You are on page 1of 14

Organ Penegak Hukum Persaingan Usaha Oleh: Muhammad Rifki (1006687966)

I. Organ Penegak Hukum Persaingan Usaha Agar suatu aturan dapat ditegakkan secara baik diperlukan organ penegak hukum. Suatu aturan hukum yang baik secara formil tidak akan berjalan baik jika tidak didukung organ penegak hukumnya. Di Indonesia telah ada badan khusus penegakkan hukum persaingan (competition law enforcement agency). Badan ini di Indonesia melalui Undang-undang No. 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha tidak sehat disebut Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU), yaitu lembaga independen yang terlepas dari pengaruh pemerintah dan pihak lain, yang berwenang melakukan pengawasan persaingan usaha dan menjatuhkan sanksi. Sanksi tersebut berupa tindakan administratif, sedangkan sanksi pidana adalah wewenang pengadilan.1 Sebelum berbicara tentang KPPU akan dikemukakan organ-organ penegakan hukum persaingan usaha di beberapa Negara: Kanada: Competition Bureau Kanada adalah salah satu Negara yang pertama kali memiliki aturan hukum untuk mencegah tindakan-tindakan menghambat perdagangan yang dilakukan melalui persetujuan perusahaan-perusahaan. Ketentuan ini sudah dimiliki kanada pada tahun 1899 dan ketentuan yang komprehensif baru diundangkan pada tahun 1986.2 The Competition Bureau adalah institusi penegak hukum independen yang bertugas memastikan kegiatan bisnis dan konsumen Kanada yang makmur di pasar kompetitif dan inovatif.3 Namun, meski independen, kementrian industri dapat memerintahkan Competition

Penjelasan Umum UU No. 5 Tahun 1999 Aries Siswanto, Hukum Persaingan Usaha(Salatiga: Ghalia Indonesia, 2002) hal. 50 http://www.competitionbureau.gc.ca/eic/site/cb-bc.nsf/eng/home

Bureau yang dikepalai Director of Investigation and Research ini untuk melakukan investigasi terhadap kasus-kasus tertentu. Competition Act 1986 pada dasarnya mengenal dua jenis tindakan yang dianggap melanggar ketentuan persaingan usaha. Pertama, tindakan yang oleh Competition Act 1986 dianggap sebagai tindak pidana. Termasuk dalam pelanggaran pidana ini adalah persekongkolan, bid-rigging, diskriminasi harga, predatory pricing, price maintenance, serta iklan yang menyesatkan. Kedua, tindakan yang disebut sebagai reviewable practices, yakni pelanggaran Competition Act 1986 tetapi bukan tindak pidana. Reviewable practices di antaranya meliputi merger, abuse of dominance, refusals to deal, exclusive dealing, dan tied selling. Reviewable practices diperiksa oleh Competition Tribunal institusi administrative quasi-judisial yang tidak memiliki kewenangan menerapkan pidana. Meskipun demikian kewenangan Tribunal ini cukup besar diantaranya memerintahkan diberhentikannya tindakan yang tergolong reviewable practices serta memerintahkan dilakukannya pemecahan asset atau saham perusahaan. Biarpun reviewable practices bukan tindak pidana namun pelaku yang gagal mematuhi perintah Competition Tribunal diancam denda atau kurungan serta bisa dianggap menghina pengadilan. Berkaitan dengan dua jenis tindakan yang ada berdasar Competition Act 1986, Competition Bureau dapat menyelidiki baik pidana maupun reviewable practices.4 Prancis: Le Conseil De La Concurrence Le Conseil De La Concurrence menjaga tatanan ekonomi.5 Le Conseil De La Concurrence dibentuk berdasarkan ordonansi tahun 1986 dibidang persaingan usaha Sebelumnya Prancis telah ada badan serupa yang bernama la Commission de la Concurrence namun la Commission hanya memiliki kewenangan konsultatif, sedangkan la Conceil bisa membuat keputusan. adalah otoritas administratif independen, yang

mengkhususkan diri dalam menganalisis dan mengatur operasi pasar yang kompetitif, untuk

