You are on page 1of 51

Presentasi Kasus

DEMAM BERDARAH DENGUE PADA PASIEN ANAK DI RUMAH SAKIT DR. MOEWARDI

Oleh : RESCHITA ADITYANTI SOFINA KUSNADI G9911112121 (G-21-2012) G9911112132 (G-22-2012)

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN ANAK FK UNS / RSUD Dr. MOEWARDI SURAKARTA 2012

BAB I PENDAHULUAN

Infeksi virus dengue merupakan suatu penyakit demam akut yang disebabkan oleh virus genus Flavivirus, famili Flaviviridae, dan mempunyai 4 jenis serotipe, yaitu ; DEN-1, DEN2, DEN-3, DEN-4. Virus ini ditransmisikan melalui perantara nyamuk Aedes aegypti atau Aedes albopictus. Pada saat ini jumlah kasus masih tetap tinggi rata-rata 10-25 per 100.000 penduduk. Umur terbanyak yang terkena penyakit ini adalah kelompok umur 4-10 tahun. Infeksi salah satu serotipe akan menimbulkan antibodi terhadap serotipe yang bersangkutan, sedangkan antibodi yang terbentuk terhadap serotipe lain sangat kurang, sehingga tidak dapat memberikan perlindungan yang memadai terhadap serotipe lain tersebut. Seseorang yang tinggal di daerah endemis dengue dapat terinfeksi oleh 3 atau 4 serotipe selama hidupnya. Keempat serotipe virus dengue dapat ditemukan di berbagai daerah di Indonesia. Di Indonesia, pengamatan virus dengue yang dilakukan sejak tahun 1975 di beberapa rumah sakit menunjukkan bahwa keempat serotipe ditemukan dan bersirkulasi sepanjang tahun. Serotipe DEN-3 merupakan serotipe yang dominan dan diasumsikan banyak yang menunjukkan manifestasi klinik yang berat. Infeksi virus dengue sudah melanda seluruh daerah di Indonesia. Oleh karena itu, semua praktisi kesehatan harus dapat mendiagnosis dan menangani penyakit ini dengan benar.

BAB II STATUS PASIEN

I. IDENTITAS PENDERITA Nama Tanggal lahir Umur Berat badan Jenis Kelamin Agama Pekerjaan Ibu Alamat Tanggal masuk Tanggal pemeriksaan No. CM : An. S : 24 Januari 1996 : 16 tahun : 44 kg : Perempuan : Islam : Ibu Rumah Tangga : Wonosaren RT 1 RW 8 Jagalan Jebres Surakarta : 13 April 2012 jam 20.58 : 13 April 2012 : 01122858

II. ANAMNESIS A. Keluhan Utama Demam B. Riwayat Penyakit Sekarang Sejak dua hari SMRS pasien panas tinggi mendadak, sudah berobat dan mendapatkan obat penurun panas. Panas turun kemudian naik lagi. Batuk (-), pilek (-), sesak (-), pusing (-), muntah (-), mimisan (-), nyeri sendi (-), udem (-), nyeri perut (-), mencret (-), petekie (-). SMRS pasien masih panas, mual (+), muntah (+) satu kali sebanyak ¼ gelas aqua isi makanan dan cairan, batuk (-), pilek (-), mimisan (-),mencret (-). Karena tidak ada perbaikan, pasien dibawa ke IGD RSDM oleh keluarga. Saat di

IGD pasien panas (+), mual (-), muntah (-), batuk (-), pilek (-), mencret (-), mimisan (-). BAK terakhir 5 jam SMRS tidak sakit, banyak, dan berwarna kuning jernih. BAB normal warna coklat. C. Riwayat Penyakit Dahulu -Riwayat rawat inap di RS -Riwayat DBD sebelumnya : (-) : (-)

D. Riwayat Penyakit Keluarga dan Lingkungan - Riwayat keluarga sakit serupa - Riwayat lingkungan DBD E. Riwayat Kesehatan Keluarga -Ayah -Ibu -Kakak : baik : baik : baik : (-) : (-)

F. Riwayat Penyakit yang Pernah Diderita Faringitis Bronkitis Morbili Cacing Difteri Varicella : (-) : (-) : (-) : (-) : (-) : (-) Enteritis Pneumonia Pertusis Gegar Otak Operasi Fraktur : (-) : (-) : (-) : (-) : (-) : (-)

G. Pemeliharaan Kehamilan dan Kelahiran - Pemeriksaan selama kehamilan di Bidan - Frekuensi : trimester I trimester II trimester III : 1 x / bulan : 1 x / bulan : 2 x / bulan

Penyakit selama kehamilan : (-) Penderita lahir di Rumah Bersalin. Penderita adalah anak pertama dari 4 anak. Penderita lahir dengan berat badan 3200 gram dan panjang badan 47 cm, lahir normal, menangis kuat, umur kehamilan 36 minggu, ditolong oleh bidan. Anak

meninggal tidak ada, riwayat keguguran tidak ada, anak lahir meninggal tidak ada. Ayah dan ibu menikah satu kali. H. Riwayat Postnatal Penderita rutin dibawa ke bidan untuk ditimbang berat badannya dan imunisasi. I. Pohon Keluarga

An. S; perempuan; 15 tahun ; 44 kg

J. Riwayat Makan Minum Anak a. ASI diberikan sejak lahir sampai umur 3 bulan, frekuensi pemberian tiap kali anak menangis (> 5 kali sehari), lamanya menyusui 20 menit, bergantian payudara kanan dan kiri. Sesudah menyusui anak tidak menangis. Setelah umur 3 bulan, diberikan susu buatan merek SGM. b. Makanan padat dan bubur : 1. Bubur sumsum, diberikan sejak umur 6 bulan dengan frekuensi 2 kali sehari. 2. Bubur susu, diberikan sejak umur 7 bulan dengan frekuensi 2 kali sehari. 3. Bubur tim, diberikan sejak umur 8 bulan dengan frekuensi 3 kali sehari. 4. Nasi, diberikan sejak umur 9 bulan dengan frekuensi 3 kali sehari. 5. Lauk pauk jenis tahu dan tempe diberikan sejak umur 12 bulan dengan frekuensi 2 kali sehari. c. Buah dan sayuran: Jenis bervariasi, diberikan sejak umur 1 tahun dengan frekuensi 2 kali seminggu. Kesan: Kualitas dan kuantitas cukup

kedalaman cukup. berdiri.Derajat gizi B.Laju Nadi . M.Laju Pernafasan abdominotorakal . Status Gizi Umur Berat badan Tinggi badan : 16 tahun : 44 kg : 150 cm : 37.80C per axiller : 132x/menit :132x/menit. Tanda vital .Derajat kesadaran . duduk. Perkembangan Anak Senyum. Keadaan Umum . simetris :20 x/ menit.Suhu C. merangkak. PEMERIKSAAN FISIK A. berjalan sesuai umur. III. tipe : kompos mentis : gizi kesan baik Perhitungan antropometri: BB 44 U = 55 x100 % = 82 % TB 150 U = 163 x 100 % = 92 % 44 BB = 41 x 100 % = 107 % TB Kriteria antropometri sesuai grafik CDC 2000: .Laju Jantung . Kesan: Perkembangan baik.Sikap/keadaan umum : Lemah . Riwayat Imunisasi Lengkap sesuai dengan jadwal IDAI. isi tegangan cukup.K. L. Keluarga berencana Ibu mengikuti program keluarga berencana (KB) jenis spiral. regular.

Thoraks Bentuk : normochest. ujud kelainan kulit (-) E. air mata (+/+). ubun-ubun besar sudah menutup.T1. retraksi (-) Cor : Inspeksi : iktus kordis tidak tampak (-). detritus (-). glandula thyroid tidak membesar. H. pseudomembran L. sianosis (-). Kulit Kulit sawo matang. Mata Udem periorbita (-/-). kelembaban cukup. Leher Bentuk normocolli. Tenggorok Uvula di tengah. F. J. K. G. konjungtiva anemis (-/-) . limfonodi tidak membesar. reflek cahaya (+/+). Wajah Udem (-). sekret (-/-). Mulut Mukosa basah (+). I. sukar dicabut. sklera ikterik (-/-). sekret (-). Lingkar kepala 52 cm. M. mukosa faring hiperemis (-). moon face (-). turgor kembali cepat. tonsil T1 . mata cekung (-/-). papil atrofi (-). . kaku kuduk (-).- Persentil 3 <BB/U < Persentil 10 TB/U <Persentil 3 Persentil 50 < BB/TB < Persentil 75 Interpretasi : gizi baik menurut antropometri D. Telinga Daun telinga dalam batas normal. rambut warna hitam. Hidung Napas cuping hidung (-). Kepala Bentuk mesosefal.

