You are on page 1of 25

BAB I PENDAHULUAN

A.

LATAR BELAKANG

Di era globalisasi ini, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi semakin berkembang dengan pesat, sejalan dengan hal tersebut, maka permasalahan manusiapun semakin kompleks, salah satunya yaitu kebutuhan ekonomi yang semakin mendesak. Hal tersebut menuntut manusia untuk berusaha memenuhi kabutuhannya dengan usaha yang ekstra, tentunya itu mempengaruhi pola hidup dan kesehatannya yang dapat menyebabkan kerja tubuh yang berat yang dapat menimbulkan kelelahan dan kelemahan dari berbagai organ tubuh. Adapun hubungannya dengan penyakit hernia yairu dengan bekerja berat untuk memenuhi kebutuhan seperti mengangkat benda berat, kebiasaan mengkonsumsi makanan kurang serat, yang dapat menyebabkan konstipasi sehingga mendorong mengejan saat defekasi. Selain itu, batuk, kehamilan, dapat juga berpengaruh dalam meningkatkan tekanan intraabdominal sehingga terjadi kelemahan otot – otot abdomen yang dapat menimbulkan terjadinya hernia inguinalis, yang dapat menjadi hernia scrotalis bila kantong hernia inguinalis mencapai scrotum. Adapun insiden hernia yang terjadi di Amerika Serikat pada tahun 2007 sekitar 700.000 operasi hernia yang dilakukan tiap tahunnya. Indirek inguinalis hernia di sisi kanan, adalah tipe hernia yang paling banyak dijumpai pria dan wanita, sekitar 25% pria dan 2% wanita mengalami hernia inguinalis. Sedangkan hernia femoralis hanya dijumpai pada 3% kasus. Insiden hernia strangulata dan incarserata pada anak – anak 10 – 20%, sebanyak 50% diantaranya terjadi pada anak – anak usia kurang dari enam bulan, sekitar 10 – 30% anak –anak memiliki hernia dinding perut, sebagian besar hernia tipe ini menutup saat berusia satu tahun. Di Indonesia tahun 2007 sekitar 60% hernia terjadi di sebelah kanan, 30% di sebelah kiri dan 10% di kedua sisi. Hernia inguinalis lateralis terjadi lebih sering dari hernia inguinalis medialis dengan perbandingan 2 : 1, dan diantara itu ternyata pria lebih sering 7 kali lipat

1

terkena dibandingkan dengan wanita. Semakin bertambahnya usia kita, kemungkinan terjadinya hernia semakin besar. Hal ini dipengaruhi oleh kekuatan otot-otot perut yang sudah mulai melemah. Tujuh puluh lima persen dari seluruh hernia abdominal terjadi di inguinal (lipat paha). Yang lainnya dapat terjadi di umbilikus (pusar) atau daerah perut lainnya. Hernia inguinalis dibagi menjadi 2, yaitu hernia inguinalis medialis dan hernia inguinalis lateralis. Jika kantong hernia inguinalis lateralis mencapai skrotum (buah zakar), hernia disebut hernia skrotalis.
B.

TUJUAN

1. Tujuan Umum

Mampu melaksankan asuhan keperawatan perioperatif pada klien dengan Hernia Scrotalis.
2. Tujuan khusus a. Mampu melaksanakan pengkajiaan pada

asuhan

keperawatan

klien

dengan Hernia Scrotalis.
b. Mampu memberikan asuhan keperawatan pre operasi dengan kasus

hernia Scrotalis
c. Mampu memberikan asuhan keperawatan intra operasi dengan kasus

hernia Scrotalis
d. Mampu memberikan asuhan keperawatan post operasi dengan kasus

hernia Scrotalis
C.

