IDENTIFIKASI

BAB I

1

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dewasa ini membawa kesejahteraan bagi umat manusia di segala bidang kehidupan tetapi juga menimbulkan akibat yang tidak diharapkan. Salah satu akibat yang tidak diharapkan tersebut adalah meningkatnya kuantitas maupun kualitas mengenai cara atau teknik pelaksanaan tindak pidana, khusunya yang berkaitan dengan upaya pelaku tindak pidana dalam usaha meniadakan sarana bukti, sehingga tidak jarang dijumpai kesulitan bagi para petugas hukum untuk mengetahui identitas korban. Dalam proses penyidikan suatu tindak pidana, mengetahui identitas korban merupakan hal yang sangat penting. Dengan mengetahui identitas korban merupakan sebagai langkah awal penyidikan sehingga dapat dilakukan langkahlangkah selanjutnya. Apabila identitas korban tidak dapat diketahui, maka sebenarnya penyidikan menjadi tidak mungkin dilakukan. Selanjutnya apabila penyidikan tidak sampai menemukan identitasnya identitas korban, maka dapat dihindari adanya kekeliruan dalam proses peradilan yang dapat berakibat fatal. Selain itu mengetaui identitas korban untuk berbagai kehidupan sosial misalnya asuransi, pembagian dan penentuan ahli waris, akte kelahiran, pernikahan dan sebagainya keterangan identitas mempunyai arti penting pula, yaitu untuk

2

mengetahui bahwa keterangan itu benar-benar keterangan yang dimaksud untuk memperoleh yang menjadi haknya maupun untuk memenuhi kewajibannya.2,3 Bencana adalah suatu peristiwa yang terjadi secara mendadak dan tidak terencana atau secara perlahan tetapi berlanjut yang menimbulkan dampak terhadap pola kehidupan normal atau kerusakan ekosistem sehingga diperlukan tindakan darurat dan menyelamatkan korban yaitu manusia beserta

lingkungannya. Bencana yang terjadi secara akut atau mendadak dapat berupa rusaknya rumah serta bangunan, rusaknya saluran air, terputusnya aliran listrik, jalan raya, bencana akibat tindakan manusia, dan lain sebagainya. Sedangkan bencana yang terjadi secara perlahan-lahan atau slow onset disaster, misalnya perubahan kehidupan masyarakat akibat menurunnya kemampuan memperoleh kebutuhan pokok, atau akibat dari kekeringan yang berkepanjangan, kebakaran hutan dengan akibat asap atau haze yang menimbulkan masalah kesehatan.— Dalam ilmu kedokteran forensik dikenal pemeriksaan identifikasi yang merupakan bagian tugas yang mempunyai arti cukup penting. Identifikasi adalah suatu usaha untuk mengetahui identitas seseorang melalui sejumlah ciri yang ada pada orang tak dikenal, sedemikian rupa sehingga dapat ditentukan bahwa orang itu apakah sama dengan orang yang hilang yang diperkirakan sebelumnya juga dikenal dengan ciri-ciri itu. Disitulah semua, identifikasi mempunyai arti penting baik ditinjau dari segi untuk kepentingan forensik maupun non-forensik.

3

Makalah ini bertujuan membahas berbagai hal mengenai identifikasi forensik ataupun identifkasi secara umum meliputi: pengertian, arti penting, macam-macam pemeriksaan dan cara atau metode serta sistem identifikasi. Halhal demikian diperlukan untuk memperoleh pemahaman pemahaman dalam penanganan dan pemeriksaan identifikasi yang komprehensif.

B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan maka dalam penulisan referat ini dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut : 1. Apakah pengertian dari identifikasi forensik? 2. Apa saja dasar - dasar dari pemeriksaan pada identifikasi forensik? 3. Metode apa yang dipakai dalam identifikasi forensik? 4. Ada berapa jenis pemeriksaan identifikasi foresik? 5. Menyadari betapa pentingnya peran dokter dalam proses identifikasi forensik?

C. Tujuan Penulisan Tujuan dari penulisan ialah sebagai berikut : 1. Untuk mengetahui pengertian dari identifikasi forensik. 2. Untuk mengetahui pemeriksaan apa saja yang dilakukan pada identifikasi forensik. 3. Mampu memahami berbagai jenis pemeriksaan identifikasi.

4

4. Sebagai persyaratan ujian pada kepaniteraan klinik ilmu kedokteran forensik dan medikolegal.

D. Manfaat Penulisan 1. Bagi Mahasiswa  Sebagai bekal dalam menjalani profesi sebagai dokter muda.

2. Bagi Institusi Pendidikan   Mengerti maksud dan tujuan dalam melakukan identifikasi forensik. Sebagai media pengabdian masyarakat terutama kasus-kasus yang berkembang di masyarakat khususnya dalam bidang Kedokteran Forensik dan Medikolegal. 3. Bagi Pengadilan  Pentingnya identifikasi forensik bagi penyelesaian perkara pidana.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

5

A. Definisi Identifikasi Identifikasi adalah penentuan atau pemastian identitas orang yang hidup maupun mati, berdasarkan ciri khas yang terdapat pada orang tersebut. Identifikasi juga diartikan sebagai suatu usaha untuk mengetahui identitas seseorang melalui sejumlah ciri yang ada pada orang tak dikenal, sedemikian rupa sehingga dapat ditentukan bahwa orang itu apakah sama dengan orang yang hilang yang diperkirakan sebelumnya juga dikenal dengan ciri-ciri itu. Identifikasi forensik merupakan usaha untuk mengetahui identitas seseorang yang ditujukan untuk kepentingan forensik, yaitu kepentingan proses peradilan.1,2 Peran ilmu kedokteran forensik dalam identifikasi terutama pada jenazah tidak dikenal, jenazah yang rusak, membusuk, hangus terbakar dan kecelakaan masal, bencana alam, huru hara yang mengakibatkan banyak korban meninggal, serta potongan tubuh manusia atau kerangka.Selain itu identifikasi forensik juga berperan dalam berbagai kasus lain seperti penculikan anak, bayi tertukar, atau diragukan orangtua nya.Identitas seseorang yang dipastikan bila paling sedikit dua metode yang digunakan memberikan hasil positif.1 Dengan diketahuinya jati diri korban, penyidik akan lebih mudah membuat satu daftar dari orang-orang yang patut dicurigai. Daftar tersebut akan lebih diperkecil lagi bila diketahui saat kematian korban serta alat yang dipakai oleh tersangka pelaku kejahatan.3 B. Metode Identifikasi

6

yaitu berbagai macam pemeriksaan identifikasi yang biasanya sudah dapat diselenggarakan penanganannya oleh pihak polisi penyidik antara lain: a. dengan memperhatikan dengan cermat atas korban. emosi serta latar belakang pendidikan. b. Berdasarkan penyelenggaraan penanganan pemeriksaannya. Juga perlu diingat bahwa manusia itu mudah terpengaruh oleh sugesti. 7 . kalung.maka jati diri korban dapat diketahui. Selain itu perlu diperhatikan faktor psikologis.Dalam pelayanan identifikasi forensik berbagai macam pemeriksaan dapat digunakan sebagai sarana identifikasi. Perhiasan. Metode visual. khususnya bila pada perhisan itu terdapat initial nama seseorang yang biasanya terdapat pada bagian dalam dari gelang atau cincin. maka sarana-sarana identifikasi dapat dikelompokkan: 1.2. anting-antign. Mengingat kepentingan tersebut maka penyimpanan dari perhisan haruslah dilakukan dengan baik. gelang serta cincin yang ada pada tubuh korba. khususnya dari pihak penyidik. Walaupun metoda ini sederhana.3 1. Sarana identifikasi konvensional. oleh karena faktor-faktor tersebut dapat mempengaruhi hasil pemeriksaan. akan membantu dokter atau pihak penyidik didalam menentukan identitas korban. untuk mendapat hasil yang diharapkan perlu diketahui bahwa metode ini baru dapat dilakukan bila keadaan tubuh dan terutama wajah korban masih dalam keadaan baik dan belum terjadi pembusukan yang lanjut. terutama wajahnya oleh pihak keluarga atau rekan dekatnya.

kartu golongan darah. surat izin mengemudi. dokter masih mempunyai kewajiban. baru kemudian dilakukan pengambilan sidik jari. perlu diingat akan kebiasaan seseorang di dalam menaruh dompet atau tasnya. sehingga pada kecelakaan masal tas seseorang dapat terlempar dan sampai pada orang lain yang bukan pemiliknya. tanda pembayaran dan lain sebagainya yang ditemukan dalam dompet atau tas korban dapat menunjukkan jati diri korban. jika hal ini tidak diperhatikan kekeliruan identitas dapat terjadi. juga mudah dilakukan secara masal dan murah pembiayaanya. paspor. d.walaupun kedua orang tersebut kembar satu telur. dapat dikatakan bahwa tidak ada dua orang yang mempunyai sidik jari yang sama. sidik jari merupakan sarana yang terpenting khususnya bagi kepolisian didalam mengetahui jati diri seseorang. sedangkan pada wanita tas biasanya dipegang. oleh karena selain kekhususannya. Jari. yaitu untuk menganbilkan (mencetak) sidik jari. kartu tanda penduduk. Teknik pengembangan sidik jari pada jari telah mengelupas dan memasangnya pada jari yang sesuai pada jari pemeriksa. Atas dasar ini. Khusus pada kecelakaan masal. khususnya sidik jari pada korban yang tewas dan keadaan mayatnya telah membusuk. Dokumen.c. Walaupun pemeriksaan sidik jari tidak dilakukan dokter. khususnya bila kondisi korban sudah busuk atau rusak. 8 . merupakan prosedur yang harus dikatahui dokter. Pada pria dompet biasanya terdapat dalam saku baju atau celana.

d. antroposkopi dan antropometri. Pemeriksaan ciri-ciri badan atau rangka melalui pemeriksaan antropologis. antara lain: a. warna serta bentuk rambut dan mata. warna kulit. Beberapa contoh ciri non-spesifik antara lain misalnya tinggi badan. misalnya cacat bibir sumbing atau celah palatum. c. tato. Pemeriksaan golongan darah berbagai sistem: ABO. bekas luka ata operasi luar (sikatrik atau keloid). Pemeriksaan ciri-ciri biologi molekuler sidik DNA dan lain-lain Dikenal ada dua metode melakukan identifikasi yaitu secara komparatif (membandingkan) dan secara rekonstruksi. Rhesus. MN. bentuk-bentuk hidung. yaitu berbagai macam pemeriksaan identifikasi yang diselenggarakan penanganannya oleh pihak medis. tahi lalat. bibir dan sebagainya. Pemeriksaan ciri-ciri gigi melalui pemeriksaan odontologis. b.2. HLA dan sebagainya. yaitu apabila pihak polisi penyidik tidak dapat menggunakan sarana identidikasi konvensional atau kurang memperoleh hasil identifikasi yang meyakinkan. Sarana identifikasi medis. Keel. bekas fraktur atau adanya pin pada bekas operasi tulang atau juga hilangnya bagian tubuh tertentu dan lain-lain. Yang dimaksud dengan identifikasi membandingkan data adalah identifikasi yang dilakukan dengan cara membandingkan antara data ciri hasil pemeriksaan hasil orang tak dikenal dengan 9 . Duffy. hiperpigmentasi daerah kulit tertentu. Pemeriksaan ciri-ciri tubuh yang spesifik maupun yang non-spesifik secara medis melalui pemeriksaan luar dan dalam pada waktu otopsi. Beberapa ciri yang spesifik. e. jenis kelamin.

Pada penerapan penanganan identifikasi kasus korban jenasah tidak dikenal. memenuhi kriteria untuk dapat dibandingkan dengan data post mortemnya. Hal ini karena pada identifikasi dengan cara membandingkan data. hasilnya hanya ada dua alternatif: identifikasi positif atau negatif. Apabila tidak dapat dipenuhi syarat tersebut.4. yaitu dapat menunjukan siapa jenasah yang tidak dikenal tersebut. sehingga dengan demikian belum dapat ditentukan siapa jenasah tak dienal tersebut. Data ante mortem yang baik adalah berupa medical record dan dental record.4. Identifikasi negatif yaitu apabila data yang dibandingkan tidak sama.1. maka identifikasi dengan cara membandingkan tidak dapat diterapkan.data ciri orang yang hilang yang diperkirakan yang pernah dibuat sebelumnya. bukan berarti kita tidak dapat mengidentifikasi.5 Apabila identifikasi dengan cara membandingkan data tidak dapat diterapkan. Apabila demikian 10 . Untuk dapat melakukan identifikasi dengan cara membandingkan data. yaitu harus tersedianya data ante mortem berupa medical atau dental record yang lengkap dan akurat serta up-to-date. Identifikasi positif.5 Identifikasi dengan cara membandingkan data ini berpeluang menentukan identitas sampai pada tingkat individual. diperlukan syarat yang tidak mudah. sehingga dapat disimpulkan bahwa jenasah yang tidak dikenali itu adalah sama dengan orang yang hilang yang diperkirakan. yaitu apabila kedua data yang dibandingkan adalah sama.1. Untuk itu masih harus dicarikan data pembanding antemortem dari orang hilang lain yang diperkirakan lagi. maka kedua data ciri yang dibandingkan tersebut adalah data post mortem dan data ante mortem.

Dengan ciri-ciri yang spesifik. Dengan perhitungan indeks-indeks dan modulus kefalometri atau kraniometri. Meskipun identifikasi cara rekonstruksi ini tidak sampai menghasilkan dapat menentukan identitas sampai pada tingkat individual. tinggi dan bentuk serta ciri-ciri spesifik badan.halnya. dapat diperhitungkan perkiraan ras dan bentuk muka individu. Dengan mengamati lebar-sempitnya tulang panggul terhadap kriteria dan ukuran laki-laki dan perempuan. dapat diperkirakan umurnya. umur. e. namun demikian perkiraan-perkiraan identitas yang dihasilkan dapat mempersempit dan memberikan arah penyidikan. Dengan mengamai interdigitasi dutura-sutura tengkorak dan pola waktu erupsi gigi. Pola permasalahan 11 . kita masih dapat mencoba mengidentifikasi dengan cara merekonstruksi data hasil pemeriksaan post-mortem ke dalam perkiraan-perkiraan mengenai jenis kelamin. c. Dengan formula matematis. d. yaitu : 1 1. dapat diperhitungkan perkiraan tinggi badan individu dari ukuran barang bukti tulang-tulang panjangnya. dapat menuntun kepada siapa individu yang memilikinya.6. Identifikasi sistem terbuka adalah identifikasi pada kasus yang terbuka kepada siapapun dimaksudkan sebagai si korban tidak dikenal. Pada kasus infantisid dengan mengukur tinggi badan (kepala-tumit atau kepala-tulang ekor) dapat diperkirakan umur bayi dalam bulan. ras. dikenal ada tiga macam sistem identifikasi. Terhadap pola permasalahan kasusnya. b.7 a. Sebagai contoh: 4. dapat diperkirakan jenis kelaminnya.

2. Identifikasi sistem semi terbuka atau semi tertutup adalah identifikasi pada suatu kasus yang sebagian korban tidak dikenalnya sudah diketahui dan sebagian lainnya belum diketahui sama sekali atau belum diektahui tetapi sudah tertentu. contoh: identifikasi korban kecelakaan pesawat terbang di Malioboro (semi terbuka) atau di suatu perumahan (semi tertutup). Dasar-Dasar Identifikasi Forensik Dasar hukum dan undang-undang bidang kesehatan yang mengatur identifikasi jenasah adalah : 3 a) Berkaitan dengan kewajiban dokter dalam membantu peradilan diatur dalam KUHAP pasal 133 : 1. ia berwenang mengajukan 12 . Dalam hal penyidik untuk membantu kepentingan peradilan menangani seorang korban baik luka. contoh: identifikasi korban pembunuhan tidak dikenal. Identifikasi sistem tertutup adalah identifikasi pada kasus yang jumlah dan daftar korban tak dikenalnya sudah diketahui. Pola permasalahan kasus biasanya: non-kriminal. identifikasi dapat dilakukan dengan cara membandingkan data. korban massal. 3. sulit diperoleh data antemortem. identifikasinya biasanya dilakukan dengan cara rekonstruksi. contoh: identifikasi korban kecelakaan pesawat terbang menabrak gunung. korban tunggal. keracunan ataupun mati yang di duga karena peristiwa yang merupakan tindak pidana. C.kasusnya biasanya : kriminal. dimungkinkan diperoleh data ante mortem.

d.permintaan keterangan ahli kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokter dan atau ahli lainnya. Melakukan pemeriksaan terhadap orang yang diduga melakukan. dilak dengan diberi cap jabatan yang diilekatkan pada ibu jari kaki atau bagian lain badan mayat. e. Penyidik sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) berwenang : a. c. 2. Selain penyidik pejabat polisi Negara Republik Indonesia juga kepada pejabat pegawai negeri sipil tertentu di Departemen Kesehatan diberi wewenang khusus sebagai penyidik sebagaimana dimaksud dalam UU No 8 tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana. Melakukan pemeriksaan atas surat atau dokumen lain. Meminta keteragan dan bahan bukti dari orang atau badan usaha. b) Undang-Undang Kesehatan Pasal 79 1. 13 . 2. untuk melakukan penyidikan tindak pidana sebagaimana diatur dalam undang-undang ini. Mayat yang dikirimkan kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokter pada rumah sakit harus diperlakukan secara baik dengan penuh penghormatan terhadap mayat tersebut dan diberi label yang memuatkan identitas mayat. 3. Melakukan pemeriksaan atau penyitaan bahan atau barang bukti. b. Melakukan pemeriksaan atas kebenaran laporan serta keterangan. yang dalam surat itu disebutkan dengan tegas untuk pemeriksaan luka atau pemeriksaan mayat dan atau pemeriksaan bedah mayat. Permintaan keterangan ahli sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan secara tertulis.

medis. oleh karena secara kriminologis pada umumnya ada hubungan antara pelaku dengan korbannya. pihak penyidik dapat melakukan penyidikan untuk mengungkap kasus menjadi lebih terarah. g. gigi. yang sudah tentu banyak faktor-faktor yang mempengaruhinya sehingga hasil yang dicapai tidak memenuhi harapan.3 14 . Hal tersebut oleh karena pada penentuan jati diri tersangka pelaku kejahatan semata-mata didasarkan pada penentuan secara visuil. Menghentikan penyidikan apabila tidak terdapat cukup bukti sehubungan dengan tindak pidana di bidang kesehatan.relatif lebih mudah bila dibandingkan dengan penentuan jati diri tersangka pelaku kejahatan. Delapan metoda yang lain. D. yaitu: metode visual. Meminta bantuan ahli dalam rangka pelaksanaan tugas penyidikan. pakaian. dokumen. Jenis-Jenis Pemeriksaan Identifikasi Forensik Menentukan identitas atau jati diri atas seorang korban tindak pidana yang berakibat fatal.f. Dengan diketahuinya jati diri korban. 3. Daftar tersebut akan lebih diperkecil lagi bila diketahui saat kematian korban serta alat yang dipakai oleh tersangka pelaku kejahatan. perhiasan. melainkan dilakukan oleh pihak kepolisian.3 Dari sembilan metoda identifikasi yang dikenal. serologi dan metode eksklusi. Kewenangan penyidik sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dilaksanakan menurut UU No 8 tahun 1981 tentang HAP. hanya metoda penentuan jati diri dengan sidik jari (daktiloskopi) yang tidak lazim dikerjakan oleh dokter.

Identifikasi terhadap orang tak dikenal yang masih hidup meliputi: 8 15 . Objek Identifikasi Seperti yang sudah diseutkan di muka bahwa objek identifikasi dapat berupa orang yang masih hidup atau yang sudah meninggal dunia. maka di dalam prakteknya untuk menentukan jati diri tidak semua metode dikerjakan. identifikasi konfirmatif dari gigi. Jenis-Jenis Sidik Jari Walaupun ada sembilan metoda identifikasi yang kita kenal.3 E.Gambar 1. melainkan cukup minimal dua metoda saja: identifikasi primer dari pakaian.

tumbuh melebar Rambut pubis pusar Rambut Ada di wajah. warna kulit. dada Testis. Tabel 1. vagina Tidak ada Lurus.tuba fallopi.1. rambut dan mata. Penampilan umum (general appearance). yaitu tinggi badan. ras. ringan dan tipis Ovarium. 3. umur. Perbedaan Umur Jenis Kelamin Pria Dan Wanita Pria Panggul Posture Payudara Jakun Striae Lebih kecil dari bahu Besar Jarang berkembang Menonjol Tidak ada Tebal. kelainan pada tulang dan sebagainya. perkiraan umur dan tingi badan. berat badan. Melalui metode ini diperoleh data tentang jenis kelamin. hanya di mons veneris Wanita Lebih lebar dari bahu Kecil Berkembang Tidak menonjol Ada. Pakaian Sidik jari 16 . prostate. vesikula Kelamin dalam seminalis Lebih besar. payudara dan bokong 2. berat dan Tengkorak tebal Proporsi perut Paha Lebih kecil Bentuk silinder Lebih besar Bentuk kerucut Lebih kecil. jenis kelamin.

8 Pada jenazah utuh yang sudah membusuk mungkin dapat diketahui jenis kelamin. Jenazah yang sudah membusuk dan utuh 3. bekas operasi atau bekas trauma) dapat digabungkan dengan hasil pemeriksaan pihak kepolisian. Dalam hal-hal tertentu dapat dimintakan bantuan dokter. Jaringan parut Tato Kondisi mental Antropometri Tugas melakukan identifikasi pada orang hidup tersebut menjadi tugas pihak kepolisian. Sedangkan 17 . Bagian-bagian dari tubuh jenazah Cara melakukan identifikasi pada jenazah yang masih baru dan utuh oleh pihak kepolisian seperti yang dilakukan terhadap orang hidup. tatto atau kecacatan fisik akan bermanfaat bagi kepentingan identifikasi. Tetapi jika tingkat pembusukannya sudah sangat lanjut mungkin sisa pakaian. jaringan parut.4.8 Sedangkan identifikasi terhadap orang yang sudah meninggal dunia dapat dilakukan terhadap:8 1. cacat tubuh. 5. Jenazah yang masih baru dan utuh 2. Adapun halhal yang ditemukan di dalam otopsi oleh dokter (misalnya penyakit. 6. perhiasan. misalnya pada kasus pemalsuan identitas di bidang keimigrasian atau kasus penyamaran oleh pelaku kejahatan. tinggi badan dan umurnya. 7.

sehingga apabila terjadi trauma akan mengenai otot-otot tersebut terlebih dahulu. 4.identifikasi yang lebih akurat dapat dilakukan dengan memanfaatkan gigi geliginya. kebakaran dan reaksi kimia. 5. Karakteristik individual yang unik dalam hal susunan gigi geligi dan restorasi gigi menyebabkan identifikasi dengan ketepatan yang tinggi. 3. Gigi geligi tahan panas sampai suhu kira-kira 400ºC.8 1. Gigi merupakan jaringan keras yang resisten terhadap pembusukan dan pengaruh lingkungan yang ekstrim. Gigi geligi merupakan lengkungan anatomis. 18 . antropologis. Sebagaimana diketahui bahwa gigi merupakan bagian tubuh manusia yang paling tahan terhadap pembusukan. sedangkan giginya masih utuh. dan morfologis. yang mempunyai letak yang terlindung dari otot-otot bibir dan pipi. karena berdasarkan penelitian bahwa gigi manusia kemungkinan sama satu banding dua miliar. 6. Gigi geligi tahan terhadap asam keras. jaringan ikatnya hancur. Bentuk gigi geligi di dunia ini tidak sama. Kemungkinan tersedianya data antemortem gigi dalam bentuk catatan medis gigi (dental record) dan data radiologis. 2. terbukti pada peristiwa Haigh yang terbunuh dan direndam dalam asam pekat.8 Sebagai suatu metode identifikasi pemeriksaan gigi memiliki keunggulan sebagai berikut : 5. 7.

Gambar 2 : Identifikasi Gigi pada Jenazah Pada gambar diatas menunjukkan bahwa gigi tetap dalam keadaan utuh pada suhu yang tinggi. umur. Seringkali bagian-bagian dari tubuh manusia ditemukan di berbagai tempat yang terpisah sehingga timbul pertanyaan apakah bagian-bagian itu berasal 19 . 3. Jika yang ditemukan bukan jenazah yang utuh. 6. tinggi badan dan sebagainya. 5. Jika benar maka tindakan selanjutnya adalah menentukan jenis kelamin. Penentuan umur dari gigi. 5. Penentuan ras dari gigi. Dental jurisprudence berupa keterangan saksi ahli. rahang dan kraniofasial. melainkan sisa-sisa tubuh manusia maka pertama-tama yang perlu dilakukan adalah menentukan apakah sisa-sisa itu benar-benar berasal dari tubuh manusia. Pemeriksaan jejas gigit (bite-mark). 2. Batasan dari forensik odontologi terdiri dari identifikasi dari mayat yang tidak dikenal melalui gigi. 4. tetapi gigi masih dapat diidentifikasi. Peranan pemeriksaan DNA dari bahan gigi dalam identifikasi personal.8 1. Analisis dari trauma oro-fasial yang berhubungan dengan tindakan kekerasan. walaupun tubuh telah rusak.

Jaringan lunak tertentu: 20 . Yang agak sulit adalah jka ditemukan itu berupa tulang yang tak khas (undentifiable bones) atau jaringan lunak. Bantuan Dokter Pada Proses Identifikasi Bantuan yang dapat diberikan oleh dokter pada proses identifikasi meliputi:8 1. Dalam hal ini pemeriksaan yang diperlukan untuk dapat menentukan manusia atau binatang adalah pemeriksaan imunologik (precipitin test).dari individu yang sama. Menentukan jenis kelamin Pada korban atau pada mayat yang sudah membusuk dimana penentuan jenis kelamin tidak mungkin dilakukan dengan pemeriksaan luar maka penentuan jenis kelamin dapat dilakukan dengan melakukan pemeriksaan pada: a. Guna memastikannya diperlukan pemeriksaan DNA atau precipitin test.8 F. hampir mirip bentuknya dengan tangan manusia. Menentukan manusia atau bukan Jika ditemukan tulang-tulang maka kadang-kadang tulang dari beberapa binatang tertentu mirip tulang manusia. Dengan pemeriksaan yang teliti akan dapat dibedakan apakah tulang yang ditemukan berasal dari manusia atau binatang. 2. Cakar dari beruang misalnya.

Metode ini juga berguna bagi penentuan jenis kelamin pada mayat yang terpotong-potong. terutama jaringan kulit dan tulang rawan. rahang dan gigi. Tulang-tulang tertentu Pada orang dewasa. beberapa tulang tertentu bentuknya berbeda antara lakilaki dan wanita. Dari jaringan lunak juga dapat dilakukan pemeriksaan sex chromatin untuk menetukan jenis kelamin. tulang panjang. Tabel 2 Perbandingan Tengkorak laki-laki dan wanita Tengkorak Dahi Tepi orbita Orbital Tonjolan mastoid Rigi (muscle-ridges) Laki-laki Rendah Lebih menonjol Persegi empat Besar Kasar(nyata) Wanita Tinggi Kurang menonjol Bulat Kecil Halus Tabel 3 Perbandingan Pelvis Laki-laki dan Wanita Pelvis Bentuk Arcus pubis Laki-laki Sempit dan panjang < 90 derajat Wanita Lebar dan pendek >90 derajat 21 . Tulang-tulang itu antara lain tengkorak. pelvis. b.Uterus dan prostat merupakan jaringan lunak yang lebih tahan terhadap pembusukan dan dapat digunaan untuk menentukan jenis kelamin.

perkiran didasarkan pada inti penulangan yang dapat dilihat melalui pemeriksaan ronsenologik atau otopsi. Pada fetus dan neonatus. Oleh para ahli telah disusun tabel pembentuan inti penulangan dari berbagai tulang. neonatus. 22 . Menentukan umur Tulang manusia dan gigi juga dapat memberikan informasi penting bagi perkiraan umur manusia.Foramen ischiadica Incisura ischiadica Os sacrum Oval Lebih dalam Kurang lebar Segitiga Lebih dangkal Lebih lebar Tulang panjang pada laki-laki lebih masive (terutama disekitar sendi) dan rigi perlekatan otot lebih nyata. Gigi dan akar gigi permanen pada laki-laki lebih besar dari pada wanita. yang paling berguna bagi penentuan umur adalah penutupan epifise. Seperti diketahui bahwa penutupan epifise juga mengikuti uruta kronologi. Memang tingkat ketelitiannya rendah sehingga perlu dikombinasi dengan pemeriksaan lain. Pada anak-anak dan adolesen sampai umur 20 tahun. Rahang pada laki-laki umumnya seperti huruf V sdangkan pada wanita seperti huruf U. Namun signifikan dari pemeriksaan tulang bergantung pada besarnya penyebaran kelompok umur sehingga perlu dikelompokan secra terpisah menjadi kelompok fetus. adolescen dan dewasa. anak-anak. mulai dari kehidupan intrauterin sampai pada kehidupan di luar kandungan. 3. Bentuk rahang dan gigi antara laki-laki dan wanita juga berbeda sehingga dapat dimanfaatan untuk kepentingan identifikasi jenis kelamin.

meskipun yang diperiksa itu jenazah yang utuh. erupsi gigi dan resobsi apicalis. perkiraan umur dengan menggunakan tulang menjadi lebih sulit. perubahan sudut rahang dan adanya proses penyakit. Sesudah dilahirkan penentuan umur dapat dilakukan dengan mendasarkan pad mineralisasi. Gustafson telah menyusun rumus yang dapat digunakan untuk membantu menentukan umur melalui pemeriksaan gigi.5 cm) dari pada tinggi badan waktu hidup. Hanya dengan sepotong tulang panjang yang utuh umur pemiliknya dapat diperkirakan. Oleh sebab itu pada pemeriksaan jenazah yang tak diketahui identitasnya perlu diperiksa tinggi badannya. Menentukan tinggi badan Salah satu informasi penting yang dapat digunakan untuk melacak identitas seseorang adalah informasi tentang tinggi badan. Jika yang diperiksa jenazah yang tidak utuh maka penentuan tinggi badan dapat dilakukan dengan menggunakan tulng-tulang panjang. Penentuan umur dengan menganalisis jaringan yang akan tumbuh menjadi gigi pada bayi di dalam kandungan mempunyai derajat kecermatan yang tinggi. Beberapa petunjuk yang dapat dipakai antara lain. Memang tidak mudah mendapatkan tinggi badan yang tepat dari pemeriksaan yang dilakukan sesudah mati. pembentukan mahkota gigi. tetapi hasil yang lebih akurat dapat diperoleh jika tersedia beberapa jenis dari tulang 23 . Dengan menggunakan formula matematik. 4.Pada kelompok dewasa (yaitu sesudah berumur 20 tahun). Perlu diketahui bahwa ukuran orang yang sudah mati biasanya sedikit lebih panjang (sekitar 2. penutupan sutura.

pengambilan sidik jari dapat dilakukan dengan hati-hati dan berulang-ulang mengingat gambaran sidik jari pada dermis tidak sejelas gambaran sidik jari pada epidermis.8 Dalam hal sidik jari tidak mungkin lagi diambil maka pemeriksaan gigi-geligi menjadi penting. Data pembanding tersebut ialah contoh sidik jari. Untuk kepentingan perhitungan tersebut ada banyak rumus yang dapat dipakai dan salah satunya adalah rumus Karl Pearson.panjang.3. kemungkinan terjadinya dua orang dengan sidik jari sama adalah sebesar sepersepuluh ribu bilyun.3. Pada peristiwa kecelakaan pesawat terbang misalnya. formalin atau air. Oleh sebab itu sidik jari yang diambil beberapa tahun sebelumnya masih dapat dipakai sebagai pembanding. Secara teoritis. Selain itu sidik jari tak mengalami perubahan karena umur. Kehandalan sidik jari (fingerprint) sebagai sarana identifikasi personal disebabkan karena hampir tak pernah ditemukan dua orang dengan sidik jari yang sama. Sedang pada mayat yang epidermisnya sudah mengelupas. 24 . bahkan pada orang kembar sekalipun. medical record gigi geligi serta contoh DNA. Identitas Personal Jika identifikasi terhadap jenazah tak dikenal dilakukan dengan menggunakan data pembanding maka identitas personalnya akan dapat dikenali. G.8 Jika kulit jari sudah keriput maka pengambilan sidik jari dapat dilkukan sesudah jaringan dibwah kulit disuntik lebih dahulu dengan cairan parafin.

perhiasan. dokumen. gigi. Dikenal ada tiga macam sistem identifikasi. Dari sembilan metoda identifikasi yang dikenal. yaitu: metode visual. berdasarkan ciri khas yang terdapat pada orang tersebut. Identifikasi forensik merupakan usaha untuk mengetahui identitas seseorang yang ditujukan untuk kepentingan forensik. Identifikasi juga diartikan sebagai suatu usaha untuk mengetahui identitas seseorang melalui sejumlah ciri yang ada pada orang tak dikenal.dimana daftar manifes penumpang diketahui. melainkan dilakukan oleh pihak kepolisian.3. hanya metoda penentuan jati diri dengan sidik jari (daktiloskopi) yang tidak lazim dikerjakan oleh dokter. yaitu kepentingan proses peradilan. medis. serologi dan metode eksklusi. Delapan metoda yang lain. yaitu identifikasi sistem terbuka. identifikasi positif akan mudah dilakukan dengan membandingkan hasil pemeriksaan itu dengan file dari semua penumpang. identifikasi sistem tertutup dan identifikasi sistem semi terbuka atau semi tertutup. 25 . sedemikian rupa sehingga dapat ditentukan bahwa orang itu apakah sama dengan orang yang hilang yang diperkirakan sebelumnya juga dikenal dengan ciri-ciri itu. pakaian.8 BAB III PENUTUP Identifikasi adalah penentuan atau pemastian identitas orang yang hidup maupun mati.

3. Forensic Osteology Advances In The Identification of Human Remain Charles C Thomas Publisher. Jakarta. 7. 5. Dahlan. Identifikasi dalam Ilmu Kedokteran Forensik.Sofwan. USA 1985. M. Identifikasi Medikolegal dalam Buku Ajar Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal.Charles C Thomas Publisher. 4. LL. Anonymous.Banjarmasin 2012 Gani. KJ. 8. 1997. Fakultas Kedokteran Universitas Andalas. 6. The Human Skeleton In Forensic Medicine. 26 . Philadelphia and Toronto 1973. Ilmu Kedokteran Forensik. Indonesia 2002 Idries. Krogman WM and Iscan MY.DAFTAR PUSTAKA 1. Badan Penerbit Universitas Diponegoro. Springfield Illinois. Padang. Abdul Mun’im. Binarupa Aksara. Kusuma.Surabaya 2007 Launtz.Husni. Identifikasi dalam Mind’s Forensic 1th Edition. Bagian Forensik Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat. DSF. Bagian Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga. Soekry Erfan. Semarang 2000 2. JB Lippincott Company. Reichs. Springfield Illinois USA 1986. dr. Identifikasi dalam Ilmu Kedokteran Forensik. Handbook For Dental Identification.

BALISTIK 27 .

BAB I PENDAHULUAN Di dalam menghadapi kasus kriminal.000 jiwa. dimana dasar pembagian berikut adalah arah perputaran alur yang terdapat dalam laras senjata yaitu senjata api dengan alur ke kiri yang dikenal dengan senjata api tipe COLT dan senjata api dengan alur ke kanan yang dikenal dengan senjata api tipe Smith & Wesson (tipe SW). Luka tembak paling umum dijumpai sebagai penyebab kematian adalah akibat pembunuhan dan di beberapa daerah bagiannya adalah akibat bunuh diri.3 Jenis senjata api yang digunakan dapat diketahui dari anak peluru yang terdapat pada tubuh korban. perlu secara hatihati. yaitu adanya goresan dan alur yang memutar kearah kanan atau kiri bila dilihat dari bagian basis anak peluru.1 Di dalam dunia kriminal. khususnya atas diri korban. pemakaian senjata api sebagai alat yang dimaksudkan untuk melukai atau mematikan seseorang.1. maka dokter sebagai orang yang melakukan pemeriksaan.2 Senjata genggam yang banyak dipergunakan untuk maksud kriminal dapat dibagi dalam dua kelompok. sedangkan senjata api dengan laras panjang dan senjata yang biasa dipakai untuk olahraga berburu yang larasnya tidak beralur jarang dipakai untuk maksud kriminal.000 jiwa korban luka tembak dengan kasus kematian sekitar 30. cermat dan teliti dalam menafsirkan hasil yang didapatnya. 28 .1 Luka tembak merupakan penyebab kematian akibat kejahatan yang paling umum di Amerika Serikat. Di Amerika Serikat pertahunnya diperkirakan terdapat sekitar 70. senjata api yang biasa dipergunakan adalah senjata genggam beralur.

dan emosional akibat kejahatan tersebut menjadi suatu beban berat bagi rumah sakit. Arti Klinis Luka Tembak 29 .Biaya medis.1 BAB II TINJAUAN PUSTAKA II. Oleh karena dokter tidak melihat peristiwa penembakannya.38 dengan alur ke kiri dan sebagainya. perkiraan posisi korban sewaktu ditembak. sistem peradilan.1. maka dokter harus menjelaskan berbagai hal. tidak dibenarkan menggunakan istilah pistol atau revolver karena perkataan pistol mengandung pengertian bahwa senjatanya termasuk otomatis atau semi otomatis. arah tembakan. berapa kali korban ditembak. senjata api kaliber 0.3. dan luka tembak mana yang menyebabkan kematian. dan masyarakat pada umumnya. yang mana luka tembak masuk dan yang mana yang keluar. sedangkan revolver berarti anak peluru berada dalam silinder yang akan memutar jika tembakan dilepaskan.1 Dalam memberikan pendapat atau kesimpulan dalam visum et repertum. keluarga. diantaranya apakah luka tersebut memang luka tembak. jarak tembak. Evaluasi mengenai luka tersebut memerlukan latihan khusus dan keahlian baik oleh seorang dokter yang menangani bagian kegawatdaruratan korban luka tembak maupun para ahli patologi dan forensik.4 Untuk dapat menjalankan tugas dan fungsi sebagai pemeriksa. maka yang akan disampaikan adalah. legal.1. jenis senjata yang dipakai.

Jika dilihat dari elastisitasnya. Mempunyai metal drum (tempat penyimpanan 6 peluru) yang berputar (revolve) setiap kali trigger ditarik dan menempatkan peluru baru pada posisi siap untuk di tembakkan.1Senjataapi dapat dikelompokan menjadi: A.2. Diameter luka pada epidermis kurang lebih sama dengan diameter anak peluru. Berdasarkan Panjang Laras: 1. epidermis kurang elastis bila dibandingkan dengan dermis.  Pistol. Laras pendek.1 Proyektil yang dilepaskan dari suatu tembakan dapat tunggal. dapat melontarkan proyektil (anak peluru) yang berkecepatan tinggi melalui larasnya. peluru disimpan dalam sebuah silinder yang diputar dengan menarik picunya. dapat pula tunggal berurutan secara otomatis maupun dalam jumlah tertentu bersama – sama. Seperti kita ketahui kulit terdiri dari lapisan epidermis. dermis dan subkutis. Klasifikasi Senjata Api Senjata api adalah suatu senjata yang menggunakan tenaga hasil peledakan mesiu. maka cacat pada epidermis lebih luas dari pada dermis.4 II. sedangkan diameter luka pada dermis lebih kecil. Keadaan tersebut dikenal sebagai kelim memar (contusio ring).2.Dalam praktek banyak terdapat hal tentang luka tembak masuk pada tubuh manusia. Bila sebutir peluru menembus tubuh. 30 .3  Revolver.

Laras panjang3 Senjata ini berkekuatan tinggi dengandaya tembak sampai 3000 m. mempergunakan peluru yang lebihpanjang. Dibagi menjadi dua yaitu:  Senapan tabur : Senapan tabur dirancang untuk dapat memuntahkan butirbutir tabur ganda lewat larasnya. Senjata api laras pendek 2. mampu melakukan tembakan otomatis sepenuhnya.  Senapan untuk menyerang: Senapan ini mengisi pelurunya sendiri. sedangkan senapan dirancang untuk memuntahkan peluru tunggal lewat larasnya. mempunyai kapasitas magasin yang besar dan dilengkapi ruang ledak untuk peluru senapan dengan kekuatan sedang (peluru dengan kekuatan sedang antara peluru senapan standard dan peluru pistol).4 31 .Gambar 2.1. moncong senapan halus dan tidak terdapat rifling.

3. Berdasarkan Alur Laras 1.Gambar 2. Senjata api laras panjang B. Alur laras ini dibagi menjadi dua yaitu.3. dan ini akan memperoleh gaya sentripetal sehingga anak peluru tetap dalam posisi ujung depannya di depan dalam lintasannya setelah lepas laras menuju sasaran. saat melalui laras. arah putaran ke kiri (COLT) dan arah putaran ke kanan (Smith and Wesson).2. permukaan dalam laras dibuat beralur spiral dengan diameter yang sedikit lebih kecil dari diameter anak peluru. sehingga anak peluru yang didorong oleh ledakan mesiu.4 Gambar 2. Laras beralur (Rifled bore) Agar anak peluru dapat berjalan stabil dalam lintasannya. dipaksa bergerak maju sambil berputar sesuai porosnya. Senjata api beralur 2. Laras tak beralur atau laras licin (Smooth bore) 32 .

lintasan dari peluru yang menembus jaringan akan terjadi gelombang tekanan yang mengkompresi jika terjadi pada jaringan seperti otak. Pada pemeriksaan harus dipikirkan adanya kerusakan sekunder seperti infark atau infeksi. Organ dengan konsistensi yang padat tingkat kerusakan lebih tinggi daripada organ berongga. tusukan.6 33 . hal ini terjadi akibat adanya transfer energi dari luar menuju jaringan. dan rongga ini akan mengecil sesaat setelah peluru berhenti.4 Dengan adanya lesatan peluru dengan kecepatan tinggi akan membentuk rongga disebabkan gerakan sentrifugal pada peluru sampai keluar dari jaringan dan diameter rongga ini lebih besar dari diameter peluru. Contohnya adalah shot gun. suara serta gangguan mekanik yang lainya. hati ataupun otot akan mengakibatkan kerusakan dengan adanya zona-zona disekitar luka. Kerusakan yang terjadi pada jaringan tergantung pada absorpsi energi kinetiknya. Efek luka juga berhubungan dengan gaya gravitasi.2.4 Energi kinetik ini akan mengakibatkan daya dorong peluru ke suatu jaringan sehingga terjadi laserasi.4. atau tendangan. Jika kecepatan melebihi kecepatan udara. kerusakan sekunder terjadi bila terdapat ruptur pembuluh darah atau struktur lainnya dan terjadi luka yang sedikit lebih besar dari diameter peluru.5 II.4.3. Mekanisme Luka Tembak Pada luka tembak terjadi efek perlambatan yang disebabkan pada trauma mekanik seperti pukulan. dengan ukuran luka tetap sama. yang juga akan menghamburkan panas.Senjata api jenis ini dapat melontarkan anak peluru dalam jumlah banyak pada satu kali tembakan.

Bila tekanan pada tubuh erat disebut ―hard contact‖.3 A. b. Klasifikasi yang dimaksud antara lain :1. maka perkiraan jarak tembak dapat diketahui. Berdasarkan ciriciri yang khas pada setiap tembakan yang dilepaskan dari berbagai jarak. Klasifikasi Luka Tembak Pada klasifikasi luka tembak yang diperlukan adalah jarak tembak atau jarak antara moncong senjata dengan targetnya yaitu tubuh korban. 34 . dengan demikian dapat dibuat klasifikasinya.Gambar 2. Mekanisme luka tembak II. Luka tembak masuk tempel (contact wounds) a. Luka Tembak Masuk 1. Umumnya luka berbentuk bundar yang dikelilingi kelim lecet yang sama lebarnya pada setiap bagian.4. Terjadi bila moncong senjata ditekan pada tubuh korban dan ditembakkan.4. sedangkan yang tidak erat disebut ―soft contact‖.

Di sekeliling luka tampak daerah yang bewarna merah atau merah coklat. ini disebut jejas laras. f. Saluran luka akan bewarna hitam yang disebabkan oleh butir-butir mesiu. e. Rambut dan kulit di sekitar luka dapat hangus terbakar. d. oleh karena terbentuknya COHb. Tepi luka dapat bewarna merah.c. Luka tembak tempel di daerah perut mempunyai ciri :  Luka berbentuk bundar  Kemungkinan besar tidak terdapat jejas laras 35 . fragmen-fragmen tulang yang terbentuk turut terdorong keluar dan menimbulkan robekan-robekan baru yang dimulai dari pinggir luka dan menyebar secara radier. Luka tembak tempel di daerah dahi mempunyai ciri :  Luka berbentuk bintang: Bentuk bintang tersebut disebabkan oleh tenaga tembakan yang diteruskan ke segala arah. Luka tembak tempel di daerah pelipis mempunyai ciri :  Luka berbentuk bundar  Terdapat jejas laras j. jelaga dan minyak pelumas. Bentuk luka tembak tempel sangat dipengaruhi oleh keadaan / densitas jaringan yang berada di bawahnya. g.  Terdapat jejak laras i. yang menggambarkan bentuk dari moncong senjata. dengan demikian dapat dibedakan :  Luka tembak tempel di daerah dahi  Luka tembak tempel di daerah pelipis  Luka tembak tempel di daerah perut h.

b.4 a.5. Ciri dari luka tembak ini adalah:3. Luka tembak tempel . Bila terdapat kelim tato. maka jarak antara moncong senjata dengan korban sekitar 15 cm. dengan di sekitarnya terdapat bintik-bintik hitam (kelim tato) dan atau jelaga (kelim jelaga). Luka berbentuk bundar atau oval tergantung sudut masuknya peluru. yaitu untuk senjata genggam. jaraknya sekitar 30 cm (25-30 cm). Bila terdapat juga kelim api. Di sekitar luka dapat ditemukan daerah yang bewarna merah atau hangus terbakar. Bila terdapat pula kelim jelaga. d.Gambar 2. Luka tembak masuk jarak dekat (close range wounds) Pengertian jarak dekat bila jarak antara moncong senjata dengan tubuh korban sekitar 50 cm (24 inci) sampai 15 cm. 36 .3 2. berarti jarak antara moncong senjata dengan korban sekitar 60 cm (50-60 cm). c. e.

Gambar 2. a. c. 37 . Luka berbentuk bundar atau oval dengan disertai adanya kelim lecet. Luka Tembak Jarak Dekat 3. Luka tembak masuk jarak jauh (long range wound)1.6.3 Luka tembak jarak jauh adalah luka tembak dimana jarak antara moncong senjata dengan korban diatas 50 cm. Terjadi bila jarak antara moncong senjata dengan tubuh korban di luar jangkauan atau jarak tempuh butir-butir mesiu yang tidak terbakar atau terbakar sebagian. jadi ada kelim kesat atau kelim lemak. b. 2. Bila senjata sering dirawat (diberi minyak) maka pada kelim lecet dapat dilihat pengotoran bewarna hitam berminyak. atau diluar jarak tempuh atau jangkauan butir-butir mesiu.

adalah luka tembak keluar pada umumnya lebih besar dari luka tembak masuk.7.Gambar 2. Bilamana peluru yang masuk ke dalam tubuh korban tidak terbentur pada tulang. Luka Tembak Jarak Jauh B.3 38 .3 Ciri lain dari luka tembak keluar yang dapat dikatakan agak khas.1 Luka tembak keluar mempunyai ciri khusus yang sekaligus sebagai perbedaan pokok dengan luka tembak masuk. maka saluran luka yang terbentuk yang menghubungkan luka tembak masuk dan luka tembak keluar dapat menunjukkan arah datangnya peluru yang dapat disesuaikan dengan arah tembakan. kelimkelim lainnya juga tentu tidak ditemukan. maka luka tembak dimana peluru meninggalkan tubuh itu disebut luka tembak keluar.1. Luka Tembak Keluar Jika peluru yang ditembakan dari senjata api mengenai tubuh korban dan kekuatannya masih cukup untuk menembus dan keluar pada bagian tubuh lainnya. dengan tidak adanya kelim lecet.1. Ciri tersebut adalah tidak adanya kelim lecet pada luka tembak keluar. oleh karena hampir semua luka tembak keluar memiliki ciri ini.

maka fragmen tulang tersebut akan membuat robekan tambahan sehingga akan memperbesar luka tembak keluarnya.Gambar 2. hal ini disebabkan :1 39 . oleh karena terjadi deformitas sewaktu peluru berada dalam tubuh dan membentur tulang.  Peluru sewaktu berada dalam tubuh mengalami perubahan gerak.8. Luka tembak keluar Adapun faktor –faktor yang menyebabkan luka tembak keluar lebih besar dari luka tembak masuk adalah :1  Perubahan luas peluru.  Peluru pecah menjadi beberapa fragmen. Fragmen-fragmen ini menyebabkan luka tembak keluar menjadi lebih besar. peluru bergerak berputar dari ujung ke ujung (end to end).  Pada beberapa keadaan luka tembak keluar lebih kecil dari luka tembak masuk. disebut ―yawing‖.  Bila peluru mengenai tulang dan fragmen tulang tersebut turut terbawa keluar. keadaan ini disebut ―tumbling‖.  Pergerakan peluru yang lurus menjadi tidak beraturan. misalnya karena terbentur bagian tubuh yang keras.

o Dua peluru masuk ke dalam tubuh melalui satu luka tembak masuk (―tandem bullet injury‖). Kecepatan atau velocity peluru sewaktu akan menembus keluar berkurang.  Adanya benda menahan atau menekan kulit pada daerah dimana peluru akan keluar yang berarti menghambat kecepatan peluru. perlu diketahui bahwa kemampuan peluru untuk dapat menimbulkan kerusakan berhubungan langsung dengan ukuran peluru dan velocity. dengan demikian luka dapat hanya berbentuk celah dan tidak jarang peluru tampak menonjol sedikit pada celah tersebut. ini dimungkinkan karena : o Peluru pecah dan masing-masing pecahan membuat sendiri luka tembak keluar. Beberapa variasi luka tembak keluar 1  Luka tembak keluar sebagian (partial exit wound). dan di dalam tubuh ke dua peluru tersebut berpisah dan keluar melalui tempat yang berbeda. Efek Luka Tembak 40 .5. o Peluru menyebabkan ada tulang yang patah dan tulang tersebut terdorong keluar pada tempat yang berbeda dengan tempat keluarnya peluru. sehingga kerusakannya (lubang luka tembak keluar) akan lebih kecil. II. luka tembak keluar akan lebih kecil bila dibandingkan dengan luka tembak masuk.  Jumlah luka tembak keluar lebih banyak dari jumlah peluru yang ditembakkan. hal ini dimungkinkan oleh karena tenaga peluru tersebut hampir habis atau ada penghalang yang menekan pada tempat dimana peluru akan keluar.