Ibid. hal.51. http://www.autoritedelaconcurrence.fr/user/standard.php?id_rub=12

Apabila

terjadi

pelanggaran

tindakan

antipersaingan,

concerted

actions

dan

penyalahgunaan posisi dominan, la Conseil bisa menetapkan denda hingga 5% dari total sales terhadap perusahaan pelanggar. Keputusan la Conseil dapat disbanding melalui Paris Court of Appeals.6 Jerman: Bundeskartellamt Bundeskartellamt atau Federal Cartel Office adalah otoritas persaingan usaha yang independen dengan tugas melindungi persaingan usaha di Jerman. Perlindungan persaingan usaha adalah kunci dari tujuan regulasi dalam sistem ekonomi pasar. 7 Secara Institusional badan ini dibawah Kementrian Ekonomi, namun dalam menangani kasus badan ini bersifat independen. Selain itu Jerman juga mempunyai Monopolkommission (Monoplies Commission) yang beranggotakan ahli hukum dan ekonomo. Namun, hanya memiki fungsi reporting, reviewingdan rekomendasi.8 Amerika Serikat: The Federal Trade Commission dan Antitrust Division of The Departement of Justice (FTC dan DOJ-AD) Penegakan hukum persaingan di AS (Antitrust Law) terutamanya dibebankan kepada dua institusi, yakni the federal trade commission (FTC) dan Antitrust Division of the Departement of Justice (DOJ-AD). FTC dibentuk melaui Federal Trade Act 1914, FTC berwenang melakukan penyelidikan dan investigasi serta menindak pelanggaran atas antitrust law. Hukum AS menentukan FTC hanya bisa menangani Antitrust Law secara perdata tidak terhadap tindak pidana antitrust. FTC mempunyai beberapa biro yaitu, Biro Perlindunga Konsumen (Bureau of Consumer Protection), Biro Persaingan (The Bureau of Competition) dan Biro Ekonomi (the Bureau of Economics).
6

Ibid hal.52.

http://www.bundeskartellamt.de/wDeutsch/bundeskartellamt/BundeskartellamtW3DnavidW 262.php
8

Siswanto,Op.Cit.,hal.52.

Tugas Biro Perlindungan Konsumen adalah melindungi konsumen dari praktek-praktek yang tidak adil, menipu, atau tidak jujur. Biro ini melaksanakan UU perlindungan konsumen. Kewenangan Biro ini mencangkup investigasi ke perusahaan individu (Individual Company) dan Industri. Biro ini juga membuat peraturan proses beracara serta memberikan pendidikan bagi konsumen dan bisnis9 Biro Persaingan di dalam FTC bertugas mencegah merger yang berakibat pada tidak adanya persaingan (anticompetitive mergers) dan praktek bisnis anti kompetitif lainnya, Biro ini mempromosikan kebebasan konsumen untuk memilih barang dan jasa di pasaran dengan harga dan kualitas yang sesuai dengan kebutuhan mereka untuk menunjang bisnis dengan memastikan tingkat persaingan yang adil di antara para pesaing. Biro ini melaksanakan tugas dengan mereview usulan merger (proposed mergers) dan efek anti kompetisi lainnya. Apabila syarat syarat telah dipenuhi, Biro Persaingan dapat merekomendasikan FCT untuk mengambil langkah penegakan hukum formal untuk melindungi konsumen. Biro ini juga berfungsi sebagai sumber riset dan kebijakan dalam masalah persaingan dan menyediakan panduan untuk pelaku usaha. Biro Ekonomi membantu FTC mengevaluasi adanya efek ekonomi dari suatu perbuatan. Untuk melakukan hal tersebut, Biro ini melakukan analisis ekonomi, membantu investigasi dan pembuatan peraturan persaingan dan perlindungan konsumen. Biro ini juga menganalisa akibat peraturan pemerintah dalam hal persaingan dan konsumen serta memberikan analisa ekonomi dari proses pasar kepada Kongres. Biro Ekonomi juga menyediakan panduan dan bantuan untuk pelaksanaan perlindungan konsumen dan persaingan. Dalam bidang persaingan usaha, Biro ini berpartisipasi dalam investigasi terhadap dugaan tindakan anti persaingan dan menyediakan saran dari segi ekonomi. Jika penegakan hukum mulai dilaksanakan, Biro ini mengintegrasikan analisis ekonomi ke dalam proses penegakan hukum dengan cara antara lain menghadirkan saksi ahli dan bekerja sama dengan Biro Persaingan untuk menentukan tindakan pemulihan yang pantas. Dalam masalah perlindungan konsumen, Biro ini menyediakan bantuan ekonomi dan analisa terhadap tindakan Komisi yang potensial dalam kasus kasus perlindungan konsumen. Biro Ekonomi juga menyediakan analisa terhadap tingkat sanksi yang pantas untuk membuat jera tindakan yang merugikan konsumen.10
9

