You are on page 1of 59

ECI 722 - SISTEM PROTEKSI Minggu ke -1

ECI 722 Sistem Proteksi


Tujuan: Memahami sistem dan peralatan proteksi yang digunakan pada instalasi pembangkit, transmisi, distribusi dan instalasi pengguna.
Latar belakang proteksi Polaritas dan gangguan Komponen simetri (reviewa) Pembumian. Unit / elemen relai. Bahaya transien dan proteksinya. Trafo ukur dan impedansi jaringan Proteksi generator. Proteksi motor. Proteksi trafo Relai differensial. Proteksi transmisi. Proteksi jaringan TM/TR. Setting menggunakan komputer. Pilot wire protection dan pilot channels Sistem mengetrip pemutus Back up protection, stabilitas, penutup balik, pelepasan beban dan restorasi. Kemampuan memutus. Proteksi surja.

Referensi: J.L Blackburn and TJ Domin, Protective Relaying: Principle and Application, 3rd Edition, CRC Press, 2007. Stanley H. Horowitz, Arun G. Phadke Power System Relaying, 3rd Edition ,John Wiley & Sons, 2008. Arun G Phadke, James S Thorp, Computer Relaying for Power System, 2nd Edition, Wiley, 2009.

ECI 722 Sistem Proteksi


Tujuan: Memahami sistem dan peralatan proteksi yang digunakan pada instalasi pembangkit, transmisi, distribusi dan instalasi pengguna.
Idaho University, Lecture Notes for Power System Protection and Relaying

1. Pendahuluan: Pemahaman sistem; gangguan; transien; dasar-dasar proteksi 2. Pendeteksian, pengukuran dan identifikasi gangguan; grounding; komponen simetri 3. Peralatan proteksi; jenis-jenis relai; trafo ukur; impedansi jaringan/generator; sistem kontrol dan proteksi; tele sinyal (pilot wire, kanal frekuensi) 4. Proteksi generator/motor 5. Proteksi jaringan transmisi/gardu induk 6. Proteksi jaringan distribusi 7. Proteksi surja 8. Koordinasi relai dan computer relaying Referensi: J.L Blackburn and TJ Domin, Protective Relaying: Principle and Application, 3rd Edition, CRC Press, 2007. Stanley H. Horowitz, Arun G. Phadke Power System Relaying, 3rd Edition ,John Wiley & Sons, 2008. Arun G Phadke, James S Thorp, Computer Relaying for Power System, 2nd Edition, Wiley, 2009. Idaho University, Lecture Notes for Power System Protection and Relaying Catatan: Sebagian besar gambar-gambar/ilustrasi dalam kuliah ini diambilkan dari referensi tsb., dan dari referensi PLN.

SAP - ECI 722 Mata Kuliah Proteksi Sistem Tenaga Listrik 1. 2 SKS 2. Kuliah 1 kali tiap minggu 2 x 50 menit. 3. Referensi J.L Blackburn and TJ Domin, Protective Relaying: Principle and Application, 3rd Edition, CRC Press, 2007. Stanley H. Horowitz, Arun G. Phadke Power System Relaying, 3rd Edition ,John Wiley & Sons, 2008. Arun G Phadke, James S Thorp, Computer Relaying for Power System, 2nd Edition, Wiley, 2009. Idaho University, Lecture Notes for Power System Protection and Relaying Lectures notes / Paper / Seminar. Akan dibagikan soft copy-nya. 4. Ada quiz yang akan diberikan secara random, dikerjakan selama maksimum 15 menit. 5. Akan ada Tugas kelompok dan Tugas individu sebanyak total sekitar 4 Tugas. Dikerjakan dengan tulisan tangan. 6. UTS dan UAS bersifat closed book. Mahasiswa boleh membuat rangkuman dari bahan kuliah sebanyak 1 (satu) lembar kertas A4 polos bolak-balik. 7. Bobot perkuliahan adalah: 10% absen 20% quiz / Tugas Individu / Tugas kelompok 20% UTS

8. 9.