O. Timpani. Pulmo : Inspeksi Palpasi Perkusi Auskultasi : Pengembangan dada kanan = kiri : Fremitus raba dada kanan = kiri : Sonor di seluruh lapang paru : Suara dasar vesikuler normal (+/+). undulasi (-). turgor kembali lambat. pekak beralih (-). Suara tambahan (-/-) N. hepar dan lien tidak teraba. reguler.Palpasi : iktus kordis teraba di SIC IV 2 jari medial LMCS tidak kuat angkat Perkusi : batas jantung kesan tidak melebar batas kiri atas batas kiri bawah batas kanan atas batas kanan bawah : SIC II LPSS : SIC IV 2 jari medial LMCS : SIC II LPSD : SIC IV LPSD Auskultasi : BJ I dan BJ II intensitas normal. Ekstremitas Akral dingin Udem Uji Rumple Leed positif pada tangan kiri Capillary refill time <2 detik Arteri dorsalis pedis teraba kuat . peristaltik (+). Abdomen Inspeksi Auskultasi Perkusi Palpasi : : : : dinding perut sejajar dengan dinding dada. bising (-). gallop (-). bising usus normal. supel.

80 Satuan Rujukan Indeks Eritrosit MCV MCH MCHC RDW MPV PDW 82. 2-11. 88 75 Satuan % ribu/ul ribu/ul Rujukan 33-45 4. 8 84 4. 5 150-450 Laboratorium darah tanggal 13 April 2012 (IGD) Nilai Rutin Hb Hct leukosit trombosit eritrosit 11.IV. 3-15. 1 25-65 Hitung Jenis granulosit limfosit monosit 72. 8 20. 80-5. 3 17 % % % 52-67 33-48 0-6 . PEMERIKSAAN PENUNJANG Laboratorium darah tanggal 13 April 2012 (dilakukan di RS dr. 1 9. 1 32. 6 35 1. 8 15. 28 g/dl % ribu/ul ribu/ul juta/ul 12. 6 7. 5 150-450 3. Oen) Nilai Hct leukosit trombosit 35. 6-14. 3 33-45 4. 3 1. 1 17 /um pg g/dl % fl % 80-96 28-33 33-36 11. 5-14. 6 27. 5-14.

00-1. 6 2. 3-15. 27 g/dl % ribu/ul ribu/ul juta/ul 12. 30 % % % 1.Laboratorium darah tanggal 14 April 2012 pukul 06. 8 69 /um pg g/dl % g/dl fl % 80-96 28-33 33-36 11.00-2. 80 Laboratorium darah tanggal 14 April 2012 pukul 14. 80-5. 6 60 4.00 . 4 3. 3 33 1.20 0. 0 7.00 0.00 29. 6 44 4. 5-14. 80 Satuan Rujukan Indeks Eritrosit MCV MCH MCHC RDW HDW MPV PDW 77.2-3. 5 15.00 Nilai Hb Hct leukosit trombosit eritrosit 10. 9 33 1.2 7. 6 Satuan g/dl % ribu/ul ribu/ul juta/ul Rujukan 12. 6-14. 80 59. 3-15.2-11.00-72. 5-14. 6 34. 1 26. 80-5. 3 33-45 4. 3 33-45 4. 5 150-450 3.00 Nilai Rutin Hb Hct leukosit trombosit eritrosit 11. 5 150-450 3.1 25-65 Hitung Jenis Eosinofil Basofil Netrofil 0.

limfosit monosit LUC/AMC 31. 80-5. 5-14. 60 g/dl % ribu/ul ribu/ul juta/ul 12. 5-14.20 6. 3-15.00 Nilai Rutin Hb Hct leukosit trombosit eritrosit 12. 4 40 2.00 Nilai Rutin Hb Hct 12. 5 150-450 3. 8 38 4. 5 38 1. 3 33-45 4. 80 Satuan Rujukan Laboratorium darah tanggal 15 April 2012 pukul 14. 80-5. 5 150-450 3.50 8. 1 37 g/dl % 12. 6 37 4.30 % % % 33-48 0-6 - Serologi Lain-lain Dengue IgG Dengue IgM IgM Salmonella Negatif Negatif Negatif Negatif Negatif Negatif Laboratorium darah tanggal 15 April 2012 pukul 06. 3-15.00 Nilai Rutin Hb Hct leukosit trombosit eritrosit 13. 3-15. 80 Satuan Rujukan Laboratorium darah tanggal 16 April 2012 pukul 14. 3 33-45 Satuan Rujukan . 3 33-45 4. 93 g/dl % ribu/ul ribu/ul juta/ul 12.

5 25 positif negatif normal negatif . 80-5. 5 150-450 3. 3 33 3. 12 g/dl % ribu/ul ribu/ul juta/ul 12.00 Nilai Rutin Hb Hct leukosit trombosit eritrosit 11. 80-5. 4 46 4. 010 6. 3-15. 5-14. 80 Laboratorium darah tanggal 16 April 2012 pukul 06.00 Nilai Rutin Hb Hct leukosit trombosit eritrosit 11. 80 Satuan Rujukan Laboratorium darah tanggal 16 April 2012 pukul 14. 3 33-45 4. 5-14. 5 150-450 3. 7 36 4. 3 33-45 4. 80-5. 5 150-450 3. 80 Satuan Rujukan Urinalisis urine tanggal 17 April 2012 Nilai Kimia Urin berat jenis pH leukosit nitrit protein glukosa keton 1. 3-15. 33 g/dl % ribu/ul ribu/ul juta/ul 12. 54 ribu/ul ribu/ul juta/ul 4.leukosit trombosit eritrosit 4. 5 32 4. 8 44 4. 5-14.

5 150-450 3. 5-14. 4 31 8. 3-15. 9 55 4. 80 Satuan Rujukan . 3 33-45 4. 04 g/dl % ribu/ul ribu/ul juta/ul 12. 80-5.urobilinogen bilirubin eritrosit normal negatif 10 Mikroskopis epitel epitel squamous epitel transisional epitel bulat silinder hyaline granulated leukosit 0 1-2 - Lain-lain eritrosit leukosit bakteri 25-35/LPB 3-5 penuh Laboratorium darah tanggal 18 April 2012 pukul 14.00 Nilai Rutin Hb Hct leukosit trombosit eritrosit 10.

mencret (-). tampak lemah. sudah berobat dan mendapatkan obat penurun panas. leukopenia (+). pusing (-). gizi kesan baik. reguler. batuk (-).mencret (-). Panas turun kemudian naik lagi. Sejak dua hari SMRS pasien panas tinggi mendadak. RESUME Pasien dating dengan keluhan panas. nyeri sendi (-). banyak. pilek (-). SMRS pasien masih panas. pulmo. Pemeriksaan fisik didapatkan: Kesadaran compos mentis. mual (-). cor. BAK terakhir 5 jam SMRS tidak sakit. isi dan tegangan cukup. Thorax. muntah (-). VI. 2 V. simetris. sesak (-). muntah (-). Batuk (-). kedalaman cukup . nyeri sendi (+). Laju Nadi = 132x/ menit. dan abdomen dalam batas normal. mimisan (-).8 ⁰ C. nyeri perut (-). pusing (+). mimisan (-). Laju pernafasan= 20 x/menit tipe abdominothorakal.Laboratorium darah tanggal 18 April 2012 Nilai Kimia Klinik Besi TIBC Saturasi Transferin 21 268 8 Nilai Serologi Serum Ferritin 506. pilek (-). Karena tidak ada perbaikan. S = 37. VS: Laju Jantung : 132x/menit. mimisan (-). udem (-). muntah (+) satu kali sebanyak ¼ gelas aqua isi makanan dan cairan. batuk (-). pasien dibawa ke IGD RSDM oleh keluarga. petekie (-). mencret (-). Pada pemeriksaan laboratorium didapatkan : trombositopenia (+). DAFTAR MASALAH . BAB normal warna coklat. Saat di IGD pasien panas (+). dan berwarna kuning jernih. mual (+). pilek (-).

Anamnesis 1. nitrit urin (+). SI. Mual 3. Demam berdarah dengue VIII. Gambaran darah tepi 3. Pemeriksaan Fisik 1. Uji Rumple Leed positif C. infeksi IX. Keadaan umum lemah 2. Hemoglobin rendah 4. Anemia mikrositik hipokromik e/c DD defisiensi Fe. mikrohematuria VII. Leukosituria. Trombositopenia 2. Nyeri sendi B. Saturasi transferin 5. Paracetamol 3 x 500 mg per oral X. IVFD D ½ S 20 tpm makro 3.A. DIAGNOSIS KERJA 1. PENATALAKSANAAN 1. Pusing 5. TIBC. Urinalisis ulang 6. PLANNING 1. Kultur urin . Demam 2. Demam berdarah dengue dengan manifestasi perdarahan 2. Laboratorium 1. Muntah 4. Leukopenia 3. DIAGNOSIS BANDING 1. Ferritin. Diet nasi lauk 2200 kkal/ hari 2. Demam dengue 2. Lab Darah DL3 setiap 6 jam 2. IgG dan IgM anti dengue 4.