4  anak peluru  butir-butir mesiu yang tidak terbakar atau sebagian terbakar  asap atau jelaga  api  partikel logam Bila senjata yang dipergunakan sering diberi minyak pelumas. maka komponen yang keluar adalah anak peluru dalam satu kesatuan atau tersebar dalam bentuk pellet. Selain itu bila senjata yang dipakai termasuk senjata yang tidak beralur (smooth bore). maka pada tubuh korban tersebut akan didapatkan perubahan yang diakibatkan oleh berbagai unsur atau komponen yang keluar dari laras senjata api tersebut. maka minyak yang melekat pada anak peluru dapat terbawa dan melekat pada luka.1. maka akan terdapat jejas laras.4 1) Akibat anak peluru (bullet effect): luka terbuka.4 Komponen atau unsur-unsur yang keluar pada setiap peristiwa penembakan akan menimbulkan kelainan pada tubuh korban sebagai berikut:1.3.Pada saat seseorang melepaskan tembakan dan kebetulan mengenai sasaran yaitu tubuh korban.1. Luka terbuka yang terjadi dipengaruhi oleh berbagai faktor yaitu:  Kecepatan  Posisi peluru pada saat masuk ke dalam tubuh 41 .3 Adapun komponen atau unsur-unsur yang keluar pada setiap penembakan adalah:1. Bila penembakan dilakukan dengan posisi moncong senjata menempel dengan erat pada tubuh korban. tutup dari peluru itu sendiri juga dapat menimbulkan kelainan dalam bentuk luka.

terjadi gesekan antara badan peluru dengan tepi robekan sehingga terjadi kelim lecet (abrasion ring) d. kulit akan teregang b. Pada organ tubuh yang berongga seperti jantung dan kandung kencing. Kerusakan jaringan tubuh akan lebih berat bila peluru mengenai bagian tubuh yang densitasnya lebih besar. akan menimbulkan luka yang relatif lebih kecil bila dibandingkan dengan peluru yang kecepatannya lebih rendah (low velocity). hal tersebut disebabkan karena adanya penyebaran tekanan hidrostatik ke seluruh bagian. maka sewaktu anak peluru berada dan melintas dalam tubuh akan terbentuk lubang yang lebih besar dari diameter peluru 42 . Pada saat peluru mengenai kulit. bila terkena tembakan dan kedua organ tersebut sedang terisi penuh (jantung dalam fase diastole). Oleh karena terjadi gerakan rotasi dari peluru (pada senjata yang beralur atau rifle bore). maka kerusakan yang terjadi akan lebih hebat bila dibandingkan dengan jantung dalam fase sistole dan kandung kencing yang kosong. Mekanisme terbentuknya luka dan kelim lecet akibat anak peluru: a. Bentuk dan ukuran peluru  Densitas jaringan tubuh di mana peluru masuk Peluru yang mempunyai kecepatan tinggi (high velocity). Oleh karena tenaga penetrasi peluru dan gerakan rotasi akan diteruskan ke segala arah. Bila kekuatan anak peluru lebih besar dari kulit maka akan terjadi robekan c.

Kelim lecet paling lebar merupakan petunjuk bahwa peluru masuk dari arah tersebut i. lubang atau robekan yang terjadi akan mengecil kembali. sehingga robekan yang tejadi menjadi tidak beraturan atau berbentuk bintang k. Peluru yang masuk secara membentuk sudut atau serong akan dapat diketahui dari bentuk kelim lecet h. Bila peluru telah meninggalkan tubuh atau keluar.e. Bila peluru masuk ke dalam tubuh secara tegak lurus maka kelim lecet yang terbentuk akan sama lebarnya pada setiap arah g. hal ini dimungkinkan oleh adanya elastisitas dari jaringan f. maka sebagian tenaga dari peluru disertai pula dengan gas yang terbentuk akan memantul dan mengangkat kulit di atasnya. Peluru yang hanya menyerempet tubuh korban akan menimbulkan robekan dangkal. maka pada klim lecet akan dijumpai pewarnaan kehitaman akibat minyak pelumas. disebut bullet slap atau bullet graze 43 . Pada senjata yang dirawat baik. Perkiraan diameter anak peluru merupakan penjumlahan antara diameter lubang luka ditambah dengan lebar kelim lecet yang tegak lurus dengan arah masuknya peluru l. hal ini disebut kelim kesat atau kelim lemak (grease ring/ grease mark) j. Bila peluru masuk pada daerah di mana densitasnya rendah. bila jaringan di bawahnya mempunyai densitas besar seperti tulang. maka bentuk luka yang terjadi adalah bentuk bundar.

kalium sulfat. Oleh karena penetrasi butir mesiu tadi cukup dalam. kalium karbonat. Black powder adalah butir mesiu yang komposisinya terdiri dari nitrit. tiosianat. Smoke less powder akan menghasilkan asap yang jauh lebih sedikit d. sedangkan smoke less powder terdiri dari nitrit dan selulosa nitrat yang dicampur dengan karbon dan gravid 3) Akibat asap (smoke effect): jelaga a. CO 10%. Jangkauan butir-butir mesiu untuk senjata genggam berkisar sekitar 60 cm e. Butir – butir mesiu yang tidak terbakar atau sebagian terbakar akan masuk ke dalam kulit b. luka yang terbentuk disebut gutter wound 2) Akibat butir-butir mesiu (gunpowder effect): tattoo. Jelaga yang berasal dari black powder komposisinya CO2 (50%) nitrogen 35%. kalium sulfida.m. hydrogen 2 % serta sedikit oksigen dan methane c. hydrogen sulfide 3%. Oleh karena setiap proses pembakaran itu tidak sempurna. Jangkauan jelaga untuk senjata genggam berkisar sekitar 30 cm 44 . stipling a. Daerah di mana butir-butir mesiu tersebut masuk akan tampak berbintikbintik hitam dan bercampur dengan perdarahan c. tiosulfat. maka terbentuk asap atau jelaga b. Bila peluru menyebabkan luka terbuka dimana luka tembak masuk bersatu dengan luka tembak keluar. maka bintik-bintik hitam tersebut tidak dapat dihapus dengan kain dari luar d.

maka sewaktu peluru bergulir pada laras yang beralur akan terjadi pelepasan partikel logam sebagai akibat pergesekan tersebut b. sedangkan untuk senjata yang kalibernya lebih kecil.e. Terbakarnya butir-butir mesiu akan menghasilkan api serta gas panas yang akan mengakibatkan kulit akan tampak hangus terbakar (scorching. 4) Akibat api (flame effect): luka bakar a. Partikel tersebut dapat masuk ke dalam kulit atau tertahan pada pakaian korban. sehingga bila dihapus akan menghilang. Jarak tempuh api serta gas panas untuk senjata genggam sekitar 15 cm. Jika tembakan terjadi pada daerah yang berambut. charring) b. Oleh karena jelaga itu ringan. jelaga hanya menempel pada permukaan kulit. maka rambut akan terbakar c. 6) Akibat moncong senjata (muzzle effect): jejas laras 45 . Oleh karena diameter peluru lebih besar dari diameter laras. Partikel atau fragmen logam tersebut akan menimbulkan luka lecet atau luka terbuka dangkal yang kecil-kecil pada tubuh korban c. jaraknya sekitar 7.5 cm 5) Akibat partikel logam (metal effect): fouling a.

maka dapat terjadi:  Asap. Jejas laras dapat pula terjadi jika si penembak memukulkan moncong senjatanya dengan cukup keras pada tubuh korban. 7) Pengaruh pakaian pada luka tembak masuk 1. akan tetapi hal ini jarang terjadi e. Bila pada hard contact tidak akan dijumpai kelim jelaga atau kelim tato. oleh karena tertutup rapat oleh laras senjata. jejas laras tampak jelas mengelilingi lubang luka.5 Jika tembakan mengenai tubuh korban yang ditutup pakaian. sedangkan pada soft contact. butir-butir mesiu dan api dapat tertahan pakaian  Fragmen atau partikel logam dapat tertahan oleh pakaian 46 . Pada hard contact. baik luka tembak tempel yang erat (hard contact) maupun yang hanya sebagian menempel (soft contact) b. Jejas laras terjadi oleh karena adanya tenaga yang terpantul oleh tulang dan mengangkat kulit sehingga terjadi benturan yang cukup kuat antara kulit dan moncong senjata d. dan pakaiannya cukup tebal.a. Jejas laras dapat terjadi bila moncong senjata ditempelkan pada bagian tubuh. maka pada soft contact jelaga dan butir mesiu ada yang keluar melalui celah antara moncong senjata dan kulit. Jejas laras dapat terjadi pada luka tembak tempel. jejas laras sebetulnya luka lecet tekan tersebut akan tampak sebagian sebagai garis lengkung f. dimana di bawahnya ada bagian yang keras (tulang) c. sehingga terdapat adanya kelim jelaga dan kelim tato.

tubuh bisa berubah akibat perlakuan orang-orang yang mempersiapkan tubuhnya untuk dikirimkan 47 . dan Membersihkan membuka debridement menutupnya. kemudian membalut adalah bagian penting dari merawat pasien bagi dokter. Dokter mempunyai tanggung jawab yang utama luka. dan bagian yang ditembus/dilewati. Deskripsi Luka Tembak Kepentingan medikolegal deskripsi yang adekuat dari luka senjata api bergantung pada besarnya potensi seorang korban meninggal. ukuran dan bentuk defek. setelah semua kondisi gawat darurat dapat disingkirkan. lipatan kulit yang utuh dan robek. Oleh karena singkatnya waktu yang dimiliki untuk mempelajari medikolegal. pengguntingan rambut.4 Penatalaksanaan luka. Penggambaran luka secara detail akan dilakukan nanti. drainase. tato (jika ada). pembalutan. untuk memberikan penatalaksanaan dan mengeksplorasi. tubuhnya dapat saja sudah mengalami perubahan akibat penanganan gawat darurat dari pihak lain. Serat-serat pakaian dapat terbawa oleh peluru dan masuk ke dalam lubang luka tembak II. lingkaran abrasi.2. bubuk hitam sisa tembakan (jika ada). termasuk debridement. Jika korban masih hidup. tidak ada tuntutan dalam mengatasi gawat darurat.6. seringkali dokter merasa tidak mempunyai kewajiban untuk mendeskripskan luka secara detail. Sebagai tambahan. Deskripsi luka yang minimal untuk pasien hidup terdiri dari : Lokasi luka. penjahitan. dan operasi perluasan luka. Pada korban mati. deskripsi singkat dan tidak terlalu detail.1. Meskipun demikian. gawat darurat.

Jaringan juga berperan serta dalam perubahan gambaran luka karena adanya kontraksi otot. luka sudah ditutup dengan lilin atau material lain. jika sudut penembakan olique akan mengakibatkan luka tembak berbentuk ellips. 1. Senapan akan memproduksi lebih sedikit kotoran. Arah Tembakan Luka tembak yang tepat akan membentuk lubang yang sirkuler serta perubahan warna pada kulit. luka tembak dapat diklasifikasikan sebagai luka tembak jarak dekat.kepada pihak yang bertanggung jawab untuk menerimanya. Meski kisaran jarak tembak tidak dapat dinilai dengan ketajaman absolut. a. Perkiraan tersebut memiliki kepentingan sebagai berikut : untuk membuktikan atau menyangkal tuntutan. Di lain pihak. kecuali jika jarak dekat. Luka tembak yang disebabkan shotgun dengan sudut olique akan membentuk luka seperti anak tangga. untuk mengetahui gambaran luka. Jarak Tembakan Efek gas. tubuh mungkin sudah dibersihkan. dan jauh.4 b. Penting untuk mengetahui siapa dan apa yang telah dikerjakannya terhadap tubuh korban. sedang. dan anak peluru terhadap target dapat digunakan dalam keilmuan forensik untuk memperkirakan jarak target dari tembakan dilepaskan. Petunjuk ini berguna untuk pembanding dengan shotgun. bubuk mesiu. panjang luka dihubungkan dengan pengurangan sudut tembak.2. untuk menyatakan atau menyingkirkan kemungkinan bunuh diri. 48 . bahkan sudah disiapkan untuk penguburan. membantu menilai ciri alami luka akibat kecelakaan.

1 Bila terdapat kelim jelaga. sering dipersulit oleh adanya pengotoran oleh darah. untuk membersihkan busa yang terjadi dan membersihkan darah.8. Kesulitan timbul bila tidak ada kelim-kelim tersebut selain kelim lecet. kelim jelaga atau kelim tato. Pemeriksaan Khusus Pada Luka Tembak Masuk Pada beberapa keadaan.  Selain secara makroskopik.1 a) Pemeriksaan Mikroskopik 1.6 49 . yaitu maksimal 15 cm.  Dengan pemberian hydrogen-peroxide tadi.II. kelim api. sehingga pemeriksaan tidak dapat dilakukan dengan baik. pemeriksaan kimiawi. maka perkiraan penentuan jarak tembak tidak sulit. dapat juga dengan pemeriksaan khusus: pemeriksaan mikroskopik. luka tembak akan bersih dan tampak jelas. maksimal 60 cm dan seterusnya. dan pemeriksaan radiologik. sehingga deskripsi luka dapat dilakukan dengan akurat. II. maksimal 30 cm.1 Untuk menghadapi penyulit pada pemeriksaan tersebut dapat dilakukan prosedur sebagai berikut:1  Luka tembak dibersihkan dengan hydrogen-peroxide 3%  Setelah 2-3 menit luka tersebut dicuci dengan air. Cara Pengukuran Jarak Tembak Dalam Visum Et Repertum Bila pada korban terdapat luka tembak masuk dan tampak jelas adanya jejas laras. pemeriksaan terhadap luka tembak masuk.7. Sedangkan kelim api menunjukan bahwa korban ditembak dari jarak yang sangat dekat sekali. berarti korban ditembak dari jarak dekat. kelim tato berarti korban ditembak dari jarak dekat.

vakuolisasi sel-sel basal  Akibat panas. elongasi.Perubahan yang tampak diakibatkan oleh dua faktor. jaringan kolagen menyatu dengan pewarnaan HE. yaitu: trauma mekanik dan termis. berwarna hitam atau hitam kecoklatan  Pada luka tembak tempel ―hard contact‖. dan adanya butir-butir mesiu)  Sel-sel pada dermis intinya mengerut. epitel sembab. permukaan kulit sekitar luka tidak terdapat butir-butir mesiu atau hanya sedikit sekali. disekitar luka tampak epitel yang normal dan yang mengalami kompresi. butir-butir mesiu terdapat pada kulit dan jaringan di bawah kulit 50 . akan lebih banyak mengambil warna biru (basophilic staining)  Tampak perdarahan yang masih baru dalam epidermis (kelainan ini paling dominan. dan menjadi pipihnya sel-sel epidermal serta elongasi dari inti sel  Distorsi dari sel epidermis di tepi luka yang dapat bercampur dengan butirbutir mesiu  Epitel mengalami nekrosis koagulatif. vakuolisasi dan piknotik  Butir-butir mesiu tampak sebagai benda tidak beraturan. pada luka tembak tempel dan luka tembak jarak dekat perubahan mikroskopis yang terjadi adalah:  Kompresi epitel. butir-butir mesiu akan tampak banyak pada lapisan bawahnya. khususnys di sepanjang tepi saluran luka  Pada luka tembak tempel ―soft contact‖.

sulfat. sulfas. dimana dalam satu peluru terdiri dari berpuluh pellet. antimon. tembaga. nikel. karbonat.  Bila pada tubuh korban tampak banyak pellet tersebar. di dalam atau di sekitar luka  Pada pelaku penembakan. nitrit. nitrat. ditemukan timah. bismuth. hanya sedikit yang ada pada lapisan-lapisan kulit. tiosianat dan tiosulfat  Pada ―smokeless gun powder‖ dapat ditemukan nitrit. butir-butir mesiu terutama terdapat pada permukaan kulit. b) Pemeriksaan Kimiawi 1  Pada ―black gun powder‖ dapat ditemukan kalium. 51 . antimony. maka dapat dipastikan bahwa korban ditembak dengan senjata jenis ―shotgun‖. Pada luka tembak jarak dekat.  Pada ―tandem bullet injury” dapat ditemukan dua peluru walaupun luka tembak masuknya hanya satu. karbon. yang tidak beralur. barium. perak. dan merkuri  Unsur-unsur kimia yang berasal dari laras senjata dan dari peluru sendiri dapat ditemukan timah. dan thalium  Pemeriksaan atas unsur-unsur tersebut dapat dilakukan terhadap pakaian. unsur-unsur tersebut dapat dideteksi pada tangan yang menggenggam senjata c) Pemeriksaan dengan Sinar-X 1 Pemeriksaan radiologik ini umumnya untuk memudahkan dalam mengetahui letak peluru dalam tubuh korban. dan selulosa-nitrat  Pada senjata api yang modern.

2 Pemeriksaan korban luka tembak tidak lengkap tanpa pemeriksaan defek baju yang dibuat oleh peluru.  Bila ditembakan dari jarak dekat atau jarak sangat dekat. maka dengan pemeriksaan radiologik ini akan dengan mudah menentukan kasusnya. dapat terlihat pengotoran bewarna hitam yang disebabkan oleh butir-butir mesiu yang tidak terbakar dan akibat jelaga yang menempel pada pakaian. hal ini menunjukkan bahwa peluru keluar melalui lubang tersebut. Seperti otak atau serpihan tulang.  Di pinggir atau di sekitar robekan mungkin didapatkan pengotoran oleh darah. 52 .5  Serat-serat pakaian akan terdorong keluar. atau jaringan tubuh korban yang hancur dan terbawa keluar.5  Serat-serat pakaian akan terdorong ke dalam. Bila pada tubuh korban tampak satu peluru. Pada tempat yang sesuai dengan luka tembak masuk1. maka korban ditembak oleh senjata api jenis ―rifled‖. sehingga pemeriksaan sulit. yaitu dengan ditemukannya anak peluru pada foto rontgen d) Pemeriksaan baju pada korban luka tembak1.  Pada keadaan dimana tubuh korban telah membusuk lanjut atau telah rusak.  Bila senjata dirawat dengan baik maka di tepi dan di bagian pakaian yang robek terdapat pengotoran oleh minyak pelumas yang berwarna kehitaman. Pada tempat yang sesuai dengan luka tembak keluar1.  Tepi lubang pada pakaian tampak terangkat.

sedangkan berdasarkan alur pada laras.BAB III KESIMPULAN Luka tembak merupakan suatu cedera pada tubuh yang diakibatkan oleh senjata api. api dan partikel logam Pendeskripsian luka tembak dilakukan demi kepentingan medikolegal. ukuran dan bentuk luka. senjata api dikelompokan menjadi senjata api baralur dan senjata api tanpa alur. Pada luka tembak terjadi robekan dan kerusakan jaringan yang diakibatkan daya dorong peluru dalam menembus jaringan. 53 .luka tembus masuk jarak dekat maupun luka tembus masuk jarak jauh. Senjata api adalah suatu senjata yang menggunakan tenaga hasil peledakan mesiu. Berdasarkan panjang larasnya. Deskripsi luka ini mencakup lokasi luka. namun pada klasifikasi ini yang tidak kalah penting adalah jarak tembakan yaitu luka tembus masuk tempel. lingkaran abrasi. dapat melontarkan proyektil (anak peluru) yang berkecepatan tinggi melalui larasnya. Luka tembak dikelompokan menjadi luka tembak masuk dan luka tembak keluar. bubuk hitam sisa tembakan (jika ada). Efek dari tembakan ini diakibatkan oleh komponen peluru yang mengenai tubuh yaitu anak peluru. senjata api ini dikelompokan menjadi senjata api laras pendak dan senjata api laras panjang. lipatan kulit yang utuh dan robek. Penentuan jarak ini juga dapat menentukan efek dari tembakan. asap jelaga. mesiu.

kelim api. kelim jelaga. kita juga harus menentukan jarak tembakan dan arah tembakan. Selain dekripsi luka.sinar x mungkin diperlukan. Pemeriksaan khusus pada luka tembak masuk seperti pemeriksaa nmikroskopik. atau kelim tato.dan bagian tubuh yang ditembus. DAFTAR PUSTAKA 54 . Penentuan jarak tembakan ini dapat dilihat dari adanya jejas laras. kimiawi.

Elena. 41-43. Hueske E. 6. Firearms and Tool Mark The Forensic Laboratory Handbooks.com/gunshot_wound/luka tembak pada tulang. 1996.1. 1997. [cited 2011 Februari 20]. Gunshot wound[online]. Firearms and Tool Mark The Forensic Laboratory Handbooks. USA: Oxford University Press. 2006. 4. Second Edition. Anonim. Jakarta: Restu Agung. Practice and Resource.freewebs. Jakarta: Binarupa Aksara. Hueske E. Forensik.htm. Lely. p.131-168. 2006. Abdussalam. Idries AM.243-273. p. 55 . Indah PS. http://www. p. Irene. 2006. 5. 3. Practice and Resource. Pedoman Ilmu Kedokteran Forensik. Forensic Pathology. Luh S. 2. Edisi I.

TRAUMATOLOGI BAB 1 PENDAHULUAN 56 .

Seorang dokter dalam kesehariannya tidak lepas dari adanya kasus yang berhubungan dengan tindak kekerasan. cermat dan teliti dalam menafsirkan hasil yang didapatnya. khususnya atas diri korban. 1 Selain melakukan pengobatan terhadap korban dokter juga perlu untuk membantu penyidik untuk mengungkap pelaku tindak kekerasan tersebut. perlu secara hati-hati. Dibandingkan dengan kasus pembunuhan dan perkosaan. dan oleh karenanya penyidik perlu meminta Visum et Repertum kepada dokter sebagai alat bukti di depan pengadilan. sehingga dokter sebagai orang yang melakukan pemeriksaan. 57 . Data di beberapa rumah sakit menunjukkan bahwa jumlah kasus perlukaan dan keracunan pada unit gawat darurat mencapai 50-70%. kasus penganiayaan yang mengakibatkan luka merupakan jenis yang paling sering terjadi. Makalah ini dibuat untuk membahas mengenai traumatologi didalam bidang forensik sehingga diharapkan dapar membantu pembaca mengenai traumatologi di dalam bidang forensik.

Benda tumpul b. Klasifikasi .4 B.5 O Berdasarkan sifat dan penyebabnya. trauma dapat dibedakan atas kekerasan yang bersifat : 1.3.BAB 2 PEMBAHASAN A.3. kornea. Dalam pengertian medikolegal trauma adalah pengetahuan tentang alat atau benda yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan seseorang. Mekanik a. dan sebagainya. Fisika 58 . Definisi Di dalam ilmu kedokteran forensik traumatologi adalah ilmu yang mempelajari tentang luka dan cedera dalam hubungannya dengan berbagai kekerasan (rudapaksa). 2. sedangkan pengertian luka adalah suatu keadaan ketidaksinambungan jaringan tubuh akibat kekerasan. membran mukosa. Tembakan senjata api 2. Artinya orang yang sehat.2. tiba-tiba terganggu kesehatannya akibat efek dari alat atau benda yang dapat menimbulkan kecederaan. 2. Benda tajam c.3 Pengertian medis menyatakan trauma atau perlukaan adalah gangguan kontinuitas dari jaringan tubuh seperti kulit.4.

Luka termis. Akustik e. Luka ringan. Basa kuat O Berdasarkan etiologi luka dapat dikelompokkan: 1. Teratur 1.b Luka lonjong 1. O Berdasarkan bentuknya luka dapat dikelompokkan: 1. Tidak teratur 59 . Suhu b. O Berdasarkan derajat kualifikasi luka dapat dikelompokkan: 1. Kimia a.c Luka segitiga. 2. 3.a. Luka kimiawi. Radiasi 3. Perubahan tekanan udara d. Listrik dan petir c. Luka sedang. 2. Luka listrik. Asam kuat b. Luka berat. 3.a Luka bulat 1. dan lain-lain 2. 4. Luka mekanik.

2. 9. Perbuatan orang lain (pembunuhan). 4. 3. Luka tangkis. 3.Dibuat (fabricated) 60 . Luka tusuk (vulnus punctum). Luka robek (vulnus laceratum). Luka bakar (combustio) dan luka akibat air mendidih ataupun uap panas. 7.mortem O Berdasarkan aspek medikolegal luka dapat dikelompokkan: 1.b Luka lecet 2. 5. 4. Post. 5. Luka lecet (abrasio). Ante-mortem 2. 2. dan lain-lain O Luka mekanik juga dapat dikelompokkan: 1. 2. Luka tembak (vulnus sclopetorum). Luka-luka yang mengenai struktur organ dalam tanpa kerusakan pada Permukaan kulit/ tubuh 8. Luka sayat (vulnus scissum). Luka memar (kontusio).c Luka memar. Perbuatan sendiri (bunuh diri). O Berdasarkan waktu kematian terjadinya luka dapat dikelompokkan: 1.a Luka robek 2. Kecelakaan. 6. Luka-luka yang disebabkan oleh aliran listrik (kilat).

martil dan lain-lain. luka robek.7 Variasi mekanisme terjadinya trauma tumpul adalah: 1. sepatu. Korban yang bergerak pada benda tumpul yang diam. panah. Benda tumpul yang sering mengakibatkan luka antara lain adalah batu. 61 . Senjata atau alat yang dibuat manusia seperti kampak. 1. jalan dan lain-lain. luka lecet. bom dan senjata penghancur lainnya. Luka Akibat Trauma Tumpul2.6. Luka karena kererasan tumpul dapat berbentuk salah satu atau kombinasi dari luka memar.C. bendabenda ini telah ada sejak zaman pra sejarah dalam usaha manusia mempertahankan hidup sampai dengan pembuatan senjata-senjata masa kini seperti senjata api. besi. patah tulang atau luka tekan. Trauma Benda Tumpul Trauma atau luka mekanik terjadi karena alat atau senjata dalam berbagai bentuk. Adapun definisi dari benda tumpul itu sendiri adalah :    Tidak bermata tajam Konsistensi keras / kenyal Permukaan halus / kasar Kekerasan tumpul dapat terjadi karena 2 sebab yaitu alat atau senjata yang mengenai atau melukai orang yang relatif tidak bergerak dan yang lain orang bergerak ke arah objek atau alat yang tidak bergerak. 2. tinju. baik secara alami atau dibuat manusia. Akibat pada tubuh dapat dibedakan dari penyebabnya. Benda tumpul yang bergerak pada korban yang diam. pisau. lantai. Bila ditelusuri.

lebih dalam ke lapisan bawah kulit (dermis)atau lebih dalam lagi sampai ke jaringan lunak bawah kulit. Dua tanda yang dapat digunakan. Organ atau jaringan pada tubuh mempunyai beberapa cara menahan kerusakan yang disebabkan objek atau alat. Dapat terjadi superfisial jika hanya epidermis saja yang terkena.Sekilas nampak sama dalam hasil lukanya namun jika diperhatikan lebih lanjut terdapat perbedaan hasil pada kedua mekanisme itu. Efek lanjut dari abrasi sangat jarang terjadi. Infeksi dapat terjadi pada abrasi yang luas. Kata lazim yang digunakan adalah memar. Laserasi c. terjadi karena tekanan yang besar dalam waktu yang singkat. Arah dari pengelupasan dapat ditentukan dengan pemeriksaan luka. Abrasi (Luka Lecet) Abrasi per definisi adalah pengelupasan kulit. Fraktur e. Tanda yang pertama adalah arah dimana epidermis bergulung. daya tahan tersebut menimbulkan berbagai tipe luka yakni: a. Jika abrasi terjadi lebih dalam dari lapisan epidermis pembuluh darah dapat terkena sehingga terjadi perdarahan. tanda yang kedua adalah hubungan kedalaman pada luka yang menandakan ketidakteraturan benda yang mengenainya. Kompresi a. Kontusio Superfisial (Luka Memear). Abrasi b. Kontusio d. Penekanan ini menyebabkan kerusakan pada pembuluh darah kecil dan dapat menimbulkan perdarahan pada jaringan bawah 62 . b.

Perubahan warna pada memar berhubungan dengan waktu lamanya luka. penurunan kesadaran. Tidak ada standart pasti untuk menentukan lamanya luka dari warna yang terlihat secara pemeriksaan fisik. memar dapat menjadi tempat media berkembang biak kuman. Kontusio pada organ dan jaringan dalam. kuman tersering adalah golongan clostridium yang dapat memproduksi gas gangren. Pada orang dengan kulit berwarna memar sulit dilihat sehingga lebih mudah terlihat dari nyeri tekan yang ditimbulkannya. d. Efek samping yang terjadi pada luka memar antara lain terjadinya penurunan darah dalam sirkulasi yang disebabkan memar yang luas dan masif sehingga dapat menyebabkan syok. Semua organ dapat terjadi kontusio. Pada organ vital seperti jantung dan otak jika terjadi kontusio dapat menyebabkan kelainan fungsi dan bahkan kematian.kulit atau organ dibawahnya. Yang kedua adalah terjadinya agregasi darah di bawah kulit yang akan mengganggu aliran balik vena pada organ yang terkena sehingga dapat menyebabkan ganggren dan kematian jaringan. bahkan kematian. Yang ketiga. Laserasi (Luka Robek). namun waktu tersebut bervariasi tergantung jenis luka dan individu yang terkena. c. Kontusio pada tiap organ memiliki karakteristik yang berbeda. Kematian jaringan dengan kekurangan atau ketiadaaan aliran darah sirkulasi menyebabkan saturasi oksigen menjadi rendah sehingga kuman anaerob dapat hidup. 63 .

Sebuah laserasi kecil tanpa adanya robekan arteri dapat menyebabkan akibat yang fatal bila perdarahan terjadi terus menerus. Laserasi yang multipel yang mengenai jaringan kutis dan sub kutis dapat menyebabkan perdarahan yang hebat sehingga menyebabkan sampai dengan kematian.Suatu pukulan yang mengenai bagian kecil area kulit dapat menyebabkan kontusio dari jaringan subkutan. Port de entree tersebut tetap ada sampai dengan terjadinya penyembuhan luka yang sempurna. seperti pinggiran balok kayu. 64 .1. Tepi dari laserasi ireguler dan kasar. permukaan benda tersebut cukup lancip untuk menyebabkan sobekan pada kulit yang menyebabkan laserasi.3. ujung dari pipa.1. Luka Robek Laserasi dapat menyebabkan perdarahan hebat. Adanya diskontinuitas kulit atau membran mukosa dapat menyebabkan kuman yang berasal dari permukaan luka maupun dari sekitar kulit yang luka masuk ke dalam jaringan. disekitarnya terdapat luka lecet yang diakibatkan oleh bagian yang lebih rata dari benda tersebut yang mengalami indentasi. Gambar 2. Laserasi disebabkan oleh benda yang permukaannya runcing tetapi tidak begitu tajam sehingga merobek kulit dan jaringan bawah kulit dan menyebabkan kerusakan jaringan kulit dan bawah kulit.

Bila perdarahan sub periosteum terjadi dapat menyebabkan nyeri yang hebat dan disfungsi organ 65 . e. Laserasi juga dapat terjadi pada organ akibat dari tekanan yang kuat dari suatu pukulan seperi pada organ jantung.Terjadinya fraktur selain disebabkan suatu trauma juga dipengaruhi beberapa faktor seperti komposisi tulang tersebut. memar dan laserasi dapat terjadi bersamaan. khususnya pada saat sendi tersebut di gerakkan ke arah laserasi tersebut sehingga dapat menyebabkan disfungsi dari sendi tersebut. memar dan laserasi. aorta. Luka leceet. Fraktur Fraktur adalah suatu diskontinuitas tulang. Benda yang sama dapat menyebabkan memar pada pukulan pertama.Bila luka terjadi dekat persendian maka akan terasa nyeri. Istilah fraktur pada bedah hanya memiliki sedikit makna pada ilmu forensik. Tetapi ketiga jenis luka tersebut dapat terjadi bersamaan pada satu pukulan. Kombinasi dari luka lecet. f. fraktur dibagi menjadi fraktur sederhana dan komplit atau terbuka. Hal yang harus diwaspadai dari laserasi organ yaitu robekan yang komplit yang dapat terjadi dalam jangka waktu lama setelah trauma yang dapat menyebabkan perdarahan hebat. Perdarahan merupakan salah satu komplikasi dari fraktur. Benturan yang terjadi pada jaringan bawah kulit yang memiliki jaringan lemak dapat menyebabkan emboli lemak pada paru atau sirkulasi sistemik. Pada bedah. laserasi pada pukulan selanjutnya dan lecet pada pukulan selanjutnya. hati dan limpa.

h. Gejala pada emboli lemak di sereberal dapat terjadi 2-4 hari setelah terjadinya fraktur dan dapat menyebabkan kematian. Gejala pada emboli lemak di paru berupa distres pernafasan dapat terjadi 14-16 jam setelah terjadinya fraktur yang juga dapat menyebabkan kematian. Emboli sumsum tulan atau lemak merupakan tanda antemortem dari sebuah fraktur. koma hingga kematian. Apabila terjadi robekan pada arteri yang besar terjadi kehilangan darah yang banyak dan dapat menyebabkan pasien shok sampai meninggal.tersebut. Apabila terjadi robekan pembuluh darah kecil dapat menyebabkan darah terbendung disekitar jaringan lunak yang menyebabkan pembengkakan dan aliran darah balik dapat berkurang. Shok yang terjadi pada pasien fraktur tidaklah selalu sebanding dengan fraktur yang dialaminya. Perdarahan 66 . Kompresi Kompresi yang terjadi dalam jangka waktu lama dapat menyebabkan efek lokal maupun sistemik yaitu asfiksia traumatik sehingga dapat terjadi kematiaan akibat tidak terjadi pertukaran udara. kejang. Fraktur linier yang terjadi pada tulang tengkorak tanpa adanya fraktur depresi tidaklah begitu berat kecuali terdapat robekan pembuluh darah yang dapat membuat hematom ekstra dural. Selain itu juga dapat terjadi emboli lemak pada paru dan jaringan lain. g. sehingga diperlukan depresi tulang secepatnya. sehingga dapat terjadi penurunan kesadaran. Apabila ujung tulang mengenai otak dapat merusak otak tersebut.

Hal ini sesuai dengan prinsip yang telah diketahui.Apabila luka pada arteri besar berupa sayatan. Kecepatan perdarahan yang terjadi tergantung pada ukuran dari pembuluh darah yang terpotong dan jenis perlukaan yang mengakibatkan terjadinya perdarahan. serta orang-orang yang mendapat terapi antikoagulan. laserasi. Hipertensi dapat menyebabkan perdarahan yang banyak dan cepat apabila terjadi perlukaan pada arteri. sehingga cenderung memiliki perdarahan yang berisiko. Pada arteri besar yang terpotong.Perdarahan dapat muncul setelah terjadi kontusio. Kehilangan ½ volume darah dan mendadak dapat menyebabkan syok yang berakhir pada kematian. 67 . seperti luka yang disebabkan oleh pisau. Luka pada arteri besar yang disebabkan oleh tembakan akan mengakibatkan luka yang sulit untuk dihentikan oleh mekanisme penghentian darah dari dinding pembuluh darah sendiri. fraktur. perdarahan akan berlangsung lambat dan mungkin intermiten. yaitu perdarahan yang berasal dari arteri lebih berisiko dibandingkan perdarahan yang berasal dari vena. Kondisi ini terdapat pada orang-orang dengan penyakit hemofili dan gangguan pembekuan darah. Kehilangan 1/10 volume darah tidak menyebabkan gangguan yang bermakna. akan terjadi perdarahan banyak yang sulit dikontrol oleh tubuh sendiri. dan kompresi. Kehilangan ¼ volume darah dapat menyebabkan pingsan meskipun dalam kondisi berbaring. Adanya gangguan pembekuan darah juga dapat menyebabkan perdarahan yang lama. Pecandu alcohol biasanya tidak memiliki mekanisme pembekuan darah yang normal.

Luka Memar 2.3.Investigasi terhadap kematian yang diakibatkan oleh perdarahan memerlukan pemeriksaan lengkap seluruh tubuh untuk mencari penyakit atau kondisi lain yang turut berperan dalam menciptakan atau memperberat situasi perdarahan. Luka Lecet 2. Klasifikasi luka akibat benda tumpul menurut jaringan atau organ yang terkena adalah sebagai berikut : 1.2. Tengkorak 2. Luka Robek Gambar 2. Kulit 1. Jaringan Otak 3. Leher dan Tulang Belakang 68 . Luka Memar 3.1. Kepala 1.

4. Tulang 2. Anggota Gerak 2. Contohnya :     Benda kasar : terseret di jalan aspal Tali tampar : gantung diri Benda runcing : duri. Biasanya pada penyembuhan tidak meninggalkan jaringan parut Memperkirakan umur luka lecet:  Hari ke 1 – 3 : warna coklat kemerahan 69 . Organ Parenchym 2. Timbul reaksi radang (Sel PMN) 4. kuku Meninggalkan bekas : ban mobil Ciri luka lecet : 1. Organ berongga 6. Organ dalam dada 5. Luka Lecet (Abrasion) Adalah luka akibat kekerasan benda yang memiliki permukaan yang kasar sehingga sebagian atau seluruh lapisan epidermis hilang. Perut 1.. Permukaan tertutup exudasi yang akan mengering (krusta) 3. Kekerasan benda tumpul pada kulit dan jaringan bawah kulit a. Dada 1. Sebagian/seluruh epitel hilang 2.

Luka Memar (Contusion) Adalah kerusakan jaringan subkutan dimana pembuluh darah (kapiler) pecah sehingga darah meresap ke jaringan sekitarnya. Tanda intravital (-) 4. Coklat kemerahan 2. kulit tidak perlu rusak. Sembarang tempat POST MORTEM 1. Epidermis terpisah sempurna dari dermis 3.   Hari ke 4 – 6 : warna pelan-pelan menjadi gelap dan lebih suram Hari ke 7 – 14 : pembentukan epidermis baru Beberapa minggu : terjadi penyembuhan lengkap Perbedaan luka lecet ante motem dan post mortem ANTE MORTEM 1. Memperkirakan umur luka memar :     Hari ke 1 : terjadi pembengkakan warna merah kebiruan Hari ke 2 – 3 : warna biru kehitaman Hari ke 4 – 6 : biru kehijauan–coklat > 1 minggu-4 minggu : menghilang / sembuh 70 . Terdapat sisa sisa-sisa epitel 1. menjadi bengkak. Pada daerah yang ada penonjolan tulang b. Kekuningan 2. berwarna merah kebiruan. Tanda intravital (+) 2.

Tanda Intravital (+) 4. Pembengkakan (+) 3. Retak. Kulit    Luka Lecet Luka Memar Luka Robek 2. Otak  Contusio Cerebri 71 . Pembengkakan (-) 3. Luka Robek. Tengkorak   Fraktur Basis Cranii Fraktur Calvaria 3. Ditekan Menghilang 5. Diiris : dibersihkan dengan kapas menjadi bersih c. Bagian tubuh yang terendah 2. Tanda Intravital (-) 4. Koyak (Laceration) Adalah kerusakan seluruh tebal kulit dan jaringan bawah kulit yang mudah terjadi pada kulit yang ada tulang di bawahnya dan biasanya pada penyembuhan meninggalkan jaringan parut Kekerasan Benda Tumpul Pada Kepala 1. Diiris : tidak menghilang Lebam mayat 1.Perbedaan Luka Memar dan Lebam mayat Luka Memar 1. Di sembarang tempat 2. Ditekan tidak menghilang 5.

Luxatio sendi sacro iliaca Robek organ hepar. pericardium Kekerasan Benda Tumpul Pada Perut Berakibat :   Patah os pubis. symphysiolysis. lien. oesophagus. paru. clavicula Robek organ jantung. Selaput Otak    Epidural Haemorrhage Sub dural Haemorrhage Sub arachnoid Haemorrhage Kekerasan Benda Tumpul Pada Leher Berakibat :    Patah tulang leher Robek pembuluh darah. trachea/larynx Kerusakan syaraf Kekerasan Benda Tumpul Pada Dada Berakibat :   Patah os costae.   Laceratio Cerebri Oedema Cerebri Commotio Cerebri 4. sternum. ginjal. usus. adrenal. lambung. otot. scapula. os sacrum. kandung seni Kekerasan Benda Tumpul Pada Vertebra Dapat berakibat : 72 . Pankreas.

darah. Trauma langsung 2.) o Memar/lecet di sekitarnya ( . yaitu: Putusnya atau rusaknya continuitas jaringan karena trauma akibat alat/senjata yang bermata tajam dan atau berujung runcing. Tidak langsung karena tarikan / tekukan Kekerasan benda Tumpul Pada Anggota Gerak Berakibat :   Patah tulang.) 73 .Bisa untuk menusuk Luka akibat persentuhan dengan benda tajam . kerusakan saraf D.Berujung runcing .Bisa untuk mengiris . Ciri Luka Akibat Benda Tajam: o Tepi luka rata o Sudut luka tajam o Rambut ikut terpotong o Jembatan jaringan ( . Trauma Benda Tajam Disebabkan oleh benda-benda tajam : . dislokasi sendi Robek otot. P. Fraktura. dislokasi os vertebrae Dapat karena : 1.

Kerusakan organ vital . ordinat b. Sepsis / infeksi 3 Macam Luka Akibat Benda Tajam: o Luka Iris (Incisied Wound) o Luka Tusuk (Stab Wound) o Luka Bacok (Chop Wound) 74 . Sebab langsung: .Cara melukis luka hendaknya ditentukan : 1.Aspirasi darah 2. aksis 2. Lokalisasi : a. Ukuran 3. Jumlah luka 4.Emboli udara .Perdarahan . Bentuk luka 5. Benda asing 6. Luka tersebut menyebabkan kematian/tidak 8. Cara kejadian luka:kecelakaan/bunuh diri/pembunuhan Sebab Kematian Luka Akibat Benda Tajam : 1. Terjadinya intravital/post mortal 7.

2. otot.3. pembuluh darah. tidak sampai tulang Cara Kematian : o Bunuh diri ( tersering ) o Pembunuhan o Kecelakaan Luka Iris harus dibedakan dengan ―luka retak‖ Luka retak . Luka Iris pada Leher Ciri luka iris : o Pinggir luka rata o Sudut luka tajam o Rambut ikut terpotong o Jembatan jaringan ( .) o Biasanya mengenai kulit.1. Gambar 2. yaitu : 75 .1. Luka Iris Luka karena alat yang tepinya tajam dan timbulnya luka oleh karena alat ditekan pada kulit dengan kekuatan relativ ringan kemudian digeserkan sepanjang kulit.

Pakaian disingkirkan dahulu/tidak ikut robek Luka Iris pada pembunuhan : Sebenarnya sukar membunuh seseorang dengan irisan. juga pada daerah tubuh yang tidak mungkin dicapai tangan korban sendiri Ditemukan luka tangkisan/tanda perlawanan Pakaian ikut koyak akibat senjata tajam tsb 76 .Lokalisasi luka pada daerah tubuh yang dapat dicapai korban sendiri. lekuk lutut o pelipatan paha .Ditemukan ―Luka Iris Percobaan‖ . o leher o pergelangan tangan o lekuk siku. kecuali kalau fisik korban jauh lebih lemah dari pelaku atau korban dalam keadaan/dibuat tidak berdaya Luka di sembarang tempat.Tidak ditemukan ―Luka Tangkisan‖ .Luka yang terjadi pada daerah tubuh yang ada tulang di bawah kulitnya (misalnya : kepala/dahi) dan luka ini terjadi akibat kekerasan dengan benda tumpul yang mempunyai pinggiran (misalnya: tepi meja) Luka Iris pada bunuh diri: .

2b.2a.2.3. Contoh: Belati. Luka Tusuk Batasan : Luka akibat alat yang berujung runcing dan bermata tajam atau tumpul yang terjadi dengan suatu tekanan tegak lurus atau serong pada permukaan tubuh.2. Pisau yang digunakan Ciri Luka Tusuk (misalnya senjata pisau / bayonet) :      Tepi luka rata Dalam luka lebih besar dari panjang luka Sudut luka tajam Sisi tumpul pisau menyebabkan sudut luka kurang tajam Sering ada memar / echymosis di sekitarnya 77 . Luka Tusuk Gambar 2.3. keris Gambar 2.2. bayonet.

dalamnya). lebar. Pemeriksaan Forensik terhadap Luka Dalam hal pemeriksaan terhadap luka-luka pada korban kita harus hati-hati sekali berhubungan karena keterangan yang jelas akan dapat membantu kalangan penyidik dan penegak hukum lainnya untuk mengungkapkan keadaan sebenarnya. Ukuran luka (panjang. Arah luka 4. Contoh : pedang.3. Lokalisasi luka 3. kapak. baling-baling kapal. abrasi E. Oleh karena itu di dalam pemeriksaan korban kita harus memperhatikan halhal sebagai berikut: 1. clurit. Luka Bacok Luka akibat benda atau alat yang berat dengan mata tajam atau agak tumpul yang terjadi dengan suatu ayunan disertai tenaga yang cukup besar. 78 . dapat memutuskan bagian tubuh yang terkena bacokan   Kadang-kadang pada tepi luka terdapat memar. Jumlah luka 2. Ciri-ciri luka bacok:     Luka biasanya besar Pinggir luka rata Sudut luka tajam Hampir selalu menimbulkan kerusakan pada tulang.

Bersih dan kotornya luka 6. 79 . Ukuran yang tepat (dalam sentimeter) harus ditentukan dan tidak boleh ukuran kira-kira saja.5. dan lain-lain. Adanya darah atau benda asing pada senjata 11. Pemeriksaan lebih dalam harus dilakukan untuk mengetahui apakah organ-organ dalam ikut tertusuk atau tidak dan harus dicatat jumlah darah yang terdapat di dalam rongga-rongga tubuh. Letak dan sifat darah pada korban dan pada pakaian serta situasi tempat sekitar kejadian 12. Luka baru atau luka lama 7. Letak dan posisi senjata 10. Tanda perlawanan yang dapat dilihat dari pakaian ataupun tubuh dan situasi tempat kejadian Mengenai lokalisasi harus disebut sehubungan dengan daerah-daerah yang berdekatan misalnya terhadap garis tengah tubuh. papila mamae. pusat. Sifat luka dan bentuknya 9. Luka antemortem atau post mortem 8.

adanya darah atau benda asing pada senjata. Dalam hal pemeriksaan terhadap luka-luka pada korban kita harus hatihati sekali berhubungan karena keterangan yang jelas akan dapat membantu kalangan penyidik dan penegak hukum lainnya untuk mengungkapkan keadaan sebenarnya. bersih dan kotornya luka. arah luka. waktu kematian terjadinya luka. bentuk luka. 80 . luka baru atau luka lama. lebar. letak dan posisi senjata. dalamnya). Oleh karena itu di dalam pemeriksaan korban kita harus memperhatikan hal-hal seperti jumlah luka. luka antemortem atau post mortem. ukuran luka (panjang. etiologi luka. letak dan sifat darah pada korban dan pada pakaian serta situasi tempat sekitar kejadian.BAB 3 KESIMPULAN Traumatologi forensik adalah ilmu yang mempelajari tentang luka dan cedera hubungannya dengan berbagai kekerasan (rudapaksa). dan aspek medikolegal luka. sedangkan pengertian luka adalah suatu keadaan ketidaksinambungan jaringan tubuh akibat kekerasan. Tanda perlawanan yang dapat dilihat dari pakaian ataupun tubuh dan situasi tempat kejadian. sifat luka dan bentuknya. Trauma dapat diklasifikasikan berdasarkan sifat dan penyebab kecederaan (trauma). lokalisasi luka. derajat kualifikasi luka.

Medan: UPT Penerbitan dan percetkan Universitas Sumatera Utara. 2006. 2010. Amir. W. Jakarta:Bagian Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Pdf . Romans Forensic. Wully. 9. Jakarta: Binarupa Aksara. Ilmu Forensik dan Toksikologi. Maj Kedokt Indon 2010. Ilmu Kedokteran Forensik. Traumatologi Forensik diunduh dari: www. Edisi kelima. Medan: Ramadhan. London: Elsevier. James. Anonim. Rangkaian Ilmu Kedokteran Forensik. Edisi Kedua. Amri. Afandi D. 8. A. 2002. Diterjemahkan oleh Syaulia Andirezeki. Edisi I.DAFTAR PUSTAKA 1.com. Aspek Medikolgal Luka. Satyo. 6. Encylopedia of Forensic and Legal Medicine. Pedoman Ilmu Kedokteran Forensik. diakses 1 Juni 2011. Jakarta: Majalah Kedokteran Nusantara. P. 3. edisi II (revisi) cetakan III. Jakarta: Widya Medika.google. Edisi 20. 7. 1997. Budiyanto. Traumatologi.2005. 10. 2004. 4. Edisi Kedua. 5. Jason Payne at all. Chadha. Alfed C. 60( 4) : 188-95 2. Satyo. 81 . Visum et Repertum perlukaan : aspek medikolegal dan penentuan derajat luka. Alfed C.1995. 1997. Idries AM. Vijay. First Edition.

ASFIKSIA 82 .

Asfiksia jenis inilah yang paling sering dijumpai dalam kasus tindak pidana yang menyangkut tubuh dan nyawa manusia. khususnya pada postmortem serta keadaan apa saja yang dapat menyebabkan asfiksia. khususnya asfiksia mekanik mempunyai arti penting terutama dikaitkan dengan proses penyidikan. Asfiksia yang diakibatkan oleh karena adanya obstruksi pada saluran pernafasan disebut asfiksia mekanik. Gangguan tersebut dapat disebabkan karena adanya obstruksi pada saluran pernafasan dan gangguan yang diakibatkan karena terhentinya sirkulasi.2 Asfiksia merupakan mekanisme kematian terbanyak yang ditemukan dalam kasus kedokteran forensik.1 Dalam penyidikan untuk kepentingan peradilan menangani seorang korban yang diduga karena peristiwa tindak pidana. Mengetahui gambaran asfiksia.BAB I PENDAHULUAN Asfiksia adalah kumpulan dari berbagai keadaan dimana terjadi gangguan dalam pertukaran udara pernafasan yang normal. Gangguan ini akan menimbulkan suatu keadaan dimana oksigen dalam darah berkurang yang disertai dengan peningkatan kadar karbondioksida.1. Seorang dokter sebagaimana pasal 179 KUHAP 83 . seorang penyidik berwenang mengajukan permintaan keterangan ahli kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokter dan atau ahli lainnya. Keadaan ini jika terus dibiarkan dapat menyebabkan terjadinya kematian.

84 . jenis-jenis asfiksia serta pemeriksaan tanda-tanda asfiksia pada keadaan postmortem.1 Dalam makalah ini akan dibahas mengenai pengertian asfiksia. salah satunya asfiksia. sudah selayaknya seorang dokter perlu mengetahui dengan seksama perihal ilmu forensik.wajib memberikan keterangan yang sebaik-baiknya dan yang sebenarnya menurut pengetahuan di bidang keahliannya demi keadilan. Untuk itu.

yaitu:1.1 Asfiksia merupakan istilah yang sering digunakan untuk menyatakan berhentinya respirasi yang efektif (cessation of effective respiration) atau ketiadaan kembang kempis (absence of pulsation). sebelum dipahami lebih dulu tentang anoksia. Definisi Asfiksia Asfiksia atau mati lemas adalah suatu keadaan berupa berkurangnya kadar oksigen (O2) dan berlebihnya kadar karbon dioksida (CO2) secara bersamaan dalam darah dan jaringan tubuh akibat gangguan pertukaran antara oksigen (udara) dalam alveoli paru-paru dengan karbon dioksida dalam darah kapiler paruparu. Namun pengertian asfiksia dan anoksia (atau lebih tepatnya hipoksia) sering dicampuradukkan. Anoksia anoksik (anoxic anoxia). Kekurangan oksigen disebut hipoksia dan kelebihan karbon dioksida disebut hiperkapnia. Oleh sebab itu. yaitu keadaan anoksia yang disebabkan karena oksigen tidak dapat mencapai darah sebagai akibat kurangnya oksigen yang masuk paru-paru. yang berdasarkan penyebabnya dibagi menjadi 4 golongan.2 1. 85 .3 Anoksia adalah suatu keadaan di mana tubuh sangat kekurangan oksigen.BAB II TINJAUAN PUSTAKA H.