50% UAS Email sgito54@gmail.com Tata tertib kuliah Tidak boleh pindah kelas Matikan HP Boleh terlambat maksimum 20 menit Dipilih Ketua Kelas yang bertanggung-jawab mendistribusikan bahanbahan

Minggu -1 Review Sistem Tenaga Gangguan sistem Kondisi transien Pengertian Proteksi Jenis-jenis relai

Pendahuluan

Electricity For A Better Life

TOPOLOGI JARINGAN 500 kV SISTEM JAWA BALI


BJGR A 200 8 T. NAGA

SLAY SURALAYA A EXT

2009

GU
CLGON

U
2009,2010 BLRJA KMBNG 2006 CWANG 2006 2009,2010 MRTW R JABAR UTARA

U
LABUH AN 2009,20 10 LKON G 201 5

GU
BKAS I GND UL CBAT U

U
2010

TJATI.A/C

TJAT I

U
W

REMBANG 2009

CRATA

DEPOK 2006

CIBN G

U
JABAR SELATAN 2009,2010

SGLN G

U
MDCA N PMLN G

T. Jati B SCPP

TJATI BARU 2009

T.AWAR 2010

CSKA BDSL N N 201 LGDA R 2 2010

201 1 RCKE K

GRSI K
UNGA R

MADURA
G
SBLTN 2006/ 7

P 20052007 P TSMYA
RWAL O 201 1 PKLAN 2012

JAWA

NGBN G 200 7

SBB RT 201 2

PAITON

CLCA P 201 1

KLTE N JATIM SELATAN

MNRJ O 201 2

GRA TI

GU
BNGI L 201 1 NGOR O 2015

PITO

UN

2009

U
2009,2010

GU

KDBRU

BALI

KAPA L 201 1

PT PLN P(ersero) DIREKTORAT TRANSMISI DAN DISTRIBUSI KANTOR PUSAT PETA JARINGAN 500 kV Sub DIREKTORAT SISTEM JAWA PERENCANAAN Rencana 500 kV PLTU U Rencana 500 kV Kit Eksisting GU G PLTG