BAK (+). BAB (+) Pemeriksaan / Diagnosis Kepala : mesocephal Mata : CA (-/-). EDUKASI 1. sakit menelan (-). ST (-/-) Abdomen : supel. tonsil dan faring hiperemis (-) Leher : KGB ≠ membesar Thorax : retraksi (-) Cor : BJ I-II int N regular Pulmo : SDV (+/+). SI. RR=32x/menit. Keluarga mengenai kondisi pasien 2. sakit perut ulu hati (+). nyeri sendi (-). T=110/70. lidah berselaput (+). tremor halus(-). gizi kesan baik. NT (-). TIBC.XI. MONITORING 1. VS : HR=96x/menit. cm. saturasi transferin -Monitor DL3 Petekie . H/L ≠ teraba Terapi Diet nasi lauk 2200 kkal/hari IVFD D½S 20 tpm makro Paracetamol 3 x 500 mg ( per oral ) pukul 10. t=390C Px : -DL3 jam 06. ascites (-). mual (-). Awasi tanda-tanda perdarahan 4. oedem palpebra (-/-) Telinga : sekret (-) Hidung : NCH (-). Kompres hangat bila panas XIII. GDT.00 -Urin/feses rutin -Cek IgG dan IgM anti Dengue. SI (-/-). KUVS dan tensi setiap 4 jam 2. Awasi tanda-tanda syok XII. Minum banyak 3. tonsil T1-T1. sekret (-) Mulut : MB (+).00 RL 60 tpm KU : baik. muntah (-). PROGNOSIS Ad vitam Ad sanam Ad fungsionam : baik : baik : baik FOLLOW UP PASIEN DPH I Tanggal 14/04/12 Keluhan/KU/VS Kel: demam (+). BCD setiap 8 jam ketat 3.

tremor halus(-). 11 cc/kgBB/jam + + Mx : KU VS / 4 jam TD / 4 jam + + BCD / 8 jam ketat Awasi tanda-tanda PF jam 10. t=38. 10C oedem palpebra (-) lingkar perut : 68 cm Dx: Dengue fever dengan manifestasi perdarahan DD DHF. tonsil T1-T1. nyeri sendi (-). mual (-). cm.00 KUVS jam 10. gusi berdarah (-).00 HR=90x/menit. ST (-/-) Abdomen : supel. t=36.BC: 75 cc / 24 jam D: 1. mimisan (-). BAK (+). VS : HR=80x/menit. ascites (-). RR=18x/menit. H/L ≠ teraba Petekie + + Ex : Keluarga mengenai kondisi pasien + + Minum banyak Kompres hangat bila panas Dx: Dengue fever dengan manifestasi perdarahan DD pukul 14. tonsil dan faring hiperemis (-) Leher : KGB ≠ membesar Thorax : retraksi (-) Cor : BJ I-II int N regular.00 . gizi kesan baik. BAB (-) Kepala : mesocephal Mata : CA (-/-). NT (-). lidah berselaput (+). 5 C 0 ) Pulmo : SDV (+/+). SI (-/-). RR=26x/menit. batuk (-). muntah (-). bisisng (- Diet nasi lauk 2200 kkal/hari IVFD RL 7 cc/kgBB/jam~60 tpm makro Paracetamol 3 x 500 mg ( per oral ) Px : -DL3 / 8 jam Mx : KU VS / jam TD / jam BCD / 8 jam ketat Awasi tanda-tanda syok Awasi perdarahan KU : baik. sakit menelan (-). oedem palpebra (-/-) Telinga : sekret (-) Hidung : NCH (-). ISK Anemia mikrositik hipokromik e/c defisiensi Fe syok Awasi perdarahan Ex : Keluarga mengenai kondisi pasien Minum banyak Kompres hangat bila panas II 15/04/12 Kel: demam (+). Bintik merah (+). sekret (-) Mulut : MB (+). sakit perut ulu hati (-). T=110/70.

mual (+). gizi kesan baik. muntah (-). ISK Awasi tanda-tanda syok Awasi perdarahan . RR=3x20/menit. tonsil dan faring hiperemis (-) Leher : KGB ≠ membesar Thorax : retraksi (-) Diet nasi lauk 2200 kkal/hari IVFD RL 7cc/kgBB/jam~ 80 tpm makro IVFD D ½ S 40 tpm makro Paracetamol 3 x 500 mg ( per oral ) Px : -DL3 besok pagi / 24 jam -Urinalisis -Rontgen thorax RLD KU : baik. gusi berdarah (-). T=110/70. tremor halus(-).mimisan (-). nyeri sendi (-). sekret (-) Mulut : MB (+). ISK Anemia mikrositik hipokromik e/c defisiensi Fe Tx: IVFD RL dinaikkan menjadi 10cc/kgBB/jam~ 100 tpm makro Px: DL3 / 8 jam pukul 22.00 Mx: Awasi tanda perdarahan Awasi tanda syok pukul 22.DHF. H/L ≠ teraba Petekie + + + + Mx : KU VS / jam TD / jam BCD / 8 jam ketat Dx: Dengue fever dengan manifestasi perdarahan DD DHF. BAB (-) Kepala : mesocephal Mata : CA (-/-). tidak berselaput (+). t=36. SI (-/-). ascites (-). NT (-). ST (-/-) Abdomen : supel. oedem palpebra (-/-) Telinga : sekret (-) Hidung : NCH (-). 5 C 0 Cor : BJ I-II int N regular Pulmo : SDV (+/+). BAK (-). sakit menelan (-). sakit perut ulu hati (-). batuk (-). cm. VS : HR=80x/menit.00 Mx: Awasi tanda perdarahan Awasi tanda syok III 16/04/12 Kel: demam (-). tonsil T1-T1.00 Tx: lanjut Px: DL3 / 8 jam pukul 06.

H/L ≠ teraba Mx : KU VS / 8 jam BCD / 8 jam Awasi tanda-tanda syok Dx: Dengue hemorrhagic fever Tersangka ISK Anemia mikrositik hipokromik e/c defisiensi Fe Ex : Awasi perdarahan Minum banyak Kompres hangat bila panas . NT (-). sakit perut ulu hati (+). ascites (-). sekret (-) Mulut : MB (+). redup di paru Diet nasi lauk 2200 kkal/hari IVFD D½S 20 tpm makro Paracetamol 3 x 500 mg ( per oral ) Px : -DL3 / 24 jam -DL2. gusi berdarah (-). nyeri sendi (+). tremor halus(-). BAB (+) Kepala : mesocephal Mata : CA (-/-). sakit menelan (-). batuk (+). saturasi transferin. tonsil dan faring hiperemis (-) Leher : KGB ≠ membesar Thorax : retraksi (-) Cor : BJ I-II int N regular Pulmo : SDV (+/+). gizi kesan baik. mual (-). VS : HR=80x/menit. tidak berselaput (+). t=36. SI. SI (-/-). TIBC. cm. BAK (+). tonsil T1-T1.mimisan (-). oedem palpebra (-/-) Telinga : sekret (-) Hidung : NCH (-).Observasi febris hari ke IV-V Anemia mikrositik hipokromik e/c defisiensi Fe Ex : Keluarga mengenai kondisi pasien Minum banyak Kompres hangat bila panas IV 17/04/12 Kel: demam (-) bebas demam 2 hari. ferritin -kultur urine Hasil RO thoraks: efusi pleura dextra KU : baik. 50C inferior dextra Abdomen : supel. muntah (-). RR=20x/menit.

gizi kesan baik.mimisan (-). BAB (+) Kepala : mesocephal Mata : CA (-/-). ascites (-). mual (-). 9 C 0 Pulmo : SDV (+/+).00 Pemeriksaan BCD Input Infus = 480 cc Oral = 1000 cc Output Sal Gaster = - . NT (-). tonsil dan faring hiperemis (-) Leher : KGB ≠ membesar Thorax : retraksi (-) Cor : BJ I-II int N regular Diet nasi lauk 2200 kkal/hari IVFD RL 7cc/kgBB/jam~ 80 tpm makro IVFD D½S 40 tpm makro Paracetamol 3 x 500 mg ( per oral ) Px : -DL3 besok pagi / 24 jam -Urinalisis -RO thoraks KU : baik. redup di paru inferior dextra Abdomen : supel.3oC (peraxiler) TD = 110/80 mmHg Tanggal 14-04-12 Jam 14. sekret (-) Mulut : MB (+).V 18 April 2012 Kel: demam (+). sakit menelan (-). tidak berselaput (+). VS : HR=88x/menit.00 HR = 100 x/1’ RR = 20 x/1’ S = 38. tonsil T1-T1. tremor halus(-). gusi berdarah (-). BAK (+). cm. SI (-/-). sakit perut ulu hati (-). batuk (-). nyeri sendi (-). oedem palpebra (-/-) Telinga : sekret (-) Hidung : NCH (-). muntah (-). t=38. RR=20/menit. H/L ≠ teraba Petekie Mx : KU VS / jam TD / jam BCD / 8 jam ketat Awasi tanda-tanda syok + + Awasi perdarahan + + Ex : Keluarga mengenai kondisi pasien Minum banyak Kompres hangat bila Dx: Dengue hemorrhagic fever tersangka ISK Anemia mikrositik hipokromik e/c defisiensi Fe panas MONITORING PASIEN Tanggal 14-04-12 Jam Pemeriksaan KU/VS 14.

