You are on page 1of 24

TUGAS PRESENTASI KASUS “DIARE AKUT DEHIDRASI SEDANG E.

C INFEKSI VIRUS”

Disusun oleh : Karina Adistiarini G1A009010

Pembimbing : Dr. Ariadne, Sp.A

JURUSAN KEDOKTERAN FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU-ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN PURWOKERTO

2012

1

BAB I PENDAHULUAN

Diare seringkali dianggap sebagai penyakit sepele, padahal di tingkat global dan nasional fakta menunjukkan sebaliknya. Menurut catatan WHO, diare membunuh dua juta anak di dunia setiap tahunnya, sedangkan di Indonesia, menurut Surkesnas (2001) diare merupakan salah satu penyebab kematian kedua terbesar pada balita (FKUI, 1985). Sebagian besar diare disebabkan oleh infeksi. Akibat dari infeksi saluran cerna antara lain pengeluaran toksin yang dapat menimbulkan gangguan sekresi dan reabsorpsi cairan dan elektrolit dengan akibat dehidrasi, gangguan keseimbangan elektrolit dan keseimbangan asam basa, invasi dan destruksi sel epitel, penetrasi ke lamina propria serta kerusakan mikrovili yang dapat menimbulkan malabsorpsi. Penyebab utama kematian karena diare adalah dehidrasi sebagai akibat kehilangan cairan dan elektrolit melalui tinjanya. Penyebab kematian lain yang penting adalah disentri, kekurangan gizi dan infeksi yang serius seperti pneumonia. Secara umum, penanganan diare adalah untuk mencegah terjadinya dehidrasi serta gangguan keseimbangan elektrolit dan asam basa, kemungkinan terjadinya intoleransi, mengobati kausa diare yang spesifik, mencegah dan menanggulangi gangguan gizi serta mengobati penyakit penyerta. Pemakaian cairan rehidrasi oral secara umum efektif dalam mengkoreksi dehidrasi. Pemberian cairan intravena diperlukan jika terdapat kegagalan oleh karena tingginya frekuensi diare, muntah yang tidak terkontrol dan terganggunya masukan oral ( DepKes, 1999).

2

Campylobacter Salmonella. Definisi Diare secara epidemiologik biasanya didefinisikan sebagai keluarnya tinja yang lunak atau cair tiga kali atau lebih dalam satu hari. Secara klinik. Disentri jejuni Cryptosporidium. Diare cair akut Diare yang terjadi secara akut dan berlangsung kurang dari 14 hari (kebanyakan kurang dari 7 hari). Mungkin disertai muntah dan panas. cholerae. Tidak ada penyebab mikroba tunggal untuk diare persisten( DepKes. yaitu: 1. Kehilangan berat badan yang nyata sering terjadi. Diare cair akut menyebabkan dehidrasi dan bila masukan makanan berkurang juga mengakibatkan kurang gizi. 1999). Akibat penting disentri antara lain ialah anoreksia. Escherichia dan coli enterotoksigenik. penurunan berat badan dengan cepat dan kerusakan mukosa usus karena bakteri invasif. Diare persisten Adalah diare yang mula-mula bersifat akut namun berlangsung lebih dari 14 hari. Entamoeba histolytica dapat menyebabkan disentri yang serius pada dewasa muda tapi jarang pada anak.BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Kematian terjadi karena dehidrasi. Volume tinja dapat dalam jumlah yang banyak sehingga ada resiko mengalami dehidrasi. Vibrio Shigella. Adalah diare yang disertai darah dalam tinja. 3 . 2. dibedakan atas tiga macam sindrom diare. Penyebab terpenting diare cair akut pada anak-anak adalah: rotavirus. 3. Penyebab utama disentri akut adalah Shigella. dengan pengeluaran tinja yang lunak atau cair yang sering dan tanpa darah. Dapat dimulai sebagai diare cair atau disentri.