MANFAAT PENULISAN Dapat membandingkan teori yang didapat di bangku kuliah dengan

1. Bagi Individu

kenyataan yang ada di lapangan dan mendapatkan pengalaman langsung pelaksanaan praktek dirumah sakit.
2. Bagi Rumah Sakit

Membantu memberikan informasi pada rumah sakit tentang asuhan keperawatan keperawatan perioperatif hernia herniotomy scrotalis,

2

3. Bagi Institusi Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Sebagai tambahan kepustakaan dalam pengembangan ilmu kesehatan pada umumnya dan ilmu keperawatan pada khususnya 3 .membantu untuk mendukung pelaksanaan meningkatkan pelayanan operasi yang optimal.

dan lain – lain. hernia umbilikalis. tidak ada keluhan nyeri atau gejala obstruksi MACAM – MACAM HERNIA 1. Urut isinya : Hernia usus halus. Hernia inguinalis adalah suatu keadaan dimana sebagian usus masuk melalui sebuah lubang pada dinding perut kedalam kanalis inguinalis. mis. b. hernia traumatika. Isi hernia keluar jika berdiri atau mengedan dan masuk lagi jika berbaring atau didorong masuk. Hernia Skrotalis adalah hernia inguinalis yang isinya masuk ke skrotum. Hernia skrotalis reponibel adalah suatu keadaan di mana isi hernia dapat keluar masuk dan usus. hernia inguinalis medialias (direk). hernia omentum. hernia diafragmatika. Hernia interna Hernia yang tonjolannya tidak tampak dari luar. hernia sikatrikalis. Menurut/tofografinya : Hernia inguinalis. Keadaannya : Hernia responbilis. Kanalis inguinalis adalah saluran yang berbentuk tabung. hernia visional dan sebagainya. dan sebagainya. hernia dibagi menjadi 2 golongan: a. hernia supra umbilikalis. Ditinjau dari letaknya. 5. hernia femoralis. 2. 4.BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. DEFINISI Hernia adalah ketidak normalan tubuh berupa tonjolan yang disebabkan karena kelemahan pada dinding otot abdomen. Hernia eksterna Hernia yang tonjolannya tampak dari luar yaitu hernia inguinalis lateralis (indirek). hernia umbilikalis hernia femoralis dan sebagainya. yang merupakan jalan tempat turunnya testis dari perut kedalam skrotum sesaat sebelum bayi dilahirkan. B. Causanya : Hernia congenital. hernia . 3. hernia irreponibilis (adalah bila isi kantung hernia tidak dapat dikembalikan ke dalam rongga).

dimedial bawah. omentum. sekitar kanalis inguinalis. kadang berisi organ intraperitoneal lain atau organ ekstraperitoneal seperti ovarium. isi hernia yang biasanya terdiri dari usus. skrotum dan sebagian kecil kulit tungkai atas bagian proksimo medial. hernia strangulata (bila ada gangguan sirkulasi darah/vaskulirasi). Hernia inguinalis lateralis inakserata merupakan hernia yang sering atau paling banyak didapat terutama pada laki – laki.organ lain misalnya paru dan sebagainya. 3 Nervus ilioinguinalis dan iliofemoralis mempersarfi otot diregio inguinalis. Unsur terakhir adalah struktur yang menutupi kantong hernia yang dapat berupa kulit (skrotum) umbilikus atau organ . dan didasarnya terdapat ligamentum inguinale. kanal ini dibatasi oleh annulus inguinalis eksternus.transversu abdominis. Kanal berisi tali sperma padapria. apendiks divertikel dan buli – buli. Disebut inkaserata karena hernia yang isi kantongnya tidak dapat kembali ke dalam rongga perut disertai gangguan passage dan atau vaskularisasi. 6. diatas tuberkulum pubikum.dan ligamentum rotundum pada wanita. dan tali sperma. C. dengan bentuknya bulat lonjong. . BAGIAN-BAGIAN HERNIA Hernia terdiri dari 3 unsur yaitu kantong hernia yang terdiri dari peritoneum.inkarserata. Nama penemunya : Hernia Petit (di daerah lumbosakral) .oblikus eksternus. Kanalis inguinalis dibatasi dikranio lateral oleh annulus inguinalis internus yang merupakan bagian terbuka dari fasia tranversalis dan aponeurisis m. serta sensibilitas kulit diregio inguinalis.Hernia Spigelli (terjadi pada lenea semi sirkularis) di atas penyilangan rasa epigastrika inferior pada muskulus rektus abdominis bagian lateral.Hernia Richter : yaitu hernia dimana hanya sebagian dinding usus yang terjepit. bagian terbuka dari aponurisis m.

