You are on page 1of 7

KONTROL MUTU JAGUNG DAN DEDAK PADI DI PABRIK PAKAN (Rapid Test

)
Disampaikan sebagai salah satu

Laporan Teknis Intern
pada Kegiatan Pengkajian dan Pengembangan Pakan Ternak Berbahan Baku Lokal. Proyek Pengkajian dan Penerapan Agroteknologi

BPPT
Oleh : M. Nasir Rofiq, SPt. Msi.

Direktorat P3 Teknologi Budidaya Pertanian Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi Jakarta – 2003

KATA PENGANTAR
Laporan teknis KONTROL MUTU JAGUNG DAN DEDAK PADI DI PABRIK PAKAN (Rapid Test) merupakan salah satu Laporan Akhir dari Kegiatan Pengkajian dan Pengembangan Pakan Ternak Berbahan Baku Lokal, Proyek Pengkajian dan Penerapan Agroteknologi – BPPT tahun 2003 Laporan ini merupakan hasil kajian kegiatan tersebut dalam mengkaji penggunaan dedak dan jagung sebagai bahan utama dalam pembuatan pakan ternak. Kedua bahan tersebut tidak terlepas dari proses penyimpanan dalam pabrik pakan yang mempengaruhi mutunya, sehingga memerlukan penanganan yang baik saat penyimpanan. Dari laporan ini diharapkan dapat menjadi patokan standar dalam mengendalikan mutu bahan baku pakan dedak dan jagung saat disimpan dalam pabrik atau saat menerima bahan untuk disimpan. Pada pakan ternak komersial, khususnya pakan unggas, Dedak dan jagung merupakan pakan bahan pakan utama dalam ransum tersebut. Jagung rata-rata mencapai 60% dalam campuran pakan, sedangkan dedak mencapai 30%. Besarnya jumlah yang dipakai dalam pembuatan pakan memerlukan ketersediaan bahan yang cukup, sehingga perlu dilakukan proses penyimpanan kedua bahan tersebut sesuai dengan kapasitas produksi dan masa simpan bahan. Kapasitas produksi akan menentukan berapa besar bahan pakan harus disimpan dan berapa lama bahan tersebut bertahan dari kerusakan. Kerusakan bahan pakan bisa disebabkan oleh jamur, hewan pengerat serta proses oksidasi. Kerusakan tersebut mengakibatkan kerugian pada pabrik pakan. Mudah-mudahan Laporan ini dapat bermanfaat bagi yang membacanya.

Jakarta,

November 2003

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .................................................................................... DAFTAR ISI

i

............................................................................................... ii

I PENDAHULUAN ........................................................................................ 1 1.1. Latar Belakang………………………………………………………… 1 1.2. Tujuan Kegiatan………………………………………………………. 2
II PROBIOTIK STARBIO 3

2.1. Mengenal Starbio……………………………………………………….. 3 2.2. Proses Pembuatan …………………………………………………….. 4 2.3. Proses Kerja Starbio …………………………………………………… 4 III. STARBIO UNTUK AYAM BROILER………………………………………….. 6 3.1. Budidaya Ayam Broiler…………………………………………………. 6 3.2. Pengaruh Starbio terhadap Konsumsi Ransum …………………….. 6 3.3. Pengaruh Starbio terhadap Bobot Badan dan Pertambahannya….. 7 3.4. Pengaruh Starbio terhadap Rasio Konversi Ransum ………………. 8 3.5. Aspek Ekonomi…………………………………… …………………….. 9 IV. KESIMPULAN …………………………………………………………………… 11
V. DAFTAR PUSTAKA …………………………………………………………….. 12

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Bahan pakan sebagai penyusun pakan terdiri dari beberapa jenis dalam bentuk butiran, tepung dan cair yang berfungsi masing-masing sebagai sumber protein, energi, dan nutrisi lain serta berfungsi sebagai pengkondisi tertentu (pengikat pelet, aromatik, dll). Ketersediaan bahan-bahan tersebut saat ini masih banyak yang diperoleh dari luar (impor) seperti jagung, bungkil kedelai, tepung ikan, dan feed aditif. Berbagai Jenis dan bentuk bahan baku yang biasa digunakan : Butiran : jagung; sorgum; gandum; kacang hijau; kacang kedelai; kacang tanah; kacang gude; biji kecipir, dll. Tepung : dedak padi; dedak gandum; tepung ikan; sagu, tepung bulu unggas; daging bekicot; tepung tulang; tepung darah; tepung

gaplek; tepung daun ubi kayu; tepung daun lamtoro; tepung daun pepaya; tepung daun turi, tepung kerang, dll. Cairan : minyak kelapa, CPO, minyak kedelai; minyak ikan, dll.

Beberapa bahan pakan digunakan dalam jumlah besar karena memiliki nutrisi yang lengkap, berfungsi utama serta mempunyai harga yang murah seperti dedak, jagung, bungkil kedelai dan tepung ikan. Dalam susunan pakan ternak, khususnya pakan ternak unggas, komposisi bahan pakan dedak mencapai 30% berfungsi sebagai penyedia energi dan mineral. Komposisi jagung mencapai 60% karena berfungsi penting dalam memberikan asam amino tertentu seperti lisin dan tepung ikan serta bungkil kedelai berfungi sebagai penyedia protein hewani dan nabati yang sangat dibutuhkan oleh ternak. Komposisinya yang besar dalam pakan membutuhkan ketersediaan bahan yang besar pula. Di sisi lain, bahan-bahan tersebut biasanya tersedia pada musim-musim panen tertentu. Untuk memenuhi ketersediaan bahan pakan tersebut setiap saat maka diperlukan proses penyimpanan. Dalam proses pembuatan pakan, terdapat proses penting yang harus diperhatikan yaitu quality control bahan pakan, mesin, pakan jadi dan sumberdaya

manusia. Quality control terhadap bahan baku pakan merupakan proses utama yang menentukan mutu pakan jadi.

