You are on page 1of 10

PERAN PENDIDIKAN KESADARAN BELA NEGARA DALAM PERTAHANAN NEGARA

1. Ancaman Militer Pertahanan negara dibangun untuk menjaga kedaulatan negara, keutuhan wilayah serta keselamatan segenap bangsa dari segala bentuk ancaman dan gangguan terhadap keutuhan bangsa dan negara, baik ancaman militer maupun non-militer. Yang dimaksud dengan ancaman militer adalah ancaman yang menggunakan kekuatan bersenjata dan terorganisir yang dinilai mempunyai kemampuan membahayakan kedaulatan negara, keutuhan wilayah negara, dan keselamatan segenap bangsa. Pasal 1 ayat (1) Undang – Undang RI Nomor: 23 Prp Tahun 1959 tentang keadaan Bahaya yang berbunyi : “Presiden/Panglima Tinggi Angkatan Perang menyatakan seluruh atau sebagaian dari wilayah Negara Republik Indonesia dalam keadaan bahaya dengan tingkatan keadaan darurat sipil atau keadaan darurat militer atau perang”. Ancaman militer dapat berupa agresi, pelanggaran wilayah, pemberontakan bersenjata, sabotase, spionase, aksi teror bersenjata, ancaman keamanan laut dan udara, serta konflik komunal. Rincian ancaman militer dalam Undang – undang Nomor 3 Tahun 2002 pada penjelasan Pasal 7 ayat 2 adalah sebagai berikut : a. Agresi berupa penggunaan kekuatan bersenjata oleh negara lain terhadap kedaulatan negara, keutuhan wilayah, dan keselamatan segenap bangsa atau dalam bentuk dan cara-cara, antara lain : 1) Invansi berupa serangan oleh kekuatan bersenjata negara lain terhadap wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. 2) Bombandemen berupa penggunaan senjata lainnya yang dilakukan oleh angkatan bersenjata negara lain terhadap wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. 3) Blokade terhadap pelabuhan atau pantai atau wilayah udara Negara Kesatuan Republik Indonesia oleh angkatan bersenjata negara lain. 4) Serangan unsur angkatan bersenjata negara lain terhadap unsur satuan darat atau satuan laut atau satuan udara Tentara Nasional Indonesia. 5) Unsur kekuataan bersenjata negara lain yang berada dalam wilayah negara Kesartuan Republik Indonesia berdasarkan perjanjian yang tindakan atau keberadaannya bertentangan dengan ketentuan dalam perjanjian.

b. c. d. e.

f. g.

6) Tindakan suatu negara yang mengizinkan penggunaan wilayah oleh negara lain sebagai daerah persiapan untuk melakukan agresi terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia. 7) Pengiriman kelompok bersenjata atau tentara bayaran oleh negara lain untuk melakukan tindakan kekerasan di wilayah Negara kesatuan Republik Indonesia atau melakuakn tindakan tindakan seperti tersebut diatas. Pelanggaran wilayah yang dilakukan oleh negara lain, baik yang menggunakan kapal maupun pesawat non komersial. Spionase yang dilakukan oleh negara lain untuk mencapai dan mendapatkan rahasia militer. Sabotase untuk merusak instalasi penting militer dan objek vital Nasional yang membahayakan keselamatan bangsa. Aksi teror bersenjata yang dilakukan oleh jaringan terorisme internasional atau yang bekerja sama dengan terorisme dalam negara atau terorisme dalam negeri yang bereskalasi tinggi hingga mambahayakan kedaulatan negara, keutuhan wilayah, dan keselamatan segenap bangsa. Pemberontakan bersenjata. Perang saudara yang terjadi antara kelompok masyarakat bersenjata dengan kelompok masyarakat bersenjata lain.