Disebabkan adanya tekanan intraabdominal yang meningkat dan dalam waktu yang lama. d.D. kaki. g. Hernia inguinal sering terlihat sebagai tonjolan intermitten yang secara berangsur. c. b. . Didapat (acquired): Terjadi setelah dewasa atau pada usia lanjut. belakang. ETIOLOGI Kongenital: Terjadi sejak lahir. sakit atau rasa terbakar didaerah lipat paha yang mungkin didapatkan sebelum perkembangan dari penonjolan yang nyata. e. 2. Penyebab terjadinya hernia ada dua yaitu : 1.-angsur meningkat dalam ukuran dan menjadi ketidaknyamanan yang progresif dan persisten yang progresif. Kadang hanya sedikit nyeri . Gejala itu mungkin tidak hanya didapatkan didaerah inguinal tapi juga menyebar kedaerah pinggul.: a. Mengangkat beban yang terlalu berat Batuk Kegemukan Mengedan Kehamilan Asites (penumpukan cairan abnormal di dalam rongga perut) Aktifitas fisik yang berlebihan MANIFESTASI KLINIS E. Ketidaknyamanan ini memperjelas onset dari symtomp hernia yang sering dideskripsikan sebagai rasa sakit dan sensasi terbakar. atau kedaerah genital. f. mis.

Patofisiologi Kanalis inguinalis dalam kanal yang normal pada fetus pada bulan ke-delapan dari kehamilan.Bila prosesus terbuka sebagian. Gejala ketidaknyamanan pada hernia biasanya meningkat dengan durasi atau intensitas dari kerja.Tetapi dalam beberapa hal sering belum menutup karena testis yang kiri turun terlebih dahulu dari yang kanan. Apabila isi hernia keluar melalui rongga peritoneum melalui annulus inguinalis internus yang terletak lateral dari pembuluh epigastrika inferior kemudian hernia masuk ke dalam hernia kanalis inguinalis dan jika cukup panjang. biasanya tidak mengindikasikan atau menunjukkan mula timbulnya hernia.Disebut "Reffered pain" gejala ketidaknyamanan ini dapat mempercepat keadaan yang berat dan menyusahkan. pekerjaan mengangkat beban berat. Penurunan testis ini akan menarik peritoneum ke daerah skrotum sehingga terjadi tonjolan perioneum yang disebut dengan prosesus vaginalis peritoniae. maka kanalis inguinalis yang kanan lebih sering terbuka.Rasa tidak enak yang ditimbulkan oleh hernia selalu memburuk disenja hari dan membaik pada malam hari. pada orang tua kanalis tersebut telah menutup namun karena merupakan lokus minor resistence. sehingga isi rongga perut tidak dapat melalui kanalis tersebut. Bila bayi lahir umumnya prosesus ini mengalami obliterasi. maka akan timbul hidrokel. bila kanal terbuka terus. kanalis tersebut dapat terbuka kembali dan hernia inguinalis lateral akuista keadaan yang dapat menyebabkan peningkatan tekanan intraabdominal adalah kehamilan. F. kanal yang terbuka ini akan menutup pada usia 2 bulan. mengejan saat defekasi. menonjol keluar dari annulus inguinalis eksternus. karena prosesus tidak terobliterasi maka akan timbul hernia inguinalis lateralis congenital. terjadinya desensus vestikulorum melalui kanal tersebut. meskipun tidak selalu. dan bila berlanjut . maka pada keadaan yang menyebabkan tekanan intra abdominal meningkat. tapi kemudian dapat mereda atau menghilang dengan istirahat. miksi misalnya pada hipertropi prostat.batuk kronis. Nyeri lipat paha tanpa hernia yang dapat terlihat.Dalam keadaan normal. saat klien berbaring bersandar dan hernia berkurang.