11 cc/kgBB/jam Input Infus = 480 cc Oral = 500 cc Output Sal Gaster = Muntah = Urine = 450 cc Tinja = IWL = 300 cc BC = + 365 cc D = 1.00 15-04-12 14. 25 cc/kgBB/jam 06.7oC (peraxiler) TD = 110/80 mmHg 20.00 02.00 HR = 84 x/1’ RR = 24 x/1’ S = 37.00 HR = 80 x/1’ RR = 20 x/1’ S = 36. 67 cc/kgBB/jam Input Infus = 480 cc Oral = 700 cc Output Sal Gaster = Muntah = Urine = 400 cc Tinja = IWL = 300 cc BC = + 615 cc D = 1.00 HR = 120 x/1’ RR = 18 x/1’ S = 36.5oC (peraxiler) TD = 110/70 mmHg 22.5oC (peraxiler) TD = 110/70 mmHg 10.00 HR = 80 x/1’ RR = 20 x/1’ S = 36.Muntah = Urine = 600 cc Tinja = IWL = 300 cc BC = + 715 cc D = 1.00 Input Infus = 300 cc Oral = 500 cc Output Sal Gaster = Muntah = Urine = 500 cc Tinja = IWL = 300 cc BC = + 35 cc D = 1. 1 cc/kgBB/jam .3oC (peraxiler) TD = 110/80 mmHg 06.

00 HR = 128 x/1’ RR = 20 x/1’ S = 36.00 HR = 64 x/1’ RR = 18 x/1’ S = 36.00 22. 2 cc/kgBB/jam 18.5oC (peraxiler) 14.00 HR = 64 x/1’ 2012 RR = 18 x/1’ S = 36.00 Input Infus = 200 cc Oral = 100 cc Output Sal Gaster = Muntah = Urine = 450 cc Tinja = 130 IWL = 300 cc BC = -450 cc .00 HR = 78 x/1’ RR = 20 x/1’ S = 36.1oC (peraxiler) TD = 90/60 mmHg 16 April 14.00 HR = 81 x/1’ RR = 16 x/1’ S = 37.5oC (peraxiler) TD = 110/80 mmHg 22.6oC (peraxiler) TD = 110/70 mmHg 06.4oC (peraxiler) TD = 90/60 mmHg 06.14. 78 cc/kgBB/jam Input Infus = Oral = 1100 cc Output Sal Gaster = Muntah = Urine = 800 cc Tinja = IWL = 300 cc BC = + 135 cc D = 2.00 Input Infus = Oral = 1300 cc Output Sal Gaster = Muntah = Urine = 1000 cc Tinja = 130 IWL = 300 cc BC = + 5 cc D = 2.7oC (peraxiler) TD = 110/100 mmHg 02.00 HR = 128 x/1’ RR = 21 x/1’ S = 36.

00 HR = 98 x/1’ RR = 48 x/1’ S = 36.00 D = 1.00 HR = 72 x/1’ RR = 20 x/1’ S = 35.27 cc/kgBB/jam Input Infus = 500 cc Oral = 200 cc Output Sal Gaster = Muntah = Urine = 300 cc Tinja = IWL = 300 cc BC = 300 cc D = 0. 08 cc/kgBB/jam Input Infus = 160 cc Oral = 500 cc Output Sal Gaster = Muntah = Urine = 600 cc Tinja = 50 IWL = 300 cc BC = -250 cc D = 1.22. 83cc/kgBB/jam Input Infus = 500 cc Oral = 600 cc Output Sal Gaster = Muntah = Urine = 750 cc Tinja = IWL = 300 cc BC = 50 cc D = 2.00 17 April 14.00 .00 HR = 72 x/1’ 2012 RR = 24 x/1’ S = 36.7oC (peraxiler) 22.67 cc/kgBB/jam Input Infus = 160 cc Oral = 500 cc Output Sal Gaster = Muntah = Urine =400 cc Tinja = IWL = 300 cc 06.00 HR = 60 x/1’ RR = 18 x/1’ S = 37oC (peraxiler) 22.8oC (peraxiler) 06.6oC (peraxiler) 14.00 22.

11 cc/kgBB/jam Input Infus = 160 cc Oral = 500 cc Output Sal Gaster = Muntah = Urine = 400 cc Tinja = 50 IWL = 300 cc BC = -90 cc D = 1.00 HR = 88 x/1’ RR = 46 x/1’ S = 38.11 cc/kgBB/jam .06.9oC (peraxiler) 06.00 BC = 640 cc D = 1.

maka pola waktu terjadinya penyakit agak berbeda untuk setiap tempat. dan mempunyai 4 jenis serotipe. nyamuk Aedes akan tetap bertahan hidup untuk jangka waktu lama. famili Flaviviridae. Di Indonesia. karena suhu udara dan kelembaban tidak sama di setiap tempat. Pada suhu yang panas (28-32°C) dengan kelembaban yang tinggi. Infeksi salah satu serotipe akan menimbulkan antibodi terhadap serotipe yang bersangkutan. meningkat terus sehingga kasus terbanyak terdapat pada sekitar bulan April-Mei setiap tahun (Depkes. disertai dengan nyeri pada sendi.BAB II TINJAUAN PUSTAKA INFEKSI VIRUS DENGUE A. keganasan (virulensi) virus dengue. dan nyeri kepala (Depkes. Saat itu infeksi virus dengue menimbulkan penyakit yang dikenal sebagai penyakit demam lima hari (vijfdaagse koorts) kadang-kadang disebut juga sebagai demam sendi (knokkel koorts). EPIDEMIOLOGI Infeksi virus dengue telah ada di Indonesia sejak abad ke -18. B. Disebut demikian karena demam yang terjadi menghilang dalam lima hari. dan kondisi geografis setempat. sehingga tidak dapat memberikan perlindungan yang memadai terhadap serotipe lain tersebut (Depkes. 2010). yaitu . DEN2. DEN-3. kepadatan vektor nyamuk. ETIOLOGI Demam Dengue (DD) dan Demam Berdarah Dengue (DBD) disebabkan virus dengue yang termasuk kelompok B Arthropod Borne Virus (Arboviroses) yang sekarang dikenal sebagai genus Flavivirus. 2010). Di Jawa pada umumnya infeksi virus dengue terjadi mulai awal Januari. seperti yang dilaporkan oleh David Bylon seorang dokter berkebangsaan Belanda. nyeri otot. 2010). DEN-4. Pola berjangkit infeksi virus dengue dipengaruhi oleh iklim dan kelembaban udara. transmisi virus dengue. Morbiditas dan mortalitas infeksi virus dengue dipengaruhi berbagai faktor antara lain status imunitas pejamu. . sedangkan antibodi yang terbentuk terhadap serotipe lain sangat kurang. DEN-1.