Edit Mei 2007

D A

PLTD PLTA

PLTGU

PLTP

Banda Aceh Sig li Bireue un

Seulawah

Jantho

Lhokseum awe Idi e

NAD

110 MW, 2012 PLTA

Electricity

Peusanga n Meulaboh 1 & 2 2x100 MW, 2010,

Takeng on B. Pidhie

Lang sa Binj ai

Talang Cut P.Brandan

GU PLTG/U

Belawan Medan Baru

2011

Peta Jaringan Transmisi Sumate ra


Sumut Inf. Summit 2x200 MW, 2012, 2013

For A Better Life

Meulab oh

T. Tuan

P. Geli

Se

Gi.Rotan 1x150 MW, 2009


Perbaun gan

Titi Kuning

Kotaca ne

T.Tingg i

K.Tanju ng

Asahan I 1 x180 MW, 2010

Brast Subulussa agi lam

Gala ng

G.Pa ra

A A
Pors ea

Kisar Asahan III an 1x154 MW, 2012

W
Aek Kanopan PLTA Asahan Sibayak 1x10 MW, 2007

Sidikalang Sarulla-GeoPP 1-2 1x110 MW, 2011

P.Sian tar Tele

Sarulla-GeoPP 3 1x55 MW, 2012 Sarulla-GeoPP 4-5,

Tarutu ng PLT A

Simang kuk PLTP Sarula Sibolga

R.Prapat K.Pina ng Dum ai

Tj Balai Karimun 1 & 2 2x6 MW, 2009 Tj Balai Karimun 1 & 2

1x110 MW, 2014

Sipan Sipahoras

A P U

G.Tu a

Du ri

2x7 MW, 2009

Sarulla-GeoPP 6 1x55 MW, 2015

PLTU Sibolga

U
Bagan Batu

Tj Balai Karimun 3 & 4

Lb. Angin-SCPP 2x115 MW, 2008, 2009 Sibolga A1,A2

U
Pd. Sidempua n

Panyabungan Bangkin ang

Garuda Sakti

2x6 MW, 2009 Bengkalis 1 & 2 2x7 MW, 2013, 2014 Bengkalis 3 & 4

2x100 MW, 2010, 2011

Pd. Luar

Kt.Panja ng HP P

G
RIA U

Teluk Kuli m

Lembu

1x14 MW, 2012

A
Payakum buh

Tj Pinang 1 & 2 2x10 MW, 2009

Maninjau HPP

Batusan gkar

T.Kuan tan

Rengat 1 &2 2x7 MW, Tembilahan 1&2 2009 Rengat

Sel. Panjang 1 & 2 2x7 MW, 2009 Sel. Panjang 1 & 2

Lubuk Alung Pauh Limo

Singk arak HPP

UA

Indarung

Ombilin

2x7 MW, 2009 S.Haru

U
Sala Solok k

2x7 MW, 2010 Kiliranjao Cirenti 1 & 2 SCPP 2 x 150 MW, 2013, 2014 Kuala Tungkal

Bungus Kambang 1 & 2

SUMB AR

Aur Duri

G
JAMBI Bayung Lincir 2x100 MW,

2x200 MW, 2011, 2012 Sumbar Pesisir 1 & 2

U
Jambi 2009

Senge ti 1x28 MW, 2008 Keramasan 1&2 1x86 MW, 2010 Keramasan 1&2 2x50 MW, 2009

G U

Payo Selincah

Bangka 1 & 2 1x10 MW, 2009

U
Air Anyer 1 & 2 1x10 MW, 2010

2x100 MW, 2009, 2010 S.Pen uh

1x11 MW, 2009 Bayung Lincir 2x150 MW, 2009 Bang ko Muba 1x80 MW, 2009 PLTG KAJI

GU
S.Lilin

2x7 MW, 2009, 2010

U
S. Penuh

G G

Bora ng Tl.Kelap a

Inderalaya

MeranginHPP 1x350 MW, 2015

SUMS EL G. Megan g 2x40 MW, 2007

GU
Betung

1x40 MW,

2009

GU

Palembang Timur 1x150 MW, PLTG Apung 2010

1.

G
Musi Rawas SCPP Tes HPP

Belitung 1&2 1x6 MW, 2008 Belitung 1&2

Mantung 1 &2

2 x 600

Kerama san

2. PLTG Ex Pulo Gadung 1x6 MW, 2009 3. IPP Palembang Timur

1x10 MW, 2009

MW

U G
Maria na

Lubuk Linggau

Bukit Asam Muara Enim SCPP 4 x 600 MW

U
Curup Sukamerindu Musi HPP 1x210 MW, 2006 BENGKU LU

Simpang Tiga

Excess Power PERTAMINA+PUSRI

Lah at

Prabum ulih Gumaw ang

Kayu Agung

(2001)

HVDC Interconnection
55

Pagar Alam

Baturaj a Ulube lu 1 x 110 MW, 2010 Bukit Kemuning


16

Mengg ala

LAMPU NG

Sp. Surabaya

PT PLN (Persero) DIREKTORAT TRANSMISI DAN DISTRIBUSI KANTOR PUSAT PETA JARINGAN TRANSMISI SISTEM Transmisi 500 kV Trans Eksisting Transmisi 275 kV Transmisi 150 kV PLTG G Kit Eksisting U PERENCANAAN SISTEM D PLTD PLTU

Edit Mei 2007 Trans Rencana

65,5

90

Lampung Tengah 1 - 2

37,5

Kotabu 1 x 12 MW, 2009 mi Sribawono TGNN G


18,2

Besai HPP

Adijaya

Metro
52

S3u0 tami PLTA B.Tegi

16,8

Nat ar

Kalianda 1 & 2 2x6 MW, 2009, 2010

PLTA

Pagelaran Tl. Betung

P G

Tarahan 1& 2
61,7 2x100

LumutBalai GeoPP 1 x 110 MW, 2012 Tarahan

MW, 2008, 2009 Tarahan Baru 1& 2

Kalianda

2x100 MW, 2009, 2010

Apa Yang Harus Diproteksi


Peralatan Sistem Tenaga 1. 2. 3. 4. Saluran Transmisi / Distribusi Transformer Peralatan Milik Pelanggan Generator / Pembangkit

Sistem Tenaga 1. Operational Integrity Power Quality Power Delivery 2. Stabilitas System

Topologi Jaringan Sistem Tenaga Listrik

Pengaruh Kepada Sistem Tenaga


Proteksi Lokal 1. Peralatan Yang terdekat pada gangguan 2. Meminimalisir pemadaman beban Mengurangi lamanya gangguan Sistem Yang Lebih Luas 1. Menjaga stabilitas sistem 2. Potensi terhadap gangguan yang jauh Power Quality