Sejalan dengan bertambahnya umur. Biasanya hernia pada orang dewasa ini terjadi karena usia lanjut. muntah dan konstipasi.Bila isi perut terjepit dapat terjdi shock. .Bila inkarserata dibiarkan.Bila terjadi penyumbatan dan perdarahan akan timbul perut kembung. demam.tonjolan akan sampai ke skrotum yang disebut herna skrotalis. Terjadi penekanan terhadap cincin hernia. Potensial komplikasi terjadi perlengketan antara isi hernia dengan dinding kantong hernia sehingga isi hernia tidak dapat dimasukkan kembali. akibat semakin banyaknya usus yang masuk. karena pada umur tua otot dinding rongga perut melemah. organ dan jaringan tubuh mengalami proses degenerasi.Timbul edema bila terjadi obstruksi usus yang kemudian menekan pembuluh darah dan kemudian terjadi nekrosis. cincin hernia semakin semakin sempit dan menimbulkan gangguan penyaluran isi usus. maka lama kelamaam akan timbul edema sehingga terjadi penekanan pembuluh darah dan terjadi nekrosis. asidosis metabolik dan abses. juga dapat terjadi bukan karena terjepit melainkan karena ususnya berputar.

PATHWAY .

3. Pada anak-anak cara ini dapat menimbulkan atrofitestis karena tekanan pada taki sperma yang mengandung pembuluh darah testis. Bantalan penyangga Pemakaian bantalan penyangga hanya bertujuan menahan hernia yang telah direposisi dan tidak pernah menyembuhkan sehingga harus dipakai seumur hidup. Namun cara yang berumur lebih dari 4000 tahun ini masih saja dipakai sampai sekarang. 1. Hal ini disebabkan oleh cincin hernia yang lebih elastis dibandingkan dengan orang dewasa. herniayangtelahdireposisi. antara lain merusak kulit dan tonus otot mengancam. kecuali pada klien anak-anak.Herniotomi Pada herniotomy dilakukan pembebasan kantong hernia sampai . Pada anak-anak inkarserasi lebih sering terjadi pada umur dibawah dua tahun. Jika reposisi hernia tidak berhasil dalam waktu enam jam harus dilakukan operasi segera. Reposisi dilakukan dengan menidurkan anak dengan pemberian sedative dan kompres es diatas hernia. Reposisi spontan lebih sering dan sebaliknya gangguan vitalitas isi hernia jarang terjadi jika dibandingkan dengan orang dewasa.G. Bila usaha reposisi ini berhasil anak disiapkan untuk operasi pada hari berikutnya. 4. PENATALAKSANAAN Konservatif penyangga atau penunjang untuk mempertahankan isi Pengobatan konservatif terbatas pada tindakan melakukan reposisi dan pemakaian 2. Reposisi Reposisi tidak dilakukan pada hernia inguinalis strangulate. Prinsip dasar operasi hernia terdiri dari herniotomi dan hernioplasti. Tangan kiri memegang isi hernia membentuk corong sedangkan tangan kanan mendorongnya kearah cincin hernia dengan tekanan lambat tapi menetap sampai terjadi reposisi.Sebaiknya cara ini tidak dinjurkan karena mempunyai komplikasi. reposisi dilakukan secara bimanual. a. Operatif Indikasi operasi sudah ada begitu diagnosis ditegakkan.