Coxsackie. tetapi di beberapa tempat dapat lebih dari 9 episod per tahun. C. Epidemiologi Diare adalah penyebab utama kesakitan dan kematian pada anak di negara berkembang.B. Shigella dan sebagainya b) Infeksi virus : Enterovirus ( virus ECHO. protozoa (Entamoeba histolytica. b. Trichuris. 1999). yaitu infeksi di bagian tubuh lain di luar alat pencernaan. Tonsilofaringitis.3 milyar episod dan 3. Pada bayi dan anak yang tersering ialah intoleransi laktosa. Trichomonas hominis ). Rotavirus dan sebagainya c) Infeksi parasit : cacing (Ascaris. Strongyloides).3 episod diare per tahun.3 Hasil survei oleh Depkes diperoleh angka kesakitan diare tahun 2000 sebesar 301 per 1000 penduduk. Adenovirus.coli. Poliomyelitis). Secara keseluruhan anak-anak ini mengalami rata-rata 3. Faktor infeksi 1) Infeksi enteral yaitu infeksi saluran pencernaan yang merupakan penyebab utama diare pada anak. Bronkopneumonia. seperti Otitis Media Akut (OMA). maltosa dan sukrosa). Etiologi 1. Ensefalitis dan sebagainya. Faktor malabsorpsi 1) Malabsorpsi karbohidrat : disakarida (intoleransi laktosa. yaitu: a. E.2 juta kematian setiap tahun pada balita. angka ini meningkat bila di bandingkan survei pada tahun 1996 sebesar 280 per 1000 penduduk ( DepKes. Sekitar 80 % kematian yang berhubungan dengan diare terjad pada 2 tahun pertama kehidupan. fruktosa dan galaktosa). monosakarida (intoleransi glukosa. Jamur ( Candida albicans) 2) Infeksi parenteral. Oxyuris. a) Infeksi bakteri : Vibrio. dengan perliraan 1. Ada beberapa faktor penyebab diare. Giardia lamblia. 2) Malabsorpsi lemak terutama lemak jenuh 4 . Salmonella.

Penyembuhan terjadi bila vili mengalami regenerasi dan epitel vilinya menjadi matang ( DepKes. 2. Penempelan di mukosa dihubungkan dengan perubahan epitel usus yang menyebabkan pengurangan kapasitas penyerapan atau menyebabkan sekresi cairan. 2) Toksin yang menyebabkan sekresi 5 . alergi terhadap makanan d. Hilangnya selsel vili yang secara normal mempunyai fungsi absorpsi dan penggantian sementara oleh sel epitel berbentuk kripta yang belum matang. Feses.3) Malabsorpsi protein c. Makanan dan minuman yang telah terkontaminasi oleh enteropatogen b. Kontak langsung atau tidak langsung (4F = Food. Patogenesis diare akibat virus Rotavirus berkembang biak dalam epitel vili usus halus. beracun. Finger. Cara penularan Pada umumnya cara penularannya adalah orofecal melalui : a. Faktor psikologis Rasa takut dan cemas ( DepKes. Penempelan terjadi melalui antigen yamg menyerupai rambut getar (pili atau fimbria). b. Patogenesis a. menyebabkan usus mensekresi air dan elektrolit. Fly) ( DepKes. Faktor makanan Makanan basi. 1999). menyebabkan kerusakan sel epitel dan pemendekan vili. menyebabkan berkurangnya absorpsi disakarida terutama laktose. 1999). 1999). Kerusakan vili dapat juga dihubungkan dengan hilangnya enzim disakaridase. D. Patogenesis diare akibat bakteri 1) Penempelan di mukosa Bakteri yang berkembang biak dalam usus halus pertama-tama harus menempel mukosa untuk menghindarkan diri dari penyapuan.

coli enteroinvasive dan Salmonella dapat menyebabkan diare berdarah melalui invasi dan perusakan sel epitel mukosa. Cholerae dan beberapa bakteri lain mengeluarkan toksin yang menghambat fungsi sel epitel. Pada manusia 90% infeksi terjadi oleh strain yang tidak ganas dalam hal ini tidak ada invasi ke mukosa dan tidak timbul gejala/ tanda-tanda. E.lamblia menempel pada epitel usus halus dan menyebabkan pemendekan vili yang kemungkinan menyebabkan diare 2) Invasi mukosa E. 6 . Patogenesis diare akibat protozoa 1) Penempelan mukosa G. Toksin yang dihasilkan oleh kuman ini menyebabkan kerusakan jaringan dan kemungkinan juga sekresi air dan elektrolit dari mukosa ( DepKes. 1999). Invasi mungkin diikuti dengan pembentukan mikroabses dan ulkus superfisial yang menyebabkan adanya sel darah merah dan sel darah putih atau terlihat adanya darah dalam tinja.histolytica menyebabkan diare dengan cara menginvasi epitel mukosa di kolon ( ileum) yang menyebabkan mikroabses dan ulkus. V. Keadaan ini baru terjadi jika strainnya sangat ganas.E. Patofisiologi 1. 1999). 3) Invasi mukosa Shigella. Fisiologi usus Diare cair disebabkan oleh karena gangguan pada mekanisme transport air dan elektrolit di usus halus ( DepKes. E. meskipun kista amoeba dan trofozoit mungkin ada di dalam tinjanya ( DepKes. 1999).jejuni. c. Ini terjadi sebagian besar di kolon dan bagian distal ileum. C. Toksin ini mengurangi absorpsi natrium melalui vili dan mungkin meningkatkan sekresi chloride (Cl-) dari kripta yang menyebabkan sekresi air dan elektrolit.coli enterotoksigenik.