Peristiwa Apa Saja Yang Memerlukan Tindakan Proteksi


Gangguan 1. 1 Fasa ke Tanah Paling sering 2. 2 Fasa ke tanah berkembang dari 1 F ke T 3. Fasa ke Fasa 3 Fasa sangat jarang Fasa terbuka (bisa juga 2 fasa) 4. Generator Loss of field Gangguan rotor Kondisi Operasi Tidak Normal 1. Sub synchron resonance 2. Kondisi sistem stabilitas 3. Dynamic vs steady state Overvolage - undervoltage Under frequency Ocver frequency Reverse power ke generator

Pendeteksian Gangguan
Orde cycle 2 cycle 1. Pengukuran Tegangan dan Arus 2. Keterlambatan Filter Digital 3. Pengukuran Irms ss Identifikasi adanya gangguan Memutuskan diperlukan adanya tindakan Jika ya, berikan sinyal untuk mengisolir gangguan / Trip sinyal Orde 1 cycle 8 cycle 1. Response Trip Coil pada CB 2. Response CB Menunggu sampai arus melewati nol

Tindakan Yang Dilakukan


Mengisolir Gangguan 1. Alarm Indicator 2. Start Timer Delay Trip 3. Buka CB Reclose setelah wakty tertentu Kemungkinan gangguan masih ada, beberapa kali reclose lockout) Buka 3 fasa atau 1 fasa saja 4. Capasitor atau Induktor switching 5. Load Shedding 6. Dynamic Breaking resistor 7. By pass series capasitor 8. Tidak perlu trup kalau hanya power swing

Sistem Proteksi
Unsur proteksi

1. 2. 3. 4. 5.

CT dan VT Relai CB Sistem Komunikasi Koordinasi dengan : relai lain, fuse, sistem kontrol

Persyaratan proteksi 1. Harus bisa membedakan gangguan atau kondisi sistem yang abnormal - sensitivitas 2. Secara akurat identifikasi jika ada masalah dan hanya bereaksi kalau ada masalah selektivitas

3. Harus bisa terus menerus beroperasi dalam jangka lama tanpa melakukan tindakan namun jika suatu ketika harus bertindak harus dengan tepat reliabilitas 4. Bereaksi dengan cepat mengatasi gangguan - kecepatan

Tipikal Response
1. 2. Mendeteksi bahwa sesuatu berubah Identifikasi apa yang terjadi Pengukuran lokal Komunikasi data 3. Ambil keputusan (apakah suatu masalah atau bukan) Berikan sinyal trip Perlu waktu 1 3 cycle 4. Response CB: 2 8 cycle

Contoh Gangguan Sederhana

Besar arus gangguan Pada sistem lengkap, gangguan di bus 2, memberikan arus gangguan sebesar j20. Namun apabila saluran 2 3, keluar karena pemeliharan/kerusakan, maka arus gangguan turun drastis tinggal menjadi -j10.

Arus Gangguan Dengan dan Tanpa Komponen DC

Arus Gangguan

Gangguan 3 E If = Z fasa Gangguan fasa ke tanah


1

Arus Gangguan

Gangguan 2 fasa ke tanah

Gangguan 3 fasa biasanya yang terbesar, sedangkan yang terkecil adalah gangguan fasa ke tanah. Namun gangguan fasa ke tanah bisa saja memberikan arus gangguan arus yeng terbesar dalam hal, generator dibumikan (ditanahkan) secara solid demikian juga transformator juga solid grounded. Asumsi yang biasanya digunakan dalam menghitung arus gangguan: 1. Sistem tanpa beban 2. Impedansi gangguan nol 3. Motor-motor berputar pada tegangan dan putaran rated 4. Transformator pada tap nominal 5. Sistem 3 fasa yang simetri

Perhitungan arus gangguan untuk keperluan setting relay pengaman. 1. Untuk setting relay instantenous, digunakan arus moment atau cycle pertama: perhitungan didasarkan pada sub transient reactance dari generator/sumber. 2. Untuk setting lainnya yang menggunakan time delay, digunakan steady state symmetrical faults currents. Impedansi menggnakan impedansi steady state, DC komponen umumnya sudah mendekati nol dan bisa diabaikan. 3. Hitunglah untuk kondisi maksimum dan minimum.

Biasanya untuk mempermudah perhitunan digunakan besaran per unit (pu).

