You are on page 1of 14

Latar Belakang

Energi diperlukan untuk pertumbuhankegiatan industri, jasa, perhubungan dan rumah tangga. Dalam jangka panjang, peran energi akan lebih berkembang khususnya guna mendukung pertumbuhan sektor industri dan kegiatan lain yang terkait. Meskipun Indonesia adalah salah satu negara penghasil minyak dan gas, namun berkurangnya cadangan minyak, penghapusan subsidi menyebabkan harga minyak naik dan kualitas lingkungan menurun akibat penggunaan bahan bakar fosil yang berlebihan. Olah karena itu, pemanfaatan sumber-sumber energi alternatif yang terbarukan dan ramah lingkungan menjadi pilihan.

Salah satu dari energi terbarukan adalah biogas, biogas memiliki peluang yang besar dalam pengembangannya. Energi biogas dapat diperolehdari air limbah rumah tangga, kotoran cair dari peternakan ayam, sapi, babi, sampah organik dari pasar; industri makanan dan sebagainya. Selain potensi yang besar, pemanfaatan energi biogas dengan digester biogas memiliki banyak keuntungan, yaitu mengurangi efek gas rumah kaca,mengurangi bau yang tidak sedap, mencegah penyebaran penyakit,menghasilkan panas dan daya (mekanis/listrik) serta hasil samping berupa pupuk padadan cair.

PELAKSANAAN

A. Waktu Pelaksanaan Judul praktik : Pengolahan Sampah Organik Menjadi Biogas Hari/Tanggal : Jumat, 30 November 2012 Pukul : 08.00 WIB

B. Alat dan Bahan 1. Alat:
No 1. 2. 3. 4. 5. Nama dan Spesifikasi Alat Jerigen Manometer Cetok Ember Corong Jumlah 1 buah 1 buah 1 buah 2 buah 1 buah

6.
7. 8.

Isolasi/Lakban
Selang Label

Secukupnya
Secukupnya 1. buah

2. Bahan:
No 1. 2. Nama dan Spesifikasi bahan Kotoran sapi Air Jumlah 2,2 L 2,2 L

C. Cara Kerja
1. Menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan. 2. Melakukan pengukuran volume pada jerigen untuk menentukan volume kotoran yang akan digunakan dengan perbandingan 1 : 1. 3. Mencampurkan antara kotoran dan air sesuai dengan ukuran volume yang digunakan. 4. Memasukkan campuran kotoran + air ke dalam jerigen sebanyak 80% dari volume total jerigen. Hal ini dimaksudkan untuk penampungan gas. 5. Menyiapkan selang yang akan dipasang pada jerigen secukupnya,selang tidak boleh terlalu pendek.

6. Memasukkan selang ke dalam jerigen,namun tidak sampai menyentuh cairan yang berada dalam jerigen. Dalam memasukkan selang tersebut diusahakan selang tidak membengkok. 7. Memasang manometer yang sudah dibuat pada sebuah balok kayu lalu tempelkan pada jerigen dengan menggunakan isolasi. Pemasangan manometer ini bertujuan untuk memantau terjadinya gas dalam jerigen. 8. Lalu menutup mulut jerigen dengan menggunakan lakban sampai benar-benar rapat 9. Memasukkan air pada selang. 10. Menyimpan jerigen yang sudah berisi campuran kotoran dan air selama 60 hari,tetapi pada hari ke-7 gas yang terbentuk harus dibuang terlebih dahulu karena proses pembentukan gas masih aerob.

HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Pengamatan

Pengamatan dimulai pada tanggal 30 November 2012 sampai dengan tanggal 10 Desember 2012. Garis air pada selang manometer terlihat, sebelah kanan menunjukkan angka 1 cm dan pada sebelah kiri menunjukkan angka 1,5 cm.

B. Pembahasan
Dari hasil pengamatan yang dilakukan selama 11 hari. Garis air pada selang manometer terlihat, sebelah kanan menunjukkan angka 1 cm dan pada sebelah kiri menunjukkan angka 1,5 cm. Karena tidak ada perubahan naik atau turunnya garis air pada selang manometer dari posisi awal pengamatan. Hal ini, menunjukkan tidak terlihat adanya perubahan tekanan gas dari dalam jerigen. Namun, menurut teori yang kami dapat bahwa biogas terbentuk pada hari ke 4-5 sesudah biodigester terisi penuh dan mencapai puncak pada hari ke 20-25. Biogas yang dihasilkan sebagian besar terdiri dari 50-70% metana (CH4), 3040% karbondioksida (CO2) dan gas lainnya dalam jumlah kecil (Fitria, B., 2009). Dengan kata lain, pembuatan penampung biodigester serta perbandingan bahan kotoran sapi dan air harus diperhatikan. Hal ini dapat mempengaruhi pembentukan biogas.