Bagi bangsa Indonesia, spektrum ancaman pertahanan negara yang terbesar, walaupun kecil kemungkinannya adalah agresi berupa penggunaan kekuatan bersenjata yang dilakukan oleh suatu negara yang mengancam kedaulatan negara, keutuhan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia ( NKRI ), dan keselamatan segenap bangsa. 2. Strategi Pertahanan Militer Strategi pertahanan dalam menghadapi ancaman militer disesuaikan dengan sumber, serta bentuk dan besarnya ancaman aktual yang mengancam Indonesia. Sebagaimana diatur dalam pasal 7 Undang – Undang nomor 3 tahun 2002 tentang Pertahanan Negara, bahwa sistem pertahanan negara dalam menghadapi ancaman militer menempatkan TNI sebagai Komponen Utama, didukung oleh Komponen Cadangan dan Komponen Pendukung. Tugas utama TNI adalah menghadapi ancaman militer, yang berbentuk agresi militer yang dilakukan suatu negara dengan tujuan menduduki sebagian atau seluruh wilayah NKRI. Meskipun TNI merupakan Komponen Utama pertahan negara, namum dalam menghadapi ancaman militer, khususnya agresi militer suatu negara, lapis diplomasi sebagai

pertahanan non militer tetap menjadi pilihan sebagai lapis pertama untuk mencegah perang atau mengurangi dampak perang. Ancaman militer yang bentuknya bukan agresi militer dihadapi dalam kerangka menegakkan kedaulatan negara, keutuhan, dan keselamatan bangsa Indonesia. Bentuk ancaman militer yang dimaksud, antara lain, adalah pelanggaran wilayah yang dilakukan oleh negara lain, pemberontakan bersenjata, gerakan separatis, sabotase, spionase, aksi teror yang dilakukan oleh teroris internasional atau bekerja sama dengan teroris dalam negeri atau oleh teroris dalam negeri, ancaman keamana di laut atau udara yurisdiksi nasional, dan konflik komunal. Strategi pertahan menghadapi ancaman militer yang berbentuk bukan agresi dihadapi dengan kekuatan TNI sebagai lapis pertahanan militer, baik secara matra atau secara gabungan salam susunan Tri-Matra Terpadu. Besarnya kekuatan yang dikerahkan disesuaikan dengan bentuk , derajat, dan besaran ancaman yang dihadapi. 3. Pertahanan Nonmiliter 3.1 Ancaman Nonmiliter Ancaman non-militer pada hakikatnya adalah ancaman yang menggunakan faktor – faktor non-militer yang dinilai mempunyai kemampuan yang membahayakan kedaulan negara, keutuhan wilayah negara, dan keselamatan segenap bangsa. Jenis ancaman nonmiliter dibagi menjadi dua. Pertama adalah ancaman yang berkaitan langsung dengan pertahanan negara, misalnya kesengajaan penyebaran penyakit sebagai bagian dari perang biologi. Kedua adalam ancaman nonmiliter yang tidak berkaitan langsung dengan pertahanan negara, misalnya penyebaran penyakit secara alamiah, baik epidemik maupun pendemik. Sifat ancaman non-militer harus dihadapi pulan dengan pendekatan non-militer, sebagaimana diatur dalam pasal 7 Undang – Undang Nomor 3 Tahun 2002 tentang Pertahanan Negara, bahwa sistem pertahanan negara dalam menghadapi ancaman non-militer menempatkan lembaga pemerintahan di luar bidang pertahanansebagai unsur utama, sesuai dengan bentuk dan sifat ancaman yang dihadapi dengan dukungan oleh unsur – unsur lain dari kekuatan bangsa, sedangkan TNI sebagai pendukung. 3.2 Dominasi Ancaman Nonmiliter di Era Globalisai dan Strategi mengjhadapi Memasuki era globalisai yang ditandai dengan pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, komunikasi, dan informasi,