Anoksia stagnan (stagnant anoxia). dimana masing-masing kelompok tersebut memang mempunyai ciri tersendiri. yaitu keadaan anoksia yang disebabkan karena darah tidak mampu membawa oksigen ke jaringan. 4. seperti pada keracunan karbon monoksida. Ketiga jenis anoksia yang terakhir (yaitu anoksia anemik. Dahulu untuk keadaan ini disebut anoksia. Kelompok tersebut adalah: 2 86 . seperti pada heart failure atau embolism. Anoksia anemik (anaemic anoxia). 3. Yang disebut asfiksia sebenarnya adalah anoksia anoksik. yaitu keadaan anoksia yang disebabkan karena darah tidak dapat menyerap oksigen. yang setelah dipelajari ternyata pemakaian istilah anoksia tersebut tidak tepat. atau sering juga disebut asfiksia mekanik (mechanical asphyxia).1 Hipoksia dapat diberi batasan sebagai suatu keadaan dimana sel gagal untuk dapat melangsungkan metabolisme secara efisien. seperti pada keracunan sianida. stagnan dan histotoksik) disebabkan oleh penyakit atau keracunan. walaupun ciri atau mekanisme yang terjadi pada masing-masing kelompok akan menghasilkan keadaan atau akibat yang sama bagi tubuh. yaitu keadaan anoksia yang disebabkan karena jaringan tidak mampu menyerap oksigen. Anoksia histotoksik (histotoxic anoxia).2 Dalam kenyataan sehari-hari hipoksia ternyata merupakan gabungan dari empat kelompok.2. sedang anoksia yang pertama (yaitu anoksia anoksik) disebabkan kekurangan oksigen atau obstruksi mekanik pada jalan nafas.

4. yaitu: a. enzim pernafasan jaringan menderita keracunan misalnya pada keracunan sianida dan pada keracunan CO. misalnya pada keadaan uremia dan keracunan gas CO2. suatu keadaan dimana oksigen yang terdapat dalam. Stagnan-hipoksia. oksigen tersebut tidak dapat dipergunakan oleh jaringan. asfiksia dapat disebabkan oleh hal berikut:3 87 . Substrate histotoxic-hypoxia. dimana darah yang tersedia tidak dapat membawa oksigen yang cukup untuk metabolisme dalam jaringan. Etiologi Asfiksia Dari segi etiologi.1. Anemik-hipoksia. dimana oleh karena sesuatu keadaan terjadi kegagalan sirkulasi. Histotoksik-hipoksia. oksigen tidak dapat masuk ke dalam sel oleh karena terjadi penurunan permeabilitas membran sel. Histotoksik-hipoksia ekstra-seluler. b. Metabolite histotoxic-hypoxia. Histotoksik-hipoksia periseluler. dalam keadaan ini hasil akhir (end product) dari pernafasan seluler tidak dapat dieliminer. dalam keadaan ini oksigen gagal untuk masuk ke dalam sirkulasi darah. Dibagi ke dalam 4 kelompok. Hipoksik-hipoksia. I. 3. misalnya pada keracunan eter atau keracunan kloroform. dalam keadaan ini bahan makanan untuk metabolisme yang efisien tidak cukup tersedia. c. 2. oleh karena sesuatu hal. sehingga metabolisme berikutnya tidak dapat berlangsung. d.

asma bronkiale. Stadium Dispneu Defisiensi oksigen pada sel-sel darah merah dan akumulasi karbondioksida dalam plasma akan merangsang pusat pernafasan di medulla. atau menimbulkan gangguan pergerakan paru seperti fibrosis paru. Emboli lemak disebabkan oleh fraktur tulang panjang. Emboli terbagi atas 2 macam. terakhir terjadi spasme opistotonik. misalnya trauma yang mengakibatkan emboli. pupil menjadi lebar dan denyut jantung 88 . Stadium Konvulsi Pertama adalah kejang klonik. Trauma mekanik. narkotika. peningkatan denyut nadi dan sianosis terutama dapat diamati pada wajah dan tangan. 3. Emboli udara disebabkan oleh terbukanya vena jugularis akibat luka. 2. Kesadaran mulai hilang. pneumotoraks bilateral. pneumonia. Penyebab Alamiah. misalnya penyakit yang menyumbat saluran pernafasan seperti laryngitis difteri. misalnya barbiturate. J. COPD. yaitu antara lain:4 1. 2. setelah itu kejang tonik. Keracunan bahan yang menimbulkan depresi pusat pernafasan. tumor laring. Hal ini akan mengakibatkan gerak pernafasan yang cepat dan kuat. Stadium Asfiksia Asfiksia terbagi atas beberapa stadium. Pada fase dispneu asfiksia ini berlangsung kira-kira 4 menit. yaitu emboli lemak dan emboli udara. yang menyebabkan asfiksia mekanik.1. sumbatan atau halangan pada saluran napas dan sebagainya.

Sianosis Kurangnya oksigen akan menyebabkan darah menjadi lebih encer dan lebih gelap. 3. Setelah beberapa kontraksi otomatis dari otot-otot aksesoris pernafasan dileher. Warna kulit dan mukosa terlihat lebih gelap. kemudian pernafasan berhenti. Tanda-tanda Asfiksia Pada jenazah yang meninggal dunia akibat asfiksia akan dapat ditemukan tanda-tanda umum sebagai berikut:1. Fase apneu asfiksia berlangsung kirakira 1 menit. Hal ini terjadi karena terjadi relaksasi sfingter.menjadi lambat serta tekanan darah turun. Perlu diketahui bahwa pada setiap proses kematian pada akhirnya akan 89 . Stadium Apneu Depresi pusat pernafasan semakin dalam sehingga pernafasan menjadi semakin lemah dan dapat berhenti. Stadium final Pada stadium ini terjadi kelumpuhan pernafasan secara lengkap. demikian juga lebam mayat. Jantung mungkin masih berdenyut setelah beberapa waktu setelah respirasi berhenti. K. Hal ini terjadi dimungkinkan karena meningkatnya kerusakan dari nukleus-nukleus pada otak karena defisensi oksigen. 4. Timbullah keadaan tidak sadar dan keluarnya cairan sperma secara tidak disadari (involunter).2 1. Fase konvulsi asfiksia terjadi kira-kira 2 menit. Dapat juga terjadi keluarnya urine dan faeces secara tidak disadari walaupun jarang.

Oleh sebab itu. Penekanan pada vena di leher (misalnya akibat strangulasi) akan menyebabkan timbulnya bintik-bintik perdarahan pada mata dan muka. Edema Kekurangan oksigen yang berlangsung lama akan mengakibatkan kerusakan pada pembuluh darah kapiler sehingga permeabilitasnya meningkat. Pada strangulasi juga dapat terlihat adanya edema pada muka. Bintik-bintik perdarahan ini lebih mudah terjadi pada jaringan longgar. perikardium atau kelenjar timus. Pada asfiksia yang hebat bintik-bintik perdarahan dapat terlihat pada faring atau laring. lidah. seperti misalnya pleura. dan faring. Keadaan ini akan menyebabkan timbulnya edema. Kongesti vena (venous congestion) Kongesti yang terjadi di paru-paru pada kematian karena asfiksia bukan merupakan tanda yang khas. terutama edema paru-paru. 3. 2. keadaan sianosis dalam berbagai tingkat dapat juga terjadi pada kematian yang tidak disebabkan karena asfiksia. 90 . Dengan kata lain keadaan sianosis bukan merupakan tanda yang khas pada asfiksia. Bintik-bintik perdarahan ini lebih mudah dilihat pada organ yang memiliki membran transparan. Kongesti yang khas yaitu kongesti sistemik yang terjadi di kulit dan organ selain paru-paru. Sebagai akibat dari kongesti vena ini akan terlihat adanya bintik-bintik perdarahan (petechial haemorrhages atau sering juga disebut Tardieu Spot). seperti misalnya jaringan bawah kelopak mata.terjadi juga keadaan anoksia jaringan.

maka secara menyeluruh untuk semua kasus akan ditemukan tanda-tanda umum yang hampir sama. Gambar 2. Tardieu's spot merupakan bintik-bintik perdarahan (petekie) akibat pelebaran kapiler darah setempat. yaitu:1.2.2 Pada pemeriksaan luar:  Muka dan ujung-ujung ekstremitas sianotik (warna biru keunguan) yang disebabkan tubuh mayat lebih membutuhkan HbCO2 daripada HbO2.Karena asfiksia merupakan mekanisme kematian.1. Ujung-ujung jari yang sianotik pada kasus asfiksia  Tardieu's spot pada konjungtiva bulbi dan palpebra. Tardieu’s spot pada konjungtiva palpebrae 91 . Gambar 2.

2. Edema paru. Pada pemeriksaan dalam: 1. dan lebih gelap karena terhambatnya pembekuan darah dan meningkatnya fragilitas/ permeabilitas kapiler. kelenjar timus dan kelenjar tiroid. 92 . galea apponeurotika. luas. Lebam mayat lebih gelap karena meningkatnya kadar HbCO2. pleura. Gambar 2. Darah termasuk dalam jantung berwarna gelap dan lebih cair. 5. Tardieu's spot pada pielum ginjal. perikard. laring. Lebam mayat pada asfiksia  Busa halus keluar dari hidung dan mulut. Lebam mayat cepat timbul. 4. Busa halus ini disebabkan adanya fenomena kocokan pada pernapasan kuat. Busa halus di saluran pernapasan. 3.3. Organ dalam tubuh lebih gelap & lebih berat akibat kongesti / bendungan alat tubuh dan sianotik. Hal ini akibat meningkatnya kadar CO2 sehingga darah dalam keadaan lebih cair.

5. Asfiksia Mekanik Asfiksia mekanik adalah mati lemas yang terjadi bila udara pernafasan terhalang memasuki saluran pernafasan oleh berbagai kekerasan (yang bersifat mekanik). Penekanan dinding saluran pernafasan:  Penjeratan (strangulation)  Pencekikan (manual strangulation)  Gantung (hanging) 3. Drowning (tenggelam) yaitu saluran napas terisi air.2 1. Kelainan lain yang berhubungan dengan kekerasan seperti fraktur laring. misalnya:1. 4. Karena mekanisme kematian pada kasus tenggelam bukan murni disebabkan oleh asfiksia. External pressure of the chest yaitu penekanan dinding dada dari luar. tetapi dibicarakan sendiri. Penutupan lubang saluran pernafasan bagian atas:  Pembekapan (smothering)  Penyumbatan (gagging dan choking) 2. 93 .6. mraka ada sementara ahli yang tidak lagi memasukkan tenggelam ke dalam kelompok asfiksia mekanik. L. Berikut akan dibahas beberapa kasus asfiksia mekanik. fraktur tulang lidah dan resapan darah pada luka. Inhalation of suffocating gases.

alkohol atau korban yang sedang tidur. Kematian karena penggantungan pada umumnya bunuh diri.1. Dengan demikian berarti alat penjerat sifatnya pasif. cara ini baru dapat dilakukan bila korbannya anak-anak atau orang dewasa yang kondisinya lemah.2 Penggantungan dibagi menjadi:1. Kasus gantung hampir sama dengan penjeratan. pembunuhan dengan metode menggantung korbannya relatif jarang dijumpai. Penggantungan (Hanging/ Strangulation by suspension) Penggantungan merupakan suatu strangulasi berupa tekanan pada leher akibat adanya jeratan yang menjadi erat oleh berat badan korban. di bawah pengaruh obat bius.1. Perbedaannya terdapat pada asal tenaga yang dibutuhkan untuk memperkecil lingkararan jerat. baik lemah oleh karena menderita penyakit. 94 .2  Accidental Hanging. sedangkan berat badan sifatnya aktif sehingga terjadi konstriksi pada leher. penggantungan yang tidak disengaja ini dapat dibagi dalam dua kelompok yaitu yang terjadi sewaktu bermain atau bekerja dan sewaktu melampiaskan nafsu seksual yang menyimpang (auto-erotic hanging)  Homicidial Hanging. Pembunuhan dengan cara penggantungan sulit untuk dilakukan oleh seorang pelaku.

mata menonjol karena bendungan. Lidah tidak terjulur apabila letaknya berada diatas kartilago tiroidea. Bintik-bintik perdarahan pada konjungtiva korban penggantungan terjadi akibat pecahnya vena dan meningkatnya permeabilitas pembuluh darah karena asfiksia.Gambar 2. menekan epiglotis sehingga menutup lubang larynk. sehingga yang terjepit hanya vena (vena jugularis) sehingga muka bengkak dan kebiruan. bisa juga tidak terjulur. Gambaran penggantungan Mekanisme pada penggantungan yaitu saluran udara tertutup karena pangkal lidah terdorong ke atas belakang. Lidah korban penggantungan bisa terjulur. 95 . Lidah terjulur apabila letak jeratan gantungan tepat berada pada kartilago tiroidea.4. kongesti vena. Pallatum molle dan uvula terdorong ke atas. kearah dinding posterior pharynk.1 Alat penggantung yang dapat digunakan pada kasus penggantungan yaitu:1  Alat penggantung dengan permukaan yang luas (misalnya sarung) dapat menyebabkan tekanan hanya pada permukaan saja.

 Cara menurunkan korban.  Mengukur jarak antara ujung kaki korban dengan lantai.  Memperhatikan letak korban di tempat kejadian. Alur jeratan yang simetris/ tipikal pada leher korban penggantungan menunjukkan letak simpul jeratan berada dibelakang leher korban.  Memperhatikan jenis simpul tali gantungan.  Tepi alur jerat coklat kemerahan.  Mengamankan bekas serabut tali. arteri juga terjepit sehingga wajah pucat . mata tidak menonjol.  Kulit sekitar alur jerat terdapat bendungan. Alat penggantung dengan permukaan yang kecil (misalnya tali jemuran) menyebabkan tekanan besar ke dalam. Alur jerat berupa luka lecet atau luka memar dengan ciri-ciri sebagai berikut:1  Alur jeratan pucat.  Mencari bukti yang menunjukkan cara kematian. 96 . Alur jeratan yang asimetris/ atipikal menunjukkan letak simpul di samping leher.2  Memastikan korban apakah masih hidup atau telah mati. selain vena. yaitu:1. Alur jeratan pada leher korban penggantungan (hanging) berbentuk lingkaran (V shape).  Memperhatikan bahan penggantung. Ada 8 hal yang perlu kita lakukan pada pemeriksaan tempat kejadian.

luka tekan dan luka memar.  Arah serabut tali penggantung.  Distribusi lebam mayat. misalnya bangku dan sebagainya.  Jenis luka Jenis luka korban penggantungan terdiri atas luka lecet. yaitu:1  Ada tidaknya alat penumpu korban. Luka yang berada di depan leher kita ukur dari dagu atau manubrium sterni korban. perabaan dan keadaan sekitar luka. 97 .  Lokasi simpul jeratan (belakang dan samping leher). Luka yang berada di belakang leher kita ukur dari daun telinga atau bahu korban. Penting juga kita mendeskripsikan mengenai warna.Ada 3 bukti yang bisa menunjukkan kepada kita tentang cara kematian korban. samping dan belakang leher. Deskripsi leher korban penggantungan yang penting kita berikan antara lain:1  Lokasi luka Lokasi luka pada leher korban penggantungan dapat berada di depan. lebar. Anggota gerak korban penggantungan dapat kita temukan adanya lebam mayat pada ujung bawah lengan dan tungkai. Luka yang berada di samping leher kita ukur dari garis batas rambut korban.  Jenis simpul jeratan (simpul hidup dan simpul mati).

1 Hubungan antara nervus laringeal superior dan nervus vagus dapat menimbulkan stimulasi yang intens pada awalnya. bertanggung jawab pada refleks dari nervus karotis. Lebam mayat dapat kita temukan pada genitalia eksterna korban. urin. Hal penting lainnya dari penyebab kematian mungkin dari stimulasi nervus vagus dan lebih khusus lagi. Alat kelamin korban dapat mengeluarkan mani. Pada kasus disritmia kardi. Fraktur pada tulang rusuk dan pada dasar tengkorak biasanya jarang terobservasi pada kasus kematian dengan menggantung diri 98 . Dubur korban penggantungan (hanging) dapat mengeluarkan feses.1 Penyebab kematian paling sering dari penggantungan adalah obstruksi aliran darah servikal. Tekanan pada nervus vagus telah digunakan untuk tujuan terapeutik pada akhir abad ini. refleks henti jantung atau takikardi bisa di stimulasi oleh tekanan jari atau pemijatan pada sinus karotid dari satu atau dua sisi secara umum.Penting juga kita ketahui ada tidaknya luka lecet pada anggota gerak tersebut.5 kg. Pengeluaran urin pada korban penggantungan disebabkan kontraksi otot polos pada stadium konvulsi atau puncak asfiksia. berat ini sendiri mengalokasi dari tekanan konstriksi itu sendiri. hasilnya henti jantung tetap terjadi. Berat kepala manusia itu sendiri sekitar 4. Hal ini juga bertahan khususnya pada kasuskasus trauma laringeal. kontraksi jantung mulai lagi tapi pada beberapa kasus yang komplit. hasilnya menyebabkan perlambatan yang fatal pada refleks jantung. kemudian menjadi stimulasi yang simultan pada akhirnya. dan darah (sisa haid).

temporalis. stagen. sedangkan pada gantungan kekuatan karena berat badan  Jejas penjeratan bersifat horisontal bersilangan di atas dan di bawah  Adanya tanda asfiksia 99 . kabel listrik dan lain-lain. scalp. Penjeratan (Strangulation by ligature) Jerat adalah suatu strangulasi berupa tekanan pada leher korban akibat suatu jeratan dan menjadi erat karena kekuatan lain bukan karena berat badan korban.2 Alat yang biasanya dipakai dapat berupa sapu tangan. tali. selendang.1 2.1. Tekanan dari depan akan menutup jalan nafas.1 Ciri-ciri dari suatu kasus penjeratan antara lain:1  Kekuatan jerat pada ujung tali jerat. konjungtiva. kemungkinan dapat terjadi pula vagal refleks. sedangkan dari samping akan menutup pembuluh darah di samping leher.1. biasanya hanya vena yang tertutup. kaos kaki. handuk. umumnya hanya kasus jatuh dari ketinggian tertentu sebagai penggantungan yudisial. ikat pinggang. dan fascia m. dasi.2 Mekanisme jeratan yaitu tertutupnya jalan nafas akibat larynk yang tertekan ke belakang ke arah dinding pharynk sehingga lumen tertutup oleh karena mendapat tekanan dari samping dan dari depan. Karena tekanan tidak sekeras penggantungan sehingga muka tidak sianotik. Tekanan pada vena jugularis dan tekanan tidak komplit pada arteri carotis menyebabkan perdarah kecil-kecil pada wajah.dan jikapun ada.

antara lain:1  Arah jerat mendatar/ horisontal. Kausa mati menyerupai gantung diri  Pemeriksaan lokal menyerupai gantung diri hanya bedanya pada penjeratan. 100 .  Bahan penjerat misalnya tali.1 Pemeriksaan tempat kejadian pada kasus jeratan kita lakukan secara rutin sebagaimana pada kasus yang lain. dasi.1 Bunuh diri pada kasus jeratan dilakukan dengan cara melilitkan tali secara berulang dimana satu ujung difiksasi dan ujung lainnya ditarik.1 Kecelakaan pada kasus jeratan dapat juga kita temukan pada bayi yang terjerat oleh tali pakaian. dan lain-lain.  Pada kasus pembunuhan biasanya kita tidak menemukan alat yang digunakan untuk menjerat. Kita hendaknya memperhatikan jeratan pada leher korban dan cara melepaskan jeratan dari leher korban. kaus kaki. psikopat yang saling menjerat. dan hukuman mati (zaman dahulu).  Jenis simpul penjerat. Ada 5 hal yang penting kita perhatikan pada kasus jeratan. serbet. Antara jeratan dan leher mereka masukkan tongkat lalu mereka memutar tongkat tersebut. Vagal reflex menjadi penyebab kematian pada orang yang bersenda gurau. orang yang bersenda gurau dan pemabuk. jejeas bersifat horizontal Pembunuhan pada kasus jeratan dapat kita jumpai pada kejadian infanticide dengan menggunakan tali pusat.  Lokasi jeratan lebih rendah daripada kasus penggantungan. serbet.

Pada pemeriksaan rekonstruksi sukar dilakukan karena tekanan pada leher sebentar dan juga karena elastisitas jaringan leher. 3. 101 .  Menggunakan 2 tangan dan pelaku berdiri di depan atau di belakang korban.  Lokasi jeratan lebih rendah.1 Mekanisme pencekikan yaitu tertutupnya jalan nafas dengan satu atau dua tangan menekan leher sehingga menekan sisi-sisi larynx dan menutup glotis.1 Ada 3 cara melakukan pencekikan. Bisa juga pangkal lidah terdorong ke belakang atas (seperti pada hanging) dan glotis tertutup. Pencekikan (Manual Strangulation/ Throttling) Pencekikan (manual strangulasi) adalah suatu strangulasi berupa tekanan pada leher korban yang dilakukan dengan menggunakan tangan atau lengan bawah. yaitu:1  Menggunakan 1 tangan dan pelaku berdiri di depan korban.Pemeriksaan autopsi pada kasus jeratan mirip kasus penggantungan kecuali pada:1  Distribusi lebam mayat yang berbeda. Bila tangan ditekan pada bagian depan larynx akan menutup lumen dengan menyempitkan diameter anteropostrior.  Alur jeratan mendatar/ horisontal.

yaitu:1  Bekas kuku. Tanda kekerasan pada tempat lain dapat kita temukan di bibir.2 102 .  Bantalan jari. Ada 2 tanda kekerasan pada leher yang penting kita cari. yaitu luka lecet yang berbentuk semilunar/ bulan sabit. lidah. hidung. Perhatikan pula tangan yang digunakan pelaku. apakah tangan kanan (right handed) ataukah tangan kiri (left handed). Menggunakan 1 lengan dan pelaku berdiri di depan atau di belakang korban.1. Tanda ini dapat menjadi petunjuk bagi kita bahwa korban melakukan perlawanan. Kadang-kadang kita dapat menemukan sidik jari pelaku. Ada 3 hal yang penting kita perhatikan pada pemeriksaan luar dari autopsi kasus pencekikan.  Tanda kekerasan pada leher (penting). Apabila pelaku berdiri di belakang korban dan menarik korban ke arah pelaku maka ini disebut mugging. dan lain-lain. antara lain:1  Tanda asfiksia. Arah pencekikan dan jumlah bekas kuku (susunan bekas kuku) juga tak luput dari perhatian kita.  Tanda kekerasan pada tempat lain. Bekas kuku dapat kita kenali dari adanya crescent mark.

103 . Fraktur lain pada kartilago tiroidea.  Luksasi artikulasio krikotiroidea dan robekan ligamentum pada mugging. kartilago krikoidea.  Memar atau robekan membran hipotiroidea.  Fraktur.5. dan trakea.Gambar 2. Bekas kuku pada kasus pencekikan Ada 4 hal yang penting kita cari pada pemeriksaan dalam autopsi bagian leher korban pada kasus pencekikan. kelenjar ludah. yaitu:1  Perdarahan atau resapan darah. dan mukosa & submukosa pharing atau laring. Perdarahan atau resapan darah dapat kita cari pada otot. kelenjar tiroid. Fraktur yang paling sering kita temukan pada os hyoid.

rongga perut. 104 . atau antara dinding dengan kendaraan yang mundur. Ada 2 hal yang penting kita lakukan pada pemeriksaan autopsi korban kasus asfiksia traumatik.  Menemukan tanda asfiksia. atau batubara.4.  5.  Berdesakan di pintu sempit akibat panik. yaitu:1  Mencari tanda kekerasan di dada. dan gagging. pasir. yaitu:1  penekanan rongga dada. Suffocation Obstruksi jalan nafas sehingga menghalangi masuknya udara kedalam paru-paru yang mengakibatkan terjadinya asfiksia. Terbagi atas pembekapan (smothering). antara 2 kendaraan. Asfiksia Traumatik Asfiksia traumatik (external pressure of the chest) adalah terhalangnya udara untuk masuk dan keluar dari paru-paru akibat terhentinya gerak napas yang disebabkan adanya suatu tekanan dari luar pada dada korban.  Tertimbun runtuhan benda atau bangunan. chocking. diafragma  penekanan dari luar  misalnya desak-desakan  O2 kurang  asfiksia Ada 3 macam kecelakaan yang dapat menimbulkan kematian pada korban kasus asfiksia traumatik. yaitu:1  Terjepit antara lantai dengan elevator.

o Serbet atau dasi dimasukkan ke dalam mulut. o Bantal yang diikatkan ke kepala. Pembekapan (smothering) Pembekapan adalah suatu suffocation dimana lubang luar jalan napas yaitu hidung dan mulut tertutup secara mekanis oleh benda padat atau partikelpartikel kecil.1.2 Ada 3 cara kematian pada kasus pembekapan. yaitu:1 o Kecelakaan (paling sering) o Pembunuhan o Bunuh diri Ada 3 cara kecelakaan pada kematian kasus pembekapan. Ada 3 cara pembunuhan pada kasus pembekapan. yaitu: 1 o Hidung dan mulut diplester. Ada 3 cara bunuh diri pada kasus pembekapan. o Menggunakan dasi atau serbet. o Bayi tertutup selimut atau payudara ibu. yaitu: 1 o Menggunakan plester atau kantong plastik. o Bantal ditekan ke wajah. yaitu:1 o Tertimbun tanah longsor atau salju. yaitu: 1 105 . o Alkoholisme. Ada 3 hal yang penting kita lakukan pada pemeriksaan autopsi kasus pembekapan.

atau pasir dalam rongga mulut. yaitu: 1 o Jika kita menemukan bantal.1  Tersedak (chocking) Tersedak adalah suatu suffocation dimana ada benda padat yang masuk dan menyumbat lumen jalan udara. o Cari ada tidaknya trauma tumpul di sekitar hidung dan mulut. o Mencari ada tidaknya kain. o Menemukan tanda-tanda asfiksia. handuk. cari apakah ada tanda-tanda kekerasan.o Mencari penyebab kematian. yang memiliki ciri yaitu:1 o Oleh karena benda asing o tanda asfiksia jelas o awalnya batuk keras  asfiksia  mati 106 . Satu tangan pelaku menutup hidung atau mulut korban (smothering) sedangkan tangan yang lain menekan rahang ke atas. Burking merupakan kombinasi antara pembekapan (smothering) dengan external pressure on the chest/ traumatic asphyxia. Ada 3 hal penting yang kita cari untuk menemukan penyebab kematian pada kasus pembekapan. Pelaku melakukan burking dengan cara terlebih dahulu melumpuhkan korban lalu menelentangkan korban dan pelaku duduk di atas dada korban (traumatic asphyxia). o Menemukan edema paru. dasi. serbet. hiperaerasi dan sianosis pada kematian yang lambat.

Gambar 2. dan kain kasa yang tertinggal pada anestesi eter. o Pada bayi atau anak kecil yang gemar memasukkan benda asing ke dalam mulutnya. Gambaran tersedak (chocking) 107 .6. o Tonsilektomi. yaitu: 1 o Gangguan refleks batuk pada alkoholisme. aspirasi. yaitu: 1 o Kecelakaan (paling sering) o Pembunuhan (kasus infanticide) Ada 3 macam kecelakaan yang dapat menimbulkan kematian pada kasus tersedak.Ada 2 cara kematian pada kasus tersedak.

 Gagging Pada perampokan ada kalanya korban setelah diikat agar tidak mudah berteriak mulut disumbat dengan kain yang diikat dari mulut ke belakang kepala (gagging).5 108 .1.1 6. o Mencari tanda-tanda edema paru. yaitu:1 o Mencari bahan penyebab dalam saluran pernapasan. Beberapa kematian karena tenggelam kadang tidak hanya disebabkan oleh asfiksia tetapi juga karena hipotermia. o Tersedak dapat terjadi sebagai komplikasi dari bronkopneumonia dan abses. Dalam hal ini palatum molle tertekan pada pharynk. Tenggelam (Drowning) Tenggelam adalah suatu suffocation dimana jalan napas terhalang oleh air/ cairan sehingga terhisap masuk ke jalan napas sampai alveoli paru-paru. Paparan terhadap suhu air yang mendekati 0oC (32oF) akan menghasilkan kematian dalam beberapa menit. hiperaerasi dan atelektasis pada kematian lambat. Paparan seseorang terhadap suhu air dibawah 20oC (68oF) akan menghasilkan kematian dari hipotermia setelah terpapar beberapa jam. Tenggelam merupakan kematian karena asfiksia akibat masuknya air atau cairan lainnya. Juga kadangkadang ada tanda kekerasan di mulut korban. o Menemukan tanda asfiksia.Ada 4 hal yang penting kita lakukan pada pemeriksaan autopsi kasus tersedak.

akan memberi warna pada pemeriksaan mayat dan pemeriksaan laboratorium. mati tenggelam dengan inhalasi sedikit air.  Immerse drowning. Ada 2 jenis mati tenggelam berdasarkan penyebabnya. Sebagian. dan spasme larynx. mati tenggelam dengan inhalasi banyak air. menghasilkan gangguan pernapasan dan selanjutnya hipoksia serebri. mekanisme kematian yang dapat juga terjadi pada tenggelam adalah karena inhibisi vagal. seperti bagian kepala mayat. mati tenggelam dengan posisi seluruh tubuh mayat masuk ke dalam air. Kebanyakan kematian individual terjadi akibat dari terhirupnya cairan (wet drowning). Adanya mekanisme kematian yang berbeda-beda pada tenggelam. tidak menghirup 109 . diperkirakan sekitar 15-20%.2 Terendam dalam medium cair mengakibatkan kematian dengan berbagai mekanisme. yaitu spasme laring (menimbulkan asfiksia) dan vagal reflex/ cardiac arrest/ kolaps sirkulasi.  Wet drowning. Mekanisme kematian pada tenggelam pada umumnya adalah asfiksia. dengan kata lain kelainan yang didapatkan pada kasus tenggelam tergantung dari mekanisme kematiannya.Ada 2 jenis mati tenggelam berdasarkan posisi mayat. yaitu:1  Submerse drowning. yaitu asfiksia.1. Ada 3 penyebab kematian pada kasus wet drowning.2  Dry drowning. mati tenggelam dengan posisi sebagian tubuh mayat masuk ke dalam air. fibrilasi ventrikel pada kasus tenggelam dalam air tawar dan edema paru pada kasus tenggelam dalam air asin (laut). Ada 2 penyebab kematian pada kasus dry drowning. yaitu:1.

provokasi serupa dapat merangsang jalur saraf sensoris simpatis ke derajat tertentu dimana terdapat inhibisi reflex vagal pada jantung dan asystolic cardiac arrest. kematian dapat tertunda setelah episode near drowning. Salah satu usulan adalah bahwa masuknya air secara tiba-tiba kedalam mulut dan tenggorok menghasilkan laringospasme yang hebat dengan akibat asfiksia. Air menyerap panas sekitar 25 kali lebih cepat daripada udara.2 Seorang perenang yang mahir sekalipun dapat menjadi lemah secara bertahap sebagai hasil dari hipotermia dan tenggelam. Fase-fase ini memiliki 110 . kematian terjadi akibat hipotermia. Tubuh yang terendam menghangatkan cairan yang bersentuhan dengannya. khususnya dimana keadaan terapung dipertahankan secara buatan. Kemungkinan lain.1.1. Kemungkinan lain. Pada beberapa kasus. Kematian biasanya terjadi akibat ensefalopati hipoksia atau perubahan-perubahan sekunder dalam paru-paru. Terdapat tiga fase klinis dari hipotermia yang dimulai dengan fase eksitatorik dimana menggigil berhubungan dengan kebingungan mental.cairan (dry drowning). dan dengan segera yang berdekatan dengan permukaan tubuh.2 Sekitar 15-20% kematian akibat tenggelam merupakan dry drowning dimana tidak terdapat inhalasi cairan yang banyak. Cara kematian lain menyebutkan dimana terdapat suatu sistem yang menghubungkan spasme arteri koronaria dengan pendinginan tiba-tiba pada kulit. fase adinamik dimana terdapat kekakuan otot dan sedikit penurunan kesadaran. dan fase paralitik yang dicirikan oleh keadaan tidak sadar yang menuntun kepada aritmia jantung dan kematian.

sebagian besar karena fase paralitik dapat menirukan keadaan mati. tubuh korban dapat beberapa kali berubah posisi. korban akan terus bernafas dan akhirnya paru tidak dapat berfungsi sehingga pernafasan berhenti. yaitu:1. Pada korban ditemukan tanda-tanda asfiksia tetapi tanda-tanda tenggelam pada organ dalam tidak ada karena air tidak masuk. Selama tidak sadar. air masuk ke laring menyebabkan laringeal spasme.2  Pada waktu pertama kali orang ‖terjun‖ ke air oleh karena gravitasi ia akan terbenam untuk pertama kalinya. Pada orang tenggelam. kadang-kadang 10 menit. Karena kebutuhan oksigen maka ia akan lebih banyak menghirup air.1 Mekanisme tenggelam ada 3 macam. umumnya korban akan tiga kali tenggelam.  Korban saat masuk ke dalam air ia akan berusaha untuk mencapai permukaan sehingga menjadi panik dan terhirup air.  Korban saat menghirup air.5  Beberapa korban sesaat bersentuhan dengan air yang dingin terutama leher atau jatuh secara horizontal ia mengalami vagal refleks.hubungan penting terhadap resusitasi pada korban near drowning. Lama-lama korban akan sianotik dan tidak sadar. 111 . ini dapat dijelaskan sebagai berikut:1. batuk dan berusaha untuk ekspirasi. Proses ini berlangsung 3-5 menit. Mekanisme kematian karena asfiksia.

sehingga berat jenis badan sekarang menjadi lebih besar dari berat jenis air. tubuh korban terbenam untuk ketiga kalinya dan yang terakhir Penyebab mati tenggelam yang termasuk undeterminated yaitu sulit kita ketahui cara kematian korban karena mayatnya sudah membusuk dalam air. dengan demikian gas pembusukan akan keluar. korban akan timbul. laut atau danau.  Pada waktu tubuh mengapung oleh karena terbentuknya gas pembusukan. proses pembusukan akan berlangsung dan terbentuk gas pembusukan.  Waktu yang dibutuhkan agar pembentukan gas pembusukan dapat mengapungkan tubuh korban adalah sekitar 7-14 hari. yaitu:1 112 . dengan demikian ia akan tenggelam untuk kedua kalinya. Oleh karena berat jenis tubuh lebih kecil dari berat jenis air.  Sewaktu berada pada dasar sungai. akan tetapi oleh karena tidak bisa berenang. dan berusaha untuk bernafas mengambil udara. Ada 2 tanda penting yang perlu kita ketahui dari kejadian pembunuhan pada kasus mati tenggelam.  Kadang-kadang dapat kita temukan tanda-tanda kekerasan sebelum korban ditenggelamkan. yaitu:1  Biasanya tangan korban diikat yang tidak mungkin dilakukan oleh korban. air akan masuk tertelan dan terinhalasi. digigit binatang atau oleh karena pembusukan itu sendiri. tubuh dapat pecah terkena benda-benda disekitarnya. Ada 4 tanda penting yang perlu kita ketahui dari kejadian bunuh diri pada kasus mati tenggelam.

 Kita dapat temukan suicide note. 113 .  Kedua tangan/ kaki korban diikat yang mungkin dilakukan sendiri oleh korban.  Kadang-kadang tubuh korban diikatkan bahan pemberat. Biasanya korban meninggalkan perlengkapannya.

055 2. hipokalemia 5. BJ 1. 40 ml. hipoklorida Ada 7 tanda intravitalitas mati tenggelam. hiponatremia 6.0595 -1. Hipertonik Mati dalam 5 menit. yaitu:1  Cadaveric spasme. hemokonsentrasi dan edema 3. 114 . 20 ml/kgBB Darah: 1.  Perdarahan pada liang telinga tengah mayat.Tabel 2. BJ 1. hipotonik 3. hiperkalemia 5.kgBB Darah: 1. hipernatremia 6.1 Perbedaan tenggelam pada air tawar dengan air asin Perbedaan Tempat Air laut Paru paru besar dan berat Basah Bentuk besar kadang overlapping Ungu biru dan permukaan licin Krepitasi tidak ada Busa sedikit dan banyak cairan Air Tawar Paru-paru besar dan ringan Relatif ringan Bentuk biasa Merah pucat dan emfisematous Krepitasi ada Busa banyak Dikeluarkan dari torak akan mendatad Dikeluarkan dari toraks tapi kempes dan ditekan akan menjadi cekung Mati dalam 5-10 menit. hiperklorida Resusitasi lebih mudah Tranfusi dengan plasma Resusitasi aktif Tranfusi dengan PRC 4. hemodilusi/hemolisis paru 4.0600 2.

lutut. dapat kita temukan tanda-tanda adanya kekerasan berupa luka lecet pada belakang kepala. tumbuhan. yaitu:1. jari-jari tangan.  Berat jenis darah pada jantung kanan berbeda dengan jantung kiri.  Penentuan berat jenis (BD) plasma.  Ada diatome pada paru-paru atau sumsum tulang mayat.1 Cara melakukan percobaan getah paru yaitu permukaan paru-paru dikerok (2-3 kali) dengan menggunakan pisau bersih lalu dicuci dan iris permukaan paru-paru.1 Kegunaan melakukan percobaan paru yaitu mencari benda asing (pasir. mungkin ada Tardieu's spot di pleura mayat. Syarat sediaan harus sedikit 115 . Benda air (rumput. siku.  Ada bercak Paltauf di permukaan paru-paru mayat.2  Percobaan getah paru (lonset proef). atau ujung kaki mayat. Adanya cadaveric spasme dan tes getah paru (lonset proef) positif menunjukkan bahwa korban masih hidup saat berada dalam air. lumpur. Syarat melakukannya adalah paru-paru mayat harus segar/ belum membusuk.  Pemeriksaan kimia darah (gettler test). dan sebagainya) dapat kita temukan dalam saluran pencernaan dan saluran pernapasan mayat.1 Ada 4 macam pemeriksaan khusus pada kasus mati tenggelam. Pada kasus mati tenggelam (drowning). lumpur. telur cacing) dalam getah paru-paru mayat.  Pemeriksaan diatome (destruction test).  Tanda asfiksia tidak jelas. Kemudian teteskan diatas objek gelas.

persegi dan lebih besar dari eritrosit.mengandung eritrosit. Jika hasilnya positif dan ada sebab kematian lain maka ada 2 kemungkinan penyebab kematian korban. Evaluasi sediaan yaitu pasir berbentuk kristal. Syaratnya paru-paru harus masih dalam keadaan 116 .  Hasilnya positif dan ada sebab kematian lain. tanaman air dan telur cacing. Diatome merupakan ganggang bersel satu dengan dinding dari silikat. Jika hasilnya negatif maka ada 3 kemungkinan penyebab kematian korban.  Korban mati karena vagal reflex / spasme larynx. Lumpur amorph lebih besar daripada pasir. Jika hasilnya negatif dan tidak ada sebab kematian lain maka dapat kita simpulkan bahwa tidak ada hal hal yang menyangkal bahwa korban mati karena tenggelam. yaitu:1  Korban mati dahulu sebelum tenggelam.1 Kegunaan melakukan pemeriksaan diatome adalah mencari ada tidaknya diatome dalam paru-paru mayat. yaitu korban mati karena tenggelam atau korban mati karena sebab lain.  Korban tenggelam dalam air jernih. Ada 3 kemungkinan dari hasil percobaan getah paru. yaitu:1  Hasilnya positif dan tidak ada sebab kematian lain.  Hasilnya negatif. Jika hasilnya negatif dan ada sebab kematian lain maka kemungkinan korban telah mati sebelum korban dimasukkan ke dalam air. Jika hasilnya positif dan tidak ada sebab kematian lain maka dapat kita interpretasikan bahwa korban mati karena tenggelam.

segar, yang diperiksa bagian kanan perifer paru-paru, dan jenis diatome harus sama dengan diatome di perairan tersebut.1,2 Cara melakukan pemeriksaan diatome yaitu ambil jaringan paru-paru bagian perifer (100 gr) lalu masukkan ke dalam gelas ukur dan tambahkan H2SO4. Biarkan selama 12 jam kemudian panaskan sampai hancur membubur & berwarna hitam. Teteskan HNO3 sampai warna putih lalu sentrifus hingga terdapat endapan hitam. Endapan kemudian diambil menggunakan pipet lalu teteskan diatas objek gelas. Interpretasi pemeriksaan diatome yaitu bentuk atau besarnya bervariasi dengan dinding sel bersel 2 dan ada struktur bergaris di tengah sel.1 Positif palsu pada pencari pasir dan pada orang dengan batuk kronis. Untuk hepar atau lien, tidak akurat karena dapat positif palsu akibat hematogen dari penyerapan abnnormal gastrointestinal.1 Penentuan Berat Jenis (BD) Plasma Penentuan berat jenis (BD) plasma bertujuan untuk mengetahui adanya hemodilusi pada air tawar atau adanya hemokonsentrasi pada air laut dengan menggunakan CuSO4. Normal 1,059 (1,0595-1,0600); air tawar 1,055; air laut 1,065. Interpretasinya ditemukan darah pada larutan CuSO4 yang telah diketahui berat jenisnya.1 Pemeriksaan kimia darah (gettler test) bertujuan untuk memeriksa kadar NaCl dan Kalium. Interpretasinya adalah korban yang mati tenggelam dalam air tawar, mengandung Cl lebih rendah pada jantung kiri daripada jantung kanan. Kadar Na menurun dan kadar K meningkat dalam plasma. Korban

117

yang mati tenggelam dalam air laut, mengandung Cl lebih tinggi pada jantung kiri daripada jantung kanan. Kadar Na meningkat dan kadar K sedikit meningkat dalam plasma.1 Pada pemeriksaan histopatologi dapat kita temukan adanya bintik perdarahan di sekitar bronkioli yang disebut Partoff spot.1

7. Inhalation of Suffocating Gasses Inhalation of suffocating gasses adalah suatu keadaan dimana korban menghisap gas tertentu dalam jumlah berlebihan sehingga kebutuhan O2 tidak terpenuhi. Ciri-cirinya yaitu:1  kekurangan O2 di suatu tempat/ daerah sekitarnya (daerah tambang)  tanda asfiksia  tanda intoksikasi CO2  tanda trauma seperti kejatuhan batu Ada 3 cara kematian pada korban kasus inhalation of suffocating gasses, yaitu menghisap gas CO, CO2, H2S. Gas CO banyak pada kebakaran hebat. Gas CO2 banyak pada sumur tua dan gudang bawah tanah. Gas H2S pada tempat penyamakan kulit.1

118

BAB III PENUTUP Asfiksia adalah kumpulan dari berbagai keadaan dimana terjadi gangguan dalam pertukaran udara pernafasan yang normal. Asfiksia merupakan istilah yang sering digunakan untuk menyatakan berhentinya respirasi yang efektif (cessation of effective respiration) atau ketiadaan kembang kempis (absence of pulsation). Asfiksia merupakan mekanisme kematian terbanyak yang ditemukan dalam kasus kedokteran forensik. Asfiksia yang diakibatkan oleh karena adanya obstruksi pada saluran pernafasan disebut asfiksia mekanik. Asfiksia jenis inilah yang paling sering dijumpai dalam kasus tindak pidana yang menyangkut tubuh dan nyawa manusia. Jenis asfiksia mekanik antara lain yaitu: a. Penutupan lubang saluran pernafasan bagian atas:  Pembekapan (smothering)  Penyumbatan (gagging dan choking) b. Penekanan dinding saluran pernafasan:  Penjeratan (strangulation)  Pencekikan (manual strangulation)  Gantung (hanging) c. External pressure of the chest yaitu penekanan dinding dada dari luar. d. Drawning (tenggelam) yaitu saluran napas terisi air. e. Inhalation of suffocating gases.

119

DAFTAR PUSTAKA

1. Hasymi MA, Ayunazhari I, Dina NF, Sari DO, Suminarti. Pocket Book of Medical Forensic: Mind’s Forensic First Edition. Banjarmasin: Laboratorium Forensik RSUD Ulin Banjarmasin, 2012. 2. Idries AM. Pedoman Ilmu Kedokteran Forensik. Jakarta Barat: Binarupa Aksara, 1997. 3. Dahlan S. Ilmu Kedokteran Forensik Pedoman bagi Dokter dan Penegak Hukum. Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro, 2008. 4. Apuranto H, Hoediyanto. Buku Ajar Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal Edisi Ketiga. Surabaya: Bagian Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal FK Universitas Airlangga, 2007. 5. James SH, Nordby JJ. Forensic Science: An Introduction to Scientific and Investigative Techniques Second Edition. United States: CRC Press, 2005.

120

TANATOLOGI

121

BAB I PENDAHULUAN

1. Latar Belakang Tanatologi adalah ilmu yang mempelajari segala macam aspek yang berkaitan dengan mati; meliputi pengertian (definisi), cara-cara melakukan diagnosis, perubahan-perubahan yang terjadi sesudah mati serta kegunaannya.1 Dalam ilmu tanatologi akan dipelajari mengenai penentuan kematian, perubahan-perubahan sesudah mati, saat kematian, dan kegunaan tanatologi. Penentuan kematian dilakukan berdasarkan konsep mati otak dan mati batang otak, yang ditandai dengan tidak berespon terhadap semua rangsangan, tidak sadarnya pasien, hilangnya reflex pupil, hilangnya reflex kornea, tidak ada reflex menelan, tidak ada reflex vestibulokoklearis dan tidak adanya pernafasan spontan.1 Ada beberapa perubahan yang terjadi pada saat manusia mengalami kematian, yaitu perubahan pada kulit muka, relaksasi otot, perubahan pada mata, penurunan suhu tubuh, lebam jenazah, dan kaku jenazah. Perubahan yang terjadi pada muka yaitu berubahnya warna wajah menjadi lebih pucat, akan tetapi pada jenazah yang mengalami kematian karena keracunan gas CO (karbon monooksida), perubahan warna kulit muka menjadi pucat terjadi lebih lambat. Pada saat mati sampai beberapa saat sesudahnya, otot-otot polos akan mengalami relaksasi sebagai akibat dari hilangnya tonus. Pada orang yang sudah mati pandangan matanya terlihat kosong, reflek cahaya dan reflek kornea menjadi

122

begitu pula yang dapat kita liat pada kuku.2. Sesudah mati.1 Untuk menentukan saat kematian dapat dilihat dari perubahan pada mata. dan adanya reaksi supravital. rambut. saat kematian. Vena-vena pada retina akan mengalami kerusakan dalam waktu 10 detik sesudah mati. dan pancaran panas. Oleh sebab itu dibuatlah makalah tentang tanatologi. metabolisme yang menghasilkan panas akan terhenti sehingga suhu tubuh akan turun menuju suhu udara atau medium sekitarnya. dan diagnosis kematian.negative.1. Pada cairan serebrospinal saat kematian dapat dilihat dari kadar nitrogen yang menurun setelah 10 jam kematian. cairan serebrospinal. sedangkan reaksi supravital yaitu reaksi jaringan tubuh sesaat pasca mati klinis yang masih sama seperti reaksi jaringan tubuh pada seseorang yang hidup. pada lambung kita bisa melihat waktu pengosongan lambung meski tidak memberikan banyak arti. pada rambut kita dapat mengukur saat kematian dilihat dari pertambahan panjang rambut. 123 . sebab kematian. konduksi. kuku. Pada mata kita dapat melihat perubahan warna menjadi lebih keruh. Penurunan ini disebabkan oleh adanya proses radiasi. Tujuan Kegunaan ilmu tanatologi yaitu untuk menentukan cara kematian. lambung. Jika sesudah kematiannya keadaan mata tetap terbuka maka lapisan kornea yang paling luar akan mengalami kekeringan.3 2.

definisi kematian. 124 .3. perubahan yang terjadi setelah kematian dan faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan tersebut dan menerapkan tanatologi pada pemecahan kasus. Manfaat Manfaat dari tinjauan kepustakaan ini yaitu untuk memberikan informasi mengenai thanatologi.

jantung.BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. perubahan-perubahan yang terjadi sesudah mati serta kegunaannya. Definisi Tanatologi berasal dari dua buah kata. yaitu sebagai individu dan sebagai kumpulan dari berbagai macam sel. yaitu ―thanatos‖ yang berarti mati dan ―logos‖ yang berarti ilmu. Dengan definisi hidup seperti itu maka definisi mati dapat diperjelas lagi menjadi berhentinya secara permanen fungsi berbagai organ-organ vital (paru- 125 . meliputi pengertian (definisi).4 Mati individu itu sendiri sebetulnya dapat didefinisikan secara sederhana sebagai berhentinya kehidupan secara permanen (permanent cessation of life). dengan catatan bahwa kematian sel (cellular death) akibat ketiadaan oksigen baru akan terjadi setelah kematian manusia sebagai individu (somatic death).1. Oleh sebab itu kematian manusia juga dapat dilihat dari kedua dimensi tadi. cara-cara melakukan diagnosis. untuk dapat memahami definisi tersebut perlu dipahami lebih dahulu tentang hidup. yang ditandai oleh adanya konsumsi oksigen. dan otak) sebagai satu kesatuan yang utuh. Hanya saja. Jadi arti sesungguhnya dari tanatologi adalah ilmu yang mempelajari segala macam aspek yang berkaitan dengan mati.3.1.2 Sebelum membahas definisi mati perlu dipahami lebih dahulu bahwa manusia menurut ilmu kedokteran memiliki dua dimensi. Mengenai hal ini nampaknya para ahli sependapat jika hidup didefinisikan sebagai berfungsinya berbagai organ vital (paru-paru.

Dimulai dari sel-sel yang paling rendah daya tahannya terhadap ketiadaan oksigen. Oleh orang awam. Namun harus diyakini bahwa tidak ada seorangpun di dunia ini yang dapat hidup kembali sesudah mati. sengatan listrik.1.3 Dengan pertolongan yang cepat dan tepat atau kadang-kadang secara spontan kondisinya dapat pulih kembali seperti sebelumnya.3 Selain kematian individu dan kematian sel. anestesi yang terlalu dalam. yang ditandai oleh berhentinya konsumsi oksigen. Dengan perlatan yang sederhana maka tanda-tanda kehidupan tidak dapat dideteksi. dan otak) sebagai satu kesatuan yang utuh. kedinginan. tenggelam. kembalinya ke kondisi normal secara spontan ini sering disalahartikan sebagai hidup kembali. sehingga tanda-tanda klinisnya tampak seperti sudah mati. atau sambaran petir. jantung.1.1. walaupun sebenarnya yang bersangkutan masih dalam keadaan hidup.paru. Keadaan ini sering ditemukan pada orang yang mengalami acute heart failure. Penentuan Kematian Untuk dapat menentukan kematian seseorang sebagai individu (somatic death).3 Akibat berhentinya konsumsi oksigen ke seluruh jaringan tubuh maka satu demi satu sel yang merupakan elemen hidup terkecil pembentuk manusia akan mengalami kematian pula. Pengertian yang sebenarnya dari mati suri adalah suatu keadaan dimana proses vital turun ke tingkat yang paling minimal untuk mempertahankan kehidupan. ada satu lagi istilah yang perlu dipahami yaitu mati suri (appearent death).1.2.2 B. diperlukan kriteria diagnostik yang benar berdasarkan konsep diagnostik 126 .2.

mendengar. terutama pernafasan.yang dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah. Brain stem merupakan bagian dari otak yang mengatur fungsi vital.4 Perbaikan ini berangkat dari pemikiran bahwa:1 1. Karena itulah disusun Kriteria diagnostik baru yang berdasarkan pada konsep ―brain death is death‖. mengingat fungsi tertentu otak (melihat. Namun dengan ditemukannya respirator (alat napas buatan) yang dapat mempertahankan fungsi paru-paru dan jantung maka criteria tradisional tidak dapat dilakukan terhadap pasien-pasien yang menggunakan alat itu. Kriteria diagnostik yang benar berdasarkan konsep diagnostik yang dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah. fungsi serebeler dann beberapa fungsi kortek) hanya dapat diperiksa dalam keadaan komposmentis. tetapi bertahap mengingat resistensi yang berbeda-beda dari berbagai bagian otak terhadap ketiadaan oksigen. 2. Dalam hal ini brain stem (batang otak) merupakan bagian yang paling tahan dibandingan kortek dan thalamus.3.1. Kriteria diagnostik pertama yang disusun oleh para ahli di bidang kedokteran adalah yang dirumuskan berdasarkan konsep ―permanent cessation of heart and respiration death‖. mencium. Mustahil dapat mendiagnosis brain death dengan memeriksa seluruh fungsi otak dalam keadaan koma. 3. 127 . Proses brain death tidak terjadi secara serentak. Terakhir konsep diagnostik ini diperbaiki lagi menjadi ―brain stem death is death‖.