Patogenesis DBD dan SSD (Sindrom syok dengue) masih merupakan masalah yang kontroversial. namun bila daya tahan rendah maka perjalanan penyakit menjadi makin berat dan bahkan dapat menimbulkan kematian (Depkes. bila daya tahan baik maka akan terjadi penyembuhan dan timbul antibodi. Hipotesis ini menyatakan secara tidak langsung bahwa pasien yang mengalami infeksi yang kedua kalinya dengan serotipe virus dengue yang heterolog mempunyai risiko berat yang lebih besar untuk menderita DBD/Berat. tahun 1977. Patogenesis terjadinya syok berdasarkan hipotesis the secondary heterologous infection dapat dilihat pada Gambar 1 yang dirumuskan oleh Suvatte. respons antibodi anamnestik yang akan terjadi dalam waktu beberapa hari mengakibatkan proliferasi dan transformasi limfosit dengan menghasilkan titer tinggi antibodi IgG anti dengue. Maka demi kelangsungan hidupnya. Sebagai tanggapan terhadap infeksi tersebut.C. Antibodi heterolog yang telah ada sebelumnya akan mengenai virus lain yang akan menginfeksi dan kemudian membentuk kompleks antigen antibodi yang kemudian berikatan dengan Fc reseptor dari membran sel leokosit terutama makrofag. Persaingan tersebut sangat tergantung pada daya tahan pejamu. Disamping itu. 2010). Sebagai akibat infeksi sekunder oleh tipe virus dengue yang berlainan pada seorang pasien. sehingga mengakibatkan keadaan hipovolemia dan syok (Depkes. suatu proses yang akan meningkatkan infeksi dan replikasi virus dengue di dalam sel mononuklear. virus harus bersaing dengan sel manusia sebagai pejamu (host) terutama dalam mencukupi kebutuhan akan protein. Dihipotesiskan juga mengenai antibodi dependent enhancement (ADE). PATOGENESIS Virus merupakan mikrooganisme yang hanya dapat hidup di dalam sel hidup. 2010). Dua teori yang banyak dianut pada DBD dan SSD adalah hipotesis infeksi sekunder (teori secondary heterologous infection) atau hipotesis immune enhancement. terjadi sekresi mediator vasoaktif yang kemudian menyebabkan peningkatan permeabilitas pembuluh darah. Oleh karena antibodi heterolog maka virus tidak dinetralisasikan oleh tubuh sehingga akan bebas melakukan replikasi dalam sel makrofag. replikasi virus .

Kedua hipotesis tersebut didukung oleh data epidemiologis dan laboratories (Depkes. peningkatan virulensi dan mempunyai potensi untuk menimbulkan wabah. Syok yang tidak ditanggulangi secara adekuat. yang dapat berakhir fatal. pengobatan syok sangat penting guna mencegah kematian. asites). Ekspresi fenotipik dari perubahan genetik dalam genom virus dapat menyebabkan peningkatan replikasi virus dan viremia. akan menyebabkan asidosis dan anoksia. menyatakan bahwa virus dengue seperti juga virus binatang lain dapat mengalami perubahan genetik akibat tekanan sewaktu virus mengadakan replikasi baik pada tubuh manusia maupun pada tubuh nyamuk. volume plasma dapat berkurang sampai lebih dari 30 % dan berlangsung selama 24-48 jam. Perembesan plasma ini terbukti dengan adanya. . penurunan kadar natrium.dengue terjadi juga dalam limfosit yang bertransformasi dengan akibat terdapatnya virus dalam jumlah banyak. Hal ini akan mengakibatkan terbentuknya virus kompleks antigen-antibodi (virus antibody complex) yang selanjutnya akan mengakibatkan aktivasi sistem komplemen. Selain itu beberapa strain virus mempunyai kemampuan untuk menimbulkan wabah yang besar. peningkatan kadar hematokrit. dan terdapatnya cairan di dalam rongga serosa (efusi pleura. oleh karena itu. Pada pasien dengan syok berat. Hipotesis kedua. 2010). Pelepasan C3a dan C5a akibat aktivasi C3 dan C5 menyebabkan peningkatan permeabilitas dinding pembuluh darah dan merembesnya plasma dari ruang intravaskular ke ruang ekstravaskular.

sehingga trombosit reticulo endothelial system) sehingga terjadi trombositopenia. 1977 Sebagai tanggapan terhadap infeksi virus dengue. kompleks antigen-antibodi selain mengaktivasi sistem komplemen. juga menyebabkan agregasi trombosit dan mengaktivitasi sistem koagulasi melalui kerusakan sel endotel pembuluh darah (gambar 2). ditandai dengan peningkatan FDP (fibrinogen degredation product) sehingga terjadi penurunan faktor pembekuan (Depkes. Patogenesis terjadinya syok pada DBD Sumber : Suvatte.Gambar 1. Agregasi trombosit terjadi sebagai akibat dari perlekatan kompleks antigenantibodi pada membran trombosit mengakibatkan pengeluaran ADP (adenosin di phosphat). Agregasi trombosit ini akan menyebabkan pengeluaran platelet faktor III mengakibatkan terjadinya koagulopati konsumtif (KID = koagulasi intravaskular deseminata). 2010). . Kedua faktor tersebut akan menyebabkan perdarahan pada DBD.

sehingga walaupun jumlah trombosit masih cukup banyak. demam yang tidak khas. kelainan fungsi trombosit. Jadi. tidak berfungsi baik. aktivasi koagulasi akan menyebabkan aktivasi faktor Hageman sehingga terjadi aktivasi sistem kinin sehingga memacu peningkatan permeabilitas kapiler yang dapat mempercepat terjadinya syok. 1977 Agregasi trombosit ini juga mengakibatkan gangguan fungsi trombosit. demam dengue. Akhirnya. Di sisi lain.Gambar 2. penurunan faktor pembekuan (akibat KID). Pada umumnya pasien mengalami fase demam selama 2-7 hari. perdarahan masif pada DBD diakibatkan oleh trombositpenia. perdarahan akan memperberat syok yang terjadi (Depkes. yang diikuti oleh . Anamnesis Manifestasi klinis dapat bersifat asimptomatik. dankerusakan dinding endotel kapiler. D. 2010). Patogenesis Perdarahan pada DBD Suumber: Suvatte. DIAGNOSIS 1. demam berdarah dengue atau sindrom syok dengue.

2010). tubuh. nyeri kepala.Hepatomegali dan kelainan fungsi hati lebih sering ditemukan pada DBD. akan tetapi mempunyai risiko untuk terjadinya renjatan jika tidak mendapat pengobatan yang adekuat (Suhendro. menyebar ke anggota gerak dan muka (Soedarmo. 2. dan syok. facial flush. melena. tekanan nadi <10 mmHg  Akral dingin. menggigil. hipovolemia. sianosis  Nafas cepat. Tanda.. Ruam muncul pada 6-12 jam sebelum suhu naik pertama kali. nyeri di berbagai bagian tubuh. Pada DBD terjadi peningkatan permeabilitas kapiler sehingga menyebabkan perembesan plasma.tanda syok  Anak gelisah. sampai terjadi penurunan kesadaran. dan timbulnya ruam yang bersifat makulopapular. et al. malaise. yaitu demam tinggi. anoreksia. nyeri otot dan sendi. Gejala penyerta tersebut lebih mencolok pada Demam Dengue (DD) dibanding Demam Berdarah Dengue (DBD). Terdapat pula sindrom trias. Ruam terdapat di dada. Pemeriksaan Fisik Diawali dengan demam mendadak tinggi. nyeri di bawah lengkung iga kanan. nadi teraba lembut kadang-kadang tidak teraba  Tekanan darah turun. et al. Awal penyakit biasanya terjadi mendadak... 2006). capillary refill time menurun  Diuresis menurun sampai anuria (Pudjiadi.fase kritis selama 2-3 hari. Perembesan plasma mengakibatkan ekstravasasi cairan ke dalam rongga pleura dan rongga peritoneal selama 24-48 jam. et al.. serta abdomen. 2002). nyeri tenggorok dan faring hiperemis. Pada waktu ini pasien tidak mengalami demam. nyeri pada anggota badan. disertai gejala prodroma seperti nyeri kepala. epitaksis. et al. 2010) . yaitu pada hari ke 3-5 berlangsung 3-4 hari. Perdarahan dapat berupa peteckie. muntah. ataupun hematuria (Pudjiadi.

Hematemesis atau melena  Trombositopenia (jumlah trombosit < 100. et al. . ruam Demam Berdarah Dengue I demam.Uji bendung positif .Petekie. mialgia .Peningkatan hematokrit> 20% dibandingkan standar sesuai umur dan jenis klamin . dibandingkan dengan nilai hematokrit sebelumnya. sakit kepala.000/ul)  Terdapat minimal satu tanda-tanda plasma leakage sebagai berikut: . atau hipoproteinemia (Suhendro. tanda perdarahan trombositopenia Hct meningkat uji torniquet +/-. tanda perdarahan +/Laboratorium trombosit dalam jumlah normal .3.. gejala gangguan pernafasan dan uji torniquet +. purpura . gangguan pencernaan Hct normal Demam Dengue demam. 2006) Kriteria Diagnosis Menurut WHO 1999 Sindrom Demam Gejala Klinis demam. ekimosis. tanda perdarahan +/trombositopenia Hct normal Tanda Perdarahan uji torniquet +/-. asites. biasanya bifasik  Terdapat minimal satu dari manifestasi perdarahan berikut: . gejala gangguan pernafasan ringan. atau perdarahan dari tempat lain .Perdarahan mukosa (tersering epitaksis atau perdarahan gusi). antara 2-7 hari. Kriteria diagnosis WHO  Demam atau riwayat demam akut.Penurunan hematokrit >20% setelah mendapat terapi cairan.Tanda kebocoran plasma seperti efusi pleura.

tanda perdarahan + trombositopenia Hct meningkat (WHO. tekanan nadi ≤ 20 mmHg IV gejala grade derajat III. gejala gangguan pernafasan dan pencernaan Sindrom Syok Dengue III gejala derajat I atau II . et al. Diangnosis Banding  Demam Dengue Merupakan penyakit demam akut selama 2-7 hari. 5. Pemeriksaan Penunjang  Leukosit: dapat normal atau menurun.Mialgia/artralgia . 1999) 4. ditandai dengan dua atau lebih manifestasi klinis sebagai berikut: . tanda perdarahan +/trombositopenia Hct meningkat uji torniquet +/-. hepatomegali.3-8 .Leukopenia Dan pemeriksaan serologi dengue positif.Nyeri kepala . akral dingin. kulit lembab. atau ditemukan pasien DD/DBD yang sudah dikonfirmasi pada lokasi dan waktu yang sama (Suhendro.  Trombosit: umumnya terdapat trombositopenia pada hari ke.. 2006).Ruam kulit . hipotensi.pencernaan II demam. tekanan darah tidak terukur uji torniquet -. tanda perdarahan +/trombositopenia Hct meningkat uji torniquet +.Nyeri retro-orbital .Manifestasi perdarahan (uji bendung DBD positif atau petekie) .