Eliminasi Gejala : Konstipasi. b.Hernioplasti Pada hernioplasti dilakukan tindakan memperkecil anulus inguinalis internus dan memperkuat dinding belakang kanalis inguinalis. Fokus Pengkajian 1.kelehernya. kemudian direposisi. Hernioplasti lebih penting artinya dalam mencegah terjadinya residif dibandingkandenganherniotomi. lemas otot . H. m. Tanda : Gangguan dalam berjalan. kantong hernia dijahit-ikat setinggi mungkin lalu dipotong. riwayat pekerjaan yang perlu mengangkat berat. dehidrasi. dan menjahitkan pertemuan m. tranversus internus abdominis dan m.oblikus internus abdominis keligamentum cooper pada metode McVay Bila defek cukup besar atau terjadi residif berulang diperlukan pemakaian bahan sintesis seperti mersilene. transversus abdominis. Aktivitas/istirahat Gejala : Kelemahan. atau menjahitkan fasia tranversa m. Kantong dibuka dan isi hernia dibebaskan kalau ada perlekatan. prolene mesh atau marleks untuk menutup defek. oblikus internus abdominis yang dikenal dengan nama conjoint tendon ke ligamentum inguinale poupart menurut metode Bassini. kelemahan ambulasi 2. mual. tidak mampu melakukan aktivitas yang biasdanya dilakukan. c. muntah Tanda : BB turun. Dikenal berbagai metode hernioplastik seperti memperkecil anulus inguinalis internus dangan jahitan terputus. Herniorhaphy Yaitu membuang kantong hernia disertai tindakan bedah plastik untuk memperkuat dinding perut bagian bawah di belakang kanalis inguinalis. menutupdan memperkuat fasia transversa. Makanan/cairan Gejala : Hilangnya nafsu makan. tidak dapat flaktus Tanda : Adanya retensi urine atau inkontinensia urine 3.

bersin. Gangguan rasa nyaman (nyeri) berhubungan dengan diskontuinitas jaringan akibat tindakan operasi. Kriteria Hasil. Kolaborasi untuk pemberian analgetik. defekasi. nyeri tekan abdomen : Peningkatan suhu 39. intensitas/skala nyeri Rasional : Mengenal dan memudahkan dalam melakukan tindakan keperawatan. semakin memburuk dengan adanya batuk. Rasional : analgetik berguna untuk mengurangi nyeri sehingga klien menjadi lebih nyaman.4. Tanda : Prubahan gara berjalan. Ajarkan teknik relaksasi dan napas dalam Rasional : relaksasi mengurangi ketegangan dan membuat perasaan lebih nyaman e. b.6 . Keamanan Gejala (Doengoes Marilyn E. Tujuan.400C 5. . Atur posisi klien senyaman mungkin Rasional : posisi yang tepat mengurangi penekanan dan mencegah ketegangan otot serta mengurangi nyeri. Pantau tanda-tanda vital. mengangkat benda berat. d. Nyeri/kenyamanan Gejala : Nyeri tekan pada kwadran bawah. Intervensi dan Rasional 1. nyeri tak ada hentinya/ada episode nyeri yang lebih berat secara intermiten. Diagnosa. Tujuan : Nyeri hilang atau berkurang Kriteria Hasil : 1) klien mengungkapkan rasa nyeri berkurang 2) tanda-tanda vital normal Intervensi : a. Anjurkan klien istirahat ditempat tidur Rasional : istirahat untuk mengurangi intesitas nyeri c. 2000 : 472) I.

dll. Rasional : untuk mengurangi risiko infeksi nosokomial. b. Jika ditemukan tanda infeksi kolaborasi untuk pemeriksaan darah seperti Hb dan leukosit. 2) Tanda-tanda vital normal Intervensi : a. Lakukan perawatan terhadap prosedur invasif seperti infus. c. d. Rasional : Jika ada peningkatan tanda-tanda vital besarkemungkinan adanya gejala infeksi karena tubuhberusaha intuk melawan mikroorganisme asing yangmasuk maka terjadi peningkatan tanda vital.2. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan insisi bedah. Pantau tanda-tanda vital. e. Lakukan perawatan luka dengan teknik aseptik. drainase luka. Rasional : perawatan luka dengan teknik aseptic mencegah risiko infeksi. Rasional :penurunan leukosit dari tanda infeksi. Hb dan peningkatan jumlah normal membuktikan adanya tanda- Rasional : Antibiotik mencegah perkembangan mikroorganisme pathogen 3. kateter. Tujuan : tidak ada infeksi Kriteria hasil : 1) luka bersih tidak lembab dan kotor. Tujuan: klien mencapai pemulihan luka tepat waktu tanpa komplikasi Kriteria hasil : 1) TTV dalam batas normal 2) Klien tidak demam 3) Tidak terjadi infeski . Resiko terjadinya infeksi berhubungan dengan luka insisi bedah/operasi. Kolaborasi untuk pemberian antibiotik.