Hukum Persaingan Usaha Antara Teks dan Konteks (Jakarta: GTZ,2009) hal. 319 Ibid.hal.319

10

Ujung tombak lain dalam penegakan antitrust AS adalah DOJ-AD. Dalam perkara perdata organ ini memiliki kewenangan dengan FTC. Untuk mencegah tumpang tindih penanganan kasus antitrust secara perdata FTC dan DOJ-AD membagi jurisdiksi atas jenis industri. FTC memusatkan perhatian pada industri yang konsumennya memiliki tingkat pengeluaran tertinggi seperi jasa kesehatan, obat-obatan, makanan, energy, teknologi computer, video serta TV kabel. Meski demikian dalam kasus tertentu seperti kasus perusahaan mikroprosesor kedua otoritas ini saling berebut dalam penanganan kasus. Sedangkan dalam sisi pidana hanya bisa dilakukan DOJ-AD, bukan FTC sehingga tidak ada tumpang tindih penegakan hukum persaingan dibidang pidana.11 Indonesia: Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) KPPU Lahir dari UU no. 5 tahun 1999, secara internal UU ini UU ini diharapkan dapat menjadi solusi atas berbagai permasalahan dalam dunia usaha selama pemerintahan Orde Baru yang sarat dengan praktek monopoli yang diciptakan oleh pemerintah bagi segelintir pelaku usaha tertentu yang memiliki kedekatan dengan penguasa. Secara eksternal tekanan dari International Monetary Fund (IMF) terhadap Indonesia agar menyusun UU Anti Monopoli sering pula disebut sebagai salah satu syarat untuk memperoleh pinjaman asing juga sering disebutkan sebagai alasan dari lahirnya UU Nomor 5 Tahun 1999.12 KPPU adalah komisi yang dibentuk untuk mengawasi pelaku usaha dalam menjalankan kegiatan usahanya agar tidak melakukan praktek monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat. 13Dengan demikian, Penegakan hukum antimonopoli dan persaingan usaha berada dalam kewenangan KPPU. Namun, tidak berarti tidak ada lembaga lain yang berwenang. Pengadilan Negeri (PN) dan Mahkamah Agung (MA) juga diberi wewenang menyelesaikan masalah tersebut. PN diberi kewenangan menangani keberatan.
11

Siswanto,Op.Cit.,hal.54.

12

Sukendar, Kedudukan Lembaga Negara Khusus Dalam Konfigurasi Ketatanegaraan Modern Indonesia, Studi Kedudukan KPPU. (Jakarta: Jurnal Perasaingan Usaha: 2009) hal. 175
13

Pasal 1 butir 18 UU No. 5 Tahun 1999

Kewenangan KPU dapat dikatakan cukup besar yang meliputi juga kewenangan yang dimiliki lembaga peradilan. Kewenangan ini meliputi penyidikan, penuntutan, konsultasi, memeriksa dan memutus perkara.14 Kedudukan KPPU dalam Sistem Ketatanegaraan Indonesia KPPU merupakan lembaga negara komplementer (state auxiliary organ). Secara sederhana state auxiliary organ adalah lembaga negara yang dibentuk diluar konstitusi dan merupakan lembaga yang membantu pelaksanaan tugas lembaga negara pokok (Eksekutif, Legislatif, dan Yudikatif).
15