. APTT.  Protein/abumin: dapat terjadi hipoproteinemia  SGOT/SGPT: dapat meningkat  Ureum. et al. dapat dijumpai pada kedua hemithoraks. Penatalaksanaan a. Sedangkan IgG. tidak perlu dirawat. meningkat sampai minggu ke-3. D-dimer. Pemeriksaan ini sebaiknya dilakukan dalam posisi lateral dekubitus kanan.  USG: dapat digunakan untuk melihat adanya asites dan efusi pleura (Suhendro. Hematokrit: kebocoran plasma dibuktikan dengan peningkatan hematokrit ≥ 20% dari hematokrit awal. umumnya dimulai pada hari ke-3 demam  Hemostasis: dilakukan pemeriksaan PT. terutama pada hemitoraks kanan tetapi apabila terjadi perembesan plasma hebat.  Obat antipiretik atau kompres hangat diberikan apabila diperlukan. fibrinogen. kreatinin: bila didapatkan gangguan fungsi ginjal  Elektrolit: parameter pemantauan pemberian cairan  Golongan darah dan cross match: bila akan diberikan transfusi atau komponen darah  Imuno serologi dilakukan pemeriksaan IgG dan IgM terhadap dengue. IgM terdeteksi mulai hari ke. Demam dengue Pasien DD dapat berobat jalan. dianjurkan pemberian parasetamol.. pada infeksi primer mulai terdeteksi pada hari ke-14. Pada fase demam pasien dianjurkan:  Tirah baring.3-5. selama masih demam. atau FDP pada keadaan yang dicurigai terjadi perdarahan atau kelainan pembekuan darah.  Pemeriksaan radiologis Pada foto dada didapatken efusi pleura. menghilang setelah 60-90 hari. Untuk menurunkan suhu menjadi < 39°C. pada infeksi sekunder mulai terdeteksi hari ke-2. 2006) 6.

Meskipun demikian semua pasien harus diobservasi terhadap komplikasi yang dapat terjadi selama 2 hari setelah suhu turun. buang air besar hitam. saat suhu turun pada umumnya merupakan tandapenyembuhan. sirop. jus buah. Oleh karena itu.  Dianjurkan pemberian cairan danelektrolit per oral. jumlah trombosit danhematokrit sampai fase konvalesen. 2010).Asetosal/salisilat tidak dianjurkan (indikasi kontra) oleh karena dapat meyebabkan gastritis. Pada pasien DD. dianjurkan paling sedikit diberikan selama 2 hari. perdarahan gusi. Komplikasi perdarahan dapat terjadi pada DD tanpa disertai gejala syok. Hal ini disebabkan oleh karena kemungkinan kita sulit membedakan antara DD dan DBD pada fase demam.  Monitor suhu. Pada pasien yang tidak mengalami komplikasi setelah suhu turun 2-3 hari. susu. apalagi bila disertai berkeringat dingin. sehingga harus segera dibawa segera ke rumah sakit. yaitu pada DD akan terjadi penyembuhan sedangkan pada DBD terdapat tanda awal kegagalan sirkulasi (syok). perdarahan. Perbedaan akan tampak jelas saat suhu turun. hal tersebut merupakan tanda kegawatan. disamping air putih. atau terdapat perdarahan kulit serta mukosa seperti mimisan. tidak perlu lagi diobservasi (Depkes. . atau asidosis. orang tua atau pasien dinasehati bila terasa nyeri perut hebat.

(Depkes. 2010) .

(Depkes. 2010) .

maksimal 1500/hari. DBD disertai syok (derajat III dan IV)  Penggantian volume plasma segera.  Kortikosteroid diberikan pada DBD ensefalopati. nilai hematokrit cernderung meningkat pada pemeriksaan berkala. dehidrasi yang memperberat terjadinya syok. Apabila syok belum teratasi tetap berikan ringer laktat 20 mg/kgBB ditambah koloid 20-30 ml/kgBB/jam.  Jumlah urin 1 ml/kgBB/jam merupakan indikasi bahwa sirkulasi membaik.  Cairan itravena diperlukan apabila anak terus menerus muntah.b. Suportif  Mengatasi kehilangan cairan plasma sebagai akibat peningkatan permeabilitas kapiler dan perdarahan. dan 3 ml apabila tanda vital dan diuresis baik. Volume cairan diturunkan menjadi 7ml/kgBB/jam. apabila terdapat perdarahan salurah cerna. (Pudjiadi. penggunaan paracetamol lebih disarankan dibanding dengan aspirin. cairan intravena larutan ringer laktat 1-20 ml/kgBB secara bolus diberikan dalam waktu 30 menit. kortikosteroid tidak boleh diberikan.  Diusahakan untuk tidak memberikan obat-obatan yang tidak diperlukan untuk mengurangi detoksifiksasi obat dalam hati. demam tinggi. selanjutnya 5ml.  Antibiotik diberikan untuk DBD ensefalopati. . 2010) c. DBD tanpa syok (derajat I dan II) Medikamentosa  Antipiretik dapat dianjurkan.  Pemberian cairan 10 mg/kgBB/jam diberikan 1-4 jam pasca syok.  Kunci keberhasilan adalah kemampuan untuk mengatasi masa peralihan dari fase demam ke fase syok.tidak mau minum.

 Plasma segar dan beku dan suspensi trombosit berguna untuk koreksi koagulopati atau koagulasi intravaskular diseminata (KID) pada syok berat yang menimbulkan perdarahan masif. hematokrit turun diduga telah terjadi perdarahan. berikan darah segar 10 ml/kgBB. 2010) . untuk mencegah perdarahan lebih hebat.  Oksigen 2-4 L/menit pada DBD syok.  Koreksi asidosis metabolic dan elektrolit pada DBD syok. (Pudjiadi. Pada umumnya cairan tidak perlu diberikan lagi 48 jam setelah syok teratasi.  Indikasi pemberian darah:  Terdapat perdarahan secara klinis  Setelah pemberian cairan kristaloid dan koloid. syok menetap.  Apabila kadar hematokrit tetap >40 vol% maka berikan darah dalam volume kecil.  Pemberian transfuse suspense pada KID harus selalu disertai plasma segar (berisi factor koagulasi yang diperlukan).

(Depkes. 2010) .

2010) .(Depkes.

(Pudjiadi. sampai syok teratasi. dan temperature harus dicatat setiap 15-30 menit atau lebih sering. Pemantauan Tanda vital dan hematokrit harus dimonitor dan dievaluasi secara teratur untuk menilai hasil pengobatan. dan tetesan. (Depkes.  Jumlah dan frekuensi diuresis Pada pengobatan syok. tekanan darah. kita harus yakin benar bahwa penggantian volume intravaskuler telah terpenuhi dengan baik. dan ditandai dengan tanda overload (edema.hal yang harus diperhatikan pada monitoring adalah:  Nadi. Tetapi apabila diuresis tetap belum mencukupi. Apabila diuresis belum 1 mg/kgBB sedang jumlah cairan sudah melebuhi kebutuhan. 2010) .7. tanda perdarahan saluan cerna. tanda ensefalopati  Kadar hemoglobin. Hal. untuk menentukan apakah cairan yang diberikan sudah mencukupi.  Kadar hematokrit dipantau setiap 4-6 jam sekali sampai klinis pasien stabil  Setiap pasien harus mempunyai formulir pemantauan mengenai jenis cairan. jumlah. pernafasan meningkat. respirasi. 2010)  Adakah pembesaran hati.) maka furosemid 1 mg/kgBB dapat diberikan. Pemantauan kadar ureum dan kreatinin juga perlu dilakukan. dan trombosit setiap 6-12 jam  Pada DBD syok. maka pemberian dopamin dapat dipertimbangkan. lakukan cross match untuk persiapan transfusi darah bila diperlukan. hematokrit.