Arus Gangguan

Bila terjadi perubahan Base kV, maka perubahan p.u impedance dapat disesuaikan sbb.:

Kemudian apabila kVA dan kV keduanya berubah, p.u impedance bisa disesuaikan sbb.:

Suatu sistem industri sederhana, mendapat sumber pada tegangan 230 kV, yang mempunyai rating arus sebesar 28 kA. Step down transformer T1 dengan rating 100 MVA , 230/24 kV, 0.10 p.u reactance, dibumikan delta/wye dengan X/R ratio 20. Ada standby generator 500 MVA tersambung ke bus 24 kV, dengan reactance 0.2 p.u dan X/R ratio 20. Trafo step down berikutnya T2 dengan rating 75 MVA, 24/4.16 kV, delta/wye, 0.11 p.u reactance dengan X/R ratio 30. Ada 2 motor 2000 hp, pf = 0.9, Xd = 0.2 p.u, Xd=0.26 p.u dan X/R ratio 20. Sistem TR menggunakan trafo T3, 4.16 kV/600 V, 0.08 p.u reactance dan X/R ratio 30. Ada motor pada TR dengan rating 400 hp, Xd=0.3 dan X/R=30. Hitung secara step by step arus pada F1 dan F2 Single line diagram.

Contoh Perhitungan Arus Gangguan

Solu si i Menghitung arus moment Gunakan base daya sebesar menghitung besaran p.u. Tra fo XT1= (0.10)(100/100) = 0.10 p.u XT2 = (0.11)(100/75) = 0.15 p.u XT3 = (0.08) (100/0.75) = 10.67 p.u Source/gene rator Mot o 230 kV source = 3.230.28 11154 MVA 230 kV source imp, X230 = 0.00896 p.u Generator, XG1

Contoh Perhitungan Arus Gangguan


100 MVA untuk

= = 1.0(100/11154) =

Solu 0.25(100/500) si i

Contoh Perhitungan Arus =Gangguan 0.05 p.u

Mot or XM1 = 0.20(100/2) = 10 p.u XM2 = 0.20(100/2) = 10 p.u XM3 = 0.30(100/0.4) = 75 p.u

Solu Perhitungan arus moment si

Contoh Perhitungan Arus Gangguan

Diagram untuk menghitung impedansi untuk arus moment.

Motor yang < 50 hp diabaikan. Motor 400 hp. X400 hp = 1.2 Xd =1.2(75)= 90 p.u Reactance source, generator, motor terlihat pada diagram, untuk menghitung arus moment. Arus moment pada F1 Ibase pada bus 4.16 kV = 100 MVA/(3x4.16 kV) = 13.89 kA I sym = (1/0.1772)(13.89) = 78.3 kA Nilai peak = 1.6 (78.3) = 125.3 kA 1.6 = multiplier factor sesuai ANSI C37.5-1979, yang digunakan untuk menghitung nilai peak.
o

Solu si Menghitung arus hubung singkat interrupting Trafo T1: X/R=30, R= (0.10)(30) T2: X/R=30, R= (0.15)(30) T3: X/R=30, R= (10.67)(30) = 0.003 p.u = 0.005 p.u = 3.560 p.u

Contoh Perhitungan Arus Gangguan

Source/generator 230 kV source, X/R=20, R= 0.00896/20 = 0.00045 p.u Generator G1, X/R=20, R=(0.005/20) = 0.0025 p.u Motor M1, X=(1.5 Xd) = 1.5 x 10 = 15 p.u M1, X/R=20, R = 15/20 = 0.75 p.u M2, X/R=20, R=15/20 = 75 p.u M3, X=(3 Xd)=3x75 =225 p.u M3, X/R=30, R=225/30 =7.5 p.u E/X = (1/0.1795)(13.879 kA) = 77.32

Solu si Diagram tahanan

Contoh Perhitungan Arus Gangguan

Pada titik gangguan F1, X/R=0.1795/0.0054 = 33.24 NCAD ratio sesuai ANSI C37.010 adalah 0.96 untuk X/R 33.24 Maka arus interrupting adalah: 77.32 kA (0.96) = 74.2 kA

Solu si Untuk sisi tegangan rendah 600 V Diagram tahanan-nya Pada titik gangguan F1, X/R=0.1795/0.0054 = 33.24 Impedansi pada F2 adalah 1.4698 + j9.4817 = 9.5949 p.u

Contoh Perhitungan Arus Gangguan

Ibase pada 600 V adalah = 100 MVA/(3x0.600 kV) = 96.2278 kA Arus HS di F2 = (1/9.5949) (96.2278)=10.03 kA