JAGUNG Jagung merupakan bahan baku pakan yang sering digunakan untuk menyusun pakan ternak. Secara nutrisi Jagung merupakan sumber karbohidrat dan beberapa asam amino serta xanthophyl. Seperti kebanyakan sumber karbohidrat yang lain di daerah tropis jagung ini sangat mudah ditumbuhi jamur, Aspergillus flavus dan aspergillus parasiticus yang akan menghasilkan aflatoxin. Sebenarnya masih banyak mikotoxin yang lain seperti : ochratoxin, zearalenone, deoxynivalenol,T-2 dan Fumonisin, namun yang sering dijumpai adalah aflatoxin. Jamur akan berkembang dengan baik dan menghasilkan toxin jika lingkungannya mendukung, yaitu kadar air yang tinggi >15%, kelembaban 85% atau lebih dan suhu 25 – 32 oC. Untuk mengetahui kualitas jagung, kita harus memeriksa kadar air, persentase biji pecah, biji rusak, biji mati, biji jamur dan kotoran serta kadar aflatoxinnya. Kadar air Kadar air secara praktis bisa di uji dengan alat kadar air Tecator sinar AP. Alat kadar ini portable cocok untuk test kadar air bahan baku di lapangan. Maksimum kadar air yang di rekomendasikan adalah 15%. Screen Test Kadar biji jagung yang pecah, rusak, mati, kotoran dan jamur bisa di test dengan sieve (ayakan) mesh 4. Jumlah persentasenya diketahui melalui penimbangan 100 g jagung yang diambil dari sampling yang representatif. Ayak dengan ayakan mesh 4, kemudian pisahkan biji yang pecah, rusak, mati, kotoran dan jamur. Timbang masing-masing dan hitung persentasenya. Biji jamur tidak boleh lebih dari 5%, total screen test tidak boleh lebih dari 15%. Kadar Aflatoxin Kadar aflatoxin bisa di estimasi secara kualitatif dengan bantuan lampu ultra violet (biasa dipakai untuk membedakan uang palsu dan yang asli di Bank). Untuk bisa estimasi kadar aflatoxin ini memeng pada awalnya harus ada perbandingan dari hasil analisa secara kuantitatif laboratorium. Hal ini bisa bekerjasama dengan pabrik pakan ternak mitranya, ataupun Universitas. Cara estimasi kadar aflatoxin dengan lampu ultra violet sebagai berikut ; - giling kasar tanpa memakai saringan jagung utuh sebanyak + 800 g. - Letakan di nampah segi empat secara merata. - Letakan lampu ultra violet di nampan. - Hitung/estimasi jumlah vartikel jagung yang yang berpendar (fluorecent)seperti kunang-kunang. Menurut pengalaman setelah setelah dibandingkan dengan hasil analisa kuantitatif laboratorium (TLC = Thin Layer Chromatography) satu titik kecil partikel jagung yang berpendar sama dengan aflatoxin 1 ppb. DEDEK PADI Yang menyebabkan kualitas dedak padi jelek adalah kandungan skamnya. Skam tersusun oleh lignin yang tidak memiliki nilai nutrisi karena tidak bisa dicerna oleh ternak

non ruminansia termasuk poultry. Dengan demikian semakin tinggi kadar skamnya dalam dedak padi , dapat dikatakan bahwa dedak padi tersebut jelek kualitasnya. Untuk itu peternak yang mencampur sendiri pakannya harus juga melakukan test sekam dedak padi. Test Sekam Test skam dedak padi dapat dilakukan dengan larutan phloroglucinol 1%. Prinsip kerjanya, skam dari dedak padi akan berwarna merah jika terendam larutan phloroglucinol 1%. Sebaran warna merahnya menandakan kadar skamnya. Cara membuat larutan phloroglucinol 1% adalah sebagai berikut : timbang phloroglucinol 25 g, tambahkan HCl pekat 180 g dan ethanol 500 ml serta aquades sampai menjadi 2,5 l. Larutan phloroglucinol yang sudah jadi kemudian di simpan dalam botol gelap dan siap di pakai. Jika berubah menjadi merah, larutan tersebut rusak dan tidak akurat lagi. Maka sebaiknya buatlah larutan phloro glucinol secukupnya saja, kira-kira untuk 1 minggu. Cara test skam dengan larutan phloroglucinol 1 % sebagai berikut: - Siapkan sampel standar skam 10 %, 15 % dan 20%, timbang masing-masing satu gram. - Siapkan sample dedak padi dan timbang satu gram. - Letakan masing-masing sample dalam petri dish (cawan kaca) secara merata. - Dalam waktu hampir bersamaan, masing-masing sample diberi larutan phloroglucinol 1% denan spluit plastik sebanyak 5 ml. - Goyang-goyangkan cawan kaca hingga sample bercampur dengan larutan phloroglucinol secara merata. - Tunggu 10 menit, kemudian amati warnanya, bandingkan dengan sample standar. Kadar skam yang di rekomendasikan maksimal 20 %. Cara Membuat Skam Standar 1. ayak dedak padi dengan ayakan mesh 40, yang lolos adalah dedak padi tanpa skam 2. timbang skam yang sudah digiling halus sesuai dengan standar yang diinginkan : 10 g, 15 g, dan 20 g. 3. campur skam dengan dedak padi tanpa skam sbb: Bahan Standar 10% Skam 10 Dedak 90 Padi Tanpa Skam Standar 15 % 15 85 Standar 20 % 20 80

Dedak Kadar sekam 10%

Dedak Kadar sekam 20%