2010) .(Depkes.

Tidak demam selaina 24 jam tanpa antipiretik . Komplikasi  Ensefalopati dengue Dapat terjadi pada DBD dengan atau tanpa syok. 2010) 9.(Depkes. (Pudjiadi. 2010) 8.  Kelainan ginjal Akibat syok berkepanjangan apat terjadi gagal ginjal akut. Kriteria memulangkan pasien a. Tampak perbaikan secara klinis b.  Edema paru Akibat overloading cairan.

dapat ditemukan proteinuria. asidosis) e. Hematokrit stabil f. meliputi infeksi di parenkim ginjal sampai infeksi di kandung kemih. C. Jumlah trombosit cenderung naik > 50. Tiga hari setelah syok teratasi h. Diagnosis pasti dengan ditemukannya bakteriuria bermakna pada kultur urin (Pudjiadi. hematuria (>5/LPB). 2010). frekuensi meningkat. Infeksi saluran kemih merupakan penyebab demam kedua tersering setelah ISPA. seperti sakit waktu miksi. Pemeriksaan Penunjang Pada pemeriksaan urinalisis. polakisuria. A. Nafsu makan membaik (Depkes. Anamnesis menyebabkan . Pada anak besar. Pemeriksaan Fisik Demam. dari asimptomatik sampai gejala sepsis yang berat. nyeri perut atau pinggang. A. leukosituria (> 5/LPB). urin yang berbau menyengat. Anamnesis Gambaran klinis ISK sangat bervariasi dan tidak khas. nyeri ketok sudut kosto vertebra. ANEMIA DEFISIENSI BESI Adalah anemia akibat kekurangan zat besi untuk sintesis hemoglobin dan merupakan defisiensi nutrisi yang paling banyak pada anak dan masalah kesehatan yang paling besar terutama di negara berkembang. 2010) INFEKSI SALURAN KEMIH Ialah adanya pertumbuhan bakteri di dalam saluran kemih. nyeri tekan supra simpisis. B.c. gejalanya lebih khas.000/pl g. Tidak dijumpai distres pernafasan (disebabkan oleh efusi pleura atau d.

4. C. Tes yang paling efisien untuk mengukur cadangan besi tubuh adalah feritin serum. Gejala klinis ADB sering terjadi perlahan dan tidak begitu diperhatikan keluarga. takikardi. dan 4. 2.1. protein-loosing enteropathy. 3. bahan makanan yang menghambat penyerapan besi 4. gagal jantung. Bila kadar Hb <5g/dl ditemukan gejala iritabel dan anoreksia 2. Rentan terhadap infeksi. Mudah lelah. Saturasi transferin < 15% (N: 20-50%) Kriteria ini harus dipenuhi paling sedikit kriteria nomor 1. hipokromik. Pemeriksaan Penunjang Kriteria diagnosis ADB menurut WHO: 1. tidak ada nafsu makan. serta ganggua perilaku dan prestasi belajar. gangguan pertumbuhan. Kadar Fe serum kurang dari 50 µg/ dl (N: 80-180 µg/ dl) 4. penurunak aktivitas fisik. anisositosis. infestasi parasit B. Memakan bahan makana yang kurang mengandung zat besi. Bila sarana terbatas. Respon terhadap pemberian terapi besi (Pudjiadi. 3. Anemia tanpa organomegali 3. stomatitis angularis. Infeksi malaria. Gambaran darah tepi: Mikrositik. Gemar memakan makanan tidak biasa (PICA) 3. Pucat ditemukan bila kadar Hb <7 gr/dl 3. . Konsentrai Hb eritrosit rata-rata 31% (N: 32-35%). 2010). mudah marah. Pucat yang berlangsung lama tanpa manifestasi perdarahan. glositis. Dapat ditemukan koilonikia. daya tahan tubuh terhadap infeksi menurun. Pemeriksaan Fisik 1. diagnosis ditegakan berdasarkan: 1. Tanpa organomegali 4. Anemia tanpa perdarahan 2. lemas. 5. sel target. Kadar Hb kurang dari normal sesuai usia 2.

BAK terakhir 5 jam sebelum masuk rumah sakit. muntah (-).BAB III ANALISIS KASUS Pada kasus demam berdarah dengue yang ditangani oleh bagian infeksi anak RSDM. Saat itu pasien sudah berobat dan mendapatkan obat penurun panas. pasien dibawa ke Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit Daerah Dr. 11 April 2012 kurang lebih pukul 17. pilek (-). BAB normal nerwarna coklat. muntah (+) satu kali sebanyak ¼ gelas aqua berisi makanan dan cairan. mencret (-). demam yang dialami pasien berada pada hari ke-2. Demam dirasakan terus-menerus. riwayat penyakit sekarang. pasien masih demam disertai dengan mual (+). Oleh karena tidak ada perbaikan. pasien demam (+). Riwayat . diketahui bahwa pasien tidak memiliki riwayat mondok sebelumnya dan riwayat menderita demam berdarah dengue (DBD). Riwayat batuk (-). pilek (-). Muwardi oleh keluarga. Pada saat pasien masuk rumah sakit (13 April 2012). Pada hari Jumat 13 April 2012 sebelum masuk rumah sakit.00 WIB. epistaksis (-). kejang (-). dilakukan anamnesis secara menyeluruh yang meliputi keluhan utama. pilek (-). Untuk menegakkan diagnosis penyakit pada pasien tersebut. perempuan (16 tahun) datang dengan keluhan utama demam. kelahiran. serta pertumbuhan dan perkembangan pasien. Setelah meminum obat. BAK normal. begitu pula dengan tetangga di sekitar rumah pasien. mual (-). demam turun tetapi kemudian meningkat kembali. Dari anamnesis lebih lanjut setelah anamnesis keluhan utama dan riwayat penyakit sekarang. batuk (-). mual (+). pasien An. riwayat kehamilan. Pasien mengeluhkan nyeri sendi (+) dan sakit kepala (+). mencret (-). muntah (-). epistaksis (-). pasien mengalami demam tinggi yang dirasakan pertama kali pada hari Rabu. banyak warna kuning jernih. Di dalam keluarga pasien tidak ada yang menderita penyakit yang sama. ibu pasien mengandung selama 36 minggu. S. Riwayat mencret (-). jumlah urin banyak. Saat di IGD RSDM. tidak nyeri ketika BAK. dan warna urin kuning. riwayat penyakit dahulu. riwayat penyakit keluarga. Selama kehamilan tidak didapatkan penyakit dan riwayat konsumsi obat kecuali tablet Fe. batuk (-). BAB normal berwarna coklat. Kurang lebih dua hari sebelum masuk rumah sakit. Untuk riwayat kehamilan.

dan bising (-).33 WIB di Laboratorium Patologi Klinik RSDM menunjukkan penurunan kadar Hb (11. Karena kadar Hb menurun. Pada ekstremitas pasien tidak didapatkan akral dingin. pada mata didapatkan konjungtiva anemis (-) sklera ikterik (). penurunan kadar leukosit (1. dan pada trimester 3 dilakukan 2 kali pemeriksaan. pada hidung didapatkan nafas cuping hidung (-). discharge (-).8 ribu/ µl). dan gizi kesan baik. pada mulut didapatkan mukosa basah (+). Langkah selanjutnya adalah melakukan pemeriksaan fisik. Ibu pasien menggunakan alat keluarga berencana jenis spiral. dan anemis tetapi didapatkan uji tourniquet positif paada tangan kiri. konsistensi saat palpasi supel. Pemeriksaan yang dilakukan pertama adalah pemeriksaan tanda vital dengan hasil tekanan darah 110/70 mmHg. suara tambahan (-). udem palpebra (-). nadi 132 kali per menit.6 g/ dl). pada trimester 2 dilakukan 1 kali pemeriksaan. bising usus (+) normal. pada abdomen didapatkan dinding abdomen dan dinding abdomen sejajar. sianosis (-) faring dan tonsil tidak hiperemis. serta tidak teraba hepar dan lien. Suhu tubuh yang meningkat menunjukkan demam. Status gizi secara antropometri adalah baik. penurunan kadar trombosit (84 ribu/ µl). suara perkusi timpani. pasien memiliki riwayat lahir spontan dan langsung menangis kuat dengan berat badan lahir normal yaitu 3200 gram dan panjang badan normal yaitu 47 cm. dan frekuensi nafas berada dalam batas normal. pada leher tidak didapatkan pembesaran kelenjar getah bening. kemudian dilakukan pemeriksaan penunjang untuk lab darah. tidak kesakitan. Untuk lebih mengarahkan diagnosis pada pasien ini. pada thoraks didapatkan retraksi (-). maka . Pemeriksaan fisik pada kepala didapatkan mesocephal. frekuensi nafas 20 kali per menit. pada jantung didapatkan bunyi jantung I-II intensitas normal. udem. Riwayat nutrisi kuantitas dan kualitas kesan baik. Pada pemerikasaan fisik diperoleh keadaan umum composmentis. Riwaya pemeliharaan postnatal pada pasien pun baik. Hasil lab darah hematologi rutin pada tanggal 13 April pukul 22. regular. pada pulmo didapatkan suara dasar vesikuler (+). frekuensi nadi.pemeliharaan prenatal baik dimana pada trimester 1 dilakukan 1 kali pemeriksaan. lemah. Tekanan darah.4oC per aksilar. suhu 39. pembesaran tonsil (-). Pada riwayat kelahiran. Capillary refill time (CRT) kembali kurang dari dua detik dan arteri dorsalis pedis teraba kuat.