Periksa luka dengan sering terhadap bengkak insisi berlebihan.4) Luka tidak mengeluarkan drainase atau inflamasi Intervensi : a. Gunakan plester kertas/bebat montgonery untuk balutan sesuai indikasi. Rasional: Terjadinya infeksi menunjang perlambatan pemulihan luka. c. Rasional: Penggantian balutan sering dapat mengakibatkan kerusakan pada kulit karena perlekatan yang kuat. Rasional: Mungkin indikatif dari pembentukan hematoma b. Rasional: Meminimalkan stress/tegangan pada tepi luka yang sembuh. perhatikan demam. Pantau tanda-tanda vital dengan sering. inflamasi dan drainase. . d. Bebas insisi selama batuk dan latihan nafas. takikardia dan gemetar. takipnea.

Keluhan Utama Terdapat benjolan pada scrotum sebelah kanan . : Tn. Pegangsaan Dua RT 006/ RW 005 Kec. Identitas Klien b. Pegangsaan Dua RT 006/ RW 005 Kec. dengan klien : Istri 2. a. U S : 44 tahun : Laki-laki : SLTA : Buruh : Menikah : Kel. Identitas Penanggung Jawab Nama Umur Jenis kelamin Pendidikan Pekerjaan Alamat Hub. S : 40 tahun : Perempuan : SLTA : . PENGKAJIAN Identitas Nama Umur Jenis kelamin Pendidikan Pekerjaan Status Marital Alamat Ruangan awal Diagnosa Medis No.(Ibu rumah tangga) : Kel. Kelapa Gading Kota Jakarta Timur Tanggal Pengkajian: 12 November 2012 1.BAB III TINJAUAN KASUS A. Kelapa Gading Kota Jakarta Timur : Anggrek Tengah : Hernia Scrotalis Dextra : 202-40-63 : Ny. MedRec.

Riwayat Kesehatan Sekarang Klien datang ke IGD RSUP Persahabatan pada tanggal 11 November 2012 dengan keluhan terdapat benjolan pada scrotum kanan. Klasifikasi Data a. penyakit TB Paru.3. Pre Operasi 1) 2) 3) Keadaan Umum: Tampak cemas.5°C • • . tapi dapat dimasukkan lagi ke perut. Riwayat Kesehatan Dahulu klien mengatakan sering mengangkat benda berat.00 wib tanggal 10 November 2012. tidak mempunyai penyakit hipertensi. penyakit keturunan lainnya. 6. DM. 5. tidak tenanag. Kesadaran: Compos Mentis Tanda-tanda vital: • • T: 110/80 mmHg HR: 82×/ menit RR: 21×/menit S: 36. Benjolan sudah ada sejak kurang lebih satu tahun yang lalu. dan penyakit menular lainnya. hepatitis. Pada saat dilakukan pengkajian sebelum operasi di ruang pre op IBS. takut jika operasinya gagal dan tampak cemas. juga tidak ada yang mempunyai penyakit keturunan. Benjolan mulai tidak dapat masuk dan disertai sejak malam jam 23. sebelum masuk RS. 4. belum pernah dilakukan operasi. asma. Riwayat Kesehatan Keluarga Klien mengatakan tidak ada anggota keluarga yang pernah mengalami sakit seperti klien. klien mengatakan nyeri sudah tidak dirasakan dan mengatakan khawatir akan melakukan operasi herniotomy untuk pertama kalinya.