KPPU mempunyai fungsi penegakan hukum khususnya Hukum Persaingan Usaha, namun KPPU bukanlah lembaga peradilan khusus persaingan usaha. Dengan demikian KPPU tidak berwenang menjatuhkan sanksi baik pidana maupun perdata. Kedudukan KPPU lebih merupakan lembaga administrative karena kewenangan yang melekat padanya adalah kewenangan administratif, sehingga sanksi yang dijatuhkan merupakan sanksi administratif. 16 Tugas dan Wewenang KPPU Pasal 35 UU No.5 Tahun 1999 menentukan bahwa tugas tugas KPPU terdiri dari: 1. Melakukan penilaian terhadap perjanjian yang dapat mengakibatkan terjadinya praktek monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat.
2. Melakukan penilaian terhadap kegiatan usaha dan atau tindakan pelaku usaha yang dapat

mengakibatkan terjadinya praktek monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat. 3. Melakukan penilaian terhadap ada atau tidak adanya penyalahgunaan posisi dominan yang dapat mengakibatkan terjadinya praktek monopoli dan atau persaingan usaha. 4. Mengambil tindakan sesuai dengan wewenang Komisi sebagaimana diatur dalam Pasal 36.

14

Antara Teks dan Konteks.Op.Cit.,hal.311 Ibid.hal 312 Ibid.hal.313

15

16

5. Memberikan saran dan pertimbangan terhadap kebijakan Pemerintah yang berkaitan

dengan praktek monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat. 6. Menyusun pedoman dan atau publikasi yang berkaitan dengan UU No.5/1999 7. Memberikan laporan secara berkala atas hasil kerja Komisi kepada Presiden dan DPR. Dalam menjalankan tugas tugasnya tersebut, Pasal 36 UU No.5/1999 memberi wewenang kepada KPPU untuk: 1. Menerima laporan dari masyarakat dan atau dari pelaku usaha tentang dugaan terjadinya praktek monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat.
2. Melakukan penelitian tentang dugaan adanya kegiatan usaha dan atau tindakan pelaku

usaha yang dapat mengakibatkan terjadinya praktek monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat.
3. Melakukan penyelidikan dan atau pemeriksaan terhadap kasus dugaan praktek monopoli

dan atau persaingan usaha tidak sehat yang dilaporkan oleh masyarakat atau oleh pelaku usaha atau yang ditemukan komisi sebagai hasil penelitiannya. 4. Menyimpulkan hasil penyelidikan dan atau pemeriksaan tentang ada atau tidak adanya praktek monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat. 5. Memanggil pelaku usaha yang diduga telah melakukan pelanggaran terhadap ketentuan UU No.5/1999. 6. Memanggil dan menghadirkan saksi, saksi ahli, dan setiap orang yang dianggap mengetahui pelanggaran ketentuan UU No.5/1999. 7. Meminta bantuan penyidik untuk menghadirkan pelaku usaha, saksi, saksi ahli atau setiap orang yang dimaksud dalam nomor 5 dan 6 tersebut di atas yang tidak bersedia memenuhi panggilan Komisi. 8. Meminta keterangan dari instansi Pemerintah dalam kaitannya dengan penyelidikan dan atau pemeriksaan terhadap pelaku usaha yang melanggar ketentuan UU No.5/1999.

9. Mendapatkan, meneliti, dan atau menilai surat, dokumen atau alat bukti lain untuk keperluan penyelidikan dan atau pemeriksaan. 10. Memutuskan dan menetapkan ada atau tidak adanya kerugian di pihak pelaku usaha lain atau masyarakat. 11. Memberitahukan putusan Komisi kepada pelaku usaha yang diduga melakukan praktek monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat. 12. Menjatuhkan sanksi berupa tindakan administratif kepada pelaku usaha yang melanggar ketentuan UU No.5/1999. Permasalahan yang Dihadapai KPPU Meski mempunyai kewenangan yang penting namun, kenyataannya KPPU masih mengalami kendala dalam menjalankan tugasnya. Contoh kendala yang dihadapi KPPU: 1. Walaupun KPPU berwenang untuk melakukan penelitian dan penyelidikan, namun KPPU tidak mempunyai wewenang untuk melakukan penggeledahan terhadap pelaku usaha yang diindikasikan melakukan pelanggaran terhadap UU No 5 Tahun 1999. 2. Dalam melakukan penelitian dan penyelidikan, KPPU seringkali terkendala dengan sifat kerahasiaan perusahaan sehingga KPPU tidak bisa mendapatkan data perusahaan yang diperlukan. 3. Walaupun KPPU berwenang untuk meminta keterangan dari instansi Pemerintah, namun sampai sekarang belum terjalin kerjasama yang baik antara KPPU dengan instansi pemerintah dalam hal penyelidikan terhadap dugaan persaingan usaha tidak sehat. Sehingga KPPU seringkali mengalami kesulitan dalam melakukan tugasnya karena kurangnya data pendukung.
4. Walaupun KPPU berwenang untuk memanggil pelaku usaha atau saksi, tetapi KPPU