Tidak ada respon motorik dari saraf cranial terhadap rangsangan. Tidak ada reflex menelan atau batuk ketika tuba endotrakeal didorong kedalam.3 128 . taktil. Hilangnya semua respon terhadap sekitarnya (respon terhadap komando/perintah. Tidak ada gerakan otot serta postur.1. tidak kurang dari 30 buah set kriteria diagnostik telah disusun. 8.Berdasarkan konsep tersebut. 3. 2. dan sebagainya). Sedangkan tes konfirmasi dengan EEG atau angiografi hanya dilakukan kalau tes klinik memberikan hasil yang meragukan atau jika ada kekhawatiran akan adanya tuntutan dikemudian hari. Tidak ada reflex vestibulookularis terhadap rangsangan air es yang dimasukkan ke dalam lubang telinga. dengan catatan pasien tidak sedang berada dibawah pengaruh obat-obatan curare. namun kriteria yang paling banyak digunakan para dokter adalah kriteria diagnostik seperti dibawah ini. yaitu:1 1. Tidak ada reflex kornea 5. 7. Tes klinik tersebut diatas baru boleh dilakukan paling cepat 6 jam setelah onset koma serta apneu dan harus diulangi lagi paling cepat sesudah 2 jam dari tes yang pertama. Tidak ada nafas spontan ketika respirator dilepas untuk waktu yang cukup lama walaupun pCO2 sudah melampaui nilai ambang rangsangan nafas (50 torr). 6. Tidak ada reflex pupil 4.

1.5 Untuk menentukan apakah paru-paru sudah berhenti bernafas perlu dilakukan pemeriksaan:1. Jika waktu tersebut telah terlewati. Kebiasaan yang berlaku di Indonesia adalah mengamati selama 2 jam.3 Kriteria tradisional itu sendiri sebetulnya didasarkan pada konsep ―permanent cessation of heart beating and respiration death.1. Auskultasi 129 . hipotermi. Dikatakan berhenti secara permanen (permanent cessation) jika fungsi jantung dan paru-paru terhenti sekitar 10menit.3 Secara terotiris.1. sedang kriteria baru hanya berlaku bagi kasus-kasus luar biasa (misalnya keracunan.3. Hal ini didasarkan pada pertimbangan bahwa sel-sel otak akan mengalami kerusakan irreversible jika tidak mendapatkan suplai oksigen selama 10 menit. sengatan listrik. atau pasien-pasien yang dipersiapkan menjadi donor cadaver). gangguan metabolism.Dengan adanya kriteria baru itu tidak berarti kriteria tradisional diagnostik tidak berlaku lagi.3 1. Kriteria tradisional tetap diperlukan bagi penentuan kematian pada kasus-kasus biasa. Di daerah yang suhunya dingin ketahanannya dapat mencapai 1 jam atau lebih. namun dalam prakteknya sering kali terjadi kesalahan diagnosis sehingga diperlukan konfirmasi dengan cara mengamati selama waktu tertentu. diagnosis kematian sudah dapat ditegakkan jika jantung dan paru-paru sudah berhenti selama 10 menit. sedang tanda-tanda kehidupan tidak juga muncul barulah yang bersangkutan dapat dinyatakan mati berdasarkan kriteria diagnostik tradisional.

Tes magnus Yaitu dengan mengikat jari tangan sedemikian rupa sehingga hanya aliran darah vena saja yang terhenti. Bila basah berarti masih bernafas 4. 3. Tes cermin Yaitu dengan meletakkan kaca cermin di depan mulut dan hidung. 3.3 1. Tes bulu burung Yaitu dengan meletakkan bulu burung di depan hidung. Untuk menentukan jantung masih berfungsi perlu dilakukan pemeriksaan sebagai berikut:1. Bila permukaan air bergoyang berarti masih ada gerakan nafas. Kalau perlu dilakukan juga auskultasi pada daerah laring. Bila bergetar berarti masih bernafas.Tes ini perlu dilakukan secara hati-hari dan lama. Tes icard Yaitu dengan cara menyuntikkan larutan dari campuran 1 gram zat fluorescein dan 1 gram natrium bicarbonas didalam 8 ml air secara 130 . 2. Bila bendungan berwarna sianotik berarti masih ada sirkulasi. Tes winslow Yaitu dengan meletakkan gelas berisi air di atas perut atau dadanya. Auskultasi Auskultasi dilakukan di daerah prekordial selama 10 menit terus menerus 2.

dada kolap dan bila tidak ada yang menyangga anggota tubuh akan jatuh kebawah. Icisi arteria radialis Bila terpaksa dapat dilakukan pengirisan pada arteria radialis. Relaksasi pada stadium itu disebut relaksasi primer. Relaksasi otot Pada saat mati sampai beberapa saat sesudahnya. Bila keluar darah secara pulsasif berarti masih ada sirkulasi darah. otot-otot polos akan mengalami relaksasi sebagai akibat dari hilangnya tonus. C. antara lain:1. 4. Perubahan-Perubahan Sesudah Mati Jika seseorang meninggal dunia maka pada tubuhnya akan mengalami berbagai perubahan. Perubahan kulit muka Akibat berhentinya sirkulasi darah maka darah yang berada pada kapiler dan venula dibawah kulit muka akan mengalir ke bagian yang lebih rendah sehingga warna raut muka Nampak menjadi lebih pucat. Pada mayat dari orang yang mati akibat kekurangan oksigen atau keracunan zat-zat tertentu (misalnya karbon monoksida). warna semula dari raut muka akan bertahan lama dan tidak cepat menjadi pucat. sedang relaksasi otot polos akan 131 .3 1. Relaksasi yang terjadi pada otot-otot muka akan mengesankan lebih muda dari umur yang sebenarnya. Bila terjadi perubahan warna kuning kehijauan berarti masih ada sirkulasi darah. Akibatnya rahang bawah akan melorot menyebabkan mulut terbuka. 2.subkutan.

Oleh sebab itu jika ditemukan dilatasi pada anus. akan berubah menjadi putih dan keruh. Perubahan pada mata Pada orang yang sudah mati pandangan matanya terlihat kosong. Jika sesudah kematiannya keadaan mata tetap terbuka maka lapisan kornea yang paling luar akan mengalami kekeringan. konduksi.mengakibatkan iris dan sfingter ani dilatasi. harus hati-hati untuk menyimpulkan sebagai akibat hubungan seks per ani. Perubahan lain yang terjadi ialah penurunan tekanan bola mata dan naikknya kadar potassium pada cairan mata. Vena-vena pada retina akan mengalami kerusakan dalam waktu 10 detik sesudah mati. reflek cahaya dan reflek kornea menjadi negative. Penurunan suhu tubuh Sesudah mati.1 Sesudah relaksasi primer akan terjadi kaku mayat dan selanjutnya akan terjadi relaksasi lagi. metabolisme yang menghasilkan panas akan terhenti sehingga suhu tubuh akan turun menuju suhu udara atau medium sekitarnya. tetapi sesudah itu 132 . Dalam waktu 10 sampai 12 jam sesudah mati kelopak mata.3 4.1 3. Relaksasi terakhir ini disebut relaksasi sekunder.3 Pada jam-jam pertama penurunannya sangat lambat karena masih adanya produksi panas dari proses glikogenolisis. baik terbuka atau tertutup. dan pancaran panas. Penurunan ini disebabkan oleh adanya proses radiasi.

Pengukuran dilakukan per rectal dengan menggunakan thermometer kiimia yang panjang (long chemical thermomether).4 derajat Farenheit. b. dengan catatan penurunan suhu dimulai dari 37 derajat celcius atau 98. akan mengakibatkan tingkat penurunan suhu menjadi lebih cepat. Jika rata-rata maka penurunan suhu tersebut antara 0.9 sampai 1 derajat Celsius atau sekitar 1.1. Sedangkan penderita dengan hipotermia tingkat penurunannya akan menjadi sebaliknya. Suhu medium Semakin rendah suhu medium tempat tubuh mayat berada akan semakin cepat tingkat penurunannya. Kalau proses penurunan tersebut digambarkan dalam bentuk grafik maka gambarannya akan seperti sigmoid atau huruf S terbalik.3 Penurunan suhu tersebut dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor antara lain:1 a.penurunan menjadi lebih cepat dan pada akhirnya menjadi lebih lambat kembali. seperti misalnya pada penderita infeksi atau perdarahan otak. c. Suhu tubuh pada saat mati Suhu tubuh yang tinggi pada saat mati.5 Farenheit setiap jam. semakin besar tingkat penurunannya. Dengan kata lain semakin besar perbedaan suhu medium dengan suhu tubuh mayat. Keadaan udara disekitarnya 133 .

tingkat penurunan suhu lebih cepat dibanding mayat orang dewasa. Pada udara yang terus berhembus (angin). semakin cepat tingkat penurunannya. lokasi. Hal ini disebabkan karena udara yang lembab merupakan konduktor yang baik. Pakaian mayat Semakin tipis pakaian yang dipakai. Keadaan tubuh mayat Pada mayat bayi. tingkat penurunannya suhu menjadi lebih besar. tingkat penurunannya juga semakin cepat. tingkat penurunannnya juga lebih cepat dibandingkan mayat yang tubuhnya gemuk. f. e. namun ternyata sukar dipakai dalam praktek karena faktor-faktor yang berpengaruh berbeda pada setiap kasus. cuaca dan iklim. luas permukaan tubuhnya relatip lebih besar. tingkat penurunan suhu menjadi lebih cepat sebab air merupakan konduktor yang baik. Berbagai rumus kecepatan penurunan suhu tubuh pasca mati ditemukan sebagai hasil dari penelitian di negara barat. Pada mayat yang tubuhnya kurus.1 134 . d.Pada udara yang lembab. Jenis medium Pada medium air. Hal ini disebabkan karena pada bayi. Perlu diketahui bahwa estimasi saat kematian dengan memanfaatkan penurunan suhu mayat hanya bisa dilakukan pada kematian kurang dari 12 jam.

yaitu penurunan suhu dengan kecepatan 0. dengan menggunakan rumus atau grafik dapat ditentukan waktu antara saat mati dan saat pemeriksaan. Penelitian akhir-akhir ini cenderung untuk memperkirakan saat mati melalui pengukuran suhu tubuh pada lingkungan yang menetap di tempat kejadian perkara (TKP). dan kira-kira 0.8 derajat Celsius tiap jam pada periode selanjutnya.1.3 5. Caranya adalah dengan melakukan 4-5 kali penentuan suhu rektal dengan interval waktu yang sama (minimal 15 menit). Penggunaan formula ini harus dilakukan dengan hati-hati mengingat suhu lingkungan di Indonesia biasanya lebih tinggi. telah tersedia program komputer guna perhitungan saat mati dengan cara ini. Saat ini.55 derajat Celsius tiap jam pada 3 jam pertama paska mati.5 derajat Celcius.1 derajat Celsius tiap jam pada 6 jam berikutnya. Kecepatan penurunan suhu ini menurun hingga 60% bila mayat berpakaian. Lebam mayat 135 . sedangkan suhu saat mati dianggap 37 derajat Celsius bila tidak ada penyakit demam. Dari angka-angka di atas. Penelitian membuktikan bahwa perubahan suhu lingkungan kurang dari 2 derajat Celsius tidak mengakibatkan perubahan yang bermakna. 1.Meskipun demikian dapat dikemukakan di sini formula Marshal dan Hoare (1962) yang dibuat dari hasil penelitian terhadpa mayat telenjang dengan suhu lingkungan 15. Suhu lingkungan diukur dan di anggap konstan karena faktor-faktor lingkungan dibuat menetap.

Nama lain dari lebam mayat ialah livor mortis. Pada posisi terlentang. kecuali pada daerah-daerah yang tertekan. Pada orang yang menderita anemia atau perdarahan timbulnya lebam mayat menjadi lebih lama. post mortum hypostasis atau vibices.3. post mortum suggilation.1.3 Terjadinya karena adanya gaya gravitasi yang menyebabkan darah mengumpul pada bagian-bagian tubuh terendah.1. lebam mayat 136 .5 Lokalisasinya pada bagian yang terendah dari tubuh mayat.3 Timbulnya lebam mayat antara 1 sampai 2 jam setelah mati. Kadang-kadang cabang dari vena pecah sehingga terlihat bintik-bintik perdarahan yang disebut Tardiu’s spot.1. sedang pada orang yang mati akibat sakit lama timbulnya lebam mayat menjadi lebih cepat. Pada awalnya warna tersebut hanya berupa bercak setempat-setempat yang kemudian berubah menjadi lebih lebar dan merata pada bagian tubuh terendah. Mula-mula darah mengumpul pada vena-vena besar dan kemudian pada cabangcabangnya sehingga mengakibatkan perubahan warna kulit menjadi merah kebiruan. post mortum lividity.

1 Setelah 4 jam. dada. Pada posisi tengkurap lebam mayat dapat ditemukan pada dahi.akan dapat ditemukan pada leher bagian belakang. Jika pembalikan posisi dilakukan sesudah 12 jam dari kematiannya maka lebam mayat baru tidak akan timbul pada posisi terendah karena darah sudah mengalami koagulasi.1. dan fleksor dari anggota bawah.1 137 . pipi. bokong. dagu. Kadang-kadang ditemukan juga lebam mayat paradoksal yang terletak pada leher bagian depan. kapiler-kapiler akan mengalami kerusakan dan butir-butir darah merah juga akan rusak. Kadang-kadang ditemukan darah keluar dari hidungnya. punggung. perut.3 Lebam mayat juga dapat ditemukan pada organ-organ dalam. dan bagian ekstensor dari anggota bawah. Pada posisi menggantung lebam mayat ditemukan pada ujung-ujung dari anggota badan dan alat kelamin lakilaki. Pigmen-pigmen dari pecahan darah merah akan keluar dari kapiler yang rusak dan mewarnai jaringan di sekitarnya sehingga menyebabkan warna lebam mayam pada daerah tersebut akan menetap serta tidak hilang jika ditekan dengan ujung jari atau jika posisi mayat dibalik. Lebam mayat pada paru-paru misalnya. sehingga perlu dibedakan pada proses patologik. disebabkan pecahnya pembuluh darah hidung akibat stagnansi hebat pada daerah tersebut. perlu dibedakan dengan proses perdarahan atau pneumonia. bahu dan dada sebelah atas.

Kaku mayat Kaku mayat yang sering disebut rigor mortis atau post mortum rigidity terjadi akibat proses biokimiawi. pada keracunan potassium chlorate berwatna coklat dan pada kematian karena asfiksia berwarna lebih gelap. dada.1 Berdasarkan teori tersebut maka kaku mayat akan terjadi lebih awal pada otot-otot kecil. perut dan terakhir anggota bawah. karena pada otot-otot yang kecil persendian glikogen sedikit. otot rahang dan sebagainya. Otot-otot yang kecil itu antara lain otot-otot yang terdapat pada muka. Sesudah itu kaku mayat terjadi pada leher. yaitu pemecahan ATP menjadi ADP.1 6. Selama masih ada P berenersi tinggi dari pemecahan glikogen otot maka ADP masih dapat diresintese menjadi ATP kembali. anggota atas. misalnya otot palpebra. Pada keracunan karbon monoksida (CO) lebam mayat berwarna merah cerah (cherry red).Warna lebam mayat biasanya merah kebiruan.1 138 . Jika persediaan glikogen oto habis maka resintese tidak terjadi sehingga terjadi penumpukan ADP yang akan menyebabkan otot menjadi kaku.

sedang pada suhu rendah terjad lebih lambat dan berlangsung lebih lama. kaku mayat akan mulai terlihat dan lebih kurang 6 jam kemudian seluruh tubuh akan menjadi kaku. Pada suhu 10 derajat Celcius di bawah nol 139 . Relaksasi yang terjadi sesudah mayat mengalami kaku mayat disebut relaksasi sekunder. kaku mayat akan timbul lebih cepat. yaitu dimulai dari otot-otot pada daerah muka. Persediaan glikogen Pada mayat dari orang yang sebelum meninggalnya banyak makan makanan yang mengandung karbohidrat maka kaku mayat akan timbul lebih lambat. Kekakuan tersebut akan berlangsung selama 36 sampai 48 jam. Pada mayat dengan gizi jelek. tubuh mayat akan mengalami relaksasi kembali sebagai akibat dari proses degenerasi dan pembusukan. Suhu udara sekitarnya Pada udara yang suhunya tinggi kaku mayat terjadi lebih cepat dan berlangsung lebih singkat.1 Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi terjadinya kaku mayat antara lain:1.Lebih kurang 6 jam sesudah mati. anggota atas. dada.3 a. perut dan terakhir anggota bawah. b. c.1 Urutan terjadinya relaksasi sekunder seperti urutan terjadinya kaku mayat. leher. Kegiatan otot Pada orang yang melakukan aktifitas yang berlebihan sebelum kematiannya. Sesudah itu. kaku mayatnya akan menjadi lebih cepat.

Cadaveric spasme ini sebetulnya merupakan proses intravital. 140 . orang-orang yang mengalami kecelakaan atau yang megalami ketakutan yang sangat ketika akan dibunuh. seperti misalnya: a.kaku mayat tidak terjadi. sedang kekakuan yang terlihat disebabkan karena adanya freezing atau cold stiffening. Kekakuan pada tubuh jenazah akibat rigor mortis perlu dibedakan dengan kekakuan akibat proses lainnya. Cadaveric spasme atau instantaneous rigor Kekakuan yang terjadi di sini disebabkan oleh kekakuan serombongan otot akibat ketegangan jiwa atau ketakutan sebelum kematiannya. Dalam perang Vietnam ditemukan mayat tentara Amerika dengan cadaveric spasme. d. tidak dapat direkayasa dan akan hilang berkenaan dengan terjadinya proses pembusukan. Umur Pada anak-anak timbulnya kaku mayat lebih cepat daripada orang dewasa. Keadaan seperti ini sering ditemukan pada orang yang melakukan bunuh diri.

b. Untuk membedakannya dengan kekakuan akibat rigor mortis tidaklah sulit. c. Jika mayat diletakkan pada suhu tinggi akan terjadi pelemasan otot.1 Proses otolisa terjadi sebagai akibat dari pengaruh enzim yang dilepaskan oleh sel-sel yang sudah mati. Mula-mula yang terkena ialah nukleoprotein yang terdapat pada kromatin dan sesudah itu sitoplasmanya.1 141 . Freezing yang terjadi di dalam tengkorak dapat menyebabkan sutura pada tulang tengkorak lepas karena adanya desakan es dari dalam. Freezing Kekakuan yang terjadi di sini disebabkan oleh pembekuan cairan di sendi atau di dalam sel-sel otot atau jaringan interstisiil. sebab pada heat stiffening pengaruh panas pada daerah kulit akan terlihat jelas. Pada perabaan terasa dingin dan bila digerakkan terasa adanya krepitasi. Pembusukan atau Modifikasinya Pembusukan yang terjadi pada tubuh mayat disebabkan oleh proses otolisa dan aktifitas mikroorganisme. akan mengalami kekakuan otot yang disebabkan karena proses koagulasi protein. 7. Seterusnya dinding sel akan mengalami kehancuran dan akibatnya jaringan akan menjadi lunak atau mencair. Heat stiffening Pada mayat yang terbakar.

pencairan bekuan-bekuan darah yang terjadi sebelum atau sesudah mati. sedang pada suhu yang panas proses otolisa juga akan mengalami hambatan disebabkan rusaknya enzim oleh panas tersebut. pencairan trombus atau emboli.3 Mengenai mikroorganisme penyebab pembusukan. Proses tersebut mulai tampak lebih kurang 48 jam sesudah mati.1 142 .1.1 Pada mayat yang dibekukan pelepasan enzim akan terhambat dan dengan sendirinya akan memperlambat otolisa. misalnya mayat bayi dalam kandungan. perusakan jaringan-jaringan dan pembentukan gasgas pembusukan.Proses otolisa ini tidak dipengaruhi oleh mikroorganisme dan oleh sebab itu pada mayat yang bebas hama. Kuman itu akan menyebabkan hemolisa. yang paling utama adalah oleh kuman Clostridium Welchii yang biasanya ada pada usus besar. proses otolisa tetap berlangsung. Karena pada orang yang sudah mati semua sistem pertahanan tubuh hilang maka kuman-kuman pembusuk tersebut dapat leluasa memasuki pembuluh darah dan menggunakan darah sebagai media untuk berkembang biak.

usus halus. Cairan darah keluar dari lubang hidung dan mulut h. Perubahan warna ini disebabkan adanya reaksi antara H2S (dari gas pembusukan yang terjadi di usus besar) dengan Hb menjadi Sulf-Met-Hb. Organ yang lambat membusuk 143 . lambung. Organ-organ dalam membusuk dan kemudian hancur. Skrotum laki-laki atau vulva membengkak f. Bola mata menjadi lunak i. Kuku dan rambut lepas l. Perubahan ini merupakan tanda pembusukan yang paling dini. seperti pohon gundul (arborescent pattern atau arborescent mark) c. Lidah dan bola mata menonjol akibat desakan gas pembusukan j. Dinding perut atau dada pecah akibat tekanan gas k. Muka membengkak d. Pelebaran pembuluh darah vena superfisial. Organ dalam yang paling cepat membusuk ialah otak. Kulit terlihat gelembung atau melepuh g. b. Pelebaran pembuluh darah ini disebabkan oleh desakan gas pembusukan yang ada di dalamnya sehingga pembuluh darah tersebut serta cabang-cabangnya nampak lebih jelas. Perut mengembung akibat timbunan gas pembusukan e. Warna kehijauan pada dinding perut sebelah kanan bawah. hati. limpa.Tanda-tanda yang dapat dilihat pada mayat yang mengalami pembusukan ialah:1 a. rahim wanita hamil atau nifas.

Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi proses pembusukan antara lain:1 a.ialah esofagus. jantung. diafragma. Kelembaban udara Seperti diketahui bahwa proses pembusukan diperlukan kelembababn udara. proses pembusukan menjadi lebih lambat akibat terhambatnya pertumbuhan mikroorganisme. Organ yang paling lambat mengalami pembusukan ialah kelenjar prostat pada laki-laki dan rahim wanita yang tidak sedang hamil atau nifas. yaitu: 1. ginjal dan kandung kencing. 3. paru-paru. Pada suhu di bawah 50 derajat Fahrenheit atau di atas 100 derajat Fahrenheit. Mikroorganisme Pada mayat bayi yang baru dilahirkan atau mayat yang tidak berpakaian proses pembusukkannya akan terhambat. Suhu disekitar mayat Proses pembusukan yang paling optimal terjadi pada suhu 70-100 derajat Fahrenheit. Proses pembusukan yang lambat juga akan dialami oleh mayat yang dikuburkan di dalam tanah yang sangat padat. Faktor luar. 144 . Oleh karena itu semakin tinggi kelembaban semakin cepat pembusukannya. Jika kedua organ tersebut masih dapat dikenali pada pemeriksaan mayat tak dikenal yang sudah dalam keadaan membusuk maka hal ini akan sangat berguna bagi kepentingan identifikasi. 2.

Sedang proses pembusukan yang lambat terjadi pada mayat yang ketika hidupnya mengalami dehidradsi. Pada keadaan tertentu. antimo dan zink klorida. arsen. sebab pada mayat tersebut belum kemasukkan kumankuman pembusuk. Keadaan mayat Proses pembusukan yang cepat terjadi pada tubuh mayat yang gemuk. proses pembusukannya lebih lambat disebabkan lemak tubuhnya relatif lebih sedikit. Yang ditemukan adalah modifikasinya.4. Pembusukan yang lambat juga terjadi pada mayat bayi yang baru lahir dan belum pernah diberi makan. yaitu mumifikasi atau saponifikasi (adipocere). edematus. 2. luka-luka atau mayat wanita yang mati sesudah melahirkan.1 145 . Medium dimana mayat berada Pembusukan pada medium udara terjadi lebih cepat dibandingkan pada medium air lebih cepat dibandingkan pada medium tanah. 3. b. tanda-tanda pembusukan seperti yang disebutkan di atas tidak dijumpai. Umur Pada mayat dari orang-orang tua. yaitu:1 1. Sebab kematian Mayat dari orang yang mati mendadak lebih lambat proses pembusukkannya daripada yang mati karena penyakit kronis. Demikian juga mayat dari orang yang mati karena keracuna khronis dari zat asam karbol. Faktor dalam.

Mengkerut atau melisut .Kering .Warna keputihan .Tidak berbau . suhunya tinggi dan tidak ada kontaminasi dengan bakteri.Keadaan anatominya masih utuh Saponifikasi dapat terjadi pada mayat yang berada di dalam suasana hangat.Warna coklat kehitaman . lembab.3 Terjadinya saponifikasi memerlukan waktu beberapa bulan dan dapat terjadi pada setiap jaringan tubuh yang berlemak.Mumifikasi dapat terjadi kalau keadaan disekitar mayat kering.Bau tengik seperti bau minyak kelapa 146 .1. kelembabannya rendah. Terjadi karena proses hidrolisis dari lemak menjadi asam lemak.Kulit merekat erat dengan tulang di bawahnya . Selanjutnya asam lemak jenuh dan kemudian bereaksi dengan alkali menjadi sabun yang tak larut.Mayat menjadi kecil . dan basah. dengan tandatanda sebagai berikut:1 . dengan tanda-tanda sebagai berikut:1 .1 Terjadinya beberapa bulan setelah mati.

keadaan darah mulai berubah menjadi basa sebagai akibat dari pemecahan protein secara enzimatik.Jika pada mayat terjadi proses saponifikasi atau mumifikasi maka hal itu dapat dimanfaatkan guna kepentingan identifikasi ataupun pemeriksaan luka-luka. Kematian Sel (cellulare Death/Moleculare Death) Jika seseorang sebagai individu telah meninggal dunia maka sel-sel yang membentuk tubuhnya akan tetap hidup secara sendiri-sendiri. meskipun sel-sel itu tidak mendapatkan supply oksigen. meskipun terjadinya kematian sudah lama. Pemecahan ini juga akan menyebabkan kenaikan non protein nitrogen. Tetapi kadar dekstrose darah pada vena cava inferior akan mengalami kenaikan sebagai akibat pemecahan glikogen di dalam hati. akan mengalami penurunan yang cepat sesudah mati. Proses proteolisis juga akan menyebabkan kenaikan ureum. Mengenai kadar gula darah. Kadar dekstrose darah di tempat lain tidak mengalami kenaikan mengingat paru-paru merupakan barikade yang cukup baik terhadap perembesan. 147 . Penurunan pH juga dapat disebabkan oleh penumpukan asam laktat. 9. Setelah 24 jam dari saat kematiannya. glikogenolisis dan glikolisis. 8. Perubahan-Perubahan pada Darah Sesudah mati akan terjadi penurunan pH darah sebagai akibat dari penumpukan CO2 saat-saat akhir kehidupannya. pemecahan asam amino dan pemecahan asam lemak. Kenaikan kadar dekstrose ini akan merembes sampai ke jantung sebelah kanan.

tetapi kekeruhan yang telah mencapai lapisan lebih dalam tidak dapat dihilangkan dengan 148 .Otot pupil masih dapat melebar jika diberi obat atropin. Kekeruhan kornea terjadi lapis demi lapis. Bila mata terbuka pada atmosfer yang kering. Kekeruhan yang terjadi pada lapis terluar dapat dihilangkan dengan meneteskan air.Sel-sel usus mampu hidup sampai 2 jam sesudah mati. . sklera di kiri-kanan kornea akan berwarna kecoklatan dalam beberpa jam berbentuk segitiga dengan dasar di tepi kornea (taches noires scletiques).Sel-sel jantung tidak segera mati dan masih dapat berdenyut secara lemah dn tidak sempurna. Perkiraan Saat Kematian Selain perubahan pada mayat tersebut di atas. seperti tersebut di bawah ini: . Dalam periode tersebut otot yang bersangkutan masih dapat mengalami kontraksi jika dirangsang dengan listrik. . .Spermatozoa mampu hidup selama beberapa jam sesudah mati.1 1.Sel-sel otot tertentu mampu hidup 3 jam sesudah mati. Dalam periode ini peristaltik usus sering dijumpai.Ketahanan hidup sel tanpa oksigen ini berbeda-beda. . Perubahan pada mata. D. beberapa perubahan lain dapat digunakan untuk memperkirakan saat mati.

Dalam waktu 7-10 jam pasca mati akan mencapai tepi retina dan batas diskus akan sangat kabur. makula lebih pucat dan tepinya tidak tajam lagi. retina pucat dan daerah skitar diskus menjadi kuning. Pada kira-kira 6 jam pasca mati. Pada saat itu pola vaskuler koroid yang tampak sebagai bercak-bercak dengan latar belakang merah dengan pola segmentasi yang jelas. Selama 2 jam pertama pasca mati. Setelah kematian tekanan bola mata menurun.tetesan air. tetapi pada kira-kira 3 jam pasca mati menjadi kabur dan setelah 5 jam menjadi homogen dan lebih pucat. batas diskus kabur dan hanya pembuluhpembuluh besar yang mengalami segmentasi yang dapat ilihat dengan latar belakang kuning kelabu. Tidak ada hubungan antara diameter pupil dengan lamanya mati. kornea menjadi keruh kira-kira 10-12 jam paska mati dan dalam beberapa jam saja fundus tidak tampak jelas. Warna kuning juga tampak disekitar makula yang menjadi lebih gelap. Kekeruhan yang menetap ini terjadi sejak kira-kira 6 jam paska mati. pada 12 jam pasca mati diskus hanya dapat 149 . Baik dalam keadaan mata tertutup maupun terbuka. Kemudian hingga 1 jam pasca mati. Hingga 30 menit pasca mati tampak kekeruhan makula dan mulai memucatnya diskus optikus. Perubahan pada retina dapat menunjukkan saat kematian hingga 15 jam pasca mati. memungkinkan distorsi pupil pada penekanan bola mata.

sehingga tidak dapat digunakan untuk memberikan petunjuk pasti waktu antara makan terakhir dan saat mati. 5. Perubahan dalam cairan serebro spinal. Cara ini hanya dapat dipergunakan bagi pria yang mempunyai kebiasaan mencukur kumis atau jenggotnya dan diketahui saat terakhir dia mencukur. panjang rambut kumis dan jenggot dapat dipergunakan untuk memperkirakan saat kematian. 2. Ditemukannya makanan tertentu (pisang. kadar nitrogen non protein kurang dari 80 mg% menunjukkan kematian belum 24 jam.1 mm per hari dapat dipergunakan untuk memperkirkan saat kematian bila dapat diketahui saat terakhir yang bersangkutan memotong kuku. hanya makula saja yang tampak berwarna coklat gelap. Perubahan rambut. Perubahan dalam lambung Kecepatan pengosongan lambung sangat berfariasi. 3. keadaan lambung dan isinya dapat membantu dalam membuat keputusan. Namun.4 mm per hari. 4. Kadar nitrogen asam amino kurang dari 14 mg% menunjukkan kematian belum lewat 10 jam. Pertumbuhan kuku. Sejalan dengan hal rambut tersebut di atas pertumbuhan kuku yang diperkirakan sekitar 0. kulit tomat. 150 . Pada 15 jam pasca mati tidak ditemukan lagi gambaran pembuluh darah retina dan diskus.dikenali dengan adanya konvergensi beberapa segmen pembuluh darah yang tersisa. biji-bijian) menandakan bahwa korban setelah meninggal telah makan makanan tersebut. Dengan mengingat bahwa kecepatan tumbuh rambut rata-rata 0.

sedangkan trauma masih dapat menimbulkan perdarahan bawah kulit sampai 1 jam pasca mati. Dalam cairan vitreus.3 1. Terjadi peningkatan kadar kalium yang cukup akurat untuk memperkirakan saat kematian antara 24 hingga 100 jam pasca mati. Perubahan tersebut diakibatkan oleh aktivitas enzim dan bakteri. Reaksi supravital. 7.kadar kreatin kurang dari 5 mg% dan 10 mg% masing-masing menunjukkan kematian belum mencapai 10 jam dan 30 jam. E. Hingga saat ini belum ditemukan perubahan dalam darah yang dapat digunakan untuk memperkirakan saat mati dengan lebih tepat. serta ganggun permeabilitas dari sel yang telah mati. Selain itu gangguan fungsi tubuh selama proses kematian dapat menimbulkan perubahan dalam darah bahkan sebelum kematian itu terjadi. Kadar semua komponen darah berubah setelah kematian. 8. Yaitu reaksi jaringan tubuh sesaat pasca mati klinis yang masih sama seperti reaksi jaringan tubuh pada seseorang yang hidup. misalnya rangsang listrik masih dapat menimbulkan kontraksi otot mayat hingga 90120 menit pasca mati dan mengakibatkan sekresi kelenjar keringat sampai 60-90 menit pasca mati. Untuk Diagnosis Kematian 151 . 6. Beberapa uji dapat dilakukan terhadap mayat yang masih segar. Kegunaan Tanatologi Kegunaan tanatologi dalam bidang forensik adalah sebagai berikut:1. sehingga analisis darah pasca mati tidak memebrikan gambaran konsentrasi zat-zat tersebut semasa hidupnya.

1 Tanatologi juga perlu dipelajari oleh penegak hukum sebab dalam pemeriksaan tempat kejadian perkara (TKP) tidak tertutup kemungkinan menemukan korban yang ada kemungkinan masih dalam keadaan hidup meskipun terlihat tidak bergerak seperti mati.3 2. Untuk Penentuan Saat Kematian Sehubungan dengan alibi seseorang. tetapi juga tidak selalu gampang sehingga kadang-kadang dokter pun dapat melakukan kesalahan.Sebetulnya menentukan kematian seseorang tidaklah sulit sehingga orang awam (termasuk penegak hukum) dapat melakukannya. yaitu lebam mayat.1. antara lain:1 Lebam mayat Kaku mayat Pembusukan Jika tanda-tanda pasti kematian tidak ditemukan maka korban harus dianggap masih dalam keadaan hidup sehingga perlu mendapat pertolongan (misalnya dengan melakukan pernafasan bantuan) sampai menunjukkan tandatanda kehidupan atau sampai munculnya tanda pasti kematian yang paling awal. Oleh karena itu ilmu ini perlu dipahami sungguh-sungguh agar tidak terjadi kesalahan dalam menegakkan diagnosis kematian. pemeriksaan forensik untuk menentukan saat kematian korban menjadi sangat penting sebab dapat tidaknya seseorang diperhitungkan sebagai pelaku pembunuhan tergantung dari 152 .1 Dalam situasi seperti ini penentuan kematian dapat dilakukan dengan menggunakan tanda-tanda pasti kematian.

antara lain:1 Penurunan suhu Lebam mayat Kaku mayat Pembusukan Timbulnya larva b.1.3 Perubahan eksternal maupun internal yang terjadi pada tubuh seseorang yang sudah meninggal dunia dapat digunakan sebagai bahan kajian untuk memperkirakan saat terjadinya kematian meskipun sebetulnya range dari variasi terjadinya perubahan-perubahan itu sangat luas.3 Perubahan-perubahan yang dapat dijadikan bahan kajian tersebut terdiri atas: a.keberadaannya ketika tindak pidana itu terjadi. Perubahan eksternal.1. Tidaklah logis seseorang dituduh membunuh jika pada saat dilakukannya tindak pidana berada di tempat yang sangat jauh. antara lain:1 Kenaikan potasium pada cairan bola mata Kenaikan non protein nitrogen dalam darah Kenaikan ureum darah Penurunan kadar gula darah Kenaikan kadar dekstrose pada vena cava inferior 153 . Perubahan internal.

1 154 . Keluarnya urine. anoksia atau kejang-kejang.1 Pada mayat dari orang yang mati akibat gantung diri (bunuh diri dengan cara menggantung) biasanya didapati lebam mayat pada ujung kaki. Untuk Perkiraan Cara Kematian (Manner of Death) Perubahan yang terjadi pada tubuh mayat juga dapat memberi petunjuk cara kematiannya.1 a. 4. Perubahan warna lebam mayat menjadi:1 Merah cerah (cherry-red) memberi petunjuk keracunan carbon monoksida (CO) Coklat memberi petunjuk keracunan Potasium Chlorate Lebih gelap. Untuk Perkiraan Sebab Kematian (Cause of Death) Perubahan tak lazim yang ditemukan pada tubuh mayat sering dapat memberi petunjuk tentang sebab kematiannya.3. ujung tangan atau alat kelamin laki-laki. faeces atau vomitus memebri petunjuk ada relaksasi sphincter akibat kerusakan otak. memberi petunjuk kekurangan oksigen b. Jika disamping itu juga ditemukan lebam mayat di tempat lain maka hal itu dapat dipakai sebagai petunjuk cara kematiannya karena akibat pembunuhan. Distribusi lebam mayat misalnya. dapat memberi petunjuk apakah yang bersangkutan mati karena bunuh diri atau pembunuhan.

Ilmu tanatologi mempelajari mengenai penentuan kematian. Jadi arti sesungguhnya dari tanatologi adalah ilmu yang mempelajari segala macam aspek yang berkaitan dengan mati.BAB III PENUTUP 1. hilangnya reflex pupil. tidak ada reflex menelan. Saran Thanatologi merupakan hal yang penting bagi kedokteran forensik karena untuk membantu menentukan cara kematian. Kesimpulan Tanatologi berasal dari dua buah kata. 2. tidak ada reflex vestibulokoklearis dan tidak adanya pernafasan spontan. Penentuan kematian dilakukan berdasarkan konsep mati otak dan mati batang otak. cara-cara melakukan diagnosis. Oleh sebab itu perlu pelajaran lebih dalam lagi tentang ilmu ini dan saling melengkapi terhadap ilmu-ilmu yang telah ada. hilangnya reflex kornea. yaitu ―thanatos‖ yang berarti mati dan ―logos‖ yang berarti ilmu. meliputi pengertian (definisi). tidak sadarnya pasien. yang ditandai dengan tidak berespon terhadap semua rangsangan. perubahan-perubahan yang terjadi sesudah mati serta kegunaannya. saat kematian. dan diagnosis kematian. perubahanperubahan sesudah mati. saat kematian. 155 . sebab kematian. dan kegunaan tanatologi.

DAFTAR PUSTAKA 1. 2006. Firearms and Tool Mark The Forensic Laboratory Handbooks. Firearms and Tool Mark The Forensic Laboratory Handbooks. 156 . Second Edition. Edisi I. 2006. Forensic Pathology. Practice and Resource. Anonim. USA: Oxford University Press. p. Hueske E. Idries AM. p. Hueske E. 2006.131-168. Jakarta: Restu Agung. p. 5. 1997. Pedoman Ilmu Kedokteran Forensik.243-273. 3. 2. 1996. Practice and Resource. 41-43. Jakarta: Binarupa Aksara. Forensik. 4. Abdussalam.

KEMATIAN MENDADAK BAB I PENDAHULUAN 157 .

2 Makalah ini dibuat untuk membahas mengenai kematian mendadak didalam bidang forensik sehingga diharapkan dapar membantu pembaca mengenai kematian mendadak di dalam bidang forensik. seringkali mendatangkan kecurigaan baik bagi penyidik maupun masyarakat umum. didapatkan 2030 kasus kematian mendadak karena sebab yang wajar.9%.1. atau motel. pada Office Chief Medical Examiner. cottage. sebagian besar kematian terjadi dalam hitungan menit atau bahkan detik sejak gejala pertama timbul. sistim pencernaan dan urogenital sebesar 9. kematian di hotel. yang dianalisis oleh Helpern dan Rapson.1%. dankemtian yang tak diduga tidak selalu terjadi mendadak. khususnya bila kematian tersebut menimpa orang yang cukup dikenal oleh masyarakat. mendadak atau merupakan kematian tak ada yang melihat. Kematian mendadak tidak selalu tidak diduga. New York.1 Kematian Mendadak yang disebabkan oleh penyakit. namun amat sering keduanya ada bersamaan pada suatu kasus. lalu sistim pernapasan sebesar 23.2 Definisi WHO untuk kematian mendadak adalah kematian yang terjadi pada 24 jam sejak gejala-gejala timbul.Banyak kematian dari kasus yang wajar terjadinya tak dapat diramalkan sebelumnya.3. Dari hasil tersebut nama penyakit system kardiovaskuler merupakan penyebab kematian mendadak yang menduduki peringkat pertama sebesar 44.7%. dan sebab-sebab lainnya sebesar 4.4%.9%. sistim saraf (otak dan selaput otak) sebesar 17.4 Hasil otopsi yang pernah dilaporkan selama lebih dari lima setengah tahun (1973-1943). namun pada kasus-kasus forensik. Kematian mendadak sering terjadi dan didapatkan pada orang yang sebelumnya tampak dalam keadaan yang sehat. 158 .

159 .

tetapi sering korban meninggal dalam beberapa menit sampai lebih dari 24 jam setelah menderita sakit. PENGERTIAN KEMATIAN MENDADAK Kematian mendadak dapat berupa:1 1.BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. sehingga ia bekerja seperti biasa. 3. Pada kasus kematian medadak harus dipikirkan kemungkinan penyakit. yang kadang-kadang sulit dibedakan. Kematian tanpa saksi atau sebab kematian yang tidak jelas (Unwitness death) Contoh: Seorang yang hidup sendiri tanpa teman di sebuah rumah. kemudian dengan orang tersebut ditemukan sudah dalam keadaan meninggal sebab kematian tidak diketahui dengan jelas. korban biasanya tidak meninggal seketika atau segera. kemudian orang tersebut langsung meninggal di tempat kerja. keracunan. Contohnya:1 160 . Kematian tak terduga (Unexpected death) Contoh: Seorang yang hanya mengeluh sakit perut dikira gastritis biasa. Pada kasus kematian mendadak. baru duduk beberapa menit kemudian orang tersebut langsung meninggal. 2. kekerasan. Kematian seketika (Instantaneous death) Contoh: Seorang yang dalam keadaan sehat bertamu ke rumah temannya.

Pada pemeriksaan histologist bukti adanya menunjukkan perubahan pembuluh darah. Contoh-contoh lain kasus kematian mendadak antara lain:1 1. Orang yang meninggal karena varices esophagus yang pecah. chronic alkoholisme. oleh karena sirosis hepatis. Orang yang meninggal oleh karena apoflexi cerebri ternyata juga ditemukan trauma kepala. 28 tahun ditemukan meninggal dalam mobilnya. Orang tersebut dapat mengalami apoflexi cerebri kemudian jatuh sehingga mengalami trauma kepala atau orang tersebut mengalami trauma kepala lebih dulu kemudian tekanan darah naik dan mengalami apoplexia cerebri. 161 . Pada kepala ditemukan perdarahan intracerebral massif. etiologinya dapat : wajar oleh karena hepatitis infection. Seorang pria. Perbesaran arteri dan cabang-cabangnya menunjukkan adanya perubahan degenerasi dan obstruksi parsial oleh thrombus. Pada otopsi telah ditemukan adanya intrapericardial hemorrhage yang ditimbulkan karena rupture pada aorta tepat di atas katub. hipertensi ringan dan tidak ada tanda-tanda hipertensi maligna. Juga ditemukian gross emfisema bersamaan bronchiectasis bilateral dan cor pulmonale.1. Pada otopsi ditemukan adanya perdarahan cerebral yang luas. 2. Tidak ditemukan adanya bukti baik secara klinik maupun patologi adanya hipertensi kronik. 85 tahun ditemukan meninggal di kamar hotel. Seorang pria. 2. Terdapat bukti adanya kardiomiopati hipertensif derajat sedang. hal ini menandakan adanya perdarahan pada dua tempat secara bersamaan. racun.

tiba-tiba meninggal di lapangan Laki-laki umur 53 tahun. yang menyebabkan sumbatan glottis dan menyebabkan asfiksia. Seorang Indian mengeluh nyeri abdomen dan dokter bedah memutuskan untuk melakukan laparotomi. 162 . Kemudian 15 menit sebelum dianestesi. tiba-tiba dalam pertandingannya jatuh dan meninggal Bayi digendong ibunya lalu tiba-tiba meninggal Seorang sedang bermain tenis. pasien memuntahkan seekor cacing dan tiba-tiba meninggal di meja operasi. 5. Dari hasil otopsi ditemukan kista larynx pada kelenjar bsekretorik di atas pita suara. Kematian mendadak pernah dilaporkan pada seorang wanita. sedang melihat TV tiba-tiba jatuh dan meninggal dunia. Kasus yang lain antara lain:1 Atlit yang sehat. meninggal dipelukan wanita 18 tahun Seorang sopir ditemukan meninggal di dalam mobilnya Seorang pejabat ditemukan meninggal di dalam ruang kerjanya Seorang pembantu RT.3. 68 tahun yang mati mendadak di rumah dalam posisi terduduk. Pada otopsi ditemukan adanya investasi massif strongyloides stercoralis pada usus halus. 4. Ada sedikit keraguan tentang nyeri abdomen menahun yang disebabkan oleh infeksi cacing tadi dan larva pada paru yang menyebabkan edema paru. Seharusnya apda pasien yang menderita infeksi oleh nematode harus diterapi dahulu sebelum dilakukan prosedur anestesi. Anestesi inhalsi nampaknya dapat bereaksi sebagai iritan pada nematode. dan juga pada paru.

Kamar terkunci dari dalam atau tidak c. maka kemungkinannya adalah:1 163 . Kesehatan akhir-akhir ini. Usia b. misalnya: a. Makan soto kemudian meninggal b. Tingkah laku yang aneh. Pada pemeriksaan luar.Cara menangani kematian mendadak:1 1. Teratur atau berantakan b. Keadaan sekitar korban bagaimana. 2. 5. a. Keterangan dari korban dikumpulkan baik dari keluarga. apakah ada hal-hal yang mencurigakan. teman-teman. Penyakit yang pernah diderita c. d. polisi dan saksi-saksi yang meliputi : a. Dari hasil pemeriksaan korban tersebut. Habis bertengkar dengan seseorang kemudian meninggal c. Hal ikhwal sekitar kematian. Apakah pernah kedatangan tamu 3. apakah ditemukan tanda-tanda kekerasan atau hal-hal lain yang mencurigakan. Apakah korban tersebut diasuransikan. Apakah ditemukan barang-barang yang mencurigakan 4. apa telah berobat dan dimana serta bagaimana hasil laboratoriumnya.

Korban meninggal secara wajar.seperti yang dilaporkan Badan Litbang Departemen Kesehatan RI. 3. maka keluarga atau dokter lapor polisi. B. Setelah SPVR datang maka korban diotopsi untuk menenrukan sebab kematian. PREVALENSI KEMATIAN MENDADAK Kematian mendadak terjadi empat kali lebih sering pada laki-laki dibandingkan pada perempuan. dan menjadi 1 : 1 setelah perempuan menopause. Penyakit jantung dan pembuluh darah secara umum menyerang lakilaki lebih sering dibanding perempuan dengan perbandingan 7 :1 sebelum menopause. penyakit jantung dan pembuluh darah juga memiliki kecenderungan serupa. Di Indonesia. Korban meninggal secara tidak wajar. maka keluarga atau dokter lapor ke polisi. dan sebab kematian jelas misalnya. coronary heart disease. dan sesuai dengan kecenderungan kematian kematian mendadak pada laki-laki yang lebih besar. misalnya CVA tetapi juga ditemukan tanda-tanda kekerasan.1. misalnya ditemukan adanya tndatanda kekerasan. Penyakit pada jantung dan pembuluh darah menduduki urutan pertama dalam penyebab kematian mendadak. maka selanjutnya diberi surat kematian untuk dimakamkan. Korban diduga meninggal secara wajar. 164 . 4. maka keluarga atau dokter lapor ke polisi kemudian polisi meminta visum et repertum. 2. Sebab kematian tidak jelas.

fibrosis miokard.2 1. di mana terjadi penyempitanj atau penyumbatan dari lumen . b.5. bukankarena trauma akibat kecelakaan lalu lintas. katub jantung. berhubungan atau tidak dengan kerusakan miokard seperti fibrosis atau infark lama/baru. endokardium dan pericardium.1% (1981). Arterioskelorosis koroner yang progresif.6 Tahun 1997 -2003 di Jepang dilakukan penelitian pada 1446 kematian pada kecelakaan lalu lintasdan dari autopsi pada korban kecelakaan lalu lintas di Dokkyo University dikonfirmasikan bahwa 130kasus dari 1446 kasus tadi penyebab kematiannya digolongkan dalam kematian mendadak.9% (1975) menjadi 9. 16. Kelompok penyakit oklusi arteri koroner terdiri dari:1 a.a. lesi pada miokard.7 C. Arteriosklerosis koroner yang diakibatkaan oleh thrombosis arteri koroner baik baru maupun lama.0% (1995). lesi pada aorta.1. Kematian mendadak yang berkaitan dengan sistim kardiovaskuler yaitu : penyakit oklusi arteri koroner. penyakit jantung congenital.0% dari 2030 kasus otopsi kematian mendadak). 165 . PENYEBAB KEMATIAN MENDADAK 1. SISTEM KARDIOVASKULER Kematian mendadak yang terkait sistim kardiovaskuler merupakan kasus terbanyak (44.0% (1986) dan 19.persentase kematian akibat penyakit ini meningkat dari 5. Infark miokard.

Emboli arteri koroner (jarang). Tuberkulosis atau sifilis miokard (jarang) 166 .b. ateroma lunak yang dapat menyebabkan terjadinya yang rupture plaque thrombosis. Secara gross penampakan jantung bisa normal. f. atau pada katub aorta. yang berasal dari thrombus atau ateroma. Stenosis ostium arteri koroner yang berhubungan dengan aortitis kronis. infeksi dan trichimosis. pucat dan dilatasi ruang jantung. katub jantung. b. sifilis e. yang dapat menyebabkan mendadak. Miokarditis toksik akut atau subakut yang menyertai difteri. Lesi pada miokard. Manifestasi klinis dari miokarditis akut dapat menyebabkan kegagalan jantung kongestif sampai terjadi kematian mendadak. Ruptur aneurisma dissecting secara spontan dengan penekanan arteri koroner. Arteriosklerosis koroner dengan perdarahan pada plaque ateroma melintasi lumen dan dapat menyebabkan thrombosis. rupture dari miokard atau aneurisma yang mengakibatkan kematian perdarahan intraperikard dan tamponade jantung. c. plaque kematian d. 1.aneurisma ventrikuler. Anomali arteri koroner (jarang). lumen g. endokardium dan pericardium:1 a.

post rheumatic atau aortitis sifilis n.c. post rheumatic m. atau thrombus pada yang berhubungan dengan infark miokard atau mengakibatkan emboli arteri cerebral. ball valve thrombus di aurikula kiri yang menutup orifisium menyebabkan stenosis katub mitral. d. oklusi koroner. Ruptur spontan dari infark miokard atau aneurisme dengan hemoperikardium f. Hipertrofi jantuing yang berhubungan dengan hipertiroid Endokarditis bacterial akut atau subakut Stenosis katub mitral. i. l. Ruptur spontan dari fatty heart Hipertrofi ventrikel kiri akibat hipertensi arterial karena penyakit ginjal h. o. k. Hipertrofi ventrikel kiri yang berhubungan dengan penyakit katub aorta. Fibrosis miokard yang menyertai miokarditis Infark miokard dengan atau tanpa fibrosis atau aneurisma. khususnya stenosis aorta. seperti atau ventrikel kiri fibrosis yang 167 . post rheumatic atau aortitis sifilis Trombosis mural pada aurikula atau ventrikel dengan emboli. rupture muskulus papillare yang infark arteri e. Kor pulmonal : hipertrofi ventrikel kanan yang berhubungan penyakit paru menahun seperti pneumoconiosis atau dengan emfisema j. g. Insufisiensi aorta. Stenois aorta.