sebagaimana kita rasakan bersama saat ini, setidaknya telah mempengaruhi pola dan bentuk ancaman terhadap kedaulatan suatu negara. Ancaman yang semula bersifat fisik ( konvensional ), yang biasanya juga dihadapi dengan kekuatan fisik ( hard power ), kini, telah berkembang menjadi multidimensional ( fisik dan non fisik ) dengan dominasi ancaman yang bersifat non fisik, serta berasal dari luar dan dari dalam negeri. Jenis ancaman ini merupakan bentuk peperangan baru yang memanfaatkan perkembangan pesat teknologi informasi, termasuk perkembangan di bidang new composite material seperti kimia dan biologi. Bentuk perang di era globalisasi ini antara lain seperti perang informasi, perang ekonomi, perang budaya, politik bahkan perang peradaban. Di sinilah peranan soft power (kekuatan nonmiliter) menjadi sangat penting dan mengemuka dalam menghadapi ancaman perang di abad modern ini. Namun demikian, di sisi lain, globalisasi juga memberikan dampak positif, antara lain ditandai dengan semakin eratnya hubungan antara bangsa di dunia, yang menciptakan suatu kesaling tergantungan antara negara-negara di seantero dunia. Implementasi pendekatannya komprehensif dan integratif, karena pertahanan negara tidak cukup didekati dari aspek militer semata, akan tetapi memerlukan pendekatan yang terpadu secara nonmiliter dengan pendekatan secara militer, sebagai satu kesatuan pertahanan dengan senantiasa menyadarkan pada kesadaran bela negara setiap warga negara. Hal ini juga telah diatur dalam Undang – Undang Nomor 3 tahun 2002 tentang pertahanan Negara pasal 7, bahwa sistem pertahanan negara adalah bersifat semesta yang melibatkan seluruh warga negara, wilayah dan sumber daya nasional lainnya, dan dilaksanakan secara menyeluruh, total dan terpadu. Sistem pertahanan negara dalam menghadapi ancaman non militer menempatkan lembaga pemerintah di luar bidang pertahanan sebagai unsur utama, sesuai dengan bentuk dan sifat ancaman yang dihadapi dengan dukungan oleh unsur- unsur lain dari kekuatan bangsa, termasuk mahasiswa, para intelektual Indonesia yang merupakan bagian dari civil society. 3.3 Pertahanan Non – militer dan Pembinaannya Sebagaimana diatur dalam Undang – Undang RI Nomor 3 Tahun 2002 tentang Pertahanan Negara Pasal 7 bahwa, sistem pertahanan negara dalam menghadapi ancaman non-militer menempatkan lembaga pemerintah di luar bidang pertahanan sebagai unsur utama, sesuai dengan bentuk dan sifat ancaman yang dihadapi dengan didukung oleh

unsur-unsur lain dari kekuatan bangsa. Subtansi pasal tersebut merefleksikan bahwa pertahanan negara merupakan fungsi pemerintahan negara yang cakupannya tidak hanya terbatas pada pertahanan militer, tetapi juga termasuk ke dalam fungsi lembaga pemerintahan di luar bidang pertahanan. Ancaman non-militer ditangani dengan pendekatan nonmiliter, sedangkan fungsi pertahanan militer dapat digunakan dalam kondisi tertentu sebagai unsur bantuan. Di sinilah esensi dari Sistem Pertahanan Semesta yang diwujudkan dengan keterlibatan lembaga pemerintahan di luar bidang pertahanan untuk memerankan fungsi pertahanan sipil dalam penanganan ancaman non-militer. Unsur –unsur pertahanan non-militer berada dalam lingkup wewenang dan tanggung jawab setiap instansi pemerintahan di luar Kementrian pertahanan. Oleh karena itu, pembangunan postur pertahanan non-militer menjadi tanggung jawab seluruh Kementrian atau Lembaga Pemerintah Non Kementrian (LPND), yang pelaksanaannya dikoordinasikan oleh Mentri Pertahanan. 3.4 Pembinaan Kekuatan Pertahanan Nonmiliter Pertahanan negara non-militer harus dapat didudukkan dalam konteks sebagai bentuk diplomasi, pelayanan publik, meningkatkan daya saing dalam ekonomi, memperkuat ikatan sosial budaya, menjaga ketersedian pasokan energi dan jaminan beroprasinya sistem distribusinya secara baik, pelabuhan yang aman, bandara yang aman dan efisien, pelayanan kesehatan yang menjangkau seluruh lapisan masyarakat, serta jaminan keamanan sosial. Dalam Undang-Undang No.3 Tahun 2002 pasal 1 titik 2, yang berbunyi “Sistem pertahanan negara bersifat semesta yang melibatkan seluruh warga negara, wilayah dan sumber daya nasional lainya yang disiapkan secara dini oleh pemerintah dan diselenggarakan total, terpadu, terarah dan berlanjut, untuk menegakkan kedaulat negara, keutuhan wilayah dan keselamatan bangsa dari segala ancaman”. Kesemestaan yang merupakan sifat sitem pertahanan negara (total defence) dalam konteks pertahanan negara mempunyai dua fungsi, yaitu dalam bentuk Pertahanan militer (military defence) dan Pertahanan nonmiliter (non military defence). Fungis pertahanan militer yang dilaksanalkan oleh TNI meliputi fungis operasi militer perang (war) dan operasi militer selain perang/ other than war (OTW) untuk pertahahan non-militer dibentuk komponen cadangan dan komponen pendukung guna memperkuat komponen utama, sedangkan pertahanan sipil (civil defence) untuk menghadapi ancaman non-militer.