Mekanisme diare: Prinsip mekanisme terjadinya diare cair. b. Keseimbangan cairan normal Dalam keadaan normal absorbsi dan sekresi air dan elektrolit terjadi di sepanjang usus 2 liter cairan setiap hari. Hal ini terjadi bila absorpsi natrium oleh vili gagal sedangkan sekresi klorida di sel epitel berlangsung terus atau meningkat. 3. Kurang dari 7 liter di dalam usus. Diare osmotik Mukosa usus adalah epitel berpori yang dapat dilewati air dan elektrolit dengan cepat untuk mempertahankan tekanan osmotik antara isi usus dengan cairan ekstraseluler. Perubahan ini terjadi karena adanya rangsangan pada mukosa usus oleh toksin bakteri atau virus. Biasanya lebih dari 90 % cairan yang masuk ke usus halus di serap dan sekitar 1 liter sampai ke usus besar. yaitu: a. 1985). Karena absorbsi cairan lebih besar dari pada sekresinya hasil akhirnya adalah absorbsi cairan lebih besar (FKUI. 1999). Hasil akhir adalah sekresi cairan yang mengakibatkan kehilangan air dan elektrolit dari tubuh sebagai tinja cair. 4.2. Penyerapan air dan elektrolit Absorbsi air di usus halus disebabkan karena derajat osmolaritas yang terjadi apabila bahan terlarut (khususnya natrium) diabsorpsi secara aktif dari lumen usus oleh sel epitel vili. Diare sekretorik Disebabkan karena sekresi air dan elektrolit ke dalam usus halus. Bila volume cairan ini melebihi kapasitas absorbsi usus besar terjadilah diare ( DepKes. Diare dapat 7 . Di usus besar terjadi penyerapan lebih lanjut dan hanya 100-200 ml air dikeluarkan setiap hari dalam bentuk tinja. Hal ini menyebabkan terjadinya dehidrasi. air dan elektrolit secara serentak diabsorbsi oleh vili dan disekresi oleh kripta epitel mukosa menyebabkan aliran air dan elektrolit antara usus dan darah bersifat dua arah.

yang merupakan penyebab kematian pada diare. Kehilangan air (dehidrasi) Dehidrasi terjadi karena kehilangan air (output) lebih banyak dari pada pemasukan air (input). kolaps kardiovaskuler dan kematian.terjadi apabila suatu bahan yg secara osmotik aktif dan sulit diserap. Kehilangan tersebut dapat menyebabkan dehidrasi. Tabel 1. Sebaliknya bila peristaltik usus menurun akan mengakibatkan bakteri tumbuh berlebihan yang selanjutnya dapat menimbulkan diare pula ( DepKes. mmol/l Na Kolera Dewasa Balita Diare non kolera Balita Larutan oralit 56 90 25 20 55 90 14 30 140 101 13 27 104 92 44 32 K Cl HCO3 Semua akibat diare cair disebabkan karena kehilangan air dan elektrolit tubuh melalui tinja. Berdasarkan banyak cairan yang hilang dapat dibagi menjadi : 8 . Dehidrasi adalah keadaan yang paling berbahaya karena dapat menyebabkan penurunan volume darah (hipovolemia). 1999). 5. sehingga timbul diare. Jika bahan semacam itu berupa larutan isotonik. Komposisi rata-rata elektrolit. Motilitas usus Hiperperistaltik akan mengakibatkan berkurangnya kesempatan usus menyerap makanan. Komposisi elektrolit tinja pada diare akut dan larutan oralit. asidosis metabolik dan kekurangan kalium. air dan bahan yang larut didalamnya akan lewat tanpa diabsorpsi sehingga terjadi diare. Kehilangan sejumlah air dan elektrolit bertambah bila ada muntah dan kehilangan air juga meningkat bila ada panas. c.

bila kadar Na dalam plasma 130 – 150 mEq/l b. Dehidrasi Berat. yaitu kadar Na dalam plasma < 130 mEq/l c.tidak haus Periksa : Turgor kulit Kembali cepat Haus. bila kadar Na dalam plasma > 150 mEq/l. Dehidrasi berat Berdasarkan tonisitas plasma dapat dibagi menjadi : a. Dehidrasi isotonik (isonatremia). Dehidrasi sedang c. Dehidrasi ringan b. ingin Malas minum Ada dan Basah Tidak ada Kering Tidak ada Sangat kering minum banyak atau tidak bisa minum Kembali lambat Kembali sangat lambat Hasil pemeriksaan Tanpa dehidrasi Dehidrasi ringan/sedang. sadar B Gelisah. Tabel 2. Penilaian penderita dehidrasi Penilaian Lihat umum : A Keadaan Baik.a. Dehidrasi hipertonik (hipernatremik). Bila ada 1 tanda Bila ada 1 tanda di atas ditambah di ditambah 1/lebih lain 9 atas 1/ lebih tanda lain tanda . rewel C Lesu lunglai/tidak sadar Mata Normal Cekung Sampai cekung &kering Air mata Mulut lidah Rasa haus Minum biasa. Dehidrasi hipotonik (hiponatremik).