1% 168 . single atau multiple. Lesi pada aorta. aneurisma aorta. rheumatic atau tuberculosis. Trombosis oklusi aorta abdominalis akibat aterosklerosis. laporan tahun 1973 menyatakan kematian tak terduga yang diakibatkan kelainan system pernapasan mencapai 23. ruang pleura. esophagus. secara subkutan ke leher menyebabkan asfiksis penekanan pada trakea. d. Aortitis sifilis yang mengakibatkan stenoisi ostium arteri koroner.c. Ruptur spontan pada ascending aorta (non sifilis) dengan perdarahan intrapericard dan tamponade jantung. bronkus. Trombosis mural pada plaque ateromatus dengan emboli dan infark mesenterika. dengan rupture spontan dan perdarahan ruang perikard. Aneurisma aorta abdominalis akibat aterosklerosis. Perikarditis : sepsis. dada. SISTEM PERNAFASAN Menurut Gonzales et al. keluar melewati dinding dengan c. 2. rupture dan perdarahan ke dalam jaringan retroperitoneal. 1. rupture spontan aorta yang biasanya berhubungan dengan coartation aorta sering disertai dengan hipertensi. b. rupture yang lengkap atau tidak lengkap dengan pembentukan aneurisma dissecting dan menyusul rupture aorta ke dalam perikard.p. insufisiensi aorta dengan hipertrofi ventrikel kiri. e. tapi biasanya ke dalam ruang pleura. terdiri dari:1 a.

Asfiksia :1 Asma bronchial Emboli paru Laringitis difteri Oedema laryngeal akut pada infeksi atau neoplasma faring/laring. b.dari seluruh kasus kematian tak terduga. Dari sekian banyak tersebut. Perdarahan saluran saluran napas :1 Tuberkulosis paru dengan kavitas Neoplasma bronkus Bronkiektasis Abses paru Pneumothorax :   Ruptur spontan pada tuberculosis kaverne Ruptur pada bulla emfisematus c. Infeksi paru :1 Lobar pneumoni Tuberkulosis Bronkiektasis Abses paru Kiste parasitic Schistostomiasis 169 . dapat dikelompokkan menjadi 4 garis besar yaitu:1.2 a.

Perdarahan terjadi biasanya di daerah basal ganglia karena pecahnya arteri lentikulostriata dan biasanya penyakit yang mendasari adalah aterosklerosis cerebral atau hiperetensi. Beberapa perdarahan pontin menghasilkan hiperpireksis atau peningkatan suhu tubuh.9% dari kematian mendadak yang ditemukan pada otopsi.1 b. pupil menjadi miosis dan kondis seperti ini sering dikelirukan dengan keracunan akibat morfin. Secara klinis perdarahan intrasererbral spontan sering dikelirukan dengan perdarahan intracranial berhubungan dengan trauma atau tanda-tanda kekerasan. Kematian biasanya tidak terjadi seketika tapi biasanya diawali pada keadaan koma sampai diagnosis dapat ditegakkan. Perdarahan ini lebih sering menyerang umur pertengahan atau lebih tua.1 170 . Perdarahan serebral spontan Perdarahan ini mnyebabkan kematian tak terduga tertinggi mencapai 9.2 a. Adapun penyakit-penyakit dari organ ini yang menimbulkan kematian mendadak antara lain :1.4% dari kasus otopsi.3. Perdarahan spontan pons dan serebellum Perdarahan ini terjadi biasanya akibat pecahnya aneurisma pada arteri sereberal tapi hal ini sering tak dapat dibuktikan. SISTEM SARAF PUSAT Kematian dari sistem organ ini (otak dan selaput otak) menmcapai 17.

Trombosis dan emboli serebral Walau thrombosis tidak begitu umum mengakibatkan kematian mendadak.Dari hasil otopsi perdarahan pons ini tidak dapat terlihat karena pons tidak dapat dibuka. namun thrombosis ini sering terjadi pada seseorang yang menderita aterosklerosis serebral..7% dari total kasus yang diotopsi dan merupakan 29% dari kelompok kasus penyakit otak dan selaput otak. Perdarahan seperti ini sering didapat pada seseorang yang menderita leukemia kronis. Perdarahan subaraknoid Perdarahan ini biasanya penting sebagai penyebab kematian mendadak dan tak terduga.1 c. kadang-kadang merupakan perdarahan yang multiple. Kasus ini terjadi biasanya 171 .1 e. Perdarahan serebral multiple Perdarahan serebral yang berakibat fatal. Perdarahan pachy-meningitis interna Perdarahan ini berkembang cepat dan prograsif sehingga penyebab kematian adalah akibat penekanan serebral. dan komplikasi penyakit yang lain yang dapat menyebabkan kematian mendadak.1 Penyebab kematian dari kasus bini adalah pecahnya aneurisma pada arteri serbral. Perdarahan ini dapat menyebabkan kematian yang cepat karena terjadi penekanan pada batang otak. f. Perdarahan ini mencapai 4. lebih sering terjadi pada cabang-cabang sirkulus willisi.1 d.

Selama otopsi berlangsung harus hati-hati agar thrombus dalam aurikula atau ventrikel jantung atau dalam aorta ascending dan cabang-cabangnya dapat ditemukan. Pada otopsi sering ditemukan glioma pada kedua lobus frontal yang menyebabkan penekanan yang fatal.bertahap dan penderita biasanya mengetahui akibat dari penyakitnya. yang berasal dari thrombosis di ventrikel kiri. di mana akibat yang timbul mirip dengan penekanan akibat terjadinya pembuntuan foramen munro.1 172 .1 Kadang-kadang proses metastase pada otak menyebabkan kematian tak terduga.1 g. di mana tumor primernya berada jauh seperti tumor bronkus atau chorio-epitelioma. pembesarannya terjadi secara perlahan-lahan sehingga menimbulkan gejala yang tidak khas. seperti cyscercus cellulose yang membendung cairan serebro spinal (CSF) pada ventrikel IV. meningioma pada duramater yang menyebabkan penekanan penekanan pada permukaan otak. Kista koloid dan parasit Penekanan serebral yang lama dan tersembunyi dapat diakibatkan karena infeksi yang lama. Intrakranial neoplasma Tumor pada kepala. Jenis yang tersering adalah glioma primer. basiler atau arteri vertebral. Trombosis serebral biasanya mengenai serebral media. tiba-tiba berakibat fatal akibat penekanan serebral. Trombosis serebral spontan dan infark serebral tidak sulit ditemukan pada otopsi.1 h. Trombus juga bisa menyumbat arteri di otak.

1954 dilaporkan sistem pencernaan merupakan 9. Polioensefalitis akut dan ensefalitis juga sering menyebabkan kematian mendadak. polioensefalitis dan meningitis Abses otak yang sering akibat komplikasi dari otitis media kronik dan mastoiditis dapat berkembang menjadi lebih parah dan dapat menyebabkan kematian dengan cepat akibat penekanan pada serebral. Kasus-kasus lain yang menyebabkan kematian tak terduga adalah leptomeningitis supurativa dan sepsis meningokokus fulminan.i. SISTEM PENCERNAAN Menurut Gonzales.7% dari kasus kematian yang tidak terduga. Perdarahan intra abdominal:1 Rupture spontan dari carcinoma liver Ruptur pada kehamilan ectopic Ruptur spontan dari pembesaran lien (malaria. Yang menyebabkan kematian mendadak yaitu:1 a.1 j. Perdarahan gastro intestinal tract:1 Karsinoma lidah Karsinoma esophagus b. thypoid fever) 173 .1 4. Abses otak. Infeksi sifilis Sifilis leptomeningitis kronik ditandai dengan infiltrasi sel radang dalam selaput piaaraknoid yang terlihat jelas di bawah permukaan pons dan sekitar sirkulus wilisi.

Ruptur uterus.3% akibat kelainan genital. disebutkan sekitar 1. Kelainan UG tract yang bisa menyebabkan kematian mendadak antara lain:1. miofibroma subserosa. 174 .- Varices esophagus c. Dari sebuah laporan di New York. b. Kehamilan ekstra uterin yang mengalami rupture sehingga menyebabkan perdarahan intraperitoneal yang massif. intususception. Shock:1 Obstruksi dari usus : volvulus. SISTEM UROGENITAL Kelainan pada urogenital jarang menyebabkan kematian mendadak. Kematian mendadak karena sistim ini lebih sering terjadi pada wanita disbanding laki-laki. hernia incarserata Acut pancreatitis Batu dalam saluran empedu Kista ovarium atau fibromyoma uteri yang terpuntir d.9% akibat kelainan saluran kencing dan 1. abortus yang menyebabkan perdarahan massif.2 a. solution plasenta. Peritonitis:1 Ruptur intestine Perforasi peptic ulcer dari stomach atau duodenum Perforasi carcinoma intestine 5.

hemophilia bisa menyebabkan kematian mendadak karena komplikasi yang 175 . 6. e. hidronefrosis biasanya karena terjadinya uremia. Kelainan-kelainan yang terjadi pada ginjal seperti nefritis. kanker ginjal. Kelainan darah. hipertrofi prostat yang menyebabkan obstruksi. terutama bila disertai konvulsi yang hebat. Karsinoma vulva yang mengenai pembuluh darah femoralis yang menyebabkan perdarahan massif. Addison’s disease. Kematian mendadak pada kelainan ini pada umumnya karena peritonitis atau syok. kelemahan dinding kandung kencing karena kanker. d. g.4% beberapa keadaan atau kelainan tersebut antara lain:1 a. b. Ruptur spontan kandung kencing yang bisa terjadi pada striktur uretra. seperti leukemia. nefrolitiasis. yang disebabkan karena kerusakan kelenjar adrenal. Toksemia gravidarum (eclamtic toxemia) yang terjadi dengan cepat dan tanpa gejala pada akhir kehamilan. SEBAB-SEBAB LAIN Kematian –kematian mendadak dapat juga diakibatkan karena sebab lain yaitu sekitar 4. gejal seperti keracunan makanana atau bahan kimia. TBC ginjal. f. Miofibroma yang besar yang menyebabkan emboli paru karena statis thrombosis vena pelvis.c.

edem paru. Convultion dengan asphyxia d. tenggelam dalam air dingin. Deficiency disease : Rickets e. CORONARY ARTERY DISEASE 176 . Kelainan metabolic. hemokromatosis yang menyebabkan fibrosis pada otak. Congenital anomalies b. hiperinsulinisme karena tumor Langerhan’s. d.ditimbulkan. jantung yang bisa menyebabkan gagal jantung. mekanisme terjadinya belum jelas. 7. Infectious disease c. misalnya perdarahan pada otak. menurut sjemer: disebabkan oleh reaksi anafilaksis karena sensitisasi pusat neurotic germinal dari kelenjar yang mengalami hiperplasi dan pelepasan nucleoprotein yang bisa terjadi spontan amupun karena faktor-faktor dari luar seperti antitoksin. misalnya diabetes mellitus yang mengalami koma asidosis. ANAK-ANAK1 a. c. Crib death syndrome (cot death) D. Status limfatikus. hipertrofi jantung yang menyebabkan gagal jantung.

Arteriosclerosis arteri coronaria merupakan sebaba kematian terbanyak dari penyekit cardio vascular system (67%). Myocardial fibrosis : 50% b. Fibrosis tidak ditemukan : 45% c. Kadang-kadang pada kasus arteriosclerosis yang berat ditemukan gejala-gejala angina pectoris tanpa ditemukan kelainan-kelaian pada otot- 177 . kadangkadang cepat. Umur lebih kurang 40 tahun. Berapa % pembuntuan arteri coronaria untuk dapat menyebabkan kematian belum ada data yang pasti. Pada otopsi ditemukan : a. Dengan thrombus : 25% Kadang-kadang pada sclerosis yang sudah lanjut ditemukan thrombus yang lama dan subintimal hemorrhage. Myocardial infarction : 75% yang dapat disertai fibrosis (50%) atau tanpa disertai fibrosis (50%) b. Tanpa thrombus : 75% Yang menyebabkan darah pada myocardium tidak cukup ialah penyempitan lumen atau penutupan total dari salah satu atau kedua cabang arteri coronaria. Pada otopsi ditemukan :1 a. juga pada dewasa muda. Myocardial infarction : 4% 2.1 Arteriosclerosis arteri coronaria ada 2 macam :1 1. Tidak ditemukan kelainan. Arteri coronaria atau cabangnya dapat buntu total atau buntu sebagian sehingga jumlah darah yang menuju myocardium tidak cukup sehingga korban dapat meninggal mendadak.

Keadaan-keadaan yang mempengaruhi terjadinya myocardial infarction : a. Kegiatan fisik b. 3. SPONTANEOUS APOLEXY) CEREBRAL HEMORRHAGE (CEREBRAL Umur lebih kurang 40 tahun. Cerebral apoplexy biasanya didahului oleh cerebral arteriosclerosis dan arterial hypertension yang kemudian diikuti pecahnya lenticulostriate artery. Rangsangan emosi Keadaan-keadaan tersebut menyebabkan terjadinya beban myocardium bertambah. maka tidak dapat menambah permintaan tersebut.1 Perdarahan intra cerebral. tetapi kadang-kadang myocardium mengalami infarct dan denyut jantung berhenti. 2. sedangkan arteri coronaria sendiri karena sudah menyempit.otot jantung. Pembeda Lokalisasi Trauma kepala Hypertensi Spontaneous hemorrhage Basal ganglia Tidak ada Ada Traumatic hemorrhage Di semua tempat Ada Tidak ada 178 . Lokalisasi perdarahan paling sering basal ganglia. 1. jarang pada pons dan cerebellum. harus dibedakan antara spontan dan traumatik :1 No. E. Korban biasanya tidak meninggal dengan tiba-tiba tetapi didahului koma sebelum meninggal.

2. Korban meninggal dengan cepat oleh karena pusat-pusat vital di medulla tertekan. dan dengan bertambahnya umur maka aneurysma makin berkembang. maka akumulasi darah yang cepat di bawah permukaan otak dan meluas sepanjang fissure of Sylvius dank e dalam cistern magna dan ventrikel IV. 3. memang dinding artery sudah lemah. Harus dibedakan: adanya trauma menyebabkan tensi naik yang menyebabkan cerebral apoplexy atau karena korban tensinya naik sehingga jatuh karena cerebral apoplexy. 179 .1 F. tekanan darah tambah meningkat sehingga dapat menimbulkan spontaneous cerebral hemorrhage. SPONTANEOUS SUBARACHNOID HEMORRHAGE Umur paling muda yang terkena spontaneous subarachnoid hemorrhage disebabkan oleh karena rupture aneurysma cerebral artery sebenarnya congenital. 1. Pembeda Trauma kepala Ruptur Aneurysma Perdarahan Spontaneous hemorrhage Tidak ada Ada Diffuse Traumatic hemorrhage Ada Tidak ada Tergantung trauma Oleh karena perdarahan diffuse.Perlu diperhatikan adanya trauma pada kepala dapat menyebabkan korban yang menderita hypertensi.Spontaneous subarachnoid hemorrhage harus dibedakan dengan traumatic subarachnoid hemorrhage yaitu :1 No.

kecuali kelenjar membesar. 2. bukan merupakan kelainan pathologis yang menyebabkan kematian. 3. Maka menurut pendapat pertama tersebut. sebab kematian korban adalah Status lymfatikus. tetapi 180 . Pembeda Trauma kepala Aneurysma Rupture sinuses Spontaneous hemorrage Traumatic hemorrhage Tidak ada Ada Ada Tidak ada Aneurysma a. SPONTANEOUS SUBDURAL HEMORRHAGE Keadaan ini terjadi secara :1 1. kadang-kadang sulit dibedakan dengan traumatic subdural hemorrhage. STATUS LYMPHATICUS Ada 2 pendapat :1 1. 2. Spontan subarachnoid hemorrhage menjadi besar dan merobek arachnoid hingga subdural terisi darah. venous sinuses H. carotis interna Perforating veins. 1.G. Status lymfatikus merupakan variasi morfologis yang normal. Rupture dari aneurysma arteri carotis interna. Adapun perbedaan antara spontan hemmorage dan traumatic adalah sebagai berikut :1 No. menimbulkan subdural hemorrhage tanpa subarachnoid hemorrhage. 2. Pada otopsi korban dewasa muda dan anak-anak yang meninggal mendadak tidak ditemukan kelainan-kalainan adanya anatomi limfa yang yang menyebabkan kematian.

Pelepasan nucleoprotein. Thorax ramping d.sarjana yang mempunyai pendapat kedua tersebut meskipun sudah melakukan penyelidikan yang intensif juga tidak ditemukan sebab kematian yang lain. Pemeriksaan luar:1 a. tusuk jarum. Pertumbuhan badan normal c. Menurut sjmmers. dapat sebagian hasil anaphylaction reaction oleh karena :1 Sensitisasi oleh necrotic germinal centers dari kelenjar yang hyperplastic. rambut ketiak dan rambut pubis sedikit (seperti pada wanita) Pemeriksaan dalam:1 181 . janggut. Mekanisme terjadinya kematian mendadak pada status lymfatikus belum jelas. Otot-otot kaki bulat e. menyelam ke dalam air dingin. Perkembangan individu normal b. Pada laki-laki : kumis. Kejadian tersebut dapat terjadi spontan atau karena faktor-faktor dari luar antara lain: injeksi antitoxin. Kesimpulan : Status Lymfatikus masih dianggap sebagai salah sebab kematian. Kulit bersih dan licin f.

orang tua muda. lidah dan lymfonodes dari mesenterium hyperplasia c. arteri terutama di otak dindingnya menipis dan menyempit d. family besar.a. batuk. tonsil. CRIB DEATH SYNDROME (COT DEATH) = SUDDEN DEATH SYNDROME Crib death syndrome ialah kematian mendadak pada bayi yang khas di dahului sakit ringan antara lain : pilek. kemudian tiba-tiba jatuh ke dalam keadaan cukup berat dan diakhiri dengan kematian. Kelenjar lymfa dari spleen.1 Etiologi : 6 bulan pertama (2-4 bulan) Kelamin : laki-laki lebih sering daripada wanita Sering didapatkan pada golongan social ekonomi rendah.1 Faktor-faktor yang mempengaruhi :1 1. dll. aorta mengecil dan lumennya menyempit. bantal 182 . Alat kelamin perkembangannya terlambat I. dapat oleh karena bayi kurang terawatt. Suffocation dengan pakaian tidur. Thymus membesar dan hyperplasia yang semestinya umur 30 tahun sudah hilang b. Adrenal glands tipis dan hypoplastic e. bayi premature. gangguan saluran pencernaan makanan ringan. Cardiovascular system hypoplasia : jantung kecil. kehamilan kembar. GI tract.

Paru-paru : lebih berat.alveoli kolaps. Kelainan pathologis :1 1. dinding alveoli menebal dengan infiltrasi limfosit. Bintik-bintik perdarahan pada permukaan paru. Alveolar kadang-kadang terisi makrofag 5. Bacterial infection 4. TINDAKAN PADA KASUS KEMATIAN MENDADAK 183 . warna permukaan berbintik-bintik atau berwarna agak ungu. J. Metabolic disorders 6. Hypogamma globulinemia 5. Mikroskopik : paru-paru kongestif. konsistensi agak keras pada daerah yang tidak berwarna. jantung. Anaphylactic shock Gejala-gejala yang mendahului antara lain :1 40% tanpa gejala yang mendahului 40% didahului gejala infeksi saluran pernapasan 20% didahului gejala gangguan saluran pencernaan. kelnjar thymus 3.2. kongesti dan edema ringan dari jaringan paru 2. patchy edema. Status thymolymfaticus 3. Kultur darah : (-). lung tissue culture : (-) atau ada kuma pathogen. netrofil dan monosit. Pada bokong didapatkan rash 4.

Dari sudut kedokteran forensik. untuk menetukan penyebabnya hanya ada satu cara yaitu dilakukannya pemeriksaan otopsi pada jenazah. alasan yang sangat penting dalam otopsi adalah menentukan apakah terdapat tindak kejahatan. Adakah faktor keracunan yang berperan 5. khususnya bila tak ada tanda-tanda penyakit sebelumnya dan kemungkinan sangat kecil. Menentukan adakah peran tindak kejahatan pada kasus tersebut 2.1 Pemeriksaan kasus kematian mendadak perlu beberapa alasan anatara lain :1 1. tujuan utama pemeriksaan kasus kematian mendadak adalah menentukan cara kematian korban. Dengan demikian dalam penyelidikan kedokteran forensik pada kematian mendadak atau terlihat seperti wajar. Pada kasus kematian yang terjadi seketika atau tidak terduga.Setiap kematian mendadak harus diperlakukan sebagai kematian yang tidak wajar. Kalim pada asuransi 3. Mendeteksi epidemiologi penyakit untuk pelayanan kesehatan masyarakat. sebelum dapat dibuktikan bahwa tidak ada bukti-bukti yang mendukungnya. Adapun kepentingan otopsi antara lain :1 184 . Menentukan apakah kematian tersebut karena penyakit akibat industry atau merupakan kecelakaan belaka. terutama pada pekerja industry. Hal ini sangat penting untuk menentukan apakah termasuk kematian mendadak yang wajar. bila perlu dilengkapi dengan pemeriksaan tambahan lain seperti pemeriksaan toksikologi. 4.

pakaian yang ditemukan. Untuk keluarga korban. Semua keterangan almarhum dikumpulkan baik dari keluarga. dll 2.1. adanya barang-barang mencurigakan 3. lebam mayat. jika polisi tidak meminta visum et repertum dapat diberi surat kematian 5. dapat menjelaskan sebab kematian 2. penyakit yang pernah diderita. pada sebab kematian bila tidak diketahui sebab kematiannya ditulis tidak diketahui atau mati mendadak 185 . Pemilihan lesi yang fatal pada korban. Untuk kepentingan umum. tanda-tanda kekerasan atau luka. atau saksi-saksi. teman. melindungi yang lain agar dapat terhindar dari penyebab kematian yang sama. temperature. sarankan kepada keluarga untuk melapor kepada polisi. bakteriologi dan kimia 2. Pada kasus kematian mendadak yang sering kita hadapi. yang meliputi : usia. Perubahan patologi anatomi. polisis. pernah berobat di mana. hasil pemeriksaan laboratorium. situasi TKP rapi atau berantakan. tingkah laku yang aneh. tindakan yang mampu dilakukan pada kematian mendadak adalah :1 1. Penentuan kasus kematian adalah berdasarkan proses interpretasi yang meliputi :1 1. Keadaan korban dan sekitar korban saat ditemukan. Dalam mengisi formulir B. Bila sebab kematian tidak pasti. Keadaan sebelum korban meninggal 4. posisi tubuh.

Korban meninggal secara tidak wajar. Korban diduga meninggal secara wajar. misalnya ditemukan adanya tanda-tanda kekerasan. Dari hasil pemeriksaan kemungkinan :1 1. Sebab kematian tidak jelas. maka keluarga atau dokter lapor ke polisi 186 .kmatian korban 3. buat preparat histopatologi bagian organ-organ tertentu diperiksa dan pemeriksaan toksikologi 7. misalnya CVA tetapi juga ditemukan tanda-tanda kekerasan. keluarga/dokter lapor ke polisi. maka keluarga atau dokter lapor ke polisi 4. setelah SPVR dating maka korban diotopsi untuk menetukan sebab kem. Bila dilakukan pemeriksaan dalam. maka diberi surat kematian dan dikuburkan 2. Korban meninggal secara wajr dan sebab kematian jelas. jangan menyentuh apapun terutama yang dipakai sebagai barang bukti. misalnya coronay heart disease. kemudian polisi minta visum et repertum. Sebaiknya jangan menandatangani surat kematian tanpa memeriksa korban.6.

187 . perlu dilakukan otopsi dan dilengkapi dengan pemeriksaan penunjang lainnya. alasan yang sangat penting dilaksanakannya otopsi adalah menentukan apakah terdapat tindak kejahatan.BAB III PENUTUP Kematian mendadak meliputi kematian seketika. Dari sudut kedokteran forensik. Untuk menetukan sebab kematian. sistem genital dan sebab lain. sistem pernapasan. di mana kelompok penyakit sistem kardiovaskuler. Penyebab kematian mendadak dapat dikelompokkan menjadi beberapa kelompok menurut sistem dalam tubuh. Kematian mendadak dalam aspek forensik selalu dianggap tidak wajar sampai dibuktikan merupakan kematian wajar. kematian tak terduga dan kematian tanpa saksi atau sebab kematian yang tidak jelas. sistem saraf. Dengan demikian dalam penyelidikan kedokteran forensik pada kematian mendadak. tujuan utama pemeriksaan kasus kematian mendadak adalah menentukan cara kematian korban. sistem saluran kencing. sistem pencernaan.

Pedoman Ilmu Kedokteran Forensik. 3. Surabaya: Bagian Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga.pdf. Umberger CJ. Jakarta: Binarupa Aksara. Legal Medicine. Kusmana D.DAFTAR PUSTAKA 1. 1954. Edisi Pertama. 2003. Eleventh Edition.New York: Appleton century croft. 2007. 2000. Idries AM. Simpson’s Forensic Medicine. Edisi Ketiga. Hitosugi M. Yokoyama T. Vance M. 5.dot. Knight B. Available from : http: www-nrd. 188 . 7. Mutahal. Florida: CRC Press. 1997. 1997. 6. Gonzales TA. et all. Di Maio DJ. Kasiat teh dan kesehatan jantung. Motozawa Y. Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal. Jakarta : FKUI. 2. Pathology and toxicology. New York: Arnold.nhtsa.gov/pdf/nrd-01/esv/esv19/05-0112-W. 4. Forensic Pathology. Hariadi A. Helpern M. Analysis of sudden natural deaths while driving withforensic autopsy findings. Di Maio VJM. 2nd edition.

AUTOPSI BAB I 189 .

Jenis perkaranya pun meluas dari pembunuhan. melakukan interpretasi atas penemuan-penemuan tersebut.PENDAHULUAN E. dengan tujuan menemukan proses penyakit dan atau adanya cedera. meliputi pemeriksaan terhadap bagian luar maupun bagian dalam.3 190 . kejahatan seksual. hingga ke pelanggaran hak asasi manusia. mayat tak dikenal.2 Autopsi adalah pemeriksaan terhadap tubuh mayat. penganiayaan. fraud dan abuse pada perasuransian. child abuse and neglect. Ruang lingkup ilmu kedokteran forensik berkembang dari waktu ke waktu. jaringan dan bahan biologis yang diduga berasal dari manusia. Latar Belakang Ilmu kedokteran forensik adalah salah satu cabang spesialistik ilmu kedokteran yang memanfaatkan ilmu kedokteran untuk membantu penegakan hukum dan pemecahan masalah-masalah di bidang hukum. kematian tak diharapkan dan tak diduga. Dari semula hanya pada kematian korban kejahatan. kekerasan dalam rumah tangga.1 Seorang dokter umum atau dokter forensik yang diminta untuk melakukan autopsi demi kepentingan peradilan sudah seyogiyanya dapat membuat diagnosis yang tepat. hingga para korban kejahatan yang masih hidup. menerangkan penyebabnya serta mencari hubungan sebab akibat antara kelainan-kelainan yang ditemukan dengan penyebab kematian. perselisihan pada perceraian. atau bahkan kerangka.

Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan maka dalam penulisan referat ini dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut : 6. Apa saja persiapan sebelum otopsi? 9. Pemeriksaan autopsi dan identifikasi seringkali masih dapat dilakukan dan memberikan hasil meskipun peristiwa telah lama terjadi atau korban telah dimakamkan. Apakah pengertian dari autopsi? 7. yang kemudian dapat membawa ke kesimpulan tentang cara kematiannya – apakah terdapat unsur kesengajaan. 12. 11.Pemeriksaan autopsi forensik harus dilakukan untuk memperoleh sebab kematian yang pasti. Tujuan Penulisan 191 . Ada berapa jenis autopsi? 8. Pemeriksaan forensik terhadap tempat kejadian perkara juga dapat membantu mengungkap peristiwa yang melatar-belakangi kematian seseorang.1 F. 13. Teknik apa yang dipakai dalam autopsi? 10. Bagaimana tata laksana autopsi? Apa saja peralatan yang digunakan dalam autopsi? Ada berapa cara autopsi? Bagaimana perawatan mayat setelah autopsi? G. Pemeriksaan forensik juga dapat digunakan untuk memastikan identitas korban apabila identitas korban memang menjadi isu utama.

6. Bagi Mahasiswa  Sebagai bekal dalam menjalani profesi sebagai dokter muda. Mengetahui jenis-jenis autopsi. 7. 8. Sebagai persyaratan ujian pada kepaniteraan klinik ilmu kedokteran forensik dan medikolegal. 9. Manfaat Penulisan 6. Bagi Institusi Pendidikan   Mengerti maksud dan tujuan dalam autopsi. 13. Bagi Pengadilan  Pentingnya autopsi bagi penyelesaian perkara pidana. 7. Mengetahui dan memahami tata laksana autopsi. H. 8. 10. Mengetahui dan memahami teknik autopsi. Mengetahui dan memahami persiapan sebelum autopsi. Mengetahui pengertian dari autopsi. Mengetahui peralatan yang digunakan dalam autopsi. 192 . Sebagai media pengabdian masyarakat terutama kasus-kasus yang berkembang di masyarakat khususnya dalam bidang Kedokteran Forensik dan Medikolegal. Mengetahui perawatan jenazahyat setelah autopsi. Mengetahui dan memahami cara autopsi. 12. 11.5.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA M. Definisi Autopsi Autopsi berasal dari kata Auto = sendiri dan Opsis = melihat. Yang dimaksudkan dengan autopsi adalah pemeriksaan terhadap tubuh mayat. meliputi 193 .

yang normal. Untuk mendapatkan hasil yang maksimal.4 Otopsi anatomik adalah otopsi yang dilakukan untuk kepentingan pendidikkan. Autopsi Klinik dan Autopsi Forensik/Autopsi Mediko-Legal.4 Untuk Autopsi klinik ini mutlak diperlukan izin dari keluarga terdekat mayat yang bersangkutan. dengan tujuan menemukan proses penyakit dan atau adanya cedera. Jika pada pemeriksaan ditemukan beberapa jenis kelainan bersama-sama.3. meliputi pembukaan rongga tengkorak.3 N.4.5 Otopsi klinik adalah pemeriksaan yang dilakukan dengan cara pembedahan terhadap mayat untuk mengetahui dengan pasti penyakit atau kelainan yang menjadi sebab kematian dan untuk penilaian hasil usaha pemulihan kesehatan. yang terbaik adalah melakukan Autopsi klinik lengkap. 18 Th. yaitu Autopsi Anatomi.3 194 . serta melakukan pemeriksaan terhadap seluruh alat-alat dalam/rongga. yaitu untuk mempelajari susunan tubuh manusia. melakukan interpretasi atas penemuan-penemuan tersebut. Pelaksanaan otopsi jenis ini diatur di dalam Peraturan Pemerintah No. menerangkan penyebabnya serta mencari hubungan sebab akibat antara kelainan-kelainan yang ditemukan dengan penyebab kematian.pemeriksaan terhadap bagian luar maupun bagian dalam. Jenis-jenis Autopsi Berdasarkan tujuannya dikenal tiga jenis Autopsi. dada dan perut/panggul.1981 tentang bedah jenazah. maka dilakukan penentuan kelainan mana yang turut mempunyai andil dalam terjadinya kematian tersebut.

Membuat laporan tertulis yang obyektif dan berdasarkan fakta dalam bentuk visum et repertum. Menentukan sebab pasti kematian.Namun bila pihak keluarga berkeberataan untuk dilakukannya Autopsi klinik lengkap. dalam hal ini pihak penyidik. 3 Pelaksanaan otopsi ini di atur dalam Peraturan Pemerintah No. yang pada prinsipnya baru boleh dilakukan sesudah ada izin dari kelurga terdekat atau jika sesudah 2 hari tidak ada keluarga yang mengurusnya. diperlukan suatu Surat Permintaan Pemeriksaan/Pembuatan visum et repertum dari yang berwenang. kiranya dapat diusahakan suatu needle necropsy terhadap organ tubuh tertentu. Mengumpulkan serta mengenali benda-benda bukti untuk penentuan identitas benda penyebab serta identitas pelaku kejahatan.18 Th. Membantu dalam hal penentuan identitas mayat. masih dapat diusahakan untuk melakukan Autopsi klinik parsial. e. b. bahkan apabila ada seseorang yang 195 . memperkirakan cara kematian serta memperkirakan saat kematian. c. yaitu yang terbatas pada satu atau dua rongga badan tertentu. d. untuk kemudian dilakukan pemeriksaan histopatologik. 1981. Untuk melakukan Autopsi forensik ini. dengan tujuan:3 a.5 Autopsi forensik atau Autopsi mediko-legal dilakukan terhadap mayat seseorang berdasarkan peraturan undang-undang. Melindungi orang yang tidak bersalah dan membantu dalam penentuan identitas serta penentuan terhadap orang yang bersalah. Apabila ini masih ditolak. Izin keluarga tidak diperlukan.

pembukaan rongga tengkorak. beberapa hal perlu mendapat perhatian: 3 a. Persiapan sebelum Autopsi Sebelum Autopsi dimulai. histopatologi forensik.3 Baik dalam melakukan Autopsi klinik maupun Autopsi forensik.3 Dalam melakukan Autopsi forensik. Kelainan yang betapa kecil pun harus dicatat. Pemeriksaan yang tidak lengkap. dan ini tidak dapat diwakilkan kepada mantri atau perawat. yang bersangkutan dapat dituntut berdasarkan undang-undang yang berlaku. meliputi pemeriksaan tubuh bagian luar. yaitu autopsi parsial atau needle necropsy dalam rangka pemeriskaan ini tidak dapat dipertanggunga jawabkan. Autopsi sendiri harus dilakukan sidini mungkin.menghalang-halangi dilakukannya autopsy forensik. karena dengan lewatnya waktu. pada tubuh mayat dapat terjadi perubahan yang mungkin akan menimbulkan kesulitan dalam menginterpretasikan kelainan yang ditemukan. Seringkali perlu pula dilakukan pemeriksaan penunjang lainnya. rongga dada dan rongga perut/panggul. serologi forensik dan sebagainya. antara lain pemeriksaan toksikologi forensik. ketelitian yang maksimal harus diusahakan. mutlak diperlukan pemeriksaan yang lengkap.3 Autopsi forensik harus dilakukan oleh dokter.3 O. karena tidak akan dapat mencapai tujuantujuan tersebut di atas. Apakah surat-surat yang berkaitan dengan Autopsi yang akan dilakukan telah lengkap. 196 .

perhatikan apakah Surat Permintaan Pemeriksaan/pembuatan Visum et Repertum telah ditandatangani oleh pihak penyidik yang berwenang. tempat kematian dan sebagainya yang harus diteliti apakah sesuai dengan data-data yang tertera dalam Surat Permintaan Pemeriksaan. maka perhatikanlah apakah terhadap mayat yang akan diperiksa telah dilakukan identifikasi oleh pihak yang berwenang. Kumpulkan keterangan yang berhubungan dengan terjadinya kematian selengkap mungkin. mutlak dilakukan pemeriksaan lengkap yang meliputi pembukaan seluruh rongga tubuh dan pemeriksaan seluruh organ. Dalam hal Autopsi forensik. perhatian apakah surat izin Autopsi klinik telah ditandatangani oleh keluarga terdekat dan yang bersangkutan. b. c. Pada kasus-kasus Autopsi klinik status riwayat penyakit dan pengobatan dapat member petunjuk arah pemeriksaan yang akan dilakukan. Pada kasus-kasus Autopsi forensik. berupa penyegelan dengan label Polisi ini memuat antara lain nama. 197 . informasi mengenai kejadian yang mendahului kematian. Dalam hal autopsi forensik. Apakah mayat yang akan di-autopsi benar-benar adalah mayat yang dimaksudkan dalam surat yang bersangkutan. keadaan pada Tempat Kejadian Perkara (TKP) dapat memberi petunjuk bagi pemeriksaan.Dalam hal Autopsi klinik. Perhatikan pula jenis Autopsi yang diizinkan oleh pihak keluarga tersebut. tanggal kematian. Untuk Autopsi forensik. alamat. serta dapat membantu menentukan jenis pemeriksaan khusus yang mungkin diperlukan.

Teknik Autopsi Hampir setiap Bagian Ilmu Kedokteran Forensik atau Bagian Patologi Anatomi mempunyai teknik autopsi sendiri-sendiri.6 Teknik Virchow Teknik ini mungkin merupakan teknik autposi yang tertua. namun pada umumnya teknik autopsi masing-masing hanya berbeda sedikit/ merupakan modifikasi dari 4 teknik autopsi dasar. d.Kurang atau tidak terdapatnya keterangan-keterangan tersebut di atas dapat mengakibatkan terlewat atau hilangnya bukti-bukti yang penting. Dengan demikian kelainan-kelainan yang terdapat pada 198 . isi lambung atau jaringan untuk pemeriksaan toksikologik?. Setelah dilakukan pembukaan rongga tubuh. Adakah telah tersedia botol-botol terisi larutan formalin yang diperlukan untuk pengawetan jaringan bagi pemeriksaan histopatologik? Adakah botol-botol atau tabung-tabung reaksi untuk pengambilan darah.3 P. Periksalah apakah alat-alat yang diperlukan telah tersedia. Untuk melakukan autopsi yang baik. misalnya saja tidak diambilnya cairan empedu. Perbedaan terutama dalam hal pengangkatan keluar organ baik dalam hal urutan pengangkatan maupun jumlah/ kelompok organ yang dikeluarkan pada satu saat. tidaklah diperlukan alat-alat yang ―mewah‖. serta bidang pengirisan pada organ yang diperiksa. padahal korban kemudian ternyata adalah seorang pecandu narkotika. organ-organ dikeluarkan satu persatu dan langsung diperiksa. namun tersedianya beberapa alat tambahan kiranya perlu mendapat perhatian yang cukup.

renalis. Organ urogenital dipisahkan dari organ lain. Aorta dibuka sampai arkus aorta dan Aa. organ leher. Dengan demikian. tetapi hubungannya dengan 199 . Rektum dipisahkan dari sigmoid. Teknik ini jarang dipakai karena tidak menunjukkan keunggulan yang nyata atas teknik lainnya. teknik ini kurang baik bila digunakan pada autopsi forensik. arah. yang perlu dilakukan penentuan saluran luka. Teknik ini pun tidak baik digunakan untuk autopsi forensik. organ dilihat dan diperiksa dengan melakukan beberapa irisian in situ. dan perut dikeluarkan sekaligus (en mase). namun hubungan anatomik antar beberapa organ yang tergolong dalam satu sistem menjadi hilang. baru kemudian seluruh organ-organ tersebut dikeluarkan dalam kumpulan-kumpulan organ (en-bloc). Pleksus coeliacus dan kelenjar para aorta diperiksa.masing-masing organ dapat segera dilihat. Bagian proksimal jejunum diikat pada dua tempat dan kemudian diputsu antara dua ikatan tersebut dan usus dapat dilepaskan. serta dalamnya penetrasi yang terjadi. Kepala diletakkan di atas meja dengan permukaan posterior menghadap meja ke atas. terutama pada kasus penembakan dengan senjata pai dan penusukan dengan senjata tajam. diafragma. dada. Esophagus dilepaskan dari trakea.6 Aorta diputus di atas muara A.6 Teknik Rokitansky Setelah rongga tubuh dibuka.6 Teknik Letulle Setelah rongga dibuka. Renales kanan dan kiri dibuka serta diperiksa.

6 Teknik Ghon Setelah rongga tubuh dibuka. organ urogenital diangkat keluar sebagai 3 kumpulan organ (bloc). Bagi mereka yang jarang melakukan autopsi. hubungan antar organ tetap dipertahankan setelah seluruh organ dikeluarkan dari tubuh. Organ tersebut dikeluarkan en masse tetapi dalam 2 kumpulan. hendaknya lebih erat 200 .3 Dokter yang melakukan autopsi hendaknya menggunakan teknik yang paling dikuasainya. di Bagian IKF FKUI digunakan teknik Ghon. Organ leher dan dada sebagai satu kumpulan organ perut dan urogenital mulai dari perbatasan duodenojejunal sampai perbatasan rektosigmoid.lambung dipertahankan. namun ternyata para calon dokter mengalami kesukaran dalam menemukan kelenjar suprarenal.6 Dengan pengangkatan organ-organ di tubuh secara en mase ini.3 Dahulu sebelum menggunakan teknik modifikasi tersebut di atas.6 Bagian Ilmu Kedokteran Forensik FKUI menggunakan teknik autopsi yang merupakan modifikasi dari teknik Letulle. organ pencernaan bersama hati dan limpa. organ leher dan dada. Dengan teknik yang digunakan dewasa ini kesulitan tersebut dapat diatasi. Vena cava inferior serta aorta diputus di atas diafragma dan demikian organ leher dan dada dapat dilepas dari organ perut. serta agak sukar dalam penanganan karena ―panjang‖nya kumpulan organ-organ yang dikeluarkan sekaligus. Kerugian teknik ini adalah sukar dilakukan tanpa pembantu.

Dalam hal keluarga merasa keberatan maka penyidik wajib menerangkan dengan sejelas-jelasnya tentang maksud dan tujun autopsi.3 Q. Tata laksana Autopsi Pelaksanaan autopsi forensik diatur didalam KUHAP. tugas memberitahu itu sering diambil alih oleh dokter karena kebanyakan langsung datang ke rumah sakit.berpegang/berpedoman pada teknik autopsi yang dipelajari semasa pendidikannya di fakultas kedokteran.5 R.5 Sebagaimana disebutkan di dalam Pasal 134 KUHAP bahwa penyidik yang meminta autopsi mempunyai kewajiban untuk member tahukan keinginannya kepada keluarga.5 Dari pasal tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa untuk keperluan autopsi forensik tidak diperlukan izin keluarga seperti pada autopsi klinik atau anatomik. yaitu dihukum berdasarkan Pasal 222 KUHP.Dalam menjelaskan kepada keluarga perlu diingatkan adanya sanksi pidana bagi siapa saja yang menghalang-halangi pelaksanaan autopsi. Peralatan Autopsi 201 . yang pada prinsipnya autopsi baru boleh dilakukan jika ada surat permintaan tertulis dari penyidik dan setelah kelurga diberi tahu serta telah memahaminya atau setelah 2 hari dalam hal keluarga tidak menyetujui autopsi atau keluarga tidak ditemukan. Keluarga hanya punya untuk diberitahu dan tanggung jawab memberitahu itu berada di pundak penyidik. Apabila dalam waktu 2 hari tidak ada tanggapan apapun (perubahan sikap) dari keluarga atau keluarga tidak ditemukan maka autopsi segera dilaksanakan. Demi praktisnya.

Untuk melakukan suatu autopsi yang baik.sebenarnya tidak diperlukan alat yang mewah, cukup dengan alat yang sederhana saja. Berikut ini alat yang dipergunakan tersebut.3 1. Kamar autopsi Guna kamar autopsi adalah agar dokter yang melakukan pemeriksaan jenazah dapat melakukan tugasnya dengan tenang, tidak terganggu oleh orang yang tidak berkepentingan atau yang ingin sekedar menonton saja. Untuk keperluan ini tidak diperlukan suatu kamar khusus bila keadaan setempat tidak memungkinkan. Cukup digunakan salah satu sudut kamar jenazah misalnya, asal terdapat penerangan yang cukup. Bahkan ―bedeng darurat‖ yang didirikan di lapangan dekat dengan penggalian kubur pun dapat digunakan. 2. Meja autopsi Untuk meja autopsi pun, bila keadaan tidak memungkinkan, tidak perlu menggunakan meja autopsi khusus yang stainless steel. Bila perlu dapat digunakan kereta dorong mayat, atau meja darurat yang terbuat dari beberapa helai papan saja. Yang perlu dipikirkan dalam hal meja autopsi adalah adanya tempat penampungan darah yang keluar waktu dilakukannya autopsi serta adanya air yang diperlukan untuk melakukan pencucian bila perlu. 3. Peralatan autopsi Yang diperlukan adalah pisau yang dapat digunakan untuk memotong kulit serta organ dalam dan otak, gunting serta pinset bergigi untuk

202

melaksanakan pemeriksaan alat dalam tubuh. Disamping itu diperlukan juga sebuah gergaji yang dapat digunakan untuk menggergaji tulang tengkorak. Untuk keperluan perawatan mayat setelah selesai autopsi. Sediakan sebuah jarum jahit serta benang kasar untuk merapikan kembali mayat yang telah diautopsi. Peralatan tambahan yang diperlukan adalah gelas ukur untuk mengukur volume cairan/ darah yang ditemukan pada autopsi serta semprit berikut jarum untk pengambilan darah. 4. Peralatan untuk pemeriksaan tambahan Perlu disediakan beberapa buah botol kecil yang terisi formalin 10% atau alcohol 70-80% untuk keperluan pengambilan jaringan guna pemeriksaan histopatologik, serta beberapa botol yang lebih besar untuk pengambilan bahan guna pemeriksaan toksikologi, yang berisi bahan pemgawet yang sesuai. 5. Peralatan tulis dan tofografi Sediakan kertas atau formulir-formulir isian yang dipergunakan untuk mencatat segala hasil pemeriksaan. Bila mungkin, sediakan pula peralatan memotret yang dapat digunakan untuk pemotretan kelainankelainan untuk keperluan dokumntasi atau identifikasi.

203

Gambar 1. peralatan autopsi.3 S. Cara Autopsi Pada pemeriksaan tubuh mayat sebelah luar, untuk kepentingan forensik, pemeriksaan kepentingan forensik, pemeriksaan harus dilakukan dengan cermat, meliputi segala sesuatu yang terlihat, tercium, maupun teraba, baik terhadap benda yang menyertai mayat, pakaian, perhiasan, sepatu dan lain-lain, juga terhadap tubuh mayat itu sendiri.3 Agar pemeriksaan dapat terlaksana secermat mungkin, pemeriksaan harus mengikuti suatu sistematika yang telah ditentukan. Dibagian IKF FKUI, sistematika pemeriksaan adalah:3 1. Label mayat Mayat yang dikirim untuk pemeriksaan kedokteran forensik seharusnya diberi label dari pihak kepolisian, biasanya merupakan sehelai karton yang

204

diikatkan pada ibu jari mayat serta dilakukan penyegelan pada tali pengikat label tersebut, untuk menjamin keaslian dari benda bukti. Label mayat ini harus digunting pada tali pengikatnya, serta disimpan bersama berkas pemeriksaan. Perlu dicatat warna dan bahan label tersebut. Dicatat pula apakah ada materai atau segel pada label ini, yang biasanya terbuat dari lak berwarna merah dengan cap dari kantor kepolisian yang mengirim mayat. Isi dari label mayat ini juga dicatat selengkapnya. Adalah kebiasaan baik, bila dokter pemeriksa dapat meminta keluarga terdekat dari mayat untuk sekali lagi melakukan pengenalan/pemastian identitas. Disamping label mayat dari kepolisian, pada mayat dapat pula ditemukan label identifikasi dari Instalasi Kamar Jenazah Rumah Sakit. Label ini adalah untuk kepentingan identifikasi di Kamar Jenazah agar mayat tidak tertukar saat diambil oleh keluarga. Label dari Rumah Sakit ini harus tetap ada pada tubuh mayat. 2. Tutup mayat Mayat sering kali dikirim pada pemeriksaan dalam keadaan ditutupi oleh sesuatu. Catatlah warna/bahan , warna serta corok dari penutup ini. Bila terdapat pengotoran pada penutup, catat pula letak pengotoran serta jenis/bahan pengotoran tersebut. 3. Bungkus mayat Mayat kadang-kadang dikirimkan pada pemeriksa dalam keadaan terbugkus. Bungkus mayat ini harus dicatat jenis/bahannya, warna, corak

205

serta adanya bahan yang mengotori. Dicatat pula tali pengikatnya bila ada, baik mengenai jenis/bahan tali tersebut, maupun cara pengikatan serta letak ikatan tersebut. 4. Pakaian Pakaian mayat dicatat dengan teliti, mulai dari pakaian dikenakan pada bagian tubuh sebelah atas sampai tubuh sebelah bawah, dari lapisan yang terluar sampai dengan lapisan yang terdalam. Pencatatan meliputi: bahan, warna dasar, warna dan corak/motif dari tekstil, bentuk/model pakaian, ukuran, merk/penjahit, cap binatu, monogram/inisial serta tambalan atau tisikan bila ada. Biila terdapat pengotoran atau robekan pada pakaian, maka ini juga harus dicatat dengan teliti,\ dengan mengukur letaknya dengan tepat menggunakan koordinat, serta ukuran dari pengotoran dan atau robekan yang ditemukan. Pakaian dari korban yang mati akibat kekerasan atau yang belum dikenal, sebaiknya disimpan untuk barang bukti. Bila ditemukan saku pada pakaian, maka saku ini harus diperiksa dan dicatat isinya dengan teliti pula. 5. Perhiasan Perhiasan yang dipakai mayat harus dicatat pula dengan teliti. Pencatatan meliputin jenis perhiasan, bahan, warna, merk, bentuk serta ukuran nama/inisial pada benda perhiasan tersebut. 6. Benda disamping mayat

206

Bersamaan dengan pengiriman mayat, kadangkala disetakan pula pengiriman benda di samping mayat, misalnya bungkusan atau tas. Terhadap benda di samping mayat inipun dilakukan pencatatan yang teliti dan lengkap. 7. Tanda Kematian Di samping untuk pemastian bahwa korban yang dikirimkan untuk pemeriksaan benar-benar telah mati, pencatatan tanda kematian ini berguna pula untuk penentuan saat kematian. Agar pencatatan terhadap tanda kematian ini bermanfaat, jangan lupa mencatat waktu/saat dilakukannya pemeriksaan terhadap kematian ini: a. Lebam mayat Terhadap lebam mayat, dilakukan pencatatan letak/distribusi lebam, adanya bagian tertentu di daerah lebam mayat yang justru tidak menunjukkan lebam (karena tertekan pakaian, terbaring di atas benda keras dan lain-lain). Warna dari lebam mayat serta intensitas lebam mayat (masih hilang pada penekanan, sedikit menghilang atau sudah tidak menghilang sama sekali. b. Kaku mayat Catat distribusi kaku mayat serta distribusi kekakuan pada beberapa sendi (daerah dagu/tengkuk, lengan atas, siku, pangkal paha, sendi lutut) dengan menentukan apakah mudah atau sukar dilawan.