. produksi urin lancar.4) Persiapan Pre Op a) b) c) d) e) Puasa 6 jam pre Op makanan padat Puasa 3 jam pre Op Clear Fluid Injeksi Antibiotik Profilaksis Ceftriaxon 2gr di ruang rawat Informed Consent Cairan parenteral : Infus RL 500cc 32 tpm : Sudah f)Jenis Anestesi : Spinal Anestesi g) h) Pencukuran daerah operasi Latihan : Klien sudah diajari teknik nafas dalam untuk menurunkan rasa nyeri i) Pengosongan kandung kemih : Pemasangan DC.

0 0.1.40.1-18.0 11.52 WBC Lymph # Mid # Grand # Lymph % Mid % Grand % HGB RBC HCT MCV MCH MCHC RDW-LV RDW-SD PLT .9 35.8.8 25.1 0.9 57.7.7.5 38.1 2.5.14) Hasil 6.0.17.4.3 0.8 2.6.0 50.1 Satuan 103/uL 10ˆ3/uL 10ˆ3/uL 10ˆ3/uL % % % g/dL 10ˆ6/uL 1% Normal 3.16 40.0.1.70.3 3.4 4.6.1 4.0.0 0. 3 3.5) Pemeriksaan Penunjang Laboratorium Pemeriksaan : darah lengkap (14-12-2011 jam 12.11.0 13.

B.5°C Ds : Do : • Digunakan anastesi spinal • Digunakan instrumen Ds tajam :Do (intra Op) : • Insisi ± 10 cm • TD : 102/70 • Nadi : 78x/menit • RR : 18x/menit Prosedur Pembedahan Risiko cedera Terdapat luka operasi Risiko Infeksi . Analisa Data Data Fokus DS: Klien mengatakan khawatir dan takut akan melakukan operasi Herniotomy untuk pertama kali DO : • Klien tampak gelisah • TD :110/80mmHg • RR:21x/mnt • Etiologi krisis situasi (prosedur pembedahan) Problem Cemas N :82x/mnt • S : 36.

No 1 Rencana Asuhan Keperawatan Dx Kep Cemas berhubungan dengan krisis situasi (prosedur pembedahan) • • • Tujuan Setelah dilakukan tindakan • keperawatan selama 1x10 mengalami kecemasan dengan kriteria hasil: Klien tidak gelisah Pesien tenang TTV dalam batas menit diharapkan klien tidak • Intervensi Kaji dan dokumentasi Jelaskan informasi tingkat kecemasan klien tentang prosedur. • • Kaji TTV Berikan informasi normal yang faktual terkait diagnosis dan tindakan operasi yang dilakukan • Intruksikan klien untuk menggunakan teknik distraksi relaksasi • Kurangi rangsangan yang berlebihan dengan menyediakan lingkungan yang tenang . sensasi yang biasanya dirasakan ketika operasi.Ds:Do (Post Op): • Terdapat Luka Operasi • Kien masih dalam pengaruh anastesi • T : 100/60mmHg Terdapat Incontinuitas Jaringan kulit dan otot (jaringan lunak) Nyeri C.

dengan kriteria: • • • • Tidak terjadi aspirasi Klien tidak terjatuh Tidak terjadi luka Tidak ada luka lain • Lepaskan gigi palsu dan aksesoris klien • Stabilkan tempat tidur dan meja operasi pada saat memindahkan klien dan intra Op • Siapkan peralatan dan bantalan untuk posisi yang dibutuhkan • Jauhkan instrumen dari klien pada saat tidak • digunakan Pantau tanda-tanda vital • Kolaborasi selama intra Op untuk menggunakan teknik septik-antiseptik • Kolaborasi untuk pemberian antibiotik • Lakukan perawatan luka dengan teknik aseptikantiseptik • Pantau TTV • Kaji tingkat nyeri klien setiap hari • Berikan posisi nyaman. rubor. kalor. mis. fungsi lasea 4. tumor.2. Risiko tinggi cedera berhubungan dengan anastesi dan instrumen tajam yang digunakan Setelah dilakukan tindakan keperawata selama operasi. TTV dalam batas Tidak ada tanda infeksi: dolor. klien tidak mengalami infeksi: • normal • 3. Supine • Ajarkan teknik relaksasi dan distraksi • Kolaborasi dalam pemberian analgetik bakar karena negatif plat selain luka incisi Risiko Infeksi Setelah dilakukan tindakan berhuubunga n dengan terdapatnya luka operasi keperawata selama 3×24 jam. luka operasi • •Setelah dilakukan intervensi Jumlah leukosit keperawatan selama 3×24 jam. nyeri berkurang dengan kriteria: Ekspresi wajah klien tidak meringis kesakitan / tampak tenang • normal • Skala nyeri 2-3 TTV dalam batas . Nyeri behubungan dengan incontinuitas jaringan lunak. klien tidak mengalami cedera sekunder.