tidak bisa memaksa kehadiran mereka.17

17

Ibid.hal.314.

Meskipun memliki kendala dan keterbatasan bukan berarti KPPU tidak dapat mensiasati keterbatasannya. UU No. 5 Tahun 1999 sebenarnya telah memberikan kesempatan KPPU untuk bekerjasama dengan instansi penegak hukum lain. Seperti yang tertera dalam Pasal 36 huruf g merupakan bagian dari kewenangan KPPU, yang berbunyi: meminta bantuan penyidik untuk menghadirkan pelaku usaha, saksi, saksi ahli, atau setiap orang sebagaimana dimaksud huruf e dan huruf f yang tidak bersedia memenuhi panggilan Komisi. Penjelasan Pasal 36 huruf g memberikan pengertian bahwa: yang dimaksud dengan penyidik adalah penyidik sebagaimana dimaksudkan dalam Undangundang Nomor 8 Tahun 1981. Berdasarkan bunyi penjelasan Pasal 36 huruf g tersebutlah menjadi jembatan penghubung bagi penyidik POLRI untuk dapat masuk kedalam ranah penegakan hukum persaingan usaha di Indonesia.18 KPPU juga dapat membuat nota kesepahaman (MOU) antara POLRI, Kejaksaan dan Pengadilan demi memaksimalkan penegakan hukum dibidang persaingan usaha. Hukum Acara Persaingan Usaha Dalam beracara KPPU dapat menentukan hukum acaranya sendiri, hal ini terlihat dari pasal 35 huruf f yang menayatakan: Tugas Komisi Meliputi: menyusun pedoman dan atau publikasi yang berkaitan dengan Undangundang ini Hukum Acara ini ditetapkan oleh KPPU dan sejak berdiri di tahun 2000, hukum acara tersebut telah mengalami satu kali perubahan dari SK No 05/KPPU/ KEP/IX/2000 tentang tata Cara Penyampaian Laporan dan Penanganan Dugaan Pelanggaran Terhadap UU No 5 Tahun 1999 (SK 05) menjadi Peraturan Komisi No 1 Tahun 2006 tentang Tata Cara Penanganan Perkara di KPPU (Perkom 1/2006) yang mulai efektif berlaku 18 Oktober 2006.19
18

Mohammad Reza. Kerjasama KPPU dengan Penyidik dalam Penanganan Tindak Pidana Hukum Persaingan Usaha (Jurnal Persaingan Usaha: 2011) hal.113
19