Dalam bagan di bawah divisualisasikan kesemestaan sifat sistem pertahanan negara.

PERTAHAHAN SEMESTA

PERTAHANAN MILITER (TNI )

PERTAHANA NONMILITER (SUMDANAS)

OMSP OMP 1. atasi separatis 2. atasi pemberontalk 3. atasi terorisme 4. pam perbatasan 5. pam obvitstrat 6. pam penerb/pelayaran 7. pam pres/wapres 8. bantu pem. bonpotnas 9. bantu pemda 10. bantu polri 11. bantu pam tamu neg. 12. disaster refief 13. SAR ops. 14. peace keeping

KUAT NIR MIL 1. komp. cad 2. komp. duk HAN SIPIL 1. public security 2. disarter mng 3. human ops 4. social & culture 5. ecomomic 6. psyhological def 7. technologi

4. Struktur Komponen Pertahanan Dalam menjaga kemampuan kompnen pertahanan negara harus ada jaminan ketersedian strategi, alat utama sistem senjata, teknologi, industri, serta peralatan pendukung pertahanan lainnya. Pertahanan negara membutuhkan keahlian profesi dalam jangka waktu tertentu, sehingga kepadanya diwajibkan memenuhi panggilan untuk melaksanakan pengabdian sesuai dengan profesinya. Komponen pertahanan yang akan dibangun mencakup: 1) Komponen Utama, dengan membentuk Prajurit TNI baik wajib maupun sukarela; 2) Komponen Cadangan, dengan membekali warga negara dengan latihan dasar kemiliteran; Komponen Cadangan tidak hanya terdiri atas warga negara, tetapi juga juga berupa : sumber daya alam, buatan, serta sarana dan prasarana nasional yang telah disiapkan untuk dikerahkan melalui mobilisasi guna memperbesar dan memperkuat