Dehidrasi sedang. rewel * Mata cekung * Haus. minum dengan lahap * Cubitan kulit perut kembalinya Lambat Tidak ada cukup tanda-tanda untuk diklasifikasikan sebagi dehidrasi berat atau ringan/sedang TANPA DEHIDRASI DEHIDRASI RINGAN/SEDANG DEHIDRASI BERAT f. bila terjadi penurunan BB 2 ½ . Kehilangan berat badan 1. bila terjadi penurunan BB 5 -10 % 4.Terapi Rencana terapi Rencana terapi Rencana A B C terapi Tabel 3. bila terjadi penurunan BB 2 ½ % 2. bila terjadi penurunan BB > 10% 10 . Dehidrasi ringan.5 % 3. Dehidrasi berat. Tidak ada dehidrasi. Penilaian dehidrasi menurut MTBS Terdapat dua/lebih dari tandatanda berikut ini : * Letargis atau tidak sadar * Mata cekung * Cubitan kulit perut kembalinya sangat lamabat Terdapat dua atau lebih dari tandatanda berikut ini : * Gelisah.

Skor Maurice King Bagian tubuh Nilai untuk gejala yang ditemukan 0 Sehat 1 2 yang diperiksa Keadaan umum Gelisah. 2. Nilai 0 -2 : dehidrasi ringan Nilai 3 -6 : dehidrasi sedang Nilai 7 -12 : dehidrasi berat(FKUI. apatis. F. Mengigau. mata dan ubun – ubun besar menjadi cekung.g. maka gejala dehidrasi mulai tampak. Mula – mula bayi dan anak menjadi cengeng. Gejala muntah dapat terjadi sebelum / sesudah diare dan dapat disebabkan oleh lambung yang turut meradang atau akibat gangguan keseimbangan asam basa dan elektrolit. anus dan daerah sekitarnya lecet karena seringnya defekasi dan tinja makin lama makin asam sebagai akibat banyaknya asam laktat yang berasal dari laktosa yang tidak dapat diabsorbsi usus selama diare. suhu tubuh biasanya meningkat. nafsu makan berkurang atau tidak ada. 1985). 1985). cengeng. kemudian timbul diare. Bila penderita telah kehilangan banyak cairan dan elektrolit. Pada diare oleh karena intoleransi. 3. selaput lendir bibir dan mulut serta kulit tampak kering (FKUI. mengantuk koma/syok Sangat kurang Sangat cekung Sangat cekung Kering & sianosis Lemah > 140 Kekenyalan kulit Mata UUB Mulut Denyut nadi/menit Normal Normal Normal Normal Kuat < 120 Sedikit kurang Sedikit cekung Sedikit cekung Kering Sedang (120-140) Berdasarkan nilai skor dapat ditentukan derajat dehidrasi : 1. berat badan turun. turgor kulit berkurang. Tinja cair dan mungkin disertai lendir dan atau darah. Gejala Klinis 11 .

Anak lebih besar dan dewasa Haus. ekstremitas dingin. tekanan darah menurun. ekstremitas dingin.lemas. sianotik dan berkeringat. Ubun-ubun besar Elastisitas kulit Normal Pada elastisitas segera. Gejala Klinis Gejala klinis Derajat dehidrasi Ringan Keadaan umum dan kondisi . mungkin Dalam dan cepat. diuresis berkurang (oliguria sampai 12 . mungkin % kehilangan berat Perkiraan kehilangan cairan 4-5 % 40-50 ml/kg 6-9 % 60-90 ml/kg > 10 % 100-110 ml/kg Pada dehidrasi berat.Bayi & anak kecil Haus. kulit jarijari tangan da kaki keriput. gelisah Haus. . sadar. somnolen sampai soporokomatous). Pernafasan Normal Dalam. volume darah berkurang sehingga dapat terjadi renjatan hipovolemik dengan gejala – gejala yaitu denyut jantung menjadi cepat. pencubitan. denyut nadi cepat dan kecil. kembali Cekung Lambat Sangat cekung Sangat lambat (<2”) Mata Air mata Selaput lendir Pengeluaran urin Normal Ada Lembab Normal Cekung Kering Kering Berkurang dan warna tua Sangat cekung Sangat kering Sangat kering Tidak ada urin untuk beberapa jam. kesadaran menurun (apatis. cepat. sadar. gelisah Haus. mungkin Sedang Berat letargi tetapi iritabel. kadang tak teraba. Nadi radialis Normal (frekuesi & isi) Cepat dan lemah Cepat. Tekanan sistolik darah Normal Normal-rendah > 80 mmHg. koma. Biasanya sadar. kandung kencing kosong. gelisah. tidak teratur. atau Mengantuk.Tabel 4. penderita menjadi lemah. kejang otot. Akibat dehidrasi. sianotik berkeringat. sadar. halus. merasa pusing pada perubahan posisi gelisah.

