Nama : Aga Pasda Fita NIM: 35319 Mata Kuliah : Pembangunan Kota Berkelanjutan INDIKATOR UNTUK MENGIDENTIFIKASI KEBERLANJUTAN

DAN KUALITAS HIDUP PERKOTAAN DI KOTA-KOTA DI INDONESIA Pada saat ini, bahkan telah ada sejak dulu, sebuah jargon yang sering disebut sustainable development atau pembangunan yang berkelanjutan ,yang dapat didefinisikan sebagai upaya untuk memenuhi kebutuhan di masa sekarang tanpa mengurangi kesempatan bagi generasi masa mendatang untuk memenuhi kebutuhan mereka, telah sering diperdengarkan. Pembangunan berkelanjutan sangat identik bagaimana menciptakan kualitas hidup perkotaan yang lebih baik dan berkelanjutan karena dalam pengertian berkelanjutan tersirat makna bahwa dalam memenuhi pembangunan masa kini haruslah berdasarkan kebutuhan yang dibutuhkan bukan berdasarkan mindset kapitalis bukan berdasar pula asas keserakahan karena harus memikirkan keberlanjutan sampai ke generasi mendatang. Bila dibandingkan masa kini dengan masa lampau, kurang lebih mulai dari tahun 1950-an, pembangunan struktur bangunan telah terarah pada bangunan yang bersifat permanen. Terutama untuk bangunan yang bersifat penting atau monumental yang umumnya terletak di pusat kota dibangun dengan kontruksi yang sedemikian rupa sehingga dapat bertahan hingga beratus-ratus tahun menggunakan teknik kontruksi yang telah terbukti handal. Pembangunan seperti demikian belum bisa dikatakan pembangunan ya ng berkelanjutan karena meski bangunan dapat bertahan lama namun belum tentu dapat mengakomodasi bagi generasi mendatang. Saat ini kita telah menghadapi sulitnya bagaimana mengsinkronkan standardisasi teknologi bangunan yang dalam hal ini mengenai tingkat pengonsumsian sumber daya alam dan bagaimana standardisasi dalam perencanaan yang umumnya berkaitan dengan kebijakan mengenai pengaturan bangunan. Dalam hal ini, pemerintah memegang peranan penting dalam pengaturannya, karena pemerintah sebagai pemegang kuasa tertinggi dapat mengeluarkan berbagai kebijakan dalam rangka pengimplementasian dan pengawasan realisasi rencana unutk mencapai sebuah keberlanjutan. Dalam konteks ini, kualitas hidup perkotaan sering diidentikkan dengan hal kesejahteraan, sedangkan kesejahteraan itu sendiri masih bersifat luas karena kesejahteraan bisa saja dalam hal ekonomi, sosial, maupun lingkungan. Jadi untuk menggambarkan kualitas hidup diperlukan suatu indikator khusus yang merujuk pada kawasan atau daerah itu sendiri. Maka sangatlah perlu bagi pemerintah terutama pemerintah lokal untuk mengidentifikasi kebutuhan-kebutuhan apa saja yang dibutuhkan dalam rangka menuju kesejahteraan untuk mewujudkan keberlanjutan. Banyak sekali hal- hal atau faktor-faktor yang dipertimbangkan untuk dapat menuju kualitas hidup yang lebih baik diantaranya ialah bagaimana menyelaraskan pembangunan masa kini dengan pembangunan masa lampau yang telah terbangun agar dapat tercipta konteks perkotaan yang selaras. Untuk mencapai hal itu, maka diantaranya terdapat faktorfaktor sebagai berikut:      Finance/ Keuangan, di dalamnya juga termasuk perawatan/maintenance Amenity/ Kesenangan, bagaimana ketertarikan masyarakat dan dalam penggunaannya Sirkulasi, parkir, dan akses, termasuk penyediaan terhadap pejalan kaki dan aksesnya Security and safety/Keamanan dan Keselamatan, bagi masyarakat, properti, penggunaan, dll Pengorganisasian, mengacu pada bagaimana mengatur peletakan lahan dan mengaplikasikan penggunaan lahan terbangun