komponen utama; 3) Komponen Pendukung serta pengabdian warga negara sesuai dengan profesinya. Seluruh deskripsi pertahanan negara terangkum dalam Sistem Pertahanan Negara bersifat Semesta (Sishanta). Secara konstitusional dalam pasal 27 ayat (3) Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, dinyatakan bahwa setiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam upaya pembelaan negara. Mengacu pada lingkup Bab X tentang “Warga Negara Dan Penduduk”, yang menaungi pasal tersebut, maka semestinya bela negara dipahami sebagi “militerisme”, akan tetapi sebagai upaya menjaga eksistensi negara. 5. Peranan Pendidikan Kesadaran Bela Negara dalam Pertahanan Negara Sesuai dengan pasal 9 ayat (2) Undang –Undang RI Nomor 3 Tahun 2002 penyelenggaraan pertahanan Negara, dapat dilakukan melalui: pendidikan Kewarganegaraan; pelatihan dasar militer secara wajib; pengabdian sebagi prajurit Tentara Nasional Indonesia secara cukarela atau secara wajib; kewajiban manjadi Komponen cadangan; kewajiban menjadi komponen pendukung; dan pengabdian sesuai dengan profesi. Pendidikan kesadaran bela negara merupakan pendidikan dasar bela negara. Pendidikan dasar pada suatu negara lazimnya disebut Pendidikan Kewarganegaraan. Pendidikan Kesadaran Bela Negara yang merupakan pendidikan dasar bela negara, dan merupakan bagian dari kompnen sistem pertahanan negara sangat diperlukan dalam menghadapi ancaman militer maupun nonmiliter. 5.1 Nilai Nilai –nilai yang harus dibangun adalah nilai – nilai kedaulatan, nilai kewilayahan, dan nilai keselamata. a. Nilai Kedaulatan adalah nilai berkehendak secara merdeka tanpa tekanan dari siapa dan pihak manapun. Dalam negara kemokrasi, kedaulatan berada ditangan rakyat. Intinya dalam negara demokrasi, penyelenggara negara menjalankan kekuasaannya setelah mendapat persetujuan rakyat. Nilai kedaulatan rakyat dapat dijabarkan kedalam subnilai antara lain : 1) nilai Pancasila; 2) nilai demokrasi; 3) nilai hak asasi manusia; 4) nilai kesejahteraan; 5) nilai kepemimpinan. b. Nilai Kewilayahan adalah ukuran batas ruang lingkup hidup negara berkedaulatan, batas mana negara berdinamika dengan warganya secara timbal balik dalam norma hukum yang disepakati. Menjaga keutuhan wilayah merupakan hal yang mutlak, karena dalam wilayah itulah kehidupan rakyat atau warga negara berlangsung dan tanpa wilayah, eksistensi bangsa tidak akan pernah terwujud.

c. Nilai Keselamatan Bangsa adalah nilai keberlangsungan hidup bangsa di tengah persaingan antara bangsa memperebutkan sumber daya yang terbatas mengembangkan selisih keunggulan. Dalam pembukaan Undang – Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 jelaslahbahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia didirikan untuk melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia. 5.2 Norma Norma diklasifikasikan menjadi: norma khusus dan norma umum. a. Norma Kedaulatan 1. Norma Khusus berlaku pada lingkungantertentu, misalnya morma di lingkungan Univesitas, norma di lingkungan Kementrian, aturan – aturan dalam perdangangan dan lain sebagainya. 2. Norma Umum adalah norma yang berlaku secara umum dalam kehidupan bersama, sebagai pedoman dan pengendali tingakah laku. Norma umum dibagi menjadi : a. Norma sopan santu dalam konteks kedaulatan berarti juga menghargai sesama warga bangsa dan manusia pada umumnya. b. Norma hukum dalam konteks kedaulatan hal ini melindungi kedaulatan telah disusun dalam bentuk UUD RI 1945 beserta peraturan perundang – undangan dibawahnya. c. Norma moral merupakan norma yang sulit dipahami, karena menyangkut hati nurani. b. Norma Kewilayahan 1. Norma Khusus tampak dalam bentuk kearifan lokan dan sangat membantu dalam menjaga wilayah beserta lingkungannya, seperti hutan, dan sumber daya alam lainnya. 2. Noram Umum a. Norma sopan santun dalam masyarakay Indonesia norma ini tampak dalam kebiasaan –kebiasaan seperti ucapan “permisi numpang lewat”, apabila hendak memasuki wilayah tempat tinggal atau kampung warga lain. b. Norma hukum secara huku wilayah Indonesia sebagai negara kepulauan telah terlindungi dengan adanya hukum laut Internasional UNCLOS 1982, Deklarasi Juanda yang dipertegas dengan peraturan pemerintah pengganti Undang –Undang (PERPU) No.4 Tahun 1960 yang diikuti peraturan pelaksanaaan mengenai lalu lintas damai kendaraan laut asing dalam bentuk peraturan pemerintah No.8 Tahun 1962,