karena asidosis metabolik yang terjadi akibat kekurangan bikarbonat menyebabkan kalium berpindah dari cairan intraseluler ke ekstraseluler untuk mengganti ion hidrogen. kehilangan bikarbonat banyak diganti dan kehilangan basa yang berat tidak akan terjadi. Gejala-gejala hipokalemi adalah : 1) Kelemahan otot secara umum 13 . Kehilangan ini paling banyak pada bayi dan dapat menjadi berbahaya pada anak yang kurang gizi. Hal ini dapat dicegah dengan mengganti kalium dan mengoreksi kekurangan basa pada saat yang sama ( FKUI. 1985). mungkin < 7 Nafas cepat dan dalam yang membantu meningkatnya pH arteri dan mengakibatkan kompensasi alkalosis respiratorik d.anuria). Bila ginjal berfungsi normal . Kemudian kekurangan basa dan asidosis terjadi dengan cepat. < 10 mmol/l pH arteri menurun. Akibat produksi asam laktat yang berlebihan ketika penderita megalami syok hipovolemik. 1985). Bila sudah ada asidosis metabolik. hipokalemi biasanya tidak terjadi. 2. c. pergantian ini cepat berubah dan menjadi hipokalemi. Namun begitu bila asidosis metabolik dikoreksi dengan memberi bikarbonat. Asidosis Metabolik Pada saat diare sejumlah besar bikarbonat dapat hilang melalui tinja. b. Adanya muntah (FKUI. Bila kalium dan bikarbonat hilang bersamaan. tampak pucat dengan pernafasan yang cepat dan dalam (pernafasan Kussmaul). Bila mekanisme kompensasi ini gagal akibat fungsi ginjal menurun aliran darah ke ginjal kurang karena hipovolemi. Konsentrasi bikarbonat serum berkurang . Hipokalemia Penderita diare sering mengalami penurunan kadar kalium karena kehilangan banyak melalui tinja. yang sebelumnya sudah mengalami kekurangan kalium. Gambaran utama dehidrasi asidosis meliputi : a. jadi mempertahankan kalium serum dalam tingkat normal atau bahkan sedikit meningkat. 1.

4. Pemeriksaan kadar elektrolit terutama natrium. Gangguan sirkulasi Berupa renjatan syok hipovolemik akibat gangguan perfusi jaringan ( Nelson. 1999). G. 5.3% dari anak-anak yang menderita diare. pengenceran susu atau gangguan pencernaan makanan ( Nelson.2) Aritmia jantung 3) Ileus paralitik terutama bila diberikan juga obat-obatn yang megurangi peristaltik (seperti opium) 3. lebih sering terjadi pada anak yang sebelumnya menderita KKP (Kurang Kalori Protein). Pemeriksaan tinja a. hipoglikemi jarang terjadi. 1999). Pada anak-anak dengan gizi cukup/baik. 1999). Hipoglikemia Hipoglikemi terjadi pada 2. pH dan kadar gula dalam tinja dengan kertas lakmus dan tablet elinitest. kalsium dan fosfor dalam serum (terutama bila kejang) 14 . kalium. Pemeriksaan Laboratorium 1. bila di duga intoleransi gula c. Pemeriksaan kadar ureum dan kreatinin untuk mengetahui faal ginjal 4. bila perlu lakukan pemeriksaan biakan/ uji resistensi 2. Gangguan gizi Pada pasien diare biasanya terjadi penurunan berat badan karena makanan yang dihentikan. Gejala ini timbul bila kadar glukosa turun sampai 40 mg % pada bayi dan 50mg% pada anak-anak ( Nelson. Makroskopis dan mikroskopis b. Pemeriksaan gangguan keseimbangan asam basa dalam darah dengan menentukan pH dan cadangan alkali atau lebih tepat lagi dengan pemeriksaan analisa gas darah menurut ASTRUP (bila memungkinkan) 3.