1.Finance/ Keuangan Seluruh pembangunan mengandung resiko ketika kekuasaan dan aktivitas ekonomi campurtangan dalam proyek pembangunan yang umumnya bertolakbelakang dengan idealisme pembangunan yang telah direncanakan. Keinginan masyarakat umunya terlalu tinggi dalam beberapa kasus, contohnya konflik perencana dengan idealisme pembangunannya dan seringkali menyebabkan pembangunan berlebihan yang dapat menyebabkan terganggunya perekonomian. Hal ini disebabkan karena pembangunan yang dilakukan menggunakan anggaran dari negara atau pemerintah setempat yang melakukan pembangunan. 2. Amenity/ Kesenangan Amenity / kesenangan dapat diartikan dalam berbagai arti, tetapi dalam hal ini, ketertarikan dan kepuasan masyarakat terhadap visual maupun ketika menggunakannya menjadi salah satu indikasi pembangunan yang baik. Jika suatu bangunan atau pembangunan dapat menarik ketertarikan masyarakat, maka mengindikasikan bahwa mayarakat tidak hanya menikmati keberadaannya (contohnya, masyarakat suka bentuk visualnya dan merasa bangunan tersebut berada di lokasi yang tepat), tapi juga menikmati ketika menggunakan bangunan tersebut (contohnya, masyarakat merasa nyaman karena bangunan tersebut memenuhi kebutuhan mereka dan merasa nyaman terhadap kondisi visualnya baik konsepnya, arsitekturnya, dan sebagainya). 3. Sirkulasi, parkir, dan akses Pada umumnya, developer cenderung lebih mementingkan bagaimana aksesibilitas, aliran kendaraan, dan lokasi parkir di dalam lokasi yang dibangunnya daripada memikirkan secara holistik terutama sirkulasi di sekitarnya. Hal inilah yang dapat menyebabkan tidak selarasnya sirkulasi di dalam bangunan dan di luar bangunan yang umumnya akan menyebabkan masalah lalu lintas. Contohnya dapat dilihat pada ilustrasi gambar di bawah: Sebuah bangunan yang berlokasi di pojok (hook) jalan menyediakan tempat bagi yang ingin ke bangunan tersebut. Pintu masuk yang OUT IN berada tepat di pertigaan jalan tersebut beresiko menyebabkan kemacetan lalu lintas karena AREA PARKIR adanya kemungkinan kendaraan yang akan belok menuju jalan yang dituju atau brlok menuju area parkir tersebut. Belum lagi jikalau ada kendaraan yang antri untuk masuk, maka BANGUNAN antrian kendaraannya akan terlimpah ke jalan raya dan akan semakin menyebabkan kemacetan lalu lintas. Lalu bila membicarakan mengenai aksesibilitas, umumnya aksesibilitas di sini cenderung mementingkan pada kendaraan tertutama kendaraan bermotor. Seringkali tidak tersedia prasarana yang memadai bagi pejalan kaki dan difabel untuk mengakses suatu lokasi atau bangunan. 4. Security and Safety / Keamanan dan Keselamatan Keamanan dan jaminan keselamatan menjadi prioritas utama dalam pembangunan karena hal tersebut secara langsung mempengaruhi tingkat kenyamanan masyarakat. Semakin terjamin