Undang – Undang No.23 tahun 997 Tentang Lingkungan Hidup, Undang – Undang No.3 Tahun 2002 tentang pertanahan negara. c. Norma moral menyangkut hati nurani, dalam rangka kontrol diri. c. Norma Keselamatan Bangsa 1. Norma Khusus, dalam bentuk kearifan lokan telah membudaya dalam masyarakat Indonesia. 2. Norma Umum a. Norma sopan santun dalam bentuk berlalu lintas, tidak membicarakan kejelekan orang lain merupaka contoh konkret yang harus dipelihara dalam kehidupan sehari –hari dalam bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. b. Norma hukum upaya untuk keselamatan bangsa telah dilakukan dalam bentuk Pembukana UUD RI 1945, Undang – Undang Keadaan Bahaya, Undang – Undang keselamatan Kerja, Undang –Undang Perlindungan tenaga kerja, dll. c. Norma moral menyangkut hati nurani dalam rangka kontrol diri , baik sebagai rakyat biasa maupun sebagai pejabat publik. 5.3 Moral Moral berkaitan dengan kata “harus”. Harus dalam artian bukan hanya semata – mata menjalankan aturan yang ditetapkan, akan tetapi juga keharusan sebagai manusia untuk memanusiakan manusia. a. Kedaulatan 1) Negara harus menjaga kedaulatan rakyatnya; 2) Negara harus mengakui dan memperlakukan setiap warga negara sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiannya; 3) Negara harus mengikutsertakan seluruh warga negara dalam kehidupan ideologi, politik, ekonomi, sosial – budaya san pertahanan keamanan; Warga negar harus turut serta dalam semua aspek kehidupan negara : a. Menjaga kedaulatan negaranya; b. Menegakkan kehidupan demokrasi; c. Menjaga persatuan dan kesatuan bangsa dan lain sebagainya; b. Keutuhan Wilayah 1. Negara harus menjaga keutuhan wilayahnya; 2. Negara harus mengakui dan memperdayakan setiap warga negara untuk menjaga wilayahnya sebagai ruang hidup

mencakup : ruang ideologi, ruang politik, sosial – buadaya, ekonomi, dan ruang pertahanan negara. c. Keselamatan Bangsa 1. Negara harus menjaga segenap keselamatan , rakyat, dan penduduk, serta warga negaranya yang berdiam di wilayah negara; 2. Negara harus mengakui dan memberdayakan setiap warga negara untuk menjaga keselamatan bersama. 5.4 Etika Etika merupakan sikap kritis terhadap moral. Dalam kerangka hubungan warga negara dengan negara, segala tindakan warga negara maupun negara tidak boleh melanggar etika dalam menjaga kedaulatan, keutuhan wilayah, dan keselamatan bangsa. 5.5 Karakter Pembentukan karakter berkaitan dengan nilai, nilai baru dapat berfungsi jika tersusun dalam norma, selanjutnya dipraktekkan dalam prilaku. Kesadaran bela negara, bila ditinjau dari elemen kekuatan suatu bangsa, tergolong dalam psychological defence atau kekuatan moral. Implemntasi nilai-nilai dasar bela negara diharapakan akan menjadi dasar bagi landasan sikap dan prilaku warga negara dalam kehidupan seharai-hari, guna mewujudkan tata kehidupan masayarakat yang harmonis, demostratif, kondusif, aman, tertib, dan damai. Upaya penanaman kesadara bela negara kepada warga yaitu sebagai berikut : a. Tataran Individu (Personal) b. Tataran Komunitas (Masayarakat) c. Tataran Bangsa (Nation)