Dehidrasi (ringan. b) Infeksi sistemik Seperti alat pernafasan. 1999). Renjatan hipovolemik 3. karena selain diare dan muntah penderita juga mengalami kelaparan ( Nelson. c) Kejang Sebagian penderita diare dapat disertai kejang baik sebelum atau sesudah dehidrasi terjadi penyebabnya antara lain kejang demam. Penyakit penyerta pada diare: a) KKP ( Kurang Kalori Protein ) KKP dapat menyebabkan diare karena adanya malabsorpsi makanan dan infeksi alat pencernaan. I. isotonik dan hipertonik ) 2. 1985). hipoglikemi dan ensefalitis ( Nelson. Komplikasi 1. Pemeriksaan intubasi duodenum untuk mengetahui jasad renik atau parasit secara kualitatif dan kuantitatif. Kejang. terutama pada penderita diare kronik (FKUI. 1999). dan sebagainya. Sebaliknya diare akan menyebabkan absorbsi makanan terganggu dan berkurang sehingga akan menyebabkan bertambah beratnya derajat KKP penderita. perubahan pada elektrokardiogram ) 4. berat. Pemberian cairan (rehidrasi awal dan rumat). 8. Intoleransi laktosa sekunder. lemah. morbili. Selain dapat menyebabkan suhu penderita meningkat juga dapat menyebabkan diare dan dehidrasi. sebagai akibat defisiensi enzim laktase karena kerusakan vili mukosa usus halus 6. Penatalaksanaan Dasar pengobatan diare adalah : 1. H. gangguan elektrolit (terutama hipernatremi). terutama pada dehidrasi hipertonik 7. Hipokalemia (dengan gejala meteorismus. Hipoglikemi 5. 15 . Malnutrisi energi protein. sedang. hipotonik.5. bradikardi. hipotonik otot.

sedang dan tanpa dehidrasi dan bila anak mau minum serta kesadaran baik. DG aa (1 bagian lar. dan sebagainya. Per oral untuk dehidrasi ringan. dan lain – lain. Jalan pemberian cairan a. Penderita dengan terapi oral biasa gagal karena : 1. Intravena untuk dehidrasi berat dan kegagalan terapi rehidrasi oral Sejumlah pasien dengan dehidrasi ringan / sedang tidak dapat diobati secara memadai dengan oralit melalui mulut. Darrow 1 bagian larutan Glukosa 5 %). 1999). Obat – obatan ( Nelson. terapi IV diperlukan sampai muntahnya hilang. sedang atau tanpa dehidrasi.2.1 Pemberian cairan pada diare dehidrasi murni 1. c. Dietetik (pemberian makanan). Penderita ini harus diberikan terapi IV. Tingginya tingkat kelahiran cairan (seringnya buang air besar dalam tinja cair dengan jumlah yang banyak). Beberapa penderita dengan tingkat kehilangan cairan yang tinggi mungkin tidak bisa minum cukup oralit untuk menggantikan kehilangan cairan yang berkelanjutan sehingga keadaan dehidrasi makin buruk. Cairan rehidrasi oral: oralit. I. b. Intragastrik untuk dehidrasi ringan. Jika tanda – tanda dehidrasi tidak membaik atau makin memburuk. 2. Muntah biasanya hilang ketika air dan elektrolit terganti. Muntah terus menerus Kadang – kadang muntah yang berulang – ulang menghambat berhasilnya rehidrasi oral. Ketidakmampuan untuk minum 16 . DG 1 : 2. larutan gula garam. 3. tetapi anak tidak mau minum atau kesadaran menurun. Beberapa penderita harus diobati selama beberapa jam dengan cairan IV sampai tingkat kehilangan cairan berkurang. Cairan parenteral: RL. Jenis cairan a. 2. 3. b.

hipokalemia atau diberikan sampai diare hilang. Tetapi bila hal ini terjadi penggunaan oralit dapat menyebabkan bertambahnya diare dengan sejumlah besar glukosa yang tidak diserap dengan tanda – tanda dehidrasi yang memburuk atau tes menunjukkan terdapat sejumlah besar glukosa pada tinja. Perut kembung atau ileus Jika perut mulai kembung. loperamide). 3.Beberapa penderita tidak dapat minum oralit dalam jumlah yang tepat karena sakit atau radang pada mulut (contoh : campak. Jumlah cairan Jumlah cairan = PWL + NWL + CWL PWL = Previous Water Loss (ml/kgBB) (Jumlah cairan yang hilang. Cairan IV harus candu (kodein. Terapi IV atau terapi nasogastrik diperlukan untuk penderita ini. terapi IV diperlukan. NWL = Normal Water Loss (ml / kgBB) (Terdiri dari urin + jumlah cairan yang hilang melalui penguapan pada kulit dan pernafasan). Malabsorpsi glukosa Kegagalan penyerapan glukosa yang bermakna secara khas adalah tidak biasa selama diare akut. kira – kira 25 ml / kgBB / 24 jam). Ileus paralitik (hambatan mobilitas isi perut) mungkin alasan kembung perut. Anak juga menjadi sangat haus. CWL = Concomitant Water Loss (ml / kgBB) (Jumlah cairan yang hilang melalui muntah dan diare. Jika kembung bertambah atau jika ada bising usus. oralit harus diberikan lebih lambat. Gejala ileus paralitik disebabkan oleh obat yang mengandung keduanya. sariawan dan herpes). biasanya berkisar 5 – 15 % dari BB (ml / kgBB). karena kelelahan atau mengantuk karena obat (seperti antiemetik atau obat antimotilitas). 4. 5. 17 .