5o C Menjelaskan informasi tentang Klien mengerti prosedur.D. sensasi yang biasanya dirasakan ketika operasi Memberi kesempatan klien untuk mengungkapkan perasaannya Klien mengatakan takut jika operasinya gagal. RR:21x/mnt.dx 1 Taggal 12-11-2012 Implementsi Mengkaji tingkat kecemasan Respon Klien mengungkapkan tentang kecemasannya: cemas ringan Mengkaji TTV TD : 110/80 mmHg. penekanan anggota tubuh tidak terjadi Klien tidak terjatuh 22 . meja operasi pada saat memindahkan klien dan intra Op Menyiapkan peralatan dan bantalan untuk posisi yang dibutuhkan cedera. rasa cemasnya berkurang setelah mendapat penjelasan Mengajarkan klien untuk menggunakan distraksi 2 12-11-2012 relaksasi Melepaskan aksesoris klien Klien kooperatif Klien kooperatif Menstabilkan tempat tidur dan Klien kooperatif. Implementasi No. N :82x/mnt S : 36.

45 wib Klien meefek anestesi) T: 100/60 HR: 65×/menit R: 18×/menit Menganjurkan klien untuk menggunakan teknik distraksi dan relaksai Memberikan posisi nyaman. Nadi : 78x/menit.3 12-11-2012 Memantau TTV Klien TD : 102/70.5°C Klien mengerti Kolaborasi dalam pemberian analgetik Klien mendapat terapi analgetik-antipiretik: Tramadol 3×1 23 . RR : 18x/menit Menggunakan teknik aseptik.Tidak terjadi kontaminasi antiseptik selama intra Op Memberikan antibiotik (kolaborasi) 4 12-11-2012 Mengkaji tingkat nyeri klien Mengkaji TTV Klien Antibiotik: Cefazidime 10 gr digunakan pada jam 10. supine Klien tirah baring S: 36.

5° •Terdapat luka incisi A: Masih terdapat resiko infeksi P: Intervensi dilanjutkan: • Pantau tanda-tanda vital • Kolaborasi untuk pemberian antibiotik • Lakukan perawatan luka dengan teknik aseptik-antiseptik • Berikan diet TKTP • Ajarkan klien dan keluarga teknik perawatan 4 12-11-2012 luka di rumah S: Klien mengatakan tidak nyeri O: masih terdapat efek anestesi A: Masalah belum teratasi P: Intervensi diteruskan: • Pantau TTV • Kaji tingkat nyeri klien setiap hari 24 .E. Evaluasi No Dx 1 Tanggal 12-11-2012 Evaluasi S: Klien mengatakan tidak cemas O: Klien tampak tenang A: Masalah teratasi 2 12-11-2012 P: Intervensi dientikan S: Klien mengatakan tidak mengalami cedera selain luka operasi O: Klien tidak mengalami cedera A: Masalah teratasi 3 12-11-2012 P: Intervensi dientikan S: Klien mengatakan tidak demam O: • TD : 102/70 • Nadi : 78x/meni • RR : 18x/menit • S: 36.

Supine • Anjurkan teknik relaksasi dan distraksi • Berikan analgetik sesuai advice 25 . mis.• Berikan posisi nyaman.