keamanan dan keselamatan, maka akan semakin tinggi tingkat kenyamanan masyarakat. Keamanan dan jaminan keselamatan bukan hanya mengacu pada masyarkatnya tetapi juga pada properti atau bangunannya serta penggunaan fungsi bangunan tersebut. Akhir-akhir ini marak perusakan dan kejahatan terhadap fasilitas umum, sebagai conto h, rusaknya lampu taman atau bahkan hilangnya beberapa pagar taman karena adanya aksi pencurian. Sama halnya dalam daerah perumahan, kejahatan biasanya terjadi karena adanya blind corner atau daerah sepi dengan pengawasan minim. Pemerintah sangat perlu memperhatikan masalah keamanan dan keselamatan baik bagi masyarakat maupun bagi lahan- lahan terbangun sebagai hasil dari upaya pembangunan pemerintah. 5. Pengorganisasian Pengorganisasian dalam merencanakan sebuah pembangunan sangat menentukan apakah pembangunan tersebut akan sukses atau tidak. Perencanaan tidak hanya merencanakan bagaimana suatu rencana dapat berjalan dengan baik, namun juga memikirkan bagaimana keterkaitan dengan kawasan sekitar dan bagaimana pengaruhnya. Pengorganisasian ini biasanya terwujud dalam undang-undang mengenai tata ruang atau dalam rencana-rencana tata ruang wilayah. Lima faktor tersebut adalah sebagian faktor yang dapat digunakan untuk mewujudkan sebuah perkotaan yang memiliki kualitas hidup ba ik. Namun kualitas hidup yang diidentikkan dengan kesejahteraan ini memiliki banyak aspek untuk menilai seberapa berkualitas suatu kehidupan di suatu perkotaan. Pengkajian mengenai indikator kualitas hidup pernah dan terus dilakukan, bahkan secara internasional, yang dilakukan oleh Organization of Economic and Culture Development (OECD) yang berada di Paris. Menurut OECD ,indikator kualitas hidup adalah pendapatan, perumahan, lingkungan, stabilitas sosial, kesehatan, pendidikan, dan kesempatan kerja. Indikator yang dikemukakan OECD bisa dibilang sudah cukup memadai namun masih terlalu umum, artinya, masing- masing indikator perlu penjabaran lebih lanjut unutk menentukan standar seperti apa yang dapat dikategorikan sebagai hidup yang berkualitas. Beberapa ahli telah berusaha menjabarkan indikator- indikator kualitas hidup yang telah dikemukakan oleh OECD. Morris (1979) mengajukan tiga indikator pokok, yaitu tingkat kematian bayi (IMR), harapan hidup saat usia satu tahun, dan angka melek huruf. Indikator yang dikemukakan Morris ini juga digunakan oleh Biro Pusat Statistik dalam mengukur Indeks Mutu Hidup dalam usaha membandingkan tingkat kesejahteraan. Namun angka melek huruf berbeda-beda di tiap negara terutama di negara maju yang sudah pasti memiliki angka melek huruf yang cenderung tinggi, oleh karena itu Williamson (1987) tidak menyertakan angka melek huruf sebagai suatu indikator. Sebagai gantinya ia memasukkan konsumsi kalori per kapita per hari dan konsumsi protein per kapita per hari. Sedangkan menurut Sajogyo (1984), tiga indikator saja tidak cukup, sehingga perlu menambah satu indikator lagi, dalam hal ini TFR (total fertility rate). Namun masih ada indikator- indikator lain yang mencerminkan kualitas hidup. Selain itu, maraknya isu- isu sosial akhir-akhir ini tampaknya memberikan perkembangan indikator yang mengarah pada indikator nonfisik. Indikator- indikator metafisik seperti kebahagiaan, kenyamanan, kepuasan, dan lain- lain mulai dipertimbangkan sebagai indikator yang penting. Dalam konteks wilayah Kepulauan Jawa, Kota Malang sebagai salah satu kota terbesar di Jawa Timur setelah Kota Surabaya menarik perhatian masyarakat khususnya masyarakat Jawa Timur karena Kota Malang dikenal sebagai kota yang nyaman untuk ditinggali karena suasananya yang nyaman baik dari segi lingkungan tertutama suhu udara yang sejuk yang didukung dengan masih banyaknya ruang hijau kota maupun dari ketersediaan fasilitas yang ada. Namun nyatanya, sekarang Kota Malang tidak senyaman yang dibayangkan, dalam kondisi urbanisasi yang terus berlangsung cepat, pembangunan

Kota Malang pada berbagai sektor demi pemenuhan kebutuhan adalah suatu hal yang tidak terelakkan. Peningkatan penduduk yang cepat memberikan tekanan terhadap pemanfaatan ruang terutama dalam hal tempat tinggal sehingga terjadi alih fungsi lahan demi memenuhi tekanan akan kebutuhan tersebut. Pengalihan fungsi lahan tanpa relokasi menyebabkan hanya tersisa sedikit pepohonan dari total luas wilayah Kota Malang yang mencapai 11.005,66 hektar. Berikut ini adalah tabel luasan Ruang Terbuka Hijau (RTH) serta tahun samplingnya:

No 1 2 3 4 5 6

Tahun Sampling 1994 1996 2000 2002 2005 2008

Luas RTH (ha) 7.160 6.957 6.415 6.367 3.260 1.981

Dari sini dapat terlihat bahwa pembangunan Kota Malang cenderung untuk mengurangi ruang terbuka hijau dan menghilangkan landscape alami. Lahan-lahan tumbuhan banyak dialihfungsikan menjadi kawasan perdagangan, kawasan permukiman, kawasan industri, jaringan transportasi, serta sarana dan prasarana kota lainnya yang mayoritas cenderung bersifat ekonomi seiring dengan pertumbuhan dan meningkatnya penduduk kota. Hal ini merupakan salah satu bukti kurang dihargainya eksistensi serta pentingnya RTH, padahal, menjaga eksistensi ruang terbuka hijau dapat meningkatkan kenyamanan dan sebagai paru-paru kota selain itu membantu terwujudnya kualitas hidup kota yang sehat baik secara fisik maupun psikologis. Berdasarkan data dari Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) Stasiun Klimatologi Karangploso Malang, suhu maksimum absolut Malang tahun 1990 berkisar 29,10°C- 33,20°C, tahun 2006 dapat mencapai 33,80°C. Demikian pula halnya dengan suhu minimum. Pada tahun 1990 masih berkisar 15,50°C, tahun 2006 suhu minimum Malang mencapai 20°C. Di perkirakan mulai sepuluh tahun yang lalu telah terjadi peningkatan suhu 0,05°C per tahun. Pada akhirnya, perkotaan hanya berkembang secara ekonomi, namun menurun secara ekologi. Bila dikomparasikan dengan indikator yang telah diajukan OECD ,mungkin indikator pendapatan, perumahan, pendidikan, dan kesempatan kerja telah terpenuhi namun tidak dengan indikator lingkungan, stabilitas sosial, dan kesehatan Dilihat dari kasus Kota Malang, indikator yang diajukan oleh OECD nampak masih terlalu umum dan kurang spesifik. Lalu untuk menyesuaikan indikator- indikator yang telah dikemukan OECD maka dapat ditambahkan spesifikasi beberapa indikator yang lebih mengacu ke masalah- masalah perkotaan yang secara umum dihadapi oleh kota-kota di Indonesia yang meliputi masalah : pengentasan kemiskinan, perubahan pola konsumsi dan pola produksi, dinamika penduduk, pengelolaan dan peningkatan kesehatan, serta inovasi dalam perumahan dan permukiman. 1. Pengentasan Kemiskinan Kemiskinan adalah masalah mendasar yang harus segera ditindaklanjuti. Kemiskinan adalah salah satu penyebab kemerosotan lingkungan dan dampak negatif dari pembangunan 2. Pola Konsumsi dan Pola Produksi Tuntutan yang berlebihan dan gaya hidup sebagian orang atau bangsa, terutama dari kalangan borjuis telah menimbulkan tekanan yang berat terhadap lingkungan. Selama