5 Derajat dehidrasi Derajat Dehidrasi Ringan Sedang Berat PWL 50 75 125 NWL 100 100 100 CWL 25 25 25 Jumlah 175 200 250 I. Belum ada dehidrasi .7 jam berikutnya : 12 ml/kgBB/jam atau 4 tts/kgBB/menit (dengan infus berukuran 1 ml = 20 tts) .1 jam pertama : 40 ml/kgBB/jam atau 13 tts/kgBB/menit (dengan infus berukuran 1 ml = 20 tts) .1 jam pertama : 25 – 50 ml / kgBB per oral / intragastrik . b. Dehidrasi sedang . 20 jam II diberikan sisanya (3 x BB tts/mnt). Dehidrasi ringan . Dehidrasi berat Untuk anak 1 bulan – 2 tahun dengan BB 3 – 10 kg .1 jam pertama : 50 – 100 ml / kgBB per oral / intragastrik.Selanjutnya c. 18 . .2 Kecepatan Pemberian Cairan a.Parenteral dibagi rata dalam 24 jam.16 jam berikutnya : 3 tts/kgBB/menit (dengan infus berukuran 1 ml = 20 tts) Cara lain adalah : 4 jam I diberikan 1/3 dari kebutuhan cairan yang telah : 125/ml/kgBB/hari atau ad libitum : 125 ml / kgBB / hari atau ad libitum diperhitungkan (6 x BB tts/mnt). .Oral sebanyak anak mau minum (ad libitum) atau 1 gelas setiap kali buang air besar.Tabel.Selanjutnya d.

4 Pengobatan Medikamentosa 1. Insiden diare pada bayi yang mendapat ASI Pada pelaksanaan dietetik. Dengan cara ini penyembuhan penderita dapat lebih cepat. I. I. 1999). Untuk anak < 1 tahun atau berat badan < 7 kg. kalori dari pisang adalah 99 kcal dan kandungan kaliumnya 9.Pegangan untuk menggolongkan penderita termasuk dehidrasi berat. diberikan ASI dan susu rendah laktosa dan asam lemak tidak jenuh seperti LLM. diperhatikan faktor – faktor sebagai berikut : a. sedang atau ringan adalah : bila terdapat 2 atau lebih gejala dalam penggolongan tersebut.3 Pemberian makanan pada penderita diare Pemberian makanan per oral diberikan setelah anak rehidrasi. dan kenaikan berat badan lebih baik walaupun frekwensi diare bertambah. diberikan makanan padat atau makanan cair atau susu sesuai dengan kebiasaan makan di rumah ( Nelson. 1999). Buah yang dapat diberikan pada penderita diare adalah pisang.5 mmol/100 gram. Sedangkan untuk anak > 1 tahun dengan berat badan > 7 kg. Antibiotika 19 . Dengan catatan selalu memikirkan resiko yang lebih tinggi. penderita diare akut dengan dehidrasi perlu b. Pertumbuhan kalori dan protein untuk mengejar laju pertumbuhan (catch up growth) membutuhkan kenaikan kalori sekitar 30 % dan protein sekitar 100 % dari keadaan basal untuk menggantikan kehilangan selama diare. sedangkan kalium dibutuhkan untuk mengatasi hipokalemi ( DepKes. bubur susu. Elmiron. Bila ada infeksi terutama diare maka kebutuhan kalori dan protein bertambah karena meningkatnya katabolisme protein tubuh. 1985). maka penderita tersebut dimasukkan dalam golongan dehidrasi berat (FKUI. Pemberian ASI sebaiknya diteruskan walaupun frekwensi intoleransi laktosa tinggi. misal terdapat 2 gejala dehidrasi berat dan 5 gejala dehidrasi sedang.