Hukum Persaingan Usaha Antara Teks dan Konteks (Jakarta: GTZ,2009) hal. 319

Keberatan bagi pelaku usaha yang tidak terima atas keputusan KPPU diatur dalam PERMA No. 3 Tahun 2005 tentang Tata Cara Pengajuan Upaya Hukum Keberatan Terhadap Putusan KPPU. Setelah berlakunya PERMA ini otomatis tata cara pemeriksaan keberatan di Pengadilan Negeri harus berdasarkan PERMA tersebut. Contoh Kasus Penegakan Hukum Persaingan Usaha oleh KPPU Kasus 1: Contoh kasus yang mempersoalkan hukum acaranya adalah kasus antara Dewa dan Aquarius yang pada sidang keberatan EMI Music South East Asia (EMI) dan empat terlapor lain terhadap putusan Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU), EMI mempersoalkan putusan KPPU dari pemeriksaan perkara, kewenangan memeriksa sampai pengajuan saksi-saksi yang dianggap EMI tidak dapat dipertanggung jawabkan. Menurut KPPU kasus tersebut merupakan tindakan persekongkolan sehingga KPPU berwenang untuk menangani kasusnya.20 Kasus 2: Kasus yang paling menghebohkan di Indonesia, Mahkamah Agung justru menguatkan putusan KPPU setelah dibatalkan oleh Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, yakni kasus divestasi dua kapal raksasa pertamina Very Large Crude Carrier (VLCC) yang terjadi di awal tahun 2005. Putusan KPPU dalam kasus VLCC menetapkan bahwa pertamina bersalah telah melanggar Pasal 19 hurud d dan Pasal 22 UU No. 5/1999 serta menetapkan denda kepada Goldman Sachs Frontline Ltd dan PT Perusahaan Pelayaran Equinox (PT Equinox) masing Rp 19.710.000.000. Rp.25 milyar dan Rp 16.560.000.000.[ Penjualan dua tanker raksasa tersebut telah merugikan negara sebesar US $ 20 juta hingga US $ 56 juta. Kerugian muncul karena harga yang disepakati yakni US $ 184 juta jauh dari harga pasar dua unit kapal tanker saat itu yang mencapai US $ 204 juta-US $ 240 juta .] Putusan KPPU tentang VLCC merupakan titik awal pengembangan Hukum Persaingan Usaha karena putusan tersebut lebih jelas dan lebih fokus antara siapa dan dengan siapa pihak-pihak melakukan persekongkolan meskipun masih mengandung kelemahan; pasal-pasal yang dilanggar jelas dan sebagai dasar

20

I Made Sarjana, Penegakan Hukum Persaingan Usaha dalam Sistem Peradilan di Indonesia,

bali. 2010

hukum untuk menetapkan putusan dan sanksi yaitu Pasal 19 huruf d dan Pasal 22 UU NO. 5/1999.21

Kasus 3: Kasus yang menarik lainnya adalah kasus Blitz Megaplex v. 21 Cineplex. Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) menghentikan pemeriksaan dugaan monopoli distribusi film yang dilaporkan PT Graha Layar Prima, pengelola bioskop Blitzmegaplex. Laporan terhadap Group 21 Cineplex itu dinilai tidak lengkap dan tidak jelas seperti yang ditentukan dalam Pasal 15 ayat (3) Peraturan Komisi (Perkom) No. 1 Tahun 2006 tentang Tata Cara Penanganan Perkara di KPPU. Menurut Kepala Biro Humas KPPU, A. Junaidi KPPU tidak menemukan cara atau kegiatan yang diduga dilanggar oleh pelapor. Pasal 15 ayat (3) berintikan, resume laporan harus memuat uraian yang menjelaskan: (a) identitas pelaku usaha yang diduga melakukan pelanggaran; (b) perjanjian dan/atau kegiatan yang diduga melanggar; (c) cara perjanjian dan/atau kegiatan usaha yang dilakukan atau dampak perjanjian dan/atau kegiatan terhadap persaingan, kepentingan umum, konsumen dan/atau kerugian yang ditimbulkan sebagai akibat dari terjadinya pelanggaran dan; (d) ketentuan Undang-Undang yang diduga dilanggar. Hal ini mengejutkan karena sebelumnya KPPU mengagas tawaran mediasi kepada para pihak. Upaya ini unik karena upaya mediasi tidak dikenal dalam Perkom No. 1/2006.22 Pelaksanaan Hukum Persaingan Usaha oleh KPPU Pelaksanaan hukum persaingan usaha di Indonesia dinilai telah dilaksanakan secara baik. Penilaian ini dibuktikan dengan diterimanya penghargaan dan apresiasi Intergovernmental Group of Experts on Competition Policy and Law, United Nations Conference on Trade and Development (IGE-UNCTAD) pada 8 Juli 2009 oleh KPPU atas kinerja yang baik dalam mengimplementasikan hukum dan kebijakan persaingan di Indonesia. Lembaga tersebut menyebut KPPU sebagai potret bagaimana sebuah otoritas kompetisi yang masih muda dan
21

Ibid.