Kondisi Transien

Kondisi Transien

Kondisi Transien

Tujuan proteksi
Tujuan proteksi Untuk mendeteksi adanya gangguan atau kondisi operasi yang abnormal. Relai proteksi harus mampu mengevaluasi besran-besaran atau parameter yang sangat luas untuk dapat melakukan tindakan korektif. Parameter yang umum digunakan adalah tegangan dan arus yang dideteksi pada terminal dimana relai berada. Posisi di terminal tersebut juga dipengaruhi oleh banyak faktor lainnya, antara lain buka tutupnya PMT, atau DS. Pendeteksian gangguan Secara umum, kalau terjadi gangguan, maka magnitude arus akan naik dan tegangan akan turun. Selain magnitude, besran lain yang berubah adalah sudut fasa arus, phasor tegangan, komponen harmonic, daya dan daya reaktif, frekuensi, dsbnya.

Dasar-dasar proteksi
Selektivitas relai Relai harus mampu membedakan apakah gang- guan ada dalam zone yang harus diamankan, yaitu F1, atau di luar zonenya, yaitu F2. Koordinasi relai Untuk menunjang selektivitas, maka Penyetelan relay harus dikoordinasikan dengan baik Kecepatan Relai harus mampu memberikan reaksi yang cepat untuk dapat mengisolir suatu gangguan, sehingga tidak merembet ke zona lain yang bisa menyebabkan total black-out. Sebagai contoh sistem 150 kV PLN, mensyaratkan clearing time untuk mengisolir gangguan kurang dari 150 msec, untuk sistem 500 kV, kurang dari 90 msec. Clearing time ini termasuk waktu kerja dari PMT.

Reliabilitas Sangat penting bahwa sistem proteksi haruslah andal yang ditunjukkan dengan kemampuan yang tinggi dan terus menerus untuk mendeteksi secara akurat kalau ada gangguan di sistem. Ini sangat terkait juga kepada power supply ke sistem proteksi, yang harus tetap terjaga meskipun sistemsedang terganggu. Oleh karenanya, salah satu cara supaya tetap andal menggunakan sumber dari DC/Battery.

Secara umum, kalau terjadi gangguan, maka magnitude arus akan naik dan tegangan akan turun. Selain magnitude, besran lain yang berubah adalah sudut fasa arus, phasor tegangan, komponen harmonic, daya dan daya reaktif, frekuensi, dsbnya. Pendeteksian Level (bisa arus, tegangan daya, dsb.) Ini adalah yang paling sederhana, magnitude naik atau turun, sebagai contoh overcurrent relay. Misalnya relai bekerja kalau arus yang mengalir melebihi suatu level tertentu, misalnya 25% di atas nilai normal.

Pendeteksian Gangguan

Pendeteksian Gangguan

Pembandingan magnitude Membandingkan 2 atau lebih magnitude dari suatu besaran satu dengan lainnya, misalnya arus, relay current balance membandingkan 2 besaran arus yang seharusnya sama atau proporsional pada kondisi normal, jika ketidakseimbangan melewati ambang tertentu, maka relai mendeteksi adanya suatu gangguan.

Pendeteksian Gangguan

Pembandingan differensial Membandingkan selisih 2 atau lebih magnitude dari suatu besaran satu dengan lainnya, misalnya arus, relay current differensial, membandingkan selisih 2 besaran arus yang seharusnya nol atau kecil sekali, jika selisihnya melewati ambang tertentu, maka relai mendeteksi adanya suatu gangguan. Ini adalah metoda yang paling efektif untuk mendeteksi bahwa telah terjadi gangguan di dalam daerah saluran transmisi yang diamankan. Salah satu kesulitannya adalah membawa besaran di salah satu ujung saluran yang sangat jauh.

Pendeteksian Gangguan

Pendeteksian Gangguan

Pembandingan phase angle Membandingkan sudut fasa relatif diantara 2 besaran untuk mendeteksi arah arus terhadap suatu besaran referensi. Perubahan arah arus ini yang dipakai sebagai dasar adanya gangguan pada saluran transmisi yang diproteksi.