ini belum ada kebijakan yang secara gamblang atau eksplisit mengatur mengenai pola konsumsi dan pola produksi agar tercipta keberlanjutan. Di kalangan masyarakat metropolis, berkembang gaya hidup yang konsumtif yang tidak lagi mengonsumsi atas dasar nilai manfaat dan nilai pakai, namun berdasarkan prestige atau image. 3. Dinamika Penduduk Hal ini menjadi masalah seiring dengan semakin bertambahnya jumlah penduduk yang cepat. Dalam perencanaan pembangunan, telah dilakukan upaya bagaimana memahami keterkaitan variabel jumlah penduduk dengan daya dukung lingkungan dalam kaitannya mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan. Hal ini sebagai salah satu upaya untuk mengatasi dan meminimalisir kemerosotan sumber daya alam, yakni dengan menekan angka kelahiran agar tercipta keseimbangan antara penduduk dan lingkungan di dalam suatu wilayah tertentu. Bila kelahiran tak dapat dikendalikan, maka dapat menggunakan vertical housing, namun metode ini sulit diterapkan di Indonesia karena mayoritas penduduk Indonesia telah terbiasa atau terparadigma pada horizontal housing. 4. Pengelolaan dan Peningkatan Kesehatan Tingkat kesehatan masyarakat berhubungan erat dengan kondisi sosial ekonomi dan lingkungan. Hubungan ini bersifat sebab-akibat, terkadang pembangunan sosial ekonomi akan mempengaruhi kualitas lingkungan, terkadang kualitas lingkungan akan mempengaruhi kesehatan, dan kesehatan yang merupakan modal dasar dalam pembangunan akan mempengaruhi pembangunan itu sendiri. Pemenuhan kebutuhan sandang, pangan, dan papan yang layak dan memadai sangat berpengaruh pada kesehatan. 5. Inovasi dalam Pe rumahan dan Permukiman Dalam penggunaan ruang wilayah nantinya akan didominasi untuk permukiman yang disebabkan oleh dinamika pertumbuhan penduduk yang terus berkembang. Pada suatu permukiman, baik perkotaan maupun pedesaan, 40% sampai 60% akan didominasi oleh kawasan perumahan. Untuk menciptakan kondisi kehidupan yang sehat dan sejahtera, diperlukan sebuah pengembangan atau terobosan dalam hal perumahan dan permukiman untuk menciptakan perumahan dan permukiman yang layak serta mampu memelihara bahkan meningkatkan kualitas hidup masyarakatnya dan kualitas lingkungannya. Dengan demikian, pembangunan berkelanjutan dalam rangka tetap menjaga kualitas hidup tidak bisa dilepaskan dengan pemanfaatan ruang wilayah beserta potensi sumber daya yang ada bagi tujuan pembangunan masyarakat itu sendiri dalam suatu cakupan wilayah tertentu. Untuk itu, hal yang berkaitan dengan upaya pelayanan pada masyarakat dalam optimalisasi pemanfaatan ruang demi terwujudnya sebuah kesinambungan serta kualitas hidup yang lebih baik harus dianalisis secara dinamis tergantung dari isu- isu yang ada di dalam wilayah tersebut.

Daftar Pustaka: http://fatur.staff.ugm.ac.id/file/KORAN%20%20Kualitas%20Hidup%20Sebagai%20Sasaran %20Pembangunan.pdf Parfect, Michael., Power, Gordan, 1997, Planning For Urban Quality: Urban Design in Town and Cities, London, Routledge Pasda Fitra, Aga, 2010, Alih Fungsi Area Resapan dan Ruang Terbuka Hijau di Kota Malang, Yogyakarta

Master your semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Cancel anytime.