... pul kumpul...
heeehhhhehh pul pul tan tan pul pul... datanglah... para pembantuku...
setan dari utara, dari barat... selatan... kumpul di sini, bantulah akuuuuuu
bantulah aku.... "

Siang Hari ...
Pak pos mendadak masuk : "Pos... posss.. posss... permisiiii!!!"
Ibu : "Ya pak pos??? "
Pak pos : "Ibu... ibu Atun dan pak Atun... ini ada kiriman surat buat Anda
berdua!"
Ibu : "Surat??? Wah.. terima kasih pak pos! " (menerim surat dari pak
Pos).
Pak pos : "Bu, bapak, permisi... semua... permisi..."
Ibu : "Ya pak Pos.. (membaca pengirim) Pak??? Ini surat dari Atun pak!
Dari Atun!!! Tolong pak, baca surat ini... (membuka amplop dan
menyerahkan surat ke Bapak)"
Bapak : "Wah.,.. jangan deh, aku... aku... eh.. .suaraku masih serak, batuk
nih?"
Ibu : "Ala.... ngomong aja kalau gak bisa baca! Waduh... gimana ini... aku
juga gak bisa baca... Kabul... tolong bacakan ya?? " (menyerahkan surat
ke Kabul).
Kabul (membaca surat) : "Bapak, ibu... salam dari aku... saat ini
keadaanku baik-baik saja. Atun mohon ampun dan maaf atas kesalahan
Atun selama ini, termasuk Atun telah mengambil uang milik Bapak di
celengan itu. Saat ini, Atun sudah sekolah dan juga bekerja... Atun juga
berjanji akan menabung sehingga bisa mengembalikan uang yang Atun
ambil... Bapak, Ibu, doakan aku ya, supaya aku berhasil dalam
bersekolah... anakmu.. Atun"
Ibu (menangis) :"Pak... Atun pak... Atun..."
Bapak : (Faren... Faren... )
Ibu : "Atun, anakku... anakku.... Atun!!!"

---- TAMAT ----