nyeri retroorbital. dan Paracetamol 3x500 mg (per oral). penurunan kadar limfosit (20.1%) dan PDW (17%). Selain itu juga terjadi penurunan RDW (15. uji bendung positif. Paracetamol diberikan untuk menurunkan demam pasien. 30%). Perbedaan utama DD dan DBD adalah pada DBD ditemukan adanya kebocoran plasma yang ditandai dengan peningkatan hematokrit >20% atau penurunan hematokrit >20% setelah diberi terapi cairan dibandingkan nilai hematokrit sebelumnya.00 tanggal 14 April . S didiagnosis mengalami demam dengue karena mengalami demam akut selama dua sampai tujuh hari dengan dua atau lebih manifestasi kinis antara lain nyeri kepala. IVFD D ½ S 20 tpm makro. mialgia/ artralgia. 8 g/ dl) juga nilainya di bawah normal. Selain terapi. 90%). manifestasi perdarahan (petekie atau uji bending positif. Nilai ini menurun dibanding nilai trombosit hari sebelumnya yaitu 84 ribu/ ul. ruam kulit. Pada hitung jenis leukosit didapatkan peningkatan kadar granulosit (72. Cairan parenteral berupa D ½ S diberikan atas indikasi kebutuhan nutrisi pasien dan mual muntah sehingga asupan nutrisi oral kurang adekuat.00 nilai trombosit pasien adalah 60 ribu/ul. pemeriksaan fisik. Pemerikasaan nilai trombosit 6 jam kemudian pada pukul 14. Pada tangggal 14 April 2012 pukul 06. Pada pasien ini terjadi demam. 8%).1 pg) dan MCHC (32. tidak terjadi peningkatan hematokrit selama beberapa kali pemeriksaan lab darah mulai dari tanggal 13 April 2012 hingga hari-hari berikutnya. Terapi awal yang diberikan pada tanggal 13 April 2012 sesuai hasil anamnesis.pemeriksaan indeks eritrosit yaitu MCH (27. nyeri kepala. dan artralgia. Pada pasien ini meskipun terjadi penurunan trombosit. leukopenia. pemeriksaan fisik. Hasil anamnesis. dan pemeriksaan laboratorium adalah diet nasi lauk 2200 kkal/ hari. dan pemeriksaan penunjang yang telah dilakukan pada pasien mengarahkan diagnosis banding bahwa pasien mengalami Dengue fever dengan manifestasi perdarahan dan dengan diagnosis diferensial DHF dan ISK. dan pemeriksaan serologi dengue positif. dilakukan juga pemeriksaan laboratorium secara rutin meliputi lab darah DL3 setiap 6 jam untuk memantau respon psien terhadap terapi yang diberikan. dan peningkatan kadar monosit (6. Selain itu pasien juga diduga mengalami anemia mikrositik hipokromik dengan diagnosis diferensial defisiensi besi dan infeksi. Pasien An.

dilakukan perubahan terapi cairan parenteral dari IVFD D ½ S menjadi IVFD Ringer Laktat 7cc/kgBB/jam pada jam 10. trombosit pasien makin menurun menjadi 38 ribu/ul dan terjadi peningkatan hematokrit menjadi 40% dari sebelumnya 38% (jam 06. dan suhu tubuh dalam batas normal. Perembesan cairan plasma dapat terjadi ke jaringan interstisial. Pada tanggal 15 April 2011. tetapi secara klinis ditemukan tanda kebocoran plasma. Jika terjadi perbaikan klinis dan laboratorik. Pada demam berdarah dengue.00 tanggal 15 April. jumlah cairan dikurangi secara berkala menjadi 5cc/kgBB/jam. Tujuan pemberian IVFD Ringer Laktat ini adalah penggantian volume plasma. Pada tanggal 17 April 2012 juga dilaksanakan urinalisis yang menunjukkan terdapatnya leukosit. Nilai hematokrit tidak berubah dan berada dalam batas normal. Hal ini menegakkan diagnosis infeksi saluran kemih pada pasien. lalu diganti dengan IVFD D ½ S kembali. Pada pukul 14. cairan ditingkatkan yaitu IVFD RL 10 cc/kgBB/jam. gusi berdarah. maupu melena. Pada demam berdarah dengue derajat I dapat terjadi kebocoran plasma tetapi tidak ada perdarahan spontan seperti epistaksis. nitrit. Meskipun pemeriksaan laboratorik tidak membuktikan adanya peningkatan hematokrit yang menunjukkan kebocoran plasma. Hal ini menunjukkan bahwa demam dengue yang terjadi pada pasien telah disertai dengan kebocoran plasma yang bermanifestasi pada efusi pleura meskipun nilai hematokrit dalam batas normal. Pada tanggal 17 April 2012 pasien mengeluhkan sakit perut di region hipochondriaca dextra dan ditemukkan batuk.00 tanggal 14 April 2012. Diagnosis pada tanggal 17 April 2012 pun menjadi demam berdarah dengue derajat I. Hari berikutnya jumlah cairan dikurangi kembali menjadi IVFD RL 7cc/kgBB/jam. di stop. dapat . tidak gelisah. hematemesis.00).00) dan 33% (14 April 2012 jam 14. lalu 3cc/kgBB/jam. Vital sign pasien dalam batas normal diaman tidak terjadi penurunan takanan darah.2012 menunjukkan nilai yang semakin menurun yaitu 44 ribu/ul. salah satunya pleura sehingga didapatkan suara redup pada perkusi di paru regio inferior dextra. Efusi pleura ini dapat menimbulkan batuk pada pasien. Konfirmasi melalui pemeriksaan rontgen thorax pun menunjukkan adanya efusi pleura dextra. Didasari nilai trombosit yang makin menurun. nadi kuat. dan bakteri pada urin pasien.

salah satunya adalah infeksi saluran kencing. saturasi transferin. dan serum feritin. Pada tanggal 18 April 2012. dilakukukan pemeriksaan kimia klinik darah yang meliputi Besi. Apabila pasien diberikan preparat besi. akan memperparah ISK nya. Hasil tersebut menunjukkan anemia defisiensi besi pada pasien. Tatalaksana berupa pemberian preparat besi ditunda sampai infeksi saluran kencing sembuh. .terjadi infeksi sekunder. Hal ini dikarenakan bakteri dalam saluran kencing juga membutuhkan besi untuk nutrisinya. Pengobatan yang sesuai adalah antibiotika oral yang diberikan secara empiric selama 7-10 hari. TIBC.

Pohan H. 2010. Buku Kuliah 2 Ilmu Kesehatan Anak.. New Delhi Widodo. 2006. Djoko.. Guidelines For Treatment of Dengue Fever / Dengue Hemorrhagic Fever In Small Hospitals. S.. H. Jakarta: Balai Penerbit FKUI.. P... H. 2006. Chen K. Jakarta: Balai Penerbit FKUI. P. Hegar B. Soedarmo S.pdf.DAFTAR PUSTAKA Depkes. Handryastuti S. Hal: 1710-1711 WHO. Pedoman Pelayanan Medis Ikatan Dokter Anak Indonesia.. Diakses tanggal 15 April 2012.. Gandaputra E. Idris N. 1985. Jakarta: Balai Penerbit FKUI.. Hal: 614-615. Pudjiadi A.go.depkes. Nainggolan L. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid III Edisi IV. 2002. Tata Laksana DBD. S. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid III Edisi IV. Hadinegoro S. Hal: 141-145. R. D.. T. Hassan R. www. Harmoniati E. Hal: 183-184. Garn.. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Anak Infeksi & Penyakit Tropis Edisi Pertama. 367 Suhendro...id/downloads/Tata%20Laksana%20DBD. Jakarta: Balai Penerbit FKUI. 1999.. Jakarta: Balai Penerbit FKUI. 2010. Alatas H. Hal: 1752-1753 . S.