207

Kadang-kadang mayat diterima dalam keadaan pembusukan yang lebih lanjut. terdapat gambaran pembuluh darah superficial yang melebar berwarna biru-hitam. Lain-lain Cara perubuhan tanatologik lain yang mungkin ditemukan. Suhu tubuh mayat Sekalipun perkiraan saat kematian menggunakan criteria penurunan suhu tidak dapat memberikan hasil yang memuaskan. Pembusukan Tanda pembusukan yang pertama tampak berupa kulit perrut sebelah kanan bawah yang berwarna kehijau-hijauan. c. e. namun pencatatan suhu tubuh mayat kadang dapat masih membantu dalam hal perkiraan saat kematian. misalnya mummifikasi atau adipocere. Jangan lupa juga melakukan pencatatan suhu ruangan pada sat yang sama. ataupun tubuh yang telah mengalami penggembungan akibat pembusukan lanjut. karena spasme kadaverik petunjuk apa yang sedang dilakukan oleh korban saat terjadi kematian.Apabila ditemukan adanya kadaverik (cadaveric spasm) maka ini harus dicatat sebaik-baiknya. merupakan mayat dengan kulit ari yang terelupas. Identifikasi umum 208 . d. 8. Pengukuran suhu mayat dilakukan dengan menggunakan thermometer rectal.

9. serta tulisan tattoo yang ditemukan. umur. warna kulit. 209 . bentuk. adanya striae albicantes pada dinding perut. baik yang timbul akibat penyembuhan luka maupun yang terjadi sebagai akibat tindakan bedah. b. eksema dan kelainan lain sering kali dapat membantu dalam penentuan identitas. Pada pekerja/buruh pikul. angioma. kadangkala dapat diperoleh keterangan yang berharga mengenai pekerjaan mayat yang diperiksa semasa hidupnya. Identifikasi khusus Catat segala sesuatu yang dapat digunakan untuk penentuan identitas secara khusus. tinggi dan berat badan. keadaan gizi. Bila perlu buatlah dokumentasi foto. Kapalan (callus) Dengan mencatat distribusi callus. d. keadaan zakar yang disirkumsisi. warna.Catat tanda umum yang menunjukkan identitas mayat. Kelainan pada kulit Adanya kutil. akan ditemukan kapalan (callus) pada daerah bahu. c. Jaringan parut Catat seteliti mungkin jaringan parut yang ditemukan. seperti: jenis kelamin. Rajah/tattoo Tentukan letak. bangsa atau ras. bercak hiper atau hipopigmentasi. pada pekerja kasar lainnya akan ditemukan kapalan pada telapak tangan atau kaki. a.

Pencatatan dilakukan terhadap distribusi. Pemeriksaan rambut. untuk pemeriksaan laboratorium lanjutan bila ternyata diperlukan di kemudian hari. Anomali dan cacat pada tubuh Kelainan anatomis berupa anomali atau deformitas akibat penyakit atau kekerasan perlu dicatat dengan seksama. rambut-rambut ini haris diambil. bagaimana warnanya. adakah bintik perdarahan atau bercak perdarahan. 11. Bila pada tubuh mayat ditemukan rambut yang mempunyai sifat yang berlainan dari rambut mayat. warna keadaan tumbuh serta sifat dari rambut tersebut baik dalam hal halus atau lurus ikalnya. Pemeriksaan mata Periksa apakah kelopak mata terbuka atau tertutup. (bagaimana dapat mempercayai hasil pemeriksaan secara keseluruhan. Periksa pula keadaan selaput lendir kelopak mata. Disimpan dan diberi label.e. Pemeriksaan terhadap rambut dimaksudkan untuk membantu identifikasi. diperhatikan pula akan adanya tanda-tanda kekerasan serta kelainan lain yang ditimbulkan oleh penyakit dan sebagainya. Tidak tercatatnya ciriciri yang disebut diatas dapat sangat merugikan karena dapat menyebabkan diragukannya hasil pemeriksaan terhadap mayat secara keseluruhan. 210 . adakah pembuluh darah yang melebar. sedangkan adanya jari lebih pada ibu jari tangan kanan korban saja tidak dilihat/dicatat oleh si pemeriksa). Pada kelopak mata. 10.

13. dilakukan pula pemeriksaan terhadapa kemungkinan terdapatnya tanda kekerasan. Apakah sama pada mata yang kanan dan yang kiri. ini pun harus dicatat. rongga mulut serta gigi geligi. 12. Catat kelainan atau tanda kekerasan yang ditemukan. Perhatikan pula keadaan selaput lendir bola mata akan adanya pelebaran pembuluh darah. bintik perdarahan atau kelainan lain terhadap kornea (selaput bening mata) ditentukan apakah jernih. baik fisiologik (arcus senelis) maupun patologik (leucoma). Periksa dengan teliti keadaan rongga mulut akan kemungkinan terdapatnya benda asing (pada kasus penyumbatan misalnya). Bila terdapat kelainan pada lensa mata. pemakaian mata palsu dan sebagainya. kelainan seperti ptysis bulbi. terutama pada mayat dengan bentuk yang luar biasa karena hal ini mungkin dapat membantudalam identifikasi. Iris (tirai mata) dicatat warnanya untuk membantu identifikasi. Catat pula kelainan yang mungkin ditemukan.Terhadap bola mata. lidah. adakah kelainan. Pemeriksaan terhadap mulut dan rongga mulut Pemeriksaan meliputi bibir. Catat pula kelainan serta tanda kekerasan yang ditemukan. 211 . Periksa apakah dari lubang telinga dan hidung keluar cairan/darah. Pemeriksaan daun telinga dan hidung. Pemeriksaan meliputi pencatatan terhadap bentuk dari daun telinga dan hidung. Perhatikan pupil (teleng mata) dan catat ukurannya.

perwarnaan (staining) dan sebagainya.Terhadap gigi geligi. Data gigi geligi merupakan alat yang sangat berguna untuk identifikasi bila terdapat data pembanding. gigi palsu. Cara kelainan bawaan yang mungkin ditemukan (epispadia. dapat diambil preparat tekan menggunakan kaca obyek yang ditekankan pada daerah glans atau corona glandis yang kemudian dapat dilakukan pemeriksaan terhadap adanya sel epitel vagina menggunakan teknik laboratorium tertentu. kelainan letak.padan mayat wanita. periksa pada keadaan selaput dara dan komisura posterior akan kemungkinan adanya tanda kekerasan. adanya manik-manik yang ditanam dibawah kulit. pencatatan harus dilakukan selengkap-lengkapnya meliputi jumlah gigi yang terdapat. Pada mayat laki-laki. 14. Pada kasus dengan persangkaan telah melakukan persetubuhan beberapa saat sebelumnya. Pemeriksaaan alat kelamin dan lubang pelepasan Kelainan atau tanda kekerasan yang ditemukan harus mendapat perhatian dan dicatat selengkapnya. hypospadia phymosis dan lain-lain). catat apakah alat kelamin mengalami sirkumsisi. juga keluarnya cairan dari lubang kemaluan serta kelainan yang ditimbulkan oleh penyakit atau sebab lain. Pada dugaan telah terjadinya suatu persetubuhan beberapa saat sebelumnya. 212 . Perlu diingat bahwa gigi geligi adalah bagian tubuh yang paling keras dan tahan terhadap kekerasan. gigi geligi yang hilang/patah/mendapat tambalan/bungkus logam.

Pemeriksaan terhadap tanda-tanda kekerasan/luka Pada pemeriksaan terhadap tanda kekerasan/luka yang ditemukan. suntikan. kepingan atau serpihan cat. ikterus. perlu dilakukan pencatatan yang teliti dan obyektif terhadap a. Bekas pengobatan berupa bekas kerokan. pungsi lumbal. Letak luka Pertama tama sebutkan regio anatomis luka yang ditemukan. dan lain-lain. ujung-ujung jari (pada sianosis) atau adanya edema(sembab). Lain-lain Perlu diperhatikan akan kemungkinan terdapatnya a. lumuran aspal dan lain-lain. Jenis luka 213 . mungkin ditemukan anus berbentuk corong yang selaput lendirnya sebagian berubah menjadi lapisan bertanduk dan hilangnya rugae. 16. b. dengan juga mencatat letaknya yang tepat menggunakan koordinat terhadap garis/titik anatomis terdekat.jangan lupa dilakukan pemeriksaan laboratoriumn terhadap cairan/sekret liang senggama. warna kebiruan pada kuku. c. b. tracheotomi. pecahan kaca. 15. Pada mayat yang sering mendapat perlakuan sodomi. Terdapatnya bercak lumpur atau pengotoran lain pada tubuh. Tanda perbendungan. Lubang pelepasan perlu pula mendapat perhatiaan.

terdapatnya luka/tanda kekerasan lain di sekitar luka. perhatikan apakah sudut luka merupakan sudut runcing. luka memar. apakah merupakan luka lecet. d. Pada luka terbuka. membulat atau bentuk lain g. Pada luka yang terbuka sebutkan pula bentuk luka setelah luka dirapatkan. atau bahkan merupakan rongga badan. teratur. Sudut luka Pada luka terbuka. membujur atau miring e. h. Bentuk luka Sebutkan bentuk luka yang ditemukan. jaringan bawah kulit atau otot. Sekitar luka Perhatikan adanya pengototran. Arah luka Dicatat arah luka. atau berbentuk tidak beraturan. f. Ukuran luka Luka diukur dengan teliti. Saluran luka 214 . ukuran luka diukur juga setelah luka yang bersangkutan dirapatkan.Tentukan jenis luka. j. apakah melintang. Tepi luka Perhatikan tepi luka apakah rata. atau luka terbuka c. Dasar luka Perhatikan dasar luka. i.

insisi hanya mencapai kedalaman setebal kulit saja. Pada daerah dada. PEMBEDAHAN MAYAT Pengeluaran Alat Tubuh Mayat yang akan dibedah diletakkan terlentang dengan bagian bahu ditinggikan (diganjal) dengan sepotong balok kecil. Lain-lain Pada luka lecet jenis serut. kepala akan berada dalam keadaan flexi maksimal dan daerah leher tampak jelas. k. pemeriksaan teliti terhadap permukaan luka terhadap pola penumpukan kulit ari yang terserut dapat mengungkapkan arah kekerasan yang menyebabkan luka tersebut.Penentuan saluran luka dilakuakn in situ. insisi kulit sampai kedalaman mencapai permukaan depan 215 . Dengan demikian. 17. Penentuan ini baru dapat ditentukan pada saat dilakukan pembedahan mayat. Pemeriksaan terhadap patah tulang Tentukan letak patah tulang yang ditemukan serta catat sifat/jenis masingmasing patah tulang yang terdapat. Tentukan perjalanan luka serta panjang luka. diteruskan ke arah umbilikus dan melingkari umbilikus di sisi kiri dan seterusnya kembali mengikuti garis pertengahan badan samapai di daerah simfisis pubis. 3 Pada daerah leher.3 Insisi kulit dilakukan mengikuti garis pertengahan badan mulai bawah dagu.

3 216 . kedua jari tangan kiri tersebut berfungsi juga sebagai pemandu (guide) untuk pisau. Di samping berfungsi sebagai pengangkat dinding perut.tulang dada (sternum) sedangkan mulai daerah epigastrium. yang dimulai pada kedua puncak bahu. Dengan jari telunjuk dan jari tengah tangan kiri yang dimasukkan kedalam lubang insisi ini. Pada keadaan tertentu. serta melindungi alat-alat dalam rongga perut dari kemungkinan teriris pisau. 3 Insisi pada dinding perut biasanya dimulai pada daerah epigastrium dengan membuat irisan pendek yang menembus sampai peritoneum. sampai menembus ke dalam rongga perut. Insisi pada daerah dada sebelah kanan dan kiri dipertemukan di garis pertengahan kira-kira setinggi incisura jugularis. atas indikasi kosmetik dapat dipertimbangkan insisi kulit berbentuk huruf Y. Pisau diselipkan diantara dua jari tersebut dan insisi dapat diteruskan sampai simfisis pubis. Dengan inisis berbentuk huruf Y. 3 Insisi bentuk huruf I di atas merupakan insisi yang paling ideal untuk suatu pemeriksaan bedah mayat forensik. bila tidak mengganggu kepentingan pemeriksaan. maka dinding perut dapat ditarik/diangkat ke atas. maka pengeluaran alat-alat leher menjadi lebih sukar.

217 .Gambar 2. Jenis insisi pada autopsi Dengan memegang dinding perut bagian atas dan memuntir dinding perut tersebut ke arah luar (dilakukan ibu jari di sebelah dalam/sisi peritoneum dan 4 jari lainnya di sebelah luar/sisi kulit). Pelepasan dinding dada dilakukan terus ke arah dada bagian atas sampai daerah tulang selangka dan ke samping garis ketiak depan. Dengan demikian. dinding dada dilepaskan dengan memulai irisan pada otot-otot sepanjang arcus costae. Pengirisan terhadap otot dilakukan dengan bagian perut pisau dan bidang pisau (blade) yang tegak lurus terhadap otot.

3 Rongga perut diperiksa dengan mula-mula memperhatikan keadaan alatalat perut secara umum. Bila mayat telah mengalami operasi sebelumnya. Kulit daerah leher yang berada dibawahnya. diperhatikan keadaan lemak bawah kulit serta otot-otot dinding perut. akan tampak selaput lendir yang tidak rata. catat sifat dari cairan tersebut serous. catat tebal masing-masing serta luka-luka bila terdapat.dinding dada telah dibebaskan dari otot-otot pectorales. darah atau cairan keruh. perhatikan pula bagian/alat-alat perut yang mengalami penjahitan. Perhatikan akan adanya tanda kekerasan maupun kelainan-kelainan lainnya. reseksi. Pada selaput lendir yang normal. adakah kelainan volvulus. 3 Kelaianan pada dinding dada dapat merupakan resapan darah. Pada kelainan peritonitis. Perhatikan adakah cairan dalam rongga perut. dan bila terdapat cairan. intususepsi. dan kelainan yang ditemukan dapat dicatat dengan teliti. Bagaimana penyebaran itrai usus (omentum). tampak licin dan halus berwarna kelabu mengkilat. atau tindakan lainnya. dengan membandingkan tinggi diafragma terhadap iga di garis pertengahan selangka (midclavicular line). apakah menutupi seluruh usus-usus kecil. Dinding perut sebelah dalam diperhatikan keadaan selaput lendirnya. Periksalah keadaan usus-usus. 218 . infark. purulen. keruh dengan fibrin yang melekat. tanda-tanda kekerasan lainnya. patah tulang maupun luka terbuka. 3 Tentukan pula sekat rongga badan (diafragma). ataukan mengumpul pada satu tempat akibat adanya kelainan setempat. 3 Pada dinding perut.

Dengan tangan kanan memegang pisau dan telapak tangan kiri menekan punggung pisau. pisau 219 . Autopsi pada rongga dada Rongga dada dibuka dengan jalan mengiris rawan-rawan iga pada tempat setengah sampai datu sentimeter medial dari batas rawan tulang masing-masing iga. rawan iga dipotong mulai dari iga ke 2 terus ke arah kaudal.Gambar 3. Pemotongan ini dapat dilakukan dengan mudah pada mayat yang masih muda karena bagian rawan belum mengalami penulangan. Dengan bagian perut pisau dan bidang pisau (knife blade) yang diletakkan tegak lurus.

irisan dihindarkan dari mengenai manubrium sterni yang keras. 3 Dengan tangan. Periksa pulaakan adanya luka baik pada kandung jantung maupun pada permukaan depan jantung sendiri. pisau dapat diteruskan ke arah medial menyusuri tepi bawah tulang selangka untuk mencapai sendi antara tulang selangka dan tulang dada (articulatio sternoclavicularis) dan memotongnya. 3 220 . Biasanya dengan mencatat bagian kandung jantung yang nampak antara kedua tepi paruparu. Perhatikan apakah rongga kandung jantung terisi oleh cairan atau darah. 3 Iga pertama dipotong dengan meneruskan irisan pada iga kedua ke arah kraniolateral. Kandung jantung yang tampak hanya 1 jari di antara paru-paru menunjukkan keadaan pengembangan paru yang berlebih (pada edema paru atau emfisema paru). Bila ini telah dilakukan pada kedua sisi. 3 Perhatikan pertama-tama letak paru terhadap kedua jantung. paru dapat ditarik ke arah medial dan rongga dada dapat diperiksa. apakah terdapat cairan.digerakkan memotong rawan iga-iga tersebut mulai dari iga kedua sampai daerah arcus costae. Lakukan hal yang sama pada sisi tubuh yang lain. maka bagian depan dinding dada telah dapat dilepaskan. dengan demikian. 3 Kandung jantung dibuka dengan melakukan pengguntingan pada dinding depan mengikuti bentuk huruf Y terbalik. darah. Setelah rawan iga pertama terpotong. atau lainnya.

Gambar 4.pulmonalis. sedangkan usus halus mulai dari jejunum sampai 221 . 3 Untuk pemeriksaan lebih lanjut. Autopsi pada daerah dada Pada dugaan adanya thrombosis a. permukaan depan bilik jantung kanan diiris memanjang dengan septum jantung kurang lebih 1 cm lateral dari septum. Periksa pula akan adanya kelenjar kacangan (thymus) yang terletak disebelah atas dinding depan kandung jantung.pulmonalis. Irisan ini kemudian diperpanjang dengan gunting kearah a. alat-alat leher akan dikeluarkan bersamasama dengan alat rongga dada.

Irisan dimulai tepat dibawah dagu. sampai ke permukaan depan dari tulang belakang dan sedikit menarik alat-alat leher kearah depan bawah. Insisi diperlebar kearah kanan maupun kearah kiri. alat rongga dada diarah kaudal sampai keluar dan rongga paru. 3 Lakukan pemotongan terhadap pembuluh serta saraf yang berjalan di belakang tulang selangka dengan terlebih dahulu menggenggam pembuluhpembuluh dan saraf tersebut.rektum dilepaskan tersendiri dan kemudian alat rongga perut dikeluarkan bersama alat dalam rongga panggul. menembus rongga mulut dari bawah. antara lain adanya benda asing dalam rongga mulut. 3 Pengeluaran alat leher dimulai dengan melakukan pengirisan insersi otototot dasar mulut pada tulang rahang bawah. untuk mencatat kelainan yang ditemukan Pallatum mole kemudian diiris sepanjang perlekatan dengan pallatum durum yang kemudian diteruskan kearah lateral kanan dan kiri. palatum mole. 3 Lepaskan esophagus bagian kaudal dari jaringan ikat sekitarnya dan buatlah dua ikatan di atas diafragma. Lepaskan perlekatan antara paru-paru dengan dinding rongga dada. Lidah ditarik kearah bawah sehingga dapat dikeluarkan melalui tempat bekas irisan. Seluruh alat leher dapat dilepaskan dari perlekatannya. Dengan tangan kanan memegang lidah dan dua jari tangan kiri yang diletakkan pada sisi kanan dan kiri hilus paru. Perhatikan keadaan rongga mulut dan catat kelainan yang mungkin terdapat. bila perlu secara tajam. 3 222 .

alat leher bersama alat rongga dada dapat dikeluarkan seluruhnya. dekat dengan tempat menembusnya duodenum dari arah retroperitoneal. Pada daerah coecum pengirisan dilakukan terhadap mesokolon. lepaskan perlekatan antara kolon dengan lambung. 3 Usus-usus dilepaskan dengan pertama-tama melakukan dua ikatan pada awal jejunum. Mesokolon kembali diiris di sebelah lateral dari kolon descenden dengan memisahkannya juga dari limpa dan ginjal kiri. Dengan tangan kiri memegang pada ujung distal dan mengangkatnya maka mesenterium yang melekatkan usus halus dengan dinding rongga perut dapat diiris dekat pada usus. Kolon sigmoid dapat 223 . Pengirisan dilakukan dengan pisau organ yang bidang pisaunya (knife blade) diletakkan tegak lurus pada usus dan digerakkan maju mundur seperti gerakan menggergaji. lapis demi lapis agar tidak teriris ginjal kanan serta duodenum pars retroperitonealis. dengan meotong mesokolon pada bagian lateral dan kolon ascenden pada daerah ini. Pengirisan seperti itu dilakukan sepanjang usus halus sampai daerah ileum terminalis. Tangan kiri kini digunakan untuk menggenggam bagian bawah alat rongga dada tepat di atas diafragma dan lakukan pengirisan terhadap genggaman tersebut. Pengguntingan dilakukan diantara dua ikatan yang dibuat. agar isi duodenum tidak tercecer. Pemotongan harus dilakukan dengan hatihati.Esophagus digunting di antara kedua ikatan tersebut di atas. Dengan demikian. bagian duodenum ini terletak kaudal terhadap colon transversum. 3 Pada daerah kolon transversum. Secara topografis. kira-kira di garis pertengahan selangka.

3 Rektum dipegang dengan tangan kanan. Pengirisan diteruskan kearah bawah. 3 224 . pengirisan dimulai dengan memotong diafragma dekat pada insersinya pada dinding rongga badan. dapat dilakukan pemeriksaan sepanjang usus tersebut untuk melakukan kelainan. Setelah dilakukan pelepasan usus halus dan usus besar. sebelah kanan dan kiri. lateral dari masingmasing ginjal sampai memotong arteri iliaca communis. baik yang diakibatkan oleh kekerasan berupa luka. akibat penyakit dalam bentuk ulkus atau kelainan lainnya. Pemotong melintang dilakukan dengan patokan setinggi kelenjar prostat pada mayat laki-laki dan setinggi sepertiga proksimal vagina pada mayat perempuan. agar isi rektum dipindahkan kearah kolon sigmoid dan rektum dapat diikat dengan dua ikatan. Kandung kencing serta alat lain dapat dipegang dalam tangan kiri sampai kearah belakang bersamasama rektum. Alat rongga panggul ini kemudian dilepaskan seluruhnya dari perlekatan dengan sekitarnya dan dapat diangkat bersama-sama dengan alat rongga perut yang telah dilepaskan terlebih dahulu. 3 Alat rongga panggul dilepas dengan terlebih dahulu melpas peritoneum di daeerah simfisis (alat rongga panggul terletak retroperitoneal). kemudian diputuskan di antara dua ikatan tersebut. mulai dari bagian distal dan mengurutnya kearah proksimal. Untuk melepaskan rongga perut dan panggul.dilepaskan dari dinding rongga perut dengan memotong mesokolon di bagian belakangnya.

Atap tengkorak selanjutnya dilepas dengan menggunakan pahat berbentuk T (T-chise) dengan jalan mendongkel pada garis penggergajian.1. melingkari kepala kearah puncak kepala (vertex) dan berakhir pada prosessus mastoideus sisi lain.Pemeriksaan pada kepala dimulai dengan membuat irisan pada kulit kepala. penggergajian dilakukan melingkar kearah belakang. Agar penggergajian tidak merusak jaringan otak. melingkar di daerah frontal sejarak kurang lebih 2 sentimeter di atas daun telinga. baik merupakan resapan darah maupun garis retak/patah tulang.2 sentimeter sebelah atass protuberentia occipitalis externa. dilakukan terlebih dahulu penyisiran pada rambut sehingga terjadi garis belahan rambut sepanjang kulit kepala yang akan diiris tersebut. Kelainan yang biasa ditemukan adalah tanda kekerasan. sebaiknya sebelum dilakukan pengirisan pada kulit kepala. dengan penggergajian yang membentuk sudut k. dimulai dari prosessus mastiodeus.1 120 derajat dari garis penggergajian terdahulu. atap tengkorak dapat terpasang kembali tanpa tergelincir/tergeser. Perhatikan dan catat kelainan yang terdapat. penggergajian harus dilakukan hati-hati dan dihentikan setelah terasa tebal tulang tengkorak telah terlampaui. Pengirisan dibuat sampai pisau mencapai periosteum. kearah depan sampai kurang lebih 1-2 sentimeter sampai sejauh protuberentia occipitalis externa. Pada mayat yang lebat rambut kepalanya. baik pada permukaan dalam kulit kepala maupun permukaan luar tulang tengkorak. Hal ini dilakukan agar setelah selesai pemeriksaan. k. Untuk membuka rongga tengkorak. Pada daeerah temporal ini. Kulit kepala kemudian dilepas. 3 225 .

Gambar 5. perdarahan epidural atau kelainan lain. Kelainan dapat berupa luka pada durameter. dan daerah subdural dapat diperiksa akan adanya perdarahan. Autopsi pada kepala Setelah atap tengkorak dilepaskan. Dengan sedikit menekan bagian frontal akan tampak falk cerebri yang dapat dipotong atau digunting sampai dasar tengkorak. 3 Kemudian perhatikan adanya kelainan baik pada permukaan dalam atap tengkorak maupun pada durameter yang kini tampak. antara bagian otak dan tulang tengkorak. Durameter kemudian digunting mengikuti garis penggergajia. Kedua jari tangan kiri tersebut kemudian dapat sedikit mengangkat bagian frontal dan memperlihatkan 226 . pertama-tama lakukan penciuman terhadap bau yang keluar sebab pada beberapa jenis keracunan dapat tercium bau yang khas. 3 Otak dikeluarkan dengan pertama-tama memasukkan dua jari tangan kiri di garis pertengahan daerah frontal. penggumpalan nanah dan sebagainya.

Carotis interna yang memasuki otak. tentorium cerebella sisi lainnnya juga dipotong. otak kecil niscaya akan tertinggal dalam rongga tengkorak.opticus. 3 Dengan tangan kiri menyanggah daerah bagian occipital. Perlu diperhatikan bahwa bila tentorium cerebelli ini tidak dipotong. Dua jari tangan kanan dapat ditempatkan di sisi kanan dan kiri batang otak yang telah terpotong untuk kemudian menarik bagian bawah otak ini dengan gerakkan memutar/meluksir sehingga keluar dari rongga tengkorak. Lidah Pada lidah. Pemotongan lebih lanjut dapat dilakukan pada aa. serta jari-jari tangan kiri sedikit menarik/mengangkat bagian pelipis (temporal) sisi yang lain. Dengan cara yang sama. adakah kelainan bekas gigitan. yang kemudian dipotong sedekat mungkin pada dasar tengkorak. Pengirisan lidah sebaiknya tidak 227 . trachea dan seterusnya sampai meliputi seluruh alat tubuh. esophagus. nn.olfactorius.nn. 3 1. baik yang baru maupun yang lama. serta saraf-saraf otak yang keluar pada dasar otak. Otak biasanya diperiksa terakhir. Potong pula saraf-saraf otak yang keluar pada dasar otak. perhatikan permukaan lidah. 3 Pemeriksaan Organ/Alat Dalam Pemeriksaan organ/alat tubuh biasanya dimulai dari lidah. tentorium cerebella akan jelas tampak dan mudah dipotong dimulai dari foramen magnum ke arah lateral menyusuri tepi belakang tulang karang otak (os petrosum). Dengan memiringkan kepala mayat kesalah satu sisi.

Perhatikan adanya benda asing. darah. adakah selaput. Batang tenggorok (trachea) Pemeriksaan dimulai pada mulut atas batang tenggorokan. maka kelenjar gondok akan terlihat jelas dan dapat dilepaskan dari perlekatannya pada rawan gondok dan trachea. dimulai dari epiglotis. gambaran infeksi. varices). Kelenjar gondok Untuk melihat kelenjar gondok dengan baik. 4. mayat masih tampak berlidah utuh.sampai teriris utuh. 228 . Perhatikan adanya edema. 5. perdarahan dan kelainan lainnya. benda asing. Perhatikan adanya benda-benda asing. keadaan selaput lendir serta kelainan yang mungkin ditemukan (misalnya striktura. agar setelah selesai autopsy. Kerongkongan (oesophagus) Oesophagus dibuka dengan jalan menggunting sepanjanng dinding belakang. 2. serta selaput lendirnya. otot-otot terlebih dahulu dilepaskan dariperlekatannya di sebelah belakang. Tonsil Perhatikan penampang tonsil. busa. Pembukaan trachea dilakukan dengan melakukan pengguntingan dinding belakang (bagian jaringan ikat pada cincin trachea) sampai mencapai cabang broncus kanan dan kiri. Perhatikan pula pita suara dan kotak suara. nanah dan sebagainya 3. Setelah otot leher ini terangkat.

Bila kekerasan pada leher mengenai arteri ini. Serta bintik perdarahan. Tentukan permukaan paru-paru. 8. penjeratan. Pada paru yang mengalami emphysema. Perhatikan warnanya.6. resapan darah. Tulang lidah (os hyoid). dan sebagainya. rawan gondok (cartilage thyroidea). bulla. Rawan gondok dan rawan cincin seringkali juga menunjukkan resapan darah pada kasus kekerasan pada daerah leher (pencekikan. Paru-paru Kedua paru masing-masing diperiksa tersendiri. Pada permukaannya perhatikan akan adanya perdarahan berbintik serta kemungkinanan adanya kelainan lain. resapan darah. 229 . kadang-kadang ditemukan kerusakan pada intima disamping terdapatnya resapan darah. Kelenjar kacangan (Thynus) Kelenjar kacangan terdapat melekat di sebelah atas kandung jantung. Perhatikan adanya patang tulang. 7. luka. gantung). dan rawan cincin (cartilago cricoidea) Tulang lidah kadang-kadang ditemukan patah unilateral pada kasus pencekikan. Arteria carotis interna Arteri carotis comunis interna biasanya tertinggal melekat pada permukaan depan ruas tulang leher. bercak perdarahan akibat aspirasi darah ke dalam alveoli (tampak pada permukaan paru sebagai bercak berwarna merah-hitam dengan batas tegas). 9. dapat ditemukan cekungan bekas penekanan iga.

perabaan dapat menjadi padat atau keras. Gambar 6. luka atau bintik-bintik perdarahan. Perhatikan akan adanya resapan darah. Pada autopsi jantung.Perabaan paru yang normal terasa seperti meraba spon/karet busa. ikuti sitematika pemotongan dinding jantung yang dilakukan dengan mengikuti aliran darah di dalam jantung. Pada paru dengan proses peradangan. Jantung Perhatikan besarnya jantung. Posisi in dipertahankan terus sampai autopsi jantung 230 . bandingkan dengan kepalan tinju kanan mayat. Pada penampang paru ditentukan warnanya serta dicatat kelainan yang mungkin ditemukan. Autopsi jantung3 Pertama-tama jantung diletakkan dengan permukaan ventral menghadap ke atas. 10.

Katup diukur lingkarannya dan keadaan katup semilunaris pulmonal. apeks jantung sebelah kiri dari septum ditusuk. Irisan pada dinding bilik depan kanan dilakukan menggunakan gunting. 1 sentimeter di bawah katup. Mulai dari apex. Dengan pisau panjang. Tebal dinding bilik kanan diukur dengan terlebih dahulu membuat irisan tegak lurus pada dinding belakang bilik kanan ini. Dengan gunting buka pula aurikel kanan. Dengan pisau panjang.pulmonales. yang disusul dengan pembukaan aurikel kiri. Pembukaan serambi dan bilik kiri dimulai dengan pengguntingan dinding belakang vv. Perhatikan akan adanya kelainan baik pada aurikel akanan maupun atrium kanan. Katup diukur lingkarannya dan keadaan daun katupnya dinilai. Tebal otot jantung sebelah kiri diukur pada irisan tegak yang dibuat 1 sentimeter di sebelah bawah katup pada dinding belakang. Lalu diiris ke arah lateral sehingga biliki kiri terbuka. Dengan gunting dinding 231 . Lakukan pengukuran lingkaran katup mitral serta penilaian terhadap keadaan katup. masuki bilik jantung kanan sampai ujung pisau menembus apeks di sisi kanan septum dengan mata pisau mengarah ke lateral.selesai. Vena cava superior dan inferior dibuka dengan jalan menggunting dinding belakang vena-vena tersebut. ke arah atas menggunting dinding depan arteria pulmonalis dan memotong katup semilunaris pulmonal. Menyusuri septum pada jarak setengah sentimeter.

Aorta thoracalis 232 . Kedaan lumen serta kemungkinan terdapatnya thrombus. Lingkaran katup pulmonal sekitar 7 sentimeter dan aorta sekitar 6. terus ke arah atas.5 sentimeter. Membuka juga dinding depan aorta dan memotong katup semilunaris. aorta. Tebal otot bilik kanan 3 sampai 5 milimeter sedangkan kiri sekitar 14 milimeter. ukuran jantung sebesar kepalan tangan kanan mayat. Coronaria kiri berjalan di sisi depan septum dan a.depan bilik kiri dipotong menyusuri septum pada jarak ½ sentimeter. Pada penampang irisan diperhatikan tebal dinding arteri. 3 11.5 sentimeter. Nilai pengukuran pada jantung normal orang dewasa adalah sebagai berikut. Ukuran lingkaran katup serambi bilik kanan sekitar 11 sentimeter.koronaria sama sekali tidak boleh menggunakan sonde. Berat sekitar 300 gram. Pemeriksaan nadi jantung ini dilakukan dengan membuat irisan melintang sepanjang jalannya pembuluh darah A. kiri dan kanan. Karena ini akan dapat mendorong thrombus yang mungkin terdapat. baik merupakan kelainan yang bersifat degeneratif maupun kelainan bawaan. Untuk memeriksa keadaan a. Coronaria kanan keluar dari dinding pangkal aorta ke arah belakang. Lingkaran katup diukur dan daun katup dinilai.Coronaria. Pada daerah katup semilunaris aorta dapat ditemukan dua muara aa. yang kiri sekitar 9. 3 Septum jantung dibelah untuk melihat kelainan otot.

pekapuran. berada antara permukaan belakang hati dan permukaan bawah diafragma. ateroma atau pembentukan aneurisma. Perhatikan dinding aorta terhadap adanya penimbunan.Pengguntingan pada dinding belakang aorta thoracalis dapat memperlihatkan permukaan dalam aorta. Perhatikan kemungkinan terdapatnya deposit kapur. 12. Aorta abdominalis Bloc organ perut dan panggul diletakkan diatas meja potong dengan permukaan belakang menghadap ke atas. atau atheroma. tertutup oleh jaringan lemak. Bila korban mendarat dengan kedua kaki terlebih dahulu. Perhatikan pula muara dari pembuluh nadi yang keluar dari aorta abdominalis ini. terutama muara aa. 13. Anak ginjal (glandula suprarenalis) Anak ginjal kanan terletak dibagian mediokranial dari kutub atas ginjal kanan. Aorta abdominalis digunting dinding belakangnya mulai dari tempat pemotongan aa. Perhatikan apakah terdapat kelainan pada dinding pembuluh darah yang mungkin merupakan dasar dideritanya hipertensi renal bagi yang bersangkutan. Seringkali ditemukan robekan melintang pada aorta thoracalis.renalis kanan dan kiri dibuka sampai memasuki ginjal. Kadangkadang pada aorta dapat ditemukan tanda-tanda kekerasan merupakan resapan darah atau luka.iliaca comunis kanan dan kiri. Anak ginjal kemudian dibebaskan 233 . Pada kasus kematian bunuh diri dengan jalan menjatuhkan diri dari tempat tinggi.

Juga perhatikan pelvis renis akan kemungkinan terdapatnya batu ginjal. Pada ginjal yang mengalami peradangan. ureter. ukuran penampang. Setelah simpai ginjal dilepaskan. Anak ginjal kiri terletak dibagian medio-kranial kiri kutub atas ginjal kiri. dan kandung kencing Adanya trauma yang mengenai daerah ginjal seringkali menyebabkan resapan darah pada capsula. ginjal dapat dilepaskan. luka-luka ataupun kista-kista retensi. Perhatikan kemungkinan terdapatnya batu. juga tertutup dalam jaringan lemak. pengguntingan anak ginjal akan memberikan penampang dengan bagian korteks dan medula yang tampak jelas. terus mencapai vesika urinaria.dari jaringn sekitarnya dan diperiksa terhadap kemungkinan adanya kelainan ukuran. Pada anak ginjal yang normal. resapan darah dan sebagainya. simpai ginjal mungkin akan melekat erat dan sulit dilepaskan. 234 . Dengan melakukan pengirisan di bagian lateral kapsula. terletak antara ekor kelenjar liur perut (pankreas) dan diafragma. isi saluran serta keadaan mukosa. 14. perhatikan gambaran korteks dan medula spinalis. Ginjal. tanda peradangan. Adakah kelainan berupa resapan darah. lakukan terlebih dahulu pemeriksaan terhadap permukaan ginjal. nanah dan sebagainya. Ureter dibuka dengan meneruskan pembukaan pada pelvis renalis. Pada penampang ginjal.

kista kecil. berwarna ungu dengan perabaan lunak kenyal. berwarna merah-coklat. Kadangkala pada permukaan hati dapat ditemukan kelainan berupa jaringan ikat. Buatlah irisan penampang limpa. Limpa dan kelenjar getah bening Limpa dilepaskan dari sekitarnya. Untuk mengetahui ada tidaknya sumbatan pada saluran empedu. Limpa yang normal menunjukkan permukaan yan berkeriput. Hati yang normal menunjukkan penampang yang jelas gambaran hatinya. Pada hati yang telah lama mengalami perbendungan dapat ditemukan gambaran hati pula. berwarna coklat-merah dan bila dikikis dengan 235 . dapat dilakukan pemeriksaan dengan jalan menekan kandung empedu ini sambil memperhatikan muaranya pada duodenum (papilla vateri). hati normal memberikan perabaan yang kenyal. untuk mengetahui ada tidaknya sumbatan pada saluran empedu. limpa normal mempunyai gambaran limpa yang jelas.Kandung kencing dibuka dengan jalan menggunting dinding depannya mengikuti bentuk huruf T. ini menandakan saluran empedu tidak tersumbat. Bila tampak cairan coklat-hijau keluar dari muara tersebut. Kandung empedu diperiksa ukurannya serta diraba akan kemungkinan terdapatnya batu empedu. 15. yang pada keadaan biasa menunjukkan permukaan yang rata dan licin. Tepi hati biasanya tajam. Hati dan kandung empedu Pemeriksaan dilakukan terhadap permukaan hati. Pada perabaan. permukaan yan berbenjol-benjol. Perhatikan isi serta selaput lendirnya. bahkan abses.

16. Usus diperiksa akan kemungkinan terdapat darah dalam lumen serta kemungkinan terdapat darah dalam lumen serta kemungkinan terdapatnya kelainan bersifat ulseratif. Selaput lendir lambung diperiksa terhadap kemungkinan adanya erosi.punggung pisau. Lambung. Jangan lupa mencatat ukuran dan berat limpa. dengan permukaan yang berbelah-belah dan perabaan yang kenyal. Perhatikan permukaan luar dari otak dan cacat kelainan yang ditemukan. Kelenjar liur perut yang normal menunjukkan waran kelabu agak kekuningan. usus halus dan usus besar Lambung dibuka dengan gunting curvatura mayor. Kelenjar liur perut (pancreas) Pertama-tama lepaskan lebih dahulu kelenjar liur perut ini dari sekitarnya. Adakah perdarahan subdural. otak kecil. polip dan lain-lain. perdarahan subarakhnoid. ulserasi. Catat pula bila ditemukan kelenjar getah bening regional yang membesar. Otak besar. akan ikut jaringan penampang limpa. Perhatikan ukuran dan beratnya. kontusio jaringan otak atau kadangkala bahkan sampai terjadi laserasi. perdarahan/resapan darah. Perhatikan isi lambung dan simpan dalam botol atau kantong plastik bersih bila isi lambung ingin diperlukan untuk pemeriksaan toksikologik atau pemeriksaan laboratorik lainnya. 18. 236 . Cata bila ada kelainan. dan batang otak. 17.

adakah penipisan dinding akibat aneurysma. Otak kecil ini kemudian dipisahkan 237 . Pisahkan otak kecil dan otak besar dengan melakukan pemotongan pada pedunculus serebri kanan dan kiri. girus otak akan tampak mendasar dan sulkus tampak menyempit. Nilai keadaan pembuluh darah pada sirkulus. Pada keadaan peningkatan tekanan intrakranial akibat edema serebri misalnya. adakah penebalan dinding akibat kelainan ateroma. perhatikan keadaan sirkulus Willisi. sehingga bagian bawah serebellum tampak menonjol. Irisan otak besar Pada oedema cerebri. usahakn agar dapat ditemukan sumber perdarahan tersebut.Gambar 7. Perhatikan pula klemungkinan terdapatnya tanda penekanan yang menyebabkan sebagian permukaan otak menjadi datar. Pada daerah ventrak otak. adakah perdarahan. Bila terdapat perdarahan hebat. Perhatikan pula bentuk serebelum. dapat terjadi herniasi serebllum ke arah foramen magnum.

baik yang bilateral maupun yang unilateral akibat gangguan perdarahan oleh arteri. Adanya perdarahan di daerah batang otak biasanya mematikan. Batang otak diiris melintang mulai daerah pons. abses otak.juga dari batang otak dengan melakukan pemotongan pada pedunculus serebelli. Lakukan pemotongan otak besar secara koronal/melintang. 238 . medulla oblongata sampai ke bagian proksimal medulla spinalis. Alat kelamin dalam (genitalia interna) Pada mayat laki-laki. 19. catatlah kelainan perdarahan. testis dapat dikeluarkan dari scrotum melalui rongga perut. Otak kecil diperiksa penampangnya dengan membuat sautu irisan melintang. keracunan barbiturat serta keadaan lain yang menimbulkan hipoksia jaringan otak. perhatikan penampang irisan. perdarahan berbintik pad substansi putih akibat emboli. Perhatikan ukuran. Jadi tidak dibuat irisan baru pada scrotum. Infark jaringan otak.lenticulostriata dan sebagainya. Tempa pemotongan haruslah sedemikian rupa sehingga struktur penting dalam otak besar dapat diperiksa dengan teliti. perlunakan dan sebagainya yang mungkin ditemukan. Kelainan yang dapat ditemukan pada penampang otak besar antara lain adalah : perdarahan pada korteks akibat contusio cerebri. Perhatikan kemungkinan adanya perdarahan. Otak besar diletakkan dengan bagian ventral menghadap pemeriksa. perdarahn intracerebral akibat pecahnya a.

konsistensinya serta kemungkinan ada resapan darah. Uterus dibuka dengan membuat irisan berbentuk huruf T pada dinding depan melalui saluran serviks serta muara kedua saluran telus pada fundus uteri. Timbang dan catatlah berat masing-masing alat/organ Sebelum mengembalikan organ-organ (yang telah diperiksa secara makroskopis) kembali ke dalam tubuh mayat. Pada mayat wanita. perhatikan bentuk serta ukuran kedua indung telur. 20. Kelenjar prostat diperhatikan ukuran dan konsistensinya. perhatikan pula bentuk dan ukuran epididimis. isi rongga rahim serta kemungkinan terdapatnya kelainan lain. Potongan ini kemudian dimasukkan ke dalam botol yang berisi cairan fiksasi yang dapat merupakan larutan formalin 10% (=larutan 239 . resapan darah ataupun lukan akibat tindakan abortus provokatus. Pada uterus diperhatikan kemungkinan terdapatnya perdarahan. Perhatikan keadaan selaput lendir uterus. tebal dinding. saluran telur dan uterus sendiri. Potongan jaringan untuk pemeriksaan histopatologik diambil dengan dengan tebal maksimal 5 mm. pertimbangkan terlebih dahulu kemungkinanan diperlukannya organ guna pemeriksaan histopatologik. Usahakan mengambil bagian organ di daerah perbatasan antara bagian yang normal dan yang mengalami kelainan.

agar digunakan alkohol 90%. baru kemudian kulit kepala dijahit dengan rapi. Pada pengiriman bahan untuk pemeriksaan toksikologik. contoh bahan pengawet agar juga turut dikirimkan di samping keterangan klinik dan hasil sementera autopsi atas kasus tersebut.Jahitkan kembali tulang dada dan iga yang dilepaskan pada saat membuka rongga dada. T. Perawatan jenazah setelah Autopsi Setelah autopsi selesai. Lidah dikembalikan ke dalamrongga mulut sedangkan jaringan otak dikembalikan ke dalam rongga tengkorak.3 Jahitlah kulit dengan rapi menggunakan benang yang kuat.Atap tengkorak diletakkan kembali pada tempatnya dan difiksasi dengan menjahit otot temporalis.3 240 . semua organ tubuh dimasukkan kembali ke dalam organ tubuh.Bersihkanlah tubuh mayat dari darah sebelum mayat diserahkan kembali kepada pihak keluarga. Sedapat mungkin setiap jenis organ ditaruh dalam botol tersendiri.formaldehida 4%) atau alkohol 90-96%. dengan jumlah cairan fiksasi sekitar 20-30 kali volume potongan jaringan yanng diambil. Jumlah organ yang perlu diambil untuk pemeriksaan toksikologi disesuaikan dengan kasus yang dihadapi serta ketentuan laboratorium pemeriksa. Bila diperlukan pengawetan. mulai dari bawah sampai ke daerah simfisis.

melakukan interpretasi atas penemuan-penemuan tersebut. teknik Ghon. yaitu dihukum berdasarkan Pasal 222 KUHP. Terdapat empat teknik dala autopsi yaitu teknik Virchow. teknik Letulle. yaitu Autopsi Anatomi. Berdasarkan tujuannya dikenal tiga jenis Autopsi. 241 . autopsi forensik tidak diperlukan izin keluarga seperti pada autopsi klinik atau anatomik. 3. menerangkan penyebabnya serta mencari hubungan sebab akibat antara kelainan-kelainan yang ditemukan dengan penyebab kematian 2. Autopsi adalah pemeriksaan terhadap tubuh mayat. Bagi siapa saja yang menghalang-halangi pelaksanaan autopsi. teknik Rokitansky. Autopsi Klinik dan Autopsi Forensik/Autopsi Mediko-Legal.BAB III KESIMPULAN Dari makalah ini dapat ditarik beberapa kesimpulan: 1. meliputi pemeriksaan terhadap bagian luar maupun bagian dalam. dengan tujuan menemukan proses penyakit dan atau adanya cedera. 4.

DAFTAR PUSTAKA

1. Sampurna B. Peran Ilmu Forensik dalam kasus-kasus Asuransi. 2008. Indonesian Journal of Legal and Forensic Sciences. 2008; 1 (1):17-20 2. Budiyanto, Arif. Dkk. Ilmu kedokteran forensik. Jakarta: Bagian Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia: 1997. Hal:1-8 3. Staf Kedokteran forensik FK UI. Teknik autopsi forensik. cetakan ke 3. Jakarta: Bagian kedokteran forensik fakultas kedokteran UI. 1996. Hal:1-54 4. Apuranto A, Hoeiyanto. Buku ajar ilmu kedokteran forensik & medikolegal edisi ketiga. Surabaya. Bagian ilmu kedokteran forensik &medikolegal fakultas kedokteran universitas airlangga. 2007. Hal: 208-252 5. Dahlan S. Ilmu kedokteran forensik pedoman bagi dokter dan penegak hukum. cetakan ke 6. badan penerbit universitas diponegoro semarang. 2008. Hal 177-183 6. Hasymi MA, Ayunazhari I, Nanda FD, Sari DO, Suminarti. Mind’s Forensic 1th edition. Banjarmasin: Bagian Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran Universitas Lambungmangkurat. 2012. Hal: 146-147

242

TOKSIKOLOGI FORENSIK

BAB I PENDAHULUAN

A.

Latar Belakang Pemeriksaan forensik dalam kasus keracunan, dapat dibagi dalam dua

kelompok, yang pertama bertujuan untuk mencari penyebab kematian, misalnya kematian akibat keracunan morfin, sianida, karbon monoksida, keracunan insektisida, dan lain sebagainya, dan kelompok yang kedua – dimana sebenarnya 243

yang terbanyak kasusnya, akan tetapi belum banyak disadari – adalah untuk mengetahui mengapa suatu peristiwa, misalnya peristiwa pembunuhan, kecelakaan lalu lintas, kecelakaan pesawat udara dan perkosaan dapat terjadi. Dengan demikian, tujuan yang kedua bermaksud untuk membuat suatu rekaan rekonstruksi atas peristiwa yang terjadi. Bila pada tujuan pertama dari pemeriksaan atas diri korban diharapkan dapat ditemukan reaksi atau obat dalam dosis yang mematikan, maka tidaklah demikian pada yang kedua, dimana disini yang perlu dibuktikan atau dicari korelasinya adalah sampai sejauh mana reaksi obat tersebut berperan dalam memungkinkan terjadinya berbagai peristiwa tadi. Dalam ilmu kedokteran kehakiman, keracunan dikenal sebagai salah satu penyebab kematian yang cukup banyak sehingga keberadaannya tidak dapat diabaikan. Jumlah maupun jenis reaksi pun semakin bertambah, apalagi dengan makin banyaknya macam-macam zat pembasmi hama. Selain karena faktor murni kecelakaan, racun yang semakin banyak jumlah dan jenisnya ini dapat disalahgunakan untuk tindakan-tindakan kriminal. Walaupun tindakan meracuni seseorang itu dapat dikenakan hukuman, tapi baik di dalam kitab UndangUndang Hukum Pidana maupun di dalam Hukum Acara Pidana (RIB) tidak dijelaskan batasan dari keracunan tersebut, sehingga banyak dipakai batasanbatasan racun menurut beberapa ahli, untuk tindakan kriminal ini, adanya racun harus dibuktikan demi tegaknya hukum. Arsenic, As, banyak digunakan sebagai bahan campuran obat pembasmi tikus (rodentisida). Arsen juga banyak digunakan dalam masyarakat sebagai hasil

244

industri, misalnya sebagai bahan pengawet, bahan cat, insektisida, herbisida, campuran dalam pupuk, maupun mencemari lingkungan masyarakat karena dampak dari industri. Arsen juga digunakan dalam bidang pengobatan. Dalam hal ini digunakan arsen jenis tertentu dan dalam dosis tertentu pula, seperti neosalveran untuk pengobatan penyakit sifilis, frambusia (sampar / patek), sebagai salah satu campuran dalam tonikum, dan obat-obat lainnya seperti solarson, optarson, arsentriferrol, liquor arsenicallis, dan lain-lain. Senyawaan arsen lainnya ialah Arsine, AsH3 (arsenicum lekas uap), Arsen Trioxide (As2O3), Arsen putih, As2S2, As2S3. Karena sifat beracunnya, mudahnya didapat serta mudahnya digunakan oleh masyarakat, maka wajarlah jika ada yang menyalahgunakannya untuk hal-hal yang bertentangan dengan hukum, misalnya pada kasus pembunuhan, yang bisa dilakukan secara langsung maupun perlahan-lahan dengan gejala yang tidak jelas. Dalam menghadapi kasus yang demikian, maka peranan kedokteran kehakiman sangatlah penting dalam menentukan apakah korban benar-benar meninggal karena arsen, atau sebab lain. Selain dengan pemeriksaan otopsi, dokter juga bekerja sama dengan bagian toksikologi dalam menentukan adanya arsen dan jumlahnya yang ada pada korban. Pada orang-orang sehat, juga bisa ditemukan arsen, misalnya pada orang yang minum tonikum yang mengandung arsen. Oleh karena itu dalam menentukan sebab kematian karena arsen, selain ditemukannya arsen dalam jaringan atau organ, juga harus dapat ditentukan kuantitas dari arsen yang ada dalam jaringan atau organ tersebut. Dan yang tak kalah pentingnya, walaupun mungkin tidak begitu banyak terjadi, keracunan arsen

245

dapat berupa kontaminasi lingkungan dari zat-zat atau benda hasilan atau yang mengandung arsen. Makalah ini bertujuan membahas berbagai hal mengenai toksikologi forensik ataupun toksikologi secara umum meliputi: pengertian, arti penting, macam-macam pemeriksaan racun dan analisa toksikologi. Hal-hal demikian diperlukan untuk memperoleh pemahaman pemahaman dalam penanganan dan pemeriksaan toksikologi yang komprehensif.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Racun Pengertian racun Menurut Taylor, racun adalah suatu zat yang dalam jumlah relatif kecil (bukan minimal), yang jika masuk atau mengenai tubuh seseorang akan menyebabkan timbulnya reaksi kimiawi (efek kimia) yang besar yang dapat menyebabkan sakit, bahkan kematian. Menurut Gradwohl racun adalah substansi yang tanpa kekuatan mekanis, yang bila mengenai tubuh seorang (atau masuk), akan menyebabkan gangguan fungsi tubuh, kerugian, bahkan kematian.