Pendeteksian Gangguan

Pengukuran jarak Pembandingan arus differensial adalah yangpaling effektif untuk memproteksi saluran, namun ini kadang-kadang menjadi mahal. Salah satu cara yang cukup effektif adalah dengan pengukuran jarak ke lokasi gangguan. Prinsipnya adalah dengan mengetahui tegangan danarus gangguan di titik relai, maka bisa dihitung impedansi ke titik gangguan, ini memberikan jarak ke titik gangguan, sehingga bisa ditentukan apakah gangguan berada pada daerah yang diamankan. Pilot relaying Ini adalah cara bagaimana membawa informasi di sisi lain dari saluran transmisi ke lokasi relay di sisi yang lain. Apabila jaraknya dekat bisa menggunakan pilot wire, namun apabila jauh, umumnya menggunakan channel plc, atau microwave atau telekomunikasi lainnya. Harmonic content

Pendeteksian Gangguan

Pendeteksian Salah satu cara yang juga digunakan untuk mendeteksi gangguan adalah Gangguan
dengan menghitung besarnya harmonic, misalnya harmonic ke tiga. Mengingat pada saat terjadi gangguan, dengan adanya DC komponen menyebabkan timbulnya harmonic.

Frekuensi sensing Perubahan frekuensi dari frekuensi dasar (50 Hz atau 60 Hz) juga merupakan indikasi adanya gangguan. Namun sifat gangguan biasanya bukan suatu hubung singkat, melainkan beban lebih atau kekurangan beban yang tiba-tiba.

Setelah membahas caa-cara mendeteksi gangguan, perlu dipelajari juga bagaimana mendesign relai untuk pendeteksian gangguan tadi. Yang paling sederhana adalah fuse, dimana arus lebih memanaskan suatu material, sehingga material tersebut terbakar dan terjadi pemutusan terhadap gangguan. Berikutnya adalah elektromechanical relay, dimana arus gangguan yang tinggi dapat dirubah ke gaya atau torsi mekanik untuk meggerakkan suatu konta yang memberikan sinyal untuk memutus gangguan melalui suatu PMT. Kemudian yang lebih modern adalah dengan solid state relay atau kadang-kadang disebut juga static relay. Perubahan besaran tadi diproses secara electronic sehingga memberikan sinyal elektronik untuk menggerakkan PMT dalammemutus suatu gangguan. Yang paling mutakhir adalah dengan adanya digital relay dan cumputerized relays dimana prosessing besaran-besaran listrik dilakukan secara digital / computerized.

Jenis-jenis Relai

Dengan computerized relay, satu microcomputer dapat dipakai untuk beberapa jenis relay.

Jenis-jenis Relai i

Electromechanical Relay Ada 2 jenis yaitu plunger type relay dan induction relay. Plunger type relay Naiknya arus menimbulkan energi dan co-energi yang tersimpan dalam medan magnetic. Energi ini menimbulkan gaya, yang akan menarik plunger. Dan pick up current, Ip serta drop out current, Id dapat dihitung dari:

Jenis-jenis Relai

Jenis-jenis Relai

Induction type relay Arus mengalir menimbulkan flux linkage. Yang menginduksikan arus di rotor.

Jenis-jenis Relai i

Arus induksi ini menimbulkn torsi yang akan menggerakkan kontak untuk memberi sinyal ke PMT.

Solid state relay Arus mengalir dilewatkan pada suatu resistor, yang akan di-dc-kan dan bila daya yang ditimbulkan melebihi suatu refernsi tertentu, maka relay akan bekerja.

Jenis-jenis Relai

Jenis-jenis Relai

Computer relay Prinsip dasar dari computer relay ini adalah, bahwa arus dan tegangan input yang cacat dicacah dalam banyak sampling (untuk mengkonversi sinyal analog ke sinyal digital) sehingga didapatkan informasi untuk merekonstruksi bentuk gelombang dasar. Ini dipakai untuk menghitung, apakah arus dasar melebihi ambang tertentu, atau perbandingan V/I yang merefleksikan tahanan/jarak lebih kecil dari suatu jarak/impedansi tertentu, yang akan memberikan sinyal untuk PMT memutus gangguan.

Jenis-jenis Relai

Jenis-jenis Relai

Quiz 1
1. Perhitungan arus hubung singkat. Tuliskan secara kualitatif apa saja yang saudara ketahui bagaimana menghitung arus hubung singkat pada suatu sistem tenaga listrik 2. Apa itu Z impedance ?

2 4 5 2 4 4

2 3 3x3 4 2 = 4 5 2 2 6 8