You are on page 1of 4

STANDAR ASUHAN KEPERAWATAN FRAKTUR LUMBAL

BAB I PENDAHULUAN A. Pengertian Fraktur / patah tulang adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang dan/atau tulang rawan yang umumnya disebabkan oleh rudapaksa. Trauma yang menyebabkan patah tulang dapat berupa trauma lagsung, misalnya benturan yang dapat menyebabkan fraktur dislokasi yang bersifat tidak stabil; trauma tidak langsung, misalnya jatuh dari ketinggian yang dapat menimbulkan patah tulang vertebra jenis kompressi atau ledakan. B. Etiologi Cedera torakolumbal tidak jarang terjadi sebagai akibat kecelakaan kerja, seperti jatuh dari ketinggian atau kecelakaan lalu lintas. Cedera itu bila tidak ditangani dengan baik, dapat menimbulkan kematian atau kelainan menetap berupa kelumpuhan yang permanen. Kelumpuhan yang terjadi mempunyai dampak perawatan yang rumit dan memerlukan banyak peralatan. Ada 2 tujuan penanganan cedera tulang belakang, yaitu pertama, tercapainya tulang belakang yang stabil serta tidak nyeri, dan kedua, mencegah terjadinya jejas lintang sumsum tulang belakang sekunder. C. Tanda dan Gejala Pada pemeriksaan fisik didapatkan nyeri tulang punggung, memar, atau deformitas. Penderita diminta menggerakkan kedua tungkai untuk mencari kemungkinan gangguan neurologi pada kedua ekstremitas bawah. Pada kompressi yang hebat atau dislokasi akan terdapat pelebaran jarak interspinosus.

D. bisa konserfatif atau operatif. sehigga penyulit seperti dekubitus dapat dicegah. oleh karena penyembuhan jaringan ikat yang tidak baik akan menimbulkan ketidakstabilan yang membahayakan untuk medulla spinalisnya dikemudian hari. Pemeriksaan penunjang  Foto Rontgen  Tomografi (untuk melihat jenis fraktur)  Mielografi (untuk melihat adanya gangguan neurologi)  MRI (menilai jaringan lunak seperti sumsum tulang belakan) E. yaitu dengan melakukan stabilisasi intern bila penderita mengalami gangguan neurologik. Pada tipe tidak stabil permanen perlu dilakukan stabilisasi intern. Pada yang tidak stabil temporer. . Manajemen klinis Pengelolaan cedera torakolumbal pada yang stabil adalah konserfatif yaitu dengan gips badan selama 8 – 12 minggu. Penderita dengan paraplegi tetap memerlukan stabilisasi intern yang bertujuan utama untuk memudahkan perawatan serta mobilisasi segera.

MASALAH YANG LAZIM MUNCUL 1. TUJUAN KEPERAWATAN (NOC) Lihat lampiran 2 C. Nyeri akut 2. Resiko kerusakan integritas kulit (Keterangan mengenai diagnosa lihat lampiran 1) B. Kerusakan mobilitas fisik 3. Resiko infeksi 5. Cemas 4.BAB II STANDAR ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN FRAKTUR LUMBAL A. Perfusi jaringan tidak efektif 6. Sindroma defisit perawatan diri 7. INTERVENSI KEPERAWATAN (NIC) Lihat lampiran 3 .

Edisi 2 Penerbit Buku Kedokteran EGC. 2004. Jakarta. McCloskey. 1995. J. Penerbit Buku Kedokteran EGC. 2. Buku Ajar Bedah Bagian 1. . 5. Nursing G. Nanda. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Buku ajar ilmu bedah. 3. 2001. 2000.M . Philadelphia 4. Sabiston D. Bulechek. Jakarta. St Louis Diagnosis : Definitions Classification 2001-2002. 1996. Jakarta.C. Nursing and Intervention Classification (NIC) Mosby. Keperawatan Medikal Bedah. Sjamsuhidajat R dan Jong W.DAFTAR PUSTAKA 1. Brunner dan Suddarth.