22

http://www.hukumonline.com/berita/baca/lt4ade8afd110b0/KPPU-Hentikan-PemeriksaanTerhadap-21-Cineplex

dinamis dapat menjadi contoh bagi negara-negara lain (how a young and dynamic competition authority can be a model for other countries)23. Kesimpulan: Untuk menjaminnya berlangsungnya penegakan Undang-undang Persaingan Usaha dapat terlaksana penerapannya dengan baik, perlu dibentuk suatu badan khusus (competition law enforcement agency) mengingat keterbatasan kemampuan kepolisian, kejaksaan dan pengadilan dalam bidang persaingan usaha. Beberapa Negara seperti Kanada, Prancis, Jerman dan AS masing-masing mempunyai badan khusus tersebut dalam menjalankan perundangan-undangan persaingan usahanya. Indonesia sendiri memiliki badan khusus tersebut yang disebut KPPU oleh UU No. 5 Tahun 1999. KPPU hanya memiliki kewenangan administratif bukan pidana dan perdata. Disamping kewenangannya ternyata KPPU memiliki berbagai kendala terutama dalam hal penyidikan dan penyeldikikan. KPPU tidak mempunyai kewenangan seperti POLRI untuk memaksa pihak memberi petunjuk dalam penyelidikan atau penyidikan. Oleh karena itu, KPPU dapat membuat Nota Kesepahaman (MOU) dengan instansi penegak hukum lain seperti POLRI, Kejaksaan atau Pengadilan. KPPU memiliki hukum acaranya sendiri. Dalam pelaksanaannya secara umum KPPU telah dianggap baik dalam menegakkan hukum persaingan usaha di Indonesia hal ini dapat dilihat dari Penghargaan oleh Intergovernmental Group of Experts on Competition Policy and Law, United Nations Conference on Trade and Development (IGE-UNCTAD) kepada KPPU. Daftar Pustaka
A. Buku

Lubis, Andi. Maria,Anna. dkk. (2008). Hukum Persaingan Usaha Antara Teks dan Konteks, Jakarta: GTZ. Siswanto Arie. (2002). Hukum Persaingan Usaha. Salatiga: Ghalia Indonesia
23

KPPU (Komisi Pengawas Persaingan Usaha) Satu Dasawarsa KPPU Mewujudkan Persaingan Usaha yang Sehat. (Jakarta: KPPU:2010).hal.1.

Pakpahan, Normin. (1994). Pokok-pokok Pikiran tentang Hukum Persaingan Usaha, Jakarta: Proyek Elips. KPPU.(2010). Satu Dasawarsa KPPU Mewujudkan Persaingan Usaha yang Sehat, Jakarta: KPPU.

B. Jurnal Sarjana, Made. 2010. Penegakan Hukum Persaingan Usaha dalam Sistem Peradilan di Indonesia. Bali. Reza, Mohammad. 2011. Kerjasama KPPU dengan Penyidik dalam Penanganan Tindak Pidana Hukum Persaingan Usaha. Jakarta: Jurnal Persaingan Usaha Sukendar.2009. Kedudukan Lembaga Negara Khusus Dalam Konfigurasi Ketatanegaraan Modern Indonesia, Studi Kedudukan KPPU. Jakarta: Jurnal Perasaingan Usaha

C. Peraturan perundang-undangan UU. No. 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha tidak sehat PERMA No. 3 Tahun 2005 tentang Tata Cara Pengajuan Upaya Hukum Keberatan Terhadap Putusan KPPU D. Internet http://www.bundeskartellamt.de/wDeutsch/bundeskartellamt/BundeskartellamtW3DnavidW262. php diakses pada tanggal 19 Desember 2012 pukul 18.25 WIB. http://www.autoritedelaconcurrence.fr/user/standard.php?id_rub=12 diakses pada tanggal 19 Desember 2012 pukul 22.20 WIB.

http://www.competitionbureau.gc.ca/eic/site/cb-bc.nsf/eng/home Desember pukul 21.10 WIB.

diakses

pada

tanggal

18

http://www.hukumonline.com diakses pada tanggal 18 Desember 2012 pukul 17.30 WIB.