246

Sehingga jika dua definisi di atas digabungkan, racun adalah substansi kimia, yang dalam jumlah relatif kecil, tetapi dengan dosis toksis, bila masuk atau mengenai tubuh, tanpa kekuatan mekanis, tetapi hanya dengan kekuatan daya kimianya, akan menimbulkan efek yang besar, yang dapat menyebabkan sakit, bahkan kematian.

Jalan masuk Racun dapat masuk ke dalam tubuh seseorang melalui beberapa cara: 1. Melalui mulut (peroral / ingesti). 2. Melalui saluran pernafasan (inhalasi) 3. Melalui suntikan (parenteral, injeksi) 4. Melalui kulit yang sehat / intak atau kulit yang sakit. 5. Melalui dubur atau vagina (perektal atau pervaginal) (Idris, 1985)

Klasifikasi racun Racun dapat digolongkan sebagai berikut: I. Pestisida A. Insektisida 1. Organoklorin a. Derivat Chlorinethane: DDT b. Derivat Cyclodiene : Thiodane, Endrim, Dieldrine, Chlordan,

Aldrin, Heptachlor, toxapene. c. Derivat Hexachlorcyclohexan : Lindan, myrex.

247

Pentachlorphenal 4. Felpet 3. Parathion. Chloropheoxy 2. Pyriminil 248 . Norbomide 4. Amide: Propanil 7. Red Squill 3. Ikatan Karbonat: Prepham. Sodium Fluoroacetate dan Fluoroacetamide 5. Diazinon. Mobam. Bipyridye C. 3. Ikatan Urea 5. Caplan 2.2. Rodentisida 1. Ikatan Dinitrophenal 3. Ikatan Triasine: Atrazine 6. Barbave 4. Carbamat: Carbaryl. Strychnine 7. Warfarin 2. Herbisida 1. Hexachlorphenal D. Aldicarb. Fungisida 1. Propaxur. TEPP. Malathion. B. Fenthoin. Organofosfat: DFP. Aepha Naphthyl Thiourea 6.

8. Bahan obat-obatan V. 5. logam berat. Misalnya: desinfektan. Misalnya: asam dan basa kuat. Racun-racun yang banyak dipakai dalam industri / laboratorium. Racun-racun yang banyak digunakan dalam lapangan pertanian. deterjen. insektisida. anti depresan. Racun (tanaman dan hewan) Berdasarkan sumber dan tempat dimana racun-racun tersebut mudah didapat. Phosfat Arsen Trioxyde II. perkebunan. 249 . dsb. obat penenang. maka racun dapat dibagi menjadi lima golongan. yaitu: 1. Racun-racun yang banyak terdapat dalam rumah tangga. Anorganik: Zinc Phosfat Thallium Sulfat Phosfor Barium Carbamat Al. analgetika. Misalnya: pestisida. dsb. 3. herbisida. Racun-racun yang terdapat di alam bebas. 2. Misalnya: sedatif hipnotis. 4. dan sebagainya. Bahan Industri III. Bahan untuk rumah tangga IV. Racun-racun yang banyak dipakai dalam dunia kedokteran / pengobatan.

Digitalis. racun-racun dalam golongan ini biasanya memiliki akibat / afinitas pada salah satu sistem atau organ tubuh yang lebih besar bila dibandingkan dengan sistem atau organ tubuh lainnya. 250 . Misalnya: Narkotik. asam dan basa kuat. Racun bersifat anastetik: kokain. barbiturate. disertai dengan peradangan. racun jamur serta binatang. 2. racun singkong. bahkan kematian yang dapat disebabkan oleh syok akibat nyerinya tersebut atau karena peradangan sebagai kelanjutan dari perforasi yang terjadi pada saluran pencernaan. Racun bersifat iritan: arsen. Strychine terutama berpengaruh terhadap sumsum tulang belakang. dan alkohol terutama berpengaruh pada susunan syaraf pusat. Racun-racun yang bekerja secara setempat ini.Misalnya: opium ganja. biasanya akan menimbulkan sensasi nyeri yang hebat. Mekanisme kerja racun 1. asam karbol. Racun yang bekerja secara setempat (lokal) Misalnya: Racun bersifat korosif: lisol. Racun yang bekerja secara umum (sistemik) Walaupun kerjanya secara sistemik. asam oksalat terutama berpengaruh terhadap jantung. HgCl2.

Racun yang bekerja secara setempat dan secara umum Misalnya: Asam oksalat Asam karbol Selain menimbulkan rasa nyeri (efek lokal) juga akan menimbulkan depresi pada susunan syaraf pusat (efek sistemik). Cantharides dan HgCl2 terutama berpengaruh terhadap ginjal.- CO. Cara pemberian Setiap racun baru akan menimbulkan efek yang maksimal pada tubuh jika cara pemberiannya tepat. 1989). Arsen Garam Pb Faktor-faktor yang mempengaruhi kerja racun 1. 3. Insektisida golongan hidrokarbon yang di-chlor-kan dan phosphorus terutama berpengaruh terhadap hati. Hal ini dimungkinkan karena sebagian dari asam karbol tersebut akan diserap dan berpengaruh terhadap otak (Nawawi. Misalnya jika racun-racun yang berbentuk gas tentu akan memberikan efek maksimal bila masuknya ke dalam tubuh secara inhalasi. dan HCN terutama berpengaruh terhadap darah dan enzim pernafasan. 251 . Jika racun tersebut masuk ke dalam tubuh secara ingesti tentu tidak akan menimbulkan akibat yang sama hebatnya walaupun dosis yang masuk ke dalam tubuh sama besarnya.

dan yang paling lambat jika racun tersebut masuk ke dalam tubuh melalui kulit yang sehat. Dan sebaliknya pula kita tidak boleh tergesa-gesa menentukan sebab kematian seseorang karena penyakit tanpa melakukan penelitian yang teliti.Berdasarkan cara pemberian. dan s. maka umumnya racun akan paling cepat bekerja pada tubuh jika masuk secara inhalasi. Hal ini dapat dimengerti karena pada orang-orang tersebut. walaupun racun yang masuk ke dalam tubuhnya belum mencapai dosis toksis. 2. justru anak-anak akan lebih tahan. kemudian secara injeksi (i. maka penyerapan racun pada umumnya jelek. i.m. 252 . demikian pula halnya dengan ekskresinya. b. biasanya akan lebih mudah keracunan bila dibandingkan dengan orang sehat. Pada mereka yang menderita penyakit yang disertai dengan peningkatan suhu atau penyakit pada saluran pencernaan. Keadaan tubuh a. ingesti. kita tidak boleh terburu-buru mengambil kesimpulan bahwa kematian penderita disebabkan oleh racun. Umur Pada umumnya anak-anak dan orang tua lebih sensitif terhadap racun bila dibandingkan dengan orang dewasa. absorbsi melalui mukosa. sehingga jika pada penderita tersebut terjadi kematian.v. misalnya pada kasus keracunan arsen (tipe gastrointestinal) dimana disini gejala keracunannya mirip dengan gejala gastroenteritis yang lumrah dijumpai. Kesehatan Pada orang-orang yang menderita penyakit hati atau penyakit ginjal. proses detoksikasi tidak berjalan dengan baik. Tetapi pada beberapa jenis racun seperti barbiturate dan belladonna.c).

Dalam hal ini tidak boleh dilupakan akan adanya faktor toleransi. Dari segi ilmu kehakiman. yang dalam beberapa waktu tidak menggunakan narkotik lagi. karena sikorban sangat rentan terhadap preparat-preparat tersebut.c. yaitu karena terjadinya toleransi. Tetapi perlu diingat bahwa toleransi itu tidak selamanya menetap. Hipersensitif (alergi – idiosinkrasi) Banyak preparat seperti vitamin B1. 3. Racunnya sendiri a. Dosis Besar-kecilnya dosis racun akan menentukan berat-ringannya akibat yang ditimbulkan. penisilin. keadaan tersebut tidak boleh dilupakan. streptomisin dan preparatpreparat yang mengandung yodium menyebabkan kematian. Menurunnya toleransi sering terjadi misalnya pada pencandu narkotik. Ada tidaknya indikasi pemberi preparat tersebut dapat mempengaruhi berat-ringannya hukuman yang akan dikenakan pada pemberi preparat tersebut. 253 . Menurunnya toleransi inilah yang dapat menerangkan mengapa pada para pencandu tersebut bisa terjadi kematian. kita harus menentukan apakah kematian korban memang benar disebabkan oleh karena hipersensitif dan harus ditentukan pula apakah pemberian preparat-preparat mempunyai indikasi. Kebiasaan Faktor ini berpengaruh dalam hal besarnya dosis racun yang dapat menimbulkan gejala-gejala keracunan atau kematian. walaupun dosis yang digunakan sama besarnya. d.

dan intoleransi individual. Pada intoleransi, gejala keracunan akan tampak walaupun racun yang masuk ke dalam tubuh belum mencapai level toksik. Keadaan intoleransi tersebut dapat bersifat bawaan / kongenital atau intoleransi yang didapat setelah seseorang menderita penyakit yang mengakibatkan gangguan pada organ yang berfungsi melakukan detoksifikasi dan ekskresi. b. Konsentrasi

Untuk racun-racun yang kerjanya dalam tubuh secara lokal misalnya zat-zat korosif, konsentrasi lebih penting bila dibandingkan dengan dosis total. Keadaan tersebut berbeda dengan racun yang bekerja secara sistemik, dimana dalam hal ini dosislah yang berperan dalam menentukan berat-ringannya akibat yang ditimbulkan oleh racun tersebut. c. Bentuk dan kombinasi fisik

Racun yang berbentuk cair tentunya akan lebih cepat menimbulkan efek bila dibandingkan dengan yang berbentuk padat. Seseorang yang menelan racun dalam keadaan lambung kosong, tentu akan lebih cepat keracunan bila dibandingkan dengan orang yang menelan racun dalam keadaan lambungnya berisi makanan. d. Adiksi dan sinergisme

Barbiturate, misalnya jika diberikan bersama-sama dengan alkohol, morfin, atau CO, dapat menyebabkan kematian, walaupun dosis barbiturate yang diberikan jauh di bawah dosis letal. Dari segi hukum kedokteran kehakiman, kemungkinan-kemungkinan terjadinya hal seperti itu tidak boleh dilupakan, terutama jika menghadapi kasus dimana kadar racun yang ditemukan rendah sekali, dan dalam hal demikian harus dicari kemungkinan adanya racun lain yang

254

mempunyai sifat aditif (sinergitik dengan racun yang ditemukan), sebelum kita tiba pada kesimpulan bahwa kematian korban disebabkan karena reaksi anafilaksi yang fatal atau karena adanya intoleransi. e. Susunan kimia

Ada beberapa zat yang jika diberikan dalam susunan kimia tertentu tidak akan menimbulkan gejala keracunan, tetapi bila diberikan secara tersendiri terjadi hal yang sebaliknya. f. Antagonisme

Kadang-kadang dijumpai kasus dimana seseorang memakan lebih dari satu macam racun, tetapi tidak mengakibatkan apa-apa, oleh karena reaksi-reaksi tersebut saling menetralisir satu sama lain. Dalam klinik adanya sifat antagonis ini dimanfaatkan untuk pengobatan, misalnya nalorfin dan kaloxone yang dipakai untuk mengatasi depresi pernafasan dan oedema paru-paru yang terjadi pada keracunan akut obat-obatan golongan narkotik. (Idris, 1985)

Kriteria diagnosis kasus keracunan 1. Anamnesa yang menyatakan bahwa korban benar-benar kontak dengan racun (secara injeksi, inhalasi, ingesti, absorbsi, melalui kulit atau mukosa). Pada umumnya anamnesa tidak dapat dijadikan pegangan sepenuhnya sebagai kriteria diagnostik, misalnya pada kasus bunuh diri – keluarga korban tentunya tidak akan memberikan keterangan yang benar, bahkan

255

malah cenderung untuk menyembunyikannya, karena kejadian tersebut merupakan aib bagi pihak keluarga korban. 2. Tanda dan gejala-gejala yang sesuai dengan tanda / gejala keracunan zat yang diduga. Adanya tanda / gejala klinis biasanya hanya terdapat pada kasus yang bersifat darurat dan pada prakteknya lebih sering kita terima kasus-kasus tanpa disertai dengan data-data klinis tentang kemungkinan kematian karena kematian sehingga harus dipikirkan terutama pada kasus yang mati mendadak, non traumatik yang sebelumnya dalam keadaan sehat. 3. Secara analisa kimia dapat dibuktikan adanya racun di dalam sisa makanan / obat / zat yang masuk ke dalam tubuh korban. Kita selamanya tidak boleh percaya bahwa sisa sewaktu zat yang digunakan korban itu adalah racun (walaupun ada etiketnya) sebelum dapat dibuktikan secara analisa kimia, kemungkinan-kemungkinan seperti tertukar atau disembunyikannya barang bukti, atau si korban menelan semua racun – kriteria ini tentunya tidak dapat dipakai. 4. Ditemukannya kelainan-kelainan pada tubuh korban, baik secara makroskopik atau mikroskopik yang sesuai dengan kelainan yang diakibatkan oleh racun yang bersangkutan. Bedah mayat (otopsi) mutlak harus dilakukan pada setiap kasus keracunan, selain untuk menentukan jenis-jenis racun penyebab kematian, juga penting untuk menyingkirkan kemungkinan lain sebagai penyebab kematian. Otopsi menjadi lebih penting pada kasus yang telah mendapat

256

perawatan sebelumnya, dimana pada kasus-kasus seperti ini kita tidak akan menemukan racun atau metabolitnya, tetapi yang dapat ditemukan adalah kelainan-kelainan pada organ yang bersangkutan. 5. Secara analisa kimia dapat ditemukan adanya racun atau metabolitnya di dalam tubuh / jaringan / cairan tubuh korban secara sistemik. Pemeriksaan toksikologi (analisa kimia) mutlak harus dilakukan. Tanpa pemeriksaan tersebut, visum et repertum yang dibuat dapat dikatakan tidak memiliki arti dalam hal penentuan sebab kematian. Sehubungan dengan pemeriksaan toksikologis ini, kita tidak boleh terpaku pada dosis letal sesuatu zat, mengingat faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kerja racun. Penentuan ada tidaknya racun harus dibuktikan secara sistematik, diagnosa kematian karena racun tidak dapat ditegakkan misalnya hanya berdasar pada ditemukannya racun dalam lambung korban. Dari kelima kriteria diagnostik dalam menentukan sebab kematian pada kasus-kasus keracunan seperti tersebut di atas, maka kriteria keempat dan kelima merupakan kriteria yang terpenting dan tidak boleh dilupakan.

Analitikal Toksikologi Analitikal toksikologi merupakan pemeriksaan laboratorium berfungsi untuk: 1. Analisa tentang adanya racun. 2. Analisa tentang adanya logam berat yang berbahaya. 3. Analisa tentang adanya asam sianida, fosfor dan arsen. yang

257

4. Analisa tentang adanya pestisida baik golongan organochlorin maupun organophospat. 5. Analisa tentang adanya obat-obatan misalnya: transquilizer, barbiturate, narkotika, ganja, dan lain sebagainya. Analitikal toksikologi meliputi isolasi, deteksi, dan penentuan jumlah zat yang bukan merupakan komponen normal dalam material biologis yang didapatkan dalam otopsi. Guna toksikologi adalah menolong menentukan sebab kematian. Kadang-kadang material didapatkan dari pasien yang masih hidup, misalnya darah, rambut, potongan kuku atau jaringan hasil biopsi. Hasil toksikologi disini membantu dalam menentukan kasus-kasus yang diduga keracunan. Pada pengiriman material untuk analitikal toksikologi, diharapkan dokter mengirimkan material sebanyak mungkin, dengan demikian akan memudahkan pemeriksaan dan hasilnya akan lebih sempurna. Jaringan tubuh masing-masing memiliki afinitas yang berbeda terhadap racun-racun tertentu, misalnya:

Jaringan otak adalah material yang paling baik untuk pemeriksaan racunracun organis, baik yang mudah menguap maupun yang tidak mudah menguap.

Hepar dan ginjal adalah material yang paling baik untuk menentukan keracunan logam berat yang akut.

258

Darah dan urin adalah material yang paling baik untuk analisa zat organik non volatile, misalnya obat sulfa, barbiturate, salisilat dan morfin.

Darah, tulang, kuku, dan rambut merupakan material yang baik untuk pemeriksaan keracunan logam yang bersifat kronis. Untuk racun yang efeknya sistemik, harus dapat ditemukan dalam darah

atau organ parenkim ataupun urin. Bila hanya ditemukan dalam lambung saja maka belum cukup untuk menentukan keracunan zat tersebut. Penemuan racunracun yang efeknya sistemik dalam lambung hanyalah merupakan penuntun bagi seorang analis toksikologi untuk memeriksa darah, organ, dan urin ke arah racun yang dijumpai dalam lambung tadi. Untuk racun-racun yang efeknya lokal, maka penentuan dalam lambung sudah cukup untuk dapat dibuat diagnosa.

B. Arsen Sejarah Sebenarnya arsen sudah dikenal sejak dulu dari sulfide-sulfidenya, dan ahli kimia dari Yunani mendapatkan arsen putih dengan membakar salah satu diantaranya. Pada abad ke XVI, buruh-buruh tambang dariSaxony menjadi

kebingungan dan tak menentu ketika mereka mencium bau smaltite, Co As2, karena zat tersebut mengeluarkan asap arsen yang beracun, dan zat tersebut tak menghasilkan perak walaupun zat tersebut nampak seperti perak putih metalik.

259

setiap kali mereka ―menyucikan‖ wesi aji. dimana sejumlah orang diracuni oleh seorang individu. Dimana dikatakan zat tersebut dapat merusak kulit tangan pekerja. Sebagai salah satu tradisi. yang menyebabkan kebingungan yang tak layak. mereka mengoleskan warangan padanya. Pada tahun 1956. Pada sejarah pembunuhan dengan menggunakan arsen sering terjadi pada pembunuhan masal.Para petambang tadi mengira bahwa terdapatkobold atau goblin dalam biji tambang tersebut. ketika Brandt memperlihatkan bahwa arsen putih merupakan oksidasi dari elemen arsen. Senyawa arsen in organik yang melebihi golongan racun lainnya. dan dia kemudian mengharuskan pemakaian sarung tangan panjang pada pekerja-pekerja yang menanganinya. Warangan. telah digunakan untuk tujuan-tujuan pembunuhan. yang saat itu disebut Cadmia. 260 . Pengertian tentang senyawa arsen sudah dimulai sejak tahun 1733. Pada masa lalu. Agricolas menggambarkan efek dari arsenical-cobalt. karena arsen ini (yaitu arsen trioxide) memiliki aroma yang kurang mencolok. yang merupakan salah satu bentuk arsen in organik yang merupakan bentuk logam berat yang sangat beracun yang banyak digunakan oleh masyarakat. dalam ―De Re Metallica‖. terutama bagi mereka yang memiliki ―wesi aji‖. maka akan memudahkannya untuk disembunyikan ke dalam makanan atau minuman dengan tujuan untuk melakukan sesuatu tindak kejahatan yang tersembunyi. Pelaku pembunuhan memberi racun pada korban dalam suatu dosis fatal. Dan hal ini merupakan asal kata Cobalt.

Kecuali emas. pemakaian pengobatan dari logam-logam 261 . preparat yang mengandung senyawa arsen ada yang dimasukkan ke dalam anus.Dalam beberapa perihal pembunuhan. Diantara tahun 1918-1951 tercatat 13 kali kejadian. Di New York pada interval antara tahun 1918-1951 ada 114 kasus fatal dari tipe ini. Namun sekarang cara pembunuhan dengan arsen seperti itu sudah tidak begitu terkenal. Dalam ―Office of The Chief Medical Examiner‖ (Kantor Pemeriksaan Obat). Masalah peracunan yang tak disengaja dan hanya secara kebetulan akibat dari arsen inorganik agak umum terjadi. Disamping juga merupakan penyebab-penyebab keracunan yang penting. Beberapa pengadilan di Amerika Serikat bahkan memakai apoteker / ahli obat untuk mencatat semua penjualan yang mengandung senyawa arsen. Kegunaan Pada suatu saat logam-logam berat menempati tempat-tempat yang menonjol dalam pengobatan. terjadi lebih sering. kematian karena bunuh diri dengan senyawa arsen inorganic tercatat sejumlah 145 orang. dan biasanya akibat dari racun tikus atau Paris-Green. Dia antara tahun 19181951. Peracunan yang dilakukan dengan tujuan bunuh diri. pembunuhan dengan senyawa arsen termasuk jarang terjadi. uretra. Kadang terjadi dimana preparat arsen dimasukkan ke dalam vagina dengan maksud pengguguran. ataupun vagina. tetapi malah berakibat kematian.

Terutama masih dipakai pada penyakit-penyakit hewan. telah turut membantu untuk suatu kejutan dari penelitian yang aktif dan berkelanjutan. misalnya trypanosomiasis. Namun perhatian lingkungan. spirochaeta. vaginitis trichomonal. Derivatederivat arsen yang terkenal ialah salversan neoarsphenanime (mapharsan. Bagaimanapun sekarang medical interest terhadap logam-logam berat telah menurun tajam. dan arsen terutama digunakan untuk mengobati filariasis pada anjing. arsenoxide). Diantaranya digunakan sebagai parasitisida untuk protozoa. amoubiasis. yaros. demam kambuhan. dan sebagai literatur dalam toksikologi logam berat. Pada pengobatan manusia sekarang. 262 . Arsen sudah diketahui sebagai bahan untuk pengobatan oleh orang-orang Yunani dan Roma zaman dulu. Memang dasar-dasar dari banyak konsep-konsep modern tentang kemoterapi berasal dari kerja awal Ehrlich dengan arsen-arsen organic. serta untuk ukuran kesehatan masyarakat dan higiene pencegahan dapat mengatasi masalah keracunan dari pemakaian industri-industri mereka. Ditemukannya penisilin menyisihkan arsen sebagai obat anti lues. oleh karena penggantian dengan obat-obat antimikrobial alam dan sintetik yang mujarab dan aman. dan juga obat-obat baru lain yang hampir sama halnya dalam menurunkan penggunaan senyawaan arsen organik yang lain. arsen-arsen yang masih dipakai hanya untuk pengobatan beberapa penyakit tropis.telah dikemukan dimana-dimana.

Campuran arsen yang beracun dalam bentuk lain yaitu trichloride. (masing1960 1962 1966 1967 263 . sodium arsenate. As2O3. triyodide. Arsenic trioxide beracun dan ditemukan pada beberapa pemberantasan tikus. pada Pearson’s solution. akan lebih banyak yang berasal dari industri dan lingkungan daripada yang berasal dari pemakaian obat-obatan. Dosis letal (yang mematikan) dari keracunan arsenic tergantung pada senyawaannya.Schraeder . Keracunan fatal oleh arsen trioxide adalah 0. Ini terjadi dalam bentuk bubuk putih atau kristal oktahedral yang tidak mempunyai rasa. atau arsenic sulfide.Frost . Paris green.2 – 0. imbas dari arsen pada kesehatan.Untuk masa-masa mendatang. Workers 1972 Salah satu campuran yang paling penting adalah arsen triokside atau arsenious okside. Donovan’s solution. Realgar. Tinjauan yang menarik dari segi biologis toksikologi dan lingkungan tentang arsen telah ditulis antara lain: . di Amerika Serikat dan juga di negaranegara lain. Beberapa obat yang sering digunakan seperti cairan acidi arsenasi dan Fowler’s solution mengandung arsen trioxide. Scheele’s green atau Copper arsenite.3 gram bagi orang dewasa.Valce dan Dialoni . dengan kata lain arsen putih yang banyak digunakan sebagai bahan utama racun tikus – dan kadang-kadang dikelirukan dengan asam arsenium.Buchanan .Lisella & Co.

terutama pada masa pembangunan ini arsen banyak digunakan untuk / pada pabrik-pabrik. Perseny arsenic / arsenic pigment dengan tembaga  Antara lain copper arsenic. Kertas yang diberi larutan ini disebut ―Fly Paper‖ atau ―Kertas lalat‖.  Banyak dipakai untuk: membersihkan semak-semak. racun tikus. emerald green (aceto arsenite of copper) 264 . alat-alat kesenian. hanya terbatas pada hewan. pertanian.masing 1 % merkuri yodide dan arsenic yodide). 2. Clemen’s solution (potassium arsenat pada bromidi) dan pigmen-pigmen yang serupa Brunwick green.  Banyak dipakai untuk: pada peternakan untuk membersihkan bulubulu domba (campuran bentuk sulfur atau cairan ter). 3. Arsenicus acid / white arsenic  Bentuk kristal putih transparan. Seperti telah disinggung sebelumnya bahwa penggunaan arsen dalam pengobatan sudah sangat jarang. Vienna merah dan mineral biru dimana terdapat sejumlah arsen dalam bentuk lain. liquor arsenicals (Fowler’s sol)  Fly water merupakan campuran dari 1 bagian larutan arsenic sodium dengan 2 bagian gula dalam 20 bagian air. scheele green. ada yang afogne seperti enamel. Persenyawaan Na dan K. Di Indonesia. Arsen dalam beberapa campuran arsen organic lain juga toksis. rasa sedikit pahit. misalnya: 1. pertanian dan perkebunan yang kadang-kadang menyebabkan keracunan. pengawetan kayu (membunuh serangga / preservatives).

Orpiment ini bila dicampur dengan linae (jeruk) dapat digunakan untuk penyamakan kulit (menghilangkan wol dari kulit) 6. Banyak dipakai untuk: Orpiment digunakan untuk membuat lukisan-lukisan. jenis-jenis tinta cetak. rasa nilin. menyebabkan hemolisa kematian yang dapat bersifat mendadak. 265 . Arsen uretted hydrogen)  Berbentuk gas yang sangat beracun. warna-warna aniline. warna pada mainan anak-anak. 8. Asam arsenic dan persenyewaan arsenic K dan Na  Banyak dipakai untuk: pada pabrik untuk membuat magenta. 7. Banyak dipakai untuk: membuat pigmen-pigmen hijau pada kertas hiasan (dekorasi). karena proses produksi persenyawaan gas arsenic dengan bantuan Hn. orpiment (yellow arsenic sulfide). 5. 4. Arsen dengan Pb  Banyak dipakai untuk: membuat peluru / mimis. Arsenic Chloride  Larutan arsenic dalam asam hidroklorida mengandung 1 % arsenioz acid yang sangat beracun. gas tidak berwarna berbau bawang. Sulfida dari arsenic   Antara lain jenis realgar. bahan perontok rambut. cat kertas. bahan-bahan cat. Arsin (AsH3. Banyak terbentuk dalam proses produksi hydrogen.

Klasifikasi Arsen Sifat-sifat kimia dan fisika arsen As Simbol 3 216 (Publikasi Lexicon) 266 .

arsenates Arsenic. AsCl3. 0.A.7 g/cc Valensi 61 Titik lebur C / 149 C / 113 Titik sublimasi 615 Senyawa-senyawa berbahaya Senyawa-senyawa tak berbahaya AsH3. Elkins PhD) Berat Atom 3.C. As2O3.5 814 Berat jenis (bentuk kristal hitam) 5. arsenites. As2S3 Efek berbahaya (kronik) Ulserasi kulit.91 (Publikasi Hervey B.25 mg/m3 udara (untuk As3O3 1 mg / 1 267 . kerusakan bagian hidung Derajat Serius M.Nomor atom 74.

kadang-kadang ditemukan dalam bentuk metal murni. air. dimana bentuk alamiahnya tersebut tidak toksik. dan di sekitar tubuh korban harus diambil guna dilakukan pemeriksaan toksikologis. tembakau Arsen sendiri sebagai unsur tidak digunakan. Tindakan tersebut selayaknya diambil untuk mencegah timbulnya interpretasi yang keliru. Sebagian kecil terdapat sebagai campuran kimia yang digunakan sebagai industri. Analisa urin 2. berwarna hitam. yaitu di atas. sehingga perlu diketahui jika menghadapi kasus dimana korban telah dikubur. Arsenik merupakan salah satu unsur yang ada di dalam tanah. misalnya mineral arsen. bawah. Analisa rambut dan kuku Sumber-sumber alam Tanah.liter urin. arang dan batu bara. seng dan timah. bir. Analisa udara 3. sering digunakan bersama timah yang digunakan dalam pabrik. Contohnya tanah disekitar tubuh korban. Elemen arsen adalah metal. mineral alkali dan metal seperti besi. air dan tumbuh-tumbuhan. Jejak arsen didapat pada minyak. Campuran tersebut tersebut bagaimanapun juga dapat beracun dan sebagian darinya terkontaminasi dengan bahan tambang. Penilaian 1. 268 .

Hampir semua arsen in organik dapat dianggap sebagai garam asam meta arsenit (HAsO2). arsenic dapat terbentuk. Yang dimaksud logam berat ialah: 1. drokarbil. racun tikus. yaitu sewaktu membuat glukosa untuk dijadikan bir. atau molekul yang memiliki kesanggupan untuk menjadi donor pasangan dalam satu atau lebih ikatan koordinat [coordinate bound]). Arsenic juga ditemukan dalam jumlah yang cukup tinggi di dalam kerang. Arsen trioksida (AsO3) sering disebut Arsenous acid yang 269 . Logam yang dapat bereaksi dengan ligond (pengikat berupa gugus atom. ion. 2. dan oksofenarsin. Arsen digolongkan ke dalam persenyawaan organic dan in organic. dan herbisida adalah karbason (4-ureidobenzen-asam arsenat). Arsen dalam tabel periodik tidak termasuk golongan logam. Arsen yang sering digunakan untuk insektisida. glikobiarsol. Logam yang mempunyai berat molekul antara 59-232. Dalam proses pembuatan bir. Arsen in organik berbeda dengan arsen organik dalam beberapa hal yang penting dalam farmakologi. 3. ekskresi arsenic dalam urin cukup tinggi. pembagian ini sebagian untuk memudahkan penggolongan kimia. maka dimasukkan ke dalam golongan ―metalloid‖. tetapi karena mempunyai sifat mirip logam. sama halnya dengan mereka yang keracunan arsenic kronis. oleh sebab itu orang-orang yang mempunyai kebiasaan makan kerang.Air dapat mengandung arsenic sebagai akibat kontaminasi dari sisa-sisa pembuangan pabrik / industri. Logam yang mempunyai sifat membentuk garam dengan asam.

carbosone (4-urcide benzene arsenic acid). masih dipakai dalam formula lama insektisida. Potassium arsenat adalah salah satu pemakaian untuk segala macam pengobatan. fungisida. Hampir semua trivalent arsen in organik dapat dianggap sebagai garam-garam dari asam meta arsenous. digolongkan sebagai asam in organik.merupakan anhidrid dari asam meta arsenous (HAsO2). Arsine adalah gas beracun yang menyebabkan keracunan-keracunan industri yang sering terjadi. tryparsonide (sodium N-Carbomyl methyl – p-amine benzene arsenat) dan glicobiarsol. dan sodium. sebagaimana garam-garam sodium dan amoniumnya. calcium. yang terkadang merupakan kepentingan dalam hal toksikologinya. dan methyl arsenic acid. rodentisida. Senyawa-senyawa arsen dari Pb. karena bentuk aktifnya adalah asam arsenikus. Arsen organic yang terbanyak / terpenting adalah derivat dari benzene arsenic acid. dimethyl arsenic acid. Arsen trichlorid sekali-sekali dipakai sebagai pengganti potassium arsenat. dan herbasida. Benzene arsenic adalah golongan ikatan arsenic karbon dan invivo yang betul-betul tidak dirubah menjadi asam in organik. Dimethyl arsine. dipakai sebagai herbisida dan defoliant. dan juga dipakai sebagai herbisida. dimana kebanyakan cocodyl yang masuk dalam badan dikonversikan. Ada tiga derivate pentavalen yang digunakan dalam pengobatan. Cocodyl dan sodium sodium cocodilate Na. muncul sebagai bentuk biotik kontaminan lingkungan. Sodium arsenites calcium arsenite copper acete Cupie aceto arsenite dipakai terutama sebagai insektisida. Misalnya yang berasal dari arsen pentoxide. 270 .

Tanpa memperhatikan apakah suatu arsen mengenai tubuh sebagai arsen trivalent atau pentavalen. terutama terdiri dari luka pada membran mukosa dan kulit. yaitu suatu arsen ozide. Dan dalam hal menembus sel-sel inang / pejamu tidaklah sesiap jika dibandingkan dengan sel-sel dari parasit yang rentan / peka. tapi tak kurang pentingnya untuk toksikologi industri. beberapa senyawa biasanya mempunyai aksi nesicant. Pemilihannya dapat dicapai dengan penggantian grup-grup yang tepat. Arsen. Dan ini menunjukkan efek terapi yang lebih tinggi dari bentuk trivalent. Bagaimanapun redok aqnilibia. Efek kronis dari arsen trioxide dan dapat diduga debu-debu arsen lain. baik pada organisme parasit maupun pada inang. ulkus 271 . semua keracunan berat dan aksi mikrobial dapat dihubungkan dengan bentuk trivalent. tetapi juga kemampuan penetrasinya pada membran sel. dikurangi sebagai in vivo. Arsen-arsen organik tanpa grup polar tinggi larut dalam lemak dan siap menembus kulit. dan arsen trivalent dioksidasi pelan-pelan dalam tubuh menjadi pentavalen arsenic. Menurut Harsen.Ada atau tidak adanya berbagai substituent pada cincin benzene tidak hanya menandai kelarutan dari obat. diubah menjadi bentuk aktif trivalent. Arsen-arsen organik pentavalen semuanya menunjukkan sifat anion dalam cairan tubuh. seperti telah disebut di muka adalah racun klasik dari pembunuhan dan bunuh diri. penguapan oksidasi in vivo. Toksisitas yang rendah dan pengembalian yang tinggi dari arsen pentavalen di dalam urin dan ekskreta menandakan bahwa sangat kecil reduksi yang berlangsung. Beberapa arsen pentavalen.

Konsentrasi kecil dapat mengakibatkan muntah-muntah. dipenylamine chloro arsine.5 mg As / liter urin.Analisis udara .Analisis urin 272 . Arsine: As H3. Tapi kejadian abnormal dari kanker eksterna dan saluran pernafasan pada kelompok pekerjapekerja yang terkena debu arsenic oxide telah dilaporkan. Pentingnya arsen sebagai penyebab kanker masih diragukan.m. Lewisite Ch Cl = Ch – As Cl2 merupakan satu diantara gas-gas yang digunakan dalam kimia yang merupakan suatu vesicant yang kuat dan dephenyl chloro arsino.05 p. : -35 : Perubahan-perubahan darah. Cairan arsen triklorid juga vesicant dan sangat toksik bila menyentuh kulit.A. fatal. : 0. 0.C.p. * Penilaian : . Banyak senyawa-senyawa arsen organic yang sangat toksik. serta dipenyl cyano arsine merupakan jenis senyawa yang sangat iritan.* Berat molekul : 77. kerusakan hepar.9 * Titik didih * Efek berbahaya * Derajat * M.dan perforasi septum hidung tak jarang dapat dijumpai pada pekerja-pekerja arsen. : Serius.

Tetapi cara pembunuhan seperti ini sudah jarang dilakukan lagi. karena racun ini mudah diketahui dan dicurigai secara langsung sebagai tindakan kriminal. pada konsentrasi rata-rata 0. Dahulu pembunuhan pada sejumlah manusia dengan racun tunggal. Demikian suatu debu dari senyawa incet terdiri dari 0. lain dari pada itu mungkin saja. dan sangat beracun. Arsen In Organik Bentuk arsen in organik ini sifatnya sangat beracun dan paling sering digunakan karena sifatnya tersebut. Campuran ini.1 % arsen tidak akan menyebabkan keracunan yang sama.Arsine merupakan gas tidak berwarna. paling banyak menggunakan jenis arsen ini. Cara pemberiannya dengan cara dicampur pada makanan atau minuman. dan uretra 273 . berbau bawang. supaya dapat menimbulkan gejala-gejala seperti sakit biasa. Arsine telah diperagakan terjadi dari campuran Ca hydride dan metal oxida yang ada dimana penderita bekerja. vagina. arsen mungkin menguap hampir seluruhnya seperti arsine. dan suatu konsentrasi yang berbahaya bisa dihasilkan dari material yang relatif kecil. lebih banyak digunakan untuk pembunuhan dimana racun diberikan dalam dosis besar atau pemberian dosis kecil tetapi berulang-ulang. 1. Pada sebagian kecil kasus pembunuhan dengan preparat yang mengandung arsen dimasukkan lewat rektum. Tapi bila zat tersebut menyebabkan proses reduksi kimia atau elektrolit.5 ppm. Besarnya bahaya arsine terletak terutama pada penguapan selektifnya daripada toksisitasnya.

tumor.serta kematiannya serupa dengan yang diakibatkan oleh obat secara injeksi. Kecelakaan akibat racun in organik sering terjadi. 274 . Pada umumnya aksi dari iritasi lokal tidak diketahui. tidak begitu jelas. Gejala keracunan kadang disebabkan oleh absorbsi obat. atau kerusakan pada kulit yang lain. tapi tetap meracuni protoplasma sel tubuh. hanya mempunyai kemampuan kecil untuk mematikan jaringan tubuh. Campuran arsen juga ditemukan pada minuman. obat-obatan. untuk pengawet kertas atau untuk kain. mineral. tapi setelah diabsorbsi. salf. yang selama berada dalam sirkulasi darah dan jika terjadi kontak dengan sel hidup dapat menyebabkan perubahan-perubahan degeneratif. gas. kertas dinding (karena mengandung arsen yang kemudian menjadi partikel debu dalam rumah) dan untuk campuran warna. kopi. arsenic trioxide sering dikelirukan dengan bubuk putih yang lain. sayuran dimana berasal dari daerah yang disemprot). Penggunaan obat dalam bentuk campuran arsen harus diperhatikan karena bahayanya. Kasus-kasus bunuh diri menggunakan racun lebih sering dan biasanya menggunakan racun tikus atau Paris Green. atau semprotan untuk tanaman (makan buah-buahan. apakah itu diberikan secara internal ataupun secara topikal seperti lotion. Pada beberapa contoh kasus. atau bedak untuk luka. air. bir. Sebagian kasus yang diperiksa tersebut ditenggarai menggunakan jenis racun tikus. Senyawa in organik. dan produk batu bara. Secara pervaginam dapat untuk menginduksi abortus. akan terus ke aliran darah menuju bagian-bagian organ tubuh hingga timbul efek-efek pada kapiler.

yang mengandung baik trivalent maupun pentavalen arsenic. mungkin disebabkan karena absorbsinya yang lebih lambat. termasuk diantaranya merupakan golongan alifatik dan aromatik. Bersifat kurang toksis apabila dibandingkan dengan bentuk in organik. sebagian besar diantaranya merupakan senyawa sintetis. tetapi jika diberikan dalam bentuk yang padat akan diabsorbsi lebih lambat. dan akan dieliminasi melalui ginjal dan traktus gastrointestinal. 2. Racun ini akan diabsorbsi dan ditimbun dalam jaringan hepar dan organ lain untuk beberapa hari. dapat mempercepat absorbsinya sehingga dapat menimbulkan efek toksis yang lebih berat. Senyawaan organik. Bila masuk ke dalam tubuh. Bentuk arsen ini ditimbun dalam berbagai organ. Jika racun dalam bentuk cairan akan cepat diabsorbsi. Arsen Organik Preparat arsen organik banyak dibuat. akan terurai secara perlahan-lahan dan biasanya tidak menyebabkan kerusakan / kesulitan-kesulitan yang serius.Intensitas dari toksemia tergantung dari jumlah obat dan kecepatan absorbsi obat yang diberikan. Beberapa bentuk dari trivalen digunakan pada pengobatan tripanosomiasis dan spirochaeta misalnya pada demam kambuhan sifilis. namun kadang-kadang bila karena sesuatu hal. khususnya pada hati dan arsen jenis ini 275 .

Pada otopsi. Pemberian marphasen yang dikombinasi dengan bismuth atau vaksin typoid.2H2O) diantaranya arsphenamine.6 gram. dan pemberian dengan spuit injeksi.OH. dasar dari kelompok arsphenamine). tapi dalam kasus yang jarang dapat menimbulkan kematian. arseoxide. dengan berbagai cara. formula silver HCL. sulfarshphenamine. Pemberian arsen trivalent sebagai pencegahan tidak menimbulkan kerugian. Kadang-kadang pasien mati dengan gejala kolaps seluruh tubuh sesudah pemberian dosis tunggal dengan injeksi.3-0. Sekitar tahun 1954. sedikit memperlihatkan gejala khas.menghilang secara bertahap. Hal ini menyebabkan efeknya terhadap parasit (durasinya) arsen menjadi panjang. Arsen pentavalen organik tidak seefisien arsen trivalent. dengan hasil pengobatan yang lebih baik. bismarsen (bismuth arsphenamine sulfonate) dan neoarsphenamine (mapharsen. dan jika digunakan untuk obat bisa berbahaya. Diberikan secara intra vena dalam larutan sekali dengan dosis 0. hal ini mungkin disebabkan karena reaksi hipersensitivitas.C6H3As=AsC6H3. 276 . kecuali silver arsphenamine diberikan dengan dosis lebih kecil.NH2. Bentuk di atas semuanya efisien dalam pengobatan spirochaeta dan penyakit protoza. Arsen trivalent organik yang paling penting adalah derivat dari Arsphenamine (Salvarsan atau 606. intravena perdrip cepat. misalnya intra vena perdrop lambat. pengobatan berkembang dengan pemberian dosis yang lebih besar. NH2HCL.

akan memberikan hasil yang baik. 277 . akhirnya terjadi kematian mendadak (akut) atau subakutyellow atrofi dengan sakit kuning. Pada kasus dimana korban dapat diselamatkan. terjadi asphenamine enchephaloragi dan pasien meninggal setelah koma. sakit kuning. Jika pemberian tidak hati-hati. atau berkembang menjadi trombosis umum dapat terjadi. dan keluar dari vena. khas dengan adanya skuama epidermis dan infiltrasi leukosit di sekelilingnya dan pada korium.Pada kasus lain. dan efek ini memerlukan waktu beberapa hari sampai beberapa minggu untuk berkembang. Efek berikutnya berlangsung proses degenerasi berat yang terjadi pada parenkim organ dan hati yang bisa saja terlibat. dapat menyebabkan tormbosis. Pada kasus yang lain. dermatitis exfoliativa. Pemberian BAL pada komplikasi akibat arsen organik grup salvarsan misalnya dermatosis. dapat terlihat bercak fibrosis pada parenkim hepar dan hepatitis kronik akibat proses degeneratif yang lama. Diatesa hemorrhagi juga terjadi pada jaringan subserosa khususnya pada mesenterium. dan dari otopsi memperlihatkan petichae dan perdarahan yang difus dan dapat juga terjadi perdarahan pada pons. Kadang granulositopenia atau anemia aplastik. perdarahan otak. Satu gejala yang paling mencolok adalah dermatitis exfoliativa pada seluruh tubuh. kematian terjadi akibat keracunan kronik oleh pemecahan / disosiasi arsen organik dari preparat arsphenamine dalam tubuh. dan otot jantung. intestinum tenue.

arsacetin. Absorbsi senyawa arsen yang sukar larut dalam air misalnya As2O3 yang sangat tergantung pada kehalusan dari bagian-bagiannya (fineness of subdivision). kecuali melarsopral. acetarsone tryparsamide dan lainnya. Dalam obat pembasmian tanaman pengganggu (herbicides). arrhenal. terutama As2O3 terbagi dengan agak kasar. namun karena mereka kurang bereaksi dengan isi usus dan mukosa senyawa arsen organik yang trivalent adalah juga sedikit diarbsorpsi dari saluran gastro intestinal. Walaupun senyawa arsen yang pentavalen lebih banyak mengalami imitasi daripada senyawa yang trivalent. FARMAKOKINETIKA Absorbsi Senyawa-senyawa arsen yang larut dalam air diabsorbsi dari semua selaput lendir dan secara pemberian parenteral.Arsen organik pentavalen termasuk sodium cacodilate. namun senyawa arsen in organik yang pentavalen diabsorbsi lebih baik daripada yang trivalent. Tryparsamide punya efek lain yang dapat menyebabkan amblyopia. pada dosis toksis akan menimbulkan efek subakut atau kronik.ONa. (CH3)2AsO. Bagaimanapun juga zat-zat tersebut dihancurkan di dalam usus dan darinya dihasilkan senyawa arsen in organik yang siap diabsorbsi – senyawa arsen yang pentavalen diabsorbsi dengan variasi yang luas – carbarsone dan melarsopral 278 .

Pembunuhan dan keracunan anak-anak dapat terjadi karena mereka tertarik akan warna atau rasa enak suatu obat. Pembicaraan di atas kiranya akan menjadi lengkap bila dikaitkan dengan hal-hal sebagai berikut: 1. Carbarsone cukup banyak yang tidak diabsorbsi sehingga efektif untuk melawan parasit dalam usus. Di Amerika Serikat. Saluran pencernaan masih merupakan lingkungan luar (milious externa). yang akhirnya dapat menyebabkan kematian. sehingga menyebabkan keracunan karena overdosis. 279 . tapi rata-ratanya 1 mg perhari dan beban untuk tubuh orang dewasa normal biasanya 14-21 mg (II-927). masukan harian untuk senyawa arsen sangat bervariasi. Absorbsi melalui saluran pencernaan biasanya terjadi pada usaha bunuh diri. Secara umum senyawa arsen trivalent diabsorbsi lebih baik dari pada yang pentavalen. Triparsamide sedikit diabsorbsi dari saluran pencernaan. Absorbsi melalui kulit merupakan fungsi dari pelarut lipid. Pada umumnya zat beracun lebih mudah menyebabkan keracunan jika diberikan pada perut kosong karena lebih cepat diabsorbsi. serta ph dapat mempengaruhi difusi zat beracun melalui membran epitel usus. peritonitis. Juga pada umumnya bentuk non ion akan lebih mudah diabsorbsi daripada bentuk ion. Selain ph. yang selanjutnya bisa terjadi perforasi. sehingga adanya zat-zat beracun di dalam saluran pencernaan tidak akan mengakibatkan keracunan – hanya racun-racun yang bersifat kanotik atau korosif yang dapat merusak selaput lendir usus.absorbsinya cukup pada pemberian peroral dalam pengobatan penyakit infeksi yang sesuai.

Beberapa zat kimia dapat merubah kulit sehingga lebih permeabel terhadap zat kimia lain. Sebagian dari zat-zat beracun yang masuk melalui pernafasan terabsorbsi melalui selaput lendir di bagian tracheo-bronchial. menurut persamaan Handecson Hasselbach: Untuk asam: P Ka – ph = log (bentuk non ion) bentuk ion Untuk basa : P Ka – ph = log (bentuk ion) (bentuk non ion) 2. Spesies pada hewan.konstante dinosiasi (p Ka) berpengaruh atas bentuk non ion dan bentuk ion. temperatur dan vaskularisasi juga ikut menentukan. Zat-zat kimia yang berbentuk non ion lebih mudah diabsorbsi daripada yang berbentuk ion. maka absorbsi akan dipermudah. 3. Absorbsi melalui kulit dipengaruhi oleh beberapa hal: Stratum corneum merupakan ―therato limiting basic‖ sehingga bila lapisan ini rusak atau jika integritas kulit terganggu. Partikel-partikel sebesar 5 mikrometer atau lebih tetap berada di dalam nasopharynx (bernafas melalui mulut). non pharynx dan oropharynx serta sebagian dari zat-zat tadi tertelan dan masuk ke dalam alat pencernaan. ukuran molekul. Zat-zat yang larut dalam lipid kurang mudah diabsorbsi kulit jika dibandingkan dengan zat-zat yang larut dalam air. Ph. dan yang berukuran 2-5 mikron bisa 280 . Sifat-sifat psikokimia.

Konsentrasi zat beracun ini di dalam darah setelah beberapa waktu tertentu maka dari sini tergantung pada volume distribusinya (Vd). ren.sampai ke dalam bagian tracheo-bronchial. serta adanya afinitas jaringan terhadap zat tersebut. dinding saluran pencernaan. Distribusi Setelah zat beracun memasuki plasma darah. baik dengan perantaraan absorbsi maupun langsung melalui intravena. makin kecil konsentrasi zat beracun tersebut berada di dalam darah (X). Kecepatan distribusi ditentukan oleh banyaknya vaskularisasi. Biotransformasi (II) 281 . Partikel-partikel sebesar 1 mikrometer atau kurang dapat masuk ke alveoli dimana partikel-partikel itu dapat diabsorbsi masuk ke dalam darah. yang kemudian oleh lendir dan silia dapat dibersihkan dengan atau tanpa perantaraan batuk. maka zat tersebut dapat terdistribusi ke seluruh bagian tubuh. Dalam jumlah kecil terdapat pada otot dan jaringan syaraf. Dan selain itu juga terdapat dalam rambut dan kuku. makin besar Vd-nya. mudahnya zat itu memasuki pembuluh kapiler dan menembus membran sel jaringan. Penimbunan senyawa arsen terutama di dalam hepar. dimana disini mulai terdapat 2 minggu sesudah pemberian dan dapat tinggal sampai 1 tahun. demikian juga pada jaringan tulang yang dapat menetap untuk selama-lamanya (II). Pada keratin banyak terdapat gugus salf hydril. limpa dan paru-paru.

Dari studi pada hewan percobaan nampak kemungkinan senyawa arsen yang trivalent sedikit demi sedikit diubah kearah bentuk pentavalen. (1972).Biotransformasi dari senyawa arsen hanya sedikit sekali diketahui. telah mengkalkulasi bahwa pada pemberian arsen pentavalen secara terus-menerus pada dosis maksimal yang diperkenankan di dalam makanan. Lisella dkk. Namun hal ini dapat bertahan sampai 10 hari untuk eliminasi dari arsen secara komplit setelah pemberian dosis tunggal dan dapat sampai 20 hari pada pemberian berulang. Arsenate dan bentuk pentavalen yang lain pada tubuh manusia sangat cepat diekskresi. Ekskresi Sebagian dari suatu dosis senyawa arsen trivalent yang diabsorbsi akan diekskresikan secara lambat melalui urin setelah pemberian secara parenteral yang dimulai dalam waku 2-8 jam. dan keduanya sebagiansebagian diubah ke arah methyl arsenator. Sejalan dengan kenyataan bahwa senyawa arsen trivalent adalah mungkin untuk diekskresikan di dalam jaringan dan bentuk pentavalen cepat diekskresi. dan air. dan oleh sebab itu maka sangat kecil kemungkinannya untuk menjadi keracunan yang bersifat kumulatif. Ekskresi yang lambat ini merupakan dasar untuk terjadinya keracunan arsen yang kumulatif. maka akan memerlukan waktu 30 tahun untuk terjadinya penimbunan beban toksis bagi badan. kecuali pemberian dengan dosis yang sangat tinggi dalam periode waktu tertentu. udara. 282 .

maka akan dapat menekan sebagian besar tanda dan gejala keracunan akut (Woody and Kometani. 1965). Bila pemberian BAL tepat.5 % melalui feses (Holland et all. Arsenoxide sebagai senyawa antara yang aktif (active intermurate) tidak dapat bereaksi dengan kelompok-kelompok kimia yang lain.maka arsenate diabsorbsi pada bagian proksimal dari tubulus kontortus renir dan diekskresikan sebagai arsenite (Ginsbing. Kira-kira 45 % dari senyawa arsen yang dihisap ketika merokok diekskresikan melalui urin dan kurang lebih 2. Mekanisme keracunan Mekanisme kerja toksik yang utama dari senyawa arsen ialah dengan menghambat kerja enzim sulfihidril. 1959). Formulasi yang umum dan komplit dari reaksi arsenoxide (arsenite) dengan gugus sulfihidril dari protein adalah sebagai berikut: S-PR 283 . 1969). (II) Senyawa arsenite dapat menembus placental barcick dan telah ditemukan pada janin yang meninggal (sugoctal. Pada pemberian BAL (dimecarpol). maka ekskresi melalui urin sangat jelas menanjak tanpa adanya kerusakan pada alat ekskresi. kecuali dikloroarsen yang dapat bereaksi langsung. kecuali sulfihidril. Senyawa arsen organik yang trivalent misalnya phenyl arsen oxide lebih poten dalam hal menghambat kerja enzim sulfihidril daripada arsenites in organik. Consparasid arsen arsen misalnya aesphenamine dan senyawa arsen yang pentavalen harus dikonversi menjadi arsenoxide atau arsenit terlebih dahulu sebelum dapat bereaksi. 1948).