morfin. Salmonella. 1999). Campylobacter dan sebagainya yang pada umumnya baru diketahui setelah dilakukan biakan. ekstrak beladona. coli). 3) Infeksi berat (bronkopneumonia) diberikan Penisillin Prokain dengan Kloramphenikol 74 mg/kgBB/hari atau Ampisillin 75-100 mg/kgBB/hari ditambah Gentamisin 6 mg/kgBB/hari atau derifat Sefalosporin 30 – 50 mg/kgBB/hari ( DepKes. Anti Diare Obat – obat yang berkhasiat menghentikan diare secara cepat seperti antispasmodik/spasmolitik atau opium (papaverin. 2) Infeksi sedang (bronkitis) diberikan Penisillin Prokain atau Ampisillin 50 mg/kgBB/hari.Pada umumnya antibiotika tidak diperlukan pada semua kasus diare akut karena sebagian besar penyebab diare akut adalah Rotavirus yang sifatnya self limited dan tidak dapat dibunuh oleh antibiotika. 2. ETEC (Entero Toksigenic E. Kolera diberikan Tetrasiklin 25 – 50 mg/kgBB/hari b. Bila terdapat penyakit penyerta seperti : 1) Infeksi ringan (OMA. dsb) justru akan memperburuk keadaan karena akan menyebabkan terkumpulnya cairan di lumen usus. Campylobakter diberikan Eritromisin 40 – 50 mg/kgBB/hari c.000 u/kgBB/hari. melipatgandakan pembiakan bakteri (over growth). codein. Diarenya terlihat tidak ada lagi tetapi 20 . Shigella. gangguan digesti dan absorpsi lainnya. sedangkan hasil biakan baru datang setelah diare berhenti (FKUI. 1985). faringitis) diberikan Penisillin Prokain 50. dilatasi usus. Hanya sebagian kecil saja (10 – 20 %) yang disebabkan oleh bakteri patogen seperti Vibrio Cholerae. Antibiotika diberikan jika penyebabnya jelas seperti : a. Obat ini hanya berkhasiat menghentikan peristaltik usus saja tetapi justru akibatnya sangat berbahaya karena baik pemberi obat maupun penderita akan terkelabui.

Obat anti piretik seperti preparat salisilat (Asetol. 1985). Pengobatan yang paling tepat ialah pemberian cairan secepatnya (FKUI. pektin. 4. 1999). 1985). nikotinamit dan sebagainya tidak akan dapat memperbaiki syok atau dehidrasi beratnya karena penyebabnya adalah kehilangan cairan (syok hipovolemik). tabonal). dan sebagainya telah dibuktikan tidak ada manfaatnya. charcoal (norit. Absorben Obat – obat absorben (pengental tinja) seperti kaolin. Obat – obat stimulan seperti adrenalin. Pemberian dalam dosis kecil ( 0. Anti Emetik Obat anti emetik seperti klorpromazin (largaktil) terbukti selain untuk mencegah muntah dapat mengurangi sekresi dan kehilangan cairan melalui tinja. Aspirin) dalam dosis rendah (25 mg/kgBB/hari) ternyata selain berguna untuk menurunkan panas yang terjadi sebagai akibat dehidrasi atau panas karena infeksi penyerta. juga dapat mengurangi sekresi cairan yang keluar melalui tinja (FKUI. 21 .perut akan bertambah kembung dan dehidrasi bertambah berat yang akhirnya dapat fatal untuk penderita ( DepKes. 3. Bismuth Subsalisit.5 – 1 mg/kgBB/hari) terutama penderita yang disertai muntah – muntah hebat dapat diberikan.

22 .

Penyebab utama diare adalah infeksi rotavirus yang bersifat self limiting sehingga tidak memerlukan pengobatan dengan antibiotika.BAB III KESIMPULAN Diare masih merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang utama. Masalah utama diare akut pada anak berkaitan dengan resiko terjadinya dehidrasi. karena masih tingginya angka kesakitan dan kematian. Hal lain yag perlu diperhatikan adalah pemberian makanan atau nutrisi yang cukup selama diare dan mengobati penyakit penyerta. Upaya rehidrasi menggunakan cairan rehidrasi oral merupakan satu-satunya pendekatan terapi yang paling di anjurkan. Penggantian cairan dan elektrolit merupakan elemen yang penting dalam terapi diare akut. 23 .

283 : 312 Buku Kuliah Ilmu Kesehatan Anak. http://www. EGC. Ilmu Kesehatan Anak volume 2.htm 5.esp. Jakarta 2.or. Penerbit Buku Kedokteran. http://www. Jakarta 3. Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Nelson.DAFTAR PUSTAKA 1. edisi 15. DepKes RI DITJEN.medicastore.pdf 24 . Jilid I. Editor Husein Alatas dan Rusepno Hasan.id/handwashing/media/diare. Buku Ajar Diare. Pendidikan Medik Pemberantasan Diare ( PMPD ) : 1999. Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak FKUI :1985.com/diare/penyebab_diare. PPM dan PLP 4.