Peranan dari interaksi antara senyawa arsen dengan thiocic (x liporc) acid. Efek lokal 284 . karena itu pembentukan ATP terganggu. Arsine (AsH3) bergabung dengan hemoglobin dan dioksidasi menjadi campuran (compound) hemolitik dan tidak menunjukkan aksi dengan menghambat enzim sulfihidril. Sistem oksidasi piruvat dan sejumlah besar enzim lain adalah rawan terhadap senyawa arsen. yaitu suatu cincin yang lebih stabil daripada monocyclic thio arsenites. dan PR adalah protein.R – As = O + 2 Hs – PR O-H R + As + H- S-PR Dimana R adalah gugus kimia. klorvinilkloroarsen (lewisite) mempunyai daya inhibisi yang terkuat. Di antara senyawa arsen. Ion arsenat dapat bekerja sebagai uncouplers pada fosforilasi oksidatif. lebih dari reaksi dengan sulfihidril dari dua molekul yang berbeda seperti dilukiskan pada formula di atas senyawa arsen yang dapat bereaksi dengan kedua gugus sulfihidril dari thiocic acid untuk membentuk cincin bersegi enam. Inertivasi dari enymen sulfihifdril yang esensial mungkin merupakan langkah pertama ke arah kerusakan sel. suatu bagian esensial dari reaksi dekarboksilasi piruvat menjadi perhatian utama. Pembentukan cincin menunjukkan kemanjuran dimercaprol dalam pengobatan keracunan arsen.

Efek sistemik Efek pada peredaran darah Senyawa arsen dosis kecil in organik menyebabkan vasodilatasi ringan. Menghisap udara yang mengandung arsen secara terus-menerus dapat menyebabkan perforasi septum nasi. Gambaran EKG yang abnormal tetap terjadi sampai satu bulan sesudah penyembuhan dari intoksikasi akuta.Senyawa arsen baik organik maupun in organik dapat menembus epitel dan menyebabkan nekrosis dan pengelupasan. daya toksis lokalnya sangat lemah. tekanan pembuluh darah (resistant vessels). Dermatitis kontak dan konjungtivitis yang non alergika sering terjadi di antara para perkerja yang terpapar terhadap debu yang mengandung senyawa arsen. triparsamide dan senyawa organik pentavalen yang pada umumnya diberikan secara intramuskular tidak menyebabkan iritasi lokal. Sebagai hasilnya adalah transudasi dari plasma dan penurunan darah yang tajam. selanjutnya terjadi kerusakan arteri dan myocard serta tekanan darah turun sampai terjadi syok. Zat ini larut dalam air dan cepat diabsorbsi. Senyawa arsen organ trivalent terutama mengenai kapiler. tapi yang sering terjadi di daerah splanchnicus. Campuran yang larut dalam air. Dosis besar menimbulkan efek pada sistem sirkulasi. dan tentang jantung. 285 . pengaruhnya sama dengan arsen in organik. Perlukaan dapat terjadi pada semua anyaman kapiler.

Protiforens epitel yang normal ditekan. fragmen epitel terlepas. efek pada sirkulasi bervariasi dengan jarang terjadi reaksi seperti syok angioneurotik yang segera mengikuti pemberian tryparsamide. vomiting. Hal ini terjadi mengikuti pemberian senyawa arsenic sejenis dengan sifat simpatomimetik yang secara efektif meninggikan tekanan darah selama suatu krisis. 286 . serangan gastrointestinal mungkin terjadi dengan sedikit demi sedikit sehingga kemungkinan cara cuman arsenic mungkin diabaikan. Vesikula tadi akhirnya pecah. Jaringan yang rusak dan aksi cathartic dari meningkatnya cairan dalam lumen menyebabkan naiknya peristaltik dan keluarnya tinja yang karateristiknya seperti air beras. yang menyebabkan kerusakan lebih lanjut. Segera sesudah itu feses menjadi berdarah. diare. lalu plasma tercurah ke dalam lumen. dimana hal tersebut tidak terjadi selama syok oleh karena senyawa arsen in organik. Stomatitis mungkin juga terjadi. Tractus gastrointestinal Dosis kecil senyawa arsen in organik terutama yang trivalent menyebabkan splanchnic hyperemia.Pada dosis terapeutik obat. dan muntahan mungkin mengandung darah. Transudasi plasma pada kapiler sebagai akibat pada dosis besar membentuk vesikula di bawah mukosa gastrointestinal. Arteriosclerosis perifer (clackfoot disease0 dapat disebabkan oleh pemasukan senyawa arsen in organic secara kronis (Heydoen. Krisis ini terjadi disebabkan oleh karena flocylasi plasma protein. muntah seringkali terjadi. yang kemudian akan membeku. sakit kepala dan malaise merupakan tipe reaksi yang sering terjadi sebagai akibat pemberian injeksi senyawa arsen organik. 1970). Sindrom nausea.

Hal ini disebabkan oleh intoksikasi oleh bagian senyawa arsenic yang aktif dari obat tersebut.Reaksi ini tidak segera terjadi. Efek pertama pada glomeruli. Kulit Pemberian senyawa arsen in organik dengan dosis rendah dan secara kronis akan menyebabkan vasodilatasi kulit dan ―milk and corce‖ complexion. Over dosis yang sangat besar dari senyawa arsen organik efeknya sama dengan pemberian senyawa arsen in organik. tetapi terjadi dalam waktu 4-12 jam sesudah injeksi dan berlangsung selama beberapa jam sampai hitungan hari. tubuler dan glomeruli dapat menyebabkan kerusakan ren yang hebat. Insidensi tertinggi terjadi setelah pemberian senyawa arsen trivalent dan paling rendah setelah pemberian senyawa arsen pentavalen. Sejumlah carts. Tractus urinarius Aksi dari senyawa arsen pada kapiler ginjal. urin berkurang dan berisi protein. misalnya tryparsamide. eritrosis dan carts. albuminuria ringan dan darah pada urin sedikit meninggi. Penggunaan senyawa arsenic yang berkepanjangan juga menyebabkan 287 . Kerusakan ginjal akut yang jarang terjadi akibat arsen organik adalah idiosyncrasi. sering terjadi setelah pemberian senyawa arsen organik dengan dosis terapeutik – namun efek ini hanya bersifat sementara. Variasi tingkatan dari nekrosis tubuler dan degenerasi terjadi. pembuluh darah mengalami dilatasi sehingga memungkinkan hilangnya protein dan kemudian terjadi pembengkakan untuk mengisi glomerulair.

hampir 5 % akan menunjukkan depresi sentral tanpa gejala-gejala gastrointestinal. Senyawa arsen trivalent yang sistemik mengganggu dengan respon peradangan pada kulit dan dapat menyebabkan terjadinya pyoderma. glico biorsal pada dosis klinis (tapi jarang). Pada kasus yang berat. Efek ini biasanya visual. 288 . Pada pemberian senyawa arsen in organik dengan dosis toksis secara akuta. sumsum tulang belakang bisa terkena juga. Insidensi dermatitis pada penggunaan senyawa arsen organik pentavalen adalah rendah dan reaksinya biasanya ringan. bila digunakan dengan dosis terapeutik. Erupsi pada kulit umumnya terjadi setelah pengobatan dengan senyawa arsen in organik. Senyawa arsen organik pentavalen. Dari arsen yang masih digunakan oleh manusia. yag akhirnya aksi ini menuju ke arah atrofi dan degenerasi serta mungkin juga ke arah kanker. tryparsamide – tapi bukan carborsone atau glico biarzol – menyebabkan insidensi yang tinggi dalah hal efek pada SSP. Ensefalopati dapat ditimbulkan pada penggunaan: Senyawa arsen organik trivalent misalnya: melarsoprol (paling umum sebagai rekasi toksik). Sistem syaraf pusat (SSP) Pada penggunaan secara kronis atau terpapar dengan senyawa arsen in organik (namun jarang pada senyawa arsen organik) dapat menyebabkan neuritis periferal.hiperkeratosis dan hiperpigmentasi. Hal tersebut juga mengganggu penyembuhan luka pada kulit dan jaringan lain. Luka bisa lokal atau menyeluruh dalam distribusinya.

Senyawa arsen in organik juga menekan produksi leukosit. Gejalagejala sebelumnya terlihat pada cairan serebro spinal jumlah sel dan protein bertambah. Pada dosis sedang menyebabkan pengurangan eritrosit dan pada dosis besar menyebabkan perubahan morfologis sel-sel darah dengan tampak adanya megalocytes dan microscytes. Darah Senyawa arsen in organik mengganggu sum-sum tulang dan mengubah komposisi sel-sel darah. Sejumlah kasus agranulasitosis disebabkan oleh glico biornd yang mana telah dilaporkan pernah terjadi. 1965). Vaskularisasi pada sumsum tulang bertambah. Gangguan pada darah dan sumsum tulang yang ditimbulkan oleh senyawa arsen in organic merupakan masalah yang benar-benar serius. gejalanya berupa perdarahan nekrosis dengan focus yang multipel dan simetris. Perlu ditambahkan pada pemberian dimecaprol ialah pengobatan sedatif. Beberapa efek kronis pada adarah dapat disebabkan oleh karena terganggunya absorbsi asam folat. 289 . tapi untungnya jarang terjadi. Kerusakan pada otak terutama yang berasal dari vasculair dan terjadi pada massa putih dan abu-abu. anti konvulsan dan tindakan untuk mengurangi oedem otak.- Overdosis carbarsone. konvulsi dan koma. Gejalanya termasuk sakit kepala yang berat. yang mana antara lain dapat dengan memberi mannitol hipertonik atau larutan ureum. Arsenite juga mengganggu syntore parpyrine (Van Togeran et all.

menyebabkan acute yellow athrophybahkan kematian. terutama toksis terhadap lever dan menimbulkan infiltrasi lemak.Hati Senyawa arsen in organik dan sejumlah yang organik. nekrosis sentralis dan chirossis triparsamide yang dapat merusak kapur pada dosis terapeutik. Percobaan untuk mendemonstrasikan aksi tonik dari senyawa arsen pada hewan percobaan menunjukkan bahwa elemen ini tidak berguna pada pertumbuhan dan perkembangan. Simptomatologi Keracunan akut: 290 . Kerusakan bisa sedang atau berat. Pada kerusakan arsen eliminasi nitrogen bertambah oleh karena degenerasi jaringan yang terjadi pada banyak organ. tetapi pada beberapa kasus memberikan gambaran klinis yang menyerupai aclusi saluran empedu secara umum yang disebabkan oleh pericholangitis dan thrombus empron pada cabang saluran empedu yang paling halus. Kerusakan pada umumnya mengenai parenkim hepar. Metabolisme Aksi toksis yang mula-mula dari senyawa arsen organik menimbulkan oedema tersembunyi disebabkan oleh kerusakan kapiler.

bau bawang putih pada nafas dan feses. pols lemah. Rasa seperti terbakar dan sakit kolik pada aerophagus ventriculus dan usus. Rasa manis metalik. dan anggota badan menjadi dingin. 10. sakit kepala bagian depan. Gejala biasanya timbul ½ . Muntah dan diare dan ekskretanya air beras seperti pada kolera dan kemudian feses berdarah. 5. paralisis umum dan kematian. Vertigo. 7. Penyempitan pada tenggorokan dan kesukaran menelan. kadang-kadang konvulsi. Bila fase akut bisa sembuh. lebih sering terjadi pada keracunan kronis. 11. Syncope. koma. kelemahan dan diare akan tetap ada sampai beberapa minggu dan kadang-kadang sindrom sukar dibedakan dengan keracunan kronis. Berbagai erupsi pada kulit. 4. tapi mungkin terlambat sampai beberapa jam. 9. Pada beberapa kasus (tipe serebral) vertigo stupor.1. maka neuritis perifer yang termasuk syaraf sensoris dan motoris tidak jarang terserang. Keracunan kronis 291 .1 jam sesudah masuknya obat. 6. Sianosis. 8. 3. delirium dan mania dapat terjadi tanpa gejala gastro intestinal yang menonjol. Dehidrasi dengan rasa haus yang sangat dan kram otot. 2. Pada saat penyembuhan. terutama bila arsen masuk bersama makanan.

Bentuk paralisis akut 292 . keratosis (terutama pada telapak tangan dan kaki). Kejadian ini mungkin berhubungan dengan metabolisme folic acid. atrofi otot. Kemungkinan akan menonjol distribusi kehilangan perasaan yang disebut ―Glove and Stocking‖. sedikit demam. pembesaran hepar dengan ikterus dan kadang-kadang dengan pruritus dan dapat menjadi sirosis dan asites. eczema. kuku rapuh. pigmentasi (arsenic melanosis). Dalam hal simptomatologi ini. Pada keracunan yang lanjut. Gejala kerusakan ginjal timbul. mulai dari anoreksia. Kadang-kadang ada reaksi kehilangan protein pada diskrasia darah enteropathy yang hebat. pucat. Gangguan kulit dapat berupa eritrema. lebih khas pada keracunan arsen in organik. peradangan catarrhal pada hidung. tenggorokan. biasanya pada kaki.Terdapat manifestasi sebagai berikut. konjungtiva dan laring seperti pada infeksi coryza. maka gejala syaraf menonjol yaitu encephalopaties dan neuritis perifer lebih umum terjadi. bersisik dan desquamasi. akibat dari deposit semua elemen seluler dari sum-sum tulang. Komplikasi jantung (fibrilasi ventrikular dan kardiak akut) pernah dilaporkan walau jarang. gangguan pencernaan yang ringan. yaitu ada empat tipe dan gejala keracunan yang terjadi: 1. rambut dan kuku rontok dan oedema subkutan yang lokal. namun kemudian muncul paralisa. Mula-mula yang terkena syaraf sensorius hingga timbul parestesia. stomatitis dan salivasi juga sering terjadi. hipertesia dan sakit. lemah.

sedangkan pada pasien lain adalah mual. dan organ-organ yang parenkimateous. Gejala di atas disebabkan oleh penekanan syaraf pusat oleh senyawa arsen dosis tinggi terutama pada medulla oblongata. 2. 293 . Pada pasien yang lain lagi dapat menderita gatal / serak pada tenggorokan. Perbedaan gejala-gejala klinik yang menonjol. nyeri perut). semicommatore atau stupor dan kadang-kadang konvulsi. Pada beberapa kasus diare berat adalah gejala yang paling menonjol. pernafasan sukar dan dangkal. Manifestasi dari bentuk ini ialah kolaps sirkulatori dengan tekanan darah rendah. nadi yang cepat dan lemah. muntah. terjadi muntah yang berlangsung selama 1 atau 2 jam kemudian diikuti dengan diare.Akibat pemberian arsen in organik dalam jumlah besar dan cepat masuk ke dalam sirkulasi. bervariasi pada tiaptiap kasus. Segera setelah masuknya senyawa arsen. rasa panas dan terbakar. Gejalanya timbul mendadak. usus. Tipe gastro intestinal Tipe ini lebih umum terjadi dan gejala-gejala yang khas ditimbulkan oleh karena perlukaan / lesi pada ventrikulus. mulut terasa kering. sesak nafas. sensasi haus yang sangat. sakit dan kram pada abdomen yang menjadi keluhan utama. Kombinasi dari gejalagejala tersebut bisa terjadi. Pasien tidak menunjukkan gejala gastrointestinal (kalaupun ada berupa muntah-berak. Penderita dapat meninggal sebelum 24 jam.

Penanganan pada keracunan akut adalah dengan mengeluarkan lambung dengan tube dan mencuci dengan air hangat dan susu. kram pada lengan. Bila pasien dapat bertahan terhadap serangan maka akan terjadi pemulihan. albuminuri. Diare mungkin hebat dan feses mungkin berdarah atau seperti air beras sama dengan feses pada cholera asiatica. kulit dingin lembab. betis. Pada kasus yang lebih jelas terdapat muka yang livid.1 ons tincture dari ferri chloride dengan air dan ditambahkan magnesium Castor oil dapat diberikan untuk membersihkan usus. Antidotum spesifik ½ .3 dimercaptopropanol) secepatnya. Kantor farmasi dan kimia di Asosiasi Kesehatan Amerika (American Medical Ascociation) menganjurkan pemberian BAL (British Anti Lewisite 2. 294 . pada air dengan jumlah banyak lebih berarti. merasa gelisah. sianosis. urin yang berkurang dan dehidrasi oleh karena muntah yang terus-menerus dan diare. Hal ini bermakna pada kasus muntah dapat terjadi setelah makan arsen bebas.Muntah bisa terjadi terus-menerus dan muntahannya nampak seperti air beras dan terkadang berisi lendir darah dan cairan empedu. delirium. Emetic mustart 1 bagian dan garam 6 bagian. dan ini menimbulkan keragu-raguan berhubung dengan adanya arsen sesudah diabsorbsi yang telah dikeluarkan kembali ke dalam lambung. Ini akan mengambil arsen dari jaringan dan menyebabkannya cepat diekskresi. Kematian terjadi dalam beberapa jam atau hitungan hari.

terdapat pseudomembran warna 295 . Pada suatu kasus. atau sejumlah cairan kemerahan. Pada kasus lain. Lambung dapat berisi lendir warna gelap yang bercampur darah. Selanjutnya pada tahapan menyerang tubuh lebih lanjut. Dinding lambung dan usus dapat bengkak dan kelihatan edema dan kongesti pada lapisan sub-mukosa. mukosa lambung merah kongesti dan edema. Pada tahap awal usus tidak menunjukkan perubahan yang berarti. Lambung dapat kosong atau berisi lendir. Hasil Otopsi Lesi yang berupa nekrosa mempunyai tingkatan yang sangat bervariasi. meskipun arsen diperkirakan sudah sampai jaringan. lesi meluas. dan biasanya berwarna merah kecoklatan dengan perdarahan bagian dalam sub-mukosa dengan berbagai ukuran di sana-sini. membran mukosa lambung dan usus dapat tidak memperlihatkan perubahan yang bermakna. atau deposit kekuningan dari As sulfide yang terbentuk oleh kombinasi kimiawi antara arsen dengan hydrogen sulfat dalam lambung. sementara itu tampak garis gelap karena korosi pada lipatan. Pada kematian yang terjadi dalam beberapa jam karena kolapsnya sirkulasi. berbentuk karet atau bentuk pemanggang besi pada tempat korosi oleh racun.BAL diberikan intramuskuler pada 10 % larut minyak tiap 4 jam dengan dosis 5 mg/kg BB sampai gejala keracunan hilang. Kadang-kadang pada lipatan membran mukosa lambung terdapat kristal oktahedral dari As trioxide atau bercak Paris Green.

edema pada muka dan sekitar mata pernah dilaporkan bahkan sampai terjadi perdarahan atau purulen. disertai bengkak dan membesarnya endothelium. Mulut. Perluasan lesi sangat bervariasi. Pada beberapa bagian usus dapat berwarna kuning akibat penimbunan arsenic sulfide. akan diikuti dengan gejala gastrointestinal.abu-abu kekuningan pada jejunum bagian atas. jaringan ekstravaskuler (pada sub-mukosa) edema dan juga mengandung sel darah merah dan leukosit polimorfonuklear. Inflamasi lambung dan usus sebagian besar akibat ekskresi As melalui membran mukosa dan efek lambung secara langsung mengenai pembuluh darah sub-mukosa. dan yang lebih jarang korosif langsung pada dinding usus. pemberian arsen in organik pada ulkus kulit atau pada kulit yang utuh. bahkan kadang seluruh gastrointestinal terlibat. faring dan esophagus kadang memperlihatkan proses yang sama. dan sebagian usus mengalami inflamasi. hanya intensitasnya lebih rendah. kadang lamban. 296 . meskipun pemberian tidak melalui mulut. Pada beberapa kasus. Usus dapat berisi sejumlah besar cairan mirip cucian beras. Pemeriksaan mikroskopik pada lesi yang meliputi mulut dan usus pada keracunan arsen. Pada kulit kadang terbentuk bulla pada bagian yang terkena racun. atau dapat kosong dan berisi lender darah.. memperlihatkan perdarahan pembuluh darah kecil sub-mukosa yang berisi sel darah merah dan sel leukosit plimorfonuklear.

Jika perjalanan penyakitnya lebih panjang. khususnya pada permukaan septum ventrikel kiri dapat terlihat bercak kecil menyala seperti perdarahan atau perdarahan yang luas. racun disebar ke organ-organ dan terbanyak 297 . akan terjadi komplikasi atrofi kuning akut. Pada suatu kasus keracunan arsen akut. abu-abu kemerahan. pemeriksaan kelenjar adrenal pada bagian korteks mengalami nekrosis disertai dengan infiltrasi leukosit. Jaringan subendokardial. Jika arsen diberikan dalam bentuk padat dan kematian terjadi pada stadium awal. jumlah arsen dalam lambung berkurang. preaortae. epikardium. hepar. Sesudah racun menjadi subakut atau kronik. jaringan retroperitoneal. parenkim sel akan menjadi bengkak dan ikterik. abu-abu kekuningan. terjadi perubahan pada parenkim dan degenerasi lemak pada jantung. sebagian besar arsen diketemukan dalam lambung. Perdarahan atau purpura dengan ukuran yang berbedabeda dapat terjadi pada jaringan subserosa atau pada jaringan longgar seperti mesenterium. Lesi ini dapat berubah menjadi perlemakan atau terjadi perubahan degenerasi lain pada endothelium kapiler dan dengan mikroskopik dapat terlihat infiltrasi polimorfonuklear yang jelas pada daerah perdarahan. dan lain-lain. Obat akan ditimbun dalam hepar. Seseudah diserap. dan jaringan tubuh akan memperlihatkan berbagai tingkatan dari ikterik hepatogenous. dan ginjal dengan warna suram.Pada korban yang mampu bertahan hidup selama beberapa hari.

yang paling baik untuk pemeriksaan adalah lambung dan isinya. Jika analisa kimia hanya terbatas pada luar tubuh atau hanya ada arsen dalam lambung. maka kesimpulan sebab kematian tidak bisa dibuat. secara bertahap dikeluarkan lewat urin dan feses. tetapi organ lain seperti hati. hati. ginjal. memperhitungkan jumlah tiap menitnya harus hati-hati. Pada penanganan lain jika terasa sejumlah arsen ditemukan pada jaringan-jaringan dan organ lain dalam tubuh. riwayat penyakit dan penemuan pada otopsi sangat mengarahkan keracunan karena obat ini. dan otak tidak. 298 . lien. dan jaringan lain dalam beberapa minggu. isi usus dan urin dapat berharga. akan tetapi jumlahnya sangat bervariasi sehingga sukar untuk menentukan jumlah minimal dalam jaringan yang menyebabkan kematian. khususnya pada hubungannya dengan bentuk tanda klinis dan lesi patologis.ditimbun di hepar. Pada beberapa kasus ini. Meskipun demikian. banyak jumlah arsen yang ada dalam tubuh merupakan akibat pengobatan. Hepar biasanya mengandung lebih banyak ketimbang organ lainnya. hasilnya akan signifikan adanya aksi absorbsi dan toksis antemortem. dan otak. ginjal. Bukti yang nyata perihal jumlah arsen dalam organ akan tergantung pada jenis kasusnya. Pada kasus akut organ. ren. usus. Adanya sejumlah besar arsen dalam organ akan memungkinkan lambatnya pembusukan mayat.

cairan di sekitar peti dan sebagian dari peti seharusnya diambil untuk di tes adanya arsen untuk membatasi kontaminasi yang mungkin terjadi. dan akhirnya meninggal. 4. Beberapa dapat berkembang menjadi keracunan hepar yang degeneratif. menjadi kurus dan lemah. Ginjal dapat menunjukkan inflamasi. Atau pada pemberian dosis tunggal yang besar yang tidak menyebabkan kematian dalam waktu cepat namun tinggal di dalam tubuh dan menyebabkan kerusakan selama waktu ekskresinya yang lambat. kram dan dehidrasi. berulang-ulang. nefrosis dengan albuminuria dan urin berdarah. daerah yang eczematous dan keratosis timbul di beberapa tempat. Pasien kehilangan berat badan. sakit yang serius. tanah di sekitarnya. Tipe subakut Tipe ini terjadi pada pemberian senyawa arsen dalam dosis kecil. Tractus intro intestinal mungkin mengalami radang kronis dengan diare yang terus-menerus. Erupsi pada kulit. Tipe kronis 299 . yang melanjut menjadi acute / subacute yellow atrophy dan diikuti oleh icterus toxic yang berat. Perdarahan multipel dapat terjadi pada lapisan subserosa atau pada jaringan longgar di daerah areola.Pada otopsi bongkar jenazah. 3. Korban tetap hidup selama beberapa minggu atau sampai beberapa bulan. dan dalam interval tertentu.

Sindrom ini dapat ditimbulkan intoksikasi dari senyawa volatil yang dihasilkan oleh jamur padawall papers yang mengandung senyawa arsen atau dengan paparan terhadap asap industri. coryza. Pada suatu tipe neuritis kronis dapat timbul dengan degenerasi serabut syaraf yang dimulai dari daerah perifer berlanjut ke arah pusat. Tipe kronis dari keracunan ini tidak didahului oleh gejala akut dan nampak kronis. ½ 2 gram arsenic trioxide tiap minggu. Di India. penurunan daya tahan tubuh secara umum dan sakitsakitan dapat terjadi. kelopak mata yang oedematous. sesudah gejala akut menghilang dan ini dapat menunjukkan sejumlah manifestasi yang berbeda-beda. pucat. rambut dan kuku rontok. kehilangan berat badan. atau absorbsi oleh kulit secara terus-menerus dari cat / pewarnaan baju.Dapat terjadi akibat perkembangan pada sejumlah kasus. Kelemahan yang progresif. anastesia gangguan pertumbuhan seperti atrofi otot. Sirian dan Austria biasa diberikan sebagai obat-obatan. mata yang menonjol. keratosis pada telapak tangan dan kaki. Dan ada beberapa kasus dengan pemberian dosis besar tidak menimbulkan efek toksis. 300 . Hal ini dapat diterangkan dengan teori peningkatan eliminasi atau penurunan absorbsi. Bentuk keracunan akut dapat tidak didahului gejala akut. atau dengan menelan secara terus-menerus dalam jumlah kecil di dalam makanan. Pada beberapa kasus gastritis kronis dapat diamati dengan anoreksia. anemia. Lesi ini ditandai dengan paralise otot tangan dan kaki. nausea dan diare.

keracunan logam dapat ditimbun pada tulang. yang berbau sangat busuk. kulit dan tulang tadi dapat dipergunakan untuk pemeriksaaan kimiawi sebaik organ yang dimaksud. Misalnya pada keracunan kronis dengan komplikasi jaundice berat – dan beberapa lesi perdarahan dengan pemeriksaan toksikologi ketika masih hidup pada urin dapat ditemukan adanya arsen. pemeriksaan toksikologi postmortem didapatkan hasil negatif. merupakan gas tak berwarna. Pemeriksaan toksikologi pada kasus subakut atau kronik dapat diperlihatkan hanya sedikit jumlah arsen yang di dapat dalam tubuh. Contoh ekstrim keracunan tersebut jika hidrogen bersenyawa dengan arsen trivalent pada tes Marsh. dan sebagian dari rambut. atau dapat timbul setelah beberapa jam berlalu. Korban menjadi sakit atau 301 .Sedang laporan lain melaporkan terjadinya efek toksis pada pemberian arsen. Pada kasus yang berlanjut. tapi pada saat otopsi tak bisa dideteksi pada organ-organ yang rusak. industri pabrik. Meskipun jarang. Arsine (Hidrogen Arsine. Beberapa penulis menyebutkan timbulnya gas ini dalam kapal selam yang berasal dari lapisan baterai. arsiniuretted hydrogen AsH3). Kasus keracunan bisa terjadi di laboratorium kimia. dimana logam mencair dan terbentuk asam dan hidrogen dalam jumlah besar. Gejala keracunan dapat terjadi sangat cepat sesudah menghisap gas. kulit. dan rambut yang terjadi lambat. Sejumlah logam dan bahan kimia yang mengandung As dari proses tersebut menghasilkan arseniuretted hydrogen.

Penanganan awal dengan memindahkan korban dari daerah beracun dan pemberian O2. Pada keracunan akut. Keracunan arsine kronis terjadi karena menghirup secara berulangulang. hemoglobinuria. perubahan degeneratif pada hati yang meluas ke lien. dan muntah. Arsen dapat menyerang syaraf pusat dan mengakibatkan nekrose dan kelumpuhan. paru dan otak sangat baik untuk bahan analisa. Istirahat merupakan pengobatan simptomatis. 302 . dan jaundice. Kerusakan eritrosit dapat menginduksi anemia berat. sakit kepala. pusing. dengan deposit pada parenkim. Gejalanya terutama multipel neuritis.tak berdaya dan mengeluh lemas. Hasil otopsi: Pada otopsi ditemukan semua jaringan kekuningan. mual. Transfusi dapat diberikan untuk menangani anemianya. sakit perut. Pemeriksaan toksikologi dari arsine pada tubuh sama dengan campuran arsenic trioxide yang teroksidasi dalam jaringan. Umumnya muncul kurang lebih 4 jam sesudah menghisap gas. Kematian terjadi pada 36 % kasus karena kolaps jantung yang diperberat edema paru atau seperti typoid disertai delirium. toksik pada ginjal dan pada paru. Akibat penting dari gas ini adalah menyebabkan hemolise darah merah.

masukkan ke dalam alkohol selama 10 menit kemudian dimasukkan ke dalam eter untuk membebaskannya dari lemak-lemak. kemudian tambahkan 5 cc HCl pekat lalu ditambah aquadest sebanyak 10 cc. lalu dimasukkan ke dalam HCl 10 % lebih kurang 10 menit. kemudian dimasukkan dalam HNO3 pekat lebih kurang 10 menit. Logam Cu sebelum dipakai dibersihkan terlebih dahulu dengan jalan membakar logam Cu tersebut dengan api benzene sampai membara. dan logam Cu siap dipakai. Logam Fe untuk memancing logam Cu. Memancing logam dari sampel Dengan mempergunakan logam Cu yang telah kita persiapkan. masukkan logam Cu (ikat dulu dengan benang supaya nanti mengambilnya mudah. Masukkan bubuk sampel tadi ke dalam tabung Erlenmeyer 125 cc. lalu dihaluskan.Laboratorium Prosedur pemeriksaan toksikologi a. Cara Kerja: Mempersiapkan logam Cu yang akan dipakai. Sampel sebanyak 10 gram dikeringkan dengan waterbath. Reinsch Test Reinsch tes merupakan suatu cara untuk memancing logam-logam dari campuran dengan mempergunakan: Logam Cu untuk memancing logam As dan Hg. tapi 303 . kemudian dicuci dengan air mengalir lalu dikeringkan dengan kertas saring. Langkah selanjutnya.

kemudian dengan alkohol. Masukkan kawat spiral tadi ke dalam campuran. dan sulfiden akan membentuk deposit (kerak) pada spiral Cu tersebut. Tepung BB dimasukkan dalam labu ehrlenmeyer 125 cc. 6. Dengan warna abu-abu dari Cu5As2. sebagai pegangan.benangnya jangan ikut tercelup) lalu dipanaskan selama 1 jam. Ag. 7. 4. kemudian keringkan. Te. lalu dengan eter. yaitu As atau Hg. sampai kering. maka Sb. gerus sampai lumat. lalu tambahkan aquadest 10 cc. dengan menyisakan bagian yang lurus sepanjang 10 cm. 2. Telitilah kalau masih ada sisa material BB yang melekat pada spiral tersebut. 5. Organ dengan berat 10 gram. Bi. Berikut ini cara kerja yang lebih sistematis: 1. bersihkan dengan air mengalir untuk menghilangkan material BB yang melekat. masukkan ke dalam water bath. Membuat spiral kawat tembaga dengan diameter 0. Panasi labu erlenmeyer tadi dengan waterbath selama 1 jam. dengan melingkarkan pada sebatang pensil sebanyak 14 kali. misalnya isi lambung. selain arsen. Spiral diangkat.88 mm (BWG 20). 304 . 3. lalu bersihkan dengan air yang mengalir. Se. tambahkan 5 cc HCl pekat. Periksa pada logam CU tersebut apakah terdapat noda-noda atau perubahan warna yang menunjukkan adanya logam yang berhasil dipancing. Spiral Cu tadi dicuci dengan asam nitrat pekat. Sesudah itu logam diambil dan dicuci dengan air mengalir. Hg.

yang menguap ada 3 macam logam. lengkap dengan butir-butir Zn dan H2SO4 yang bebas dari As. Reaksinya: As2O3 + 12 Zn + 12 H2SO4 4 AsH3 + 12 ZnSO4+ 4 H2O H3AsO4 + 4 Zn + 4 H2SO4 - AsH3 + 4 ZnSO4 + H2O As4 + 6 H2 AsH3 -------------------------- Cara kerja: Alat Marsh disiapkan. dipanasi. Harus dilakukan di almari asam. Dapat ditambahkan bahwa pada waktu disublimasikan. 10. Sb dan Hg. Ujung tabung pemanas yang bebas disambung dengan pipa karet. Dasar: Senyawa arsen diredusir oleh H naccent senyawa AsH3  dipanaskan dipanaskan  As + gas hidrogen.8. seperti tersebut di bawah ini. Sensitivitas: 250 mikrogram As dalam 50 cc cairan. Spiral Cu tadi dimasukkan dalam tabung sublimasi. b. 305 . yaitu: As. Reaksi ini dapat diteruskan dengan reaksi lain. kemudian arsennya akan bereaksi dengan udara membentuk As2O3 dan membentuk kristal oktahedral dan tetrahedral pada bagian yang dingin. Marsh Test Sifat: Spesifik untuk arsen. 9.

Kepekaan yang lebih kecil lagi tidak perlu. Mengetahui bahwa alat Marsh itu termasuknya reagennya bebas As. sebab As pada jumlah yang kecil tidak toksis. Jika larutan AgNO3 tetap jernih. yang mudah dibedakan dengan As. Membedakan As dan Sb: Sb. lewat corong pengisi dan pada bagian pipa yang menjepit dari pipa Marsh. Bila ada As. Gunanya untuk: 1. Menghilangkan udara dalam labu Erlenmeyer agar tidak terjadi letusan. setelah ½ jam. Bila untuk membuat hidrogen digunakan elektrolise. zat yang akan diperiksa dimasukkan dalam alat Marsh. Cermin Sb terjadi sesudah dan sebelum pemanasan (lihat gambar). pipa karet dilepas. Dan dipanasi dengan Bunsen brander sampai memijar. 2. 1. juga akan membentuk cermin. Kepekaan: 1/50 mg. Jika zat yang diperiksa mengandung As. bila diperiksa dengan alat Marsh. harus diulangi lagi dengan alat-alat yang lebih bersih. akan terjadi endapan hitam pada larutan AgNO3: 6 AgNO3 + 3 H2O + AsH3 H3AsO3 + 6 HNO2 (reaksi Hofmann) Biarkan alat ini selama ½ jam. 306 . dengan kepekaan 1/200 mg (4 gamma). Cermin As terjadi di pipa Marsh sesudah pemanasan. dibalut dengan kasa tembaga. kalaupun terjadi endapan pada larutan AgNO3.sedangkan ujung yang lain dimasukkan ke dalam larutan AgNO3 3 %. akan terjadi cermin pada bagian pipa setelah pemanasan.

maka baik As maupun Sb-nya akan membentuk sulfidenya. maka cermin As akan menjadi As2O3 yang menguap dan dibawa aliran udara dan menyublim di bagian ujung sepit dari pipa Marsh. sedang Sb 1 H3AsO3 + NaCl. sedang sulfide Sb akan berubah menjadi chloride yang larut dalam air. kemudian membentuk kristal yang tetra atau oktahedrat. sulfide Asnya tetap saja. Metoda Gutzeit Indikator: AgNO3 kristal Larutan AgNO3 1 % Prinsip : Senyawa As direduksi oleh H2 (hasil reaksi Zn dengan H2SO4 4N) menjadi AsH3 yang berbentuk gas. Bila dalam tabung Marsh dialirkan gas H2S. sedangkan sulfide Sb-nya pada pemanasan tidak menguap. maka dapat larut dalam NaClO. sedang Sb membentuk sublimasi yang amorph dan dapat dilihat dengan mikroskop. 3. namun tetap tinggal di tempatnya dan berwarna kemerahan. Kegunaan Pb asetat untuk mengikat gas H2S yang terjadi. Reaksinya: 2 As + NaClO + 3 H2O 4. dan akan menyublim di tabung yang dingin. Bila cermin tadi adalah As. Sedangkan AgNO3 berfungsi sebagai indikator.2. Bila dialiri gas HCl. Sulfide arsen yang berwarna kuning mudah menguap. c. bila ada As maka akan 307 . Bila tabung Marsh diambil dan dialiri udara sambil dipanasi sedikit. tidak larut. 5.

308 . Indikator: inilah letak perbedaan reaksi Gutzeit dengan Sanger Black. Reaksi:  Zn + H2SO4 ------. seperti pada percobaan Marsh.AsH3  AsH3 + 6 AgNO3 ------. Sanger Black Test (modifikasi Gutzeit) Prinsip: As diubah dahulu menjadi AsH3. dimana disini dipakai HgCl2 atau HgBr2. dilakukan testing dahulu. Sampel yang akan diperiksa mula-mula harus ditimbang atau diukur volumenya (ini untuk kuantitatif). Untuk mengetes kemurnian reagens dan kebersihan alatnya. Percobaan ini kurang spesifik. jadi dilakukan percobaan tanpa sampel. namun cukup mudah dilakukan dan ketidakspesifikannya mudah diatasi.3 AgNO3 + 3 H2O ------.terjadi senyawa AsH3 yang bila bereaksi dengan AgNO3 akan berwarna kuning dalam keadaan panas dan berwarna hitam dalam keadaan dingin. Percobaan ini dapat dipakai untuk menentukan As secara semikuantitatif. Cara kerja: Gunakan alat Sanger Black atau alat Gutzeit yang dimodifikasi.ZnSO4 + H2 As + H2 ------.3 AgNO3 + 3 HNO3 (berwarna kuning bila panas) Dalam keadaan dingin akan berubah menjadi hitam karena dalam udara ada H2O AsAg3.AsAg3.H3AsO + 6 Ag (hitam) + 3 HNO3 c.

masukkan butiran Zn yang telah direndam dalam larutan CuSO4 5% selama 5 menit. berarti As dalam labu sudah habis. yang gunanya untuk menangkap H2S yang timbul yang dapat mengganggu jalannya pemeriksaan. Jika kertas sublimate tetap putih. Pada ujung cerobong dipasangi pipa kaca yang diisi dengan kertas saring ukuran lebar 1 mm dan telah diinfiltrir dengan sublimate. Reaksi yang terjadi (pada kertas sublimate): 309 .- Dalam labu Erlenmeyer. hanya jumlah As-nya sudah diketahui lebih dahulu. Biarkan alat ini demikian selama 30 menit. Inilah sebabnya disebut semikuantitatif karena hanya membandingkan dengan standart. Bila warna yang terjadi sudah tidak bertambah panjang lagi. berarti reagensia dan alatnya bebas dari As. Cara membuat standard sama saja. Ditunggu sampai terjadi perubahan warna pada kertas sublimate dan lamanya menunggu sampai perubahan warna tadi konstan (tidak bertambah panjang lagi). Pasanglah prop (gabus penutup) yang terbuat dari karet yang sudah dipasangi cerobongnya yang berisi kertas saring / kapas yang telah diinfiltrir dengan Pb asetat. Lalu tambahkan H2SO4 4 N sebanyak 20 cc atau lebih. Penentuan jumlah As yang ada ialah dengan cara dibandingkan dengan panjangnya bagian yang berubah warnanya itu dengan standart yang telah dibuat terlebih dahulu dengan berbagai macam kadar. maka sediaan sampel tadi dapat dimasukkan.

adalah kertas saring yang telah direndam dalam larutan sublimate 5 % dalam alkohol selama 5 menit. Kertas / kapas Pb asetat. maka percobaan ini harus diulangi lagi dengan sampel yang baru dengan cara mengencerkan sampelnya menjadi separuhnya.6 HCl + As2Hg3 ----. lalu di bawahnya timbul warna oranye.kuning 2 As(HgCl)3 + AsH3 ------.3AsH(HgCl)2 ----. setelah itu tepinya dibuang lalu dipotong dengan ukuran 1 x 80 mm.AsH3 + 3 HgCl2 ------. Bahan-bahan untuk pemeriksaan: Kertas sublimate. adalah kertas saring atau kapas yang telah direndam dalam larutan Pb asetat 5 % selama 5 menit. dan akhirnya hitam.3 HCl + As(HgCl)3 ----. lalu dikeringkan pada temperatur kamar. As-nya terlalu banyak.coklat Warna-warna yang terjadi: Kertas sublimate yang mula-mula putih bila terkena gas AsH3 akan berubah menjadi kuning terlebih dahulu. dan dikeringkan pada temperatur kamar. kertas sublimate yang panjangnya 8 cm tersebut seluruhnya akan berubah warna menjadi hitam. misalnya dengan hanya memasukkan separuh dari sampel yang ada. Jadi bagian yang paling banyak terkena gas AsH3akan berwarna hitam.oranye AsH(HgCl)2 + AsH3 ------. yang paling sedikit akan berwarna kuning. Yang menganggu pemeriksaan: Sb dan P. Jika dalam sampel. coklat. 310 .

liver functietest untuk mengetahui kerusakan hepar. sedang P-nya tidak ikut terpancing. pemeriksaan kualitatif saja tidak berarti sebab dapat pula ditemukan arsen dalam jaringan pada orang yang 311 . terutama perubahan eosinofil. Material untuk keperluan analisisl: 1. Jumlah sampel adalah sebanyak mungkin yang dapat diambil. 3. tengah. Darah. 6. Air bekas pembilas lambung (gastric lavage). maka sebelum dilakukan percobaan modifikasi Gutzeit. dibagi menjadi 3: ujung. Dan setelah percobaan modifikasi gutzeit ini selesai. warna hitam yang ditimbulkan oleh adanya Sb tadi akan hilang oleh uap HCl. Urin. 2. leukosit. hitung jenis (differential count). 8. terlebih dahulu dilakukan percobaan Reinch. Rambut. sebab lebih baik bersisa dan dapat dikembalikan daripada kurang. 7. maka kertas sublimate diuji dengan HCl.Jika sampelnya diperkirakan tercampur dengan Sb atau fosfor. ~ 100 ml/cc. yang dipisahkan dalam 3 botol dan masing-masing diberi label 4. Isi lambung. juga Hb. Pemeriksaan toksikologi untuk arsen harus dilakukan secara kualitatif dan kuantitatif. pangkal. untuk keperluan pemeriksaan albumin. ~ 100 ml/cc. 5. Yang ikut terpancing pada kawat Cu adalah As dan Sb. eritrosit. sehingga bila ada Sb-nya. pemeriksaan hematuri. lalu kawat tembaga yang telah dipakai tadi diperiksa secara modifikasi Gutzeit. Kuku Tulang Kulit Hepar. dan analisis kadar arsen.

Air seni . Pengobatan 1. Pada keracunan akut : terdapat darah dan protein. Hasil pemeriksaan: 1. air seni. intermuskuler sedini mungkin.L. Bilas lambung / gastric lavage dengan 2 – 3 liter air dan diikuti dengan pemberian 1 gelas susu atau colodial ferric hydroxide (persediaan yang masih baru) atau berikan 1% larutan sodium thiosulfat atau larutan B.Darah mg/100 gr. kuku. Pada keracunan berat dapat diberikan dosis tunggal 5 mg/kg berat badan dengan interval 4 jam selama 24 jam. Sesudah itu dosis dapat diturunkan dan intervalnya diperpanjang. Salino cathartic (obat pencahar) dengan 15-30 gram sodium sulfat dilarutkan dalam air. Karena 312 .5 . 2. 2. : terutama pada kasus-kasus yang fatal. 3.Darah : anemia dengan neutrophilic leucophenia. dan feses: terdapat zat arsen .suka minum tonikum yang mengandung As (misalnya Arseen triferol) dan orang tersebut malah sehat. Pada keracunan kronis . Pemberian BAL (dimercaprol) dalam bentuk larutan 10 % dosis menurut kebutuhan yang diperlukan. (dimercaprol). konsentrasi arsen 0.1 – 1.A.Rambut.

pemberian dimercoprol pada umumnya efektif. maka pengobatan jangka pendek (6 dosis: 2. 5. 4. Pada keracunan kronik. Keracunan kronis harus diobati dengan dimercoprol jangka panjang.). berikan cairan intravenous (suntikan / infuse) untuk menjaga keseimbangan cairan-cairan elektrolit dalam darah. baik oleh karena senyawa arsen yang organik maupun yang in organik. transfuse darah dan pemberian oksigen diperlukan. Bagaimanapun juga bila kerusakan darah sudah bersifat ireversibel seperti anemia aplastik. 313 .L. Hcl morfin mungkin diperlukan untuk mengontrol rasa sakit pada perut. Pertolongan / pengobatan dengan pembilasan lambung.A. Perbaikan gejala kronis terjadi 1-3 hari dan masa pemulihan antara 1-3 minggu tergantung dari organ atau sistem yang mengalami kerusakan. salin cathartic (pencahar) hanya dilakukan terhadap keracunan akut yang pada umumnya keracunan melalui saluran pencernaan. maka penyingkiran arsen dari sistem ini adalah sedikit dapat membantu. Glukokortikoid diperlukan bila timbul dermatitis ataupun konjungtivitis. Pada keadaan syok yang serius.5 mg/kg BB dengan interval 4 jam) dapat diberikan pada penderita yang dicurigai keracunan arsen.pengobatan dengan dimercoprol relatif tidak berbahaya (meski begitu tetap harus diperhatikan gejala-gejala keracunan oleh B. selain memberikan cairan elektrolit. Eksaserbasi yang timbul sesudah terapi kenalan diperlukan pengobatan ulangan. 6. ensefalopati yang lanjut dan kebanyakan kasus dengan ikterus. Untuk menghilangkan dehidrasi.

5. misalnya masker. Mengasingkan sumber bahaya.Pencegahan 1. Hindarkan dari makanan yang terkontaminasi oleh debu-debu senyawaan arsenic. misalnya dengan menekan jumlah debu arsen di udara sehingga menjadi 0. atau dengan mengurangi kadarnya. mencuci tangan sebelum makan. Pencegahan selanjutnya ditujukan kepada keadaan lingkungan kerja (persyaratan keselematan dan kesehatan kerja yang diwajibkan) misalnya dengan jalan memberi pendidikan / penyuluhan kesehatan dengan tujuan agar karyawan / ti mengerti akan bahaya keracunan arsen dan tahu cara pencegahannya serta sadar untuk menjalankannya. 4. menjaga kebersihan pribadi.2 mg permeter kutub udara atau di atasnya. Hindarkan pengisapan debu yang mengandung senyawaan arsen. 6. 7. sarung tangan dan sebagainya. uap AsH3. Menghilangkan sumber bahaya yaitu dengan mensubstitusi dengan bahan- bahan lain yang tidak beracun bila memungkinkan. yaitu dengan melokalisasi pekerjaan- pekerjaan yang menggunakan bahan arsen. 2. mandi setelah jam kerja di tempat yang berhubungan dengan bahan-bahan As. 3. Hindarkan kontak dengan bahan-bahan As dengan jalan mengusahakan alat bantu perlindungan personal. 314 .

Dalam ilmu kedokteran kehakiman. sianida. dapat dibagi dalam dua kelompok. misalnya peristiwa pembunuhan. kecelakaan lalu lintas. tindakan dan terapi terhadap berbagai jenis racun. misalnya pada orang yang minum tonikum yang mengandung arsen. biokimia. juga bisa ditemukan arsen. kejadian. akan tetapi belum banyak disadari – adalah untuk mengetahui mengapa suatu peristiwa. yang pertama bertujuan untuk mencari penyebab kematian. Dengan demikian. yang kebanyakan berhubungan dengan alam. dan lain sebagainya. Pemeriksaan forensik dalam kasus keracunan. keracunan dikenal sebagai salah satu penyebab kematian yang cukup banyak sehingga keberadaannya tidak dapat diabaikan. Pada orang-orang sehat. misalnya kematian akibat keracunan morfin. selain ditemukannya arsen dalam jaringan atau organ. gejala. juga harus dapat ditentukan kuantitas dari arsen yang ada dalam jaringan atau organ tersebut.BAB III PENUTUP Toksikologi adalah subyek bahasan yang luas. dan kelompok yang kedua – dimana sebenarnya yang terbanyak kasusnya. tujuan yang kedua bermaksud untuk membuat suatu rekaan rekonstruksi atas peristiwa yang terjadi. 315 . Oleh karena itu dalam menentukan sebab kematian karena arsen. kecelakaan pesawat udara dan perkosaan dapat terjadi. karbon monoksida. keracunan insektisida.

Ph.. 1979. Hand Out Toxicology Industry. Baltimore.D.Yogyakarta. Peranan Pemeriksaan Kimia / Toksikologi dalam Pengadaan Visum et Repertum. dr. 7. R. Legal Medicine Pathology and Toxicology. Helper. Nawawi. 2. Keracunan..D. Gunung Agung.D. 11. 1985. 1997. Bram. 316 . dr. Sumber. Idries.. Gonzales. Keracunan Arsen. 5. John Wiley B. Andarwendah. Ph. et all. Hervey B. et all. Robert & Gasselin. Clinical Toxicology of Commercial Products Acute Poisoning. IKF III. A. Bahaya serta Penanggulangannya. A.. USA. 1979.DAFTAR PUSTAKA 1. Lanbon. FK-UGM. Program Pendidikan Pasca Sarjana Hyperkes. Vance. Sumardi. 9. 3. 10. Nawawi. The Williams & Wilkins Co. Chapenan & Hall. Elkins. 6. The Chemistry of Industrial Toxicology. Adiwisastra. 8. 1960. M. Bagian Farmakologi FKUI. Ilmu Kedokteran Forensik. HSC Gen’83. Jakarta. FK UGM – UMY. Farmakologi dan Terapi. Analytical Toxicology. New York. Hadikusumo. DSPF. Sous Inc. 1980.M. Siti HSC Gen’83. 1982. Ilmu Kedokteran Kehakiman. Sutrisno. 1982. Jakarta 4. PT. PT Intermasa. Kamdari. .

Heurg kimpton Publishers – London. Tedeschy.D. Haley Ph. 317 . Clinical Toxicology.D.12. Cokert. Clinton H. Ph. Tedeschi. A Study in Trauma and Enviromental hazards. Thomas Y. 1972. M. Volume II. Thienes.D. Great Britain. 13. Forensic Medicine.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful